10 Fakta Unik Terkait Pangeran Alwaleed Bin Talal

Baru-baru ini Pangeran Alwaleed Bin Talal membuat pengumuman penting terkait masalah warisan atas hartanya yang berlimpah. Sang pangeran memutuskan kelak akan mewariskan seluruh harta kekayaannya untuk jalan kemanusiaan. Termasuk peningkatan pelayanan kesehatan, pemahaman lintas budaya dan agama, modernisasi kemanusiaan atas nama kebaikan serta memperkuat peranan kaum perempuan di berbagai bidang.

Apa yang membuat Pangeran Alwaleed Bin Talal menjadi pribadi yang unik di mata dunia? Berikut 10 diantaranya :

1. Pangeran Al Waleed Al Talal berdarah Saudi. Di mana pemerintahan Arab Saudi dikenal secara umum memiliki banyak aturan yang dianggap mengekang kebebasan perempuan. Misalnya, perempuan tidak boleh menyetir mobil sendiri dengan atau tanpa dampingan siapa pun.

2. Tidak hanya itu. Predikat pangeran didapatkannya karena Al Waleed merupakan cucu dari King Saud sekaligus keponakan dari King Abdullah. Ayahnya sendiri pernah menjabat dalam kementrian di Pemerintahan Saudi sebelum diasingkan karena kasus tertentu.

Pangeran Alwaleed Bin Talal
Pangeran Waleed Al Talal (gambar : www.forbes.com)

3. Pangeran Al Waleed memberikan beasiswa bagi Hanadi Zakaria Al-Hindi untuk menuntaskan pendidikan penerbangannya. Hanadi adalah seorang perempuan asli Saudi. Lulus dari sekolah penerbangan, Hanadi bekerja menjadi supir pribadi pesawat jet kepunyaan Al Waleed. Sekaligus menjadi perempuan Saudi pertama yang memiliki lisensi pilot pesawat jet komersial.

Cukup ironis mengingat Hanadi tetap tidak boleh menyetir mobilnya sendiri. Walau sanggup menerbangkan pesawat jet, Hanadi tetap menggunakan supir pribadi dalam berkendara di darat dalam wilayah Saudi.

Hanadi Zakaria asuhan Pangeran Alwaleed Bin Talal
Hanadi Zakaria (gambar : www.saudigazette.com.sa)

4. Pangeran Al Waleed   dijuluki “Arabian Warren Buffet” karena ketajamannya dalam berinvestasi yang sering menuai kesuksesan besar di bidang finansial. Kekayaannya sebagian besar diperoleh dari kemampuan bisnisnya yang cemerlang, tidak semata-mata mengandalkan posisinya sebagai anggota kerajaan dari negeri yang berlimpah minyak.

5. Majalah Forbes pernah menobatkannya sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Peringkat 34 di tahun 2015.

6. Di saat yang sama, Majalah Forbes juga mendapuk sang pangeran sebagai orang kaya no.1 di Arab Saudi. Juga menduduki posisi puncak sebagai orang paling kaya di seantero Timur Tengah.

 

7. Pangeran Al Waleed al Talal pernah menikahi Princess Ameera al-Taweel. Dalam kehidupan sehari-harinya, Princess Ameera tidak mengenakan pakaian khas abaya yang merupakan kewajiban bagi perempuan Saudi saat berada di tempat umum. Al Waleed sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini.

Pernikahan ini hanya berlangsung sekitar 2 tahun. Mereka bercerai di penghujung tahun 2013. Walau begitu, Al Waleed tetap menganggap Princess Ameera sebagai perempuan yang akan dihormatinya seumur hidupnya.

Princess AMeera mantan istri dari Pangeran Alwaleed Bin Talal
Princess Ameera Al-Taweel (gambar : www.listal.com)

8. Pangeran Al Waleed al Talal membiayai sebuah proyek sosial bertajuk “Moslem-Christian Understanding” di Georgetown University. Hal ini termasuk unik mengingat beliau berasal dari Arab Saudi yang terkenal cukup ‘konservatif’ dalam urusan beragama.

9. Sebelum menghebohkan dunia dengan keinginannya mewariskan seluruh hartanya untuk jalan kemanusiaan, Pangeran Al Waleed al Talal sudah banyak menyumbangkan hartanya untuk beramal.

Di tahun 2002, membantu proses pembangunan kembali Palestina pasca serangan Israel ke Tepi Barat dan Jenin. Menyumbangkan sekitar 17 juta dolar kepada korban tsunami di kawasan perairan Hindia di akhir 2014 silam. Serta berbagai bantuan kemanusiaan lainnya termasuk mendirikan pusat studi Islam di berbagai negara-negara Eropa dan Amerika.

10. Pangeran Alwaleed Bin Talal sangat mengagumi Raja Abdullah yang dianggapnya sebagai reformis bagi Arab Saudi. Salah satu gebrakan Raja Abdullah adalah pendirian KAUST, King Abdullah University of Science and Technology.

KAUST mengundang pelajar-pelajar dari seluruh wilayah di dunia untuk datang dan belajar di KAUST dengan jumlah beasiswa yang cukup besar dan fasilitas yang cukup mewah. Hal menarik dari KAUST, dalam lingkungan kompleks kampus, aturan khas Saudi tidak berlaku.

Pangeran Alwaleed Bin Talal
Kampus KAUST yang modern dan megah (gambar : web.stanford.edu)

Ini dilakukan agar siswa siswi dari negara mana pun bisa nyaman belajar di sana. Walau mengundang tidak sedikit kontroversi dari beberapa pihak di Arab Saudi, keputusan ini sangat didukung oleh Pangeran Alwaleed Bin Talal.

***

Demikianlah hal-hal unik tentang sang pangeran dari Negeri Penjaga 2 Kota Suci ini.  Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pribadi Pangeran Alwaleed Bin Talal yang bagaikan 2 sisi mata uang. Mari mengambil hikmah positif.

https://www.youtube.com/watch?v=wBK3CU3IyBs

Sumber :

1. Profil Al Waleed Al Talal

2. Majalah Forbes edisi orang terkaya di Timur Tengah

3. Profil Al Waleed Al Talal di Majalah Forbes

***

 

Bergaya dengan Abaya Arab, Siapa Takut? ;)

Sebelum berangkat ke Jeddah, tidak pernah terbayang jika harus mengenakan sehelai kain hitam kemana-mana. Saya pernah melihat pakaian seperti ini kala sesaat sempat bermukim di kota Tehran. Ternyata itu bukan abaya arab yang umum dikenakan di Saudi. Pakaian hitam-hitam khas ala perempuan Persia tersebut namanya chador.

Biarpun ‘buta fashion’, dalam hal berpakaian saya cukup picky. Lebih suka mengenakan celana panjang, tidak suka rok sama sekali. Nah, bagaimana ceritanya harus tinggal di tempat yang kemana-mana harus mengenakan baju hitam panjang?

Abaya arab
Abaya arab yang modelnya fancy 😀 (gambar : fashstylez.com)

***

Abaya Arab  ada dimana ?

Berburu abaya di Indonesia ternyata tidak sulit. Tapi saya sarankan jangan membeli abaya arab di tanah air. Mahal, booo *penting :P*. Dengan kualitas yang sama, Anda bisa mendapatkan abaya arab dengan harga yang lebih murah di Jeddah.

Catat dulu hal yang pertama , abaya arab itu bukan cuma sehelai kain hitam tanpa bentuk. Abaya juga punya berbagai macam model dan bentuknya tidak melulu hitam 100%.

Rasa nyaman berabaya tidak pernah terpikir sampai akhirnya mudik pertama di tahun 2011. Diajak ke mal sama suami. Langsung kagok. Milih-milih baju, milih-milih celana, cocokin sama jilbab. Suami suka menggerutu, “Lama amat, sih!”

Tak sadar kalau setahun terakhir sebelumnya, tinggal di Jeddah, tidak pernah dipusingkan soal gini-ginian. Lagi ndusel-ndusel sama anak-anak di tempat tidur saja kalau diajak keluar tidak masalah. Tinggal nyamber satu abaya yang selalu tergantung di lemari. Ceplosin, ambil jilbab (warna apa saja, bajunya hitam kan, matching dengan warna apa pun), uwel-uwel di kepala, beres. Lima menit sudah cukup ;).

Satu lagi, saya merasa adem kalau kemana-mana. Tidak pusing dengan, “Idih, celananya lucu amat. Beli dimana, ya?” atau “Wow, blusnya keren. Mauuuuuuu.” Sejauh mata memandang, setiap perempuan berselubung abaya semua. Mau majikan kek, mau baby sitter kek, mau yang non muslim kek, siapin abaya masing-masing. Ini sih pendapat pribadi saya saja, ya. Kalau ada yang malah merasa kebebasannya terenggut dengan kewajiban berabaya ini ya sah-sah saja :).

Masalah abaya juga membuat saya, yang memang dasarnya malas beli-beli baju, jadi kalang kabut sendiri setiap harus liburan ke tanah air. Atau sekarang…saat harus pindah ke tempat lain dimana penggunaan abaya malah akan menjadi hal yang langka.

Abaya arab
Berabaya ramai-ramai dengan teman di Jeddah

Berbulan-bulan hidup damai dengan abaya arab, sekarang harus sibuk mengisi lemari lagi hehehe. Damai di kantong, damai pula saat harus berhadapan dengan kaca, “langsingnya akuuuu” hahaha. Perempuan oh perempuan :P.

Untung Saudi tengah dilanda musim diskon. Mari kembali bergerilya di mal-mal yang tiap dinding kacanya berhiaskan tulisan 50% atau 70% gede-gede. Duh, yang 100% gak ada, nih? Hahaha.

***

Ibu saya kemarin bilang, “Ah, kayak abaya-abayamu itu banyak yang jual di Tanah Abang.”

Saya keluarkan koleksi abaya terbaru yang saya belikan khusus untuk oleh-oleh buat sahabat terdekat. Ibu saya langsung berseru, “Waaahhh, bagusnya yang ini. Ini sih gak ada yang jual di Tanah Abang.”

Saya langsung pongah dong, “Makanya, Ma. Kalau mau lihat tren abaya ya jangan ke Tanah Abang, kali. Lihatnya ke negeri asalnya. ”

Saya pikir dengan adanya aturan kudu berhitam-hitam ria ini membuat hidup akan lebih praktis. Ngapain punya abaya banyak-banyak. Tapi pikiran ini langsung kandas ketika di suatu acara pertemuan para Madam, seorang teman mengobrol basa basi dengan saya :

Madam X : “Mbak Jihan suka sekali ya dengan abaya ini.”
Saya : “Ih, kok tahu?” (menjawab geer berasa artis).
Madam X : “Soalnya Mbak Jihan kemana-mana pakai abaya ini terus.”

Hahaha. Well, I believe she had no intention to be rude :). Tapi begitulah, saya memang tak pernah memperhatikan abaya orang lain. Well, sama-sama abaya hitam gitu, lho. Bedanya apa? Kecuali memang menggunakan motif-mofit berani misalnya loreng-loreng ala macan, atau kembang-kembang segede gambreng, barulah saya bisa ngeh. Hehehe.

Saya langsung kepo mengintip isi lemari teman-teman. Ternyata memang rata-rata memiliki koleksi abaya arab yang cukup banyak. Langsung gembok lemari sendiri yang isinya paling banter 4 abaya doang. Hihihi. Itu pun sudah termasuk abaya favorit pemberian sahabat tercinta di sini. Pakai abaya itu serasa dipeluk Bunda Rani terus :).

Teman saya di Jakarta juga terperangah soal ‘abaya cuma 4 biji’ ini.

“Lu jadi pindah? Abaya-abaya lo buat gue separuh, dong.”

“Adek gue mau 1. Yang satunya udah agak kumel. Lo 2 aja, ya.”

“Ha? Cuma 4?”

“He-eh.”

“2 tahun lebih di Arab, kemana-mana harus pakai abaya, lu cuma punya 4?” Matanya mulai melotot.

“Hehehehhe.”

“Sinting lu. Kikir gak ilang-ilang.”

Hahaha.

Abaya Arab
Cover bunda of Arabia

Btw, bahan abaya arab hitam itu juga adem dan nyaman. Dulunya kan tidak habis pikir, masa negara yang dihujani terik matahari hampir sepanjang tahun tega betul menyuruh kaum perempuan pakai baju hitam-hitam. Gosong gak, nih? :P.

***

Ternyata, pakai abaya hitam itu suatu hal yang positif (buat saya). Dulunya saya suka melepas abaya di acara-acara rumahan. Sekali-sekali ingin dong pamer-pamer jeans atau baju baru hehehe. Belakangan sudah jarang. Membuka abaya hanya dilakukan kalau memang kegiatannya kurang nyaman dilakukan bila harus berabaya.

Walau begitu, menurut saya pakaian lebih lekat ke masalah budaya :). Sekarang sudah bermukim di belahan lain dunia tidak akan memaksa pakai abaya hitam ke mana-mana hehe. Cuaca sini juga kurang cocok dengan abaya hitam yang cenderung adem :D.

 

Saya, sih, prinsipnya tidak menyolok dan tidak mencari perhatian dan jangan yang mahal-mahal lah ya hehehe :p. Soal batasan aurat juga masih banyak pendapat. Panjang pendek jilbab dan model baju juga masih menjadi ruang diskusi yang panjang di berbagai forum diskusi ;).

Kalau di Saudi ya memang wajibnya pakai hitam-hitam. Pakai motif kembang-kembang jelas akan menjadi pusat perhatian. Sebaliknya di INdonesia, siang bolong nunggu angkot di tengah jalan pakai baju hitam-hitam apa tidak menjadi perhatian orang banyak? Hehehe. Di Kuala Lumpur pun, perempuannya masih banyak berbaju kurung dengan motif ramai. Di sana tidak jadi pusat perhatian tuh ^_^. Jadi, definisi ‘menarik perhatian’ ini juga sangat tergantung budaya setempat ;).

Tapi saya tetap menyimpan satu abaya arab sebagai kenang-kenangan sebagai mantan mukimin Jeddah :D.

Abaya Arab
Cover Bunda of Arabia

 

5 Wisata Arab Saudi Selain Mekkah dan Madinah

Wisata Arab Saudi : Arab Saudi, Sang Negeri Penjaga 2 Kota Suci umat muslim, Mekkah dan Madinah. Kedua kota ini menjadi magnet penting bagi para pendatang, jemaah haji dan umrah, dari berbagai penjuru negeri.

Namun, Negeri Gurun satu ini juga memiliki banyak tempat lain yang unik selain kota Mekkah dan Madinah. Beberapa diantaranya :

[Updated : Versi vlognya ada di link di bawah ini]

 

1. Madain Saleh / Al Hijr

Terletak di Kota Al Ula, berjarak 400 km dari Kota Madinah, tempat ini dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh badan UNESCO di tahun 2008. Nama resmi tempatnya adalah Al Hijr. Namun, lebih dikenal sebagai Madain Saleh. Karena dianggap pernah menjadi tempat bermukimnya kaum Nabi Saleh, kaum Tsamud.

Wisata Arab Saudi Madain Saleh, bangunan terpahat di perbukitan batu, foto : Dani Rosyadi
Madain Saleh, bangunan terpahat di perbukitan batu, foto : Dani Rosyadi

Jejak sejarah yang kini masih bisa ditemukan di tempat ini mayoritas berasal dari Kaum Nabatean yang hidup sekitar abad 1 Masehi. Bangunan-bangunan yang dipahat di perbukitan batu, dengan cara tradisional yang hanya memanfaatkan sebilah kayu dan bantuan air, masih kokoh berdiri. Sebagian berfungsi sebagai tempat tinggal, kuburan, tempat pemujaan dsb.

Bangunan batu yang dikelilingi padang pasir juga menjadi ciri khas dari Madain Saleh. Tempat ini bisa dinikmati tanpa membayar biaya masuk sama sekali.

Wisata Arab Saudi Bangunan di perbukitan batu diantara padang pasir, foto : Dani Rosyadi
Bangunan di perbukitan batu diantara padang pasir, foto : Dani Rosyadi

2. Kota Thaif

Hanya butuh sekitar sejam untuk menjangkau tempat ini jika mengendarai mobil/bus dari Kota Mekkah. Letaknya yang berada di atas perbukitan batu tak perlu membuat gentar para pendatang. Karena sebuah jalan tol dengan sejumlah pengamanan untuk melindungi para pengemudi telah rampung dibangun sejak lama.

Tebing-tebing di sisi jalan diberi pembatas kawat untuk menghindari bebatuan yang mungkin jatuh. Sisi lembah seluruhnya dilindungi pembatas beton. Dua jalur  dipisahkan oleh pagar pembatas untuk menghindari tubrukan dengan mobil dari arah yang berlawanan.

Saat malam tiba, jalan tol berhias lampu-lampu jalanan terang benderang. Perjalanan mendaki menuju Thaif saja sudah merupakan pengalaman seru tersendiri.

Wisata Arab Saudi Thaif Highway, foto : Adwin Zulfikar
Thaif Highway, foto : Adwin Zulfikar

Karena terletak di dataran tinggi, kotanya cukup hijau dan sejuk. Ada beberapa taman berumput hijau sebagai tempat untuk menggelar tikar dan bersantai. Banyak penjual buah-buahan segar di sisi jalan di pintu gerbang kota. Thaif melambangkan sisi lain wilayah Arab Saudi yang ternyata tak semuanya didominasi oleh tanah gersang dan padang pasir.

Wisata Arab Saudi Kota Thaif

3. Pantai Thuwal

Sebagian wilayah Arab Saudi bersisian langsung dengan Laut Merah. Sehingga tak cuma padang pasir yang menjadi ciri khas alam negeri ini. Pantai-pantai pun berjajar di sepanjang pesisir barat Arab Saudi. Salah satunya adalah Pantai Thuwal yang terletak di Kota Thuwal.

Berjarak sekitar 80 km di sebelah utara Kota Jeddah, pantai Thuwal dibuka untuk umum secara gratis. Pantainya terletak di wilayah teluk, airnya cukup tenang tanpa banyak ombak.

Fasilitas di Pantai Thuwal tergolong lengkap. Kamar mandi umum berjumlah cukup memadai. Petugas lalu lalang menjaga kebersihan di area pantai.

Wisata Arab Saudi Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi
Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi

4. Padang Badar

Kota Badar pernah bersaksi terhadap salah satu peperangan penting bagi umat Islam di masa awal dahulu. Tempat ini menjadi lokasi dari perang besar pertama sejak umat muslim hijrah dari Mekkah ke Madinah, Perang Badar. Saat itu, dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit, umat muslim sanggup memenangkan pertarungan.

Badar Arab Saudi

Padang Badarnya sendiri  mengelilingi hampir seluruh wilayah Kota Badar. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan pasir halus yang berbukit-bukit. Sebaiknya jangan mengunjungi Padang Badar saat puncak musim dingin. Anginnya sangat kencang dengan suhu sangat rendah.

Padang Badar bisa ditempuh selama berkendara sekitar satu jam dari Kota Madinah.

5. Al Baha

Tempat ini bisa dicapai dengan menyetir mobil sekitar 3-4 jam dari Kota Jeddah. Letaknya di dataran tinggi sehingga suhunya terkenal dingin. Dikelilingi oleh banyak hutan dan perbukitan, suhu tertinggi di Al Baha jarang mencapai 30 derajat celcius. Kontras dengan wilayah lain di Arab Saudi yang sangat terik di musim panas.

Wisata Arab Saudi Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi
Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi

Tempat ini menjadi tempat peristirahatan di musim panas bagi para pemukim di berbagai wilayah Arab Saudi karena suhunya yang sejuk. Sebuah taman, Ragadan Park, di salah satu tepian lembahnya menjadi salah satu destinasi wisata Arab Saudi yang utama di wilayah Al Baha.

Ragadan Park, Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi
Ragadan Park, Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi

Bagaimana? Tertarik untuk ikut menjelajahi 5 wisata Arab Saudi selain pesona dua kota suci Mekkah dan Madinah?

 

pantai di arab saudi

Kehidupan Orang Arab : “Ngabuburit” ala Orang Arab

Kehidupan Orang Arab : Beberapa kali saya melewatkan bulan ramadan di Negeri Gurun. Tepatnya di kota Jeddah, Arab Saudi. Tentu banyak penyesuaian yang perlu dilakukan.

Ah, saat-saat ramadan dan hari raya, rasa kangen untuk kerabat tercinta di Indonesia pastilah sedang sengit-sengitnya. Untung di Jeddah pun banyak teman-teman baru yang tak kalah serunya.

Dulu saya membayangkan seperti apa, ya, orang-orang Arab menjalani bulan penuh berkah ini? Pastilah lebih ekstrim daripada kita di tanah air. Saya pikir mal-mal pasti ditutup penuh saat bulan puasa. Jangan ditanya ada berapa mal di salah satu kota besar negara Saudi ini. Banyak banget dan besar-besar pula.

Kehidupan orang arab fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Di tahun pertama merasakan ramadan di sini, saya heran dengan tetangga depan apartemen saya. Mereka sekeluarga juga dari Indonesia. Sekitar jam sepuluh malam, mereka selalu keluar rumah. Saya tahu, karena selain jarak antar pintu apartemen kami cuma 4-5 meter saja, anaknya ada 3 orang dan mereka cukup bising.

Ini bukan cuma beberapa kali. Namun, hampir tiap hari. Saya tidak tahu jam berapa mereka pulang. Tapi saya bingung, kemana mereka jam segitu, ya? Di Indonesia, saat ramadan tiba, toko-toko malah tutup lebih cepat, bukan? Tidak enak mau bertanya-tanya langsung kepada mereka.

Tapi di Jeddah memang berbeda. Pagi hari nampak bagai kota mati di bulan ramadan. Nyaris tidak ada aktivitas apa-apa. Hanya orang kantoran mungkin yang tampak lalu lalang di jalan raya. Toko-toko kelontong tutup semua. Semua gerai dalam mal tutup. Kecuali tempat-tempat seperti : Hyperpanda, Danube, dan Bin Dawood. Ketiga tempat itu semacam swalayan besar yang umum dikenal di sana.

Semua anak sekolah wajib libur. Dan suasana senyap ini berlangsung hingga waktu ashar tiba. Barulah, setelah ashar, beberapa gerai dalam mal ada yang buka. Tapi tidak semuanya, lho. Tempat makan juga sudah mulai dibuka. Selepas magrib, mereka semua serempak tutup lagi. Sehabis isya, barulah kehidupan dimulai!

Biarpun begitu, aktivitas rutin saya tetap seperti biasa. Tetap tidur paling lambat jam sebelas malam. Tapi suatu hari jadwal belanja bulanan menghampiri. Suami mengajak keluar selepas isya saja. Bukan main suasana jalan raya saat itu. Nyaris macet dimana-mana. Seolah semua orang tumpah ruah di jalan.

Kami parkir seperti biasa dan masuk ke dalam mal. Jeng…jeeeeng…ramainya minta ampun! Saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Luar biasa antrian di kasir Hyperpanda. Itu bukan akhir pekan, lho. Pukul satu pagi, barulah acara belanja itu selesai. Dan suasana dalam mal masih penuh hiruk pikuk. Bisa dibilang semua gerai tidak ada yang tutup, termasuk food courtnya.

Kehidupan orang arab di Corniche Road, Jeddah
Corniche Road, Jeddah

Barulah saya mengerti ke mana tetangga saya menghabiskan waktu malamnya. Konon itu berlangsung hingga waktu subuh tiba. Bila subuh berakhir, semua toko akan tutup seperti biasa, dan pelan-pelan ‘pesta’ pun berakhir.

Inilah yang dimaksud istilah teman saya, “Kalau ramadan di Saudi, siang jadi malam, malam jadi siang.” Pantas saja pagi hingga sore hari di bulan puasa, nyaris tak ada aktivitas di luar rumah. Kalau kata suami saya, “Mereka ngabuburitnya abis isya, nunggu sahur.” Beda dengan kita, ngabuburitnya menjelang jadwal berbuka.

Rasanya aneh juga. Saya tak terbiasa menghabiskan waktu puasa di siang hari dengan berdiam diri di rumah. Main ke rumah teman lain juga nyaris tak mungkin. Sebagian besar teman saya sudah mengikuti ‘pola’ hidup seperti ini jika ramadan tiba. Tapi susah juga mau jalan-jalan karena toko dan pasar tidak ada yang buka hingga malam menjelang nanti.

Sisi positif tinggal dekat dari tanah suci saat bulan puasa menjelang, kita bisa melaksanakan umrah ramadan. Duh, jangan ditanya ramainya oarng-orang mengerumuni Ka’bah dan Masjidil Haram di bulan ramadan. Ingat, ramadan tidak seperti waktu haji. Jika haji ada pembatasan jumlah jemaah. Untuk umrah ramadan…tidak ada batasan sama sekali. Paling ramai sehabis ashar hingga waktu subuh. Subuh berakhir, berangsur-angsur agak longgar biarpun tetap ramai. Tapi tak banyak orang memilih melakukan ritual umrah di siang hari.

Meskipun keadaannya sangat berbeda, saya lama-lama menikmati menghabiskan puasa di kota yang berjarak 70 km dari kota Mekkah ini. Memang, rasa rindu pada keluarga tak kunjung habis. Walau saya bingung kenapa di sini orang-orang kok malah kelayapan tengah malam saat bulan puasa, ya?

Mau tak mau sesekali kami pun harus ikut ngabuburit ala mereka. Kelayapan tengah malam demi anak-anak. Kasihan karena mereka tidak ada hiburan.

Aduh, sering merasa ibadah puasa malah tidak khusyuk. Bagaimana mau menikmati bulan penuh berkah ini?

Tapi akhirnya saya menyadari beberapa hal. Ngabuburitnya boleh beda, tapi ibadah puasanya bukan hak kita, sesama manusia, untuk menilai.

Makna puasa itu kan ibadah kepada Allah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya dimana saja, apa pun suasananya. Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar. Selamat menjalankan ibadah puasa dimana pun Anda berada.

***

Menu udang di Al Baik Mekkah

Memori Ayam Goreng Tepung Al Baik Makkah

Ingat tanah suci, ingat Ka’bah, juga ingat … ayam goreng tepung Al Baik Makkah! :D. Padahal dijualnya bukan di Kota Makkah saja kok :D.

al baik

Al Baik, si ayam goreng tepung, tenar abis di Kota Jeddah. Sebelum saya menginjakkan kaki di kota Jeddah, suami saya sudah sering banget mengelu-elukan si ayam goreng tepung yang satu ini. Padahal biasanya suami kurang suka dengan segala menu-menu an yang berupa ayam. Ini pasti ada apa-apanya nihhhh *memicingkanMata*.

Jadilah baru 2 hari menghirup udara Jeddah, di suatu malam, diajaklah saya ke Serafi Mall, khusus buat icip-icip si Al Baik ini. Pas di food court, melihat antriannya yang panjang, saya cukup optimis saya bakal suka ama Al Baik ini. Tapi setelah nyobain …eng ing eng…. enggak ngerti enaknya dimana, mungkin selera saya yang kurang pasaran :D.

Sumpah boooo, masih lebih enak KFC :p.

Al Baik ini sendiri adalah sejenis fast food seperti KFC / McDonalds itulah. Tidak semua kota di Saudi menyajikan si AL Baik ini. Hanya ada di Makah, Jeddah, Madinah, Yanbu, dan Thaif. Di kota Jeddah ini, saking tenarnya, cabangnya ada sekitar 20 an. Tersebar di berbagai mal dan gerai yang stand alone.

Di Saudi wilayah lain tidak ada. Di ibukota Saudi, Riyadh, juga tidak ada. Pernah ada selentingan kabar, Al Baik dilarang buka cabang di luar pesisir barat Saudi. Katanya sih, ada keluarga kerajaan yang hendak membeli kepemilikan Al Baik tapi ditolak. Jadinya Al Baik hanya boleh jualan di Jeddah dan sekitarnya. Gosip nih yeeeee hihihi.

Al Baik Makkah ayam goreng tepung arab
Salah satu gerai Al Baik di Mekkah, gambar : kabarMakkah.com

Soalnya curiga kan, tenar begitu kok tidak buka cabang di kota-kota lain seperti Dhammam, Riyadh, Al Khobar dan sebagainya?

Menunya seputar ayam, udang, dan ikan.  Ya ayam goreng tepung, ikan goreng tepung, dan udang goreng tepung, plus nugget masing-masing. Menu sampingan juga ada misalnya : jagung-jagungan dan es krim.

Menu ayam, gambar : www.albaik.com al baik makkah
Menu ayam, gambar : www.albaik.com

Apanya yang khas? Rasa memang sedikit beda dibanding sesamanya. Selain saos tomat, makannya juga bisa dicocolin ke saos bawang putih (garlic sauce) yang emang enak.

Saya sendiri memang kurang suka ayam goreng tepung nya, instead, suka banget ama nuggetnya. Udang sih diapain aja pasti enak yah, harganya yg gak pernah enak hahahahaha… Tapi overall, harganya dibawah rata-rata untuk segala jenis menu dibanding fast food lain yang sejenis. Terkuaklah misteri kenapa sang suami doyan banget dengan si AL Baik ini hahahahahaha…. Apa karena ini juga orang-orang pada suka sama AL Baik? Hampir semua temen saya terkesan dengan ayam goreng satu ini.

Menu udang di Al Baik Makkah
Menu udang, gambar : www.albaik.com

FYI, porsi di Saudi ini cukup mengenyangkan.  Jadi misalnya paket menu ayam goreng itu disini yang reguler isinya : 4 potong ayam, kentang goreng, 1 roti, 1 soft drink.Makanya sisi positif nya bisa beli 1 paket aja trus dibawa pulang ke rumah buat dimakan rame-rame. Irit :P.

Seriusan, cukup banget lho itu. Makanya karena ini juga pada doyan makan di Al Baik kali, ya. Porsi jumbo *elusElusPerut*.

Kalau naik haji, Al Baik Makkah juga buka gerai dekat tenda jamaah. Antriannya gila, deh.  Begitu pula kalau bulan Ramadan jelang buka puasa. Ampuuuuuun, bisa kering nunggu suami lagi ngantri. Padahal nunggunya sambil duduk manis dalam mobil hahaha.

Alasan lain kenapa saya lebih suka makan di rumah, karena kalo makan di  mal atau di gerai nya, tidak disediakan nasi! lidah masih asli kampung, makan mesti pake nasi :D.

Walau tidak begitu suka, kalau suami beli, ya ikut makan juga ^_^, Sekarang juga  masih terkenang-kenang walau tidak segitu kepenginnya makan lagi. Atas nama  nostalgia sajalah. Apalagi pas naik haji kemaren, di tenda Mina pas pulang wukuf lagi capek-capek dan laparnya itu, hidangannya ternyata … Al Baik! Yang versi nuggetnya pula, paling favorit buat saya. Hajar, bleh! Hahaha.

Menu nugget di Al Baik Makkah
Menu nugget, gambar : www.albaik.com

 

Kalau mudik dari Jeddah, teman saya banyak yang memborong paket ayam goreng tepung Al Baik Makkah dan dipaketin khusus buat naik dibawa terbang. Iya lho, sudah umum Al Baik ini dijadikan oleh-oleh buat sanak saudara/teman/kerabat di tanah air. Para jemaah dari tanah air kalau sudah ke tanah suci, biasanya juga terhipnotis oleh si ayam goreng satu ini ;).

Gimana, kalian yang sudah pernah ke Mekkah-Madinah, sudah pernah ngerasain ayam goreng Al Baik Makkah nan hits ini belum? Suka ndak? :D.

Anyway rasa masakan lokal dari Menu Ayam khas nusantara yang kaya rempah juga banyak. Salah satunya Ayam Bakar Padang yang ini. Ceki-ceki video detail pembuatan Ayam Bakar Padang secara live nih di vlog resep ini :