[Cerbung] Temanku Cina (2)

Tentang Dia (Bagian 2) –> bagian 1 nya di sindang :D. 

Oleh : Jihan Davincka

***

Tahun demi tahun berlalu.

Tidak seperti hari biasanya, sore ini, rumah si Cina agak ramai. Astaga, melihat dia dan papi-maminya saja aku suka pusing. Sekarang, ada belasan orang-orang bermata sipit memenuhi ruangan besar di tengah-tengah rumahnya.

“Jangan bengong. Masuk sini.” Tiba-tiba tanganku ada yang menarik.

“Ada acara apa?” Tanyaku penasaran ketika kami berdua sudah duduk berdua diatas ranjang besar di kamarnya.

“Sahabat macam apa kau ini? Hari ini aku ulang tahun. Kau tak bawa kado untukku?”

“Oh ya?”

Dia mencibir. “Tak ada kado, tak boleh makan kue.”

Aku tertawa. Dan akhirnya melihat tumpukan kotak-kotak kado warna-warni di sudut kamarnya. Sebagian malah kertasnya sudah dikoyak-koyak.

“Tak sopan. Membuka kado saat tamu belum pulang.”

Dia menjawab sambil meraih salah satu kotak yang setengah terbuka. “Orang-orang aneh. Umurku sudah 15 tapi mereka masih saja memberiku boneka.”

“Hahahahahaha.”

Lalu tawaku terhenti, teringat tujuan utamaku menemuinya. Dia lalu memandangku lekat-lekat. Seolah tahu kalau aku mau bercerita sesuatu.

“Ibu mau aku pake kerudung.”

“Terus?” Dia memandangku aneh. “Semua temanmu pakai kerudung. Dan kalau mengaji dulu kau selalu pakai juga, kan?”

“Ini beda. Jadi, aku disuruh terus-terusan berkerudung. Kalau keluar rumah aku harus berkerudung terus.”

Dia masih terlihat bingung. Tapi sesaat kemudian, berkata dengan nada penuh semangat, “berarti kau harus punya banyak kerudung. Papiku menjual bahan-bahan buat kerudung juga. Apa warna kesukaanmu? Nanti aku ambilkan di toko. Untukmu, setengah harga saja.”

Sekarang aku yang menatapnya dengan bingung. “Kau ini…aku sedang bertanya padamu, menurutmu apa aku harus berkerudung seperti kata Ibu?”

Dia malah kembali mencecarku dengan mata berbinar-binar. “Kau suka warna ungu, kan? Akan aku pilihkan banyak motif untukmu. Tapi menurutku, kau pun cocok memakai warna biru. Aku sudah bilang, untukmu, setengah harga saja. Kau boleh mencicilnya kalau kau mau.”

Lihatlah dia, mendengarku saja tidak mau. Dan sore itu, aku pulang dari rumahnya dengan rasa kesal.

Sungguh hari itu bukan hari keberuntunganku. Baru saja mau masuk rumah, suara Ibu sudah melengking, “darimana kau? Dari rumah anak Cina itu, kan?”

Sebelum aku sempat menjawab, Ibu sudah kembali meracau, “lihatlah kalau kau terus-terusan bergaul dengannya. Kau tidak mau pakai kerudung. Semua temanmu sudah berkerudung. Dia pasti mengajarimu yang tidak-tidak. Kenapa, sih, kau terus-terusan main ke rumahnya? Mesti bagaiman Ibu lagi memberitahumu.”

Dan masih panjang lebar Ibu berbicara dengan nada tinggi sebelum Bapak datang dan menyuruhku masuk kamar. Di dalam kamar, aku membenamkan kepalaku dalam bantal. Dari balik pintu, masih terdengar jelas suara Bapak yang sedang berdebat dengan Ibu.

Aku berpikir-pikir, mungkin sebaiknya aku berkerudung juga seperti teman-temanku yang lain. Mana tahan aku mendengar Ibu yang terus-terusan menghardikku tiap hari. Dan mungkin aku akan mempertimbangkan bahan-bahan kain yang ditawarkan oleh anak Cina itu.

Tiga hari kemudian aku datang lagi ke rumah di ujung jalan itu. Ternyata, dia sudah menyiapkan banyak sekali bahan-bahan kain untukku. Warnanya ungu dan biru. Ketika aku mengambil beberapa buah bahan, dia menuliskannya dalam sebuah notes kecil. Namaku, nama-nama bahan yang aku tidak mengerti, beserta jumlah rupiah yang harus aku bayar. Setelahnya dia menatapku dengan nada puas, “jangan khawatir. Untukmu, setengah harga.”

***

Dua tahun kemudian, tak banyak yang berubah. Aku masih sering muncul di pintu rumahnya. Dan kemudian kami lebih banyak mengobrol di kamarnya.

Akhir-akhir ini, dia sering bercerita tentang laki-laki yang ditaksirnya. Aku menyimak dengan malu-malu. Dan sekali itu, dia mendesakku untuk bercerita hal yang sama.

Aku akhirnya bercerita panjang lebar dengannya mengenai pria yang aku taksir itu.

“Oh, jadi selain kau, si Nora pun juga suka padanya? Dan laki-laki itu sepertinya juga lebih suka pada Nora. Begitu maksudmu?” Dia mengangguk-angguk setelah aku selesai menumpahkan isi hatiku.

“Ya, seperti itulah.”

Dia nampak tercenung, sepertinya berusaha mengingat-ingat sesuatu. Lalu melihat ke arahku dengan serius, “tapi, Nora memang lebih cantik darimu.”

Aku sangat tersinggung. “Memangnya kau kenal dia?”

“Kau yang menceritakannya tadi. Dia teman mengajimu juga, kan? Semua anak kecil yang suka mengaji dulu itu selalu lewat depan sini. Berteriak-teriak seperti orang gila, cinaaaaaa…cinaaaaaa…” dia menirukan sambil tertawa-tawa.

“Teman mengajiku banyak. Ada Nisa. Ratna juga.”

“Oh, aku tahu si Nisa itu. Anaknya Pak Haji. Dia suka datang kesini juga sama Pak Haji. Tapi dia malu-malu kalau disuruh masuk ke kamarku. Oiya, kakak laki-lakinya Nisa juga suka ikut.”

“Ha? Laki-laki yang aku ceritakan tadi itu kakaknya Nisa.” Pipiku menghangat. Pasti wajahku sekarang merah padam.

Dia langsung terbahak-bahak. “Laki-laki seperti itu yang kau suka? Apanya yang menarik?”

Wajahku mungkin lebih merah lagi. “Tadi kau bilang Nora lebih cantik dariku. Sekarang kau bilang laki-laki itu tidak menarik. Kau benar-benar mau membuatku kesal.”

Dia tertawa kecil sekarang. “Menurutku, kau harus lebih sering pakai rok panjang seperti teman-temanmu. Kau ini kemana-mana pakai celana panjang.”

“Apa urusanmu?”

“Masa kau tak tahu? Laki-laki kebanyakan lebih suka dengan perempuan yang pakai rok.”

“Sok tahu sekali. Kau tahu aku tak suka pakai rok.”

“Berarti laki-laki yang kau suka itu laki-laki kebanyakan. Tapi, tenang saja. Aku rasa ada laki-laki yang lebih suka perempuan bercelana panjang. Mungkin jarang. Tapi pasti ada.”

“Tapi kau bilang Nora lebih cantik dariku.”

“Menurutku dia memang lebih cantik.”

“Mana mungkin kau tahu dia. Kami sudah lama berhenti mengaji di mesjid. Kau hanya mau mengejek.”

“Aku tidak pernah keluar rumah tapi aku tahu teman-temanmu.”

“Kau hanya ingin membuatku kesal. Jangan-jangan kau juga suka dengan kakaknya Nisa.”

Dia terbahak-bahak lagi. “Mana mungkin aku suka dengan laki-laki kebanyakan.”

Aku tersenyum mengejek. “Kau kira banyak laki-laki yang suka kepadamu?”

“Mana aku tahu. Kenapa kau marah-marah?”

Aku memang tak pandai berdebat dengannya. Lagian mataku sudah memanas. Dia pasti menertawakan aku kalau aku sampai menangis di hadapannya. Dan sore itu, entah untuk keberapa kalinya, aku pulang dari rumahnya dengan rasa kesal.

(Bersambung ke sini)

***

Gambar : clipartof.com
Gambar : clipartof.com

[Cerbung] Temanku Cina

Tentang Dia

Oleh : Jihan Davincka

***

BAGIAN 1

Tanah di ujung jalan itu cukup luas. Bertahun-tahun ditinggal pemiliknya, lama-lama dijadikan tempat membuang sampah oleh para tetangga.

Aku melewatinya selalu dengan hati berdebar. Bangunan rumahnya sudah hampir tidak ada. Seminggu setelah bangunan itu kosong, rumah batu yang sempat berdiri kokoh di sana dibongkar orang-orang.

Dulu-dulu aku suka mengusap-usap mataku jika lewat sini. Aku tidak mau terlihat menangis. Aku takut kalau orang-orang tahu mataku basah.

***

Gambar : igotitall.net
Gambar : igotitall.net

Ingatanku melayang jauh. Sangat jauh ke belakang.

Aku masih kelas satu SD. Rumah besar di ujung jalan itu tiba-tiba dipugar. Yang tadinya dikelilingi oleh pagar seng, sekarang hanya ditutup dengan pagar kayu kecil-kecil.

Dan sebulan kemudian, saat aku pulang mengaji, aku berdiri berlama-lama di depan rumah itu. Catnya baru semua. Baunya membuat kepalaku sedikit pening. Tapi masih jauh lebih enak daripada bau apek yang dulu selalu menguntit jika kita lewat sana. Pintunya terbuka.

“Mau apa kau?” sebuah suara menghardikku.

Aku kaget sekali. Aku pikir itu suara hantu. Tapi aku melihat kepala anak perempuan menyembul dari balik jendela.

Aku menantangnya, “memangnya kenapa?” padahal aku sebenarnya takut dan sudah ingin lari.

Anak perempuan itu menghilang. Aku tersenyum puas. Dia tentu takut padaku. Aku baru mau meninggalkan tempat itu, ketika dia sudah berdiri di depan pintu.

“Aku punya banyak mainan.” Katanya dengan lantang.

Aku melihatnya jelas-jelas. Aku yakin sekali dia sebaya denganku. Matanya sipit. Kulitnya putih sekali. Dia memakai rok renda-renda. Kaosnya warna putih bersih tanpa lengan. “Kau cina,” kataku setengah mengejek.

“Tapi aku punya banyak mainan.”

“Tapi kau cina.” Dan aku berlari menjauh, pulang ke rumah.

Aku berteriak-teriak kepada Ibu, “Ibuuuu, ada orang cina! Ada orang cina!”

“Kau ini kenapa? Mandilah sana. Ganti bajumu. Anak gadis berteriak-teriak seperti itu. Apa tidak malu?”

***

Tapi besoknya dan besoknya lagi, sepulang mengaji, aku melambatkan langkahku jika melewati ujung jalan itu. Tapi jendela tempat aku melihat kepalanya pertama kali selalu kosong.

Akhirnya setelah seminggu penasaran, hari ini aku berhenti di ujung jalan itu. Membuka kerudung kecilku dan berteriak, “haloooo.”

Pintunya bergerak. Terbuka setengah, dan dia pun muncul, “aku punya banyak mainan.”

“Aku juga punya.” Aku mengeluarkan setoples penuh kelereng yang aku punya.  Aku suka main gundu.

“Hahahaha, itu punya anak laki-laki. Aku punya banyak boneka.”

“Mana?” Tantangku.

Dia tiba-tiba keluar dan menghampiriku. Menarik tanganku kuat-kuat dan menyeretku, “Masuk sini.”

Biarpun takut tapi aku sangat penasaran. Dia membawaku ke dalam sebuah kamar. Mataku terbelalak. Luasnya kamar ini. Dan setengah dari ruangannya dipenuhi mainan.

“Sekarang kau percaya kan?”

“Ini punyamu semua?”

“Tentu saja. Tapi kau boleh main kalau mau.”

Sejak hari itu, setiap pulang mengaji, aku selalu mampir ke rumahnya. Tapi tak berani berlama-lama. Aku takut Ibu mencariku. Dan lebih takut lagi kalau Ibu memarahiku.

***

Setelah berbulan-bulan aku suka diam-diam bermain ke rumah anak itu, Ibu menegurku di suatu sore.

“Kata Ical, kau suka main ke rumah besar itu, ya?”

“Kenapa memang?” aku menjawab takut-takut.

“Kau kan harusnya mengaji, kau ini bagaimana?”

“Aku mengaji. Aku ke sana pas pulang mengaji. Tidak apa-apa kan?”

Ibu terdiam tapi kelihatan gelisah. “Kenapa tidak bermain bersama Ical lagi. Atau Nora atau Nisa. Biasanya kau bermain bersama mereka.”

“Misye punya banyak boneka.”

“Misye? Siapa Misye? Kau kan juga punya boneka.”

“Misye punya boneka barbie. Itu boneka mahal. Nisa juga bilang itu boneka mahal. Tanya saja pada Nisa.”

Ibu kelihatan bingung.

Bapak keluar dari kamar. Menyalakan rokoknya dan ikut duduk-duduk bersama kami. “Kenapa kalian? Kau bolos mengaji, ya.” Bapak mengepulkan asap rokok, melirik ke arahku.

Ibu mendekat ke Bapak dan membisik-bisikkan sesuatu di telinganya. Bapak mengernyitkan dahinya sebentar terus langsung tertawa.

“Kau tidak takut kalau dia menyuruhmu makan babi?” Bapak berbicara sambil tertawa.

“Dia punya boneka barbie.” Tantangku.

Bapak tertawa lagi. Kali ini dia melihat ke arah Ibu. “Biarkan saja. Dia tidak bolos mengaji, kan?”

Ibu memandang tidak suka pada Bapak. Aku merasa menang. Aku ikut duduk di sebelah Bapak. “Dia pelit, Pak. Tidak pernah menawariku makanan. Tapi dia punya boneka barbie.”

Bapak tertawa-tawa lagi.

***

(Bersambung ke sini :D)

Eid Mubarak 1434!

Selamat hari lebaran buat semuanya ^_^.

Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amalan kita semua :).

Tahun ini lebarannya lumayan juga. Untuk ke-4 kalinya lebaran di Negeri Rantau, jadi sudah tidak drama-drama amat hehehe. Sudah terbiasa.

Hari terakhir ramadan, di buka puasa terakhir tahun ini, kami diundang ke rumah teman Malaysia untuk buka puasa bersama. Setelah salat magrib berjamaah, diadakan “Takbir Raya.” Kami duduk bersama sambil membaca takbir. Terus… ya pulang dong ah :P.

Paginya, di hari raya, hanya suami yang berangkat salat Eid. Anak-anak malah belum  bangun hehe. Makannya juga biasa-biasa saja. Enggak diniatin masak khusus. Terus, kita foto-foto, deh hihihihi.

Eid 1434

DI ruang tamu dulu. Terus ganti baju, ceritanya mau bikin semacam foto keluarga yang baik dan benar begitu. Settingnya dipilih di teras belakang. Padahal cuacanya lumayan dingin dan berangin. Tentu saja, semangat narsis mampu mengalahkan cuaca, hahahaha.

_MG_6690_1_2-3

Intinya, cuma bilang yang di kalimat awal tadi : Eid Mubarak, Everyone ^_*. Mohon maaf lahir dan batin :).

Eid mubarak 1434Lebih khusus lagi, postingan ini memang mau pajang foto-foto doang, sih hahahahaha. Setelah sekian lama terisi dengan postingan-postingan serius <— alasan 😛

 

Lihatlah Warna pada Cahaya

Waktu kuliah, saya meniatkan untuk menyelesaikan kuliah di semester ke-7. Seorang teman bilang begini, “Model bossy kayak lo mah skripsi aje. Jangan ambil Student Project. Entar stres sendiri.”

Antara mau sok-sok mau membuktikan kalau saya ini bisa, lhooooo, diajak bekerja sama dan termakan ucapan pembimbing akademik, “Kalau mau berkarier di bidang profesional, kerja kantoran, mending ambil student project saja. Lumayan, lho, dapat ilmunya,” saya memutuskan mengambil jalur non skripsi.

Mata kuliah seminar lancar satu semester. Diantara ke-3 anggota, perempuannya cuma 1, drama bisa diminimalisir hahaha. Kami bertiga punya kelebihan berbeda-beda, sinerginya sangat bagus dan kami bertiga terbilang sukses membawakan presentasinya.

Saya gagal wisuda di bulan februari karena student project molor. Bisa diduga saya stres sendiri. Tetap memaksa memasukkan jadwal presentasi akhir untuk slot pertengahan maret.

Working with 4 others in Student Projects :D (Source : scotland.gov.uk)
Working with 4 others in Student Projects 😀 (Source : scotland.gov.uk)

Di tim kami, 2 laki-laki, 3 perempuan. Kedua teman perempuan lain, tanpa sepengetahuan saya, mengubah jadwal presentasi dengan alasan belum siap. Mudah ditebak, eike mengamuk bak singa. Tidak tanggung-tanggung, walaupun kedua teman ini terhitung kawan dekat, saya telponin satu-satu. Ini masih modal telepon umum di warnet sebelah kosan, Bo’. Waktu mau membayar di kasir, mas-mas penjaganya sampai grogi gitu, lho. Secara ya, eike berteriak-teriak kayak orang gila sekitar setengah jam. Hahaha.

Akhirnya kami tetap presentasi juga. Hanya mundur 2 minggu. Begitu lulus, saya sudah niatkan untuk mentraktir teman satu tim, hitung-hitung sebagai sedikit permintaan maaf atas tingkah laku yang sangat menjengkelkan nan gengges selama proyek itu berlangsung hihihihi. Padahal dana super tiris. Dua bulan terakhir itu saya memutuskan untuk cuti mengajar sebagai tutor matematika untuk anak-anak ekspat. Mau konsentrasi biar beneran bisa lulus februari.

Apa hendak dikata, walau akhir maret dinyatakan lulus secara akademik, saya tetap harus membayar uang kuliah di semester 8 walau tak ikut kuliah lagi. Tapi happy ending juga, langsung dapat kerja. Alhamdulillah.

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Mungkin karena itu saya tak pernah punya banyak teman dekat. Enggak pernah punya geng perempuan. Abisnya, dikit-dikit pundung, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngamuk. Siapa pula yang mau berteman dengan orang gila? 😀.

And then… I came to Jeddah. Hidup sehari-hari berteman tembok dan waktu itu belum maksimal hobi menulisnya, memaksa saya untuk mau tak mau kudu bergaul lebih intensif. Kaget juga dengan lingkungan baru ini.

Waktu mencoba berbasa-basi dengan seorang teman, sambil tersenyum seimut mungkin, “Wah, tasmu bagus, lho, Mbak.”

Dia menjawab cepat, “Iya. Di Indo ini harganya 24 juta! Kalau di Jeddah cuma 4000 riyal.”

Langsung syok, gak lo? Hahahaha. Apa-apaan ini?

Belum lagi waktu saya bertanya soal sofa.

“Beli di IKEA saja,” kata salah seorang teman. “Eh, tapi mahal, sih. Kan kamu baru datang. Sudah, menabung dulu saja. Kita-kita aja dulu nunggu 2 kok baru beli sofa. Mending uangnya ditabung buat beli rumah di Jakarta. Pasti belum punya rumah kan di Jakarta?”

Aduh, kalau tidak ingat lagi di Negeri Orang, rasanya pengin cakar-cakar muka waktu itu! hahahahaha. Sombong amat, pikir saya.

Berhari-hari saya mengeluh pada suami. Minta pulang ke Jakarta lah, menganggap mereka semua enggak asyik diajak berteman, dan bla-bla-bla lainnya.

Suami saya hanya menjawab dengan satu kalimat, “Berhari-hari kok cuma bisa melihat jelek-jeleknya orang saja. Ayolah, baru juga kenal. Lagian, apa kamu sendiri tidak punya sifat jelek?”

Plak! Berasa ditampar keras. Saya jadi berpikir-pikir. Astagfirullah. Kalau diingat-ingat, selama masa-masa perkenalan pun, saya terhitung sudah berani membully orang. Kebiasaan lama, suka ngeledekin orang depan umum. Suka berbicara dengan nada pedas nan tajam.

Misalnya, nih, ada teman menyodorkan masakannya dan bertanya, “Gimana, enak, gak?”

Teman-teman lain tanpa pikir-pikir langsung merespons, “Enak, kok. Enak banget. Rasanya pas.”

Saya dong, tembak langsung, “Kurang garam gini kaleeee…” <— minta ditampol gak, tuh? 😛.

Pelan-pelan saya mengubah cara berpikir saya. Agak berat, karena sudah ngelotok terlalu lama. Tapi keterpaksaan membuat semuanya kudu dilewati. Kalau enggak punya teman, bunuh diri aja kali tinggal di Jeddah hihihihi.

Bulan demi bulan, perubahannya mulai terasa. Bergaul lebih dekat dengan mereka. Mulai mengesampingkan hobi sebagian besar mereka yang sangat bertentangan dengan falsafah hidup saya *tsaaahhh*. Pelan-pelan mulai kelihatan, mereka punya keunikan masing-masing dan sarat dengan kebaikan yang selama ini tertutup karena eike sibuuuuukkkk aja nyari yang jelek-jeleknya 🙁.

Lucunya, malah berteman akrab dengan salah satu madam yang dikenal sebagai ratu belanja . Saya juga bingung, kok bisa senang sekali mengobrol dengannya. Seru aja gitu. Paling suka main-main ke rumahnya. Ngobrol lama gak kerasa, malah santai saja ngabisin kue-kue bikinannya <— tidak tahu diri 😛.

Walau tak suka belanja, sesekali saya ikut tur bersama mereka. Ampun dah para madam. Begitu keluar dari toko, saya pasti sibuk nyari bangku, dengkul pegal-pegal pengin istirahat sebentar. Mereka, seolah enggak ada capeknya, begitu keluar pintu, langsung sibuk jelalatan cari toko mana lagi yang bisa dimasukin. Hahahaha *ketawaStres*.

Shopping Ladies :D (Source : www.clipofart.com)
Shopping Ladies 😀 (Source : www.clipofart.com)

Mereka juga jago-jago masak. Tidak segan-segan mengadakan cooking class di rumah mereka, menyediakan waktu-tenaga-biaya pribadi dimana biasanya yang benar-benar memasak cuma 2-3 orang, sisanya (sekitar 6-8 orang) ngerumpi la yauuwww hehehe.

Seorang yang usianya jauh lebih muda juga menunjukkan bahwa usia bukan ukuran kedewasaan. Suatu kali kami terjebak dalam perselisihan sengit. Teman ini yang paling tenang dan tidak ikut-ikutan, tetap berkawan baik dengan kedua kubu yang sudah benar-benar saling meledak. Good for her 🙂.

Seorang yang lain mengajarkan keikhlasan, setia menolong dalam hal apa pun, kapan pun, kepada siapa pun . Ah, ya ampun, saya sering berpikir jangan-jangan berteman dengan saya adalah cobaan buat mereka hehehe.

Makanya, bukan hanya kesadaran bahwa kepindahan kami di awal tahun ini akan menciptakan jarak sedemikian jauh dengan kedua kota suci Mekkah dan Madinah yang membuat kami sempat ragu apakah akan pindah atau tidak. Minggu-minggu pertama yang terasa sulit beradaptasi dengan mereka malah menjlema menjadi minggu-minggu perpisahan yang penuh drama. Mewek melulu. Sedih banget rasanya, seumur-umur enggak punya geng, ternyata takdir membawa kami pergi menjauh dari mereka.

Source : www.bigstockphoto.com
Source : www.bigstockphoto.com

Kami? Iya, karena suami saya juga begitu. Menurut suami, “Di Jeddah enak, ya. Karena kita temenannya benar-benar antar keluarga. Suami saling cocok dengan suami. Istri-istri juga begitu. Anak-anak apalagi.”

Walau saat perpisahan di taman dan saat di bandara, eike steril dari airmata, tidak berarti kesedihannya sudah padam. Cuma ya, malu saja rasanya kalau saya membiarkan perasaan mengambil kendali. Ih, gengsi dong, menangis bombay depan umum. Jaga wibawa *benerinPoni*.

Tidak berarti setelah mengenal mereka saya akan mengubah prinsip. Eit, keluarga gober is keluarga gober . Justru berada di tengah-tengah geng elit ini mengajarkan kami, hey, berteman tidak mesti seragam, lho . It’s ok to be different . Lagian mana seru, satu bawa Nissan, semuanya ikut-ikutan. Satu pakai LV, semuanya membebek. Sesekali perlu ada yang pakai Yaris dan pakai tas Jarir biar bisa jadi bahan lucu-lucuan .

Kalau satu kelompok semuanya orang narsis ya mana seru. Kalau semuanya diam, ya siapa dong yang ngajak ngakak-ngakak. Kalau semuanya bawel, siapa dong yang bertugas mendinginkan suasana . Bahkan untaian pelangi terlihat indah karena ada 7 warna berbeda yang merekat menjadi satu yang digambarkan dalam sebuah lirik, “Pelangi, pelangi alangkah indahmu … merah, kuning, hijau, di langit yang biru.”

Kalau cuma satu warna namanya bukan pelangi . As “Strength lies in differences… not in similarities” .

my angels jeddah

***

Bodoh kalau mengira kita hanya akan bisa berteman dengan baik dan benar dengan orang-orang yang serupa dengan kita 🙂.

Saya pun terlalu sering mengeluhkan banyak hal. Waktu student projects kuliah, saya lupa. Diantara semua anggota, hanya saya yang ngebet pengin lulus. Sisanya masih harus berjuang di Kerja Praktik. Saya paksakan mereka berpacu mengikuti cara saya. Saya anggap mereka yang tak cakap. Tak konsisten lah, egois lah, padahal coba yaaaa … *sodorin kaca ke diri sendiri*.

Di Jeddah, saya gampang betul memberikan penilaian buruk kepada teman-teman baru saya waktu itu. Padahal lupa, memangnya situ sudah sempurna?

Ingat dong, sama-sama manusia … seperti tercantum dalam salah satu ayat suci, “Manusia, tempatnya salah dan lupa.” Berlaku untuk semua orang yang merasa dirinya manusia . Situ bukan malaikat, kan? 😛.

Allah sudah menciptakan tiap insan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pandai-pandai mengenali kekurangan diri sendiri sebelum menuntut kesempurnaan dari orang lain. Lagipula, manusia yang sempurna bukanlah seseorang yang tak pernah berbuat salah. Tapi mereka yang berbuat salah kemudian menyadarinya dan meminta maaf dengan tulus . Walau sulit, lebih sempurna lagi bila berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama .

Maka dari itu, menjelang ramadan yang akan segera berakhir ini, saya meminta maaf ya kalau ada salah-salah kata atau pun status yang menyinggung, baik yang disengaja maupun yang sangat disengaja hehehe .

Untuk madam-madamku di Jeddah, “If there ever comes a day when we can’t be together keep me in your heart, I’ll stay there forever (Winnie The Pooh)” As for me, you all are forever in my heart  (macam menggombal ke pacar saja, ya, hehehe).

Akhir kata, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Tidak berarti kalimat ini menandakan akhir ramadan karena masih ada waktu lho untuk memanfaatkan jam-jam terakhir untuk terus mengais amal di bulan penuh rahmat ini . Dengan harapan yang seragam … “semoga Allah menerima amalan kita semua.”

Amin, amin ya rabbal aalamiin :).

***

Nampang Lagi di Leisure-Republika :D

…untuk ke-3 kalinya! Hehehe. Sekali lagi dapat gelas cantik :D.

Dua tulisan sebelumnya selalu masuk di rubrik “Jalan-jalan Religi” yang isinya cuma 1 halaman. Belakangan Leisure-Republika menghapus rubrik ini, jadi tinggal ada 1 rubrik jalan-jalan saja, yang panjangnya hampir 2 halaman penuh.

Di awal ramadan, karena kangen Jeddah, iseng-iseng cek-cek album foto lama. Jadi ingat jalan-jalan ke Bahrah di bulan Januari tahun ini. Sekitar sebulan sebelum hengkang dari Jeddah. Terus ingat juga waktu itu kita sering ke North Corniche, wilayah Corniche Road yang baru saja dirampungkan sesaat sebelum kami pindah dari sana.

Ditambahkan dengan cerita kuliner Indonesia yang memang marak banget di kota Jeddah ;). Pokoknya urusan makanan, asoy geboy deh tinggal di Jeddah. Pantas saja pas di Jeddah, enggak jago-jago masak hahahahahaha. Banyak warteg gitu lho :P.

Oiya, yang berminat mengirim tulisan jalan-jalan ke Leisure Republika, caranya gampang banget, kok. Ketik di ms word dengan panjang tulisan sekitar 8000 an karakter (bukan kata ya :P) plus foto-foto yang diattach terpisah (jangan dimasukin ke dalam file wordnya hehe). Jumlah foto minimal 8 buah, dengan resolusi sedang atau tinggi, ukuran tiap foto minimal 400 KB. Lokasi tempat liburan enggak mesti di luar negeri. Dalam negeri juga boleh :).

Ikutan ngirim yuuuukkk ^_^. Honornya lumayan lah buat jajan bakso (ampe buncit :). Sekitar 700-800 ribu rupiah katanya (untuk yang 2 halaman ini). Oiya alamat emailnya … leisure@rol.republika.co.id 😀

Republika 2
Hal 39 Leisure-Republika edisi selasa 6 Agustus 2013