[FF] Dear Pakde, …

Gambar : www.myeloma.org.au
Gambar : www.myeloma.org.au

Tak berani kuremas selembar kertas di tanganku. Cepat-cepat kusisipkan di balik kebaya. Tanganku berkeringat. Kalau tintanya sampai luruh tak terbaca, habislah aku.

Ini bukan surat kuitansi apalagi surat cinta. Tapi di atas lembaran putih itulah, kutitipkan harapan terakhirku. Usaha penghabisan untuk menyelamatkan masa depanku. Ketika sebulan yang lalu Ibu gencar membujukku, “Mbah Setyo sudah membantu melunasi utang bapakmu. Tolonglah Ibu, penuhilah permintaan keluarga besar untuk menikah dengan anak Mbah. Iku Pakdemu. Pakde Trisno.”

Bertahun-tahun Ibu merantau ke tanah bugis demi cinta tak terbendungnya pada seorang kapten Birawa nun jauh di kota Makassar. Bapak meninggal tiga bulan lalu. Ibu berkeras mengajakku kembali ke Surabaya, tanah kelahirannya.

Kini, genap dua bulan aku berada di tengah-tengah keluarga ibu. Sejak kecil dibesarkan secara bugis, aku merasa sangat asing di sini.

Mendengar nama Pakde Trisno, ingin menangis rasanya. Aku cuma tahu, Pakde adalah sebutan untuk saudara Ibu yang usianya lebih tua. Belum usai laraku karena kehilangan bapak, sekarang aku pun harus menerima takdir yang tidak  kalah menyedihkannya.

Pakde Trisno-mu ngganteng, Nduk. Beruntung kamu.” Ah, ucapan Bude Marni cuma basa basi saja. Aku tak berniat bertanya lebih jauh. Kepada ibu pun kudiamkan semua tanya, sakit hatiku masih membuncah.

Biarlah. Akan kuminta pengertian langsung saja pada si Pakde ini. Mungkin masih tersisa rasa belas kasihannya padaku. Tega-teganya dia mempersunting aku. Walau terhitung saudara jauh, buatku sungguh tak wajar seorang paman menikahi keponakannya. Hari ini, saat dia akan datang melamarku, akan coba kuutarakan isi hati padanya langsung melalui sepucuk surat.

Suara gaduh mulai terdengar. Hatiku makin berdebar putus asa. Kuraba secarik harapan yang tersisa di balik kebayaku. Mbah Setyo muncul. Aku mengenalnya sejak  kecil. Seorang perempuan yang mungkin usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari Ibu berjalan di sampingnya, menggamit mesra lengan si Mbah.

Bude Marni berbisik padaku, “Iku istri mudanya Mbah. Kenal ndak? Ibune si Pakde Trisno-mu.” Belum habis bingungku, seorang pria tampan muncul dari belakang mereka. Bude Marni tak bersuara, tapi jarinya sibuk mencolekku seolah memberi isyarat siapa pria rupawan itu.

Hatiku berdebar makin tak karuan. Perasaan marah dan tak berdaya menguap entah ke mana. Kuremas selembar kertas di balik kebayaku. Andai boleh berlari ke dalam kamar dan menulis ulang isi hatiku, tak ragu kan kugoreskan satu kalimat saja, menghapus puluhan kalimat rintihanku tadi untuknya, “Dear Pakde, aku jatuh cinta.”

Iki Pakde Trisno? Hihihihihi (Sumber gambar : detikhot.com)

***

 

Hers is Where Mine Begins

Usai melahirkan adik perempuan saya, anaknya yang ke-7, Ibu saya datang ke dokter kandungannya, “Saya mau pasang KB, Dok.”

Sang dokter, yang sedari kehamilan ke-3 sudah mendesak Ibu agar memasang KB, agak syok. Tapi konon sang dokter akhirnya hanya senyum-senyum menggoda Ibu saya, “Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ya, Bu.”

Usia beliau saat itu baru 30 tahun. Sebenarnya di masa-masa Ibu lahir dan besar, pernikahan usia dini sudah bukan hal yang lumrah. Walaupun belasan tahun masa kecilnya dihabiskan di Rappang, kampung kelahirannya nun jauh di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Ibu punya saudara kembar. Saudara kembarnya ini menikah di usia yang tidak terlalu muda. Saat tante hamil anak pertama, Ibu pun sedang hamil saya, anaknya yang ke-6. Semua teman sepermainan kecilnya menikah di usia nyaris 30 tahun. My mom rocks! Ahahahahahaha.

Di usia 15, setelah menikah dengan almarhum Bapak, mereka berdua langsung hengkang ke ibukota propinsi, yang dahulu masih bernama kota Ujung Pandang. Memulai segalanya dari 0. Hidup menumpang pada kerabat lain sambil membantu usaha kerabat tersebut.

***

Ibu sering sekali bercerita kalau sebenarnya dia ingin melanjutkan pendidikan hingga lulus SMU. Berharap kami semua bisa meneruskan cita-citanya itu. Tapi istimewanya, Ibu tak menyimpan ‘ambisi’ masa lalu ini terlampau dalam.

Santai saja beliau dalam mendidik kami. Tak pernah mewajibkan kami ini itu. Tidak ngotot kami harus les ini les itu.Yang terjadi malah kebalikannya. Salah satu anak Ibu sangat ambisius dalam urusan sekolah, apalagi urusan nilai rapor.

Anak perempuan sulungnya menangis dan berdiam diri berhari-hari setelah di semester ke-4 di bangku SMP harus puas dengan peringkat ke-2 di kelas, setelah 3 semester berturut-turut menjadi juara kelas. Malah semester 1 juga menjadi peringkat 1 umum sekolah! Ahahahahahaha. Can’t believe that it was…ME! .

Maafkan anakmu yang norak ini ya, Mama hehehehe. Tidak pernah lho Ibu memaksa kami untuk berprestasi secara akademis setinggi mungkin. Catat, ya. Tidak pernah. Itu karena anaknya yang itu saja yang terlalu bernafsu ndak jelas ahahahahaha.

Sejak kelas 5 SD, saya aktif menjadi anggota drum band di sekolah. Kami sampai ke Jakarta segala lho ikut lomba . Waktu itu ada iuran sebesar 150 ribu. Saya kaget sekali waktu Bapak menolak keras dan menyarankan saya supaya tidak usah ikut. Ya ampun, padahal sudah capek-capek ikut latihan berbulan-bulan.

Waktu itu Ibu diam saja dan menenangkan saya yang sudah sesenggukan di meja makan, “Sudahmi. Nantipi Mama yang bicara sama Bapak. Diam mako dulu.” (Sudahlah. Nanti Mama yang bicara ke Bapak. Diam dulu, ya).

Akhirnya beberapa hari kemudian, Ibu kembali berkata, “Ooohh, salah dengarki Bapak. Dia kira 750 ribu. Kalau 150 ji, ada kok uangnya.”

Ah, waktu itu saya lega dan percaya saja pada kata-katanya. Tapi kini, saya paham. Pasti Ibu yang membujuk Bapak untuk membayar biaya kepesertaan tersebut.

Di kelas 6 SD, banyak teman drum band yang diresahkan oleh orang tua mereka yang menuntut agar mereka berhenti mengikuti kegiatan bermain musik tersebut. Kegiatannya dianggap akan mengganggu kegiatan belajar di sekolah.

Ibu tenang-tenang saja, “Ah, masa sih begitu? Belajar ya belajar. Main terompet itu kan bagus juga. Kau pasti bisa lah. Masa gara-gara drum band pelajaran jadi terganggu. Tidak ada itu.”

Beneran lho, ucapan Ibu sangat membakar saya. Cawu 1 kelas 6, saya dihujani puji-pujian oleh pembina drum band dan para pelatih . Setelah sekian lama selalu puas di peringkat 2,3 atau 4, pertama kalinya saya menjadi juara kelas .

Kala aktif-aktifnya saya dengan kegiatan drum band saya yang banyak dihujat oleh kalangan orang tua. Bahkan, wali kelas saya yang tadinya ‘sinis’ pada kami, si penggila drum band ini hihihihi, ikut memuja-muja saya di hadapan orang tua murid lain .

Sehabis menerima rapor kala itu, saya kegirangan dan percaya diri luar biasa kalau saya akan mendapat perlakuan istimewa darinya. Sewaktu di becak berdua Ibu, dalam perjalanan pulang, saya yakin sekali akan mendapat jawaban ‘ya’ ketika saya memberanikan diri untuk berujar padanya, “Ma, makan coto, yuk.”

Ibu menjawab tenang, “Aiii, tidak ada uangku, Nak. Nantipilah kapan-kapan, ya.”

Kasian deh loooo, ahahahahahaha. Mentang-mentang rengking 1 . Inilah salah satu keistimewaan beliau. Ibu tidak pernah mengistimewakan anak-anak berdasarkan prestasi akademis. Sama rata pokoknya. Kalau ada kerabat yang menyinggung-nyinggung adik perempuan saya, “Ini yang kecil tidak pintar seperti kakaknya di’ …”

Ibu selalu menjawab taktis, “Ooo, ini yang kecil banyak sekali temannya tauwa di sekolah. Pintarnya bergaul. Tidak seperti kakaknya. Pacceicereng ladde’, napoji mapakereng-kereng.” Hayooo, apa itu artinya, ahahahahaha.

2 hari setelah ebtanas SD, bapak meninggal dunia secara mendadak. Salah satu masa-masa terberat bagi kami semua. Tapi, menjelang pendaftaran masuk SMP, beliau tetap menyerahkan keputusan pada saya, “Jadi bagaimana ini, Nak? Tetap di Athirah atau mau ko masuk SMP 6?”

Saya sungguh tidak mengira Ibu akan bertanya. Sebesar apa pun keinginan saya untuk melanjutkan SMP ke Athirah, sekolah swasta selevel Al Azhar di kota saya dimana semua kecengan pun masuk sana boooo , saya tentu tahu diri untuk memilih sekolah negeri.

Kami semua sudah tahu, kepergian Bapak waktu itu lambat laun akan menghantam ekonomi keluarga. Tinggal masalah waktu saja.

“SMP 6 mi saja. Cukup kan NEM nya.” Saya menjawab tanpa ragu. Alhamdulillah, NEM saya sangat gemilang. Lebih dari cukup untuk bersaing merebut kursi di SMP negeri terbaik di kota kami saat itu. Eh, masih enggak, ya sekarang? ;).

***

Di bangku SMA, sebuah kejadian penting pun mewarnai hubungan kami. Sebuah perdebatan kecil pada saat penataran membuat saya menjadi berpikir masalah kerudung. Padahal semasa Bapak masih hidup, beliau sudah menegaskan kalau SMP, saya harus mulai berkerudung.

Idih, malas amat. Saya tentu menentang keras. Ibu membela saya, “Tidah usah dipaksa-paksa. Anak masih kecil disuruh pakai kudung.” (kudung -= kerudung).

Saat penataran, saya mengemukakan pendapat dengan ‘nyinyir‘nya dalam kelas, kira-kira isinya begini, “Sebagai negara dengan penganut agama bermacam-macam, anjuran memakai jilbab itu hanya akan mengurangi rasa nasionalisme. Cuma mau pamer-pamer agama saja.” Sekuler bener ini Mbak-nya ahahahaha, masih tahun 1995, bahkan Ulil bersama JIL-nya pun belum menetas kala itu :p.

Ketika saya dipindah kelas, saya bertemu dengan seorang teman berkerudung yang sangat bersahaja. Penampilannya rapi dan (maaf) badannya tidak bau hehehehe . Darinya, saya mendapat sebuah buku bersampul kuning, yang hanya butuh sekitar 2 jam untuk menuntaskan isinya. Sungguh, hidayah rahasia Allah semata .

Hanya perlu satu buku itu saja untuk memberanikan saya berkata secara tiba-tiba pada Ibu, “Ma, mo ka’ pakai jilbab.”

Ibu tentu terkejut. Memandangi putri sulungnya, yang rasanya belum lama berlalu ngomel-ngomel disuruh pakai jilbab, di usia 15 mendadak ingin mengenakan jilbab. Ibu keheranan, “Kenapa?”

Saya menyerahkan buku bersampul kuning tadi. Dan saya tinggalkan beliau yang segera sibuk membolak balik buku tersebut.

Besoknya, dari balik tangga, saya duduk sendiri mendengarkan Ibu berbicara di telepon. Entah dengan kerabat yang mana. Ibu lebih banyak diamnya, hanya sesekali menjawab. Tapi belakangan saya tahu, ternyata banyak kerabat yang menentang.

Saat itu di keluarga besar kami tak banyak remaja putri di usia SMA yang berkerudung, kecuali sepupu-sepupu yang memang lulusan pesantren. Tuduhannya macam-macam. Masa ada yang menuduh saya ikut-ikutan aliran sesat  *adaAdaAjaDeeehhh:P*. Dihujat karena terlalu banyak baca buku.

Ah, saya pasrahkan saja. Tahun segitu, memakai jilbab di usia 15 memang masih gimana gitu. Saya pikir, toh saya sudah mencoba. Kalau pun memang belum boleh, saya tak akan sedikit pun menentang beliau.

Tapi, sungguh tak disangka, beberapa hari kemudian, di suatu malam Ibu memanggil saya. Sambil menyerahkan sebuah kantong plastik hitam, “Ini dua pasang baju sekolah, lengan panjang sama rok panjang. Jilbabnya juga 2. Kapan mau pakai jilbab?”

Rasanya ingin terbang. Teman-teman lain di sekolah menghadapi begitu banyak drama hanya untuk menggunakan kerudung, jalan saya begitu mudah . Malam itu, agak sulit saya memejamkan mata. Bantal pun dihujani air mata. Terima kasih ya Mama, diantara sekian banyak hujatan, Mama memutuskan untuk percaya pada pilihan putrinya.

Sebagai informasi, baru beberapa tahun terakhir ini Ibu memutuskan untuk memakai tutup kepala. Saat saya meminta izin untuk berjilbab, beliau pun belum berjilbab saat itu.

***

Kontras dengan peristiwa awal mula berkerudung di kelas 1 SMA itu, menjelang pernikahan saya, hubungan kami tak terlalu baik. Resepsi pernikahan menjadi polemik tersendiri. Dengan dana pas-pasan, akhirnya jalan terbaik yang ditempuh adalah menumpang acara pernikahan di rumah kerabat.

Kondisi ekonomi keluarga sudah lama ambruk. Masing-masing kami membiayai sendiri acara pernikahan. Jadi, harap maklum kalau jadinya malah menumpang hehehhe.

Mau resepsi di mana pula eike, rumah pun tak ada ya, Ceu ehehehehe. Masa di rumah kontrakan? ahahahaha. Saya pun ingin menghormati keluarga suami dengan tidak mengadakan ‘acara murahan’ yang bertempat hanya di mesjid, sementara mereka sukarela mengadakan perhelatan di sebuah gedung tanpa meminta biaya dari pihak saya.

Kala itu, saya masih berstatus trainee di sebuah perusahaan besar yang memang sejak dulu menjadi incaran saya. Namanya juga trainee, masih masa-masa cari muka dan tidak berani bolos-bolos la yaoowww ahahahaha. Jadi, saya mempercayakan semuanya pada Ibu. Belum apa-apa, masalah baju pengantin sudah membuat darah mendidih.

Sudah sejak lama saya mewanti-wanti Ibu, “Pokoknya saya mau tetap pakai jilbab. Pakai baju la’bu’, jangan baju bodo.” (Baju la’bu’ = baju panjang, baju bodo = baju pendek).

Seolah ingin menambah drama pernikahan saya, beberapa hari sebelum resepsi akad nikah digelar, sebuah peristiwa menggegerkan divisi saya di kantor. Sebuah tabel utama dalam database perusahaan lenyap isinya. Ter-delete semua. Ini apa yaaa, bahasanya IT banget ahahahahaha.

Peristiwanya hari rabu. Sementara hari sabtu sudah harus duduk manis di pelaminan. Hampir mati rasanya waktu itu. Saya satu-satunya trainee dalam tim saya.

Alhamdulillah tak perlu tercekam terlalu lama, pucuk masalah ketahuan juga. Tim development dodol di Bangolore sudah melakukan kesalahan tolol dengan menghapus data di database production. Ahahahahahha. Itu peristiwa memalukan sebelum akhirnya setahun kemudian, perusahaan resmi beralih ke SAP .

Rabu itu, tak ada ampun meskipun berstatus sebagai satu-satunya perempuan dalam tim untuk ikut ‘menjaga’ proses recovery data hingga dini hari. Hari kamis pukul 4 pagi, barulah kami semua beranjak pulang meninggalkan kantor. Hari kamis pukul 9 pagi sudah pasang tampang siap siaga lagi depan Bos. Trainee oh trainee ahahahaha.

Hari jumatnya, karena peristiwa tersebut, saya tidak diberi cuti penuh. Bos tetap menghendaki saya untuk masuk setengah hari. Siangnya, pulang ke rumah kontrakan, maksudnya ingin langsung rebahan mengingat beberapa hari terakhir tidur tak pernah pulas. Ibu malah datang membawa berita, “Sudah disiapkan baju bodo baru. Warnanya biru. Bagus sekali bajunya.”

Tante saya ikut melaporkan biaya penyewaan tenda yang harganya melambung tinggi di luar perkiraan!

Sudahlah kurang tidur beberapa hari, stres mikirin urusan kantor, masih pening mikirin ongkos nikah yang menguras hampir seluruh isi tabungan, saya meledak-ledak . Berbicara dengan nada kasar pada beliau. Mengatakan banyak hal-hal yang amat tidak pantas .

Can you imagine, hanya beberapa jam menjelang hari pernikahan, saya malah bertengkar dengan Ibu. Dramanya pun mencapai puncak ketika malam itu juga, saya dihujat oleh keluarga besar karena dianggap tidak mensosialisasikan acara pernikahan. Selama itu, saya memang tidak berani minta cuti, saya menyerahkan semuanya pada Ibu .

Saya ini bodoh sekali. Sudah tahu dana cekak, masih saja berani berbagi keangkuhan pada Ibu bahwa semua biaya sanggup saya tanggung.

Tidak menyadari bahwa judulnya saja hanya ‘menumpang’, sudah seharusnya kami yang ikut keinginan keluarga besar. Jadi, selama ini Ibu tidak pernah berani berbicara terus terang kepada saya. Saya juga terlalu sibuk di kantor, tak terlalu merasa perlu ikut campur terlalu jauh.

Kakak-kakak saya yang lain pun tak berdaya ikut membantu. Mereka juga ya sibuk lah bekerja di kantor masing-masing. Tinggalnya terpencar-pencar. You know lah Jakarta beserta macetnya .

Lupa memaklumii bahwa siapalah Ibu saya. Mana mungkin Ibu mau sok tahu ikut-ikutan mengatur jalannya acara meskipun yang menikah adalah anak gadisnya .

Intinya, sesibuk apa pun, sempatkanlah untuk bersilaturahmi. Tidak ada istilah macet, capek dan segala macam.

***

Setelah menikah dan memiliki anak pun, rasanya kasih sayang Ibu tidak akan pernah terputus, ya. Saat bertikai masalah kepindahan ke Jeddah dengan suami, Ibu ikut menasihati saya, “Apa tahan terus-terusan hidup pisah-pisah? Di mana suamimu mau bekerja, menurut sajalah. Setengah mati diurus supaya kau bisa ikut, kenapa sekarang tidak mau?”

Kala itu saya berbagi kekesalan saya pada Ibu masalah Montreal vs Jeddah hehehe. Ibu pun menyemangati saya, “Jeddah itu bagus, kok. Jangan dengar kata orang-orang. Bayangkan Nak kau nanti di sana, bisa umrah, bisa naik haji. Dekatnya itu Mekkah na dari Jeddah. Kau itu beruntung, Nak. Ikut saja apa kata suamimu.”

Ibu memang yang suka memprotes kala saya harus hidup terpisah dari suami di setahun pertama keberangkatan suami ke Jeddah. Menurutnya, “Tempat terbaik bagi seorang istri adalah di samping suaminya.” . Dalam kondisi apa pun.

Jadi, saya selalu iri pada teman-teman yang bisa pulang ke haribaan ibunda tercinta untuk berlibur panjang bersama anak-anak sementara suami tak bisa lama-lama mengambil cuti hehehehe. Ibu saya bisa murka, “Musalai lakkemmu? Madosa ladde’ tu, Nak.” (Kau tinggalkan suamimu? Berdosa sekali itu, Nak).

Suami saya mungkin memberi izin, tapi malas enggak sih kalau dikutuk oleh ibunda sendiri? Hehehehe.

Kala hamil, tak pernah berani menyisipkan pikiran untuk pulang ke tanah air biarpun waktu hamil muda saya seperti orang gila (literally!) ahahahahaha. Ask my husband! . Ibu pasti akan menceramahi saya panjang lebar, “Baru hamil begitu sudah tidak tahan?

Mama itu melahirkan 8 kali, de nengka ulisu okko bolana indo’ku.” (Tidak pernah saya pulang ke rumah ibu saya).

Terima kasih ya Mama. Itu pelajaran sangat berharga . Tanpa kita sadari, kekuatan itu ada kok dalam diri kita. Setakut-takutnya saya saat hamil anak ke-2 jauh di negeri rantau, segaring-garingnya saya di Jeddah kala ramadan datang, terngiang selalu pesan Ibu, “Susah senang sama-sama, Nak. Begitu memang kalo sudah kawin.”

***

Ah, mau seribu paragraf pun rasanya tak akan pernah cukup untuk mengisahkan perempuan hebat ini . Tentu saja, Ibu saya pun hanya manusia biasa. Tak sedikit kekurangan bahkan hal-hal tak ‘layak’ yang pernah mengundang gunjingan orang. Meskipun saya pun tak pernah membahas hal ini secara terbuka dengan saudara-saudara saya, saya yakin hal itu tidak akan mengurangi rasa hormat kami pada beliau .

“But there’s a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother’s story, because hers is where yours begin.”

― Mitch Albom , For One More Day

61 tahun lalu, tepatnya tanggal 26 Mei, beliau terlahirkan ke dunia ini . Kelahirannya yang akan menghadirkan rangkaian perjalanan cerita pada kami bertujuh. 8 kali melahirkan, anak ke-2 (kakak kembar saya) menghembuskan nafas terakhir hanya beberapa detik setelah terlahir. Selamat ulang tahun, Ibunda tercinta .

Mama and her grown-up babies :D (January, 2013)
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ
سورة نوح﴿٢٨﴾
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA
Ya Alloh ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku
(QS.Nuh 28)
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِـيْراً
سورة الإسراء﴿٢٤﴾
ROBBIR_HAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil
(QS. Al-Isro’ 24)

 

Tips Menulis Cerpen : Write and Send!

Coba lihat contoh cerpen di bawah ini :

Jam 12

Sepuluh menit lagi. Tanganku berkeringat terlalu banyak. Sampai-sampai aku takut sebilah benda di tanganku akan terlepas. Seluruh rasa percaya diri yang setengah mati kukumpulkan beberapa bulan terakhir ini entah kemana perginya. Kini, tak cuma jantung yang berdetak terlalu cepat, lutut pun bergetar begitu rupa.

***

Apaan sih ini?

Ada yang nanya, kalau bikin cerpen, pembukanya enaknya gimana? Judulnya apa? Contoh paragraf pertamanya gimana? Semacam nanya soal tips menulis cerpen gitu, ya. Duh, paling enggak ahli deh bikin tips-tips hihihi. Apalagi tips menulis cerpen.

Namanya Aryana, Femina no.24 (2)Ampuuunnn, udah kayak penulis cerpen kawakan saja kauuu, sok-sok bikin tutorial ahahahahahahaha.

Saya terus terang tidak pernah mengerti teorinya. Selama ini ya langsung ditulis aja. Jadi, langsung dikasih contoh saja, ya . Gimana? Judulnya bikin penasaran gak? Pembukanya ‘nendang’ gak?

Setiap penulis itu (baik yang beneran maupun yang sok merasa dirinya penulis kayak gue :P), punya ‘taktik’ masing-masing dalam membuat tulisan fiksi. Nah, saya ini tipe yang MESTI TAHU AKHIRNYA apa dan PESAN MORALnya apa. Sok keren, ya? Iya dong, biar pun fiksi, kudu ada pesan yang mudah-mudahan mengarah ke kebaikan. Iya, gak? ;).

Cerpen Tiga Rahasia Femina no.50Jadi, saya selalu memulai menulis fiksi dengan menuliskan paragraf terakhirnya . Tapi karena ditanyain awalnya, jadi deh yang dikasih ya awalannya . Buat saya, kalau sudah tahu kemana cerita akan bermuara, tak akan sulit untuk meramu awal dan pertengahannya. Dengan catatan, plot dan alur sudah ada.

Plot dan alur kepikiran dari mana? Kalau saya pribadi, tidak perlu momen khusus. Misalnya lagi ngerebus daging saja, suka kepikiran bikin cerpen tentang istri yang mau meracuni suaminya karena suaminya mau kawin lagi. Hati-hati para suami. Konon… para istri rela dimadu asalkan suami rela diracun. Ahahahahahahha. Becandaaaaa :P.

Intinya, cari ide jangan dibikin stres. Tidak harus mendaki seribu gunung, menyeberang seribu pulau, kok . Kalau lagi mengerjakan pekerjaan yang tidak butuh konsentrasi tinggi (seperti menyetrika, beres-beres rumah, cuci piring / iya nih eike gaptek enggak bisa pakai dish washer ahahahaha), manfaatkan untuk menghayal .

Apa sih gue? Jadi situ udah jagoan bikin fiksi, neh? Ya kan namanya juga ada yang nanya, Kakaaaaaaa :D.

Inti nomor duanya, jadi orang ya pede aja. Gimana cara cerpen dimuat di majalah? Ya bikin cerpen terus kirim! Gampang kan? .

Kalau yang narsis kayak saya, ya memang tahapnya gitu doang. Ketik cerpennya, rapiin di word, attach di email, ketik alamat redaksi, pencet tombol send. Simpel. Beres . Suka malas cari-cari tahu tipe-cerpen di berbagai majalah dll. Pokoknya majalah wanita dewasa ya usia tokohnya dibuat dewasa. Ya selama ini cuma ngirim ke majalah wanita dewasa. Yang remaja belum pernah. Masa remaja kurang bahagia? Kayaknya sih begitu :P.

yang kumau KartiniYa kalau redaksinya suka, alhamdulillah. Naskah ditolak? Itu kerugian redakturrnya. Naskah bagus kok ditolak? Iya, gak? Ahahahhahahhaha. Jangan karena naskah ditolak, kepercayaan diri terguncang. Yang rugi diri sendiri kan?

Nih, redaksi femina : kontak@femina.co.id (panjang naskah sekitar 12 ribu karakter). Font gak usah dipikirin. Pokoknya kalau gak TNR ya arial. Spasi 1.5 lah ya.

Redaksi kartini : redaksi_kartini@yahoo.com (panjang naskah sekitar 13,5 ribu karakter). Font sama. Spasi sama.

Redaksi lain? Belum pernah tembus, euy hihihihi.

Jadi … tips menulis cerpen? Write and send! As simple as that ;).

Selamat mencoba ^_^.

bintang

[Cerpen Majalah Kartini] Judul : Yang Kumau

Cerpen Majalah Kartini , Oleh : Jihan Davincka

***

Cerpen Majalah Kartini

Jam sebelas lebih sepuluh menit. Masih dua jam lagi pesawatnya mendarat.
Aku tak bisa melupakan peristiwa tiga bulan lalu. Saat wajahnya merekah penuh kebahagiaan, tak henti-hentinya berujar, “Manda, ini betul-betul keputusan yang tepat. Terima kasih, Nda.”

Aku tak melepaskan genggaman tanganku sejak detik aku duduk di sampingnya, “Doakan selalu yang terbaik ya, Pa.”

Wajah berseri yang tengah terbaring di sebuah ranjang rumah sakit mengangguk-angguk dengan mata berbinar. Pipiku memanas. Dua butir airmata meluncur cepat tak tertahan. Kuabaikan segala kerisauan yang menghantui beberapa minggu terakhir. Apapun untukmu, Papa.

***

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana masih ramai. Beberapa orang yang ikut duduk tak jauh dariku, tampak mengipas-ngipaskan tangan tak sabar. Baru terasa udara yang gerah ini. Aku mengusap perlahan keningku yang basah dengan selembar tisu.

Kulirik jam tangan. Setengah dua belas. Dua puluh menit termenung rasanya bagai berjam-jam. Kusandarkan punggung ke pundak kursi.

Pikiran kembali melayang. Kali ini jauh ke belakang. Terbang mundur ke saat aku berdiri terpaku menghadap sebuah meja. Sebuah kue tar besar dengan angka delapan diletakkan tepat di hadapanku. Semua orang bersorak tapi aku malah tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

Papa berbicara sesuatu kepada orang-orang, aku tak menyimak. Yang kuingat, dia menuntunku masuk ke dalam kamar dan memelukku di pangkuannya. “Manda kangen Mama?”

Aku mengangguk perlahan sambil terus menunduk. Betul sekali. Saat itu adalah ulang tahun pertamaku dimana hanya ada Papa yang menemaniku berdiri di depan kue ulang tahun.

Papa membelai rambutku. “Biarpun anak perempuan, Manda jangan sering menangis.”

“Manda sedih, Papa.”

“Iya, tidak apa-apa. Tapi tidak harus menangis, kan? Kasihan teman-teman sudah datang. Masa melihat Manda terus-terusan menangis?”

Aku menjawab sambil terisak, “Manda enggak bisa berhenti.”

“Ingat saja kado-kado yang dibawa mereka. Kalau nangis terus, kadonya diambil lagi, lho.”

Ucapan Papa barusan memunculkan senyumku seketika. Bertahun-tahun setelahnya hanya selalu ada Papa yang setia bertepuk tangan bersamaku di hari bahagiaku. Tak pernah ada pengganti Mama.

Aku terbiasa menceritakan apa pun kepadanya. Papa selalu mendengarkan dan selalu punya solusi atas kegelisahanku.

Tapi pernah sekali, ketika usiaku belum genap 12 tahun, aku berbisik takut-takut kepadanya, “Papa, aku sakit. Ada noda darah di pakaian dalamku.”

Papa nampak bingung sebentar. Kemudian terlihat tegang, meninggalkanku sendiri sambil menepuk jidatnya. Aku mendengarnya berbicara di telepon dengan suara panik. Sejam kemudian Tante Heti, adik Mama, sudah tiba di ruang tamu.

Papa berusaha tenang saat berkata kepadaku, “Manda, ceritakan saja soal yang tadi ke Tante Heti. Manda tidak sakit, kok.

Senyum-senyum sendiri mengingat peristiwa yang kini menurutku cukup lucu itu. Sejak saat itu, Papa mengajariku untuk berbelanja pakaian sendiri.

Waktu SMP aku bangga. Papa sudah membiarkanku kemana-mana sendiri. Tapi aku tidak boleh keluar tanpa ditemani malam-malam. Di bangku SMA, Papa membolehkan aku ke luar kota bersama teman-temanku. Tak heran ketika kuliah, Papa membebaskanku untuk memilih perguruan tinggi di kota lain.

Pertama kali terpisah darinya, aku sangat sedih. Bertahun-tahun selalu tinggal bersama Papa. Aku meneleponnya sambil sesenggukan di malam kedua aku tinggal di rumah kos.

Papa tertawa di ujung sana, “Kamu kan sudah sering ke luar kota ninggalin Papa.”

“Itu kan cuma beberapa hari, Pa. Ini beda. Aku bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tidak ketemu Papa. Tidak mungkin aku pulang tiap bulan, kan?”

“Selalu ada pengalaman pertama untuk hal apa pun, Nda. Masa masalah kecil begini kamu mendadak cengeng?”

Ucapan Papa tidak menghapuskan rasa gelisahku begitu saja. Tapi aku membenarkan ucapannya. Hingga akhirnya kami berdua kembali berdiri bersama dan berpose di depan kamera dengan sebuah toga melingkar di kepalaku.

Aku beruntung. Belum genap sebulan menggenggam ijazah, sebuah perusahaan besar menawariku pekerjaan. Pekerjaan impian yang menjanjikan penghasilan yang tidak sedikit dan kesempatan untuk menginjakkan kaki di berbagai tempat. Aku selalu suka bertualang ke tempat-tempat baru.

Karierku menanjak cepat. Aku begitu serius, ambisius dan sangat menikmati pekerjaanku. Tepat di usia ke-28, aku mendapatkan promosi sebagai senior manager dari konsultan tempatku bekerja.

Aku merayakannya dengan makan siang di kafe mewah bersama teman-teman. Sebagian besar sahabat perempuan mengeluh tentang orang tua mereka yang sudah mulai meributkan masalah pasangan. Mereka rata-rata teman kerjaku di kantor yang sama. Jam kantor padat dan jadwal traveling yang rutin tak menyempatkan sebagian besar kami memikirkan secara serius masalah ini.

Aku bersyukur Papa tidak pernah mendesakku soal pasangan. Paling sesekali menggodaku, “Di Facebook, foto kamu yang baru dengan siapa, tuh? Ganteng juga. Kenalin ke Papa, dong.”

Makin lama makin sering kami berjauhan. Jarak terbentang tapi aku tak pernah merasa jauh darinya. Media sosial menjadi tempat komunikasi utamaku dengan Papa. Aku bangga padanya. Di usia yang tidak muda lagi, Papa tidak pernah risih bergaul di media sosial.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah lagi berandai-andai tentang Mama yang kuharapkan diberi usia lebih panjang bersama kami. Dengan Papa di sampingku, aku begitu percaya diri dan merasa sangat cukup.

Lalu, terjadilah percakapan yang tidak biasa di malam itu. Aku baru saja tiba dari bandara setelah penerbangan yang melelahkan dari Negeri Paman Sam, tempat klien baruku. Papa menungguku di ruang tamu. Hari sudah larut, tidak biasanya Papa masih terjaga. Wajahnya pucat. Aku tahu dari emailnya beberapa hari yang lalu tentang kondisinya yang tidak sehat.

“Aku kan bawa kunci, Pa. Papa tidak istirahat?” Aku duduk di sampingnya. Dari dekat, aku melihat wajahnya yang benar-benar kuyu. Aku mulai khawatir.

“Kamu tidak suka Papa tungguin?”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Ada-ada saja, deh. Papa sudah ke dokter?”

Papa diam agak lama. Lalu menatapku dengan pandangan serius, “Jangan khawatirkan Papa. Lihatlah dirimu. Kapan kau memikirkan untuk menikah?”

Aku tidak siap dengan pertanyaan itu. Aku mengalihkan pertanyaannya, “Dokter bilang apa, Pa?”

“Manda, umurmu tak muda lagi. 30 tahun. Papa tidak…”

Aku memotong ucapannya, “Kenapa tiba-tiba meributkan soal ini, Pa?”

“Baiklah. Besok pagi kita bicara.” Papa berdiri, meninggalkanku.

“Aku antar Papa ke rumah sakit besok, ya.”

Tak ada jawaban. Hanya derit pelan pintu kamarnya yang menutup percakapan kami malam itu.

***

Aku menyesali diriku yang begitu larut dalam kesibukan sendiri. Tak menyadari kesehatan Papa mulai menurun. Aku terisak-isak memandangi hasil tes kesehatannya yang diserahkan pihak rumah sakit padaku.

“Papa, aku akan minta cuti. Aku mau merawat Papa di rumah.”

“Waktu Papa mungkin tak lama lagi. Kalau tak ada Papa, siapa yang akan menjagamu?”

“Aku bukan anak kecil, Pa. Giliranku menjagia Papa.” Aku tersenyum dan merapatkan dudukku. Memeluknya erat.

Papa melingkarkan tangannya di bahuku. “Begitu sulitkah permintaan Papa, Nda?”

Tak tahu harus menjawab apa, aku memilih diam. Aku tak berani mengangkat wajahku untuk menyuarakan isi hatiku di saat kondisi Papa seperti ini.

Tapi seminggu kemudian, Papa mengajakku ke rumah Tante Heti. Aku kaget ketika di sana sudah ada seorang laki-laki. Tanpa canggung, Papa mengenalkannya padaku. “Manda, ini Giring.”

Aku menyambut uluran tangan pria berkacamata itu. Wajahnya sama sekali tidak jelek. Badannya tegap, tersenyum penuh percaya diri saat menggenggam tanganku. Tapi tak ada getaran apa pun untuknya.

Papa tidak mempedulikan aku yang masih berdiri kaku kebingungan, “Giring ini seorang dokter. Usianya lebih tua dua tahun darimu, Nda.”

Sekaget dan semarah apa pun aku, aku tetap berusaha sopan dan mengobrol santun dengan Giring. Ini bukan salahnya. Tiba di rumah kembali setelah dua jam yang menyiksa di rumah Tante Heti, aku tak bisa menahan diriku lagi.

“Apa-apaan ini, Pa?”

Papa menjelaskan panjang lebar, “Sudah saatnya, Nda. Papa tidak akan memaksa. Tapi kau cobalah dulu akrab dengannya. Papa kenal anak itu dari kecil. Orangtuanya, baik ibu dan ayahnya, kolega Papa di kampus.”

“Tidak memaksa? Papa bahkan tidak memberiku kesempatan untuk…”

Papa mulai tak sabar, “Kenapa kau ini? Sesulit itukah sekadar mengobrol dengannya?”

Aku kaget. Papa tidak pernah seperti ini. Papa selalu mendengarkan aku dan membuka ruang diskusi. Aku tak berdaya. Kuceritakan saja pada Tante Heti, yang kadang-kadang kuanggap sebagai pengganti Mama.

Ucapannya mengalir bijak, “Papamu Cuma khawatir. Sudah tugas orang tua kan mengantarkan putrinya ke gerbang pernikahan.”

“Mengantar, bukan memaksa,” keluhku.

“Mungkin papamu merasa waktunya tak akan lama lagi. Mengertilah. Dari dulu pusat kehidupannya Cuma kamu. Sekarang pun, ini pasti untuk kebaikanmu juga.”
Ucapan Tante Heti tak juga bisa meruntuhkan kegundahanku.

Biarpun aku mengambil cuti dan selama berhari-hari kami diam bersama dalam rumah, hubunganku dengan Papa makin dingin. Tapi tak ada perdebatan sengit. Hari ke hari aku makin resah, tak terbiasa memendam amarah seperti ini. Rasa kasihanku pada kondisinya membuatku mau saja menjalin hubungan dengan Giring.

Suatu hari Papa berbicara lembut kepadaku, “Manda, keinginan Papa dari dulu cuma ingin kau bahagia.”

” Aku bahagia, Pa. Satu-satunya yang bisa merusaknya adalah kecemasanku akan kondisi Papa.” Mataku berkaca-kaca.

Papa menggeleng pelan, “Bukan itu.”

“Aku bisa menjaga Papa. Tanpa Giring sekali pun.”

“Kau belum mengerti juga.” Lalu, Papa terdiam lama sekali. Ternyata itu pembicaraan terakhir kami sebelum akhirnya beberapa jam kemudian, kondisi Papa menurun drastis. Aku melarikannya ke rumah sakit.

Dalam cemasku, aku memeluknya kuat-kuat dan membisikkan, “Papa, baiklah. Aku akan menikah dengan Giring.”

Itu kejadian tiga bulan lalu. Tuhan mendengarkan doaku. Hanya sehari Papa di rumah sakit, dokter sudah membolehkannya pulang.

Saat kondisinya makin membaik, Papa memutuskan untuk ke luar kota dalam rangka penelitian dan tugas dari kampus. Aku menentang keras. Tapi Papa sungguh keras kepala akhir-akhir ini.

Berminggu-minggu Papa pergi dan hari ini akan pulang. Aku sudah bilang aku akan menjemputnya.

***

Senyumnya melebar. Siapa pun bisa menebak betapa bahagianya wajah itu. Ya Tuhan, bagaimana harus kurangkai kata di hadapannya.

Bagaimana harus kuceritakan bila tak akan ada resepsi yang ditunggu-tunggunya. Tak akan ada penghulu yang menghampiri rumah kami di hari yang telah ditetapkan itu.

Seperti apa harus kuungkapkan ketika minggu lalu aku muncul di pintu rumah Giring. Dengan segenap kekuatan yang aku punya, kujelaskan pada orang tuanya mengenai niatku untuk membatalkan pernikahan kami. Nada suaraku mungkin layu tapi aku sungguh tak ragu.

Langkah lelaki tua itu makin cepat ke arahku. Papa, aku tak ada niat menyakiti. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa Papa mendidikku untuk berani. Tegas mengambil keputusan yang kurasa terbaik untukku. Tapi tepatkah untuk Papa?

“Cantik sekali calon pengantin Papa.” Dia memelukku erat-erat. Suaranya serak, walaupun tak terlihat, aku bisa merasakan matanya yang basah.

“Apa kabar Papa?” Kata-kataku bergetar, hatiku gentar.

Oh Tuhan, dari mana aku harus memulainya.

***

Kami tiba di rumah. Papa bersenandung kecil dari dalam kamarnya. Aku mengintip dari balik pintu kamarnya yang setengah terbuka. Papa sedang membongkar kopernya. Entah apa yang dicarinya. Aku memutuskan untuk menunggu di meja makan saja.

“Nah, ini dia kejutan buat calon pengantin Papa.” Tak lama, Papa menghampiriku yang sedang duduk tegang menantinya.

Aku menjawab lemah, “Makan dulu yuk, Pa.”

Papa duduk di sebelahku dengan antusias, “Lihat ini, Nda.”

Aku terkejut melihat sebuah kotak perhiasan diletakkan di hadapanku. Papa membukanya dengan tidak sabar. “Lihat ini. Papa sempat mencarikanmu sebuah cincin. Ini mirip sekali dengan punya Mama. Tadinya Papa tidak berharap…”

“Sudahlah Papa…” Airmataku meluncur tak tertahan.

Papa tersenyum, “Tidak apa-apa, Nda. Papa memang sudah meniatkan…”

“Aku sudah membatalkan semuanya.” Entah keberanian itu datang dari mana, kata-kata itu meluncur begitu saja.

Cincin yang dipegang Papa terlepas dan jatuh ke lantai. Papa menatapku tak percaya. Suaranya terbata-bata, “A…apa maksudnya, Nda?”

Tak ada gunanya kusembunyikan lagi. Lebih baik kuceritakan semuanya. “Minggu lalu, aku ke rumah Giring. Bertemu dengan kedua orang tuanya.”

Aku menunggu reaksinya. Papa malah bangkit dari duduknya. Cincin di tangannya terjatuh begitu saja. Papa berjalan gontai ke arah kamarnya. Aku membiarkannya pergi dan tetap duduk di tempatku. Setelah bayangannya menghilang, aku memungut cincin tadi. Menempelkannya di pipiku, membiarkannya ikut basah.

***

Berhari-hari Papa mendiamkanku. Ini sungguh menyiksa. Perasaan bersalah mulai menyusup. Apa yang telah kulakukan? Benar kata Tante Heti, lebih dari 20 tahun, aku selalu menjadi pusat kehidupannya. Keistimewaannya bahkan tidak membuatku meratap merindukan sosok Mama.

Aku pasti tak mungkin bisa menyamai rasa cintanya padaku. Tapi aku sungguh tak mampu membohongi diriku bahwa permintaannya terlalu besar. Aku bukannya tak ingin menikah. Aku hanya ingin melakukannya saat aku siap. Bukan karena alibi sosial apa pun.

Tak kusangka, setelah hampir seminggu Papa bersikap seakan-akan aku tidak ada, sore ini Papa menghampiriku. Duduk di sofa yang sama, tepat di sampingku.

“Ini semua salah Papa,” ujarnya perlahan dengan tatapan lembut.

“Maafkan aku, Papa. Maksudku bukan…”

Papa langsung memotong, “Papa membiarkanmu terlalu lama sendiri. Papa teledor. Lupa kalau waktu terus berjalan, tidak selamanya Papa akan bisa…”

Kali ini aku yang memotong ucapannya, “Papa beda dengan yang lain. Aku bangga.”

Papa tersenyum tak bersuara. Lalu, menoleh dan berkata, “Papa yang bangga padamu. Kau berani sekali, Nda.”

Aku tidak tahan. Aku langsung memelukknya kuat-kuat. “Kalau yang Papa tunggu adalah melihatku bahagia. Tidak perlu menunggu lagi. Aku bahagia, Pa. Dari dulu, aku selalu bahagia.”

Papa menepuk pundakku dengan lembut.

“Oh ya, soal Giring…” Aku melepaskan tanganku dari bahunya. Menatapnya takut-takut.

“Sudahlah. Ini tentangmu, bukan tentang Giring.” Lagi-lagi dijawab dengan tersenyum.

Aku lega dan tiba-tiba teringat sesuatu, “Sebentar, Pa.”

Aku setengah berlari menuju ke kamarku. Mengambil sesuatu dari kantong tas dan kembali duduk di samping Papa.

“Ini.” Aku menunjukkan cincin yang tempo hari ditunjukkannya padaku.

Papa ingin meraihnya tapi kutarik lagi. “Aku ingin memilikinya. Apa boleh, Pa?”

“Papa berharap bisa melihatmu memakainya di hari bahagiamu nanti.”

Aku memakai cincin itu di jari manis tangan kananku. “Aku sudah bilang, Pa. papa tidak perlu menunggu untuk melihatku bahagia.”

Kali ini Papa yang meraih aku ke dalam pelukannya.

Aku berbisik padanya, “Aku tidak bohong. Aku benar-benar bahagia.”

Aku memang tidak bohong. Aku pikir ketika aku menyaksikan pemakaman Mama, kebahagiaan tidak akan pernha menjadi milikku lagi. Tapi sejak Papa meyakinkan aku untuk memasang senyum terbaikku sebelum meniup lilin ulang tahunku yang pertama tanpa Mama, aku tahu aku akan tetap bahagia. Bahkan Papa melakukan hal yang lebih jauh. Sejak kecil mengajariku bahwa kebahagiaanku tidak pernah tergantung pada keberadaan orang lain.

Bagaimana mungkin aku tidak menyayanginya sebesar yang aku mampu?

***

Baca juga : [Cerpen Femina] Namanya Aryana

Baca lagi : [Cerpen Femina] Tiga Rahasia

Note :

8 Mei kemarin tepat 21 tahun meninggalnya almarhum bapak saya. Kebetulan sekali, ya, cerpennya dimuat di edisi awal mei di Majalah Kartini kemarin hehehe.
As old as she was, she still missed her daddy sometimes . I always did anyway. Drama, drama, drama ahahahahahahha .

Biografi Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca

Biografi Bung Hatta

***

Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun.

***

Bung Hatta cukup kontras bila dibandingkan dengan Bung Karno. Sukarno terkenal sebagai orator ulung, penampilannya yang dandy, kisah cinta dengan berbagai wanita, keberaniannya yang menghentak dan perjalanan hidupnya yang bagaikan perputaran matahari. Terbit, tenggelam namun tak berhenti bersinar. Tulisan ini adalah sedikit biografi Bung Hatta.

Gaya bicara Bung Hatta membosankan. Selaras dengan raut wajahnya yang dingin dan kaku. Soal kemewahan, beliau bukan jagoannya. Dengan tampuk pimpinan yang pernah dipegangnya, memiliki sepatu merek ‘Bally’ adalah hal paling mewah yang hanya mampu dimimpikan … hingga akhir hayatnya. Hanya sepasang sepatu dengan merek tergolong mewah saat itu. Apa di zaman Bung Hatta tidak ada pejabat-pejabat bermobil dan hidup mewah? .

Tapi jangan salah. Bung Hatta tidak lahir dari keluarga sederhana. Dalam darahnya mengalir dua perpaduan keluarga terkemuka : pemuka agama dan saudagar. Beliau adalah keturunan dari garis terpandang di kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Di tahun 1947, 2 tahun setelah menjadi orang nomor 2 di Indonesia, beliau membuat seorang sais bendi murka di kampung halamannya. Bung Hatta sibuk menawar namun harga tak kunjung cocok. Sais bendi menghardik gusar, “Kalau tak punya uang, jangan naik bendi. Jalan kaki saja.” Beliau hanya tersenyum dan berlalu.

Hatta telah mempersembahkan sebuah tulisan luar biasa di usia 18, belum lagi menginjak bangku perguruan tinggi. Tulisan personifikasi yang menggambarkan ibu pertiwi dalam diri seorang wanita yang bernama Hindania. Sebuah tulisan yang menggambarkan betapa luasnya bacaan Hatta muda dan tingginya minat beliau pada bidang sastra.

***

Tak kurang sejarah yang menggambarkan dinamika kehidupan seorang Bung Hatta bersama Bung Karno. Setelah dipersatukan oleh cita-cita membawa bangsa Indonesia membuka pintu gerbang kemerdekaan, dwitunggal ini akhirnya tanggal di penghujung tahun 50 an. Ketika akhirnya Hatta dengan arif mengundurkan diri dari pemerintahan dan merelakan biduk negara yang pernah diperjuangkannya selama hampir separuh hidupnya menjadi milik Sukarno seorang.

Nurcholis pernah menggambarkan Hatta sebagai seorang dengan pemikiran yang sangat modern tapi tetap pekat dalam kesalehan agamanya. Terlahir dari keluarga Minang yang kental dengan ajaran Islam, Hatta menjadi sosok yang religius namun memiliki pemikiran tajam, wawasan luas dan tak terbatas waktu.

Masa kecilnya tak hanya diisi dengan belajar, mengaji dan menulis. Hatta adalah penggila bola. Tak hanya bersorak dari pinggir lapangan, Hatta tergabung dalam sebuah klub sepakbola yang diisi oleh pemuda-pemuda belanda dan kaum pribumi. Klub yang menjadi juara Sumatra selama tiga tahun berturut-turut selama dengan Hatta pada posisi gelandang tengah. Teman belandanya menjulukinya, “Onpas seerbaar” (sukar diterobos begitu saja).

Minatnya pada dunia pergerakan membawanya bergabung bersama Jong Sumatranen Bond semasa bersekolah di MULO. Tahun 1921, Hatta tiba di Negeri Kincir Angin untuk melanjutkan kuliah. Semasa di Belanda, Hatta aktif di sebuah perkumpulan yang beberapa kali berganti nama hingga akhirnya memilih nama, “Perhimpunan Indonesia.” Tahun 1926, Hatta memperkenalkan nama “Indonesia” kepada dunia internasional saat memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis.

Tahun 1932, setelah menamatkan pendidikannya di luar negeri, Hatta pulang ke tanah air. Selanjutnya, bersama Sukarno, Sjahrir dan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, mereka bahu membahu mengobarkan perlawanan kepada kaum penjajah. Menafikan semua perbedaan, para kalangan agamis-sosialis (bahkan yang sosialis garis keras sekali pun), bersatu memperjuangkan pencapaian kata “kemerdekaan” bagi segenap bangsa Indonesia.

Awal tahun 1935, Hatta dan kawan-kawannya dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Hatta menolak mentah-mentah tawaran seorang kapten Belanda yang menawarkan agar para tahanan politik ini bekerja pada pemerintah Belanda dengan upah 40 sen sehari dan memiliki kemungkinan untuk dikirim pulang ke ibukota. Hatta menegaskan, “Bila mau bekerja untuk kolonial sewaktu masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji tidak main-main. Tak perlu jauh-jauh ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan upah 40 sen.”

Di pengasingan nun jauh di salah satu wilayah paling timur Nusantara, Hatta membawa serta 16 peti buku-buku koleksinya. Di sana, Hatta terus mengobarkan perlawanannya dengan menulis. Akhir tahun yang sama, Hatta dan kawan-kawan dipindahkan ke Bandaneira.

Di masa pendudukan Jepang, Hatta kembali ke tanah Jawa. Masa-masa ini tak banyak pernyataan yang dikeluarkannya. Namun, di tahun 1942, pidatonya di Lapangan Ikada menggemparkan banyak pihak, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

17 Agustus 1945, bersama Bung Karno, Hatta muncul sebagai pemimpin bangsa yang merdeka secara resmi untuk pertama kalinya. Membawa mereka berdua sebagai “Bapak Proklamator Indonesia.”

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah. Termasuk untuk di bidang ekonomi dan koperasi. Tak hanya menuangkan pikiran dalam rangkaian kata-kata, Hatta aktif membimbing dan melaksanakan cita-cita dalam pembangunan koperasi dan konsepsi ekonominya. Karena jasanya ini, beliau layak mendapatkan predikat sebagai “Bapak Koperasi Indonesia.”

Jauh sebelum mengundurkan diri secara resmi, Hatta sudah melayangkan surat terlebih dahulu kepada Sukarno. Akhirnya, di 1 Desember 1956, Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Walaupun tengah didera berbagai perselisihan, Sukarno tak serentak mengizinkannya untuk ‘pergi’. Tapi Hatta tetap berkeras. Setelah Hatta benar-benar menyerahkan jabatannya sebagai orang nomor dua di RI, banyak pihak tetap memperjuangkan bersatunya kembali dwitunggal ini. Tak ada yang berhasil.

Tahun 1960, tulisan Hatta yang kontroversial, “Demokrasi Kita”, muncul dalam Majalah “Pandji Masyarakat”, asuhan Buya Hamka. Pemerintah murka. Buya Hamka dipenjara dan tulisan itu terlarang untuk disebarkan.

Namun, perseteruannya dengan Bung Karno tak pernah melebar kepada hal-hal pribadi. Mereka berdua hingga di akhir hayat masing-masing tetap merupakan dua sahabat yang sangat lekat.

Saat masa-masa suram mewarnai akhir hidup seorang Sukarno, Hatta tidak tinggal diam. Hatta yang mengetahui proses perawatan Sukarno yang dianggap kurang terhormat, menuliskan surat kecaman kepada Soeharto. Hatta pun ngotot ingin bertemu sahabatnya.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah setengah sekarat. Hatta menyapa “Bagaimana kabarmu, No?” Matanya sudah basah.

Bung Karno menjawab, susah payah tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” “Bagaimana pula kabarmu?”

Berdua, dalam kamar yang kondisinya sangat tidak layak, kedua proklamator bangsa ini menangis bersama. Sejarah menjadi saksi betapa tidak bahagianya dua orang yang pernah segenap jiwa memperjuangkan kemerdekaan bangsa mereka. Hatta pulang, tak lama Bung Karno pun meninggal. Seolah menunggu agar bisa bersua dengan sahabat lamanya. Sungguh hubungan yang menyesakkan dada.

***

Tak memiliki kemampuan verbal dalam berbicara sepiawai rekannya, Sukarno, Hatta mencurahkan pengetahuannya dalam bentuk tulisan. Meninggal di tahun 1980, Hatta mewariskan harta termahalnya, “30 ribu judul buku.” Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikannya mutiara tak terjamah dalam deretan pemimpin dahulu dan sekarang. Lebih langka lagi sebagai negarawan yang juga sangat aktif dalam menulis.

Seorang penyair dari Padang, pernah berkata kepada anak-anak yang datang kepadanya untuk belajar menulis puisi, “Tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta. Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan pernah tamat dibaca.”

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan pengampunan bagi beliau. Amin :). Sedikit biografi Bung Hatta ini semoga bisa membantu memahami jalan perjuangannya yang mungkin tidak sementerang rekannya, Bung Karno :).

***

Disarikan dari berbagai sumber :

“Hatta, Jejak Melampaui Zaman” (serial Bapak Bangsa Majalah Tempo)
eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=22
www.ghabo.com/gpedia/index.php/Mohammad_Hatta