Kenangan Masa Kecil : For a Better Ending :)

Salah satu kenangan masa kecil kan rumah saya ada 3 lantai, tuh. Horang kayah dong ya rumah ampe bertingkat-tingkat hihihi. Mengapa sampai 3 lantai segala? Soalnya tanahnya super mungil sementara bokap menentang KB modern jadilah itu nyokap melahirkan sampai 8 kali! 😛

 

kenangan masa kecil
Banyak anak banyak rezeki ^_^ Gambar : majalahtim.com



Biar muat dengan bocah-bocah segambreng, diakalin dengan membuat rumahnya bertingkat. 

Saya enggak bakal bohonglah. Lingkungan sekitar rumah itu khas pemukiman dekat pasar. Jarak Pasar Sentral dari rumah mungkin hanya sekitar 100 m. Jalan kaki ke pasar juga bisa banget.

Karena sekolah di TK-SD Swasta, saya jadi tahu kehidupan sosial ekonomi teman-teman sekolah saya. Ada yang tinggal di wilayah ‘elit’. Beberapa kali ke sana untuk kerja kelompok.

Wah, rumahnya enak banget. Tenang dan tidak bising karena tidak terletak di jalan raya. Macam rumah eike yang wara wiri dilewatin sama angkot berbagai jurusan. Zzzzzzz .

Dia tiga bersaudara dan masing-masing punya kamar tidur sendiri. Gimana eike enggak mupeng cobak. Secara saya dan saudara-saudara saya tidurnya enggak pakai kamar-kamar, karena kamar tidur cuma ada 2.

Kita tidur ramai-ramai di lantai paling atas pakai kasur + kelambu. BIla pagi tiba, kasur digulung, kelambu dilipat. Ruangannya memang ruangan serbaguna, siang untuk nonton TV-ngerjain peer-main monopoli, malamnya untuk tidur hihihi 😀.

Nah, waktu di rumah teman itu, ternyata ada siaran parabola. Saya agak grogi karena teman-teman lain sibuk bercerita tentang acara ini itu yang saya sama sekali tidak paham. Dodolnya, kalau mereka ngikik-ngikik, biar saya tak terlalu kelihatan bodoh, saya ikutan ngikik hahahahahaha.

Karena itulah, waktu SD saya suka ngibul . Suka mengaku-ngaku punya tante yang kaya raya, dimana hampir setiap akhir pekan saya diajak menginap di rumahnya yang ada kolam renang dan lapangan tenisnya. Kalau ngibul jangan tanggung-tanggung ya, Kakaaaa 😀.

Terus, teman-teman banyak yang les bahasa inggris. Saya ikutan dong ngaku-ngaku les. Dampak positifnya, tiap malam saya suka menyelinap ke lemari buku kakak-kakak saya dan berjuang sendiri menghafalkan kosakata dan grammar yang ada dalam buku-buku kakak saya . Biar ngibulnya enggak ketahuan dong ah 😛.

Lebih jauh lagi, karena saya kan gila-gila perhatian ya waktu kecil dulu (ini sampai gede sih hahahaha), saya suka menjanjikan hal aneh-aneh pada teman. Mengaku-aku bisa ngajarin mereka main piano salah satunya. Oh yeah, I told them that I also took a piano lesson twice a week! 😀.

Gambar : raleighhand.com

Atau menjanjikan aksesoris-aksesoris permata segala. Sungkem dulu sama teman-teman SD yang pernah dikibulin. I’m not proud of it . Tapi ya, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan sekarang adalah minta maaf dan minta ampun kan? hehehe *tutupMuka*.

The truth is … I was sad. Knowing the fact that most my friends came from ‘the haves’ bikin rempong to the max 😛. And then I start putting some notes for my self. Privately.

Apalagi pas dengar cerita teman-teman ada yang liburan sampai ke luar negeri. Teman saya kebanyakan anak dosen atau ada anak pengacara terkenal. Anak dokter atau anak pengusaha. Pusing lah pokoknya 😀. Salah pilih sekolah mungkin yak hahahaha.

Saya tidak terima kenyataan kalau bapak dan ibu lulus SMP aja enggak. Jadi, saya harus jadi orang pintar! Enggak tahu juga kalau pintar itu bakal ke mana tapi itu keinginan terbesar nomor satu. Apalagi pas ibu saya suka ngomporin, kalau nilai bagus-bagus nanti bisa lulus perguruan tinggi di Jakarta! Wow, tinggal di ibukota. Kota lain, dunia baru! Catat baik-baik dalam diary 😀.

Nomor dua, saya jadi belajar, membaca itu bisa membuat angan-angan melambung tinggi. Kalau banyak tahu kita bisa terlihat pintar juga hihihi . Saya dulu pengin pakai kacamata biar kelihatan pintar lho hahaha.

 

Gambar : wikihow.com

 

Kakak-kakak saya suka menghabiskan uang jajannya untuk beli majalah atau tabloid . Nah, saya akhirnya tak bisa memilih-milih bacaan jadi saya baca saja semuanya. Termasuk novel ’17 tahun ke atas’ yang tak sengaja saya temukan di salah satu laci kamar bawah. Ngaku itu siapa yang punya??? hahahaha.

Jangan heran kalau agak error karena umur 9 tahun sudah baca beberapa seri Nick Carter hihihi. Tapi anak perempuan mana betah baca gini-ginian. Ada juga pusing sendiri .

Favorit saya itu buku-buku Enyd Blyton. Dari dulu, saya selalu ingin melihat dunia .

Saya suka membaca buku-buku dongeng terjemahan yang disewa pakai uang jajan atau pinjem dari teman . Saya suka norak melihat gambar-gambar yang menjadi latar dalam buku cerita tersebut. Rumah-rumah kecil bercerobong asap bercat warna-warni pastel. Halamannya luas berumput hijau dengan bunga-bunga aneka warga. Ikut membayangkan rasanya hidup di sana.

 

kenangan masa kecil
Gambar : enidblytonsociety.co.uk

Saya ikut-ikutan menghafal mata-mata uang yang disebut-sebut dalam bukunya 
 penny, pounds, shilling, pence dsb.

Apalagi serial Malory Towers. Berkisah tentang masa-masa kecil Darrell Rivers saat mulai bersekolah. Keenam seri bukunya selalu membuat khayalan saya terbang nun jauh ke Malory Towers, tempat Darrell menghabiskan 6 tahun sekolah dasarnya.

Tante saya banyak yang cukup berada sebenarnya. Tapi tidak sampai punya kolam renang dan lapangan tenis dan saya tidak rutin menginap di rumahnya hihi. Hanya datang saja sesekali. Tante ini sekaligus teman kecilnya ibu saya .

Sepupu-sepupu saya yang kecil-kecil punya koleksi Majalah bobo yang lengkap dan buku-buku cerita terjemahan. Kalau ke sana, saya pasti anteng duduk diam dalam kamar tidur si adik sepupu hehehe. Dia masih kecil. Lebih suka main mobil-mobilan atau main video game. Jadi, sambil membaca saya temani dia main. Tangan mainan mobil, mata fokus ke buku .

Serial Nina yang biasanya latar belakang luar negeri juga suka banget. Banyak teman yang koleksi Nina. Mereka tuker-tukeran. Makanya, saya ini waktu SD takut ketahuan gembelnya hahaha, jadi suka carper dengan cara aneh-aneh. Maksudnya biar mereka mau minjemin buku walau saya enggak punya tukerannya . Sok-sok berusaha membangun kharisma biar mereka ‘segan’ gitu lho .

Baca serial STOP juga dengan bekal bacot doang. Saya janjikan mau bikin drama dan bisa masuk televisi bla bla bla. Makanya, gampang kalau mau pinjam buku kepada siapa saja karena selalu mengesankan diri bagai orang penting hahahaha. Sungkem lagi, sungkem lagi sama teman-teman SD ku tersayang.

Dari membaca-baca itu jadi pikiran ikut berkelana ke mana-mana. Jadi banyak yang bisa diceritakan, terlatih bertutur yang baik, sayangnya dulu dipakai buat ngibulin teman hahahaha.

Saya jadi makin rajin menulis diary, menulis fiksi, dan macam-macam.

Saya pernah rutin membaca biografi orang-orang terkenal dan banyak uang karena saya pikir dunia itu adalah milik mereka yang berharta . Tapi biografi macam Christina Onassis malah membuat saya terkaget-kaget. Lalu waktu SMP saya membaca biografi Jackie Kennedy Onassis membuat saya makin yakin, perempuan itu kudu pintar untuk alasan apa pun!

Lalu, biografi Bunda Theresa membuat saya berkesimpulan pintar itu tak hanya tentang nilai-nilai di sekolah . Harta terbaik ternyata bukan uang.

Umur 11-12, saya membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan sangat tergugah dengan ceritanya. Sampai merasa waswas kalau nanti suami saya ternyata orang Minang. Hahahaha .

Hingga akhirnya, saya cukup percaya diri untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa suatu hari hidup saya akan menawarkan hal-hal yang lebih baik. Membaca membuat kita tahu bahwa ada banyak kehidupan lain di luar sana.

Tak sedikit orang yang menuai banyak hal positif di masa dewasa ternyata datang dari keluarga ‘bawah’. Saya dulu memang takut dengan pikiran-pikiran bahwa kita akan besar seperti orang tua kita atau lingkungan kita. Mengingat saya tumbuh di lingkungan menengah ke bawah. Membaca menawarkan harapan dan pilihan-pilihan baru yang rasanya sukar didapat dari perspektif lingkungan atau orang tua .

Makanya, waktu remaja, saya selalu merasa menulis itu pekerjaan yang berat tapi keren . Keren walau secara materi terlihat kurang menjanjikan .

Menjelang dewasa, bacaan saya didominasi oleh non fiksi.

Seberapa besarnya amal para penulis jika gagasan dalam tulisan mereka sanggup mengguncang dunia. Masih heran mengapa seorang emak-emak macam Kartini layak mendapat gelar pahlawan? .

Saya kutip tulisan Mas Bowo Kusumo, “Kenapa Kartini menjadi popular? Karena dia menulis. Kalo zaman sekarang, mungkin dia bikin blog. Lantas blognya dibaca oleh jutaan orang dan banyak mengubah kehidupan orang banyak. Kartini menunjukkan bagaimana pena bisa lebih tajam dari pedang dan lebih ampuh dari peluru.”

Dari dulu sampai sekarang, pendapat ini masih sangat relevan .

Membaca adalah salah satu cara yang paling mudah dan murah untuk membuka cakrawala .

Jendela Dunia, Buku 🙂

Tulisan ini dadakan dibuat untuk menyambut Hari Buku yang jatuh pada tanggal 23 April . Biar disayang editor dan penerbit, promo kudu jalan terus hahahahaha. Jangan lupa beli buku-buku saya juga yak .

Buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah”, 174 halaman. Terbit Oktober 2013 kemarin .

https://jihandavincka.wordpress.com/2013/10/04/stands-at-times-of-challenge-and-controversy/

Buku “The Davincka Code”, 298 halaman. Terbit Januari 2014 yang lalu .

https://jihandavincka.wordpress.com/2014/01/19/how-traveling-inspires-you/

“Maybe this is why we read, and why in moments of darkness we return to books: to find words for what we already know.”
― Alberto Manguel

Benar itu. Untuk memadamkan rasa sedih dan tidak berdaya, saya getol membaca di masa kecil . Dari rangkaian kata-kata itulah, mimpi-mimpi bisa tercipta, rencana-rencana mulai terbina dan langkah-langkah kecil segera dibuat. Makanya tak salah bila ada istilah, “Buku adalah jendela dunia”. Walau kini mulai tergeser dengan kehadiran internet hehehe.

Soothsayer: Your story may not have such a happy beginning, but that doesn’t make you who you are. it is the rest of your story, who you choose to be… So, who are you, Panda? (Kung Fu Panda 2)

The bad news, we cannot change our past. Good news is … we can always choose what our future will look like . To find a better ending, bring out the best in you by reading and exploring .

Selamat Hari Buku dan happy reading, everyone ^_^.

 

Gambar : geekiest.net

 

***

Lihatlah Warna pada Cahaya

Waktu kuliah dulu saya belum kepikiran lagi soal menulis. Pokoknya fokus gimana biar cepat lulus, dapat kerja dan cari suami! Hahahaha 😀.

Tapi, dari dulu saya sudah ngefans dengan tulisan-tulisan salah satu teman kuliah dulu, si Miftahul Huda ini 😀. Cerpen iseng-isengnya atau opini-opini ringannya memang suka bikin jantung kelojotan hehehe. Dasar penulis berbakat, yang iseng-iseng dan ringan-ringan itu selalu sarat pesan-pesan yang bagus .

Saya selalu setuju jika sejarah harus dicermati dari berbagai sisi. Seperti saya meyakini, read as much as you can, but remember, you don’t have to believe them all.

Kalau menurut saya pribadi, orang mudah terjebak dalam ekstrimisme karena dalam mempelajari suatu peristiwa selalu cari yang gampangnya. Fokus pada “what”, “where”, “when” atau “who” yang memang relatif lebih mudah dihafalkan tanpa perlu mengobok-obok nalar terlampau dalam.

Sisi “how” atau “why” yang seharusnya menjadi potensi terbesar kita dalam memahami sejarah sering didangkalkan bahkan ditinggalkan . Apa pula gunanya kemampuan berpikir dianugerahkan kepada kita kalau disia-siakan? .

Nah, tulisan Huda kali ini lebih menonjolkan sisi “how” atau “why” dari beberapa kejadian masa lalu yang kesemuanya bersinggungan dengan agama-agama samawi. Isinya akan sangat ‘sensitif’ .

Khusus untuk Sunan Kalijaga vs Syekh Siti Jenar, saya pribadi belum pernah membaca literatur yang sama dengan yang diceritakan Huda ini hehehe.

Tapi sisanya, sejalan dengan yang sudah pernah saya tahu atau baca 🙂.

Saya share di sini untuk menambah wawasan saja .

Saya kutipkan akhir artikelnya dikit :

“Sejarah Sunan Kalijaga vs Syekh Siti Jenar, Yesus, Muhammad and friends, dll, merupakan kisah-kisah kehidupan manusia-manusia luar biasa yang memiliki cita-cita, ide-ide, ambisi, perjuangan, dan merekapun mengalami jatuh cinta, patah hati, kehilangan, kekecewaan, seperti manusia pada umumnya. Memandang orang-orang ini dan sejarah dari kacamata “humanisme” alias “kemanusiaan” akan membuat kita belajar jauh lebih banyak dari sekedar berusaha memetakan “benar” vs “salah”.

Pembelajaran menghasilkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan menjadi fondasi cinta. Dan cinta adalah energi kehidupan.

Dan kita memulainya dari kesadaran akan begitu berwarnanya sejarah.”

Selamat membaca dan ruang diskusi tentu dibuka lebar-lebar 🙂.

 

Gambar : id.zulkarnainaziz.com
Gambar : id.zulkarnainaziz.com

 

================
The color of history
================

Oleh : Miftahul Huda

Saya baru menonton film dokumenter the Story of Jesus dan mencoba mengerti posisi beberapa pihak, termasuk kelompok para rabi, orang-orang Farisi dan bahkan Judas.

Jika kita memandang sejarah dalam konteks hitam-putih, benar-salah, kita akan kehilangan banyak pelajaran, dan lupa akan keindahan hidup yang berwarna. Kehidupan manusia begitu berwarna, jadi memang agak-agak sulit untuk dinilai dengan pandangan yang terlalu sederhana.

Misal sejarah Syekh Siti Jennar vs Sunan Kalijaga. Pendukung Sunan Kalijaga menganggap Syekh Siti Jenar sesat, pendukung Jenar menganggap Kalijaga jahat. Padahal tidak seperti itu. Sunan Kalijaga mendirikan organisasi kekanjengan Sunan, alias Wali Songo yang dipimpin oleh 9 orang misionaris muslim, tujuannya adalah untuk melindungi para misionaris, guru-guru pengajar Islam, alias sunan-sunan yg jumlahnya ratusan, yang mengalami kekerasan dari mayoritas Hindu saat itu.

Orang-orang Hindu saat itu ketakutan karena proses “islamisasi” ini dan dapat dimengerti memang dasarnya setiap orang takut akan kehilangan identitas dan tradisi mereka yg sudah mereka anut generasi bergenerasi. Banyak muslim saat inipun di Indonesia takut sekali dengan “kristenisasi”.

Untuk memiliki bantuan otoritas, kekanjengan mendekati kerajaan agar dapat mendapat dukungan pemerintah. Pemerintahpun setuju untuk melindungi para misionaris, masjid-masjid dan sekolah-sekolah agam Islam. Tapi lama kelamaan agar bisa tetap mendapatkan lindungan pemerintah, kekanjengan ini pun menjadi kepanjangan tangan pemerintah yg terlalu menindas rakyat, seperti penerapan pajak yg terlalu tinggi atau kerja paksa. Ulamapun menjadi pendukung kebijakan2 pemerintah yg mengekang rakyat. Sebuah dilema yg sering dihadapi oleh kekanjengan.

Syekh Siti Jenar datang dan tak tahan melihat penderitaan rakyat dan mengajarkan rakyat utk melawan. Tuhan ada dalam diri kita, kata Jenar, dan karena itulah kita bebas menentukan nasib kita sendiri. “Fight against tyrany and be fear not, because God is in you” kata Jennar. Hal ini membangkitkan pemberontakan rakyat dan Jenar dianggap sebagai pembuat onar, penyebar “ajaran sesat”.

Sunan Kalijaga sendiri sadar bahwa Jenar bukan orang jahat, hanya saja posisi nya terjepit. Sunan Kalijaga memanggil Jennar memintanya utk menghentikan ajarannya, menghindari keonaran yg dapat mengancam perlindungan pemerintah terhadap para misionaris muslim. Tapi Jenar menolak, “I’m telling the truth and you know it!”. Akhirnya kerajaan memerintahkan Jenar ditangkap, disiksa dan dihukum mati.

Kalijaga yang mengeksekusinya, dan sebelum memenggal kepala Jenar, Kalijaga mengangkat pedangnya ke langit dan berseru, “orang ini bersalah di mata manusia. Tapi benar di mata Tuhan” dan memenggal kepalanya. Dia tahu Jenar orang benar, dan saya yakin sebelum melakukan eksekusi, Kalijaga berseru ke langit dan bertanya, “Why, God, Why! Tell me what the hell is going on, my dear God! Tell me what the hell should I do?”

Tapi seperti biasanya, langit tak menjawab, Dia hanya diam, diam dan diam, membiarkan kita manusia selalu dalam kebingungan dan membuat kita akhirnya belajar untuk menerima every shit that happens. “Man can only do what he can do and let destiny reveal itself”, begitu kata film Last Samurai.

Saya tidak menyalahkan Kalijaga, atau Jenar, atau orang-orang Hindu yang khawatir akan “islamisasi” ini. It’s just that shit happens, and all we can do is.. well accept it. Dan itu sebabnya kita tidak bisa membaca sejarah dalam kacamata hitam-putih belaka. Hidup terlalu berwarna.

 

 

Gambar : spoki.tvnet.lv
Gambar : spoki.tvnet.lv

 

====================
Jesus and the Jewish rabi
====================

Saya rasa posisi para rabi Yahudi, farisi dan Judas yg bertanggung jawab terhadap kematian Yesus juga sama. Beratus-ratus tahun anti-semitisme dunia Kristen berkembang karena ini, darah Yesus yang harus ditanggung oleh keturunan-keturunan Yahudi. Selama ratusan tahun dunia Kristen bertanggung jawab terhadap kecurigaan, pembantaian, pembunuhan yg selalu dihadapi oleh orang-orang Yahudi. Anti semitisme Hitler bukanlah hal baru di Jerman, alasan kenapa ribuan orang Jerman menerima ajaran Hitler yang anti Yahudi, memang karena sudah sejak dulu dunia Kristen menyalahkan Yahudi atas kematian Yesus.

Baru setelah perang dunia kedua selesailah, gereja meminta maaf dan memutuskan untuk memutus rantai anti semit dan berkata pada seluruh dunia Kristen, “Yesus dan hampir semua orang-orang Kristen awal adalah Yahudi” untuk menyadarkan seluruh orang Kristen menghentikan kebencian mereka terhadap Yahudi.

Bangsa Romawi yg menguasai orang-orang Israel, meruntuhkan kuil Solomon dan memperbudak orang-orang Israel, adalah bangsa yang sangat kuat. Merekalah yg berhasil menguasai Yunani—-bangsa yang bahkan orang-orang Persia yang berusaha menguasai Yunani selama ratusan tahun akhirnya menyerah dan berkata, “Hanya para dewata yg bisa menguasai Yunani”. Bangsa Romawi adalah para dewata tersebut.

Jika orang-orang Israel masih bisa kabur dari penjajahan Mesir, tidak dengan Romawi. Romawi terlalu besar dan kekuasaan membentang kemana-mana. Tak ada tempat di mana bangsa Israel bisa menghindari Romawi.

Agar mereka bisa beribadah dengan bebas, menjalankan tradisi-tradisi mereka dan mendirikan kuil-kuil, rabi-rabi dan pembesar-pembesar Yahudi berusaha melobi pihak penguasa Romawi. Merekapun bersahabat dengan penguasa Romawi dan menjadi bagian dari mereka. Alasannya untuk melindungi keberlangsungan tradisi, ajaran, agama Yahudi.

Tapi memang karena hal inilah mereka mengalami dilema, bagaimanapun, pada akhirnya para pembesar Yahudi ini menjadi kepanjangan tangan penguasa Romawi untuk menekan rakyat jelata Israel. It happens anywhere. Seperti Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya di kekanjengan.

Yesus, yang menurut banyak skolar, mendapatkan banyak pelajaran dari Yohannes pembaptis yang kebetulan memiliki masalah besar dengan Raja Herod, penguasa Judea di bawah kekaisaran Romawi, sedikit banyak terpengaruh oleh pandangan Yohannes tentang betapa bejatnya para penguasa Israel dibawah Romawi. Yesus bahkan memandangnya lebih luas lagi, kebejatan yg dalam pandangan Yohannes merupakan pelanggaran terhadap ajaran-ajaran Yahudi, diperluas menjadi pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan kebebasan orang-orang Yahudi.

Yohannes pembaptis adalah seorang religius tradisional, dimana “jahat” bagi Yohannes adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum Yahudi, Yesus lebih besar lagi, seorang religius yang humanis dan sosialis, di mana “jahat” memiliki makna lebih luas; menindas, menyiksa dan pelanggaran terhadap hak-hak manusiawi.

Yesus memang tidak langsung menentang penguasa Romawi, dia mulai dari lingkaran yg lebih kecil dulu, yaitu para pembesar Israel. Mengkritik dan menghujat mereka atas kejahatan mereka terhadap rakyat Israel. Rakyat kecil yang merasa ditindas mengikuti Yesus, dan beberapa dari mereka, seperti Barnabas, mengharapkan hal lebih besar lagi, agar Yesus memimpin pemberontakan melawan Romawi. Mereka ingin Yesus langsung berhadapan langsung dengan otoritas Romawi, tidak hanya melawan “raja-raja kecil”.

Pada akhirnya para “raja kecil” Yahudi ini berhasil membawa Yesus ke hukuman mati dengan melobi otoritas Romawi, didorong rasa takut mereka keonaran yang dibuat Yesus akan berdampak besar terhadap keberlangsungan rakyat Yahudi dalam perlindungan dan toleransi Romawi. Yesus ditakutkan akan menjadi bibit pemberontakan. Para penguasa Yahudi tahu, jika itu terjadi, mereka semua akan mati tak terkecuali.

So shit happens. Saya tidak menyalahkan para rabi dan farisi ini, atau bahkan Yudas, atau Yesus. Mereka ini “people”, dengan pola pikir, tujuan dan rasa takut masing-masing. Hanya saja kadang ini saling bersimpangan dan berbentrokan. Saya merasa para rabi Yahudi dalam posisi yg sama dengan para wali songo termasuk sunan Kalijaga, dalam dilema yg sulit dipecahkan dan akhirnya memilih “korbankan satu orang utk menyelamatkan keseluruhan”. Dan dalam hal ini, Yesus adalah Syekh Siti Jennar.

Kita tidak bicara “skenario Tuhan” di sini bahwa itu sesuatu yang harus terjadi. Itu kepercayaan. Saya bicara dalam konteks sains dan sejarah. Saya membahas dari sisi personal setiap orang dan kita tahu bahwa kebanyakan manusia tidak sepenuhnya jahat dan tidak sepenuhnya baik. Kita terombang ambing dalam ketidakjelasan makna hidup dan “maksud Tuhan” yang membuat pusing kepala.

Hidup sangat berwarna. Chaos with colors. That what makes it beautiful.

 

 

Gambar : glogster.com
Gambar : glogster.com

 

============================
Sahabat-sahabat Nabi, Sunni, Syiah
============================

Setelah kematian Muhammad, nabi Islam, masyarakat Islam mulai mengalami kebingungan tentang apa yang harus mereka lakukan terhadap warisan nabi ini.

Oh ya, seperti Yesus, Musa, Muhammad, dll, jaman dulu memang agama menjadi bagian penting dan mendasar dalam kehidupan sosial dan politik. Jaman sekarang jika kita tidak setuju pada pemerintah, kita menciptakan partai baru atau aliran ideologi baru. Jaman dulu, kita menciptakan agama atau sekte baru. Ketika Musa menentang kuasa Mesir, dia menentang dengan agama. Ketika Yesus menentang kuasa Yerussalem, dia menentang dengan agama. Begitu juga Muhammad, ketika menentang kuasa Mekkah, dia menentang dengan agama. Agama-agama dan sekte-sekte baru selalu bermunculan ketika tirani menjadi begitu kejam dan menindas. Jaman dulu kita belum mengenal partai dan sekulerisme. Tuhan dan agama menjadi bagian dari pergerakan politik untuk melawan raja-raja, para penguasa dan tirani. Jadi jangan heran, namanya juga orang Jadul alias Jaman Dulu.

Nah, ketika Muhammad meninggal, muncul 2 kubu, kubu penganut demokrasi dan kubu penganut monarki. Penganut demokrasi berargumen, “hey Rosul bilang, pilih pemimpin di antara kamu yang paling kompeten. Itu artinya pemimpin itu dipilih, tauks!” Penganut sistem monarki keturunan ingin agar keluarga nabi yg menjadi pemimpin yaitu Ali, keponakan dan menantu Muhammad.

Yang menang kelompok demokrasi, mereka mengankat Abu Bakar sebagai pemimpin islam. Dilanjutkan oleh Ummar. Dilanjutkan lagi oleh Usman. Masalah sepertinya mulai muncul pada jaman Usman. Usman ini ganteng, baik hati dan sangat lembut. Wanita-wanita selalu membicarakannya dan menginginkannya. Beda dengan Ummar yang keras dan bahkan kadang terlalu kasar, membuat para wanita menjauh dan menyebutnya laki-laki berang. Orang takut padanya.

Masalahnya, saking lembut dan baik hati si Usman, dia kesulitan menolak ketika keluarga dan klannya meminta posisi-posisi di pemerintahan. Usman pun menjadi KKN dan menempatkan banyak orang yang kurang kompeten di pemerintahan. Infrastruktur, perdagangan, perekonomian yang telah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya, menjadi porak poranda dan salah urus. Muncullah pemberontakan dan akhirnya pembunuhan terhadap Usman.

Naiklah Ali, menantu Muhammad ke pemerintahan. Sialnya Ali, terlalu banyak hal-hal besar yang harus dia urus, perbaikan ekonomi, infrastruktur, perdagangan, dll dan penegakkan hukum; menyusut kematian Usman. Ali manusia biasa, kemampuannya terbatas, dia terlalu fokus pada perbaikan ekonomi, infrastruktur dan dianggap mengabaikan penyusutan pembunuhan Usman.

Klan dan keluarga Usman menuntut pembalasan darah dan memulai pemberontakan karena tidak puas dengan Ali, yang diakhiri dengan jatuhnya Ali dari kekuasaan, dan bahkan pembunuhan kejam terhadap dia dan keluarganya. Dan karena jaman dulu politik dan agama adalah satu paket, maka muncullah berbagai macam aliran dan sekte baru, termasuk Syiah, Murjiah, Khawarij, dll dengan berbagai pandangan politik masing-masing. Terima kasih sekularisme, mencegah munculnya terlalu banyak agama dan sekte di dunia ini. 

Terlalu panjang untuk diceritakan, tapi intinya adalah bahwa ini semua adalah politikal, dan setiap orang mulai dari Abu Bakar, Ummar, Usman dan Ali adalah manusia-manusia biasa. Mereka orang-orang baik yang, well kebetulan saja dalam siatuasi yang seringkali membingungkan, membuat dilema dan well shit happens.

It;s like everywhere to us men. Shit happens dan kadang kita hanya bisa pasrah dan menerima. Memandang segala kejadian dalam kacamata hitam putih akan melahirkan kebencian dan dendam tak berujung. Berusaha mengerti posisi masing-masing, dari kacamata-kacamata dan warna yang berbeda, akan melahirkan pengertian, pandangan yg lebih dalam, dan kebijaksanaan.

Sejarah Sunan Kalijaga vs Syekh Siti Jenar, Yesus, Muhammad and friends, dll, merupakan kisah-kisah kehidupan manusia-manusia luar biasa yang memiliki cita-cita, ide-ide, ambisi, perjuangan, dan merekapun mengalami jatuh cinta, patah hati, kehilangan, kekecewaan, seperti manusia pada umumnya. Memandang orang-orang ini dan sejarah dari kacamata “humanisme” alias “kemanusiaan” akan membuat kita belajar jauh lebih banyak dari sekedar berusaha memetakan “benar” vs “salah”.

Pembelajaran menghasilkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan menjadi fondasi cinta. Dan cinta adalah energi kehidupan.

Dan kita memulainya dari kesadaran akan begitu berwarnanya sejarah.

Gambar : quotesinfinite.com
Gambar : quotesinfinite.com

=============

Not All Those Who Wander are Lost

Salah satu daya tarik Irlandia di mata saya sebelum pindah ke sini adalah fakta bahwa Irlandia tetanggaan sama Inggris Raya hihihi. Harapannya, gampang mau nemplok ke sono. Idiiiiih, ternyata paspor hijau tua tetaplah paspor hijau tua *langsungLemes* hahahaha.

kata anak rantau
O’Connell Street, Dublin

 

Baik Inggris Raya maupun Irlandia, keduanya tidak masuk wilayah Schengen. Ho-oh, untuk ke Schengen pun, kudu adu urat di imigrasi ngurus visa dengan harga visa yang enggak murah. Inilah ribetnya kedua negara yang berada di ujung barat Benua Putih ini.

Konon, Irlandia juga menolak masuk wilayah Schengen sebagai bentuk solidaritas kepada Inggris Raya. Karena pemegang paspor Irlandia bebas lalu lalang ke Inggris tanpa visa. Berbeda dengan pemegang visa Schengen yang tetap kudu apply visa untuk masuk Inggris.

 

Kalau Irlandia masuk Schengen, Inggris Raya yang selama ini tidak terlalu pusing dengan pendatang dari Irlandia harus memperketat imigrasinya. Pusing gak lo? Hahhahaha.

Inggris Raya, negeri paling kece di Eropa ini (di mata eike :P) juga menetapkan biaya visa yang cukup tinggi untuk pemegang paspor hijau tua. Ya nasib, ya nasib. Pas apply-nya pun rese’. Pakai agen, boooo.

Tinggal di desa memaksa kami sekeluarga kudu datang beramai-ramai ke kantor agen di Dublin. Dokumen segambreng, pakai difoto-foto langsung dan cap jari lengkap, kap, kap!

Seluruh energi liburan sudah tersita untuk ngurus visanya doang yang itu pun belum tahu bakal di-approve apa enggak *pingsanDulu*. Padahal hanya butuh kurang dari sejam untuk mendarat di London via Dublin.

Irinya dengan pemegang paspor Malaysia. Mereka bebas melenggang kangkung ke Inggris Raya tanpa visa sama sekali! Juga bebas melanglang buana ke seluruh wilayah Schengen tanpa mesti mengemis-ngemis permit ke kantor imigrasi mana pun :P.

Saya sampai bosan disangka orang Malaysia di Irlandia. Saking enggak tenarnya Indonesia kali, ya hahaha. Kata teman India saya, “Maybe because Malaysia is a big country. Much bigger than Indonesia?”

Nah, saya jelaskan panjang lebar jumlah penduduk Indonesia dan luas wilayahnya, dia pun bengong. “Wow, how come I’ve never heard about Indonesia.”

Teman saya yang dari Suriname (tapi sejak remaja pindah ke Eropa) juga minim sekali pengetahuannya tentang Indonesia.

Matanya melotot begitu saya beritahu bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia! She said, “Oh wow, Indonesians are so happy that they don’t try to travel to everywhere.” Hahahhaha –> ngakakMiris :P.

Itulaaaaaah, cukup galau melihat pendatang asal Indonesia yang sangat minimalis di sini. Orang-orang Malaysia itu memang ada di mana-mana, ya, boooo. Saya dulu suka geer kalau ke Dublin ketemu cewe-cewek yang berkerudung dan bertampang ASEAN. Oalah, mahasiswi Malaysia memang cukup mudah ditemui di seantero Dublin :).

Di Saudi sih banyak tapi ya gitu deh, pendatang Indonesia di Saudi juga ceritanya unik-unik, if you know what I mean :P.

kata anak rantau
Geng abaya di Obhur, Jeddah

 

Ada apa ya dengan orang-orang Indonesia? :). Mungkin sudah saatnya kita mengubah pola pikir sebagian masyarakat. Negeri-negeri sarat penduduk memang tak mungkinlah menggantungkan hidup hanya pada pemerintah setempat. Semangat merantau harus dibikin bergelora, nih!

Orang Filipina tuh ya yang secara fisik dan budaya mirip Indonesia juga terkenal dengan eksistensinya di mana-mana. Di Irlandia sini enggak susah mencari pendatang asal Filipina. Di Jeddah, mbak-mbak suster Pinoy itu yang jadi lawan tangguh para madam kalau musim diskon tiba! Hahaha.

Saya perhatikan teman-teman dari India, Cina, Pakistan dll itu ya, sekali merantau, mereka benar-benar fokus. Mereka siap sekali dengan segala konsekuensi dan mental sekuat baja. Komunitasnya kuat di mana-mana. Apalagi yang dari Pakistan-Bangladesh.

Tak sedikit yang datang dari kalangan kurang mampu. Di India, pendidikan itu penting banget. Jadi, yang miskin banget sekali pun kudu sekolah dan biaya sekolah dan buku memang tidak mahal di sana. Nanti begitu besar dan lulus, mereka-mereka ini yang banyak menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Untuk mereka, hidup di luar negeri itu memang perjuangan. Agak beda ya dengan stereotip di tanah air yang masih memandang tinggal di luar negeri itu kudu enak, kudu anu, kudu itu. Maklumlah, jangan-jangan sebagian besar perantau asal Indonesia di luar negeri memang datang dari kalangan menengah ke atas.

Isu pendidikan di dalam negeri masih sangat tajam :(. Kalau di Indonesia, ada kalangan kurang mampu yang sekolah/kerja ke luar negeri, bisa heboh sampai jadi novel dan film segala, tuh :P.

Beda dengan para Pinoy yang fasih banget berbahasa Inggris tanpa perlu capek-capek les bla bla bla. India juga gitu. Plus kepercayaan diri yang selangit untuk trio India-Pakistan-Bangladesh hihihihi :D.

Kepercayaan diri itu memang salah satu kelemahan kita kali, ya. Suami cerita, dia suka gemas dengan teman-temannya yang saat interview selalu ragu-ragu dalam menjawab. Kalau kata suami, pokoknya jawab saja dulu, “Ya, saya bisa belajar. Enggak masalah.”

Terus kadang juga terlalu banyak pertimbangan. Karena ya itu tadi, mikirnya kalau tinggal di luar negeri itu kudu enak gaya hidupnya dan segala macam. Padahal mah, di negara-negara Eropa, gaya hidupnya ya jelas beda atuh dengan di Jakarta hehehe.

Saya cukup heran dengan teman-teman di Indonesia yang sering bertanya kok tinggal di Eropa enggak punya mobil? Gajinya kecil banget, ya? Hehehe.

Banyak yang memandang Eropa sebatas tempat liburan. Padahal ada perbedaan menyolok antara berlibur dan bermukim :P.

 

Mengapa pemerintah kita tidak melihat peluang ini dengan baik? Di negara-negara berkembang, devisa dari pekerja di luar negeri biasanya menjadi pendapatan terbesar nomor dua setelah hasil tambang. Itu pun kalau negaranya seperti Indonesia yang sarat hasil bumi.

Makanya, jangan remehkan saudara-saudara TKW kita di Arab Saudi dan Malaysia, dua negara penyumbang remitansi tertinggi selama ini :).

Kesempatan untuk pekerja formal juga terbatas. Kenapa, ya? Kalau suami saya sendiri selalu getol nyari teman saban kerja di suatu tempat. Di Jeddah dulu, dia berani adu urat dengan bos-nya kalau bos-nya meragukan CV applicant asal Indonesia. Siapa pun dibelain lho ya sama suami saya, enggak kenal dekat sekali pun ;).

Alhamdulillah lumayan sukses. Si Bos di Jeddah itu saban ada lowongan suka nyolek suami, “Pssttt…ada stok dari Indonesia gak, nih?” Hihihihi :P.

Nah, di Irlandia juga gitu. Tapi belum ada yang beruntung :(. Faktor relasi memang penting banget untuk lowongan di posisi formal. Makanya, suami saya suka misuh-misuh, “Duh, India lagi, India lagi. Pakistan lagi, pakistan lagi” :(.

Saya ini saban dengar gosip ada engineer Indonesia yang lagi interview selalu diam-diam ikut berdoa, “Semoga lolos, semoga lolos. Semoga istrinya asyik, semoga bisa temenan. Kalau bisa jago masak. Amin, amin, ya rabbal aalamiin” Hihihi :P.

Saking ngebetnya, kalau yang apply enggak lolos saya yang marah-marah ke suami, “Abang sih, enggak diajarin pas interview. Ini pasti karena abang kurang promosi ke obos-obos.” Hahaha.

Jadi lo yang sewot, Neng? :P. Dikate suami itu agen penyalur PRT apa ya? :D.

Seringnya memang ekspektasi teman-teman suami itu uang, uang, uang :P. Semacam ada stereotip, “Ngapain kerja di luar negeri kalau gajinya kecil? Kalau hidupnya susah bla bla bla.”

Buat sebagian teman dan kerabat saya, hidup itu susah kalau enggak punya mobil hehehe :D.

Suka salah kaprah dengan omongan seperti, “Gajinya sih 2x lipat tapi biaya hidup juga 2x lipat. Sama juga bohong.”

Nah, bisa ngitung gak sih? :D.

Contoh iseng-iseng. Gaji di Jakarta 20 juta rupiah dengan biaya hidup 10 juta rupiah. Gaji di luar negeri 40 juta rupiah dengan biaya hidup 20 juta rupiah.” Sisanya banyakan yang mana hayooooooo :P.

Stereotip mahal di Eropa itu lebih karena tenaga kerja di sini dihargai lebih tinggi memang. Tenaga manusia mahal, bo :D. Makanya jangan harap bakal dapat embak atau supir atau tukang kebon segala macam hehehe.

Tapi yang lainnya sama saja kok. Harga kebutuhan pokok seperti makanan juga standar saja. Mungkin biaya sewa rumah saja yang tinggi.

Oiya tanggapan kerabat juga ada yang gini dulu, “Ah, ngapain ke luar negeri. Kerja di Jakarta sudah enak. Kayak orang susah saja mesti cari uang jauh-jauh ke luar negeri.”

Hehehe :D.

Untuk memperkenalkan si Macan Asia ini pada dunia . Untuk mengurangi kepadatan penduduk di tanah air. Untuk menyumbangkan devisa bagi perekonomian negara. Maka … beranikanlah diri untuk merantau.

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, ‘kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan”

(Imam Syafii)

Bukan untuk adu keren-kerenan dong, ah. Bukan karena kita tak menemukan apa yang diinginkan maka kita terus mencari. Bukaaaaaaan ^_^.

Pengalaman itu tak akan pernah terganti oleh uang. Bertemu berbagai macam orang, ragam budaya, berinteraksi dengan rupa-rupa manusia, perjuangan beradaptasi, adalah momen-momen yang sangat bisa mengubah persepsi kehidupan.

There are things that money can’t buy.

And because indeed … “Not all those who wander are lost (― J.R.R. Tolkien, The Fellowship of the Ring)” ).

kata anak rantau
Gambar : colourbox.com

***

 

Life Goes On Without You

“Ngapain sih ya pakai baju seksi-seksi, suaranya kan sudah bagus banget gini … ” Kata saya waktu menonton seorang penyanyi perempuan asal Indonesia yang memang terkenal dengan gelar diva-nya.

Sang penyanyi memakai gaun panjang tapi kepotong sampai bokong . Lengan panjang tapi bahunya bolong. Belahan dadanya … beuh! Bisa bikin keramaslah pokoknya, hahaha 😀.

Waktu itu saya duduk depan TV berdua dengan kakak laki-laki saya. Kebetulan si kakak yang ini kerjanya jadi fashion stylist dan menjadi salah satu ‘petinggi wardrobe’ di salah satu televisi swasta di Jakarta.

Kata kakak, “Aduuuh, saingan banyak kaleeee. Suara bagus ya harus diimbangi dengan penampilan, dong.”

“Penampilan yang seksi?”

“Ya, yang laku yang kayak gitu. Harus fashionable. Namanya dunia hiburan. Suara bagus doang mah banyak.”

Saya tetap berkeras, “She’s one the best. Kenapa harus takut?”

“Ya harus maintain penggemar, dong. Penyanyi itu satu paket dengan penampilan.”

“Namanya penyanyi, yang dijual ya suara dong!”

Eh, kakak saya pura-pura enggak dengar dan sibuk buka-buka tumpukan majalah fashion-nya. Hahahahha. Sudah tahu, ya, berdebat dengan adik kepo nan keras kepalanya ini nampak tak ada guna dipanjang-panjangin.

Semasa masih gadis dan bekerja saya mengontrak rumah berdua dengan kakak saya yang ini. Seru, ya. Yang satu tergila-gila dengan barang bermerek nan harga selangit, yang satu sibuk ngitung-ngitung harga saban jalan-jalan ke toko. Fashion nomor dua. Harganya dulu, ya, Ceu! *kekepinDompet*.

Saya, sih, tidak pernah masalah dengan perbedaan menyolok kami soal gini-ginian. Senang malah. Saya jadi tahu banyak teori fashion dari tumpukan majalah koleksinya. Walau awalnya pusing itu majalah isinya kok banyakan gambar daripada tulisan , tapi lama-lama jadi sering baca-baca. Hey, membaca tak berarti harus selalu setuju, kan? 😉

Kakak juga sering membagi cerita tentang dunia selebritis. Pekerjaannya sering bersentuhan dengan dunia mereka. Si Diva yang tadi misalnya. Di balik segepok kabar miring tentang kehidupan pribadinya, ternyata dia adalah pribadi yang sangat rendah hati dan ramah pada siapa saja 🙂.

Disiplin tinggi pada jadwal latihan untuk setiap performance. Tidak pilih-pilih dalam bergaul dan tak segan-segan menikmati nasi kotak bersama para kru ecek-ecek yang ikut mendukung pertunjukan-pertunjukannya.

Ah, beratnya jadi artis. Jauh lebih berat daripada sekadar *benerinPoni* di wall FB saban hari. Hahahhahaha *plaaaakkk!!*

Persaingan sangat ketat. Walau profesi utama penyanyi tapi harus ditunjang dengan macam-macam hal lainnya.

Penampilan misalnya. Sekadar modis saja tak cukup. Kudu jaga bodi, penampilan seksi-seksi, kalau bisa malah pas konser, pertunjukan pun harus didukung oleh penar-penari keren dan konsep panggung yang prima. Belum lagi harus unik dan beda daripada yang lain agar bisa memikat fans lebih banyak.

Padahal tahun-tahun dulu, penyanyi dunia sekelas Diana Ross kayaknya benar-benar ngandelin suara doang, ya. Barbra Streisand juga penampilannya jarang aneh-aneh di tahun 70-an. Belakangan muncul Madonna yang kayaknya lebih banyak jualan sensasi di luar dunia tarik suara.

Diana Ross & Jacko. gambar : thebiographychannel.co.uk

Dunia terus berubah. Makin lama requirement makin berat. Tak hanya di dunia menyanyi yang makin dibikin pusing oleh munculnya selebritis seperti Miley Cyrus misalnya. Caranya mendaki ke puncak ketenaran penuh kontroversi. Saya enggak doyan sih sama jenis musik seperti itu. Apalagi lihat video klipnya yang banyakan melet-melet lidah daripada nyanyi hihihihi. Sisanya you know lah ya 😀.

Mariah Carey juga berubah drastis sejak cerai dari Tommy Motola. Mungkin dia juga menyadari, sudah enggak ada tangan besi sang promotor yang bisa membantu mendongkrak hasil penjualan albumnya. I really love her voice and her songs. Mariah mengarang sendiri hampir semua lagu hitsnya. Termasuk lirik-liriknya yang sangat inspiratif itu 🙂.

Dulu, saya ingat Mariah menyanyi lagu “Without You” dengan baju hitam tertutup di depan mike seorang diri di atas panggung. Udah, gitu doang. Tapi gemuruh tepuk tangan terus berderai bahkan setelah lirik terakhir selesai dinyanyikan. Belakangan, mulai operasi ini itu, gedein ana anu, bajunya mulai ngirit bahan , dsb.

Mariah Carey ‘Masih Belum Aneh-Aneh’ Version 😀 (gambar: vimeo.com)

Menulis juga sama saja. Belum lama saya mengikuti diskusi mengenai keluhan seorang editor terhadap penjualan buku yang terus merosot. Padahal jumlah orang makin banyak hehehe. Well, teknologi terus berkembang.

Saya juga tahu kalau sebagian penerbit itu menuntut penulis untuk punya massa yang ‘bagus’ bahkan sebelum naskah diterima. Kudu punya fans duluan *ngelapKeringat*. Enggak semuanya, lho, ya. Tapi pengalaman pribadi, saya pernah iseng menawarkan outline kepada penerbit. Editor menjawab kalem, “Twittermu enggak terlalu aktif ya, Mbak? Followernya cuma 200 an.”

Tanpa perlu keterangan tambahan ya saya sudah mengerti maksudnya hehehe.

Lomba-lomba menulis online macam lomba blog pun mulai ada syarat harus banyak LIKE, harus banyak komentar, dsb, untuk menaikkan rating penilaian.

Well, idealisme pasti terancam habis-habisan. Tapi ya, itu tuntutan ‘pasar’ dan perubahan zaman yang mau tak mau harus diikuti .

What to do???

Ya tentu pilihan ada di tangan kita. Apa sih yang dicari? Kalau saya pribadi, walau tahu kalau ada cara untuk meraup follower palsu dengan cara cepat, ogah amat ngelakuinnya hehehe. Biarin ajah 😀. Sedikit-sedikit jadi bukit hihihi.

Lomba yang mengharuskan syarat LIKE atau jempol atau jumlah komentar langsung saya skip . Saya mah gengsinya tinggi hahaha. Jangan harap deh bakal ngemis jempol atau like hanya untuk lomba hehe.

Bukan berarti saya tak sudi memberi bantuan jempol pada teman yang meminta. Insya Allah, kalau diminta saya tak akan berpikir dua kali untk memberi . Bukan berarti juga saya menghina teman-teman yang senang berburu lomba yang mengandalkan jempol pemirsa ini, ya *senyumPalingManis*. Sungkemin dulu satu-satu. Simple. It’s just not me .

Tapi memang, kita itu harus kreatif membangun hubungan dan menempa personal brand kita.  I know, untuk membangun personal brand harus serius. Tapi saya percaya, tidak ada yang instan 🙂.

Dunia memang makin lama makin kejam huhuhu. Mungkin saking kejamnya, yang memaksa beberapa seleb untuk menempuh cara-cara gengges untuk mendaki cita-cita.

Seperti misalnya Kakak Agnes yang sebenarnya punya bakat fantastis . Saking sudah lamanya berjuang untuk go internesyel dan gak sukses-sukses, terpaksa kudu pakai pampers (hihihihi) dan celana sobek-sobek di video klip terbarunya yang akhirnya memang … go internesyenel, yak. Horeeeee ^_^.

Aduh, fansnya Kakak Agnes jangan marah, yaaaa. Sungkem lagi, sungkem lagi 😀.

Hm, ada banyak cara untuk mencapai ambisi. Teringat pepatah arab kuno satu ini, “Jika ingin terkenal kencingi air sumur zamzam.”

Tapi jangan sekali-sekali menyalahkan keadaan atau marah-marah pada lingkungan. Misalnya ada yang menuduh orang-orang Indonesia itu tidak cerdas dan tidak mau baca buku dan lebih memilih gadget-an. Hey, teknologi terus berkembang dong, ya. Mungkin mereka lebih senang baca e-book? .

Jangan gitu, yaaaa 😀.

Jangan pula kencingi sumur zam-zam nya. Walau cara itu mungkin lebih singkat dan mudah untuk membuat nama kita dikenang oleh dunia hihihihi . Gimana kalau kita bagi-bagikan air zam-zam paketan untuk orang-orang yang belum mampu ke tanah suci? Memang sih, belum tentu bakal terkenal dan mungkin butuh waktu untuk menarik perhatian orang lain.

Namun, tentunya kita harus terus menyesuaikan dengan perubahan 😀. Masa mau ngamuk-ngamuk di depan abege yang lagi asyik depan ponselnya, “Woooiii, baca buku dong! Henpon-an melulu. Kagak cerdas banget sih lo. Sana beli buku gue!” Hahahahhahaha.

Mungkin, sudah saatnya lebih serius menggarap pasar untuk e-book ;).

Tentunya dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip kebaikan dalam hidup. Macam paling suci saja kauuuuu hahahahaha . Enggaklah. Kita sama-sama belajar menaiki tangga impian dengan cara-cara yang mulia.

Time ask no questions, it goes on without you
Leaving you behind if you can’t stand the pace
The world keeps on spinning
You can’t stop it, if you try to
This time it’s danger staring you in the face

-Des’ree – You Gotta Be

Perubahan jangan dilawan. Stand the pace, my friends. Stand the pace 🙂.

Gambar : briantracy.com

***

Make That Change … YOU!

“Duh, supirnya suka ngetem. Ogah naik angkot. Mending nyetir sendiri,” respons seorang mahasiswi kece berambut panjang saat ditanya, mengapa enggan menggunakan fasilitas angkutan umum.

“Kan macet, Teh.”

“Biarin aja. Kan enak ada AC, bisa sambil dengerin lagu. Naik angkot juga macet.”

“Jadi?”

“Ya kalo enggak ngetem ya saya mah mau-mau aja. Lumayan hemat dan enggak telat nyampe kampus.”

Giliran supir angkot angkat bicara, “Ya harus ngetem atuh. Nyari penumpang. Kan ada setoran tiap hari.”

“Tapi kalau ngetem jadi lama, penumpang banyak yang protes.”

“La ya gimana? Penumpang sepi. Kalau banyak mah, langsung cusssss…”

Deadlock? 

Sama kayak Pemilu besok, nih, hehehe.

“Brengsek tuh anggota DPR. Halah, paling gitu-gitu lagi yang terpilih. Percumaaaaaa.. saya mah golput! Kalau anggota DPR sudah beres dan pemerintahan oke baru saya enggak golput.” Begitu rata-rata keluhan para pemilih yang memutuskan untuk golput.

Keluhan lain, “Lihat saja tuh calegnya. Ada yang modal bohay doang. Ada yang artis enggak jelas. Yang bener aja dong!”

Menarik, ya . Tapi lebih menarik saat menyaksikan tanggapan salah satu perwakilan partai di salah satu episode “Mata Najwa”. Najwa bertanya, apakah kualitas penting bagi pemilihan para caleg.

Perwakilan partai tersebut menjawab dengan jujur saya rasa hehehe, “Inginnya sih begitu. Tapi gimana ya, seringnya kualitas juga tidak menentukan keberhasilan. Justru yang terpilih adalah mereka yang dianggap kurang berkualitas. Buktinya, masyarakat tak peduli pada kualitas.”

Tentu saja jawaban perwakilan partai ini dibantah ramai-ramai oleh perwakilan partai lain yang tetap ngotot bahwa kualitas adahal hal utama dalam pemilihan caleg. Nanti dulu. Begitu dicek di kertas suara? Eng ing eng … hehehe. Tak cuma artis, ada juga caleg yang ternyata pernah/masih sedang mengikuti persidangan di pengadilan yang lolos menjadi caleg!

Partai pun sebenarnya ingin menyodorkan calon-calon yang mumpuni. Tapi hey, politik itu mahal. Idealisme mereka akan dibayar oleh kekalahan Menurut parpol sih gitu.

Dengan kata lain, partai menuduh pemilih masih banyak yang tidak cerdas. Dan pemilih menuduh partai yang menawarkan caleg asal-asalan. Partai mau ‘insaf’ kalau hasil pileg ternyata memang memenangkan ‘kualitas calon’. Sementara pemilih menuntut, pemenang calegnya ya mesti harus membuktikan kebersihan diri dulu.

Ayam dulu apa telor dulu? Hahahaha. Deadlock 😛.

***

Soal angkot saya paham. Maklum, mantan anak ‘pasar’ mendadak tinggal di lingkungan ‘gedongan’ hihihihi. Memang bingung. Kebetulan saja saya tidak bisa menyetir dan sayang ngeluarin duit buat naik taksi kalau hanya untuk ke mal yang jaraknya cuma 200 m dari jalanan depan rumah hehe. Antara kikir dan idealis memang beda tipis .

Saya tak pernah gengsi, ah, naik angkot. Siapa gue emang? Dari lahir sampai remaja rumah saya dekat dari pusat pangkalan angkot di Kota Makassar, kok . Hidup macam roda pedati ya, Kakaaaa. Walau sekarang sanggup naik Ferrari *plaaaakkk* (Ferrari hotwheels sih banyak tuh punya anak-anak hihihihi), tak perlu ada yang berubah . Harus siap-siap, mana tahu suatu hari kudu jadi anak ‘pasar’ lagi, tak pernah grogi kalau HARUS ngangkot lagi karena tak ada pilihan lain.

Walau saya akui, saya tengsin sembari nunggu angkot yang ngetem di pertigaan UNAS, saya sering disapa tetangga yang mau masuk ke kompleks sambil nyetir mobil sendiri, “Nunggu taksi, Mbak Jihan?”

Saya selalu bilang iya hahahaha. Sampai akhirnya pernah pas lagi berhentiin angkot, tetangga yang sama lewat lagi dengan mobilnya. Siyaaaall, hahahahaha.

Angkot memang pelik. Apalagi yang wara wiri di daerah yang mayoritas orang berpunya. Sepi penumpang . Untung masih ada kampus, jadi ada saja mahasiswa yang perlu angkot. Mereka ngetem di situ berlama-lama.

Belum lagi macetnya ruas jalan menuju mal itu. Mobil pribadi berjejalan dengan angkot. Angkot tak bisa dihapus karena sedihnya, di antara jejeran rumah-rumah bagus itu masih terselip juga pemukiman menengah ke bawah. Ah, ah, ah, Indonesiaku .

Kalau angkot dieliminasi, kudu subsidi mobil pribadi dong ke mereka? hehehe.

Masalah Pemilu pun begitu. Ruwet.

Enggak sadar, dalam kehidupan sehari-hari kita juga kayak gitu. Saya nih, ya, sempat kesulitan bergaul pas nyampe Jeddah dulu . Saya sibuuuuuk saja nunjuk sana sini. Si ini begini, si anu terlalu begitu, si ana ini itu. Pokoknya orang lain deh yang salah, saya mah paling suci dan pasti benar *benerinPoni*.

‘A slap in my face’ (dalam tanda kutip) datang dari suami. Ingat, tanda kutip! Hahahhaha.

“Lo dong yang berubah! Nyinyir lo dikurangin. Main sana sama mereka. Ngumpet di apartemen melulu. Sana, ikut jalan-jalan. Marah-marah melulu.”

“Mereka dulu dong yang harusnya sadar diri.”

“Lah, aneh. Terus elo ngapain?”

Langsung ngaca sambil tersipu malu. Eh beneran, saat pelan-pelan mendekat ke mereka, menimbun sedikit demi sedikit rasa egois … Masha Allah, teman-teman terbaikku tak sedikit yang datang saat masa-masa itu 🙂.

Apa mereka berubah? Sekilas rasanya begitu. Tapi kalau dirunut-runut, saya yang akhirnya memilih untuk mendekat. Mencoba memahami dari sudut pandang mereka. Saya yang palling malas tawaf di mal atau di pasar , sekali-sekali ikut tur bareng para madam. Eh, enak juga, ya .

Walau kantong belanjaan saya biasanya kosong hihihihi, tapi hati saya selalu full-tank dengan obrolan kami di taksi dan serunya melihat emak-emak berburu barang diskon hahaha. It’s totally fun. Kemane aje gue *toyorKepalaSendiri*.

Jadi belajar tips-tips masak dari mereka. Sampai sekarang, kalau panik di dapur, macam kemarin bikin bakso ayam kok lengket enggak ilang-ilang, ke grup WA ku langsung mengadu! Hahahahaha. Dasar dodol. Bikin bakso ya emang lengket kaleeeee *ngakakBodoh*.

Sama kayak Pemilu, teman-temanku . “Ah, saya sudah capek-capek ke TPS, panas-panas mengantre, hasilnya ya podo wae…”

Sementara partai juga gitu, “Apaan, tempo hari sudah dikasih caleg-caleg bagus, yang menang ternyata yang banyak duitnya atau yang terkenal.” â€Ș#‎Eh‬ .

Kita memang suka kayak gitu. Meributkan hal-hal yang berada di luar jangkauan kita. Sifat orang ya mana bisa kita ubah. Respons mereka terhadap sikap kita itu bukan urusan kita. Tak ada jaminan kalau sifat kita bagai malaikat, bahaya selamanya tak akan menghampiri 😉.

Kita kan bukan Tuhan yang bisa memprediksi semua hasil tindakan kita. Pegangannya apa? Ya prinsip-prinsip universal pastinya . Keikhlasan, kejujuran, kerja keras, kepercayaan diri, kesabaran, tanggung jawab dan sebagainya. Jadi, bukan pada partai apalagi orang, dong, ya 😉.

Daripada mencak-mencak membuat daftar hitam kebusukan partai politik, yang pasti hasilnya berlembar-lembar , ask your self … apa yang bisa kita sendiri lakukan untuk perubahan yang diinginkan? 🙂

Lebih lucu lagi, menolak demokrasi, tapi tidak tahu model sistem mana yang cocok. Ditanya tentang khilafah misalnya. Bingung sendiri dan ujung-ujungnya, “Balik kepada alquran.” Ditanya ayat berapa, malah marah-marah dituduh kita kurang paham agama. Hehehe 😛.

Be the change you wish to see in the world  -Gandhi-

Gambar : marketingforhippies.com
“I’m starting with a man in the mirror!” Gambar : marketingforhippies.com

 

 

It’s you, not them. Jangan dikira kebaikan kita yang tidak berbuah manis di masa depan akan sia-sia. Dunia masih akan diikuti oleh akhirat, toh . Parpol-parpol culas itu akan dapat balasannya sendiri-sendiri. Tanggung jawab kita untuk tidak mendiamkan hal-hal seperti itu PASTI akan berbuah manis. PASTI . Asal ukurannya tidak mentok di hal-hal duniawi saja .

God never requires us to succeed, He only requires that we try  -Bunda Theresa-

Fokus pada apa yang BISA kita lakukan. BUKAN pada apa yang AKAN mereka lakukan .

Berharap SELALU pada Tuhan saja. Kata Cak Nun, berdoa banyak-banyak, coblos dan pasrahkan . Kalau bisa kita kritik di kemudian hari, kita kritik pastinya. Tapi janganlah keburukan mereka membuat kita kapok. Mereka enggak rugi, eh kita yang rugi sendiri .

Remember, it’s you, not them! Pemilu besok, jangan golput!

Roma tidak dibangun dalam semalam. Perubahan tak akan datang seketika. Bear with us.

Make that change…YOU! 

***