Negeri di Awan

Angin topan menghambat mobil ambulans yang ditumpangi Meredith dan Alex, yang sedang membawa seorang bayi yang usianya kurang dari seminggu. Bayi tersebut ditransfer dari rumah sakit yang kekurangan peralatan karena sang bayi butuh perawatan khusus.

Ambulansnya mendadak berhenti di tengah hujan deras dan mereka berdua diminta oleh Pak Supir untuk turun dari mobil. Meredith ngotot mempertahankan adek bayi tetap dalam ambulans karena ribet membawa keluar peralatan yang menempel di sekujur tubuh si adek bayi. Alex sebaliknya. Jadi berdebatlah mereka.

Gambar : Meredith Grey dan Alex Karev (theodysseyonline.com)

Hingga akhirnya sebuah benturan membuat keduanya pingsan. Saat tersadar, mereka pun buru-buru mengangkut si adek bayi keluar dari mobil sebisanya.

Sementara kedua dokter ini berusaha keras menyelamatkan nyawa si adek bayi, alangkah horornya mereka mendapati pemandangan di luar ambulans. Ternyata, tiga orang dewasa tergeletak berpencar di atas aspal. Sudah tidak bernyawa. Termasuk si supir ambulans.

Yoih, saya masih rajin nonton re-run nya serial “Grey’s Anatomy” di salah satu siaran lokal di sini . Gabungan antara mimpi terpendam pengin jadi dokter ahli bedah dan penggemar drama level kronis (hahaha, ini mah alasan nomor satunya .

Di salah satu serial Bones (serial favorit lainnya ), ada satu cerita yang enggak kalah galaunya.

Seperti biasa, adegan awal di setiap episode adalah penemuan tengkorak manusia. Kali ini, identitasnya adalah seorang remaja pria, Dylan, yang berasal dari keluarga baik-baik dengan kemampuan akademis yang oke.

Brennan dan Booth dari serial Bones

Dylan punya kekasih, Kelly, seorang anak yatim piatu yang berada dalam pengasuhan orang tua angkat bersama adiknya, Alex. Kelly dan Alex juga sering bergaul dengan anak-anak jalanan lainnya di sebuah rumah penampungan khusus.

Dylan sudah berhasil menyemangati Kelly dan Alex untuk semangat di sekolah dan berusaha meraih nilai-nilai bagus untuk bersaing mendapatkan beasiswa di pendidikan tinggi. Kalian tahu tidak sih ongkos kuliah di US sini? *pingsanDulu*.

Dua tokoh tambahan dalam episode ini , suami istri Kevin dan Fran. Pekerja sosial yang sering membagi-bagikan makanan dan kebutuhan lain buat para anak jalanan.

Kelly ngotot mengaku kalau dia membunuh Dylan. Belakangan Kevin juga terbunuh. Kelly juga mengaku membunuh Kevin.

Ternyata, Kevin ditembak oleh istrinya sendiri, Fran. Selama ini Kevin sudah sering mencabuli anak-anak perempuan dengan menjanjikan sebungkus roti isi kepada mereka. Fran berpikir bisa membuat Kevin sadar, tapi ternyata masih kumat juga.

Fran tadinya memanfaatkan Kevin untuk mendekati para anak jalanan dan menolong mereka. Sekaligus berharap bisa menyadarkan Kevin. Tapi gagal.

Kasusnya Dylan lebih sedih. Tadinya, Kelly pikir ingin pergi dari rumah orang tua asuh agar adiknya, Alex, bisa punya kesempatan mendapat hidup lebih baik. Karena ekonomi keluarga angkat mereka juga pas-pasan. Lebih bagus kalau mengasuh satu anak saja.

Kelly mau kabur bersama Dylan. Terus tahu-tahu berantem sama Dylan. Dylan tidak sengaja bersikap kasar kepada Kelly. Ternyata ada Alex di tempat itu. Melihat kakaknya dikasari, Alex refleks mendorong Dylan. Karena itulah Dylan menabrak kaca dan jatuh dari lantai atas hingga akhirnya meninggal.

Untuk melindungi Alex lah, Kelly terpaksa mengaku. Karena Fran juga selama ini selalu menjadi tempat bersandar bagi anak-anak jalanan di wilayah itu, makanya Kelly juga rela berbohong untuk Fran.

Gambar : pixabay.com

Kalau tidak salah Kevin juga error karena masa kecilnya yang kurang menyenangkan sebagai seorang foster child. Membuat kita pusing untuk memikirkan siapakah gerangan penjahatnya, di mana letak kesalahannya?

Enggak kebayang di Indonesia dan kebanyakan negara-negara berkembang lainnya pasti lebih seru lagi kisah-kisah seperti ini ya .

Negara dengan penduduk segabruk-gabruk kadang mentok dalam urusan kesejahteraan sosial. Bahkan untuk negara semaju dan secetar Amerika Serikat.

Konon, salah satu alasan rakyat US ogah-ogahan milih Clinton (walau lawannya Trump sekali pun ) karena isu kenaikan pajak. Kalau tidak salah, Partai Demokrat memang ingin melanjutkan bahkan meningkatkan kebijakan “Obama Care”. CMIIW ya.

Enggak usah jauh-jauh ke Amerika Serikat, kita saja di Indonesia, kalau Ibu Sri Mulyani senggol pajak dikit, beeeuuuuhhh, timeline dunia maya bisa langsung terbakar, yes? Hahahaha.

Di Eropa hal ini lebih mudah diterapkan. Penduduknya cimik-cimik, Cuy hihihi. Jumlahnya berapa? Mereka pun lebih homogen. Makanya sekarang lagi gamang diserbu pengungsi “luar”. Lah Amerika Serikat? Antar negara bagian saja masih banyak kesenjangan ekonomi jadi yah, kompleks yaaaaa.

Untung gue bukan presiden ya Allah *sujudSyukur*. Enggak harus mengambil keputusan.

Tapi kemudian saya ingat kasus Primark tempo hari. Primark adalah waralaba besar asal UK/Ireland yang menjual pakaian segala macam dan beberapa peralatan rumah tangga dengan harga sangat murah.

Pernah ada kejadian, katanya di salah satu baju yang dijual terselip selembar kertas, ” “Forced to work exhausting hours”.

Entahlah itu beneran apa tidak. Tapi serius, saya sendiri memang sering mempertanyakan bagaimana cara Primark menjual barang-barang yang kualitasnya lumayan lho dengan harga semurah itu.

Bayangin harganya kalau diskon. Bahannya tidak ecek-ecek lho. Ketahuan nih bajunya Primark semua hahaha.

Jangan ketawa, Neng!!

Terus bagaimana dengan isu tenaga kerja dari negara-negara dunia ketiga yang dibayar dengan upah sangat murah untuk menyokong bisnis di negara-negara maju?

Saya sendiri belanjanya di Primark mulu waktu masih di Ireland *tutupMuka*. Alamaaak, kalau diskon, kemeja-kemeja perempuan dewasanya bisa dihargai 5 euro. Bahkan ada yang 3 euro, mau PO gak Sis? #ehGimana hahahaha .

Kesannya tidak adil, ya. Tapi kita lupa, kita adalah bagian dari ketidakadilan ini .

Gambar : independent.co.uk

Ya tapi gimana dong, ternyata industri-industri begini juga menolong roda perekonomian di negara-negara berkembang sarat penduduk. Di Cina misalnya. Sekarang lihatlah, Negeri Seribu Rakit ini sudah menjadi ekonomi nomor 2 di dunia.

Sebenarnya kita ini di banyak kesempatan ingin semuanya baik-baik saja, ya. Kita senang, mereka senang. Win-win solution gitulah. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Seperti Meredith dan Alex yang mati-matian mikirin gimana biar si anak bayi selamat sampai rumah sakit tanpa kehilangan nyawa, ealah, malah 3 orang dewasa meninggal tanpa pertolongan mereka sama sekali saat mereka sibuk berjibaku tentang si adek bayi.

Seperti Dylan, Kelly, Alex, Fran, semua punya niat baik masing-masing. Tapi ya begitulah, alih-alih semuanya bahagia malah twisted ending habis-habisan .

Saya pikir pun apa tidak bisa kita beli barang-barang murah tapi tidak “mengorbankan” tenaga orang lain? Bisa, pakai robot! Tapi kalau sudah ada robot, lantas manusia mau disuruh kerja apaan? Mumet lagi kaaaaan huhuhu.

Kadang juga untuk kasus penggusuran. Saya pikir, apa tidak bisa semua penduduk di bantaran kali, mbok ya dikasih saja rumah satu-satu gratis deket-deket situ juga. Tapi kan penduduk miskin bukan hanya mereka yang tinggal di daerah yang masih abu-abu ilegal apa tidak, ya. Bagaimana dengan kalangan miskin yang tinggal di wilayah LEGAL? Is it fair for them?

Entahlah. Kalau pun pemerintah misalnya mau minta urunan ya belum tentu pada nyumbang. Kalau dipaksa bayar pakai kenaikan pajak, ya nanti bertengkar lagi dong kita di Fesbuk, yes? Hahaha.

Di manakah gerangan kebahagiaan sempurna buat semua orang itu berada?

Samar-samar ingat sama lirik lagunya Katon yang sempat populer di tahun 90 an :

“Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang Negeri di Awan
Di mana kedamaian menjadi istananya…”

Terus jadi sadar, ya iyalah, kita semua masih menapak di atas bumi. Sebuah dunia yang memang tidak sempurna. Setidaknya sampai tulisan ini kalian baca .

Di mana di dunia ini, kaum manusia yang punya kendali terbesar terhadap makhluk hidup lainnya. Manusia, tempatnya salah dan lupa, seperti kata salah satu ayat dalam kitab suci agama saya.

Kita semua, sebagai manusia, adalah bagian dari ketidaksempurnaan itu. Dari ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan inilah terjalin hubungan-hubungan di dunia.

Jangan dibuat rumit karenanya. Akan muncul kesalahan dan penderitaan dari koneksi apa pun yang melibatkan manusia. Termasuk oleh saya kepada teman-teman semua, walau mungkin hanya saling menyapa di dunia maya. Maafkan, ya, teman-teman .

Tidak ada manusia yang sempurna. None of us. So stop acting like one .

Marhaban ya Ramadan.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman muslim .

Gambar : geekclubbooks.com

Pengkajian Ulang UU Penistaan Agama, Harus Menunggu Berapa Korban Lagi?

Api mengamuk di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) “Bahtera Kasih”. Di dalamnya ada Pendeta Ishak Kristian, isterinya Ribka Lena, dan anaknya Elisabeth Kristian. Satu keponakan Nova Samuel dan seorang karyawan magang, Rita.

Mereka tidak berani keluar dari gereja karena massa berkumpul dan mengamuk di luar. Massa inilah yang mengobarkan api di gereja. Bapak pendeta dan seisi penghuni gereja ikut terbakar di dalam.

Tidak hanya GPPS, sebelumnya gedung Pengadilan Negeri/PN di Situbondo sudah terlebih dahulu dihajar massa. Habis dilalap api. Ketua PN Situbondo dilempar batu dan mengenai keningnya. Beliau berusaha lari lewat pintu belakang.

Apa yang terjadi?

Massa mengamuk setelah sidang tuntutan jaksa kepada terdakwa penistaan agama Islam oleh pelaku yang juga beragama Islam, Saleh. Jaksa sudah memberikan tuntutan maksimal 5 tahun tapi massa menuntut hukuman mati.

Saat massa mengamuk dan mulai menyerang para pegawai PN dan melempar batu, bahkan terdakwa Saleh dikejar dan berhasil dihajar dalam tahanan setelah massa berhasil merangsek masuk.

Saleh dibawa pergi oleh petugas. Entah bagaimana awalnya, di tengah orang-orang yang sedang terbakar, isu pun menyulut bahwa Saleh disembunyikan di dalam gereja Bukit Sion, tak jauh dari gedung PN Situbondo.

Dengan sisa-sisa bensin yang mereka rampas dari mobil dan motor milik PN dan Polres, Gereja Bukit Sion pun dibakar.

Kerusuhan Situbondo (gambar : store.tempo.co)

Kemarahan makin tak terkendali, gereja-gereja lain pun diamuk massa. Mereka berpencar ke berbagai penjuru kota. Rumah pendeta juga ada yang kena. Bahkan sebuah yayasan panti asuhan dan anak kurang mampu yang baru dibangun 3 bulan sebelumnya juga tidak luput dari sasaran. Termasuk TK Santa Theresia dan sebuah pondokan suster/biarawati.

Saat membakar pertokoan, satu kompi senapan datang. Mereka mulai diamankan dan kerusuhan baru benar-benar selesai pukul 11 malam.

Hal ini diawali oleh pelaporan dari salah seorang kyai bahwa Saleh menistakan agama Islam dengan mengatakan bahwa Allah itu makhluk biasa. Saleh juga mengatakan bahwa salah satu kyai yang merupakan pemimpin pondok pesantren dan sangat dihormati di kalangan NU, meninggal tidak sempurna.

Dari situ awal mulanya.

Berbagai berita kemudian menyebutkan kasus ini digunakan untuk mendiskreditkan kelompok NU. Apa mungkin ya menyebut akar permasalahan sebenarnya dalam internal NU? Karena terpidana Saleh juga dikenal sebagai pemuda NU.

Lalu, saya teringat juga dengan kisah Farkhunda di Afghanistan.
Farkhunda dihajar, dipukuli, diseret dengan mobil, dan mayatnya dibakar sampai hangus oleh ratusan laki-laki yang ditonton BAHKAN divideokan oleh banyak orang. Dengan anggapan Farkhunda sudah menistakan agama.

Gambar : operationworld.org

Ah ya, anda tahu bahwa Farkhunda ini seorang PEREMPUAN? Demi membela agama, ratusan laki-laki ini menganiaya seorang perempuan. Anda mungkin lebih terpana lagi kalau tahu latar belakangnya.

Walau isu di Afghanistan tentu lebih kompleks karena melibatkan trauma mendalam sehabis perang berkepanjangan dan misoginisme yang masih ramai merebak di sana. Kejadiannya bahkan di jantung ibukota bukan di daerah pedalaman.

Kisah Farkhunda sudah pernah saya tulis di sini.

Di negara Afghanistan dan Pakistan, Blasphemy Laws (Undang-undang Penistaan Agama) jauh lebih hits dan menimbulkan peristiwa-peristiwa kontroversial. Sampai-sampai negara mungkin tidak perlu punya pengadilan terkait masalah ini.

Karena kalau ada yang dirasa menista agama, boooom!!! Seketika itu juga sumbu-sumbu dari berbagai penjuru bisa tersulut sampai meledak.

Yang baru-baru ini terjadi menimpa seorang mahasiswa Marshal Khan. Marshal Khan dianggap menghina Islam karena postingan-postingan di akun media sosialnya. Sama seperti Farkhunda, hajar dulu, cari tahu kemudian.

Sampai sekarang tidak ada bukti kuat telah terjadi penistaan agama tapi ya orangnya dah keburu meninggal disiksa sampai mati beramai-ramai.

Dalam kasus Pakistan, kebebasan berpendapat mungkin menjadi salah satu isu utama. Konon juga, ada yang sakit hati karena kalah berdebat dengan Marshal Khan.

Sementara Marshal Khan sendiri dikenal sebagai pemuda muslim yang sering mengkritik pemerintah karena dianggap gagal mempraktikkan agama Islam sebagai rujukan mayoritas yang seharusnya mampu membawa Pakistan ke arah lebih baik.

Serangan terorisme di Pakistan (gambar : rt.com)

Korupsi dan internal politik yang tidak stabil mungkin kerap menjadi sasaran kritikan Marshal Khan. Tapi orang lebih fokus membahas penistaan agamanya.

Di Afghanistan dan Pakistan hukuman penistaan agama itu maksimal hukuman mati.

Kasus lain di Pakistan terjadi di tahun 2009. Menimpa seorang kristiani yang dikenal dengan nama Asia Bibi. Secara umum, penduduk minoritas kristiani di Pakistan menempati kelas bawah secara sosial. Mereka rata-rata bekerja di sektor-sektor informal.

Di suatu siang setelah acara panen bersama rekan-rekan buruh taninya yang muslim, Asia Bibi terlibat perdebatan dengan dengan salah satu dari mereka.

Asia Bibi terlihat mengambil air dengan menggunakan gelas yang tergeletak di pinggir sumur. Sesuai aturan di sana, orang Kristen tidak boleh minum air dari perkakas yang sama karena diyakini Asia Bibi itu tidak bersih karena agamanya Kristen (bukan Islam).

Pemicunya mungkin ada hal lain juga. Karena perempuan yang pertama melihat dan marah kepadanya ditengarai sudah sering berdebat dengan Asia Bibi di kesempatan-kesempatan sebelumnya.

Saat berdebat inilah, Asia Bibi merasa statusnya sebagai umat kristen dilecehkan dan akhirnya membalas, ” “I believe in my religion and in Jesus Christ, who died on the cross for the sins of mankind. What did your Prophet Mohammed ever do to save mankind?”

(Saya meyakini agama saya dan percaya Yesus Kristus, yang meninggal disalib untuk menghapus dosa umat manusia. Apa yang dilakukan nabimu, Nabi Muhammad untuk menyelamatkan umat manusia?)

Nah, pernyataan dari Asia Bibi inilah yang dilaporkan sebagai penistaan agama. Yang kemudian membuatnya menerima putusan hukuman mati.

Belum selesai sampai di sini. Gubernur Punjab, seorang muslim, Salman Taseer menggugat keputusan tersebut dan meminta pengampunan untuk Asia Bibi.

Bahkan Taseer secara terbuka mengkritik undang-undang penistaan agama dan mengimbau agar dilakukan peninjauan kembali atas UU tersebut.

Hasilnya? Salman Taseer mati dibunuh oleh salah satu pengawalnya sendiri, Malik Qadri. Taseer dianggap “mengkhianati” agama karena kritikannya kepada UU penistaan agama.

Pembunuh Taseer dihukum mati dan dieksekusi di bulan akhir Februari 2016. Saat pemakaman jenazah Qadri, ribuan umat muslim berbaris menghormatinya sebagai mujahid dan bahkan beberapa pihak melarang pendukung Taseer untuk mengirimkan tanda simpati kepada Taseer.

Salman Taseer (Gambar : tribune.com.pk)

Ribuan umat muslim tersebut menyatakan dukungan terhadap UU penistaan agama (yang digugat oleh Taseer). Sekaligus menunjukkan simpati mereka kepada Malik Qadri, si pembunuh Taseer.

Tak hanya Taseer, kritik terhadap UU penistaan agama juga merenggut nyawa salah satu nyawa pejabat tinggi Pakistan lainnya, Shahbaz Bhatti. Bhatti adalah penganut kristen seperti Asia Bibi dan satu-satunya pejabat beragama Kristen dalam kabinet.

Bhatti dibunuh dengan alasan yang sama terhadap Taseer, membela Asia Bibi dan menggugat UU penistaan agama.

Kasus terkini, soal Ahok, mungkin tidak sesadis kisah-kisah di atas.

Dengan 76% tingkat kepuasan masyarakat terhadap hasil kerja petahana saja sudah menunjukkan ANOMALI hasil Pilkada di bulan April lalu. Sejak awal, kasus yang “diada-adakan” ini sudah sangat membebani beliau di masa kampanye dan desakan massa yang terus menerus.

Saya yakin 100% Ahok akan baik-baik saja. Yang lebih saya khawatirkan adalah kejatuhan harapan baik oleh diri saya sendiri maupun teman-teman yang sudah terlanjur “terbang”.

Mungkin banyak yang pertama kalinya dalam tahun-tahun kita hidup sebagai warga Indonesia merasakan yang namanya PERCAYA lagi kepada pemerintah.

Saya rasa di situ letak kepahitannya.

Siapa sih kita dulu-dulu? Ikut Pilkada seadanya. Seperti saya tahun 2007 yang ikut Pilkada ya untuk ramai-ramai saja. Ditanya program saya bengong sendiri. Pilpres tahun 2009 juga gitu. Cap cip cup kembang kuncup saja.

Tidak ada harapan apa-apa. Siapa yang menang juga ya sudahlah. Saya tidak tahu harus berharap apa . Mau kampanye juga bingung apa yang diperjuangkan gitu?

Selama ini, saya pikir kita sebagai rakyat tidak salah. Ya gimana, dikasihnya pilihan-pilihan model begitu? Dalam Pilkada Banten misalnya. Piihannya si petahana yang tidak jelas juga kerjanya apa berhadapan dengan calon lain yang wakilnya adalah anak kandung dari dinasti korup yang sebelumnya menguasai Banten? Harus pilih siapa kalau begini???

Bahkan si embak-embak cantik, yang suaminya tersandung korupsi juga yang juga masih kerabat dinasti korup di Banten terpilih lagi menjadi walikota di Tangerang Selatan. It’s casual. Nothing special.

Lalu, ada Ahok di Jakarta. Yang hasil kerjanya begitu gemilang berhadapan dengan pasangan yang sama sekali tidak punya rekam jejak di pemerintahan daerah, ujug-ujug datang menantang di ibukota dengan modal santun dan program kerja yang benar-benar bikin kening berkerut. Tapi petahana kalah dengan telak.

Dan kini, meringkuk pula di penjara yang kasusnya dilatarbelakangi sebuah ayat yang bahkan para ulama pun punya perbedaan pendapat mengenainya?

Isu penistaan agama dengan tekanan yang begitu besar terlihat nyata di Pilkada DKI tahun ini. Saya tidak berani mengatakan seberapa besar pengaruhnya. Tapi yang jelas ADA dan sangat NYATA kan?

Ada salah satu kasus penistaan agama lain di tahun 1998. Ada unsur politisnya juga. Secara skenario mirip dengan Ahok tapi terbalik pelaku dan yang “korban”nya. Kali ini yang merasa ternistakan adalah minoritas. Hasilnya? Ya kasusnya menguap begitu saja walau ancaman makar dan demo besar-besaran terjadi di Bali.

Ini sampai kapan akan begini? Ukuran-ukuran ternistakan, merasa dinista, melakukan penistaan sebenarnya apa, sih? Berdasarkan perasaan? Perasaan siapa? Berdasarkan tekanan masyarakat? Dukungan massa?

Massa bergerombol yang menyuarakan rintihan kebencian ya jelas menjadi bahan bakar potensial yang digaruk dikit itu nanahnya bisa muncrat ke mana-mana. Ingat Situbondo di awal tulisan?

UU penistaan agama akan selalu menjadi bola karet yang tidak pernah jelas pantulannya akan ke mana. Mau dibiarkan sampai kapan? Harus menunggu berapa rumah ibadah terbakar? Harus ada yang mati dulu?

Apa sebenarnya definisi membela agama ini? Kepuasan batin atau gimana? Jika kita adalah yang beragama, sejauh mana agama itu bisa mempersembahkan solusi bagi kebaikan masyarakat sekitar? Dengan ancaman dan intimidasi?

Think about it ya :).

Hizbut Tahrir Indonesia, “Salafi”, atau PKS ?

Di kuartal terakhir tahun 2016 kemarin, Tunisia mengeluarkan perintah resmi melarang gerakan radikal Hizbut Tahrir dengan tuduhan “merusak ketertiban umum”.

Sudah bertahun-tahun pemerintah Tunisia memperjuangkan undang-undang ini hingga akhirnya tahun lalu berhasil diterapkan.

Gerakan Hizbut Tahrir muncul pertama kali di tahun 1950-an, gebrakan awalnya di Yordania dan Arab Saudi. Hingga akhirnya terus menyebar ke negara-negara lainnya.

Gambar : pixabay.com

Hizbut Tahrir menginginkan berdirinya khilafah Islam yang diharapkan mempersatukan dan menaungi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Secara “alami”, gerakan ini tentu ditentang oleh Kerajaan Arab Saudi dan sebagian besar negara-negara lain di Timur Tengah yang juga penduduknya mayoritas muslim.

Dalam salah satu situs resminya di Indonesia (hizbut-tahrir.or.id), HT-Indonesia (HTI) sering “mengecam” pemerintahan Saudi. Mengapa spesifik Arab Saudi? Mungkin karena negara inilah yang sering dijadikan “kiblat negara muslim” oleh sebagian kalangan muslim di tanah air. Dimana HTI tentu menentang keras anggapan tersebut.

Sejarah panjang keruntuhan khilafah terakhir di awal abad ke-20, pemberontakan internal dari negara-negara Arab di Timur Tengah menjadi salah satu penyebabnya.

Terlihat lebih “konsisten” ya . Bagi mereka yang mengklaim memperjuangkan pemerintahan islam via sistem khilafah tentu tidak akan bermuka dua dengan “memuji-muji” negara-negara monarki seperti Saudi, Brunei dll dan negara-negara demokrasi seperti Turki.

Negara tetangga kita, otoritas Malaysia pun sudah sejak lama punya hubungan “tidak mengenakkan” dengan organisasi Hizbut Tahrir ini. Saya coba cari berita resmi pelarangan HTI di Malaysia tapi tidak ketemu. Yang banyak itu kecaman dari kelompok Islam setempat terhadap organisasi ini dan desakan masyarakat untuk melarang HT.

Mayoritas negara-negara Timur Tengah juga melarang gerakan Hizbut Tahrir termasuk Mesir, Yordania, Irak, Suriah, Libya dll. Di Asia ada Turki dan Pakistan yang juga bersikap sama terhadap Hizbut Tahrir.

Justru “anggota-anggota” HT ini banyak yang bermukim di negara-negara “bule” hihihi. Di UK misalnya, lumayan ramai itu orang-orang HT ngumpul di sana. Aish, asyik ya tinggal di “negara kafir” #eh hahahaha . Emang enak ciiiiiihhhh  #iLoveLondon .

Hizbut Tahrir Indonesia
Gambar : pixabay.com

Tapi harus dipahami ya bahwa perjuangan HT ini TIDAK dengan jalan kekerasan . Mereka radikal dalam pikiran. Jadi salah banget kalau mengira ISIS-ISIS an itu identik dengan HT. Tapi saya pribadi menolak ide khilafah 100% ;).

Btw, yang sering terjadi adalah ungkapan dan makian “Wahabi lo” atau “Dasar salafi” kepada orang-orang yang merindukan khilafah. Nah, ini termasuk salah kaprah yang cukup parah hehehe.

Saya terus terang tidak mengerti terminologi “salafi” or “wahabi” ini maksudnya apa. Kalau Hizbut Tahrir kan jelas ya organisasinya. Nah yang 2 ini saya kurang jelas.

Setahu saya ya, pengajian-pengajian yang memakai istilah “salafi” atau “mengikut pada ulama salaf/ulama-ulama di masa awal” malah punya paham yang bertentangan 100% dengan Hizbut Tahrir.

“Pengajian salafi” (pakai tanda kutip ya karena again, saya tidak pernah tahu definisi resminya hehehe), menentang Bughot, memberontak pada pemerintahan yang resmi/sah.

Naturally, ajaran ini ya cocok dengan doktrin kemasyarakatan di Kerajaan Arab Saudi. Makanya, kalau “pengajian salafi” itu pro pada Arab Saudi, bertolak belakang banget dengan HT yang jelas-jelas mengecam pemerintahan Saudi.

Sepengetahuan saya ya, which is belum tentu 100% tepat makanya CMIIW , “pengajian salafi” fokusnya BUKAN ke politik. Tapi ke penerapan tauhid. Penerapan tauhid ala “pemahaman mereka”. Silakan dicari tahu sendiri .

Di Arab Saudi sendiri karena sistemnya monarki absolut, pemerintahan itu berdasarkan keturunan raja. Jadi memang situasi dibuat kondusif dengan beberapa aturan-aturan khusus. Kebebasan pers ya hal yang cukup langka lah di sana .

Hizbut Tahrir Indonesia

Ceramah-ceramah jumatan di Arab Saudi itu ada “aturan khusus” segala lho . Justru untuk mencegah para ekstrimis agama. Jadi, niatnya bukan untuk mengekang agama sama sekali.

Satu kelompok lagi yang suka kena serangan salah arah adalah kelompok PKS . Nah, yang ini partai politik. Sebenarnya PKS lebih jelas dan “tertulis”. Seharusnya sih karena berdiri dalam naungan NKRI, PKS secara organisasi masih berpegang pada Pancasila. Di mana Pancasila tentu tidak cucok buat khilafah, yes? .

Dalam lingkaran pertemanan Facebook saya sendiri, jangan salah lho ya, itu “teman-teman salafi” banyak yang suka nyinyir-nyinyiran sama orang-orang PKS hahaha. Dalam hal ini, saya yakin ini masalah oknum per oknum bukan atas nama organisasi mereka masing-masing.

“Teman-teman salafi” secara umum memang tidak suka perselisihan politik. Sementara yang dari PKS waduh, paling semangat 45 kalau urusan politik ya hehehe. Terlihat kontra dengan pemerintah karena ya jelas dong, mereka sekarang berada dalam lingkaran “oposisi”. Wajar saja.

Kalau HTI ya seperti itu tadi. Mereka fokusnya ke pendirian khilafah. Sama PKS ya tentu tidak cocok pandangan politiknya. Sama “Salafi” apalagi hehehe. Pernah tuh ngotot-ngototan dua oknum perwakilan “Salafi” vs HTI soal kedatangan Raja Salman tempo hari. HTI kontra tapi “salafi” pastinya pro .

Gambar : pixabay.com

Namun, dalam perhelatan Pilkada DKI kemarin, baik HTI, “Salafi” maupun simpatisan PKS, terlihat KOMPAK “menolak Ahok” . Tapi ingat penolakan mereka memiliki basis alasan yang berbeda-beda lho ya.

Sebagai pendukung Ahok, saya resmi menjadi musuh bersama, deh hahahaha. Becanda ya .

“Ulama-ulama salafi” ada yang menolak dengan tegas berkomentar soal politik di Pilkada DKI kemarin ini. Tapi ada juga yang mengeluarkan pernyataan “keras”. Kalau “anggota”nya mah tergantung oknum.

Ada juga “kerabat salafi” yang walah nyinyirnya pedesnya sekilo cabe rawit soal Ahok hahaha. Sementara ada juga yang memilih “tidak bersuara” dan dengan jelas menyatakan golput hehehe.

Antara mereka sempat bersitegang masalah demo turun ke jalan. Tentu saja, “kalangan salafi” MENENTANG demo-demo model begini. Sementara HTI dan PKS malah menyerukan sebaliknya.

Soal Syiah : HTI masih menganggap Syiah sebagai bagian dari Islam. HTI meyakini dalam Syiah juga ada banyak mazhab. Yang sesat ada dan yang masih sesuai tuntutan Islam juga ada.

PKS secara organisasi resmi belum pernah mengeluarkan pernyataan soal Syiah. CMIIW ya. Tapi simpatisan PKS tidak sedikit yang suka berkomentar kasar dan tidak sopan mengenai paham Syiah.

Sementara “pengajian salafi” ini saya tidak tahu situs resminya apa. Pernah bertanya kepada salah seorang “teman salafi” tapi dia juga tidak tahu. Katanya ada beberapa kelompok dalam istilah salafi ini di Indonesia.

Yang jelas, hampir 100% “teman-teman Salafi” dalam lingkaran pertemanan saya kompak MENGUTUK pemahaman Syiah secara absolut.

Agak rancu juga, ya. Mengingat di Arab Saudi sendiri, komunitas Syiah hidup aman dan tenteram dalam masyarakat. Mereka juga dilindungi oleh Kerajaan Saudi. Dijaga haknya dan segala macam. Entah juga mengapa “akar rumput” bisa berkobar sebegitu besar bencinya kepada kalangan Syiah?

Soal HTI kepada Arab Saudi juga saya tidak terlalu sepakat. Walau berbentuk monarki absolut, pemerintahan Saudi itu cukup menjaga tanggung jawab lho dalam urusan ekonomi negara. Indeks Persepsi Korupsinya termasuk bagus. Infrastruktur di sana keren-keren gila. Saya pernah tinggal di Saudi lho jadi lihat langsung bukan katanya-katanya-katanya .

Kira-kira, terbayang kan perbedaan antara ketiga “kelompok” ini?

Itulah mengapa kalian jangan suka seenaknya lempar label ke orang lain. Apalagi soal khilafah. Ketiga “kelompok” ini serupa tapi tak sama. Jangan lupa kehadiran oknum-oknum yang pemikirannya mewakili isi kepala masing-masing, belum tentu pendapat resmi organisasi.

Sebaliknya, jangan panik tidak jelas dengan aturan pelarangan resmi terhadap kelompok Hizbut Tahrir Indonesia. Organisasi ini sudah jelas MENOLAK Pancasila sebagai dasar negara. Harusnya sudah sejak dulu dilarang.

Ancamannya jelas dan di berbagai negara mayoritas muslim lain pun, Hizbut Tahrir sudah “dikecam” sejak lama.

Saya sendiri sih secara pribadi sudah membekali pengetahuan lebih detail tentang ketiga kelompok ini. Bukan untuk publik untuk diri sendiri saja hehehe. Makanya, tidak pro sama sekali kepada salah satu .

Saya enggak tahu juga cocoknya masuk mana. Masuk NU kok juga rasanya beberapa kurang pas. Jadi bagian dari Islam rahmatan lil aalamiin saja deh .

Saya meyakini sebaik-baiknya manusia dalam ajaran agama saya adalah mereka yang memiliki manfaat sebesar-besarnya dalam arti positif bagi orang lain. Terserah mau masuk kelompok yang mana hehehe.

Lakukan kebaikan sebanyak yang kita bisa dengan meminimalkan keburukan semampu yang kita sanggup .

Pergolakan terbesar ya melawan diri sendiri. Misalnya menundukkan hati untuk tidak merasa paling benar terhadap siapa pun (konteks sesama manusia ya). Itu termasuk perang yang paling sulit, kan? .

Nah, itulah perjuangan yang harus kita hadapi setiap saat. Seumur hidup kita. Mustahil untuk bisa menang terus. Kayaknya saya lebih sering kalah-nya hahahaha .

Berdoa untuk diri sendiri agar menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Prayer does not change God, but it changes him who prays.
-Soren Kierkegaard-

Aamiin .

Topkapi Museum : The Truth Will Set You Free

“Kota di dalam kota” merupakan istilah yang cukup pas untuk menggambarkan fungsi Topkapi Museum di masa lalu. Salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Ottoman, bagian dari kekhalifahan Islam yang berakhir di awal abad ke-20.

Hampir 400 tahun, Topkapi Museum menjadi pusat kediaman Sultan di Kerajaan Ottoman. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Istana Dolmabahce di pertengahan abad ke 19.

Sekitar 4 ribu orang diperkirakan bermukim di dalam kawasan Topkapi Museum. Termasuk 300 orang selir sultan yang tinggal dalam bangunan tertentu yang dikenal dengan istilah Harem.
Konon 1000 tukang masak istana harus menyiapkan makanan sebanyak 6 ribu porsi setiap harinya.

Malas baca panjang-panjang, rehat dulu nih  nonton vlognya :p

Masih ingat serial The Magnificient Century dari Turki, berkisah tentang Suleiman The Magnificient, yang dikritik oleh beberapa kalangan muslim di tanah air karena dianggap sebagai “distorsi” terhadap ajaran Islam.

Seolah penggambaran bahwa Sang Sultan memiliki selir (tepatnya, ratusan selir!) dan gaya hidupnya saat itu hanyalah “rekaan” semata. Disangkanya raja-raja di masa kekhalifahan penjelmaan nabi semua apa .

Mungkin inilah salah satu contoh glorifikasi terhadap masa lalu yang tidak terlalu berani diutak utik oleh para ulama di masa kini . Oh well, memangnya pengajian mana yang akan berani mengajarkan sejarah-sejarah seperti ini .

Yang sering ditekankan adalah “indahnya masa lalu”, sempurnanya ajaran Islam pada masa kekhalifahan bla bla bla. Padahal jejak kehidupan mereka di masa lalu tak begitu sulit diurai dan ditemukan buktinya.

Seperti ada jarak antara kehidupan rasulullah dan para sahabat vs kehidupan modern. Padahal diantara jarak waktu ratusan tahun itu, many things happened. Many-many-many things .

Oleh kalangan orientalis anti Islam, mereka menjadikan “catatan sejarah” ini untuk menyerang Islam. Beberapa kalangan muslim tentu membantah keras dan menganggap itu hanya rekayasa karena dari kecil kita sudah dibentuk dengan ajaran seperti itu. Betapa indahnya penerapan Islam di masa lalu bla bla bla.

Enggak heran pada teriak-teriak minta khilafah, yes? .

Itulah gunanya menelisik sejarah. Tidak ada yang salah dengan aturan seperti ini di masa lalu. Perbudakan dan perlakuan terhadap kaum perempuan, adalah hal yang sangat-sangat lazim di masa lalu .

Topkapi Museum
Topkapi Palace, Istanbul 2016

Saya ingat pas ke monumen konfederasi di depan Capitol Building, Little Rock – Arkansas, saya bergumam, “Heran, orang yang ngotot memperjuangkan perbudakan kok ya dianggap pahlawan.”

Suami saya ketawa, “Elo pun kalau hidup di masa itu mungkin akan menganggap itu hal biasa.”

Yup, perbudakan bahkan baru benar-benar hilang dari kehidupan modern ini di abad 20 kali, ya. Karena pasca Perang Sipil 1965 pun tidak serta merta seluruh budak dibebaskan di semua wilayah Amerika Serikat.

Mungkin itu salah satu kepingan yang hilang dalam pendidikan tentang Islam di masa sekarang. Kita sibuk ngeyel dan malah menjadi bahan tertawaan para ahli sejarah.

Karena pada dasarnya mayoritas keagamaan kita lebih karena warisan. Berapa banyak sih yang benar-benar mau “belajar” Islam dan keluar dari zona nyaman berupa doktrin-doktrin dari masa kecil dulu? Geser dikit diteriakin liberal, bertanya dikit diserang dengan tuduhan “punya penyakit hati” hahaha.

Topkapi Museum

Kita suka gagap menanggapi tuduhan kok bisa di alquran ada aturan-aturan memperlakukan budak. Faktanya, alquran turun di abad berapa dulu, Cuy? Abad segitu aturan begini-begini sangat visioner di masanya .

Jangan heran jika penerapannya tidak bak-buk-bak-buk. Instead of mengancam dan memaksa agar budak dibebaskan otomatis, Allah menawarkan solusi khasnya, sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang : membebaskan budak diganjar pahala yang sangat besar .

Secara halus, Islam sudah menegaskan, berabad-abad sebelum dunia modern berteriak-teriak terhadap HAM, salah satunya dalam surah Al Balad ayat 12-13, “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan…”

Nggg…terus kok masih selir-seliran di era kekhalifahan ratusan tahun setelah alquran turun. Bukan ajaran Islamnya yang bermasalah, tapi umat di kala itu ya memang sanggupnya segitu . Bertahap dan berproses.

Topkapi Museum

Makanya, yang beginian-beginian janganlah terus-terusan disembunyikan dan dianggap “tidak ada” atau pura-pura tidak tahu.

Kita tidak dibekali dengan “kisah nyata” dari masa lalu. Beberapa kalangan memberi alasan, “Ya nanti kalau dijelasin semua pada salah paham dan bingung. Jadi lebih baik memang dibahas yang bagus-bagusnya saja.”

Bukankah Islam adalah ajaran bagi mereka yang berpikir? Ya biarkan umat berpikir jangan dininabobokan dengan kisah-kisah absurd dan enggan menceritakan sejarah secara lebih komplit berdasarkan fakta. Ya gak, ya gak, ya gak? .

Maaf ya, sekali-sekali memang harus diajak ngomong serius soal gini-ginian hehehe. Pengetahuan sejarah jangan dipilih-pilih .

“The truth will set you free, but first it will piss you off.”
― Joe Klaas, Twelve Steps to Happiness

Anyway, biar enggak stres, nonton vlognya deh hahaha. Pemandangan cantik di sisa-sisa peninggalan Istana Topkapi Museum berusaha kami abadikan dalam vlog yang ini.

Ngerekamnya gantian, karena harus jagain anak-anak yang ketiduran depan museum hahaha. Suka duka traveling sama anak-anak kicik ya .

Topkapi Museum

 

Dari salah satu teras bangunan, kita bisa memandang bebas perairan di Selat Bosphorus dan wilayah Golden Horn.

Hingga kini, kawasan Topkapi Museum merupakan bangunan istana terbesar peninggalan masa lalu yang masih bisa dilihat dan dikunjungi.

Jumat barokah buat kita semua .

And have a nice weekend .

Islam, Arab Saudi, dan Hal-hal yang Tidak Bisa Dibeli Dengan Uang :)

Lagi hangat-hangatnya soal kedatangan Raja Salman ke Indonesia 2017, sungguh sulit untuk menahan diri tidak eksis, yes? Hahaha. Kabar dunia Islam.

Kayaknya sudah banyak yang saya tulis terkait pengalaman tinggal di Kota Jeddah selama 2.5 tahun kemarin. Di buku, di blog, dan di Facebook tentunya .

Uniknya, 2 tulisan paling hits di blog yang terkait Arab Saudi itu saling bertolak belakang : “How Islamic are Islamic Countries?” dan “10 Keuntungan Tinggal di Arab Saudi”. Ya memang isinya bagaikan bumi dan langit ya hahaha.

Di tulisan HIAIC misalnya dapat segabruk-gabruk komentar, “Kok sinis banget sama Arab Saudi dan Islam?”

Historic District. Foto : Dani Rosyadi

Tulisan 10 KTDAS sih cenderung aman. Hingga suatu hari ada yang komentar, “Dasar onta!” di fanpage pas ngeshare tulisan itu hahaha. Terkait tulisan ini pula jadi sering mendapat email/inbox semacam ini, “Bagaimana caranya agar saya pindah ke Mekkah atau Madinah ya Mbak? Tolong diberitahu caranya. Saya sekeluarga ingin khusnul khatimah di sana.”

Walah, bingung ya jawabnya . Makanya, saya tidak pernah reply pesan-pesan model begini. Mohon maaf, ya *sungkem*.

Saya rasa di sinilah salah satu persoalannya. Buat sebagian umat muslim, Arab Saudi itu dianggap sebagai representasi ajaran Islam. Kalau ngomongin orang Saudi mungkin bayanginnya selevel Rasulullah dan sahabat ya hehehe.

Sementara di kutub satunya lagi, kayaknya alergi banget sama Arab Saudi. Tapi bisa jadi kutub ini muncul justru karena adanya orang-orang yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya .

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Untuk “kaum pemuja Saudi”, sedikit saja kita mengkritik atau melontarkan hal-hal yang di luar ekspektasi mereka, entah mengapa langsung dicap “anti Islam”, “pembenci agama” bla bla bla. Pusing kan?

Malah saya pernah mendapat komentar, “Sok tahu lo! Kayak pernah tinggal di sana aja!!!” Well, heloooooooo … hahaha .

Tapi 2 buku saya, “Bunda of Arabia” dan “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” itu dua-duanya menceritakan sisi positif selama tinggal di Kota Jeddah, lho .

Jadi begini, buat saya pribadi bersama keluarga inti saya, tinggal di Jeddah ya memang menyenangkan kok . Gaji gede yang menyebabkan biaya hidup jadi relatif “murah” .

Kayaknya kota-kota besar di Saudi ini dirancang untuk dinikmati oleh “kalangan berada” 😉. Kalau banyak uang ya pasti hepi lah hahaha. Harga mobil + bensin murah, listrik + sembako dan segala macam disubsidi.

Makan di resto tergolong murah. Belanja ke mana-mana serba dilayani. Itu karena kehidupan kaum berada di Saudi ditopang oleh adanya “warga kelas dua”. Siapa mereka? Ya orang-orang di sektor informal yang gajinya jauuuuuhhh di bawah pekerja formal .

Makan di resto di Eropa tergolong mahal lebih karena ada “jasa manusia” tambahan yang dibutuhkan. Man-hour di negara-negara welfare state memang cukup “adil” untuk level informal sekali pun .

Bagaimana dengan di Saudi?

Enak, sih hahaha. Dulu tuh ya, buang sampah saja tinggal bayar 50 riyal sebulan, sampah diangkutan sama Haris (pekerja apartemen). Tinggal taruh saja depan pintu. Nanti Haris keliling mungutin kantong sampah dari lantai 1 sampai 6. Plus 100 riyal sebulan, mobil dicuciin sampai kinclong sama Haris hampir setiap hari .

Mana bisaaaa lo bayar jasa orang segitu di Eropa .

Fore Abbey – Ireland <3

Hal-hal inilah yang saya bahas di tulisan “How Islamic are Islamic Countries?” Karena keadilan sosial adalah salah satu napas utama dalam ajaran Islam di kehidupan bermasyarakat .

Itu baru ngomongin kesenjangan sosial. Belum ngomongin gaya hidup lainnnya .

Aturan-aturan khusus di Arab Saudi juga sering disorot oleh dunia internasional sebagai aturan Islam. Umumnya oleh kalangan non muslim. Oleh beberapa teman India di Ireland misalnya, saya ditanya, “Eh, kenapa sih di agama Islam perempuan dilarang menyetir?”

So pasti saya tegaskan, kalau aturan itu khusus di Arab Saudi saja. Bahkan di negara-negara Timur Tengah lain yang mayoritas muslim, tidak ada aturan seperti itu .

Sorotan lain adalah aturan bahwa di Saudi tidak boleh mendirikan rumah ibadah selain rumah ibadah umat muslim. Saya selalu tekankan bahwa itu BUKAN aturan Islam. Banyak juga lho komentar di forum-forum agama yang menuduh, “Islam sih mana bisa hidup damai dengan agama lain. Mereka punya berbagai aturan diskriminatif.”

Irlandia *loved*

Sayangnya, kalangan muslim sendiri memang banyak yang memimpikan hidup “Islami” ala Arab Saudi. Untuk teman-teman non muslim dari negara lain, saya rajin lho mempromosikan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara mayoritas muslim yang punya “cita rasa” berbeda dengan Timur Tengah hehehe.

Cadangan minyak yang dahsyat ikut menyokong perekonomian Kerajaan Arab Saudi . Hal ini yang sering diabaikan hingga mendatangkan komentar seperti, “Saudi kaya itu karena berkah dari Allah sebagai negara suci.”

Ngggg…yang ada itu kota suci kali yaaaaa, Mekkah dan Madinah. Negara suci emang ada? .

Pendapatan tertinggi Kerajaan Saudi memang didominasi oleh ekspor minyak terkait posisi Saudi sebagai negara kedua penghasil minyak terbesar di dunia. Menghasilkan minyak terbanyak tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kehidupan masyarakat.

Karena nomor satu itu Venezuela lho . Toh buktinya Venezuela gagal menghalau korupsi hingga tumbang begitu cepat saat harga minyak dunia berguncang.

Berbeda dengan Kerajaan Saudi. Saudi cukup piawai mengolah kelebihan minyak mereka . Dengan cerdas, Saudi sukses berkolaborasi dengan negara-negara teknologi maju dan mengolah cadangan minyak yang menguntungkan bagi berbagai pihak.

Padang Badr (The Badr Sand Dune), Arab Saudi

Saudi tergolong negara yang paling efisien dalam mengelola minyak . Biaya cukup kecil untuk kualitas yang bagus. Saudi pandai memilih teman bisnis tanpa harus merendahkan diri sebegitu rupa. Yup, temenan sama Amerika Serikat dalam mengelola minyak itu sudah lama. Kita tahu sendiri negeri adidaya ini punya keunggulan teknologi dan pengalaman bisnis yang caem .

Kasus Saudi mungkin bisa dipetakan terhadap kisruh Freeport. Jangan saya atuhlah yang bahas. Malu sama daster hahaha .

Sektor migas menyumbangkan sekitar 70% dari total penerimaan Kerajaan Saudi. Sudah rahasia umum, dengan kondisi harga minyak yang gonjang ganjing beberapa tahun terakhir, perekonomian Saudi pasti terkena imbasnya.

Internal Saudi sendiri sudah banyak berbenah kok. Pencabutan subsidi dari berbagai bahan pokok dan listrik sudah mulai ditarik. Sebentar lagi mungkin akan ada aturan penarikan pajak penghasilan. Banyak proyek infrastruktur yang ngadat. Tidak sedikit perusahaan yang bermasalah dengan gaji karyawannya.

Tenaga kerja Indonesia di sektor konstruksi juga sudah mulai banyak yang pulang sejak setahun terakhir. Gaji macet. Bukan hanya pekerja informal. Ekspat-ekspat di sana, yang selevel manajer segala macam banyak yang ketar ketir menunggu pembayaran yang belum kunjung selesai. Itu fakta .

Pantai Thuwal, Saudi 🙂

Tapi seberapa jatuhkah ekonomi Saudi? Nah ini yang harus hati-hati melihatnya. Karena Saudi sendiri MEMANG TAJIR beneran hehehe. Kalau enggak salah, rasio utang terhadap GDP juga tergolong rendah .

Selama ini, Saudi juga tergolong “bersih” dalam pengelolaan keuangan negara. Cek di data Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2015, Saudi cukup bagus di angka 52. Negara-negara yang IPKnya di atas 50 dianggap “Bagus” . Mumtaz! Hehehe .

Sejak tahun 2016, pemerintah Saudi juga mengeluarkan komitmen untuk melepaskan diri dari ketergantungan Sumber Daya Migas dan mulai menggarap sektor lain. Mungkin terkait hal itu juga, sekarang Raja Salman beserta tim aktif bertandang ke mana-mana .

Tentu kita berharap Indonesia bisa menjadi salah satu tempat berlabuh untuk urusan investasi Sang Raja ya . Aamiin.

Jangan sampai kita lebay tidak jelas juga. Baru juga rencana sudah hebohknya kayak apa hahaha. Ingat lho, RENCANA. Belum benar-benar kejadian.

Jangan sampai kita malah dengan nyinyirnya membandingkan RENCANA ini dengan realisasi investasi yang sudah masuk dari negara-negara lain, termasuk China yang entah kenapa sangat dibenci sekarang ini . China dan negara lain SUDAH investasi, sementara Arab Saudi baru RENCANA, wooooiiiii .

Kabar dunia Islam
Padang Bahrah, Arab Saudi

Tentu kita berharap baik Arab Saudi maupun China atau negara-negara besar lainnya beramai-ramai berinvestasi di Indonesia. Enggak usah dikait-kaitin melulu sama agama dan konspirasi kenapa sih?

Kok malah dijadikan bahan beranteman baru? *pijetKening*.

Ah ya, untuk pertanyaan, “Mengapa hengkang dari Kota Jeddah padahal katanya gajinya gede bla bla bla?”

There are things that money can’t buy dong ya . Hidup ini tidak melulu soal bahan pokok harus murah, harus punya mobil bagus bla bla bla, punya koleksi barang mahal endebre-endebre, gaji tanpa pajak dst dst.

Ada lebih banyak hal yang ternyata tidak bisa dibeli uang. Tidak ada hubungannya dengan harga-harga . Nah, yang begitu-begitu itu yang bisa saya dapatkan dari pengalaman hidup di Irlandia Walaupun pajaknya terekdungces, harga barang gak semurah di Saudi, harga bensin juga ngek ngok. But I do love living in Ireland .

Walau tentu tetap banyak yang bisa dikeluhkan dari Ireland :p. Tidak ada tempat yang sempurna kalau masih level hidup di dunia, yes? 😉

Saya juga tidak tahu pasti mengapa hal-hal yang saya yakini adalah ajaran-ajaran utama dalam agama saya justru bisa saya rasakan efeknya di negara se”kafir” Irlandia hahaha .

Ring of Kerry Ireland by Dani Rosyadi
Irlandia, pic by : Dani Rosyadi

Remember, there are things that money can’t buy. Termasuk bisa terus berada dekat dengan keluarga tercinta, sesuatu yang menjadi dilema terbesar bagi perantau seperti kami-kami ini .