Waktu membaca salah satu buku biografi tentang “Theodore Roosevelt”, tulisan pengantar buku menekankan soal leadership.
Nah, saya lupa-lupa ingat. Novel apa yang disebut oleh penulis pengantar di paragraf-paragraf awal. Duh, harusnya habis baca buku harus langsung bikin resensi ya huhuhu .
Kalau tak salah novel yang disebut adalah War and Peace (Leo Tolstoy). Konon, di novel ini (kalau memang benar ini yang dimaksud hihihi) dikatakan bahwa rangkaian kejadian penting dalam sejarah peradaban manusia tak ada hubungannya dengan manusia yang berperan di dalamnya. Disebut-sebut soal Napoleon salah satunya. Penulis novel menolak anggapan bahwa pelaku utama dalam kejadian tertentu memiliki pengaruh penting.
Napoleon, gambar : en.wikipedia.org
Menurut si penulis novel semuanya murni takdir Tuhan, tak penting siapa yang berbuat hasilnya akan sama. Sementara menurut penulis pengantar buku biografi yang saya baca ini, itu adalah anggapan yang kurang tepat .
Tak semua orang dianugerahi keberanian untuk mengubah . Tak semua orang punya nyali untuk memperjuangkan apa yang diketahuinya dengan pasti adalah sebuah kebenaran. Itulah kapasitas dari seorang leader. Seorang manusia ini pastilah seseorang yang spesial. Dari tangan-tangan merekalah sejarah akan tercipta.
Saya juga percayanya begitu hehehe. Bukannya hendak menghalau takdir Tuhan, tapi manusia diciptakan dengan pilihan-pilihan dan kehendak bebas . Tak semua dari kita dibuat sanggup mengalahkan ketakutan dan berdiri gagah menyatukan kata hati dan perbuatan di garis paling depan.
Sebagai contoh dalam pengantar buku itu disebut-sebut soal Winston Churchill. Siapa yang tahu apa yang terjadi pada Perang Dunia II ketika beberapa tahun sebelum kejadian itu, Churchill yang tengah menyeberang jalan menghembuskan napas terakhir saat ditabrak sebuah mobil?
Winston Churchill, gambar : amac.us
Seberapa banyak orang Amerika Serikat yang tahu bahwa perbudakan adalah hal yang tidak benar tapi adalah seorang Abraham Lincoln yang benar-benar memperjuangkan amandemen walau jalan pahit menghadang di hadapan … Perang Sipil bertahun-tahun! Pertarungan antara Union vs Konfederasi menuliskan sejarah penting di akhir abad ke-19 untuk Sang Negeri Jantung Dunia ini.
Leadership, adalah salah satu dari sekian banyak hal terpuji nan terhormat yang tidak begitu saja terprogram otomatis dalam sanubari setiap kita .
It’s a big thing to kill your fear, shut off your worries, and turn your back on the crowd
– a saying-
Demikian pula sejarah Indonesia yang pernah mencatatkan satu nama sebagai salah satu pencetak sejarah kemerdekaan bangsa besar ini . Bung Karno.
Dalam perjalanan sejarah, tak mungkin menemukan sosok sempurna. Termasuk Bung Karno. Sedari muda menantang hal-hal besar, masa-masa awal perjuangannya nyaris tanpa cela. Hingga akhirnya memerintah dengan berbagai macam kontroversi dan mengakhiri hidupnya dengan kisah ‘mengenaskan’. Menghembuskan nafas terakhir dalam sunyi, penderitaan terbesarnya adalah dijauhkan dari mereka yang selalu diperjuangkannya sepenuh hati.
Kenyataannya, mana ada manusia yang sempurna . Bahkan untuk nama-nama besar yang sudah menjadi inspirasi bagi hampir seluruh umat manusia.
Apakah Truman telah melakukan kejahatan sosial saat memutuskan menjatuhkan 2 bom mematikan di Nagasaki dan Hiroshima? Tapi apakah jika tak dilakukan, Jepang akan menyerah dengan mudah begitu saja dan mengakhiri Perang Dunia ke-2 di tahun 1945 itu?
Apakah Lincoln adalah pejuang kemanusiaan saat mencoba meletakkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika Serikat? Dengan pengorbanan ratusan ribu jiwa saat menghadapi perlawanan Konfederasi yang pro perbudakan di wilayah selatan?
Abraham Lincoln, gambar : en.wikipedia.org
Apakah Saddam Hussein adalah diktator keji yang menginvasi Kuwait sementara di negerinya Saddam adalah kebanggaan dan kecintaan warganya?
Termasuk Bung Karno. Keinginannya untuk membujuk pendudukan Jepang untuk menghadiahkan kemerdekaan membuatnya berorasi dengan menyala-nyala di hadapan para pemuda Indonesia. Membuat dada kaum muda berdentum-dentum dan serentak mengikuti permintaannya untuk bergabung bersama Romusha. Sebagian besar mereka tak pernah kembali lagi.
Perdebatan moral yang tak akan ada habisnya 🙂.
Makanya, mengapa kita tak pernah dianjurkan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Dan mengapa alquran menegaskan bahwa sebagian prasangka adalah dosa.
Kenang yang baik, jadikan pelajaran hal-hal yang dianggap buruk. Pelajaran yee, bukan dijadikan berita hoax untuk menyerang orang lain dan malah membuat kita terjebak dalam pembunuhan karakter kepada pribadi-pribadi hebat yang seharusnya bisa kita jadikan panutan dalam hal-hal yang lain 🙂. Termasuk 2 anak bangsa terbaik yang pernah dipersembahkan tanah air kepada perjalanan bangsa kita di abad terkini, Prabowo dan Jokowi .
Dua anak negeri yang tengah mempertaruhkan apa pun yang mereka bisa untuk berbuat lebih setelah sekian lama menabur mimpi-mimpi besar dan harapan untuk kita semua.
“Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”
Asap tebal membubung tinggi. Kilat-kilat api sesekali terlihat. Jam 3 dinihari, suasana yang biasanya sunyi karena ditinggal lelap oleh hampir semua penghuninya, mendadak hiruk pikuk.
Orang-orang berteriak di jalan. Pedagang-pedagang mendadak terjaga.
Berlomba dengan suara sirine mobil pemadam kebakaran, semua pedagang bergegas pergi. Tentu berharap menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dibawa pergi. Termasuk almarhum bapak yang sudah melesat dengan Vespa hijau tuanya sebelum saya dan seluruh saudara saya terbangun karena kegaduhan di seputar rumah.
Saya tidak begitu ingat kakak-kakak saya pada ngapain, ya, waktu itu. Yang jelas saya dan adik perempuan saya memanjat di teras di lantai 3. Kami sama sekali tidak risau. Bahkan kegirangan melihat situasi saat itu. Curiosly watching, full of excitement. Namanya anak-anak, gampang senang kalau lihat situasi ramai 😀.
Orang-orang berlarian dengan heboh. Serba sibuk. Termasuk daeng-daeng becak yang mendadak menjadi rebutan subuh-subuh.
Rumah saya di Jalan Pajennekang waktu itu jaraknya mungkin hanya 100 m dari Pasar Sentral Makassar. Pemukiman menengah ke bawah. Rumahnya cukup padat. Suasananya ya tidak terlalu terawat gitu, deh. Bilang kumuh aja kaleeee biar lebih singkat. Hahaha *gengsiAtuh* –> *benerinPoni*.
Entah apa yang ada dalam pikiran bapak, ya, waktu itu. Tentu saja, kebakaran akan membuat para pedagang tak bisa berjualan minimal selama beberapa hari. Sumber penghasilan ya dari pasar saja. Ibu membantu dengan menjahit gorden tapi kan transaksinya juga di pasar, pelanggannya ya sesama pedagang di pasar yang sama.
Jangan dikata yang dijual seprei-seprei sekelas yang dijual di King Koil, yak . Kalau tak salah, sebagian besar dijual di harga 5-20 ribu rupiah saja per potong.
Kelambunya bukan model kelambu jepang yang keren kayak kemah mini itu. Bukaaaaaan. Hahaha. Kelambunya hanya kain biasa yang tidak punya tiang penyangga sama sekali. Sesuai harganya yang hanya berkisar dari 10 ribu hingga 30 ribu rupiah.
Baunya itu lho boooo. Hihihi. Masih inget saya peningnya kepala kalau rumah di penuhi kain kelambu yang baunya menyengat itu.
Kelambu tempo dulu (gambar : blueriders.blogspot.com)
***
Beredar rumor pasar sengaja dibakar. Ini bukan kehebohan pertama kalinya. Sudah beberapa kali ada kebakaran. Tapi kecil-kecilan. Kali ini, api melalap hampir seluruh lantai 1.
Siapa yang tega membakar pasar?
Jadi begini, gosipnya sih, Pemda sudah beberapa kali berinisiatif membongkar bangunan pasar. Secara memang sudah mengenaskan dan joroknya minta ampun. Duh, paling ogah deh kalau disuruh mampir ke kios. Hihihi.
Kalau terpaksa ke kios, melihat saya jutek, ibu biasanya membujuk, “Kita makan pisang ijo nanti. Ato mau ko ikan bakarnya Daeng Salaji? Ato kita pi makan Sop Saudara di lantai 2. Ko suka to nasi campurnya?””
Makanannya sih enak, lalat dan bau tempatnya yang enggak tahan huhuhu. Belagu amat sih ini anak penjual seprei hahaha *nyengirTuanPuteri* 😀.
Tapi para pedagang ogah pindah ke penampungan. Pemda juga tidak pernah benar-benar jelas mengatur soal penampungan ini. Alasan klasik dari para pedagang, takut pelanggan pada lari.
Mungkin cara cepat untuk mengatasi kebawelan para pedagang-pedagang kecil tersebut ya dengan satu cara ampuh yang cukup mudah, bakar saja gedungnya! :'(
Mana ada cerita Bapak Walikota datang berkunjung dan bersilaturahmi. Ada juga preman-preman pasar wara wiri menebar ketakutan dan rumor-rumor.
Bapak saya itu termasuk pedagang eceran. Bukan grosiran. Sementara pedagang grosir biasanya adalah mereka dengan modal yang besar. Menjual grosiran ya pasti jatuhnya murah, kan? Dengan uang banyak, pedagang grosiran bisa ‘main mata’ agar bisa mendapatkan lokasi kios yang strategis.
Sementara yang modalnya pas-pasan seperti umumnya pedagang eceran ya harus banyak-banyak berdoa saja 😀.
Gedung baru tidak hanya mengganggu zona nyaman para pedagang kecil. Tapi ya namanya gedung baru yang rencananya dibangun secara modern itu pasti ongkos sewanya juga ‘baru’ alias mihil.
Pedagang eceran seperti bapak dan teman-temannya ya pasti khawatir bila pelanggan yang mungkin ‘bingung’ dengan kondisi pasar baru nanti akan mudah terjaring oleh pedagang grosiran. Pedagang grosir juga banyak yang ‘bandel’, dengan modal kuat, mereka berani menjual barang satuan dengan harga grosir.
Kalau sudah terbakar, ya enggak pakai banyak cing cong. Bapak dan teman-temannya ya cuma bisa bersyukur barang selamat semua dan mau tak mau terpaksa setuju kalau pasar direnovasi . Voila! Gampang kan 😀. Bakar saja pasarnya!
Logikanya ya masalah komunikasi saja, ya. Saya rasa bapak pun senang kok kalau pasar direnovasi. Saya ingat, bapak itu memamerkan denah pasar yang baru pada kami dengan bangga. Katanya nanti pasarnya bagus dan modern. Ada tangga jalan segala!
Padahal sebelum-sebelumnya suka mengeluh agak takut kalau diusir dari pasar lama untuk proses renovasi.
Yang dibutuhkan oleh pedagang kecil macam bapak saya ya adanya kepastian dan jaminan 🙂. Mereka hanya ingin didengarkan. Hanya ingin dimengerti apa sebenarnya kekhawatiran dan concern mereka bukan hanya dianggap keras kepala dan tidak peduli dengan rencana jangka panjang penataan kota.
Mereka berdagang kan bukan hanya sekadar hobi atau lucu-lucuan untuk mengisi waktu luang. Ya buat ngasih makan anak-anaknya. Anak 7 boooo hehehe. Berapa sih untungnya tiap hari? Untung per potong kelambu paling banter 5 ribu rupiah.
Pasar itu buka 7 hari dalam seminggu. Enggak ada liburnya. Hari minggu pun, pagi-pagi bapak sudah melesat pergi untuk mencari rezeki. Saingan banyak.
Makanya, saya suka sakit hati kalau dulu ada kenalan yang ngomel-ngomel karena supirnya tahu-tahu minta berhenti karena mau cari tempat kerja dengan gaji lebih besar. Supir mengaku, anaknya ada 3. Eh kenalan saya malah mengumpat, “Dasar gak punya otak. Sudah tahu miskin, punya anak banyak pula! Gitu deh kalau kurang berpendidikan.”
Puk-puk almarhum bapak dan mama *pelukSatuSatu*.
Kalau kata suami teman saya di Jeddah dulu saat kami jenguk di kelahiran anaknya yang ke-4, “Tuhan itu punya kalkulator sendiri. Ya kalau kita pakai kalkulator kita sebagai manusia biasa untuk memahami hitung-hitungan Tuhan ya enggak akan pernah cocok.”
Kadang, logika manusia ya jangan dipakai untuk memahami aturan Tuhan. Ketetapannya ya begitu, jangan membunuh anakmu hanya karena kamu takut mereka miskin. Akulah yang akan memberi rezeki 🙂.
Kok bahas ginian, soalnya saya tahu sebagian besar teman bapak itu kondisinya ya gitu. Anak segambreng dengan mata pencaharian hanya sebagai pedagang di pasar sentral . Hahahaha. Takutnya ada yang suka menyerang dan menuduh itu salah para pedagang kecil sendiri . Saya percayanya sama Tuhan saja. Rezeki dari Allah, orang tua cuma salah satu perantara 😉.
Singkat cerita, pedagang dialokasikan ke tempat penampungan. Namanya darurat, tempatnya jelek banget . Sembari bangunan baru diselesaikan, disitulah para pedagang berdesakan berbulan-bulan tetap berusaha mencari rezeki.
Bangunan baru pun jadi. Benar kata Bapak, ada tangga jalannya! Hahahaha. Sayang sekali, sebelum pasar rampung 100% dan siap digunakan, serangan jantung membawa beliau pergi untuk selama-lamanya. 5 menit doang di ruang emergency.
Sekitar bulan Juni 1992, pasar baru siap beroperasi.
Seperti yang bisa diduga, pedagang grosir dengan modal kuat menguasai semua pos strategis. Almarhum bapak kebagian tempat di belakang. Padahal beliau sudah sempat senang karena tepat di depan kios ada tangga jalan. Tangga jalannya akhirnya mati sendiri karena jarang dilewatin orang 🙁.
No wonder, cuma bertahan 3 tahun, mama yang memang tak terlalu punya bakat berdagang terpaksa menjual kios. Bangkrut ceritanya hehehe. Disusul dengan jual-jual yang lain-lainnya juga 😀.
But look at us now, like I’ve said before. Hidup seperti roda pedati. Kadang di atas kadang di bawah. Rezeki datangnya PASTI dari Allah . Anak penjual seprei kemaren abis jalan-jalan dari London tuh hahaha 😛.
***
Berbekal pengalaman pribadi itulah, saya benar-benar tersihir saat membaca artikel berjudul “Joko Widodo, Walikota Surakarta, Wali Kaki Lima” di Majalah Tempo tahun 2008 silam. Topiknya saat itu kalau gak salah tentang 10 pemimpin daerah berprestasi. Masih ada 9 nama lain selain Jokowi. Tapi yang melotok dalam pikiran ya si walikota kurus kering satu ini hihihi.
Terharu sekali membaca caranya memindahkan pedagang-pedagang dari lokasi tertentu. Diajak makan siang! Mimpi apa tuh pedagang-pedagang kecil diajak lunchdate sama Pak Walikota hehehe. Biasanya kalau pasar mau ‘diapa-apain’ yang datang ya petugas satpol atau preman untuk menebar ketakutan minimal.
Padahal kan si walkot gak usah capek-capek. Bakar saja pasarnya! Mau gak mau, suka gak suka, pasti pedagang pindah sendiri. Mereka ngomel juga paling cuma sebentar. Seperti almarhum bapak yang tadinya dongkol tapi lama-lama ya cuma pasrah dan seorang diri saja berusaha membangkitkan harapan untuk peruntungan di bangunan baru nanti. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan memberi termpat terbaik untuk salah satu pencari nafkah terhebat yang pernah saya kenal ini 🙂.
Ingat betul saya diceritakan di artikelnya, acara pemindahan pasar alih-alih penuh gontokan dan amarah, malah menjadi seperti festival seni ^_^. Para pedagang bikin arak-arakan dan diiringi tarian dan lain-lain saat berjalan bersama menuju lokasi pasar yang baru :).
Makanya, tahun 2012 tahu ada Jokowi di Pilkada DKI, enggak pikir panjang langsung memberikan dukungan penuh! . 4 tahun berlalu, enggak lupa saya sama beliau 🙂. Malah makin bangga begitu tahu, di tahun 2010, periode ke-2 kepemimpinannya, Jokowi memperoleh sekitar 90% perolehan suara 😉.
Kala itu, saat hater dan lover belum tercipta. Agar kita tidak lupa karena apa dulu beliau bisa begitu cepat merebut simpati banyak orang 😉.
Tempo hari saya membaca komentar di wall orang di FB, katanya kita akan cenderung memilih pemimpin yang sama dengan kita hehehe. Itu dia, mungkin saya cenderung pilih Jokowi ya karena saya rasa beliau mewakili hal-hal yang selalu saya inginkan dari seorang pemimpin. Kesederhanaan dan pengertian 🙂.
Biarlah dibilang pencitraan. Untuk saya pribadi, sepakat dengan si Adian Napitupulu, “Itu bukan pencitraan. Itu adalah keberpihakan” 🙂.
Gebrakannya dalam menghadapi ‘orang-orang kecil’ membuat saya ingin mengutip quote yang ini : “…Treat people with understanding when you can, and fake it when you can’t until you do understand.”
― Kim Harrison
Tentu manusia tak ada sempurna. Pastilah ada lemahnya ini si Pak Jokowi hehe.
Tapi kita kan berharapnya bukan pada orang per orang. Tapi pada kebaikan-kebaikan dan nilai-nilai baik yang ada pada Jokowi. Berharapnya ya sama Tuhan saja, dong. Harga mati itu ^_^.
Semoga Jokowi sanggup terus mempertahankan keberpihakannnya pada masyarakat kecil yang masih mendominasi di seluruh Indonesia. Pekerjaan berat memang. Teramat berat. Tapi manusia bisa bertahan itu salah satunya karena harapan, kan? . Harapan agar Allah SWT senantiasa menjaga orang-orang baik dan melindunginya selalu.
“Sir, when a man is tired of London, he is tired of life; for there is in London all that life can afford.”
― Samuel Johnson
Quotenya muncul di salah satu buku traveling yang saya pinjam dari perpustakaan untuk nyari bocoran buat bikin itinerary for my short trip to London :p.
Sebagai penggemar Enyd Blyton dari kecil, siapa pula yang tak memasukkan London sebagai salah satu kota impian? Alhamdulillah akhirnya kesampaian.
Walau hati teriris-iris mengingat harga visa Inggris yang ternyata menempati porsi pengeluaran terbesar dalam acara jalan-jalan ini huhuhu :(.
Untung saja, untuk terbang dari Dublin untuk jalan-jalan London, jaraknya singkat sekali dan tiketnya super murmer ^_^. Viva Ryan Air :D.
Tahun 2011 lalu, MamaSejagat kedatangan kontributor London, si Rizka. Duh, mesti tabah saat mengedit tulisan-tulisan kirimannya si Mama Rizka hehehe. Sambil ‘sirik’ sambil ngebatin, “Ya Allah, semoga bisa nengokin London suatu hari nanti. Amin, amin, amin.”
Ealah, siapa sangka rezeki selanjutnya ternyata nyantol di Irlandia, yang ternyata hanya berjarak sekitar satu jam-an naik pesawat ke London.
Mungkin karena datang dari Irlandia, saya merasa biasa-biasa saja sama taman-taman di London yang keren-keren itu.
Tapi terpesona habis-habisan dengan museum-museum kece yang melimpah ruah. Gratis pula! –> ini yang sebenarnya yang bikin takjub kaliiiiii hahaha 😛.
London, konon tak pernah sepi dari pengunjung. Salut dengan pemkotnya yang begitu lihai membuat propaganda pariwisata dari hal-hal yang sebenarnya biasa banget ya menurut saya menjadi tontonan yang dinanti-nanti. Changing Guard di Buckingham Palace misalnya.
Sumpah ya booo, acara Parade Senja bulanan di Istana Negara setiap tanggal 17 itu jauh lebih meriah dan menarik.
Changing Guard malah ritual harian, lho kecuali di beberapa hari tertentu diliburkan.
Walau begitu, saya tetap terpikat luar biasa sama yang namanya Museum Natural of History. Tempat yang sudah sukses bikin anak-anak saya menjerit-jerit karena melihat aneka rupa fosil dinosaurus itu! Hahahahaha 😀.
Tempatnya sendiri luas banget-banget-banget. Untuk menuntaskannya, seharian penuh pun belum tentu cukup. Bangunannya besar dan megah.
Kami pilih-pilih saja area yang dirasa disukai oleh anak-anak. Waktu kan terbatas ya, sementara yang mau dikunjungin banyak bener hihihihi –> gak mau rugi 😀.
Museum ini merupakan salah satu daya tarik utama pengunjung mancanegara maupun lokal. Gratis, lho 😉.
Tidak cuma itu, National Gallery yang berada di salah satu sisi Trafalgar Square juga luar biasa ciamiknya. Trafalgar Squarenya malah enggak penting-penting amat menurut saya. Tapi demi eksistensi, tentu saja kudu mampir bentar untuk selfie :D.
Trafalgar Square, foto : Dani Rosyadi
Enggak nyangka, saya yang enggak pernah tertarik pada lukisan bisa betah banget di National Gallery . Mungkin karena lukisan-lukisan di sana penuh ‘drama’ semua hahahaha #heyDramaQueen.
Kisah-kisah dari alkitab yang dituangkan ke dalam kanvas. Baru sadar, betapa miripnya kisah nabi-nabi versi Islam dan Nasrani . Bahkan, kisah Siti Hajar dan Ismail di sumur zam-zam juga bisa dibilang persis dengan versi Hagar dan Ishmael 🙂.
Kisah Moses/Musa yang diikuti oleh kakak perempuannya kala dihanyutkan ke sungai juga ada dalam alkitab . Pertentangan utama antara Islam vs Nasrani mungkin ada pada surah Al Ikhlas ya hehehe.
Tower of London mungkin yang paling bagus diantara semuanya.
Tapi kisah paling inspiratif itu ada di Museum of London yang terletak tak jauh dari London Wall ini.
Sebenarnya sudah sering membaca sejarah-sejarah UK dan Eropa di abad pertengahan kala mereka lagi ‘hancur-hancur’nya. Tapi baru tahu soal kebakaran di London yang berlangsung selama berhari-hari di bulan September 1666 silam.
Sekitar 5 hari, Kota London dikurung kobaran api yang mungkin melumpuhkan dua pertiga dari wilayah kota. Banyak penduduk yang lari.
Raja sampai menjanjikan upah yang besar bagi mereka yang bersedia tinggal dan berjuang memadamkan titik-titik api yang sudah menjilati hampir semua wilayah kota saat itu.
Ilustrasinya dalam bentuk short movie bernarasi penuh drama. Duh, nontonnya ngeri-ngeri sedap. Apalagi pas nonton video Black Death.
London Bus, foto : Dani Rosyadi
Duh, ini aktivis anti vaksin kudu nonton dan mempelajari sejarah Black Death yang pernah membuat Eropa kehilangan sekitar lebih dari sepertiga penduduknya. Eropa lho ya bukan UK doang.
Black Death adalah sebuah periode dimana penyakit menular nan mematikan menghantui sekujur wilayah Eropa. Penyakit-penyakit ini tak hanya datang saat periode Black Death saja. Di abad-abad setelahnya, penyakit-penyakit seperti campak dan cacar datang kembali menggerogoti penduduk negeri.
Makanya, vaksinasi itu bukan konspirasi kali ah hehehehe. Di Eropa, vaksinasi wajib, jib, jib. Enggak cuma wajib tapi juga gratis dari pemerintah 😉. Saking traumanya kali ya jika penyakit menular ini ‘bangkit’ dan kembali mewabah ke mana-mana 🙁.
Penyakit menular, kebakaran hebat, raja-raja yang korup, pertentangan agama yang penuh pertumpahan darah antara Protestan dan Katolik silih berganti mewarnai masa lalu Negeri Kerajaan paling tersohor ini 🙂.
Tower Bridge, London (foto : Dani Rosyadi)
Tapi lihatlah London kini 😀. Memandang tegaknya Big Ben yang berdiri kokoh di puncak House of Parliament dari tepian Sungai Thames, landmark kota di seberangnya (London Eye), lalu jalan-jalan ke Wesminster Abbey, kita langsung sepakat betapa asoy geboynya Kota London sekarang.
Walau gitu, London bukan kota yang ramah sama stroller/buggy huhuhu. Banyak sekali tempat-tempat umum yang tidak menyediakan lift atau escalator. Adanya tangga doang! Bahkan stasiun-stasiunnya juga gitu cobak . Tangga di mana-mana.
Bayangin itu waktu jalan-jalan London pegelnya tangan ngangkat-ngangkat stroller. Apalagi kalau penghuninya lagi tidur huhuhuhu.
Cuaca saat jalan-jalan London juga perlu diperhitungkan. Cuaca di UK mirip dengan Irlandia. Moody abis hehehehe. Hujan datang tidak memandang musim. Musim semi dan musim panas pun, hujan cukup rajin menyapa.
Intinya, jangan mau kalah sama London hehehe. They may say, London Bridge is falling down, falling down, falling down! But it’s not!
Katanya sih ya, kita enggak boleh gentar sama cobaan. Kan ada tuh ungkapan terkenalnya, what doesn’t kill us, makes us stronger.
“We all make mistakes, have struggles, and even regret things in our past. But you are not your mistakes, you are not your struggles, and you are here NOW with the power to shape your day and your future.”
― Steve Maraboli
Jujur saja, saya paling malas membaca buku-buku parenting yang menyarankan kita untuk ini itu. Awalnya memang rajin.
Kalau teori bisa mumet sendiri dan pasti selalu terpikir, “O ya ampun, ibu macam apa gue?” atau “Hastaga, jadi selama ini gue ini bukan ibu yang baik…” dan seterusnya, dan seterusnya. Maklum ya, kadang nafsu besar, idealisme membuncah, apa daya ‘kemampuan’ terbatas .
Waktu hamil memang rajin membaca teori-teori kehamilan tapi jadinya putus asa karena sudah menuruti instruksi hamil mudanya tetap parah banget, hiks . Apalagi ada teori yang bilang, hamil muda jadi ‘drama’ itu ya tergantung orangnya ‘drama’ beneran apa kagak. Matilah eike! Hahahahahahaha.
Begitu lewat 17 minggu (yoi, 16 minggu pertama bagaikan roller coaster :P), ‘drama’ pun berlalu. Eh, hamil anak ke-2, saat rasanya mental jauh lebih siap dan sudah punya pengalaman, ya sami mawon! Hahahahaha. Kembali berhadapan dengan 16 minggu penuh ‘drama’.
Gambar : pregnancyhumor.com
Soal menyusui juga sama. Karena waktu hamil menggembleng diri dengan banyak literatur, sifat ambisius membawa saya sok idealis sejak awal. Harus ASI Ekslusif! Harus, harus, harus, pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa. And that’s how the new drama begins … hahahaha.
Nyatanya, segitu banyak buku dibaca, rasanya sudah siap tempur sejak hamil 7 bulan … eh, gagal, dong, dong, dong!
Terus membaca forum dan segala macam malah makin stres. Nyokap juga berkomentar semacam, “Duh, netek in anak aja ribet bener. Kok kayaknya yang susah banget? Itu kan alamiiiiiii … “
Suami adalah sahabat terbaik saat itu, waktu pertama akhirnya ngasih sufor kan ada rasa semacam mau bunuh diri saja! #eaaaaaa. Itulah akibat kemakan drama dari forum-forum emak yang instead of menyemangati malah seperti menakut-nakuti hihihihi.
Suami terus menenangkan, “Sufor hanya akan dikasih kalau kamu mau. Kalau enggak, ya udah enggak apa-apa. Jadi ini terserah kamu.”
Karena masih tinggal sama ibu mertua, suami juga menegaskan hal ini kepada ibu mertua yang memang sudah gemas melihat ASI menantu yang pas-pasan ini hahahaha. Sufor pertama pun terjadi sudah. Well, mungkin kedengarannya lebay. Tapi waktu ngasih susu botol untuk pertama kalinya ke anak sulung, eike nangis bombay. Pikir saya, I have failed, I have failed, I hava failed.
Mulai dari payudara bengkak, puting berdarah, datang ke konsuler laktasi jauh-jauh ke Cikini, tapi ya … akhirnya menyerah ke sufor hehehe.
Gagal dah dapat ijazah S1 dan S2 boro-boro yang S3-ASI hahaha. Sumpah, ijazah-ijazah ini salah satu istilah yang paling gengges buat yang gagal asi ekslusif. Biasa, sirik tanda tak mampu hahaha.
Uniknya begitu masuk kerja lagi dan rajin mompa bareng teman-teman di Nursery Room, eh ASI nya malah lancar sendiri 😉.
Anak kedua? Voila, ASI lancar bangeeeeeet hehehe. Padahal gak nyiapin apa-apa. Sudah pasrah aja dan pokoknya yakin bisalah. Sudah pengalaman mungkin dan tinggal jauh dari kerabat juga. Asli lho, padahal waktu itu cuma berduaan sama suami ngurus 2 bocah, tapi ASI oke banget, berat badan anak ke-2 juga lebih bagus daripada anak sulung *garukGarukKepala*.
Anak kedua dibawa santai. Enggak pernah baca apa-apa lagi. Pokoknya jalani aja ^_^.
Lucunya, baru-baru ini teman saya curhat via inbox. Dia bingung anak pertama dulu ASI lancar dan payudara enggak masalah, anak ke-2 kok malah banyak masalah. Nah lo! Gimana tuh? Buku mana buku, teori mana teori! Hahahaha.
Gambar : wisudanitawibowo.blogspot.com
Toilet training juga gitu. Anak sulung saya, sudah saya latih sejak umur 18 bulan. Suksesnya kapan? Sampai umur 5 tahun masih ngompol di kasur hahaha. Karena capek gonta ganti seprei, kalau malam tetap saya kasih diaper. Awalnya kasihan aja sih sama landlord. Tapi sekarang sudah bebas diaper.
Anak kedua canggih benar hasilnya.
Saya kapok. Jadinya saya benar-benar tunggu sampai si anak ke-2 ini bisa diajak komunikasi. Bilingual membuat dia sedikit terlambat berbicara. Saya enggak sabar. Akhirnya saya putuskan bahasa Inggris 100% untuk si bungsu. Hanya sebulan saya terapin, dia langsung lancar bahasa Inggris.
Toilet training di usia 2 tahun 5 bulan. Hanya butuh 1 bulan untuk sukses!. Tapi suami bete karena yang bungsu pengetahuan bahasa Indonesianya minim banget. Saya sih sekarang sudah mulai ngajarin dan saya rasa lebih enak ya mengajarkan dia bahasa yang lain setelah dia menguasai satu bahasa dulu. Sotoy? Biariiiiiinnnn 😛.
Mengapa memilih bahasa Inggris? Karena abangnya sudah terbawa pergaulan di sekolah. Jadi, saya pikir yang kecil ini bingung. Emaknya ber-ayo-ayo, ber-kamu-kamu abangnya ber-kemon-kemon ber-you-you hihihi.
Gambar : womensforum.com
Makanya jaranglah mau share-share soal merawat anak bla bla bla, lebih senang menulis dari sisi drama kehidupan ibu ajah . Soal merawat anak, sakarepmu wae lah para ibu-ibu . Saya bukan tipe ibu yang selalu lembut pada anak hihihi. Walau suami lumayan kutu buku dan saya pun lumayan membaca ya enggak pernah sampai gimanaaa gitu ke anak.
Yang gede suka gambar ya hayoooo, yang kecil seneng main lego ya terserah saja. Bed time story? Jujur saja, hampir enggak pernah! Hahahaha. Saya waktu kecil mana kenal sama bed time story. Ada juga rebutan mau tidur di kasur mana dan sibuk masang kelambu sambil dipelototin sama nyokap biar cepat-cepat tidur 😀.
Suami saya katanya waktu kecil punya koleksi buku banyaaaaak banget. Dia dan semua saudaranya tergila-gila membaca. Eh begitu gede, ujung-ujungnya sama juga, ya hehehe. Sama-sama jadi anak Fasilkom dan sama-sama senang membaca. Toss dulu . Ibarat yang satu akar melati, satunya akar mawar, belakangan sama-sama tumbuh jadi anggrek. Nah lo! :D.
Bukan berarti saya anti teori parenting. Tetap suka kok dan kepo-in selalu. Cuma belakangan lebih senang membaca yang sifatnya pengalaman bukan dari buku atau the people called ‘pakar anak’! Pakar para anak ya emaknya masing-masing lah 😉.
Kalau ada yang baik ya pasti saya ikuti, kalau enggak, ya biasa-biasa juga.
That’s why saat pertama kali kenal The Urban Mama tahun 2010, saya merasa situs adalah sesuatu yang ‘berbeda’. Saya tahu TUM hampir setahun setelah digagas Trio Ninit-Slesta-Tahlia di bulan Desember 2009.
Awalnya suka banget membaca forum. Forum TUM mempersatukan ibu ASi, ibu Sufor, ibu bekerja, ibu di rumah, ibu pengajar, ibu pelajar, ibu-ibu di dalam negeri, di luar negeri, macam-macam lah. Pembahasannya juga beragam.
Gambar : theurbanmama.com
Makanya jadi tahu, konsep toilet training itu luas banget. Penerapan beda-beda. Tujuan pun beda-beda. Lebih penting lagi, beda tak selalu berarti salah . Drama dan kompetisi tentu kadang tak terhindari. Tapi biasanya sudah ada moderator yang siap menyemprit siapa pun yang dirasa sudah mulai menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak lain.
Yang menyenangkannya juga, di TUM tak melulu soal anak. Karena kadang saya terpikir, menjadi ibu tak mengharuskan kita melepaskan titel kita sebagai individu yang berdiri sendiri 🙂. Walau sudah punya buntut, we are still human. Tak lantas otomatis menjadi malaikat maha sempurna 😉.
Ada topik semacam Fit Mama atau geng Running Mama, Kumpul-kumpul Mama, membahas film-film atau buku-buku favorit yang ada juga yang tak ada hubungannya dengan parenting. A mom can still enjoy herself as a single person. Namun tak berarti anak ditelantarkan dong, yak 😀.
Kita menjadi belajar keseimbangan dan memahami, “Life is not about making others happy. Life is about being honest and sharing your happiness with others.” -unknown quote-
Simpel kan? Kalau tak jujur pada diri sendiri macam mana mau bahagia . Kalau tak sanggup membahagiakan diri sendiri, macam mana pula mau sok-sok bikin anak bahagia . Macam mana orang bugis tahu-tahu ngomong sok kayak orang batak hahahaha 😛.
Don’t get me wrong, ya. I’m not against any parenting books or any person called ‘pemerhati anak’. Aku tetap sayang padamu, Ibu Elly Risman, Abah Ihsan, Ayah Edi dll *icon love, love, love* :D.
Hanya saja, saya percaya kontrol dan pilihan ada di tangan ibu-ibu masing-masing. Teori-teori tak lantas memasung kita untuk tak ber’improvisasi’ sesuai sikon masing-masing 😉.
“Trust yourself. You know more than you think you do.”
― Benjamin Spock
As I’ve said … “There is always a different story in every parenting style”.
Dengan setengah menangis, Nayirah berbicara selama 4 menit di hadapan U.S Congress di bulan Oktober 1990, sekitar 2 bulan setelah Saddam dan pasukannya menginvasi Kuwait.
Nayirah bersaksi bahwa dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa tentara-tentara Irak mengambil paksa 15 bayi dan membiarkan para bayi ini tergelepar begitu saja di lantai hingga tidak bernyawa lagi. Kejadiannya di salah satu rumah sakit besar di Kuwait. Testimoni Nayirah tidak menyebutkan angka kematian para bayi. Namun di laporan tertulis, diklaim ada 312 bayi yang dibantai oleh para tentara Irak.
Kesaksian Nayirah benar-benar dieksploitasi secara luar biasa oleh Hill & Knowlton selaku pihak yang menyelenggarakan kampanye “Citizens for a Free Kuwait” di Amerika Serikat. Video Nayirah juga disebarkan ke seluruh penjuru dunia dan diputar berkali-kali di sidang-sidang internasional.
Masyarakat Amerika Serikat tergugah dan akhirnya kongres memberi ‘lampu hijau’ kepada pemerintahan Bush untuk ‘menyelamatkan Kuwait’.
Perang pun pecah. Perang yang kini dikenang sebagai Perang Teluk I berlangsung hingga Februari 1991.
Bulan Maret 1991, John Martin, reporter ABC melaporkan dari Kuwait bahwa meninggalnya banyak bayi dan pasien di rumah sakit disebabkan ketiadaan tenaga medis (dokter dan suster) yang memutuskan berhenti bekerja karena takut dengan situasi memanas. Terkuak fakta bahwa tentara Irak tak pernah mencuri inkubator mana pun!
Tapi adalah John MacArthur, yang mengungkap fakta lebih lengkap mengenai si Mbak Nayirah ini. Di bulan Januari 1992, tulisan MacArthur “Remember Nayirah, Witness for Kuwait?” dipublikasikan di The New York Times. Investigasi ini tak hanya membuat publik Amerika Serikat (bahkan mungkin dunia) terhenyak tapi juga mengantarkan MacArthur mendapatkan penghargaan di bidang jurnalisme di tahun 1992 dan 1993.
Perempuan lugu berpenampilan sederhana berusia 15 tahun yang memberikan kesaksian memilukan yang menggemparkan publik internasional tersebut ternyata anak dari Saud Nasir Al Sabah, duta besar Kuwait untuk Amerika Serikat. Berbagai investigasi lanjutan setelah itu menguak lebih banyak fakta lagi.
Nayirah telah dilatih secara profesional untuk berakting di depan kongres. Tidak hanya isi testimoninya yang hoax, aktingnya pun juga palsu. Pernyataan 4 menit tersebut itulah yang digunakan oleh Bush dkk untuk merebut simpati kongres dan masyarakat Amerika Serikat untuk merangsek masuk menghajar Saddam dan Irak.
Propaganda semacam ini tentu bukan hal baru. Ada yang mengklaim perang-perang besar di 200 tahun terakhir ini mungkin semuanya dipicu oleh propaganda sentimentil model Mbak Nayirah di atas.
Bayangkan, kesaksian Nayirah telah mengorbankan korban yang tidak sedikit baik dari pihak Irak, Kuwait maupun tentara-tentara US yang dikirim ke sana. Maka dari itu, SANGAT JELAS mengapa ancaman alquran sangat keras kepada para saksi palsu!
Propaganda macam “tentara Irak membunuhi ratusan bayi di Kuwait” ini bukan kisah tunggal. Tidak hanya terjadi di ‘dunia barat’. Indonesia pun pernah mencatat luka lama akibat propaganda yang tidak kalah kejamnya. Menengok kembali cara rezim Orde Baru membumihanguskan PKI pasca Gestapu 1965, saya masih merinding sampai sekarang .
Terlepas dari pro-kontra komunisme, propaganda yang diletupkan oleh rezim Orde Baru nyatanya tak hanya mengorbankan nyawa ratusan ribu (bahkan ada sejarawan yang berani mengklaim jumlah pembantaian mencapai 1 juta jiwa) tapi juga para loyalis Soekarno yang belakangan diketahui tak ada hubungannya dengan PKI.
Sayangnya, ratusan tahun berlalu, sejarah pun berkali-kali menyodorkan bahayanya propaganda negatif, kita pun tak pernah belajar .
Propaganda yang kini sebenarnya bisa diartikan sebagai berita-berita palsu alias HOAX. Sejak beberapa tahun lalu, saya memang kepo banget urusan foto-foto/info hoax. Termasuk dalam kisruh Rohingya atau Suriah atau Mesir.
Sebagai blogger saya paham betul, tulisan itu basi tanpa gambar! Kekuatan gambar atau foto efeknya tidak sedikit. Sejalan dengan ungkapan “a picture paints a thousand words”.
Gambar : forum.kompas.com
Bayangkan saja, konflik antar ras yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan agama bisa diramu sedemikian rupa untuk mempertentangkan Islam dan Buddha. Aneh banget sampai waktu lagi ramai-ramainya, banyak yang menghina dan mengatai-ngatai Dalai Lama dengan berbagai ungkapan kasar .
Konflik yang sebenarnya bisa dibilang adalah buah dari ketidakstabllan yang mengarah pada kemiskinan akibat perang saudara berkepanjangan di Myanmar. Junta Militer baru saja dirobohkan.
Sekitar 80% foto yang beredar ditengarai adalah hoax. Parahnya, itu foto hoax masih menyebar sampai sekarang!! Saya enggak bilang informasinya hoax, tapi mengapa harus disebar dengan foto hoax? Tentu saja biar lebih meyakinkan dan untuk mengaduk-aduk logika para pembaca.
“For every good reason there is to lie, there is a better reason to tell the truth.”
Bo Bennett
Propaganda/hoax sebenarnya bukan akibat media digital yang makin canggih. Bukan juga karena maraknya media sosial.
Propaganda ini sudah dari dulu ada. Perang Dunia 1 pun konon dipicu oleh kabar hoax .Perang Dunia II apalagi.
Itulah pentingnya selain bersemangat mencari ilmu kita dibekali dengan semangat mencari tahu alias tabayyun . Menyebarkan berita negatif tentu tanggung jawabnya besar sekali. Ingat, bersaksi palsu itu tiada bedanya dengan menyebarkan berita palsu!
Harus bagaimana? Whom to trust? Percaya sama diri sendiri, dong . Saban lihat berita-berita provokatif, mendingan kita menahan diri dulu.
Kalau berita positif sih mending, tapi berita-berita yang ramai justru sebaliknya, kan? Karena kadang ya teman-temanku, latar belakang masalah juga harus kita cek dan ricek secara menyeluruh. How dan Why-nya yang suka ketinggalan.
Kalau what, who, where and when kan relatif lebih mudah dan very easy to get. Padahal di banyak kejadian, HOW dan WHY ini yang justru bisa mengendalikan emosi yang berlebihan.