Jeddah, Tak Kenal Maka Tak Sayang

(dimuat di Majalah Pesona edisi Oktober/November 2014)

Oleh : Jihan Davincka

            Apa yang terlintas pertama kali di benak saat mendengar kata Jeddah?

Kota terbesar ke-2 di Arab Saudi ini menjadi salah satu tempat saya bermukim saat mengikuti suami yang berpindah tugas ke salah satu Negeri Petro Dolar ini.

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Saya, sih, jujur saja. Saya takut. Sudah sering saya mendengar tentang keterbatasan yang harus dihadapi oleh kaum perempuan di wilayah ini. Yang paling mengganggu adalah aturan bahwa perempuan tidak boleh ke mana-mana tanpa suami. Duh, suami saya akan berada di kantor dari pagi sampai sore?

Belum lagi banyak mendengar cerita kalau kota-kota di negeri padang pasir satu ini agak terbelakang secara infrastruktur dan tata kota. Konon, bangunannya tua-tua dan dominasi padang pasir hingga ke tengah kota. Masa, sih?

Rupa-rupa Tempat Belanja di Jeddah  

            Selama ini, jemaah haji dan umrah hanya familiar dengan pusat perbelanjaan Balad. Nama tempat ini sebenarnya Corniche Commercial Center. Bangunannya sudah tua dan model kios-kiosnya mirip dengan pusat perbelanjaan ITC di Jakarta. Jadi wajar jika tak banyak yang tahu wajah lain pusat perbelanjaan di kota tempat berkumpulnya pendatang di Arab Saudi ini.

Padahal banyak sekali mal-mal besar yang tersebar di berbagai penjuru kota. Sebut saja yang paling luas dan megah, Red Sea Mall. Mal ini letaknya memang bukan di jantung kota. Tetapi agak ke pinggir bagian utara. Tepatnya di King Abdul Aziz Road. Mal megah ini bahkan punya lebih dari 10 pintu masuk.

Area mal di Kota Jeddah biasanya memang hanya terdiri dari 1-3 lantai, tapi arealnya sangat luas dengan lobi tengah yang lebar-lebar. Harus punya stamina yang kuat untuk menjelajahi bangunan mal.

Deretan mal besar di Tahlia Street
Deretan mal besar di Tahlia Street

Pusat mal mewah yang ada di tengah-tengah kota terletak di salah satu sudut Tahlia Street. Di ruas jalan tertentu di Tahlia ini berjajar mal-mal besar  seperti : Le Mall, Nojoud Mall, Jeddah Mall, Al Khayat dan Tahlia Shopping Center. Dilengkapi pula dengan butik-butik dari brand-brand internasional kenamaan, misalnya : Prada, Gucci, Louis Vuitton, Ralph Lauren, Dolce & Gabbana dll. Tak ketinggalan sebuah bangunan berselaput warna emas dengan tulisan “Versace” di atasnya.

Harga barang-barang bermerek level dunia di Jeddah tergolong lebih murah  daripada di tanah air. Karena umumnya pemerintah Arab Saudi tidak mengenakan pajak pada hampir semua jenis barang yang diperjualbelikan di sana. Menurut info dari seorang teman, selisih sebuah tas kualitas bagus dengan model dan brand yang sama itu rata-rata bisa mencapai ratusan ribu hingga satu juta rupiah. Wow!

Pasar-pasar tradisional atau pasar lokal juga bertebaran di Kota Jeddah. Sebut saja “Pasar Sepeda” yang letaknya dekat dengan monumen “Sepeda Nabi Adam” di Sitten Street. “Pasar Sepeda” adalah julukan khas untuk tempat ini dari para pemukim Jeddah yang berasal dari tanah air.

“Pasar Sepeda” tempat yang tepat untuk berburu rupa-rupa jenis karpet. Harga karpet-karpet di sana juga lebih murah. Tak heran banyak teman sesama pemukim Jeddah yang memanfaatkan selisih harga ini untuk berdagang karpet di tanah air.

Pasar tradisional yang tidak kalah menariknya adalah Bab Shareef. Lokasinya cukup dekat dari pusat perbelanjaan Balad yang selama ini sudah dikenal luas di kalangan jemaah asal tanah air. Hanya saja Bab Shareef ini memang kurang gaungnya karena jarang diperkenalkan.

Area Bab Shareef
Area Bab Shareef

Bab Shareef lebih fokus kepada hasil-hasil tekstil. Seperti baju-baju, sajadah dan pashmina/kain jilbab. Harganya cukup menggiurkan jika dibeli ala grosiran. Satu lusin pashmina dengan kualitas bahan buatan Syria bisa diperoleh di harga sekitar 100-300 riyal. 1 riyal = kira-kira 3 ribu rupiah).

Tidak perlu repot-repot menawar barang jika berbelanja di Jeddah. Biasanya pedagang di pasar-pasar lokal ini lebih suka memberikan harga pas. Perlakuan mereka kepada calon pembeli juga terkesan agak ‘dingin’. Tidak terlalu heboh seperti jika berbelanja di tanah air. Tapi jangan sakit hati dulu. Mereka tetap senang dan buru-buru ramah jika kita memborong barang dagangan mereka.

Borong pashmina di Bab Shareef
Borong pashmina di Bab Shareef

Soal bahasa jangan terlalu khawatir. Tidak sedikit dari mereka yang cukup fasih berbahasa Indonesia tingkat dasar. Apalagi  kalau cuma untuk kegiatan jual beli saja. Kalau pun ada kendala komunikasi, cukup tuliskan harga yang kita inginkan di selembar kertas atau bisa meminjam kalkutor di toko yang bersangkutan.

Untuk jalan-jalan ke mal atau ke pasar, tidak perlu menunggu suami pulang kantor atau memaksa suami untuk cuti khusus. Juga tidak harus menanti akhir pekan tiba. Perempuan bebas-bebas saja jalan-jalan di siang hari tanpa suami.

Pasar di Jeddah
Pasar di Jeddah

Tidak sedikit teman saya yang berani menggunakan taksi umum seorang diri. Walau sebagian besar lebih memilih naik taksi beramai-ramai.

Enaknya karena di Jeddah banyak supir taksi asal Indonesia. Nah, kami biasanya tinggal menelepon salah satu dari mereka untuk kegiatan berbelanja atau sekadar jalan-jalan biasa. Mereka biasanya sudah hafal lokasi gedung tinggal kami jadi antar jemput langsung di depan bangunan apartemen. Seperti memiliki supir pribadi.

Hanya saja menggunakan ‘jasa khusus’ ini memerlukan ongkos lebih. Jauh lebih hemat jika menyetop  taksi umum langsung di jalan bagi yang sudah menghafal jalan. Biaya naik taksi di Jeddah paling banter rata-rata 10 riyal saja per trip.

Si Pengantin Laut Merah 

            Kota Jeddah berbatasan langsung dengan Laut Merah. Makanya, julukan Pengantin Laut Merah wajar diberikan kepada kota metropolitan di pesisir barat wilayah Arab Saudi ini.

Ruas jalan yang bersisian dengan tepian laut diberi nama Corniche Road. Corniche Road sebagian besar dimanfaatkan untuk tempat rekreasi untuk penduduk Jeddah.

Tempat yang paling terkenal dan menjadi persinggahan wajib jemaah haji dan umrah adalah Masjid Terapung. Julukan ini diberkan karena masjid ini konon sebagian pondasinya berada di bawah air. Dari pelataran masjid, kita bebas memandang ke arah perairan lepas.

Monumen yang tidak kalah pentingnya adalah Air Mancur King Fahd yang sanggup memancarkan air hingga ketinggian 320 m di atas permukaan Laut Merah. Yang membuatnya menjadi salah satu air mancur tertinggi di dunia.

Pancaran airnya bisa dinikmati saat senja sudah mulai merambat turun. Di pagi hingga sore hari, air mancurnya tidak dioperasikan.

Spot kegemaran para pemukim Jeddah adalah wilayah North Corniche yang baru saja selesai dipugar di pertengahan 2013 lalu. Di sini ada playground yang menjadi kegemaran anak-anak. Ada areal memancing yang dicari-cari oleh bapak-bapak. Jogging track juga disediakan. Secara umum kawasannya cukup bersih. Fasilitas rekreasi di North Corniche ini bisa dinikmati tanpa dipungut bayaran sepeser pun.

Corniche Road Jeddah
Corniche Road Jeddah

Tempat Jalan-jalan di Sekitaran Jeddah

            Kota Mekkah sering menjadi tujuan utama kami saat akhir pekan tiba. Berziarah ke kota Nabi, Madinah, juga menjadi incaran di hari libur.

Tapi kedua kota suci tersebut bukan satu-satunya pesona wisata jikalau berdiam di wilayah Arab Saudi. Tempat wisata di sekitaran Jeddah ada beberapa. Kalau ingin bersantai di tepi pantai di luar kota, tempat favorit saya adalah Pantai Thuwal. Saya juga pernah ikut konvoi bersama teman-teman ke wilayah Bahrah. Sebuah padang pasir yang letaknya diantara Kota Mekkah dan Kota Jeddah.

Butuh sekitar satu jam perjalanan dengan mengendarai mobil untuk mencapai Pantai Thuwal dari Jeddah. Kotanya bernama yang sama yaitu Kota Thuwal.

Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi
Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi

Pantai Thuwal tergolong bersih dengan fasilitas umum yang lumayan lengkap. Ada bangunan khusus untuk berteduh jika ingin menghindari teriknya sinar matahari yang terlalu menyengat di siang hari di musim panas. Disediakan pula beberapa kamar mandi atau toilet umum. Ada petugas kebersihan yang wara wiri membersihkan lantai bangunan dan kamar mandi tadi.

Perairan di kawasan Thuwal ini tergolong berair tenang karena letaknya di wilayah teluk. Jadi, para pengunjung boleh berenang sepuasnya di laut lepas. Khusus untuk perempuan dewasa, kewajiban mengenakan abaya tetap harus dijalankan. Abaya adalah sejenis gamis longgar yang umumnya berwarna hitam dengan bahan khusus sehingga tidak terasa berat dan panas. Makanya tak heran jika mendapati banyak ibu-ibu yang terjun ke air tetap mengenakan abaya.

Sedangkan Padang Bahrah hanya berjarak kurang dari sejam dari Kota Jeddah jika ditempuh dengan mengendarai mobil pribadi. Tempatnya masih alami belum ada sentuhan tambahan dari manusia.

Saat ke Bahrah, kami sengaja ingin menikmati senja di padang pasir. Beberapa keluarga datang beramai-ramai lalu menggelar tikar dan makanan di tengah padang. Anak-anak berkeliaran ke sana kemari menikmati areal yang mungkin di bagi mereka dianggap sebagai kotak pasir raksasa.

Sementara ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan sambil mengobrol. Rasanya tentu berbeda menikmati semangkok bakso hangat dan bertusuk-tusuk sate yang dibakar di tengah-tengah padang pasir.

Jadi, bagaimana? Masih membayangkan Jeddah sebagai kota yang mengekang, tidak modern dan tidak ramah? 😉

***

Kehidupan ibu-ibu di Jeddah

Weekend di Corniche Jeddah : Pantai, Kuliner Nusantara, hingga Piknik di Gurun

Corniche Jeddah, punya banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Seru deh, makanya bisa nulis banyak kisah traveling tentang Corniche Jeddah dan masuk media cetak :D. Buat nambah-nambah uang jajan tentunyaaaa *tepukTangan*.

(dimuat di rubrik Jalan-jalan Republika, tapi lupa edisi yang mana hehehe :D)

Oleh : Jihan Davincka

***

Kota Jeddah kerap dijuluki “Pengantin Laut Merah.” Berbatasan langsung dengan tepian laut Merah membuat kota Jeddah memiliki pesisir pantai yang disebut “Corniche Road.” Pesona dari Corniche Road – Jeddah bukan hanya milik Mesjid Apung, yang menjadi tempat wisata kegemaran para jemaah haji dan umrah asal tanah air.

Corniche Road Jeddah foto : Dani Rosyadi
North Corniche, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Di akhir tahun 2012 lalu, proses pembangunan sebagian wilayah utara dari Corniche Jeddah baru saja dirampungkan. Hasil pemugaran sekitar beberapa kilometer dari wilayah ini menghasilkan sebuah tempat rekreasi baru yang sarat fasilitas modern dengan wajah barunya nan bersih.

“North Corniche Jeddah”, Rekreasi Seru bagi Seluruh Anggota Keluarga

Jadilah di pagi hari di sebuah akhir pekan, saya mengajak suami menyambangi lokasi “North Corniche” tadi. Setelah berbulan-bulan akses ke lokasi tersebut ditutup untuk umum, dinding-dinding penyekatnya pun akhirnya dibuka juga.

Tempat-tempat parkir disediakan cukup banyak. Tersebar di beberapa titik, tidak menyatu di satu pelataran khusus. Dari kejauhan, anak-anak sudah menempelkan kepalanya ke kaca mobil dan meributkan taman bermain yang langsung menarik perhatian mereka. Suami pun akhirnya memarkir mobil persis di pelataran parkir di samping lokasi taman bermain tersebut.

Playground at Corniche Jeddah, pic by Dani Rosyadi
Playground di Corniche  Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Anak-anak langsung berhamburan ke luar begitu mesin mobil dimatikan. Suasana pagi itu belum begitu ramai. Jadi, anak-anak bebas berkeliaran menyerbu berbagai macam arena permainan yang ada di sana.

Saya memutuskan jalan-jalan sendiri menyisir sisi pantai yang lain. Ternyata perubahannya cukup banyak. Sisi-sisi pantai yang berbatasan dengan jalan diberi pagar-pagar. Disiapkan jogging track segala. Beberapa orang sibuk memancing di bibir pantai. Terlihat pula beberapa orang bersepeda lalu lalang di samping jogging track tadi.

Corniche Jeddah Corniche Road in Jeddah, pic by Dani Rosyadi
Corniche, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

“North Corniche Jeddah” juga jauh lebih bersih daripada kondisi sebelum pemugaran. Tempat-tempat sampah disediakan di berbagai penjuru. Tempat ini menjelma menjadi tempat rekreasi multifungsi yang dapat dinikmati optimal oleh seluruh anggota keluarga.

Kuliner Nusantara di Distrik Sharafiyah

Salah satu keluhan warga asal tanah air kala harus merantau ke negeri lain adalah masalah perut. Untuk urusan makanan, pemukim asal Indonesia yang tinggal di Jeddah harus banyak-banyak bersyukur. Makanan cita rasa nusantara tak sulit ditemukan di kota terbesar kedua di Arab Saudi ini. Selain mudah ditemukan, harganya pun tidak terlampau mahal.

Salah satu daerah yang memiliki banyak rumah makan yang menyediakan aneka rupa masakan asal tanah air adalah distrik Sharafiyah. Selain distrik Bagdadiyah, Sharafiyah merupakan distrik favorit pemukim asal tanah air. Di kedua distrik inilah, banyak ditemukan keluarga-keluarga asal Indonesia yang sekadar tinggal atau sekaligus membuka usaha. Makanya jangan heran, distrik sharafiyah merupakan pusatnya toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan khas pemukim dari Indonesia.

Rumah Makan "Putri Sriwijaya", Jeddah (foto : Dani Rosyadi)
Rumah Makan “Putri Sriwijaya”, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Jenis rumah makan Indonesia di Sharafiyah bermacam-macam. Ada yang selevel restoran menengah ke atas, adapula yang berupa warung-warung makan sederhana yang bisa diistilahkan dengan warteg. Untuk kenyamanan anak-anak sebaiknya memilih tempat makan yang cukup bersih dan luas. Misalnya saja tempat yang kami sambangi selepas lelah menghabiskan pagi yang sibuk di “North Corniche” tadi.

Setelah meninggalkan pelataran parkir di Corniche Jeddah, suami mengarahkan mobil menuju sebuah lokasi rumah makan Indonesia di jalan Khalid bin Walid. Jalanan ini merupakan salah satu jalan terbesar dan akses utama menuju distrik Sharafiyah. Restorannya bernama “Putri Sriwijaya.”

Rumah makan Putri Sriwijaya Jeddah
Interior dalam RM Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Menilik namanya, kita akan mengira rumah makan ini khusus menyajikan sajian khas dari Sumatera saja. Jangan khawatir, selain menyediakan berbagai menu andalan asal pulau di bagian barat nusantara itu, “Putri Sriwijaya” mencantumkan masakan khas nusantara lain dalam daftar menunya. Sebut saja, ada soto ayam, sate Madura, nasi goreng, macam-macam sup, gado-gado, berbagai macam menu ikan bakar, ayam panggang dsb.

Sate padang merupakan salah satu pesanan wajib para pengunjung di rumah makan ini. Saya dan suami pun penggemar makanan khas Tanah Minang tersebut.

Selain sate padang, meja kami juga dijejali oleh sate ayam dan soto Madura. Rasanya tidak kalah lezatnya dengan masakan yang sama yang disajikan di tanah air. Maklum saja, bukan hanya kasir dan para pelayannya, tukang masak di restoran ini kebanyakan orang-orang Indonesia asli, lho.

Sate Padang rumah makan Sriwijaya Jeddah foto by Dani Rosyadi
Hidangan di RM Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Selain makanan utama, minuman yang disajikan juga bermacam-macam. Mulai dari bermacam-macam jus hingga teh manis, kadang-kadang juga ada es kelapa muda katanya. Sayang sekali, saat ke sana, kata pelayannya stok minuman segar satu ini sedang habis.

Harga satu porsi makanan utama bervariasi dari kisaran 15 riyal hingga 30 riyal (1 riyal = 2500 rupiah). Porsinya cukup banyak dan berlebih jika dinikmati untuk seorang diri saja. Minumannya sendiri seharga 2-8 riyal per gelas.

Tempatnya bagus dan bersih. Sesuai kebiasaan umum di rumah-rumah makan di Saudi, tiap meja disekat khusus. Orang Arab sangat menjaga privasi. Apalagi hijab antara perempuan dan laki-laki di tempat umum sangat diperhatikan. Jadi, tiap keluarga bisa menikmati santapan masing-masing tanpa dalam ruang tertutup. Kaum wanita bisa melepas tutup muka / cadar atau bahkan membuka abayanya tanpa khawatir ada orang lain yang memperhatikan.

Selain “Putri Sriwijaya”, ada juga restoran lain sejenis dengan menu dan harga yang mirip yaitu rumah makan “Sumatera.” Lokasinya juga di sekitar jalan Khalid bin Walid, tak jauh dari tempat “Putri Sriwijaya” berada.

Untuk sajian khas soto betawi, pepes ikan dan mie bakso, silakan menyambangi “Restoran Betawi.” Lokasinya lagi-lagi berada di seputaran Khalid bin Walid. Setelah melewati perempatan besar pertama di  Khalid bin Walid, gedung restorannya bisa dicapai dengan membelokkan mobil ke arah kiri.

Menikmati Senja dan Makan Malam di Tengah Gurun

Setelah berpuas-puas di pantai dan menyambangi salah satu rumah makan Indonesia di distrik Sharafiyah, kami diajak oleh teman-teman menghabiskan sore dan malam hari ke Bahrah. Wilayah Bahrah memiliki areal padang pasir yang tak jarang dikunjungi oleh pemilik mobil-mobil besar untuk kegiatan off-road.

Kami berangkat menuju Bahrah dengan konvoi. Ada sekitar 9 keluarga yang ikut serta dengan membawa lengkap anggota keluarga masing-masing termasuk anak-anak.

Bahrah Sand Dune Mekkah pic by Dani Rosyadi
Menuju Padang Bahrah (foto : Dani Rosyadi)

Setelah menyusuri jalanan tol, searah jalan menuju Mekkah, dalam tempo sekitar satu jam tibalah iring-iringan mobil kami di gurun pasir Bahrah. Beberapa mobil yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menembus jalanan berpasir di gurun dibiarkan terparkir di sisi jalan yang masih beraspal. Penumpangnya berpindah ke mobil-mobil besar yang sedianya memang akan digunakan oleh bapak-bapak untuk membedah gurun melalui kegiatan off-road.

Susah payah menyetir membawa penumpang penuh dan barang-barang lainnya, sekitar 15 menit kemudian tiba juga rombongan di tengah-tengah gurun. Ibu-ibu bergegas turun, membentangkan tikar dan karpet dan menata bahan makanan. Anak-anak tidak ketinggalan. Tanpa dikomando, mereka kompak berlarian ke sana kemari, naik turun beramai-rami di gundukan-gundukan pasir yang mendominasi wilayah gurun tempat kami  berhenti.

Bahrah Mekkah pic Dani Rosyadi
Anak-anak di Padang Bahrah (foto : Dani ROsyadi)

Sementara para Ibu sibuk mempersiapkan makan malam, bapak-bapak beramai-ramai menjajal mobil yang ada untuk mengasah  keterampilan mengemudi di hamparan padang pasir. Anak-anak kami  biarkan saja berkeliaran semaunya. Beberapa ibu ditugaskan untuk menjaga anak-anak. Tidak ikut berlarian bersama mereka, tapi sekadar menjaga agar anak-anak tetap berada dalam jangkauan pandangan mata kami.

Tak terasa, senja pun hampir habis. Tak lama, sayup-sayup terdengar azan magrib dari kejauhan. Nun jauh di tengah-tengah gurun, ibadah shalat pun tetap menjadi kewajiban mutlak. Bapak-bapak menjalankan shalat berjamaah lebih dahulu.  Disusul oleh para ibu.

Bahrah Sand Mekkah pic Dani Rosyadi
Salat Magrih di Bahrah (foto : Dani Rosyadi)

Saat gelap mulai menjelang, bapak-bapak bersiap-siap membakar sate ayam, salah satu menu makan malam kami saat itu. Aroma bakso pun mulai tercium dari panci besar yang sejak sejam yang lalu disiapkan dan direbus di atas kompor  kecil oleh para ibu-ibu.

Ritual makan malam pun berlangsung dengan penerangan dari cahaya lampu mobil yang sengaja dinyalakan sejak cahaya mentari sudah menghilang sepenuhnya di langit malam. Sambil menyuapi anak-anak, ibu-ibu juga ikut makan sambil mengobrol. Bapak-bapak berkumpul menikmati hidangan malamnya sambil menjaga di samping perapian tempat membakar daging sate tadi.

Kehidupan ibu-ibu di Jeddah
The Mommies ^_^ (foto : Dani Rosyadi)

Setelah kenyang dan puas berbagi cerita, kami segera berbenah sebelum malam bertambah pekat. Kami pun kembali ke tempat dimana sebagian mobil diparkirkan tadi. Para penumpang kembali ke mobil masing-masing. Usai saling berpamitan, masing-masing mobil berangkat sendiri-sendiri menyisir jalan tol menembus malam dengan membawa kenangan indah dalam hati masing-masing.

***

What’s Your Hajj Story (5) – FInale

Bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4

Tanggal 11 Dzulhijjah memang yang terberat buat kami. Tapi alhamdulillah semua rukun haji selesai di tanggal itu. Selepas Sa’i, secara rukun, kami resmi menyandang gelar haji. Insya Allah mabrur. Amin :).

Pas tidur malamnya terasa deh betis dan kaki mulai pegel. Tapi doa saya malam itu, “Ya Allah, beri kekuatan untuk melakukan tawaf
wada besok sore.” Menurut beberapa teman, boleh saja pemukim Jeddah tidak melakukan wada saat itu juga. Pulang dulu saja ke Jeddah, nanti balik lagi untuk melakukan tawaf wada.

Tapi ya, sudah kadung semangat masih membara hehehe. Toh, bis kami pasti mampir di Mekkah dulu. Daripada bengong di bis, sekalian saja ingin ikut tawaf wada.

Tanggal 12 hari terakhir di Mina. Karena mengambil nafar awal, sebelum senja tiba, kami sudah harus meninggalkan Mina.

Paginya saat di kamar mandi, kaget bukan kepalang. I got my period that morning. Saya sibuk menghitung hari. Seharusnya masih 3 hari lagi waktunya. Kok cepat banget, ya. Hampir tidak pernah jadwal mens saya kecepetan, kalau telat sih pernah.

Saya berpikir positif saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas doa semalam. Saya malah tidak diizinkan untuk ikut tawaf wada hari itu.

Tapi mohon diingat, satu-satunya ritual haji yang ‘terlarang’ bagi wanita yang sedang haid hanya tawaf saja. Sisanya tetap boleh. Wukuf boleh, melontar jumrah boleh. Jadi, menurut saya sih, pemakaian obat-obatan tertentu untuk mencegah jadwal mens itu tidak perlu. Tidak baik pula untuk kesehatan, kan?

Kami melontar jumrah terakhir di pagi hari. Jam 7 sudah menuju stasiun. Kereta kosong melompong. Baru deh kepikiran foto-foto hehehe. Kereta juga cepat datangnya.

Tempat lontar jumrah lantai 4 di hari ke-3 itu benar-benar sepi. Kami berjalan dari stasiun menuju Jumarat sambil mencari kerikil-kerikil kecil buat melontar. Karena sepi banget, cukup aman berjalan sambil sesekali jongkok mungutin kerikil.

Pulang ke tenda, mulai deh beres-beres isi tas segala macam. Beberapa teman mulai pamit. Mereka ke Mekkah sendiri lebih awal tanpa menunggu rombongan. Tapi sebagian besar teman satu tenda saya mengambil nafar akhir. Meninggalkan Mina-nya tanggal 13.

Terharu juga saat pamit. Teman-teman menyalami saya satu persatu. “We’re gonna miss you. Take care. Ma’assalamah. Wada’an.”

***

Bis tiba di Kudai jam setengah tiga sore. Supirnya memberi waktu 4 jam saja katanya. Jam setengah 7 sudah harus berangkat ke Jeddah.

Biarpun tidak ikut tawaf, ogah nunggu sendirian dalam bis. Saya ikut ke Masjidil Haram.

Begitu tiba sudah mulai deg-degan. Hampir semua pintu dikepung pria berseragam coklat. Sempat terjadi kehebohan di salah satu pintu. Beberapa orang mendobrak masuk dan mematahkan brikade para petugas. Tapi dengan sigap, para petugas itu kembali berdiri tegak menghalau orang yang ingin masuk.

Rupanya akses ke lantai 1 ditutup rapat. Kami berhasil menemukan pintu masuk yang cuma ada tanggal langsung menuju lantai 2. Suami sudah tidak berminat turun ke lantai 1. Langsung saja menuju tempat tawaf di lantai 2. Sementara saya dan si kecil menunggu di salah satu sudut masjid yang cukup lengang.

Tadinya ingin memanfaatkan waktu dengan kembali membaca ulang buku-buku doa yang masih tersimpan lengkap dalam tas. Apa daya, si kecil baterainya sedang full :D.

Dia berlarian kesana kemari. Ada bocah laki-laki Arab yang berusia sekitar 3 tahun yang tahu-tahu muncul dan mendorongnya hingga terjatuh. Dia bangkit, menangis, dan berlari kembali ke arah saya.

Saya pikir dia kapok. Salah besar. Dia bangkit lagi menuju ke tempat anak kecil tadi. Eh, mau ngapain tuh?

Anak saya berdiri tegak dengan tangan terkepal. Mukanya serius banget. Anak kecil tadi juga maju dan mulai menghentakkan kakinya. Anak saya diam saja. Anak kecil itu mulai mendorong. Saya masih penasaran jadi saya biarkan dulu.

Ternyata, sabar tidak berarti penakut ya, Nak. Dilabrak sedikit, anak saya sempat terdorong mundur, tapi tangannya masih terkepal dan dia tidak berlari menjauh. Tapi mukanya dong lucu banget. Sudah mewek hampir menangis. Hahahahahaha. Lembut bukan berarti tidak punya nyali ya, Nak. Ini baru orang bugis :p.

Ketika terlihat anak kecil tadi sudah akan mendorong lebih keras, saya langsung berdiri, berteriak tegas, “Laa. Hadza walad. No, don’t hit him!”

Akhirnya saya menghabiskan waktu duduk-duduk dengan pandangan penuh mengawasi si kecil yang berlarian kesana kemari. Dibujuk biar tidur enggak mempan juga.

***

Nyaris 4 jam menunggu, tak lama, suami muncul dengan langkah tertatih-tatih. “Aduh, penuhnya, Dek. Untung saja Adek lagi haid. Gak bisa bayangin kalau harus tawaf yang ini sambil gendong anak kecil.”

Ini rupanya hikmah kenapa jadwal menstruasi saya yang biasanya sangat teratur (kalaupun tidak pas, biasanya telat atau mundur) tiba-tiba dimajukan 3 hari :).

All out banget deh Pak Haji kita yang satu ini. Tawaf qudum 1.5 jam, tawaf ifada 2.5 jam, plus tawaf wada nyaris 4 jam, semuanya dibabat habis. Hehehe. Insya Allah mabrur ya, Haji Dani Rosyadi :).

Tadinya saya sudah rela menggendong si kecil balik lagi ke Kudai. Tapi ternyata… suasana di luar masjid sama ‘horor’nya. Super penuh. Suami yang tadinya jalannya agak pincang mendadak gesit lagi. Sambil gendong si kecil dan tangannya yang satu memegangi saya.

Benar-benar padat. Belum lagi yang tidak sabaran berteriak-teriak, “Yalla! Yalla! Imsi, Imsi. Rouh, Rouh!” Pasrah deh didorong sana-sini diantara lautan manusia segitu banyak.

Akhirnya tiba dengan sempoyongan di bus station. Naik bis, yang alhamdulillah belum terlalu padat, menuju Kudai. Di Kudai kita sudah setengah berlari menuju parkiran bis. Soalnya jam telah menunjukkan pukul 8.30 malam. Kami terlambat 2 jam!

Tapi begitu mencapai bis, kami termasuk jemaah pertama yang tiba. Hanya tampak sepasang suami istri dan si supir yang sudah tampak gelisah.

Baru duduk sebentar di kursi bis, suami tiba-tiba berseru, “Ya ampun, makan malamnya Narda gimana?” Rasa letihnya mendadak luntur, suami langsung melesat keluar bis, lari ke seberang jalan mencari baqala.

Tak lama datang membawa kresek, isinya jus kotak, air mineral, roti-roti, dan kue-kue. Masya Allah :'(. You’re the best, Pak Haji :D.

Satu persatu jemaah lain mulai datang. Wajah-wajah kelelahan, langkah terpincang-pincang, saling menyambut dengan ucapan, “Mabruk, mabruk. Hajj Mabruran Insya Allah.”

لاحول و لا قوه الا بالله العلي العظيم

Laa Hawla wa laa Quwwata Illa Billah

( “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”)

Hingga jam 10 malam, bis tak kunjung penuh. Menjelang pukul 11, akhirnya semua penumpang sudah duduk di kursi masing-masing. Jalanan macet luar biasa untuk keluar dari Mekkah. Pukul setengah dua dinihari barulah kami tiba di pelataran parkir hamla Al Mahabbah di Palestine Street, Jeddah.

Untung tempatnya sangat dekat dengan gedung apartemen kami, naik taksi 5 menit, tiba di rumah dengan selamat :).

Semoga menjadi haji yang mabrur. Terima kasih sudah diberi kekuatan untuk melewatkan semua ritual haji ini dengan cukup lancar, ya Allah.

Kalau mendengar cerita Tante suami yang kebetulan juga berhaji tahun ini, kami jauh lebih beruntung. Haji reguler dari Indonesia jalan kaki selama prosesi lontar jumrah, pulang pergi. Kami diberi kemudahan dengan fasilitas kereta.

Kata Tante juga, tenda di Mina cuma tidur diatas karpet. Isinya cukup padat sehingga agak sulit jika ingin meluruskan kaki saat tidur :(. Sementara kami tidur di atas tempat tidur yang sudah dilengkapi selimut + kasur. Kami juga membayar biaya yang jauh lebih murah (dengan fasilitas luar biasa) dengan durasi waktu yang jauh lebih pendek.

Mungkin ada seribu alasan untuk mengutuk Jeddah sebagai kota yang terasa sangat mengekang. Tapi ada sejuta alasan lain untuk melewati hari-hari di sini dengan senyum menyenangkan ;).

***

Jika Tuhan menghendaki dan memberi restu, (mungkin) tahun 2012 ini adalah tahun terakhir kami di Jeddah.Mudah-mudahan kali ini Allah berkenan :).

Setelah di bulan Juni kemarin, proses visa kami menuju salah satu kota di Negara Jantung Dunia terhambat. Quota visa imigran dinyatakan habis 2 minggu setelah kami mengirimkan dokumen untuk pengurusan visa.

Ini pun hikmah Allah untuk mengizinkan kami berhaji dulu di tahun ini. Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan kota indah sarat kenangan yang berjarak hanya 40 menit dari Rumah Allah.

Terima kasih atas kesempatannya ya Allah. Izinkan kami untuk menikmati belahan bumiMu yang lain :). Dan tentu jika kau perkenankan kami ke sana, jangan tutup pintuMu agar kami bisa mengunjungi rumahMu di lain waktu.

Amin.

(Tamat)

What’s Your Hajj Story (4), Biaya Naik Haji

Sekadar info awal, biaya naik haji untuk perjalanan dari Jeddah tahun 2012 itu sekitar 4500 riyal per orang. Kami berangkat dari Jeddah karena memang saat itu sedang bermukim di sana.

Bagian 1, bagian 2, bagian 3

Jam setengah tujuh meninggalkan tenda Arafah. Tiba di tenda Mina sekitar jam 10 malam. Langsung memandikan si kecil, mengganti bajunya, dan membiarkannya tidur nyaman di atas kasur. Pahlawan kecilnya Mama :).

Teman sebelah menawarkan untuk menjaga si kecil dan mempersilakan saya mandi. Senangnya. Untung juga pas kamar mandi sedang sepi. Mungkin banyak orang masih ‘berjuang’ di jalan dalam perjalanan pulang dari Arafah.

Mandi sekedarnya lalu langsung pulas di sebelah si kecil.

***

Keesokan paginya, subuh-subuh sudah heboh. Orang-orang saling berjabat tangan dan berpelukan. Sempat bengong sebentar. Hingga akhirnya Eyma, salah satu penghuni tenda yang sama, menghampiri saya, “Happy Ied, Jihan.”

Ya ampun, 10 Dzuhijjah, ya. Hari raya qurban. Yayyyy. Kemeriahannya berlangsung hingga ke kamar mandi. Tiap orang berpelukan dan mengucapkan selamat. Saya ikut-ikutan deh hehehehe. Ikut meluk-meluk dan jabat tangan dengan siapa saja yang melintas :D.

Aduh, senangnya. Rasa keki karena peristiwa semalam, terkurung antrian selama 3 jam menuju kereta, menguap tak berbekas di pagi itu ^_^.

Siapa bilang merayakan hari raya di negeri orang tidak seru? Ingat ya rumusnya “Bunda of Arabia” :D. Happiness is not given…it is made ;).

***

Sebagian besar penghuni tenda saya melontar jumrah hari pertama itu di waktu fajar. Jam 6 pagi mereka sudah menenteng anak-masing-masing (dari 16 orang, 9 perempuan di tenda saya membawa balita), bersama para suami, bergegas menuju stasiun kereta.

Biaya naik haji
Bareng Ibu Hajjah Indira 😀

Oiya, melontar jumrah ini pun sejak hari pertama tidak mendapat bimbingan apa pun dari hamla. Berangkat sendiri-sendiri saja. Toh, stasiun keretanya (Mina 1) dekat sekali dari tenda ;).

“Kita juga berangkat, yuk.” Kata saya pada suami.

“Kasihan si kecil. Belum bangun, kan? Abis dia sarapan saja, ya.”

Sebenarnya sudah gelisah, ya. Penginnya pagi. Apalagi ketika rombongan melontar jumrah itu sudah kembali ke tenda jam 8! Wah, sementara kami belum beranjak sedkit pun :(.

Akhirnya setelah anak kami bangun dan sarapan, jam setengah 9 kami bertiga berjalan menuju stasiun.

Ternyata…kereta menuju Jumarat-Place dihentikan sebentar. Katanya 4 jam lagi baru ‘on’. Tapi dari arah sebaliknya, orang-orang dari Jumarat masih bebas lalu lalang. Masa mau balik ke tenda?

Jadinya di hari pertama itu, kami jalan kaki dari tenda Mina menuju Jumarat. Jaraknya sekitar 4 km. Rasa kesal sudah mulai menghantui. Kenapa gak berangkat lebih pagi, sih? Dari awal saya sudah uring-uringan.

Benar saja. Kesabaran runtuh setelah hampir sejam menempuh perjalanan yang cenderung mendaki di bawah panggangan matahari. Aduh, malu ih kalau ingat *blushing*. Lupa sama semuanya. Pundung tidak karuan saat itu.

Padahal suami dan anak saya biasa-biasa saja. Seperti biasa, anak kami malah sering ketiduran. Dasar mamak-mamak pemarah :P. Waktu mogok jalan dan duduk di pinggiran, banyak lho perempuan paruh baya yang melintas. Berjalan penuh semangat sambil tak putus-putusnya bertalbiyah.

Tapi emosi masih membakar, saya malah meracau tidak jelas. Marah-marah ke suami. Suami saya diam saja :'(. Jadi, saya nyap-nyap sendiri kayak orang gila :P.

Akhirnya setelah 1.5 jam berjalan kaki, tibalah kami di tempat melontar jumrah. Kami memilih lantai 4. Cukup lengang. Tidak ada istilah berdesak-desakan sama sekali. Rasa pundung berangsur menghilang.

Apalagi pas pulangnya naik kereta. Hehehe. Jarak stasiun Jumarat (Mina 3) dekat banget. Cuma 10 menit berjalan kaki santai.

Tiba di tenda Mina, tukang cukur sudah ada dimana-mana. Lantunan talbiyah mulai tenggelam berganti dengan gema takbir, “Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar, walillaahilham…”

Suami langsung mencukur rambut. Bayar 10 riyal, dalam tempo semenit langsung plontos. Usai sudah masa berihram :). Pulang ke tenda, suami mandi, melepas kostum ihram dengan baju biasa.

Karena kelelahan, diputuskan tawaf ifada besok saja.

***

Malamnya agak santai. Saya bermain-main dengan anak-anak kecil dalam tenda saya. Aneh juga, ya. Terus terang saya memang bukan pencinta anak kecil. Dengan anak sendiri saja maunya hehehe. Di kalangan teman-teman Indonesia disini, sudah terkenal deh, Tante Jihan yang galak ala ‘ibu tiri’ ahahahaha.

Si bayi populer, Sultan, paling emoh digendong ama saya. Padahal orang tuanya, Raiz dan Nira, adalah salah satu teman-teman paling akrab saya dan suami :P.

Nah, si anak-anak kecil Arab itu malah gelendotan melulu ke saya. Tangan kiri dipeluk si kecil Joseph, tangan kanan menggendong si kriwil Hamzah. Kata ibu-ibu mereka, pengasuh mereka itu orang Filipina. Wajarlah mereka demen dengan tampang Asia ;).

Jadi, 2 malam terakhir di Mina itu, si nenek sihir menjelma menjadi nanny :P. Hehehe.

***

Belajar dari pengalaman tanggal 10 kemarinnya, tanggal 11 kami bergerak lebih pagi. Jam 6 sudah siap dan sudah sarapan. anak yang masih tidur digotong saja.

Kami berjalan ke arah Musdalifah mencari angkutan menuju Mekkah. Cuma 5 menit menunggu di tepi jalan, datang deh sebuah mobil omprengan tujuan Mekkah. Ongkosnya cuma 30 riyal per orang.

Kota Mekkah masih sunyi sekali di pagi itu. Turunnya dekat masjidil Haram. Kami mampir sebentar membeli sarapan buat si kecil+ dua gelas teh hangat.

Masuk ke masjidil haram pun masih relatif sepi. Tapi tawaf di lantai 1 sudah sangat sesak. Tapi kami tetap nekad menembus masuk.

Sekitar 30 detik terkurung di himpitan orang-orang dan tidak bergerak maju sedikit pun, suami langsung memberi instruksi tegas, “Keluar! Keluar! Kita tawaf di lantai 2 saja.”

Suami langsung sadar kalau terpanggang sinar matahari, saya bisa ‘kumat’, ngomel gak karuan ahahahahahaha :P.

Keputusan yang sangat tepat tawaf di lantai 2. Kami pikir, kepadatan di tanggal 11 harusnya sudah berkurang. Ternyata padat juga.

Lantai 2 adem banget. Full AC dan kipas angin dimana-mana. Sejuknya. Biarpun rada keder saat mengedarkan pandangan dan menyadari betapa panjangnya jarak tempuh di lantai 2 ini *ngelapKeringat*.

3 putaran pertama relatif nyaman. Memasuki putaran ke-4, bottle neck nya mulai memanjang. Tapi masih lebih banyak rute yang ‘lengang’. Mulai deh senggol-senggolan, dorong-dorongan, dan saling menghardik :'(.

Akhirnya tawaf ifada tuntas dalam tempo 2.5 jam non stop. Boro-boro deh mau mampir istirahat. Usai putaran ke-7, sakit-sakit badan berusaha menembus keluar dari jalur tawaf. Di lantai 2, jalur tawaf sudah bercampur dengan rombongan sa’i.

Salut juga sama suami. Membawa beban hampir 11 kilo selama 7 putaran penuh, 2.5 jam tanpa henti, tidak mengurangi rasa khusyuk membaca doa. Proud of you, Haji Dani hehehehe.

Selesai tawaf masih harus segera lanjut sa’i. Terlebih dahulu salat 2 rakaat, pokoknya begitu ketemu tempat kosong, langsung salat saja. Suami ngantri ngambilin air zam-zam sebentar. Antriannya sesak, tapi gesit juga suami hehehe. 5 menit sudah datang membawa 2 botol air dan 2 gelas air zam-zam.

Duduk sebentar di wilayah Safa, sedikit mengatur nafas. Suami memperkirakan kalau Sa’i waktunya harusnya mirip-mirip dengan periode Sa’i normal karena jarak tempuhnya sama dan lurus-lurus saja.

Gak berlama-lama duduk, karena takut keburu makin sesak, kami langsung bergegas melaksanakan Sa’i. Benar kata suami, cuma butuh 1 jam saja. Normalnya sih, saat bukan musim haji dan ramadan, kami sa’i sekitar 40 menit.

Tapi keluar dari masjidil haram pun mesti mengerahkan kekuatan penuh. Sempat melihat tempat sa’i di lantai 1. Subhanallah, penuhnya luar biasa! Seperti tidak bergerak sama sekali.

Kaki sudah kebas benar rasanya. Tapi ritual haji di hari itu belum berakhir. Masih harus melontar jumrah. Mengingat si kecil, kami menuju supermarket “Bin Dawood” dulu. Ramainya susasana di luar haram.

Di Bin Dawood membeli biskuit, wafer, susu, dsb. Untungnya anak saya yang nomor 2 ini, selain sabar, apa aja mudah dilahap. Roti-rotian Arab saja dia doyan. Nasi ok, biskuit boleh, wafer juga demen :P.

Lalu menuju Kudai dengan bis Saptco. Tiba di Kudai, berusaha mencari taksi menuju stasiun Musdalifah 3. Tarif taksinya 100 riyal. Ya sudahlah.

Gak antri sama sekali di stasiun dan kereta pun segera datang. Alhamdulillah. Setelah 25 menit, tiba di stasiun Mina 3 (Jumarat). Lagi-lagi kami ke lantai 4. Gak ramai-ramai banget, lho. Lancar saja tidak pakai antri.

Tempat jumarat memang sudah jauh berbeda sekarang ini. Selain sudah dibuat 4 lantai, tugunya pun diperlebar semua.

Setelah melontar jumrah, langsung balik ke stasiun kereta lagi. Tiba di tenda Mina, tidak ada istilah santai-santai. Buru-buru memandikan si kecil, ganti baju, dan titip ke suami sebentar. Biarpun badan sudah rontok, tetap harus makan dulu sebelum tidur.

Orang Arab jadwal makan malamnya jam 9 malam. Hadeuhhh, dah gak kuat nungguin. Jadinya habis mandi, makan indomie gelas + satu butir telur rebus sisa sarapan. Lumayan lah.

Setelah itu tepar di atas kasur berdua anak saya. Sekitar jam setengah sepuluh malam, kaki saya ditepuk-tepuk. Makan malam sudah datang. Naimee, teman satu tenda, menaruh satu kotak Al Baik di dekat kaki saya. Tadinya sih mata sudah ingin terpejam lagi, tapi aroma nugget ayam bikin perut yang memang tidak diisi dengan semestinya di hari itu langsung memberontak.

Dengan mata setengah mengantuk, setengah porsi Al Baik itu ludes dalam tempo 10 menit saja. Hehehehehe. Laper ni yeeeee :P.

***

(bersambung ke bagian terakhir di sini :D)

Menuju Padang Arafah Arab Saudi

What’s Your Hajj Story (3), Pergi Haji dari Jeddah

Kisah pergi haji kami dimulai dari tulisan ini –> Bagian 1, bagian 2

***

Tenda di Arafah bentuknya juga compound. Hamla kami khusus menyewa kumpulan tenda secara terpisah. Kamar mandinya juga khusus. Gak kalah nyamannya dengan tenda Mina *laaaaffff*.

Tendanya tapi cuma beralas karpet tebal. Mungkin karena enggak bakal menginap. Tapi tiap jemaah dibagi-bagikan kantong tidur. Lumayan, dapat gratisan lagi hehehe. 

Untuk perempuan, ada 5 tenda besar. Satu tenda isinya sekitar 70 – 80 orang. Tendanya lapang dengan atap yang tinggi. Pendingin ruangan disediakan di setiap penjuru tenda. Plus satu kipas angin besar.

Tapi memang nih, orang-orang Arab, rasa sabarnya memang pas-pasan hehehehe. Sejam pertama tiba di Arafah, diisi dengan drama perebutan AC. Iya, masing-masing berkeras mengontrol arah angin dari AC besar tersebut. Duh, ributnya mereka saling berdebat :(.

Sembari ibu-ibunya sibuk adu mulut, anak-anak kecilnya meraung-raung. Mungkin kegerahan. Padahal kok ya buat saya, rasanya adem-adem aja, ya hehehe. Untungnya anak saya lagi-lagi gak ikut-ikutan rewel. Dia asyik saja bermain-main dengan kantong tidur.

Akhirnya ‘kerusuhan’ berakhir saat azan dzuhur. Setelah salat berjamaah, makanan datang. Nasi kabsah yang disajikan dalam bentuk nampan. Sempat bingung juga. Secara ‘beda warna’ sendiri. Satu tenda disapu bersih orang Arab. Teman-teman satu tenda di Mina duduknya sudah tersebar-sebar pula.

Tapi akhirnya dengan membawa nampan kosong, memberanikan diri mendekati 3 orang ibu-ibu yang asyik makan senampan, “Can I have a little?”

Mereka menyambut dengan ramah nampan saya. Diisinya malah banyak banget sampai saya mesti berkeras, “Khalas, khalas. It’s too much.”

Salah seorang dari mereka memandangi saya sambil senyum-senyum, “You should eat more. Look at you. You’re too skinny.” La ya jangan disamain atuh bodi Asia ama bodi Arab hihihi *benerinKorset*.

Sembari menikmati segambreng hidangan dalam nampan seorang sendiri, saya didekati seorang Ibu yang datang dengan menggendong balita. Dia berbahasa Arab. Saya sedikit-sedikit menangkap maksudnya. Dia minta nasi sedikit.

Saya menyodorkan nampan saya, “Sorry, mafi Arabic. But you can sit here, eat with me.” Alhamdulillah, orang Mesir ternyata. Dan fasih berbahasa Inggris. Akhirnya saya punya teman makan (sekaligus temen ngerumpi sembari ngunyah) :D.

Sehabis makan, sebagian besar ibu-ibu di tenda saya malah ketiduran. Anak-anak ramai berlari-lari. Si kecil lagi ganti shift ke bapaknya hehehe. Dibawa ke tenda laki-laki. Kata suami, dia sudah pules ;).

Biarpun suasana tenda agak gaduh dengan suara ibu-ibu lain yang malah asyik mengobrol, saya berusaha konsentrasi berdoa. Mengeluarkan buku-buku doa yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Sembari sesekali mengecek BB, intip-intip siapa saja yang menitip doa via BBM dan FB. Hehehe.

Alhamdulillah, kesendirian tidak menghalangi niat beribadah. Malah ketika terbenam seorang diri dalam tangis, seseorang menepuk bahu saya perlahan, menyodorkan tisu dan air mineral. Masya Allah :). Terima kasih banyak, Saudariku <3. 

Setelah usai memanjatkan doa, saya saling bertukar buku dengan suami. Kami janjian di pintu batas tenda perempuan dan laki-laki. Sekaligus ganti shift jagain si kecil hehehe.

Tiba kembali di tenda perempuan, anak saya lagi-lagi tertidur pulas. Nampaknya tahu kalau mamanya butuh konsentrasi untuk memanfaatkan sedikit waktu memohon belas kasihan melalui munajat panjang kepadaNya. Di tempat dan waktu yang konon salah satu yang paling mustajab itu.

Menjelang senja, tidak sedikit jemaah keluar dari tenda. Kami duduk bersama-sama memandangi senja yang mulai merambat turun. Kami berharap waktu bisa berhenti berputar saat itu dan matahari jangan sampai terbenam :'(.

Akhirnya waktu magrib tiba. Kami berkemas-kemas. Selanjutnya berjalan bersama-sama lagi, berbaris di jalanan. Antri menuju stasiun untuk kembali ke Mina, dengan menggunakan fasilitas kereta.

Sangat sedih melihat jalanan yang mulai kosong oleh para haji koboi tapi meninggalkan tumpukan sampah dimana-mana. Bau pesing yang menyengat pula :'(. Saya tahu, ibadah kepada Allah itu nomor satu, tapi bukankah kebersihan pun sebagian dari Iman? :(.

Tahu tidak, dari buku sejarah “Perang Suci” karya Karen Armstrong dituliskan bahwa orang-orang Eropa Barat belajar mandi dari orang-orang muslim di jazirah Arab. Mereka belajar kebersihan justru dari kaum muslimin. But look at us now :(. And look at them now.

Pergi Haji 2012 dari Jeddah tahun 2012
Bareng keluarga Bang Man dan istri di COrniche Road (2012)

 

***

Jika paginya suasana antri menuju stasiun tertib dan syahdu oleh lantuntan talbiyah, maka suasana pulang berubah 180 derajat! Kami mengantri hingga 3 jam!!!

Dalam 3 jam itu, berdesakan dan berhimpitan, diselingi suara orang-orang yang berteriak mengamuk. Anak-anak kecil bergantian meraung. Keringat sudah mengucur dari atas hingga ke alas kaki. Entah berapa kali kena sikut.

Saya, yang stok sabarnya sering negatif ini :P, mendadak ‘kalem’. Salah satu penyebabnya ya karena anak kami. Anak kecil umur 1.5 tahun ini tidak sedikit pun rewel. Tak ada tangis sebutir pun. Mukanya lempeng aja. Sesekali tertidur malah.

Padahal badannya sudah basah penuh keringat. Anakku sayang :'(. Penyemangat Mama selama hajian kemarin.

Suami juga anteng banget. Tidak pernah tersulut sedikit pun. Tidak sekali pun ikut berteriak-teriak atau memasang wajah emosi. Padahal lumayan kan gendong si kecil non stop 3 jam! Sambil sikut-sikutan dan sesekali tangannya memeluk saya. Maklum bininya mini begini hehehehe.

Dari tawaf qudum selama 1.5 jam, hingga perjalanan jalan kaki lainnya, saya tak pernah menggendong si kecil sedetik pun.

Untuk suami dan anak luar biasa ini :

Bismillahirrahmanirrahim… fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban..

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

***

(bersambung ke sini)