A Tribute to Our Leaders

Katanya, kita kan harus selalu belajar dari sejarah, ya.

Setiap bagian kehidupan kita yang terkini, sedikit banyak adalah kombinasi dari apa yang terjadi di masa lalu. Termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk juga kebijakan-kebijakan yang pernah diambil oleh pemimpin negeri kita.

Luar biasa kalau melihat dukungan kepada Bung Karno udah kayak apa sekarang ini. Pokoknya kayaknya kalau beliau hidup sampai sekarang, sudah jadi negara maju kali kita :p. Padahal kalau mau menengok sejarah panjang di masa lalu, beliau juga manusia biasa, kok :). Seolah beliau jatuh itu semata-mata karena konspirasi doang hehehe.

Kalau ditelisik lebih mendalam, ada juga ketidaktepatan keputusan yang pernah beliau ambil. Sebagian yang tejadi dan runtuhnya kekuasaannya juga tidak lepas dari keputusan-keputusan yang pernah beliau buat. Ya ada juga kali konspirasinya. Tapi tidak 100%.

Masa-masa kejatuhannya juga banyak dikritik tajam lho oleh banyak kalangan. Situ kira, demo mahasiswa tahun 1998 doang. Sama aja kali, Cuy. Tahun 1965 pun, mahasiswa jadi “bahan bakar” untuk menjatuhkan pemerintah. Terulang lagi di tahun 1998. Saya kasih senyum imut saja deh kalau banyak yang menganggap pemerintahan Soekarno dan Soeharto, keduanya jatuh karena demo mahasiswa. Nggg …. iya-in aja deh hahahahahaha.

Setelah era keduanya, Habibie pun mengakhiri masa kekuasaannya dengan kepahitan. Pahitnya beda. Lepasnya Timor Timur dari NKRI membuat Habibie ikut terbenam. Pidato pertanggungjawabannya “dihajar” habis-habisan.

Awal 2014, beliau muncul dalam wawancara khusus di Mata Najwa. Ealah, langsung dipuji-puji bak pahlawan. Labil kali, Kakaaaaaaa :D. Malah sekarang ada juga yang bilang Habibie itu deh yang paling cocok jadi presiden hihihi.

Almarhum Gusdur ya sami mawon nasibnya. Beliau memang salah satu presiden Indonesia yang cukup unik. Katanya keren berani melawan DPR. Ya itulah yang terjadi dengan Bung Karno. Dengan kharisma yang segitu gemilang yang dimiliki Bung Karno, tetap saja Bung Hatta memberi “peringatan keras” kepadanya terkait Dekrit Presiden 1959 waktu itu. Bung Hatta tidak setuju perubahan demokrasi parlemen ke demokrasi terpimpin.

Menilik sedikit sejarah tentang Bung Hatta yang tidak suka komunis. Salah satu ketidaksukaan Bung Hatta karena komunisme itu identik dengan diktator. Itulah juga mengapa Bung Hatta tidak pernah sreg dengan ide demokrasi terpimpin-nya Bung Karno. Beliau kurang cucok sama yang berbau-bau “diktator”. Penginnya bareng-bareng ^_^. Berpikir bersama, maju bersama, sejahtera bersama ^_^.

Demi menumbangkan PKI, Angkatan Darat mendukung penuh Dekrit Bung Karno. Semua partai protes keras. Ironisnya, “Angkatan Darat” pula-lah yang “menyudahi” kepemimpinan Bung Karno. Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah ;).

Megawati jangan ditanyalah. Ini lagi naik daun meme-nya di mana-mana. Santai saja orang share meme penghinaan terhadap sosoknya ditimpali dengan komentar tak kalah “sadis”nya hehehe. Jadi perlu dibahas agak banyak, nih :D.

Uniknya, sosoknya paling “misterius”. Padahal sebagai perempuan, memang agak sulit berakting melawan perasaan seperti kebanyakan laki-laki. Itu sudah dari sananya. Ditambah lagi, Megawati tidak begitu suka pecicilan di hadapan publik. Semua dihadapi dengan diam. Tak suka konferensi pers, tak suka klarifikasi.

Menjadi presiden di tahun 2001 memang cukup apes. Bagai harus merangkai puing-puing ambruknya negara pasca krisis besar tahun 1998 yang tak kunjung beres di tangan Habibie dan Gusdur. Lucunya, sekarang dituduh-tuduh menjual aset negara seenak jidat hihihihi :p. Dikata aset negara punya presiden pribadi apa gimana ya? Hahahaha.

Kasus BLBI yang juga merupakan limpahan krisis 1998 paling banyak dibebankan kepada Megawati :p. Padahal saya yakin banget yang teriak-teriak BLBI ngerti 50% masalahnya aja belum tentu. Pokoknya Megawati sudah mencuri ratusan trilyun dari negara. Titik! Hahaha.

Tapi ya begitulah Ibu Banteng satu ini :D. Dari dulu, tak terlalu suka menanggapi omongan miring publik. Bolehlah Bu sekali-sekali curhat ke publik ;). Dalam diamnya itulah muncul berbagai rumor yang lagi-lagi selalu enggan ditanggapi oleh yang bersangkutan. Tak banyak yang kenal dan benar-benar tahu sepak terjangnya. Terpilihnya Jokowi jadi presiden diawali prakarsanya dan PDIP membuat namanya kembali terusik.

Sikapnya yang tak banyak bicara bikin kita-kita jadi banyak dosa aja dah hahahaha. Tenggelam dalam prasangka atas ketidaktahuan kita sendiri.

Memang ajaib, dalam banyak ketidakmengertian kita tentang sosoknya, justru Megawati yang kayaknya paling banyak menuai makian. Manusia, membenci apa yang tidak diketahuinya. So true :).

Habis ini eike juga dihajar dan diklaim jadi antek-antek Ibu Banteng hahahaha. Enggaklah, saya mah apa atuhlah. Jujur, enggak “kenal” juga :p. Makanya, bingung kenapa harus ikut membenci? :).

Pun SBY, walau sekarang sudah tampak bagai pahlawan di mata sebagian hater Jokowi, sering juga dulu dimaki-maki. Terutama di masa-masa akhir jabatannya.

Persis saat Soeharto melepaskan tahta dalam banjirnya kritikan dan sorotan, ealah, sekarang meme bergambar beliau dengan tulisan “Piye kabare? Sing penak jamanku toh?” banyak dipuja-puja orang hahahahaha. Itu anak bungsunya booo, punya akun Twitter pula. Tweet-tweetnya Tommy diretweet beramai-ramai bak pahlawan dan analis politik ekonomi yang andal. Ibarat kata, Buto Ijo mendadak jadi malaikat. Pusing pala Timun Mas :p.

Dulu pun SBY diledekin cengeng. Orang-orang yang milih SBY dianggap termakan pencitraan karena gayanya yang dandy, ganteng, dan “bungkus” lainnya. Iyah, saya milih SBY lho ;). Saya sih menentang hestek untuk meledek beliau yang tidak kuasa mengatur partainya terkait masalah Pilkada langsung. Walau saya kecewa, ya amit-amit lah sampai mau ikut-ikutan kayak gitu. Mending tanda tangan petisi daripada maki-maki orang gak jelas, yes? ^_^.

Eh, sekarang pada sebel sama Jokowi, SBY pun dipuja-puja. Mendadak banyak bener jasanya Pak SBY padahal masih ingat banget dulu suka dituduh lelet dan lamban dan tukang curhat!

Jadi, maunya apaaaahhhh? Maunya presiden kayak gimana? :p

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh seseorang :

“Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau?

Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”

[Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.]

Dalam ajaran Islam sendiri, menghadapi/mengkritisi pemimpin itu memang ada adabnya :). Pasti semua pada tahu lah mana yang benar.

Ditambah lagi dengan pesan Gandhi, “Hate the sin love the sinner.” Dibahaslah apa kesalahannya dan bagaimana solusinya. Jangan malah kebalik. Ngerti salahnya enggak, mengerti masalahnya pun samar-samar, tapi paling kenceng maki-maki orangnya hehehehe.

Siapa pun mereka, diantara sekian banyak pro dan kontra, pasti pernah terselip dalam hati masing-masing untuk memperjuangkan cita-cita yang sama, mimpi yang sama untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Mari berprasangka baik :D.

Tentu tak mudah mengurus rakyat sebanyak ini. Sudahlah banyak, bacotnya juga aduhaiiiii :p. Makin tak terkendali dengan banyaknya media sosial. Boro-boro menawarkan solusi, minimal paham masalahnya benar-benar deh, ini malah caci makinya yang bergema paling kenceng :D. Bikin meme paling pintar, nyinyirin paling pakar, tapi solusi nol besar ;).

“Respect was invented to cover the empty place where love should be.”
― Leo Tolstoy

If it’s almost impossible to love them, at least … show some respect ;).

Ini saya share tulisan lama saya, September 2014. Masih cukup relevan untuk pembelajaran kita semua. Iya, kita. Saya termasuk ;).

 

Naik Haji Itu …

Beberapa waktu lalu Kementerian Agama RI mengeluarkan pernyataan mengenai penurunan biaya haji tahun ini. Patut kita apresiasi langkah Kemenag. Dengan melorotnya nilai tukar rupiah (dan juga euro!! –> numpang curcol hahahahaha) terhadap USD, Kemenag masih bisa mencari cara mengefisienkan ongkos naik haji.

Penjelasan mengapa bisa murah dari segi teknis bisa dibaca di sini –> “Penjelasan Menag soal turunnya BPIH” https://www.facebook.com/KementerianAgamaRI/posts/10153012128157928:0

Jangan lupa LIKE page Kemenag ya (itu di awal saya mention pagenya ^_^) untuk informasi-informasi seputar Kementrian Agama :D.

Oh ya Kemenag juga berkeinginan mengatur soal kuota dan pembatasan ketat bagi mereka yang sebelumnya sudah pernah naik haji. Salah satu yang kontra dengan kebijakan ini mengambil sudut pandang –> “Naik Haji kan itu masalah takdir. Bukan urusan manusia.”

Ah, tidak juga. Pemerintah Arab Saudi pun secara ketat mengatur kuota haji bagi para mukimin Saudi. Sejak awal 2000-an, hanya boleh 5 tahun sekali. Tadinya bebas-bebas saja. Makin membludaknya jamaah mau tak mau membuat pemerintah Saudi harus mengambil langkah ini.

Istilah “Haji Koboi” pun menjadi marak. Sewaktu di Jeddah, saya menyaksikan sendiri beberapa pihak menganggap ritual “Haji Koboi” ini menjadi semacam petualangan gitu. Seru katanya kejar-kejaran sama petugas, gelar tenda sendiri, ngumpet kalau ada penjagaan. Kalau ketangkap dikiranya bukan negara yang ikut menanggung beban apa ya?

Pantas saja, seorang teman yang di KJRI Jeddah langsung pening melihat salah satu tayangan film soal naik haji (enggak enak mau sebut judul) yang menurutnya ada indikasi ngajarin orang-orang di tanah air untuk “nekat” tidak jelas. Baru indikasi doang, saya enggak nonton filmnya sih hehehe.

KJRI patut pusing lah. Kalau jemaah ketangkap yang kena getahnya kan mereka lagi. Tidak cukup energi untuk mengurusi peliknya masalah tenaga kerja informal di Arab Saudi, harus pula ketambahan kerjaan dengan orang-orang nekat begini. Saban ada hukuman mati untuk TKW misalnya, mereka lagi yang menjadi sasaran tembak warga di tanah air. Yang kadang ngerti masalahnya enggak, tapi bacotnya paling silet hahahaha.

Nah, bayangin kalau banyak yang terinspirasi oleh tayangan atau buku atau apalah dan nekat ke tanah suci dengan cara ilegal. Siap-siap lagi KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah ketiban kerjaan. KJRI Jeddah sih ya terutama. Riyadh jauh dari tanah suci soalnya tongue emoticon.

Masalahnya, kadang bukan karena keterbatasan ongkos atau kuota. But in the name of the adventure squint emoticon. Please lah, boleh ndak pilih tujuan wisata lain untuk berpetualangan. Jangan pas naik haji. Umrah mungkin masih masuk akal. Naik haji kan ada waktu-waktu khusus. Menginap di Mina serentak, wukut serentak, bagi yang naik haji via Saudi, tawaf wada pun menjadi semacam ujian nyali.

Untung saya kemaren mendapat ‘pertolongan’ khusus. Malam hari sebelum tawaf wada keesokannya, saya datang bulan. Suami tawaf wada sendiri saja, datang sempoyongan setelah mengitar Ka’bah 4 jam malam itu! Gimana kalau saya dan anak saya (anak kedua waktu itu kami bawa usianya masih 18 bulan) ikut bersamanya waktu itu?

Waktu tawaf ifada saja lumayan ‘drama’ soalnya :D. Cerita lengkap naik haji via Jeddah ala Mamah Poni bareng suami dan si kecil ada di buku “Memoar of Jeddah : How Can I not love Jeddah?” :D. Bab paling panjang hahaha. Sudah pada baca? :p.

Kami kira kami sudah terlambat menuju bus. Malam itu juga harus balik ke Jeddah. Suami sudah teler tetap harus membawa kami menembus pelataran Masjidil Haram yang sudah sesak oleh lautan manusia untuk mengejar bus menuju Kudai. Bangga bener deh sama suami perkasa satu ini <3.

Tiba di Kudai, ealah, kami rombongan pertama yang tiba. Menjelang subuh baru berdatangan satu persatu. Pak Supir sudah ketiduran. Menangis, euy, melihat satu persatu datang tertatih-tatih gitu. Hajjan Mabruran insya Allah, saudara saudariku :).

Bisa bayangin kalau tidak ada pembatasan kuota? Kami saja yang cuma harus melewati 6 hari perjalanan haji karena bertolak dari Jeddah tidak sedikit mengalami kesulitan dikarenakan membludaknya jemaah, apalagi yang jauh-jauh datang dari luar negeri.

Di situlah mungkin Allah mencoba mengajarkan kepada kita makna “Naik Haji cukup sekali saja” :). Itu pun bagi yang “mampu”. Mampu dari berbagai segi. Tidak hanya materi, tapi waktu dan kondisi fisik. Tidak hanya bagi sang jemaah pribadi tapi bagi kerabat handai taulan yang ditinggalkan tidak boleh diabaikan begitu saja.

Bagi yang tidak mampu, kewajibannya otomatis terhapus. Dan bagi yang mampu menolong mereka yang belum berhaji tapi kesulitan materi misalnya, bisa bayangkan segimana pahalanya? ;).

Termasuk kebesaran hati untuk mengalah. Walau kita tahu kita mampu berangkat naik haji untuk kedua kalinya, tapi kita harus ingat, ada kuota yang membatasi :).

Berat juga memang. Apalagi kalau tinggal di Saudi. Terlebih lagi tinggal di Jeddah. Jeddah-Makkah enggak nyampe sejam! ^_^. Duh, tiap tahun pengin wukuf, deh, kalau bisa hehehe.

Saat-saat terberat sebelum final exit di King Abdul Aziz International Airport ya waktu mengunjungi tanah suci untuk terakhir kalinya. Waktu itu, visa umrah masih ‘ditutup’, tanah suci sepi banget. Kami mengitari Mina, Musdalifah, Arafah, dan melihat menara lontar jumrah dari jauh. Melihat nomor tenda kami di Mina, nangis-nangis lah pastinya hehehe. Terbayang semua kenangan naik haji.

Seindah-indahnya memori ritual haji, seingin-inginnya mengulang semua sekali lagi, sebesar-besarnya rasa ingin memenuhi panggilan Allah untuk kesekian kalinya, tak boleh kita lupakan… bahwa sejatinya ibadah naik haji tidak hanya mengajarkan tentang ibadah “vertikal” tapi sekaligus menyadari kewajiban memelihara ibadah “horisontal” yang menyertainya :).

Taman Mellat di Teheran Iran

Seribu Taman di Kota Tehran Iran yang Indah

Note : Waktu masih tinggal di Tehran Iran, suami belum demen motret-motret. Jadi foto-fotonya masih cupu gitu hihhihi. Saya ambilkan via googling saja biar benar-benar terlihat cantiknya taman-taman di ibukota Persia, si Tehran Iran ini :).

Kemampuan lensa dan editing fotografer pas-pasan itu seringnya malah membuat foto alam natural menjadi tidak sebagus aslinya :(.

***

Negara Iran mungkin tak terlalu populer sebagai tempat tujuan wisata dunia. Jadi, saya sedikit enggan ketika suami mengajak ke sana. Tepatnya ke ibukota negeri Persia, kota Tehran Iran.

Tehran Iran Kota
Lovely Teheran (gambar : commons.wikimedia.org)

Tapi perjalanan dari bandara menuju apartemen selama setengah jam mampu melunturkan keengganan saya seketika. Terletak di belahan timur tengah yang terkenal dengan tanah tandusnya, hampir di sepanjang jalan kota Tehran malah menyuguhkan sentuhan hijau dimana-mana.

Di sudut-sudut jalan tertata rapi pohon-pohon berbunga yang berjajar dengan rupa-rupa warna. Saya meyakini tanaman-tanaman tersebut dirawat secara khusus oleh pemerintah kota.

Kota Tehran sendiri tergolong kota tua. Tak banyak bangunan baru yang berdiri di seantero kota. Tapi kebersihannya benar-benar patut diacungi jempol. Saya seperti berada di daratan Eropa.

Proses sanitasi mereka tidak menggunakan sanitasi bawah tanah seperti kebanyakan negara-negara maju. Tapi menerapkan sistem selokan atau parit di pinggir-pinggir jalan seperti sanitasi di berbagai kota di Indonesia. Bedanya, selokan mereka lebar-lebar dan dasarnya terlihat dengan jernih. Tak bercampur kotoran dan bau menyengat sama sekali. Cukup mengagumkan.

Jika menelusuri hamparan ibukota Negeri Para Mullah ini jangan harap akan menemukan mal besar seperti di tanah air. Embargo ekonomi Amerika atas negara ini membuat gerai-gerai makanan internasional seperti McDonald’s tak akan ditemukan di belahan Iran mana pun.

Tapi jangan patah semangat, gerai makanan lokal juga punya cita rasa yang tak kalah menarik dan cukup cocok dengan lidah asia kita.

Untuk urusan jalan-jalan, kota ini menawarkan pesona tersendiri. Bahkan kita bisa menikmati Tehran Iran tanpa keluar uang. Cukup bersantai bersama keluarga di taman-taman kota yang tersebar di berbagai sudut kota.

Tehran Iran
Sanitasi di Teheran (gambar : region6.tehran.ir)

Jumlah taman kotanya cukup banyak. Ada yang berukuran kecil ada pula yang berukuran jauh lebih luas daripada lapangan golf.

Pada umumnya taman-taman di Tehran sangat bersih dan dilengkapi dengan playground, lengkap dengan berbagai alat permainan, sebagai tempat hiburan buat anak-anak. Untuk berekreasi di tiap taman, tidak dipungut biaya sepeser pun. Berbagai tanaman dan bunga-bunga dengan rapi menghiasi hampir semua sisi taman. Bila musim semi tiba, warna warni bunga akan tampil begitu memukau.

Tiap taman dilengkapi dengan banyaknya tempat-tempat duduk yang tersebar di berbagai tempat. Disediakan pula peralatan-peralatan olah raga untuk usia dewasa yang bebas digunakan oleh siapa saja. Keran-keran air juga mudah ditemukan. Di Tehran, air keran terjamin kebersihannya dan bisa diminum langsung tanpa perlu dimasak lebih dahulu.

Taman Mellat di Teheran Iran
Taman Mellat di Tehran Iran (gambar : en. wikipedia.org)

Bosan melewatkan waktu sekedar duduk-duduk di bangku taman, silakan memanfaatkan rerumputan hijau yang terhampar di berbagai tempat dalam areal taman. Banyak penduduk lokal yang berkumpul bersama keluarga dengan menggelar tikar dan duduk beramai-ramai. Tak lupa mereka membawa peralatan untuk membuat barbeque dan termos berisi air panas untuk menjerang teh atau kopi hangat.

Tidak seperti di banyak tempat hiburan di tanah air, tak banyak ditemukan kantin atau rumah makan di dalam areal taman. Penjaja makanan kaki lima pun tak akan bisa ditemukan.

Bukan cuma berbagai jenis dan warna bunga yang bisa dijumpai di tiap taman. Mata kita pun akan dimanjakan oleh berbagai monumen yang bentuknya bermacam-macam. Bisa berupa patuh tokoh ternama asal Iran atau sekedar bangunan kecil berbentuk unik.

Taman yang paling sering saya kunjungi adalah Taman Mellat dan Taman Sa’i. Keduanya berukuran besar dan terletak di jantung ibukota, tepatnya di Vanak Street. Jangan bayangkan letaknya berdekatan karena Vanak Street ini cukup panjang.

Taman Sai berukuran lebih kecil daripada Mellat. Semuanya lengkap disini, ada danaunya segala. Biarpun beberapa kali ke sini, rasanya tidak pernah bosan. Yang cukup unik  adalah kontur taman yang bertingkat-tingkat. Kota Tehran memang dibangun di wilayah perbukitan. Sebagian wilayah kota memang tidak memiliki daratan yang rata. Tapi turun naik layaknya perbukitan.

Taman Sai di Tehran Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)
Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

Taman Mellat berukuran sangat luas. Butuh beberapa kali untuk bisa menjelajahi keseluruhan isi taman. Fasilitasnya jauh lebih lengkap dari pada Taman Sa’i. Ada gedung sinema segala. Taman bermain buat anak-anak ada lebih dari satu. Tersedia beberapa buah meja pingpong di beberapa sudut taman. Tinggal membawa bola, raket pingpong, dan lawan tanding tentu saja.

Di Mellat juga ada kebun binatang. Tapi tidak seramai Taman Safari, Bogor. Jenis yang paling banyak adalah ayam. Di daerah Timur Tengah, ayam termasuk hewan langka rupanya. Ada pula burung unta, kambing, dll. Terdapat danau cukup besar di tengah taman, yang dihuni oleh beberapa angsa putih dan beraneka bunga teratai aneka warna. Pemandangannya sangat indah.

Taman-taman inilah yang paling berkesan buat kami sekeluarga. Hiburan yang sehat dan murah meriah untuk seluruh anggota keluarga. Pemerintah kota pun secara serius turun tangan langsung untuk merawat dan memelihara kebersihan, kerapihan, dan keindahan setiap taman kota. Salut untuk pemerintah kota Tehran.

Taman Mellat di Teheran Iran
Taman Mellat di Teheran (gambar : en. wikipedia.org)

 

Belajar dari Arena Floyd vs Pacman

Another old post :p. Di wall FB saya memang senang bikin status. Tapi statusnya tuh benar-benar yang panjang gitu. Kadang, cuma mau share berita tapi ngasih pengantarnya sudah kayak satu artikel sendiri hahahaha.

Kali ini lagi-lagi telat mau bahas soal si Floyd vs Pacman. Tapi kan pesan atau inspirasinya mudah-mudahan tidak pernah telat ya *cuih*.

Bukan penggemar tinju sih. Tapi kasihan juga ini Bang Mayweather dibully abis-abisan. Sampai dibikinin video-video penghinaan macam-macam buat lucu-lucuan hehehehe.

Jiwa kepo membawa saya mencari-cari berita yang kira-kira bisa menggambarkan cara perhitungan teknis main tinju ini :D. Kira-kira berita ini salah satu yang lumayan cocoklah beritanya dengan yang saya maksud 😀. Kalau ngandelin perasaan penonton, waduh, buat apa bayar juri mahal-mahal cobak hihihihi.

Ini kan bukan macam kontes-kontes nyanyi ala-ala Idol-idol an itu yang kemenangannya ditentukan sama voting sms penonton! :v :v :v.

Kemenangan Mayweather ini mengingatkan saya pada kemenangan Yunani di Piala Eropa 2004 silam. Yunani boooo, Yunani! :D.

Euro 2004-winner (gambar : telegraph.co.uk)
Euro 2004-winner (gambar : telegraph.co.uk)

Sudah gengges dari awal melihat pola permainannya yang bertahan mati-matian di tiap pertandingan. Surprisingly terus melaju ke babak final. Rasanya pengin lempar tipi saat Yunani sukses menghempaskan Ceko dan pengin ikutan menghibur Nedved yang benar-benar sudah mempersembahkan permainan yang oke di semi final itu huhuhu.

Melihat Yunani bermain seperti memasang strategi 1 gelandang + 10 pemain bertahan! Hahahhaahaha. Ngerubuuunggg aja di kotak penalti. Mending di kotak penalti lawan! Di kotak penalti sendiri gitu lho *pingsan*.

Nedved, the end of the Semifinal Greech vs Czech (gambar : standard.co.uk)
Nedved, the end of the Semifinal Greech vs Czech (gambar : standard.co.uk)

Otto Rehhagel, pelatih Yunani, santai saja menanggapi nyinyiran berbagai pihak yang menyesalkan strategi “sepakbola negatif” yang dipilihnya. Iyalah, stres kan nonton bola di mana yang satu sudah menyerang habis-habisan yang lain malah bertahan maksimal -_-. Eh, yang nyerang dengan berbagai gaya malah yang kalah.

Menurut Rehhagel, tujuan permainan kan untuk menang. Enggak penting strateginya apa. Dia justru menyadari kelemahan timnya yang memang tidak punya daya serang dan tidak akan sanggup menghadapi tim-tim besar lainnya. Jadilah dipilih “bertahan aja terus” gitu di sepanjang pertandingan sambil nunggu hoki dari bola-bola mati hihihihi.

Memang kejadian! Gol-gol kemenangan tim Negeri Dewa Dewi ini tercipta dari entah itu tendangan bebas, tendangan sudut, dsb. Yang nonton lama-lama jadi gila gak tuh? Menang pula mereka! *pijatPijatKening*. Yang nonton finalnya lawan Portugal pasti lebih pengin nabok tipi lagi hahahahaha.

Rehhagel berpendapat dia sudah berhasil mengubah kelemahan timnya sebagai strategi kemenangan.

Otto Rehhagel (www.zeit.de)
Otto Rehhagel (www.zeit.de)

Oh well, in this life, kadang… kemenangan itu memang tergantung strategi. Strategi untuk memanfaatkan kelemahan sebagai kelebihan dan mempecundangi lawan. Siapa bilang kelemahan itu selalu mematikan potensi?

Strategi paling penting itu memang gimana caranya mengubah kekurangan menjadi kekuatan.

Rehhagel enggak salah dong kalau memilih bertahan. Bodo amat apa kata para penggemar bola. Pada akhirnya kemenangan kan ditentukan oleh strategi dan keberuntungan. Tergantung berapa skor yang benar-benar berhasil dicetak. Predikat juara tidak ditentukan oleh siapa yang terlihat paling keren di mata penggemar, kan? ;).

Btw, saya enggak nonton pertandingan tinjunya. Saya enggak suka tinju, euy. Ngeri karena pernah membaca apa efek dari hobi bertinju ini yang juga menimpa sebagian besar para pemain profesional :(.

Tapi ini penyeimbang ya untuk mengingatkan kalian yang kayaknya mandang Mayweather itu sebagai orang paling jahat sedunia hahahahahaha. Lengkap dengan teori konspirasi bla bla bla.

Floyd Mayweather (gambar : eurweb.com)
Floyd Mayweather (gambar : eurweb.com)

Gak capek ya booo hihihi. Trauma bener deh sama teori konspirasi ini hahahahaha. Santai sajalah. Ingat, untuk pertandingan tinju kemaren, baik yang kalah maupun yang menang, dua-duanya dapat trilyunan rupiah, Cyin!

Situ dapat dosanya doang membully orang yang bahkan tidak kalian kenal! :p.

Sudah yuk ah. As much as you want Manny to beat Floyd, apa perlu rasa sakit hatinya dipakai untuk membully.

Mending kita ambil pelajaran, deh. Merekonstruksi ulang makna kemenangan, mengatur strategi dan mendefinisikan kembali arti keberanian :). Keberanian mungkin tak selalu berarti menyerang tanpa henti atau menggebrak maju berapi-api.

“Courage is what it takes to stand up and speak; courage is also what it takes to sit down and listen.” –Winston Churchill

Seperti salah satu kata pepatah bijak, “Courage doesn’t always roar…” :).

Be brave on your own way. Have a nice weekend ^_^.

becuo com be brave

Fotografer Dani Rosyadi

Belajar Fotografi : Jejak Alam di Mata Manusia vs Lensa Kamera

Saya memang tidak begitu mengerti fotografi. Jadi, dulu saya pikir, fotografer andalan itu ya yang benar-benar hanya motret thok. Fotonya enggak diapa-apain sudah bagus! Kalau masih harus diedit, wah, itu mah tukang foto kacangan! Tukang foto apa tukang edit, sih? #eaaaaaa.

fotografer Dani Rosyadi
Tower of London, fotografer : Dani Rosyadi

Lucunya, suami saya dulu suka saya sindir. Dia biasa-biasa aja, tuh. Kata dia, “Duh, malas berdebat dengan orang yang enggak ngerti fotografi!” Awas yaaaaa hahhahahaha.

Terus saya juga akhirnya sering ikut mantengin video-video tutorial fotografi yang sering ditonton suami via youtube.

Jadi kata suami, bodi kamera plus lensa plus filter dan bla bla bla yang harganya biasanya tidak murah itu memang punya pengaruh terhadap kualitas foto. Tapi ternyata, dengan skill editing yang memadai, ketergantungan terhadap teknologi yang tiada henti tersebut bisa sedikit diakali ;).

Heran juga saya, kok fotografer kawakan banyak yang ngajarin soal edit foto. Lho? Tidak orisinil dong? *garukGarukKepala*. Malah, di beberapa artikel, selain penempatan obyek yang ilmunya cukup “rumit”, kemampuan editing juga menjadi nilai jual seorang fotografer terkenal lho ;).

Padahal dulu, saya ledekin suami, “Halah, kalau cuma ngedit, semua orang juga bisa!”

Disuruh deh saya ngedit foto. Hasilnya … byarrrrr hahahahahhahaha. Kagak ada bagus-bagusnya! Bingung juga adanya hahahahahaha.

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Suami sibuk kasih instruksi, “Exposure dikurangi. Cahayanya lebay tuh. Coba bayangkan melihat pemandangan dengan mata asli. Mana ada sih langit putih doang? Itu salah warna pohonnya. Mana bisa pohon hanya satu warna gitu? Perhatikan dong cahayanya dari mana!”

Huaaaaa … ternyata ngedit foto itu tidak asal klak klik. Ya iyalaahhh *toyorKepalaSendiri*.

Saya baru paham, karena akhirnya saban ngambil foto, saya suka penasaran pengin lihat hasil awalnya.

“Lho kok enggak sebagus aslinya Bang?” Sering saya protes seperti ini.

“Ya kemampuan lensa kamera enggak bakal bisa sebagus mata manusia, dong. Mata ciptaan Tuhan, kamera hanya buatan manusia.”

Fotografer Dani Rosyadi Swiss
Bern (Swiss), fotografer : Dani Rosyadi

Sebagai contoh, di suatu siang suami menyuruh saya melihat pohon di teras belakang apartemen. Dia nanya, warna daunnya gimana. Ya karena sebagian kena tampias cahaya, warnanya bergradasi. Dan juga kalau dilihat benar-benar, hijaunya itu banyak.

Nah, itu maksud suami saya. Mata manusia tidak punya keterbatasan mengenali gradasi warna bahkan dalam terik matahari sekali pun. Sementara lensa kamera punya banyak keterbatasan. Mau dipasangi filter rupa-rupa juga tidak akan sanggup menyamai kemampuan mata manusia.

Di situlah peran penting photo-editing :). Bagaimana mengembalikan gambar ke “fitrah asli” nya :D. Segala keterbatasan lensa dan kamera sedikit banyak bisa diatasi dengan kemampuan editing yang memadai :).

Meme ilustrasi kamera vs mata manusia :D
Meme ilustrasi kamera vs mata manusia 😀

Ternyata, banyak juga teknik-teknik fotografi yang sekarang banyak dibantu oleh perangkat lunak di komputer. Misalnya, kalau enggak salah ada yang namanya HDR.

CMIIW ya. Katanya, HDR ini biasanya untuk mengakali kurangnya cahaya di momen-momen tertentu. Di sore hari, walau matahari sudah redup, mata manusia masih sanggup menangkap bayangan sempurna walau minim cahaya. Beda dengan lensa kamera.

Jadi, diambillah beberapa gambar dengan exposure beda-beda. Kalau single capture, entah obyek satu terlihat terlalu gelap atau obyek lain yang terlihat terlalu terang. Mata kita sih tidak perlu filter. Dengan multi-shot tadi, tinggal editingnya saja yang diatur. Jadilah gambar yang diambil bisa diusahakan semirip mungkin dengan hasil pandangan mata kita ^_^.

Pening, ya, hahahhaha. Itu juga saya neranginnya belum tentu bener hhihihi. Yang punya kemampuan visual pas-pasan seperti saya memang kurang tokcer disuruh belajar fotografi hahahahaha. Enggak mudeng, euy.

Fotografer Wibowo Pujokongko Adi
De al Ain village, Al Baha-Arab Saudi, fotografer : Wibowo Pujokongko Adi

Sudahlah, mungkin memang begitulah jodoh datang :p. Istri hobi menulis, biarlah suami yang hobi motret :D. Mari saling melengkapi ^_^. Dan jangan nyolot lagi. Hargai skill masing-masing hahahaha.

Kalau lihat di artikel-artikel fotografi, proses editing itu seringkali ribetnya minta ampun. Kadang perlu beberapa bantuan perangkat lunak untuk menghasilkan gambar yang benar-benar “cetaaarrrr” :D.

Masya Allah, mata kita tidak perlu diutak atik, otomatis bekerja dengan kemampuan tidak terbatas. Sekian tahun dunia fotografi berusaha menyamai kemampuan mata manusia, dari dulunya hanya sanggup menangkap gambar hitam putih hingga kini dengan kecanggihan kamera-lensa dan printilannya. Dibantu pula dengan rupa-rupa perangkat lunak, tetap saja kemampuan mata manusia tak tertandingi.

Ciptaan Tuhan vs ciptaan manusia. Mau berapa ratus juta pun uang dihamburkan, tak akan mampu menyamai yang orisinil dari sanaNya ;).

Maka, nikmat TuhanMu manakah yang engkau dustakan?

Sudah seringkah bersyukur dengan nikmat penglihatan yang sehat? ;).

Btw, ngedit foto pun perlu skill khusus. Jadi, jangan suka durhaka sama suami yaaaaaa hahahahhaahha. Sungkem dulu sama Pak/Bu Fotografer 😀 .

Enjoy the pics! ^_^.

 

fotografer Dani Rosyadi
East Pier-Dun Leary, Irlandia, fotografer : Dani Rosyadi