Di mana Membeli Abaya Madinah yang Murah?

Sebagai alumni Jeddah, walaupun jauh dari kata fashionable, boleh dong membedah soal abaya Madinah di sindang hehehe. Di mana membeli abaya?

Abaya Arab itu apa? Langsung dikasih foto :D. Ini foto para madam di Jeddah sono hihihi. Karena abaya arab saya kurang kece jadilah saya kesampingkan hasrat narsis dengan memasang foto-foto teman-teman sajahhhh :D.

membeli Abaya

Membeli Abaya ?

Kalau yang dicari yang murah. Saat ke Madinah, langsung saja borong abaya. Salah satu tempat yang cukup terjangkau secara lokasi adalah Taiba Market.

Terus terang, saban ke Madinah, saya enggak pernah belanja-belanja. Tapi eike sukses mengulik-ngulik info dari Madam Jeddah yang doyan bolak balik Madinah. Maklum suami punya keluarga di sana ya, Neng.  Kenalin Madamku yang cantik ini, Neng Niera Purnama. Punten Neng, kutulis di blog ya hihihihi.

Geulis pisan, yaaaaa hehehe. Si Eneng juga terkenal dengan abaya-abayanya yang modis-modis ;). Tak salah dong eike memilih informan eh…inforwoman harusnya ya :P.

membeli Abaya

Taiba hotel & market

Lokasinya ada di dekat Hotel Hilton dan Dar Al Aiman Intercontinental. Nama gedungnya, “Taiba Tower.” Kalau sudah masuk, langsung saja ke lantai bawah dengan menggunakan eskalator.

Begitu sampai, langsung disambut jajaran pedagang. Jualannya macam-macam, dari sajadah, baju thobe (baju laki-laki khas Arab yang bentuknya gamis dan biasanya berwarna putih itu), aneka sorban, mainan anak-anak, macam-macam penganan termasuk permen coklat, aneka kurma kemasan dan tentu saja…abaya :).

Abaya di Taiba Tower ini terkenal dengan istilah “Abaya Arba’in”. Belajar bahasa arab sedikit, yuk. Arba’a artitnya 4. Jika ditambah akhiran ‘in’ maksudnya 40. Tapi kalau satu = wahid, bukan berarti 10 = wahidin yaaaa, hahahaha. Angka sepuluh dalam bahasa arab itu = Asara :).

Balik lagi ke si “Abaya Arba’in”. Maksudnya 40? 40 riyal? Iya, Kakaaaa ^_^ *tepukTanganRameRame*. Abaya-abaya di sana kebanyakan dijual dengan harga 40 riyal saja. Kalau tak salah, di  kurs terkini, 1 riyal = 3 ribu rupiah, ya.

Tidak cuma yang harga 40 riyal, sih. Konon, harga maksimal bisa mencapai 200 riyal. Nah, ini juga tergolong murah sebenarnya. Kalau di Jeddah, di jajaran Tahliya Street yang borju, membeli abaya Sehelai saja bisa mencapai ribuan riyal *sesakNapas*.

Tapi, jangan lupa. Ada harga ada rupa :P. Yang harga-harga 40-60 riyal ini kualitasnya tak begitu bagus. Ada teman yang sampai bilang, “Sekali pakai buang.” Hahaha. Enggak segitunya, kok. Mungkin karena kami di Jeddah sehari-harinya ya harus pakai abaya, makanya beli yang kualitasnya agak bagus lah ;).

Kalau hanya untuk oleh-oleh, bolehlah diborong ini si “Abaya Arba’in” hehehe. Corak dan motif juga kece-kece, kok.

Kata si Eneng, suasana belanja di Taiba Market lantai bawah itu cukup nyaman. Full AC yang jelas, sih. Kalau lapar dan haus, bisa ngumpulin tenaga dengan menikmati banyak makanan dan minuman yang dijajakan oleh pedagang-pedagang di situ. Eit, jangan belanjanya saja yang kuat, ibadahnya juga harus “pancen oye” dong, ya ;).

Pokoknya sekarang sudah tahu di mana membeli abaya :D.

Pakai (Bukan) Hitam … Siapa Takut? 

Yap, abaya tak mesti hitam polos. Malah ada juga abaya yang motifnya lumayan ramai. Lihat saja madam-madam di bawah ini. Motif polkadot sampai abstrak, komplit, plit, plit :D.

membeli Abaya arab abaya saudi terbaruQueen’s Building – Balad

Biasanya, kami, para pemukim Saudi, belinya lebih suka yang rata-rata harganya di atas 70 riyal lah. Biasanya kalau harga segini kualitasnya sudah cukup mumpuni.

Tempat favorit saya dan teman-teman ada di Queen Building’s di daerah Balad. Jadi, kalau dari Corniche Commercial Center, pusat pertokoan yang paling sering disambangi oleh jemaah umrah/haji asal tanah air, lokasi gedungnya di belakang.

Dekat lah pokoknya dari sana. Bingung eike nerangin arah, nih hihihi. Pokoknya tanya-tanya sajalah sama orang-orang sana hihi,”Fen Queen’s Building?” (Di mana Queen Building?). Sumpah booo, dekat banget dari lokasi belanja-belanja Balad yang sudah tenar di tanah air itu.

Penjual abaya ada di lantai dasar dan lantai atasnya. Kalau saya senangnya ke lantai atas itu. Modelnya buanyak banget. Sampai pusing, deh, kalau ke sana. Harganya rata-rata 120-150 riyal. Yang di luar range juga banyak, sih. Tapi, kalau saya pasti mentoknya di harga segituan ajah hihihi.

Nah, salah satu abaya arab yang pernah saya beli di QB adalah yang satu ini :D.

membeli Abaya Madinah
Bareng Tante Nel di Masjid Apung, Corniche Road

Sebenarnya di seputaran Balad, juga banyak sekali tempat-tempat menjual abaya yang tak kalah caemnya dengan harga sangat bersaing :D. Tinggal kuat-kuatnya betis saja diajak jalan-jalan tawaf di Balad :P.aja.

Sekian dulu liputan dari Saudi. Next jalan-jalan pastinya akan kembali dari ranah Irlandia lagi. Ganti-gantian gituuuuu :P.

Abaya Madinah

Eh sebelum itu, saya doakan semoga mendapat rezeki dan kesempatan untuk mengunjungi Tanah Haram :). Setelah ibadahnya dijalani, tentu saja … semoga mabrur dan selamat berburu abaya hehehehe :P.

Jangan lupa subscribe juga ya ke channel youtube saya di sini ^_^.

Ini beberapa vlog saya terkait Arab Saudi, sayang dulu jarang bikin video pas masih tinggal di Saudi. Belum musim sih ya hehehe. Jadi vlognya kebanyakan berupa photo slides saja :).

https://www.youtube.com/watch?v=9hNlteTiEKk

Peperangan dalam Islam : Mengenang Perang Badar di Padang Badar

Mengenang salah satu peperangan dalam Islam, perang pertama umat muslim setelah hijrah ke Madinah : Perang Badar. Tulisan ini hasil jalan-jalan ke Padang Badar di Kota Badar, Arab Saudi :).

***

Sebenarnya saya ini orangnya banci Eropa abis, alias sangat bercita-cita dari dulu mendapat kesempatan tinggal di Eropa. Apa daya, takdir malah mengembuskan saya dan suami untuk bermukim di kota Jeddah. Pupus sudah harapan untuk berfoto-foto di kebun Bunga Keukenhof atau sekedar bersantai di Interlaken, dan tentu saja menikmati kerennya Menara Eiffel.

Tapi ternyata tinggal di kota ini juga banyak senangnya juga. Termasuk saat liburan lebaran kemarin, di jalan-jalan Arab Saudi edisi ini,  kami sekeluarga berwisata ke padang pasir! Jangan kira di negara yang mayoritas penduduknya Muslim ini, hari lebaran dirayakan ‘habis-habisan’ seperti di Indonesia.

Di sini saat hari rayanya malah sunyi senyap dan tidak ada aktivitas yang berarti. Saat ada long weekend seperti saat lebaran ini, paling enak keluar kota. Selain karena harga bensin yang murah (1000 perak per liter!) , banyak loh kota-kota di Saudi yang menarik untuk dikunjungi.

Gurun pasir yang kami kunjungi adalah Padang Badr, tentu saja letaknya di kota Badr. Tujuan awal liburan kami adalah mengunjungi kota Yanbu yang terkenal dengan pantainya. Tapi ternyata jarak kota Badr dari Yanbu hanya sekitar 90 km, jadilah pagi harinya kami langsung menuju Badr. Infrastruktur jalan di Saudi ini terkenal bagus (jalannnya lurus-lurus, lebar-lebar, dan mulus-mulus). Jadi hanya makan waktu sekitar 40 menit dari Yanbu ke Badr.

Jalan-Jalan Arab Saudi

Kota Badr juga merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah Islam. Perang Badr yang merupakan peperangan dalam Islam yang besar pertama sejak Nabi dan para pengikutnya hijrah ke Madinah, berlangsung di kota Badr ini. Kejadiannya sendiri di tahun 2 H, saat bulan Ramadhan.

Pasukan muslim yang berjumlah lebih sedikit berhasil memenangkan pertempuran melawan pasukan musuh. Tapi ada sekitar 14 sahabat mati syahid di salah satu kejadian peperangan dalam Islam ini. Sayang sekali, kami tidak sempat mengunjungi makam para syuhada yang letaknya juga di kota Badr ini.

Kontur kota Badr ini memang berbukit-bukit dengan mayoritas padang pasir dimana-mana. Pemukiman penduduknya sangat jarang. Kami menepi di gurun yang pasirnya halus sekali. Dan di gurun tersebut hanya ada hamparan pasir maha luas tanpa sedikit pun ada kerikil, rumput, pokoknya pasir halus tok!

Panas gak sih di gurun pasir itu? Well, kami sendiri tiba sekitar jam 10 pagi. Suhu diperkirakan mencapai 37 derajat celcius. Tapi tempatnya sendiri cukup berangin. Malah kalau sore anginnya cukup kencang. Untung saja kami kesananya pagi hari, soalnya bawa bayi, kan repot kalo angin kencang pasirnya kemana-mana. Angin sepoi-sepoi ditambah udara saudi yang kering (jadinya gak bikin gerah dan gak keringetan) menjadikan suasana piknik jadi enak. Bayi saya pun gak rewel sama sekali.

Anak saya yang sulung (Abil, 3 tahun) tadinya juga rewel banget dalam mobil. Tapi begitu diajak turun dan mulai mendaki bukit pasir, langsung melesat bak anak panah. Seneng banget deh. Menikmati sekali memainkan pasir dengan tangannya. Saat dia sudah capek berlarian ke sana kemari, dia duduk-duduk di saja sambil mengaduk-aduk pasir dengan tangan.

Selama ini Abil seringnya memang hanya diajak ke pantai dan gunung (dulu di Jakarta sering diajak main ke puncak). Jadi kemarin cukup ribut bertanya sana-sini seputar padang pasir ini. Kalo liat pasir sih dia udah sering, tapi mungkin agak heran dengan jumlahnya yang segini banyak dan luas. Dia juga sering sih liat padang pasir dari dalam mobil. Setiap perjalanan keluar kota pasti papasan dengan padang pasir.

Jalan-Jalan Saudi

Sayangnya, di sana tidak ada unta. Kan pengennya bisa sekalian jalan-jalan naik unta. Unta sendiri memang bukan hewan bebas di Saudi. Adanya cuma di peternakan unta dan sekitarnya. Kota Badr termasuk kota yang seret air, makanya tidak banyak (bahkan mungkin tidak ada) peternakan unta ditemukan. Abil juga sudah ribut mencari unta, dia sudah mulai mengerti padang pasir identik dengan unta. Lumayan deh, Abil jadi nambah perbendaharaan ‘alam’ yang pernah dikunjungi.

Jadinya jalan-jalan Arab Saudi kemarin sebagian besar diisi dengan berfoto-foto saja sambil sesekali saya menemani Abil main pasir.

Saat kami ke sana, tidak ada satu orang pun di gurun tersebut. Mungkin lebih seru kalau ke sana rame-rame, biar anak-anak juga puas bisa bermain dengan teman-temannya. Ternyata jalan-jalan ke gurun enak juga, tidak sepanas yang dibayangkan, masih sangat tolerable lah. Apalagi untuk orang-orang tropis seperti kita yang asli Indonesia ini.

Pasirnya juga adem, kalau kita injak bergerak sedikit saja tidak beterbangan kemana-mana, tidak perlu pake cadar atau penutup muka deh pokoknya. Dijamin tetep kece saat acara pikniknya udah selesai, cuma mungkin kacamata item sih wajib banget tuh.

Peperangan dalam Islam Padang Badar

Wisata lain dari Arab Saudi bisa dilihat di postingan yang ini :

Baca : 5 Wisata Lain di Arab Saudi SELAIN 2 Kota Suci Makkah dan Madinah

***

Hotel hotel di Madinah Sekitar Masjid Nabawi

Mengunjungi Kota Nabi adalah salah satu kenang-kenangan paling indah selama menjadi pemukim di Kota Jeddah.  Iyalah, mari kita jalan-jalan ke Madinah :D. Jangan lupa kenali hotel hotel di Madinah sekitaran masjid Nabawi. Hanya menyetir selama 3 jam-an, dengan mengendarai mobil saja, kami sekeluarga bisa ziarah ke tanah suci, Madinah. Anytime we want :).

Berbeda dengan Mekkah yang berjarak hanya  70 km dari Jeddah, Madinah bisa dicapai setelah menempuh perjalanan sejauh 400 km. Rute sejauh ini tidak memungkinkan kami untuk pulang pergi dalam tempo semalam. Jadi, setiap ke Madinah, kami pasti menginap di hotel.

Nabawi sendiri dikelilingi oleh banyak sekali hotel-hotel kelas dunia. Hotel hotel di Madinah itu rupa-rupa ragamnya. Mulai dari Hilton Madinah, Le Meridien, Shaza Hotel, Moevenpick hingga Radisson. Rasanya sih, setiap menginap di tanah suci, hotel mana pun pasti selalu menjadi favorit dan meninggalkan kesan indah :).

Umumnya, interior hotel, yang berbintang lima sekali pun, tidak terlalu mewah dan megah. Maklumlah, kebanyakan pengunjung jalan-jalan Madinah  konsentrasinya adalah ibadah ke Masjid Nabawi.

Jangan lupa juga, bawalah sendiri perlengkapan mandi. Hotel-hotel di Madinah biasanya hanya menyediakan sabun dan sampo saja. Sikat dan pasta gigi biasanya tidak ada, lho. Daripada membuang waktu ke mini market, lebih baik disiapkan sebelum tiba di tujuan.

Salah satu hotel yang pernah kami kunjungi adalah Radisson Blu Hotel. Di Madinah, namanya Al Muna Kareem. Tadinya, saya agak bingung jika melihat penampakan gedung hotel dari luar, “Kok kecil banget, ya?”

Ternyata, lahan hotel Radisson memang tidak seluas hotel-hotel yang lain. Ini nih yang bikin unik, interior dalam gedung dibuat melingkar. Di tengah-tengah bangunan dibiarkan kosong. Kamar-kamar dibuat mengelilingi lobi tiap lantai. Begitulah cara pengelola gedung memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas. Kreatif, ya :).

Jalan jalan Madinah
Interior gedung Radisson yang unik 🙂

Tidak hanya di Radisson, pada umumnya kamar-kamar hotel yang berada di pelataran kompleks Masjid Nabawi memang mungil-mungil. Mungkin karena padatnya pengguna sementara lahan tidak terlalu besar.

Interior dalam Radisson dibuat dengan dominasi biru. Warna biru yang bercampur emas mengingatkan saya pada istana-istana ala Negeri 1001 Malam. Untunglah warna dinding kamar tidak ikut-ikutan dibuat biru keemasan. Kamar tidur menggunakan warna-warna netral, jadi tidak meriah dan terasa jauh lebih nyaman untuk beristirahat.

Yang cukup mengganggu adalah jumlah lift yang kurang memadai di saat pengunjung sedang padat-padatnya. Kebetulan, kami menginap di Radisson saat menjenguk orang tua kami yang sedang umrah. Aduh, ramainya hotel kala itu. Untuk menggunakan lift, harus mengantre. Apalagi di jam-jam menjelang ibadah salat wajib dan waktu makan.

Mungkin karena inilah, di depan lift disediakan sofa-sofa panjang yang bisa digunakan sambil menunggu. Tapi karena lobi agak sempit, mau duduk juga rasanya kurang nyaman bila banyak orang lalu lalang.

Hotel hotel di Madinah
Interior kamar dan ruangan lain dalam Hotel Radisson

Kekecewaan dengan fasilitas lift lumayan tertutupi oleh menu-menu sarapan yang jauh lebih enak dibanding hotel-hotel lain di sana yang pernah kami tempati. Menunya sih mirip-mirip. Kebanyakan hotel di Saudi tidak menyediakan nasi dalam menu makan pagi. Menu utamanya roti-rotian arab dan kentang. Ah ya, soal kehalalan jangan khawatir. Di seluruh penjuru Saudi, pemerintah menjamin kehalalan makanan yang disajikan di tempat-tempat umum, termasuk hotel hotel di Madinah.

Sebenarnya lauknya tidak jauh berbeda dengan di tanah air. Seperti misalnya : aneka sosis, daging-dagingan, telur, kornet, sup dsb. Tapi, umumnya bermasalah di rasa. Rasa-rasa masakan di Saudi agak hambar.  Nah, di Radisson ini tidak begitu. Lauknya rata-rata gurih dan asinnya pas dengan lidah Asia kita.

Untuk ukuran harga sewa kamar, Radisson relatif lebih murah daripada Madinah Hilton, Moevenpick dan Shaza. Lokasi Radisson Madinah juga cukup strategis. Dekat sekali dari pintu masuk Masjid Nabawi. Hanya perlu berjalan sekitar beberapa menit. Ada 3 pintu masuk terdekat menuju ke dalam masjid yang bisa diakses dari Hotel Radisson ini.

Tapi jangan salah, walau diganjar dengan harga agak tinggi, hotel Moevenpick Madinah menawarkan fasilitas yang lebih megah dan mewah. Kami juga pernah melewatkan sekitar 2 malam di Moevenpick yang di Madinah bernama Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel.

Mewahnya Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel
Mewahnya Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel

Moevenpick Madinah jauh lebih besar dan luas dibanding Radisson. Interior dalam kamar juga lebih lega. Fasilitas lift ada di berbagai penjuru gedung. Enggak ada kejadian mesti menunggu dengan gelisah karena begitu lift terbuka, isinya penuh.

Tapi, untuk lidah kampung khas Indonesia seperti saya, menu sarapan yang disediakan cukup mengecewakan. Kurang cocok dengan yang hambar-hambar, nih. Untunglah ruang makannya sangat nyaman dan luas, jadi lumayan terobati rasa kecewa akan jenis masakannya.

Enaknya lagi, lobi di ruang tunggu Moevenpick dilengkapi dengan cukup banyak sofa set yang empuk. Saat itu, hotel lagi padat. Kami harus menunggu agak lama dari waktu check in yang dijanjikan. Beberapa pengunjung juga mengalami hal yang sama. Tapi, fasilitas ruang tunggunya nyaman banget. Belum lagi pelayan hotel hilir mudik menawarkan teh hangat, makanan kecil seperti kurma dan mammoul (makanan ringan khas Arab Saudi, semacam kue kering yang diisi dengan selai kurma).

Walau cukup jauh dari Radisson Madinah, lokasi Moevenpick dari Nabawi malah lebih dekat. Maklum saja, masjid Nabawi ini punya banyak pintu masuk. Salah satu pintu masuknya terletak tepat di samping lokasi hotel Moevenpick.

Moevenpick sudah yang paling mewah? Nah, masih ada satu, nih. Namanya Shaza Al Madinah. Dari luar hingga tempat resepsionis, Shaza masih kalah dibanding Moevenpick.

Kami belum pernah menginap di sini. Tapi, pernah mengunjungi teman yang sedang menginap di Shaza. Wah,  kamarnya model suite. Ada 3 ruangan dalam kamar tersebut. Kamar tidur terpisah sendiri. Ada ruang tengah yang dilengkapi dengan televisi, satu set sofa bed dan satu set meja makan. Terakhir, ada ruang dapur segala.

Hotel hotel di Madinah Hilton
Shaza Al Madinah

Saat jalan-jalan Madinah, tak banyak waktu untuk menikmati fasilitas hotel yang lain. Rata-rata pengunjung memang datang untuk menghabiskan waktu lebih banyak di luar hotel. Lebih sering mengunjungi areal masjid atau sibuk menyambangi tempat-tempat berbelanja di luar hotel untuk membeli buah tangan.

Madinah termasuk kota yang selalu sibuk hampir di sepanjang tahun. Jangan lupa untuk melakukan proses booking hotel jauh-jauh hari sebelum ziarah ke Kota Nabi ini. Untunglah, di era digital internet terkini, kegiatan booking hotel hotel di Madinah bisa dilakukan secara online.

***

Walau sudah delapan bulan berlalu sejak kami melakukan proses final exit di Bandara Internasional King Abdul Aziz, rasa rindu pada tanah suci belum terkikis sedikit pun. Hampir 3 tahun bermukim di Kota Jeddah, membuat saya sering merasa Jeddah sebagai rumah kedua saya :). Now that we are very far from there, I always wanna go  home :). Semoga suatu hari, diizinkan kembali untuk mengunjungi tanah suci kembali. Termasuk kesempatan jalan-jalan Madinah ini. Amin :).

Semoga membantu ya informasi tentang hotel hotel di Madinah ini :).

Cerita Naik Haji, ‘Kesibukan’ di Bulan-bulan Haji

Sudah masuk Dzulhijjah, jadi ingat rempongnya pas dulu masih tinggal di Jeddah pas bulan-bulan haji. Hehehe. Biasa, siap-siap jadi tuan rumah bagi teman-teman/kenalan yang datang hajian. Tiap tahun, adaaaaaa aja kerabat yang hajian. Alhamdulillah.

Bareng Tante Nel di Masjid Apung, Corniche Road
Bareng Tante Nel di Masjid Apung, Corniche Road (2012)

Nah, tahun lalu giliran kita deh yang hajian. Tapi tetap menjamu tante dan kakak sepupu suami yang juga hajian di tahun yang sama. Capek tapi senang ^_^.

Bulan-bulan haji yang dimaksud adalah bulan Syawal hinggal Dzulhijah. Selepas Ramadhan, biasanya Saudi mulai ‘lengang’ :) .

Mulailah warga Jeddah berkeliaran ke Mekkah dan Madinah. Termasuk saya dan teman-teman disini. Kalau ke Ka’bah setelah Idul Fitri, sepiiiii banget. Nyaman bener kalau bawa anak-anak.

Ke Madinah juga biasanya jadi pilihan. Karena tentu saja…harga hotel murah, Cyyiinnnn! Hahaha.

Mungkin sekitar beberapa minggu setelah Idul Fitri, Saudi kembali dibanjiri umat muslim dari segala penjuru dunia. Yap, musim haji telah tiba kembali :) . Kalau enggak salah, di tahun ini, jemaah dari Indonesia mulai mendarat sejak tanggal 11 september kemarin, ya. Ahlan, ahlan :) .

Mulai tuh kasak kusuk saudara-saudara/teman/kerabat siapa saja yang bakal datang. Kami kompakan menyerbu ke Bab Shareef dan Balad mumpung masih sepi. Kala jemaah haji sudah mulai ramai, harga juga bisa ikut-ikutan ‘ramai’. Hehehe.

Biasanya kami berburu buat oleh-oleh atau sekedar ngasih buah tangan buat saudara-saudara, kerabat, atau teman yang sedang berhaji. Kan pada janjian ketemu, tuh. Ada yang disambangi hingga ke Madinah. Atau disamperin ke Mekkah. Tapi kalau saya senengnya ketemuan di Jeddah saja … *ngiriiitttt :P *.

Bareng keluarga Bang Man dan istri di COrniche Road (2012)
Bareng keluarga Bang Man dan istri di COrniche Road (2012)

Tahun 2011, saya sempat ketemu Ibu Hajjah cantik di bawah ini. Indhira, temen SD yang pas hajian kemarin nyempetin nelepon dan akhirnya ketemuan di Jeddah. Makan malam di Pattaya terus jalan-jalan bentar di Aziz Mall. Sayang, rata-rata cuma transit sehari ya di Jeddah :( .

Pemukim di Jeddah yang akan hajian pun mulai sibuk mencari hamla (biro haji). Hamlanya sendiri ada beberapa macam. Ada yang daftarnya via Islamic Center (yang tersebar di berbagai tempat), ada juga yang mendaftar ke hamla pilihannya secara langsung.

Biaya hajian via hamla dari Jeddah ini macam-macam. Kalau menggunakan tasrikh (semacam surat izin buat haji) minimal 2000 SR. Harganya bisa melonjak hingga 10 ribu bahkan belasan ribu (malah ada yang puluhan ribu) untuk fasilitas yang lebih yahud :D . Rata-ratanya sekitar 4000-5000 SR.

Tapi tahun ini, karena kisruh amnesti pekerja ilegal, Saudi kekurangan tenaga musiman yang biasanya direkrut dadakan di bulan-bulan haji. Hamla lokal kini menawarkan harga gila-gilaan. Menurut teman-teman di Jeddah, naiknya bisa 2 sampai 3 kali lipat *ngelapKeringat*. Untung dah hajian tahun lalu *fiuh* :D.

Ada juga istilah “haji koboi”, lho. Hajian pakai kuda dan topi koboi gitu? Hahaha. Bukan kaleeeee :P . Haji koboi sih katanya istilah buat haji ‘ilegal’. Masuk ke Mekkah tanpa tasrikh, dan biasanya lebih mudah dilakukan pas di hari wukuf. Konon, pas hari wukuf pemeriksaan di checkpoint kota Mekkah lebih ‘longgar’.

Para “koboi” ini ada yang betul-betul mandiri. Bawa tenda atau kantong tidur sendiri. Dan nginep dimana aja sedapatnya. Ada juga “koboi’ yang rombongan. Jadi, pakai pemandu segala dan ramai-ramai dengan sesama koboi lainnya hehehe. Ini biasanya agak mahal dikit biayanya. Hati-hati sajalah. Kalau ketahuan, bisa kena deportasi katanya.

Tahun ini juga peraturan jauh lebih diperketat. Sudah ada mobil penjaga di checkpoint. Pengumuman larangan haji ilegal sudah ditempel jauh-jauh hari. Tahun-tahun kemarin, kan, cuma dalam bentuk rumor saja. Padahal aturannya memang ada dan tertulis, lho.

Selamat datang buat para jemaah haji asal Indonesia :) . Enjoy Mekkah-Madinah-Jeddah ;) . Jaga kesehatan dan semoga menjadi haji yang mabrur. Amiiiiiiiinnn.

Berikut kenang-kenangan foto waktu hajian kemarin :D. Jilbab pink booooo hahaha.

Bergaya dulu sebelum naik kereta di stasiun Mina 1

Memoar of Jeddah in Video Format :D

Aduh, begini ini kalau lagi PMS. Dramanya suka kumat. Padahal, mah, biasanya juga drama hihihi. Mumpung ada yang bisa disalahkan.

Video ini sudah pernah di-share sepertinya, sih, di postingan kemarin-kemarin. Malas carinya lagi hehe. Tapi, kali ini theme songnya diganti :D.

Udah, sih, mau share videonya doang :P.

cj