Honor pertama!

Jumlahnya mah kecil hihihihi…tapi senengnya kayak dapet gaji pertama :P.

Sebenarnya gue juga tidak tahu itu cerpen “Namanya Aryana” tepatnya dimuat di edisi Femina yang mana? :D. Yang jelas, tadi pagi, pas mau ngecek-ngecek transferan hasil jualan buku minggu kemaren, eeehhh, ada saldo yang berbeda.

Honor cerpen di majalah Femina emang jauhhh lebih gede dibanding majalah lain. Makanya penulis-penulis gadungan macam gue pun nekat ngirim kesana padahal baru-baru aja belajar nulis cerpen. Ahahahahaha. Matre kauuuuuu :P.

Honornya 850 ribu. Transfernya juga cepet banget. Seingat gue redakturnya bilang tayang di edisi no.24, yang kalo gue cek-cek di website, no.24 itu terbitnya baru sabtu kemarin (edisi 16-22 juni). Males nih pergi ke baqala Indo. Mahal disini dijual 20 riyal (50 rebu perak) dan suka telat. Nanti aja minggu depan gue tanya-tanya ke temen gue disini. Kali ada yang beli dan bersedia minjemin, ihihihihihihi.

Kecil ah 850 rebu. Tapi bikin cerpen tentang Mbak Aryana itu cuma 1.5 jam sajahhhh :P. Jadi kalau diitung effortnya, sedep juga yak dapet 850 ribu untuk kerjaan gak nyampe 2 jam itu :D. Ya gak? 😉

Btw, what can be happier than being paid for doing something you REALLY love? Rasanya gak dibayar pun asal tulisan ada yang baca, udah super duper seneng ^_^.

Andaikan gak diingetin soal plagiator oleh anggota grup kepenulisan yang gue ikutin, pasti udah gue posting semua cerpen-cerpen yang gue tulis 2 bulan terakhir ini ;). Plus 2 novel yang sedang digarap.

Adapun tulisan-tulisan non fiksi gue, gue tayangin di wall facebook tiap minggu dan pake settingan ‘public’.

Karena udah lumayan banyak, gue bikin page khusus di facebook dong buat dokumentasi tulisan gue. Ahahahahahaha, sok penting nan sok keren :P. Gue rangkum di page gue “The Davincka Code.” Boleh dijabanin kesana buat bacaan iseng lagi gratis ;). Pokoknya prinsip gue dalam hobi menulis ini adalah : “menulis untuk kebaikan” :). Insya Allah, I always try to ‘say something’ in every words I wrote there.

Pembaca setia cerpen-cerpen gue hanya suami gue tercinta hihihihi. Gak nyangka dia seneng baca cerpen perempuan ahahahahaha. Saban abis baca dia selalu menyemangati : “kirim sana, kirim dong! kirim dong! kirim dong! biar jadi duit!”

Ahahahahahahaha… otak kau Bang, duit terussss! 😛

“Namanya Aryana” akan gue posting kok di blog ini minggu depan. Kayaknya gak apa-apa kan ya, kan udah dimuat? Iya gak sih?

Every Mom Has Her Own Battle

by : Jihan Davincka

***

Salah satu pertikaian yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. Stay at Home Mom vs Working Mom. Please, don’t say ‘Fulltime Mom’, karena tidak ada yang namanya ‘Part-time MOm’.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.sadlyno.com

“Alhamdulillah ya, sesuatu banget. Gajian lagi hari ini. Bisa beli ini-itu tanpa nyodorin tangan ke suami. Nikmatnya menjadi wanita mandiri.”

Kubu sebelah siap membalas, “Alhamdulillah ya, badan encok karena sibuk BBM an. Kerja gratisnya tidak sia-sia, lho. Insya Allah surga balasannya. Super sesuatu.” BBM = beberes, benah-benah, memasak. Hihihihi.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru : Working at Home Mom. Biasanya di jumat sore, saat macet menaklukkkan ibukota apalagi jika dibombardir dengan hujan, kubu yang ini siap berkicau :

“Aduh, hujan nih. Berkah namanya. Alhamdulillah ya, di rumah-rumah saja dari tadi. Bebas dari lebatnya hujan. Tapi kantong tetap basah, gak ikut-ikutan kering. Main sama anak sekaligus dapat penghasilan sendiri. Sesuatu banget.”

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, “hey I’ve got both, mandiri plus kebersamaan bersama keluarga.”

***

Parenting style itu unik tiap orang. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Jika para WM harus mengorbankan keluarganya demi karir. Contoh nyatanya banyak di sekitar saya. Yang saya lihat langsung.

Every Mom has her own battle
Working at Home – Mommy (Gambar : www.alexisgrant.com)

Ibu saya bukan SAHM. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya ;). Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama stay at home for us. Cukup seperti dulu. She’s always be the best Mom for us ;).

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai WM. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur SAHM. Tapi entahlah, anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.nazshemah.com

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Working-Mom 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. It’s my own choice. Buat saya pribadi, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain ;).

Tentu ada adjustment yang harus dilakukan. Tidak 100% kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

“Ah, dia gak ngurus anak. Seharian saja di kantor. Anak dikasih ke pembantu.” Cibiran buat Ibu pekerja kantoran.

Hey, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dicopot begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan mencibirnya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Every Mom has her own battle
Working Mom (Gambar : www.eyesonheaven.net)

“Ih, kok mau yaaaa, sekolah tinggi-tinggi kok lha ya BBM-an doang di rumah.” Definisi BBM nya diatas, masih ingat kan? :P.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya, Bok :P. Jangan bertanya-tanya, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera mereka yang memilih jalan ini.

“Ih, paling keren gue dong. Bisa sepanjang hari di rumah. Uang mengalir terus. Deket ama anak sekaligus mandiri secara keuangan.” Mau, mau, mauuuuuuu! Hehehe.

Pada umumnya yang model seperti ini ikut bisnis MLM. Wah, berkarir di dunia MLM ini beda lagi lho tantangannya ;). Atau buat yang berbisnis lain di rumah, pasti repot membagi pikiran sekaligus tenaga jadi dua di saat yang sama. Kita bisa melihat dan mencontoh persistensi mereka yang tak ada habis-habisnya.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karir demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain?

“Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.”

Every Mom has her own battle
Happy Mom (Gambar : www.mohersnotebook.com)

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaha :P. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu :).

Semua pasti ada pengorbanannya. As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.

Sepakat? ;).

1st debut on Magz :P.

Hiihihihi… 2 good news in a row!

Good news pertama punya suami, jadi gak berani koar-koar takut dijitak :P.

Nah, yang good news ke-2 nih yang boleh dicurhatin. Gak berani curhat di ‘tempat rame’. Jadi bisik-bisik disini dulu. Hehehe :P.

Jadi, gara-gara nerbitin buku, gue akhirnya menemukan yang namanya…PASSION! Aneh deh, lama amat yak baru ketauan :P. Ternyata gue emang demen menulis.

Kemarin iseng-iseng lagi bikin cerpen. Gara-gara temen-temen SD gue pas gue nerbitin buku gak ada yang kaget, “Lah, lu kan dari dulu suka bikin cerpen.” O, ya? Udah lama banget sih, dan pas udah SMP dan seterusnya gue dah gak pernah lagi nulis-nulis.

Baru belasan tahun kemudian, terdampar di Jeddah, jadi deh doyan nulis-nulis lagi. Makanya, pas nerbitin buku kemarin, temen SD gue sih gak merasa surprais. Sedangkan temen SMP ampe temen kantor pada ngeledekin, “lu mang bisa nulis?” ahahahahaha.

Anyway, jadilah gue bikin cerpen-cerpen gitu. Ih, tanggapannya dahsyat ini. Gue copas-copas tu cerpen ke grup-grup di facebook. Ya, karena disuruh-suruh ama suami, jadi deh gue kirim juga tuh salah satu cerpen ke majalah wanita yang paling yahud hihihihi. Sebenarnya pilih majalah ini ya karena menurut gosip yang beredar di google, honornya paling mantap! Hahahaha… matreee :P.

Gue kirim 14 mei kemarin, tanggal 24 mei dapat konfirmasi kalau naskah cerpennya udah diterima redaksi lagi direview. Terus 2 hari lalu dapet email dari si Mbak Redaktur. “Akan kami muat di Femina edisi no.24 ya, Mbak. Nanti akan dihubungi oleh sekretaris saya untuk urusan selanjutnya.”

Ihiiiiyyyy… cerpen pertama tembusss! Ahahahahahaha… hoki abesssss :P. Cepet lagi dimuatnya.

Cerpen apa sik, cerpen apa sik?… nih, eyke bagi dikit yeeee, judulnya aja tapi ahahahaha…”Namanya Aryana.”

Sopo iki Mbak Aryana? hihihihi… beli femina edisi no.24 nanti, yak. Mungkin yang edisi 17-23 juni, kurang update juga nih gue. Mahal disini majalah, 20 riyal per eksemplar. Pinjem aja lah nanti ahahahaha… Mudah-mudahan beneran dimuat ^_^.

Can’t wait! Can’t wait! 😛

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

Pengalaman pertama memang biasanya yang paling berkesan ;).

hdr-4-jhn.jpg

***

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

By : Jihan Davincka

***

“Bunda of Arabia” tadinya adalah judul novel yang ingin saya buat. Tapi kala itu saya berpikir saya tak pandai menulis fiksi. Jadi, judul itu menganggur saja.

Di penghujung 2011, setelah (sangat) aktif menulis di blog mamaSejagat dan ceritaJeddah, saya menyadari satu hal, “Saya suka sekali menulis!”

Saat itu saya menghitung ada puluhan postingan dari saya di mamaSejagat, dan puluhan postingan lain yang saya edit. Dan belasan postingan yang saya tulis tentang negara lain, yang diceritakan teman saya via message. Tapi saya menuliskan nama teman saya sebagai penulisnya. Hehehe.

Begitu tergila-gilanya saya menulis. Gak apa deh, yang penting blognya ramai dan saya ada alasan menulis. Toh, foto-fotonya dari teman saya itu.

Saya menuliskan kalimat ini di catatan resolusi 2012 saya :

Mamasejagat was some kind of sign to remind me of how much I loved writing when I was just a kid. It led me to create another blog : ceritaJeddah. Then I truly realized how I still love writing until now, and tadaaaaa … suddenly we get one resolution for 2012 : writing something more serious than a casual post on my blogs (a book perhaps? :P)”
Resolusi iseng saja. Tapi yang iseng-iseng ini justru mengganggu jadwal tidur selama berhari-hari di awal bulan Januari itu. Akhirnya daripada gak bisa tidur, why not? Let’s write a book!

***

Tapi dasar sok keren, saya pikir sekedar menerbitkan sebuah buku saja kayaknya terlalu biasa-biasa. Bagaimana kalau pakai deadline? Ya, jangan 1 tahun. Yang menantang, dong! Saya pun menantang diri sendiri, “Do it in 3 months! From the scratch!

Jadilah tanggal 1 April 2012 saya jadikan tanggal keramat. Di tanggal itu nanti buku pertama saya akan terbit, whatever it takes!

Nama pun bukan penulis, ketika googling dan menemukan berbagai artikel mengenai berapa lama biasanya sebuah buku terbit, saya langsung layu. Rata-rata minimal 3-6 bulan. Itu pun levelnya udah penulis tenar, bukan orang macam saya yang out of nowhere tiba-tiba merasa pengin nerbitin buku. Hehehe. Siapa lu?

Tapi anehnya, sifat keras kepala saya malah meluap-luap, “Masa sih tidak ada cara lain?” Jadilah saya colek-colek Mbah Google dan menemukan banyak sekali informasi tentang Indie publishing. Serasa bertemu jodoh, dalam hati saya bersorak, “Eureka! Eureka!

***

Nah, sekarang mulai menulis. Karena memang buku pertama ini mengandung misi ‘terselubung’ (misinya saya ceritakan di minggu depan, ya), saya memilih bentuk antologi. Sejujurnya, ini tantangan baru lagi. Saya tahu pasti mengedit tulisan orang jauuuhhhhh lebih susah daripada menulis sendiri.

Teman-teman saya disini tak banyak yang suka menulis. Dimulailah bergerilya mencari kontributor. Saya ceritakan misi saya. Belum ada yang tertarik. Saya arahkan tema apa saja yang saya mau. Sudah ada yang tertarik tapi mengaku tak bisa menulis.

Tapi layar sudah terkembang, pantang surut ke daratan. Saya bujuk tanpa henti (via BBM, inbox di facebook, ada yang saya samperin ke apartemennya) satu per satu, orang yang saya incar kisahnya. Saya bujuk, saya wawancara, akhirnya mereka mulai menulis.

Namanya saja mereka banyak yang menulis pertama kali, saya sudah memprediksi akan banyak sekali mengedit tulisan mereka. Nekad, ya. Sementara saya juga cuma penulis boong-boongan, hehehe.

Hasil berburu kontributor dengan intensif membuahkan sebuah naskah dalam tempo 3 minggu. Jangan ditanya sepetnya mata ngedit tulisan tiap malam, hehehe. Hey, there’s no such thing called free lunch! Mana ada sih yang enak-enak untuk mendaki puncak pengharapan ;).

Tapi, begitu naskah selesai, jalannya masih panjaaaaannnggg…

522016_206055992838871_1253662978_n.jpg

***

Sesungguhnya, rasa gentar itu sudah selalu menghantui dari awal. Sejak mencanangkan proyek menerbitkan buku 3 bulan saja, kadang-kadang lutut sudah bergetar.

Saat hampir putus asa mencari kontributor, saya sudah lemas. “Ah, sudahlah. Lanjutin kapan-kapan aja, deh. Lagian kok sinting mau nerbitin buku 3 bulan.”

Saat naskah sudah jadi. Berburu indie publishing tidak kalah melelahkannya. Siapalah saya, cuma blogger doang gitu, lho. Info hanya mengandalkan Google. Sempat takut dengan beberapa peristiwa penipuan via penerbit indie ini. Duh, apa mundur saja, ya?

Setelah menghubungi 5 penerbit, akhirnya menemukan satu yang cocok. Ini pun deg-degan sangat. Untung salah satu teman dekat saya disini kenal baik dengan pemiliknya.

Ya sudah, korek isi tabungan hasil berkarir 7 tahun kemarin.

***

Selesai sampai disitu? Belum ternyata, saudara-saudara! Inilah puncaknya. Penerbit indie memang asoy, naskah kita tak akan tertolak. Tapiiii… penerbit tidak mengurusi marketing dan sales nya. Itu tanggung jawab penulis. Mereka hanya bantu proses distribusi. Onde mandeee, siapa yang mau beli buku ini?

Tapi ya sederhana saja ternyata. Jual saja door to door. Ada internet, pikir saya. Kirim message saja banyak-banyak. Oiya, saya malas mentag orang lain di wall mereka. Saya pikir itu kurang sopan. Karena saya juga tidak suka bila nama saya dipajang di barang dagangan orang lain. Hehehe. Kecuali mereka minta izin lebih dulu.

Saya message satu persatu via inbox FB. Message nya kan sama tinggal copy-paste saja dan mengganti beberapa bagian yang dirasa perlu, hehehe. As simple as that ;). Melelahkan sangat tapi.

Awalnya respons sangat minim. Ya, lagi-lagi ciut. “Bego sih, nekad langsung cetak 800.” Tapi ya gimana lagi, terus saja saya menyebar message secara personal. Chatting satu persatu. Pokoknya tutup mata dulu dengan hasil. Lakukan saja yang terbaik semampunya.

Saya terbakar dengan kalimat dari Ust. Salim A Fillah, “Keajaiban kadang memancar dari sumber yang lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha.
Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.”

Jadi…just do your best! Let Allah takes care the rest!

Menjelang buku terbit, entah kenapa, mendadak banyak yang tertarik. Satu persatu
mulai membalas message. Tiba-tiba banyak teman yang menawarkan jadi reseller. Anehnya, saya tidak pernah menghubungi mereka. Ternyata mereka tahu dari teman saya yang lain. See? Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita ;).

***

So far, cetakan pertamanya habis dalam tempo 10 hari sejak terbit. Tapi kalau terbit secara indie, sebelum buku benar-benar terbit, kita sudah harus hunting pembeli, lho.

Sekarang saya sedang melanjutkan ikhtiar untuk cetakan ke-2 nya hehehe.

Benar-benar belajar banyak hal dari pengalaman yang satu ini. Satu yang utama, saya pikir, setelah menjalani banyak tahapan yang ‘melelahkan’, saya kapok. Enggak lho, saya makin cinta menulis. Berusaha agar makin mahir. Kalau membaca lagi naskah “Bunda of Arabia”, ah, saya sungguh tidak puas.

Dan satu kesimpulan saya yang mungkin tercantum dalam kalimat ini (saya ambil dari Running Quotes from George Sheehan), bahwa :

It’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is against the little voice inside you that wants you to quit.”
Benar juga. Sebenarnya dalam setiap mimpi yang berusaha kita gapai, dalam setiap langkah kita untuk mendekat padanya, ada satu musuh dalam diri yang sukar terlihat makanya terlihat susah ditaklukkan : “a little voice inside you that wants you to quit.”

Melawan diri sendiri itu intinya. Melawan bisikan-bisikan yang dihembuskan oleh batin sendiri, “Udahlah, ngapain capek-capek. Berhenti aja. Emang gak mungkin kali. Jangan sotoy, deh.”

Kemenangannya bukan terletak saat bukunya akhirnya terbit. Terbit lebih cepat dari target, 25 maret udah terbit. Yayyyy. Tapi pada kemenangan-kemenangan kecil dalam tiap pertarungan untuk menaklukkan bisikan-bisikan tadi. Mengusir jauh-jauh keinginan untuk berhenti saat garis finishnya malah sudah di depan mata.

Anggaplah kita sedang berlari. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila langkah melambat. Tentu tak masalah sekali-sekali berhenti mengelap keringat dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh itu…melepaskan sepatu anda, menepi di lintasan lari dan menunduk putus asa sambil berbisik : “I’m never gonna make it.” Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi.

Jadi, cari garis start nya. Pasang sepatu. Mulailah…mulailah berlari. Jangan mengizinkan ayunan langkah terhenti sebelum anda yakin bahwa garis finish telah terlewati ;).

buku-boa.jpg

 

“Bunda of Arabia : Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati”

Gilaaakk, sebenernya ada banyaaaaakkk banget yang mau diceritain di balik penerbitan buku “Bunda of Arabia” ini.

Eh, nerbitin buku?? Iyaaaaaaaa ^_^.

Buku antologi ini berisi kumpulan kisah ibu-ibu asal Indonesia yang sedang bermukim di Jeddah. Gue adalah penggagas dan sekaligus penulis di buku antologi ini. Teman-teman yang berhasil gue provokasi untuk ikut menulis ada 8 orang : Teteh Euis, Mbak Vica, Dini, Mira, Aina, Ismiyati, Alfiani, dan Rani.

Ajaib deh, gue ‘lempar’ ide di tanggal 9 januari. 12 Januari mulai pada bergerak. Akhir februari kita ‘lempar’ naskah ke penerbit Indie, dan voila… “Bunda of Arabia” terbitlah sudah di tanggal 25 Maret kemaren! Bukan main, 2 bulan 13 hari saja! Hahahaha, jangan tanya drama nya kayak apa, penggagas dan pemimpin proyeknya adalah Drama Queen nomor satu *nunjukDiriSendiri*.

Tapi belajar banyak hal dari proyek buku ini yang tentu akan gue share selengkapnya disini, tapi nanti ;).

Sampe sekarang rasanya juga gak percaya kenekatan ini bisa membuahkan hasil, hahaha. Dan yang lebih surprais lagi, bukunya ludes 800 eksemplar dalam tempo 10 hari! Cetakan pertama langsung habis dan segera meluncur ke cetakan ke-2.

Loh? Dikit amat? Iyaaaa, buku ini terbit secara Indie :P. Ada kok alasannya kenapa mesti terbit indie, duh, kapan-kapan pengen euy curhat panjang lebar ;).

Berikut ini tentang bukunya dulu deh, ya ;).

Here we go

***

Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati

by : Jihan Davincka

***

Burung merpati bukan hal langka di Saudi. Mereka mengepakkan sayap hampir di seluruh penjuru wilayah Saudi. Asyik aja mereka berputar-putar di udara. Tidak perlu mereka payah-payah berburu makanan. Hampir tiap saat, ada saja orang yang melemparkan makanan ke kawanan mereka. Hidup hanya untuk terbang dan makan. What a life :).

Burung sering dilambangkan sebagai simbol kebebasan. Hanya dengan mengembangkan kedua buah sayap, seekor burung bisa melesat kemana mereka suka. Beterbangan di udara, hinggap di dahan dan ranting, atau sekedar duduk berkicau dimana saja.

******

Saudi, negara ladang minyak yang menjanjikan banyak harapan kepada para pendatang yang terhembuskan takdir untuk datang merantau. Gaji tanpa pajak, biaya hidup yang cukup murah, sehingga kesempatan untuk berkontribusi berupa devisa yang lebih besar untuk tanah air terbuka lebar.

Kemana para pekerja formal kita? Mengapa tak banyak yang mencoba merengkuh rejeki di negara yang mengharapkan banyak tenaga profesional asing ini? Kepiawaian pekerja formal negara kita harusnya lebih dari cukup untuk disejajarkan dengan ribuan tenaga kerja dari negara lain yang berdesakan ingin bekerja disini. Persaingan tak begitu sengit, tidak sesengit kesempatan untuk meraup kesempatan di negara-negara maju.

Salah satu alasan utama adalah : keluarga. Terutama bagi mereka yang sudah beristri. Bukan rahasia, Saudi dikenal tak ramah untuk para perempuan, terlebih yang berasal dari Indonesia. Keengganan para istri kadang sanggup menghentikan langkah para pencari nafkah untuk bertolak ke Saudi.

******

Ternyata ada banyak hal-hal menyenangkan yang tersimpan rapi entah dimana. Hal-hal seru yang gaungnya terlalu lemah karena tertimbun banyaknya kisah-kisah dengan nada berbeda tentang kota ini. Meskipun memang tak dipungkiri, kehidupan sehari-hari perempuan di kota Jeddah masih memiliki banyak ‘dinding pembatas” dibandingkan banyak wilayah lain di belahan dunia sana.

Kami mencoba mengangkat kota Jeddah dan kehidupan perempuannya dari sisi yang sedikit berbeda. Kami hadirkan :

“Bunda of Arabia : Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati”

Percayalah, kebahagiaan tidak pernah bergantung kepada dimana kita tinggal, kemana kita pergi, bahkan pada berita yang mencecoki mata dan telinga kita. Bahagia itu dari dalam. As we’ve known that HAPPINESS is not given, it is made. Bahagia selalu bisa diciptakan. Hidup dimana pun pasti perlu perjuangan.

******

Diterbitkan secara indie. First printing of 800 copies sold out in its first 10 days!

Cetakan keduanya akan segera dihadirkan di tanggal 25 April 2012 ini.
Mariiii, pre order boleh, lho.

Boleh mention saya di @davincka
Atau email ke davincka@yahoo.com dengan subject : BUKU
Atau message ke inbox saya di facebook, id saya : Jihan davincka, email : davincka@yahoo.com

PM saya lewat Multiply juga monggo.

Untuk daerah Jakarta dan sekitarnya, harganya cukup 35 ribu rupiah saja, sudah termasuk ongkir ;).

Salam
JIHAN on behalf of
-Bunda of Arabia-