Pantai Thuwal, salah satu tempat liburan andalan pas di Saudi nih hehe. Ternyata, muncul di Pikiran Rakyat edisi minggu kemarin. Edisi tanggal 22 september.
Akhir-akhir ini, energi menulis tersedot sama lomba-lomba blog dan geragasan bikin naskah buku hahaha, jadi yang media cetak sempat terlupakan.
Padahal fotografer Dani Rosyadi lagi hot-hotnya motret-motret hehehe. Apa kabar ini Dublin-Galway-Athlone, sudah punya foto segambreng, tulisannya belum dibuat sama sekali? :D.
Btw, jika ingin mengirim rubrik jalan-jalan ke harian Pikiran Rakyat, silakan dikirim via email ke yudiawan@gmail.com. Sekitar 5500 karakter/huruf, foto-foto pelengkap sekitar 4-5 buah foto berukuran minimal 500 KB. Dikirimkan terpisah. Jadi, foto jangan dimasukkan ke dalam naskah/tulisannya :D. Luar negeri – dalam negeri, dua-duanya boleh.
Ini postingan dari Mamasejagat versi jalan-jalan Arab Saudi dicomot satu dulu buat ngisi blog dimari hihihihi. Tapi diedit dikit biar kesannya kreatif :D.
Waktu di Jeddah paling sering ke pantai. Julukannya saja “Pengantin Laut Merah”, makanya di tiap pengkolan ada pantai.
Pantai Obhur ini adalah pantai yang pertama kali saya datangi sejak menginjakkan kaki di Jeddah. Jaraknya dekat. Enggak sampai setengah jam perjalanan dari Jeddah. Letaknya sendiri di kota Obhur. Obhur ini semacam kota satelitnya Jeddah, macam Depok untuk Jakarta lah.
Tempat kongkow-kongkow nya enggak seluas Pantai Thuwal. Yang pantai Thuwal ada sih dalam buku “Memoar of Jeddah.” Jadi, buruan ke Gramedia dan beli bukunya, yak hahaha *teuteuuppp*. Fasilitasnya pun nyaris tidak ada. Kita mesti modal tikar sendiri buat duduk-duduk plus ada semacam penyewaan payung sekitar 10 sar per jam. Tiker/karpet juga banyak yg jual. Saya pernah beli, harganya 30 sr. Berkorban sedikit lah demi suksesnya jalan-jalan Arab Saudi di Obhur :D.
Tidak ada kamar mandi. Makanya pas datang ke Obhur pas saya lagi hamil, bete beratttt, nahan pipis booo, huhuhu.
Nah, di foto-foto ini adalah acara ke Obhur berdua Mbak Ani, sahabat saya di Jeddah :). Eh, sekarang juga masih dong ah :P. Sekitar bulan Juli tahun 2011. Narda baru berumur 3 bulan tuh :P.
Ya, palingan kalau ke Obhur, anak-anak saja yang sibuk main pasir. Biasanya pada berenang, tapi pas bulan juli itu enggak kita bolehin, Soalnya memang enggak mau lama-lama. Kalo yang cowok-cowok sih enak. Pria dewasa pun bajunya bebas. Yang telanjang dada pakai celana pendek banyak benerrr…. Sementara yang perempuan dewasanya tetep harus berselimutkan abaya hehehe :D.
Anak-anak pada maen di pinggiran aja… si Abil banci kamera juga kaya emaknya 😛
Bapak-bapak yang kita bawa alias para suami masing-masing enggak sampai nekat buka baju sih :P. Tapi beneran malah suami yang seru banget ngobrolnya, Saya dan Mbak Ani berkali-kali ngajak pulang malah dicuekin. Ngobrolin apaan sih? Ngobrolin gimana caranya minta naik gaji kah? :D.
Ibu-ibu paling mengobrol enggak penting, misalnya mau mampir kemana kita kalau nanti pas liburan. Ke Jakarta? Apa ke Dubai? Hongkong, atau Singapura? Hahaha… *pencitraan*, Aslinya sih, kita ngomongin kalau kita malas belanja pas lagi musim sale. Soalnya ramai banget dan gengsi ah membeli barang-barang musim kemarin, kita penginnya new arrival dong yaowww…. Ini lebih boong lagi hahaha.
Baiklah, waktu itu, kita selayaknya ibu-ibu normal lainnya, bergosip tentang kapan belanja bareng ke pasar ikan dan biaya sekolah anak-anak di Jeddah yang sama parahnya kayak di Jakarta :p.
Oh ya, tentu saja, selama sejam-an kita nongkrong di Obhur, sesi foto-foto jalan teruuuus ;).
Dan…sekarang sudah berbulan-bulan meninggalkan Jeddah. Masih suka bergosip dengan Mbak Ani via BBM atau inbox di FB. Atau ledek-ledekan via komen-komen di FB. Padahal, rasanya baru kemarin, duduk berdua di bawah payung warna warni bercerita tentang masa depan kami di Jeddah. Akan berapa lama tinggal di sana? Jangan-jangan sampai anak-anak SMA kami masih di Jeddah? Hihihi.
Wah, ternyata duluan saya yang hengkang dari sana :). Kisah-kisah seperti ini yang dulunya hal-hal lazim yang kami lakukan di Jeddah : nongkrong di pantai, berakhir pekan ke Masjidil Haram, menyambangi Madinah, dan sebagainya, sekarang jalan-jalan Arab Saudi tinggal kenangan saja :).
Inilah pentingnya nge-blog dan foto-fotoooooo :D. Jadi, bisa kita ikat memori-memorinya dalam tulisan. Karena seindah apa pun, memori tempatnya di masa lalu, tak mungkin kita bisa hidupkan kembali. Setidaknya bisa kita terus kenang dalam hati melalui tulisan dan … foto-fotooooooo hihihihihi <– mencari pembenaran atas banyaknya folder foto dalam laptop :P.
Take care of all your memories. For you cannot relive them -Bob Dylan-
Kemarin, kabar gembira berikutnya datang dari penerbit lain yang mengincar tulisan-tulisan dalam blog saya 😀. Kalau akhirnya kontrak datang, habis deh isi blog gue kudu diumpetin semua hahaha.
Juga sedang menunggu finalisasi naskah novel yang juga dipesan oleh sebuah penerbit baru yang meminta saya membuat naskah untuk mereka. Mudah-mudahan cocok hihihi. Soalnya agak grogi bikin novel untuk pertama kali. Akankah tercapai hattrick tahun ini? “Aamiin” yang kencang :D.
Tapi, kali ini mau cerita tentang “Bunda of Arabia”, buku pertama yang saya terbitkan secara indie tahun lalu. Yang katanya disebut-sebut sebagai buku indie yang popular karena laku *uhukUhuk*, ini juga baru tahu dari beberapa teman blogger .
Hm…buku indie laku berarti untung besar dong, ya. Sejujurnya … saya mengaku saja. Secara materi, kerugian yang saya tanggung tidak sedikit .
Kok bisa? Begini ceritanya …
***
“Bunda of Arabia” terbit tidak atas dasar motivasi menulis. Justru, saat itu saya sedang asyik-asyiknya blogging untuk Mamasejagat dan CeritaJeddah. Sama sekali tidak terpikir mau jadi penulis buku, artikel di majalah dan semacamnya.
Buku itu saya ciptakan untuk membenahi pemikiran umum masyarakat di Indonesia, terutama teman-teman yang suka ‘rewel’ bertanya tentang Jeddah.
Waktu itu pula, iseng menantang diri sendiri. “Ayoooo, terbitin dalam tempo 3 bulan, bisa gak lo?”
Mulai deh berjuang. Biar seru, lebih bagus bentuk antologi yang ditulis beramai-ramai agar kesannya bukan cuma saya doang yang punya cerita menarik di Jeddah. Mengumpulkan kontributor saja sudah menguras energi. Walau awalnya berbunga-bunga karena teman-teman merespons positif. Giliran menagih naskah, ngibrit satu-satu hehe.
Setelah mati-matian mengedit sendiri (hampir) semua tulisan teman-teman, naskah pun jadi. Penerbit indie pun ditemukan. Kami sepakat membuat cover sendiri.
Sejak awal proses, friksi-friksi mulai muncul. Yaiyalah, 8 perempuan (1 nya dah keburu balik ke Jakarta :P) bekerja dalam satu tim jangan harap bisa lepas dari drama! Bosnya saja = ratu drama hihihi.
Yang terlambat saya deteksi adalah semangat kebanyakan teman-teman tim yang mulai meredup bahkan sebelum buku terbit. Padahal sudah saya janjikan pembagian royalti sama rata walau modal saya tanggung penuh 100%!
Tidak main-main saya modali buku ini. Langsung saya cetak 800 eksemplar untuk menekan biaya produksi. Kalau cuma cetak satu-satu, modalnya terlalu besar –> harga buku akan sangat mahal.
Sudah terlalu jauh saya ‘berlari’ hingga akhirnya saya menengok ke belakang, “La, yang lain pada ke mana?” Itu kesalahan pertama saya yang bisa menjadi pelajaran pertama, “Letting anyone feel ‘out of it’ should not be done.”
Sementara, beberapa orang sudah mulai melakukan penyerangan secara ‘pribadi’.
“Egois lu! Mau menang sendiri! Lu maksa orang untuk ikut cara lu!”
“Nanti kalau bukunya terbit, nama kita semua ada, kan? Bukan cuma nama lu doang, kan?”
“Lu Ratu Drama sih! Apa-apa dibesar-besarkan. Heboh sendiri, enggak jelas sendiri.”
Saya sudah mau membatalkan saja. Ya Allah, pikir saya. Sungguh sia-sia saya menerbitkan buku ini kalau pertaruhannya adalah putusnya tali silaturahmi dengan teman-teman .
Panik, cing. Saya sudah aktif promosi di wall, gimana kalau sampai buku tidak jadi terbit. Taruh mana tampang rupawanku ini hahaha.
Suami saya ikut-ikutan, “Lu bego! Duit, duit lu! Ide, ide lu! You should take the control! Apa gunanya capek-capek diskusi kalau mereka selalu bilang ‘terserah lu’ tapi sibuk ngomongin lu di belakang!”
Aduh. Sebagian teman-teman mulai tak suka dan marah pada saya. Sebagian memilih diam, pura-pura tidak ada urusan. Suami pun sudah mulai bete.
Cara terbaik yang saya pilih, mengalah. Mulai saya bagikan tugas lagi. Kalau ada yang mengelak, sudahlah. Biarkan saja. Toh, kalau mau jujur, saya akui banyakan salah eike juga hehehe. Orang enggak doyan menulis, saya paksa-paksa ikut proyek ini .
Pelajaran kedua deh, “Avoid arguments but, if you do have them, bury the hatchet quickly and wholly.” -Ranulph Fiennes-
Walau suami menentang cara saya yang sibuk meminta maaf ke sana sini, saya pasrah saja. Waktu itu, saya lebih takut kehilangan teman, deh, daripada kehilangan duit .
Ada yang bersedia mendesain cover. Good. Saya pikir, bikin desain sekalian memikirkan cara menuangkan desainnya ke atas gambar. Lama saya tunggu. Saat dicek, mereka bilang, “Kita bisa desainnya tapi enggak tahu cara gambarnya.”
Saya pikir mereka tahu bahwa itu seharusnya tugas mereka juga, untuk mencari orang yang bisa mendesain. Ya sudah, saya malas ribut-ribut, saya turun tangan carikan desainer. Untung ingat dengan adik kelas yang memang buka jasa desain online. Alhamdulillah, dia mau membantu. Biaya tentu saja saya tanggung 100%.
Urusan editing, saya selesaikan sendiri. Ada teman yang mengaku punya banyak teman editor. Saya minta bantuannya, saya bilang saya sanggup membayar secara profesional. Ealah, ditunggu-tunggu, tak ada yang bersedia menjadi editor .
Kenapa mencari editor sendiri? Karena penerbit lama sekali merespons, sementara saya kan berkeras pada timeline saya sendiri. Saya akan tempuh apa pun agar bukunya terbit sebelum bulan april!
Akhirnya, eike-eike lagi yang mencari editor. Karena khawatir gagal dapat editor, sebagai back up plan, tiap malam saya begadang belajar EYD sendiri hihihihi. Maklum waktu itu menulis seenak jidat saja. Di blog masih ber gue-gue dengan tanda baca yang bikin sakit mata hahahaha.
Ketemu satu editor. Saya janjikan honor 2x lipat bila dia sanggup mengedit dalam tempo cepat. Dasar saya kurang pengalaman. Saking paniknya main tunjuk saja. Editannya ternyata mengubah gaya menulis kami. Malah, beberapa kalimat berubah arti. Tapi ya, saya harus adil, dong. Tetap saya bayar honornya, 2x lipat seperti janji saya di awal.
Untungnya, penerbit mulai merespons, editing pun diambil alih mereka. Ada ongkos tambahan tentu saja. Ongkos editan awal tadi tak pernah saya perhitungkan. Anggap saja itu harga yang harus dibayar atas keamatiran saya tempo itu.
Buku pun terbit. Sebelum terbit, teman-teman yang tadinya sepakat akan menjual masing-masing minimal 50 eksemplar mulai goyah. Sudah mulai ada yang keberatan. Aduh, saya sudah kehabisan energi untuk berantem. Saya biarkan saja. Pokoknya, asalkan kedamaian tetap melingkupi tim, saya bebaskan jumlah penjualan. Mau jual berapa pun terserah!
Tapi, resikonya adalah, saya sebagai penanggung modal utama harus berjuang jauh lebih keras untuk setidaknya mengembalikan belasan juta rupiah modal yang sudah terlanjur dikeluarkan.
Siang malam, membujuk teman-teman untuk membeli buku ini. Saya melakukan strategi yang sangat berani sekaligus tolol menurut suami saya . Saya berani mengirim dulu, buku sampai, baru mereka bayar.
Akibatnya, saat proses penagihan saya kelabakan sendiri. Saya malu kalau harus menagih berkali-kali. Biasanya, dua kali saja saya berani menagih. Bila tidak dibayar juga, ya saya ikhlaskan. Soalnya rata-rata kenalan semua. Malu ah kalau mau ributin soal uang segitu doang, sudah syukur mereka berbaik hati mau membaca buku saya . Pikirnya begitu saja waktu itu. Jadi, jangan ada yang merasa apa-apa, ya. Demi Tuhan, sudah saya ikhlaskan .
Yang menyakitkan itu adalah tanggapan saudara dan teman-teman dekat. Saya polos sekali. Saya pikir, namanya saudara dan teman kenal baik, masa iya tidak mau membantu menjual barang 2-3 eksemplar. Salah satu kakak saya malah bilang dengan santai via BBM, “Buku apaan tuh? Enggak jadi ah gue jual. Jelek isinya. Tipis lagi. Mahal itu buku segitu 35 ribu!”
Kakak yang lain juga begitu. Semua buku yang saya kirim ke mereka tidak ada kabar. Mereka bayar juga tidak mau huhuhu. Tapi, untuk meningkatkan semangat teman-teman dalam tim, saya tutup rapat-rapat soal ini. Tetap saya gembar gemborkan, “Tenang, saudara gue banyak, buku kita dijualin sama mereka, kok.”
Pelajaran ketiga, “Jangan berharap terlalu banyak dari orang lain. Bahkan dari saudara kandung sekali pun . Many times, we need to stand on our own!”
Adik saya juga sama. Saya langsung sadar kesalahan ini. Teman-teman lain yang sudah terlanjur saya kirimkan lebih dari 1 eksemplar, buru-buru saya tarik. Rugi 2x. Ongkirnya tetap saya ganti. Buku pun tak laku. Adik saya di Depok, saya mintai tolong memunguti buku-buku yang ada di tangan teman-teman di sana.
Saking putus asanya, puluhan buku saya tarik ke Jeddah. Saya minta ibu yang membawakan, pas sekalian umrah waktu itu.
Akhirnya habis juga 800 eksemplar. Saya menjual ratusan eksemplar, jauh di atas teman-teman lain dalam tim. Tapi, janji tetap janji . Royalti tetap dibagi rata .
Walau penjualan dari sisi saya belum lunas semua, untuk mencegah tuduhan macam-macam lagi, langsung saya bagikan royalti bersihnya. Saya sudah tidak berharap modal balik. Yang penting no more drama lah hihihihi.
Keangkuhan saya memaksa saya kembali maju dengan cetakan ke-2, lagi-lagi 800 eksemplar! Sebelumnya, saya sudah sibuk bergerilya mencari pembeli, dapat sekitar 150 eksemplar. Lumayan, kan? Harapannya nanti bisa lebih banyak lagi.
Karena kasihan dengan ongkos kirim yang mahal, kadang saya menjual buku dengan menanggung ongkos kirimnya. Tidak main-main tuh ongkir ke sulawesi dan sumatera *ngelapKeringat*. Habisnya, ongkir hampir sama dengan harga buku huhuhu. Instead of untung, malah rugi karena ongkos kirim lebih besar daripada royalti buku. Bego? emberrrrr .
Di cetakan ke-2, saya resmi bubarkan tim. Sistem royalti diubah. Saya berjanji akan memberi royalti tulisan kepada mereka, royalti sales tergantung kepada jumlah penjualan. Alhamdulillah, hubungan yang mulai dingin menghangat kembali .
Malah, untuk menutupi ‘perang dingin’ antar kami di hadapan teman-teman lain, saya adakan syukuran kecil-kecilan. Rogoh kocek sendiri untuk membeli kue tar dan saya potong di acara pengajian.
Cetakan ke-2 apa kabar? Hahahhahaha. Sampai bosan saya menghabiskan waktu siang dan malam mengejar pembeli . Suami saya, walau menentang sejak awal, ternyata membantu dengan sepenuh hati . Terima kasih ya, Bang . You’re the best. Dia tuh yang gencar mengirim ke milis, ke kaskus, ke mana-mana lah pokoknya. Sementara saya sudah layu .
Kalau hanya menghabiskan waktu mengirim inbox dan message dan DM di twitter terus, saya kapan menulisnya? pikir saya. Ya sudah, walau berat, saya pasrahkan saja. Saya mulai kembali menulis. Setidaknya “Bunda of Arabia” membangkitkan semangat menulis saya ke level yang sangat tinggi.
Semua kenangan masa kecil kala saya memang rajin menulis terbayang kembali. Ya ampun, jangan-jangan saya memang punya bakat pikir saya. Itulah anehnya, orang mah belajar menulis dulu baru menerbitkan buku. Ini kok malah menerbtikan buku dulu baru belajar teknik menulis yang baik dan benar hahahahahaha.
Awalnya saya merasa kalah. Tapi hanya sebulanan setelah cetakan ke-2 keluar, saya iseng membuat cerpen dan mengirimkan ke media cetak, Femina bo . Langsung tembus. Disusul secara beruntun tulisan-tulisan lain yang tembus ke Republika, Kartini, Femina(lagi), koran-koran dsb. Sampai 2 x artikel saya diterima di Majalah Garuda dengan honor yang asoy hihihihi. Honor dari media cetak kalau dijumlahkan sudah mengalahkan angka kerugian dari penerbitan “Bunda of Arabia.” Alhamdulillah.
Lomba blog atau lomba menulis online lain mulai disasar pula. Walau terhitung masih cupu dibanding ratu lomba blog yang lain … sebuah mesin cuci elektrolux, uang 5 juta, uang 400 ribu, satu pak rendang padang hihihi, voucher gramedia 750 ribu, dan gadget samsung yang saya lupa jenisnya sudah pernah saya menangkan dengan hobi menulis ini.
Ternyata … saya tidak kalah, kok, ya 😉. Pertaruhan yang saya tempuh saat menerbitkan “Bunda of Arabia” adalah pelajaran penting ke-4 yang disarikan oleh Sutan Syahrir dalam kalimat, “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”
Walau bukan penggemar Twilight, pelajaran ke-5 dari tulisan ini saya ambil dari penulis bukunya, bahwa … “Without the dark, we never see the stars (Stefenie Meyer)” Jangan-jangan, kalau tak saya terbitkan dan saya perjuangkan “Bunda of Arabia”, saya tak pernah tahu dan menyadari passion menulis yang sudah terpendam belasan tahun ini.
Tapi, jangan lantas takut menerbitkan indie ya . Kesalahan yang saya perbuat tadi bisa dipelajari oleh penulis lain yang ingin sukses secara indie. Jangan memaksa dan bersabarlah 🙂.
Ingat, sekali lagi, pelajaran ke-4 “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”
Cara menerbitkan buku indie memang panjaaaaaang perjalanannya. Selalu ada harga yang harus dibayar, teman-teman 🙂.
Yang sudah lewat, jadikan pelajaran saja. Pelajaran terakhir, yang ke-6 : “There is never any point crying over spilt milk because in order to win at some of your big goals, you’re bound to lose at others along the way.” (Ranulph Fiennes)
Drama banget, ya? Ya mau bagaimana lagi. Begitulah kenyataan yang sebenarnya :D.
***
Btw, buku “Memoar of Jeddah” isinya beda kok dengan “Bunda of Arabia.” Lagipula, seluruh bab dalam MoJ adalah asli tulisan saya semua . Buku solo pun namanya yak hehehe.
“Memoar of Jeddah” adalah kumpulan kisah-kisah inspiratif, yang meski berlatar belakang pengalaman saya selama 30 bulan di Jeddah, ‘pelajaran’nya bisa dipetik untuk kehidupan sehari-hari kita semua, di mana pun kita berada. Ecieee…sok inspiratif lo hahahaha :p.
Isinya juga saya selipkan sekitar 6 bab tulisan jalan-jalan selama saya tinggal di Saudi. Lengkap dengan foto-fotonya, lho 😉.
Begitu kira-kira respons beberapa teman saat saya mengabarkan akan pindah dari Jeddah ke Athlone, Irlandia. Ya nasib, ya nasib. 3x merantau ke luar negeri, dapatnya selalu tempat yang tidak popular hihihihi.
Tahun 2009 ke Tehran. Pas lagi panas-panasnya hubungan Iran dan Paman Sam. Paman Sam tentu keki berat saat pemerintah Iran mengumumkan soal keberhasilan mereka dalam hal pengayaan nuklir. Apalagi di TimTeng sana ada Israel, sekutu sejatinya.
Tehran – Mellat Park
Jadi deh, Paman Sam sibuk menghardik Iran. Bertahun-tahun mereka mencoba ‘bermain cantik’, akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil. Suriah, sekutu terbesar Iran, sedikit lagi akan sanggup mereka musnahkan. Bravo, Paman Sam *angkatTopi* .
Tahun 2010, giliran Jeddah yang disasar. “Enggak ngeri tinggal di Saudi? Apa-apa serba ketat gitu buat perempuan.” Sayangnya, enggak boleh pakai baju ketat? hahahahaha.
Para Madam Jeddah 😀
Nyasar ke Tehran, lalu ke Jeddah, terus ke Irlandia. Beginilah awal mulanya jalan-jalan Irlandia bisa kejadian :D.
Irlandia sendiri tidak begitu popular ternyata. Kalau eike mah, si ratu RPUL dari kecil hihihihi, sudah hapal mati ibukota dan kondisi negara-negara Eropa sebagian besar. Walau saya sempat kecele, saya pikir, Irlandia itu negara kisminnya eropa. Salah besar. Irlandia termasuk negara maju ternyata Dengan pendapatan perkapita yang masuk 20 besar dunia.
Jadi, terorisnya banyak gak di Irlandia? Irlandia mana duluuuuuuu 😀.
***
Mungkin yang dimaksud adalah Irlandia Utara . Saya dan sekeluarga pindahnya ke Republik Irlandia. Irlandia Utara, walau berbagai daratan yang sama di Pulau Irlandia, termasuk wilayah “Kerajaan Inggris Raya” (Britania).
Britania? Kok tidak bilang Inggris? Sebenarnya sih, Inggris kurang tepat, ya. Karena penamaan Inggris akan selalu mengacu ke England. Dimana England hanyalah salah satu wilayah dari Britania. Selain England, Britania juga mencakup Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara.
Nah, peernya, timnas yang selalu berlaga di Piala Dunia itu England apa Britania hayooo :p.
Irlandia Utara memang masih marak dengan isu terorisme hingga kini. Sumber saya salah satunya adalah teman yang berasal dari India yang pernah tinggal di Belfast selama 2 tahun. Katanya, di Belfast dia merasa hidupnya kurang nyaman karena banyaknya aktifitas teroris ini. Salah satu pihak yang bertikai adalah ‘pemberontak’ yang ingin melepaskan Irlandia Utara dari cengkraman Britania.
***
Republik Irlandia, menguasai 80% dari wilayah selatan Pulau Irlandia. Julukannya adalah “Negeri Zamrud”. Kalau ditambahi kata Khatulistiwa, jadinya Indonesia dong, ya 😀.
Sang Negeri Zamrud, Irlandia
Julukan yang cukup tepat. Karena memang, wilayah Irlandia ini hijau banget. Kalau suka dengan pemandangan alam padang rumput, peternakan, dipadu dengan birunya laut (namanya juga negara pulau :P), yuk mari ikutan jalan-jalan Irlandia . Yang konon disebut-sebut pula sebagai “Selandia Baru”nya Eropa.
Selain wilayah zamrudnya, Irlandia juga terkenal dengan keramahan penduduk lokalnya. Kata kerabat yang pernah bermukim di Jerman, orang-orang di negeri ‘Tim Panser’ ini terkenal dingin dan kaku.
Kalau di Irlandia, mereka sangat ramah. Kalau papasan di jalan, sebagian besar pasti menegur ramah + senyuman imut yang bisa membuat hari-hari yang terasa berat menjadi ringan seketika *tsaaahhh*. Makanya, tak salah bila kita kaum muslim diajarkan bahwa, “Senyum itu ibadah.”
Dengan luas wilayah 70.000 km persegi, jumlah penduduknya hanya sekitar 5 juta jiwa. Dimana 30% penduduk bercokol di ibukota Dublin, kota terbesar sekaligus terpadat di sini. Bandingkan dengan ibukota Jakarta, luas wilayah 600 km persegi dijejali oleh sekitar 10 juta orang.
Huss, jangan nyinyir sama Indonesia. Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata . Mudah-mudahan sebelum masa itu datang, diberi kesempatan dulu untuk ‘keliling dunia’. Masih banyak benua yang belum kena absen nih hahhhahaha.
Saya sendiri bermukim di kota Athlone. Kalau 30% penduduknya tumplek di ibukota, bayangkanlah sepinya kota-kota kecil macam Athlone ini hehehe. Penduduknya hanya 20 ribu saja. Tapi tak masalah. Buat kami, keluarga muslim asal Indonesia, asalkan ada toko daging halal dan satu toko cina kecil yang menjajakan aneka rempah khas Asia, in shaa Allah hidup tetap penuh berkah 🙂.
Athlone
***
Harga-harga bahan makanan relatif tidak mahal lho di sini. Tapi, kalau makan di restoran/rumah makan atau membeli makanan jadi, harganya langsung menjulang. Agak berbeda dengan di tanah air. Di mana kita masih bisa membeli makanan jadi dengan harga yang lumayan timbang kita masak sendiri + beli bahan-bahan sendiri + repotnya ya boooo. Martabak gerobak mana suaranyaaaaaaa? Hehehehe.
Ya, jadi berkah tersendiri buat ibu-ibu pemalas di dapur macam saya. Hahaha. Sejak tinggal di Athlone, mau tak mau, semangat memasak terus diasah. Benarlah kiranya, “Keterbatasan kadang membuat kreatifitas terpacu.”
Dari olahan martabak mini saja, sudah bisa saya isengin jadi 3 jenis yang berbeda. Dengan coba-coba mengganti isinya, jadi deh martabak daging /tahu-tempe /jagung.
Waktu di Jeddah mah mana kepikiran bikin martabak sendiri. Lapar ngidam martabak? Tinggal pencet ponsel, “Mbak Zakiyah, pesen martabak 50 biji. Bawa pas ngaji, ya. Pisahin yang 20 biji buat aku bawa pulang.” (Ampe hapal mati kalimatnya :P).
Harganya juga murah, lho. Timbang masak sendiri untuk diri sendiri dan keluarga saja, jauh lebih ekonomis kalau beli. Percayalah, perhitungan Bibi Gober jarang meleset hahahahahaha.
Memanfaatkan bumbu sisa ungkep ayam goreng bisa dimasukkan ke tumisan sayur yang bisa menghasilkan cita rasa yang berbeda. Cobain, deh . Dari Google-masterchef (hihihi) pelan-pelan sudah ada peningkatan lah. Google-masterchef itu istilah saya dan beberapa teman untuk menjuluki diri kami yang merasa bisa masak pakai modal googling hihihihi.
Gambar : dailymail.co.uk
Tapi namanya bukan hobi, so far untuk kewajiban saja . Enggak pernah kepikiran bikin ini itu buat iseng-iseng. Semuanya buat lauk makanan sehari-hari saja .
***
Seperti kebanyakan wilayah Eropa, Irlandia juga mengenal 4 musim. Musim dingin yang suhunya bisa di bawah 0 derajat. Tapi jarang muncul salju. Ada sih, salju imut-imut begitu. Tidak pernah sampai badai salju yang menimbulkan timbunan salju di jalan-jalan.
Eh, pernah sih ada anomali alam di tahun 2010. Katanya, waktu itu salju turun hebat di Irlandia. Hm, jangan-jangan salah satu dampak perubahan iklim global?
Musim semi ya standarlah. The best season ever 😀. Saat paling tepat untuk jalan-jalan Irlandia. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Rumput-rumput menghijau kembali setelah layu diterjang cuaca dingin. Suhu tidak terlalu panas tidak juga dingin.
Hujan sering turun. Di musim panas sekali pun. Cuaca Irlandia ini moody banget. Dalam tempo 10 menit, mulai dari panas terik, angin kencang, sampai hujan gerimis, sangat mungkin terjadi bergantian. Maka dari itu, siapkan jas hujan selalu . Tapi hujannya jarang lebat. Gerimis saja.
Musim panas, suhunya tahun bisa mencapai 35 derajat. Pas bulan puasa pula *ngelapKeringat*. Anak-anak agak kesulitan tidur malam, walau malam suhunya di bawah 30. Di sini enggak ada AC soalnya hihihihi.
Di bulan september ini, musim panas mulai usai. Pucuk-pucuk daun di sebagian pohon mulai menguning dan kecoklatan. Angin mulai kencang. Suhu mulai jatuh. Tiap malam, bisa kebangun pipis 4x nih eike hihihihi. Di banyak tempat, daun-daun berguguran mulai menghiasi beberapa sudut jalan.
Musim gugur sudah mulai menghampiri. Tahun ini akan menjadi musim gugur saya yang pertama di sini. Walau mimpinya mah, “Autumn in New York” bagai Winona Ryder hihihihi. Tapi tak mengapa, “Autumn in Athlone” pun rasanya sudah bikin senang . Alhamdulillah. Diantara semua musim, musim gugur ini yang memang bikin penasaran. Soalnya kalau panas, dingin, dan musim bunga mah di Indonesia juga bisaaaaaa .
Tak sabar menanti masa dimana warna emas kecoklatan menghiasi bumi :)Jadi, panjang lebar ke mana-mana, tujuan status ini hanya mau bilang, “Selamat datang, Musim Gugur!”