If The Music Sings a Thousand Memories

Gambar : purwoudiutomo.com
Gambar : purwoudiutomo.com

Kalau anda lahir di tahun 80-an atau sebelumnya, pasti respons anda akan sama seperti saya ketika melihat gambar di samping. Cekikikan mengingat betapa jadulnya dunia musik di masa kecil dan abege kita :D.

Btw, apa ya musik yang saya anggap asyik?

Jujur saja, soal musik, selera saya tidak stabil. Saya bahkan tidak percaya bahwa kaset pertama yang saya beli dulu, ketika usia saya masih 10 tahun, adalah album “Isabella.” Album yang melambungkan grup musik asal Negeri Jiran di tanah air, Search. My oh my :P. Seminggu penuh saya merengek pada ibu. Tiap ibu pulang dari kios, saya merengek, “Ada mi kasetnya?” (Sudah ada kasetnya?)

***

Mengingat-ingat apa kira-kira musik asyik dari dulu hingga kini membuat saya sadar lagi, betapa banyaknya saya bersaudara kandung. Hahahaha. Maklumlah sudah belasan tahun  saya tak pernah berkumpul bersama mereka lagi.

Semua kakak saya laki-laki. Semuanya penggemar musik dan tidak segan-segan membelanjakan uang saku untuk mengoleksi kaset dari musisi favorit mereka. Adik saya yang perempuan juga sama. Kalau si bungsu yang usianya jauh terpaut dengan kami semua, sudah berada di era MP3 ketika memasuki masa remajanya.

"White Lion" (Gambar : www.duck.fm)
“White Lion” (Gambar : www.duck.fm)

Kakak yang pertama usianya terpaut 12 tahun dari saya. Karena radionya cuma 1, kakak yang pertama ini yang ‘berkuasa’ atas satu-satunya radio yang ada di rumah. Sejak usia 6 tahun, saya sudah berkenalan dengan lagu rock. Sampai eneg rasanya mendengar lagu “Preman” (dipopulerkan oleh Ikang Fawzi) yang diputar berulang-ulang dari pagi sampai malam.

Di usia sekecil itu saya juga sudah tahu tentang grup-grup beraliran rock asal Negeri Paman Sam. Misalnya saja White Lion dengan salah satu lagu andalannya, “When The Children Cry.”

Saat kakak pertama hengkang ke Surabaya melanjutkan kuliah ke sana, tirani senioritas mulai ditinggalkan dalam urusan memutar kaset :P. Semuanya boleh menikmati radio secara bergantian.

Kakak ke-2 memperkenalkan saya pada kompetisi menyanyi nasional, Festival Lagu Favorit Indonesia. Di ajang ini, tepatnya yang tahun 1987, jadi tahu, deh, sama yang namanya grup vokal Elfa’s Singers.

Kakak saya ini juga yang rajin membeli dan memutar koleksi lagu-dari dari mendiang Chrisye, grup musik legendaris Queen hingga peniup saxaphone, Kenny G. Tidak ketinggalan kaset-kaset dari KLa Project. Saya suka semuanya!

Saya juga ingat betul, dia suka membawa pulang kaset-kaset yang isinya kompilasi dari lagu-lagu barat yang tengah populer. Cuma ingat 2, Mega Hits dan Hit Bank.

Ini ide luar biasa kalau dipikir-pikir. Sekali merengkuh dayung, 11-12 lagu hits langsung bisa didengarkan sekaligus. Hehehehe.

Dibanding yang lain, selera musik kakak ini yang jangkauannya paling luas. Saya jelas terpengaruh. Karena masih kecil jadinya ya ngikut saja.

Termasuk ketika dia tergila-gila pada Dewa 19 dan Boyz II Men, grup musik yang menurut saya adalah pelantun lagu-lagu cinta terbaik sepanjang masa :).

Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 :D (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)
Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 😀 (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)

Kakak saya yang nomor 3 yang paling beda sendiri. Musisi favoritnya the one and only … Iwan Fals! Coba perhatikan lirik-lirik lagu beliau. Komplit. Mulai dari yang jenaka, misalnya di lagu “Pesawat Tempurku”, atau yang ‘idealis’ di lagu “Bongkar” hingga yang romantis di lagu “Yang Terlupakan.”

Ketiga lagu tersebut adalah lagu-lagu kesayangan saya yang pernah dipopulerkan oleh legenda musik Indonesia ini.

Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org
Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org

Ketika salah satu finalis X-Factor Indonesia, Isa Raja, membawakan lagu “Yang Terlupakan” (lagu terbaik dari Iwan Fals versi saya) di ajang tersebut, saya seperti terhipnotis. Tidak menyangka, belasan tahun berlalu, ada yang bisa menyanyikan lagu indah ini sepiawai penyanyi aslinya :).

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=WI-K6I4Wr3c]

Kakak yang nomor 4, selera musiknya memang sedikit nyeleneh dibandingkan pria pada umumnya. Koleksinya didominasi oleh para diva Indonesia seperti : Krisdayanti, Titi DJ, Ruth Shahanaya, Vina Panduwinata juga Rossa. Di lemarinya juga berjajar kaset-kaset penyanyi pria sekelas Utha Likumahua, Harvey Malaiholo dan Yana Julio.

Saya malah ikut-ikutan suka, tuh. Kalau memutar lagu-lagu dari AB Three dan Kahitna, saya selalu ikut bersenandung bersamanya :D.

Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)
Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)

Adik perempuan membawa aliran musik baru. Model hip hop dan RnB favoritnya. Dari dia, saya jadi tahu grup musik TLC dan Destiny’s Child dan ikut-ikutan ngefans seperti biasa :P. Dia juga yang membawa kaset Iwa K pertama kali ke rumah biarpun belakangan didengarkan beramai-ramai.

Waktu dia menawarkan saya untuk saweran membeli  kaset grup musik favoritnya, Oasis, saya iya-iya saja. Tidak rugi. Lagunya memang enak-enak, meskipun sekarang saya ingatnya cuma “Wonderwall” saja, hehehe.

Saya memang satu-satunya yang paling malas membeli kaset. Kalau mereka punya selera musik berbeda-beda, sayalah yang labil sendiri. Karena buat saya, semuanya seru.

Adik bungsu si no.7 keluaran era milenium. Bisa sakit kepala emak-emak seperti saya menikmati koleksi MP3 nya. Dari band tenar ST12 sampai band-band baru yang sudah tidak sanggup saya ikuti perkembangannya.

***

Belakangan, ketika sudah tinggal terpisah-pisah, selera musik saya seolah berhenti di tahun 90 an hingga awal-awal tahun 2000 an. Setiap mendengar lagu-lagu dari tahun-tahun tersebut yang kini mudah didapatkan dari berbagai situs online, yang terbayang bukan penyanyi atau liriknya. Liriknya sih sebagian besar masih ada dalam kepala, lho.Tapi yang teringat adalah masa-masa kecil dan remaja bersama saudara-saudara yang belasan tahun dihabiskan di kota Makassar.

Berebutan memegang kertas sampul kaset yang biasanya berisi lirik-lirik lagu sang penyanyi. Berpandangan dengan wajah pucat kalau kami memutar kaset-kaset si empunya yang sedang tidak ada di rumah dan tiba-tiba kasetnya mengeluarkan suara aneh-aneh.

Begitu dikeluarkan, pita kaset sudah terburai. Buru-buru mencari pensil dan saling menyalahkan. Ahahahahha.

Jadi, buat saya musik yang asyik itu tidak tergantung genre, penyanyi atau waktu. Tapi tergantung seberapa sanggup musiknya menguraikan kenangan-kenangan indah bersama orang-orang terkasih :).

If they said, a picture paints a thousand words, then we can also conclude that… a music can sing a thousand memories :). Here, there and everywhere :).

***

Bila Cinta Sudah Dibuang

Oleh : Jihan Davincka

***

Jumlah remitansi TKI yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan BNP2TKI per Juli 2012 merinci untuk kawasan Saudi Arabia remitansi yang dikirim TKI sebesar US$ 1,1 miliar dan Malaysia US$ 1,3 miliar. Selebihnya disumbang oleh TKI di Amerika, Australia dan negara-negara lain di Kawasan Asia Pasifik.

“Hingga akhir tahun 2012 saya yakin bisa menembus US$ 6,8 miliar,” tutupnya.

Dengan demikian secara keseluruhan perolehan devisa dari remitansi TKI pada pada 2012 sampai dengan Juli mencapai Rp 37 triliun (1 US$ = Rp 9.500).

Sumber : https://finance.detik.com/read/2012/09/26/164718/2038367/4/ini-dia-mengapa-tki-disebut-pahlawan-devisa-negara

Remitansi adalah dana yang dibawa masuk oleh pekerja migrant ke negaranya asalnya. Remitansi merupakan salah satu sumber daya ekonomi yang paling besar bagi negara, terutama negara berkembang atau negara dunia ketiga. Bahkan menurut World Bank, remitansi merupakan penghasilan terbesar kedua negara-negara berkembang. Karena itu, tingkat kemiskinan di sebuah negara dapat menurun.

Sumber : https://library.thinkquest.org/07aug/00782/id/remittance.html

***

Anda bisa merinci uang satu milyar dolar ke dalam rupiah?

Rata-rata penghasilan TKI informal di Saudi sekitar 1000 – 1200 riyal per orang, sekitar 2.5 – 3 juta rupiah. Biaya hidup di Saudi tergolong murah. Catat, harga beras kualitas premium di Jeddah lebih murah daripada di Indonesia. Daging sapi dipatok seharga rata-rata 25 SR/kg (sekitar 63 ribu rupiah / kg). Didukung oleh harga bensin (ron 91) sekitar seribu rupiah per liter. Anggap saja, per orang sanggup mengirimkan uang ke tanah air senilai rata-rata 1.5 – 2 juta rupiah. Kenyataannya bisa jauh lebih besar daripada itu. Tapi saya ambil batas bawah dulu karena data resmi tidak ada. Oh ya, pemerintah Saudi sama sekali tidak menarik pajak apa pun baik untuk para pendatang dari level mana pun.

Jangan lupa pula bahwa kepergian mereka ke luar negeri akan mengurangi kepadatan penduduk tanah air. Mengurangi  konsumsi air, listrik, BBM dll. Dua hal telah mereka sumbangkan sekaligus : devisa dan mengurangi kepadatan penduduk yang merupakan salah satu pucuk masalah terbesar di Indonesia.

Ironis, pemerintah sematkan label “Pahlawan Devisa” di bahu mereka. Sekaligus pemerintah abaikan hak-hak mereka dalam menjalani hidup sebagai ‘Pahlawan’.

Heboh Amnesti TKI Ilegal di Saudi

Tanggal 11 Mei lalu, pemerintah Saudi resmi memberlakukan proses amnesti bagi seluruh tenaga kerja ilegal dari berbagai negara yang masih bermukim di Saudi. Pilihannya ada 2 :
“The Saudi government announced that the workers lacking legal documents will be offered amnesty so that they can either update their legal status or move back to their home countries.”
https://www.globaltimes.cn/content/789070.shtml#.UcFhXZzjWZQ

Caranya bagaimana?

“Under the amnesty, people who are now staying illegally in Saudi Arabia would be acknowledged as legal workers if they changed to legal employment, said the department, under the Ministry of Labour, Invalids and Social Affairs.”

The workers simply needed to go to the country’s labour office and Immigration Department and go through procedures to switch to legal employers. They would not be charged fees for the services or need the permission of their previous employers.
https://english.vietnamnet.vn/fms/society/75792/illegal-vietnamese-workers-to-get-saudi-amnesty.html

Para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ilegal menyambut tawaran ini dengan gegap gempita. Sayang sekali, mereka gegap gempita tapi pihak KJRI Jeddah (selaku perpanjangan tangan pemerintah pusat di Jeddah) malah tergagap-gagap. Baru 10 hari setelah amnesti berjalan, KJRI Jeddah membuka diri untuk membantu proses kelengkapan dokumen untuk para TKI ilegal ini.

Awalnya, sudah dimulai kebingungan. Harus ke mana dulu? Jawazat (pihak imigrasi Saudi) atau ke KJRI Jeddah? Akhirnya diputuskan semua TKI ilegal harus mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) ke KJRI. Setelah itu barulah mengurus lebih lanjut ke jawazat untuk mendapatkan visa + iqamah (semacam KTP bagi para pemukim Saudi).

Sejak pembuatan SPLP mulai bergulir, beberapa pihak sudah mulai meragukannya. Soalnya SPLP hanya berfungsi optimal bagi mereka yang memilih untuk meletakkan takdir di Saudi dan pulang ke tanah air. Tapi KJRI Jeddah tidak bergeming.

Saudi tengah berada di puncak musim panas. Ah, jangankan terik matahari, hidup bertahun-tahun dalam lingkungan gurun yang keras sanggup mereka jalani, kok. Masalahnya setelah mereka menaklukkan sengitnya matahari, tiba di Jawazat, penolakan demi penolakan terus berlangsung. Semuanya bermuara di hal yang sama, Jawazat menuntut paspor asli seperti yang mereka berlakukan kepada negara-negara lainnya. Sebagai informasi, siapa tahu ada yang ingin menyalahkan pemerintah Saudi, negara-negara pendatang seperti Filipina/India/Pakistan BERSEDIA mengeluarkan paspor untuk para tenaga kerja ilegalnya.

Hal penting lainnya adalah cara KJRI Jeddah berkomunikasi dengan para TKI ilegal. Tidak pernah ada wadah resmi. Hanya melalui selebaran yang ditempel. Website resmi KJRI Jeddah tidak difungsikan optimal. Malah banyak informasi berseliweran via media sosial FB saja. Makanya, kesimpangsiuran tak bisa dihindari.

Saat kegelisahan mulai memuncak, TKI ilegal mulai panik. Siapa yang tidak panik? Satu per satu rekan dari negara lain telah sukses menggenggam iqama, sementara para TKI ilegal harus pasrah dengan sepucuk SPLP yang oleh Jawazat dianggap “Mafi Faedah” (tidak ada gunanya).

Sebuah pembakaran nekat dilakukan oleh oknum. Tindakan anarkis yang disesali banyak pihak malah menjelma menjadi “Blessing in disguise”. Pemerintah pusat mulai melek. Media di tanah air mulai ribut. Padahal para TKI ilegal yang jumlah diperkirakan sekitar 150 ribu orang ini sudah berjuang habis-habisan selama nyaris 2 bulan dalam ‘kesunyian’, tanpa dukungan publik di tanah air.

Hingga detik ini, pemerintah tetap berkeras hanya akan mengeluarkan SPLP dan berjanji akan melobi pemerintah Saudi. Sebuah lobi yang belum membuahkan hasil sementara KJRI Jeddah tak pernah sanggup memberikan jaminan apa pun kepada 150 ribu orang ini.

Akankah setelah masa amnesti berakhir di tanggal 3 Juli nanti, para TKI ilegal yang terkatung-katung nasibnya akan terkena razia oleh pemerintah Saudi? Akankah ada jaminan perlindungan dari KJRI Jeddah? Jawaban yang keluar dari sebuah akun FB bernama “Gatot Mansyur” (nama Bapak Dubes RI di Saudi) hanya menyuruh mereka bersabar. Beliau tak berani menjanjikan jaminan apa pun. Penjara dan denda ribuan riyal menanti mereka.

Saya tidak tahu apakah akun ini dikelola sendiri  langsung oleh beliau atau hanya menumpang nama tapi dijalankan oleh orang lain / admin.

Simsalabim, Paspor bisa Terbit!

Setelah 2 bulan lebih menampik kesanggupannya untuk menerbitkan paspor, beberapa hari terakhir, KJRI Jeddah memberi lampu hijau bahwa paspor akhirnya boleh diurus. Tidak melalui KJRI Jeddah langsung, tapi melalui ‘pihak ke-3’ yang bernama Perwalu/Apjati. Siapa mereka? Mitra yang ditunjuk oleh Maktab Istiqdam (MI). Menurut Pak Gatot Mansyur, MI adalah badan hukum rekrutmen Saudi yang telah mendapat izin dari pemerintah Saudi dan ini sudah berlangsungn puluhan tahun. Beliau menolak menjelaskan lebih lanjut apakah MI ini dikelola oleh orang Arab atau orang Indonesia?

Jeddah Pak Gatot lagi soal maktabPerwalu/ Apjati sendiri adalah sekumpulan PJTKI yang siap menyalurkan para tenaga kerja ilegal ini. Lucunya, kalau dirunut ke belakang, PJTKI lah yang seharusnya bertanggung jawab atas status ilegal para TKI ini. Mereka dahulu banyak melakukan penipuan, ibaratnya ‘menjual’ sesama warga ke Saudi demi riyal dan lari dari tanggung jawab ketika para TKI dirundung masalah. Kemungkinan PJTKInya berbeda-beda. Namun, ini adalah jalur yang sama. Lagi-lagi tersirat pemerintah ‘berencana’ menjerumuskan TKI ilegal ke dalam lubang yang sama.

Masalahnya di mana? Anda tahu biaya yang harus dikeluarkan para TKI ilegal saat mengurus paspor via Perwalu/Apjati ini? Menurut sumber yang mengaku sudah berhasil mengurus paspor, biaya pembuatan paspor via Perwalu adalah 3900 riyal. Mereka pun harus membayar uang jasa sebesar 1700 riyal. Angka yang sangat besar. Mengingat biaya resmi pembuatan paspor via KJRI/KBRI rata-rata di bawah 100 SR. Fantastis bukan? Totalnya sekitar 5600 riyal. Kalau mereka sukses menekan para TKI ilegal tersebut, coba kita kalikan secara kasar, 5600 x (kira kira) 50.000 orang = 280.000.000 riyal. Bila 1 riyal = 2500 rupiah, silakan kalian konversi sendiri.

Klaim biaya bisa ditujukan kepada para majikan. Tapi dampaknya, majikan dapat berubah pikiran untuk menurunkan gaji mereka. Lagi-lagi, para TKI yang akan terinjak-injak.

Dari mana informasi tentang pengurusan paspor via ke-3 ini bermula? Kami telusuri, pihak dari KJRI Jeddah sendiri yang mengupload selebaran mengenai proses penerbitan paspor via Perwalu/Apjati. Diupload oleh admin sebuah grup yang bernama “KJRI JEDDAH.” Grup ini merupakan grup ‘resmi’ KJRI Jeddah sejak dahulu. Tapi saya tak berani menyebut nama oknum tersebut. Karena kami tak bisa membuktikan apakah beliau bertindak atas nama pribadi atau atas nama institusi KJRI Jeddah.

Ada pihak yang mengakui  bahwa selebaran hardcopy memang dibagi-bagikan di lingkup KJRI Jeddah. Tidak oleh satu orang tapi oleh banyak orang. Selebaran yang dimaksud adalah langkah-langkah mengurus paspor via Perwalu/Apjati.

Yang jelas, Pak Gatot menyiratkan bahwa benar proses pengurusan paspor melalui pihak ke-3 ini memang ada. Tapi beliau menampik soal biaya. Biaya adalah 100% kewenangan Perwalu/Apjati.

Pak Gatot pun mengatakan KJRI tidak ikut campur dalam urusan ini. Sebuah ‘permainan kotor’ tengah berlangsung. KJRI Jeddah secara tersirat mengatakan ketidakberdayaan mereka dalam kasus ini. Saya tidak mengerti mengapa Pak Gatot tidak bersedia menjawab secara lugas pertanyaan besar kami semua, “MENGAPA KRJI/KBRI harus menyerahkan masalah paspor pada pihak ke-3? Mengapa tidak boleh menerbitkan langsung tanpa perantara dengan biaya yang jauh lebih minim?”

Kalau saya perhatikan, ‘kunci’ jawaban Pak Gatot ada di  kalimat ini, ” … INI SUDAH BERLANGSUNG PULUHAN TAHUN.” Kok bisa pihak swasta seperti Perwalu/Apjati punya KUASA LEBIH BESAR daripada pemerintah sendiri? (Pemerintah = KJRI Jeddah).

Jadi, merunut pada pengakuan akun FB nya Pak Gatot, selama puluhan tahun ini ada sebuah badan bernama Maktab Istiqdam yang bebas memilih mitra swastanya (mengapa tidak berafiliasi langsung dengan KJRI, ya?) untuk mengurus para tenaga kerja informal asal Indonesia. Pertanyaannya, apakah pemerintah pusat tahu tentang hal ini? Siapa yang menyetujui perjanjian kerja sama ini? Siapa yang tega menggadaikan warga yang sebagian besar datang dari kalangan tidak mampu dan berpendidikan rendah, yang telah payah-payah berjuang demi nasib lebih baik – merantau hingga ke gurun, pada mereka?

Jangan buru-buru menuduh pemerintah Saudi terlibat secara resmi. Percayalah, uang triyunan rupiah hanya remah-remah bagi negara kaya yang cadangan minyaknya berlimpah dan memiliki pemasukan tetap tahunan dari jemaah haji dan umrah. Kalaupun pihak kerajaan terlibat, saya yakin itu oknum. Ke mana pemerintah Indonesia sendiri?

Anehnya, tak berapa lama, Pak Gatot kembali merespons  bahwa boleh saja para TKI ilegal mengurus langsung paspor melalui KJRI/KBRI asalkan proses di jawazat telah selesai dan iqamah sudah di tangah. Lagi-lagi pernyataan ‘sembrono’ yang berbelit-belit dan mengabaikan fakta yang ada bahwa, “JAWAZAT MENOLAK PENGURUSAN APA PUN JIKA DILAKUKAN BERMODALKAN SPLP. JAWAZAT MINTA PASPOR ASLI!”

Sembari melakukan tanya jawab dengan akun “Gatot Mansyur” ini mesti berkali-kali istighfar. Jawabannya sungguh menguji kesabaran. Saya salut pada teman-teman pencari fakta yang rela meladeni beliau hingga berjam-jam. Saya sih, melihat jawaban ‘cuci tangan’nya yang terus diulang-ulang dengan kalimat panjang-panjang sudah banting keyboard putus asa :(.

Jujur saja, kalau ada yang menuduh saya ‘reaktif’, saya tidak terima. Sejak dua bulan lalu, saya sudah memendam rasa muak atas kasus ini. Terus menyimpan hasrat  berbaik sangka bahwa pemerintah pun tengah berjuang. Kami abaikan fakta keterlambatan mereka, kami berusaha saja terus membantu menyebarkan informasi bagi para TKI ilegal, berusaha keras untuk tidak mengail di air keruh.

Tapi, sisa 12  hari lagi masa amnesti. Siapa pula yang tega melihat ‘pemerasan’, yang meskipun dibantah berkali-kali, tapi dibiarkan berlangsung di hadapan mata?

Catatan lagi, bagi mereka yang ingin pulang pun, modal SPLP tak bisa membantu banyak.
***

Saya kirimkan doa dari jauh untuk teman-teman TKI  ilegal yang masih berjuang memenangkan kekisruhan ini. Suara-suara miring bertebaran dari mana-mana. Jangan merisaukan tuduhan dan makian. Tidak usah diingat-ingat lagi yang dulu-dulu. Mengapa begini, mengapa begitu. Mengapa bisa ke Saudi? Mengapa bisa menjadi ilegal? Semuanya bagian dari perjalanan hidup.

Tak perlu kalian menjelaskan kepada khalayak. Tak usah begitu rupa membuat mereka mengerti jalan panjang yang telah terlanjur ditapaki. Simpan rahasia ini untuk kalian dalam hati masing-masing. Toh, para pencaci ini pun bila dihadapkan pada takdir yang sama apakah sanggup menanggung bebannya? Apakah akan memilih jalan yang berbeda?

Saya mohon pula, jangan melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Sabar dan ikhlas adalah satu-satunya pilihan terbaik meskipun saya yakin sekali sulit untuk menjalankannya di tengah situasi seperti ini.

Anda-anda sudah menunjukkan keberanian yang tak terbantahkan. Mempertaruhkan banyak hal untuk merebut rezeki jauh dari tanah air, tidak memilih berdiam diri di tengah situasi sulit. Rela memperjuangkan nasib demi masa depan lebih baik bagi keluarga yang ditinggalkan. Walaupun terlihat ‘kalah’, kalianlah sesungguhnya pemenang sejatinya :). Karena saudaraku,

“Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.” -Sutan Syahrir-

Kalau tak kalian menangkan di dunia, sebagai muslim kita percaya, “Akhirat adalah tujuan akhir semua umat. Di sanalah nanti akan ada seadil-adilnya keadilan. Tak akan ada usaha yang tak berbayar.”

Bisikkanlah dalam hati masing-masing, “Hanya padaMu Tuhan, tempatku berteduh dari semua kepalsuan dunia.” (Chrisye – Damai BersamaMu).

***

Lakukan hal yang baik yang Anda yakini tanpa merisaukan tentang orang lain. Karena sesungguhnya,

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri”, (QS. Al Israa’. 7).

Satu lagi, untuk teman yang berpendapat, “Yaela Je, capek bener ngabisin waktu ngurusin ginian. Pemerintah bebal kok dipikiran. Udah putus asa kaleee orang-orang.”

Sebuah kalimat yang saya dapatkan dari lembaran awal buku skripsi kakak pertama saya adalah alasan utama saya dalam hal ini, “Janganlah kamu berputus asa. Bila pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.” Makanya, saya tidak mengelak kalau saya juga sudah hilang harapan, tapi sebagai usaha pamungkas saya … menuliskan note ini.

Sebagai muslim, saya juga meyakini, tak akan lengkap sebuah tawakal yang hanya dihias dengan ikhtiar (usaha). Saya tutup rangkaian ikhtiar ini dengan sebuah doa,

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. 112. 2). Karena “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Anfaal. 40).

***

Bila cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan  hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan

Sabar, sabar, sabar dan tunggu … itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan, robohkan setan yang berdiri mengangkang

(“Bongkar”, Iwan Fals)

Be The Man!

Saya pernah bilang ke suami, “Jadi kiper itu kasihan ya, Bang. Urusan ketenaran, pasti kalah daripada striker. Kalau menang pun, yang nge-gol in yang disebut-sebut. Kalau kalah, pasti kiper yang dimaki-maki.” Hehehehe.

Tapi ada juga beberapa kasus dimana kemenangan sebuah tim merekah di tangan seorang kiper. Bukan karena Casillas ganteng lho ya, makanya saya akan mengambil contoh final Piala Dunia 2010. Siapa yang masih ingat? .

Bukan main gelisahnya saya menonton final piala dunia yang itu. Baik Belanda maupun Spanyol akan mencetak sejarah yang sama, siapa pun yang menang, akan menjuarai piala dunia untuk pertama kalinya! Berkali-kali mengamuk-amuk depan televisi setiap kali pemain Belanda saya anggap bermain curang .

90 menit berakhir tanpa gol. Belanda lebih keki. Dua kali Casillas meruntuhkan harapan sporter Belanda ketika di depan gawang Spanyol, dalam kondisi one on one, Casillas mengubur impian Robben menjadi penentu kemenangan Belanda. Eike sampai berlari bersembunyi ke balik pintu kamar mandi di detik-detik Robben sudah menggiring bola tak terkawal menerjang sendirian ke arah Casillas. Dan menangis penuh emosi waktu balik ke depan TV dan menemukan skornya masih 0-0. Nonton bola aja mesti pakai bumbu DRAMA lho ini Mbak-nya ahahahahahahaha.

Akhirnya Iniesta membuat saya berteriak-teriak seperti orang gila ketika mencetak satu-satunya gol kemenangan saat perpanjangan waktu. Mungkin subuh itu tetangga-tetangga bete, “Gile nih ibu-ibu sebelah, sinting ditinggal suami ke Arab kali!” Ahahahahha.

Tak seorang pun mampu berkelit, di pertandingan dinihari itu, yang membawa Spanyol bertahta di dunia untuk pertama kalinya, selain Iniesta dan 9 orang ‘pelari’ lainnya, kita layak membungkuk penuh hormat untuk Casillas .

Gambar : www.macfamous.com
Gambar : www.macfamous.com

Tapi di sebagian besar pertandingan lain, para kiper ini jarang mendapat kehormatan seheboh para striker setelah mereka berhasil menusukkan bola ke jantung gawang. Biarpun begitu, apakah saat memasuki lapangan, dalam hati masing-masing kiper ini akan tertera rasa, “Anjrit, gaji gue enggak segede striker, ngapain gue capek-capek berdiri di bawah mistar.”

***

Barusan saya akui kalau saya melakukan kesalahan bodoh sekali. Kemarin saya add friend seorang kenalan dari kementrian luar negeri berharap bisa meluruskan hal-hal yang simpang siur yang menimpa sebagian besar TKI ilegal yang hendak memanfaatkan periode amnesti dari pemerintah Saudi.

Tololnya saya, terlampau memasang harapan terlalu tinggi. Belum lagi saya memaparkan pertanyaan saya, yang bersangkutan sudah memberikan penilaiannya dengan statusnya di wall. Ah, jawaban yang saya tunggu-tunggu persis seperti jawaban yang selama ini beredar di lapangan . Tak ada solusi. Hanya ada sebuah harga mati, “Kita sudah berbuat maksimal. Ini salah si A, ini masalahnya adalah si B.”

Belum komentar beberapa ‘teman’nya yang menyindir, “Ah, mau kerja kayak apa juga, kita pegawai pemerintah yang akan terus disalahkan.”

Atau, “Mbak, kritik itu emang lebih gampang. Lebih gampang jadi penonton emang. Daripada bekerja langsung di lapangan.”

Lho? Satu-satunya pihak yang BISA-MAMPU-PUNYA KUASA untuk mengurai kesimpangsiuran tersebut adalah pihak konsulat pemerintah Indonesia di Jeddah. Saya, dan teman-teman lain yang hanya ingin berbagi kepedulian terhadap sekitar 150 ribu TKI ilegal di sana, bisa apa?

Saya sudah 3 bulan hengkang dari Saudi. Sudah tidak ada urusan. Saya seharusnya tak perlu sibuk bertanya-tanya, berusaha mencocokkan kondisi di sana (tiap hari saya ikuti perkembangannya via berita-grup teman-teman di Jeddah, kirim message ke orang-orang yang kira-kira bisa membantu), saya dan keluarga sudah hidup TENANG nun jauh di Irlandia sini.

Lebih lucu lagi kalau ada yang mengeluhkan kecilnya gaji PNS kepada saya? Coba keluhkan kepada atasan kali, boo . Saya bisa bantu apa? Sibuk mencecar bahwa betapa capeknya mereka mengurusi puluhan ribu orang ini tapi tetap saja dimaki-maki.

Lantas, kepada siapa saya atau MEREKA harus mengadu? Kemarin di sebuah grup, yang belakangan postingannya dihapus oleh pemosting, ada yang meledek, “Tanyakan pada rumput yang bergoyang.”

Pihak konsulat adalah perpanjangan tangan pemerintah Indonesia di luar negeri. Tugas Anda memang bukan untuk menuai pujian atas tugas-tugas yang SUDAH SEHARUSNYA kalian laksanakan, kan? Dan menolak kritikan yang ada tanpa mampu menunjukkan kerja optimal? Masalahnya, konsulat dari negara lain seperti India dan Filipina, mampu menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik .

Saya dan teman-teman berusaha mengerti betapa capeknya staf KJRI Jeddah sekarang menghadapi serbuan lebih dari 100 ribu TKI ilegal. Tapi adanya pihak-pihak yang mengeluarkan seruan bahwa, “KJRI ketiban sial!” pun adalah sesuatu yang TIDAK PANTAS, kan? Mau berapa ratus ribu TKI yang mungkin di mata Anda “bodoh” “anarkis” “salah sendiri ke luar negeri cuma bisa planga plongo”, ITU TUGAS ANDA LHO YANG MELINDUNGI MEREKA DI SANA.

Paniknya para TKI ilegal antri berjejalan menjelang batas akhir sisa amnesti pemerintah Saudi.
Paniknya para TKI ilegal antri berjejalan menjelang batas akhir sisa amnesti pemerintah Saudi.

Tidak setuju? Merasa gaji tidak sepadan? Lantas, mengapa memutuskan jadi pegawai pemerintahan? .

Teman baruku di friend list, maafkan ya, eike sudah berkomentar panjang dan banyak di wallmu barusan . I just can’t get it. Kalian sudah terlambat memberikan respons, baru ribut-ribut setelah sisa amnesti hanya menyisakan waktu 2 minggu lagi? Sekarang meledek kami yang protes sebagai pihak yang “tidak tahu masalah hanya bisa memprotes.” Adakah hal lain yang mampu kami lakukan untuk membantu teman-teman TKI ilegal di sana?

Apa perlu penggalangan dana sementara yang mereka butuhkan adalah SURAT-SURAT dan kelengkapan dokumen yang hanya mampu dikeluarkan oleh pihak KONSULAT?????? Tersandung peraturan kah? Peraturan apa? Tak bisakah ada perhatian lebih dan perubahan yang dilakukan karena ini menyangkut nasib sekitar 150 RIBU ORANG WARGA INDONESIA yang sering disanjung-sanjung sebagai PAHLAWAN DEVISA?

Ah pemerintah, status ilegal mereka tak pernah menghalangi kalian menerima uang hasil kerja mereka? .

***

Seorang KIPER pasti sudah tahu konsekuensi posisi mereka. Setidak tenar apa pun mereka, sesedikit apapun sanjungan untuk mereka, bahkan setelah tim mengangkat tropi kejuaraan, mereka pasti akan melangkah memasuki lapangan dengan hati kuat, “Whatever it takes, I will go there and fight till the end.”

Kalau tidak suka, jadilah striker, ganti statuslah menjadi gelandang. Simpel kan?

Apa pun pilihan pekerjaan yang kita jalani, just BE THE MAN! Mau kaya? Jangan jadi pejabat pemerintahan! Logically, it’s a wrong position for catching more money (secara HALAL!).

Setiap keluhan yang gak nyambung yang Anda suarakan hanya akan makin menambah sakit hati mereka. Karena kalau boleh mereka pun akan BERTANYA, “Kalau kami ini bodoh dan kurang pendidikan, kalau kami ini pun terpaksa MENGEJAR REZEKI hingga ke luar negeri dengan posisi non formal seperti sekarang, ITU SALAH SIAPA????”

Answer that question!

Jabatan itu bukan masalah KEKUASAAN tapi PENGABDIAN. Atau memang sepenggal lirik lagu dari Iwan Fals tak bisa kita tampik lagi bahwa, “Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperbudak jabatan” (Lagu “Bongkar”).

Gambar : musiklib.org
Gambar : musiklib.org

***

Seorang Jokowi

Ya ampun, sebuah tulisan lama dari bulan Agustus 2012. Saat lagi gencar-gencarnya mendukung Pakde Jokowi di putaran ke-2 pilkada DKI :D. Lupa belum didokumentasikan dalam blog.

Untung Pakde beneran menang ya akhirnya. Jadi, tulisan ini akan menjadi nostalgia yang manis.

Here it is :).

***

Seorang Jokowi

***

“Pencitraan! Basi!” begitulah seringkali komentar yang disuarakan oleh orang-orang yang kurang suka dengan Pak De satu ini .

Mulailah bermunculan secara luas berita-berita tentang hal-hal yang dilakukannya untuk Kota Solo. Tolong diingat, Solo dan Jokowi adalah dua hal yang sudah sering berdengung jauh sebelum Pilkada DKI berlangsung .

Pencitraan? Mungkin saja . Tapi apa penting membahas itu ya, kalau faktanya memang ada di depan mata?

Seorang Amien Rais bisa saja mengumandangkan dirinya sebagai wong Solo yang merasa kinerja Jokowi ‘gak ada yang istimewa, tuh’. Bahkan Rhoma Irama bisa santai-santai saja setelah terbebas dari jeratan hukum karena semena-mena menuduh orang tua Pak De sebagai ‘non muslim’. “Saya lihat di internets’ kata Rhoma Irama. Internets? Mungkin lihatnya di berbagai macam situs jadi jamak menjadi internets hihihihihi.

Saran saya, jangan percaya 100% pada media. Masa sih, di sekian banyak orang yang Anda kenal, Anda tak punya akses yang terpercaya tentang kota Solo ini . Beruntungnya saya. Punya kawan yang cukup karib yang bersuamikan orang Solo asli. Maturnuwun ya, Mbak cantik:). Adik kandung saya pun bersuamikan orang Solo . Hampir tiap tahun ikut mudik ke Solo.

***

Saya mengutip kisah Columbus di bawah ini dari situs Salim A. Fillah (penulis favorit saya) :

Dia berkisah :

Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

…..

Memang tak ada yang istimewa dengan hal-hal yang sudah diukir Jokowi di Solo. Begitulah seharusnya seorang pemimpin daerah berbakti. Ironisnya, hal-hal tersebut menjadi hal mustahil di masa kepemimpinan di era terkini.

Pemindahan pasar tanpa intrik kekerasan? Memangnya hal yang luar biasa? Tidak, tuh! Tapi… berapa orang yang mau payah-payah menempun jalan ini? Memberi penghormatan begitu rupa pada orang-orang kecil. Cuma pedagang pasar tradisional. Ngapain repot-repot?

Mobil Esemka? Masih mencibir kalau itu bentuk kebohongan publik? Jangan menuduh orang lain naive, memangnya Cina dan Korea memulai kebangkitannya sebagai negara industri lewat cara apa? Ngintip-ngintip cara Jepang, bukan? . Rakitan seperti ini memang bukan cuma dominasi pelajar asal Solo. Tapi… berapa banyak yang mau susah-susah ikut membesarkan harapan generasi muda ini? Halah, mobil rakitan anak SMA. Dapat capeknya doang, duitnya gak ada .

Membuat tempat-tempat publik yang nyaman? Ah, mending bangun mal. Duit, duit, duit. Kesejahteraan orang banyak? ya, itu kan relatif. Mal kan juga bikin orang senang. Hehehhe.

Lihat kan bedanya Jokowi?

“Itulah bedanya Jokowi dan kalian Tuan-tuan! Dia memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi dia melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

***

Jadi… apa yang mustahil, warga DKI?

Gentar dengan banyaknya partai besar di belakang kubu lawan?

Was-was dengan maraknya isu SARA yang menerjang dari segala penjuru? Entah lewat mana lagi akan berhembus.

Khawatir akan banyaknya uang yang digelontorkan atas nama kepedulian bertopeng kampanye?

Justru dengan itu kita harus belajar dari Pak De . Percaya bahwa yang mustahil itu seringkali hanya hal mudah yang disusah-susahkan banyak orang .

Jangan terpancing, ya. Terus suarakan kampanye positif. Tentu saja kita tidak sedang membela Dewa atau Malaikat. Orang seperti beliau pun masih terlalu jauh dari kesempurnaan. Tapi beliau menjanjikan sesuatu. Pastilah pergantian selalu menghembuskan perubahan. Setidaknya ada kans 50% untuk ke arah lebih baik .

Tetap sebuah pilihan yang lebih tepat ketimbang kembali menyerahkan kepercayaan pada tangan yang sudah pernah membuktikan kegagalannya.

Untuk JAKARTA BARU, jangan berhenti berharap… Jokowi for DKI!!

Gambar : republika.co.id
Gambar : republika.co.id

How Islamic are Islamic Countries ? Islamicity Index

Belum lama berlalu ketika saya membaca status seorang teman yang terdampar di Kuwait. Sebelumnya, teman bersama suami dan anak-anaknya tinggal di salah satu negara Eropa. Teman saya ini bukan orang biasa-biasa saja.

Namanya pernah menjadi hits di beberapa media cetak karena kesuksesannya berdakwah di Negeri Non Muslim dan membawa belasan perempuan mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya :). Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa beliau sekeluarga :).

Ada apa dengannya di Kuwait?

Teman saya mengalami benturan budaya yang luar biasa. Dia terkaget-kaget. Sementara saya tersenyum-senyum membaca statusnya. Sebagai alumni Jeddah, kota terbesar nomor 2 di Arab Saudi, saya tidak heran sedikit pun membaca ‘kegalauan’nya. Been there, done that.

How islamic are islamic countries
Gambar : britannica.com

***

“How Islamic  are Islamic Countries” adalah sebuah penelitian lama yang hasilnya dipublikasikan tahun 2010 silam.

Berikut kutipan dari kompas.com (https://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia) :

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

***

Penasaran dengan hasilnya? Saya kasih sontekan sedikit. Selain Selandia Baru, urutan ke-2 hingga 5 ditempati oleh berturut-turut : Luxemburg, IRLANDIA *uhukUhuk*, Eslandia dan Finlandia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim yang menempati urutan tertinggi adalah … Malaysia! Menempati peringkat ke-39.

Indonesia sendiri, sudah disebutkan dalam kutipan artikelnya, urutan ke-140. Arab Saudi? Di urutan ke 131.

Beberapa negara ‘penting’ dunia lainnya, misalnya Amerika Serikat, menempati urutan ke-25. Jepang di urutan ke-29 dan Jerman, salah satu negara terbesar di Eropa, di urutan ke-17.

Saya lahir dan besar di Indonesia yang konon merupakan “Negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.” Pernah berkesempatan tinggal di Arab Saudi, “Negeri Penjaga Dua Kota Suci Umat Muslim Sedunia.”

Baru-baru ini berkesempatan liburan ke Kuala Lumpur, ibukota Malaysia, “Negara Mayoritas Muslim yang Berada di Peringkat Tertinggi.” Dan kini…saya berada di  Irlandia, peraih medali perunggu “Negara Paling Islami” :D. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Kuwait sendiri urutannya tak terlalu buruk.  Bayangkan, teman saya saja yang terdampar di “Negeri Paling Islami no.48” bisa sebegitu stres-nya hehehe. Bagaimana dengan kita-kita yang pernah tinggal di Saudi, si peringkat ke-131? Madam-madam Jeddah, mana suaranya? Ahahhahahahaha.

***

Jujur saja, selama tinggal di Indonesia dulu, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak pernah merasa terzalimi. Ya, kadang-kadang mungkin terselip sakit hati. Saya anggap wajar-wajar saja masalah muamalah di Indonesia. Mungkin kasarnya…pasrah.

Hingga akhirnya saya ke Jeddah. For me, Jeddah is better than Jakarta. ‘Gemerlap’nya sih mirip-mirip. Yang  namanya ‘gap’ antara si kaya dan si miskin menganga sedemikian lebar baik di Jakarta maupun di Jeddah.

Alasan pertama saya lebih senang di Jeddah karena beberapa hal. Bensin murah, mobil murah, penghasilan suami jauh lebih besar (daripada di Jakarta), enggak terlalu macet, kemana-mana terasa dekat, bahkan beberapa bahan pokok di Jeddah lebih murah daripada di Jakarta. Unbelievable.

How Islamic are islamic Countries
North Corniche – Jeddah

Belum lagi kesempatan untuk umrah sepuasnya. Tahun lalu dimampukanNya kami untuk naik haji. Di tahun terakhir kami di sana sebelum akhirnya dibukakan pintu rezeki di negara lain. Sekali lagi, Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Saya akui, secara umum perilaku orang-orang Arab di Jeddah cukup mengecewakan. Meskipun pengalaman pribadi saya tidak separah beberapa teman saya yang sudah sebegitu sewotnya sama orang-orang Arab hehehe.

Saya pun tak bosan-bosannya menuliskan bahwa beberapa episode-episode terbaik dalam hidup saya bertempat di Jeddah. Selama di sana, saya tergolong ‘yang paling bahagia’ hehehehe. Meskipun tak sedikit hal yang membuat saya selalu mengelus dada, “How come they call themself a moslem?”

Berusaha untuk selalu berfokus pada hal-hal yang menyenangkan, membuat 30 bulan pengalaman tinggal di Jeddah menjadi ‘rangkuman kenangan indah’. Ingat saja hal-hal luar  biasa yang selalu membuat saya bersyukur. Tak pernah luput mengenang Mekkah dan Madinah sebagai tempat-tempat terindah yang pernah saya datangi.

Begitu mudahnya dulu kami menghampiri kedua kota suci tersebut. Sementara tak sedikit umat Islam di Indonesia baru hanya sebatas memimpikannya saja. Bentar…hapus air mata dulu *drama-part :P*. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Dulu, saya suka bertanya-tanya, mengapa teman-teman yang berada di Eropa bisa sebegitu ngebetnya tinggal di sana. Tak sedikit yang mencari-cari cara setelah lulus sekolah agar bisa tetap bermukim di sana.

Bahkan, ada yang sudah terpikir untuk menggadaikan status kewarganegaraannya. Ingin berganti warna paspor. Apa enaknya hidup berlama-lama dalam ‘kulkas”? :P.

***

Konon, bangsa Irlandia ini memang salah satu bangsa paling ramah di dunia. Selama lebih dari 3 bulan tinggal di sini, saya sudah membuktikan sendiri. Terpukau oleh keramahan mereka. Ada  juga yang rasial kok, saya pernah diteriakin di perempatan jalan, “Go home!” oleh seorang pria separuh baya.

Tapi santai saja. Orang-orang lain tidak ada yang peduli, tuh. Enggak penting memikirkan sebagian kecil yang kurang ramah.

Di Athlone, hampir tak ada pengemis. Kalau pun ada tunawisma, penampilannya enggak germbel-gembel amat. Di Jakarta, yang bilang Pajero bukan barang mewah ada, yang gembel jadi tukang semir sepatu tak kalah banyaknya . Di Jeddah, Ferrari bukan barang langka, tapi pengemis terpencar di berbagai sudut kota.

How Islamic are Islamic Countries
Athlone, perayaan St Patrick’s day

Fakta-fakta yang menguatkan pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya :

” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.

Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”

Dulu sih, semasa di Jakarta dan Jeddah, bila mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain, tak pernah menjadi pikiran. Dimaklumi saja. Di Jakarta, sering dicuekin sama satpam di mal. Padahal kepada seorang Ibu yang turun dari mobil mentereng dengan berbagai aksesoris wah di badannya, tersenyum mengangguk setengah membungkukkan badan.

Hidupnya sudah cukup ‘berwarna’ dalam menjalani tugas sebagai satpam, tak usahlah menyimpan dendam yang tidak perlu.

Di Jeddah, pernah mendapat pengalaman pahit saat antre di kasir dalam toko di mal. Sebelumnya, saat 2 perempuan arab berdebat soal antrean, penjaga kasir dengan tegas melerai dan menunjuk ibu yang memang sudah datang lebih dahulu.

Giliran saya diselak orang Arab, saya protes, kasirnya malah diam seribu  bahasa. Ya, sudahlah. Saking sudah seringnya, sudah mati rasa ane hehehe.

Terdampar di tempat lebih jauh, berbaur di tengah-tengah masyarakat non muslim, dari ras yang secara fisik sangat berbeda pula, malah mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Sepele, ya? Biarpun suami suka meledek saya yang dianggapnya, “Dasar kamu ini. Belum apa-apa sudah lebay soal eropa”, menurut saya ini bukan hal sepele :).

Setiap pagi mengantar anak ke sekolah, kami selalu berjalan kaki. Hampir 100% orang-orang yang berpapasan akan tersenyum menyapa, “Good morning.”  Di Jeddah, seringnya mendapat pandangan penuh tanda tanya, mungkin berpikir, “Prikitiwww, mbak-mbak TKW ini cakep juga, yak.” Ahahahahaha.

Di Athlone, saat mengantre di kasir setelah berbelanja barang-barang dapur dll di supermarket, semua orang mengantre dengan tertib. Bahkan, kasir benar-benar menunggu kita selesai mengemasi barang baru melayani customer setelah kita.

Awalnya saya sering gugup. Saking takutnya kalau mengganggu antrean, mau buru-buru masukin barang ke stroller + plastik + ransel, barang-barang malah berserakan jatuh ke lantai. Malunya minta ampun.

Tapi kasir cuma tersenyum, “That’s ok. Take your time.” Bahkan, ibu-ibu berambut kuning yang mengantre di belakang saya ikut memunguti barang-barang yang jatuh. Masya Allah. Sudah terbiasa diperlakukan bak TKW di tengah-tengah umat yang seiman, rasanya terharu diperlakukan seperti itu. Lebay? Whatever.

Kata-kata “thank you”, “sorry”, berhamburan begitu mudah dari bibir mereka. Jadinya saya pun, biarpun awalnya agak kagok, jadi terbiasa selalu ber “thank you” dan ber “sorry” ria :).

Di Irlandia, pajak memang termasuk tinggi. Biarpun gak setinggi di negara eropa lain pada umumnya. Tapi fasilitasnya juga enggak main-main. Jalanan dibuat senyaman mungkin. Angkutan umum sangat diperhatikan. Harga mobil sangat mahal. Bensinnya apalagi.

Tapi lihatlah, sebagian besar penduduk jadinya berbaur di trotoar jalan kaki atau dalam angkutan umum. Bagus juga ide pajak tinggi dan dikenakan secara proporsional. Agar si ‘tajir’ mikir-mikir kalau mau beli barang mahal dan yang kurang mampu tak terlampau tersakiti.

Sekolah gratis dengan fasilitas yang sangat memadai *nyengirLebar*. Malah, di selebaran pengumuman buat orang tua murid, ditulis jelas-jelas larangan untuk ‘tampil mewah’. Baju harus seragam. Seragam resmi terasa mahal? Kepala sekolah mempersilakan membeli di tempat lain yang lebih murah asal warnanya mirip.

Disebutkan dengan jelas jenis-jenis sepatu tertentu yang TIDAK BOLEH digunakan ke sekolah. Bahkan, kotak untuk bekal makan pun dianjurkan untuk sesederhana mungkin. Ini semua dituliskan secara resmi dalam selembar kertas yang dibagi-bagikan pada orang tua murid sebelum hari pertama sekolah si anak.

‘Attitude’ adalah landasan utama pendidikan anak-anak di usia dini. Saya perhatikan betul, guru-guru dan kepala sekolahnya sangat disiplin dalam masalah tingkah laku. Mereka tak terlalu peduli dengan kemampuan kognitif.

Tapi coba saja ada anak yang berani memukul temannya, kepala sekolah tidak segan-segan menarik tangan si anak dan menceramahinya panjang lebar dengan nada yang tinggi. Saya pernah melihat langsung.

Soal penampilan pun tidak ada yang heboh-heboh. Ada lah beberapa yang agak ‘gaya’ tapi bisa dihitung jari. Pede-pede saja kemana-mana pakai training pants + kaos + jaket + sepatu kets + ransel :D. Mbak-nya mau mendaki gunung, ya? Ahahahahaha.

Di Irlandia, dalam memperlakukan orang lain, people don’t really care whether you’re Catholic, Moslem or even you don’t believe in any religion at all :). Berperilaku sopan dan non diskriminatif adalah hal universal buat siapa saja.

Ajaran yang saya tahu pasti adalah landasan muamalah dalam Islam. Sadly, you can hardly see this in (most of) moslem countries. Ironically, pretty easy to see the practice in non-moslem countries. Tanya kenapa?

Memang, awal di Athlone, saya benar-benar teruji oleh udara dingin. Tapi tak lama. Baru 3 bulan tinggal di sini, rasa betah menerjang sedemikian kuat. Meskipun keinginan untuk mengganti status paspor sama sekali belum ada. Tapi saya ingin agar anak-anak saya suatu hari nanti melangkahkan kaki mereka sejauh yang mereka  bisa.

Saya doakan, semoga saya dianugerahkan kesehatan yang mumpuni (menjalani pola hidup sehat ala FC adalah salah satu ikhtiar saya dari sekarang untuk doa yang ini), tak perlu meresahkan anak-anak kelak, sehingga saya bisa menghabiskan sisa usia di negeri  kelahiran tercinta. Sampai akhir menutup mata. Amin :).

***

Kembali mengutip pendapat Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah)

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?

Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam—syahadat, shalat, puasa, zakat, haji—dia sudah merasa sempurna.  Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. 

Pada hal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.
***

Saya setuju sekali, kita terlalu sering menyepelekan ‘kesalehan sosial’. Pengalaman saya naik haji kemarin, selain menyisakan rasa haru yang masih terus berbekas hingga kini, terselip rasa kecewa yang mendalam.

Seusai wukuf,  jemaah biro haji kami keluar dari tenda ke arah jalan untuk  menuju stasiun kereta. Saya tercekat melihat suasana jalan raya yang sudah kosong dari para jemaah ‘haji koboi’ yang sudah kembali ke Mina/Musdalifah. Kotornya luar biasa. Bau pesing tak terkira. Ceceran makanan, botol minuman dan entah cairan apa itu *yucky* berbaur menjadi satu. Subhanallah, sampahnya tidak main-main.

Besoknya, saat akan tawaf ke Mekkah, jam 7 pagi kami sudah berjalan ke arah jembatan untuk menunggu taksi. Lautan sampah di mana-mana. Baunya pun sangat menyengat. Saya ingat saat itu sempat bergumam kepada suami, “Kebersihan sebagian dari iman.” Kebersihan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan sekitar, kan?

Saat sepi pun, kalau tawaf, saya sering memperhatikan ‘rusuh’nya keadaan di sekitar hajar aswad. Tidak pernah damai suasananya. Sikut-sikutan, teriak-teriak, dorong-dorongan. Itu cuma amalan sunnah, saudara-saudaraku.

Teringat pesan ustaz Syafiq yang mengisi ceramah pengajian di acara syukuran salah satu teman di Jeddah sebelum kami berangkat haji, “Jangan melakukan amalan sunnah dengan cara-cara haram.”

Malah, bagi sebagian muslim, yang penting : salat, zakat, puasa. Perlakuan kepada orang lain, gaya hidup sehari-hari, tidak akan mempengaruhi keislaman kita selama kita salat-zakat-puasa. Sadar tidak sadar, penyempitan makna “rahmatan lil ‘aalamin” dilakukan oleh kaum muslim sendiri.

Dalam salah satu ceramah, Cak Nun bertutur, “Apakah di sini anda bisa punya cara untuk mengetahui seberapa iman anda? Bisa nggak kita mengukur akidah? Bisa nggak kita mengukur, kita ini Islam atau belum Islam? Kalau engkau menjawab “bisa”, lho, itu rak cangkemmu? Lha atimu? (itu kan mulutmu, lha hatimu?). Kita tidak bisa menilai Islamnya orang, kita tidak bisa menilai sesat atau bukan kecuali MUI.” Ucapannya disambut tawa jamaah.

Ketika beberapa waktu lalu, saat ramai-ramainya pilkada DKI, saya berdebat dalam sebuah grup masalah akhlak vs aqidah. Seorang teman tak ragu-ragu menyematkan label ‘sekuler/liberal’ kepada saya? Untuknya, sebuah kalimat syahadat akan selalu berada di tempat teratas, jauh melampaui masalah-masalah yang berkaitan dengan kesalehan sosial.

Dia mengejek, “Lo lebih pilih manusia daripada Tuhan?”

Saya menjawab, “Pilihan yang mana? Memuliakan sesama manusia adalah perintah Tuhan.”

Untuk saya pribadi, sangat jelas. Islam itu seimbang dunia akhirat. Terlalu condong kepada salah satu hanya akan membuat keseimbangannya goyah. Pengalaman hidup di Jakarta, Jeddah dan kini Athlone membuat saya mensyukuri betapa ‘liberal’nya saya.

Sedangkan dalam hati saya selalu bersyukur saya dilahirkan sebagai seorang muslim. Dan selalu memohon agar Tuhan tidak akan memalingkan saya hingga akhir hayat nanti :).

Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda?

Satu lagi dari Cak Nun yang mungkin bisa jadi bahan renungan, “Tuhan yang tahu akidahmu. Masyarakat butuh akhlakmu.”

Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk membawa seluruh umat manusia untuk  bersyahadat bersama dalam satu bendera penafsiran yang sama (Sunni? Syiah? Wahabi? Salafi?). Tapi untuk menunjukkan (bukan menghakimi apalagi mengancam) bahwa : Islam = rahmatan lil aalamin.

Bahkan rasulullah pun menekankan dirinya HANYA sebagai PEMBAWA PERINGATAN dan PENJELASAN. Bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, kan?

Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.” (QS. al-Hajj [22]: 49).

Alquran, adalah petunjuk dan rahmat. Bukan untuk  mengancam-ancam orang yang tidak sepaham.

Maksudnya apa? Renungkan sendiri :).

Semoga bertahun-tahun setelah tahun 2010, saat penelitian How Islamic are Islamic Countries ?  digelar kembali, jajaran negara-negara muslim bisa bertengger di peringkat 10 besar. Amin :).

***

Bagian 2 dari tulisan dengan judul yang sama sudah ada di sini :D. 

_MG_6095