Kota Thaif Arab Saudi, Musim Bersemi di Gurun Pasir

Letak Kota  Thaif Arab Saudi ini di arah tenggara Kota Mekkah. Tapi, biar cepet, untuk ke kota Thaif sudah ada jalan tol-nya langsung tidak perlu mengitar kota Mekkah lebih dulu.

 

Yang membuat Kota Thaif istimewa itu karena cuacanya yang agak berbeda dengan kondisi alam khas sebagian besar wilayah Saudi. Thaif dingin dan hijau di hampir sepanjang tahun ^_^. Berasa musim semi terus, deh, kalau jalan-jalan ke kota Thaif.

Tulisan ini saya modifikasi sedikit dari artikel yang pernah saya kirimkan ke salah satu media cetak. Dimuat di Kartini kalau gak salah di salah satu edisi November 2013 :D.

Perjalanan Mendaki Bukit Batu  menuju Kota Thaif

Dari Jeddah, kota ini bisa dicapai dalam 90 menit menyetir dengan mobil. Padahal jaraknya sekitar 150 km apa ya dari Jeddah. Helooo, Saudi gitu, lho ;). Infrastruktur jalan antar kota memang sangat bagus.

Sebelum mencapai  Kota Thaif , kita sudah akan terpukau dengan jalanan yang melewati lereng-lereng pegunungan batu yang terjal. Jalanan ini merupakan akses utama menuju Kota Thaif. Jalanan yang panjang, curam, dan meliuk-liuk tersebut dibangun dengan megah di atas gunung-gunung batu.

Jalanan bukit batu ke Kota Thaif

Saya tak bisa membayangkan berapa lama pemerintah Saudi membangun jalanan tersebut. Mengingat bangunannya yang terdiri dari tiang-tiang penyangga jalan yang kokoh dan panjang. Biarpun medannya terlihat menakutkan tapi sangat aman dan nyaman untuk dilalui.

Keselamatan sangat diperhatikan. Di tiap tikungan yang sangat curam dan belokan tajam dipasang banyak speed breaker. Dua jalur yang tidak searah disekat dengan beton panjang. Kita tak akan berpapasan langsung dengan mobil dari arah yang berlawanan. Di pinggiran jalan yang mengarah ke lembah juga dibangun beton-beton tinggi dan kokoh. Tiap jalur berukuran cukup lebar.

Selain jalanannya yang lebar dan mulus, juga disediakan tempat-tempat khusus bagi yang ingin menepi. Biasanya orang-orang menepi untuk bersantai sejenak sambil menikmati hamparan perbukitan batu dari atas. Banyak juga yang merekam indahnya jejak alam ini melalui kamera.

Yang cukup berkesan dan unik adalah monyet-monyet yang terlihat di sisi jalanan sepanjang lereng. Di salah satu tempat menepi, mereka bebas berkeliaran dan nampak mendekat jika ada mobil yang berhenti. Mungkin menanti makanan. Dan benar saja, orang-orang sibuk melemparkan makanan ke arah mereka.

Monyet di Bukit Batu Highway - Kota Thaif

Kami tak sempat mendekat karena anak-anak saya terlihat takut dan risih. Padahal monyet ini termasuk hewan favorit mereka dalam berbagai acara televisi dan buku-buku cerita bergambar. Mungkin berbeda rasanya melihat mereka di dunia nyata. Hihihihihi :p.

Naik Kereta Gantung di Al Hada

Kota pertama yang akan kita lewati selepas menyusuri jalanan mendaki tadi adalah Al Hada. Begitu memasuki Al Hada, warna hijau sudah mulai mendominasi kiri kanan jalan. Hawanya mulai sejuk.

Belum puas menikmati pemandangan dari atas bukit batu? Mampirlah ke Hotel Ramada. Lokasi hotel berada di puncak salah satu lereng di perbukitan batu yang terlewati tadi. Persis di samping Hotel Ramada ini, kita bisa menikmati hiburan berupa naik kereta gantung (cable car) yang akan melintasi sepanjang areal perbukitan batu dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Kota Thaif
Kereta gantung di Al Hada

Kereta gantung akan menempuh rute menurun, menuju sebuah waterpark di salah satu lembah di dasar perbukitan batu. Butuh sekitar setengah jam untuk tiba di kawasan waterpark.

Duh, deg-degan juga ketika berada di tengah-tengah. Karena pemandangan di luar didominasi oleh batu-batu terjal yang berukuran raksasa. Berjajar rapi membentuk perbukitan batu yang luas dan terjal. Gak bakal berani memandang ke bawah lama-lama. Hahaha.

Kota Thaif Kereta Gantung Hada

Tarifnya sekitar 90 SR (saudi riyal) per orang. Ini sudah termasuk berpiknik dan berenang di kawasan waterpark dan perjalanan bolak balik dari atas (Hotel Ramada) ke waterpark dan sebaliknya. Itu dulu, ya, info dari teman sekitar tahun 2012. Entah berapa kira-kira sekarang.

Di kawasan waterparknya ada playground yang wahananya seru-seru. Sempat lihat foto-foto madam-madam Jeddah liburan ke sana tahun lalu.

Kota Thaif Waterpark Al Hada
Waterpark Al Hada (Male only! :D) gambar : Raiz Fouqil

Konon katanya lebih seru jika memilih malam hari. Kita bisa melihat lampu-lampu yang menghiasi kota-kota besar di sekitar Thaif dari atas.

Bersantai di Playground KotaThaif

Kota Thaif adalah kota kecil, jauh lebih sepi daripada kota Jeddah. Kami hampir tak bisa menemukan petunjuk jalan atau toko dalam tulisan latin. Hampir semuanya dalam tulisan Arab. Dari jauh saya dan suami sempat main tebak-tebakan. Apakah tempat yang akan kami lewati di depan adalah toko baju atau rumah makan. Kami memang belum fasih membaca tulisan arab.

Taman-taman kota yang hijau dan cukup rimbun banyak terlihat dimana-mana. Bangunan-bangunan apartemen dan toko di jalan-jalan berukuran kecil dan tampak kusam. Nyaris tak ada bangunan baru.

Kota Thaif

Ternyata tak perlu waktu lama untuk menyusuri sudut-sudut kota. Mungkin setengah jam saja sudah cukup. Lalu, kami bergabung dengan teman-teman lain. Ikut gelar tikar dan duduk bersantai di salah satu taman kota yang hijau. Tamannya cukup hijau, dilengkapi dengan playground yang cukup lengkap agar anak-anak bisa bebas bermain-main.

Para orang tua duduk bersantai di bawah pohon. Anak-anak kami biarkan berlari-lari di areal taman bermain. Selain berlarian dan berkejaran, mereka juga memanfaatkan fasilitas bermain lain seperti : ayunan, jungkat jungkit, perosotan, dll. Semuanya bebas dinikmati tanpa keluar biaya.

Playground Kota Thaif

Mampir ke Ash-Shafa

Nah, sempat pula di suatu sesi jalan-jalan ke kota Thaif Arab Saudi, rombongan mampir ke  Shafa. Shafa letaknya tidak jauh dari Thaif. Hanya sekitar 40 menit menyetir santai.

Jalanan menuju Shafa juga tergolong mulus. Pemandangan sepanjang kiri kanan jalan adalah perbukitan hijau dengan lembah-lembahnya yang landai. Sangat kontras dengan suasana Negeri Gurun yang umumnya didominasi padang pasir bersemu warna coklat.

Kalau menurut saya, pemandangannya mirip sekali dengan suasana sebuah padang rumput maha luas di trilogi film “Lord of The Ring.” Makanya saya memberi julukan sendiri buat Shafa, middle earth-nya Saudi. Duh, kangen, euy. Hiks :'(.

Kami berhenti di salah satu taman di pinggir jalan. Tamannya tidak terlalu terawat. Tanaman tumbuh tidak rapi dan tempatnya agak dekat dengan lembah. Biarpun tidak curam, para Ibu nampak sibuk menjaga balitanya agar tidak berlarian menuju bibir lembar.

Sayang sekali, kami tiba di Shafa saat senja sudah mulai menghampiri. Sudah hampir gelap. Perbukitan hijau yang berbaris memanjang tak sempat tertangkap kamera dalam perjalanan tadi.

Kota Thaif ke arah Ash Shafa
Ash-Shafa

Berburu Oleh-oleh Buah-buahan Segar

Langit sudah mulai gelap saat kami beranjak meninggalkan Shafa. Lampu-lampu mulai dinyalakan di sepanjang jalan. Perjalanan pulang yang tadinya dikhawatirkan akan gelap gulita, malah menjadi terang benderang.

Dari Shafa, kita bisa langsung menuju Al Hada. Sebelum meninggalkan kawasan Thaif dan Al Hada ini, jangan lupa berbelanja buah-buahan segar. Mampirlah ke sebuah lapak penjual buah-buahan yang cukup besar dan ramai. Tempatnya pasti terlewati dalam rute perjalanan pulang.

Iklim yang sejuk memungkinkan perkebunan buah-buahan tumbuh subur di kawasan ini. Thaif merupakan pusatnya anggur dan apel.

Harganya memang relatif murah daripada harga buah yang sama di kota Jeddah. Terutama buah anggur. Dengan hanya membayar 10 SR, kita bisa mendapatkan sekitar 1-2 kilo buah anggur hijau yang dikemas dalam sebuah kotak kardus. Rasanya pun lebih manis. Buah-buahan lain yang tersedia antaralain : jeruk, apel, kiwi, peach, pisang, mangga, dsb.

Penjual Buah Kota Thaif

Menginap dan Makan Dimana?

Sepertinya tidak ada rumah makan khas Indonesia di sepanjang Al Hada – Thaif – Shafa. Maklumlah kota kecil. Nyaris tak ada pendatang asal Indonesia yang bermukim di daerah ini. Mungkin ada tapi pasti jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar seperti : Riyadh, Jeddah, Mekkah, dan Madinah.

Tapi jangan khawatir. Makanan khas Timur Tengah seperti kebab dan nasinya yang beraroma khas lumayan cocok, kok, untuk lidah Asia kita. Kebab daging sapi dan ayam rasanya mirip-mirip dengan sate. Di sepanjang jalan, rumah makan yang menyajikan kebab dan nasi khas Arab tak sulit ditemukan.

Harga makanan di wilayah ini sedikit lebih mahal dibandingkan harga makanan yang sama di kota-kota besar Saudi. Untuk satu porsi mungkin perlu sekitar 20 – 25 riyal per orang. Tapi satu porsi nasinya memang sangat banyak. Porsi standar orang Arab memang lebih banyak daripada porsi makanan untuk satu orang di tanah air.

Nasi Kabsah Kota Thaif

Bagaimana dengan penginapan? Banyak hotel-hotel berbintang yang tersebar  di kawasan Al Hada – Thaif. Seperti Hotel Ramada dan Hotel Intercontinental Thaif. Tapi kalau masih kuat menyetir sekitar 40 menit, lebih baik menginap di kota Mekkah saja.

Kota Mekkah menawarkan lebih banyak jenis penginapan dengan harga bervariasi. Lokasinya pun mudah ditemukan saking banyaknya hotel dan penginapan lainnya di kota Mekkah.

Infrastruktur jalan di Saudi ini memang sangat memanjakan para pengemudinya. Menurut suami saya, menyetir di Saudi tidak terasa melelahkan seberapa pun jauhnya.

Kota Thaif Jalan tol di bukit berbatu
HIghway-Thaif

Jalan tol penghubung Mekkah dan Jeddah misalnya, lurus-lurus saja. Manalagi kondisi jalan yang mulus dan lebar,  dua jalur berlawanan arah selalu disekat rapi, sehingga makin nyaman urusan menyetir ini. Manalagi macet hampir tak pernah ditemui.

Pompa bensin pun tak sudah ditemukan di sepanjang jalan tol. Tiap pompa bensin dilengkapi dengan toko-toko kelontong. Ada juga kedai-kedai kecil yang menjual kebab mini dan semacamnya. Jadi bisa mampir kapan saja dan melepaskan sedikit penat  jika lelah mulai menghampiri.

***

Tadinya mau menulis tentang Fore Abbey atau Rock of Cashel yang kemarin foto-fotonya baru saja disubmit sama fotografernya hahahaha.

Pas blusukan di segambreng folder foto eh nyangkut di foto-foto lama. Dibukain satu-satu jadi gatel mau posting ujung-ujungnya. Jadilah barusan yang dibuat adalah postingan tentang Thaif, salah satu kota yang cukup sering jadi sasaran berlibur kami saat masih tinggal di Jeddah dulu.

Begini ini ribetnya suka koleksi foto jalan-jalan. Kalau dilihat-lihat lagi malah jadi kangen :(.

“People say that bad memories cause most pain. But actually, it’s the good ones that drive you insane.” -unknown-

Couldn’t agree more :).

***

Gurun Bahrah Padang Pasir di Arab Saudi

Checkpoint, Serba Serbi Arab Saudi

***

“Oh, checkpointnya agak rame. Agak tersendat, nih.”  Saya lagi merem-merem pengin tidur. Jadi kaget dengar kata-kata suami saya barusan.

“Ha? Checkpoint?”

“Iya. Kalau di Saudi ini tiap mau masuk ke kota lain, harus ngelewatin checkpoint dulu.”

Saya mendadak terjaga melihat seorang penjaga berpakaian ala militer memegang senapan panjang. Dia berdiri sekitar 50 meter di depan mobil kami. Antrian mobil mendadak terhenti. Teman si penjaga tadi, terlihat menunduk berbicara kepada pengemudi mobil paling depan.

Dasar penakut. Lutut langsung lemas. Idih, ngeri amat, sih. Ketika giliran kami melewati si duo penjaga tadi, takutnya minta ampun. Ternyata, si bapak pemanggul senapan dan temannya tadi, menengok ke arah kami saja tidak. Hahaha.

***

Checkpoint itu apaan, sih? Istilah ini bagian dari serba serbi hidup di Arab Saudi :D.

Checkpoint ini diartikan sebagai titik pemeriksaan. Hampir semua kota di Saudi ini dilengkapi dengan pos penjagaan lengkap dengan petugasnya saat kita akan memasuki kota yang bersangkutan. Termasuk kota-kota kecil lho. Jadi, sebelum memasuki kota tertentu, kita harus melewati pos ini dulu.

checkpoint-2-americanbedu-com

Pos penjaga di salah satu checkpoint di Saudi (source : americanbedu.com)

Wah, kedengarannya kok sangar benar yah. Benar banget. Saya saja saat pertama kali tahu soalcheckpoint ini sempat parno kalau mau ke luar kota. Saban ketemu checkpoint, gelisah sendiri.

Padahal yaaaaaa…. kadang, seringnya di kota kecil, checkpoint itu cuma semacam gardu mini saja. Malah petugasnya sering gak terlihat. Sekedar formalitas aja.

Tapi saat kita akan melewati pos penjagaan ini ya harus menurunkan kecepatan kendaraan. Gitu aja kok. Kalau pun ada petugas, kalau petugasnya sendiri, biasanya asiyk maenan HP, mungkin curhat ke pacar : “Yang, panas bener, disuru berdiri pula sendirian disini. Kamu sini dong!” ahahaaaiiiii….

Kalau petugasnya ada beberapa orang, mereka kadang asik ngobrol aja rame-rame. Tapi teteeeeppp, mesti pelan-pelan kalo lewat sini. Cool aja :P.

***

Yang agak ketat itu kalau memasuki kota-kota besar seperti Jeddah ini. Atau kalau memasuki tanah haram :  Mekkah dan Madinah. Apalagi pas musim haji, masuk Makah bisa ribet.

Kita tetap bisa memasuki Mekkah untuk ngunjungin sodara dari Indonesia atau untuk sekedar umrah, masih boleh. Lebih ketat lagi saat akan memasuki Makah menjelang wukuf. Selain untuk jemaah haji, Mekkah tertutup rapat.

Nah, kalau masuk Jeddah, seringnya memang tertahan agak lama saat melewati  si checkpoint. Selain karena pasti banyak mobil lah ya, mesti pelan-pelan, dan pasti ada penjaganya. Biarpun kadang cuma lihat-lihatan saja dengan penjaganya. Diberhentiin sih jarang banget.

Sempat tersendat-sendat rada macet lah kalo mau masuk Jeddah. Apalagi pas sore-sore di hariweekend (kamis dan jumat). Macet? oh tidaaaakkk, yaela…. paling ketahan 10 menitan doang. Kalo dah biasa di Jakarta sih, 10 menit mah keciiiillllll :P .

checkpoint-guardian-co-uk1

Antrian mobil di checkpoint (source : guardian.co.uk)

***

Tapi urusan checkpoint ini bukan perkara gampang buat para bujangan. Apalagi jika seisi mobil isinya laki-laki semua. Yang model gini potensinya besar buat diberhentiin dan ditanyain surat macam-macam. Kalau dalam mobil ada perempuan, apalagi ada anak kecil dan bayi pula, biasanya sih amaaaann, pasti lolos-lolos aja ;).

Sebenarnya kalo apes disuruh berhenti ya jangan takut juga. Paling cuma ditanyain kelengkapan surat-surat aja. Seperti SIM, STNK, dan Iqoma (resident permit untuk warga Saudi). Kendaraan yang diperiksa pun sifatnya random.

Hal ini merupakan salah satu ciri khas negara Arab Saudi. Seringnya tidak se’mengerikan’ yang dibayangkan. Penyebab adanya pemeriksaan macam ini mungkin juga karena negara satu ini belum memberikan izin berupa visa turis. Sebagian besar tamu dari negara lain datang dengan visa umrah/haji. Pemegang visa umrah/haji seharusnya memang tidak serta merta bebas keluyuran ke mana-mana :D. Atau ada juga istilah visit visa. Biasanya visa ini untuk keluarga dari para pemukim (dari negara lain) yang diundang dengan invitation letter yang ngurusnya juga kadang gampang kadang ribet huhuhu.

Bapak Mertua di Masjid Apung (Maret 2011)
Bapak Mertua di Masjid Apung (Maret 2011)

Kami dulu tidak pernah sukses mengundang orang tua dengan visit visa ini. Padahal teman-teman lain lancar-lancar saja :(. Orang tua kami datang dengan visa umrah, walaupun menginap dan jalan-jalannya bersama kami ;). Lolos-lolos saja, tuh, bapak dan ibu mertua dari berbagai checkpoint yang dilewati hehe.

Kesimpulannya, ya jangan keburu jiper lah. Kalo udah sering bolak balik antar kota, paling ngelewatin checkpoint ini seperti layaknya melewati pompa bensin saja kok hehehehehe. Santaiiiiiii….^_*.

Kapan-kapan kita cerita-cerita lagi tentang serba serbi Arab Saudi :D.

***

Thuwal Beach yang Mempesona, Jalan jalan Arab Saudi

Konon, kata teman-teman saya yang masih berada di Jeddah, Pantai Thuwal sudah tidak seperti dulu lagi. Mungkin maksudnya, Pantai Thuwal sudah tidak sebersih dulu lagi. Padahal yang membuat saya betah banget datang dan datang lagi ke sana ya karena kebersihannya dan fasilitasnya yang lumayan lengkap. Episode Thuwal termasuk jalan jalan Arab Saudi yang paling berkesan.

jalan jalan Arab saudiPantai Thuwal letaknya di Kota Thuwal. Thuwal terletak segaris dengan Kota Jeddah, sama-sama di pesisir barat daratan Arab Saudi. Yang menyebabkan kota-kota di wilayah  barat banyak yang berbatasan langsung dengan Laut Merah.

Namun, pesisir Thuwal letaknya di daerah tanjung. Pantainya berair tenang dan tak ada ombak besar. Kita bebas berenang di pinggiran lautnya.

Berjarak 80 km di sebelah utara Jeddah, itungannya dekat banget :). Wajar, kalau Pantai Thuwal ini hampir selalu menjadi spot untuk acara kumpul-kumpul versi pantai. Kalau bosan di Corniche Road – Jeddah, kita konvoi ramai-ramai ke Pantai Thuwal.

jalan jalan Arab Saudi

Pantai Thuwal ini terhitung baru. Saya ingat, sekitar bulan Oktober apa November tahun 2010, kami bertiga sekeluarga jalan-jalan ke Kota Thuwal. Narda belum ada, masih di dalam perut :P. Rencananya waktu itu mau mengunjungi KAUST, universitas bertaraf internasional yang letaknya di Kota Thuwal.

Uniknya lagi, dalam kompleks universitas yang terhitung luas itu, aturan khas Saudi tidak berlaku. Jadi, boleh melepas abaya, perempuan boleh menyetir dsb. Maklum, universitasnya sebisa mungkin menarik perhatian pelajar dari seluruh penjuru dunia :D.

Eh, kami malah nyasar ke pantainya :D. Tempo itu, kami ragu mau masuk, karena sepiiiii banget. Kirain private beach, yang masuknya pakai bayar. Di beberapa area juga nampak masih belum rampung 100%.

Jalan jalan Arab Saudi
Thuwal Team, Desember 2010 🙂

Nah, waktu mengusulkan jalan-jalan ramai-ramai di bulan Desember 2010, tercetus deh niat untuk ke Pantai Thuwal. Ternyata, pantainya untuk umum dan … gratis! *BibiGoberLangsungLega* hahaha.

Di penghujung tahun 2010 itulah pertama kali saya ke Thuwal. Ramai-ramai tentu saja. Semacam arisan, gitu hehe. Sungguh tidak menyesal, ya. Musim dingin membuat angin bertiup sepoi-sepoi. Walau terik tapi tidak terasa panas. Anak-anak puas bermain, emak-emak puas foto-foto hahaha.

Jalan jalan Arab SaudiWaktu itu, kami berangkatnya pagi. Walau kesepakatan jam 7, tetap saja perginya jam setengah 9 hihihihi. Menjelang ashar, baru kami pulang.

Lalu, agak lama bosan menginjak pantai. Kalau pun ke pantai, kami memilih Yanbu atau Rabigh yang agak jauhan. Tenang, Yanbu dan Rabigh akan diulas juga nanti :D.

Bulan November 2011, jalan jalan Arab Saudi kepikiran ke Thuwal lagi. Kali ini, acaranya agak sorean. Selepas ashar baru mulai konvoi. Ini agak sedih acaranya, karena salah satu anggota inti Geng Madam (hihihi) akan segera hengkang dari Jeddah…for good. Semacam acara jalan-jalan perpisahan gitu kali, ya :(.

Pertama kalinya ada keluarga yang hendak pamit. Sedih banget lah. Tapi dasar emak-emak, hari itu, kami benar-benar tampil gonjreng hahaha. Ada  yang memakai abaya berwarna pula :P. Foto-fotonya malah ngikik-ngikik.

Jalan jalan Arab Saudi

Yang kali ini, kami sampai lama baru ninggalin pantai hihihi. Sampai malam jam 9 gitu kalau enggak salah. Bapak-bapak dan anak-anak sibuk main layangan selepas magrib. Sayang enggak ada foto-fotonya pas main layangan itu.

Enaknya pantai yang satu ini, fasilitasnya bagus. Tak cuma dilengkapi banyak kamar mandi dan petugas kebersihan, juga ada semacam bangunan terbuka yang bisa dipakai duduk-duduk. Luas pula. Bila malam tiba, lampu-lampunya juga menyala. Tetap cantik suasananya menjelang malam :).

Jalan jalan Arab Saudi

Kunjungan beramai-ramai berikutnya adalah di bulan September 2012. Kali ini, saya kebagian menjadi koordinator acara arisan. Langsung gatal mau bikin lomba ini lomba itu hahaha. Bosan juga, ya, saban jalan-jalan merengek-rengek ke para suami minta foto-foto :P. Anak-anak selalu dibiarkan main sendiri.

Nah, jadilah waktu arisan September itu, dibantu 2 madam keren ini, Madam Mira dan Anggi, jadi deh kita bikin lomba untuk lucu-lucuan untuk anak-anak. Disediakan hadiah iseng-iseng segala biar mereka pada semangat. Anak kecil mah dikasih hadiah apa juga senang yaaaaaa ^_^.

jalan jalan Arab Saudi

Salah satu  lombanya itu lomba makan kerupuk. Indonesia sekaleeeee hihihi. Iya dong, biar pada enggak lupa sama kampung halaman ;). Lagian, yang namanya kerupuk berhamburan yang jualan di Jeddah mah ya. Makanan khas tanah air apa, sih yang enggak ada di Jeddah? ;). Itulah enaknya tinggal di Saudi. Perut terjamin lahir batin :P.

Anak-anaknya heboh. Bapak-bapaknya juga semangat foto-fotoin mereka. Emak-emaknya apalagi, lebih semangat lagi girangnya hahaha…

Terus ada lomba mencari harta karun untuk yang lebih kecil. Thanks untuk Madam Mira yang sudah niat banget bikinin topi ala bajak laut ^_^. Giliran para krucils versi balita yang beraksi :D.

Jalan Jalan Arab Saudi

Dikira habis lomba, anak-anak sudah capek. Widih, baterenya masih full. Semuanya berlarian ke arah pantai dan sibuk main pasir. Yang gede-gede langsung nyemplung ke air. Bapak dan emak-emaknya pun  towel-towelan ganti-gantian jagain anak. Soalnya yang satu grup sibuk ngerumpiin kamera plus foto-foto pemandangan, satu grup lagi sibuk menata makanan sambil bergosip di atas tikar :D.

“Ayaaaahhh…jagain anak-anak, dong.”

“Yaaaa, Bunda ajalah…”

“Gantian ah, Ayah duluan…”

“Bunda dulu. Entar baru Ayah nyusul, deh.”

Hahahaha…

Jalan jalan Arab Saudi

 

September 2012 itulah, terakhir ke Thuwal di jalan jalan Arab Saudi :). Kenangan penghabisan di masa-masa bermukim di Jeddah.

Kalau di Jeddah itu senangnya karena ke mana-mana selalu segerombolan full hihihi. Sampai-sampai kita pernah sok-sok-an mau offroad di Gurun Bahrah, yang punya sedan juga gatal mau ikutan. Sedannya sih ditinggal di parkiran. Penghuni sedan umpel-umpelan di dalam Fortuner, Jeep sama CX-9 hahahah. Apa pun demi mejeng di gurun ya, Kakaaa.. Tenaaaanggg, jalan-jalan ala offroad tebengan ini pun akan dikupas tuntas … nanti! Entah kapan :P.

Ya gitu deh, jalan jalan  Arab Saudi ala Keluarga Besar Telco Indonesia di Jeddah ^_^. Katanya, sih, sekarang sudah jarang main ke Thuwal karena tempatnya sudah tidak sekeren dulu lagi :(. Tapi .. jadi ketemu banyak spot jalan-jalan yang lain. Seperti Al Baha yang hijau dan sejuk :). Sayangnya, sampai final exit dari Saudi, belum kesampean mencicipi segarnya udara pegunungan di Al Baha huhuhu -_-.

Udah, ah, malah curcol enggak penting hahaha. Salam hangat dari semenanjung Thuwal. Kalau masih ada umur panjang, in shaa Allah  berkesempatan jalan jalan Arab Saudi  lagi ^_^. Amin :).

Jalan Jalan Arab Saudi

Jalan-jalan Arab Saudi, Flea Market ala Haraj

Seorang teman pernah bertanya, “Repot banget kali, ya, kalau tinggal di luar negeri terus pindah-pindahan? Packingnya itu lho…”

Well, sebenarnya tergantung orangnya :D. Saya pribadi, saat tinggal di luar negeri, memang ogah beli macam-macam *nyengirGober* :P. Ngapain? Kan memang diniatkan tinggal sementara.

“Tapi, kan, 2-3 tahun juga lama, Je…”

Lama…tapi kan tetap sementara ;). Suatu hari, sudah kita niatkan pergi ke tempat baru, kan? Walau entah kapan hehe.

Di Irlandia enak. Soalnya apartemen banyak yang disediakan sudah dalam bentuk ‘fully furnished’. Di apartemen Athlone ini saya tinggal beli bantal + selimut + seprei doang. Senangnya. Nah, waktu di Jeddah, apartemen model FF itu terlalu mahal dan kecil-kecil. Yang lazim, bila ingin bermukim lama,  menyewa apartemen kosong yang kita beli sendiri isinya.

Saya juga memang malas repot, sih. Kalau ibu-ibu rumah tangga lain kan suka mikirin peralatan dapur mesti ini itu. Kalau saya, gimana yang gampang saja. Dan tentu saja … *bisikBisik* jangan yang mahal-mahal hahaha. Peralatan dapur didominasi plastik. Biar enggak repot kalau mau pindahan nanti. Tinggal dikasih ke teman atau dibuang sekalian kalau enggak ada yang mau :P. Sendok saja saya belinya yang 5 riyal satu lusin! 1 riyal waktu itu setara dengan 2500 rupiah.

Nah, kalau untuk perabotan rumah tangga yang gede-gede kayak sofa, lemari, meja-mejaan gitu kemana dong? ya ke IKEA dooongggg :P. Senengnya kalo ke IKEA ini karena modelnya rata-rata minimalis dan lucu-lucu gitu. Harganya menurut saya tidak terlalu mahal, dibandingkan dengan harga-harga furnitur di toko-toko lokal arab.

Lagian yang di toko lokal arab ini model furnitur nya rame banget. Sofa udahlah warna merah menyala dipadu dengan warna emas. Masih pula di ditambahin aksen permata dimana-mana. Helooooo -_- …

Tapi ada alternatif pilihan lain yang lebih murah. Nah, tema jalan-jalan Arab Saudi kali ini adalah Belanja aja di Haraj ^_^. Haraj ini semacam tempat untuk membeli barang-barang bekas. Tapi di sini barang baru pun ada yang diperjualbelikan. Takutnya yah, mereka jual barang bekas ngakunya baru, mending sekalian kalo ke Haraj niatin beli barang bekas aja.

Haraj, a place for used-stuff sale (www.flickr.com by Rowen Rivera)

Jual apa aja sih di Haraj? Macam-macam. Lemari dah pasti ada. Dipan / tempat tidur (ada yang tanpa kasur ada yang sekalian ama kasurnya). Kompor pun juga banyak. Kompor standar disini kan yang gede yang pake oven sekalian itu, tapi kompor model 2 tungku biasa itu juga ada. Berbagai sofa segala warna ada disini. Tapi yah rata-rata model-model ala orang arab gitu sih ya, jadi sofa mending ke IKEA deh. Meja makan pun juga berhamburan dimana-mana. Sampe karpet pun banyak bergelantungan minta dibeli :P. Baju-baju dan segala tetek bengeknya juga ada.

Barang-barang elektroniknya lengkap. Vacuum cleaner, televisi (baik yang model CRT tempo dulu ato yang LCD juga ada), kulkas segala ukuran, lampu-lampu, komputer/notebook dkk, oven listrik, AC, komplit lah.

Perlengkapan bayi juga banyak rupanya disini. Mainan anak banyak. Stroller banyak, baby box juga ada, sampe lemari-lemari baju bayi yang lucu-lucu juga ada. Baju bayi bekas? hahahahaha…. sini,sini saya kasih tau tempat belanja perlengkapan bayi yang murah-murah tapi enggak bekas :D. Ada di toko yang namanya Ex-Ina. Ex-Ina ini banyak kog cabangnya di Jeddah. Salah satunya di Sitten Street, sebelahan ama Red Tag. Yah, model-model nya banyak yang nyontek Mothercare hihihihi, tapi percayalah harganya asoy ;).

Kondisinya macam-macam. Rata-rata sih yang lemari satu set ama meja rias mending beli di Haraj. Modelnya bagus-bagus dan sudah dicat ulang. Paling ada sedikit goresan ato rusak dikiiiiiit, tapi masih bisa dipakai.

AC juga karena perlu banyak, mending beli aja di Haraj. Maklum, suhu gurun sungguh membara. Di apartemen saya pakai 3 AC, 2 diantaranya keluaran Haraj :P.  Sebagai perbandingan harga, di IKEA harga lemari + meja rias mungkin rata-ratanya sekitar 2000 riyal kali yah. Kalo di Haraj? 400 riyal juga sudah dapat yang lumayan ;).

Jual beli di Haraj pakai sistem tawar menawar. Tapi biasanya enggak akan berlangsung alot. Karena penjual di sini ya kalau harga cocok ayoo, kalo enggak cocok mereka ya diam saja. Jangan harap bakal dibujuk-bujuk hehehe.

https://www.flickr.com (by Rowen Rivera)

Tempatnya sendiri untuk yang Haraj Jeddah, letaknya saya tidak tahu pasti sih hehehe. Pokoknya dari Balad luruus aja. Tapi kalo nanya-nanya pasti banyak yang tahu lah. Asal jangan tanya saya hahaha.

Haraj Jeddah berupa kios-kios yang membentuk koridor yang panjang. Di tiap koridor ada 2 sisi, dan jalanan di tengahnya juga luas, jadi kita bebas berkeliaran disini pake mobil. Pengaturan barangnya ada yang disusun rapi dan dibungkus pakai plastik. Tapi banyak juga yang dibiarkan berserakan seperti foto di atas, duh, dah kayak tumpukan sampah :(.

Kalo dilihat-lihat tempatnya agak-agak mirip sama Gedebage Bandung tempo dulu hehehehe, ato mirip pasar Senen yang jual baju-baju bekas itu loh (husss baju bekas, barang-barang vintage maksudnya :P). Tapi Haraj Jeddah lebih luas, tempatnya terbuka, dan kios-kiosnya lebih rapi.

Lantas, kalo dah beli bawa pulangnya gimana? Nah di Haraj ini udah satu paket antara penjual dan tukang angkut barangnya. Sudah banyak delivery services yang nongkrong di depan kios-kios. Kalo sudah deal sama penjual, kita tinggaldeal lagi ama si tukang antar barang ini. Nanti dianterinnya kita bisa konvoi ama si mobil barang (kalo kita bawa mobil) atau kita ikutan deh di mobilnya si bapak pengantar barang ini.

Selain furnitur rumah tangga, Haraj mobil bekas juga ada. Tempatnya nun jauh di mana gitu. Tapi kalo mau beli mobil bekas, mending langsung ke used-car-center dari merk mobil yang diincer. Brand-brand ternama macam Honda dan Toyota membuka cabang used-car-center di berbagai tempat di dalam kota Jeddah, enggak mesti jauh-jauh keluar kota.

Aduh, serasa membanting harga diri banget yah belanja di Haraj. Enggak kok, belanja di Haraj udah umum buat kalangan pendatang di Saudi :). Tapi bijak-bijak saja dalam membeli, karena namanya barang bekas enggak ada garansinya (terutama barang-barang elektronik).

Dan jangan kikir-kikir amat lah, belilah satu-dua buah furnitur di IKEA, sekedar buat pencitraan, buat dipamer-pamerin kalo rumah kita dapet giliran jadi tuan rumah pas acara ngaji ibu-ibu hehehe. Satu sofa mungil pun tak mengapa *ngikikNgirit*.

***

Warisan Dunia di Madain Saleh Arab Saudi

Ini nih, tempat yang seharusnya dikunjungi pas januari 2011. Pas Jeddah tengah dilanda banjir :D. Gara-gara banjir, buyar semua rencana jalan-jalan ke Madain Saleh Arab Saudi di awal tahun itu.

Sempat sudah putus asa mau ke sana. Soalnya tempatnya jauh, booo. Kalau cuma berempat bareng suami dan anak-anak, ogah amat hihihi.

Madain Saleh Arab Saudi terletak sekitar 400 km dari Madinah. Madinah sendiri 400 km dari Jeddah. Ya dikira-kira sendiri itu jauhnya dari Jeddah *ngelapKeringat*.

Eh, di akhir 2012 kemarin, ada rencana untuk konvoi ke sana. Langsung tunjuk tangan paling tinggi. Kebetulan pula, kami kan sudah mau final exit di bulan Februari 2013. Alhamdulillah, rencana berjalan lancar *tepukTangan* … dan inilah cerita jalan-jalan kami waktu itu :).

Al Ula

Tempatnya terletak di Kota Al Ula. Kota ini cukup khas. Pemandangannya unik. Tidak seperti kebanyakan kota di Saudi yang didominasi oleh pegunungan batu abu-abu dan padang pasir, di kota ini banyak gunung-gunung batu dengan warna coklat.

Sebagian besar sudah terpahat. Bukan sengaja dipahat. Tapi terpahat sendiri oleh alam. Kesannya sih jadi  kayak The Grand Canyon di Amerika Serikat sana. Iya gitu? Iya-in ajalah hihihhi.

Madain Saleh

Jadi, kita ini pada ke Madinah dahulu sebelum ke Al Ula. Menginap semalam di hotel. Sehabis salat subuh di Nabawi (aih, kangennya *hapusAirMata*), sarapan di resto hotel, baru deh kasak kusuk di lobi siap-siap menuju Al Ula.

Dari Madinah ke Al Ula lumayan pegel…400 kilo gitu lhoooo :P. Tapi di perjalanan, ditunjang dengan jalan tol mulus nan lebar, bapak-bapak ngebutnya enggak kira-kira. Sekitar 3 jam sajahhh nyetirnya :D. Kalau  jalanan yang sepi-sepi gini diperkirakan enggak ada si Saher, kamera pengintai batas kecepatan di jalanan tol.

Di Al Ula, sampai 2x ngisi bensin hihihi. Iyalaaahhh, ngebutnya enggak tanggung-tanggung, bensin langsung jebol. Mumpung seceng per liter ya, Kakaaaa ^_^.

Madain Saleh Arab Saudi / Al  Hijr 

Madain Saleh

Nama asli tempat ini adalah Al Hijr. Tapi, konon tempat ini dulunya adalah tempat bermukimnya Kaum Tsamud, kaum yang dilaknat Allah pada masa Nabi Saleh. Makanya disebut-sebut sebagai Madain Saleh.

Madain, dari kata Madinah. Madinah, dalam bahasa Arab artinya kota. Madain = sekumpulan kota. Sedangkan Al Hijr artinya pegunungan batu. Cocok lah. Secara isinya memang jajaran bukit-bukit batu.

Sebelum memasuki Al Hijr, kita sudah menyewa seorang pemandu. Selain untuk memandu acara jalan-jalan kita, beliau juga yang membantu mengurus surat tasrikh (semacam surat izin) untuk memasuki tempat tersebut. Masuknya sih gratis, tis, tis *tepukTanganLagi*. Tapi kudu pakai tasrikh itu.

 

Kereta Api dan Stasiun Tempo Dulu

Dari pintu masuk, mampir ke sebuah tempat yang ada kereta apinya gitu. Tentu saja, begitu mobil parkir, anak-anak dah kesetanan berlarian ke sana hihihi.

Langsung  merubung dekat kereta api. Ternyata ini adalah kereta api peninggalan dari Kekaisaran Ottoman yang pernah menguasai jazirah Arab termasuk daratan Arab Saudi.

Kereta api, lengkap dengan stasiunnya, dibangun untuk mengangkut jemaah haji menuju Mekkah. Di masa Perang Dunia 1, tempat ini sempat hancur akibat perang lokal di sana. Pemerintah Saudi kemudian merenovasinya dan dijadikan tempat wisata :).

Rangka keretanya masih asli, lho. Hanya dicat ulang saja ;). Demikian pula bangunan-bangunan di sekitar tempat itu. Masih asli, hanya dipermak ulang.

Madain Saleh

Kuburan di Bukit Batu

Setelah susah payah nangkepin bocah satu-satu untuk digotong masuk mobil lagi (pada norak liat kereta siiiihhhh -_-) … lanjut lagi acara membedah Madain Saleh Al Hijr-nya. Ngikut di belakang mobil jip-nya si pemandu aja.

Kami berhenti kembali di sebuah tempat yang dari jauh kayaknya cuma perbukitan batu biasa. Setelah turun dari mobil, baru terlihat, bukit-bukit batunya sudah dipahat menjadi bangunan-bangunan tertentu.

Kirain rumah tinggal. Walau tak ada jendela tapi ada pintunya. Ternyata…kuburan *hiiiyyyy*. Jadi, dulu itu, jasad orang mati tidak langsung dikubur. Tapi ditaruh di depan pintu bangunan yang menjadi kuburan tadi. Dibiarkan agar para Elang berdatangan dan memakan daging si mayat. Nah, sisa tulang belulangnya yang dimasukkan ke ruangan kuburan itu.

Makanya, di atas pintu bangunan ada gambar elang-nya. Kenapa mesti elang bukan rajawali atau burung pemakan bangkai sekalian? Mana gue tauuuuuu… hahahahaha *dikeplakPembaca* :P.

Madain Saleh

Btw, bangunan-bangunan tersebut bukan peninggalan Kaum Tsamud. Melainkan sisa-sisa pemukiman suku Nabatean yang diperkirakan tinggal di sana sekitar abad pertama Masehi.  Suku Nabatean ini juga yang meninggalkan warisan budaya yang super keren di Petra, Yordania. Belum sempat ke  Petra, ya enggak apa-apalah liat-liat versi lainnya di Al Hijr-nya dulu hehehe.

Sebentar, tahu Petra kagak nih? :P. Cek google ya ;). Konon Petra ini adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi sebelum ajal tiba :D. Saking uniknya gitu kali, ya.

Ad Diwan

Sehabis lihat-lihat kuburan, sekarang dibawa ke Ad Diwan. Ini juga peninggalan dari Suku Nabatean. Ad Diwan ya dari bukit-bukit batu yang dipahat juga. Tapi ruang tengahnya lebar, enggak pakai pintu.

Tempat ini dijadikan tempat pemujaan oleh kaum Nabatean tadi di Madain Saleh. Makanya, ada semacam batu persegi di tengah-tengah ruangan, yang kira-kira dijadiin meja kali, ya.

Madain Saleh

Sebenarnya tempatnya luas banget. Masih banyak yang bisa dlihat. Tapi udah keburu sore. Sehabis dari Ad Diwan, kami pun beranjak pergi dari sana.

Informasi tambahan, nih. Di tahun 2008, tempat ini resmi dijadikan “Warisan Budaya Dunia” oleh  UNESCO :).

***

Btw, para madam kagak ada suaranya selama di sana? Kata siapeeeee hihihihi. Tentu sajah, selain sibuk ngangon bocah :P, kita pun sibuk memaksa para suami moto-moto kita hahahaha. Abisnya para suami sibuk moto-moto pemandangan. Pemandangan yang paling bagusnya malah dianggurin *benerinPoniBerjamaah* hahahaha.

Madain Saleh

Nah, keluar dari sana, kami pun makan siang bersama. Well, semacam late-lunch gitu  kali, ya :P.

Iya sih, lapernya minta ampun waktu itu hihihi. Kami bawa bekal dari Madinah. Umm..dari Jeddah sih tepatnya hehehe. Masak nasi aja kali sempat di hotel pas di Madinah. Lauknya sudah disiapin dari Jeddah ;). Kota super mungil macam Al Ula di mana pula mau cari rumah makan? 😛

Seperti biasa, orang Indonesia ya, ke mana-mana gerombolan nenteng tiker sama rantang hahaha. Digelarlah aneka menu borongan dari bagasi mobil masing-masing di atas hamparan tikar. Ih, kalau diingat-ingat lagi terharu banget :).

Madain Saleh Al Hijr

Ingat dulu di Jeddah ke mana-mana selalu ramai. Sering konvoi sampai 10 mobil malah pas ke Al Hijr itu ^_^. Ngikik-ngikik di jalan, narsis-narsisan sambil foto-foto. Segala macam snack sampai ikan kering juga digotong kalau pas acara jalan-jalan ke luar kota :D. Sambel ijonya si Madam Mira yang tak terlupakan pedesnya hahaha. Eaah, kenapa ini malah bahas makanannya hihihihi 😛 *ngakakLaper*.

Kalau diingat-ingat lagi, senyum-senyum iya, tapi rasa pengin mewek juga selalu ada. Cengeng, cengeeengggg :D.

Semoga suatu hari bisa bertemu kembali dan kumpul-kumpul seperti dulu. Meskipun bukan di Saudi lagi :). Jalan-jalan ke tempat lain selain Madain Saleh Al Hijr ini :D.

“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.”
― Haruki Murakami, Kafka on the Shore

Dan akyu pun nangis beneran deh sekarang, hiks. Mesti lho yaaa, mesti banget ada drama-nyaaaaaaa …. *nyengirSambilMewek*.

***