Peristiwa G 30 S PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (7-Finale)

Peristiwa G 30 S PKI : Dalih Pembunuhan Massal (7- Finale). Bagian sebelumnya di sini, ya.

Soekarno, “Sejarah Akan Membersihkan Namaku”

***

Bagian paling menyayat-nyayat hati dari film “Pemberontakan G30S/PKI” ala Orde Baru adalah saat mayat-mayat para jendral diangkat dari sumur di Lubang Buaya. Adegan ini kalau tidak salah diiringi dengan lagu “Gugur Bunga.” Betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku … betapa hatiku tak akan sedih hamba ditinggal sendiri …

‘Blunder’ yang belum terpecahkan dalangnya secara sahih hingga kini itu tak cuma mengubur rapat-rapat mimpi kaum komunis menguasai nusantara. Peristiwa G30S juga mengorbankan sebuah nama, Soekarno.

Setelah menghabisi nyawa hampir semua kader/simpatisan/anggota organisasi yang berafiliasi dengan PKI, tibalah Suharto dkk pada salah satu misi puncak mereka, menyudahi kekuasaan Soekarno.

Demo-demo yang belakangan dikenal sebagai Tritura digalakkan dengan mengerahkan mahasiswa dan ormas-ormas masyarakat. Tentu saja, ada sumbangan ‘nasi bungkus’ dari pemerintah AS . Hahaha. Abis yang ngetren sekarang panasbung, yak .

Tentu ini tidak serta merta. Rezim Suharto kan pinter banget propagandanya. Penculikan jendral digambarkan bagai peristiwa luar biasa. Genderang perang semacam ditabuh bertalu-talu. Kalau lihat di film, suasana di tanggal 1 Oktober itu mencekaaaaam banget.

Belakangan beredar foto-foto kalau ternyata ya biasa-biasa saja hehehe. Bundaran HI ya tetep macet hihihi. Boleh dicek di wallnya Om Anton Dwisunu, ya . Tempo hari sempat beredar foto Jakarta di pagi hari 1 Oktober 1965.

Juga sudah dibuktikan G30S dipukul mundur dengan sangat mudah dalam tempo yang cukup singkat. Namun, Suharto dkk membungkus peristiwa ini dengan kemasan perang urat syaraf yang cetar membahana . Jadi, sebenarnya menurut Roosa, penulis “Dalih Pembunuhan Massal”, G30S dan pembasmian PKI itu sebenarnya 2 hal yang berbeda .

Salah satu dokumen penting yang menandai peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Suharto adalah dokumen Supersemar. Namun hingga kini, dokumen aslinya entah ada di mana. Yang berada di Gedung Arsip Nasional hanyalah kopinya. Di mana sebagian pihak juga meragukan itu beneran kopinya atau bukan? Nah lo *seruputKopiAnget*.

Soekarno telah sering mengeluhkan tentang kesalahpahaman rezim Suharto tentang Supersemar ini. Apa daya, Suharto sudah merangsek terlalu jauh. Semua anggota kabinet loyalis Soekarno sudah dibabat. Petinggi-petinggi AURI yang pro Soekarno juga sudah dilumpuhkan semua. PKI apalagi.

Konon, Supersemar berisi limpahan kewenangan dari Soekarno kepada Suharto untuk mengambil tindakan-tindakan yang dirasa perlu dalam ‘chaos’ yang ada pada saat itu. Tetapi semuanya harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada Panglima Tertinggi ABRI, Soekarno.

Alih-alih menjalankan isi Supersemar, Suharto bahkan menggunakannya untuk melengserkan Soekarno. Ketiga jendral yang katanya merupakan saksi Supersemar juga bungkam hingga akhir hayatnya. Suharto pun mengunci rahasia ini dalam-dalam hingga ke liang lahat.

Btw, ke mana cinta masyarakat yang selama ini selalu menjadi ‘perisai’ terkuat Soekarno dari rongrongan AD maupun PKI? Jangan lupa, propagandanya ini tingkat tinggi dengan frekuensi yang luar biasa. Siang malam Suharto terus mendengung-dengungkan bahwa Soekarno telah menyerahkan tampuk kekuasaan kepadanya.

Suharto dan AD kan juga habis-habisan membuat masyarakat percaya bahwa negara sedang dalam gawat darurat dan butuh penanganan luar biasa. Sekaligus menenangkan rakyat dengan buaian, “Tenang, semuanya aman terkendali di bawah komando Suharto dan Angkatan Darat.”

Momentum G30S telah sukses menyempurnakan skenario perebutan mahligai kekuasaan yang dijalin cukup lama bahkan mungkin sudah hampir basi. Thank God, G30S meletus dan memutarbalikkan ‘keputusasaan’ pemerintah AS dan sekutu nusantara-nya, AD .

Setelah PKI dihabisi di Indonesia, pemerintah AS lebih santai menghadapi Perang Vietnam . Sip, sasaran utama telah di tangan. Toh, Vietnam ini sebenarnya salah satu pencegahan yang dilakukan AS agar komunis tak merebak di Indocina dan Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Negeri Raksasa yang mahakaya yang untungnya tak menyadari betapa berharganya daratan surga yang mereka diami.

Boleh dicek. Freeport mendaratkan tahtanya di Indonesia sejak tahun berapa?

Isu bahwa Soekarno pro komunis juga tidak sepenuhnya benar. Karena PKI di masa keemasannya pun tidak pernah berhasil menguasai posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Terlebih di tahun 1959, Soekarno membubarkan Pemilu. Ya, jangan-jangan untuk membenamkan komunis yang mulai tak terbendung.

Ingat, Bung Karno cita-citanya jauh lebih tinggi daripada pro komunis. Menyatukan kaum nasionalis-agamis dan komunis dalam dekapan Ibu Pertiwi. Nasakom.

Sesuatu hal yang cukup mustahil memang. Tapi hey, itulah Bung Karno yang suatu kali pernah berseru, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang” .

Ada teori bahwa Soekarno hanya ingin memanfaatkan PKI untuk meredam Angkatan Darat yang sudah dikuasai oleh jendral-jendral sayap kanan. Sementara, Soekarno tetap membiarkan AD menduduki pos-pos strategis dalam pemerintahannya.

Di masa-masa akhir kepemimpinannya, saat Soekarno telah terisolasi dari kabinet dan masyarakat, ajudannya sempat berkata, “Mengapa Bapak tidak melawan? Rakyat masih cinta. Pasti akan mendukung bila diminta. Bapak ini seorang pejuang.”

Soekarno menjawab bijak, “Hidung mereka sama dengan hidungmu, sama dengan hidungku. Kamu minta saya melawan bangsa sendiri? Dulu, kita melawan penjajah. Hidungnya beda dengan hidungmu, beda dengan hidungku.”

Soekarno menghindari perang saudara yang pasti diyakininya akan lebih merugikan dan menyakitkan bahkan untuk dirinya sendiri. A true leadership. Praktik kepemimpinan yang terpuji.

Peristiwa G 30 S PKI
Gambar : biographypeople.info

Dari buku ini, digambarkan betul, betapa cinta masyarakat dan kepopuleran Soekarno yang bergema sedemikian kuat di hampir seluruh penjuru nusantara benar-benar membuat musuh-musuh politiknya harus bekerja keras mencari cara untuk menjatuhkan wibawanya.

AD punya kekuatan militer yang mumpuni. Apalagi sejak menjadi ‘panasbung’-nya AS hehehe . PKI, walau tak punya senjata, punya massa yang sedemikian banyak dari ibukota hingga ke desa-desa terpencil. Soekarno punya apa? Beliau cuma punya cinta . Cinta dari seluruh negeri. Berarti benar ya, kekuatan terbesar dalam dunia ini sebenarnya adalah CINTA.

Seperti kata Gandhi, “What barrier is there that love cannot break?” .

Kepemimpinan Soekarno dibangun dari rekam jejak yang tangguh dan lama. Sejak muda, ketampanan dan kecerdasan yang diatas rata-rata tidak membuatnya bertekut lutut pada iming-iming duniawi dari petinggi-petinggi kolonial . Tentu saja, rasa cinta yang membuncah-buncah pada Ibu Pertiwi yang mengokohkan beliau untuk terus mengobarkan perlawanan pada penjajah.

Rakyat tak pernah meragukan ketulusannya. Dan sudah dibayar lunas oleh Soekarno . Ketika Bung Karno memutuskan untuk tidak memberikan perlawanan habis-habisan saat Suharto tengah berusaha mati-matian menjatuhkannya. Beliau ya bukan politikus kelas sapi . Pasti tahu pasti jika dirinya tengah dirongrong dan yakin beliau bisa memberikan perlawanan sepadan jika mau.

But he did not . Cinta seorang pemimpin kepada rakyat. Tak akan rela melihat pengikutnya harus hancur hanya untuk kepentingan diri sendiri. Percayalah, sebegitu banyak konflik politik di berbagai belahan dunia, legowo demi keutuhan bangsa seperti yang dilakukan Bung Karno ini bukan pilihan yang mudah.

Kalau mau, beliau bisa berdiri menantang di atas podium dan mengaum sekuat-kuatnya untuk menyulut perang saudara. Once again, he did not .

Tentu saja, beliau ya manusia biasa. Kelemahannya juga tidak sedikit . Sifat impulsif dan banci tampilnya sampai pernah membuat gerah sang partner kala itu, Bung Hatta. Hatinya yang mudah jatuh pada perempuan membuatnya terkenal beristri banyak.

Tapi ya situ kalau baru sebatas menikah lebih dari 1x terus mau banding-bandingin diri sama Bung Karno ya keterlaluan juga sih ya hehehe. Situ sudah melakukan apa untuk bangsa dan negara? *sodorinKaca* .

Karena kedua hal yang bertentangan itulah mungkin yang membuat Majalah Tempo membuat judul di salah satu serial Bapak Bangsa versi Tempo, “Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia.” Paradoks. Yang akan selalu bermuara kepada kontradiksi.

Namun begitu, pesonanya pun tetap berkilau hingga di akhir hayatnya. Di buku “Paradoks Revolusi Indonesia” ada kata-kata, “Bahkan jasad matinya pun membuat gentar.” Yup, Suharto menolak jenazah Sang Proklamator dimakamkan di Bogor sesuai permintaan keluarga. Bogor terlalu dekat dengan ibukota .

Akhirnya, sang Paradoks Revolusi disemayamkan di kota kelahirannya, Blitar. Walau dikutuk bagai bandit, sejarah telah menerbitkan kembali namanya yang pernah dibenamkan. Sesuai sumpahnya sendiri, “Sejarah akan membersihkan namaku.”

***

Berpuluh-puluh tahun setelah G30S, masih banyak yang menyangka,”Alhamdulillah, PKI tidak berkuasa. Kalau PKI berkuasa, mana bisa kita sembahyang?” Hihihihi .

Mbok ya, udahan atuh propagandanya . Sekarang saatnya mencari informasi berimbang. Apa itu komunisme? Gagasan apa yang sebenarnya dibangun oleh paham yang dulu muncul sebagai penantang kapitalisme. Sosialisme hubungannya apa dengan komunisme. Marxisme itu apa. Leninisme juga ada. Belum lagi istilah Marhaenisme.

Seperti apa dunia berputar di kala komunisme datang dan menghentak di sebagian wilayah dunia? Apa yang terjadi saat itu? Latar belakangnya apa?

Nanti seru, deh. Jadi kesasar ke Perang Dunia I, Perang Dunia II, bahkan kalau mau lebih komplit, pelajari Eropa di Abad Kegelapan yang akan mengantarkan kita kepada rentetan Perang Salib. Siapa, apa, bagaimana dan mengapa. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil in shaa Allah ketimbang terus berkoar-koar “Ini pasti ulah zionis” hahahaha .

Jangan tahunya cuma ribut-ribut kaum komunis dulu membunuhi Tsar Rusia sekeluarga. Yuk, dicari tahu juga, seperti apa Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan Tsarina-nya. Lah, Tsarina-nya memang kenapa? Ubek-ubek di Google dengan kata kunci Rasputin, deh, cobak .

Tidak untuk membenarkan siapa-siapa. Tapi untuk memperlihatkan warna warni politik-sosial-ekonomi di dunia yang ternyata tidak selalu terpenjara dalam hitam atau putih. Sekali lagi, you didn’t have to believe them all but you can always learn, learn, learn. In shaa Allah .

Demikianlah akhir dari pembahasan buku ini *ngelapKeringat*.

Versi blog menyusul ya .

Semoga kita bisa mengambil pelajaran penting dari sejarah yang satu ini.

1. Tentang kepemimpinan yang tulus yang dibangun dari rekam jejak yang tidak sebentar. Karena itulah, saya lebih kepengin Pakde Jokowi membuktikan diri di ibukota dulu hehehe. Hater masih terlalu banyak . Sementara legislatif masih awut-awutan. Jokowi masih perlu lebih banyak cinta. Masih perlu lebih banyak lover .

Mendulang rasa cinta yang ikhlas (kagak pakai nasi bungkus pastinya :P) jauh lebih sulit daripada menanamkan rasa benci . Sejarah membuktikannya berkali-kali. Cinta itu dari Ilahi, sudah diinstal sejak kita lahir. Sementara benci itu adalah rasa yang kita pelajari setelahnya. Kita HARUS diajar untuk membenci.

2. Tentang bahayanya HOAX . Yang tidak hanya melahirkan dendam tidak jelas selama puluhan tahun. Tapi juga membunuh ratusan ribu bahkan jutaan nyawa yang diyakini tidak berdosa. Yang di daerah terpencil ngerti ada kejadian G30S aja juga enggak tetap dibedil sampai mampus . Apa inikah makna fitnah lebih kejam dari pembunuhan?

3. Orang bilang tanah kita tanah surga. Ternyata, Macan Asia itu nyata adanya . Yuk, sama-sama kita bangunkan macan yang lagi pingsan ini hehehe .

4. Sejarah tergantung siapa yang bercerita. Jadi, situ enggak perlu percaya pada rangkaian tulisan ini hehehe. Saya juga ini sekalian melatih kemampuan menulis selain ingin berbagi pengetahuan (versi saya) hihihi.

Sekian :D.

The End.
***

If Tomorrow Never Comes

“Sembarangan. Gue enggak pernah ya ngomong kayak gitu. Ibu-ibu Perkakas Dapur yang lain juga enggak pernah nuduh-nuduh gitu.” Suara saya meninggi saking sebalnya mendengar tudingan Dandang barusan.

“Lah, gue juga enggak pernah ngelakuin yang lo ceritain barusan. Kalian tuh yang suka fitnah gue.”

“Mana buktinya?”

“Ya pokoknya gue taulah. Kalian ini hobinya ngomong di belakang. Ketemu gue aja pada enggak mau bisanya cuma jelek-jelekin gue.”

Saya makin naik pitam, “Duh, enggak salah, tuh. Kita enggak ke sini ya karena katanya Mbak Dandang udah enggak mau ngomong sama kita lagi.”

“Enggak kebalik? Kalian kali yang suka suudzon. Katanya gue jutek lah, katanya gue suka marah-marah enggak jelas.”

Tuding-tudingan langsung berakhir saat Parutan Keju, yang memang saya minta khusus untuk menemani saya menemui Dandang, melerai kami.

Benarlah selama ini kalau kisruh diantara Ibu-ibu Perkakas Dapur vs Mbak Dandang dipicu oleh kesalahapahaman. Kesalahpahaman yang dibiarkan berlarut-larut karena tidak adanya pihak yang sudi untuk bertabayyun.

Sebelum ke rumah Dandang, kepada Parutan Keju sudah saya ceritakan semuanya. Sudah saya sebut-sebut nama Panci yang saya curigai sebagai ‘tukang kipas’ diantara kami.

Parutan Keju berusia jauh lebih tua diantara kami dan beliau berada di luar lingkaran pertemanan “Ibu-ibu Perkakas Dapur”.

Karena saya tahu pasti, baik saya maupun Dandang adalah sedikit diantara perkakas lain yang tidak takut berkonfrontasi langsung dengan tegangan tinggi sekali pun. Makanya biar enggak korslet, perlu ada Parutan Keju hehehe.

Perlu lebih dari sejam untuk meyakinkan Dandang kalau saya bisa membuktikan semua cuma salah paham. Pasti enggak gampang untuk Dandang karena ternyata selama ini hubungannya tetap rapat dengan Panci. Padahal Panci mengaku sudah tidak akrab lagi dengan Dandang .

Saya ajak langsung Dandang bertemu Panci.

Yang saya inginkan bukan menghukum Panci, kok. Suwer. Benar-benar hanya ingin mengakhiri ketegangan yang sebenarnya berawal dari perselisihan Dandang vs Wajan & Dandang vs Mangkok. Dengan Mangkok saya tidak begitu dekat. Tapi Wajan adalah sahabat karib saya.

Malah, sebelum pertengkaran ini terjadi, Wajan-Dandang-Panci-Saya bisa dibilang kuartet yang paling karib. Kalau mengaji duduknya berempat rapat-rapat, cekikikan sembunyi-sembunyi hihihi. Pernah kejadian listrik di gedung Dandang dan Panci mati, mereka ngibrit ke rumah Wajan.

Saya, yang sudah bisa mencium aroma makan-makan tentunya ikut absen di rumah Wajan. Hahaha *temanMacamApaaahhh* .

Saya tidak rela melihat hubungan yang dulunya harmonis bisa pecah berkeping-keping. Tak hanya antara Mangkok-Wajan vs Dandang.

Ketidakpedulian saya, Sendok, Piring, Gelas dll membuat semuanya terseret. Tiba-tiba saja, it’s us against Dandang!

Padahal mungkin maksud Sendok dan Piring itu baik. Diamkan saja. Yang penting kita tidak ikut-ikutan. Istilahnya, cari aman sendiri . Saya tahu setelah ribut-ribut, Sendok masih dekat dengan Dandang. Piring yang belakangan juga kena hasut.

Pengajian kami terpecah dua. Kelompok arisan bubar. Aroma permusuhan menyebar luas ke seantero ‘rumah’. Tak hanya di ‘dapur’, di ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tidur’ tahu perang dingin antara kami. Malu rasanya.

Singkat cerita, setelah Panci ‘terdesak’, saya usulkan semuanya bertemu. Saya-Panci-Wajan-Dandang dan Mangkok. Yang lainnya entar-entar saja dulu. Dandang menolak konfrontasi. Ya sudah. Saya bilang yang penting ketemu saja. Peluk-pelukan dan saling minta maaf, tidak usah membahas apa-apa lagi.

Saya pulang. Tanpa sepengetahuan saya, Dandang berbicara dengan Panci. Katanya, Panci menangis. Dandang tidak tega. Pertemuan batal. Konon, Wajan akhirnya menelepon Dandang, Mangkok juga. Anehnya, Wajan sempat marah pada saya. “Lu kenapa sih? Dasar gila urusan! Enggak ada kerjaan lain apa, ya?”

Inilah repotnya. Panci jauh lebih dekat kepada Wajan daripada saya. Manalagi, Wajan ini, walau gampang marah dia tidak terlalu suka berkonfrontasi langsung. Dia tidak mau berdiskusi langsung.

Pada kenyataannya, hubungan kami semua dan Dandang tidak membaik.

Gambar : bubblews.com
Gambar : bubblews.com

Awalnya, Dandang tidak sadar. Saya ingat lho sekitar seminggu setelah konfrontasi itu, Dandang membuat acara buka puasa di kediamannya. Harapannya, kami semua datang.

Entah hasutan apa yang dibuat Panci, perwakilan “Perkakas Dapur” hanya ada saya dan Serbet, yang memang sejak awal memilih tidak ikut-ikutan sama sekali.

Mellihat saya datang, Dandang berseri-seri, katanya, “Wajan mana?”

Aduh, saya tidak tega melihat mukanya yang penuh harapan. Saya bilang saja tidak tahu. Padahal Wajan sudah berdalih kalau dia enggak bisa datang karena suaminya kerja malam .

Sepanjang acara, saban ada yang datang, Dandang sontak menengok ke arah pintu. Tapi, yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang . Sedih euy ingatnya.

Di situ saya jadi ketakutan sendiri. Pengecutnya langsung keluar. Saya mulai berhitung-hitung. Panci sepertinya ‘lawan’ yang ‘tangguh’. Tentu saja. Dia sudah lebih dahulu membentangkan sayap pertemenan di ‘dalam dapur’. Temannya banyak sekali. Dari ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tengah’, siapa yang tidak kenal Panci?

Saya waktu itu baru bergabung di ‘rumah’ itu. Siapalah saya. Sudahlah orangnya malas berbasa basi, malas datang ke acara ibu-ibu di luar acara ‘dapur’, saya juga terkenal bermulut silet huhuhu. Sementara Panci bersifat seperti malaikat. Kebaikannya sudah melegenda. Saya kagum kok kepadanya. Sifatnya yang ringan tangan kepada siapa saja tanpa pandang bulu memang patut kita acungi jempol .

Manusia … tidak ada yang sempurna 🙂.

Saya menyerah. Wajan sepertinya mulai menjauh. Mangkok memang terkenal pendiam. Jadi, ketika akhirnya Dandang malah bersikap dingin pada saya saat kami bertemu kembali, ya saya bisa bilang apa 🙁.

Walau sakit hati luar biasa, saya hanya berani mengamuk depan suami hahaha.

‘Dapur’ kami sudah mulai ramai. Saya pasrahkan bila memang Dandang yang memang harus terusir. Maaf ya, Mbak Dandang . Hiks. Enggak sanggup saya kalau harus berselisih dengan Mangkok, Wajan, Sendok, Piring, Gelas dan belakangan datanglah Tatakan Piring, Taplak, Toples dll.

Bersama teman-teman baru, ibarat kata, saya memilih menyembunyikan bangkai dalam lemari dan pura-pura tidak tahu saja. Seperti selama ini yang dilakukan oleh Sendok, Piring, Gelas dll.

Dan itu berlangsung terus selama bertahun-tahun. Yup, bertahun-tahun . Bahkan, Panci terus menyeret Tatakan Piring, Taplak dll ke dalam perang dingin. Sungguh lucu.. Mengingat Tatakan Piring, Taplak dll ini kan bahkan tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan Dandang.

Sementara itu, hubungan Dandang dan Panci tetap bagai dua sejoli tak terpisahkan.

Gambar : infodapur.com
Gambar : infodapur.com

***

Beberapa hari lalu Dandang mengirimkan pesan kepada saya. Panjang sekali isinya. Sungguh tidak mengira. Akhirnya, sekali lagi, ada yang membongkar muslihat Panci. Kali ini, semuanya melibatkan diri dan konfrontasi kembali dilakukan terang-terangan langsung di rumah Dandang. Panci sengaja tidak diikutsertakan.

Alhamdulillah. Selesai urusan antara Dandang dan ‘seantero dapur’.

Tapi … masalah lain mulai datang. Ini yang sebenarnya ingin sekali saya hindari dulu . Kisruh dengan Dandang terurai, sekarang seperti terlihat Panci menjadi musuh bersama.

Bukannya sok baik. Kalau untuk saya pribadi, berlarut-larutnya masalah ini ya hasil dari kesalahan kita bersama. Dandang sudah diperingati tapi tetap takluk pada airmata Panci atas nama rasa kasihan.

Saya juga oon bin pengecut. Dulu, sudah melangkah sejauh itu tiba-tiba mundur sendiri. Termakan rasa takut karena enggak kehilangan lebih banyak teman. Istilahnya ya itu tadi cari aman sendiri .

Mangkok, Wajan, Sendok, Piring dan Gelas saya rasa juga sudah bisa membaca situasi. Tapi apa daya. Selama ini, tingkah laku Panci yang bak malaikat di hadapan mereka menimbulkan rasa tidak enak yang bermuara pada ketidakpedulian. Alasan klasik, enggak tega.

Belum lagi semangat bertabayyun masih sangat rendah. Telan saja Panci bilang apa. Dibumbu-bumbui kalau perlu.

Ignorance membawa perselisihan ke level yang lebih tinggi. Bertahun-tahun booo. Dan akhirnya melibatkan hampir seisi dapur.

Sebenarnya, ada apa sih antara Panci dan Dandang? Saya bukan psikolog atau psikiater sih hehe. Tapi, sekilas saya menangkap Panci ini tipe orang yang tidak bisa bilang tidak kepada siapa pun. Dia terobsesi untuk menyenangkan semua orang. Mustahil atuh.

Beberapa tahun pertama di ‘dapur’, Panci hanya ikut-ikut di acara ‘ruang tamu’, ‘ruang tidur’ dll. Panci ingin punya komunitas sendiri. Jadi, ketika akhirnya Wajan, Sendok, Piring, Gelas, saya dll datang mengisi ‘dapur’, dia ingin memegang komando. Maklum paling senior.

The problem is, ada Dandang. Secara leadership, Dandang memang juara banget . That’s why I admire her that much . Untuk menghadapi ibu-ibu yang “terserah kata lo” tapi di belakang doyan ngomel ini, memang perlu banget karakter seperti Dandang hahahahaha.

Singkatnya, ‘komando’ yang diidam-idamkan malah jatuh ke tangan Dandang. Mungkin karena itulah, tanpa sadar Panci ingin menjauhkan Dandang dari kami. Mungkin lho, ya hehehe. Sotoy aja nih eike.

Kalau dikatakan Panci jahat, ya tidak bisa begitu juga. Toh, selama ini, Panci sudah begitu rupa menjaga hubungan baik dengan Dandang sebaik dia mengakrabi “Perkakas Dapur” lainnya . Saya rasa, Panci terjebak dalam dustanya sendiri.

Saya pernah ada dalam situasi seperti itu. Waktu SD, saya ini dikenal sebagai Pabote’ alis Pembual hehehe. Saya bersekolah di sekolah swasta yang banyak dihuni oleh para siswa dari kalangan atas. Ada yang anak dokter, anak pengacara terkenal atau minimal anak dosen.

Saya takut kalau mereka tahu saya cuma anak penjual seprei dan gorden di kios kecil di Pasar Sentral, tidak ada yang mau akrab dengan saya. Hehehe. Padahal teman-teman saya tidak sekerdil itu . Saya saja yang lebay.

Akhirnya, saya suka membual tentang saya yang ikut les bahasa inggris seperti mereka, saya ikut les piano, saya punya tante kaya raya yang sering mengajak saya menginap di rumahnya, pokoknya macam-macamlah.

Sekali berbohong, memang dampaknya luar biasa . Lain kali deh kita cerita soal ini hehehe.

Satu kebohongan harus ditutupi oleh kebohongan yang lain. Seperti saya saat itu, saya rasa begitulah posisi Panci selama ini. Panci jelas bukan tipe yang sanggup ‘menyendiri’. Dia sangat tergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Apa pun dia lakukan untuk ‘membeli’ kesetiaan semua orang. Termasuk jika harus bergunjing soal orang lain.

Seharusnya, itulah gunanya teman sejati. Sepatutnya … saya, Wajan, Mangkok, Sendok dll yang harus buru-buru mengembalikan Panci ke arah yang benar. Iya dong, namanya sahabat masa mendiamkan jika ada teman yang sedang terperosok? .

Lagian, jangan lupa kebaikan-kebaikan Panci selama ini . Siapa yang menjaga anak-anak kalian saat kalian naik haji? Siapa yang selalu membawakan makanan tambahan di setiap acara pengajian di berbagai rumah? Siapa yang menjaga anak-anak sulung kalian saat kalian melahirkan? Siapa yang paling sering mengorbankan waktu menemani kalian ke sana kemari? .

Memang. Kalau lagi emosi, yang terbayang yang jelek-jeleknya saja. Saya suka gitu soalnya hahaha. Nah, mumpung lagi waras (which is jarang-jarang hihihi), saya ingin mengingatkan kita semua .

Karena apa yang terjadi pada Panci kan tidak 100% kesalahan dia. Saat Dandang meminta maaf pada saya, saya bilang kepada Dandang kalau saya tak menjamin apa yang dikatakan oleh Panci salah semua. Bisa saja saya memang pernah khilaf mengatakan hal-hal yang kurang baik tentang Dandang kepada Panci.

Soal lidah, kita semua tak luput dari khilaf lah ya. Lidah siapa pun gampang keseleo . Jangan sekarang semuanya dipersalahkan kepada Panci . Tidak fair itu namanya hehehe.

Kalau Wajan dulu selalu menutup ruang diskusi dengan mengatakan, “Biarin aja. Biar waktu nanti menyelesaikan.”

Tapi Saudari-saudariku tercinta, kita bukan penguasa waktu. Waktu tak dikendalikan oleh kita. Kita sering pasrah dan berpikiran, “Lihat besok sajalah.” Bagaimana kalau besok itu ternyata tidak pernah terjadi. If tomorrow never comes, what will happen?

Sudah terlalu lama ya. 3 tahun. Kita tidak lagi muda. Waktu yang panjang yang sudah kita lewati seharusnya menjadi proses penting yang tidak boleh disia-siakan. Jangan ditunda-tunda hehe. Menunda-nunda hanya akan membuat syaitan masuk dari segala celah.

Memaafkan memang bukan sifat sembarangan. Kalau menurut Gandhi, hanya orang-orang besar yang sanggup memaafkan. Kalau orang kerdil, jangankan memaafkan, minta maaf saja tidak akan punya nyali. It’s your choice, kesempatan untuk membuktikan orang seperti apakah kita ini .

Kalau temannya berselisih, minimal jangan ditambah-tambahi atau berkumpul untuk membahas satu orang itu saja. Percaya deh, begitulah dulu awalnya perselisihan dengan Dandang muncul. Sudah cukup, kan? Masih kurang sakit? Masih perlu diulang lagi? .

Untuk yang lain yang tidak merasa terlibat masalah ya kesempatan beramal untuk mendamaikan yang lagi bersitegang. Amar ma’ruf nahi munkar kalau istilah kerennya hehe.

Waktu tak akan selalu berpihak pada kita. Bagaimana bila takdir tak mengizinkan kita bertemu besok? Sementara urusan sesama manusia harus selesai di dunia.

Saya tidak tahu ya perkembangannya seperti apa. Atau mungkin banyak kata-kata dari Panci tentang saya, mohon kebesaran hati dari saudari-saudariku yang cantik dan baik hatinya untuk memaafkan. Sekali lagi, saya enggak bilang Panci bohong. Ya siapa tahu ada yang benar. Maafkan saya. Maafkan Panci.

Panci tidak sempurna. Dandang juga tidak. Saya apalagi, mulut silet boooo hahahahaha. Dan kalau kalian menengok ke dalam kaca dan bercermin, kalian pun akan mendapati hal yang sama .

***

Satu musuh terlalu banyak. Sejuta teman takkan pernah cukup.

Saya tutup dengan lirik lagu favorit dari band jadul ini hehehe…

“Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada HATI BICARA
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga 🙂

friends posting


G 30 S PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (6)

G 30 S PKI : Menyiapkan Panggung PemberontakanAidit mungkin merasa G-30-S sebagai rencana yang mantap. Jendral-jendral pembangkang bisa disingkirkan, Soekarno akan simpatik pada PKI. Sekali tepuk, partai dan posisi Soekarno bisa diselamatkan.

Yang tidak disadarinya, pihak AD maupun AS juga menunggu-nunggu saat ini datang. Mereka tahu, kudeta cara lama kepada Soekarno akan sia-sia. Soekarno masih terlalu popular di mata masyarakat. Mereka butuh dalih untuk menghajar PKI dengan alibi ingin menyelamatkan Soekarno. Setelah beres, barulah mereka bisa merongrong kekuasaan Soekarno.

Taktik khas AS yang masih dipakai sampai sekarang, “Hancurkan dulu teman-teman dekatnya!” Hint : bete sama Iran? Sikat dulu Suriah. Gampaaaang, tinggal gosok-gosok isu Sunni-Syiah saja untuk memancing reaksi masyarakat muslim internasional. Wow, it really works! Perbedaan yang sudah ada sekian abad itu tiba-tiba makin meruncing belakangan ini . Asyik, ya. Menghancurkan musuh dengan biaya dan effort yang sangat minimal secara materi. Angkat topi untuk AS .

Balik ke Indonesia tahun 1965, jangan salah, AS dan AD sudah bersiap-siap sejak lama . Tak hanya bantuan dana yang dikucurkan kepada sekutu mereka di Indonesia, AD dkk . Hal-hal lain yang berkaitan dengan pemerintahan telah mereka galang bertahun-tahun. Termasuk memberikan beasiswa kepada para lulusan ekonomi asal Indonesia. Familiar dengan istilah “Mafia Berkeley”? Nah, para ‘mafia’ itu lahirnya dari sini .

A.H Nasution yang memang telah menjadi ‘anak emas’ AS sedari awal meyakinkan ‘bos besar’ bahwa AD tidak akan membiarkan PKI mengambil alih kekuasaan. Dwifungsi ABRI adalah salah satu penetrasi yang dilakukan Nasution untuk menerabas ranah-ranah strategis dalam masyarakat sipil.

No wonder, zaman Orde Baru, yang menduduki jabatan-jabatan basah macam gubernur, walikota dll biasanya purnawirawan ABRI ya *menganggukAnggukSokPaham* . Belum lagi fungsional AD yang lain yang diwujudkan dalam “Golongan Karya” . Mantap. Sekarung jempol untuk AS, AD dkk .

Walau begitu, saya tetap sayang pada Ade Irma Suryani hehehehe *apaHubungannyaCoba* .

Makanya, AD dkk sudah sangat ‘siap’ bahkan sebelum G-30-S terjadi. Mereka hanya menunggu sebuah kejadian penting, semacam ‘keajaiban’.

Jangan dikata mereka banting tulang mati-matian secara mendadak nan tiba-tiba untuk ‘memperbaiki’ bangsa pasca Gestapu. Eit, persiapannya sudah bertahun-tahun, lho. Hehehe.

Jadi, peristiwa G-30-S ini bisa dibilang adalah jawaban dari doa AD & AS. Sejarawan tak menemukan bukti bahwa AS yang menjadi dalangnya. Lagi hoki aja hahaha.

Roosa pribadi meyakini G-30-S adalah ‘kesialan’ Aidit dan Biro Chusus-nya. Maksud hati hendak mempecundangi AD, ternyata mereka yang termakan perangkap. Namun, apakah Aidit yang dikerjai oleh Syam ataukah bagaimana-bagaimananya… masih tetap menjadi misteri yang sepertinya telah terkubur rapat-rapat bersama hampir semua dari mereka yang telah meninggal dunia.

Kudeta Suharto

Secara eksplisit, Roosa menempatkan kata-kata “Kudeta Suharto” sebagai bagian dari sub judul bukunya. Tepatnya, “Peristiwa G-30-S dan Kudeta Suharto”.

Salah satu sejarawan internasional mengemukakan teori konspirasi bahwa Suharto-lah dalang dari peristiwa ini. Dengan menempatkan dua sahabatnya (Kolonel Latief dan Letkol Untung) dalam tim inti dan ‘mempekerjakan’ Syam, Soeharto menyutradai semuanya dan belakangan mengkhianati kedua kolega perwira AD-nya tersebut. Inilah yang dijadikan alasan mengapa Soeharto lolos dari daftar penculikan.

Syam sendiri (konon) ditembak mati paling belakangan. Alibi rezim Orde Baru, karena Syam sudah banyak memberi informasi-informasi penting. Syam ditembak mati tahun 1986.

Tapi, Roosa menemukan fakta penting untuk tidak memercayai teori konspirasi ini. Soeharto tidak punya rekam jejak sebagai perwira yang cerdas dan memiliki strategi luar biasa. Bagaimana mungkin semua bisa berjalan sesempurna yang diinginkannya? Nope, Roosa menolak asumsi ini.

Mungkin maksudnya, masa iya ada orang yang sepanjang kehidupannya biasa-biasa saja tiba-tiba berubah jadi jenius dalam waktu setahun? Hehehe . Capek juga ya jadi sejarawan. Harus melihat rincian masa lampau satu persatu aktor dalam tiap peristiwa untuk menarik kesimpulan dan mengisi ruang-ruang kosong dengan asumsi akurat *ngelapKeringat*.

Kalau sekarang kan kagak perlu susah-susah mikir dan peduli setan sama rekam jejak, bukti dan sebagainya. Kalau terdesak, kan tinggal teriak-teriak dengan lantang, “Ini pasti ulah zionis!” Hahaha .

Suharto join di grup ‘penentang Soekarno’ setelah dijadikan sebagai komando nomor 2 oleh Ahmad Yani di perbatasan Malaysia saat Dwikora berkobar. Pura-pura saja AD mendukung Soekarno. Mereka sudah ‘main mata’ dengan AS dan sohibul karibnya, Inggris, yang menjadikan Malaysia sebagai negara federasi mereka. Inilah yang ditentang oleh Soekarno. Tidak merestui pihak sekutu yang ingin menjadikan Malaysia dan belakangan Singapura sebagai negara boneka mereka.

Di sinilah Suharto sudah mulai banyak tahu soal hal-hal ‘besar’ lainnya. Saat Ahmad Yani dinas ke luar negeri, jabatan Panglima Tertinggi AD sering disematkan pada Suharto.

Bagii Roosa, peristiwa G-30-S diyakini adalah kejutan bagi AD dan AS. Tentu mereka tidak akan segegabah itu membiarkan petinggi-petinggi AD seperti Ahmad Yani, S. Parman, Soeprapto dll menjadi korban begitu saja. Roosa yakin, AD pun kecolongan dalam hal ini.

Entah, ya, menurut Roosa, kebetulan saja Latief dan Untung itu adalah sahabat dekat Suharto secara personal. Tapi ada kecurigaan, Sueharto bermuka dua di hadapan mereka berdua. Latief pernah mengadukan masalah “Dewan Jendral” kepada Suharto dan Soeharto berjanji akan menyelidikinya. Kemungkinan, Latief tidak tahu kalau Suharto sudah join ke gank ‘sayap kanan’.

Sedari awal, Suharto sudah menyadari rencana AD dan hendak membangun kediktatorannya sendiri. Terlepas dari detil-detil yang dipegang oleh Nasution dkk yang tidak diketahuinya, begitu kesempatan itu datang di tahun 1965, Suharto menjalankan rencana-rencana yang sudah ada.

Mulailah Suharto carper ke AS. Suharto tahu AS sangat takut pada rencana nasionalisasi tambang minyak oleh Soekarno yang seharusnya sudah dibahas saat itu. Suharto turun tangan langsung di sidang kabinet pertengahan Desember 1965 saat Chairul Saleh membahas nasionalisasi Caltex. Sesaat setelah sidang berlangsung, Suharto tiba-tiba muncul, datang dengan helikopter. Suharto mengancam bahwa AS tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan gegabah pada perusahaan-perusaahn minyak. Chairul Saleh menciut dan langsung membatalkan pembahasan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Suharto tahu, dia harus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk menjamin kediktatorannya nanti. Suharto ingin segera mengakhiri politik bebas aktif ala Soekarno dan merapat ke AS. Sedari awal, Suharto sudah sibuk ngutang ke Paman Sam .

Setelah G-30-S terjadi, AS sempat meragukan apakah AD bisa memutarbalikkan situasi sesuai rencana yang telah mereka gadang-gadang selama ini. Walau Ahmad Yani sudah tidak ada, masih ada Nasution. Namun, tewasnya sang putri tercinta merupakan pukulan yang sangat dalam bagi sang jendral. Sementara situasi segenting ini harus disikapi dengan cepat dan konsentrasi penuh.

Untunglah, sisa-sisa petinggi Angkatan Darat, Soeharto dkk, sigap membaca peluang ini. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung sepakat menunjuk PKI sebagai dalang hanya dengan modal pengumuman Dewan Revolusi via RRI. Ya, lagian, memang tidak bermaksud mencari bukti konkrit, kok hehehe .

Bukti-bukti telegram Duta Besar AS di Indonesia kepada atasannya di AS sudah banyak yang terbongkar dan dijadikan data oleh para sejarawan. Termasuk jaminan dari AS bahwa pasukan Malaysia tidak akan mengganggu Indonesia selama AD sibuk ‘membunuhi’ kader/simpatisan PKI. Pokoknya dibantu semampunya .

Organisasi massa dipersenjatai dan diprovokasi oleh AD untuk menyerang massa PKI yang segambreng itu. Ada yang berkilah, masyarakat memang sudah dendam pada PKI sejak lama. Belum cencuuuu hehehe. Sedendam-dendamnya penduduk sipil, apa sampai berani membunuhi sesama sipil? Kudu dikompor-komporin dulu. Ini ada kok penelitian secara psikologisnya . Baca dewe, yo hehe.

Di film dokumenter “The Act of Killing/Jagal” (ini cerita teman, sih), selain propaganda besar-besaran, para pembantai sipil juga diberi alkohol. Konon, efek alkohol bisa mengurangi rasa berdosa mereka dan mencegah mereka dihantui mimpi buruk karena membantai segitu banyak massa PKI. Sudah nonton filmnya? Saya mah takuuuut hehehe. Film ini mengangkat sudut pandang masyarakat sipil yang ikut membantu AD menangkapi dan mencabut nyawa kader/simpatisan partai komunis yang saat itu tengah jaya-jayanya.

AD sangat hati-hati dalam merebut kekuasaan. Suharto sadar betul cara mereka merebut kekuasaan adalah tonggak penting bagi keberlanjutan dinasti militer secara nasional. Mereka menciptakan suasana histeris, penuh krisis dan meyakinkan masyarakat bahwa mereka semua dalam bahaya maut.

Sesudah membasmi PKI, AS membantu membiayai demonstrasi-demonstrasi atas nama mahasiswa yang menunjukkan ketidakpuasan atas kepemimpinan Soekarno.

G 30 S PKI
Gambar : hass.unsw.adfa. edu.au

Untuk melegitimasi tindakannya, Suharto bahkan menyalahgunakan Supersemar dari Soekarno. Misteri Supersemar juga terkubur bersama tiga perwira yang katanya menjadi saksi surat sakti ini. Protes dari Soekarno tidak menghentikan Suharto saat itu. Suharto mencopot 15 menteri yang ditengarai loyalis Soekarno dan mengangkat menteri-menteri yang tentu saja pro AD.

Sejak itu, Suharto melaju terus dan membawa kediktatoran militer memulai kekuasaannya selama lebih dari 30 tahun di bumi Nusantara. Menyudahi masa-masa jaya Soekarno dalam kepahitan. Well, every hero becomes a bore at last ).

***

(Bersambung ke sini)

Every Little (Good) Thing You Do is Magic ;)

“Every little (good) thing you do is magic”, mungkin itu adalah salah satu pesan penting yang saya bawa sampai sekarang mengenai pertemanan di dunia maya dengan salah satu dari#10finalisSrikandiBlogger2014, Mak Arin- Murtiyarini.

Perhelatan akbar tahunan dari “Kumpulan Emak-emak Blogger” dgelar kembali di tahun 2014 . 10 Finalis telah terpilih. Salah satunya ya si Mak Arin ini :D.

***

Menerbitkan buku secara indie di 2012, “Bunda of Arabia”, stresnya ternyata bukan hanya saat menyusun isinya. Bahkan, puncaknya justru pada saat penjualan. Nyut-nyutan abis, deh, hahaha .

Saat sukses menjual 800 eksemplar cetakan pertama, tetap nekat (meski lebih ke arah emosional) ketika kembali mencetak 800 eksemplar di cetakan ke-2 . Penjualan padat merayap. Hingga akhirnya bosan sendiri.

Suami bilang, “Posting dong di grup-grup ibu-ibu yang kamu ikuti.” Saya ogah-ogahan. Setengah mati saya inbox satu persatu teman-teman di FB yang hanya kenal dari dunia maya saja yang merespons hanya seujung kuku hehehe. Apalagi kalau cuma tahu-tahu datang pasang iklan di grup 😛.

Ya sudahlah. Sudah putus asa juga. Semangat sudah menguap. Saya berandai-andai pagi itu, kalau saya posting dan ada yang merespons, mungkin itu tanda bahwa “Masih ada harapan” . Saya posting di salah satu grup yang juga ada Mak Arin di dalamnya. Waktu itu Mak Arin masih menjadi salah satu ‘guru’ dan turut membagi tips mengenai menembus media cetak 🙂.

Tips-tipsnya memang joss dan enggak pakai basa basi. Segala alamat media, tata cara sampai sedetil-detilnya selalu dibagi tiap minggu. Wajar, Mak Arin menjadi salah satu ‘seleb’ dan ‘cikgu penting’ di sana hehe.

Setelah saya posting, beneran lho, tak lama ada inbox masuk. Kaget sekali. Dari Mak Arin, enggak pakai basa basi, “Saya tertarik membeli bukunya. Transfer ke mana, ya?”

Waduh, jangan ditanya senangnya. Surprise banget. Kenal enggak kok tahu-tahu mau beli bukunya, ya. Padahal Mak Arin juga bukan tipe orang yang gampang kasihan dan sering berbasa basi . Itu menurut saya pribadi ya, Mak Arin. Jangan tersinggung hihihi.

Semangat langsung bangkit lagi. Seminggu penuh, padahal sudah inbox membabi buta , daftar pembeli masih kosong! Tentu menjadi geer tiada terkira saat sang “Ratu Media” (yang belakangan juga sukses menjadi “Ratu Kontes” :P) tiba-tiba tertarik dengan buku indie saya.

Padahal mungkin Mak Arin enggak ada niat sok-sok jadi pahlawan hehe. Buatnya, ya biasa-biasa saja. Kebetulan tertarik dan mau beli. Untuknya, hal ini seperti percikan api kecil yang mungkin tak terlalu bermakna. Sementara saya melihatnya bagai kembang api berhamburan di udara hahahahaha.

Like I’ve said, “Every llittle (good) thing you do is magic” 😉.

Ya namanya juga lagi putus asa. Langit mendadak kelam. Matahari sudah terbenam. Kita sering menangisi matahari yang menghilang dan tidak sadar jika airmata menghalangi pandangan kita untuk bersaksi akan indahnya bintang-bintang di angkasa malam 🙂.

Mungkin, terlalu susah bagi kita untuk bertingkah seperti Sang Surya. Seorang diri memancarkan begitu banyak kebaikan ke seluruh penjuru bumi. Hanya memberi tak harap kembali pula. Berat, bukan? hihihi 😛.

Namun, menurut orang bijak, “Mustahil menjadi orang yang sempurna. Tapi ada jutaan cara untuk menjadi orang yang baik” .

Tidak harus menjadi mentari . Cukup menjadi salah satu bintang-bintang kecil yang pastinya akan selalu mendapat tempat di seluruh penjuru langit :).

Sekecil apa pun, berbuat baik memang jangan ditunda-tunda, ya. Siapa yang tahu yang kecil-kecil itu ternyata merupakan keajaiban besar bagi orang yang dituju. We’ll never know. 

Walau tak ada jaminan juga, sekerlip kecil bintang pasti akan mendapatkan penghargaan yang semestinya. But … “The good you do today, people will often forget tomorrow; Do good anyway!”

People often forget. But I did not hehehe.

Good luck, Mak Arin 😉.

Enjoy the video ^_^.

https://www.youtube.com/watch?v=BTt0XhEpUxY

Kumpulan Emak2 Blogger adalah wadah persatuan dari perempuan-perempuan Indonesia yang doyan ngeblog . Entah anda adalah perempuan kantoran, perempuan yang bekerja dari rumah, perempuan yang dijuluki ibu rumah tangga, perempuan yang pakai ART maupun tidak hihihihi, semuanya ADA dan berbagi cerita.

Selamat juga kepada 9 finalis yang lainnya. Teruslah menebarkan inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif. Sesuai tag kami, “Kami ada untuk berbagi” :).

Mbak arin solo 4

Hidup Tanpa ART di Luar Negeri … Hebatkah?

Beberapa teman yang tinggal di luar negeri ada yang nyinyir dan menganggap ketergantungan pada ART itu budaya ‘manja’ nan feodal.

 

Saya sebenarnya kepengin bilang ke mereka, “Yo wis, pada pulang sana ke Jakarta. Tenteng anak sama suami dan tinggallah di Jakarta dan jalani hidup yang seperti kalian lakukan di luar negeri yang super mandiri dan tidak butuh siapa-siapa itu.” Hehehe.

Hidup tanpa ART di Luar Negeri … hmm?

 

Kalau untuk saya pribadi, ini tak melulu masalah manja atau mental. Karena di Arab Saudi pun, budaya ber-embak ini masih sangat lazim. Apakah ada hubungannya dengan agama? Ya pastinya enggak. Karena di Iran yang juga mayoritas muslim, kehidupannya sudah seperti negara maju, jarang yang pakai embak ^_^.

Masalah pertama, kesenjangan sosial-ekonomi. Bukan masalah budaya feodal juga. Karena saya pernah senyum-senyum mendengar 2 orang ibu-ibu di sekolah anak saya yang berambut pirang yang mengeluh soal mereka capek habis pulang liburan. Mereka terpikir mengambil asisten rumah tangga tapi mereka marah-marah karena upahnya kegedean menurut mereka.

Iyalah, dengar-dengar jasa tukang bersih-bersih rumah bisa 20 euro per jam. 20 euro = 320 ribu rupiah, per jam!!!!

See? Orang-orang bule ini pun sebenarnya ada keinginan juga kok menggunakan jasa embak. Tapi mungkin enggak yang tiap hari gitu hehehe.

Kesenjangan sosial ekonomi yang tinggal di negara-negara berkembang membuat hadirnya tenaga-tenaga kerja murah meriah. Walau sudah mulai banyak yang kapok memakai jasa embak yang stay-at-home, orang-orang mulai melirik jasa tenaga pulang pergi. Atau spesialis nyetrika doang atau nyapu-ngepel doang. Mengapa? Ya karena jauh lebih murah timbang kita yang ngerjain sendiri.

Saya ingat, waktu ngontrak, saya ogah menggunakan jasa tukang bersih-bersih. Kakak saya butuh. Kakak saya juga tidak sempat mencuci bajunya sendiri. Mau beli mesin cuci, ogah juga, siapa yang ngurusin jemur dan nyetrikanya. Jadi, kakak saya punya bibik khusus. Honornya 300 ribu rupiah sebulan untuk mencuci dan menyetrika saja. Jauh lebih murah daripada gaji kakak saya sebulan di kantornya 🙂.

Tentu lain cerita bila si bibik menuntut gaji 3 juta sebulan. See? Kesenjangan ekonomi.

Masalah kedua, fasilitas dan kondisi. Di negara-negara maju macam Irlandia, yang namanya mesin cuci otomatis (pencet dan langsung kering istilahnya hihihi) dan dish washer (mesin pencuci piring) tidak tergolong barang mewah. Setiap apartemen ya standarnya begitu. Kegiatan berbelanja dan fasilitas umum lain dibuat senyaman mungkin.

Di kota-kota besar negara maju, angkutan umum lengkap dan asoy. Bawa stroller saja bisa banget tuh naik kereta atau naik bus umum. Nah, coba di Jakarta, dijitak gak tuh sama supir Kopaja atau transJ kalau sudah sesak begitu eh berani-beraninya mau masukin stroller hahaha.

Mental ibu-ibunya ya tentu terbangun dari lingkungan tempat mereka berada. Makanya, saya meyakini, ibu-ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri dan ‘bawel’ itu (mungkin) sebagian besar tak punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga di Jakarta. Mungkin, lho, ya. Soalnya kalau ditanya-tanya memang begitu. Begitu menikah langsung pindah ke luar negeri, melahirkan pun di luar negeri.

Oh well …

akun gosip

Saya juga yakin, ibu-ibu Indonesia yang terbiasa dengan embak jangan risau jika harus tinggal di luar negeri. Saya menjadi buktinya hihihi. Terbiasa hidup dengan orang ketiga (si embak) di Jakarta, saya nyaris tidak mengalami syok apa-apa kok dalam kerjaan rumah tangga begitu pindah ke Jeddah. Itu karena di Jeddah banyak jajanan hahaha.

Tapiiii…dari Jeddah ke Athlone pun ya rasanya biasa-biasa saja alhamdulillah.

 

Justru, saya bersyukur bisa mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Amit-amit kalau sampai menjadikan kesempatan indah ini untuk ‘nyinyir’ pada teman-teman sesama ibu RT di Jakarta yang masih banyak menggunakan asisten.

Takut, ah. Takut rezekinya di luar negeri keburu abis hahahhahaha. Saya maunya pulang ke tanah air kalau tak punya balita lagi.

Kalau anak-anak sudah besar, sudah saya hitung-hitung, nih, insya Allah sanggup hidup tanpa ART sama sekali di Jakarta 😀. Baik yang pulang pergi sekali pun 😉.

Saya menyadari betul, saya sungguh diuntungkan oleh kondisi dan situasi lingkungan di negara-negara maju. Yang membuat ibu-ibu seperti saya tak perlu bertambah puyeng dengan drama asisten yang konon katanya lebih sakit daripada ditinggal pacar hahahahaha.

Dan di atas itu semua, memang tak baiklah menghina-hina orang lain yang kita anggap lebih ‘rendah’ daripada kita. Siapalah kita. Saya kagum sama ibu-ibu RT di Jakarta yang sanggup hidup tanpa ART sama sekali. Tapi juga tak merasa heran dan memaklumi 100% jika ada yang memilih menggunakan jasa orang ketiga, baik yang menginap di rumah maupun yang pulang pergi.

Yang tinggal di luar negeri, mari bersyukur. Yang tinggal di Indonesia (especially Jakarta, karena saya tak punya pengalaman menjadi ibu RT di kota lain hehehe), juga harus bersyukur.

“At some point, you gotta let go, and sit still, and allow contentment to come to you.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

Semua ibu-ibu itu pasti keren, kok. Whether they’re using ART or not, saya jamin, keren semuaaaaaaaaaa <3.