#DearSon, Fly Abandonedly into The Sun

Nabil & Narda (in their baby pose :D)
Nabil & Narda (in their baby pose :D)

***

Memiliki anak laki-laki memang berbeda dengan anak perempuan. Kata ibu mertua, anak perempuan itu sedari kecil sudah bisa dimintai tolong. Misalnya punya adik, kakak perempuan sudah punya inisiatif mengambilkan diaper pengganti saat acara ganti popok. Kalau dibiarkan bermain berdua dengan adik laki-lakinya, naluri si kakak perempuan akan otomatis menjaga adiknya.

As for me, tidak masalah :D. Laki-laki, perempuan, sama saja. Melahirkan anak pertama dan kedua, sejak dalam kandungan, saya tidak pernah berharap jenis kelamin tertentu. Di USG pada trimester ke-2, baik kehamilan pertama dan kedua, saat dokter memberitahu jenis kelamin si janin, rasa bahagianya tetap maksimal ^_^.

Ada pun bila kedua bocah laki-laki saya ini menguras energi mamanya lebih banyak, tidak masalah juga. Panjang lebar tentang ini sudah pernah saya bahas di postingan yang ini, “Because One Day Mommy, I Won’t be This Small.”

Suami saya mengaku. Dia mengharap anak perempuan agar katanya kalau kami sudah tua nanti, ada yang menjaga. Hehehe. Kok sudah diniatin dari sekarang, sih, Bang? :P.

Tapi, alasan suami masuk akal juga. Saya langsung berkaca tidak sebatas kepada ‘rumit’nya hubungan saya dan ibu mertua saya, tapi terhadap hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuannya. Menyadari saya punya 2 anak laki-laki, seketika langsung terpikir, “Sooner or later, my time will come .”

Mama dan anak-anak

***

#DearSon, hamil kalian berdua sama-sama tidak mudah buat mama. Kecele dengan istilah ‘morning sickness’. Because in fact, rasa mual menyerang tidak hanya di pagi hari, tapi di sepanjang hari! Kompak sekali kalian :D. Membuat mama kewalahan dari minggu ke-5 hingga minggu ke-17. Belasan minggu yang penuh ‘warna’lah pokoknya.

Belum lagi ‘persaingan terselubung’ penuh ‘drama’ dengan sesama mama-bunda-ibu lainnya yang tanpa sadar terus berlangsung. Mulai dari masa menyusui (ASI vs sufor), masa MPASI (buatan atau alami), memilih diaper (disposable atau clodi ramah lingkungan yang harganya tidak ramah itu huhuhu :P), jadi SAHM atau WM, etc, etc, etc. Siapa bilang menjadi mama itu murni urusan pribadi, Nak? :P. Therefore, help your wife to get thru this someday, ya ;).

Lalu, ketika kalian masuk sekolah, profesi mama otomatis bertambah. Dari yang tadinya sebagai perawat dan koki, mama harus memainkan peran baru sebagai seorang guru. Aduh, mata pelajaran kalian lumayan berbeda dengan masa kecil mama dulu. Susah, euy. Bahkan kurikulum negeri bule sekarang pun bikin mama lagi-lagi kecele. Kata siapa kurikulum bule enggak seribet di tanah air? :D.

Lalu, kalian akan abege dan remaja, makin sibuklah mama jadi satpam. Hingga akhirnya, kalian akan dewasa kemudian … jatuh cinta kepada perempuan lain.

three

Lalu, kalian akan menikahi pujaan hati kalian dan mengayuh biduk kecil kalian, perlahan menjauhi kami, mama dan papa. Disitulah mungkin mama akan mempertaruhkan rasa keikhlasan mama. Karena mama juga manusia biasa dong, ah.

Masa iya, setelah susah payah merangkai kalian hingga suatu hari menjadi sehebat yang kalian bisa, mama bisa santai-santai saja ketika tiba saatnya harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi jika ternyata, perempuan itu berbeda dengan yang mama harapkan.

Di titik inilah, mama akhirnya sadar, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Mama seharusnya harus pandai-pandai mempersiapkan diri. Dimulai dengan, menjalin hubungan baik dengan oma kalian, mamanya papa :D. Mungkin semua kekhawatiran mama masih dalam angan-angan, sementara oma sudah harus berhadapan langsung dengan kenyataan itu .. sekarang.

***

#DearSon, mama juga ingin mempersiapkan yang lain. Dari sekarang, mama mati-matian menjaga kesehatan. Sejak awal tahun ini mama serius menjalani pola hidup sehat ala food combining. Tidak semata-mata karena mama ingin sekeren Angeline Jolie (hihihihi), tapi lebih ke alasan kesehatan. Mama ingin tetap bugar di masa tua nanti agar kalian tak perlu mengkhawatirkan mama :).

Foto TUM3

Maafkan mama juga ya, kalau suka kebablasan di depan laptop :P. Walau mama melepaskan karier di kantor tapi tidak ingin mengabaikan kebahagiaan mama sepenuhnya. Mama serius menjalani hobi menulis mama agar di masa tua nanti mama punya kesibukan. Untuk mencegah mama menghabiskan  hampir sepanjang waktu melirik layar ponsel berharap kalian menelepon mama. Dan kalau kalian tidak menelepon, mama takut mama akan berprasangka buruk pada istri kalian.

#DearSon, mama percaya, tak ada kebahagiaan yang bisa mama bagikan untuk kalian bila mama sendiri kesulitan berdamai dengan kebahagiaan mama sendiri. Tapi tenang, sekarang ini, kalian adalah prioritas mama. Tanya sama papa, deh ;). Sebesar apa pun cinta mama untuk kalian, mama minta sedikit pengertian bahwa mama ini tidak sempurna-sempurna amat. Sekali-sekali stres kalau mau ikut lomba blog atau menulis naskah pesanan. Hahaha.

_MG_2571

Biar kelak kalian bisa membanggakan mama di hadapan istri kalian, di depan cucu-cucu mama, “Eh, Nenek itu penulis ternama, lho. Keren ya Nenek. Udahlah langsing dan sehat, jago menulis pula.” Aduh, mama narsis sekali, ya hihihi.

#DearSon, walau sedari sekarang mama berusaha keras memupuk rasa ikhlas dan mempersiapkan diri jika saatnya kalian berlayar di dunia kalian masing-masing, sadarilah. Mungkin di saat itu, sekali-sekali mama akan cemburu atau iri. Sekali lagi, mama manusia biasa :).

But I’ll do my best ;). Untuk membiarkan kalian menjadi yang kalian mau, memilih jodoh yang kalian inginkan, mengikhlaskan apa pun jalan yang kalian pilih, semata-mata karena cinta. Yang konon katanya, “Cinta itu berarti sanggup melihat orang yang kita cintai bahagia walau kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”

Tapi mama yakiiiiiin sekali. Cinta kita, antara mama dan kalian, selamanya akan memiliki tempat khusus di hati kita masing-masing. Tempat yang tidak akan terganggu walau kita tak akan bersama dalam satu atap lagi. Suatu hari nanti.

negeri paman syam

#DearSon, pada akhirnya mama mengambil kesimpulan bahwa membesarkan kalian seperti merawat seekor kupu-kupu. Pas banget dengan lirik lagu Tante Mariah Carey yang satu ini,  “Butterfly” :).

Butuh energi lebih untuk membesarkan kalian dari seekor ulat hingga bersayap sempurna. Untuk akhirnya … terbang dan pergi melanglang buana. Itulah yang memang seharusnya kalian lakukan. Pergilah sejauh yang kalian bisa :). Mama sendiri sangat bahagia bisa mendapat kesempatan tinggal di berbagai tempat. My son, pengalaman adalah harta tak ternilai yang harus kalian perjuangkan hingga sejauh mana sayap kalian mampu menerbangkan kalian :).

Fly my son(s), fly away my butterflies, fly abandonedly into the sun :). Adapun mama akan tetap menjadi mama. Selamanya mencintai kalian, sebesar yang mama bisa :).

Now I understand to hold you

I must open up my hands

and watch you …

Spread your wings and prepare to fly

For you have become a butterfly

Fly abandonedly into the sun

(Butterfly, Mariah Carey)

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=xO0DoCqjdYM]

Proyek #DearSon ini digagas oleh para MakMin dari Kumpulan Emak-emak blogger, tempat kami para emak-emak yang jari-jarinya bawel ini bernaung hehehehe. Sistemnya semacam tongkat estafet.

Saya sendiri ditunjuk sebagai pemegang tongkat pertama langsung dari MakMinnya, Mak Indah. Setelah saya, tongkatnya saya lempar ke Mak yang satu ini nih yang bercerita tentang Mas I’am nya di sini :). Monggo dicek langsung ke TKP :D.

***

‘Drama’ Paspor Hijau Tua

paspor indoMinggu lalu kami mengurus visa Schengen ke Dublin. Prosesnya lumayan bikin bete dan hampir ngeluarin taring dan tanduk di Austrian Embassy :D. Supir taksi di Dublin pake salah jalan pula. Sudah bayar mahal-mahal, kami berempat harus berjalan kaki sejauh 1 km menuju gedung kedutaannya.

Hampir satu jam ditanyain macam-macam sama orang kedutaan. Sampai-sampai saya pun ditanyain, “Mau ngapain ke wilayah Schengen?” Ya, suami eike pan tugas ke sono, lah gue mau ngapain coba? Zzzzzz -_-. Bangku pun tak ada. Kami kudu berdiri depan loket.

Susah payah suami menunjukkan nama saya dalam invitation letter. Eaaahhh, si mbaknya minta surat nikah segala. Maunya yang asli, enggak mau via email. Gue gigit juga lu! Hahaha. Masih kurang ya udah dikasih slip gaji, dikasih fotokopi ini itu. Padahal kata rekan suami yang dari India, dia cuma ditanyain sekitar 10 menitan.

Minta birth certificate anak-anak lah, nanya asuransi sampai detail sedetil-detilnya lah, macam-macam deh. Ampun, Mak. Disangkanya kita mau ngemis apa di negaranya? Bang, keluarin semua surat rumah di Jakarta! Hahaha. Menghina sekali orang-orang ini sama WNI. Entar kalau Indonesia sudah jadi raksasa ekonomi, eike mau geol-geol depan mereka, ah. Aamiin *khusyuk*.

Dan puncaknya adalah… proyeknya dibatalin, dong! Belum rezeki ini ke mainland :(. Tetap semangat . Walaupun rasanya masih keki banget ya inget ‘nyinyir’nya mbak-mbak di Austrian Embassy kemarin. Nantikan kami di lain kesempatan ya, Schengen ^_^.

***

Begini deh nasib pemegang paspor warna hijau tua. Waktu pertama kali mendarat di Dublin 6 bulan lalu juga, susah payah melewati imigrasi. Sampai petugasnya agak bingung awalnya melihat paspor-paspor kami, “Kalian ini dari negara mana, sih?” :D. Di Saudi disangkain TKW melulu, di sini, (mungkin) saban ngurus visa mau ke  mana-mana kudu adu urat dulu di kedutaan hihihihi.

Iri juga dengan teman dari Malaysia. Malaysia bebas visa ke seluruh wilayah Schengen dan UK. Sedangkan non Uni Eropa lain seperti warga Indonesia, walau memiliki resident permit Irlandia, kudu pakai visa kalau mau ke UK. Huhuhu. Gagal kan kemarin nengokin ponakan yang baru lahir. Maafkan sepupu kalian ini ya, Will & Kate :P. Visa ke UK juga maharani harganya.

Dalam urusan ‘kesaktian’ paspor, India harusnya di bawah Indonesia. Tetapi perantau asal India sudah terkenal dimana-mana. Jadi, biasanya mereka enggak diinterogasi macam-macam. Kata suami, mungkin karena di India jarang peristiwa terorisme.

Tapi ada unsur untung-untungan juga. Karena ada teman yang bercerita, dia dan keluarganya biasa-biasa aja tuh pas mengurus visa schengen. Enggak yang gimanaaaa gitu. Waktu suaminya apply bisnis visa ke UK juga biasa-biasa saja. Sementara beberapa teman yang sudah lama bermukim di Australia sudah memutuskan untuk mengganti warna paspor.

Kalau saya pribadi sih, sebete apa pun kami dibuatnya, belum pernah kepikiran ganti paspor, nih :P. Lagian mana sanggup eike berlama-lama di negeri dimana harga tempe sama dengan harga satu kilo daging! Hahahaha. Pokoknya untuk saya dan suami, Indonesia tanah air beta lah. Tempat berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata :).

***

Setinggi Langit, Diantara Bintang, Untuk Jakarta

Nama besar Presiden RI pertama, Soekarno, masih bergema di KTT GNB 2012. Dikutip oleh pemimpin Iran, Khameini :

“….tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Sukarno, satu dari para pendiri gerakan ini di Konferensi Bandung 1955 yang legendaris, dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan.”

Sebelum ikut memprakarsai ASEAN bersama Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand di Bangkok 1967, Indonesia telah lebih dahulu berperan aktif dalam pembentukan Gerakan Non Blok. Di Bandung, tahun 1955, bersama petinggi negara dari Mesir-Yugoslavia-India-Gana, Soekarno menggagas gerakan Non Blok dalam sebuah pertemuan yang berlabel Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika.

Aktifnya Indonesia sejak dahulu menunjukkan kematangannya yang cukup mumpuni dibanding negara-negara lain ASEAN dalam berinteraksi di forum internasional.

Jakarta, Diplomatic City of ASEAN

gambar : www.merdeka.com
gambar : www.merdeka.com

KTT ASEAN ke-21, yang bertempat di Kamboja tahun 2012 lalu, menelurkan suatu gagasan baru. Yakni peluncuran pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) oleh para pemimpin negara ASEAN dan negara mitra dialognya (India-Jepang-Cina-Selandia Baru-Australia-Korsel).

RCEP sendiri ditujukan untuk harmonisasi antara kerjasama ASEAN dengan masing-masing negara mitra tadi yang sudah berjalan selama ini. Misalnya perjanjian tentang perdagangan bebas antara ASEAN dan China.

Pembentukan kerja sama RCEP akan menjadi prestasi besar bagi ASEAN sebagai pengelola  perekonomian tidak hanya di kawasan Asia, tetapi juga dunia. Dalam pembentukan RCEP, Indonesia kebagian peran sebagai koordinator yang tugasnya memperjuangkan kepentingan ASEAN, memberi manfaat dan mempertahankan sentralitas ASEAN. 

Kepercayaan yang diemban Indonesia dalam keanggotaan ASEAN cukup dominan. Ditambah lagi dengan kehadiran gedung Sekretariat ASEAN yang sudah selesai dibangun sejak tahun 1981 di ibukota negara, Jakarta. Dilengkapi dengan bukti kematangan dalam pergaulan internasionaly secara organisasi, cukup wajar jika Jakarta dinobatkan sebagai Diplomatic City of ASEAN, ibukotanya negara-negara ASEAN.

Saat ini DKI Jakarta tengah dipimpin oleh duet maut, Jokowi-Ahok. Sejak memenangkan Pilkada DKI tahun lalu, pasangan ini terus meroket dengan terobosan-terobosan positifnya.

Jokowi (gambar : bisnis.liputan6.com)
Jokowi (gambar : bisnis.liputan6.com)

Jokowi sendiri cukup bergairah dalam menjawab tantangan ini. “Kami akan melakukan apa pun untuk membuktikan potensi kami sebagai tuan rumah ASEAN.”

Sejalan dengan gubernur, Ahok, selaku wakilnya juga turut mengamini. Rencananya gedung bekas kantor walikota Jakarta Selatan akan diubah menjadi gedung ASEAN. Ahok menyarankan agar gedung dibangun menjadi ikon kota Jakarta seperti gedung PBB di kota New York. 

“Kalau mau bangun, bangun gedung yang unik. Unik Asia. Supaya bisa jadi ikon Jakarta dan menjadi semacam destinasi turis-turis yang datang. Kita beruntung sekali kalau Jakarta jadi Ibu Kota negara-negara ASEAN,” harap Ahok.

Berbenah Diri, Pertahankan Ragam Budaya di Ibukota

Pernah jalan-jalan ke Suriah-KLCC di Kuala Lumpur? Sewaktu tengah menanti pesanan makanan datang, saya asyik melihat-lihat sekitar. Sambil memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di area food court tempat saya dan keluarga tengah bersantai.

Uniknya, di mal semegah itu, tidak sedikit perempuan berwajah khas Melayu yang tidak malu-malu berseliweran dengan baju kurungnya. Padahal tak sedikit etnis tionghoa lalu lalang memakai pakaian agak minim. Makin semarak dengan orang India yang muncul dengan kain sarinya. Biasa saja buat mereka. Tidak lihat-lihatan, tidak ada yang merasa canggung.

Coba kalau memakai baju kurung di mal-mal besar Jakarta, diliatin enggak, ya? Hehehe.

Kalau nanti sukses menjadi ibukota ASEAN, Jakarta bisa kelimpahan turis asing. Inginnya sih, ibukota nusantara ini bisa tetap mempertahankan ragam multikultural tanah air seperti di Malaysia. Walau sebagian akan beralibi bahwa Negeri Jiran ini kan lebih sedikit penduduknya dan lebih minim ragam budaya dibanding Indonesia. Mudah-mudahan masih ada harapan, ya, bagi berbagai kebudayaan tanah air untuk melebur bersama di ibukota :).

Masalah kemacetan pun termasuk luar biasa untuk DKI tercinta. Jokowi dan Ahok terus menggenjot upaya perbaikan sistem transportasi. Berbagai sarana angkutan publik tengah diupayakan pembangunannya, misalnya : MRT dan monorail. Kita doakan semoga semua sukses dan lancar.

Kebersihan juga cukup memprihatinkan untuk ukuran sebuah kota besar yang sekaligus merupakan ibukota bangsa besar. Saya perhatikan, ya, di Eropa ini, kedisiplinan orang-orang dalam kebersihan secara umum tidak semata-mata diilhami oleh kesadaran pribadi. Tapi dibantu juga oleh penegakan hukum secara ketat.

Jadi, pemerintah sebaiknya langsung mengambil tindakan tegas soal aturan kebersihan di ibukota. Menunggu sampai semua warga mengubah kebiasaannya, sih, dalam tempo seabad juga  belum tentu pada sadar semua, ya :D. Buatkan aturannya. Tegakkan pelaksanaannya. Karena kalau cuma kata diatas kertas ya sama juga bohong :D. 

Sementara, pembangunan infrastruktur dan layanan publik sudah mulai menunjukkan kemajuan di era si duet maut ini, ya :). Waduk pluit sudah didandani, daerah Tenabang sudah mulai dibenahi. Lanjutkan!

Mengurai kemacetan di Tanah Abang (gambar : megapolitan.kompas.com)
Mengurai kemacetan di Tanah Abang (gambar : megapolitan.kompas.com)

No Vision, No Hope

Sama seperti berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, kerja keras hanya akan terasa lelahnya saja. Ibukota harus memiliki visi yang mantap. Apalagi sudah diberi kesempatan untuk menjadi ibukota dari kumpulan negeri-negeri di Asia Tenggara ini. Manfaatkan seoptimal mungkin.

Kita ingin memiliki transportasi publik selengkap Kuala Lumpur. Kita mau menjadi ibukota yang bersih seperti kota Singapura. Kita berharap penuh menjadi ibukota yang memiliki warga dengan kemampuan bahasa internasional yang bagus walau bahasa Inggris bukan bahasa utama seperti di Manila. Kita camkan dalam hati kalau suatu hari kita bisa setenar Bangkok di mata para turis asing.

Taman-taman bunga dan tempat bermain yang dibangun di hampir sepanjang pesisir pantai di wilayah bagian Asia kota Istanbul akan menjadi milik Jakarta di masa datang. Danau Sunter mungkin bisa mewarisi setengah saja dari kecantikan Interlaken di Swiss. Monas akan berdiri megah dan namanya akan tersohor sementereng Menara Eiffel di Paris.

Terlalu muluk-muluk? Jangan tanggung-tanggung kalau menghayal :D.

Bersama Komunitas ASEAN 2015, bahu membahu menjaga 3 pilar kebersamaan Ekonomi-Keamanan- Sosial Budaya, kita ukir kebesaran ASEAN melalui ibukota perhimpunan negara-negara Asia Tenggara ini di Jakarta.

Untuk kesekian kalinya saya kutipkan kata mutiara dari salah satu tokoh nasional favorit saya :

“Bermimpilah setinggi langit. Jika terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.” -Bung Karno-

Setinggi langit, diantara bintang-bintang, kita titipkan mimpi-mimpi besar kita untuk Jakarta tercinta. Mimpi itu bisa dimulai dari … sekarang :).

Gambar : fanpop.com
Gambar : fanpop.com

***

(Bukan) Bangsa Tempe!

After 6 months of emptiness, akhirnya bisa juga … makan tempe lagi. *Lebay* hahaha. Dari info teman di sini, ternyata tempe bisa didapatkan di Asia Market di kota-kota besar. Termasuk di ibukota Dublin.

Pas ke Dublin, saat akan menghadiri acara 17 agustus yang mempertemukan orang-orang Indonesia dari seluruh kota di Pulau Irlandia, langsung berburu tempe. Yayyy, stoknya lagi ada. Tapi sedikit banget. Borong 3 bungkus.

Besoknya, langsung digoreng. Biar kelihatan banyak, digoreng pakai tepung bumbu yang diracik sendiri . Berasa makan mewah, suami dan anak-anak sampai rebutan hahahaha.

Beberapa hari kemudian pas akan mengurus visa Schengen, kami mampir lagi ke Drury Street tempat supermarket Asia tadi berada. Malangnya, kali ini stoknya habis.

Gambar : superindo.co.id
Gambar : superindo.co.id

***

Tempe terhitung mewah di Irlandia. Sebungkus dengan berat sekitar 400 gr dijual seharga kira-kira 2.7 euro. Satu kilonya bisa 6-7 euro. Convert sendiri ke rupiah dimana nilai euro sedang menguat kan ya, 1 euro = kira-kira 15 ribu rupiah. Harga 1kg tempe di sini = harga 1 kg daging kambing/domba.

Bagaimana dengan tahu? Di sini yang umum itu semacam tofu, tahu yang teksturnya sangat lembut. Agak syok pertama kali makan tahu model begini. Hahaha. Sudah biasa sama tahu Indonesia yang maknyus itu *ngelapIler*. Akhirnya, sekarang pasrah dan rasanya mendadak enak-enak saja hihihihi.

Tahu sendiri tidak bisa dibilang murah. Harga 1 kg tahu = harga 1 kg daging ayam utuh yang dipotong-potong itu. Pukulan berat bagi Food Combiner macam ane hehehe.

Eropa memang tidak tergolong mahal. I was a little bit surprised 😉. Untuk harga bahan baku utama seperti daging-dagingan dan beras malah enggak jauh beda dengan harga di tanah air. Tapi, kalau sudah makan di resto atau jajan makanan jadi, harganya langsung meroket. Therefore, memasak sendiri adalah pilihan bijaksana jika bermukim di sindang hihihi.

Kata suami saya, “Waktu di Indo, banyak yang mengeluh makannya cuma tahu tempe. Kita sekarang mengeluh karena susah makan tahu tempe.” Hehehe. Tahu tempe sering dianggap simbol kemelaratan .

Tapi saya pribadi, dari dulu selalu stabil kecintaannya pada tahu tempe. Nemu warung pecel yang enak pun, saat posisi keuangan sudah mumpuni, enggak malu-malu saat memesan, “Bang, tahu tempe aja. Enggak pakai lele, enggak pakai ayam.” Untuk alasan inilah, pola hidup sehat ala Food Combining langsung menancap di hati .

***

Konon, harga kedelai kembali berguncang di negeri penghasil tempe di tengah khatulistiwa sana . Mudah-mudahan tidak kisruh tempe lagi ya kayak setahun kemarin (lupa-lupa ingat kapannya). Saat masih di Jeddah, harga tempe sempat bergejolak di Indonesia dan mendadak langka di beberapa tempat.

Lucunya, emak-emak di Jeddah sempat panik. Eeehhh, pas ke Singaparna, tumpukan tempe tetap berjajar rapi di rak belakang. Harganya tidak berubah sama sekali, 3-4 riyal saja per potong. Aih, apa kabar, Singaparna? .

Penghargaan yang model-model begini memang berat ya dilakukan saat kita masih berada di tanah air. “Ah, malang nian hidupku, tiap hari cuma makan tahu – tempe.” Hehehe.

Sementara, di beberapa belahan dunia, ada ibu-ibu yang sibuk mencari-cari alasan biar bisa jalan-jalan ke ibukota hanya untuk sekadar mendapatkan satu bungkus tempe. Untuk beli tempe harus berkorban waktu, uang, tenaga yang tidak sedikit.

Biasanya, untuk mengakali menu yang karbo+protein yang dulunya tidak pernah pusing dengan kehadiran rutin si tahu-tempe, saya coba ganti dengan terong balado. Olala, terong termasuk sayuran mewah di sindang. Sudah sering banget saya melanggar pola makan FC karena beradaptasi dengan situasi baru ini hiks. Padahal sudah 6 bulan ya, Kakaaaaaa .

***

Tempe, makanan sederhana yang bahan utamanya adalah kedelai putih dan ragi saja. Bentuknya lunak harganya tidak mahal.

Dulu sih mana kepikiran mau bikin tempe sendiri. Di tukang sayur tiap hari pasti ada. Harganya murah pula. Kalau beli tahu tempe di ‘Mas Gondrong’ (tukang sayur langganan di kompleks), kadang-kadang mbak-mbak asisten rumah tangga para tetangga iseng menggoda, “Ibu Jihan lagi ngirit, nih.” Hihihi.

Salah satu resolusi mudik kami nanti adalah… “mendapatkan ragi tempe dan membawanya terbang dalam koper.” Hahahaha.

Sungguh tidak percaya, di negeri asalnya, tempe bisa juga bisa bergoncang. Negara agraris dan maritim sekaligus harus menggantungkan kehidupan pertaniannya pada bangsa asing. Mimpi buruk macam apa ini.

Tapi, urusan tempe cukup sampai perut saja. Jangan dipakai untuk meratapi hal lain-lain.

Urusan mental tidak boleh ditawar-tawar. Tidak bisa makan tempe? Jangan cengeng. Belajar masak jamur! Hihihihihihi.

Seperti pesan Bung Karno, “Kita penghasil tempe tapi bukan bangsa bermental tempe!!!!”

Bung Karno

***

ASEAN, “Strength lies in differences”

Siapa yang mengenal nama Onassis? Aristotle Onassis, raja kapal berlimpah harta asal Yunani. Onassis juga terkenal karena berhasil mempersunting janda Kennedy sebagai istri ke-2nya, Jacqueline Kennedy Onassis.

Di awal 70-an, Onassis meninggal dunia dan mewariskan harta kepada salah seorang anak perempuannya, Christina Onassis. Christina sendiri meninggal dunia di usia muda, belum genap 40 tahun. Kepergian Christina membuat satu-satunya anak perempuannya, Athina, yang kala itu belum genap 4 tahun mewarisi harta peninggalan kakek dan ibunya. Athina Onassis digelari bocah terkaya kala itu. Kecil-kecil cabe rawit :D.

onassis

“Kecil-kecil cabe rawit” juga bisa kita sematkan pada salah satu anggota negara ASEAN satu ini, Brunei Darussalam. Walau wilayahnya masih lebih luas daripada Singapura, penduduknya hanya sekitar 400-500 ribu jiwa. Pendapatan perkapitanya no.2 di ASEAN dan di berbagai parameter perekonomian, pendapatan perkapitanya sering masuk jajaran 10 besar dunia.

Bulan april 2013, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN kembali digelar. Kali ini, ajang tahunan yang mempertemukan pemimpin-pemimpin negara ASEAN tersebut digelar di Brunei Darussalam, negeri mungil nan sepi namun tajir :D.

brunei

KTT ASEAN ke-22 di Brunei : Maksimalkan Persatuan, Minimalkan Permasalahan

Pembahasan utamanya mencakup beberapa hal. Topiknya tidak jauh-jauh dari 3 pilar, Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya, yang ingin dikolaborasikan bersama antar sesama anggota ASEAN dalam rangka terbentuknya Komunitas ASEAN 2015.

Dari tautan mengenai jalannya konferensi tersebut, kerjasama dalam bidang ekonomi dianggap yang memiliki tingkat kesulitan terkecil. Kinerja pengerjaan cetak biru dari berbagai kebijakan ekonomi telah mencapai hampir 80%. Termasuk diantaranya kebijakan pengurangan hampir 100% pajak impor di Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Juga penghapusan pajak impor hampir 100% di negara-negara sisanya.

Walau dari kesejahteraan ekonomi secara umum, ada jurang menganga cukup lebar diantara negara-negara anggotanya, urusan ekonomi bisa dibilang … masih dalam batas aman terkendali :D.

Soal keamanan yang bikin deg-degan. Terutama perselisihan tentang Laut Cina Selatan yang melibatkan Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina vs non ASEAN (Cina dan Taiwan). Masalah ini dianggap besar dan terus digenjot upaya perundingannya dalam ruang lingkup ASEAN sendiri. Minimal mengupayakan agar sesama anggota ASEAN tidak saling ‘memakan’.

Tiga Pilar Untuk ‘Rumah yang Kokoh’

Bangunan yang bagus dan kokoh tercipta dari bahan-bahan pilihan. Batu batanya mesti yang kuat. Semennya enggak boleh yang murahan. Pondasinya apalagi. Atapnya juga harus tahan hujan dan enggak gampang diterbangin angin. Pintu-pintu dan jendela-jendela dibuat dengan seksama agar ventilasi udara nyaman bagi seluruh penghuni rumah.

Tujuan dibangunnya sebuah gedung kan beda-beda. Ada yang akan berfungsi sebagai mal, sebagai kantor, sebagai rumah sakit dsb. Maka, semua ruangan dalam bangunan harus sinkron dengan tujuan pembangunan.

Gambar : vimeo.com
Gambar : vimeo.com

Tak beda dengan proses penciptaan sebuah komunitas yang baik. Keberhasilan Komunitas ASEAN 2015 meraih tujuannya sangat bergantung kepada keberhasilan masing-masing anggota. Baik Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei,  Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar adalah bahan-bahan baku utama dalam pembangunan Komunitas ASEAN 2015. Kesepuluh negara-negara ini adalah batu bata, semen, atap dll, bagi “Rumah ASEAN.”

“Rumah” ini sudah ditujukan untuk melindungi ketiga pilar Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya untuk seluruh negara-negara ASEAN. Dimana kita bersatu untuk tujuan yang sama, saling berkerja sama secara optimal untuk membentuk satu ‘kekuatan baru’ dengan memajukan kawasan ASEAN di mata dunia.

Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat diuntungkan oleh letaknya yang strategis. Posisinya di persimpangan antara konsentrasi industri, teknologi dan kekuatan militer di Asia Timur laut ke utara, sub-kontinental dan sumber-sumber minyak di Timur Tengah ke Timur, dan Australia ke selatan.

Secara ekonomi Asia Tenggara merupakan bagian perdagangan dengan volume yang tinggi dari negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Australia. Belum lagi jumlah penduduknya yang luar biasa, kerap dijadikan ‘pasar potensial’ bagi perdagangan internasional.

Sudah saatnya ASEAN jadi pemain utama. Bukan hanya obyek, bukan sebatas konsumen potensial. Sesama ASEAN, saling berbagilah. Singapura-Brunei-Malaysia yang memiliki kekuatan ekonomi yang kuat bisa menularkan keberhasilan yang sama bagi anggota lainnya.

Semangat dan kesadaran sebagai wilayah satu rumpun bisa memupuskan rasa ego dari kepemilikan ragam budaya di seputar ASEAN. Ide “Taman Mini Indonesia Indah” itu mungkin bisa diterapkan dalam Sosial-Budaya ASEAN. Daripada saling klaim, mending kita buat sebuah “Taman Budaya ASEAN.”

Masing-masing negara silakan bernarsis-narsis ria di sana, pamerkan semua kebudayaan yang kita punya. Gali keunikan masing-masing. Lantas kita buka untuk khalayak internasional. Pukau Uni Eropa, Amerika, Australia, bahkan sesama Asia dengan kekayaan kultural ASEAN :).

Daripada rebutan wilayah perbatasan, energinya dipakai untuk mengoptimalkan jalur perdagangan saja. Asalkan kita ingat, KESATUAN TUJUAN, harusnya tak masalah daerah mana punya siapa, asal sesama ASEAN :).

Untuk pertikaian dengan pihak di luar ASEAN, kita tetap harus tegas tapi jangan cari musuh. Dengan Cina misalnya. Ngapain, sih, berantem? Mending kerja sama.

Penduduk Cina itu di atas 1 milyar jumlahnya. Bayangkan bila barang-barang dari ASEAN bisa berjaya di sana ^_^. Tukar-tukaran barang ceritanya sama Cina hehehe.

Kata orang bijak, “Satu musuh terlalu banyak, satu juta teman takkan pernah cukup” ^_^.

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
 

Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan yang Sama

Anggaplah semua negara-negara ASEAN tengah berlari. Pastikan kita berada di lintasan yang sama, menuju garis finish yang sama. Kalau larinya sendiri-sendiri, lintasannya beda pula, manalagi garis finishnya tidak sama, mempersatukannya bagaimana?

Itulah gunanya berbagi kekuatan. Larinya sambil berpegangan, agar tidak ada ngacir duluan, tidak ada pula yang ketinggalan sampai terlalu jauh. Sambil berlari, saling menyemangati …

“Indonesia, ayooooooo.. Singapura, terus semangat…Myanmar, mana suaranya?”

Yuhuuu Thailand, are you still thereHold on, Laos! Kami bersamamu, Filipina.”

“Malaysia, go, go, go! Faster, Brunei, faster! Maju terus Vietnam. Kamboja, yes, yes, yes!”

Perhatikan pertandingan sepak bola. Kalau pertandingan di kandang sendiri, pemain biasanya punya semangat lebih. Salah satunya ya karena dukungan pendukung yang lebih heboh ketimbang di kandang lawan.

Lintasan sudah sama, larinya bareng menuju garis finish dimana masa depan cerah menanti kita semua :). Karena berpegangan, menyentuh garis finishnya pun sama-sama. Amin.

gambar : dreamstime.com
gambar : dreamstime.com

Komunitas ASEAN Blogger, Salah Satu Ujung Tombak Informasi

Nah, bagaimana caranya agar semua masyarakat di masing-masing negara memiliki persepsi yang sama ini? Larinya harus di lintasan yang mana? Garis finishnya di mana? Pegangan tangannya sama siapa saja?

Penyebaran informasi adalah hal mutlak. Di era digital, masa mau mengandalkan media cetak resmi saja? Diberdayakan, dong, jurnalis warganya. Salah satu tujuan dibentuknya Komunitas ASEAN Blogger ya bukan cuma untuk berburu hadiah di lomba-lomba blog, kan? *ups* hahaha.

Sebarkan cita-cita Komunitas ASEAN 2015. Blogger itu kan terjadi dari banyak kalangan. Ada kalangan profesional, kalangan emak-emak hehehe, sampai alay juga ada. Kita coba untuk mengabarkan dengan cara kita masing-masing. Kita satukan masyarakat ASEAN, beritakan tujuan dan langkah-langkah positif yang bisa kita tempuh untuk pencapaian masa depan yang lebih baik untuk kita semua.

***

Walau tujuan sama, tidak berarti kita harus melebur menjadi karakteristik yang sama. Singapura harus jadi negara agraris. Thailand harus memiliki komunitas muslim yang besar. Pokoknya Filipina harus punya sumber daya minyak sebanyak Brunei. 

Kekuatan justru datang dari perbedaan yang dimanfaatkan untuk tujuan yang sama dan seimbang. Karena sejatinya,

“Strength lies in differences, not in similarities”  ― Stephen R. Covey

 

Jangan lupa… ASEAN is not only in my hand, nor in your hand, but… “ASEAN in OUR hands.”

Dear Bloggers, manfaatkan jari-jarinya sepositif mungkin ya, Kakaaaaa :P.

123rf.com
123rf.com

***