Biografi Chairil Anwar , Review Buku : “Bagimu Negeri Menyediakan Api”

Biografi Chairil Anwar yang ditulis dalam sebuah buku terbitan Tempo.

Judul Buku :
Chairil Anwar, Bagimu Negeri Menyediakan Api

Chairil Anwar, bener-bener cerminan seorang ‘bad boy’ di masanya. Something that most people had already known? Hehehe.

Saya cengengesan begitu tahu latar belakang istilah “Bung, Ayo Bung” yang dilontarkan Chairil saat ada teman yang bertanya jargon yang pas untuk poster penyemangat perjuangan yang memasang foto tokoh-tokoh pergerakan.

Halamak πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ˜œπŸ˜….

Penggalan puisinya masih sering dikutip di mana-mana sampai sekarang, dua diantaranya : “Sekali berarti, sudah itu mati” dan “Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

Buku ini salah satu seri Buku Tempo. Sebelumnya saya sudah pernah baca lengkap yang 4 serangkai Bapak Bangsa (Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka). Yang 4 ini bagus-bagus, euy.

Kalok wartawan memang punya cita rasa diksi yang agak beda hehehe. Gak terlalu banyak kata meliuk-liuk tapi enak banget dibacanya ^_^.

Tapi yang seri Chairil Anwar ini agak beda dengan yang empat tadi. Mungkin karena kisah hidup Chairil yang tidak seutuh keempat tokoh itu. Jadi isinya melompat-lompat membahas narasumber cerita yang berganti-ganti dengan cepat.

Kurang mengalir jadinya. Jadi kayak ngumpulin keterangan dari sana sini, comot dari berbagai sumber yang kisahnya terlalu sepotong-sepotong.

Tetap menarik sih buat tahu biografi penyair pelopor Angkatan 45 ini (y).

Ternyata, Chairil Anwar berasal dari keluarga terpandang. Beliau juga keponakan dari Si Bung Kecil, Sutan Sjahrir.

Syair-syairnya bukan hanya tentang pergolakan di masa pendudukan Jepang dan agresi militer Belanda (1947/48). Sebagian besar masyarakat mungkin tahunya Karawang Bekasi, Diponegoro, dan Aku.

biografi chairil anwar

Tapi ternyata Chairil juga punya puisi-puisi yang berkisah tentang cinta-cintaan. Asyik-asyik puisinya ya ampun, bukan yang model jadul-jadul begitu. Kurasa generasi sekarang pun bisa dibikin baper sama puisi-puisi beliau ;).

Inspirasi dari kemampuan Chairil Anwar merangkai kata yang lumayan ‘eksentrik’ di masanya ini yang menjadi salah satu penyebab utama lahirnya Angkatan 45, melepaskan diri dari era sebelumnya, Angkatan Pujangga Baru.

Di buku ini ada beberapa puisi-puisi beliau selain yang 3 judul yang sudah terkenal itu :D. Nanti baca sendiri aja, yes? πŸ˜‰

Beberapa kali penyair ini juga mengalami masalah percintaan. Ish, yang kek begini pasti naksirnya banyak cewe dah hahahaha :p. Sebagian diabadikan dalam puisi.

biografi chairil anwar

Tipe-tipenya gitu kan, kesannya cuek, acak-acakan, pandai menulis puisi (pandai bermain kata), perokok berat pula. Ck ck ck bener-bener daku kagak pernah dah naksir sama yang model begini :p.

Dulu kusebel banget sama tokoh Arya Dwipangga (dan Nari Ratih!) di Tutur Tinurlar. Kalian udah lahir belom pas era sandiwara radio gini-gini, Gaeesss? πŸ˜πŸ˜

Tidak habis pikir sama ciwi-ciwi yang bisa naksir lakik gara-gara jago bikin puisi doang zzzzz -_-. Sorry, no offense :p.

Salah satu kisah patah hati Chairil yang kandas gara-gara tiada restu dari orang tua sang kekasih muncul dalam salah satu puisinya, “Yang Terampas dan Yang Putus”. Judulnya aja udah sedih begitu ya :(.

Chairil ternyata pernah menikah (walau kemudian bercerai) dan punya anak perempuan.

Beliau meninggal di usia yang sangat belia, 27 tahun :(. Komplikasi dari banyak penyakit akibat hidup yang tidak teratur, keuangan juga selalu bermasalah karena beliau tidak suka kerja kantoran yang mengikat, dan tentunya … perokok kelas berat.

Andai hidup di masa sekarang, beliau mungkin sukses jadi penulis lepas di berbagai situs online :D. Atau punya blog sendiri ato bikin fanpage atau posting puisi di IG terus jadi endorser? Hihihi.

Hayoooo, yang suka menuduh era digital ini banyakan sisi negatifnya? :p.

Yang menarik, Chairil berpendapat menulis puisi itu tidak boleh berdasarkan mood semata. Harus ada kerjasama pikiran yang logis dst dst. Jadi puisi pun juga berproses, beliau suka mengedit puisi-puisinya jadi bukan yang sekali jadi gitu.

Saya bingung kok masih ada saja yang memperdebatkan peranan beliau dalam masa kemerdekaan? Ayolah, perjuangan tidak harus di jalur pedang dan diplomasi. Kontribusi beliau pun tidak boleh dipinggirkan hanya karena dianggap “nulis doang” :(.

Overall, 3 bintang (out of 5) dari saya untuk buku ini. Still worth a try, kok (y). Bukunya tidak tebal, tergolong bacaan ringan.

Selamat membaca πŸ˜Š.



Review Film TOOTSIE

Akhirnyaaaaaa … nonton TOOTSIE jugak πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ. Salah satu film barat lama yang bagus bangeeeet. Gak papa, lebih baik telat (sangat telat malah hahaha) daripada enggak sama sekali ye kaaaaan.

Sudah sering denger sih betapa fenomenalnya film jadul ini. Film paling laris nomor 2 setelah E.T yang rilis di tahun yang sama, 1982.

Genre DRAMA KOMEDI -nya membuat saya ragu-ragu dari dulu. Kirain cuma drama-drama komedi standar yang menghibur but then … after the last scene, it’s all ‘gone’!

film barat lama yang bagus

Film ini mendapat rating sangat positif dari para kritikus film. Jarang-jarang film drama laris (komedi pulak) yang berhasil mencuri perhatian dari para ‘SJW’ versi pilem ye kaaaaan πŸ˜πŸ˜πŸ˜. Walau hanya sukses memenangkan satu piala dari 10 nominasi Oscar di tahun 1983.

TOOTSIE mengangkat tema seksis yang belum ada matinya sampai sekarang.

Tootsie, yang salah satu maknanya (from Google) –> “a young woman, especially one perceived as being sexually available”.

Film ini bercerita tentang Michael Dorsey (Dustin Hoffman), seorang aktor idealis yang sedang kedodoran dalam urusan pekerjaan. Hingga akhirnya Dorsey memutuskan untuk berpura-pura menjadi seorang perempuan demi sebuah peran and he made it (y).

Sindiran halus terhadap dunia perfilman, “Talented and famous are 2 different things.”

Bukan cuma di dunia akting saja sih hehehe. Too many times we can see cleary that life is not fair πŸ§πŸ˜. Especially for girls :(. Tootsie gave us another confirmation how being a man is a privilege ;).

Ironisnya, Dorsey malah membuktikan, bahwa yang mampu menjadi aktris yang keren dan populer pun adalah LAKI-LAKI πŸ˜…πŸ™ˆ.

Sampai sekarang pun banyak kok itu video-video joke tentang ribetnya kondisi artis-artis perempuan di dunia selebriti.

film barat lama yang bagus

Sebuah video satir tentang adegan audisi sebuah film yang mencari artis pemeran utama. Semua perempuan yang mencoba audisi will be judged for too skinny, too curly, too pretty, too ugly, pokoknya adaaaa aja yang enggak pas.

Sampai akhirnya yang berhasil mendapatkan peran sebagai pemeran utama perempuan adalah … seorang aktor! πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Nanti kalok ketemu video jokenya saya posting di komen ya. Ini di luar film Tootsie.

Tootsie juga menyindir halus soal tayangan stripping opera-opera sabun yang lagi laris-larisnya tahun 80 an itu. Sekarang mah di Indonesia, opera sabun sudah direbut tahtanya oleh drakor πŸ˜ŽπŸ˜†πŸ˜‚.

Semua kritikan dan nyinyiran film ini terbungkus rapi dalam kisah cinta Michael dan Julie (Jessice Lange). Julie, perempuan berambut pirang dari keluarga berada yang mencoba peruntungan menjadi aktris di New York.

Julie terjebak dalam stereotip lingkungan tentang pretty girl who were supposed to be ‘dumb’ dan merasa hidupnya harus tergantung kepada sebuah relasi. Tidak percaya diri untuk hidup sendiri.

film barat lama yang bagus

The ending scene is just …. perfect πŸ€© :

Julie : Will you loan me that little yellow outfit?

Michael : Which one?

Julie : The Halston.

Michael : The Halston? Oh, no! You’ll ruin it. You’ll spill wine all over it.

Julie : I will not.

Satu hal yang bikin susah move on dari film-film HOLLYWOOD adalah kekuatan dialog-dialognya yang mengalir lancar dan gimana ya … enggak pernah ada basi-basinya gitu-gitu lah. Natural tapi keren.

Bahkan di film-film Hollywood kelas 2 atau kelas B -nya, dialog-dialognya selalu nancep.

Film-film animasinya juga kan. Aih gilak deh skenarionya. Bahkan animasi yang se-“receh” film “TROLLS” itu bisa bikin nyesssss nontonnya <3. Dialog-dialognya itu loh πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.

Film Tamil “96” (sudah pernah saya review) juga punya skenario yang hampir se”rapi” ini. Tapi itu nontonnya pakek substitle bahasa Inggris sih ya hahahahaha.

Kembali ke Tootsie :D.

What a wonderful movie with a beautiful OST as well πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°. Sudah dari dulu, “It Might be You” selalu masuk dalam daftar lagu favorit dari era MP3 sampai jaman apa-apa-pasti-ada-di-Youtube sekarang ini hihihihihihi.

Setelah nonton filmnya, lebih terbuai lagi kalok denger lagunya hehehehe.

Siapa tauk ada yang belom nonton, bolehlah buat masuk list ni pilem jadul. Nyinyirnya lucu-lucu halus gitu lah :p. Sangat menghibur dan sama sekali tidak “berat” πŸ˜Š. Temanya masih kekinian kok. Still worth a try ;).

Pemilihan judul filmnya aja sangat cerdas πŸ˜Ž.

Selamat menonton.

Biaya naik haji

OBITUARI : “Always be Tangled”

Namanya Indhira Larasaty.

Waktu SD, sekelas di kelas 1 dan 2. Tidak begitu ingat how it started, pokoknya waktu itu cukup dekat lah. Cuma ingat saya terpesona dengan namanya yang bagus banget <3.

Yang bener-bener memorable pas kami berdua sama-sama ikut ekstrakurikuler drum band, Athirah Drum Band nama klub di sekolah.

Kelas 5 SD itu. Di jam istirahat di sela-sela latihan, pernah mojok berdua atau bertiga (dengan Mega hehehe), curhat sampai lamaaaa. Di tangga depan musholla sekolah, di semak-semak dekat gedung TK, atau curi-curi waktu buat ngobrol saat antre mau ambil alat di gudang belakang.

Unik, sih. Karena pas sekolah dulu Ira gengnya beda. Tapi personally, one on one, kami lumayan dekat.

Kalau ngobrol dengan Ira bisa mendalam gitu hehehe. Serius, euy. Can’t believe di usia segitu kita kok sudah bisa segitu nganunya ngomongin hubungan percintaan ya, Ra, hihihihi. Sangat bucin di masanya :p.

Ira, gak cuma cantik. Tapi modis banget. Kuingat dulu mupeng banget lihat jam tangannya Ira pas hari pertama masuk sekolah pasca libur panjang. Entah kelas 4 entah kelas 5.

O ya, Ira ini atlet ski air. Inget banget dia sering nyebut-nyebut POPSA-POPSA gitu ;). Duh gusti, dese udah bolak balik ikut pertandingan ski air, akyu liat kolam renang aja jarang-jarang :p.

Fashionable banget dari dulu <3. Makanya sering gabung geng anak gaul. Geng saya beda dulu waktu SD hihihi. Tapi sebenernya ya saling kenal juga lah kami semua. Enam tahun gitu bareng-bareng ya <3.

Saat hendak bertanding ke Jakarta di tahun 1991, liburan panjang kenaikan kelas, anak-anak drum band ikut Training Center (TC) di Malino.

Iringan marching band di Buckingham Palace (UK)

Sempat satu kamar dengan Ira di hari pertama. Baru datang, sambil leyeh-leyeh bongkar barang, saya ngobrol soal lagu baru dengan Ira. Ira punya selera musik yang kekinian banget. Lagu-lagu berbahasa Inggris pun banyak yang dese hafal.

Kami ngomongin lagunya Richard Marx, “Right Here Waiting”. Ira menuliskan liriknya di kertas lalu kami nyanyi bareng hehehe. Anak SD ya kelakuannya ck ck ck :p.

Saat latihan pasti kami pisah. Karena Ira di Tim Perkusi, saya di Tim Alat Tiup. Tapi sampai latihan di Stadion Mattoangin pun, selalu sempet curhat-curhat bareng dong kitaaaaaa :p.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay

Saya masuk SMP negeri, Ira tetap di Athirah.

Di persimpangan jalan Kajaolalido dan Achmad Yani, kalau jalan kaki pulang sekolah, I saw her several times with her new friends. Enggak pede mau negur duluan. Geng Ira kan gitu, anak-anak cantik gaul modis.

Saya jalan cepat-cepat saja pura-pura tidak lihat.

Apalah gue anak SMP Negeri yang sepatunya kudu item kaos kaki kudu putih, penampilan pas-pasan pulak hahaha.

Suatu hari saat akan menunggu jalanan kosong hendak menyeberang ke arah Karebosi, tahu-tahu saya ditubruk dari belakang, “Jihaaaaaaaaannnn….”

Of course I knew her voice, “Heiiiiiiiii…”

“Rinduta’ gang. Main-main ko pi Athirah.”

Saya cuma cengengesan. Padahal SMP Athirah dan SMPN 6 deket ya, cuma ya gitulah, gak pedeeeee. Lagian di angkatan saya, cuma beberapa anak Athirah yang masuk ke SMPN 6.

Seneng banget rasanya dia masih ingat. Bukan sekadar menyapa tapi sampai meluk-meluk gitu dan kita pun jingkrak-jingkrak heboh di pinggir jalan, anak perempuan kalo lama gak ketemu pasti gitu hahahaha.

Nothing really happened after that. Saya masuk Smansa, Ira di SMA 5 kalau gak salah. She was pretty popular di kalangan anak-anak gaul angkatan kami dulu di Makassar ;).

Pas lulus SMA, abis UMPTN, libur agak panjang, ada reunian di Athirah Drum Band. Kami diminta kakak pelatih membantu adik-adik di ADB yang mayoritas masih SMP, disuruh ikut masuk tim gitu.

Lalu, ada Training Center lagi di Malino. Bertiga dengan Ira dan Pipit, saya ikut ke Malino. Mengenang masa-masa TC waktu SD dulu :D.

Yang jelas kami bertigaan aja di sana dan ngomel betapa berisiknya anak-anak SMP ini. Lupa dulu pas SD kami bikin kakak pelatih kewalahan di Malino selama 10 hari hahahaha.

Sesi curhat berdua Ira pun lanjooooootttttt :p.

Saya pernah dibawa ke rumahnya. Masuk ke kamarnya. Poster berbagai merek fashion ternama yang menempel hampir memenuhi dinding kamarnya mengingatkan betapa berbedanya ya passion kami berdua hehehe.

Grogi lagi jadinya. Tapi dia ini emang anaknya gak pernah begitu-begitu. Teman ya teman. Setidak modis apa pun kalo udah deket ya deket aja. I love you, Ira <3.

Tapi tidak lama bisa bernostalgia, hasil pengumuman UMPTN membuat saya harus berangkat ke Jakarta. Gak jadi manggung bareng ADB, tapi Ira tetap ikut sampai acara di gubernuran itu.

Kuliah di Jakarta membuat hubungan dengan teman-teman di Makassar memudar. Apalagi saya tidak pernah mudik.

Media sosial mempertemukan kami kembali. Ah, Ira makin modis dan kece hehehe. Terus ada BBG alumni SD Athirah waktu itu. Dari situ punya kontak pribadi Ira dan akhirnya terjadi pertemuan seperti di foto ini :).

Ira naik haji tahun 2011. Kami jemput di Masjid Apung, Jeddah. Berdua suaminya, kami ajak makan malam di Pattaya dan keliling-keliling Jeddah malam ituΒ ^_^.

Ira paham sekali betapa enggak mudengnya gue sama brand-brand fashion jadi waktu suaminya nanya-nanya soal toko-toko ginian, Ira langsung nyengir, “Eh tauwa, tidak pahamki Jihan itu begitu-begituan.”

Biaya naik haji
Bareng Ibu Hajjah Indira

Setiap saya pindah negara, Ira rajin menyapa.

“Eeee di Eropa mako. Doakan ces, mo ka datangi ko lagi itu.”
“Aamiin …”
“Traktir lagi gang.”
“Pasti.”

Di Instagram, jumpa kembali setelah Ira lama tidak beredar di FB. Beberapa kali Ira sekadar kirim-kirim emot love, hug, kiss, di insta story yang saya posting.

Dari IG inilah, tahun 2018, Ira menceritakan kisahnya melawan kanker dan banyak tips serta nasihat dalam beberapa postingan tulisan.

Langsung saya DM saat itu. Tapi dia bilang, masa kritis sudah berlalu, dia kini sebagai seorang survivor. Alhamdulillah.

Dia sempat nanya-nanya soal menulis, “Bagemana gang tulisanku? Kritik dulue.”

Tulisannya bagus. A great story teller (y). Masih bisa dilihat di akun IGnya sampai sekarang. Ada beberapa post.

Makanya, terbangun pukul 4 dini hari tadi dan cek message tentang kabar kematiannya, kaget banget. Ya Allah sedihnya :'(.

Innalillahi wa innailaihi rajiun. Semoga diampunkan segala kesalahan almarhumah, diberi tempat terbaik di sisiNya, diberi kesabaran dan keikhlasan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sama Ira, jarang ketemu tapi ya begitu, sekalinya ketemu, suami saya bingung pas di Jeddah, banyak kali bahan pembicaraan hihihi. Gak ada momen awkward :).

β€œGrowing apart doesn’t change the fact that for a long time we grew side by side; our roots will always be tangled. I’m glad for that.”
– Ally Condie

Mohon doanya bagi almarhumah. Alumni SD Athirah 1992, SMP Athirah 1995, SMA 5 1998, Arsitektur UMI 1998.

Selamat jalan, Sayang 

This image has an empty alt attribute; its file name is 2764.png

. You’ll be missed, for sure

This image has an empty alt attribute; its file name is 2764.png

 .

Mengapa NADIEM MAKARIM? (Kontroversi Kabinet Kerja II)

Diantara hosip-hosip kabinet, nama Nadiem yang cukup tajam sorotannya. Usia paling belia dan latar belakangnya yang cukup ‘eksentrik’ untuk dunia pendidikan di tanah air.

Kalau buat mereka (eh, termasuk saya sih hehehe) yang bukan bagian dari ‘kalangan pendidik formal’, kayaknya excited dengan terpilihnya Nadiem Makarim di pos Pendidikan.

Tapi justru kritik banyak datang dari ya itu tadi … ‘kalangan pendidik formal’. Jangan dikit-dikit dianggap nyinyir dan baper lah. Justru kita harus cermati dentuman-dentuman yang datang langsung dari mereka yang berjibaku sebagai salah satu ‘jantung pendidikan’ di tanah air.

Kemarin ngobrol sedikit dengan teman yang sudah lamaaaa menjadi dosen di sebuah kampus ternama di tanah air. Yang bersangkutan juga level pendidikannya sampai S3. Buat saya pribadi, pendapatnya lumayan obyektif lah (y).

Level S3 ini agak beda dengan S1 dan S2, karena mereka benar-benar bergantung pada riset dan penelitian dst dst.

Sebenarnya kegelisahan kita sebagai orang tua di Indonesia (eh kalian deng, gue pan di Ireland hahahahaΒ :p) adalah kurikulum milenial sekolah dasar yang kita anggap terlalu berat dan gak pernah konsistenΒ :(.

Tapi mungkin kita lupa PENDIDIKAN TINGGI (S1, S2, dan S3) juga di bawah Kemendikbud. Tadinya sempat dipindahkan ke Ristek ya kalau gak salah, tapi tahun ini dibalikin lagi.

Nah, di sini mungkin bentroknya.

Sudah sekian lama saya terganggu sekali dengan lontaran macam, “Halah, ngapaian sekolah tinggi-tinggi. Noh, lihat si Chanel. Cuma lulus SMA, uangnya banyaaaaak. Lah si Fossil katanya professor, gajinya kecil.”

Makin ke sini kayaknya KESUKSESAN terlalu erat definisinya dengan PUNYA UANG BANYAK. Kalau bisa di usia semuda mungkin sudah tajir (kayak Kak Nadiem? #eh).

Saya rasa sudah sekian lama pun mereka yang berkarier di dunia akademis berusaha mengembalikan harkat dan martabat si ILMU ini. Berusaha mendidik masyarakat kalau ILMU pun adalah harta tak ternilai. Jangan sikit-sikit duit lah.

Hal itu yang membuat kita stres sendiri. Akhirnya lomba-lomba mengejar anak biar masuk jurusan yang kelak bisa menjadi sarang duit. IT misalnya yang terkini.

Boro-boro pengin anak bisa riset dan punya basis meneliti yang bagus. Pasti pada doain anaknya bisa cepat kerja di Google atau di Facebook hahahaha :p.

Mungkin hal ini yang diperjuangkan oleh sebagian tenaga pendidik di tanah air. Dan mereka merasa ‘dikhianati’ dengan munculnya sosok Nadiem Makarim yang justru MEWAKILI generasi milenial yang cita-citanya kok kayaknya melulu mengukur kesuksesan dengan harta (berupa uang dan semacamnya).

Kok malah bertolak belakang dengan semangat mencetak sarjana-sarjana perguruan tinggi yang mampu fokus dengan bidang ilmu dan mempergunakan pengetahuan untuk mengabdi ke masyarakat tidak hanya berdasarkan hasrat haus gaji gede aja gitu.

Nadiem Makarim memang cocok untuk industri ekonomi kreatif. Tapi kita harus jujur lah, dunia penelitian ini memang agak-agak jauh hawa-hawanya dari yang ‘hedon-hedon’ begini-beginian. Kukasih tanda kutip biar gak salah paham.

Peneliti itu basisnya idealisme yang seringkali memang harus rela dibayar seadanya. The ugly truth we must accept. Begitulah dunia ini adanya hehehe. Di negara-negara maju pun problemnya sama kok ;).

Nah kira-kira begitu kegelisahan teman-teman dari tenaga pendidik (utamanya di perguruan tinggi) terhadap penunjukan sosok Nadiem ini.

Khawatirnya sosok Nadiem malah makin menyuburkan salah kaprah soal definisi ‘KESUKSESAN’ ini, terutama di bidang PENDIDIKAN.

Tidakkah kita lelah dengan dunia yang makin ke sini menuntut generasi terkini untuk cepat-cepat cari uang yang banyak hahaha.

Sudah saatnya kita sama-sama sadar tentang pentingnya ILMU yang pernah saya tulis dulu merupakan harta yang paling tidak menyusahkan, paling mudah di bawa ke mana-mana. ILMU itu spesial, makin banyak kita beri eh makin banyak yang kita terima ^_^.

Jangan semua-mua diukur pakek receh ama uang kertas gitu hehehe ;).

I got the point (y). Paham banget insya Allah. Tapi bukan berarti setuju hehehe.

Saya mah tetap percaya, who can tell where the road goes, only time … seperti lirik lagunya Enya :).

Coba berilah kesempatan dulu buat Nadiem Makarim. Kita tunggu gebrakan-gebrakan beliau. Diawasi terusΒ (y).

Semoga kritikan-kritikan yang masuk bisa menjadi pertimbangan beliau dan tim di Kemendikbud.

Kalau nanti gak perform kan tinggal diganti, dulu udah pernah kan? Hehehhehe :p.

Tapi buat teman-teman lain ya jangan diolok-olok lah kritikan dari kalangan pengajar dan pendidik ini hehehe. Dianggap old school lah, dinosaurus yang gak peka perubahan zaman lah, dst dst dst.

Santai ajaaaaaaaaaaaa :D.

Coba yuk, kita lihat dari sudut pandang mereka. Sebagian sudah saya tulis di atas :).

β€œReal education should consist of drawing the goodness and the best out of our own students. What better books can there be than the book of humanity.β€œ
Cesar Chavez

Think about it πŸ™.

belajar logat makassar

OKKOTS

Ada yang nanya-nanya logat Makassar terkait postingan yang ini. Terus terang memang agak sulit menerangkan fungsi dan cara penggunaan klitik dalam bahasa Indonesia khas Sulsel : ki – ka – mi – pi – to – na – di’ – ji – gang – tong dst dst dst.

Yang khas lainnya tentang logat Makassar adalah penambahan “ng” pada kata-kata yang berakhiran konsonan N atau M, misalnya ikan jadi ikang, malam jadi malang hihihihi.

Di kami itu istilahnya OKKOTS hahahaha.

Nah, kalau okkots itu rasanya tengsin dan malu gitu loh. Sering jadi olok-olokan sesama teman.

Makanya malah sering jadi bumerang. Saking takutnya okkots, kadang maksudnya mau ngucapin BANK malah jadi BAN hahahaha. Ya ini jadinya OKKOTS jugak *tutupMuka*.

Inget dulu ada teman yang nanya ke saya, “Jihan, apa artinya bentan alam?”

“Ha? Bentan?”
“Iyo, bentan alam.”
“BENTANG ALAM, ceeessss”Β πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

belajar logat makassar

“Ces” itu sapaan buat teman sebaya yang akrab kalau dalam bahasa sehari-hari di Kota Makassar. “Ces” juga bisa berarti high-five πŸ™ŒπŸ˜.

Kata “iyo” artinya IYA. Tapi itu penggunaannya relatif “kasar”. Hanya boleh pakai kata “iyo” ke teman sebaya, itu pun yang udah dekat, ya.

Nah ini jadi masalah saat menikah dengan suami yang orang Minang. Dalam bahasa Minang, IYO juga berarti IYA tapi penggunaannya dianggap biasa. Jadi suami suka bilang IYO ke orang tuanya. Ya gue kaget lah hahahahahaha.

Itu kalau di keluarga Bugis kami, bilang IYO ke orang tua bisa digampar, Cuy!Β πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kata IYA yang sopan dalam adat Sulawesi Selatan adalah Iye’ (pakai cengkok ya belakangnya, kalau cuma IYE nanti jadi kayak IYA dalam bahasa Betawi) hihihihi.

Salah satu cerita lucu soal logat Makassar IYO vs IYE’ ini adalah terbongkarnya kisah cinta salah satu teman pas sekolah dulu hihihihi. Mereka berdua diam-diam jadian. Ketahuan sama saya gara-gara pas si cowok nanya apa gitu ke si cewek, si cewek jawabnya “Iye’, ada ji”. UdendeeeeΒ πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚.

Tentu kulangsung curiga ada apa neh bilang iye’-iye’ ke temen sebaya sendiri. Nah ituuuuu, biasanya kalo ada yang jadian/pacaran, ngomongnya pakek iye’-iye’Β πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Saya sendiri sampai sekarang kalau ngobrol sama kakak kelas yang dulu ditaksir habis-habisan juga pakek iye’-iye’ #ehGimana πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Padahal jadian juga kagak pernah hahahahahha.

Secara umum yang banyak “diserap” dalam bahasa Indonesia logat Makassar sehari-hari di Kota Makassar adalah bahasa Makassar. Makanya wajar, walaupun bukan suku Makassar, saya terbiasa dengan beberapa kata dalam bahasa Makassar.

Misalnya kata SALLO (artinya LAMA/LELET). “Edede, sallomu, cepa-cepa saiko.” (Aduh, lelet amat lu. Cepetan napa?)

SALLO itu bahasa Makassar hehehe.

Ah ya, itu ada yang komen. Saya tambahin soal kata KITA. Dalam bahasa Indonesia, KITA itu berarti aku dan kamu atau aku dan kalian.

Naaaah, dalam bahasa Indonesia aksen Makassar, KITA itu berarti KAMU (level penggunaan sangat sopan, mungkin selevel dengan kata ANDA). Jadi hanya untuk yang kita hormati saja atau kepada orang yang baru kenal.

Jadi kalau ada orang baru kenal negur, “Kita mau ke mana?” Itu maksudnya “ANDA mau ke mana?” Jangan geer atau tersinggung hahahahahaha.

Jadi inget ya, di Kota Makassar, sehari-hari kami tidak berbahasa daerah. Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis itu beda lagi. Banyaaaaaakkk teman saya yang ortunya orang Makassar dan Bugis tapi mereka tidak terlalu paham bahasa daerah masing-masing hehehe.

Saya bisa bahasa Bugis karena Mama dan almarhum Bapak kalau ngobrol seringnya pakai bahasa Bugis. Tapi sebagian saudara kandung saya enggak terlalu bisa bahasa Bugis.

Kakak-kakak saya karena sering main di luar rumah di mana lingkungan perumahan kami itu mayoritas suku Makassar, jadi mereka semua lancar bahasa Makassar. Lebih lancar daripada bahasa Bugis :D.

Kebalikan sama saya. Anak rumahan, gak suka beredar hihihi. Jadi bahasa Makassar ngertinya dikiiiiiiit :D.

Di sekolah ya pakai bahasa Indonesia (tapi dengan logat Makassar) laaaaahΒ ^_^.

Dulu pernah punya guru kimia kelas 2 SMA yang bener-bener gak bisa bilang N, selalu terucap Ng. Makanya jadi lucu kalau beliau menerangkan tentang rumus-rumus kimia yang melibatkan nama-nama unsur kimia. Na (Natrium) jadi Ng-a πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

Susah menahan tawa kalau beliau mengajar. Untung beliau gak mutungan. Walau saya ketawanya paling keras, beliau tetep fair kalau ngasih nilai. Tetap semangat Pak (hihihi), walau rajanya Okkots, jasamu tiada tara β˜ΊοΈπŸ™.

Salah satu joke yang bikin terpingkal-pingkal di rumah dulu yang sering diucapkan oleh salah satu kakak saya :

“PERGI BEREMPAT, PULANG BERENANG” πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

Satu lagi dari kolom komentar, “MAKAN NDAK MAKAN, YANG PENTING SENAM” πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£

Did you get it? πŸ˜‚πŸ˜