Atheisme dan Agama, Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada? (2)

Tan Malaka, tokoh komunis garis keras, lahir dan besar di Ranah Minang. Seperti layaknya pemuda-pemuda Minang, Tan Malaka juga tumbuh dalam dekapan agama Islam yang kental. Boleh dijabanin, Kakaaaaa, biografi beliau yang sudah mulai banyak menghiasi rak-rak toko buku setelah sekian lama rezim Orde Baru berusaha “menghilangkan” kiprah pentingnya dalam sejarah perjuangan bangsa di era sebelum kemerdekaan.

Tidak hanya Tan Malaka, tanah Minangkabau juga banyak melahirkan politikus/sosialis/budayawan yang pemikirannya berpaham kiri atau cenderung sosialis. Dimana sosialisme adalah akar utama dari pemikiran komunisme.

Atheisme dan agama
Gambar : merdeka.com

“Panduan komunisme” yang konon sebagian besar berasal buah pemikiran Karl Marx dalam “Das Capital”.

Karl Marx pula yang mempopulerkan istilah, “Religion is the opiate of the people.” Bagaimana menghubungkan atheisme dan agama ini sebenarnya?

Menurut Marx, agama yang paling sering menjadi penyebab utama pembantaian, peperangan besar dan juga candu yang bisa membungkam kaum miskin untuk melakukan perlawanan.

Mari coba menengok sedikit masa kecil Stalin, salah satu orang besar yang pernah membawa kejayaan komunisme abad 20 di tanah Eropa.

Stalin lahir dan besar di Kota Georgia. Kemiskinan menjerat keluarganya ditambah lagi ayahnya seorang pemabuk dan suka memukuli anggota keluarganya. Ibunya berkeras agar Stalin masuk ke sekolah agama dan berharap Stalin akan menjadi pendeta.

Stalin pernah bertanya kepada ibunya mengapa banyak orang miskin melarat sementara ada juga yang hidupnya sangat mewah. Ibunya tidak memberi jawaban memuaskan dan menyuruh Stalin berhenti memikirkan hal-hal yang tidak penting dan fokus belajar agama saja.

Namun, Stalin sering melihat orang tuanya bertengkar hebat gara-gara tidak punya cukup uang. How ironic.

Mari kita hubungkan juga situasi Eropa saat itu dengan biografi lain yang pernah saya baca. Biografi dari Florence Nighthingale. Berbeda dengan Stalin, Florence terlahir dari keluarga sangat berada. Hidupnya sangat menyenangkan. Tinggal di rumah bak istana dan memiliki banyak sekali pelayan-pelayan yang siapa bekerja untuk keluarganya siang dan malam.

 

Florence tergugah setelah mendapati dunia lain di luar kemewahan yang dijalaninya sejak lahir. Bahwa ternyata ada keluarga-keluarga miskin yang merelakan anak-anak mereka menjadi pelayan dengan gaji sangat kecil untuk bekerja hampir sepanjang hari.

Hatinya sangat sedih. Dalam buku hariannya, Florence sempat mengeluhkan peranan Gereja. Saat itu, dia merasa gereja tidak berdaya dan malah menenangkan kalangan miskin dengan iming-iming surga di kehidupan mendatang jika tabah menjalani hidup penuh penderitaan tersebut. Bahwa kemiskinan adalah takdir yang tidak bisa dibantah.

Napoleon Bonaparte pernah menjabarkannya sebagai, “Religion is what keeps the poor from murdering the rich.”

Inilah sebenarnya hal yang sangat ditentang oleh Karl Marx. Marx tidak suka kepada kalangan penguasa. Yang dianggapnya memanfaatkan agama untuk melakukan penekanan dengan membujuk-bujuk kaum tertindas dengan rayuan palsu khas agama. Pasrah, pasrah, pasrah untuk surga, surga, surga.

Sebaliknya, Marx juga menyindir bahwa agama bisa digunakan untuk pembunuhan massal. Layaknya candu, “Good people can do good and bad people can do evil. But for good people to do evil — that takes religion”. Istilah ini diperkuat oleh pernyataan Steven Weinberg.

Atheisme dan Agama

Tidak perlu banyak alasan dan buang jauh-jauh semua rasionalitas dan logika berpikir yang sehat, “Nothing can be more contrary to religion and the clergy than reason and common sense.” Francois Marie Arouet (Voltaire)

Terus terang, saya berdesir juga membacanya. Karena saya ingat salah satu misteri kelam pasca Gestapu 1965 silam. Sebagian sejarawan mengklaim kesuksesan Orde Baru membabat habis jutaan jiwa kader dan simpatisan PKI waktu itu adalah dengan menebarkan ketakutan via propaganda agama.

Saya rasa, di era Jokowi pun, belum akan ada yang berani mengungkap kenyataan yang perih ini. Sementara, gema propagandanya berbunyi jauh lebih kuat sampai sekarang :'(.

Saya mencoba mengobrol ringan dengan ibu mertua dan ibu saya. Mereka berdua dari 2 wilayah berbeda dan keduanya di luar Jawa. Satu di Sumatera satunya lagi di Sulawesi.

Jawaban mereka mirip. Suasana justru jauh lebih mencekam pasca peristiwa Gestapu-nya. Orang-orang banyak yang hilang mendadak. Kata ibu saya, saking takutnya, orang menutup lubang-lubang WC dan buang air di atas nampan karena ada kepercayaan, orang-orang itu ditarik dari bawah saking misteriusnya mereka yang hilang dan tidak pernah kembali lagi :(.

Mungkin karena PKI memang hanya besar di Jawa saja. Tapi pembasmiannya menyebar jauh hingga ke ujung terluar Nusantara. Propagandanya secara kontinyu didengung-dengungkan ke seluruh wilayah tanah air.

Lantas, salahkah jika kalangan atheis makin tumbuh subur :(. If we’re speaking about atheism, please stop thinking that they hate moslem (only). Atheisme pada dasarnya tidak percaya pada Tuhan dalam agama mana pun.

Salah satu tokoh atheis modern terkini yang sudah beberapa kali saya tonton videonya adalah Sam Harris. Harris berpendapat, “Tidak akan ada kedamaian secara universal jika agama masih dibiarkan ada.”

 

“Religion is fundamentally opposed to everything I hold in veneration – courage, clear thinking, honesty, fairness, and, above all, love of the truth.”
Henry Mencken

Untuk poin fairness, Harris punya banyak bukti-bukti konkrit. Ampun dah, tokoh-tokoh atheis ini memang pola pikirnya setajam silet.

Ada satu pertanyaannya yang cukup menohok, “Kita ambil contoh agama Islam. Religion of peace they said. What peace? Di mana? Timur Tengah? Di mana mereka yang sebenarnya punya kekuatan ekonomi yang baik tapi masih mempekerjakan orang dengan upah sangat kecil. Religion of peace. Of course, it’s a peace for people with lots of money!”

Dia melanjutkan, “Saya terkejut jika kalangan Islam selalu mengklaim diri mereka menentang perbudakan. Bahwa ajaran tertinggi mereka adalah manusia semua sama. We, western, are so over it. Lincoln fight for slavery since long-long before. They’re still practising it now. Perhaps … using another form.”

“Mereka mengaku sangat menjunjung tinggi perempuan. But look at them. Mereka melarang perempuanya bersekolah. Mereka melarang perempuannya keluar rumah. Mereka bahkan bisa mengancam mereka untuk bersedia dipoligami dengan ayat-ayat Tuhan. God can make woman stop being cranky if their husband want to marry another woman. Another woman who is much-much younger and perhaps prettier than them. Even if they cried and hurt that much, religion will give them a simple solution. Heaven. That simple.”

“Untuk kasus perkosaan, mereka akan menyalahkan perempuan yang tidak menutup sekujur tubuh dan wajahnya dengan kain yang sangat besar. Anyone who refuse to do that … go to hell fire!”

“Mereka berbicara tentang keadlian. Tapi tentu saja keadilan untuk agama mereka masing-masing. Mereka hanya ribut jika kekerasan menimpa agama yang mereka anut. Other than that, they will blame something else!”

Ini catatan penting juga buat kita kaum beragama. Tempo hari saat ramai kasus Rohingnya, ada karikatur yang menghina Dalai Lama, apakah kita bisa sebegini ributnya? :'(. Maklumlah, umat Budha kan minoritas di Indonesia.

Soal Charlie Hebdo saya malah baru tahu gara-gara ada peristiwa penembakan di kantornya. Sementara karikatur Dalai Lama itu muncul di wall saya, di depan mata saya.

Kalangan atheis menuduh kalangan agama hanya membuat nilai-nilai kemanusiaan secara universal menjadi angan-angan saja. Mereka berpikir Tuhan dari setiap agama secara egois menakut-nakuti jemaahnya dengan neraka dan mengiming-imingi surga bahkan bagi kejahatan sekejam apa pun asalkan itu dilakukan demi menegakkan agama. Candu yang sungguh berbahaya bagi kelangsungan umat manusia.

“You don’t need heaven or hell just to give some money to the poor. You don’t need heaven or hell just to help others. You don’t ask about someone’s religion if somebody called for your mercy. Simply because we are human!”

Setahu saya, dalam alquran, banyak sekali perintah untuk berpikir dan berilmu. Alquran juga tidak pernah menganggap murah nyawa manusia. Tidak ada yang bilang, kalau dia bukan muslim, ya udah bunuh sajalah. Tidak pernah! :).

Yang harus dilawan adalah kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh SIAPA PUN. Tuduhan bahwa Islam menyuruh umatnya membenci etnis tertentu juga sama sekali tidak berdasar!

Monggo bantu dicek, dalam hampir semua ayat-ayat tentang perintah untuk beriman selalu disertai dengan “mengerjakan kebajikan” atau “berbuat kebaikan” atau “berbuat baik”. Iman tanpa kebaikan itu … tidak ada :).

Setahu saya tidak pernah agama memerintahkan kita untuk mengesampingkan kemanusiaan atas nama agama. Terbalik banget kelessss hehehehe. Justru setahu saya, Allah selalu menegaskan kepada semua nabi, termasuk kepada Rasulullah SAW. Kira-kira isi ayat-ayat tersebut begini, “Kamu hanya sebagai pemberi peringatan. Sisanya serahkan pada Kami/Ku.”

Jadi, tidak pernah rasanya ada perintah, “Kalau gak mau nurut, bunuh saja! Kalau enggak mau khilafah, bom saja!”

Tidak ada itu :).

Tuntunan muamalah (hubungan sesama manusia) dalam alquran itu justru sangat banyak dan cukup detail.

Poligami pun bisa salah kaprah di mata umat lain karena sejatinya poligami BUKAN bawaan Islam. Lagi-lagi terbalik. Islam justru mencoba membatasi karena kondisi umat saat itu, menikahnya ampun-ampunan, Jek. Bisa sampai belasan kali!

Itu pun syaratnya berat. Harus adil. Praktiknya yang memang sering ‘aneh-aneh’ dan justru mencemari teori aslinya yang sangat indah dan bentuk penghormatan kepada kaum perempuan :).

Poligami sebaiknya diambil karena kondisi darurat saja. Kalau pun ditempuh berdasarkan nafsu, ya tetap sah. Tapi tolong, jangan berlindung dibalik sunnah atau amal saleh atau membawa-bawa surga :). Masalah ini juga erat dengan budaya. Di mana budaya kita misalnya di Indonesia kan memang monogami :).

Bedakan dengan Arab Saudi yang kondisi masyarakatnya sudah biasa menghadapi kasus poligami. Jangan memaksa Indonesia untuk mengadopsi hal-hal seperti itu atas nama amal saleh bla bla bla ;).

Ini juga sih karena kita kebanyakan berkaca pada kondisi umat di Timur Tengah :). Ke mana semangat rahmatan lil aalaminnya? Jika hendak membuat seluruh wajah Islam menjadi satu budaya yang kaku dan berpatokan pada satu ras tertentu? :).

Makanya tak heran, jika kalangan atheis modern macam Sam Harris tuh dikit-dikit Timur Tengah dikit-dikit Timur Tengah. Coba dong tengok Malaysia dan Indonesia ^_^. Yang juga mayoritas muslim tapi punya kehidupan sosial yang sangat jauh berbeda dan lebih heterogen dalam keberagaman.

Sori-sori saja, hidup berdampingan dengan umat lain tidak perlu membuat kami jatuh dalam perang saudara berkepanjangan. Semoga selamanya bisa begitu, ya, Allah :).

Tapi hey, mungkin kita juga bisa berkaca, jangan-jangan kita pun begitu :p. Dikit-dikit konspirasi, dikit-dikit konspirasi dikit-dikit Israel dikit-dikit Yahudi hehehehhe :p.

Kita menolak jika satu tindak kekerasan yang mengatasnamakan Islam dituduhkan kepada seluruh umat muslim di dunia. Tapi sebaliknya jangan-jangan kita pun gagal mengidentifikasi banyak problema sosial di sekitar sesuai akar masalahnya masing-masing. Paling enak memang nunjuk ke luar :p.

Urusan Rohingya tiba-tiba menjadi dosa umat Budha di seluruh dunia. Tiba-tiba menjadi konspirasi penghancuran Islam. Padahal ada fakta bahwa Bangladesh pun, yang sebenarnya secara fisik mirip dengan orang-orang Rohingya ini dan sesama muslim juga, menolak mengakui keberadaan mereka dalam teritori Bangladesh secara legal :). Banyak sekali masalah melatarbelakangi kasus ini selain masalah perbedaan agama semata.

Mungkin, mungkin lho ya, kita sebagai umat beragama memandang keTuhanan adalah hal yang jauh lebih tinggi daripada kemanusiaan. Padahal bukankah seharusnya percaya kepada Sang Khalik adalah penggerak utama kita dalam berbuat lebih banyak bagi kemanusiaan? Kita menghindari saling menyakiti karena kita tahu betapa Tuhan yang Mahatinggi itu adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dua sifat Tuhan yang dipilih sebagai pembuka dalam setiap surah dalam alquran :).

Agama tidak seharusnya membawa kita melupakan kemanusiaan. KeTuhanan seharusnya menjadi hal yang individual, hubungannya vertikal. Siapa yang berhak mengukurnya? Dengan mengetahui betapa luasnya kasih sayang Allah, apalah artinya kita yang hanya manusia seorang ini :). Bersikaplah rendah hati senantiasa. Itu harusnya jadi ciri khas orang yang percaya agama.

Sementara kemanusiaan adalah hal-hal yang bisa kita rasakan langsung akibatnya. Tempat dimana seharusnya prinsip-prinsip bisa berlaku secara universal tanpa perlu banyak cekcok dan adu mulut. Horisontal. Jauh lebih terukur dalam kapasitas ke-manusia-an kita.

Ganjaran luar biasa indah berkali-kali disebutkan dalam alquran untuk perintah semacam ,mengasihani kaum papa dan anak yatim. Islam pun menolak kemewahan karena efek sosialnya yang bisa sedemikian menyakitkan dan memicu masalah sosial lebih lanjut. Termasuk akhirnya membuat manusia mendewa-dewakan harta untuk kemudian dipamer-pamerkan karena keyakinan kita akan lebih dihargai kalau orang tahu kita adalah kalangan berada.

Kalau komunisme mencoba melawan hedonisme dengan paksaan, maka seharusnya agama adalah solusi yang lebih bijak dan menyejukkan :). Agama mengkritisi hedonisme atas dasar belas kasihan kepada sesama manusia yang kita tahu tak diciptakan seragam tajir semua :D. Tidak boleh dipaksa orang untuk tidak hidup mewah. Jangan!

Biarkan naluri manusia berbicara dan menghalangi mereka untuk terjebak dalam kemewahan secara ikhlas bukan karena diancam-ancam. Keikhlasan termasuk poin penting dalam mengamalkan perintah agama ;). Tuhan tidak menganjurkan yang instan-instan macam pemaksaan ala kaum komunis.

Kaum komunis menuduh agama menjadi sumber percekcokan. Lah, mereka sendiri hobi menebar teror dan membantai kubu yang tidak sejalan :p.

Biarkan manusia menyadari dan belajar sendiri dari pengalaman-pengalamannya bahwa kesederhanaan memang jauh lebih paten dan menguntungkan dalam menjalani kehidupan di dunia :).

Ini juga untuk menjawab mengapa alquran tidak sejak awal mengharamkan perbudakan. Allah Mahabijak Maha Penuh Perhitungan. Instead of memaksa dan mengancam umat manusia yang kala itu memang sudah terbiasa punya budak/hamba sahaya, Allah menjanjikan pahala yang sangat besar kepada mereka yang sanggup membebaskan seorang budak/hamba sahaya. Satu orang saja yang dibebaskan imbalannya luar biasa :).

Perhatikan tidak, metode “tobat” dari kesalahan tertentu, perintah pertamanya itu biasanya membebaskan hamba sahaya. Satu orang sudah cukup. Nomor 2-nya memberi makan 60 orang miskin. Nomor tiganya, kalau tidak sanggup, baru berpuasa 2 bulan berturut-turut. Atheisme dan agama, mengapa bisa bertolak belakang?

Siapa bilang agama tidak peduli pada kemanusiaan dan memuja-muja ritual individu semata? Tidak benar. Lebih diutamakan membebaskan hamba sahaya dan memberi makan puluhan orang miskin ketimbang puasa sendiri sampai 2 bulan berturut-turut sekali pun :).

Kaum atheis mengklaim orang beragama karena dasar ketakutan. Saking takutnya, disuruh apa saja pada manut lupakan logika lupakan akal sehat lupakan semuanya.

Sementara menurut mereka, berbuat baik itu sejatinya adalah buah cinta dan kasih sayang yang bisa dilakukan lintas agama asalkan masih sama-sama manusia. Jangankan kepada sesama manusia, perintah untuk menyayangi itu juga berlaku untuk hewan dan seluruh jagad raya sekitar kita :).

Bukankah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan membuat orang lain bahagia? Cara tercepat untuk berdamai dengan diri sendiri adalah dengan tidak menyakiti orang

Sanggup membuktikan tuduhan mereka keliru? Yuk :).

Bisakah kita semua
Benar-benar sujud sepenuh hati
Karena sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkan kau bersujud kepada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya?

(Chrisye, “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada”)

Salam rahmatan lil aalamin dari belahan barat Eropa ^_^.

-Jihan Davincka, a very-very-very proud moslem who also admires Mother Theresa/Mahatma Gandhi/Dalai Lama-

The True Legacy

“Prestasi orang lain itu harus terukur. Kita enggak bisa menilai dari apa yang baru/akan/hendak/sedang dilakukannya. Hasilnya yang penting. Kalau sudah ada hasil, baru bisa dibilang prestasi.” (Lupa baca di mana hihihi).

Ada benarnya. Tidak salah sama sekali.

Gambar : invertis.org
Gambar : invertis.org

Tapi mari kita menengok sedikit ke belakang. Saya ambil dua tokoh di dunia humanisme (biar netral) yang namanya masih bergema bahkan setelah bertahun-tahun wafatnya, Gandhi dan Bunda Theresa. Saya kebanyakan baca tentang India dan dengar cerita-cerita tentang India dari teman-teman di sini, nih, jadi ingatnya mereka terus hihihi.

Apa sih prestasi Gandhi? Kalian pikir India merdeka karena perjuangan Gandhi doang. Bahkan, menonjol pun tidak. Di sejarah India sendiri, masih banyak tokoh-tokoh lain yang dianggap lebih berpengaruh dan berdiri di garis paling depan dalam rangkaian panjang kemerdekaan Sang Negeri Seribu Dewa :).

Tokoh perdamaian kah Gandhi? Hm, enggak juga. Karena beliau justru terbunuh saat mencoba mendamaikan penganut Hindu dan kalangan muslim yang terus bertikai saat kemerdekaan telah direbut. Setelah Gandhi wafat, jadi langsung kelar seketika sentimen agama antara Hindu vs Muslim? Enggak juga, tuh.

Bunda Theresa yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kalangan miskin di India. Apa berhasil usahanya? Terhapus gitu penduduk miskin India? Jadi berkurang kah? Coba tengok langsung ke sana. Menemukan penduduk di pemukiman kumuh di banyak wilayah India itu … semudah membalikkan telapak tangan. Itu adalah fakta yang masih ada hingga sekarang. Jadi, mengapa kita harus mengenangnya? Prestasinya apa?

Memang, mereka berdua mungkin tidak pernah melihat perdamaian seluruh umat di negerinya dan pemerataan kehidupan sosial yang mereka perjuangkan mungkin lebih dari separuh hidup mereka.

Gandhi mengajarkan kita untuk melawan orang yang kita sakiti tidak dengan sama-sama menyakiti. He wanted us to (always) fight with love :’). Gandhilah yang selalu meyakinkan dunia, bahwa kekuatan terbesar di muka bumi itu adalah CINTA. CINTA kepada siapa pun. Konon, salah satu alasan Gandhi menjadi vegetarian karena rasa sayangnya kepada para binatang dan lingkungan :).

Gambar : webneel.com
Gambar : webneel.com

Bunda Theresa membuka mata kita terhadap kemiskinan. Tidak hanya dengan bikin fanpage (eh, belum ada ding! hihihi) atau tebar selebaran atau berceramah di atas mimbar. Perempuan kelahiran Albania ini, terbang jauh-jauh dari Irlandia setelah selesai sekolah agama, menuju India. Melihat maraknya kemiskinan di sana, hatinya langsung terikat. Di sanalah beliau berjuang hingga akhir hayatnya.

Dia tidak memaki-maki dunia atas ketidakpeduliannya. Dia tidak memaksa orang lain untuk menyumbang uang. Dia menggendong sendiri anak-anak kecil dari kawasan kumuh yang dilihatnya tumbuh liar tanpa orang tua. Dia membasuh sendiri luka-luka mereka. Luka fisik dan luka batin sekaligus :).

Awalnya bersama beberapa temannya. Akhirnya banyak relawan yang bergabung. Banyak yang tergugah dan ikut menyumbang. Meski sudah mendapat perhatian dari banyak pemimpin dunia dan dikelilingi banyak sekali relawan,Bunda Theresa tidak pernah menyerahkan tampuk kepemimpinan pada siapa pun dan tidak berhenti terjun langsung. Hingga di bulan September 1997, salah satu inspirator terbaik di abad ke-20 ini menghembuskan nafasnya yang terakhir dan membuat dunia berkabung.

bunda teresa

Kontroversinya juga minim kan? Karena mereka berdua inspirasi bagi amalan muamalah/kemanusiaan yang universal. Sesuatu yang sifatnya sanggup menembus dinding-dinding perekat sekuat agama sekali pun :).

Jadi sebenarnya ya, mengapa kita harus memaksa? Apa yang mau dipaksakan coba? Jika mimpi kalian adalah melihat dunia ini aman, damai, teratur, tidak ada perang, semua orang hartanya sama, minimal beda-beda tipislah antara si kaya, si menengah dan si miskin … itu tidak salah.

Jika kalian bercita-cita, ah, indahnya kalau semua orang masuk Islam. Sementara yang rajin ke gereja juga menyimpan keinginan untuk melihat seluruh dunia sapu bersih beragama Nasrani semua. Sah-sah saja.

Kalau kata Cak Nun, kalau orang Islam itu yakin Kristen yang benar, ya ngapain dia tetap memeluk agama Islam? Dan kalau orang Kristen yakin Islam itulah yang lebih mulia, ngapain tetap ke Gereja? Logika simpel begini lho, Kakaaaaa :p.

Kalau kata Bang Saief Alemdar, semua orang akan merasa bahwa masakan ibunya lah adalah masakan terenak di dunia. Tidak terbantahkan itu. Tapi ingat, tidak hanya kalian, semua orang juga begitu. Jadi, pujilah masakan ibu kalian di meja makan masing-masing.

Tidak perlu berkoar-koar tentang enaknya “Nasu Bale” bikinan ibunda tercinta pas lagi makan di rumah teman. Apalagi kalau teman kalian orang Batak. Karena nasu bale a.k.a pallu mara itu hanya ada di Sulawesi Selatan hihihihi :p.

Pesannya simpel kan, jangan memaksakan hal-hal yang kalian sudah tahu tidak akan pernah terjadi. Walau kebaikan di dunia adalah hal yang harus kita perjuangkan sama-sama, tapi ingat … hasil tidak sepenting yang kalian pikirkan ;).

Prosesnya yang lebih penting. Karena hal-hal yang kalian wariskan kepada dunia itu tidak hanya semata-mata prestasi yang katanya harus terukur itu. Siapa yang bisa mengukur prestasi Gandhi, Bunda Theresa, atau tokoh lokal seperti Bung Hatta? Bung Hatta cuma wakil presiden. Beliau memperjuangkan Ekonomi Koperasi tapi “kalah” oleh “ego” Bung Karno yang lebih ingin Indonesia ditakuti di dunia internasional?

I’m a big fan of both of them. Tapi dua-duanya manusia biasa, kok. Ada lebihnya, ada kurangnya :). Kalau Bung Karno mudah kita ukur prestasinya. Tapi Bung Hatta? Lebih banyak diam, berbicara aktifnya dengan pena di atas lembaran kertas, tak terlampau cakap berbicara menggugah semangat.

Ingat, kita tidak harus membuat dunia sejahtera, tidak harus membuat semua orang memeluk agama yang sama dengan kita. Tapi ingat, kita HARUS menjaga diri agar tidak membuat kerusakan. Tuhan pun berkali-kali mengingatkan bahwa Tuhan paling tidak suka dengan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Jadi, mengapa untuk hal-hal yang tidak wajib kita capai itu kita harus melanggar hal-hal yang justru wajib kita patuhi? Hasilnya yang tidak wajib lho, ya. Usahanya sih wajb. Makanya, selalu selaraskan usaha dengan ajaran-ajaran Tuhan yang lain :).

Dengan tidak menyakiti orang lain tidak merugikan siapa pun yang tidak ada sangkut pautnya. Bersikap adillah sekali pun benci sudah merasuki sekujur tubuh. Membenci itu wajar banget, tidak mungkin kita mau suka pada semua orang. Situ malaikat? :p.

Tapi menebarkan kebencian itu hal yang lain lagi teman-temanku :). Menebarkan kebencian adalah hal yang bisa kalian kontrol. Itu bukan sifat manusiawi. Kita pun sebenarnya tidak dilahirkan untuk membenci. Kita harus diajari untuk membenci. Tuh, untuk membenci pun sebenarnya bukan sifat alami manusia.

Gambar : minglecity.com
Gambar : minglecity.com

Apalagi menyuruh-nyuruh/memprovokasi orang lain untuk ikut benci dengan menebar hasad/dengki/berita bohong/ atau apa pun lah namanya. Walau setengah mati kalian bungkus dengan ayat Tuhan, mencoba berlindung di balik ajaran agama, hasad/dengki/berita bohong tetaplah hasad/dengki/berita bohong :). Bukan perbuatan mulia.

Saya ulang penggalan kalimat saya di tulisan “Rumours have it all” : Kalau kalian ngeyel bahwa pesan tulisannya bagus. Ingat saja, sebuah rumah yang kokoh pasti akan terbangun dari batu bata terbaik, semen yang berkualitas, pondasi yang kuat, dan bukan kayu yang abal-abal :). Tujuan mulia apa bisa tercapai dengan berita bohong/hasutan/dengki? :). Seperti air yang tak akan bisa bercampur sempurna dengan minyak. Begitu juga kebaikan vs keburukan ^_^.

Untuk apa sih? Kalau sedemikian terluka hati kalian, sedemikian sakit hati kalian, mengapa tidak mengadu kepada Sang Pemilik Hati? Hati-hati. Jangan sampai tergoda untuk berdoa yang buruk-buruk. Karena doa itu, apa pun isinya, bisa kembali kepada pemiliknya. Itulah mengapa kita selalu dianjurkan berdoa yang baik-baik. Supaya Tuhan juga selalu memberi kebaikan kepada diri kita sendiri :).

Jika sesak nafas saking bencinya pada sesuatu/seseorang yang rasanya sudah di luar kuasa kita untuk mengubahnya … maka berdoalah :). Berdoa yang baik-baik. Jangan menyakiti diri sendiri dengan prasangka buruk apalagi sampai harus memprovokasi orang lain untuk ikut berprasangka. Kalau mendoakan saja terasa sulit, setidaknya jangan berprasangka buruk apalagi menebarnya.

Jika mau dilawan, lawan dengan hal-hal yang benar :). Kekerasan dalam bentuk apa pun is so last year kalau kata abege sekarang ;). Lebih dari ribuan tahun lamanya, peradaban manusia berusaha saling menaklukkan via kekerasan, it never works that way. Tidak pernah berhasil. Bedakan dong antara qisas dengan balas dendam. Totally different. Dan bukankah memaafkan itu lebih baik bagimu? :).

You are what you do :). Itulah jejak yang akan kalian tinggalkan. Our true legacy. Semua jerih payah pasti akan terbayar. Tidak kurang satu sen pun, tidak akan lebih satu rupiah pun :D. Asalkan patokannya jangan hanya duniawi saja ;).

Kalau you are what you achieve, kasihan dong almarhum bapak saya misalnya. Apa pencapaiannya? Sampai meninggal pun, utang di bank tidak ada yang berhasil dilunasi. Anak-anak belum ada yang lulus. Boro-boro kios sukses, malah sampai rumah pun harus digadai demi bayar utang hehehe. Prestasi macam apa itu? 😀

But of course, we, his children, remember him in a very different way :). Kami menjadi saksi betapa kerasnya beliau berusaha semasa hidupnya walau hasil jauh dari harapan ^_^.

Makanya, hasil mah, itu urusan NANTI. Waktu yang akan membuktikannya. Siapakah Sang Pemilik Masa Depan dan Sang Penguasa Waktu? Maka hanya kepadaNya lah kita harus selalu berharap :).

Ngoceh panjang lebar mau menyindir siapa? Ya mau sentil diri sendiri lah hehehe. Salam damai, jangan ada yang sensi :).

***

Akidah atau Akhlak?

Saat Rasulullah pertama kali menyiarkan Islam di masa awal dulu, tentangan terbesar adalah dalam masalah akidah. Orang-orang lebih banyak mengkhawatirkan zona nyaman mereka yang terganggu dengan ajaran Nabi Muhammad.

Nabi-nabi lain sebelum Nabi Muhammad juga begitu. Umat yang diberi tahu masalah tauhid umumnya menolak dari segi akidah.

Lebih dari 1500 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, keutamaan akhlaknya terus dipuja-puja oleh ilmuwan barat sekali pun.

Beberapa tahun lalu saya membaca biografi “Sang Nabi” karangan Karen Armstrong yang jelas-jelas bukan seorang muslim. Armstrong menekankan sekali kesuksesan Rasulullah tidak lepas dari akhlaknya yang tak pernah meresahkan “siapa pun”, termasuk “pihak musuh”.

Salah satu yang dibahas yang sangat berkesan bagi saya adalah Perjanjian Hudaibiyah. Armstrong memuji ‘taktik’ Nabi Muhammad yang menurutnya tak akan lahir dari orang sembarangan.

Perjanjian Hudaibiyah (gambar: www.islam.ru)
Perjanjian Hudaibiyah (gambar: www.islam.ru)

Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas terlihat sangat berat sebelah dan merugikan kaum muslim mendapat kecaman keras dari kalangan para sahabat. Nabi Muhammad bergeming. Tekanan para sahabat, kebimbangan banyak umat tidak membuatnya mengubah keputusan yang sudah diambil.

Perjanjian dalam tempo waktu 10 tahun tetap dilaksanakan. Salah satu intinya, orang Madinah yang berkunjung ke Mekkah tak boleh kembali ke Madinah. Sementara orang Mekkah yang datang ke Madinah boleh bolak balik sesuka hati Mekkah-Madinah.

Wah, wah, pantas saja para sahabat banyak yang resah. Rasanya kok merugikan umat muslim di Madinah?

Hasilnya? Sebelum 10 tahun, Islam telah berhasil mengubah peta kehidupan sosial masyarakat Mekkah . Begitulah awalnya peristiwa futuh Mekkah terjadi. Direbutnya Sang Kota Suci tanpa pertumpahan darah berarti. Istilah, dikuasai dengan damai. Damai, literally!

Apa sebab?

Masyarakat Madinah, walau pun heterogen hidup dalam naungan Islam dan berjalan dalam perangkat Syariah Islam yang memang terkenal dengan jargon “rahmatan lil aalamiin” nya . Jangan dikira di Madinah semua orang dipaksa untuk memeluk akidah Islam. No, no. Sistemnya Islam, tapi suka-suka situ mau ke sinagog atau ke gereja 😉.

Akhlak para penduduk Madinah berhasil mencuri hati mereka yang di Mekkah. Kalau sudah ke Mekkah, orang Madinah kan enggak boleh pulang lagi, harus bermukim dan berbaur di sana. Di Mekkah inilah, orang-orang Madinah hasil binaan Rasulullah menunjukkan cara bermasyarakat yang mereka anut di Madinah sana.

Gambar : www.albabuldiin.com
Gambar : www.albabuldiin.com

Perlahan dan pasti, penduduk Mekkah mulai melupakan kebencian pada kaum muslim yang dulu mereka anggap tengah berusaha menghancurkan kepercayaan nenek moyang. Mereka melihat saudara-saudara mereka yang dulu hijrah bersama Rasulullah tumbuh menjadi insan-insan saleh dan sama sekali tidak menakutkan seperti yang mereka sangkakan. Tak ada dengki tak ada paksaan. Kesejukan malah yang didapatkan.

Demikian pula orang-orang Mekkah yang datang ke Madinah, terpukau dengan sistem kemasyarakatan yang “islami” ini . Mereka pun kembali ke Mekkah dan menceritakan betapa asoynya kehidupan di Madinah.
Sungguh taktik yang luar biasa. Salawat dan puji-pujian bagi Allah dan rasulNya 🙂.

CMIIW, ya. Mohon dibetulin kalau ada yang salah. Siapa tahu referensi saya kurang tepat hehe.

Antara Madinah dan Mekkah di masa lampau sungguh kontras dengan kehidupan umat muslim di masa terkini.

muhammad karen armstrong

Yang pernah ramai adalah wawancara Bill Maher dan Sam Harris yang juga mengorbitkan nama Ben Affleck sebagai pembela muslim. But sorry to say, setelah lihat interviewnya…anu…Ben Affleck agak-agak gak nyambung sih emang hehehe. Raise your knowledge Ben, not your voice :p.

Fokus ke pendapat Sam Harris dulu, yuk. Keresahan Bill Maher dan Sam Harris justru pada kelakuan umat Islam ekstremis yang mereka klaim sebagai ‘kelakuan mayoritas’ umat muslim. Hm, saya enggak punya datanya. Jangan-jangan benar itu, tak sedikit dari kaum muslim yang diam-diam bersorak memberi semangat kepada kaum ekstrimis itu? 🙁.

Beberapa situs “islami” di Indonesia menobatkan beberapa pelaku pengeboman bunuh diri di tempat sipil sebagai “pahlawan”. Zzzzzzz -_-.

Tapi seorang narasumber satu lagi mementahkan anggapan itu dengan menuduh media-media internasional yang terlalu gencar memberitakan sisi negatif kaum muslim. Tapi kemudian ada sebuah komentar di videonya yang bikin dada sesak “…kalau mereka mengklaim itu hanya orang-orang tertentu yang ekstrimis lalu mengapa tak ada yang lantang menentangnya? Sisanya kok diam saja? Their silence is deafening.”

Ya gimana dong, kalau kita tentang kebrutalan mereka, kita pula yang dibilang liberal-sekular-anu-anu-anu :p.

Apakah kita tidak terganggu jika dulu Rasulullah memperjuangkan akidah sekarang malah siapa yang ngomongin akidah Islam? Karena aksi terorisme-nya bergema lebih kuat? Belum masuk ranah akidah, orang lain sudah dibikin takut dengan akhlak orang-orang yang (katanya) memperjuangkan akidah ini.

Katanya, Islam itu membunuhi siapa pun yang dianggap kafir. Memang benar lho. Ada yang menganggap kita harus berperang (literally, berperang) melawan fitnah. Fitnah terbesar = kemusyrikan, musyrik = bukan agama Islam. Pingsan gak lo? -_-.

Sebuah situs dengan lincah mengumpulkan ayat-ayat dalam alquran yang ditengarai sebagai perintah Tuhan bagi kaum muslim untuk bunuh-bunuh-bunuh. Sekitar 209 ayat. Padahal alquran terdiri dari 6 ribuan ayat.

Fokus pada ayat-ayat yang turun saat peperangan fisik terjadi lantas bagaimana dengan Al Mumtahanah (surah ke-60, juz 28)? Ayat 8 dan 9-nya sungguh sejuk dan sangat mudah dipahami.

Komentar-komentar di video juga bagus sebagai bahan kita berkaca, “Islam itu memang agama yang paling beda. Kita harus ikut mereka. Untuk masuk surga, kita harus membunuhi banyak-banyak orang kafir. Orang kafir ya orang yang enggak percaya sama ajaran agama mereka. Bayangkan, mereka hidup di dunia, mengejar surga dengan cara kekerasan. Dan mereka mengklaim agama mereka sebagai agama perdamaian. It’s really hard to understand that thing. Or is it just me?”

Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris (gambar : theguardian.com)
Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris (gambar : theguardian.com)

Susah mau membela diri kalau tahu ayat-ayat alquran saja kita tidak. Jika diberondong dengan ayat-ayat kekerasan, jangan-jangan sebagian dari kita juga bingung hihihihi. Iya ya, alquran nyuruhnya bunuh-bunuhin orang euy. Hehehe.

Insya Allah, alquran itu menyimpan banyak sejarah masa lampau untuk kita belajar dan berkaca bukan untuk menghakimi siapa pun. Mengurai keutamaan tauhid dan iman sekaligus menjabarkan keutamaan akhlak dan tingkah laku.

Perhatikan saja, banyak sekali ayat yang diterjemahkan sebagai… “Beriman dan berbuat kebaikan”, “beriman dan beramal baik”, “beriman dan menganjurkan untuk memberi makan kaum miskin” pokoknya iman selalu disertai dengan perbuatan baik.

Tak berarti iman dan tauhid nomor 2 atau tidak penting. Enggak gitu ya. Semuanya penting. Justru kita ini yang sering mengesampingkan urusan muamalah. Ah, ndak penting-penting amat lah itu. Sing penting syahadat-salat-zakat-puasa. Beres. Surga di tangan.

Apa kita tidak terusik jika makin ke sini umat muslim ditakuti justru karena tingkah lakunya? . Boro-boro mau menerangkan tauhid, makna zakat, qurban, berpuasa, kalau belum-belum mereka sudah merinding duluan melihat penampakan dan aksi-aksi kita?

Sama-sama kita buktikan bahwa kehadiran umat muslim seharusnya selalu membawa kesejukan, kedamaian, keadilan, kesejahteraan pada sekitarnya. Sesuai pakemnya, Islam … rahmatan lil aalamiin, rahmat bagi seluruh umat manusia. SELURUH. Bukan buat umat muslim doang toh ya ;).

 

Naik Haji, Antara Ibadah Horisontal dan Vertikal (Info Haji)

Sewaktu masih tinggal di Jeddah sempat ada kasak kusuk pro dan kontra mengenai beberapa rekan di sana yang naik haji saban tahun. Sebenarnya ada aturan di Saudi naik haji hanya boleh 5 tahun sekali. Tapi kan, kita-kita yang di Saudi punya satu keistimewaan khusus soal naik haji ini. Bisa haji koboi, Kakaaaaa 😉. Sekian sedikit info haji tentang hajian dari Jeddah :D.

Oh well, I’m against Haji Koboi actually . Definisi ‘haji koboi’ di sini adalah naik haji tanpa Tasrikh/surat izin resmi dari pemerintah Saudi untuk naik haji. Kalau haji backpacker tapi tetap dengan izin resmi monggo saja, asal bawa kantong plastik sampah sendiri pliiiiiiiisssssssssssssssss… -_-.

Gambar : news.liputan6.com

Apalagi jika dilakukan oleh orang-orang kalangan berada for the sake of the … challenge and seru-seruan! Hahhahahaha. Dikata liburan kali yeeee :p.

Kalau yang melakukannya dari kalangan kurang mampu pun sebenarnya kurang bisa ditolerir. Mengingat pemerintah Saudi sudah berusaha keras menyediakan macam-macam fasilitas naik haji bagi pemukim dengan biaya yang terjangkau .

Alasan lain para koboi ini ya karena itu tadi, pengin naik haji berkali-kali. Tiap tahun kalau bisa. Menjadi kebanggaan tersendiri kadang-kadang.

Salah satu rekan yang bertitel “alumni haji koboi” juga berkilah, “Salah pemerintah Saudi kenapa dibatasin? Emangnya tanah suci punya dia. Suka-suka umat muslim dong. Lagian tasrikh itu bukan rukun maupun syarat naik haji.”

Baiklah kalau begitu, tahun depan dan seterusnya, quota hajii enggak usah diberlakukan . Biarlah seluruh umat muslim dari seluruh penjuru dunia tumplek di Mina-Arafah saban tahun. Ngomong-ngomong berapa ya jumlah umat Islam di dunia? Hm, mungkin wilayah Mina itu seperti karet. Bisa melar otomatis kalau banyak yang datang hahaha . Dan mengecil kembali kalau jemaah sudah pulang. Bukan sulap bukan sihir ya Kakaaaaa 😀 😀 😀.

Sebagian teman yang kontra melihatnya dari berbagai sisi. Salah satunya dari sisi materi. Kalau saya pribadi, urusan materi gak masalah. Suka-suka orangnya saja, duit ya duit dia ya hehehe. Tugas sesama kan cuma memberitahu dan mengingatkan. Enggak ditanggapi? Stop sampai di situ. Itu sudah di luar kuasa kita ^_^.

Tapi saya pribadi, kalau ada rezeki dan kesempatan, pasti tak berpikir dua kali untuk memberikannya pada yang belum pernah (dan kalau bisa belum mampu secara materi). Insya Allah 🙂.

Concern saya memang lebih ke arah kapasitas Mina dan Arafah itu sendiri. Aturan “tasrikh naik haji” kalau gak salah merupakan peraturan baru. Baru berlaku di awal tahun 2000-an. Alhamdulillah ini tanda bahwa umat muslim makin berkembang sehingga saking banyaknya, pemerintah Saudi merasa perlu memberikan batasan bahkan kepada warga/pemukim Saudi sendiri 🙂.

100% saya sepakat dengan pemerintah Saudi . Lagian 5 tahun sekali ya cukuplah ya 😉.

Info Haji

Mina itu mau diperlebar sampai ke mana lagi? Daya tampungnya pasti terbatas. Walau sebagian teman menganggap itu kuasa Allah, seberapa banyak pun jemaah pasti cukup! Ya balik lagi, hapus sajalah quota kalau begitu.

Masjidil Haram di Mekkah pun memangnya mau sampai kapan mau diperluas dibikin bertingkat sampai berapa juga kalau tak ada kesadaran dari umat muslimnya sendiri untuk ‘berbagi’ ya enggak akan pernah terasa lapang . Memangnya kita berharap umat muslimnya yang akan berkurang?

Setuju dengan ide Doni Febriando, seharusnya program ONH Plus dihapus saja. Diganti dengan ONH Kemanusiaan. Pemerintah sebaiknya menggalang dana saja untuk memberangkatkan haji bagi mereka yang sudah berumur. Masa iya usia sudah 60 an harus mengantre sampai 10 tahun? Ajegileeee hahahaha. Ya makanya, naik haji dari muda dong. Ya situ kasih duitnya dong, bisa? .

Perketat pula jatah naik haji seperti di Saudi. Utamakan bagi yang belum pernah. Jangan malah instansi terkait dan oknum-oknum yang punya ‘kuasa’ malah sibuk menggunakan jatahnya untuk keuntungan pribadi.

Antara wilayah Mina dan Musdalifah sendiri sekarang ya sudah rancu. Makanya, ada juga teman-teman saya di sana yang kalau memilih biro haji mereka tanya dulu lokasi tendanya. Mereka termasuk yang disiplin dalam urusan batas wilayah. Ini memang pendapatnya terbagi-bagi.

Saya sendiri saat naik haji 2012 silam kebagian di wilayah ‘abu-abu’. Mina iya, musdalifah iya hihihi. Jadi, saat acara bermalam di Musdalifah dan Mina ya kita tetap dalam tenda saja enggak ke mana-mana. Ada juga rekan satu hamla yang disiplin. Mereka benar-benar pasang peta dan mencari batas wilayah Mina dan Musdalifah yang sah. Mereka gotong kantong tidur dan berpindah sesuai ketentuan apakah harus di Mina atau Musdalifah.

Tak masalah, ya. Kesepakatan ulama Saudi sendiri memang tidak satu suara 😉. Salam damai ^_^.

Kompleks jemaah haji di Mina
Kompleks jemaah haji di Mina

Urusan umrah juga begitu. Saat saya tahu tanah suci lagi padat-padatnya, saat masih di Jeddah dulu, saya memilih menahan diri untuk tidak ke wilayah Haram . Biarin dah dinyinyirin kenapa sudah tinggal di Jeddah kok enggak umrah sebulan sekali? Hehehe. Kalau suami tetap rajin, saya memilih di rumah saja sama anak-anak .

Sebagai pemukim Saudi, saya sungguh beruntung dianugerahi masa-masa di mana tanah haram lagi sunyi-sunyinya. Bisa menikmati tawaf 10 menit sambil bolak balik menyentuh Ka’bah, minum air zam-zam dengan tenang, Safa-Marwah sangat lengang, alhamdulillah .

Tawaf pagi-pagi, cari parkiran pun gampang. Sehabis tawaf masih bisa bersantai sejenak menunggu waktu Zuhur. Usai Zuhur, lunch deh di Shofwa Tower di gerai makanan Malaysia favorita kami . Gak pakai antre, duduk manis sambil mengobrol imut sama suami . Menjelang waktu Ashar, masuk lagi ke wilayah Haramain untuk salat. Serba santaiiiiiii. Kosong, Cyin .

Sebisa mungkin, saat banyak jemaah yang datang jauh-jauh dari seluruh penjuru dunia, kalau tak ada sesuatu yang kepepet, saya menghindari datang ke tanah suci (Mekkah dan Madinah). Kehadiran kita-kita pemukim Saudi yang sebenarnya bisa melaksanakan umrah di waktu-waktu ‘kosong’ tadi kan seharusnya tidak perlu merampas jatah lowong jemaah yang datang jauh-jauh dari belahan dunia lain untuk ikut menikmati syahdunya beribadah di tanah suci .

Malah ikut-ikutan bikin sesak di sana hehe.

Umrah berkali-kali (mungkin) memang bagus. Tapi ya, dalam Islam, ibadah vertikal dan horisontal sangat dianjurkan keseimbangannya .;) Menurut saya begitu, anda boleh beda 😀.

Suami saya juga beda, kok. Dia lebih suka rutin ke Masjidil Haram. Katanya lebih afdol salatnya. Wah, saya insya Allah di mana saja salat harus terasa afdol. Asal khusyuk. Di mana pun kita bersembahyang, bumi Allah sungguh luas ^_^.

Info Haji
Jalan Menuju Arafah dari Mina

Kalau menurut beberapa teman ya aji mumpung tinggal di Jeddah, ayooo ke Mekkah sering-sering. Justru karena saya tahu nikmatnya beribadah di tanah suci jika jemaah tidak terlalu sesak maka saya relakan jatah kemudahan saya ke tanah suci kapan saja agar yang datang dari jauh pun mudah-mudahan bisa merasakan hal yang sama .

Kalau ada rekan/teman/kerabat yang mampir Jeddah, baru kita jemput dan ajak keliling-keliling . Terus traktir makan deh .

But again, ini menurut pendapat pribadi enggak pakai dalil-dalilan hahahaha. Tentu, yang berpendapat berbeda tetap saya hargai .

Walau memang ujung-ujungnya ini hanya masalah takdir, katanya kan kalau Allah sudah berkehendak pasti akan kejadian. Betul itu.

Tapi jadi ingat dengan ayat satu ini, kalau tidak salah penolakan seorang kafir untuk memberi makan kepada orang miskin dengan alasan, “Mengapa saya harus memberi makan kepada orang dimana jika Tuhan berkehendak Tuhan bisa memberinya makan?”

Lantas, “Mengapa kita harus memikirkan jatah naik haji bagi yang belum kepada orang dimana jika Tuhan berkehendak Tuhan pasti memberangkatkannya untuk naik haji?”

Memang, kalau Tuhan mau, semua juga bisa naik haji tahun ini. Kalau Tuhan mau, Mina dibikin semacam magic, bisa melar dan menyempit lagi sesuai banyaknya jemaah hihihi. Kalau Tuhan mau, semua umat muslim kaya, tak ada mazhab yang bikin kita berantem, yang bikin kita pusing kenapa si anu jilbabnya sampai lutut kenapa si ana jilbabnya cuma sampai leher?

Disitulah rahasia Tuhan. Tuhan memberi kita pilihan. Tuhan menganugerahkan perbedaan. Lho kok anugerah? Iya dong, orang miskin memangnya maunya dia? Dalam tempo sedetik, Tuhan bisa membuat mereka kaya. Tapi Tuhan baik, dia memberi kesempatan pada mereka yang berpunya untuk berbuat kebaikan. Dan memberi kesempatan pada mereka yang diberi kesempitan untuk bersabar.

Tapi hikmah ini memang hanya untuk yang mau berpikir dan beramal saleh saja memang kata ayat-ayat dalam alquran hehehe. Semoga dimampukannya kita untuk termasuk dalam golongan ini, ya. Saya, anda, dan kita semua . Amin, amin, ya rabbal aalamiin.

Info Haji
Padang Arafah

Tapi, intinya Tuhan memberi keterbatasan dan kelebihan selalu ditujukan untuk kesabaran. Sabar menjalani dan sabar untuk tidak pamer/bermewah-mewah . Jangan salah, yang sering gagal itu justru yang dikasih lebih-lebih . Hukum alam. Yang harus kerja keras itu justru yang kelihatannya diberi kelebihan. Kelihatannya doang. Padahal, semua juga cobaan yak :D. Hehehe.

Percaya pada Tuhan, berarti tak menafikan kemanusiaan ;). Kalau dijalankan dengan benar, Islam itu memang solusi banget deh pokoknya hehehe.

Karena sejatinya, umat muslim itu beriman dan mengerjakan kebaikan :). Ingat dong, kata kuncinya … Islam, Rahmatan lil aalamiin. Rahmat bagi seluruh penjuru dunia yang isinya macam-macam ini. Tidak terbatas pada umat muslim saja. Kita adalah solusi bagi sekitar.

Jadi, mau naik haji berapa kali nih? Hahahhahaha. Santaiii…naik haji berapa kali pun, antara saya dan anda tak boleh terputus tali silaturahmi ;). Haram hukumnya memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan 😀 –> nasihati diri sendiri ini sih harusnya! Hahhaha :p *sodorinKaca*.

***

Tanggal 7 Dzulhijjah tahun ini. Sebagian besar biro haji lokal Saudi akan memberangkatkan jemaah serentak via bus menuju Mekkah. Masih teringat, tiba di Kudai pukul 10 malam saking macetnya dari Jeddah ke Mekkah. Saran saya, apa pun yang terjadi, usahakan langsung tawaf Qudum dan sa’i ya teman-teman. Kalau gak keburu tawaf Ifada, tinggal digabungkan ke tawaf Wada saja. Insya Allah, hukumnya boleh :).

INfo Haji
Tempat melontar jumrah

Selamat menunaikan ibadah haji untuk sahabat-sahabatku tercinta di Jeddah sana. Friendship never ends, ya, cantik-cantikku. Untuk Madam Anggie Mutia, Madam Nisa Ayu dan Mbak Yuli Karim …

Untuk teman di dunia maya, salah satu pahlawanku urusan resep walau sekarang site resepnya lagi maintenance melulu nih :D. Untuk Mbak Astri Merianti Nugraha + suami, yang berhaji dari Canberra.

Untuk teman di FB, Ibu dokter imut Sasqa Dyah, yang dari kemarin upload foto melulu bikin kangen deh awwwww hihihihi.

Untuk temen SMP, dan ternyata ketemu lagi di kampus yang sama, Aditya Hananto yang juga baru saja walimahan, nih :D. Apakah berumrah dengan nyonya sekalian? Masya Allah, bulan madu di tanah suci :D.

Semoga dilancarkan semuanya, sehat selalu lahir batin, untuk selanjutnya menundukkan diri di hadapan Allah, bersama jutaan jemaah dari segalal penjuru dunia, saat wukuf di Arafah 9 Zulhijjah esok nanti.

Labbaik Allahumma Labbaik, adalah kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah.
Labbaika la syarika laka labbaik, tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
Inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulka la syarika laka, sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Hajj mabruran, hajj mabruran, hajj mabruran untuk kalian semua … insya Allah, insya Allah :).

Selamat bertugas pula pada suami para Madam Telco yang kebagian ‘jaga kandang’ pas ‘peak season’ nanti. Eh, sudah mulai ya shift-shift-an nya hihihihi. Insya Allah, ada pahala khusus juga tuh. Ikut membantu kelancaran para jemaah berkomunikasi dengan handai taulan yang ditinggalkann di rumah masing-masing ^_^. Semoga lancar lemburannya ;).

Info Haji

 

How Islamic are Islamic Countries? (Bagian 2)

Ah ya,  bagi yang baru membaca  How Islamic are Islamic Countries? (Bagian 2) ini , bagian-1 dari tulisan dengan judul yang sama cek di sini, ya.

Beberapa waktu lalu, penelitiannya ternyata di-update. Kini, juara 1 nya coba tebak dari negara mana? Irlandia, Kakaaaaaa. Hihihi.

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)
Dublin – Irlandia

Salah satu teman saya di sini, ibu-ibu asal India, kaget sewaktu saya ceritakan hasil penelitian ini. Islam dari mananya?

Nah, sebelum banyak orang mengamuk-ngamuk tentang definisi “islamic” yang digunakan oleh sang peneliti, mending kalian googling dulu paper aslinya dan lihat baik-baik indeks yang digunakan sang peneliti untuk menjabarkan hasilnya :).

Saya juga bingung sih kalau ditanya mengapa salat-puasanya tidak dinilai?
Umm…cara menilainya bagaimana, ya? Hehehe.

Perlukah kita pasang CCTV di tiap rumah untuk mengontrol salat masing-masing warga muslimnya? Atau mereka dibagi-bagikan buku absen satu persatu? Jaminan kalau mereka jujur? Perlu kita pasang dalam hati tiap warga “alat pengecek keikhlasan dan ketulusan”?

Itu baru salat. Kalau puasa? Lebih rempong lagi kan? Hehehe. Kita akan sulit mengetahui seseorang itu puasa atau tidak secara tampilan fisik dan kegiatan sehari-hari saja. Seringnya, kita hanya tahu orang lain berpuasa itu kalau orangnya yang mengaku.

Sepengetahuan saya pula, puasa juga masalah melawan hawa nafsu. Okelah dia bersikap manis sepanjang hari, tapi kalau dalam hatinya sibuk mengumpat, siapa yang bisa mengira? Wah, lagi-lagi kita perlu alat pengukur hati manusia, dong, ya ^_^.

Jadi …dengan cara apa kita menilai salat dan puasa seseorang sudah benar dan diterima Tuhan atau tidak? ;). Jangan-jangan ada Tuhan diantara kita, kah? hehehe :p.

Jadi pengin nyanyik … “What if God was one of us? Just a slob like one of us? Just a stranger on the bus. Trying to make His way home?”

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)

***

Balik ke hasil penelitian. Mayoritas 10 besar diduduki oleh negara-negara Eropa. What’s so special sih dengan negara-negara Eropa ini?

Sebelum mulai membayangkan gambar-gambar cantik mengenai Eropa, let’s reveal some inconvenient truth about living in Europe hehehe. Mudah-mudahan enggak sotoy :D.

Irlandia mahal? Well, secara umum iya dibandingkan negara-negara di Asia. Bensin 1 liter saja mencapai 27 – 30 ribu rupiah per liter (di Irlandia/Inggris Raya). Kami, pendatang yang sebelumnya tinggal di Kota Jeddah di mana bensin seliter dibandrol seribu perak sajah, tentu cukup syok! :p.

Pajaknya juga tinggi. Walau dibanding negara-negara Eropa umumnya, Irlandia termasuk negara yang ramah pajak :D. Secara umum, pajak di Eropa/Australia lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. Sepertinya, Uni Eropa dan Australia ini condong ke sistem “sosialis” ketimbang Paman Sam yang sangat kental “kapitalis” nya hehehe.

Di US, banyak uang gampang hidup senang. Di Eropa, penghasilan besar harus diganjar dengan pajak yang makin luar biasa ;).

Apakah ini berarti warga Eropa pada ikhlas semua bayar pajak segitu? Belum cencuuuuuu.

Tahu M* S*, pembalap terkenal asal Jerman? Denger-denger, si doi bela-belain ganti kewarganegaraan untuk menghindari jeratan pajak di negeri asalnya. CMIIW.

Yup, Jerman dan Belanda terkenal sebagai pemalak pajak paling sangar hahahaha. Tapi kedua negara ini sekaligus terkenal sebagai negara dengan fasilitas paling maju dan keren.

Sistem kesehatan di Jerman is one the best (katanya). Transportasi umum jangan ditanya. Disiplin, nyaman dan menyeluruh :). Menjangkau hampir semua pelosok negeri dan bisa dinikmati oleh siapa pun enggak peduli kaya-miskin-kece enggaknya hihihhi. Ini kata suami sih, saya belum pernah ke mainland hihihihi. Sementara si pacarku tercinta inih sudah 3x bolak balik Jerman. Enaknyoooo yang sering traveling gratis ;).

How islamic are islamic countries  ? (bagian 2)
Transportasi publik di Jerman (gambar : internations.org)

Saya juga pernah berdiskusi kecil-kecilan di grup orang-orang Indonesia yang tinggal di Irlandia. Ada saja orang-orang yang merasa kena ‘rampok’ gara-gara beban pajak yang dianggap terlalu besar dan tidak adil. Di mata mereka, masa kita yang capek-capek kerja, kita juga yang membayar paling banyak.

Nah, mari kita tengok kembali seperti apa pemahaman kita tentang Islam dalam hal ini. Ini sih saya cocok-cocokkan versi saya saja.. Saya ini ustazah bukan, lulusan pesantren bukan. Emak-emak sotoy mungkin tepatnya hihihi. So, feel free for further discussion ;).

Sependek yang saya tahu, kehidupan di dunia ini untuk persinggahan saja. Sebagai bekal untuk menabung di kehidupan kekal pasca hari akhir nanti. Kalau sudah tahu tidak kekal terus ngapain mau habis-habisan mengejar yang sifatnya duniawi? ;).

Sebagian kita sering menganggap harta yang banyak sebagai hasil kerja keras semata. Ini dengan anggapan semuanya diperoleh dengan halal ya. Kalau enggak halal ya itu lain cerita :p.

Wajar dong jika kita merasa berhak atas harta tersebut. Kan gue yang kerja, gue juga dong yang harusnya menikmati. Suka-suka mau beli apaan, yang penting sudah sedekah, salat, zakat, puasa. Begitu ya kira-kira sifat alamiah kita sebagai manusia.

Katanya, harta adalah anugerah. Betulkah?

Saya pernah sekilas mendapati hadis soal rasulullah yang mengharap kepada Allah agar terus didekatkan dengan orang miskin. Malah meminta jadi orang miskin saja. Mohon dicek sahih apa tidak ya hadisnya?

Aneh, deh. Enakan jadi orang kaya bukan? hehehe.

Padahal jelas-jelas memang dalam alquran disebutkan harta itu adalah cobaan. Sebagian kita sudah terlanjur mencap yang kudu sabar dalam menghadapi hidup ya orang miskin saja. Yang kaya cukup banyak-banyak sedekah :p.

Justru kesabaran yang harus kita jalani saat memiliki harta lebih itu jauuuuuhhh lebih sulit. Ingat dong ya, bergaya hidup mewah itu bukan anjuran agama. Kalau miskin ya gampil. Mau gimana? Wong duitnya enggak ada. Anak-anak minta ini itu, ya tinggal bilang, enggak ada duit.. Terus bisa apa? Tidak perlu payah-payah mencari alasan hehehehe –> pengalaman waktu kecil! Hahahaha.

Begitu banyak duit, ketebak kan apa yang terjadi. Padahal dulunya biasa-biasa saja, begitu ada duit jadi rewel dan mau beli ini itu hehehe. Hati kecil ikut membenarkan, “Kan hartanya halal, hasil kerja keras gue ini. Boleh dong dipakai bermewah-mewah.”

Kalau ada yang iri karena tidak mampu? Lah, emang urusan gue. Harta-harta gue, siapa suruh lu miskin? :p.

Seolah sabar hanya wajib bagi mereka yang tidak mampu :D.

Satu lagi, pemberi rezeki itu Allah semata. Tidak selalu mereka yang bekerja keras pasti akan diberkahi harta yang banyak. Sebaliknya, tidak selalu pula, mereka yang ongkang-ongkang kaki akan selalu menjadi golongan tidak mampu. Manusia wajib berikhtiar tapi ingat, hasil akhir 100% Allah yang punya kuasa ;).

Nah, terlihat tidak ‘cerdas’nya pemerintah Eropa? ;). Heran, padahal mereka mungkin enggak pernah belajar ekonomi Islam dan aturan-aturan muamalah dalam alquran. Iya gitu, pemerintah Eropa membagi-bagikan brosur kepada warganya, “Wahai wargaku yang tajir, bayar pajak banyak-banyak, yuk. Ingat, harta itu cobaan lho according to surah X ayat Y.” Hihihihihi.

Pemerintah di semua negara seharusnya sudah tahu kemampuan seluruh warga negeri pasti tidak akan sama. Dari segi ekonomi dan lain-lain. Tapi tetap saja, tugas pemerintah adalah memastikan SEMUA warganya hidup layak. Jangan pernah coba-coba marah-marah sama Tuhan. Seluruh lingkungan pendukung sudah diciptakan dari sananya tanpa perlu campur tangan manusia mana pun. Tinggal pengelolaan saja yang diserahkan kepada manusia.

Ketidakmampuan menjaga kesenjangan ekonomi sosial agar tidak menganga terlalu lebar itu akan dibayar mahal kelak. Tak sedikit masalah-masalah dalam bermasyarakat yang lahir akibat kelalaian dalam hal ini :(.

Lucunya, negeri-negeri sarat sumber daya alam yang malah agak kesulitan mencapai kehidupan ekonomi ideal bagi seluruh jajaran masyarakat. Tengok negara-negara Timur Tengah :). Indonesia, walau sudah keluar dari OPEC dari kapan tauk, tetap kaya sumber daya alam non migas.

Justru, yang tinggal di Eropa harus terima kasih pada aturan pajak ini. Kita kan tahu pasti, pajak yang kita bayarkan adalah untuk membayar semua kenyamanan yang bisa dinikmati oleh segenap anak negeri. Kaya miskin, semua punya kesempatan untuk mencicipi hidup layak.

Layak tak selalu berarti harus mewah toh, ya? ;). Tapi … tinggal di kolong jembatan dan membayar sekolah saja megap-megap, jelas… itu tidak layak!!!!!! Pentungnya banyak bener hahahahahaha.

Makin banyak penghasilan makin besar sumbangsih kita untuk menyejahterahkan orang banyak di negeri tempat kita tinggal. Bayangkan, pemerintah Eropa sudah membantu kita untuk menyicil tabungan akhirat. Kebermanfaatan bagi orang banyak itu adalah amal yang tidak kecil, lho ;).

Punya banyak uang enggak perlu capek-capek nan mumet mau ke panti asuhan mana, mau memprioritaskan untuk bantu siapa. Dengan sendirinya, kita telah menyumbang untuk kemaslahatan orang banyak tanpa perlu banyak mikir ;).

Senang kan, pajak yang kita bayar dipakai untuk membangun sekolah-sekolah yang nantinya akan dinikmati tidak hanya oleh anak-anak kita saja tapi oleh anak-anak dari mereka yang kurang mampu? Apa tidak geer jika makin besar pajak yang kita bayar makin banyak sumbangsih kita untuk orang banyak?

The key to the real happiness is to make others happy.

Jangan marah-marah ke pemerintah kalau disuruh bayar pajak gede-gede? hehehe. Keuntungannya berlipat ganda ^_^. Mencegah kita dari hawa nafsu pribadi (makin banyak uang biasanya makin banyak aja tuh keinginan hihihi) dan ‘memaksa’ kita ‘rajin’ menabung sebagai bekal di kehidupan akhirat yang jelas-jelas lebih kekal daripada dunia yang fana ini.

Tentu jauh lebih berat melawan keinginan untuk membeli tas mahal saat uangnya ada ketimbang saat dananya cekak hahahahha. Dana cekak ya bisa apa. Paling ngelap iler dan berlalu dari toko secepat mungkin. Kalau uangnya ada? Seringnya sih, hawa nafsu yang akan menang ;). Sementara rumusnya sudah begitu, tak akan habis harta dunia dikejar. Makin dibeli, makin dikoleksi, makin tidak ada puasnya. Itu hukum alam, bukan karangan yang nulis hehehehe.

No hard feeling, ya. Saya pun sering mengalami hal yang seperti itu kok hihihi. Makanya, belajar dari pengalaman pribadi itulah, ada baiknya kita saling mengingatkan dan menguatkan.

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)
The Bling-Bling 😀 (gambar : lapsplash.com)

Hukum juga lebih fair di negara-negara maju pada umumnya. Mungkin karena di negara-negara berkembang ya balik lagi ke sikonnya. Banyak orang berduit luar biasa yang gampang nyogok sana sini. Banyak orang bisa disogok karena kesenjangan ekonomi yang tinggi.

Belum lagi sirik-sirikan karena pamer-pamer kekayaan. Banyak yang tidak kuat godaan akhirnya…nyicil!! hihihih. Kredit ini itu walau sudah tidak cocok dengan kemampuan kantong hanya demi biar bisa menikmati kelayakan hidup yang dianggap umum. Merasa tenang hidup yang penting kartu kredit masih bisa digesek :p. Bayarnya pikir bulan depan.

See? Gaya hidup mewah tidak hanya akan ‘membunuh’ si pelakunya tapi pelan-pelan juga akan ‘menyakiti’ sekitarnya :). Kecuali kita yakin semua orang yang kita kenal dan akan kita temui bisa mengadopsi gaya hidup yang sama ;). Nah, mungkin gak tuh ada kejadian kayak gitu? Mungkin saja. Tapi bukan di dunia ini tempatnya. Menurut gosip yang berkembang, dengar-dengar sih … di surga enggak ada orang susah hehehe ;).

Coba kayak di Eropa pada umumnya. Tukang sampah saja bisa leyeh-leyeh di kedai kopi yang sama yang juga didatangi oleh para engineer/mahasiswa/eksekutif muda/pegawai toko/dll. Hampir semua orang hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu mencolok bedanya.

Penghasilan besar mengimbangi penghasilan pas-pasan. Orang dengan gaji cekak dibebaskan dari pajak. Tapi tetap bisa menikmati semua fasilitas umum dari pemerintah, misalnya sekolah dan rumah sakit ^_^.

Ada kalanya kejahatan sosial hadir karena paksaan keadaan. Terpaksa nyolong biar anak bisa makan. Terpaksa merampok biar anak bisa sekolah. Terpaksa kerja-kerja serabutan yang sebenarnya sudah tidak cocok dengan kondisi fisik dengan gaji pas-pasan karena tidak punya hak meminta gaji lebih. Karena capek dan tidak kuat, akhirnya memilih menjadi pengemis :(.

Banyak juga sih orang-orang Eropa yang stres dengan pajak tinggi begitu :D. Tapi kalau pegangannya ‘benar’, insya Allah, hati tak akan segitu terguncangnya.

***

Saya kutipkan sedikit penggalan kalimat dari papernya (versi 2010) …

“But we must be careful how we assessed Islam? By the behavior of those that are labeled as Muslim or by Muslim teachings?

To what extent do self-declared Islamic countries actually behave as Islamic countries i.e. following Islamic teachings from the Quran and the life and sayings of the Prophet? In other words, are these countries truly Islamic or are they Islamic in name only?

We believe that only once this question is addressed can one begin to measure and/or claim empirically that Islam either deters or enhances human development, human solidarity and economic performance.”

Dan ini penggalan yang menunjukkan berdasarkan apa indeks penelitian ini dibuat :

“Moreover, our examination of Islamic teachings shows that Islam’s guidelines for economic, social, legal, and political practices are in line with today’s best practices and recommended institutional structures.”

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)
Moslem Countries (gambar : muslim-academy.com)

Kalau ditelaah dengan hati terbuka, penelitian ini justru mengangkat betapa idealnya ajaran Islam dari sisi ekonomi/sosial/hukum/politik jika diterapkan dalam kehidupan bermuamalah setiap manusia. Setiap manusia, bukan muslim doang ;). Ring a bell, yes? Rahmatan lil aalamiin ;).

Siapa pun yang melaksanakan aturan bermuamalah ini insya Allah hidupnya akan sejahtera. Soal bermuamalah kan enggak mandang akidah. Enggak ada cerita kalau dia kafir terus dia menjalankan ekonomi kerakyatan ala Islam maka negaranya tetap akan celaka :p.

Ada pun jika ternyata aturan-aturan ini justru tidak kejadian di negara-negara yang mayoritas muslim (according to the result from this research) itu adalah peer umat muslim bukan? :).

Oh well, saya tak hendak memaksakan siapa pun untuk bisa merenungi hasil penelitian ini. Sebagian memang memilih untuk menganggap penelitian ini sebagai penghinaan kepada umat muslim. Hasil penelitiannya untuk saya malah positif dan menjadi pemacu untuk terus berIslam dengan baik dan benar. Insya Allah.

If you feel offended then be it :). Saya minta maaf karena jelas-jelas itu bukan maksud saya mengangkat hasil penelitian ini dan membagikannya kepada teman-teman semua ^_^.

Ya pokoknya untuk bahan renungan sajalah ya kalau lagi bengong hehehe.

Saya tutup tulisan ini dengan penggalan kalimat yang di-copas dari tulisan bagian 1-nya. Sebuah kritikan dari Buya Syafii Maarif dalam salah satu tulisannya :

” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.

Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”

***

Kebenaran mutlak milik Allah, kalau ada pernyataan-pernyataan yang kurang tepat/sotoy/gak penting/gak jelas/galau/enggak enak dibaca/dll itu pasti 100% tanggung jawab yang nulis ;).