Kehidupan Orang Arab : Beberapa kali saya melewatkan bulan ramadan di Negeri Gurun. Tepatnya di kota Jeddah, Arab Saudi. Tentu banyak penyesuaian yang perlu dilakukan.
Ah, saat-saat ramadan dan hari raya, rasa kangen untuk kerabat tercinta di Indonesia pastilah sedang sengit-sengitnya. Untung di Jeddah pun banyak teman-teman baru yang tak kalah serunya.
Dulu saya membayangkan seperti apa, ya, orang-orang Arab menjalani bulan penuh berkah ini? Pastilah lebih ekstrim daripada kita di tanah air. Saya pikir mal-mal pasti ditutup penuh saat bulan puasa. Jangan ditanya ada berapa mal di salah satu kota besar negara Saudi ini. Banyak banget dan besar-besar pula.
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi
Di tahun pertama merasakan ramadan di sini, saya heran dengan tetangga depan apartemen saya. Mereka sekeluarga juga dari Indonesia. Sekitar jam sepuluh malam, mereka selalu keluar rumah. Saya tahu, karena selain jarak antar pintu apartemen kami cuma 4-5 meter saja, anaknya ada 3 orang dan mereka cukup bising.
Ini bukan cuma beberapa kali. Namun, hampir tiap hari. Saya tidak tahu jam berapa mereka pulang. Tapi saya bingung, kemana mereka jam segitu, ya? Di Indonesia, saat ramadan tiba, toko-toko malah tutup lebih cepat, bukan? Tidak enak mau bertanya-tanya langsung kepada mereka.
Tapi di Jeddah memang berbeda. Pagi hari nampak bagai kota mati di bulan ramadan. Nyaris tidak ada aktivitas apa-apa. Hanya orang kantoran mungkin yang tampak lalu lalang di jalan raya. Toko-toko kelontong tutup semua. Semua gerai dalam mal tutup. Kecuali tempat-tempat seperti : Hyperpanda, Danube, dan Bin Dawood. Ketiga tempat itu semacam swalayan besar yang umum dikenal di sana.
Semua anak sekolah wajib libur. Dan suasana senyap ini berlangsung hingga waktu ashar tiba. Barulah, setelah ashar, beberapa gerai dalam mal ada yang buka. Tapi tidak semuanya, lho. Tempat makan juga sudah mulai dibuka. Selepas magrib, mereka semua serempak tutup lagi. Sehabis isya, barulah kehidupan dimulai!
Biarpun begitu, aktivitas rutin saya tetap seperti biasa. Tetap tidur paling lambat jam sebelas malam. Tapi suatu hari jadwal belanja bulanan menghampiri. Suami mengajak keluar selepas isya saja. Bukan main suasana jalan raya saat itu. Nyaris macet dimana-mana. Seolah semua orang tumpah ruah di jalan.
Kami parkir seperti biasa dan masuk ke dalam mal. Jeng…jeeeeng…ramainya minta ampun! Saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Luar biasa antrian di kasir Hyperpanda. Itu bukan akhir pekan, lho. Pukul satu pagi, barulah acara belanja itu selesai. Dan suasana dalam mal masih penuh hiruk pikuk. Bisa dibilang semua gerai tidak ada yang tutup, termasuk food courtnya.
Corniche Road, Jeddah
Barulah saya mengerti ke mana tetangga saya menghabiskan waktu malamnya. Konon itu berlangsung hingga waktu subuh tiba. Bila subuh berakhir, semua toko akan tutup seperti biasa, dan pelan-pelan ‘pesta’ pun berakhir.
Inilah yang dimaksud istilah teman saya, “Kalau ramadan di Saudi, siang jadi malam, malam jadi siang.” Pantas saja pagi hingga sore hari di bulan puasa, nyaris tak ada aktivitas di luar rumah. Kalau kata suami saya, “Mereka ngabuburitnya abis isya, nunggu sahur.” Beda dengan kita, ngabuburitnya menjelang jadwal berbuka.
Rasanya aneh juga. Saya tak terbiasa menghabiskan waktu puasa di siang hari dengan berdiam diri di rumah. Main ke rumah teman lain juga nyaris tak mungkin. Sebagian besar teman saya sudah mengikuti ‘pola’ hidup seperti ini jika ramadan tiba. Tapi susah juga mau jalan-jalan karena toko dan pasar tidak ada yang buka hingga malam menjelang nanti.
Sisi positif tinggal dekat dari tanah suci saat bulan puasa menjelang, kita bisa melaksanakan umrah ramadan. Duh, jangan ditanya ramainya oarng-orang mengerumuni Ka’bah dan Masjidil Haram di bulan ramadan. Ingat, ramadan tidak seperti waktu haji. Jika haji ada pembatasan jumlah jemaah. Untuk umrah ramadan…tidak ada batasan sama sekali. Paling ramai sehabis ashar hingga waktu subuh. Subuh berakhir, berangsur-angsur agak longgar biarpun tetap ramai. Tapi tak banyak orang memilih melakukan ritual umrah di siang hari.
Meskipun keadaannya sangat berbeda, saya lama-lama menikmati menghabiskan puasa di kota yang berjarak 70 km dari kota Mekkah ini. Memang, rasa rindu pada keluarga tak kunjung habis. Walau saya bingung kenapa di sini orang-orang kok malah kelayapan tengah malam saat bulan puasa, ya?
Mau tak mau sesekali kami pun harus ikut ngabuburit ala mereka. Kelayapan tengah malam demi anak-anak. Kasihan karena mereka tidak ada hiburan.
Aduh, sering merasa ibadah puasa malah tidak khusyuk. Bagaimana mau menikmati bulan penuh berkah ini?
Tapi akhirnya saya menyadari beberapa hal. Ngabuburitnya boleh beda, tapi ibadah puasanya bukan hak kita, sesama manusia, untuk menilai.
Makna puasa itu kan ibadah kepada Allah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya dimana saja, apa pun suasananya. Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar. Selamat menjalankan ibadah puasa dimana pun Anda berada.
Mungkin bangeeeetttt hehehe. Ini karena sering menghangat diskusi soal makanan halal saat jalan-jalan ke luar negeri. Soal bagaimana konsumsi makanan saat bepergian ke luar negeri. Terutama ke negara-negara mayoritas non muslim. Sebagian langsung berpendapat, “Kan emergency. Bolehlah makan apa saja asal tidak ada b*b*nya.”
Seharusnya sih, ya, definisi makanan halal itu tidak bisa dibilang “tergantung mazhab”. Karena ketentuannya langsung ada dalam alquran, dalam ayat-ayat yang sifatnya sangat eksplisit :). Panduan utamanya maksudnya. Kalau yang printilan memang rupa-rupa pendapat yang ada hehehe.
Soal daging, jelas dan terang. Kehalalan daging tidak hanya semata-mata, “Asal bukan daging babi, bismillah saja” :D. Dalam ayat-ayatnya, daging yang dimakan harus disembelih secara “benar”.
Karena memang bermukim di luar negeri, kalau mau jalan-jalan ke luar kota, ya saya pribadi lebih prefer bawa bekal sendiri ^_^. Entah nasi goreng, mie goreng, kentang panggang, roti isi, atau apalah :D. Tapi bagaimana kalau 100% turis yang kebetulan jalan-jalan ke luar negeri? Jangan menggampang-gampangkan situasi emergency lah :D.
Kalau daratan Eropa, hampir tidak ada masalah setahu saya. Di masjid tempat suami sering numpang salat, pernah kedatangan ulama dari Dublin yang kebetulan “mengurusi” masalah sertifikasi halal di ranah Eropa.
Bagi pemukim muslim di Eropa, apalagi di negara-negara selevel Belanda atau Jerman, hampir pasti dapat menemukan gerai/penjual daging halal ^_^. Di Irlandia sini saja, di kota yang penduduknya hanya 20 ribu orang ini, gerai daging halal sampai ada 2 lho! Baru saja dekat City Center buka satu toko baru. Horeeeee, enggak perlu jalan jauh-jauh sejauh 2 km untuk ke toko satunya lagi :p.
No excuse to consume non halal meat, unless you want it to ;).
Daging kosher yang umum dikonsumsi oleh orang Yahudi juga tergolong HALAL ^_^. Bukan kata saya. Berdasarkan kesepakatan ulama Eropa, kata si Pak Ustaz tadi :D. Bukan konspirasi lho, ya, hihihihi :p.
Vegetarian menu/food juga halal, insya Allah :). Nah, ini penolong banget. Saat saya ke London tempo hari, gerai makanan halal enggak sinkron dengan rute jalan-jalan kami, jadi kami makan di tempat makan sedapatnya saja.
Boleh enggak makan di Pizza Hut? Boleh, insya Allah. Tapi hanya boleh memesan vegetarian menu. Di Eropa, penanda vegetarian food itu sudah sangat lazim digunakan. Biasanya pakai tanda (v). Vegetarian menu itu include keju-kejuan dan telur, tidak melulu daging saja. Buat saya yang memang FCer, malah enak banget hihihihi.
Halal Butcher, London Road (gambar : geograph.org.uk)
Kalau kata Pak Ustaz, pengusaha makanan di Eropa (yang berlisensi resmi) cukup terpercaya. Karena mereka bisa dituntut oleh kaum vegan kalau berani-berani ‘bandel’ memasang bandrol (v) tapi ternyata masakannya mengandung unsur hewani (di luar susu dan semua turunannya + telur). Penegakan hukumnya terpercaya ;).
Jadi, untuk Eropa, saya belum bisa menerima argumen soal penetapan “terpaksa/darurat/emergency” jadi boleh mengkonsumsi “daging apa saja selain b*b* asal baca bismillah” :p.
Mari pindah kawasan :D. Saya ceritakan sedikit pengalaman suami yang sering traveling ke luar negeri sampai lebih dari sebulan. Pas ke Turki mah bebas merdeka yak hihihi. Tapi sempat galau pas ke Santiago, ibukota Chile.
Alhamdulillah, suami saya memang tidak rewel. Sejak tahun lalu pun sudah saya perjuangkan ini satu rumah biar akrab dengan sayur-sayuran dan teman-temannya :D. Suami juga orangnya mau masak sendiri, hanya kalau tidak ada bininya! Hahaha. Kalau ada saya mah, jangan harap dia mau! :p.
Di Chile, gerai daging halal nyaris tidak ada. Lingkungan pergaulan orang Indonesia “di sana” juga ternyata tidak begitu peduli dengan gini-ginian. Bingung mencari penjual daging halal. Akhirnya suami saya memilih makan telur dan seafood selama di sana.
Takjub juga dengan semangat juangnya hehehe. Mengingat suami saya lidahnya Minang abis ya Kakaaaaa. Enggak ketemu daging sapi/kambing seminggu, dia bisa cranky kalau di rumah, “Mamaaaaaaa, bikinin daging!” :v :v :v.
Kalau skype-an pas dia lagi jauh, ribut banget minta resep ini itu. Setengah mati diajarin, ujung-ujungnya, “Susah ah, ditumis-tumis lagi ajah.” :v :v :v.
Saat ke Tiongkok, yang kata orang susah mencari makanan halal, ternyata tidak benar juga. Suami saya sempat assignment ke Kota Wuxi. Ini tergolong bukan kota besar lho di sana. Tapi gerai makanan halal terbilang banyak ^_^. Mana menunya cocok, ya, dengan lidah Asia kita :D.
Setidaknya kalau susah menemukan resto makanan halal, jangan langsung ‘pasrah’. Hindari sebisa mungkin. Menu vegetarian memang tidak terlalu “lazim” di Tiongkok. Ini juga pengalaman saya pas ke China Town di London. Mereka nangkepnya vegetarian menu itu yang ada sayurnya. Bingung kan pas ditawarin susunan menu, paling atas itu ada tulisan “Pork Pak Choy” hahaha.
Tapi tenang, di China Town-London, juga di setiap restonya mencantumkan tanda (v) untuk menu-menu vegetariannya. Tidak 100% mereka patuh, sih. Maklum, ya, bumbu-bumbu khas menu oriental memang agak-agak “mencurigakan”. Tapi ingat, kita sudah mengikuti petunjuk “alim ulama” di tempat yang bersangkutan ^_^. Jangan meribetkan diri sendiri.
Vegetarian food can be yummy 😀 (gambar : indanang.com)
Balik ke wilayah-wilayah Asia Timur Jauh seperti Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korsel dll. Paling aman ya memang masak sendiri. Tapi kalau jalan-jalan cuma seminggu masa iya waktu habis di dapur doang hihihi. Next step, usahakan mencari menu vegetarian ^_^. Atau menu-menu seafood, yang walau belum pasti kehalalannya, ya tetap lebih baik. Daripada cari gampang dengan mengkonsumsi makanan berdaging non seafood yang sudah kita pastikan TIDAK HALAL :).
“Ah, saya kan enggak suka sayur. Alergi seafood pula.” –> jangan jalan-jalan ke tempat yang susah cari makanan halal yang ada dagingnya kalau gitu! Which is kota-kota besar di Jepang pun sudah tidak sulit mencari gerai makanan halal. Jadi, alasan ini harusnya mental dengan sendirinya :p.
“Lho? Saya rezekinya di negara itu. Di sana susah atau hampir enggak mungkin, jadi gimana, dong?” Bumi Allah ini, kan, sangat luas :D. Jangan gampang loyo gitu dong, Kakaaaaa ^_^.
Pertimbangkanlah baik-baik ke mana kaki akan melangkah :). Lagian balik lagi ke atas, di Amerika Serikat-Eropa-Australia-Jepang-Korsel-Tiongkok, makanan halal atau vegetarian food bukan barang langka. Kalau ke Timur Tengah mah, enggak usah ditanya hehehe. Tidak sedikit belahan wilayah Afrika juga mayoritas sudah muslim. No excuse :p.
Di Amerika Latin memang tergolong sulit. Jadi, pastikan kalian sudah siap dengan resiko soal makanan manakala hendak merantau ke wilayah itu :). Jangan mempersekutukan “perintah Tuhan” hanya gara-gara alasan rezeki. Yang memberi rezeki adalah Dia semata kok. Kenapa harus ragu? :).
Kalau alasan lainnya seperti dagingnya tidak segar, harganya lebih mahal daripada harga daging di supermarket biasa, ya itu sih sudah urusan masing-masing saja, ya, hehehe.
Saya menulis ini bukan untuk mengancam-ancam. Hanya mencoba meluruskan. Ternyata tidak sedikit yang menganggap situasi liburan/jalan-jalan/bermukim di luar negeri (yang mayoritas bukan muslim) sebagai “keadaan darurat/emergency” jadi boleh makan apa saja asal bukan b*b*. Tidak begitu, kok, kenyataannya ;).
Latin food, (gambar : nycfoodguy.com)
Kemarin sih sudah disindir, disuruh beli hewan hidup dan disembelih sendiri saja katanya hehehe. Lah, saya sih tidak ekstrim. Toh, tidak perlu sebegitunya kok ;). Pilihan lain sudah saya jelaskan detail yang tidak mengharuskan kita . Secara kesehatan pun, dalam ‘pola makan’ yang saya anut, protein hewani itu tidak harus dikonsumsi tiap hari. Di atas usia 30 tahun, malah seharusnya makin dikurangi. Urusan lidah cocok apa tidak? Sangat tidak relevan :p.
Hikmah makanan halal itu sebenarnya tidak hanya sekadar menguji kesabaran dan konsistensi kita di situasi-situasi tertentu. Tapi secara kesehatan, tidak sedikit penemuan ilmiah terkait metode penyembelihan hewan yang disarankan dalam alquran. Tuhan sih tidak ada urusan kita mau makan apa dan bagaimana. Semua untuk kebaikan diri sendiri juga ^_^.
Kalau pun masih sulit dicerna pakai akal biasa dan dianggap “mengada-ada”, benteng terakhir ya tinggal iman saja :D. Tertera jelas dan tanpa sela untuk berdalih dalam kitab suci. Levelnya sudah paling tinggi. Kalau hadis masih bisa “digoyang-goyang”, ada tingkatannya. Tapi urusan makanan halal ini sifatnya sudah final :D.
Apa saya tidak pernah mengkonsumsi daging tidak halal selama di sini? Mungkin pernah :). Karena saya, kalau diundang ke rumah teman, ada acara kumpul ramai-ramai, tidak suka dan tidak akan meributkan apakah makanannya halal atau tidak. Untuk saya, menjaga perasaan tuan rumah dan teman-teman lain lebih penting daripada meributkan makanannya halal atau tidak ;).
Jangan salah, di sini pun, tidak semua muslim mengkonsumsi daging berlabel halal ;).
Prinsip saya yang tidak kalah pentingnya dengan masalah makanan halal adalah soal “Islam, membungkus kebenaran dengan kebaikan.” Kebaikan itu letaknya lebih tinggi. Tidak menyakiti hati orang lain apalagi yang sudah susah payah mengundang kita bahkan memasak sendiri untuk kita itu tingkatannya lebih utama buat saya ;).
Tapi itu benar-benar jarang kejadian :D. Jadi sudah dipertimbangkan frekuensinya. Kalau di luar itu, baik sehari-hari di rumah, maupun lagi piknik ke mana saja, tetap harus disiplin, dong, ya ;).
Abege 90 an biasanya familiar dengan acara Asia Bagus :D. Paling memorable kalau mendengar kontestan dari Jepang menyanyi. Kalau lirik dari bahasa lokal mereka ya tidak istimewa.
Tapi kalau menyanyikan lirik lagu bahasa Inggris? Saya sampai bengong. Itu beneran bahasa Inggris atau diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang sih? Hihhi.
Mereka punya aksen dengan logat patah-patah. Kalau berbicara mereka punya napas yang pendek. Saat berbahasa Inggris, apalagi kalau menyanyi, ngomong patah-patah tadi terus terbawa.
Gedean dikit, masuk dunia kerja, harus banyak berurusan dengan regional support dari India. Waktu masih di Bern tempo hari, saya ngobrol panjang lebar dengan suami soal aksen Inggris orang India. Suami saya, sekarang juga di development center, harus banyak berurusan dengan developer yang regional supportnya lagi-lagi pakai IT-India :D.
Kita ngakak bareng-bareng berbagi kisah-kisah unik saat berkomunikasi dengan mereka.
Singapura dengan Sing-lish nya lebih cetar lagi bukan? Hahahhahahha.
Satu hal dari developer India ini. Segitu “gengges”nya bahasa internasional ala mereka, kemampuan mereka mendunia sungguh luar biasa! :).
IT Park, Bangalore-India (gambar : indiacatalog.com)
Berapa banyak perusahaan besar di dunia selevel Unilever misalnya (consumer goods yang cukup popular di Asia), atau Ericsson (vendor telekomunikasi yang juga cukup oke), menggunakan IT-support asal India. Sebuah kota khusus di sana, Bangalore, sudah dikenal sebagai kota IT internasional :D.
Gin-gini mamak-mamak dasteran pernah juga lah mencicipi kehidupan kantoran yang rasanya keren aja gitu :p.
Tapi uniknya, pasca berhenti bekerja, “pergaulan internasional” justru baru saja dimulai. Ikut merantau ngintilin suami :D. Waktu masih di Jeddah, secara bahasa, tak ada tantangan lah. Wong mainnya sama sesama orang Indonesia terus :p.
Nah, waktu di Irlandia jadi super minoritas di kota ini, mau enggak mau harus bergaul dengan bangsa lain. Dengan penduduk lokal Irlandia sendiri yang nyata-nyata berbahasa Inggris, saya dibuat pening dengan aksennya yang luar biasa.
Tapi dua tahun berlalu, lama-lama terbiasa. Nonton komentator Irlandia bahas bola saja rasanya sudah kayak makan kacang aja. Sombong kauuuuu hahahaha.
Bergaul dengan mamak-mamak India pun menjadi tak terhindarkan. Justru pendatang Polandia yang juga menjamur di sini banyak yang bahasa Inggrisnya memprihatinkan :D. So that you know, di seantero Eropa mungkin hanya 2 negara yang berbahasa Inggris secara nasional, UK dan Irlandia.
Baik UK dan Irlandia aksennya juga kurang familiar untuk umumnya orang Indonesia yang lebih terbiasa dengan aksen Inggris ala orang US :D. Waktu ke London tahun lalu, dengar mereka ngomong cepat-cepat saya sampai putus asa mau kepoin orang ngobrol di kereta.
Tiap hari di sekolah kalau nungguin anak juga ngobrol ngalor ngidur dengan mamah-mamah India/Pakistan. Lama-lama jadi terbiasa dengan logat mereka. Betapa dunia menjadi lebih berwarna, ya ^_^.
Pernah ramai membahas langgam mengaji :D.
Urusan mengaji, sebagai orang Bugis, dari kecil sudah biasa dengan langgam Arab yang pakem itu :D. Kalau melihat sejarahnya (sumber : buku Ulama dan Kekuasaan di Nusantara), penyebaran Islam di Sumatera dan Sulawesi memang didominasi oleh ulama-ulama yang langsung belajar di Mekkah :D.
Kain Sutra Bugis, gak nyambung banget gambar sama artikel hahahahha (gambar : klikhotel.com)
Agak beda dengan Pulau Jawa yang pergaulannya lebih kompleks dengan pengaruh pedagang-pedagang India di sana yang juga membawa pengaruh Hindu yang besar.
Itulah mengapa banyak adat Bugis yang kebawa juga pengaruh Islam. Misalnya dalam tata cara akad nikah, sementara mempelai suami bertegang-tegang ria menjelang ijab kabul, mempelai perempuan diumpetin dulu di kamar. Keluarnya nanti setelah para saksi menjawab tegas, “SAH!”
Sementara suami dan salah satu kakak saya selaku wali nikah sibuk ngapalin ijab kabul, saya mah cekikikan sambil “selfie-selfie” sama kakak saya yang lain dalam kamar hahahahaha.
Pertama merantau pun lama tinggal di Jeddah. Mengajinya juga sama sesama ibu-ibu Indonesia. Guru dari Indonesia. Nyaris tidak ada “konflik”.
Di Irlandia sempat ikut pengajian antar bangsa. Mayoritas sih dari India-Pakistan. Sempat bengong mendengar ibu-ibu India/Pakistan ini kalau mengaji. Model alqurannya sendiri agak bingung lihatnya. Terjemahannya dalam bahasa Urdu. Hurufnya bukan Latin. Alquran mereka juga tidak disekat per juz seperti lazimnya di kita. Jika mengaji misalnya sudah sepakat per lembar atau per halaman, mereka kurang bisa ngikutin.
Jangankan tajwid, soal pengucapan huruf juga agak sulit di lidah mereka (India-Pakistan tadi). Padahal kalau mengaji di Jeddah, rasanya jarang ketemu ibu-ibu yang enggak lancar mengajinya. Ada juga mayoritas teman-teman pengajian Indonesia di Saudi sudah pandai melagu yang indah-indah, ala telinga Indonesia kita yaaaa :). Tapi guru mengaji kami yang asal Mesir santai saja.
Orang India-Pakistan kalau mengaji cepat sesuai cara bicara mereka tapi panjang pendeknya jadi enggak keruan. Sekilas kalau bukan di pengajian mungkin saya enggak nyadar kalau mereka lagi mengaji hehehehe.
Don’t worry, cara mengaji orang Indonesia-Malaysia selalu disambut dengan ucapan “Mumtaaz” dari ibu guru hehehehe *benerinKerudung*.
Urdu vs arabic , sekilas agak nyaru kan? 😀 (gambar : urduplanet.com)
Ada satu yang berasal dari Afrika. Wah, yang ini benar-benar belum bisa mengaji. Sementara emak-emak dari Sudan yang memang sehari-harinya berbahasa Arab juga suka ngikutin ngajarin. Problem is, sering saya menangkap ada perbedaan aksen antara si ibu guru Mesir dengan emak-emak Sudan tadi. Jadilah yang dari Sudan suka bisik-bisik nyinyirin “Ih, dasar orang Mesir. Padahal kan tuh bacanya harusnya gini, gini, gini.”
Tak paham sih saya logat-logat Arab. Yang jelas, antara Mesir dan Saudi memang beda :D. Apalagi di Saudi dulu dikenal “bahasa Arab ngasal” alias Arab abal-abal yang dipopulerkan oleh para pendatang :p.
Macam swayya-swayya dan mafi mushkilah secara grammar itu kan parah total hahahahaha.
Terus terang, ada rasa jumawa menyelinap dalam hati mendengar cara mengaji umumnya emak-emak non Arab (selain Indonesia Malaysia). Semacam ada kesombongan dalam hati, “Ih, ancur banget deh ngajinya. Mendingan gue deh ke mana-mana!”
Soalnya ya, dalam lingkungan mereka, hal itu tidak dianggap sebuah ketidaklancaran membaca alquran. Ya memang bacanya begitu untuk keseharian mereka.
Di Indonesia umumnya, tak perlu jadi ustaz besar kalau hanya untuk menguasai cara baca alquran. Apalagi dari kecil pakai pakem Arab yang standar itu.
Anak-anak belajar mengaji (gambar : joss.today)
Makanya orang Arab itu suka terpesona dengan orang-orang Indonesia-Malaysia yang jagoan baca alquran tapi sama sekali tidak mengerti bahasa Arab! Buat mereka itu sesuatu hal yang luar biasa.
Ini terbukti waktu naik haji dimana satu tenda orang Mesir semua. Mereka takjub saya bisa baca alquran tapi gak bisa bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Biasa kaleeeeee di Indonesia mah hahahaha.
Dari ilmu kognitif sendiri, mencoba ingat-ingat mata kuliah Psikologi zaman kuliah dulu, menghafal lebih mudah jika kita aktif menggunakan otak untuk menyimpan data dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah-sudah. Termasuk mencocokkan makna dan pemahaman arti.
Pasti lebih mudah menghafalkan teks dalam bahasa Inggris ketimbang teks bahasa Perancis. Jangan ngotot kalau bahasa Perancis itu lebih susah. Lebih susah untuk kita. Buat orang Perancis jelas lebih gampang bahasa Perancis daripada bahasa Inggris sekali pun hehehehe.
The thing is, perbedaan itu mendewasakan :).
Waktu kecil nonton Asia Bagus mana paham saya walau logatnya amburadul, Jepang adalah salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Sebelum benar-benar merantau ke mana-mana dan bertemu mereka di mana-mana, mana mengerti saya walau aksennya gengges, pamor India di mata internasional jauuuhhh lebih tokcer daripada Indonesia. Jangan sakit hati kalau dunia internasional masih mengernyitkan kening mendengar kata Indonesia tapi ngangguk-ngangguk cepat kalau ditanyakan soal India ;).
Bahkan yang kayak Filipina pun yang sering kita pandang sebelah mata, tenaga medisnya menjamur ke seluruh pelosok dunia. Bangsa Tiongkok apalagi. Sudahlah jangan ditanya hehehe. Etos kerja, kedisiplinan, dan kecerdasan mereka sudah jadi buah bibir di hampir semua benua.
Singlish ala SIngapura boleh membuat kita terpingkal-pingkal. Tapi ingat, negara mini ini sangat superior di level internasonal sekali pun ;).
Traveling itu tidak hanya hanya tentang tempat-tempat wisata dan selfie-selfie depan landmark kota dong, ya ;).
It’s about knowing each other. Memperluas cakrawala berpikir, melonggarkan hati bukan malah memperkecil wawasan, mempersempit perasaan.
Bergaul dengan rupa-rupa manusia mungkin seperti mengajarkan kita jika selama ini kita yakinnya, “Bangunan datar sisi empat itu kalau enggak persegi panjang ya bujur sangkar.”
Tapi seiring dengan wawasan yang bertambah kita jadi tahu, “Oooohhh, jajaran genjang itu juga punya 4 sisi. Trapesium juga. Diamond juga segi empat. Ada lagi model layang-layang.”
Semuanya punya 4 sisi. Tapi kita enggak familiar dengan modelnya. Secara simbol beda tapi makna kan sama-sama 4 sisi ^_^.
Terjemahan Al Hujurat ayat 11 hingga 13 menerangkan hal ini dengan sangat indah :).
49:11. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) …
49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain …
49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Gambar : pixabay.com
Seindah itu lho alquran meminta kita untuk tidak mengolok, menjauhi prasangka, instead … menyarankan kita untuk “bergaul” biar saling mengenal.
The world is a book, and those who do not travel read only a page.
– Saint Augustine
Beberapa waktu lalu Kementerian Agama RI mengeluarkan pernyataan mengenai penurunan biaya haji tahun ini. Patut kita apresiasi langkah Kemenag. Dengan melorotnya nilai tukar rupiah (dan juga euro!! –> numpang curcol hahahahaha) terhadap USD, Kemenag masih bisa mencari cara mengefisienkan ongkos naik haji.
Jangan lupa LIKE page Kemenag ya (itu di awal saya mention pagenya ^_^) untuk informasi-informasi seputar Kementrian Agama :D.
Oh ya Kemenag juga berkeinginan mengatur soal kuota dan pembatasan ketat bagi mereka yang sebelumnya sudah pernah naik haji. Salah satu yang kontra dengan kebijakan ini mengambil sudut pandang –> “Naik Haji kan itu masalah takdir. Bukan urusan manusia.”
Ah, tidak juga. Pemerintah Arab Saudi pun secara ketat mengatur kuota haji bagi para mukimin Saudi. Sejak awal 2000-an, hanya boleh 5 tahun sekali. Tadinya bebas-bebas saja. Makin membludaknya jamaah mau tak mau membuat pemerintah Saudi harus mengambil langkah ini.
Istilah “Haji Koboi” pun menjadi marak. Sewaktu di Jeddah, saya menyaksikan sendiri beberapa pihak menganggap ritual “Haji Koboi” ini menjadi semacam petualangan gitu. Seru katanya kejar-kejaran sama petugas, gelar tenda sendiri, ngumpet kalau ada penjagaan. Kalau ketangkap dikiranya bukan negara yang ikut menanggung beban apa ya?
Pantas saja, seorang teman yang di KJRI Jeddah langsung pening melihat salah satu tayangan film soal naik haji (enggak enak mau sebut judul) yang menurutnya ada indikasi ngajarin orang-orang di tanah air untuk “nekat” tidak jelas. Baru indikasi doang, saya enggak nonton filmnya sih hehehe.
KJRI patut pusing lah. Kalau jemaah ketangkap yang kena getahnya kan mereka lagi. Tidak cukup energi untuk mengurusi peliknya masalah tenaga kerja informal di Arab Saudi, harus pula ketambahan kerjaan dengan orang-orang nekat begini. Saban ada hukuman mati untuk TKW misalnya, mereka lagi yang menjadi sasaran tembak warga di tanah air. Yang kadang ngerti masalahnya enggak, tapi bacotnya paling silet hahahaha.
Nah, bayangin kalau banyak yang terinspirasi oleh tayangan atau buku atau apalah dan nekat ke tanah suci dengan cara ilegal. Siap-siap lagi KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah ketiban kerjaan. KJRI Jeddah sih ya terutama. Riyadh jauh dari tanah suci soalnya tongue emoticon.
Masalahnya, kadang bukan karena keterbatasan ongkos atau kuota. But in the name of the adventure squint emoticon. Please lah, boleh ndak pilih tujuan wisata lain untuk berpetualangan. Jangan pas naik haji. Umrah mungkin masih masuk akal. Naik haji kan ada waktu-waktu khusus. Menginap di Mina serentak, wukut serentak, bagi yang naik haji via Saudi, tawaf wada pun menjadi semacam ujian nyali.
Untung saya kemaren mendapat ‘pertolongan’ khusus. Malam hari sebelum tawaf wada keesokannya, saya datang bulan. Suami tawaf wada sendiri saja, datang sempoyongan setelah mengitar Ka’bah 4 jam malam itu! Gimana kalau saya dan anak saya (anak kedua waktu itu kami bawa usianya masih 18 bulan) ikut bersamanya waktu itu?
Waktu tawaf ifada saja lumayan ‘drama’ soalnya :D. Cerita lengkap naik haji via Jeddah ala Mamah Poni bareng suami dan si kecil ada di buku “Memoar of Jeddah : How Can I not love Jeddah?” :D. Bab paling panjang hahaha. Sudah pada baca? :p.
Kami kira kami sudah terlambat menuju bus. Malam itu juga harus balik ke Jeddah. Suami sudah teler tetap harus membawa kami menembus pelataran Masjidil Haram yang sudah sesak oleh lautan manusia untuk mengejar bus menuju Kudai. Bangga bener deh sama suami perkasa satu ini <3.
Tiba di Kudai, ealah, kami rombongan pertama yang tiba. Menjelang subuh baru berdatangan satu persatu. Pak Supir sudah ketiduran. Menangis, euy, melihat satu persatu datang tertatih-tatih gitu. Hajjan Mabruran insya Allah, saudara saudariku :).
Bisa bayangin kalau tidak ada pembatasan kuota? Kami saja yang cuma harus melewati 6 hari perjalanan haji karena bertolak dari Jeddah tidak sedikit mengalami kesulitan dikarenakan membludaknya jemaah, apalagi yang jauh-jauh datang dari luar negeri.
Di situlah mungkin Allah mencoba mengajarkan kepada kita makna “Naik Haji cukup sekali saja” :). Itu pun bagi yang “mampu”. Mampu dari berbagai segi. Tidak hanya materi, tapi waktu dan kondisi fisik. Tidak hanya bagi sang jemaah pribadi tapi bagi kerabat handai taulan yang ditinggalkan tidak boleh diabaikan begitu saja.
Bagi yang tidak mampu, kewajibannya otomatis terhapus. Dan bagi yang mampu menolong mereka yang belum berhaji tapi kesulitan materi misalnya, bisa bayangkan segimana pahalanya? ;).
Termasuk kebesaran hati untuk mengalah. Walau kita tahu kita mampu berangkat naik haji untuk kedua kalinya, tapi kita harus ingat, ada kuota yang membatasi :).
Berat juga memang. Apalagi kalau tinggal di Saudi. Terlebih lagi tinggal di Jeddah. Jeddah-Makkah enggak nyampe sejam! ^_^. Duh, tiap tahun pengin wukuf, deh, kalau bisa hehehe.
Saat-saat terberat sebelum final exit di King Abdul Aziz International Airport ya waktu mengunjungi tanah suci untuk terakhir kalinya. Waktu itu, visa umrah masih ‘ditutup’, tanah suci sepi banget. Kami mengitari Mina, Musdalifah, Arafah, dan melihat menara lontar jumrah dari jauh. Melihat nomor tenda kami di Mina, nangis-nangis lah pastinya hehehe. Terbayang semua kenangan naik haji.
Buku ini berisi kumpulan cerita cerita islami inspiratif (y).
Judul Buku : Kembali Menjadi Manusia
Pengarang : Doni Febriando
Penerbit : Elex Media – Gramedia
“Islam, Membungkus Kebenaran dengan Kebaikan”
***
3 bintang pertama (out of 5) pasti akan langsung saya berikan pada pemilihan kata dan cara mengisahkan penulis yang sangat mengalir dan bikin betah. At least, buat saya, lho, ya.
Mengikat pembaca sejak halaman pertama adalah salah satu hal yang cukup sulit buat seorang penulis. Bravo, Mas Doni :). Poin ini ditaklukkan dengan cukup baik. Buku ini sudah sukses memaksa saya membacanya secara beruntun sampai halaman terakhir sampai telat keluar dari kamar padahal sudah bangun sejak dini hari hehehe. Dipelototin suami, deh hahahhaha.
Buku ini terdiri dari 26 esai yang direkatkan dalam 5 bab. Dilengkapi dengan 8 buah puisi.
Tapi sedikit masukan, ya. Kalau berbicara walisongo kayaknya kurang tepat kalau menyebut-nyebut Nusantara. Mungkin lebih cocok di Pulau Jawa saja :D. Saat walisongo aktif menyebarkan Islam di Pulau Jawa, secara bersamaan ada ulama-ulama lain yang juga mendakwahkan Islam di Sumatera dan Sulawesi. Sumber : buku “Ulama & Kekuasaan” (Penulis : Jajat Burhanuddin).
Jangan khawatir, buku ini tidak melulu membahas walisongo doang, kok :D. Isinya lebih luas.
Walau memang bernapaskan Islam, penulisnya menolak buku ini disebut buku agama. Iya sih, sesuai judulnya, buku ini cocoknya disebut “buku kemanusiaan” :D. Genre apa pula itu? :v :v :v.
Bagi yang ingin membuka wawasan terhadap ajaran Islam, bolehlah dijajal buku ini untuk mendapatkan sudut pandang yang lain tentang ajaran yang punya pakem “rahmat bagi seluruh umat manusia.”
Ah yang benar, rahmat bagi umat manusia atau umat muslim doang, nih? :p.
Penulis mempunyai satu penjelasan yang mumpuni untuk keraguan di atas. Bahwa yang namanya kebaikan itu posisinya justru lebih tinggi daripada kebenaran. Lagipula, jika manusia berbicara kebenaran, bisa ribet urusan :p. Karena, yang Mahabenar itu hanya Tuhan semata dong ya, dalam keyakinan kita sebagai umat beragama.
Kecuali ada yang menganggap, “Lah, saya mengerti semua kok Tuhan maunya apa. Saya ini bicara berdasarkan kata Tuhan.” Nah lho! Ngeri, kan? Tuhan punya kembaran gitu? Hahaha :p.
Apakah terbayangkan jika “kami paling benar” ini tidak cuma satu tapi ada beberapa bahkan banyak. Berapa banyak kesusahan hidup yang harus ditanggung oleh umat manusia? :(.
Di sinilah penulis mulai menjabarkan makna pentingnya manusia untuk selalu sadar diri.
Tulisan “Termasuk yang 72 atau yang 1?” adalah tulisan pembuka. Rasulullah sendiri yang berpetuah, umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Makin mencekam dengan lanjutan, hanya ada 1 golongan yang selamat, sedangkan 72 golongan lainnya tersesat.
Pasti langsung pening nyari pengajian mana ini yang cucok hihihihi. Harus ikut NU apa Muhammadiyah? Harus ikut PPP, PKB, atau PKS?
Penulis menguraikan pentingnya kita untuk selalu merasa bagian dari yang 72 itu ketimbang ngotot bahwa kita adalah yang 1 golongan. Selalu merasa tersesat akan membentengi kita dari perasaan tinggi hati dan mendekatkan kita pada rasa rendah hati ;). Mengakui diri masih kurang akan terus menggenjot kita untuk melakukan perbaikan diri demi mengharap rahmat dariNya.
Tak sadar, fokusnya akan selalu di diri kita sendiri. Tak banyak waktu lagi mengorek-ngorek aib orang lain. Senantiasa mencari kebaikan dalam diri orang lain. Bukankah rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas dari jagad raya dan seisinya? Siapalah kita hendak menelaah pikiran dan kebijaksanaan Tuhan? Siapalah kita mau cap cip cup kembang kuncup, ribet sendiri mikirin siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka? :D.
Kategori golongan yang dimaksud bukan kriteria organisasi apalagi kartu tanda anggota :D. Tapi kepada karakter manusia-nya. Karakter kita ngikut siapa? Ya mengikuti sunnah-sunnah dan cara hidup rasulullah :). Walau tak akan sesempurna beliau, minimal kita terus mengupayakan seoptimal yang kita bisa ;).
Yang perempuan jangan cemberut dulu. Penulis punya satu artikel yang mengupas tentang “Monogami Juga Sunnah Rasul”. Ah, masa, masa, masa? Katanya kalau istri cuma satu mah artinya cemen. Poligami sering dianggap titik lemah Islam karena bertolakbelakang dengan jargonnya, “Memuliakan derajat perempuan.”
Baca sendiri di bukunya yaaaaa, penjabarannya sangat runut dan tidak ada yang aneh-aneh dari yang selama ini sudah pernah kita dengar :).
Penjabaran macam apa sih? Buku ini juga banyak menyebut-nyebut soal menjabarkan ibadah via ilmu tasawuf. Ibarat manusia, ilmu syariat adalah tubuh, ilmu hakikat adalah ruh. Jadi, ilmu fikih harus didampingi dengan ilmu tasawuf. Tasawuf ini juga yang akan terus menjaga agar kebenaran-kebenaran yang kita sampaikan terus menerus terbungkus dalam kebaikan. Mencerahkan bukan menyakiti. Membujuk bukan mengancam.
Kemampuan mencerahkan dan membujuk (bukannya menghina apalagi menakut-nakuti) yang menjadi kunci keberhasilan penyebaran Islam secara damai dalam tempo waktu cukup singkat di Jawa oleh para Walisongo.
Ilmu niat diperkenalkan sejak awal. Semua kegiatan kita sehari-hari jatuhnya ibadah kalau disertai niat yang benar. Tidur lebih awal itu pemalas? Enggak juga. Kalau niatnya untuk menjaga kesehatan jatuhnya ya ibadah juga. Kalau niatnya mau begadang nonton bola ya bisa lain lagi urusannya :p –> ini contoh dari bukunya langsung, ya :D.
Bukannya mengatakan sedikit-sedikit masuk neraka, walisongo menerapkan ajaran sedikit-sedikit masuk surga. Jadi, masyarakat awam mudah tertarik dan ajarannya diterima dengan suka cita ^_^.
Kutipan dari buku, “Akhirnya, para petani semakin mencintai sawahnya, para pencari kayu bakar semakin mencintai kelestarian hutan, para nelayan semakin mencintai perahu layarnya, dan sebagainya. Semakin cinta, karena Walisongo giat menyadarkan nenek moyang kita, bahwa semua keseharian umat manusia ternyata adalah jalan menujuNya, asal diniati untuk Allah.”
Soal kepercayaan penduduk saat itu yang memuliakan sapi, disikapi oleh Walisongo dengan menunjukkan surah Al Baqarah, bahwa Islam pun memuliakan hewan sapi :). Saat hari raya qurban, sapi tidak boleh disembelih, diganti dengan kerbau.
Kutipan dari buku, “Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.”
Dan banyak suri tauladan ala walisongo yang disampaikan dalam tulisan-tulisan lainnya. Seperti dalam “Jejak-jejak Walisongo” dan “Bertemu Walisongo di Candi Prambanan.”
Tulisan “Beberapa Jalan Mudah Menuju Surga” juga jangan sampai dilewatkan. Penekanan bahwa ayat-ayat alquran sebenarnya lebih banyak membahas aturan bermuamalah dalam kehidupan sosial. Untuk melengkapi argumen saya tempo hari untuk membantah tuduhan kaum atheis ya, kalau agama hanya peduli pada ritual individu semata. Dalam Islam sendiri, jelas tidak begitu ;).
Allah Maha Pengasih
Berbakti kepada kedua orang tua dalam kondisi apa pun, menyayangi makhluk lain ciptaan Tuhan seperti binatang dan lingkungan hidup, bisa menjadi modal penting asalkan dilakukan dengan istiqamah dan terus menerus.
Belajar memahami kondisi orang lain bisa dijadikan senjata ampun untuk menjaga dari sifat tinggi hati yang sering berujung penghakiman kepada orang lain. Jangan berpikir kehidupan ini seperti buku teks. Apalagi mencoba memasangkan ukuran-ukuran dari pengalaman kita kepada orang lain.
Kehidupan ini sangat kompleks. Seperti contoh dalam buku, memandang pelacuran. Jangan terlampau mudah mengklaim melacur = masuk neraka. Masih ada wacara lain, “menolong”.
Kutipan dari buku, “Kalau tidak bisa memperbaiki, jangan merusak. Kalau tidak bisa membuat seseorang keluar dari kubangan lumpur dosa, jangan melemparinya dengan batu. Kalau kita tidak bisa menolong seseorang keluar dari pekerjaan melacurkan diri, kita jangan sampai menambah kesedihannya.”
Rasa belas kasihan itu adalah sifat dasar manusia yang seharusnya makin tergali seiring keyakinan kita kepada Tuhan. Bukannya malah terkikis atas nama agama :(.
Makna-makna ibadah ritual dari ilmu tasawufnya juga dijabarkan di sini. Hikmah-hikmah di balik gerakan salat misalnya. Agar kita tidak “Meninggalkan Allah di Atas Sajadah”, salah satu judul tulisan lain dalam buku ini.
Demikian garis besar isi buku “Kembali Menjadi Manusia”. Semoga kehangatan dan ketenangan bisa kita peroleh dari isinya. Kedua hal yang mudah-mudahan bisa menguatkan kita bahwa siapa bilang menjadi orang saleh itu mengharuskan kita memusuhi ajaran lain? Apakah akidah yang teguh terkadang mewajibkan kita harus memilih hal yang dirasa tidak nyaman dan menyakiti orang lain?
Kebaikan itu posisinya selalu paling atas ;). Kebaikanlah yang seharusnya membungkus semua kebenaran yang kita yakini.
Secara keseluruhan 4.5 bintang (out of 5) untuk buku ini :D. Segera akan saya list di akun Goodreads saya :D.
Akhir kata saya kutipkan ini kalimat yang pernah saya baca di salah satu tulisannya Mas Iqbal Aji Daryono (entah yang mana hihihihi). Kurang lebihnya begini, “Kita tidak boleh lupa, selain mengakui hak kita sebagai umat beragama kita tidak boleh lupa kewajiban kita sebagai … umat manusia :).”
Dia manusia, mereka manusia, kita pun manusia. Manusia, tempat salah dan lupa (Al insaanu mahallul khatha wan nisyaan). Mari … kembali menjadi manusia.