Ini salah satu tulisan di Buku “Memoar of Jeddah” :D. Ini versi aslinya yang banyak haha-hihinya :p. Versi teks buku tentu tanpa emoticon dan “hahahahaha” :D.
***
Suatu hari saya ke UGD salah satu rumah sakit swasta di Jeddah dan harus dilakukan tindakan operasi kecil. Hanya bius lokal. Dokter laki-laki asal Mesir yang menangani saya.
Saya gemetaran karena takut setengah mati. Hahaha. Pak Dokter nampaknya tahu. Dia menenangkan dengan mengajak ngobrol.
Bahasa Arab saya nol besar dan saya pastikan Pak Dokter tak bisa berbahasa Indonesia, jadi kami asyik mengobrol dengan bahasa Inggris.
“Wah, saya kira kamu tadi orang Indonesia, lho,” ujar Pak Dokter setelah ngobrol agak panjang.
Lah, piye? “Saya memang asli Indonesia.”
Matanya terbelalak. “Indonezi? You can speak English? Masya Allah!”
“Sure, why not?”
“Kalau bisa bahasa inggris seperti ini, cari saja pekerjaan lain. Kenapa memilih jadi pembantu?”
Saya merespons dengan terbahak. Ya ampyuuunn, kece-kece begini disangka gitu. Oh tidaaaaaakkkk *tutupMukaSelebayLebaynya* hahaha.
Gambar : weheartit.com
Jangan kaget. Begitulah pada umumnya tanggapan orang-orang jika bertemu dengan perempuan asal Indonesia di Saudi.
Setelah itu dia sibuk bertanya mengapa saya tinggal di Saudi. Dengan siapa. Apa iya di Indonesia banyak perempuan mendapat kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi? Kok bisa orang Indonesia bahasa Inggris?
Antusias benerlah pokoknya si Pak Dokter. Mungkin juga karena orang Arab kan memang dikenal berapi-api kalau diajak berbincang :D. Ingat ya, kalau ngomongin Arab itu artinya ngomongin ras/suku bangsa. Mereka ada di Saudi, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, Yaman, Sudan, dll. Kalau di Indonesia sebut “Arab” umumnya langsung mengacu ke Arab Saudi saja :D.
Dengan waktu yang tersisa, ya gak mungkin mau lama-lama juga kan dia punya pasien lain, saya coba meluruskan persepsi dia tentang Indonesia. Dokter itu cukup puas dengan penjelasan singkat saya dan memberikan sedikit pembelaan atas komentarnya di awal tadi.
“Kamu jangan salahkan saya kalau saya tidak paham banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Bahwa kota Jakarta sama kerennya dengan Jeddah. Pendidikan bukan hal yang tabu buat perempuan Indonesia. Masalahnya, hampir semua perempuan Indonesia yang saya temui di Saudi ini rata-rata berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.”
Lalu, saya jadi berpikir. Sebenarnya TIDAK 100% orang-orang non Indonesia yang ada disini berpikiran sempit. Mereka berpendapat menurut apa yang mereka temui sehari-hari. Di situ kan umumnya muncul skema stereotip. Generalisasi. Apalagi kalau contoh mayoritasnya memang menunjukkan begitu. Apa hendak dikata hehehe.
***
Orang Filipina juga banyak TKWnya. Tapi mereka juga banyak yang berprofesi sebagai perawat, sales, penjaga toko, manajer bank, engineer, konsultan IT/SAP, dsb. Profesi mereka variatif. Demikian pula dengan pendatang lain dari negara-negara seperti : Pakistan, India, dll.
Orang Indonesia? Kalau Anda laki-laki, biasanya akan disangka supir. Kalau perempuan, otomatis dianggap pekerja rumah tangga. Saking banyaknya TKI informal asal negara kita di negara ini. Begitulah kenyataannya. Jadi, tidak perlu sensi, ya 😉
Kalau menyusuri pelataran parkir di mal-mal besar di kota Jeddah ini, akan terlihat kerumunan lelaki yang sedang duduk-duduk mengobrol dekat pintu masuk. Sebagian besar berasal dari Indonesia. Kelihatan dari suara mereka yang berbincang dengan bahasa Indonesia. Mereka adalah para supir pribadi yang sedang menunggu majikan yang berbelanja dalam mal.
Kemana perginya para pekerja profesional kita? Mungkin salah satu alasan utama keengganan TKI formal asal negeri kita untuk mengadu nasib ke Saudi adalah ‘keamanan keluarga’. Terutama untuk para perempuan. Bukan rahasia umum, banyak ‘dinding pembatas’ untuk para wanita yang hidup di Saudi ini. Belum lagi sering di’remeh’kan karena kerap disangka TKW.
Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)
Perempuan tidak boleh menyetir di Saudi. Tapi aman, kok, naik taksi sendiri di sini. Belum lagi kemudahan untuk melakukan ibadah umrah. Tak perlu antri dan mengeluarkan biaya besar untuk naik haji.
Kalau mau ke mal, tidak mesti menunggu suami senggang. Ajak saja beberapa teman atau saling menjemput dan beramai-ramai menjajal mal di siang hari.
Belum lagi ada banyak rumah makan Indonesia. Mulai dari level kaki lima hingga bintang lima. Tinggal pilih. Sate Madura, pempek, bakso, tahu, tempe, tidak ada istilah ‘langka’. Semua bumbu khas Indonesia pun tak sulit ditemukan.
Perempuan wajib berabaya hitam kemana-mana. Tapi abaya hitam itu banyak yang modis. Pokoknya tidak ada kata mati gaya. Bahannya ternyata nyaman dan tidak panas.
Ternyata tiap tempat menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila ditanya, “Gimana sih hidup di Jeddah itu?” Mungkin jawaban yang cukup tepat saya ambil dari lirik salah satu lagu di tanah air, “Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati.”
“Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati” juga sub judul dari buku saya yang pertama, “Bunda of Arabia” :D. Bunda of Arabia ini terbitnya secara indie. Covernya agak-agak keramean gitu. Desain covernya kami rancang sendiri soalnya ^_^. Biar hemat hahaha. Maklum kalau indie modalnya ya kocek kantong dewe :p.
Bermukim dua tahun di kota Jeddah, memperkenalkan saya kepada tempat-tempat menarik di Saudi. Ternyata ada pesona lain dari kota-kota di sekitar Jeddah. Selain magnet dari dua kota suci umat muslim, Mekkah dan Madinah.
Harga bensin yang sangat murah seolah ikut memberi dukungan untuk melancong ke luar kota setiap akhir pekan atau liburan menghampiri.
Suasana lebaran di kota Jeddah jauh berbeda dengan perayaan di tanah air. Sepi sekali suasana kota menjelang dan saat hari raya tiba. Jadilah, liburan hari raya idul fitri tahun lalu, kami sekeluarga liburan ke kota Yanbu dan Badar.
Yanbu : Kota Industri, Kota Pantai
Kota Yanbu terletak sekitar 300 km di sebelah utara kota Jeddah. Dengan infrastruktur jalanan antar kota di negara Saudi, yang umumnya didominasi oleh jalan raya lebar nan mulus, jarak ini bisa ditempuh dalam tempo kurang dari 3 jam saja.
Hati-hati jangan terbius untuk ngebut. Ada kamera pengintai kecepatan yang siap menangkap basah pengemudi yang nakal dan menjeratnya dengan denda ratusan riyal.
Di sepanjang perjalanan, gunung-gunung batu yang berdiri megah, peternakan unta di beberapa sudut gurun, beserta hamparan padang pasir maha luas, menghiasi kiri kanan jalan.
Memasuki kota Yanbu, dengan menyusuri jalanan utama King Abdul Azis road, suguhan pertama adalah banyaknya kilang-kilang minyak. Diselingi bangunan berbahan seng berbentuk kotak alias gudang, atau dikenal dengan istilah warehouse.
Jadi, di Yanbu inilah terdapat pengilangan minyak kepunyaan Saudi Aramco, perusahaan minyak asal negeri Paman Sam. Sejak tahun 1970 an, sebagian wilayah kota Yanbu ini disulap menjadi kota industri oleh pemerintah Saudi.
Pemandangan ala daerah industri dari berbagai perusahaan internasional ini bisa dinikmati sekitar 30-40 km. Setelah itu, berganti dengan taman-taman beserta playground yang tertata rapi dengan bunga warna warni.
Wah, suasananya berbeda dengan kontur umum di Saudi sebagai negara tandus. Sepertinya bagian kota yang ini memang ikut ‘disulap’ menjadi keren untuk kepentingan para warga Yanbu yang menghuni wilayah perumahan di sekitar pabrik-pabrik tadi. Mereka rata-rata pekerja asing. Mungkin agar mereka betah tinggal di kota kecil nan sunyi ini.
Kalau berbelok di kiri-kanan jalan utama yang bertaburan taman tadi, kita akan melihat jajaran compound. Baik yang masih dalam proses pembangunan, maupun yang berdiri kokoh lengkap dengan pos penjaga beserta satpam penjaganya.
Compound? Tempat ini semacam kompleks perumahan yang biasanya dikelilingi oleh tembok yang tinggi. Siapa pun yang berada dalam compound terbebas dari aturan-aturan khas Saudi, misalnya : kewajiban berabaya untuk wanita dewasa, perempuan tidak boleh menyetir, dsb.
Compound merupakan pemukiman yang umum ditemukan di banyak kota di berbagai wilayah Saudi. Modelnya macam-macam. Dari yang hanya berupa susunan rumah mungil yang tak menyediakan lahan untuk kendaraan. Hingga yang berukuran sangat luas, lengkap dengan berbagai fasilitas olahraga dan supermarket.
Selain barisan compound, ada juga rumah-rumah kecil atau gedung-gedung apartemen kecil yang tertata apik di sepanjang jalan. Ada minimarket yang tersebar di beberapa tempat. Komplit dengan pohon-pohon yang ditanam rapi di pinggiran jalan. Bersih dan teduh.
Balik lagi ke jalan utama, King Abdul Azis Road, dan teruslah mengikuti jalan ke arah utara. Maka perlahan-lahan kita akan memasuki bagian kota yang belum tersentuh efek modernisasi. Bagian kota yang ini jalan-jalannya mulai mengecil. Bangunan-bangunan apartemennya berukuran kecil dan banyak yang sudah kusam.
Pesisir Pantai Yanbu
Dan lama-kelamaan, masih menyusuri King Abdul Azis ini, kita akan bertemu dengan pesisir pantainya, pesisir pantai Laut Merah. Di sekitar sinilah, banyak ditemui tempat-tempat penginapan berupa hotel dan resort.
Pesisir pantai kota Yanbu tergolong bersih. Dari kejauhan warna airnya berkilau kehijauan. Mendekatlah ke bibir pantai. Lalu jejakkan kaki ke dalam airnya hingga tenggelam, bayangan kaki kita tetap akan tetap terlihat jelas. Airnya bening sekali.
Pesisir pantai Yanbu cukup panjang. Kami mencoba menyusuri pesisirnya searah dari satu ujung ke ujung yang lain dengan menyetir santai. Tapi karena sudah sejam belum tampak ujungnya, kami pun memutar balik.
Pantai Yanbu (lagi) 😀
Kami berhenti di beberapa tempat untuk mengambil foto. Ada beberapa tempat di pesisirnya yang sekilas mirip dengan suasana di Pantai Anyer dan Pangadaran.
Sebagian wilayah pesisirnya ditutup untuk umum. Disekat dengan pagar tinggi atau tembok semen. Ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut tergolong ‘private beach‘. Untuk melongok ke dalam, perlu merogoh kantong. Tempat-tempat seperti ini juga dilengkapi dengan resort. Mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang menawarkan fasilitas bintang lima.
Mirip dengan Pangandaran kan? Hehehe
Pada umumnya daerah pantai di Saudi ini hanya ramai bila malam telah menjelang. Saat itu, barulah orang-orang Arab berbondong-bondong duduk bersantai menggelar tikar di sepanjang pesisir pantai. Tak lupa memboyong termos minuman hangat dan cemilan. Tidak seperti di Indonesia, disini jarang ditemukan pedagang makanan kaki lima.
Puas mengelilingi sebagian wilayah kota, hari pun beranjak senja, kami menepi sebentar. Setelah puas menikmati langit kuning kemerahan, kami memutuskan untuk mencari penginapan di Yanbu.
Anak ke-2 masih bayi hehehehe 😀
Akomodasi di Yanbu
Untuk penginapan tak perlu khawatir. Ada beberapa hotel berbintang beserta resort yang berdiri megah di kota ini, sebagian besar dibangun di sekitar pesisir pantai Yanbu. Bisa dibooking secara online juga. Diantaranya :
– Movenpick Hotel & Resort
– Tulip Inn Hotel, yang hanya berjarak ratusan meter dari bibir pantai yang tempatnya rindang dan dilengkapi dengan playground untuk anak-anak.
– Radisson Blu Hotel
– Dolphin Beach Resort, ini salah satu resort yang terletak dalam wilayah private beach.
Kami sendiri menginap di sebuah full service apartment. Letaknya di tengah kota, sekitar 15 menit berkendara dari kawasan bibir pantai.
Penginapan macam ini juga ada. Tersebar di beberapa jalanan utama kota. Tempatnya bersih, dilengkapi dengan dapur mini, seharga 170SR per malam.
Untuk makanan juga tidak perlu risau. Meskipun tergolong kota kecil, di Yanbu ada gerai-gerai makanan internasional seperti Pizza Hut. Ada juga gerai Al Baik, ayam goreng tepung khas asal Saudi yang cukup terkenal, bahkan untuk para pendatang.
Kita juga bisa menikmati santapan makanan dari food court yang ada di Dana Mall. Mulai dari menu khas Arab, India-Pakistan hingga menu Asia, lengkap disini. Dana Mall ini mal yang cukup besar. Mal-mal di Saudi, walaupun jarang yang bertingkat, rata-rata berukuran sangat luas. Gerai-gerai pakaian ternama seperti : Zara, Mango, Guess, dll, juga ada disini. Bisa sekalian window shopping.
Playground di Pantai Yanbu
Berpetualang ke Padang Badar dan Mengunjungi Makam Syuhada Badar
Setelah menjelajahi kota Yanbu dan mencicipi senja di pesisir pantainya, besok paginya kami berpetualang ke Badar. Tujuan utamanya adalah menikmati bukit pasir halus di Padang Badar.
Badar, kota kecil yang berjarak sekitar 90 km dari Yanbu. Tak susah menemukan jalan menuju kota ini dari Yanbu. Ada banyak petunjuk bertebaran di sepanjang jalan. Tapi tidak ada salahnya meminta bantuan melalui GPS.
Tidak sampai sejam perjalanan, kami sudah memarkir mobil di salah satu sisi bukit pasir yang terhampar di sebagian besar wilayah kota ini. Pilihlah bukit pasir yang halus tanpa kerikil.
Saat itu musim dingin sudah menjelang namun suhu belum terlalu rendah. Suhu gurun pagi itu mencapai 37 derajat celcius. Konon di puncak musim dingin, suhu sore hari di padang ini bisa berada di bawah 10 derajat celcius. Brrrr…
Kalau membawa anak bayi memang sebaiknya berkunjung di pagi hari. Biarpun sore haji lebih sejuk, namun anginnya cukup kencang. Pasirnya beterbangan kemana-mana.
Anak sulung kami bebas berlarian di padang pasir maha luas itu. Sambil sesekali mendaki. Pasirnya tidak terasa panas di kulit. Tanpa angin, pasirnya hanya berhamburan bila terinjak kaki. Hawanya pun tidak gerah. Anak kedua saya yang saat itu masih berusia 5 bulan tidak rewel sama sekali.
Setelah mendaki bukit pasir yang agak tinggi, akan terlihat hamparan gurun pasir yang sangat luas. Terlihat juga jalan-jalan raya berliku yang membelah gurun. Datarannya sangat empuk seolah akan menghisap kaki-kaki kita. Benar-benar tumpukan pasir membentuk bukit. Bukan bukit batu beralas pasir. Lepaskan alas kaki bila tidak ingin langkah memberat akibat butiran- butiran pasir yang menyusup masuk.
Kota Badar juga merupakan salah satu saksi penting dalam sejarah awal umat muslim di masa penyebaran Islam. Badar inilah tempat peperangan besar pertama umat muslim sejak hijrah ke Madinah. Pasukan muslim yang berjumlah jauh lebih sedikit berhasil memukul mundur musuh.
Beberapa sahabat Nabi gugur dalam pertempuran ini. Mereka dimakamkan di salah satu tempat di kota Badar ini. Liburan kala itu tidak menyempatkan kami mengunjungi makam para Syuhada Badar.
Tapi beberapa waktu lalu, saat Ibu Mertua mengunjungi kami sekaligus beribadah umrah, kami bertandang sekali lagi ke kota Badar ini. Dan sekali ini berniat sekalian ziarah ke makam tersebut.
Tempatnya mudah dijangkau. Dan jangan khawatir, semua orang mengerti jika kita bertanya. Bilang saja “Makam Badar?” orang-orang sudah paham. Makam ini terletak di tengah kota Badar. Sangat mudah menemukannya. Ada di sisi salah satu jalan utama di kota ini. Kotanya lebih kecil lagi daripada Yanbu.
Di jalan tersebut juga dibangun semacam tugu dan monumen Perang Badar. Monumen tersebut juga memuat nama keempat belas sahabat Nabi yang mati syahid dalam peperangan ini.
***
Demikianlah kisah jalan-jalan kami selama dua hari penuh. Menikmati kota Yanbu dengan suasana kota yang berbeda dengan hiruk pikuk di Jeddah, sekaligus menjajal pesisir pantainya yang jernih. Tak lupa mampir ke kota Badar, bermain-main di padang pasirnya dan berziarah ke salah satu tempat bersejarah di sana.
***
Tulisan jalan-jalan ke Femina dikirim ke kontak at femina dot co dot id, ya ^_^. Panjang sekitar 1500 kata dilengkapi foto-foto high-resolution yang bagus, minimal 2 MB per foto.
Beberapa waktu lalu Kementerian Agama RI mengeluarkan pernyataan mengenai penurunan biaya haji tahun ini. Patut kita apresiasi langkah Kemenag. Dengan melorotnya nilai tukar rupiah (dan juga euro!! –> numpang curcol hahahahaha) terhadap USD, Kemenag masih bisa mencari cara mengefisienkan ongkos naik haji.
Jangan lupa LIKE page Kemenag ya (itu di awal saya mention pagenya ^_^) untuk informasi-informasi seputar Kementrian Agama :D.
Oh ya Kemenag juga berkeinginan mengatur soal kuota dan pembatasan ketat bagi mereka yang sebelumnya sudah pernah naik haji. Salah satu yang kontra dengan kebijakan ini mengambil sudut pandang –> “Naik Haji kan itu masalah takdir. Bukan urusan manusia.”
Ah, tidak juga. Pemerintah Arab Saudi pun secara ketat mengatur kuota haji bagi para mukimin Saudi. Sejak awal 2000-an, hanya boleh 5 tahun sekali. Tadinya bebas-bebas saja. Makin membludaknya jamaah mau tak mau membuat pemerintah Saudi harus mengambil langkah ini.
Istilah “Haji Koboi” pun menjadi marak. Sewaktu di Jeddah, saya menyaksikan sendiri beberapa pihak menganggap ritual “Haji Koboi” ini menjadi semacam petualangan gitu. Seru katanya kejar-kejaran sama petugas, gelar tenda sendiri, ngumpet kalau ada penjagaan. Kalau ketangkap dikiranya bukan negara yang ikut menanggung beban apa ya?
Pantas saja, seorang teman yang di KJRI Jeddah langsung pening melihat salah satu tayangan film soal naik haji (enggak enak mau sebut judul) yang menurutnya ada indikasi ngajarin orang-orang di tanah air untuk “nekat” tidak jelas. Baru indikasi doang, saya enggak nonton filmnya sih hehehe.
KJRI patut pusing lah. Kalau jemaah ketangkap yang kena getahnya kan mereka lagi. Tidak cukup energi untuk mengurusi peliknya masalah tenaga kerja informal di Arab Saudi, harus pula ketambahan kerjaan dengan orang-orang nekat begini. Saban ada hukuman mati untuk TKW misalnya, mereka lagi yang menjadi sasaran tembak warga di tanah air. Yang kadang ngerti masalahnya enggak, tapi bacotnya paling silet hahahaha.
Nah, bayangin kalau banyak yang terinspirasi oleh tayangan atau buku atau apalah dan nekat ke tanah suci dengan cara ilegal. Siap-siap lagi KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah ketiban kerjaan. KJRI Jeddah sih ya terutama. Riyadh jauh dari tanah suci soalnya tongue emoticon.
Masalahnya, kadang bukan karena keterbatasan ongkos atau kuota. But in the name of the adventure squint emoticon. Please lah, boleh ndak pilih tujuan wisata lain untuk berpetualangan. Jangan pas naik haji. Umrah mungkin masih masuk akal. Naik haji kan ada waktu-waktu khusus. Menginap di Mina serentak, wukut serentak, bagi yang naik haji via Saudi, tawaf wada pun menjadi semacam ujian nyali.
Untung saya kemaren mendapat ‘pertolongan’ khusus. Malam hari sebelum tawaf wada keesokannya, saya datang bulan. Suami tawaf wada sendiri saja, datang sempoyongan setelah mengitar Ka’bah 4 jam malam itu! Gimana kalau saya dan anak saya (anak kedua waktu itu kami bawa usianya masih 18 bulan) ikut bersamanya waktu itu?
Waktu tawaf ifada saja lumayan ‘drama’ soalnya :D. Cerita lengkap naik haji via Jeddah ala Mamah Poni bareng suami dan si kecil ada di buku “Memoar of Jeddah : How Can I not love Jeddah?” :D. Bab paling panjang hahaha. Sudah pada baca? :p.
Kami kira kami sudah terlambat menuju bus. Malam itu juga harus balik ke Jeddah. Suami sudah teler tetap harus membawa kami menembus pelataran Masjidil Haram yang sudah sesak oleh lautan manusia untuk mengejar bus menuju Kudai. Bangga bener deh sama suami perkasa satu ini <3.
Tiba di Kudai, ealah, kami rombongan pertama yang tiba. Menjelang subuh baru berdatangan satu persatu. Pak Supir sudah ketiduran. Menangis, euy, melihat satu persatu datang tertatih-tatih gitu. Hajjan Mabruran insya Allah, saudara saudariku :).
Bisa bayangin kalau tidak ada pembatasan kuota? Kami saja yang cuma harus melewati 6 hari perjalanan haji karena bertolak dari Jeddah tidak sedikit mengalami kesulitan dikarenakan membludaknya jemaah, apalagi yang jauh-jauh datang dari luar negeri.
Di situlah mungkin Allah mencoba mengajarkan kepada kita makna “Naik Haji cukup sekali saja” :). Itu pun bagi yang “mampu”. Mampu dari berbagai segi. Tidak hanya materi, tapi waktu dan kondisi fisik. Tidak hanya bagi sang jemaah pribadi tapi bagi kerabat handai taulan yang ditinggalkan tidak boleh diabaikan begitu saja.
Bagi yang tidak mampu, kewajibannya otomatis terhapus. Dan bagi yang mampu menolong mereka yang belum berhaji tapi kesulitan materi misalnya, bisa bayangkan segimana pahalanya? ;).
Termasuk kebesaran hati untuk mengalah. Walau kita tahu kita mampu berangkat naik haji untuk kedua kalinya, tapi kita harus ingat, ada kuota yang membatasi :).
Berat juga memang. Apalagi kalau tinggal di Saudi. Terlebih lagi tinggal di Jeddah. Jeddah-Makkah enggak nyampe sejam! ^_^. Duh, tiap tahun pengin wukuf, deh, kalau bisa hehehe.
Saat-saat terberat sebelum final exit di King Abdul Aziz International Airport ya waktu mengunjungi tanah suci untuk terakhir kalinya. Waktu itu, visa umrah masih ‘ditutup’, tanah suci sepi banget. Kami mengitari Mina, Musdalifah, Arafah, dan melihat menara lontar jumrah dari jauh. Melihat nomor tenda kami di Mina, nangis-nangis lah pastinya hehehe. Terbayang semua kenangan naik haji.
Salah satu julukan yang disematkan untuk kota Jeddah Arab Saudi adalah “Pengantin Laut Merah.” Tidak salah. Karena kota ini memang bersinggungan langsung dengan pesisir Laut Merah. Jalan raya di tepian pantai tersebut dikenal dengan nama Corniche Road.
Corniche Road ini tidak hanya berupa satu jalan panjang yang sambung menyambung. Tapi terbagi atas dua bagian, terletak di distrik Al Hamra dan distrik Ar Rawdah.
Yang wajib dikunjungi kala melintasi Corniche Road di sepanjang Ar Rawdah adalah Masjid Apung. Nama aslinya adalah Masjid Ar Rahman. Diberi julukan “Masjid Apung” karena sebagian pondasinya terletak di dasar laut. Sembari menunggu waktu salat tiba, biasanya para jemaah asal Indonesia berfoto di tepian pantai di sisi kanan masjid.
Saya kurang tahu apa yang menyebabkan masjid ini bisa menjadi tempat wajib buat para jemaah asal Indonesia. Ada yang bilang kalau dulunya salah satu khatib di masjid ini adalah seorang imam asal Indonesia. Entah betul atau sekedar rumor saja.
Masjid Apung. Foto oleh Dani Rosyadi
Sedangkan “King Fahd’s Mountain” adalah salah satu tempat menarik untuk disinggahi di Corniche Road di sepanjang distrik Al Hamra. Air mancur ini merupakan air mancur tertinggi di dunia. Sanggup memancarkan air hingga ketinggian 312 m di atas permukaan laut Merah.
Air mancur ini hanya beroperasi saat senja menjelang hingga waktu subuh. Jadi pastikan melewatinya di malam hari.
King Fahd Fountain. Foto oleh : Raiz Fouqil
Di sepanjang Corniche Road mudah ditemui hotel berbintang lima. Selain hotel kelas atas, terdapat pula banyak apartemen-apartemen mewah. Berbagai macam theme park (tempat hiburan buat keluarga)juga hadir.
Saat akhir pekan, hari kamis dan jumat, sepanjang tepian pantai akan ramai didatangi banyak orang. Pada umumnya mereka ke pantai untuk piknik. Orang-orang Arab akan datang beramai-ramai, menggelar tikar, membawa termos dan penganan, duduk bersantai hingga larut malam tiba.
Corniche Road juga menjadi tempat rutin untuk berburu obyek foto-foto yang menarik. Yang mempunyai hobi fotografi sering menjelajahi berbagai area di sepanjang jalan ini untuk merekam jejak alam yang indah di sekitar pantai.
Corniche Road. Foto : Dani Rosyadi
Balad, Kenangan Jeddah di Masa Lampau
Mungkin distrik Balad ini yang paling terkenal untuk jemaah asal tanah air. Disinilah terdapat Corniche Commercial Center yang dikenal sebagai pasar Balad. Tempat ini hampir selalu menjadi tujuan para jemaah Indonesia saat berburu oleh-oleh.
Tapi sebenarnya Balad menyimpan banyak kisah tentang Jeddah di masa lalu. Distrik Balad ini dulunya merupakan pusat kota Jeddah. Konon, kota Jeddah ini tadinya hanya sebuah kota nelayan kecil. Lalu perlahan-lahan membangun diri menjadi salah satu kota metropolitan dunia.
Sisa-sisa bangunan tempo dulu yang usianya ada yang di atas 100 tahun masih banyak tersebar di Balad. Arsitektur bangunannya cukup khas. Bentuknya seperti kotak yang dilapisi jendela-jendela kayu berwarna coklat. Ada sebuah wilayah khusus yang dipugar dan dilindungi oleh pemerintah. Wilayah ini bernama “Historic District.”
Historic District. Foto : Dani Rosyadi
“Historic District” merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari beberapa bangunan lama yang sudah tidak ditinggali lagi. Namun bila kita menyusuri jalan-jalan kecil ke dalam kompleks ini, kita bisa menemukan beberapa tunawisma yang memanfaatkan bangunan kosong ini sebagai tempat tinggal mereka.
Beberapa bangunan seperti hotel dan kantor pemerintahan juga masih mengusung arsitektur khas Arab tempo dulu. Seperti misalnya hotel Radisson di Madinah Road. Diberi aksen jendela-jendela coklat kayu yang mengelilingi keseluruhan bangunan.
Pasar-pasar khas Arab juga banyak di daerah Balad. Jangan terpaku di Corniche Commercial Center saja. Ada Bab Shareef, dimana Anda bisa menemukan macam-macam kaftan dan pashmina yang bisa dibeli grosiran. Harganya tentu lebih murah. Jangan lupa ke Bab Mekkah melihat-lihat karpet dan berburu oleh-oleh khas negeri gurun ini.
Untuk membeli abaya tidak perlu jauh-jauh. Abaya di Madinah memang terkenal dengan harganya yang murah tapi bahannya kurang bagus. Mampir saja ke Queen’s Building yang terletak di belakang gedung Corniche Commercial Center. Rupa-rupa abaya dengan harga variatif bisa Anda dapatkan di sana.
Kota Super Mal
Karena seringnya berbelanja di seputaran Balad saja, tak banyak yang tahu betapa banyaknya mal besar di kota Jeddah Arab Saudi ini. Bukan main pembangunan mal di kota besar yang berjarak sekitar sejam dari kota suci Mekkah ini. Ada belasan bangunan yang tersebar di berbagai penjuru kota.
Salah satu yang terbesar adalah Red Sea Mall. Letaknya agak jauh, di sebelah utara pinggiran kota Jeddah. Bangunannya berlapis kaca dimana-mana. Wah, saya sendiri kepayahan saat mencoba menjajal habis seluruh sudut mal ini. Ada juga Mall of Arabia yang tak kalah megahnya. Mal ini terletak di Madinah Road, dan pasti akan terlewati dalam perjalanan pulang-pergi antara Jeddah Arab Saudi – Bandara Internasional King Abdul Aziz.
Deretan mal besar di Tahlia Street
Para pencinta barang-barang bermerk kelas atas jangan sampai melewatkan Tahlia Street yang borju. Disinilah banyak bertebaran gerai-gerai internasional ternama, baik yang berdiri sendiri maupun yang terdapat di dalam mal.
Ada bangunan Versace berwarna emas yang khas yang berdiri megah di salah satu sudut jalan. Al Khaiyat mal yang memamerkan brand kelas atas seperti : Gucci, Saint Laurent, Louis Vuitton, Armani, juga Dolce & Gabbana.
Beberapa mal ‘mewah’ yang berjajar di sepanjang Tahlia Street antaralain : Nojoud Center, Le Mall, Jeddah Mall, Tahlia Roshana Center, Tahlia Shopping Center, dll.
Harga barang-barang merek ternama ini akan lebih murah daripada harga barang yang sama di tanah air. Mungkin karena negara Saudi tidak menerapkan aturan pajak apa pun. Bolehlah membeli beberapa untuk selanjutnya ditawarkan kepada kerabat di tanah air.
Kuliner internasional papan atas juga ikut meramaikan hiruk pikuk di salah satu jalanan utama kota ini. Istimewanya lagi, kuliner di Saudi ini dijamin kehalalannya oleh pemerintah. Jadi, silakan sepuasnya bersantai di restoran kelas dunia yang ada di Tahlia Street.
Mal-mal lainnya yang cukup terkenal dan terletak di jantung kota adalah : Andalus Mall, Aziz Mall, Serafi Mega Mall, Roshan Mall, Star Avenue, dsb. Bermunculan pula mal-mal baru dengan ukuran tak kalah besarnya seperti : Haifa Mall dan Central Park.
Jeddah yang Bertabur Monumen
Sekedar menyusuri jalanan kota Jeddah Arab Saudi saja mata kita akan dimanjakan oleh banyaknya monumen yang bertaburan. Sepeda raksasa di Sitten Street yang terkenal dengan istilah ‘Sepeda Nabi Adam’ itu cuma satu diantara seribu.
“Sepeda Nabi Adam”. Gambar : Dani Rosyadi
Monumen-monumen ini tertata rapi, dibangun cantik, memenuhi segala sudut kota. Mulai dari ruas jalan, persimpangan, sambungan jalan, sampai ke tepian pantai. Ada yang berupa bangunan yang bentuknya kompleks, tapi banyak juga yang hanya berupa bangunan kecil nan unik. Misalnya : jangka raksasa, alat-alat pertukangan (linggis, palu, dll), benturan mobil warna warni pada sebuah dinding, bola dunia, sampai berupa tangan raksasa yang terkepal dengan gagahnya.
Corniche Road juga merupakan pusatnya monumen-monumen unik. Sembari menikmati suasana pesisir, jangan lupa mengedarkan pandangan melihat-lihat bangunan-bangunan seru yang berjejer di jalanan pantai ini.
Monumen @Corniche Jeddah. Foto : Dani Rosyadi
Favorit saya pribadi adalah “The Giant Lantern”, 4 lentera raksasa berdiri perkasa di salah satu jalan protokol, King Abdullah Road. Jika terlihat di siang hari, monumen ini hanya berupa lampu-lampu besar penuh debu tanpa warna. Tapi cobalah melewatinya di malam hari. Lentera raksasa ini akan berselimutkan cahaya warna warni laksana lentera dari negeri dongeng.
“The Giant Lantern”. Foto : Raiz Fouqil
Jalan-jalan di Kota Jeddah?
Sebenarnya tidak perlu waktu lama untuk menyusuri berbagai tempat tadi. Karena infrastruktur jalanannya yang cukup bagus. Jalanan di Jeddah Arab Saudi lebar dan mulus. Kemacetan juga jarang terjadi.
Kalau Anda adalah jemaah umrah dan haji, mungkin bisa menghubungi pengawas rombongan. Pengawas biasanya ada yang memang bermukim di negara Saudi. Para pengawas ini punya kenalan supir-supir yang juga berasal dari Indonesia. Mungkin Anda bisa memanfaatkan jasa mereka.
Foto : Dani Rosyadi
Nah, ini adalah salah satu contoh tulisan jalan-jalan yang pernah dimuat di Republika. Ini naskah aslinya :D.
Sewaktu masih tinggal di Jeddah sempat ada kasak kusuk pro dan kontra mengenai beberapa rekan di sana yang naik haji saban tahun. Sebenarnya ada aturan di Saudi naik haji hanya boleh 5 tahun sekali. Tapi kan, kita-kita yang di Saudi punya satu keistimewaan khusus soal naik haji ini. Bisa haji koboi, Kakaaaaa 😉. Sekian sedikit info haji tentang hajian dari Jeddah :D.
Oh well, I’m against Haji Koboi actually . Definisi ‘haji koboi’ di sini adalah naik haji tanpa Tasrikh/surat izin resmi dari pemerintah Saudi untuk naik haji. Kalau haji backpacker tapi tetap dengan izin resmi monggo saja, asal bawa kantong plastik sampah sendiri pliiiiiiiisssssssssssssssss… -_-.
Gambar : news.liputan6.com
Apalagi jika dilakukan oleh orang-orang kalangan berada for the sake of the … challenge and seru-seruan! Hahhahahaha. Dikata liburan kali yeeee :p.
Kalau yang melakukannya dari kalangan kurang mampu pun sebenarnya kurang bisa ditolerir. Mengingat pemerintah Saudi sudah berusaha keras menyediakan macam-macam fasilitas naik haji bagi pemukim dengan biaya yang terjangkau .
Alasan lain para koboi ini ya karena itu tadi, pengin naik haji berkali-kali. Tiap tahun kalau bisa. Menjadi kebanggaan tersendiri kadang-kadang.
Salah satu rekan yang bertitel “alumni haji koboi” juga berkilah, “Salah pemerintah Saudi kenapa dibatasin? Emangnya tanah suci punya dia. Suka-suka umat muslim dong. Lagian tasrikh itu bukan rukun maupun syarat naik haji.”
Baiklah kalau begitu, tahun depan dan seterusnya, quota hajii enggak usah diberlakukan . Biarlah seluruh umat muslim dari seluruh penjuru dunia tumplek di Mina-Arafah saban tahun. Ngomong-ngomong berapa ya jumlah umat Islam di dunia? Hm, mungkin wilayah Mina itu seperti karet. Bisa melar otomatis kalau banyak yang datang hahaha . Dan mengecil kembali kalau jemaah sudah pulang. Bukan sulap bukan sihir ya Kakaaaaa 😀 😀 😀.
Sebagian teman yang kontra melihatnya dari berbagai sisi. Salah satunya dari sisi materi. Kalau saya pribadi, urusan materi gak masalah. Suka-suka orangnya saja, duit ya duit dia ya hehehe. Tugas sesama kan cuma memberitahu dan mengingatkan. Enggak ditanggapi? Stop sampai di situ. Itu sudah di luar kuasa kita ^_^.
Tapi saya pribadi, kalau ada rezeki dan kesempatan, pasti tak berpikir dua kali untuk memberikannya pada yang belum pernah (dan kalau bisa belum mampu secara materi). Insya Allah 🙂.
Concern saya memang lebih ke arah kapasitas Mina dan Arafah itu sendiri. Aturan “tasrikh naik haji” kalau gak salah merupakan peraturan baru. Baru berlaku di awal tahun 2000-an. Alhamdulillah ini tanda bahwa umat muslim makin berkembang sehingga saking banyaknya, pemerintah Saudi merasa perlu memberikan batasan bahkan kepada warga/pemukim Saudi sendiri 🙂.
100% saya sepakat dengan pemerintah Saudi . Lagian 5 tahun sekali ya cukuplah ya 😉.
Mina itu mau diperlebar sampai ke mana lagi? Daya tampungnya pasti terbatas. Walau sebagian teman menganggap itu kuasa Allah, seberapa banyak pun jemaah pasti cukup! Ya balik lagi, hapus sajalah quota kalau begitu.
Masjidil Haram di Mekkah pun memangnya mau sampai kapan mau diperluas dibikin bertingkat sampai berapa juga kalau tak ada kesadaran dari umat muslimnya sendiri untuk ‘berbagi’ ya enggak akan pernah terasa lapang . Memangnya kita berharap umat muslimnya yang akan berkurang?
Setuju dengan ide Doni Febriando, seharusnya program ONH Plus dihapus saja. Diganti dengan ONH Kemanusiaan. Pemerintah sebaiknya menggalang dana saja untuk memberangkatkan haji bagi mereka yang sudah berumur. Masa iya usia sudah 60 an harus mengantre sampai 10 tahun? Ajegileeee hahahaha. Ya makanya, naik haji dari muda dong. Ya situ kasih duitnya dong, bisa? .
Perketat pula jatah naik haji seperti di Saudi. Utamakan bagi yang belum pernah. Jangan malah instansi terkait dan oknum-oknum yang punya ‘kuasa’ malah sibuk menggunakan jatahnya untuk keuntungan pribadi.
Antara wilayah Mina dan Musdalifah sendiri sekarang ya sudah rancu. Makanya, ada juga teman-teman saya di sana yang kalau memilih biro haji mereka tanya dulu lokasi tendanya. Mereka termasuk yang disiplin dalam urusan batas wilayah. Ini memang pendapatnya terbagi-bagi.
Saya sendiri saat naik haji 2012 silam kebagian di wilayah ‘abu-abu’. Mina iya, musdalifah iya hihihi. Jadi, saat acara bermalam di Musdalifah dan Mina ya kita tetap dalam tenda saja enggak ke mana-mana. Ada juga rekan satu hamla yang disiplin. Mereka benar-benar pasang peta dan mencari batas wilayah Mina dan Musdalifah yang sah. Mereka gotong kantong tidur dan berpindah sesuai ketentuan apakah harus di Mina atau Musdalifah.
Tak masalah, ya. Kesepakatan ulama Saudi sendiri memang tidak satu suara 😉. Salam damai ^_^.
Kompleks jemaah haji di Mina
Urusan umrah juga begitu. Saat saya tahu tanah suci lagi padat-padatnya, saat masih di Jeddah dulu, saya memilih menahan diri untuk tidak ke wilayah Haram . Biarin dah dinyinyirin kenapa sudah tinggal di Jeddah kok enggak umrah sebulan sekali? Hehehe. Kalau suami tetap rajin, saya memilih di rumah saja sama anak-anak .
Sebagai pemukim Saudi, saya sungguh beruntung dianugerahi masa-masa di mana tanah haram lagi sunyi-sunyinya. Bisa menikmati tawaf 10 menit sambil bolak balik menyentuh Ka’bah, minum air zam-zam dengan tenang, Safa-Marwah sangat lengang, alhamdulillah .
Tawaf pagi-pagi, cari parkiran pun gampang. Sehabis tawaf masih bisa bersantai sejenak menunggu waktu Zuhur. Usai Zuhur, lunch deh di Shofwa Tower di gerai makanan Malaysia favorita kami . Gak pakai antre, duduk manis sambil mengobrol imut sama suami . Menjelang waktu Ashar, masuk lagi ke wilayah Haramain untuk salat. Serba santaiiiiiii. Kosong, Cyin .
Sebisa mungkin, saat banyak jemaah yang datang jauh-jauh dari seluruh penjuru dunia, kalau tak ada sesuatu yang kepepet, saya menghindari datang ke tanah suci (Mekkah dan Madinah). Kehadiran kita-kita pemukim Saudi yang sebenarnya bisa melaksanakan umrah di waktu-waktu ‘kosong’ tadi kan seharusnya tidak perlu merampas jatah lowong jemaah yang datang jauh-jauh dari belahan dunia lain untuk ikut menikmati syahdunya beribadah di tanah suci .
Malah ikut-ikutan bikin sesak di sana hehe.
Umrah berkali-kali (mungkin) memang bagus. Tapi ya, dalam Islam, ibadah vertikal dan horisontal sangat dianjurkan keseimbangannya .;) Menurut saya begitu, anda boleh beda 😀.
Suami saya juga beda, kok. Dia lebih suka rutin ke Masjidil Haram. Katanya lebih afdol salatnya. Wah, saya insya Allah di mana saja salat harus terasa afdol. Asal khusyuk. Di mana pun kita bersembahyang, bumi Allah sungguh luas ^_^.
Jalan Menuju Arafah dari Mina
Kalau menurut beberapa teman ya aji mumpung tinggal di Jeddah, ayooo ke Mekkah sering-sering. Justru karena saya tahu nikmatnya beribadah di tanah suci jika jemaah tidak terlalu sesak maka saya relakan jatah kemudahan saya ke tanah suci kapan saja agar yang datang dari jauh pun mudah-mudahan bisa merasakan hal yang sama .
Kalau ada rekan/teman/kerabat yang mampir Jeddah, baru kita jemput dan ajak keliling-keliling . Terus traktir makan deh .
But again, ini menurut pendapat pribadi enggak pakai dalil-dalilan hahahaha. Tentu, yang berpendapat berbeda tetap saya hargai .
Walau memang ujung-ujungnya ini hanya masalah takdir, katanya kan kalau Allah sudah berkehendak pasti akan kejadian. Betul itu.
Tapi jadi ingat dengan ayat satu ini, kalau tidak salah penolakan seorang kafir untuk memberi makan kepada orang miskin dengan alasan, “Mengapa saya harus memberi makan kepada orang dimana jika Tuhan berkehendak Tuhan bisa memberinya makan?”
Lantas, “Mengapa kita harus memikirkan jatah naik haji bagi yang belum kepada orang dimana jika Tuhan berkehendak Tuhan pasti memberangkatkannya untuk naik haji?”
Memang, kalau Tuhan mau, semua juga bisa naik haji tahun ini. Kalau Tuhan mau, Mina dibikin semacam magic, bisa melar dan menyempit lagi sesuai banyaknya jemaah hihihi. Kalau Tuhan mau, semua umat muslim kaya, tak ada mazhab yang bikin kita berantem, yang bikin kita pusing kenapa si anu jilbabnya sampai lutut kenapa si ana jilbabnya cuma sampai leher?
Disitulah rahasia Tuhan. Tuhan memberi kita pilihan. Tuhan menganugerahkan perbedaan. Lho kok anugerah? Iya dong, orang miskin memangnya maunya dia? Dalam tempo sedetik, Tuhan bisa membuat mereka kaya. Tapi Tuhan baik, dia memberi kesempatan pada mereka yang berpunya untuk berbuat kebaikan. Dan memberi kesempatan pada mereka yang diberi kesempitan untuk bersabar.
Tapi hikmah ini memang hanya untuk yang mau berpikir dan beramal saleh saja memang kata ayat-ayat dalam alquran hehehe. Semoga dimampukannya kita untuk termasuk dalam golongan ini, ya. Saya, anda, dan kita semua . Amin, amin, ya rabbal aalamiin.
Padang Arafah
Tapi, intinya Tuhan memberi keterbatasan dan kelebihan selalu ditujukan untuk kesabaran. Sabar menjalani dan sabar untuk tidak pamer/bermewah-mewah . Jangan salah, yang sering gagal itu justru yang dikasih lebih-lebih . Hukum alam. Yang harus kerja keras itu justru yang kelihatannya diberi kelebihan. Kelihatannya doang. Padahal, semua juga cobaan yak :D. Hehehe.
Percaya pada Tuhan, berarti tak menafikan kemanusiaan ;). Kalau dijalankan dengan benar, Islam itu memang solusi banget deh pokoknya hehehe.
Karena sejatinya, umat muslim itu beriman dan mengerjakan kebaikan :). Ingat dong, kata kuncinya … Islam, Rahmatan lil aalamiin. Rahmat bagi seluruh penjuru dunia yang isinya macam-macam ini. Tidak terbatas pada umat muslim saja. Kita adalah solusi bagi sekitar.
Jadi, mau naik haji berapa kali nih? Hahahhahaha. Santaiii…naik haji berapa kali pun, antara saya dan anda tak boleh terputus tali silaturahmi ;). Haram hukumnya memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan 😀 –> nasihati diri sendiri ini sih harusnya! Hahhaha :p *sodorinKaca*.
***
Tanggal 7 Dzulhijjah tahun ini. Sebagian besar biro haji lokal Saudi akan memberangkatkan jemaah serentak via bus menuju Mekkah. Masih teringat, tiba di Kudai pukul 10 malam saking macetnya dari Jeddah ke Mekkah. Saran saya, apa pun yang terjadi, usahakan langsung tawaf Qudum dan sa’i ya teman-teman. Kalau gak keburu tawaf Ifada, tinggal digabungkan ke tawaf Wada saja. Insya Allah, hukumnya boleh :).
Tempat melontar jumrah
Selamat menunaikan ibadah haji untuk sahabat-sahabatku tercinta di Jeddah sana. Friendship never ends, ya, cantik-cantikku. Untuk Madam Anggie Mutia, Madam Nisa Ayu dan Mbak Yuli Karim …
Untuk teman di dunia maya, salah satu pahlawanku urusan resep walau sekarang site resepnya lagi maintenance melulu nih :D. Untuk Mbak Astri Merianti Nugraha + suami, yang berhaji dari Canberra.
Untuk teman di FB, Ibu dokter imut Sasqa Dyah, yang dari kemarin upload foto melulu bikin kangen deh awwwww hihihihi.
Untuk temen SMP, dan ternyata ketemu lagi di kampus yang sama, Aditya Hananto yang juga baru saja walimahan, nih :D. Apakah berumrah dengan nyonya sekalian? Masya Allah, bulan madu di tanah suci :D.
Semoga dilancarkan semuanya, sehat selalu lahir batin, untuk selanjutnya menundukkan diri di hadapan Allah, bersama jutaan jemaah dari segalal penjuru dunia, saat wukuf di Arafah 9 Zulhijjah esok nanti.
Labbaik Allahumma Labbaik, adalah kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah.
Labbaika la syarika laka labbaik, tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
Inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulka la syarika laka, sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.
Hajj mabruran, hajj mabruran, hajj mabruran untuk kalian semua … insya Allah, insya Allah :).
Selamat bertugas pula pada suami para Madam Telco yang kebagian ‘jaga kandang’ pas ‘peak season’ nanti. Eh, sudah mulai ya shift-shift-an nya hihihihi. Insya Allah, ada pahala khusus juga tuh. Ikut membantu kelancaran para jemaah berkomunikasi dengan handai taulan yang ditinggalkann di rumah masing-masing ^_^. Semoga lancar lemburannya ;).