Arti Penting Keluarga : God’s Gift to You

Fungsi Lembaga Keluarga : Ini adalah sebuah foto lama antara saya, ibu, kakak dan adik saya. Fotonya biasa-biasa saja. Tapi ketiga orang yang mengelilingi saya di foto ini bukan orang biasa. They’re my … heroes.

Fungsi Lembaga Keluarga : Kiri - kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama
Kiri – kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama

Ibu saya menikah di usia 15, dijodohkan dengan bapak oleh salah seorang paman. Setelah menikah, bapak dan ibu langsung hengkang ke kota Makassar dan memulai hidup mereka dari 0. Ibu melahirkan anak pertama di usia 16.

Saat memasuki gerbang pernikahan, saya dirundung banyak kecemasan. Apalagi ketika harus merantau ke luar negeri bersama suami. Apa kuat saat melahirkan nanti, apa bisa memasak / mengurus rumah tanpa bantuan asisten, apa bisa mengurus anak sendiri (sementara saya dari dulu tak suka anak kecil). Padahal saya menikah di usia terbilang cukup dewasa, 27 tahun.

Hamil anak ke-2 di luar negeri, harus mengasuh anak sulung yang belum mandiri di usia 2 tahun, didera rasa mual sepanjang hari selama nyaris 20 minggu sempat membuat saya sangat putus asa. Nekat ingin pulang dan melahirkan di Jakarta saja, meninggalkan suami sendiri di Negeri Orang.

Nasihat ibu yang selalu menguatkan saya, “Dari anak pertama sampai adikmu dulu, ibu selalu melahirkan di samping Bapak. Tidak pernah pulang ke kampung. Jangan dipikir-pikir tapi dihadapi saja. Kalau tiba waktunya, kau nanti kaget sendiri, betapa mudahnya semua bisa dilewati.”

Saya kadang tak percaya, ibu benar. When it’s time, it’s time. Voila! Semua terlewati begitu saja. Melahirkan tanpa sanak saudara di negeri rantau, bahkan cuma sehari di rumah sakit sudah harus pulang dan harus segera mengurus si kecil dan kakaknya dan urusan rumah tangga lainnya.

Pengalaman ibu mengajarkan, “Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you didn’t know existed (Linda Wooten).”

Tak ada manual khusus untuk menjalani karier sebagai seorang ibu. Pengalaman dan keberanian untuk menjalani semua ketakutan yang akan lebih banyak berbicara .

Kalau ibu mengajarkan saya banyak hal seputar kehidupan perempuan sebagai ibu, kakak saya yang ke-4, mengajarkan tentang passion. Sejak kecil, minatnya pada dunia mode sudah terlihat jelas. Setelah lulus kuliah di Makassar, kakak saya langsung pindah ke Jakarta. Kariernya dibangun dari bawah. Gaji sangat kecil untuk hidup di ibukota sebagai seorang asisten desainer.

Saat banyak kerabat yang meremehkan hobinya yang dianggap sebagai hal yang membuang-buang uang saja. Namun, dia tetap tekun menjalani mimpinya. Hingga akhirnya kini, kakak saya menduduki posisi penting di salah satu televisi swasta nasional di divisi wardrobe sekaligus menjadi seorang freelance fashion stylist. Bahkan baru-baru ini meluncurkan brand outfitnya sendiri.

Dia memicu saya kembali menekuni hobi menulis yang sudah belasan tahun saya lupakan. Suami saya suka menggoda, “Menulis di blog dan wall FB melulu. Mana ada uangnya.” Kakak saya mencontohkan, “Passion first, money will come along” .

Adik perempuan saya mengajarkan hal penting lainnya. Dari kecil, prestasi akademisnya yang tak secemerlang saya dan pembawaannya sebagai ‘anak gaul’, hobi jalan-jalan dengan mejeng dengan teman-teman sebaya, sering pula mendapat cemooh. Apalagi ketika adik saya gagal menembus UMPTN 2x berturut-turut. Faktor ekonomis tak memungkinkan dia leluasa memilih kuliah di universitas swasta.

Adik saya memilih tidak peduli, bersabar dan berdamai dengan semua tekanan, “Ah, ngapain disuruh kuliah. Dikawinkan sajalah. Memang bakatnya bukan di bidang akademis.”

Dia bersungguh-sungguh menghadapi kesempatan terakhirnya di UMPTN untuk ke-3 kalinya dan tembus di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Kembang.Tak cuma itu, adik saya lulus tepat waktu dan menggenggam ijazah dengan predikat Cum Laude.

Pelajaran penting dari kisah adik saya. “Forgive others not because they deserve forgiveness but because you deserve peace.” Apa gunanya memikirkan omongan miring dari orang lain yang hanya membuat diri terpuruk dalam energi negatif. Kebesaran hatinya untuk memaafkan dan melanjutkan hidup berbuah manis, as “Success is a best form of revenge” 😉.

Fungsi Lembaga Keluarga
Trio Gosip hahahaha (2007)

Terlahir sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara, hidup bersama berjejalan selama belasan tahun dalam sebuah rumah kecil, sempat membuat saya bete, “Punya saudara banyak bikin pusing saja dan nyaris tak ada privasi.”

Tapi senyatanya, tak perlu jauh-jauh saya mencari inspirasi dari tokoh-tokoh dunia atau semacamnya. Adalah ibu dan saudara-saudara kandung sendiri yang sering menguatkan saya melewati serial-serial kehidupan yang seringnya tak luput dari hal-hal yang tak mudah 🙂.

Betapa keluarga adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan oleh Allah. Walau mereka adalah bagian dari takdir dan tak bisa kita pilih-pilih sesukanya, tapi selalu bisa kita pilah hal-hal indah yang bisa kita petik dari hubungan bersama mereka 🙂.

You don’t choose your family, They’re god’s gift to you, as you are to them -Desmond Tutu-

Fungsi Lembaga Keluarga
Kita sering banget foto ber-4 hehehe (ujung kanan itu Tini, sepupu)

Mengatur keuangan keluarga ala Gober Family

Seorang teman menyarankan saya untuk ikut lomba blog soal cara mengatur keuangan keluarga. Sebagian teman memang selalu menyangka saya jago mengatur keuangan . Nol besar! Hahaha.

Dari dulu, saya tak pernah pandai dan ogah mengurus gini-ginian. Trust me. Sejak menikah hingga kini, saya tak pernah mengendalikan keuangan keluarga 😛. Suami saya yang saya anggap lebih cocok mengatur keuangan keluarga. Kami memang bukan pasangan yang memilah-milah pekerjaan berdasarkan ‘gender’ dan kelaziman pada umumnya. Tapi tidak berarti kami selalu berbagi pekerjaan apa pun.

Suami tak suka memasak. Jadi, urusan dapur 100% tanggung jawab saya. Kalau urusan berbenah, dia masih kebagian 10% lah hehe. Mengurus anak? Sama-sama dong . Nafkah utama keluarga dipegang oleh suami. Sang istri ya cuma iseng-iseng cari duitnya. Penghasilan saya pribadi tak pernah diandalkan untuk kebutuhan keluarga, kecuali atas keinginan saya sendiri.

Adapun mengatur  keuangan keluarga , saya nyaris tidak ikut campur sama sekali . Cuma ho-oh, ho-oh saja kalau suami bercerita soal investasi, “Ape kate lu dah.”

***

Saya memang dari dulu tidak pernah ribet masalah uang. Alhamdulillah, memang tipe yang stabil urusan belanja hehe. Dari suami bergaji rupiah, dolar hingga euro, peralatan make up saya nyaris tidak ada perubahan. Merek yang saya gunakan tidak pernah berganti. Baju-baju apalagi.

Paling ogah kalau didikte sama merek. Kualitas bahan mirip tapi karena embel-embel huruf yang menempel di selembar baju atau sebuah tas kok bisa harganya melambung jauh? Betapa luar biasanya yang namanya gengsi itu 😀.

Urusan kuliner juga tidak pernah rewel. Lidah kampung, cuy. Sejak kecil tak pernah terlalu menyukai daging sapi. Jadi, bye-bye steak dan kawan-kawan . Makanan Jepang yang katanya sehat (namun harganya buat saya tidak sehat itu :P) juga enggak pernah masuk dalam daftar makanan favorit. Apalagi sejak mengadopsi pola makan Food Combining, konsentrasi urusan perut hanya berkisar pada sayuran dan buah-buahan saja .

Tas bagaimana? Apalagiiiiii. Paling tidak pernah peduli. Saya ingat kakak saya, si fashion stylist keluarga yang sekarang sudah menjadi fashion stylist beneran 😛, hobi betul mencela tas-tas saya. Waktu masih gadis dan bekerja dengan penghasilan lumayan, dia sering memborbardir saya, “Ih, punya gaji gede pakai tas 50 ribu!” Hahaha. Maklumlah, beliau koleksinya dahsyat, boooo.

Biarpun begitu, saya ini ratu kepo. Dari dulu, saya rajin menghapal brand-brand ternama yang bolak balik muncul di majalah-majalah fashion kakak saya. Ya biar gak goblok-goblok amat kalau diajak mengobrol soal fashion. Tapi jangan harap saya berpikir untuk mempersenjatai diri saya dengan barang-barang seperti itu. Untuk saya pribadi, kenyamanan adalah mutlak! Dimana defisini utama kenyamanan termasuk kenyamanan buat kantong tentu saja. Hahaha.

Sepatu-sepatu? Sejak jatuh cinta pada merek Crocs, mendadak dunia fashion sepatu berhenti berputar buat saya. Jadi, sejak 6 tahun terakhir ini, koleksi pembungkus kaki ini ya cuma 1 pasang Crocs dan 1 sepatu kets. Sudah. Pernah malindi candy saya raib saat umrah, ya saya beli crocs lagi sebagai gantinya. Enggak pakai survey, langsung ke gerai Crocs, pilih-bungkus-bayar!

Makanya, janganlah tanya-tanya urusan diskon kepada saya. Saya enggak demen pusingin diskon. Di Indonesia, Matahari dept Store selalu menjadi tujuan berbelanja, dari zaman gadis tinggal di Depok hingga beranak 2 dan melanglang buana hingga ke gurun dan Irlandia. Kebutuhan suami dan anak-anak juga begitu.

Waktu tinggal di Jeddah, saya mah jadi tim hore saja jika teman-teman berburu ke mal saat gerai-gerai brand ternama memasang tulisan ‘SALE’ di dinding-dinding kacanya. Kadang ikut beli 1-2 buah barang. Di Jeddah, gerai Red Tag idola saya. Enggak diskon saja harga pasti miring, kok. Di eropa bagaimana? Ih, ada Penny’s gitu lho. Beli sweater harga 3 euro, Cyin! Hahaha.

Belanja groceries agak berbeda. Untuk makanan, saya lebih suka yang segar-segar. Mau diskon mau enggak, saya selalu membeli sayur dan lauk bervariasi. Merek-merek lain seperti minyak goreng, asal tipenya cocok, tinggal cari yang paling murah . Simpel.

Soal liburan juga begitu. Aduh, saya mah bukan tukang jalan-jalan. Ada pun hobi menulis tulisan jalan-jalan, itu semata-mata untuk mencari sesuap honor saja. Saya hobinya menulis fiksi. Tapi saya tahu tulisan jalan-jalan itu potensi dimuatnya besar. Jadi deh, selain rajin menulis fiksi, saya senang mengirim tulisan jalan-jalan ke media. Sekalian memanfaatkan hobi suami yang suka fotografi.

Kadang-kadang senang sih liburan. Tapi enggak perlu ke tempat aneh-aneh. Duduk-duduk gelar di tikar di pantai dengan teman-teman semasa di Jeddah dulu itu malah liburan favorit saya. Tinggal di luar negeri tidak pernah diniatkan untuk liburan tapi ya untuk bermukim.

Jadi, saya juga bingung kalau ditanya cara mengatur keuangan keluarga. Asli, saya enggak pernah mikirin gini-ginian *tutupMuka*. Mencatat pengeluaran juga tidak pernah *blushing*. Ibu-ibu pemalas. Habisnya sebagian besar pengeluaran pasti urusan belanja dapur. Gih, catat sendiri tuh jenis sayur, buah-buahan yang dibeli per 3-4 hari sekali.

Anak-anak pun tidak pernah dibeliin macam-macam. Kami sepakat untuk disiplin soal gaya hidup kepada mereka. Cara terbaik untuk mengajari mereka ya melalui contoh nyata . Lucu kan, kami selektif dalam membeli mainan dan semacamnya, tapi kami sendiri lenggak lenggok depan mereka memakai barang-barang mahal hehe.

Gadget-gadget an, baik saya dan suami sama-sama enggak doyan.

Intinya mungkin dalam beberapa hal, pengendalian diri jauh lebih penting daripada pengendalian keuangan hehehe. Sekaligus menguatkan mitos, “Orang baik berjodoh dengan orang baik.” Paman gober? Ya jodohnya Bibi Gober hahaha.

Btw, saya menulis ini agar teman tidak menganggap saya malas ikut lomba menulis kalau hadiahnya enggak gede hihihi. Jangan gitu ah, lomba yang hadiahnya beberapa potong rendang saja saya ikuti kok asal memang ada yang bisa ditulis . Menulis status panjang-panjang di wall FB yang enggak ada duitnya saja selalu rajin kok ;). 

***

mengatur keuangan keluarga
Gambar : quotesloveandlife.com

Every Woman’s Best Man

Di agama Islam ada sebuah hadis yang menceritakan ketika seseorang datang kepada Rasulullah untuk menanyakan, kepada siapakah dirinya harus berbakti. Rasulullah menjawab, “Ibumu … kemudian ibumu. Kemudian ibumu, lalu ayahmu…”

Tiga kali berturut-turut nama kata ibu disebut-sebut barulah kata ayah dimunculkan. Apa ini berarti seorang ayah tidak lebih penting daripada ibu? Belum tentu.

***

Cerita pewayangan memperkenalkan kita pada tokoh Begawan Bagaspati. Nama aslinya, Bambang Anggana Putra. Seorang ksatria tampan yang dikutuk menjadi raksasa oleh seorang dewa di khayangan. Saking saktinya, Anggana Putra pernah berhasil menaklukkan seorang raksasa hebat (Candrabirawa).

Candrabirawa akhirnya bersemayam dalam diri Anggana Putra yang membuat Anggana tidak akan bisa mati kecuali atas keinginannya sendiri. Ajian sakti mandraguna, Candrabirawa sendiri, boleh diwariskan oleh sang pemiliknya nanti.

Anggana Putra sebenarnya pria yang tak cuma sakti namun juga santun. Konon, kesalahpahaman akibat hobi becandanya yang membuat sang dewa murka. Aih, kudu ati-ati ini kalau begini *langsungNgaca* .

Padahal, undangan ke khayangan bagi Anggana Putra adalah memintanya memilih salah satu bidadari di sana untuk diperistri. Anggana Putra langsung meminta maaf ketika berkelakar, mengatakan akan memilih istri dari sang dewa (becandanya nekat bener *ngelapKeringat*).

Walaupun pundung, Sanghyang Manikmaya tetap memenuhi janjinya untuk mengizinkan Anggana Putra mencomot salah satu satu bidadari di khayangan. Dipilihlah Dewi Dharmastuti. Masih menahan amarah, sang dewa memberi ultimatum, “Setelah sang hapsari melahirkan anakmu, dia akan meninggalkanmu kembali ke khayangan.”

Tak hanya harus menanggung kutukan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang raksasa, Anggana Putra juga harus menduda ketika akhirnya Dharmastuti melahirkan seorang anak perempuan.

Anggana Putra mengikhlaskan takdirnya. Memilih hidup tenang sebagai raksasa bijaksana, seorang diri membesarkan Pujawati, buah hatinya bersama sang hapsari, dengan segenap cinta. Saking luar biasanya asuhan sang ayah, Pujawati tak pernah merasa merana karena ditinggal ibunya. Her life was just … perfect .

Nama Anggana Putra pun berganti … Resi Bagaspati. (Resi = Begawan)

Pujawati mewarisi kecantikan seorang bidadari, turunan dari ibunya. Singkat cerita, terjadi pertemuan antara Pujawati dengan seorang pria tampan. Naksir-naksiran terus jadian. Bahkan, akhirnya menikah. Pria yang menikahi Pujawati bukan pria sembarangan. Melainkan seorang calon prabu yang waktu itu masih bernama Narasoma.

Konon, Narasoma kaget dan tidak siap ketika mengetahui calon bapak mertua ternyata seorang raksasa. Sementara Narasoma adalah pewaris tahta sebuah kerajaan. Malu dong la yaowww punya bapak mertua seorang raksasa.

Bagai buah simalakama, cintanya pada Pujawati sudah kadung mendalam. Sekian lama menyimpan kegelisahan, Narasoma pun curhat ke Pujawati. Agar tak menyakiti pujaan hati, Narasoma mengatakan kegalauannya dalam bentuk teka teki.

Pujawati yang bingung, balik curhat ke sang ayah. Bagaspati, bukan resi biasa. Kebijaksanaannya yang tinggi membuatnya langsung mengerti maksud sang calon menantu.

Sembari curhat soal Narasoma, Pujawati pun mengungkapkan besarnya rasa cintanya pada Narasoma, “Aku takut ayah, dia akan pergi meninggalkanku. Bantu aku. He means everything to me.”

Permintaan Pujawati tidak main-main. Bagaspati awalnya berusaha menasihati putrinya perihal perangai Narasoma yang menurutnya tak menunjukkan seorang laki-laki yang patut. Pujawati malah bete.

Namun, peribahasa yang mengatakan, “Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan” menuai kebenarannya dalam kasus ini. Bagaspati menyadari, kebahagiaan putrinya adalah tujuan hidupnya.

Bagaspati tak perlu waktu lama untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya. Dipanggilnya Narasoma. Narasoma sebenarnya keki juga karena Bagaspati mengetahui maksud hatinya dengan mudah.

Sebelum meninggal, Bagaspati sudah memanggil Candrabirawa keluar dari raganya. Tadinya, Candrabirawa enggan untuk berpindah tangan kepada anak muda yang dianggapnya sebagai sosok yang sombong dan mementingkan diri sendiri. Selama ini, Candrabirawa sudah nyaman bersemayam dalam tubuh sang resi nan bijaksana.

Bagaspati meyakinkan Candrabirawa, “Bagaimana pun, dia pria pilihan putriku.”

Candrabirawa akhirnya bersedia diwariskan kepada Narasoma. Sebelum merelakan nyawanya di tangan keris Narasoma, Bagaspati memintanya bersumpah, “Menantuku, walau putriku hanya anak gunung, tolong jangan kau sakiti dirinya nanti jika kelak kau menjadi raja. Berjanjilah untuk menjaga cintanya seumur hidupmu.”

Karena memang naksir berat, Narasoma langsung iya-iya saja. Apalagi dia pun bernafsu memiliki ajian Candrabirawa. Usailah hidup sang resi di tangan calon menantunya. Narasoma sukses mempersunting Pujawati dan mendapatkan ajian sakit mandraguna.

Kelak, Narasoma memang menjadi orang penting dalam kisah Mahabharata. Gelarnya adalah Prabu Salya. Prabu Salya sendiri akhirnya takluk di tangan Yudistira. Candrabirawa memang bisa dikalahkan oleh ksatria berdarah putih yang tidak memiliki nafsu duniawi.

***

Versi ‘modern’ dari kisah Bagaspati mungkin bisa kita lihat di film Armageddon. To be honest, walaupun pencinta drama, ane kagak demen ama ni film dan tidak pernah tuntas menonton. Tapi sinopsisnya kira-kira mirip kan, ya? CMIIW .

Seorang ibu tentu punya tempat istimewa di sudut hati terkhusus dalam benak masing-masing anaknya. Namun, tak berarti cinta Ayah terkesampingkan . Tiap anak adalah buah hati dari 2 orang sekaligus, ayah dan ibunya.

Salah satu keinginan terbesar seorang perempuan di hari pernikahannya, selain hadirnya calon mempelai laki-laki, adalah berada di samping ayahanda tercinta. Bersyukurlah bagi yang diberi kesempatan untuk menghadapi hari bahagia itu dengan kehadiran kedua pria terbaik tersebut.

Sementara, sebagian perempuan hanya sebatas memimpikannya saja.

Gambar : searchquotes.com
Gambar : searchquotes.com

Bakti kepada ibu tidak melupakan kita pada kasih ayah, kan? . As for most women, a father is always be their best man.

Menuju sepertiga ramadan terakhir, selain bersungguh-sungguh memanfaatkan momentum suci untuk meraup amal semaksimal mungkin, jangan lupa mendoakan selalu kedua orang tua, ya. Baik ibu maupun ayah. Whether they’re still here with us or not .

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”

Artinya :”Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”

***

Mari berPuisi

Eh, katanya hari puisi nasional gitu, ya, hari ini. Memperingati tanggal kelahiran Chairil Anwar, tepat di 26 Juli.

Sebagai orang yang meretas jalan menjadi penulis (beneran), merangkai jejak dari penulis blog dulu (hihihihihi) … Mari bikin puisi! *uhukUhuk*

Kalau Chairil Anwar punya “AKU”, eike punya … “DIA” 😛

DIA

(Jihan davincka)

Itulah rupawan tanpa pujian
Itulah kemolekan tanpa sanjungan
Itulah keindahan tanpa paksaan
Adalah dia, istimewa dalam kesunyian

Inilah sayang tanpa bunyi
Inilah kagum tanpa alibi
Inilah hangat tanpa mentari
Beginilah aku, terpuruk tanpa nyali

***

Ahahahahahahaha *bungkuuussss*

20110902-IMG_1659

Happiness is not Given … It is Made :)

***

Untuk saya, film “Life is Beautiful” besutan sutradara Roberto Benigni adalah contoh paling indah untuk menggambarkan peribahasa, “Happiness is not given, it is made.”

Gambar : kootation.com
Gambar : kootation.com

Film yang benar-benar menguras emosi ini ditayangkan pertama kali tahun 1997. Tapi saya menontonnya di acara kampus, 3 atau 4 tahun kemudian. Lupa acara apa, pokoknya acara nonton gratis di aula. Gratis? Ikuuuutttttt. Hahaha.

Saat itu, saya tak tahu sinopsisnya cuma dengar-dengar kalau filmnya bagus, semacam komedi gitu. Jadi, saya tak siap ketika menonton. Ketawa-ketawa iya, tapi nangis juga paling kenceng.

***

Tokoh utamanya adalah Guido, pria italia keturunan Yahudi yang di awal film sibuk memenangkan cinta Dora, ibu guru cantik yang tinggal di kota yang sama. Masalahnya, Dora telah bertunangan. Ngikik-ngikik, deh, nonton kreatifnya Guido merebut perhatian Dora. Finally he did win her love. Makanya, awal film saya tidak sadar kalau ini komedi tragis. Kirain beneran film lucu.

Setting waktu segera berganti, 5 tahun telah berlalu. Diantara mereka berdua, sudah ada Joshua, sang buah hati.

Saya sudah mulai curiga ketika ada tentara Nazi yang digambarkan mulai menerjang masuk ke Italia. Aih, film apa pula ini. Singkat cerita, para pria dan wanita keturunan Yahudi ditangkap dan digiring ke suatu tempat, kamp konsentrasi.

Guido dan Joshua tak luput dari penangkapan. Dora sebenarnya bukan keturunan Yahudi. Tapi, ibu mana yang tahan terpisah dari kedua belahan jiwanya. Dengan sukarela, Dora memaksa masuk ke dalam kereta yang kemungkinan akan membawa seluruh penumpangnya ke gerbang kematian. Guido tak sanggup membujuk Dora agar turun dan merelakan Guido dan Joshua saja yang pergi.

Yang terjadi di kamp konsentrasi inilah yang menjadi pesan kuat dalam cerita ini. Bagaimana Guido sekuat tenaga berusaha ‘mengelabui’ Joshua mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp konsentrasi. “It’s just a game, Son. We just have to win it. Anything you see, it’s nothing but a game.” Begitu kira-kira ide yang ditanamkan Guido pada anak laki-lakinya.

Bayangkan, sedang berada di ujung maut, demi kebahagiaan anaknya, Guido mampu mengerahkan kreatifitasnya untuk membuat segala hal pahit dalam kamp tersebut menjadi hal-hal yang menyenangkan. “See? It’s just a game.” Begitu katanya berulangkali jika keraguan mulai merasuk pada pikiran si Joshua kecil. Berkali-kali Guido sukses membawa Joshua lolos dari perangkap maut.

Banyak kejadian lucu memang. Tapi di hampir setengah film, eike meweeeeekkk aja kerjaannya hehehe.

Saya pikir akan berakhir happy ending, ketika tentara sekutu datang untuk menyelamatkan para tawanan yang tersisa. Kenyataannya, di detik-detik terakhir, Guido tertembak mati juga. I’m still crying while I’m writing this imagining the moment he put this little Joshua inside a trash bin. Joshua nyengir-nyengir di dalam tong sampah melihat ayahnya digiring oleh seorang tentara Nazi. Guido mengedipkan matanya dari jauh seolah tak terjadi apa-apa. Joshua tak tahu itulah pandangan mata terakhirnya dengan sang ayah.

Ini adalah film flashback. Ternyata, narator yang bercerita itu adalah Joshua dewasa . Guido sukses mengelabuinya. Joshua tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp itu hingga ia dewasa. Dalam kebingungannya ketika pasukan Nazi kocar kacir digempur tentara sekutu, Joshua akhirnya dipertemukan kembali dengan ibunya. Di kamp, laki-laki dan perempuan dipisah tempat tinggalnya.

Adegan yang cukup mengharukan adalah ketika mobil tank para sekutu lewat di hadapan Joshua. Joshua melotot dan bersorak gembira, kira-kira kalau gak salah dia berpikir begini, “Wow, we win! This is the prize that Daddy always tells me. A real tank.” Setelah sekuat tenaga mengendalikan tangis tanpa suara di balik tisu, di adegan ini, eike histeris hahahaha. Duh, mudah-mudahan enggak ada yang ingat *tutupMuka*. Makanya, sang ratu drama jadi belajar juga. Kalau mau nonton film gini-ginian, be alone! .

***

Film ini sungguh luar biasa. Mengundang kritik dari beberapa pihak Yahudi yang memprotes adegan-adegan di kamp yang dianggap kurang sadis dan kurang menggambarkan teror yang dialami leluhur mereka. Ah, saya rasa memang bukan pesan itu yang ingin diajarkan Benigni pada pemirsanya.

Tak sedikit teman-teman saya ketika di Jeddah dulu yang selalu merasa betapa menderitanya hidup di Saudi. Tertutup lah, panas lah, kasihan anak-anak lah, orang arab menjengkelkan lah, nyetir di Jeddah bikin stres lah. Lucunya, tak sedikit teman-teman kami di tanah air yang berkomentar iri saban ada yang pamer-pamer foto depan Ka’bah, “Ah, kapan ya bisa ke sana.”

Ada kerabat yang malah sebal semasa tinggal di Eropa, katanya enggak enak, hidup bagai pembantu, segala kerjaan rumah harus dikerjakan sendiri. Yang tinggal di Jakarta sibuk menghujat macet, bete sama cuaca, kesal sama harga barang-barang mahal, kalau nyetir sebel sama angkot dan metro lah. Apalagi pas bensin naik. Sama, saya juga sering sih kayak gitu hihihihi.

Lain kali, saat kita merasa takdir begitu kejam memperlakukan kita, ingatlah Guido . Enakan mana tinggal di Jeddah atau dikirim ke kamp konsentrasi? hihihihihi. Ngeri amat padanannya hahaha.

Ketika wajah-wajah penghuni lain hanya pasrah menunggu ajal, Guido membuktikan satu hal penting bagi kita semua, “Happiness can be made … anywhere, anytime, anyway!”

Ah, tinggal di mana pun mana ada yang enak-enaknya doang. Tinggal di Jakarta? Satu paket dong sama macet dan segala macamnya. Tapi ingat kemudahan-kemudahan lain yang ada di sana yang kelak akan kalian rindukan saat jauh dari tanah air .

Tinggal di Saudi bikin stres? Ah, kamu bisa saja. Ingat harga bensin, ingat harga barang kebutuhan pokok yang serba nyaman . Ingat wajah-wajah iri teman dan kerabat saban situ pamer-pamer foto di Nabawi . Tinggal di eropa keren? Aih, kalau liburan doang iya kali hehehe. Tapi emang keren sih kalau dipikir-pikir ahahahahaha. Becandaaaaaa 😛.

Tak terasa sudah memasuki setengah bulan ramadan, banyak-banyak mengingat anugerah, yuk . Ingat, kalau si Joshua saja sudah girang bukan kepalang melihat tank di akhir petualangannya di kamp konsentrasi, apalagi janji Allah bagi umat yang banyak bersabar dan bersyukur dalam setiap tahapan kehidupannya. Enggak mudah, ya? Ya siapa bilang masuk surga itu gampang .

Note ini saya buat kemarin sore di wall FB. Selamat melanjutkan ibadah puasaaaaa . Yang di tanah air bentar lagi berbuka, nih. Selamat berbuka, ya. Untuk yang di Eropa, husss jangan lihat-lihat jam, buka puasa masih lamaaaaaaaa, hahahaha.

***