To Read Between The Lines

Ingat Robot Gedek, gak?

Pertama kali baca berita tentang kejahatan orang satu ini duh rasanya pengin cakar-cakar tembok. Kalau ketemu, pengin saya ludahi mukanya.

Robot Gedek terdakwa hukuman mati karena terbuktii sudah membunuh anak-anak laki usia, rata-rata di bawah 12 tahun. Tak hanya dibunuh dengan sadis, Robot Gedek juga terlebih dahulu menyodomi anak-anak malang ini. Hiks .

Tak lama setelah kasus RG, tertangkap lagi satu orang dengan modus pembunuhan mirip. Sodomi-bunuh-mutilasi. Nama hitsnya di media adalah ‘Babe’. Tertangkapnya si Babe ini membuka sejarah kelam masa kecil si Robot Gedek.

Ternyata, Robot Gedek adalah korbannya Babe. Babe ini waktu tertangkap memang sudah tua. Jadi, pas Robot Gedek masih kecil, mungkin Babe umurnya masih 30-40 tahun. Walau tak dibunuh, Robot Gedek ini sering disodomi dan dianiaya oleh Babe sampai bertahun-tahun.

Hidup di jalanan mau tak mau membuat beberapa anak kecil dari kalangan kurang mampu harus menggantungkan hidup pada orang-orang dewasa seperti Babe. Yang sayangnya biasanya memanipulasi mereka habis-habisan .

Cengeng, euy. Saya menangis lho pas membaca di koran soal Babe dan Robot Gedek. Saya jadi mikir, jangan-jangan Babe ini juga korbannya Eyang something. Yang lebih tua dari Babe kan biasanya Eyang, ya hehehehe .

Ya saya tetap kesal pada Robot Gedek. Tapi, sejak itu udah enggak pengin cakar-cakar tembok lagi hehehe. Saya malah jadi bingung. Dia itu penjahat apa korban, sih?

Kita dihadapkan pada lingkaran setan.

Babe dan RG. Gambar : forumdiskusi.com
Babe dan RG. Gambar : forumdiskusi.com

 

***

Pasal 34

(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Pasal 34 ini mengingatkan saya kepada salah satu petuah Gandhi, “Poverty is the worst form of violence.” Apa kabar kaum birokrasi dan pemerintah? . Kan pepatah bilang, “Lebih baik menghadapi orang marah daripada orang lapar.”

Teror kemiskinan ini memang banyak sekali dampak negatifnya. Catat, kemiskinan lho, ya. Bukan orang miskinnya.

Banyak sekali cerita-cerita menggugah semangat yang mengisahkan anak-anak dari kalangan kurang mampu yang sanggup membalikkan takdir. Misalnya, dengan kecerdasannya, mereka bisa dapat beasiswa dan akhirnya malah menjadi dosen di luar negeri seperti kisah Hadi Sunanto .

Kisah nyata dari Laskar Pelangi juga gitu.

Ada juga kalangan kurang mampu yang dibantu oleh saudara-saudaranya yang lebih mampu. Atau yang miskin-miskin disemangati oleh kerabatnya yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Walau tertatih-tatih, mereka tetap menyelesaikan pendidikan akademisnya.

Namun, pernahkah membayangkan kalau kita terlahir dari keluarga kurang mampu, tinggal di desa yang mayoritas adalah orang tak mampu juga. Kalangan akademisnya sangat terbatas. Dan sayangnya, otak kita juga pas-pasan.

Sebenarnya tak ada orang bodoh, tapi kecerdasan itu kan sifatnya multiple. Gimana kalau kecerdasan mereka di luar logika dan verbal yang sudah umum menjadi pengukur kepintaran secara umum? Di masyarakat luas, pintar itu ya jago matematika atau pintar bahasa atau jago berpidato.

Gimana kalau si anak miskin ini ternyata bakatnya musikal tapi dia enggak pernah bersentuhan dengan alat musik mana pun. Tak ada fasilitas dan tak ada ‘dewa penolong’. Atau dia ternyata kecerdasannya adalah kinestetik. Tapi tak ada yang melirik atau tak mendapat kesempatan untuk memamerkan bakatnya. Berapa sih beasiswa olah raga yang ada di tanah air?

Jadi ya teman-temanku yang budiman, tak semua hal yang jahat-jahat yang kita dengar itu harus kita sikapi dengan logika saja . Lah, dia membunuh dan merampok kok ya harus kita urusin. Makan sana hasil perbuatan lo! Siapa suruh mencuri?

Jangan hanya what, who, when dan where? Masih ada HOW dan WHY? 

Mungkin, itulah gunanya Allah menciptakan seperangkat kecil alat dalam sini (nunjuk dada). Itulah yang namanya hati. Agar kita tak membaca apa yang terlihat saja. Agar kita mampu memandang hal-hal yang sifatnya ‘ngumpet’ dan harus ditelaah lebih dalam . Istilah kerennya, to read between the lines :).

gambar : whats-thesayinganswers.com
gambar : whats-thesayinganswers.com

 

Contoh sederhana lain yang saya ingat dari buku “7 Habits of high effective teens.” Tentang seorang laki-laki yang sedang asyik membaca koran dengan tenang di dalam kereta. Tiba-tiba di sebuah stasiun naiklah seorang laki-laki lain bersama 3 anaknya.

Anak-anaknya berisik banget. Lari-larian ke sana ke mari. Teriak-teriak dan mengganggu penumpang lain. Laki-laki pertama tadi makin kesal karena dilihatnya sang ayah hanya duduk termangu. Bengong enggak jelas dan tidak berusaha menenangkan anak-anak balitanya.

Laki-laki ini menegur si ayah tadi. Si Ayah menjawab singkat, “Istri saya baru saja meninggal. Kami dari rumah sakit. Saya tidak tahu harus bilang apa pada mereka.”

Seketika laki-laki yang membaca koran ini luluh. Rasa kesalnya menguap perlahan. Instead ngoceh panjang lebar, kasih nasihat macam-macam, dia menepuk bahu sang ayah, “Sabar, ya.”

Samalah kayak kita membaca novel. Seringkali pesannya tidak tersurat jelas-jelas dalam rangkaian kata-kata yang mudah dimengerti. Tak jarang kita harus menangkap makna tersirat. To read between the lines .

Bukan untuk membela yang jahat atau yang salah. Lebih kepada memampukan kita mencermati dan memahami banyak hal pada tempatnya, pada porsinya . Melihat sesuatu dari berbagai aspek. Enggak hanya pakai otak, hatinya jangan dianggurin dong. Seimbang selalu. Agar benci tak terlampau berlebih dan cinta tak begitu berbuncah.

Tapi siapa bilang bersikap adil itu mudah? hehehehehe *toyorKepalaSendiri*.

Makanya, saya mah menulisnya kebanyakan untuk diri sendiri kok . Terus kenapa pakai settingan public? Ya habis saya bingung mau share-share apaan di media sosial hehehe. Mari berbagi hal-hal positif untuk belajar bersama. Iya apa iya banget? *benerinPoni* dengan bijaksana . Lalu tutup layar sebelum disambit hahahaha.

Gambar : leadershipwithsass.com
Gambar : leadershipwithsass.com

 

***

We Can Go The Distance

Visa kerja ternyata hanya janji palsu si agen. Perpanjangan visa suami saya mengalami masalah. Suami sudah overstay! Belum lagi ancaman hukuman. Iyalah, kerja berbulan-bulan pakai visa turis *pingsan*. Seru lah ini pengalaman kerja luar negeri pertama kali :D.

Saya dan anak saya sendiri menyusul ke Iran dengan visa turis. Yang bisa diperpanjang sebanyak 3x.

Tak hanya mempermainkan kami soal visa. Apartemen pun akan direlokasi. Tadinya kami bisa tinggal gratis, agen meminta kami membayar setengah biaya sewa apartemen. Uang lembur tiba-tiba dihapus. Hanya dibayar sebulan. Alasannya, gaji suami sudah kegedean kalau harus pakai lembur segala.

Siapa bilang tinggal dan kerja luar negeri enak? :).

Pengalaman pertama kami merantau ke Tehran sungguh mendebarkan hehehe. Suami sudah berkali-kali interview dan selalu mentok. Jadi, begitu Tehran memberi kabar bahagia, dibuai angan kelamaan, kami lalai memperhatikan kontrak 🙁.

Sempat tiga bulan tinggal terpisah. Saya mulai cranky. Karena tujuan saya resign adalah sekolah lagi. Kalau pun tidak melanjutkan S2, saya inginnya ikut dia ke luar negeri. Akhirnya, suami menyuruh saya datang dengan modal visa turis.

Kerja luar negeri pertama ke Tehran Iran
Sai Park, Tehran, 2009

 

Saya baru tahu masalahnya setelah tiba di Tehran. Tentu saja … berantem hebat. Hahaha. Agen dan perusahaan seperti lepas tangan dan ogah-ogahan soal paspor suami yang statusnya sudah overstay dan harus membayar denda.

Saat mengadu ke KBRI, duh, makin sakit hati. Boro-boro dihibur dan dibantu, kok kami malah disalah-salahkan , “Makanya jangan hanya terbuai gaji gede, mending kerja di Indonesia kalau gini. Bikin susah saja!”

Hiks, katanya pahlawan devisa malah dibilang bikin susah .

Kami jelas-jelas ditipu. Ke mana lagi harus berlindung kalau bukan ke KBRI? . Saya juga sempat marah karena suami tidak ngotot. Alasannya, pihak KBRI memberikan prosedur yang berbelit-belit dan menyusahkan.

Tapi, suami tidak putus asa. Dia mendekati staf lokal yang fasih berbahasa Farsi. Staf lokal inilah pahlawan kami .

Beliau mengambil resiko dengan menelepon langsung ke agen dan mengancam atas nama KBRI. Voila! Agennnya ketakutan dan paspor langsung dikembalikan.

Sempat kisruh lagi karena suami tetap menolak membayar denda. Bukan karena enggak punya duit.

Alhamdulillah, gaji tidak sampai kena tipu. Gaji bulanan lancar. Kami sangat sanggup membayar denda. Tapi suami eike kan ngotot-an dan terus memperjuangkan haknya. Akhirnya, perusahaan bersedia membayar denda overstay untuk ‘memutihkan’ status paspor suami.

Setelah diam-diam interview dan mendapat kepastian dari Jeddah dan paspor suami beres, kami memutuskan kabur hahahahaha. Pura-pura minta izin ke perusahaan dengan alasan urusan keluarga dan harus pulang segera.

Saya sampai mau menangis ketika berhasil melewati imigrasi setelah berjam-jam deg-degan karena takut masalah overstay dipertanyakan. Tegang gilaaaaaak hihihihi.

Untung saja Tehran kota yang cantik. Walau berat badan kami berdua turun drastis diterpa stres karena kena tipu hahaha, kami sangat bersyukur sempat menikmati eloknya Kota Tehran yang super duper bersih . Dan bisa keluar dari sana tanpa masalah. Fffiiiuuuhhh…

Setelah Tehran, Jeddah mengundang masalah baru. Trauma dengan visa temporer, kami sepakat untuk tinggal terpisah dulu. Menunggu 11 bulan, LDR-an penuh drama selama hampir satu tahun (berantem melulu hihihhi), iqama (resident permit ala Saudi) akhirnya diusahakan juga. Itu pun setelah suami mengancam resign. Dan memang benar, Montreal-Kanada sudah memberi sinyal positif.

Namun, suami akhirnya memilih Jeddah.

Kerja Luar negeri ke Jeddah Saudi
Obhur Beach, Jeddah, 2011

 

Melewatkan 2.5 tahun tanpa masalah berarti di Jeddah, apa setelah pindah ke Irlandia hepi ending juga?

Ternyata masalah lain datang lagi. Di Athlone, suami ternyata harus traveling ke luar negeri. Minimal durasi kepergian sekitar sebulan.

Baru juga sebulan nyampe Athlone, suami sudah harus pergi selama 30 hari penuh ke Istanbul. Mau ikut tapi anak baru masuk sekolah. Saya sempat grogi dan tidak bisa tidur. Banyak-banyak berdoa dan pasrah sama Allah saja, deh. Untuk melindungi kesehatan anak-anak, saya benar-benar disiplin soal makan kalau ayahnya lagi jauh. Ke diri sendiri juga. Hidup Food Combining!

Jangan dikira di Athlone ini macam di Jeddah. Orang Indonesia segambreng, cari makan gampang dan murce, mau ke mana-mana tinggal telepon supir taksi asal Indonesia yang banyak menjadi pelanggan para Madam .

Alhamdulillah, 3x ditinggal, sebulan ke Istanbul, 7 minggu ke Santiago, dan sebulan berikutnya di Santiago lagi, everything was just fine. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah .

Justru kalau lagi sendiri, mendadak kuat dan disiplin. Mengurus anak sorangan dan ke mana-mana jalan kaki belanja ini itu nyaris tanpa masalah. Saat lagi di jalan … hujan deras kek, salju turun kek, enggak boleh panik depan anak-anak . Harus stay cool. Padahal aslinya gampang panik dan heboh hahahaha.

Masih berpikir tinggal dan kerja luar negeri itu hepi-hepi joy-joy???? Hehehehe. Itu mah foto-fotonya aja kaliiiiii 😛 😛 😛

But remember, what doesn’t kill us, makes us stronger :).

Kerja Luar Negeri Irlandia
Bray, Irlandia, 2013

 

***

Well, yang selevel keluarga engineer seperti kami saja harus melewati banyak hal-hal yang tidak mudah.

Pernah membayangkan ‘perjuangan’ para TKI informal seperti misalnya para TKW di Jeddah?

Mereka, para perempuan yang biasanya sudah berstatus orang tua tunggal. datang sendiri. Meninggalkan anak-anak di kampung halaman.

Janda-janda dari kampung ini tidak diam dan meratapi nasib di kampung. Tapi mereka merantau dengan gegap gempita.

Bukan main cita-cita mereka, ya. Saya tahu tidak mudah bekerja dan bertahan di Arab Saudi. Kami saja yang menempati ‘kalangan atas’ kadang elus-elus dada kok menjalani kehidupan bersosialisasi di Jeddah, apalagi mereka.

Di tanah air peluangnya sempit. Bekerja dengan gaji sekitar 700 ribu rupiah, itu pun katanya sudah termasuk mahal. Anak ada 2. Masa depan apa yang bisa dimimpikan dengan penghasilan ratusan ribu rupiah. Sementara, di Saudi, minimalnya bisa dapat 800 riyal, sekitar 2 juta rupiah. Ingat ya, di Saudi mereka enggak keluar duit sama sekali. 2 juta itu bersih.

Itu kalau legal. Lantas, mengapa yang ilegal leluasa wara wiri di sana? Ada ‘mafia’nya . Dan status ilegal memungkinkan mereka mendapat penghasilan 2x lipat atau lebih.

Biaya hidup di Saudi tergolong murah. Apalagi Jeddah yang sarat pendatang. Tahu tempe merajalela. Rumah makan Indo dengan harga murah cukup mudah ditemukan. Kenalin, keluarga Gober adalah salah satu pelanggan warteg-warteg murmer di Sharafiyah hihihihi. Murah dan enak-enak alhamdulillah 🙂.

Perlakuan tak menyenangkan sanggup membuat mereka bertahan karena mereka punya mimpi besar. Mereka tentu akan melakukan apa pun asalkan sang buah hati tidak perlu mengulang takdir yang sama.


Seperti kita-kita ini yang berharap para penerus mengukir masa depan yang jauh lebih baik daripada orang tuanya, sebesar itu pula angan-angan para TKW ini . Kalau kita bergantung pada suami, mereka tak mendapat perlindungan apa-apa dari pemerintah bahkan lingkungan. Terkurung dalam kemiskinan membuat mereka nekat menjajal ke luar negeri seberapa pun banyaknya berita atau rumor mengenai kemalangan yang menimpa rekan/teman mereka.

Ironisnya, di luar negeri pun, pemerintah seperti kehilangan akal mengurusi mereka. Saya sungguh bingung, para mafia berkeliaran dengan leluasa.

Kerja Luar negeri TKW arab
Gambar : berita.plasa.msn.com

 

Kisruh TKI ilegal tempo hari malah menghadirkan beberapa komentar negatif seperti, “Siapa suruh OON, gampang ditipu. Membaca saja enggak bisa malah nekat ke luar negeri. Ya salah sendiri.”

Saya sampai berantem euy di grup hahahahha. Ya habisnya kesal. Empati mana empati???? :'(. Kalau tak mau membantu ya enggak usah banyak bacot kaliiiii. Cukup doakan mereka. Nyinyirin koruptor aja tuh lebih ada gunanya! 😛.

Ya, memangnya siapa yang mau bodoh? Memangnya siapa yang minta jadi orang miskin? Siapa yang memungkinkan mereka yang keterampilannya pas-pasan bisa lolos ke luar negeri?

Salah satu masalah yang sering mendera para TKW adalah lemahnya perlindungan hukum untuk mereka. Luar biasa banyaknya pendatang asal Indonesia di Saudi. Sedihnya, mayoritas adalah TKI informal. Belum lagi aturan Saudi yang serba tertutup dan kadang-kadang tidak jelas. Hari ini begitu, besok-besok begini.

Salah satu kasus yang tengah mencuat adalah masalah Satinah. Satinah menyerahkan diri aparat setelah mengakui telah memukul majikannya di dapur. Ini pun simpang siur. Ada yang bilang memukul karena mencuri ada yang bilang memukul karena disiksa dan gaji tak kunjung dibayar.

Kerja Luar Negeri
gambar : ayogitabisa.com

 

Malangnya, setelah dirawat di rumah sakit, sang majikan meninggal dunia. Hukum qisas harus diberlakukan. Kalau keluarga tak memaafkan, Satinah harus dihukum pancung. Maafnya pun tidak gratis. Keluarga korban meminta denda sampai 21 Milyar rupiah.

Pemerintah hanya menyanggupi sekitar 12 milyar rupiah.

Gimana, ya? Saya juga tidak mengerti masalah sebenarnya. Saya rasa pemerintah pun punya pertimbangan sendiri untuk tidak memenuhi permintaan 21 M tadi.

Pemerintah tidak mendiamkan kasus ini, kok. Pemerintah terus aktif memperjuangkan pembayaran denda untuk menyelamatkan nyawa Satinah. Tapi tentu, ada batasnya, kan?

Sementara Satinah memang dalam posisi sulit. Tapi kalau kita meninjau lebih dalam, sungguh tidak adil jika kita menghakimi Satinah seorang. Bisa jadi Satinah bingung harus ke mana dan harus mencari bantuan ke siapa saat mendapati kenyataan bahwa gaji dan pekerjaan jauh dari harapan .

Satinah juga bekerja di kota kecil. Bukan di Riyadh dan Jeddah, yang memang punya KBRI dan KJRI. Ini tugas pemerintah untuk mensosialisasikan dan menjamin keamanan dan hak para TKI informal di Saudi.

Harusnya karyawan KBRI dan KJRI ditambah, tuh. Kasihan juga kan KJRI-nya dengan pegawai pas-pasan harus banting tulang peras otak mengurusi orang Indonesia yang jumlahnya ratusan ribu orang atau lebih dengan berbagai macam kasus.

Terlepas dari kasus yang melilitnya, kita harus menghargai perjuangan Satinah. Tak semua orang akan bersikap tangguh dan berjuang sampai jauh ke luar negeri untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Like a shooting star, she will go the distance,
She will search the world, willing to face its harms,
She doesn’t care how far, she believes she can go the distance
(modifikasii dikit lagu Michael Bolton, “I Can Go The Distance”)

Satinah dan rekan-rekannya mengajarkan pada kita, “Hidup yang tak pernah diperjuangkan, tak akan pernah dimenangkan (Sutan Syahrir)” 🙂.

Gambar : rri.co.id
Gambar : rri.co.id

 

Saya mengerti bila ada yang menganggap Satinah harus menanggung hasil perbuatannya dan tidak selayaknya kita membuang-buang uang untuk membela kejahatan. Kalau begitu, mohon doanya saja agar keluarga korban sudi memaafkan dan menurunkan biaya denda. There can be miracle when we believe and… pray .

Kalau ada yang nyinyir dan mengait-ngaitkan dengan kasus Darsem, ya sebenarnya itulah gunanya kita belajar ikhlas, ya . Lagipula, barangsiapa yang berbuat baik maka dia berbuat baik untuk drinya sendiri. It’s always between us and God . Ikhlaskan pemberian jikalau memang berkenan.

Kepada para pahlawan devisa mana pun yang kerja luar negeri, stay strong . Tidak gampang menaklukkan kehidupan di luar sana walaupun kita datang sebagai pekerja profesional sekali pun. Selayaknya negera berkembang dengan penduduk membludak, seharusnya pemerintah menyemangati dan memfasilitasi pekerja asal tanah air ke luar negeri. Seperti Cina-India-Filipina .

Jangan bayangkan enak-enaknya saja. Persiapkan mental sekuat baja.

But to look beyond the glory is the hardest part,
For a hero’s strength is measured by his heart,
We can go the distance, we can go the distance 
(lagu yang sama dari Michael Bolton :D)

“I do believe we’re all connected. I do believe in positive energy. I do believe in the power of prayer. I do believe in putting good out into the world. And I believe in taking care of each other.”

Harvey Fierstein

I do believe 🙂. You?

https://www.youtube.com/watch?v=Cu6ze1wmSxA

 

***

Be a Lamp, or Lifeboard, or a Ladder

Florence Nightingale, “The Lady with The Lamp”, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di dunia medis. Florence, salah satu tokoh peletak dasar dalam ilmu keperawatan modern .

Florence lahir dari keluarga sangat berada. Di masa itu, Eropa nyaris tidak mengenal kalangan menengah. Seringnya ya 2 golongan saja. Kalau enggak tajir mampus, berarti super miskin.

Florence dibesarkan dalam rumah besar, memiliki pelayan-pelayan, sering menghadiri pesta-pesta dansa ala bangsawan, keliling eropa pun pernah dijalaninya bersama keluarga besarnya. Lengkap dengan pelayan-pelayan yang setia mengiringi perjalanan mereka dalam sebuah karavan yang sangat besar.

Di masa remaja, Florence merasa tersentuh dengan kehidupan golongan bawah yang sering disaksikannya sendiri. Hatinya memberontak. Namun, seolah hidup dalam 2 dunia, Florence pun menikmati hura-hura abege ala kalangan ningrat di masa itu .

Untuk beberapa lama Florence sempat melupakan janji sucinya yang dituliskannya dalam buku harian di usia belasan dulu. Untuk mengabdikan hidupnya pada kemanusiaan. Larut dalam kesenangan dan pesta-pesta yang kerap dihadirinya.

Menjelang dewasa, Florence kembali gelisah. Dengan mata kepalanya sendiri dia sedih mendapati kenyataan bahwa saat itu pun bahkan agama seolah ‘melegalkan’ takdir bahwa memang Tuhan menginginkan sebagian orang untuk hidup sebegitu miskinnya.

Perempuan-perempuan dari golongan berada hidup dalam kemewahan luar bisa, memakai baju-baju rajutan bagus yang dijahit semalaman oleh perempuan-perempuan miskin. Yang mungkin harus mengorbankan waktu tidur malam mereka demi menyelesaikan gaun-gaun megah tersebut.

Florence bosan dengan hidupnya yang hanya menghabiskan waktu dengan pesta, atau duduk-duduk di depan perapian hampir sepanjang hari. Mengobrol hal-hal yang tidak penting dengan sesama teman-teman bangsawannya.

Saat itu, perempuan dari keluarga kaya tidak boleh bekerja. Yang boleh bekerja hanyalah perempuan-perempuan dari kalangan bawah saja. Niat Florence untuk bekerja membuat syok ibu dan kakak perempuannya.

Florence nekat bekerja (secara sukarela) di sebuah rumah sakit. Kondisi rumah sakit di masa-masa tersebut sangat mengenaskan. Kotor, jorok dan sangat ramai. Florence sangat tertekan diantara tekanan batinnya sendiri dan penolakan orang tuanya atas niatnya untuk mengabdi bagi masyarakat.

Bertahun-tahun Florence sakit keras karena menuruti permintaan keluarga besarnya dan mengubur mimpi sucinya. Hingga akhirnya ibunya merelakan Florence bergabung di sebuah komunitias gereja untuk mempelajari ilmu keperawatan.

Begitulah awalnya hingga akhirnya Florence meretas jalan mendirikan sekolah-sekolah perawat dan mengobarkan semangat agar perempuan-perempuan dari keluarga berada menyumbangkan tenaga mereka di dunia medis. Sekaligus melawan dominasi patrialikal yang sangat kental di Eropa zaman itu. Menumbangkan paham bahwa perempuan seharusnya duduk-duduk manis dalam rumah saja mengurus keluarga.

Ada 2 hal yang menyebabkan Florence hidup berselibat sepanjang hidup. Pertama, dia merasakan ini sebagai panggilan Tuhan. Kedua, Florence merasa dia tak akan sanggup membagi mimpi besarnya ini kepada siapa pun. Dia tak ingin berbagi beban kepada calon anak-anaknya kelak. Belum lagi situasi saat itu tak membiarkan perempuan kalangan atas meninggalkan anak-anak untuk alasan pengabdian pada masyarakat sekali pun.

perempuan mandiri
gambar : en.wikipedia.org

***

Beberapa tahun lalu seorang teman lama menghubungi melalui pesan singkat via ponsel.  Dari sapaan biasa tahu-tahu jadi curhat.

Dia seorang dokter. Menikah di usia muda sehingga saat meraih gelar dokternya, dia sudah memiliki 3 anak usia balita. Saya nyinyirin keinginannya untuk mengasuh anak saja dan melepas karier sebagai dokter.

Kenapa masuk kedokteran kalau kayak gitu? Di universitas negeri pula. Dia sudah merampas hak orang lain yang mungkin memang lebih cocok dan ingin mengabdikan hidup sebagai dokter.

Lama hubungan terputus, dia kembali curhat. Dia gelisah. Ternyata selama ini dia tidak enak pada keluarga besar dan kenalan yang menghujat niatnya untuk menjadi dokter karena harus banyak meninggalkan anak-anak di rumah dengan pengasuh atau asisten rumah tangga.

Padahal menurutnya, suaminya (yang bukan seorang dokter) sangat mendukung niatnya untuk terus berkarier di dunia medis. Ya saya langsung menyemangatinya bertubi-tubi!

Saya tegaskan padanya, saya ini seorang ibu rumah tangga yang memilih untuk di rumah daripada melanjutkan karier di kantor tidak karena perintah siapa pun. Suami saya saja tahu pasti kok, dia tak akan mungkin bisa memerintah saya berhenti ngantor hehehe.

Ini adalah keputusan saya pribadi. Tidak pernah setitik pun saya merasa saya keren saya hebat saya anu saya itu hanya karena dengan pendidikan mumpuni yang saya milliki saya malah memillih di rumah. Simpel. Wanita karier ternyata bukan panggilan jiwa saya, panggilan jiwanya berantem di fesbuk.

Saya semangati. Saya anjurkan untuk mencari pengasuh anak yang baik atau menitip pada kerabat lain anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Toh, dia mengaku tersiksa juga dan tidak benar-benar ikhlas melepaskan niatnya untuk mengabdi menjadi dokter.

Apa gunanya dia di rumah? Mana bisa membesarkan anak-anak dengan bahagia kalau siksaan batinnya seperti itu?

Alhamdulillah. Walau dia cerita susah sekali mencari beasiswa spesialis yang biayanya selangit itu dan harus bersaing dengan banyak dokter muda, dia akhirnya berhasil. I’m proud of you, my girl. Eike sudah bilang, tidak ada kata terlambat ).

Untuk 2 profesi khusus ini : pengajar dan dokter, saya tak pernah segan-segan meminta teman-teman perempuan saya untuk menguatkan hati dan meneruskan pengabdian untuk masyarakat. Niatnya harus benar tapi hehehe. Kecuali jika dengan ikhlas mereka memilih untuk ‘stay at home’ .

Saya ingat kata-kata Ibu Risma di Mata Najwa tempo hari, “Saya minta Tuhan yang menjaga anak-anak saya.” Saking sibuknya mengurus Surabaya, Ibu Risma mengaku, dia sampai tak punya waktu lagi untuk mengurus para buah hatinya. Aku padamulah Ibu Risma :).

perempuan mandiri
Gambar : indonesiaposnews.com

***

Saya yakin sekali, kita tidak diciptakan seragam. Termasuk kaum perempuan. Menjadi perempuan itu memang serba salah, ya .

Tekanan terbesar justru datang dari peer pressure. It really breaks my heart ketika tempo hari beredar sebuah gambar dengan kata-kata yang menusuk hati. Bahkan untuk saya yang seharusnya tidak perlu tersinggung dengan gambar tersebut.

Kata-katanya halus namun menghujam tepat di ulu hati. Tak heran setelah itu banyak teman-teman perempuan yang berpredikat ‘ibu kantoran’ curhat di status masing-masing hahaha.

Gambar tersebut menyindir ibu-ibu yang menitipkan pengasuhan anaknya kepada pengasuh anak / asisten RT dengan sebuah percakapan seorng anak dan ibunya. Sang anak digambarkan sedih karena sang ibu konon tidak rela menyerahkan perhiasan berharganya kepada para embak tapi menyerahkan pengasuhan anaknya kepada embak.

perempuan mandiri

Why do we have to judge each other? 🙁

Seharusnya kita, para perempuan yang kini sudah punya predikat tambahan sebagai ibu, saling menyemangati untuk menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Daripada menghina mereka, ibu kantoran, yang tak sanggup memberikan ASI kepada buah hati, kita desak saja pemerintah untuk memberikan cuti setahun penuh kepada ibu-ibu bekerja yang baru melahirkan. Seperti di negara-negara maju gitu hehehe. Cuti setahun plus digaji pula. Asoy kan? 

Daripada meremehkan mereka yang lulusan PT ternama tapi memilih berada di rumah, kita desak pemerintah menyediakan internet cepat dan murah. Saya tahu pasti dan bergabung di banyak komunitas di mana isinya adalah stay at home Moms yang tetap aktif nyari duit via internet hihihihi. Blogger dan kuter mana suaranya? Hahaha.

Kita harusnya bersatu menyuarakan hak dan kepentingan kita kepada pemerintah. Bukannya malah perang sendiri dan saling mengobarkan propaganda yang menjatuhkan .

Ingatlah Florence Nightingale yang begitu sulit mendobrak dinding yang membatasi gerak perempuan di zamannya. Ingatlah Ibu Risma yang berbesar hati mengabdikan kemampuannya untuk masyarakat Surabaya lebih kepada baktinya untuk keluarganya sendiri.

Memangnya pengin ya, semua perempuan punya pikiran yang sama? Terus enggak akan ada dokter perempuan? Enggak boleh ada perawat perempuan? Dosen dan guru pun hanya boleh untuk laki-laki saja? Itukah yang kita inginkan?

Di masa sekarang, semua perempuan harusnya bisa menjalani peranan apa pun tanpa tekanan apa-apa . Asal ingat, niatnya harus benar . Kalau bekerja hanya untuk beli sepatu dan tas mahal karena suami enggak mau beliin ya gimana ya, hahahahhahaha *ngakakSambilMelet*.

***

Be a lamp, or a lifeboat, or a ladder.
Help someone`s soul heal.
Walk out of your house like a shepherd.

-Rumi-

Pick your own path. Yakini keputusan sendiri tanpa merasa perlu menghujat orang lain dengan pilihan yang berbeda.

Apakah memilih untuk menjadi stay at home mom, menghabiskan waktu lebih banyak di dapur, menenggelamkan hari dengan buku-buku, berkarier di kantor, mengabdi di rumah sakit, membagi ilmu di sekolah/kampus, menulis di blog, sekadar berbagi tips masak di grup-grup WA (it did help a lot!), whatever it is … just be the best version of your own.

Mari saling melengkapi.

Happy belated international’s women day ^_^.

Perempuan mandiri
Gambar : aware.org

***

Jalan-jalan Turki, Istanbul, Dua Wajah, Multi Peradaban

Sebenarnya   Jalan-Jalan Turki  ini adalah tulisan ke-2 yang muncul di Majalah Garuda edisi September-Oktober 2013 lalu hehehe.

Saya sih belum berkesempatan jalan-jalan ke Turki *hiks*. Ini cerita jalan-jalannya suami yang kebeneran pas April-Mei dapat assignment selama sebulan ke sana. Waktu itu kan kita baru sebulanan pindah ke Athlone. Si Nabil masih adaptasi di sekolah. Masa iya sudah ribut mau liburan ke Istanbul hahaha :P.

Di tulisan yang ini mau share soal kawasan liburan yang paling ‘hot’ di ‘belahan Eropa’ si Kota Bermuka Dua ini :D. Apalagi kalau bukan Hagia Sophia dan sekitarnya. Sekalian memanfaatkan hasil-hasil jepretan suami ;).

fotografer Dani Rosyadi Istanbul
Hagia Sophia (pic by Dani Rosyadi)

***

Istanbul, kota terbesar di negara Turki walaupun berpredikat bukan ibukota negara. Selat Bosphorus membelah Istanbul menjadi 2 wilayah di 2 benua berbeda. Di sisi barat merupakan bagian dari wilayah Eropa, sementara bagian timur termasuk wilayah Asia. Tak hanya memiliki 2 wajah, Istanbul menjadi salah satu tujuan wisata kelas dunia karena masih menyimpan jejak dari beberapa peradaban di masa lampau.

Wajah Eropa : Kawasan Wisata Sultan Ahmed, Perpaduan 3 Dinasti Masa Lampau

Sultan Ahmed, selain nama resmi dari Blue Mosque, dikenal pula sebagai kawasan berkumpulnya berbagai macam situs masa lampau yang masih berdiri tegak. Tempat-tempat ini berasal  dari berbagai dinasti dunia yang pernah mengukir sejarahnya di sana. Kawasan ini pula telah ditasbihkan sebagai World Heritage Site oleh badan budaya dunia, UNESCO.

https://www.youtube.com/watch?v=bjbxGkGb0Zk

Hagia Sophia, atau disebut Aya Sofya dalam bahasa Turki, tempat paling pertama yang menarik perhatian. Dari jauh sudah terlihat 4 menara dan sebuah kubah yang membentuk bangunan yang konon dibangun sejak tahun 537 M oleh Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sebagai bangunan gereja Orthodoks. Selama hampir satu milenium, Hagia Sophia pernah mendapat predikat sebagai gereja terbesar di dunia.

Sempat pula Hagia Sophia berubah menjadi gereja Katolik di bawah masa kepemimpinan Kekaisasaran Romawi/Latin.

Jalan-Jalan Turki
Hagia Sophia, Aula (pic by Dani Rosyadi)

Tak heran, begitu memasuki pintu utama, lukisan khas perjalanan Yesus menghiasi  atap selasar panjang menuju ruang utama. Namun, suasana mendadak berubah ketika kita memasuki pintu ke aula utama di lantai dasar. Dua buah lempengan bundar raksasa tergantung di atas pilar-pilar utama,  bertuliskan lafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’. Aula utama inilah yang sempat dimanfaatkan menjadi ruang salat utama ketika di tahun 1435, kekaisaran Ottoman merebut wilayah ini dan mengubah Hagia Sophia menjadi tempat beribadah kaum muslim.

Tahun 1935, pemerintah Turki resmi menjadikan Hagia Sophia sebagai museum. Museum lengkap bisa dikunjungi di lantai 2. Begitu tiba di atas, kita biasanya diarahkan ke sisi kanan bangunan terlebih dahulu. Di sini ada peninggalan dari umat Nasrani. Lukisan-lukisan asli  masih menempel utuh  yang berasal dari periode awal Hagia Sophia. Semua lukisan ini tadinya ditutupi sejak bangunan difungsikan sebagai masjid. Tapi direstorasi kembali saat hendak dijadikan museum.

Setelah mengitari sisi peninggalan kristiani, kita berpindah ke sisi kiri bangunan yang memuat benda-benda khas umat muslim. Bentuknya bukan lukisan-lukisan. Tetapi lemari-lemari berdinding kaca dengan tirai merah yang isinya didominasi pigura-pigura bertuliskan kaligrafi ayat-ayat suci alquran.

Jalan-Jalan Turki
Hagia Sophia – Museum Lantai 2 – Christian Side (pic by Dani Rosyadi)

Hingga kini, di Hagia Sophia, jejak sejarah dari kedua agama besar ini masih terpelihara dan dipajang bersamaan dalam satu bangunan yang sama. Untuk menikmati koleksi benda-benda seni khas kristiani maupun islami ini, kita hanya perlu merogoh kocek sebesar 25 lira untuk memasuki Hagia Sophia.

Tepat di depan Hagia Sophia, hanya dipisahkan oleh sebuah taman, mari melangkahkan kaki menuju Blue Mosque (Masjid Sultan Ahmed). Tadinya sempat mengira, interior dalam masjid akan bernuansa biru sesuai namanya. Ternyata aksen kebiru-biruan hanya tampak di permukaan luar bangunan saja. Itu pun sangat samar.

Jalan-Jalan Turki
Blue Mosque (pic by Dani Rosyadi)

Jika masjid lain pada umumnya hanya memiliki 4 menara masjid yang biasanya digunakan untuk mengumandangkan azan, maka Masjid Biru ini memiliki 6 menara. Dengan kubah tinggi, dinding bangunan yang berwarna coklat keemasan dan kaca-kaca jendela yang berhias mozaik-mozaik berwarna-warni, membuat interior dalam masjid sungguh megah dan indah. Sebuah lampu dipasang terpasang cukup rendah menambah keunikan tata ruangnya.

Jalan-jalan Turki
Blue Mosque – Inside (pic by Dani Rosyadi)

Jangan terpaku terlalu lama dalam masjid. Kunjungi pula Basilica Cistern. Sebuah tempat penyimpanan air yang biasanya berasal dari tadahan air hujan. Tempat ini letaknya di bawah tanah. Jadi, dari pintu masuk, ada tangga untuk ke bawah. Pilar-pilar batu yang menopang bangunannya berasal dari susunan berbagai bongkahan batu yang konon berasal dari berbagai tempat.

Kini, di bawah tempat yang merupakan peninggalan kekaisaran Byzantium tersebut, masih tersimpan air dan dihuni oleh berbagai jenis ikan air tawar.

Jalan-Jalan Turki
Basilica Cistern (pic by Dani Rosyadi)

 

Masih  buanyaaaaak banget cerita tentang jalan-jalan Turki , Istanbul ini. Foto-fotonya juga segambreng hehehe. Kota ini mungkin termasuk salah satu kota yang paling ingin saya kunjungi. Suatu hari nanti. Duh, kapan nih si Papa dapat assignment ke sini lagi. Nyari akomodasi gratisan nih hihihhi :D.

Sementara ini lihat-lihat foto-fotonya dulu sambil dengerin  si Papa mendongeng ;). Kalau lagi mood, ditulis deh ke blog :D. Semoga cepat-cepat kesampaian keinginan jalan-jalanTurki  ini ^_^. Aamiin .

Btw, kumpulan foto-foto suami juga djadikan video. Videonya bisa diintip di sini ;).

https://www.youtube.com/watch?v=61e2cKRLa_o

***

Pemahaman vs Pengalaman?

Dari artikel di link paling bawah, saya kutip sedikit :

“Seorang yang pernah mengalamii hidup sebagai minoritas, akan memiliki sense toleransi yang jauh lebih tinggi dari pada orang yang selalu hidup sebagai mayoritas.

Seorang siswa yang punya teman dari berbagai suku, bangsa dan agama, akan lebih faham tentang makna menghargai. Pengalaman mengantarkan pada pemahaman yang lebih dalam.”

Benar juga. Jadi malu karena dulu dari TK sampai SD sekolah di sekolah Islam, begitu masuk SMP Negeri, kaget melihat teman-teman ada yang beragama non muslim. Ya abes, dulu tahunya di dunia ini hanya ada 2 : orang muslim dan orang kafir, surga vs neraka. Kalau melihat teman-teman kristiani berlatih menyanyi, saya sering kepikiran, “Ya ampyun, pada ngapain, sih? Enggak tahu apa kalau mereka nantinya bakal masuk neraka semua!” Astagfirullah .

Pindah ke Jawa setelah 18 tahun besar di Kota Makassar, bete banget mendapati lingkungan yang sarat basa basi hehehe. Kita orang bugis ini simpel. Iya artinya iya. Tidak artinya tidak. Mulut dan hati, biasanya kompak terus . Makanya, sering dijuluki ‘mulut silet’ hahaha. Entah berapa banyak itu korbannya dulu -_-. Astagfirullah.

Ternyata, diberi rezeki untuk mencicipi belahan bumi yang lain. Dulu, suka bingung, mengapa diantara sekian banyak negara-negara Tim Teng, kenapa nancepnya mesti di Teheran sama Jeddah, siiiiihhhhhhh . Luar biasa cara Allah mengajarkan umatnya, ya . Fabi ayyi a alaa irabbikumaa tukadzdziban.

Dulu suka merasa kagum berlebihan sama yang lebih fasih membaca alquran dan pandai berbahasa Arab. Semacam emejing begitulah. Tapi untungnya, sebelum ke Jeddah, saya tidak terlalu mendewa-dewakan lagi. Syukurlah. Karena kalau berpikir begitu, baru sebulan di Jeddah mungkin sudah kepikiran murtad, kali, melihat ‘kelakuan sehari-hari’ orang-orang yang mungkin jauh lebih lancar membaca alquran dan mungkin hafal lebih banyak ayat-ayat suci. Astagfirullah.

Tapi ingat jangan buru-buru main stereotip. Walau yang menjengkelkan jumlahnya tidak sedikit, yang baik juga masih ada :). Sudah baca buku saya yang “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah” kan? Bab “People We Haven’t  Met” khusus membahas mereka yang baik-baik itu :).

Benarlah kiranya, satu-satunya cara bagi kita sesama manusia untuk mendeteksi iman dan takwa adalah melalui amal dan perbuatan . Sisanya, Allah Sang Mahatahu. Betapa muamalah jangan-jangan adalah setengah dari iman itu sendiri.

Dan kini, dilengkapi dengan merasakan sebagai minoritas muslim di belahan barat Eropa. Tak bisa membayangkan saya seandainya umat mayoritas non muslim di sini menyimpan pikiran yang sama seperti saya kepada rekan-rekan non muslim saya di masa abege dulu.

Pemahaman vs Pengalaman. Pilih yang mana? ;).

Semoga kita bisa memiliki pemahaman yang murni diimbangi dengan pengalaman yang mumpuni. Amin, amin ya rabbal aalamiin. Mampukan umatMu ya, Allah 🙂.

https://islamindonesia.co.id/index.php/opini/1864-menjadi-radikal-karena-pemahaman-menjadi-toleran-karena-pengalaman

Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu
Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu