Tentang Pengungsi Afghanistan : Giving Up Your Prejudices

“Kok rasanya banyak banget ya orang Cina di sini?”

Suami saya nanya, “Mana orang Cinanya?”

“Tuh, anak-anak kecil lagi.” Tunjuk saya kepada tiga orang anak kecil yang lagi menjajakan sapu tangan lusinan yang dibandrol seharga 5-10 riyal per gulungan.

“Itu bukan orang Cina. Itu orang Afghanistan!”

Pengungsi Afghanistan (gambar ilustrasi)
Etnis Hazara dari Afghanistan bagian tengah (gambar : commons.wikimedia.org)

Lah? Kok bisa? Saya tahunya orang-orang Afghanistan secara fisik kebanyakan mirip dengan orang Arab. Agak beda dengan Pakistan yang condong ke fisik orang India. Iya nih, sampai sekarang masih enggak pandai membedakan antara orang Pakistan dan orang India :D.

Macam mana ada orang Afghanistan matanya sipit-sipit walau hidungnya mancung. Orang-orang dengan ciri begini mudah sekali ditemukan di seantero Kota Jeddah, bahkan mungkin di kota lain di Arab Saudi. Umumnya memang beprofesi sebagai pekerja informal atau (maaf) pekerja kasar. Anak-anaknya malah banyak yang jadi pengemis :(.

Salah satu penjaga gerai kerudung tempat favorit madam-madam Jeddah di Bab Shareef itu kami juluki sebagai “Tau Ming Se” . Mas-mas penjaga itu memang orang Afghanistan dengan ciri fisik mirip orang Cina tadi.

Kita sering cekikikan kalau nawar-nawar harga sama si Tau Ming Se ini :D. Dia enggak bisa bahasa Inggris, para madam bahasa Arabnya mentok di asara-asara doang hahaha.

Tidak salah asumsi saya soal ciri fisik mayoritas penduduk Afghanistan. Si “Tau Ming Se” dan teman-teman “arab sipit”nya yang memiliki ukuran tubuh rata-rata lebih mungil daripada perawakan orang Arab ini ternyata salah satu ras minoritas di Afghanistan. Tepatnya, minoritas yang dikucilkan. Mayoritas penduduk Afghanistan sendiri adalah etnis Pashtun.

Karena merasa “terpinggirkan” inilah, orang-orang Hazara banyak yang hengkang ke negara-negara lain.

Saya jadi tahu soal Pashtun-Hazara dan beberapa etnis lain di Afghanistan dan sepenggal problem sosial di sana dari salah satu bab di buku “Out of The Truck Box” karya Iqbal Aji Daryono :D.

buku iqbal

Tidak hanya tentang Afghanistan, menyerempet juga ke beberapa pengetahuan ringan soal orang-orang dari Chile, India, bahkan Macedonia.

Si Iqbal nih, gaul kaleeeeee :D. Kerja di kedutaan atau staf di badan sekelas PBB gitu? Enggak! Iqbal ini asli Jogya yang tergila-gila pada kampung halamannya tapi somehow harus hengkang ke Australia untuk sementara waktu. Menemani istrinya yang melanjutkan sekolah di sana.

Hingga akhirnya Iqbal terpikir untuk mencari kerja dan akhirnya berhasil menjadi seorang…supir truk! Anti mainstream bener, Kakaaaaa :D. Ngerti kan sekarang kenapa judul bukunya mesti bawa-bawa kata truk hahaha.

Indeed, dari pengalaman menghabiskan waktu di belakang kemudi itulah, Iqbal jadi ketemu banyak teman-teman sesama supir truk dari berbagai negara. Rata-rata pendatang dari negara-negara lain. Termasuk dari Irlandia, lho ;).

Yup, selain Amerika Serikat, Australia adalah “the dream land” bagi orang-orang dari dunia ketiga yang umumnya hendak mencari peruntungan yang lebih baik. Walau konon, dari hasil kepo-kepo Iqbal dengan salah satu rekan Indianya yang katanya seorang Punjabi, ada juga pendatang asal India yang merantau karena prestise semata.

“Out of The Truck Box” ini termasuk kategori buku traveling. Tapi bukan tentang tempat-tempat wisata keren atau traveling guide ke tempat-tempat menarik di Australia :D. Ini semacam memoar si penulis tentang hal-hal yang didapatinya saat jauh dari kampung halaman tercinta.

Gaya bahasa yang santai, di banyak halaman malah bikin ngikik-ngikik, sekilas akan membuat bukunya jadi kayak buku guyon. Tapi itulah yang selalu bikin saya sebal. Beberapa orang tertentu, punya 2 hal keren sekaligus : cerdas dan tukang bikin ngakak! :D. Tidak adilnya dunia. Susah kan ya itu. Jadi orang jenius sekaligus jadi orang yang lucu (walau belum tentu menggemaskan :p).

Tinggal di negara maju tidak membuat Iqbal serta merta langsung menganggap negeri asalnya hanya remah-remah dibanding negara besar selevel Australia. Saya senang, deh, cara Iqbal menggambarkan Australia vs Indonesia sebagai dua hal yang…berbeda! :).

Hal-hal yang dipujinya dari Australia tak harus membuat Iqbal mendadak sebal sama Indonesia ;). Banyak juga hal kurang menyenangkan yang merupakan imbas ‘kehebatan’ Negeri Kangguru yang menurutnya adalah sisi positif dari komunitas sosial di tanah air.

Good job! ^_^. Tak boleh lupa kacang pada kulitnya ;).

Walau banyakan nyengir, sering juga lepas satu bab, saya berhenti dulu. Menertawakan hal yang diceritakan sekaligus jadi tercenung.

buku iqbal 2

Sepert misalnya bahwa negara-negara maju nan sekuler menjadi pilihan-pilihan utama bahkan bagi pengungsi dari negara-negara mayoritas muslim bukan fakta yang menyenangkan, ya :(.

Saya sendiri heran, berbondong-bondong orang Pakistan berusaha keras menembus Eropa barat-Kanada-US-Australia demi apa yang mereka sebut sebagai “better life” atau “good future for our kids”.

Bahkan sekadar untuk merebut posisi-posisi sebagai pekerja informal. Iya sih, di negara-negara maju, sudah rahasia umum jika “pekerja kerah biru” pun bisa hidup layak dan “dimanusiakan” sebagaimana mestinya. Seperti kata Buya Syafi’i Maarif, keadilan sosial yang begitu keras diperintahkan oleh Alquran justru begitu sulit terwujud dalam komunitas muslim hampir di mana pun :'(.

Jangan buru-buru tunjuk sana sini, yaaa :D. Solusinya tentu bukan sesuatu yang tidak rumit. Saya juga bingung mau berpikir gimana-gimana. Sanggupnya sebatas cukup dijadikan bahan renungan :).

Dari catatan-catatan ringan Iqbal yang dibundel dalam satu buku tadi, jadi terpikir bahwa merantau seharusnya menjadi ajang kenal-kenalan. Kenal untuk mendalami. Mendalami untuk memahami. Seharusnya, nyaris tak ada ruang untuk prasangka. Karena konon, prasangka itu justru lahir karena ketidaktahuan. Macam pepatah lama, tak kenal maka tak sayang :D.

Namun, tak semua kita bisa mendapatkan kesempatan emas untuk menyorot dunia secara langsung di belahan bumi yang lain. Enggak otomatis membuat kita berhak untuk merasa picik dong, ya. Itulah gunanya membaca macam-macam ;). Saya sendiri belum pernah ke Australia hehehe :p.

Pepatah lama, buku adalah jendela dunia. Bolehlah sesekali kita keliling dunia dengan membaca buku ^_^. Termasuk mengintip kondisi sosial di banyak tempat lain via hasil kepo-kepo si supir truk satu ini.

“Out of the Truck Box” terbit awal bulan ini dan akan segera beredar di toko-toko buku di tanah air minggu depan. Kalian punya waktu semingguan untuk mikir mau beli atau … pinjam! Hahaha.

“It is never too late to give up your prejudices”
― Henry David Thoreau

Selamat membaca ;).

buku iqbal 3

Makanan Halal di Luar Negeri

Makanan Halal di Luar Negeri, Mungkinkah?

Mungkin bangeeeetttt hehehe. Ini karena sering menghangat diskusi soal makanan halal saat jalan-jalan ke luar negeri. Soal bagaimana konsumsi makanan saat bepergian ke luar negeri. Terutama ke negara-negara mayoritas non muslim. Sebagian langsung berpendapat, “Kan emergency. Bolehlah makan apa saja asal tidak ada b*b*nya.”

halal sign

Seharusnya sih, ya, definisi makanan halal itu tidak bisa dibilang “tergantung mazhab”. Karena ketentuannya langsung ada dalam alquran, dalam ayat-ayat yang sifatnya sangat eksplisit :). Panduan utamanya maksudnya. Kalau yang printilan memang rupa-rupa pendapat yang ada hehehe.

Soal daging, jelas dan terang. Kehalalan daging tidak hanya semata-mata, “Asal bukan daging babi, bismillah saja” :D. Dalam ayat-ayatnya, daging yang dimakan harus disembelih secara “benar”.

Karena memang bermukim di luar negeri, kalau mau jalan-jalan ke luar kota, ya saya pribadi lebih prefer bawa bekal sendiri ^_^. Entah nasi goreng, mie goreng, kentang panggang, roti isi, atau apalah :D. Tapi bagaimana kalau 100% turis yang kebetulan jalan-jalan ke luar negeri? Jangan menggampang-gampangkan situasi emergency lah :D.

Kalau daratan Eropa, hampir tidak ada masalah setahu saya. Di masjid tempat suami sering numpang salat, pernah kedatangan ulama dari Dublin yang kebetulan “mengurusi” masalah sertifikasi halal di ranah Eropa.

Bagi pemukim muslim di Eropa, apalagi di negara-negara selevel Belanda atau Jerman, hampir pasti dapat menemukan gerai/penjual daging halal ^_^. Di Irlandia sini saja, di kota yang penduduknya hanya 20 ribu orang ini, gerai daging halal sampai ada 2 lho! Baru saja dekat City Center buka satu toko baru. Horeeeee, enggak perlu jalan jauh-jauh sejauh 2 km untuk ke toko satunya lagi :p.

No excuse to consume non halal meat, unless you want it to ;).

Daging kosher yang umum dikonsumsi oleh orang Yahudi juga tergolong HALAL ^_^. Bukan kata saya. Berdasarkan kesepakatan ulama Eropa, kata si Pak Ustaz tadi :D. Bukan konspirasi lho, ya, hihihihi :p.

Vegetarian menu/food juga halal, insya Allah :). Nah, ini penolong banget. Saat saya ke London tempo hari, gerai makanan halal enggak sinkron dengan rute jalan-jalan kami, jadi kami makan di tempat makan sedapatnya saja.

Boleh enggak makan di Pizza Hut? Boleh, insya Allah. Tapi hanya boleh memesan vegetarian menu. Di Eropa, penanda vegetarian food itu sudah sangat lazim digunakan. Biasanya pakai tanda (v). Vegetarian menu itu include keju-kejuan dan telur, tidak melulu daging saja. Buat saya yang memang FCer, malah enak banget hihihihi.

Halal Butcher, London Road (gambar : geograph.org.uk)
Halal Butcher, London Road (gambar : geograph.org.uk)

Kalau kata Pak Ustaz, pengusaha makanan di Eropa (yang berlisensi resmi) cukup terpercaya. Karena mereka bisa dituntut oleh kaum vegan kalau berani-berani ‘bandel’ memasang bandrol (v) tapi ternyata masakannya mengandung unsur hewani (di luar susu dan semua turunannya + telur). Penegakan hukumnya terpercaya ;).

Jadi, untuk Eropa, saya belum bisa menerima argumen soal penetapan “terpaksa/darurat/emergency” jadi boleh mengkonsumsi “daging apa saja selain b*b* asal baca bismillah” :p.

Mari pindah kawasan :D. Saya ceritakan sedikit pengalaman suami yang sering traveling ke luar negeri sampai lebih dari sebulan. Pas ke Turki mah bebas merdeka yak hihihi. Tapi sempat galau pas ke Santiago, ibukota Chile.

Alhamdulillah, suami saya memang tidak rewel. Sejak tahun lalu pun sudah saya perjuangkan ini satu rumah biar akrab dengan sayur-sayuran dan teman-temannya :D. Suami juga orangnya mau masak sendiri, hanya kalau tidak ada bininya! Hahaha. Kalau ada saya mah, jangan harap dia mau! :p.

Di Chile, gerai daging halal nyaris tidak ada. Lingkungan pergaulan orang Indonesia “di sana” juga ternyata tidak begitu peduli dengan gini-ginian. Bingung mencari penjual daging halal. Akhirnya suami saya memilih makan telur dan seafood selama di sana.

Takjub juga dengan semangat juangnya hehehe. Mengingat suami saya lidahnya Minang abis ya Kakaaaaa. Enggak ketemu daging sapi/kambing seminggu, dia bisa cranky kalau di rumah, “Mamaaaaaaa, bikinin daging!” :v :v :v.

Kalau skype-an pas dia lagi jauh, ribut banget minta resep ini itu. Setengah mati diajarin, ujung-ujungnya, “Susah ah, ditumis-tumis lagi ajah.” :v :v :v.

Saat ke Tiongkok, yang kata orang susah mencari makanan halal, ternyata tidak benar juga. Suami saya sempat assignment ke Kota Wuxi. Ini tergolong bukan kota besar lho di sana. Tapi gerai makanan halal terbilang banyak ^_^. Mana menunya cocok, ya, dengan lidah Asia kita :D.

Setidaknya kalau susah menemukan resto makanan halal, jangan langsung ‘pasrah’. Hindari sebisa mungkin. Menu vegetarian memang tidak terlalu “lazim” di Tiongkok. Ini juga pengalaman saya pas ke China Town di London. Mereka nangkepnya vegetarian menu itu yang ada sayurnya. Bingung kan pas ditawarin susunan menu, paling atas itu ada tulisan “Pork Pak Choy” hahaha.

Tapi tenang, di China Town-London, juga di setiap restonya mencantumkan tanda (v) untuk menu-menu vegetariannya. Tidak 100% mereka patuh, sih. Maklum, ya, bumbu-bumbu khas menu oriental memang agak-agak “mencurigakan”. Tapi ingat, kita sudah mengikuti petunjuk “alim ulama” di tempat yang bersangkutan ^_^. Jangan meribetkan diri sendiri.

Vegetarian food can be yummy :D (gambar : indanang.com)
Vegetarian food can be yummy 😀 (gambar : indanang.com)

Balik ke wilayah-wilayah Asia Timur Jauh seperti Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korsel dll. Paling aman ya memang masak sendiri. Tapi kalau jalan-jalan cuma seminggu masa iya waktu habis di dapur doang hihihi. Next step, usahakan mencari menu vegetarian ^_^. Atau menu-menu seafood, yang walau belum pasti kehalalannya, ya tetap lebih baik. Daripada cari gampang dengan mengkonsumsi makanan berdaging non seafood yang sudah kita pastikan TIDAK HALAL :).

“Ah, saya kan enggak suka sayur. Alergi seafood pula.” –> jangan jalan-jalan ke tempat yang susah cari makanan halal yang ada dagingnya kalau gitu! Which is kota-kota besar di Jepang pun sudah tidak sulit mencari gerai makanan halal. Jadi, alasan ini harusnya mental dengan sendirinya :p.

“Lho? Saya rezekinya di negara itu. Di sana susah atau hampir enggak mungkin, jadi gimana, dong?” Bumi Allah ini, kan, sangat luas :D. Jangan gampang loyo gitu dong, Kakaaaaa ^_^.

Pertimbangkanlah baik-baik ke mana kaki akan melangkah :). Lagian balik lagi ke atas, di Amerika Serikat-Eropa-Australia-Jepang-Korsel-Tiongkok, makanan halal atau vegetarian food bukan barang langka. Kalau ke Timur Tengah mah, enggak usah ditanya hehehe. Tidak sedikit belahan wilayah Afrika juga mayoritas sudah muslim. No excuse :p.

Di Amerika Latin memang tergolong sulit. Jadi, pastikan kalian sudah siap dengan resiko soal makanan manakala hendak merantau ke wilayah itu :). Jangan mempersekutukan “perintah Tuhan” hanya gara-gara alasan rezeki. Yang memberi rezeki adalah Dia semata kok. Kenapa harus ragu? :).

Kalau alasan lainnya seperti dagingnya tidak segar, harganya lebih mahal daripada harga daging di supermarket biasa, ya itu sih sudah urusan masing-masing saja, ya, hehehe.

Saya menulis ini bukan untuk mengancam-ancam. Hanya mencoba meluruskan. Ternyata tidak sedikit yang menganggap situasi liburan/jalan-jalan/bermukim di luar negeri (yang mayoritas bukan muslim) sebagai “keadaan darurat/emergency” jadi boleh makan apa saja asal bukan b*b*. Tidak begitu, kok, kenyataannya ;).

Latin food, (gambar : nycfoodguy.com)
Latin food, (gambar : nycfoodguy.com)

Kemarin sih sudah disindir, disuruh beli hewan hidup dan disembelih sendiri saja katanya hehehe. Lah, saya sih tidak ekstrim. Toh, tidak perlu sebegitunya kok ;). Pilihan lain sudah saya jelaskan detail yang tidak mengharuskan kita . Secara kesehatan pun, dalam ‘pola makan’ yang saya anut, protein hewani itu tidak harus dikonsumsi tiap hari. Di atas usia 30 tahun, malah seharusnya makin dikurangi. Urusan lidah cocok apa tidak? Sangat tidak relevan :p.

Hikmah makanan halal itu sebenarnya tidak hanya sekadar menguji kesabaran dan konsistensi kita di situasi-situasi tertentu. Tapi secara kesehatan, tidak sedikit penemuan ilmiah terkait metode penyembelihan hewan yang disarankan dalam alquran. Tuhan sih tidak ada urusan kita mau makan apa dan bagaimana. Semua untuk kebaikan diri sendiri juga ^_^.

Kalau pun masih sulit dicerna pakai akal biasa dan dianggap “mengada-ada”, benteng terakhir ya tinggal iman saja :D. Tertera jelas dan tanpa sela untuk berdalih dalam kitab suci. Levelnya sudah paling tinggi. Kalau hadis masih bisa “digoyang-goyang”, ada tingkatannya. Tapi urusan makanan halal ini sifatnya sudah final :D.

Apa saya tidak pernah mengkonsumsi daging tidak halal selama di sini? Mungkin pernah :). Karena saya, kalau diundang ke rumah teman, ada acara kumpul ramai-ramai, tidak suka dan tidak akan meributkan apakah makanannya halal atau tidak. Untuk saya, menjaga perasaan tuan rumah dan teman-teman lain lebih penting daripada meributkan makanannya halal atau tidak ;).

Jangan salah, di sini pun, tidak semua muslim mengkonsumsi daging berlabel halal ;).

Prinsip saya yang tidak kalah pentingnya dengan masalah makanan halal adalah soal “Islam, membungkus kebenaran dengan kebaikan.”  Kebaikan itu letaknya lebih tinggi. Tidak menyakiti hati orang lain apalagi yang sudah susah payah mengundang kita bahkan memasak sendiri untuk kita itu tingkatannya lebih utama buat saya ;).

Tapi itu benar-benar jarang kejadian :D. Jadi sudah dipertimbangkan frekuensinya. Kalau di luar itu, baik sehari-hari di rumah, maupun lagi piknik ke mana saja, tetap harus disiplin, dong, ya ;).

Gambar : moroccoworldnews.com
Gambar : moroccoworldnews.com

Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati

Ini salah satu tulisan di Buku “Memoar of Jeddah” :D. Ini versi aslinya yang banyak haha-hihinya :p. Versi teks buku tentu tanpa emoticon dan “hahahahaha” :D.

cover-final-memoar-of-jeddah.jpg

***

Suatu hari saya ke UGD salah satu rumah sakit swasta di Jeddah dan harus dilakukan tindakan operasi kecil. Hanya bius lokal. Dokter laki-laki asal Mesir yang menangani saya.

Saya gemetaran karena takut setengah mati. Hahaha. Pak Dokter nampaknya tahu. Dia menenangkan dengan mengajak ngobrol.

Bahasa Arab saya nol besar dan saya pastikan Pak Dokter tak bisa berbahasa Indonesia, jadi kami asyik mengobrol dengan bahasa Inggris.

“Wah, saya kira kamu tadi orang Indonesia, lho,” ujar Pak Dokter setelah ngobrol agak panjang.

Lah, piye? “Saya memang asli Indonesia.”

Matanya terbelalak. “Indonezi? You can speak English? Masya Allah!”

Sure, why not?”

“Kalau bisa bahasa inggris seperti ini, cari saja pekerjaan lain. Kenapa memilih jadi pembantu?”

Saya merespons dengan terbahak. Ya ampyuuunn, kece-kece begini disangka gitu. Oh tidaaaaaakkkk *tutupMukaSelebayLebaynya* hahaha.

Gambar : weheartit.com
Gambar : weheartit.com

Jangan kaget. Begitulah pada umumnya tanggapan orang-orang jika bertemu dengan perempuan asal Indonesia di Saudi.

Setelah itu dia sibuk bertanya mengapa saya tinggal di Saudi. Dengan siapa. Apa iya di Indonesia banyak perempuan mendapat kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi? Kok bisa orang Indonesia bahasa Inggris?

Antusias benerlah pokoknya si Pak Dokter.  Mungkin juga karena orang Arab kan memang dikenal berapi-api kalau diajak berbincang :D. Ingat ya, kalau ngomongin Arab itu artinya ngomongin ras/suku bangsa. Mereka ada di Saudi, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, Yaman, Sudan, dll. Kalau di Indonesia sebut “Arab” umumnya langsung mengacu ke Arab Saudi saja :D.

Dengan waktu yang tersisa, ya gak mungkin mau lama-lama juga kan dia punya pasien lain, saya coba meluruskan persepsi dia tentang Indonesia. Dokter itu cukup puas dengan penjelasan singkat saya dan memberikan sedikit pembelaan atas komentarnya di awal tadi.

“Kamu jangan salahkan saya kalau saya tidak paham banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Bahwa kota Jakarta sama kerennya dengan Jeddah. Pendidikan bukan hal yang tabu buat perempuan Indonesia. Masalahnya, hampir semua perempuan Indonesia yang saya temui di Saudi ini rata-rata berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.”

Lalu, saya jadi berpikir. Sebenarnya TIDAK 100% orang-orang non Indonesia yang ada disini berpikiran sempit. Mereka berpendapat menurut apa yang mereka temui sehari-hari. Di situ kan umumnya muncul skema stereotip. Generalisasi. Apalagi kalau contoh mayoritasnya memang menunjukkan begitu. Apa hendak dikata hehehe.

***

Orang Filipina juga banyak TKWnya. Tapi mereka juga banyak yang berprofesi sebagai perawat, sales, penjaga toko, manajer bank, engineer, konsultan IT/SAP, dsb. Profesi mereka variatif. Demikian pula dengan pendatang lain dari negara-negara seperti : Pakistan, India, dll.

Orang Indonesia? Kalau Anda laki-laki, biasanya akan disangka supir. Kalau perempuan, otomatis dianggap pekerja rumah tangga. Saking banyaknya TKI informal asal negara kita di negara ini. Begitulah kenyataannya. Jadi, tidak perlu sensi, ya 😉

Kalau menyusuri pelataran parkir di mal-mal besar di kota Jeddah ini, akan terlihat kerumunan lelaki yang sedang duduk-duduk mengobrol dekat pintu masuk. Sebagian besar berasal dari Indonesia. Kelihatan dari suara mereka yang berbincang dengan bahasa Indonesia. Mereka adalah para supir pribadi yang sedang menunggu majikan yang berbelanja dalam mal.

Kemana perginya para pekerja profesional kita? Mungkin salah satu alasan utama keengganan TKI formal asal negeri kita untuk mengadu nasib ke Saudi adalah ‘keamanan keluarga’. Terutama untuk para perempuan. Bukan rahasia umum, banyak ‘dinding pembatas’ untuk para wanita yang hidup di Saudi ini. Belum lagi sering di’remeh’kan karena kerap disangka TKW.

Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)
Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)

Perempuan tidak boleh menyetir di Saudi. Tapi aman, kok, naik taksi sendiri di sini. Belum lagi kemudahan untuk melakukan ibadah umrah. Tak perlu antri dan mengeluarkan biaya besar untuk naik haji.

Kalau mau ke mal, tidak mesti menunggu suami senggang. Ajak saja beberapa teman atau saling menjemput dan beramai-ramai menjajal mal di siang hari.

Belum lagi ada banyak rumah makan Indonesia. Mulai dari level kaki lima hingga bintang lima. Tinggal pilih. Sate Madura, pempek, bakso, tahu, tempe, tidak ada istilah ‘langka’. Semua bumbu khas Indonesia pun tak sulit ditemukan.

Perempuan wajib berabaya hitam kemana-mana. Tapi abaya hitam itu banyak yang modis. Pokoknya tidak ada kata mati gaya. Bahannya ternyata nyaman dan tidak panas.

Ternyata tiap tempat menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila ditanya, “Gimana sih hidup di Jeddah itu?” Mungkin jawaban yang cukup tepat saya ambil dari lirik salah satu lagu di tanah air, “Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati.”

“Bahagia, meski  mungkin tak sebebas merpati” juga sub judul dari buku saya yang pertama, “Bunda of Arabia” :D. Bunda of Arabia ini terbitnya secara indie. Covernya agak-agak keramean gitu. Desain covernya kami rancang sendiri soalnya ^_^. Biar hemat hahaha. Maklum kalau indie modalnya ya kocek kantong dewe :p.

buku-boa.jpg

To Read More Pages

 

Abege 90 an biasanya familiar dengan acara Asia Bagus :D. Paling memorable kalau mendengar kontestan dari Jepang menyanyi. Kalau lirik dari bahasa lokal mereka ya tidak istimewa.

Tapi kalau menyanyikan lirik lagu bahasa Inggris? Saya sampai bengong. Itu beneran bahasa Inggris atau diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang sih? Hihhi.

Mereka punya aksen dengan logat patah-patah. Kalau berbicara mereka punya napas yang pendek. Saat berbahasa Inggris, apalagi kalau menyanyi, ngomong patah-patah tadi terus terbawa.

Gambar : youtube.com

Gedean dikit, masuk dunia kerja, harus banyak berurusan dengan regional support dari India. Waktu masih di Bern tempo hari, saya ngobrol panjang lebar dengan suami soal aksen Inggris orang India. Suami saya, sekarang juga di development center, harus banyak berurusan dengan developer yang regional supportnya lagi-lagi pakai IT-India :D.

Kita ngakak bareng-bareng berbagi kisah-kisah unik saat berkomunikasi dengan mereka.

Singapura dengan Sing-lish nya lebih cetar lagi bukan? Hahahhahahha.

Satu hal dari developer India ini. Segitu “gengges”nya bahasa internasional ala mereka, kemampuan mereka mendunia sungguh luar biasa! :).

IT Park, Bangalore-India (gambar : indiacatalog.com)
IT Park, Bangalore-India (gambar : indiacatalog.com)

 

Berapa banyak perusahaan besar di dunia selevel Unilever misalnya (consumer goods yang cukup popular di Asia), atau Ericsson (vendor telekomunikasi yang juga cukup oke), menggunakan IT-support asal India. Sebuah kota khusus di sana, Bangalore, sudah dikenal sebagai kota IT internasional :D.

Gin-gini mamak-mamak dasteran pernah juga lah mencicipi kehidupan kantoran yang rasanya keren aja gitu :p.

Tapi uniknya, pasca berhenti bekerja, “pergaulan internasional” justru baru saja dimulai. Ikut merantau ngintilin suami :D. Waktu masih di Jeddah, secara bahasa, tak ada tantangan lah. Wong mainnya sama sesama orang Indonesia terus :p.

kisah inspiratif islam

Nah, waktu di Irlandia jadi super minoritas di kota ini, mau enggak mau harus bergaul dengan bangsa lain. Dengan penduduk lokal Irlandia sendiri yang nyata-nyata berbahasa Inggris, saya dibuat pening dengan aksennya yang luar biasa.

Tapi dua tahun berlalu, lama-lama terbiasa. Nonton komentator Irlandia bahas bola saja rasanya sudah kayak makan kacang aja. Sombong kauuuuu hahahaha.

Bergaul dengan mamak-mamak India pun menjadi tak terhindarkan. Justru pendatang Polandia yang juga menjamur di sini banyak yang bahasa Inggrisnya memprihatinkan :D. So that you know, di seantero Eropa mungkin hanya 2 negara yang berbahasa Inggris secara nasional, UK dan Irlandia.

Baik UK dan Irlandia aksennya juga kurang familiar untuk umumnya orang Indonesia yang lebih terbiasa dengan aksen Inggris ala orang US :D. Waktu ke London tahun lalu, dengar mereka ngomong cepat-cepat saya sampai putus asa mau kepoin orang ngobrol di kereta.

Tiap hari di sekolah kalau nungguin anak juga ngobrol ngalor ngidur dengan mamah-mamah India/Pakistan. Lama-lama jadi terbiasa dengan logat mereka. Betapa dunia menjadi lebih berwarna, ya ^_^.

Pernah ramai membahas langgam mengaji :D.

Urusan mengaji, sebagai orang Bugis, dari kecil sudah biasa dengan langgam Arab yang pakem itu :D. Kalau melihat sejarahnya (sumber : buku Ulama dan Kekuasaan di Nusantara), penyebaran Islam di Sumatera dan Sulawesi memang didominasi oleh ulama-ulama yang langsung belajar di Mekkah :D.

Kain Sutra Bugis, gak nyambung banget gambar sama artikel hahahahha (gambar : klikhotel.com)
Kain Sutra Bugis, gak nyambung banget gambar sama artikel hahahahha (gambar : klikhotel.com)

 

Agak beda dengan Pulau Jawa yang pergaulannya lebih kompleks dengan pengaruh pedagang-pedagang India di sana yang juga membawa pengaruh Hindu yang besar.

Itulah mengapa banyak adat Bugis yang kebawa juga pengaruh Islam. Misalnya dalam tata cara akad nikah, sementara mempelai suami bertegang-tegang ria menjelang ijab kabul, mempelai perempuan diumpetin dulu di kamar. Keluarnya nanti setelah para saksi menjawab tegas, “SAH!”

Sementara suami dan salah satu kakak saya selaku wali nikah sibuk ngapalin ijab kabul, saya mah cekikikan sambil “selfie-selfie” sama kakak saya yang lain dalam kamar hahahahaha.

Pertama merantau pun lama tinggal di Jeddah. Mengajinya juga sama sesama ibu-ibu Indonesia. Guru dari Indonesia. Nyaris tidak ada “konflik”.

Di Irlandia sempat ikut pengajian antar bangsa. Mayoritas sih dari India-Pakistan. Sempat bengong mendengar ibu-ibu India/Pakistan ini kalau mengaji. Model alqurannya sendiri agak bingung lihatnya. Terjemahannya dalam bahasa Urdu. Hurufnya bukan Latin. Alquran mereka juga tidak disekat per juz seperti lazimnya di kita. Jika mengaji misalnya sudah sepakat per lembar atau per halaman, mereka kurang bisa ngikutin.

Jangankan tajwid, soal pengucapan huruf juga agak sulit di lidah mereka (India-Pakistan tadi). Padahal kalau mengaji di Jeddah, rasanya jarang ketemu ibu-ibu yang enggak lancar mengajinya. Ada juga mayoritas teman-teman pengajian Indonesia di Saudi sudah pandai melagu yang indah-indah, ala telinga Indonesia kita yaaaa :). Tapi guru mengaji kami yang asal Mesir santai saja.

Orang India-Pakistan kalau mengaji cepat sesuai cara bicara mereka tapi panjang pendeknya jadi enggak keruan. Sekilas kalau bukan di pengajian mungkin saya enggak nyadar kalau mereka lagi mengaji hehehehe.

Don’t worry, cara mengaji orang Indonesia-Malaysia selalu disambut dengan ucapan “Mumtaaz” dari ibu guru hehehehe *benerinKerudung*.

Urdu vs arabic , sekilas agak nyaru kan? :D (gambar : urduplanet.com)
Urdu vs arabic , sekilas agak nyaru kan? 😀 (gambar : urduplanet.com)

 

Ada satu yang berasal dari Afrika. Wah, yang ini benar-benar belum bisa  mengaji. Sementara emak-emak dari Sudan yang memang sehari-harinya berbahasa Arab juga suka ngikutin ngajarin. Problem is, sering saya menangkap ada perbedaan aksen antara si ibu guru Mesir dengan emak-emak Sudan tadi. Jadilah yang dari Sudan suka bisik-bisik nyinyirin “Ih, dasar orang Mesir. Padahal kan tuh bacanya harusnya gini, gini, gini.”

Tak paham sih saya logat-logat Arab. Yang jelas, antara Mesir dan Saudi memang beda :D. Apalagi di Saudi dulu dikenal “bahasa Arab ngasal” alias Arab abal-abal yang dipopulerkan oleh para pendatang :p.

Macam swayya-swayya dan mafi mushkilah secara grammar itu kan parah total hahahahaha.

Terus terang, ada rasa jumawa menyelinap dalam hati mendengar cara mengaji umumnya emak-emak non Arab (selain Indonesia Malaysia). Semacam ada kesombongan dalam hati, “Ih, ancur banget deh ngajinya. Mendingan gue deh ke mana-mana!”

Soalnya ya, dalam lingkungan mereka, hal itu tidak dianggap sebuah ketidaklancaran membaca alquran. Ya memang bacanya begitu untuk keseharian mereka.

Di Indonesia umumnya, tak perlu jadi ustaz besar kalau hanya untuk menguasai cara baca alquran. Apalagi dari kecil pakai pakem Arab yang standar itu.

kisah inspiratif islam
Anak-anak belajar mengaji (gambar : joss.today)

 

Makanya orang Arab itu suka terpesona dengan orang-orang Indonesia-Malaysia yang jagoan baca alquran tapi sama sekali tidak mengerti bahasa Arab! Buat mereka itu sesuatu hal yang luar biasa.

Ini terbukti waktu naik haji dimana satu tenda orang Mesir semua. Mereka takjub saya bisa baca alquran tapi gak bisa bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Biasa kaleeeeee di Indonesia mah hahahaha.

Dari ilmu kognitif sendiri, mencoba ingat-ingat mata kuliah Psikologi zaman kuliah dulu, menghafal lebih mudah jika kita aktif menggunakan otak untuk menyimpan data dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah-sudah. Termasuk mencocokkan makna dan pemahaman arti.

Pasti lebih mudah menghafalkan teks dalam bahasa Inggris ketimbang teks bahasa Perancis. Jangan ngotot kalau bahasa Perancis itu lebih susah. Lebih susah untuk kita. Buat orang Perancis jelas lebih gampang bahasa Perancis daripada bahasa Inggris sekali pun hehehehe.

The thing is, perbedaan itu mendewasakan :).

Waktu kecil nonton Asia Bagus mana paham saya walau logatnya amburadul, Jepang adalah salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Sebelum benar-benar merantau ke mana-mana dan bertemu mereka di mana-mana, mana mengerti saya walau aksennya gengges, pamor India di mata internasional jauuuhhh lebih tokcer daripada Indonesia. Jangan sakit hati kalau dunia internasional masih mengernyitkan kening mendengar kata Indonesia tapi ngangguk-ngangguk cepat kalau ditanyakan soal India ;).

Bahkan yang kayak Filipina pun yang sering kita pandang sebelah mata, tenaga medisnya menjamur ke seluruh pelosok dunia. Bangsa Tiongkok apalagi. Sudahlah jangan ditanya hehehe. Etos kerja, kedisiplinan, dan kecerdasan mereka sudah jadi buah bibir di hampir semua benua.

Singlish ala SIngapura boleh membuat kita terpingkal-pingkal. Tapi ingat, negara mini ini sangat superior di level internasonal sekali pun ;).

Traveling itu tidak hanya hanya tentang tempat-tempat wisata dan selfie-selfie depan landmark kota dong, ya ;).

It’s about knowing each other. Memperluas cakrawala berpikir, melonggarkan hati bukan malah memperkecil wawasan, mempersempit perasaan.

Bergaul dengan rupa-rupa manusia mungkin seperti mengajarkan kita jika selama ini kita yakinnya, “Bangunan datar sisi empat itu kalau enggak persegi panjang ya bujur sangkar.”

Tapi seiring dengan wawasan yang bertambah kita jadi tahu, “Oooohhh, jajaran genjang itu juga punya 4 sisi. Trapesium juga. Diamond juga segi empat. Ada lagi model layang-layang.”

Semuanya punya 4 sisi. Tapi kita enggak familiar dengan modelnya. Secara simbol beda tapi makna kan sama-sama 4 sisi ^_^.

Terjemahan Al Hujurat ayat 11 hingga 13 menerangkan hal ini dengan sangat indah :).

49:11. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) …

49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain …

49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Gambar : pixabay.com

 

Seindah itu lho alquran meminta kita untuk tidak mengolok, menjauhi prasangka, instead … menyarankan kita untuk “bergaul” biar saling mengenal.

The world is a book, and those who do not travel read only a page.
– Saint Augustine

Let’s read more pages, shall we? 🙂

***

Rupa-rupa Wajah Kota Jeddah Arab Saudi

Kisah tentang Kota Jeddah Arab Saudi.

Oleh : Jihan Davincka

(dimuat di Leisure-Republika, Agustus 2012)

***

Corniche Road

Salah satu julukan yang disematkan untuk kota Jeddah Arab Saudi adalah “Pengantin Laut Merah.” Tidak salah. Karena kota ini memang bersinggungan langsung dengan pesisir Laut Merah. Jalan raya di tepian pantai tersebut dikenal dengan nama Corniche Road.

Corniche Road ini tidak hanya berupa satu jalan panjang yang sambung menyambung. Tapi terbagi atas dua bagian, terletak di distrik Al Hamra dan distrik Ar Rawdah.

Yang wajib dikunjungi kala melintasi Corniche Road di sepanjang Ar Rawdah adalah Masjid Apung. Nama aslinya adalah Masjid Ar Rahman. Diberi julukan “Masjid Apung” karena sebagian pondasinya terletak di dasar laut. Sembari menunggu waktu salat tiba, biasanya para jemaah asal Indonesia berfoto di tepian pantai di sisi kanan masjid.

Saya kurang tahu apa yang menyebabkan masjid ini bisa menjadi tempat wajib buat para jemaah asal Indonesia. Ada yang bilang kalau dulunya salah satu khatib di masjid ini adalah seorang imam asal Indonesia. Entah betul atau sekedar rumor saja.

Foto oleh Dani Rosyadi
Masjid Apung. Foto oleh Dani Rosyadi

Sedangkan “King Fahd’s Mountain” adalah salah satu tempat menarik untuk disinggahi di Corniche Road di sepanjang distrik Al Hamra. Air mancur ini merupakan air mancur tertinggi di dunia. Sanggup memancarkan air hingga ketinggian 312 m di atas permukaan laut Merah.

Air mancur ini hanya beroperasi saat senja menjelang hingga waktu subuh. Jadi pastikan melewatinya di malam hari.

King Fahd Fountain. Foto oleh : Raiz Fouqil
King Fahd Fountain. Foto oleh : Raiz Fouqil

Di sepanjang Corniche Road mudah ditemui hotel berbintang lima. Selain hotel kelas atas,  terdapat pula banyak apartemen-apartemen mewah. Berbagai macam theme park (tempat hiburan buat keluarga)  juga hadir.

Saat akhir pekan, hari kamis dan jumat, sepanjang tepian pantai akan ramai didatangi banyak orang. Pada umumnya mereka ke pantai untuk piknik. Orang-orang Arab akan datang beramai-ramai, menggelar tikar, membawa termos dan penganan, duduk bersantai hingga larut malam tiba.

Corniche Road juga menjadi tempat rutin untuk berburu obyek foto-foto yang menarik. Yang mempunyai hobi fotografi sering menjelajahi berbagai area di sepanjang jalan ini untuk merekam jejak alam yang indah di sekitar pantai.

Corniche Road. Foto : Dani Rosyadi
Corniche Road. Foto : Dani Rosyadi

Balad, Kenangan Jeddah di Masa Lampau

Mungkin distrik Balad ini yang paling terkenal untuk jemaah asal tanah air. Disinilah terdapat Corniche Commercial Center yang dikenal sebagai pasar Balad. Tempat ini hampir selalu menjadi tujuan para jemaah Indonesia saat berburu oleh-oleh.

Tapi sebenarnya Balad menyimpan banyak kisah tentang Jeddah di masa lalu. Distrik Balad ini dulunya merupakan pusat kota Jeddah. Konon, kota Jeddah ini tadinya hanya sebuah kota nelayan kecil. Lalu perlahan-lahan membangun diri menjadi salah satu kota metropolitan dunia.

Sisa-sisa bangunan tempo dulu yang usianya ada yang di atas 100 tahun masih banyak tersebar di Balad. Arsitektur bangunannya cukup khas. Bentuknya seperti kotak yang dilapisi jendela-jendela kayu berwarna coklat. Ada sebuah wilayah khusus yang dipugar dan dilindungi oleh pemerintah. Wilayah ini bernama “Historic District.”

 

Historic District. Foto : Dani Rosyadi
Historic District. Foto : Dani Rosyadi

“Historic District” merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari beberapa bangunan lama yang sudah tidak ditinggali lagi. Namun bila kita menyusuri jalan-jalan kecil ke dalam kompleks ini, kita bisa menemukan beberapa tunawisma yang memanfaatkan bangunan kosong ini sebagai tempat tinggal mereka.

Beberapa bangunan seperti hotel dan kantor pemerintahan juga masih mengusung arsitektur khas Arab tempo dulu. Seperti misalnya hotel Radisson di Madinah Road. Diberi aksen jendela-jendela coklat kayu yang mengelilingi keseluruhan bangunan.

Pasar-pasar khas Arab juga banyak di daerah Balad. Jangan terpaku di Corniche Commercial Center saja. Ada Bab Shareef, dimana Anda bisa menemukan macam-macam kaftan dan pashmina yang bisa dibeli grosiran. Harganya tentu lebih murah. Jangan lupa ke Bab Mekkah melihat-lihat karpet dan berburu oleh-oleh khas negeri gurun ini.

Untuk membeli abaya tidak perlu jauh-jauh. Abaya di Madinah memang terkenal dengan harganya yang murah tapi bahannya kurang bagus. Mampir saja ke Queen’s Building yang terletak di belakang gedung Corniche Commercial Center. Rupa-rupa abaya dengan harga variatif bisa Anda dapatkan di sana.

Kota Super Mal

Karena seringnya berbelanja di seputaran Balad saja, tak banyak yang tahu betapa banyaknya mal besar di kota Jeddah Arab Saudi ini. Bukan main pembangunan mal di kota besar yang berjarak sekitar sejam dari kota suci Mekkah ini. Ada belasan bangunan yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Salah satu yang terbesar adalah Red Sea Mall. Letaknya agak jauh, di sebelah utara pinggiran kota Jeddah. Bangunannya berlapis kaca dimana-mana. Wah, saya sendiri kepayahan saat mencoba menjajal habis seluruh sudut mal ini. Ada juga Mall of Arabia yang tak kalah megahnya. Mal ini terletak di Madinah Road, dan pasti akan terlewati dalam perjalanan pulang-pergi antara Jeddah Arab Saudi – Bandara Internasional King Abdul Aziz.

 

Deretan mal besar di Tahlia Street Jeddah Arab Saudi
Deretan mal besar di Tahlia Street

 

Para pencinta barang-barang bermerk kelas atas jangan sampai melewatkan Tahlia Street yang borju. Disinilah banyak bertebaran gerai-gerai internasional ternama, baik yang berdiri sendiri maupun yang terdapat di dalam mal.

Ada bangunan Versace berwarna emas yang khas yang berdiri megah di salah satu sudut jalan. Al Khaiyat mal yang memamerkan brand kelas atas seperti : Gucci, Saint Laurent, Louis Vuitton, Armani, juga Dolce & Gabbana.

Beberapa mal ‘mewah’ yang berjajar di sepanjang Tahlia Street antaralain : Nojoud Center, Le Mall, Jeddah Mall, Tahlia Roshana Center, Tahlia Shopping Center, dll.

Harga barang-barang merek ternama ini akan lebih murah daripada harga barang yang sama di tanah air. Mungkin karena negara Saudi tidak menerapkan aturan pajak apa pun. Bolehlah membeli beberapa untuk selanjutnya ditawarkan kepada kerabat di tanah air.

Kuliner internasional papan atas juga ikut meramaikan hiruk pikuk di salah satu jalanan utama kota ini. Istimewanya lagi, kuliner di Saudi ini dijamin kehalalannya oleh pemerintah. Jadi, silakan sepuasnya bersantai di restoran kelas dunia yang ada di Tahlia Street.

Mal-mal lainnya yang cukup terkenal dan terletak di jantung kota adalah : Andalus Mall, Aziz Mall, Serafi Mega Mall, Roshan Mall, Star Avenue, dsb. Bermunculan pula mal-mal baru dengan ukuran tak kalah besarnya seperti : Haifa Mall dan Central Park.

Jeddah yang Bertabur Monumen

Sekedar menyusuri jalanan kota Jeddah Arab Saudi saja mata kita akan dimanjakan oleh banyaknya monumen yang bertaburan. Sepeda raksasa di Sitten Street yang terkenal dengan istilah ‘Sepeda Nabi Adam’ itu cuma satu diantara seribu.

"Sepeda Nabi Adam". Gambar : Dani Rosyadi
“Sepeda Nabi Adam”. Gambar : Dani Rosyadi

Monumen-monumen ini tertata rapi, dibangun cantik, memenuhi segala sudut kota. Mulai dari ruas jalan, persimpangan, sambungan jalan, sampai ke tepian pantai. Ada yang berupa bangunan yang bentuknya kompleks, tapi banyak juga yang hanya berupa bangunan kecil nan unik. Misalnya : jangka raksasa, alat-alat pertukangan (linggis, palu, dll), benturan mobil warna warni pada sebuah dinding, bola dunia, sampai berupa tangan raksasa yang terkepal dengan gagahnya.

Corniche Road juga merupakan pusatnya monumen-monumen unik. Sembari menikmati suasana pesisir, jangan lupa mengedarkan pandangan melihat-lihat bangunan-bangunan seru yang berjejer di jalanan pantai ini.

Monumen @Corniche Jeddah Arab Saudi . Foto : Dani Rosyadi
Monumen @Corniche Jeddah. Foto : Dani Rosyadi

 

Favorit saya pribadi adalah “The Giant Lantern”, 4 lentera raksasa berdiri perkasa di salah satu jalan protokol, King Abdullah Road. Jika terlihat di siang hari, monumen ini hanya berupa lampu-lampu besar penuh debu tanpa warna. Tapi cobalah melewatinya di malam hari. Lentera raksasa ini akan berselimutkan cahaya warna warni laksana lentera dari negeri dongeng.

"The Giant Lantern". Foto : Raiz Fouqil
“The Giant Lantern”. Foto : Raiz Fouqil

Jalan-jalan di Kota Jeddah?

Sebenarnya tidak perlu waktu lama untuk menyusuri berbagai tempat tadi. Karena infrastruktur jalanannya yang cukup bagus. Jalanan di Jeddah Arab Saudi lebar dan mulus. Kemacetan juga jarang terjadi.

Kalau Anda adalah jemaah umrah dan haji, mungkin bisa menghubungi pengawas rombongan. Pengawas biasanya ada yang memang bermukim di negara Saudi. Para pengawas ini punya kenalan supir-supir yang juga berasal dari Indonesia. Mungkin Anda bisa memanfaatkan jasa mereka.

 

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Nah, ini adalah salah satu contoh tulisan jalan-jalan yang pernah dimuat di Republika. Ini naskah aslinya :D.