[Food Combining] Aneka Resep Kentang : Resep Kentang Panggang

Salah satu variasi dari aneka resep kentang nih. Sebenarnya sih, resep kentang panggang  ini enggak spesifik untuk yang ingin mengikuti pola makan food combining :D. Tapi, kalau dicocok-cocokin bisa juga.

Saya sendiri sampai sekarang masih mengkonsumsi nasi putih siang dan  malam. Kalau pagi kan ekslusif buah, dong, ya ;). Walau sering melanggar juga hahaha.

Anak-anak dan suami masih belum kuat ber-buah-buah doang di pagi hari sampai jam 12 siang. Tapi tiap pagi mereka pasti minum jus. Bukan jus kotak-an. Buah-buahan segar yang diblender gitu. Pada enggak doyan makan buah potong. Biasanya sih Narda doang yang mau makan apel yang dipotong kecil-kecil gitu.

Nah, sarapannya ini saya usahakan agar menyantap menu karbo. Ingat, untuk menu karbo, protein hewannya disingkirkan dulu, ya ^_^. Biasanya bikin mie goreng sayur atau nasi goreng sayur. Gampang dan cepat hihihi.

Masih bingung dengan menu karbo, menu protein hewani dan pola makan harian ala FC? Monggo dicek ke tulisan yang ini ;).

Sebagai variasi, si kentang panggang ini lumayan sering menjadi hidangan sarapan buat suami dan anak-anak. Bikinnya gampang banget. Belum lagi, kentang juga sering di-diskon di supermarket, hahaha *ngakakNgirit*.

Resep kentang panggangApartemen di Athlone ini memang ciamik-ciamik. Fully furnished segala. Sampai segala printilan dapur lengkap, kap, kap. Si landlord saya malah seleranya fancy juga. Seumur-umur baru sekali ini punya perlengkapan dapur yang keren-keren hihihi. Setelah di Jakarta dan di Jeddah, isi dapur didominasi oleh peralatan plastik :P.

Kompor listrik 4 tungku juga menjadi standar di apartemen-apartemen Irlandia. Plus oven-nya yang keren punya. Sempat gaptek saking banyaknya tombolnya hahaha.

Aneka Resep kentang yang dipanggang sendiri ? Super gampil ;).

Bahan :

Kentang (biasanya saya 1-2 kg), lada (white pepper) + garam, 1 sendok teh minyak sayur, daun bawang (biasanya pakai daun bawang perai), optional : mentega

Cara :

1. Saya paling suka menggunakan jenis ‘salad kentang’. Ukurannya mungil-mungil. Rasanya lebih gurih dan agak manis. Tinggal dicuci bersih lalu dibelah-belah. Tebal tipisnya terserah kokinya aja :D. Ingat, kulitnya jangan dikupas. Gizinya disitu, tuh ;).

2. Talenan besi (apa sih namanya? bener kan ya talenan? hihihi) untuk memanggang sudah dipasangi dengan aluminium foil di seluruh permukaannya. Taburi minyak sayur sedikit. Susun kentang yang sudah dipotong-potong tadi di atas talenan.

3. Taburi di atas kentang, lada + garam secukupnya. Aduk-aduk biar merata. Paling bagus diaduk pakai tangan saja, daripada pakai sendok dan semacamnya. Optional, pakai lada merah (red pepper) juga kalau mau pedas. Tapi si Narda belum ‘kuat’ makan pedas. Jadi, biasanya dibuat 2 versi sekali masak. Dibedain talenannya saja.

4. Panaskan oven, 220 derajat. Setelah panas, masukkan talenan yang sudah berisi kentang tadi. Panggang sekitar 20 menit sudah cukup. Di sela-sela pemanggangan, sekitar 10 menit kemudian, taburi si daun bawang perai yang sudah dicincang kasar ke atas potongan-potongan kentang. Kalau dimasukin dari awal, gosong euy :P.

Hasilnya, tuh di gambar pertama di atas tadi :D. Jangan lupa tambahkan sayuran segar. Anak-anak dan suami saya doyannya pakai timun segar yang dipotong-potong kecil. Sawi juga bisa. Atau paprika segar yang juga dicincang kecil-kecil.

5. Setelah matang, bisa langsung disantap saja. Enak, lho. Gurih dan harusnya lebih sehat, ya, karena judulnya dipanggang bukan digoreng :P.

6. Bisa juga sembari dipanggang, siapkan sebuah mangkok agak besar. Serut-serut mentega plus daun bawang, campur dalam mangkok itu. Anak-anak kadang lebih suka kalau pakai mentega.

Resep kentang panggang mentega7. Selagi masih panas, cemplungin potongan-potongan kentang ke dalam mangkok. Aduk-aduk biar menteganya meleleh dengan rata.

8. Tinggal dihidangkan, deh :D.

Walau tanpa daging atau telur, rasanya tetap cetarrrrr:D. Cobain sendiri. Gampangnya enggak main-main, kan? Ya kalau susah-susah biasanya enggak bakal saya jabanin. Hahaha.

Mari makan ^_^.

Aneka resep kentang : resep kentang panggang piring

Diciptakan Alam … Pria dan Wanita

Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Ada pun wanita lemah lembut manja

Begitu kira-kira penggalan lagu lawas, “Sabda Alam”. Enggak familiar? Tapi pasti langsung ngeh dengan lirik yang ini “Wanita dijajah pria sejak dulu…” Itu dari lagu yang sama.

Pria berkuasa, wanita lemah lembut, itu pakem umumnya :D. Diciptakan alam, pria dan wanita :).

Bagi yang mengenal saya secara personal, pernah ketemu langsung dan berinteraksi di dunia nyata, semua juga tahu … lemah-lembut-manja is definitely NOT ME! Hahaha.

Tapi kan itulah gunanya diciptakan macam-macam manusia. Perempuan pun tidak diciptakan seragam ;).

Waktu saya SMA, saya punya sahabat. Dengan perangainya yang anggun, bodinya yang oke, tampangnya yang imut, tak heran yang naksir sampai antre :D. You know who you are. Kapan kita biskal-biskal lagi, Ces :P. Kalau secara umum di tanah air bilangnya curhat (curahan hati), abege Makassar di tahun 90 an bilangnya, biskal (bisikan kalbu) :D.

Pernah suatu hari, untuk kesekian kalinya dia curhat, “Bagaimanami ini. Menelepon terus ki. Malasku’ deh…” (Gimana nih? Dia menelepon terus. Malas, deh).

Saya merespons dengan gemas, “Ka jammoko angkatki telponnya. Kasi tau orang di rumahmu. Kalo meneleponki lagi, bilang saja kau tida’ ada.” (Jangan diangkat teleponnya. Beritahu orang di rumahmu. Kalau dia menelepon, bilang saja kau tidak ada).

“Tauwa. Nda’ tegaku. Kasiannya kodong kalau begitu.” (Aduh, enggak tega. Kasihan dia nanti).

Ya kan saya jadi gatal-gatal sendiri. Apa susahnya sih menolak telepon dari orang yang tidak kita sukai? –> raja tega dari dulu :P. Simpel ya, Bo. Tidak suka, jangan diladenin. Saya pribadi selalu kurang nyaman dengan situasi tidak seimbang macam ini dan selalu ingin buru-buru mengakhiri.

Saya punya satu cara fantastis yang saya lakukan untuk mencegah kode ‘salah alamat’ seperti ini :P. Kalau saya naksir pada seorang teman, seluruh dunia pasti tahu! Hahaha. Cek saja, tidak di SMP, SMA, kuliah sampai ngantor juga begitu. Harapannya, dengan begitu, yang mau ‘maju’ sudah rontok duluan. Jadi, tak perlu ada drama dan semacamnya.

I love drama for sure. I just don’t feel like I wanna be a part of it :P.

Geer banget, macam banyak yang naksir saja. Mending geer daripada minder hihihi :P.

Blak-blakan saja :D. Suka bilang suka. Walau tak umum, perempuan yang ‘maju’ duluan. Konsekuensinya juga berat, sih. Karena seringnya gagal hahahaha.

Repotnya, begitu gagal, dalam hati sudah berdamai, tapi susah memberitahu pada lingkungan bahwa, “All is well. I’m moving on.” Orang-orang tetap saja merasa kasihan. Puk-puk Jihan, cintanya ditolak! Oh heloooo, kalau naksir orang ya jangan satu, dong. Hahahaha.

Dulu pas ngantor, ingat banget. Ceritanya, kecengan eike merit aja gitu hahaha. Setelah itu,  semingguan, sepanjang hari diputerin lagu “Pupus”nya Dewa. Ngeledek banget dah :D. Etapi, lagunya emang bagus, kok. Masih ada yang ingat? 😉

Tentu, tidak semua perempuan seperti saya. Yang tidak malu terbahak-bahak di kantin tanpa menutup mulut sama sekali :D. Yang tidak segan memasang tanda dengan jelas tanpa basa basi “Stop sampai disitu.” jika mendapat ‘serangan salah alamat’ :P. Serta tak ragu menunjukkan rasa suka walaupun pihak seberang belum pasang ancang-ancang hahaha. Masa lalu ya booo … masa lalu :P. Jangan diingkari, mari diambil hikmahnya ^_^.

Jangan salah. Di balik kelembutan dan kemanjaan perempuan, kekuatannya juga tidak main-main :).

Namun adakala prla tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Harta-tahta-wanita konon adalah cobaan terbesar untuk para laki-laki.

Perempuan dan laki-laki itu harusnya saling melengkapi. Bukan adu keren-kerenan hehehe.

Namun lantas, janganlah kelembutan perempuan (pada umumnya) disalahartikan sebagai persetujuan. Menilik kasus yang menimpa seorang sastrawan besar inisial SS, terus terang istilah ‘suka sama suka’ ini mengganggu sekali :(.

Beberapa orang sampai mempertanyakan, “Kok baru berani mengadu setelah hamil berbulan-bulan?”

Perempuan tak sama dengan laki-laki :). Pahami itu dulu. Sepadan tapi tak sama. Manalagi masalah dan hukum yang masih kurang ‘berpihak’ pada kasus-kasus seperti ini.

Gambar : interestingtopics.net
Gambar : interestingtopics.net

Saya pernah membaca sebuah kasus di Amerika Serikat, tentang seorang PSK yang berani melaporkan sebuah pelecehan seksual yang dilakukan pada dirinya. PSK, lho. Kalau di Indonesia pasti sudah dicibir duluan. Betapa hukum negara di sana sudah sedemikian ‘canggih’nya melindungi sebagian besar bentuk kejahatan yang menimpa siapa pun :D. Well, more or less ya. Mana ada hukum yang sempurna kecuali datangnya dari Sang Pencipta ;).

Tak usah saya berpendapat panjang-panjang soal SS. Mari langsung disimak tulisan dari Ayu Utami di link ini. Btw, I’m not her fan, sih :). Tak sedikit pemikirannya yang berseberangan dengan saya.

Tapi, banyak orang menuduh para sastrawan ‘liberal’ (whatever this means, karena penggunaannya sudah mulai seenaknya sih ya *sedih*) berusaha ‘melindungi’ si SS. Ayu Utami punya pendapat berbeda :).

Ayu menuliskannya dengan runut, indah, tidak menuduh dan tidak menghujat :). Monggo dibaca :). Duh, kalau yang nulis sastrawan memang ‘beda’, ya ^_^.

https://ayuutami.com/mengapa-kita-tak-pantas-lagi-bilang-suka-sama-suka/

The Davincka Code

Hahahhahahaha… I know judulnya enggak banget. Suami saya sendiri sempat bilang, “Kok norak banget, sih?” 

Dulu, saya sempat membuat page iseng-iseng, sok-sok mau mengumpulkan tulisan dalam page khusus. Nah, page itu saya beri nama “The Davincka Code.” Enggak tahu awalnya gimana, pokoknya kepikiran begitu saja. Semacam plesetannya The Davinci Code gitu lah hihihihi.

Page itu sudah saya hapus. Ngapain juga. Nambah-nambahin kerjaan aje hehehe. Sudahlah, di akun ini saja semuanya tumpah ruah . Nama itu kepikiran lagi saat akan menerbitkan kumpulan tulisan di buku solo ke-2 saya.

Eh, bukunya tentang apa, sih? . Actually, nothing special. Buku ini berisi….jeng, jeeengggg *drumRoll* … kumpulan status di FB! Hahahaha. Saya juga tidak mengira, tahu-tahu seorang editor mengirim pesan di inbox dan tertarik mengumpulkan tulisan-tulisan saya di wall ini. Tulisan yang juga saya taruh dalam blog.

Saya sempat pikir-pikir, ngapain sih pakai diterbitkan segala? Selama ini kan ditulisnya memang untuk teman-teman di wall dan di blog . Terus suami saya bilang begini, “Temen lu di FB mang berapa? Terus apa semuanya baca wall lu?”

Benar juga, ya. Apalagi di blog. Blog-nya sepi begitu hehehe. Kalau dibukukan, mungkin saja lebih banyak lagi yang bisa membaca dan syukur-syukur ikut menarik hikmah *tsaaahhh* . Macam motivator aje ngomongnye.

the davincka code FA 2

Kalau ngomongin royalti, sudahlah ya hihihi. Menulis buku itu memang murni untuk passion saja . Kalau sudah condong ke materi dijamin bakal nangis dah. Biarlah urusan materi kita kejar dari … ATM suami sajah. Hahahaha.

Therefore, saya ikhlaskan tulisan-tulisannya berpindah tangan kepada penerbit . Tadinya, agak ragu, mintanya 200 halaman A4. Aje gile. Mana ada segitu? Ya sudah kalau tidak cukup saya sudah berniat membuat beberapa tulisan baru.

Ealah, baru 2/3 tulisan pilihan dipindahkan ke A4, sudah 200 halaman saja. Astagaaaaa, status saya ternyata sepanjang itu, ya hahahahaha. Tak sedikit status jika dipindah ke halaman A4, jadinya 6-7 halaman aja gituh hahahaha. Spasi 1.5 lho ya bukan double  *ngelapKeringat*.

Saat dipindah ke halaman buku, jadinya nyaris 300 halaman. Ffiiuuhh…tidak disangka ye .

Makanya, saya bingung gimana mau promosiinnya yak di wall ini. Wong, semua tulisannya sudah pernah muncul di wall hihihhi.

Total ada 38 judul . Judul-judul yang pastinya sudah familiar banget, ya bagi pemirsa setia wall ini *benerinPoni* . Masih ingat dengan …

Kata Pengantar (God’s Gift to You)

Chapter 1 : Every Mom Has Her Own Battle
Chapter 2 : Blogger Perempuan, Berceritalah pada Dunia!
Chapter 3 : “Because One Day Mommy, I Won’t be This Small”
Chapter 4 : The Strength You Didn’t Know That You Had
Chapter 5 : Semua Anak … Cerdas!
Chapter 6 : Filosofi Sepatu
Chapter 7 : Places Called Home
Chapter 8 : (Apalah) Arti Sebuah Nama
Chapter 9 : Hers is Where Mine Begins
Chapter 10 : For Making Us A Fighter
Chapter 11 : A Little Snow Before Sunshine
Chapter 12 : What is Invisible to The Eyes
Chapter 13 : Challenge What The Future Holds
Chapter 14 : Don’t We All
Chapter 15 : Tak Ada yang Abadi
Chapter 16 : People We Haven’t Met Yet
Chapter 17 : VVIP
Chapter 18 : Until It’s Gone
Chapter 19 : Bila Kau Tidak Mendapatkan Apa yang Kau Inginkan?
Chapter 20 : We Do and We Don’t
Chapter 21 : Hitam atau Putih?
Chapter 22 : Waktu (Akan) Berbicara
Chapter 23 : Rendang Padang, Jauh di Mata Dekat di Lidah
Chapter 24 : Lihatlah Warna Pada Cahaya
Chapter 25 : Roda Pedati, Kadang di Atas, Kadang di Bawah
Chapter 26 : If The Music Sings a Thousand Memories
Chapter 27 : Every Woman’s Best Man
Chapter 28 : Happiness is Not Given, It is Made
Chapter 29 : One Day You’ll See
Chapter 30 : What’s Your Dream Job?
Chapter 31 : What If
Chapter 32 : Dear Son, Fly Abandonedly Into The Sun
Chapter 33 : Soekarno, yang Terbit, Terbenam dan Kembali Bersinar”
Chapter 34 : Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca
Chapter 35 : Saladin, Dicinta Kawan Dipuja Lawan
Chapter 36 : We are The World, We are The Children
Chapter 37 : Ada Apa dengan Timur Tengah?
Chapter 38 : Farewell Note 

Sampai-sampai, farewell note buat seorang teman, Linda Octaviana yang pindah ke Suriname dari Jeddah, juga diminta oleh penerbit untuk dibukukan . Farewell note doang padahal hehe.

Jangan khawatir, walau (hampir) semua tulisan tersebut sudah ‘menghilang’ dari wall dan blog saya, masih buanyak ternyata isi blog eike hihihihi. Jadi, kalau pun tak beli buku, tulisan-tulisan si Mbak Poni inih  masih bisa dinikmati secara gratis di blog jihandavincka dot wordpress dot com kok .

Dan wall ini pun akan terus bertabur tulisan-tulisan iseng yang temanya random. Suka-suka yang nulis aja . So, don’t worry 😀. Jadi, situ berasa punya fans?  –> sodorin kaca ke mbak-nya biar insaf.

Bingung juga ini mau promosi *garukGarukKepala*. Pokoknya saya jujur saja, nothing new kok di buku ini. Kalau mau bernostalgia silakan dibeli. Kalau tidak, mohon doanya, ya, mudah-mudahan orang-orang lain (di luar friend list FB dan pembaca blog) berkenan membeli bukunya 😉.

Sebagian tulisan saya sering bercerita tentang ibu, kakak-kakak dan adik-adik saya yang memang jumlahnya tidak sedikit hihihi. Buku ini teruntuk ibunda tercinta, Mama Amang . Untuk kakak-kakakku yang ganteng-ganteng, Sulaiman – Salman Alfaris – Lukman Hakim – Anwar Sadat. Untuk adik-adikku tersayang, Nasli dan Akhmad Khalid.

Mama and her grown-up babies :D (January, 2013)
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)

Untuk suami tercinta, Bang Dani yang lagi-lagi foto-fotonya eike comot-comot sesuka hati untuk cover dan isi buku hihihihi. You’re the best, Bang *kecup*. Dan tentu…si duo tengil kesayanganku, Nabil dan Narda 😉.

Berasa terima Oscar ya Kakaaaaa hahaha. Abisnya di buku enggak ada ucapan terima kasih hihihihi .

Tulisan ini hanya teaser pertama saja. Abis ini bakal ada teaser-teaser lanjutan kek biasa. Macam Memoar of Jeddah ajalah. Jangan-jangan ini teasernya aja kalau dikumpulin bisa satu buku sendiri .

Baiklah. Proofread sudah di tangan. Tanda setuju sudah dikirimkan. Mohon doanya, jika lancar, sebelum tahun 2014 datang, bukunya sudah terbit di toko-toko buku . Beli lewat saya juga boleh untuk yang ini 😉.

COver FB the davincka code

***

Warisan Dunia di Madain Saleh Arab Saudi

Ini nih, tempat yang seharusnya dikunjungi pas januari 2011. Pas Jeddah tengah dilanda banjir :D. Gara-gara banjir, buyar semua rencana jalan-jalan ke Madain Saleh Arab Saudi di awal tahun itu.

Sempat sudah putus asa mau ke sana. Soalnya tempatnya jauh, booo. Kalau cuma berempat bareng suami dan anak-anak, ogah amat hihihi.

Madain Saleh Arab Saudi terletak sekitar 400 km dari Madinah. Madinah sendiri 400 km dari Jeddah. Ya dikira-kira sendiri itu jauhnya dari Jeddah *ngelapKeringat*.

Eh, di akhir 2012 kemarin, ada rencana untuk konvoi ke sana. Langsung tunjuk tangan paling tinggi. Kebetulan pula, kami kan sudah mau final exit di bulan Februari 2013. Alhamdulillah, rencana berjalan lancar *tepukTangan* … dan inilah cerita jalan-jalan kami waktu itu :).

Al Ula

Tempatnya terletak di Kota Al Ula. Kota ini cukup khas. Pemandangannya unik. Tidak seperti kebanyakan kota di Saudi yang didominasi oleh pegunungan batu abu-abu dan padang pasir, di kota ini banyak gunung-gunung batu dengan warna coklat.

Sebagian besar sudah terpahat. Bukan sengaja dipahat. Tapi terpahat sendiri oleh alam. Kesannya sih jadi  kayak The Grand Canyon di Amerika Serikat sana. Iya gitu? Iya-in ajalah hihihhi.

Madain Saleh

Jadi, kita ini pada ke Madinah dahulu sebelum ke Al Ula. Menginap semalam di hotel. Sehabis salat subuh di Nabawi (aih, kangennya *hapusAirMata*), sarapan di resto hotel, baru deh kasak kusuk di lobi siap-siap menuju Al Ula.

Dari Madinah ke Al Ula lumayan pegel…400 kilo gitu lhoooo :P. Tapi di perjalanan, ditunjang dengan jalan tol mulus nan lebar, bapak-bapak ngebutnya enggak kira-kira. Sekitar 3 jam sajahhh nyetirnya :D. Kalau  jalanan yang sepi-sepi gini diperkirakan enggak ada si Saher, kamera pengintai batas kecepatan di jalanan tol.

Di Al Ula, sampai 2x ngisi bensin hihihi. Iyalaaahhh, ngebutnya enggak tanggung-tanggung, bensin langsung jebol. Mumpung seceng per liter ya, Kakaaaa ^_^.

Madain Saleh Arab Saudi / Al  Hijr 

Madain Saleh

Nama asli tempat ini adalah Al Hijr. Tapi, konon tempat ini dulunya adalah tempat bermukimnya Kaum Tsamud, kaum yang dilaknat Allah pada masa Nabi Saleh. Makanya disebut-sebut sebagai Madain Saleh.

Madain, dari kata Madinah. Madinah, dalam bahasa Arab artinya kota. Madain = sekumpulan kota. Sedangkan Al Hijr artinya pegunungan batu. Cocok lah. Secara isinya memang jajaran bukit-bukit batu.

Sebelum memasuki Al Hijr, kita sudah menyewa seorang pemandu. Selain untuk memandu acara jalan-jalan kita, beliau juga yang membantu mengurus surat tasrikh (semacam surat izin) untuk memasuki tempat tersebut. Masuknya sih gratis, tis, tis *tepukTanganLagi*. Tapi kudu pakai tasrikh itu.

 

Kereta Api dan Stasiun Tempo Dulu

Dari pintu masuk, mampir ke sebuah tempat yang ada kereta apinya gitu. Tentu saja, begitu mobil parkir, anak-anak dah kesetanan berlarian ke sana hihihi.

Langsung  merubung dekat kereta api. Ternyata ini adalah kereta api peninggalan dari Kekaisaran Ottoman yang pernah menguasai jazirah Arab termasuk daratan Arab Saudi.

Kereta api, lengkap dengan stasiunnya, dibangun untuk mengangkut jemaah haji menuju Mekkah. Di masa Perang Dunia 1, tempat ini sempat hancur akibat perang lokal di sana. Pemerintah Saudi kemudian merenovasinya dan dijadikan tempat wisata :).

Rangka keretanya masih asli, lho. Hanya dicat ulang saja ;). Demikian pula bangunan-bangunan di sekitar tempat itu. Masih asli, hanya dipermak ulang.

Madain Saleh

Kuburan di Bukit Batu

Setelah susah payah nangkepin bocah satu-satu untuk digotong masuk mobil lagi (pada norak liat kereta siiiihhhh -_-) … lanjut lagi acara membedah Madain Saleh Al Hijr-nya. Ngikut di belakang mobil jip-nya si pemandu aja.

Kami berhenti kembali di sebuah tempat yang dari jauh kayaknya cuma perbukitan batu biasa. Setelah turun dari mobil, baru terlihat, bukit-bukit batunya sudah dipahat menjadi bangunan-bangunan tertentu.

Kirain rumah tinggal. Walau tak ada jendela tapi ada pintunya. Ternyata…kuburan *hiiiyyyy*. Jadi, dulu itu, jasad orang mati tidak langsung dikubur. Tapi ditaruh di depan pintu bangunan yang menjadi kuburan tadi. Dibiarkan agar para Elang berdatangan dan memakan daging si mayat. Nah, sisa tulang belulangnya yang dimasukkan ke ruangan kuburan itu.

Makanya, di atas pintu bangunan ada gambar elang-nya. Kenapa mesti elang bukan rajawali atau burung pemakan bangkai sekalian? Mana gue tauuuuuu… hahahahaha *dikeplakPembaca* :P.

Madain Saleh

Btw, bangunan-bangunan tersebut bukan peninggalan Kaum Tsamud. Melainkan sisa-sisa pemukiman suku Nabatean yang diperkirakan tinggal di sana sekitar abad pertama Masehi.  Suku Nabatean ini juga yang meninggalkan warisan budaya yang super keren di Petra, Yordania. Belum sempat ke  Petra, ya enggak apa-apalah liat-liat versi lainnya di Al Hijr-nya dulu hehehe.

Sebentar, tahu Petra kagak nih? :P. Cek google ya ;). Konon Petra ini adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi sebelum ajal tiba :D. Saking uniknya gitu kali, ya.

Ad Diwan

Sehabis lihat-lihat kuburan, sekarang dibawa ke Ad Diwan. Ini juga peninggalan dari Suku Nabatean. Ad Diwan ya dari bukit-bukit batu yang dipahat juga. Tapi ruang tengahnya lebar, enggak pakai pintu.

Tempat ini dijadikan tempat pemujaan oleh kaum Nabatean tadi di Madain Saleh. Makanya, ada semacam batu persegi di tengah-tengah ruangan, yang kira-kira dijadiin meja kali, ya.

Madain Saleh

Sebenarnya tempatnya luas banget. Masih banyak yang bisa dlihat. Tapi udah keburu sore. Sehabis dari Ad Diwan, kami pun beranjak pergi dari sana.

Informasi tambahan, nih. Di tahun 2008, tempat ini resmi dijadikan “Warisan Budaya Dunia” oleh  UNESCO :).

***

Btw, para madam kagak ada suaranya selama di sana? Kata siapeeeee hihihihi. Tentu sajah, selain sibuk ngangon bocah :P, kita pun sibuk memaksa para suami moto-moto kita hahahaha. Abisnya para suami sibuk moto-moto pemandangan. Pemandangan yang paling bagusnya malah dianggurin *benerinPoniBerjamaah* hahahaha.

Madain Saleh

Nah, keluar dari sana, kami pun makan siang bersama. Well, semacam late-lunch gitu  kali, ya :P.

Iya sih, lapernya minta ampun waktu itu hihihi. Kami bawa bekal dari Madinah. Umm..dari Jeddah sih tepatnya hehehe. Masak nasi aja kali sempat di hotel pas di Madinah. Lauknya sudah disiapin dari Jeddah ;). Kota super mungil macam Al Ula di mana pula mau cari rumah makan? 😛

Seperti biasa, orang Indonesia ya, ke mana-mana gerombolan nenteng tiker sama rantang hahaha. Digelarlah aneka menu borongan dari bagasi mobil masing-masing di atas hamparan tikar. Ih, kalau diingat-ingat lagi terharu banget :).

Madain Saleh Al Hijr

Ingat dulu di Jeddah ke mana-mana selalu ramai. Sering konvoi sampai 10 mobil malah pas ke Al Hijr itu ^_^. Ngikik-ngikik di jalan, narsis-narsisan sambil foto-foto. Segala macam snack sampai ikan kering juga digotong kalau pas acara jalan-jalan ke luar kota :D. Sambel ijonya si Madam Mira yang tak terlupakan pedesnya hahaha. Eaah, kenapa ini malah bahas makanannya hihihihi 😛 *ngakakLaper*.

Kalau diingat-ingat lagi, senyum-senyum iya, tapi rasa pengin mewek juga selalu ada. Cengeng, cengeeengggg :D.

Semoga suatu hari bisa bertemu kembali dan kumpul-kumpul seperti dulu. Meskipun bukan di Saudi lagi :). Jalan-jalan ke tempat lain selain Madain Saleh Al Hijr ini :D.

“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.”
― Haruki Murakami, Kafka on the Shore

Dan akyu pun nangis beneran deh sekarang, hiks. Mesti lho yaaa, mesti banget ada drama-nyaaaaaaa …. *nyengirSambilMewek*.

***

Tulisan Jalan-jalan di “Suara Merdeka”

Akhirnya, tayang juga di Suara Merdeka . Menurut teman-teman, kalau di SM dimuatnya cepat. Begitu sudah lebih dari sebulan, sudah malas ngecek ke e-paper-nya. Terima kasih Mbak Irawati yang sudah mengabari pas hari pemuatannya ;). Ini dimuatnya agak lama. Hampir 2 bulan menunggu.

Derryglad Folk Museum menempati peringkat pertama dalam daftar “a must visit place’ di daerah Midland-Irlandia. Museum antik khas masa lampau Negeri Leprechaun ini padahal enggak gede-gede amat, sih.

Waktu ke sana, anak-anak sudah kelelahan habis berheboh-heboh ria di Glendeer Pet Farm. Mereka ketiduran di mobil. Jadi, saya masuk sendiri nenteng kamera suami. Suami jagain para bocah di mobil. Dia juga malas, sih, masuk-masuk museum 😛.

Pantes foto-fotonya cupu-cupu hihihi. Maklumlah ya, siapa yang ngambil. Benar-benar bingung make kamera suami hihi. Saya sudah minta ke suami supaya diedit biar caem-an dikit. Katanya, “Ya ini sih memang komposisinya yang kurang bagus. Warna bisa diatur-atur, tapi kalau komposisi obyek ya enggak bisa diapa-apain lagi.”

Saya mikir sebentar. Terus bilang, “Komposisi itu maksudnya apa sih, Bang?”

Ahahahahhahahaha. Ya sudahlah ya, menulis ya menulis saja, enggak usah sok-sok an megang kamera hihihihi. Memang dari dulu senangnya dipotret bukan memotret. Situ model? *benerinPoni*   .

Edisi minggu 23 November 2013 di Harian Suara Merdeka, rubrik jalan-jalan…jangan lupa dibaca tentang si “Folk Museum Khas Irlandia” ini ya . Cek di epaper-nya Suara Merdeka juga bisa, tuh 😉.

Tertarik meramaikan rubrik “Jalan-jalan” di harian lokal Jawa Tengah ini? Gampil :D. Kirim saja tulisan jalan-jalan kalian (dalam negeri dan luar negeri, mana saja boleh :D). Maksimal 6000 karakter (dengan spasi). Foto-fotonya jangan lupa ;). Kirim ke satasuaramerdeka@yahoo.co.id

Honor menulis tulisan jalan-jalan di Suara Merdeka lumayan juga, lho. Kalau tidak salah 500 ribu per artikel. Lumayan kaaaan buat jajan-jajan bakso hehehe.

Menurut pengalaman saya yang pertama kali ini dimuat di sana, mereka tidak memberi tahu sama sekali. Tapi tulisan kita bisa dipantau melalui versi e-papernya Suara Merdeka.

Selamat mencoba anyway ^_^.

Suara Merdeka - Derryglad Museum