Understood Backwards, Live Forwards

“Aneh ya kalau dipikir orang dulu bikin bentengnya kok di bukit yang tinggi?”

“Ha? Kenapa emang?” Saya enggak ngeh maksudnya suami.

“Ya soalnya sekarang kan ada pesawat. Kalau bikin benteng di tempat tinggi ya sekali dibom, habis sudah!”

“Oooooo…ya dulu pan kagak ada pesawat!”

Hahahaha :p.

Ini oleh-oleh jalan-jalan ke Rock of Dunamase 2 minggu kemarin. Yah, tinggal di Irlandia mah, hiburan gratisnya ya enggak jauh-jauh dari reruntuhan kastil ini itu hahahaha :p

Dunamase Irlandia

Dua minggu terakhir ini cuaca di Irlandia berangsur-angsur membaik. Setelah diterpa hujan hampir berhari-hari selama 6 bulan lebih.

Musim panas hujan, musim gugur hujan, musim dingin apalagi. Sungai di belakang gedung apartemen saya, Sungai Shannon, sampai sempat meluap. Di beberapa tepiannya, banjir tak terbendung. Gubernurnya siapa siiiiiiihhhhh ‪#‎eaaaaa‬.

Nah, sekarang hujannya sudah mulai berkurang *tepukTangan* :D.

Kalau weekend, cuaca bagusan dikit, pasti suami langsung merengek minta jalan-jalan. Yoih, saya mah anak rumahan banget. Kalau weekend, bawaannya pengin fesbukan melulu hahahaha ‪#‎eh‬ :p.

Rock of Dunamase, reruntuhan bangunan batu yang konon sudah ada sejak abad ke-10 di era Joko eh…eranya bangsa Viking.

Orang-orang Viking ini asalnya dari wilayah Jerman. Mereka menyebar ke daerah-daerah Skandinavia. Lalu menaklukkan Britania dan Irlandia.

Oleh Bangsa Viking, dibangunlah sebuah benteng pertahanan di atas bukit Dunamase ini. Tapi tak ada sisa peninggalan yang berjejak untuk kisah Dunamase di abad 10 tadi.

Benteng Dunamase kembali dibangun, untuk tujuan yang sama dengan pembangunan sebelumnya, di abad ke-12 oleh orang-orang Norman/Normandia.

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Normandia ini adalah nama sebuah wilayah di Perancis Utara. Orang Norman juga keturunan bangsa Viking. Cuma mereka umumnya adalah penganut Kristiani. Kalau Viking kayaknya masih era animisme dinamisme apa ya hehehe, CMIIW ya.

Setelah pendudukan Viking, giliran Normandia yang menguasai Britania dan Irlandia.

Pemilik Benteng di Dunamase berganti-ganti hingga akhirnya jatuh ke tangan bangsawan Inggris. For info, wilayah Irlandia (termasuk Republik Irlandia di belahan selatan) dijajah oleh Kerajaan Inggris Raya selama 8 abad lamanya *ngelapKeringat*.

Dalam salah satu perang lokal, pertengahan abad ke-17, benteng di bukit Dunamase ini diledakkan agar tidak direbut oleh musuh. Hingga akhirnya dibangun ulang menjadi semacam tempat perjamuan oleh Sir John Parnell di di penghujung abad ke-18. Arsitektur Aula Pertemuan ini menggunakan gaya abad pertengahan.

Sisa-sisa reruntuhannya itulah yang hingga kini masih bisa dilihat di kawasan wisata Dunamase ini.

Kalau pakai logika sekarang ya cupu banget bikin benteng pertahanan kok di atas perbukitan yang tinggi. Dengan kecanggihan teknologi perang era sekarang, ya benar kan kata suami saya tadi. Sekali dibom, langsung gubrak hehehe.

Belum lagi lokasinya yang eye-catching di atas bukit yang gampang banget deteksinya karena tinggi sendiri di tengah-tengah lembah di sekitarnya 😀

Enggak perlu capek-capek sewa detektif atau mengaktifkan radar untuk mendeteksi tempat persembunyian musuh hihihi.

Ya tapi kan pakai pola pikir zaman dulu dong ;). Dulu sih, boro-boro ada pesawat tempur bermesin jet, mobil paling sederhana saja belum ada hahaha :p.

Mengapa benteng dibangun tinggi sendiri di atas perbukitan? Ya biar gampang memantau musuh. Dulu ngecek musuh ya ngandelin keterbatasan jangkauan mata manusia saja.

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Begitu juga dengan hal-hal lain di masa lalu di luar konteks benteng tadi ;).

Maaf nih, agak SARA dikit. Soal tudingan bahwa Islam mendukung perbudakan dengan banyaknya ayat-ayat yang mengatur soal budak dalam ayat suci. Ya iyalah, di abad ke-14 saat alquran diwahyukan, perbudakan memang hal yang lumrah di berbagai belahan dunia :(.

Justru Islam datang untuk menyerukan persamaan derajat diantara seluruh umat manusia. Makanya, di awal-awal yang banyak tertarik dengan ajaran ini ya para budak dan golongan miskin / fakir. Dan yang stres ya para penguasa yang sudah dimaklumi sering hidup mewah dari hasil menindas rakyatnya dan kebanyakan kaum berpunya yang sudah terbiasa menikmati kemudahan hidup dengan bantuan para budak.

Makanya, jangan juga yang muslim berkeras kalau ayat-ayat perbudakan itu masih relevan sampai kapan pun. Haduuuuh, di era modern ini dimana kita semua sudah memiliki kesadaran penuh soal hak asasi manusia kok ya masih mau bahas tetek bengek hamba sahaya -_-.

Demikian juga misalnya tuduhan kepada kaum feminis yang dituduh sok-sok kuat dan mengajak perempuan ke arah yang enggak bener :p. Lah, situ kira perjuangan awal kaum feminis memang apaan? Di awal abad ke-20 saja penggunaan alat kontrasepsi itu TABU banget lho.

Jangan pakai latar belakang kehidupan modern perempuan zaman sekarang untuk menertawakan ide feminisme di masa lalu ;). Instead, berterima kasihlah kepada mereka yang sudah memperjuangkan biar situ-situ enggak tek dung melulu saban tahun sehabis menikah hahaha :p.

Jadi, pahamilah masa lalu untuk pelajaran buat kita. Jangan dicari-cari alasan untuk menegakkan kebenaran ala-ala keyakinan kalian sendiri ;). Malah belakangan, banyak yang mau balik ke masa lalu. Duh! Ciyus? :p.

Masa lalu jangan dikais-kais. Hiduplah untuk ke depan. Persembahkan kebermanfaatan yang kita punyai/miliki untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Untuk kemanusiaan, lingkungan dan sekitarnya (y).

Let’s work together for a better world. Shall we? <3

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
― Søren Kierkegaard

Ah ya … enjoy the pics ;).

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Privilege

Barusan lihat iklan video ala India seliweran di timeline FB :D. Indian, in many ways, shared (almost) the same culture to us, Indonesian. Ini pendapat pribadi ya hehehe. Linknya ada di bawah tulisan ini ya ;). Kita ngobrol dululah sikit baru nonton videonya hehehe.

Tidak hanya India sih. Bangladesh, Pakistan, dan sekitarnya juga mirip-miriplah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Satu hal yang saya perhatikan, some of them had changed as probably they’ve been living in here (Ireland, “western” society) for too long :p. But some stayed the same ;).

Apalagi soal segregasi antara perempuan dan laki-laki. Miripnya pakai bangeeeeetttt :D. Budaya apa ini? Budaya timur apa budaya Asia ya tepatnya.

Satu yang sering bikin saya bingung, kalau iseng nyari di youtube masih banyaaaaaaaaaaak aja gitu “perempuan bule” yang meresahkan soal kesetaraan gender. I thought they were talking about us, the “non western ladies” yang katanya hidupnya memprihatinkan ini hahahaha  :p. But they’re not. They’re speaking for general, including themselves.

Kemarin lihat video bagus juga soal isu ini, yang bawain “ceramahnya” tapi laki-laki. No wonder, videonya yang ngelike vs dislike hampir berimbang hahaha :p.

Tapi pesannya bagus kok. Si penceramah (yang LAKI-LAKI itu) membandingkan 2 hal :

1. Antara perempuan kulit putih vs perempuan kulit hitam. Ternyata, menurut si penceramah itu, dalam keseharian perempuan kulit hitam masih lebih risau soal RASISME, “Every morning I look in the mirror I see a…black person. Black. I’m black.”

Sementara perempuan kulit putih menjawab ringan, “Everyday I look in the mirror and all I see is a woman.”

2. Antara laki-laki kulit putih vs perempuan kulit putih. Laki-laki kulit putih, “Every mirror-time, I see … a human.”

Lihat bedanya?

PRIVILEGE. Kita tidak sadar bahwa kita dianugerahi hak-hak khusus/keistimewaan tertentu yang membuat kita merasa, “Ah, enggak ada apa-apa kok. Apa sih masalah lo? Semuanya oke-oke aja tuh.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Privilege is invisible for those who have it ;).

And yes, according to this gender issue, “western world” punya banyaaaaaak sekali privilege yang belum/masih sedang diperjuangkan di belahan dunia yang lain. MIsalnya kita di Asia ini :D.

Makanya dulu saya menulis “Battle Hymn of The Asian Parents” terkait soal sistem pendudukan antara Asia vs Eropa Barat misalnya. Karena tidak sedikit ibu-ibu Indonesia teman saya yang dikit-dikit Finlandia, dikit-dikit Finlandia :p.

Semua interaksi sosial dan infrastruktur itu saling melengkapi dan memengaruhi dong, ya. Dengan tingkat kesejahteraan yang sudah sangat mapan (dibandingkan banyak negara berkembang) di Asia, Eropa Barat ya pasti lebih enak dalam banyak hal.

Orang-orang kenyang, akses pendidikan merata, masa depan ya 90% cerahlah buat hampir semua kalangan. Penduduk minim dan negaranya dikelilingi oleh negara-negara tetangga-tetangga yang tidak kalah mapannya.

Perlu saya terangkan kondisi mayoritas di Asia? :p.

Jangan heran orang bule mah anaknya enggak ngerjain peer santai saja. Kita? Mamak-mamak Asia? Anak enggak ngerjain peer, merepetlah itu kalimat-kalimat penuh ancaman, “Mau jadi apaaaaaa kalau besar nanti.” Hahaha :p.

Jangan ngakak duluuuuuu. Itu bukan kekhawatiran lebay. Karena iya toh? Mau jadi apa mereka kalau besar nanti?

Makanya, kita perlu memandang isu-isu budaya dengan lebih terbuka dan ….jujur :).

Tentu dong sebagai perempuan yang lahir dan besar di Asia, saya akui, saya sedikit kaget mendapati teman-teman anak saya diantar jemput ke sekolah oleh ayah/bapaknya. Habis sekolah, saya ke supermarket buat belanja, eh ketemu lagi si Ayah/Bapak yang sama. Dia juga lagi belanja. Nanti pulang sekolah ya dia lagi. Begitu seterusnya tiap hari dan ini sudah jalan 3 tahun hehehehe. Tidak satu dua orang lho ;).

Who should do the laundry ???, gambar : pixabay.com
Who should do the laundry ???, gambar : pixabay.com

Tidak bisa serta merta kita bersorak, “Ih, keren kali bapak-bapak bule iniiiiii…” It will take me more and more words to explain why this is not that important to be discussed NOW. NOT until Asia (the worldwide Asia) has done with their basic issue(s) : food, education, sanitation, health care, justice, … do I need to mention them all? :p.

Makanya, perjuangkan dulu lah minimal keseteraan pendidikan dan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, barulah kita bisa lebih tenang dan terbuka membahas soal peran perempuan dan laki-laki dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Ini belum bahas soal dogma dan doktrin agama lho :p.

Btw, saya suka video iklan Ariel ini. Suka banget ^_^. Good job, Ariel <3.

Videonya sila di lihat di sini :

Anyway, happy belated International Women Day, my Ladies :D. Masak apa kita hari iniiiiiiiiiiiii :D.

Selamat hari Nyepi jugak dan selamat melihat gerhana matahari sekalian hehehe.

Generasi Milenial : Now and Then

Generasi milenial : Joey Alexander, bocah belasan tahun yang konon banyak belajar tentang musik jazz dengan menonton video di youtube. Joey, menjadi fenomena karena berhasil menjadi salah satu nominator di ajang bergengsi kelas dunia, Grammy Award.

generasi milenial berprestasi Joey Alexandar, gambar : elshinta.com
Joey Alexandar, gambar : elshinta.com

Laksita Paramita, memulai usaha dengan modal awal kurang dari 50 ribu rupiah. Dalam tempo 16 bulan, sukses meraup omzet ratusan juta per bulan. Usaha apa? Menjual kaos kaki! Dia tidak berjalan kaki sampai keringatan menawarkan dagangannya. Tidak juga menghabiskan uang untuk menyewa kios dan semacamnya. Laksita hanya mengandalkan penjualan secara online, via akun instagramnya di @VorioSocks. Usianya baru menginjak 20 tahun.

Joey dan Laksita mewakili generasi millenia yang konon sebagian besar kehidupannya diwarnai sentuhan teknologi era digital terkini. Generasi yang sama yang kepadanya banyak diarahkan macam-macam tuduhan. “Astaga, anak-anak zaman sekarang ancur banget, ya.”

Sebagian teman saya yang bisa dikatakan angkatan 80/90-an masih sibuk bernostalgia dengan masa kecil kami dulu. Betapa indahnya masa lalu dan tentu saja sambil berkomentar betapa tidak asyiknya kondisi di masa kini. Betapa bagusnya lagu-lagu yang ngetop di tahun 80/90 an. Betapa enaknya jajanan kecil masa dulu. Betapa serunya permainan masa kecil ala generasi kami dan seterusnya.

Mengingatkan saya kepada salah satu kakak saya yang mengomeli saya karena saya menggemari aneka rupa boyband yang memang berjaya di era 90an. Katanya, “Musik cengeng. Yang bagus tuh yang tahun 70 an. Lagunya keren-keren.”

Ibu saya yang mengeluhkan dandanan perempuan ala 80an yang menurutnya terlalu seronok. Di era 60/70 an katanya lebih anggun dan berkelas.

Seperti nenek saya yang memprotes ibu saya yang memperkenalkan blender untuk membuat penganan khas kampung saya, Barongko. Menurut Nenek, Barongko itu ya enaknya kalau pisangnya ditumbuk bukan diblender. Nenek mengeluh betapa pemalasnya ibu-ibu sampai-sampai bikin Barongko pun harus pakai blender. Betapa hebatnya ibu-ibu di tahun 60/70an yang belum bersentuhan dengan banyak colokan listrik hehehe.

Tenang Nek, cucumu ini masih melestarikan beberapa perkakas masa lalu *sodorinCobekanBatu* ?

The same old story … on and on again. Boyband era 90-an yang dulu dimaki karena terlalu menye-menye kini dirindukan kembali oleh penggemarnya. Tentunya sambil mencela selera musik generasi millenia era sekarang.

Era digital perubahannya seperti berlari. Salah satu yang paling terasa, maraknya pergaulan via media sosial. Media sosial tidak hanya jadi ajang nyinyir-nyinyiran tapi juga jadi penyebar berita utama. Mayoritas trending topic seringnya dimulai dari media sosial kan? Meluapnya informasi membuat dunia terasa penuh dengan kejahatan dan hal-hal buruk lainnya.

Sesama anak SD berantem di kelas di kabupaten anu provinsi entuh, dalam hitungan menit bisa tersebar luas di seantero Nusantara. Tuduhan demi tuduhan berhamburan. “Betapa memprihatinkan generasi sekarang!” atau “Astaga, anak-anak zaman sekarang kasar-kasar banget.” Yang lainnya, “Ih, sekarang kejahatan makin banyak!”

Belum lagi berita-berita kejahatan, mulai dari yang remeh sampai yang berbau konspirasi, beuh! Bisa dikupas tuntas beramai-ramai. Kadang, kenal orangnya saja tidak, tapi saking dahsyatnya berita tersebar, kita mendadak ikut-ikutan benci dan menghakimi dengan keras.

Seolah semuanya baru terjadi di masa sekarang. Padahal semuanya hanya perulangan dari masa ke masa. Memangnya dulu persentase orang jahat lebih sedikit daripada orang baik? Kata siapa? Mana datanya? Kalau hanya berdasar penyebaran berita di media jadi rancu dong, ya.

Dulu penyebaran informasi sangat terbatas. Sekarang? Kejadian di benua terjauh pun yang tidak terbayang oleh kita seperti apa tempatnya bisa kita dapatkan informasinya dalam hitungan detik.

Parahnya lagi, jargon bad news is a good news di kalangan media benar-benar dimanfaatkan seoptimal mungkin. Jadilah yang buruk-buruk bisa menyebar lebih cepat. Anak-anak yang saling membully viralnya bisa mengalahkan anak-anak generasi millenia yang sebenarnya punya banyak prestasi yang dulu mungkin tak terjangkau di masa lalu.

Anak-anak sekarang banyak yang menjadi penulis cilik. Diperkenalkan di dunia blog sejak dini. Jauh lebih mudah memasarkan karya-karya tulis di era digital. Siapa pun bisa berkarya asalkan mau bekerja keras. Prasarana bukan lagi halangan berarti.

Uniknya, orang tua malah banyak yang menarik diri dari kecanggihan teknologi. Sebagian orang tua memandang sarana internet penuh “ketakutan”. Malah cenderung ingin menarik diri ke masa lalu. Ya seperti lebaynya beberapa pihak yang memuja-muja masa kecil yang dianggap sebagai masa keemasan.

Saya pribadi malah iri dengan anak-anak zaman sekarang. Dulu, mencari informasi beasiswa saja serba terbatas. Kini, informasi bertaburan via internet. Era sekarang juga mempermudah banyak hal lainnya.

Daripada mengutuk banyaknya video-video negatif, manfaatkan saja situs seperti youtube untuk mengajarkan anak-anak membaca. Anak saya yang pertama dan kedua sangat terbantu mengenali huruf dengan maraknya video-video cara belajar membaca dan mengeja di youtube yang bisa dinikmati secara gratis.

Industri kreatif di bidang ekonomi juga dipicu oleh penggunaan media sosial. Masih ingat Laksita yang diceritakan di awal? Menjual kaos kaki dengan memanfaatkan akun instagram. Label pengusaha bisa dirintis sejak usia dini karena banyaknya kemudahan teknologi.

generasi milenial Gambar : voria socks
Gambar : voria socks

Kecanggihan teknologi mungkin seperti sebilah pisau. Tentu marabahaya yang diundangnya jika mata pisau ini berada di tangan seorang yang berniat menghabisi nyawa orang lain. Namun, di tangan seorang ibu yang meracik menu di dapur, sebilah pisau mampu mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.

Saya percaya, mana ada sih hal-hal di dunia ini yang mengandung manfaat saja? Air putih yang sudah sangat nyata khasiatnya buat kesehatan kita, bila dikonsumsi sekaligus dalam jumlah banyak, apa tidak membuat perut kembung?

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari jangan kita yang ditelan zaman. Kitalah yang harus menaklukkan zaman. Media perantara tidak seharusnya menjadi masalah. Termasuk dalam urusan mendidik bagi para orang tua. Manfaatkan kemajuan zaman untuk mengoptimalkan potensi si kecil. Sembari mengontrol penggunaannya agar tetap di jalur yang tepat.

“The only way to make sense out of change is to plunge into it, move with it, and join the dance.” -Alan Watts

Terasa, seperti ombak yang datang menghadang menghadapi cepatnya zaman berlari. Jangan dilawan. Siapkan papan selancar. Tantanglah ombak di puncak tertingginya. Lalu … meluncurlah bersamanya :).

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Spot The “Light” on Spotlight ;)

Oscar best picture this year : SPOTLIGHT. Congratulation ^_^.

Gambar : crosscut.com
Gambar : crosscut.com

Wah, ini film yang relevan banget dengan salah satu isu di medsos tanah air yang lagi hot-hotnya. Coba nonton trailernya di youtube deh ;).

Saya sungguh berharap orang-orang bisa secara JELAS dan TERANG membedakan isu pedofilia vs isu LGBT. Untuk urusan pedofilia atau perihal kekerasan apa pun kepada anak-anak (enggak peduli siapa pelakunya), saya percaya KITA SEMUA SATU SUARA.

Nih, film Spotlight tentang isu kekerasan terhadap anak di Amerika Serikat, negara yang kalian benci banget itu terkait urusan LGBT :p.

Justru di negara-negara berkembanglah perlindungan terhadap anak-anak ini sangat memprihatinkan :(. Pemaksaan pernikahan di usia dini bagi anak-anak perempuan misalnya :(.

Ini seperti pedang bermata dua. Karena ibu saya adalah salah satu korbannya hehehe. Tapi gimana ya, walau beliau menceritakan dengan santai dan legowo saya tahu pasti… dulu menikahnya dipaksa! :'(. And there was no way she could say NO.

Gambar : malaysiaedition.net
Gambar : malaysiaedition.net

Walau kini terdengar lucu mendengar cerita Ibu bagaimana dulu beliau “melawan” sebisanya, tetap saja saya sedih :'(.

Belum lagi segabruk-gabruk anak-anak (bahkan bayi-bayi) yang beredar di jalanan di depan mata kita sehari-hari.

Anw, film ini tentang child molestation yang terjadi di ruang lingkup sebuah gereja Katolik lokal. Salah satu ujaran di trailernya yang cukup menggelitik, “How do you say NO to God?”

Dari wallnya Narpati nih tentang review film SPOTLIGHT. Dapat 2 tulisan bagus ini :

Review Spotlight : A Great Paean to Powerful Journalism That Breaking Omerta (tenang ini judulnya aja yang “ngeri”, isinya bahasa Indonesia kok hahahaha :p).

Mencari Rumah Ibadah yang Aman

Penasaran jadi emang dari pagi googling film ini terus hehehe. Penasaran dengan topiknya yang sensitif tapi kok rasanya minim kontroversi (untuk versi film ya)

Ternyata memang filmnya disajikan dengan halus dan ala-ala jurnalis banget. Lah ya memang filmnya tentang jurnalis, ya. Cara penyampaiannnya sangat “tenang” hingga orang bisa fokus ke masalah intinya.

Saya baru nyadar kalau isunya memang serius. Kasus di Bostonnya pun (di tahun 2001) ternyata memicu pengungkapan isu yang sama di berbagai Gereja Katolik di berbagai belahan dunia.

Tapi saya jadi mikir lagi, apa ini karena yang terkait adalah agama Katolik yang umumnya mayoritas di negara-negara “maju”? Entah hukum alam apa gimana, makin “sejahtera” sebuah negara makin meningkat ke”atheis”annya. Makanya isunya jadi, mengutip komentar dari

Kalau kejadian di agama Islam kira-kira gimana ya?

Gambar : atheistrepublic.com
Gambar : atheistrepublic.com

Tapi pernah diskusi serius dengan suami. Kalau menurut suami, hard to tell. Karena belum ada negara mayoritas Islam yang bisa mencapai “kesejahteraan” ala-ala negara-negara “barat”. Walau memang ada pihak-pihak yang memuja-muja beberapa bagian di Timur Tengah sebagai perwakilan negara sejahtera ala Islam. Iya, negara sejahtera buat gajinya gede hahahahaha :p. It’s simply a fact, jangan sensi ;).

Kalau umat kristiani tampaknya sudah mulai “meninggalkan” sentimen seperti ini. Umat Islam masih “gini-gini” saja :p. Di tanah air kita sendiri, seperti misalnya maraknya teori konspirasi yang mengiringi para “tokoh saleh/salehah” yang sedang terjerat urusan hukum.

Selalu trauma deh sama teori-teori konspirasi hahaha. It’s tiring yet unuseful.

Belum lagi konspirasi akan melibatkan “racun” penting yang namanya prasangka. Sementara alquran sudah mengingatkan, “Sesungguhnya prasangka tak sedikit pun memberimu kebenaran.”

Bagian “bermain-main dengan prasangka” itulah mungkin yang dihindari dalam penanganan kasus Gereja-Boston ini, baik di dunia nyata maupun di filmnya sendiri. Justru itu bukan fungsi utama jurnalistik? Menyampaikan data dan informasi bukan “menghasut” atau “mengarahkan” audiens/pembaca/penonton.

Bagian hasut-hasutan sama buzzer-buzzeran itu kasih ajalah ke kami-kami para blogger ini hahahaha. Para blogger menulis atas nama pribadi jadi kami tidak punya keterikatan secara profesional dengan institusi mana pun.

Walau kadang perih juga kalau menunjukkan sikap politik yang buat orang terlihat membabi buta pasti langsung kena tuduhan, “Dibayar berapa sih?” Hahahaha. Etapi memang ada job-job yang berbayar sih, gimana dong ya hahahaha lagi aja dah :p.

Sebagai pembaca ya kita memang bukan orang jurnalis. Saya pun sering berat sebelah menilai berita. Misalnya tempo hari, saya marah banget dengan penembakan Paris jadi saya “memaafkan” sebuah headline berita di media mainstream, yang menurut teman-teman lain yang juga mantan jurnalis, sedang melakukan framing. Sempat eyel-eyelan di wallnya Mas Iqbal nih :D. Baru nyadar belakangan jadi saya buru-buru kabur hahahaha.

Ini memang eranya instan sih, ya. Bukan cuma mi atau makanan instan lain yang diburu-buru. Berita pun kudu instan-instan hihihihi. Seperti media juga yang akhirnya ketularan kepengin mendapatkan perhatian dengan cara instan.

Dibikin dah tuh judul-judul provokatif macam, yang saya bilang di kasus penembakan Paris tadi, “Teroris menembaki penonton konser seperti menembaki burung.” –> ini media mainstream lho!

Kalau media-media nganu-nganu kan bisa kita pahami. Kalau ada yang terperangkan sama media-media nganu ya saya enggak nyalahin medianya sih :p.

Tapi media mainstream pun sekarang hobi bener berlebay-lebay ria demi memborong jumlah klik/like/share di dunia maya.

Sudahlah judulnya simeleketehe, isi beritanya pun cuma seucrit. Itu juga orang pun masih banyak yang hanya mentok di judul tidak baca isi hihihihi.

Makanya enggak heran, dikit-dikit histeris, dikit-dikit histeris. Seringkali jadi tidak fokus dengan permasalahan. Fokusnya ke orang per orang. Entah fokus ke si pelaku entah si korban. Jadinya bisa berefek ke kebencian personal. Ish, saya juga sering terjebak kayak gini hahaha *tutupMuka*.

Saya kutip dari tulisan pertama yang saya share linknya di atas itu :

“Itu sebabnya, karakter Marty Baron menolak untuk mengangkat cerita yang hanya mengupas para pastur pedofil. Baginya, mereka juga bagian dari korban, meski tim Spotlight mengajukan fakta tentang puluhan pastur yang melakukan tindak pelecehan seksual.

“ We’re going after the system,” jelas Marty yang menegaskan bahwa mereka tidak berniat menyudutkan perorangan.”

Ya belajar banyak memang dari fenomena film Spotlight ini. Untung menang Oscar ya, jadi saya ikutan kepo deh hihihi.

Saya tipe yang percaya apa pun bentuk konspirasi di dunia itu pada dasarnya urusan manusia per manusia. Bagaimana masing-masing dari kita berusaha keras menaklukkan sifat-sifat dasar manusia yang diantaranya memang cenderung ingin menang sendiri- rakus-angkuh yang sudah saya rangkum juga di tulisan 7even Sins tempo hari 😉

Kita sendiri, orang per orang, yang harus melawan konspirasi itu. Bukannya terus menerus merasa menjadi korban, malas mencari akar masalah dan menyudahi semua kekhawatiran dengan slogan, “Ini pasti konspirasi!”

Have a nice monday, readers ;). Sudah tahu mau nyari download-an mana dari film-film yang merajai Oscar tahun ini? Hihihihi :p.

***

The Most Fiercest Creature on The Face of The Earth

Kenai memandang penuh ke arah dinding gue di hadapannya. Alisnya mengerut, matanya bersinar menyala. Kenai marah.

Sebuah gambar terukir di sana, Gambar close up di layar menunjukkan Kenai fokus ke gambar si beruang yang mengangkat kedua tangan dengan wajah menyeringai tajam seperti hendak menerjang seorang manusia di hadapannya yang juga berdiri bersiaga dengan sebilah tombak di tangan.

Koda datang dan menyusup bersembunyi di balik punggung Kenai. Dia mengintip sambil berujar, “Those monsters are really scary … especially with their sticks.”

Kenai tertegun. Raut wajahnya sontak berubah. Pandangan matanya langsung beralih.

Kenai dan Koda. Penggemar Brother Bear mana suaranyaaaaaaaa? :D.

I love, love, love Disney :D. Plus Pixar jugalah beberapa. Apalagi cerita-cerita klasik seperti Brother Bear ini. Brother Bear sendiri saya nonton sampai 3x. Pertama kali nonton sendiri di DVD. Kedua dan ketiga nonton bareng anak-anak dan suami di rumah :).

Buat yang belum nonton dan kepengin nonton, saya peringatkan saja kalau saya bakal spoiler banget ini hahaha. Lagian film jadul ah, masa iya belum nonton sih? ;).

Adegan tadi yang paling nyessssss buat saya. Adegan sederhana tapi bikin terbawa suasana banget.

Kenai, anak suku Indian yang hidup bersama 2 kakak laki-lakinya. Sesuai adat Indian, tiap anak di usia tertentu akan ditentukan totemnya.

Konon, totem yang berwujud salah satu hewan ini dipercaya sebagai identitas/spirit lain dari seorang manusia selama hidup di dunia. Totem ini juga berfungsi sebagai penunjuk/guide bagi seorang individu/keluarga/suku tertentu.

Kenai sangat berharap mendapat totem binatang yang keren. Oh ya, Kenai juga tidak suka kepada beruang yang dianggapnya pengganggu yang suka mencuri ikan hasil tangkapan mereka.

Sebaliknya, saat upacara penentuan totem, Kenai mendapat Totem Beruang.

Masih diliputi rasa kecewa, Kenai juga dipersalahkan oleh kakaknya karena ikan tangkapan mereka menghilang dibawa oleh seekor beruang. Kenai lalai mengencangkan ikatan keranjang di sebatang pohon.

Karena marahnya, Kenai berlari mengejar si pencuri ikan. Saat terdesak oleh beruang, kedua kakaknya datang menolong. Singkat cerita, untuk menolong kedua adiknya, kakak sulung (Sitka) menusuk kuat-kuat potongan es tempatnya berdiri. Lapisan es di sekitar ikut roboh. Sitka jatuh ke jurang bersama si beruang.

Kenai makin marah. Bercampur dengan penyesalan karena rasa bersalahnya yang membuat kakak sulungnya kehilangan nyawa.

Suatu hari, ada kesempatan kembali memburu si beruang. Kali ini, Kenai berhasil membunuhnya dengan tombak. Tapi sebuah keajaiban terjadi, Kenai berubah wujud menjadi seekor beruang.

Dalam perjalanannya untuk mencari cara untuk kembali menjadi manusia, Kenai bertemu Koda, si beruang kecil.

Gambar : disney. wikia.com
Gambar : disney. wikia.com

Walau awalnya enggan, Kenai akhirnya berjanji menemani Koda kembali ke komunitasnya di Salmon Run. Dalam perjalanan inilah kisah demi kisah terajut. Hingga akhirnya Koda bercerita tentang bagaimana dia terpisah dari ibunya. Dari sinilah Kenai akhirnya sadar siapa si ibu beruang yang dimaksud. Guess who?

Ya kira-kira aja nih seingat saya, Koda bilang, “Ibu menyuruhku sembunyi karena dia mencium bahaya. Tiba-tiba dari balik semak muncul manusia bertombak yang langsung menyerang Ibu. Ibu melawan karena mengkhawatirkanku. Teman-temannya datang membantu. Hingga akhirnya ibu dan salah satu dari mereka jatuh ke sungai bersama-sama. Ibu selamat tapi di situlah kami terpisah.”

Brother Bear seperti menunjukkan kepada kita bagaimana egoisnya manusia memperlakukan alam. Kita selalu mengira binatang-binatang di sekitar kita selalu punya niat jahat kepada manusia. Bahwa binatang ini mencari-cari cara untuk mengganggu manusia.

They’re monsters, keluh Kenai. Sebaliknya, Koda kecil juga menggunakan istilah monster buat manusia bertombak yang tahu-tahu datang berusaha menyergap ibunya.

Lebih jauh lagi, manusia selalu menganggap makhluk hidup lain di dunia ini diciptakan untuk memenuhi hidup manusia semata. Jadi wajar dong kalau kita manfaatin mereka semua untuk kelancaran hidup kita. Memang mereka diciptakan buat kita kok.

Sadar tidak sih, di alam bebas, naturally makhluk hidup lain mungkin tidak butuh bantuan manusia dalam hal apa pun. Manusia yang sebaliknya.

Mentang-mentang katanya khilafah di muka bumi. Alih-alih berusaha menjaga ekosistem alam, lihatlah kita! Lihat kelakuan kita!

Gambar : linkedIn.com
Gambar : linkedIn.com

Biar manusia bisa makan daging ayam sebanyak yang mereka mau, orang pun berlomba-lomba mencari “cepat” beternak ayam potong. Biar cepat besar dan dagingnya banyak, ayam-ayam ini dikumpulkan di sebuah ruangan sempit, gelap, tanpa cahaya dan diberi makan sebanyak-banyaknya.

Pernah lihat peternakan ayam potong dan bagaimana mereka mengelolanya? Biar bisa memenuhi kerakusan perut manusia yang kayaknya sehari enggak makan protein hewani bisa sakaw.

Sapi juga begitu. Dagingnya diincar plus… susunya!

Makin ke sini, dari lahir sampai kakek-nenek pun dihasut biar minum susu hewan tiap hari. Dulu sih biasa saja orang tidak minum susu sapi. Paling sesekali. Lah sekarang? Mau tulang kuat, minum susu hewan. Mau kalsium, banyak-banyak minum susu, mau sehat, minum susu. Hamil pun harus banget minum susu hewan. Malah saya pernah syok lihat ada susu pencegah penyakit kanker hahaha :p.

Pernah terbayang, bagaimana mendapatkan susu sebanyak itu buat bermilyar-milyar manusia di dunia ini yang konon katanya kudu minum susu hewan minimal 2 gelas sehari?

Pepohonan kita tebang buat bermacam kebutuhan. Alih-alih menanam banyak tanaman buat penyeimbang pasokan oksigen bagi manusia yang sudah bertambah banyak, kita malah menjauh dari mereka. Hayo ngaku, siapa yang sanggup melewatkan hari tanpa makan sayur dan buah sama sekali? Banyaaaaaaaak :p.

Enggak makan sayur mah biasa ya. Tapi crankynya minta ampun kalau sehari enggak makan hewan :p. Minimal telurnya lah ;). Plus susunya -_-.

“Gue jarang minum susu!” –> tapi minum yoghurt, makan keju bisa tiap hari ya :p.

Seenaknya buang sampah sembarangan. Kalau banjir tinggal salahin gubernur atau presidennya ya? ‪#‎eh‬ :p.

Tahu tidak sih, sebuah LSM pencinta lingkungan di tanah air sudah bertahun-tahun berjuang tentang pengurangan limbah plastik di Indonesia. Limbah plastik ini sangat sukar diurai oleh alam. Memang ada beberapa hal di mana kita masih sukar melepaskan ketergantungan kepada plastik.

Tapi terus diupayakan cara pengurangannya diantaranya berusaha mengurangi limbah plastik via kantong belanja. Karena memang memungkinkan banget kan menaruh belanjaan di wadah lain YANG BUKAN PLASTIK.

Karena itulah sekarang lagi diujicoba dengan menerapkan pembayaran sekitar 200 perak per kantong plastik. Ini memang hanya upaya kecil. Baru langkah awal. Enggak ada apa-apanyalah ketimbang pengrusakan yang sudah KITA lakukan selama ini kepada alam :(.

Segini pun masih ada aja yang nyinyir dan gagal paham. Manusia oh manusia :(.

Makna diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini ya karena kita yang didesain untuk mampu menjaga keseimbangan alam. Ukuran otak manusia itu paling besar lho secara persentase dibandingkan dengan ukuran tubuh. Jauh lebih kompleks pula daripada hewan mana pun.

But look at us :'(.

Koda, “This year, I watched my Mom in a life and death struggle against all odds, battling possibly the most fiercest creature on the face of the earth.”

Have a nice weekend, “brainy” creature!

***