We are The World, We are The Children

by : Jihan Davincka

***

St Mary
Sumber : www.rte.ie (Green Flag Day at St Mary’s Primary School)

Saat mengantar dan menjemput Abil di sekolahnya yang sekarang, St. Mary Primary School (Athlone, Ireland), saya melihat jelas jika para orang tua yang menunggu di luar tidak ‘bercampur’ secara alami.

Konon, hadirnya kantor Er***** di kota Athlone membuat kota kecil ini dibanjiri para pendatang dari negara lain. Anak-anak dari para pendatang inilah yang mengisi sebagian bangku-bangku di St Mary Primary School tadi.

Yang rambut kuning sibuk berbicara dengan sesama rambut kuning :D, beberapa perempuan berjilbab yang dari logatnya terlihat jelas mereka berasal dari Saudi membentuk ‘lingkaran’ sendiri ;), tampang asia (India, Pakistan dll) juga terlihat berdiri merapat.

Di salah satu pojok saya sering melihat seorang perempuan yang sepertinya bertampang latin selalu berdiri menyendiri sambil memainkan ponselnya.

Yang paling merana emak-emak asal Indonesia yang enggak ada temennya ahahahahaha. Udahlah anak baru pula :P. Dasar tukang ngobrol, tetep aja maksa suka ikut-ikutan ngerumpi di grup-grup yang dirasa agak ‘open’.

Akhirnya saya punya temen ngobrol rutin yang berasal dari Suriname, seorang ibu keturunan India yang sudah menetap lama di Belanda. Sering juga mengobrol dengan ibu-ibu asal India yang anak-anaknya sekelas dengan Nabil, anak sulung saya.

Karena punya satu teman akrab dari Saudi, beberapa perempuan Saudi jadi sering menyapa atau minimal tersenyum kepada saya. Tapi kalau sudah asyik sesama mereka, mereka pasti berbahasa Arab, deh. Ampun maaaakkk, eike tahunya cuma sebatas, “swayya, swayya, asara, mafi mushkilah, aiwa” saja, ahahahahaha. Mending melipir :P.

Kontras dengan para orang tua di luar yang terlihat kikuk dan hanya menyapa seperlunya dengan ‘ras lain’ :P, anak-anak terlihat jauh berbeda. Kalau mereka berhamburan dari kelas, terlihat sangat akrab satu sama lain.

Anak saya sendiri belum apa-apa sudah punya ‘geng’ hihihihi. Dasar emang enggak bisa diem dari kecil :P. Nabil punya beberapa sahabat, Jerry yang selalu keren dengan jaket kulitnya (afrika), Tyrish yang rambutnya kuning menyala (I’m not sure whether he’s polish or irish), Hamzah (muslim India tepatnya dari kota Bangalore), Mustafa (yang orang tuanya asli Saudi) dan Alex ( kalau enggak salah ini anak baru pindahan dari Inggris). Saya hapal karena tiap hari kaleeee dikenalin sama Abil hihihihihihi.

Tapi kalau melihat teman saya, Clara, yang sudah menetap di Irlandia selama 5 tahun, sepertinya ada juga acara-acara ‘morning tea’ rutin yang diadakan para ibu-ibu yang tidak memilah-milah ras. Tapi kelihatan kok, kebanyakan terlihat nyaman ‘bergaul akrab’ dengan sesamanya :).

Keakraban dengan ‘bangsa lain’ hanya sebatas kesopanan saja. Kalau pun ada yang bisa saling akrab, itu termasuk langka. Bahkan di negara-negara yang katanya menjunjung HAM ini :P. Walaupun tidak mengganggu dan terasa wajar, rasa kikuk itu tidak benar-benar pudar di mana pun :).

Makanya, saya sangat senang berkenalan dengan Fatima, perempuan asal Dhammam (ibunya Mustafa). Beberapa kali saya diundang ke rumahnya, dimasakin pula nasi-nasi arab yang enak-enak.

Sungguh tak menyangka, nyaris 3 tahun di Jeddah saya tak punya sahabat penduduk asli sana. Baru beberapa minggu di Athlone, kami menjadi akrab begitu saja :). Sayang, dia dan keluarganya sudah kembali ke Dhammam for good :(. I and she were crying on her last day, when we were saying goodbye at each other while having a brunch at a certain coffee house. Miss you already, my dear Fatima :).

***

Video di bawah dan pengalaman saya tadi adalah bukti bahwa pada dasarnya, secara lahiriah kita tidak dilahirkan dengan rasa kikuk itu :). Lihat saja Nabil dan teman-temannya. Untuk anak-anak umur 5 tahun itu, warna kulit – perbedaan bahasa – agama – sama sekali tidak pernah menjadi acuan dalam berteman :).

Kita semua pun pernah kecil. Saat kecil pun, coba saja diingat-ingat, bagaimana cara kita memilih teman? Pertanyaan besarnya, mengapa setelah dewasa pemikiran-pemikiran idealis ini bisa memudar bahkan mungkin menghilang? Ulah siapakah?

Tidak percaya? Luangkan waktu menonton video yang saya share ini :).

Ah, ini mbak-nya liberal sekali pemikirannya. Abis ini jangan ada inbox aneh-aneh dengan tuduhan macam-macam ke saya, ya :P. Enak saja :D. Saya malah sangat bangga sebagai umat muslim. Saya, kok, malah curiga dengan penggalan lirik lagu Michael Jackson pada judul lagu yang saya jadikan judul tulisan ini.

Jangan-jangan dia terinspirasi dengan petikan dari ayat suci alquran di bawah ini 😀 …

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang
perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku, AGAR KAMU SALING MENGENAL.
Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi
Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat ayat 13)

Penggalan ayat suci alquran yang sudah turun ratusan tahun sebelum Jacko, salah satu legenda musik dunia, membuai semesta dengan salah satu gubahan terindahnya, “We are The World.”

We can’t go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

***

Hari ini, hari ke-8 di bulan suci ramadan (hari ke-9 buat sebagian yang lain). Berarti sudah sekitar satu minggu kita menjalani ibadah puasa di tahun ini. Alhamdulillah.

Selain memanfaatkan 30 hari istimewa untuk ‘narsis’ dan ‘carper’ kepada Allah melalui amalan-amalan aqidah, sudah sejauh mana kita menalaah masalah muamalah kita terhadap orang lain? :).

Selamat melanjutkan ibadah puasa, saudara-saudara muslimku :). Tetap semangat ^_^.

***

Keterangan video ada di sini –> https://www.dailydot.com/lol/kids-react-cheerios-commercial-race/

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=VifdBFp5pnw&feature=player_embedded]

Take The Hits!

by : Jihan Davincka

***

Barusan melanglang buana ke salah satu blog favorit saya. Enggak berani share linknya di sini . Karena akhir-akhir ini nama sekaligus foto beliau, si empunya blog, muncul di beberapa situs islam tanah air dan diberi cap, “Hati-hati. Dia kafir” .

Tenang, beliau tidak sedang berdakwah di tulisan yang ini . Melainkan membahas tentang seorang penulis internasional yang juga saya kagumi, Karen Armstrong .

Salah satu buku yang disebut-sebut adalah buku “Muhammad Sang Nabi.” Saya juga sudah baca buku ini. Dipinjamkan oleh teman kantor (sekitar tahun 2005) yang juga fansnya si Armstrong yang ini .

Kalau membaca beberapa karya Armstrong, terlihat jelas keberpihakannya pada ajaran Islam. Meskipun buat saya pribadi, beliau masih memiliki penafsiran yang berbeda dengan saya.

Misalnya saja, di buku “Perang Suci”, Armstrong menafikan bukti bahwa Islam tidak memisahkan antara kehidupan beragama dan sendi kehidupan lain. Islam yang saya yakini justru menyatukan semua aspek kehidupan dalam naungan Islam . Kalau pada kenyataannya belum ada bukti praktikal bahwa semua sendi ini bisa berbalut rapi dalam Islam, itu adalah ‘kesalahan’ umatnya. Ajaran Islamnya mah pasti sempurna . In Shaa Allah.

***

Muhammad Sang NabiDi buku “Muhammad Sang Nabi”, ada bagian yang menceritakan mengenai perjanjian Hudaibiyah. Waktu SD dulu (karena saya sekolahnya di Yayasan Islam Athirah yang porsi pelajaran agama Islamnya cukup besar), saya tahunya kalau perjanjian ini terjadi terbatas karena Rasulullah tidak ingin ribut-ribut dengan penguasa Mekkah.

Armstrong dengan detail menjelaskan betapa Rasulullah punya pertimbangan luar biasa cerdas dan maksud tersembunyi yang sudah diperhitungkan matang-matang. Perjanjian yang dianggap sangat merugikan kaum muslim yang telah hijrah ke Madinah ini menuai rasa bingung/kecewa dari banyak sahabat.

Rasulullah membuktikan ‘kepiawaiannya’ dalam berstrategi. Perjanjian yang dianggap, malah sempat diprotes keras, akan merugikan kaum muslim malah berbalik.

Kembalinya sebagian mukimin Madinah ke Mekkah, yang telah dibekali dengan semangat muamalah Islam yang ‘indah’, membuka jalan dakwah yang nyaris sempurna : tanpa pertumpahan darah dan dengan mudah menarik perhatian/simpati banyak warga Mekkah.

Sebaliknya, mukimin Mekkah yang bebas bolak balik Madinah-Mekkah terbuka lebar-lebar matanya akan keindahan ajaran baru yang dibawa oleh seorang yang bergelar Al Amin . Sejarah membuka bahwa sekali pun ditentang keras oleh banyak petinggi Quraisy, akhlak Rasulullah tak pernah sanggup mereka buang sepenuhnya begitu saja .

Tak heran, belum lagi usai 10 tahun periode perjanjian ini, terjadilah peristiwa Futuh Mekkah. Mekkah diambil alih dengan cara yang ‘indah’, tanpa senjata, tanpa darah. Mahabesar Allah dengan segala petunjukNya. Mahaindah Islam dengan segala keutamaan akidah dan akhlaknya . Nah, makanya kata ‘indah’ saya sebutkan berkali-kali . Ajaran Islam yang saya yakini itu BENAR sekaligus INDAH. Literally.

Apakah semua penduduk Madinah kala itu MEMELUK AJARAN ISLAM SEPENUHNYA? Tak ada kaum Nasrani dan Yahudi? You tell me .

***

Armstrong menyebut-nyebut tentang Compassion (welas asih). Menurutnya, inilah salah satu kesuksesan Rasulullah dalam berdakwah. Compassion adalah sesuatu yang sifatnya stabil. Tidak seperti perasaan manusia yang kadang benci kadang sayang pada berbagai hal.

Berkaitan dengan sifat welas asih ini, saya ambil informasi blog yang saya sebut di awal tadi, Armstrong membagikan ‘golden rule’ yang disimpulkannya dari berbagai ajaran agama : “Jangan melakukan sesuatu yang kita pun tak ingin orang lain melakukannya pada diri kita.”

Sejalan dengan semangat ajaran ‘welas asih’ tadi, kata-kata kami dan mereka akan selalu melebur menjadi kata ‘kita’. Kita, bukan kami … bukan mereka.

Saya tahu setelah ini pasti banyak kritikan, “Sekuler lu!” Ahahahahahaha. Saya sih akan selalu meyakini bahwa Islam itu “rahmatan lil aalamiin”. Ajarannya tidak akan pernah menjadi sesuatu yang membuat alis kita berkerut, dada kita bergoncang gelisah.

“Apa pantas menyiram air teh ke wajah orang yang lebih tua karena dia itu liberal/pembenci Islam?” Walaupun kita tidak suka dengan figur yang seringkali ‘menantang’ Islam (bahkan siram seember juga rasanya pengin ya hehehehe), tapi apa iya batin kita tidak bergejolak dengan perlakuan seperti itu? Apa pantas berkata, “Allahu Akbar, Allah bersamamu.” Indahnya di mana? .

Baru-baru ini sebuah situs islam memberitakan 3 orang yang digadang-gadang telah berjihad karena membunuh seorang murtadin yang konon selalu mencela-cela ayat suci dan berdakwah sebagai seorang pendeta. Luar biasanya, tak sedikit komentar yang memuja-muja 3 orang tadi, yang kini telah ditangkap dan akan diadili. Katanya, “Biarkan hukum thagut yang melaknatmu. Tapi nama kalian sudah tertera di surga.”

Mengapa kita selalu menggeliat melihat ‘lawan-lawan’ yang mungkin hanya ada dalam pikiran yang selalu kita angap berkonspirasi ini itu? Mengapa tak pernah menggelisahkan umat sendiri?

Seperti pertanyaan besar saya selalu sejak saya pernah mencicipi ‘glamor’nya kota Jeddah, “Saudi sekaya dan sekuat ini, mengapa tak pernah mampu memperjuangkan Palestina secara TERBUKA?” Peristiwa Palestina telah dijelaskan panjang lebar oleh Armstrong di buku “Perang Suci.” Berhentilah melihatnya sebagai pusat perselisihan agama. Ini masalah kemanusiaan. Bahwa ada sekelompok kecil orang yang tahu-tahu mencaplok wilayah kelompok lain yang telah lebih dahulu tinggal di sana secara sah. Memangnya anda kira orang Palestina itu muslim semua? .

Di kota di mana Rumah Tuhan hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan, penghianatan terhadap hukum Tuhan berlangsung begitu banyak? . Baik dari penduduk asli maupun para pendatang. Memang, kalau urusan salat dan bacaan alquran, seratus jempol saya untuk penduduk asli. Tapi, urusan muamalah? .

Berbagai pertikaian di Timur Tengah sudah selayaknya membuka mata kita lebar-lebar. Seperti status dari salah satu teman saya yang mungkin bisa menjadi renungan bersama, “The middle easterns can actually kill each other all the times, but the problem is why the heck should most oils lie in there? Why? Why? :))

A very good point. Penguasa sumber energi dunia secara logika harusnya bisa menjadi pengendali bumi (ih, jadi ingat avatar gak sih? ahahahahahaha). Pada kenyataannya … malah terbalik . Mungkin introspeksi diri untuk kaum di Middle East sana dan kita-kita yang juga berasal mayoritas yang sama. Mengapa kesenjangan ekonomi justru terjadi di banyak negara dengan mayoritas muslim??? WHY??????

Ini memang kita sudah terkena konspirasi musuh Islam atau kita yang tanpa sadar sudah menyembah tuhan mereka yang baru, “UANG” . Tuhan baru yang mampu melebur di ajaran agama mana pun tanpa memandang ideologi apa pun.

***
“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

We, moslems, are not THOSE COWARDS, aren’t we? ;).

Gambar : coveralia.com
Gambar : coveralia.com

Against a Little Voice Inside You

 

Salam olahraga!

Yes, hari ini, 6 Juli 2013, kota Athlone mengadakan perhelatan olahraga tingkat nasional, “Waterways Ireland triAthlone.”

Gambar : triathlone.com
Gambar : triathlone.com

Kemeriahannya sudah terasa sejak beberapa hari sebelumnya. Padahal, 2 minggu terakhir ini, cuaca sangat tidak bersahabat. Mendung di hampir sepanjang hari. Walaupun tidak selalu, hujan pun tidak segan-segan menyapu seluruh penjuru kota. Belum lagi, angin kencang kadang-kadang tidak mau ketinggalan.

Musim panas bukan, seeehhh? -_-

Untung liburan sekolah sudah menjelang sejak 10 hari yang lalu. Jadi eike tidak harus berlari menembus hujan mengantar jemput si sulung ke sekolah .

Jangan-jangan Eropa pun mengenal pawang hujan, ya? Hihihihi. Sejak kamis kemarin, sinar matahari mendadak berbaik hati. 3 hari terakhir, langit cerah dan suhu menetap di kisaran 17 – 20 derajat celcius.

Ah, sungguh luar biasa memang kemampuan beradaptasi tubuh manusia. Kalau dulu di suhu 20 derajat saya sudah menggigil, baru 4 bulan di Negeri Kulkas ini, saya sudah merasa suhu 20 derajat ini cetarrrrr membahana .

Nah, puncak acara tentu hari ini. Dari pagi, suasana kota sudah hiruk pikuk. Seperti biasa, tiap sabtu jam 9 pagi, saya mengantar si sulung les berenang ke Sheraton. Pulangnya, kami selalu keluar melewati gedung mal. Tadi mampir ke perpustakaan dulu nuker buku buat anak-anak.

Enak deh di sini, enggak perlu keluar duit buat beli-beli buku anak-anak yang harganya rata-rata maharani itu . Ada perpustakaan anak-anak di samping mal. Tempatnya luas, nyaman, dengan koleksi bukunya mencapai seribuan buuku mungkin dan…gratis, tis, tis! *nyengir100Centi*.

Tepat di luar gedung perpustakaan, suasana sudah gegap gempita. Ternyata, di tempat inilah pusat acara perlombaan triathlon nasional tadi. Kios-kios kecil penjaja baju-baju olahraga dan printilan peralatan olahraga sudah berdiri sejak sehari yang lalu. Orang-orang berbodi atletis mulai lalu lalang di sana. Hadeuuuhhh, sayang orang-orang sini jarang yang ganteng-ganteng kayak di Saudi hihihihihhihihi *husssss*.

Melihat keramaian yang tidak biasanya, naluri jurnalisme langsung keluar dong awww *tsaaaahhhhh* … Setelah jepret-jepret sebentar, sempat pula nanya-nanya ke orang-orang di sana, saya memutuskan untuk pulang dulu.

***

Rangkaian triAthlone dimulai dengan lomba berenang. Untuk menonton para peserta berenang, tidak perlu jauh-jauh. Yup! Lomba berenangnya di Sungai Shannon. Lintasannya persis di belakang gedung apartemen saya. Sambil nungguin ikan digoreng, sambel ditumis, sayur di-sop di dapur yang terhubung langsung dengan ruang keluarga dan pintu menuju teras belakang, saya bolak balik ikut bersorak dari balik pintu kaca teras belakang apartemen. Hehehe.

Jumlah pesertanya mungkin ribuan bahkan puluhan ribu orang (males google :P). Untuk berenang saja, dibagi menjadi sekitar belasan batch. Sampai tulisan ini mulai dibuat, batch berenang belum juga habis. Tiap batch terdiri dari sekitar 100-200 orang (yang ini eike itung sendiri dari jauh hehehehe).

Melihat peserta yang sekian banyak padahal pemenangnya paling cuma dipilih beberapa, saya tidak habis pikir, ngapain, sih, pada capek-capek, ya? Bayangkan saja, 750 m berenang + 20 km bersepeda + 5 km berlari! Apa yang dicari?

Di sesi perlombaan berenang, saya melihat beberapa peserta yang ketinggalan di batch masing-masing. Sebagian mereka nampak tidak bergerak dalam air, seluruh tubuh hanya mengapung dengan wajah menengadah ke atas. Tak berapa lama setelah tenaga kembali terserap, ayunan lengannya kembali berkecipak dalam air. Seolah tidak ingin menyerah menyusul teman-temannya yang lain.

Ada juga yang hanya berputar-putar di tempat, kepalanya saja yang menyembul. Setelah dirasa kekuatan telah terkumpul kembali, perenang ini pun kembali memainkan lengannya membawa sekujur badan kembali maju menyusuri lintasan yang tersisa.

Ada juga yang mencoba berganti gaya. Tadinya berenang dengan gaya bebas. Tahu-tahu kepalanya terangkat dan dia memandang ke depan seperti berpikir dan mengatur strategi. Hanya beberapa detik kemudian dia membalikkan badannya. Seakan sedang meminta kekuatan dari sang surya, kali ini dia memilih telentang dan kembali melanjutkan perlombaan dengan gaya dada.

Apa boleh menyudahi lomba dan keluar dari lintasan? Boleh banget. Belasan petugas lomba berperahu karet berjaga di sepanjang lintasan. Anytime they want to quit, these officers are ready to pick them out of the water. Sepanjang pengawasan saya, tidak ada peserta yang ‘menyerah’. Tapi siapa tahu pas saya tinggal-tinggal ke dapur ada yang keangkut .

***

These swimmers taught us something important . Mengingatkan saya pada salah satu running quote yang cukup tenar dari mendiang dr. George Sheehan, bahwa :

“It’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not
to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is
against the little voice inside you that wants you to quit.”

Lintasan berenang, bersepeda maupun berlari, adalah contoh terbaik untuk menggambarkan jalan kehidupan yang harus kita tempuh.

Anggaplah kita sedang berenang. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila ayunan lengan terhenti. Tentu sah-sah saja untuk sekali-sekali berhenti mengatur strategi dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh itu…memanggil petugas di perahu karet tadi, menepi di lintasan dan menunduk putus asa sambil berbisik : “I’m never gonna make it.”

Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi .

***

Buat umat muslim di seluruh penjuru dunia, sebentar lagi putaran waktu akan membawa kita memasuki lintasan tahunan yang mesti kita lewati sebulan penuh. Bulan Ramadan akan tiba dalam hitungan hari saja . Sebuah perlombaan yang mungkin bermakna sama dengan kompetisi nasional tahunan bangsa Irlandia ini. Sama-sama berupa triathlon.

Ya, ramadan tak ubahnya bagai lomba triathlon. Ada 3 hal yang harus kita lewati, berinteraksi dengan hawa nafsu pribadi, berinteraksi dengan sesama manusia dan berinteraksi dengan Sang Pencipta. Begitulah makna menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh bagi saya pribadi.

Tebak bagian mana yang tersulit? Sama dengan lomba mana pun . Eventually you learn that the competition is
against the little voice inside you that wants you to ‘quit’. Menyerah pada hawa nafsu sendiri (yang penting enggak makan enggak minum deh dari subuh sampai petang, sisanya bodo lah).

Menyerah pada egoisme kaum sendiri. Apa-apaan sih rumah makan tetap buka pas puasa? Tutup lo semua! Heloooooo, pernah memikirkan saudara-saudara muslim yang harus melewati bulan puasa di Negeri Minoritas Musllim? :D).

Apa pun itu, semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali kepada bulan suci penuh pengampunan di tahun ini. Marhaban ya, Ramadan, bagi saudara-saudara muslimku di Makassar, Depok, Jakarta, Jeddah, Athlone dan di seluruh penjuru dunia .

Teriring doa perdamaian pada saudara-saudara muslimku di Mesir, Suriah, Palestina, yang masih dan tengah mengalami konflik politik. Doa keselamatan bagi masyarakat Aceh yang untuk kesekian kalinya berduka akibat bencana alam.

Serta doa keteguhan hati bagi puluhan ribu saudara-saudara TKI ilegal yang masih mempertaruhkan statusnya di perpanjangan waktu masa amnesti di Kerajaan Saudi. Semoga Allah selalu melindungi kalian semua, memberikan anugerah kesabaran untuk selanjutnya membayar buah kesabaran tersebut dengan pengampunan dosa-dosa masa lampau dan rezeki berlimpah di masa mendatang. Amin, amin ya rabbal aalamiin .

Sekali lagi, izinkan kami semua kembali berjuang membersihkan diri di bulan penuh pengampunan di tahun ini ya, Rabbi. Marhaban ya, Ramadan.

Sungai Shannon, Maret 2013. Masih lagi dingin-dinginnya, nih :).
Sungai Shannon, Maret 2013. Masih lagi dingin-dinginnya, nih :).

***

Lomba Foto + Menulis Resensi di Koran

Oiya, tempo hari “Yamaha Motor Indonesia” mengadakan semacam photo contest gitu. Judulnya “Buku Jendela Impianku.” Peserta diminta berfoto dengan salah satu buku favoritnya. Terus di keterangan foto diminta menuliskan resensi buku.

Nah, eike tentu tak ketinggalan ingin bernarsis ria hihihihi. Foto-fotonya mah sebentar banget. Paling cuma 10 menit. Pulang dari nganter anak-anak + suami berenang, kita mampir di tepian Sungai Shannon. Apartemen kita kan emang di pesisir sungai ini. Jadinya kalau pulang, pasti ngelewatin salah satu spot bagus di sisi sungai yang ciamik buat foto-foto.

Foto-fotonya 10 menit, resensinya 4 jam! Huhuhuhu. Buku pilihan kali ini tebal punya :P. 400 halaman lebih. Bacanya sudah dari januari kemarin. Tapi kan mesti buka-buka lagi biar resensinya enggak asal jadi. Eh, ternyata baru sehari setelah deadline, pengumuman muncul. Alhamdulillah, juara 2! Horeeeeeee ^_^

pengumuman photo contest yamaha

Senang dong menang…pastinyaaaaa :D. Tapi langsung curiga, apa iya ini resensinya dibaca oleh juri? Terus nyadar, lahhh namanya juga “photo contest.” Tulisannya malah memang cuma pendukung saja.

Daripada mubazir, ditulisnya saja 4 jam, bela-belain tidur jam 1 malam ngejar deadline lomba :P, saya edit lagi terus dikirim ke rubrik “Ruang Perada” / resensi bukunya Koran Jakarta. Alhamdulillah, dimuaaaattttt :D. Enaknya Koran Jakarta ini, ada versi onlinenya juga :). Resensi saya ada di https://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/122521.

Sepertinya sudah diringkas juga oleh editor Koran jakarta. Berikut adalah versi aslinya :).

***

“Jas Merah” Para Ulama dalam Budaya Lampau Nusantara

Judul buku : Ulama & Kekuasaan, Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanuddin
Penerbit : Mizan
Cetakan : 1 / Juni 2012
Tebal (isi) : 397 halaman, total 496 halaman
ISBN : 978-979-433-691-5
Harga : Rp.85.000
Penulis resensi : Jiihan Davincka

Sebuah peristiwa politik (mungkin) tengah memasuki klimaks, setelah berbulan-bulan ikut menyeret isu ‘islam dalam politik ‘. Keislaman dalam bernegara tengah tergugat.

Menengok masa lampau tanah air, Islam tidak merekah dalam seketika. Tidak serta merta menjadi sebuah kepercayaan mayoritas di sebuah Negeri Khatulistiwa yang senyatanya berhamburan banyak budaya dan tradisi.

Sebuah paparan sejarah yang cukup bernas ditampilkan oleh penulis Jajat Burhanuddin dalam bukunya, “Ulama & Kekuasaan.” Menghamparkan aspek historis yang belum banyak terjamah yang membuat para ulama menancapkan posisi intelektual dan sosial dalam mempertahankan posisi penting mereka dalam Islam Indonesia. Pembahasan dimulai dari periode kerajaan-kerajaan Islam nusantara sebelum masa kolonial.

Munculnya kerajaan-kerajaan Islam tak lepas dari pengaruh para pedagang muslim yang mulai membanjiri pesisir Nusantara di abad ke-13. Setelah Kerajaan Samudera Pasai di Sumatera, kerajaan Islam mulai menuai keberhasilan di pulau Jawa dengan menampilkan kerajaan Demak di akhir abad ke-16. Di masa ini, kaum ulama menjadi bagian dari elite pemerintahan.

Pendekatan penyebaran Islam yang sama sekali tidak mengancam posisi raja membuatnya leluasa meraih pengaruh. “Islam telah dirumuskan dalam kerangka pemikiran politik yang memberi penekanan pada kemahakuasaan raja. Meskipun Islam dijadikan ukuran bagi raja ideal, ia tidak pernah menjadi basis evaluasi perilaku politik raja. Dalam diskursus Islam pada periode tersebut tidak ada peluang bagi rakyat untuk mempertanyakan hal itu kepada raja. Justru, Islam menjadi sumber pembenaran agama bagi para penguasa kerajaan absolutis di Nusantara, yang mencapai puncak di abad ke-17” (Hal.58).

Ide awal mengenai “Insan Kamil” (Manusia sempurna) yang dibawa kaum sufi ditantang oleh Islam yang berorientasi Syariat. “Berakhirnya kerajaan-kerajaan maritim di pesisir sering dipandang sebagai tahap akhir dari Islam kota dan kosmopolitan di pesisir. Pada saat bersamaan dianggap sebagai permulaan dari Islam tradisional yang berbasis di wilayah pedalaman Nusantara” (Hal.73).

Runtuhnya kerajaan, masuknya pengaruh kolonial, membuat para ulama mulai melepaskan diri dan membangun ranah sendiri di luar kerajaan. Muncullah pesantren di Jawa, surau di Minangkabau dan ‘dayah’ di Aceh.

Era ini membuka hubungan lebih jauh antara Islam nusantara dan Timur Tengah. Beberapa guru agama berguru ke Makkah dan Madinah. Selain menegaskan ajaran Islam yang berorientasi Syariat, terbukanya jaringan kepada kedua kota suci muslim tersebut mendatangkan orang-orang Arab di Nusantara sekaligus membentuk sebuah komunitas ulama Indonesia di Makkah, Ulama Jawi.

Semakin merebaknya anti kolonialisme di abad ke-19 membawa kaum ulama tampil sebagai penantang utama. Ulama dan komunitas santri pesantren menjadi kelompok utama dalam mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Mereka memberi justifikasi religius kepada pemimpin perang seperti Pangeran Diponegoro. Mengubah konflik internal keraton Jawa menjadi peperangan berdimensi agama.

“Politik Etis” membawa perubahan yang tidak sedikit bagi perkembangan komunitas Islam nusantara. Salah satu tokoh penting Islam yang dipersembahkan pada era ini adalah Raden Mas Tirtoadisurjo. Seorang priyayi yang memiliki minat sangat tinggi pada dunia jurnalisme. RM Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita, Medan Prijaji dan Putri Hindia. Lebih penting lagi, beliaulah pendiri Sarikat Dagang Islam.

Angin perubahan pun memunculkan reformisme Islam, terkait perubahan jaringan intelektual dari Makkah ke Kairo. Para ulama turut merespons dan memodernisasi pusat-pusat pengajaran Islam di pesantren-pesantren tanah air. Kelahiran organisasi Muhammadiyah yang digagas oleh Ahmad Dahlan di tahun 1912 merupakan salah satu buah reformasi Islam nusantara.

Tanpa disadari, kehadiran para reformis dianggap mengganggu otoritas para ulama tradisional. Pertentangan tokoh reformis vs muslim tradisionalis tergambar dari hubungan kedua sahabat, Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer. Kedua sahabat yang hubungannya memburuk sejalan dengan mencuatnya nama kedua tokoh ini sebagai aktor utama dari pertentangan 2 kubu tadi. Mas Mansoer akhirnya bergabung dengan Muhammadiyah dan memulai langkahnya hingga mencapai predikat Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Adapun Wahab Hasbullah, dengan restu ulama sepuh Hasyim Asyaari, mendirikan Nahdatul Ulama (NU) di tahun 1926. NU menjadi organisasi resmi bagi ulama tradisionalis seperti Muhammadiyah bagi kaum reformis islam nusantara.

Keterlibatan ulama di dalam politik riil merupakan cara lain untuk menegaskan keberadaan mereka pasca-kolonial. Mereka mulai menggunakan peranan beberapa posisi strategis di pemerintahan, seperti Kementrian Agaman, sebagai pelindung konstituennya. Cara ini menuai suara kritis dari tokoh-tokoh muslim baru yang menamakan diri, “intelektual Muslim.” HMI adalah salah satu bentukan organisasi yang mewakili kelompok ini.

Gerakan tarbiyah (pendidikan) yang muncul dalam kelompok-kelompok kecil adalah akar dari kehadiran sebuah partai dakwah, “Partai Keadilan” (PK) yang berdiri di tahun 1998. Sebelum pemilihan umum tahun 2004, PK mengganti nama menjadi “Partai Keadilan Sejahtera.”

Islam Indonesia kontemporer juga memunculkan dewan ulama yang disponsori pemerintah Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang menurut penulis, sebagian besar fatwa MUI dibuat dalam rangka justifikasi Islam bagi kebijakan-kebijakan pemerintah.

***

Kelemahan utama dari buku ini adalah cara penulisannya yang terlalu datar dan sungguh mudah memicu kebosanan. Yang membuat saya tak berkutik untuk tidak menyelesaikan 397 halaman isinya adalah ketertarikan saya (mungkin) terlalu besar pada sejarah. Topiknya pun tidak main-main. Membawa kita pada tamasya sejarah perkembangan Islam dalam rentang waktu beberapa abad lamanya. Kelengkapan referensi dan banyaknya aspek pendukung yang belum umum dibahas sangat menarik untuk dilewatkan.

Keberpihakan penulis pada ulama tradisionalis yang salah satunya ditunjukkan dalam kalimat, “Tidak ada yang lebih kuat tentang partisipasi ulama di Hindia Belanda yang tengah berubah selain pembentukan NU di tahun 1926” (Hal.13) tidak terlalu mengganggu keseimbangan isinya. Sekalipun untuk pembaca seperti saya, yang dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah yang cukup taat.

Buku ini favorit saya di awal tahun ini yang mungkin bisa menjawab pergulatan pemikiran bagi saya dan sebagian orang akan, “Masih perlukah membawa Islam dalam kehidupan politik tanah air?” Bahkan perdebatan yang menimpa kaum muslim sendiri, yang hingga saat ini masih merupakan komunitas terbesar di tanah air.

Salah satu ungkapan terkenal dari Bung Karno adalah “Jas Merah,” jangan sekali-sekali melupakan sejarah. “Ulama & Kekuasaan” adalah “Jas Merah” dari pergumulan elite muslim sebelum masa kolonial hingga puluhan tahun setelah kata “merdeka” resmi disematkan bagi bangsa besar ini. Selamat membaca :).

***

Ini hasilnya kenapa jutek begini? Padahal itu karena mataharinya terik lho, jadi sok-sok galak gitu hehehehe...
Ini hasilnya kenapa jutek begini? Padahal itu karena mataharinya terik lho, jadi sok-sok galak gitu hehehehe…

Tampil di Majalah Colours Garuda

Thanks to Facebook :P, saya jadi ditawarin oleh seorang editor lepas untuk menulis tulisan jalan-jalan di Majalah Colours Garuda, majalahnya lini penerbangan Garuda :). Tentu saja topiknya tentang tempat-tempat yang dijadikan tujuan penerbangannya Garuda. Termasuk Arab Saudi.

Nah, majalah-majalah ‘serius’ seperti Colours ini menuntut foto dengan kualitas ‘tinggi’. Untung saja saya punya banyak teman-teman yang hobi fotografi semasa masih di Jeddah dulu. Mereka tidak cuma sekadar hobi, tapi benar-benar keren-keren deh hasilnya ;). Sebenarnya mereka ini teman-teman kantor suami. Para telco engineers yang suka menghabiskan akhir pekan untuk hunting foto.

Hasil kolaborasi kami (saya + dua fotografer di Jeddah : Adwin W Zulfikar dan Wibowo Pujokongko Adi), tulisan + foto-foto ciamik khas Bumi Arab Saudi menjadi salah satu tulisan yang muncul di Majalah Colours edisi Juni-Juli tahun ini, “Pesona Bumi Arab Saudi.”

Tema yang saya angkat adalah “Pesona lain dari Tanah Haram.” Jadi, bukan magnet kota Mekkah dan Madinah yang diperlihatkan pada tulisan kali ini. Melainkan rekaman jejak alam dari 3 tempat lainnya, Al Baha-Al Hada-Al Hijr (Madain Saleh).

Seperti apa ketiga tempat yang belum banyak diketahui oleh khalayak dunia ini? Wah, kudu terbang pakai Garuda dulu baru bisa bawa pulang majalah Colours Garuda -nya hehehehe.

Saya cuma bisa ngasih snapshotnya sekadarnya saja ya ;). Mari dinikmati pesona wilayah barat Negeri Penjaga Dua Tanah Haram ini :

"Pesona Bumi Arab Saudi"Garuda page 2-3Garuda page 4Garuda page 5