People We Haven’t Met Yet (2)

Tak suka dengan non muslim. Tak suka wajah etnis ‘Toraja’. Tak suka dengan perempuan berkerudung. Tak nyaman dengan si mata sipit. Jadi, maunya apaaaa? hahahaha. Itulah gambaran saya ketika memasuki gerbang SMA :D.

Gambar : www.indonesia.travel
Gambar : www.indonesia.travel

***

“Menurut saya, memakai jilbab kurang bagus dalam kehidupan sehari-hari apalagi di depan umum. Apa gunanya? Biar kelihatan beda? Salah itu. Kita kan negara Pancasila.”

Siapa yang mengucapkan kalimat itu dengan lantang di depan kelas saat sesi diskusi di penataran P4 di sebuah SMU Negeri? Yang membuat seisi kelas terbungkam adalah seorang sis
wi SMU yang rambutnya dikuncir dua, dan sebelum berangkat ke sekolah marah-marah ke ibunya karena merasa roknya kepanjangan :D. Sok seksi sekali sih Mbak? :p.

Siswi SMA yang ikut-ikutan temannya melipat pinggang rok biar roknya pas selutut itu adalah… saya! *tutupMuka*. Kalimatnya kurang lebih seperti itu. Tidak ingat tepatnya seperti apa.

Biarpun bertahun-tahun bersekolah di sekolah Islam, saya tak biasa bergaul dengan perempuan berkerudung. Dulu, ada teman SD yang berkerudung, sih. Adiknya juga. Tapi saat bermain, kalau kegerahan kerudungnya dicopot, tuh. Hehehehe. Hanya dia seorang.

Waktu SMP apalagi. Mungkin ada. Tapi luput dari perhatian. Karena jumlahnya sangat minim.

Saya kurang suka dengan anak perempuan berkerudung yang jalannya lambat dan suka tunduk-tunduk. Belum lagi, maaf, karena cuaca panas, kalau bersebelahan dengan perempuan berjilbab, baunya itu, lho :(. Biarpun tidak selalu. Tidak bermaksud menggeneralisir, ya. Mayoritas yang saya temui dulu begitu.

Ucapan saya mungkin menyinggung teman-teman yang berkerudung. Menjelang SMU, biarpun belum seramai sekarang, siswi berkerudung ada saja di tiap kelas.

Selepas penataran, ternyata ada rotasi ulang. Saya pindah ke kelas 1-5 dan berkenalan dengan teman berkerudung yang tidak lamban, malah mudah akrab dengan siapa pun. Anaknya ramah dan suka berbicara dengan siapa saja. Penampilannya rapi, bersih, dan…tidak apek! Hehehehe.

Gambar : www.tempo.co
Gambar : www.tempo.co

Biarpun malas bertanya pada orang, yang menurut saya kala itu = fanatik gak jelas, saya iseng saja bertanya padanya di suatu hari, “kenapa pakai jilbab?”

Tanggapannya biasa-biasa saja, “oh, nanti besok dibawain bukunya, ya. Panjang disitu penjelasannya. Gak hapal.” Dia menjawab dengan santai.

Dan memang, besoknya buku bersampul kuning yang saya lupa judulnya apa berpindah tangan ke saya. Hanya butuh beberapa jam untuk menuntaskan isinya dan sumpah saya baru tahu… kalau pakai jilbab itu (katanya) wajib. Ayat-ayat yang ditunjukkan tidak aneh-aneh. Meskipun memang deskripsinya ekstrim sekali kalau diingat-ingat sekarang.

Yang jelas, saat itu tanpa pikir panjang, malamnya saya bilang ke Mama, “Mama, saya mau pakai jilbab?”

Mama melongo. Tapi cuma berujar pendek, “kapan?”

“Ya, kalau bisa besok.”

Hahaha. Segitunya :p. Terus saya menyerahkan buku sampul kuning itu ke Mama. Entah dibaca atau tidak.

Lalu, Mama mulai bercerita ke kerabat. Kala itu, memang belum umum perempuan seusia kami berkerudung. Sebagian besar keluarga menentang. “Masuk aliran sesat anakmu, tuh. Makanya belajar saja yang benar. Macam-macam saja yang dibaca.”

Waktu itu pasrah saja. Biarlah kalau memang belum waktunya.

Tapi, hanya beberapa malam setelah saya utarakan niat itu, Mama menyerahkan sebuah bungkusan pada saya, “itu rok panjang ada 2. Lengan panjang juga 2. Jilbab putih ada 2. Coba pakai, pas tidak?”

Masya Allah.Malam itu, bantal saya basah karena saya menangis hampir sepanjang malam. Hehehe.

Tahun 1995, dimana banyak teman menghadapi banyak ‘drama’ untuk memakai penutup kepala, jalan saya begitu mudah :). TUhan menganugerahi seorang Ibu istimewa. Bahkan, beliau pun belum mengenakan kerudung saat itu :).

Gambar : www.vemale.com
Gambar : www.vemale.com

***

Hanya beberapa bulan setelah duduk di bangku SMA, saya mulai berkerudung. Punya sahabat orang Toraja. Pelan-pelan saya menyadari, kalau sudah berteman, kita akan lebih fokus ke persamaan. Sama-sama membaca majalah remaja. Cekikikan lihat cowok cakep. Bahkan jajan bakso di kantin yang sama, duduk berjejalan di kursi kayu terbatas yang ramai dirubung anak sekolah.

Saya tak tahu dalam hati mereka terucap apa tentang saya. Tapi yang penting, mereka santun dalam keseharian, jadi itulah yang prinsip yang terpatok dalam kepala. Memangnya saya peramal, bisa baca isi hati tiap orang :D.

Kelas 2 SMA, kelas saya ada beberapa orang dari etnis Tionghoa. Awalnya pasti canggung. Entah ya, mungkin karena pikiran sudah ‘kotor’ duluan, saya was-was dekat mereka.

Dua orang anak perempuan bermata sipit duduk sebangku. Yang satunya pendiam. Yang satunya lagi jago basket, tinggi semampai, dan amat seru diajak ngobrol ^_^. Terheran-heran juga saya, hanya beberapa hari sekelas, saat jam istirahat, saya suka berdiri berdua dengannya di teras kelas, ngobrol ngalor ngidul hingga lonceng berbunyi.

Chinese girls, Zhuang Singing Festival Contest (gambar : guilinliriver.com)
Chinese girls, Zhuang Singing Festival Contest (gambar : guilinliriver.com)

Yang paling berkesan adalah anak laki-laki berinisial S. Anak baru di kelas. Dia sering bercerita tentang komputer. Maklum ya, kota kelahiran saya, biarpun termasuk salah satu kota metropolitan di belahan Indonesia Timur, belum terlalu familiar dengan barang canggih satu ini hehehe.

Nekad lah saya main ke rumahnya di suatu hari libur. Penasaran saya dengan seluk beluk komputer yang dia ceritakan. Di rumahnya, agak takut-takut juga pas mau masuk. Mereka tinggal di ruko. Lantai bawah dijadikan toko. Tapi keluarganya biasa-biasa saja, tuh.

Di lantai atas, saya dengan khusyuk mendengar penjelasannya tentang barang hebat satu itu, sembari dia mencontohkan hal-hal yang ‘luar biasa’ di mata saya kala itu, yang bisa dilakukan dengan benda ini 😀 Katroooo… ahahahahaha.

Disitulah pertama kali, tekad kuat yang sudah belasan tahun mengikat cita-cita saya menjadi seorang dokter, terkikis perlahan. Si S ini yang berceramah panjang lebar tentang di era tahun 2000, komputer akan menjadi barang utama dan akan berkembang makin pesat. Dia pula yang bercerita penuh semangat, “ini ada jurusannya lho kalau mau kuliah.”

Wah, ada, ya? hihihihihi.

Siapa sangka, dia yang bermata sipit itu, orang-orang yang dulu selalu menghadirkan rasa was-was dalam hati, malah menjadi orang yang membawa saya membuat salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya : menuliskan Fakultas Ilmu Komputer sebagai pilihan pertama saat UMPTN di tahun 1998.

Biarpun saat lulus UMPTN, guru-guru banyak yang mencibir, dan teman-teman banyak yang bertanya-tanya, “kok masuk komputer? kenapa gak kursus saja?” Hahaha. Mohon dimaafkan, tahun segitu, jurusan informatika di daerah kami masih dipandang sebelah mata ;).

Alasan lain saya tak memilih cita-cita kecil menjadi dokter itu karena tak ingin terlalu lama menjadi beban keluarga. Situasi saya kurang tepat untuk ‘memburu’ impian yang itu. Dan pas sekali memilih jurusan informatika :D.

Computer Science girls (gambar : theguardian.com)
Computer Science girls (gambar : theguardian.com)

Sebelum 4 tahun, di bulan April 2002, saya sudah diterima bekerja dengan gaji lumayan. Dan tentu saja… meneruskan tongkat estafet sebagai salah satu tulang punggung keluarga ^_^.

Tahun-tahun kelulusan itu adalah masa-masa emas bagi para pekerja IT seperti kami.

Baca : People We Haven’t Met Yet (3)

***

 

5 Wisata Arab Saudi Selain Mekkah dan Madinah

Wisata Arab Saudi : Arab Saudi, Sang Negeri Penjaga 2 Kota Suci umat muslim, Mekkah dan Madinah. Kedua kota ini menjadi magnet penting bagi para pendatang, jemaah haji dan umrah, dari berbagai penjuru negeri.

Namun, Negeri Gurun satu ini juga memiliki banyak tempat lain yang unik selain kota Mekkah dan Madinah. Beberapa diantaranya :

[Updated : Versi vlognya ada di link di bawah ini]

 

1. Madain Saleh / Al Hijr

Terletak di Kota Al Ula, berjarak 400 km dari Kota Madinah, tempat ini dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh badan UNESCO di tahun 2008. Nama resmi tempatnya adalah Al Hijr. Namun, lebih dikenal sebagai Madain Saleh. Karena dianggap pernah menjadi tempat bermukimnya kaum Nabi Saleh, kaum Tsamud.

Wisata Arab Saudi Madain Saleh, bangunan terpahat di perbukitan batu, foto : Dani Rosyadi
Madain Saleh, bangunan terpahat di perbukitan batu, foto : Dani Rosyadi

Jejak sejarah yang kini masih bisa ditemukan di tempat ini mayoritas berasal dari Kaum Nabatean yang hidup sekitar abad 1 Masehi. Bangunan-bangunan yang dipahat di perbukitan batu, dengan cara tradisional yang hanya memanfaatkan sebilah kayu dan bantuan air, masih kokoh berdiri. Sebagian berfungsi sebagai tempat tinggal, kuburan, tempat pemujaan dsb.

Bangunan batu yang dikelilingi padang pasir juga menjadi ciri khas dari Madain Saleh. Tempat ini bisa dinikmati tanpa membayar biaya masuk sama sekali.

Wisata Arab Saudi Bangunan di perbukitan batu diantara padang pasir, foto : Dani Rosyadi
Bangunan di perbukitan batu diantara padang pasir, foto : Dani Rosyadi

2. Kota Thaif

Hanya butuh sekitar sejam untuk menjangkau tempat ini jika mengendarai mobil/bus dari Kota Mekkah. Letaknya yang berada di atas perbukitan batu tak perlu membuat gentar para pendatang. Karena sebuah jalan tol dengan sejumlah pengamanan untuk melindungi para pengemudi telah rampung dibangun sejak lama.

Tebing-tebing di sisi jalan diberi pembatas kawat untuk menghindari bebatuan yang mungkin jatuh. Sisi lembah seluruhnya dilindungi pembatas beton. Dua jalur  dipisahkan oleh pagar pembatas untuk menghindari tubrukan dengan mobil dari arah yang berlawanan.

Saat malam tiba, jalan tol berhias lampu-lampu jalanan terang benderang. Perjalanan mendaki menuju Thaif saja sudah merupakan pengalaman seru tersendiri.

Wisata Arab Saudi Thaif Highway, foto : Adwin Zulfikar
Thaif Highway, foto : Adwin Zulfikar

Karena terletak di dataran tinggi, kotanya cukup hijau dan sejuk. Ada beberapa taman berumput hijau sebagai tempat untuk menggelar tikar dan bersantai. Banyak penjual buah-buahan segar di sisi jalan di pintu gerbang kota. Thaif melambangkan sisi lain wilayah Arab Saudi yang ternyata tak semuanya didominasi oleh tanah gersang dan padang pasir.

Wisata Arab Saudi Kota Thaif

3. Pantai Thuwal

Sebagian wilayah Arab Saudi bersisian langsung dengan Laut Merah. Sehingga tak cuma padang pasir yang menjadi ciri khas alam negeri ini. Pantai-pantai pun berjajar di sepanjang pesisir barat Arab Saudi. Salah satunya adalah Pantai Thuwal yang terletak di Kota Thuwal.

Berjarak sekitar 80 km di sebelah utara Kota Jeddah, pantai Thuwal dibuka untuk umum secara gratis. Pantainya terletak di wilayah teluk, airnya cukup tenang tanpa banyak ombak.

Fasilitas di Pantai Thuwal tergolong lengkap. Kamar mandi umum berjumlah cukup memadai. Petugas lalu lalang menjaga kebersihan di area pantai.

Wisata Arab Saudi Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi
Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi

4. Padang Badar

Kota Badar pernah bersaksi terhadap salah satu peperangan penting bagi umat Islam di masa awal dahulu. Tempat ini menjadi lokasi dari perang besar pertama sejak umat muslim hijrah dari Mekkah ke Madinah, Perang Badar. Saat itu, dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit, umat muslim sanggup memenangkan pertarungan.

Badar Arab Saudi

Padang Badarnya sendiri  mengelilingi hampir seluruh wilayah Kota Badar. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan pasir halus yang berbukit-bukit. Sebaiknya jangan mengunjungi Padang Badar saat puncak musim dingin. Anginnya sangat kencang dengan suhu sangat rendah.

Padang Badar bisa ditempuh selama berkendara sekitar satu jam dari Kota Madinah.

5. Al Baha

Tempat ini bisa dicapai dengan menyetir mobil sekitar 3-4 jam dari Kota Jeddah. Letaknya di dataran tinggi sehingga suhunya terkenal dingin. Dikelilingi oleh banyak hutan dan perbukitan, suhu tertinggi di Al Baha jarang mencapai 30 derajat celcius. Kontras dengan wilayah lain di Arab Saudi yang sangat terik di musim panas.

Wisata Arab Saudi Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi
Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi

Tempat ini menjadi tempat peristirahatan di musim panas bagi para pemukim di berbagai wilayah Arab Saudi karena suhunya yang sejuk. Sebuah taman, Ragadan Park, di salah satu tepian lembahnya menjadi salah satu destinasi wisata Arab Saudi yang utama di wilayah Al Baha.

Ragadan Park, Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi
Ragadan Park, Al Baha, foto : Wibowo Pujokongko Adi

Bagaimana? Tertarik untuk ikut menjelajahi 5 wisata Arab Saudi selain pesona dua kota suci Mekkah dan Madinah?

 

Wisata kuliner di Chinatown London

Tempat Wisata London : Jelajah Kuliner dan Berburu Suvenir di Chinatown London

Tempat wisata London ada macam-macam, sih. Btw, London terkenal sebagai kota mahal. Termasuk harga-harga suvenirnya. Mau beli tempelan kulkas saja bisa 4-5 pound per biji *ngelapKeringat*. Padahal saya naksir dengan hampir semua suvenir khas London! Huhuhu. Coba cek berapa kurs GBP terhadap IDR sekarang? *pingsan*. Tapi tetap ngotot mesti tahu tempat wisata London kan, kan, kan :p.

Misalnya payung ala Jack Union ini, lho. London banget gitu kesannya. Maklum nih, dimari banci London abis *siulSiul*.

Souvenir london umbrella tempat wisata london
London Umbrella (gambar : theineptowls.com)

Tapi apa pun yang berbau Jack Union saya sukaaaaa ^_^. Bantal-bantalan, mug, pensil, pulpen, notes, boneka-boneka, tempat pensil, dompet, apa saja deh yang nuansa merah-biru-putih ala-ala Jack Union-nya si UK :D.

Souvenir shop tower of london  tempat wisata london
Gerai suvenir di dekat pintu gerbang Tower of London

Walau tidak wajib, menenteng buah tangan buat kerabat/teman/keluarga atau siapa kek menjadi semacam ritual jalan-jalan :D. Ya minimal sekalian buat cuci mata, sih. Perempuan pan paling seneng liat-liat. Padahal beli juga enggak hahaha *tunjukDiriSendiri* #eaaa.

Begitu mampir ke toko suvenir di salah satu sudut Chinatown di London dan ngecek harga-harganya, rasanya pengin langsung tepuk tangan! Hahaha. Harganya lumayan miring.

Misalnya nih, ya, harga-harga barang di luaran yang berkisar 4-5 pound, di Chinatown bisa didapatkan seharga 2.5 pound saja. Saya cek juga kualitas barangnya sama ^_^.

Chinatown London souvenir shops tempat wisata london
Berpose di toko suvenir di Chinatown London

Gerai-gerai penjual suvenir  banyak juga di Chinatown London ini. Label “murah  meriah” memang kerap disematkan ke area-area yang berbau Chinatown, ya. Bukan hanya di London kan? Di kota-kota besar lain di dunia juga gitu. Singapura saja punya daerah ‘chinatown’ :D.

Jadi, monggo yang pengin borong oleh-oleh, sebaiknya jangan sampai dilewatkan ini kegiatan berburu suvenir di Chinatown London.

Suasana ramai di Chinatown London
Suasana ramai di Chinatown London

Penuh dan sesak, kesan pertama saat berada di sana. Saat ke sana, lagi hujan. Jadi jalanannya basah dan agak becek. Walau begitu, orang-orang tetap wara wiri dengan semangat.

Sebenarnya wilayah ini dikenal karena resto-resto Asianya yang banyak. Salah satu tempat untuk berwisata kuliner di London. Kami khusus ke sana awalnya memang buat cari makan. Perut Asia enggak kena nasi 3 hari penuh, lama-lama enggak kuat juga hihihi.

Selama di London, sarapan di hotel paling buah-buahan, roti, telur, selai, keju, brownies segala  macam. Enggak ada tanda-tanda halal, vegetarian menu jadi pilihan kami selalu. Kalau saya sih, sarapan buah pun biasanya sudah cukup ^_^.

Kalau makan siang di jalan, sebenarnya ada banyak resto halal di berbagai tempat di London. Cuma kadang enggak sinkron sama itinerary perjalanan. Daripada ribet nyari-nyari tempatnya lagi, ya mending mampir ke Pizza Hut atau sebangsanya. Pesan menu andalan : menu vegetarian! :D.

Untungnya sih di hampir semua gerai fast food, menu vegetarian selalu tersedia ;). Menunya ya paling cheese pizza, vegetarian pizza, vegetarian sandwich, mana ada menu nasi-nasian :p.

Wisata kuliner di Chinatown London  tempat wisata london
Jalan-jalan di Chinatown London

Tapi di hari ke-4, bosan juga kalau perut enggak pernah diisi nasi. Jadilah kita kepengin jalan-jalan sekalian CARI NASI di Chinatown! :p.

Restoran di sana tuh banyak banget. Rupa-rupa makanan Asia. Yang Timur Tengah memang agak jarang. Dominasinya itu resto khas China, Thailand, Jepang, Vietnam, Korea, Malaysia juga ada, kalau enggak salah. Lagi laper sih jadi enggak konsen hahaha.

Ngelap iler di depan salah satu resto yang menyajikan masakan khas China. Banyak menu nasi-nasinya soalnya :D. Umumnya di depan resto ada pelayan pegang menu sambil mengundang orang-orang untuk masuk ke restonya. Semacam di Indonesia gitu, ya, ada embak-embak yang rajin menyapa pengunjung, “Mari Kakaaaaa…dicoba yuk Kakaaaa…” hihihi :p.

Kami hampiri dan bertanya ada vegetarian menu, gak? Walah, si embak nampaknya enggak terlalu bisa bahasa Inggris. Walau kelihatan bingung dia ngangguk-ngangguk saja sambil nunjukin menu-menu yang menurutnya ‘vegetarian’.

Kaget saya, menu pertama tuh “Pork Pak Choy” … hahaha! Saya bisik-bisik ke suami, “Dia kayaknya nangkepnya kita nyari menu vegetables.”

Tapi jangan khawatir, di menu biasanya ada tanda khusus untuk menu-menu vegetarian. Berupa kode [v] di akhir nama menunya ^_^. Kalau V for Vendetta maka [v] for vegetarian 😀 😀 :D.

toko-toko

Saya udah enggak ingat nama restonya. Setelah melihat banyak juga nama menu berakhiran [v], kami pun masuk ke resto. Enggak ada meja kosong. Penuh soalnya. Karena sudah lapar, kami akhirnya nyari resto lain. Ketemu satu lagi. Kali ini, alhamdulillah, ada meja kosong! Mari makaaaannn ^_^.

Kami pesan mi goreng veggie + nasi hihihi. Jadi, makan nasi dengan lauk mi! Indonesia banget gak sih hahaha. Terus ngiler ngeliat menu aubergine. Aubergine ini nama lain dari…terong! Kalau dari gambarnya semacam tumis terong gitu. Pelayannya juga sangat merekomendasikan menu vegetarian satu ini. Kami pesan sepiring.

Isinya dikit banget. Cuma cukup dimakan berdua. Itu juga rebutan sama suami. Harganya dong, 7.5 pound! Tumis terong termahal yang pernah saya makan! Hahaha. Untung rasanya lumayan *elusElusPerut*.

china town jalan

Pada dasarnya saya ini enggak pinter deh bikin review-review kuliner. Lebih sering bawa bekal kalau jalan-jalan ke mana-mana selama di Eropa sini hihihi *ngikikNgirit*. Tapi rasa makanan ala-ala Asia Pasifik Timur Jauh macam China dan Korea itu lumayan lah ya di lidah Indonesia kita.

Di lidah saya juga seringnya hanya ada 2 rasa makanan : enak atau enak banget! :D.

Tapi pilihan resto di sana tuh banyak banget. Aneka dimsum juga lumayan menggoda sebenarnya. Berhubung perut menjerit-jerit minta nasi, kami fokusnya ke menu-menu berNASI.

Yang lucu, sempat kaget melihat ada bangunan dengan plang ini, nih. Lihat gambar ini, bangunan di pojok yang jadi fokus foto. Hayooo siapa yang mau masuk ke sini? :p

tempat wisata london

Lumayan deh ya, sehabis makan, muter-muter sebelum benar-benar gelap. Chinatown London menjadi semacam hiburan tersendiri, “Oh, ternyata di London ada juga yang murah-murah” :p.

Ada yang niat ke London? Jangan lupa wisata kuliner dan berburu suvenir ke Chinatown London.

Untuk ke sana via Tube Station :

1. Turun di Leicester Square Station, Piccadilly Line. Dari sini jalan kaki kira-kira 5 menit. Kalau bingung tanya-tanya saja.

2. Turun di Piccadilly Circus Station, ini juga Piccadilly Line. Jalan kakinya juga sekitar 5 menit-an.

3. Turun di Covent Garden Station, Piccadilly Line. Dari sini agak jauh, jalan kaki bisa 10 menit. Tapi ini tempatnya cakep lho. Kami juga sempat muter-muter di Covent Garden. Di postingan lain aja, ya, rumpiin si Covent Garden ini :D.

Tiga-tiganya termasuk Piccadilly Line, sih. Stasiunnya juga nyambung semua ini, Leicester yang di tengah-tengah. Jadi, kalau misalnya nyampe Piccadilly Circus lupa turun, ya tinggal lanjut ke stasiun berikutnya yaitu Leicester Square. Masih lupa juga, lanjut terus ke Covent Garden. Gitu deh kira-kira :D.

Via Charing Cross Railway juga bisa. Turun di The Strand, London, Covent Garden. Jalan kakinya lebih dari 10 menit. Agak jauh.

Via Euston Railway, turun di Euston Road. Setengah jam dari Chinatown.

Via City Thameslink, turun di Ludgate Hill, setengah jam juga dari Chinatown kalau jalan kaki.

Gitu kira-kira petunjuk arahnya. Selamat seru-seruan di Chinatown London yaaaaaa. Sambil makan sambil borong oleh-oleh ^_^.
pantai di arab saudi

Kehidupan Orang Arab : “Ngabuburit” ala Orang Arab

Kehidupan Orang Arab : Beberapa kali saya melewatkan bulan ramadan di Negeri Gurun. Tepatnya di kota Jeddah, Arab Saudi. Tentu banyak penyesuaian yang perlu dilakukan.

Ah, saat-saat ramadan dan hari raya, rasa kangen untuk kerabat tercinta di Indonesia pastilah sedang sengit-sengitnya. Untung di Jeddah pun banyak teman-teman baru yang tak kalah serunya.

Dulu saya membayangkan seperti apa, ya, orang-orang Arab menjalani bulan penuh berkah ini? Pastilah lebih ekstrim daripada kita di tanah air. Saya pikir mal-mal pasti ditutup penuh saat bulan puasa. Jangan ditanya ada berapa mal di salah satu kota besar negara Saudi ini. Banyak banget dan besar-besar pula.

Kehidupan orang arab fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Di tahun pertama merasakan ramadan di sini, saya heran dengan tetangga depan apartemen saya. Mereka sekeluarga juga dari Indonesia. Sekitar jam sepuluh malam, mereka selalu keluar rumah. Saya tahu, karena selain jarak antar pintu apartemen kami cuma 4-5 meter saja, anaknya ada 3 orang dan mereka cukup bising.

Ini bukan cuma beberapa kali. Namun, hampir tiap hari. Saya tidak tahu jam berapa mereka pulang. Tapi saya bingung, kemana mereka jam segitu, ya? Di Indonesia, saat ramadan tiba, toko-toko malah tutup lebih cepat, bukan? Tidak enak mau bertanya-tanya langsung kepada mereka.

Tapi di Jeddah memang berbeda. Pagi hari nampak bagai kota mati di bulan ramadan. Nyaris tidak ada aktivitas apa-apa. Hanya orang kantoran mungkin yang tampak lalu lalang di jalan raya. Toko-toko kelontong tutup semua. Semua gerai dalam mal tutup. Kecuali tempat-tempat seperti : Hyperpanda, Danube, dan Bin Dawood. Ketiga tempat itu semacam swalayan besar yang umum dikenal di sana.

Semua anak sekolah wajib libur. Dan suasana senyap ini berlangsung hingga waktu ashar tiba. Barulah, setelah ashar, beberapa gerai dalam mal ada yang buka. Tapi tidak semuanya, lho. Tempat makan juga sudah mulai dibuka. Selepas magrib, mereka semua serempak tutup lagi. Sehabis isya, barulah kehidupan dimulai!

Biarpun begitu, aktivitas rutin saya tetap seperti biasa. Tetap tidur paling lambat jam sebelas malam. Tapi suatu hari jadwal belanja bulanan menghampiri. Suami mengajak keluar selepas isya saja. Bukan main suasana jalan raya saat itu. Nyaris macet dimana-mana. Seolah semua orang tumpah ruah di jalan.

Kami parkir seperti biasa dan masuk ke dalam mal. Jeng…jeeeeng…ramainya minta ampun! Saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Luar biasa antrian di kasir Hyperpanda. Itu bukan akhir pekan, lho. Pukul satu pagi, barulah acara belanja itu selesai. Dan suasana dalam mal masih penuh hiruk pikuk. Bisa dibilang semua gerai tidak ada yang tutup, termasuk food courtnya.

Kehidupan orang arab di Corniche Road, Jeddah
Corniche Road, Jeddah

Barulah saya mengerti ke mana tetangga saya menghabiskan waktu malamnya. Konon itu berlangsung hingga waktu subuh tiba. Bila subuh berakhir, semua toko akan tutup seperti biasa, dan pelan-pelan ‘pesta’ pun berakhir.

Inilah yang dimaksud istilah teman saya, “Kalau ramadan di Saudi, siang jadi malam, malam jadi siang.” Pantas saja pagi hingga sore hari di bulan puasa, nyaris tak ada aktivitas di luar rumah. Kalau kata suami saya, “Mereka ngabuburitnya abis isya, nunggu sahur.” Beda dengan kita, ngabuburitnya menjelang jadwal berbuka.

Rasanya aneh juga. Saya tak terbiasa menghabiskan waktu puasa di siang hari dengan berdiam diri di rumah. Main ke rumah teman lain juga nyaris tak mungkin. Sebagian besar teman saya sudah mengikuti ‘pola’ hidup seperti ini jika ramadan tiba. Tapi susah juga mau jalan-jalan karena toko dan pasar tidak ada yang buka hingga malam menjelang nanti.

Sisi positif tinggal dekat dari tanah suci saat bulan puasa menjelang, kita bisa melaksanakan umrah ramadan. Duh, jangan ditanya ramainya oarng-orang mengerumuni Ka’bah dan Masjidil Haram di bulan ramadan. Ingat, ramadan tidak seperti waktu haji. Jika haji ada pembatasan jumlah jemaah. Untuk umrah ramadan…tidak ada batasan sama sekali. Paling ramai sehabis ashar hingga waktu subuh. Subuh berakhir, berangsur-angsur agak longgar biarpun tetap ramai. Tapi tak banyak orang memilih melakukan ritual umrah di siang hari.

Meskipun keadaannya sangat berbeda, saya lama-lama menikmati menghabiskan puasa di kota yang berjarak 70 km dari kota Mekkah ini. Memang, rasa rindu pada keluarga tak kunjung habis. Walau saya bingung kenapa di sini orang-orang kok malah kelayapan tengah malam saat bulan puasa, ya?

Mau tak mau sesekali kami pun harus ikut ngabuburit ala mereka. Kelayapan tengah malam demi anak-anak. Kasihan karena mereka tidak ada hiburan.

Aduh, sering merasa ibadah puasa malah tidak khusyuk. Bagaimana mau menikmati bulan penuh berkah ini?

Tapi akhirnya saya menyadari beberapa hal. Ngabuburitnya boleh beda, tapi ibadah puasanya bukan hak kita, sesama manusia, untuk menilai.

Makna puasa itu kan ibadah kepada Allah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya dimana saja, apa pun suasananya. Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar. Selamat menjalankan ibadah puasa dimana pun Anda berada.

***

People We Haven’t Met Yet (1)

“Gak mau ah nunggu di gereja…”

“Ayooooo… disuruhnya tunggu disitu!” Adik saya sudah menarik-narik tangan saya.

Akhirnya kami berdua menunggu jemputan di sebuah gereja (yang belakangan saya ketahui sebagai gereja katolik karena memasang patung Bunda Maria dimana-mana). Gereja yang berdiri megah ini terletak di ujung jalan yang sama dengan sekolah saya, Sekolah Islam Athirah.

Gedung sekolah Athirah Makassar 2011 (gambar referensi.data.kemdikbud.go.id)
Gedung sekolah Athirah Makassar 2011 (gambar referensi.data.kemdikbud.go.id)

Kalau tidak salah, jalanan sekolah kami satu arah. Jadi untuk memudahkan, penjemput kami, yang biasanya menggunakan motor vespa, kami menunggu di persimpangan. Y,a di gereja itu.

Ternyata teman saya banyak yang menunggu di sana. Teman dekat pula. Mereka tinggal di kompleks dosen UNHAS. Dan berbagi mobil jemputan dengan anak kompleks lain yang bersekolah di sekitar jalan Kajaolalido itu.

Sembari menunggu, ada pula anak-anak sekolah dari Frater (sekolah kristen). Tapi anak-anak sekolah ini juga banyak yang muslim. Atau dari sekolah Nusantara, sekolah swasta yang juga dimiliki oleh yayasan Kristen.

Aduh, rasanya aneh sekali. Saya, yang bertahun-tahun sekolah di sekolah Islam tak biasa bercengkrama dengan anak-anak bermata sipit dari Frater. Atau anak-anak dengan wajah yang cukup ‘khas’ yang dikenal sebagai etnis Toraja, wilayah yang didominasi pemeluk Protestan.

Tapi entah kenapa, “menunggu di gereja” menjadi hal yang rutin. Penjemput merasa itu adalah jalur tercepat. Ya sudah, biarp canggung, lama-lama terbiasa sendiri.

Karena dasarnya kepo, begitu rasa kikuk tak lagi tersisa, mulai deh gatal ingin melihat seperti apa sih kawasan dalam gedung gereja?

Adik saya selalu menolak kalau diajak masuk. Dia lebih suka melepas sepatu, berlari-lari seperti orang gila di halaman gereja hihihi :p. Atau bermain pasir di sebuah bundaran tengah halaman. Gak penting amat sih kegiatan lu, Buntel? hahaha.

Biarpun penakut, rasa penasaran menyeret saya memasuki pintu gerbang gedung gereja di bagian samping yang saat itu entah kenapa terbuka lebar. Biasanya terkunci.

Gereja Katedral Makassar , Kajaolalido (gambar : kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Gereja Katedral Makassar , Kajaolalido (gambar : kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Halaman samping gereja berupa taman yang rapi. Di tengah taman, ada semacam kolam kecil yang di tengahnya ada patung Bunda Maria. Ada kamar-kamar di ujung taman. Pas pengin menyelinap masuk, ada beberapa biarawati yang memergoki. Duh, rasanya ingin kencing :P.

Mereka pasti mengenali saya. Seragam sekolah kami cukup unik. Waktu SD, saya tak pernah mengenakan seragam putih merah. Tapi seringnya seragam kotak-kotak hijau dengan rok hijau pastel yang menurut saya seragam yang paling keren :D.

Tak berpikir panjang, lari terbirit-birit keluar. Hahaha.

Sampai akhirnya, ijazah SD sudah distempel dan saatnya memulai dunia ABG jadi anak SMP :D.

Sebenarnya ingin sekali melanjutkan di sekolah yang sama, secara kecengan SD semuanya kembali bersekolah di sana. Mulia sekali alasannya, Kakaaaa, hahaha. Tapi 2 hari setelah Ebtanas SD, Bapak meninggal tiba-tiba. Jadi tahu diri saja deh, NEM nya cukup untuk masuk sekolah negeri yang kala itu masih sangat-sangat murah :P. Dipilihlah SMP negeri yang merupakan SMP terbaik (katanya) sepropinsi.

***

Menginjak bangku SMP lain lagi ceritanya. Biarpun waktu SD, akhirnya terbiasa menunggu bersama dengan anak sekolah lain (yang sipit, dll itu :P), tetap saja canggung ketika harus berbagi kelas yang sama.

Waktu SD, teman saya juga ada yang sipit. Tapi ketika azan dzuhur tiba, dia juga duduk bersama kami mengenakan kerudung dalam mushalla sekolah. Delapan tahun penuh saya sebelumnya bersekolah di lingkungan Islam. Semuanya muslim. Dari guru hingga teman-teman. Di lingkungan tempat tinggal pun, anak perempuan di rumah saya tak bebas bermain keluar rumah. Sementara kakak saya yang laki-laki semua boleh kelayapan kemana suka. Itu aturan dari Bapak :D.

SMPN 6 Makassar (gambar : referensi.data.kemdikbud.go.id)
SMPN 6 Makassar (gambar : referensi.data.kemdikbud.go.id)

Jadinya aneh juga, sepanjang hari harus bertemu mereka. Mengobrol bersama mereka. Bahkan mereka latihan paduan suara untuk gereja di sebuah kelas terbuka saat jam istirahat tiba. Entah kenapa, awalnya ada rasa enggan. Tak terbiasa. Dada saya berdebar-debar tidak jelas kalau mendengar paduan suara seperti ini. Sebal saja rasanya.

Jujur saja, 3 tahun di bangku SMP, saya tak pernah dekat dengan teman-teman non muslim. Sekedar kenal dan saling menyapa. Hingga lulus, saya gagal menepis ‘rasa canggung’ saya terhadap mereka. Kelas saya hampir 100% beragama Islam. Ada 2 kelas lain yang didominasi agama lain, meskipun muridnya pasti ada yang muslim.

Ngapain, pikir saya. Teman muslim banyak, kok :D. Bahkan pernah terbersit rasa tidak suka ketika salah seorang teman dekat bercerita kalau dia naksir dengan X. Dimana X ini seorang penganut Protestan.

Pantai Losari, Makassar (gambar : bukuwisata.com)
Pantai Losari, Makassar (gambar : bukuwisata.com)

Kelas 2 SMP, apa kelas 3 ya, ada anak baru di kelas kami. Agamanya protestan. Anaknya ceria dan jadinya banyak yang dekat dengannya. Bahkan saya dan beberapa teman dekat membuat acara bazaar yang melibatkannya. Duh, jujur saja, saat itu saya ingin mundur saja karena ada dia. Tapi saya takut dan malu karena apa dong alasannya?

Jadilah dengan setengah hati tetap ikut. Bahkan, kami pernah main ke rumahnya, lho. Susah payah saya menepis ketidaksukaan saya. Berusahan bersikap senormal mungkin, padahal waktu di rumahnya, otak saya dipenuhi pikiran aneh-aneh, “duh, ntar kita dikasih babi gak, ya?” Tolol to the max, ya, saya. Hahaha.

Bangku SMA lah yang akhirnya ‘membobol’ sedikit-sedikit rasa ‘aneh’ tidak jelas itu :P. Yang belakangan saya sadari, dulu pun saya ternyata mengidap xenophobia yang tidak ringan. Hehehehe.

Baca : People We Haven’t Met Yet (2)