Kereta berhenti di stasiun Manggarai, saya cepat-cepat ikut turun. Baju basah kuyup. Jilbab sampai terlepas. Mana naik keretanya pagi itu sendiri saja.
What a day :(.
Badan lagi enggak enak. Enggak tahu kenapa. Padahal biasanya juga ‘bertarung’ naik KRL ekonomi pagi dengan perut kosong. Sarapannya nanti di Stasiun Cikini hehe.
Turun di Manggarai karena sudah enggak kuat. Beberapa hari terakhir itu juga sebenarnya memang sudah meniatkan untuk berpindah ke KRL Express. Biarlah harganya jauh lebih mahal dan berhentinya juga tidak tepat di depan gedung kantor yang lokasinya persis di seberang Stasiun Cikini.
Beberapa teman yang tadinya bareng naik KRL Ekonomi sudah hengkang duluan ke KRL Express. Jadi mupeng juga hihihihi.

Saya juga sudah mulai terpikir untuk pindah kos karena dipanas-panasin teman kantor. “Duh, udah kerja masih ngekos di deket kampus. Udah punya duit sendiri, dinikmati dong. Kos-kosan dekat sini banyak, lho. Nanti juga enggak umpel-umpelan di kereta.”
Iming-iming yang cukup menggoda, “Tempat tidurnya spring bed!” Hahahaha.
Setelah bekerja sebenarnya saya sudah pindah kos sekali. Dari kukusan kelurahan pindah ke Gang Kapuk di Margonda :D. Biar tidak khawatir kalau pulang malam. Margonda kan ramai terus sampai tengah malam. Begitu deh kalau jomblo, makan..makan sendiri, pulang…pulang sendiri :v.
Duduk-duduk di peron menunggu kereta berikutnya setelah sempat beli gorengan dan teh botol. Sementara sedang membayangkan akan pindah kosan atau minimal beralih ke KRL Express demi kehidupan yang lebih ‘elit’, mata saya tertuju ke tembok di seberang stasiun.
Banyak kotak kardus besar-besar. Saya pikir tempat sampah. Eh, tahu-tahu kardus bagian depannya bergerak-gerak.Eya ampun, itu pintu! 4 anak kecil berlarian keluar. Diantara mereka sudah ada yang usia sekolah. Ngapain sepagi itu malah main-main enggak ke sekolah :(.
Saya bengong sebentar. Itu tumpukan kardus kayaknya kecil saja tapi di dalamnya bisa muat begitu banyak orang. Luput dari pandangan saya selama ini padahal tiap hari kan pasti lewat Stasiun Manggarai ini. Ulu hati langsung nyeri. Teguran pertama dari Tuhan :).
Tidak sampai di situ, saya alihkan pandangan ke kiri kanan lobi peron. Tak jauh dari tempat saya duduk, ada sekumpulan anak kecil lagi. Usianya sudah di atas 5 tahun semua. Duduk berkerumun di atas lantai peron yang kotor. Saya berdiri dan pura-pura menghampiri penjual nasi uduk yang ada di dekat mereka. Ternyata … anak-anak yang jumlahnya mungkin sekitar 4-5 orang itu lagi makan nasi bareng-bareng. Nasinya cuma sebungkus, yang makan segitu banyak!
Saya duduk lagi. Sudah terasa badan yang tadinya tidak enak sudah tak begitu mengganggu. Teguran pamungkas berasal dari tangisan anak perempuan yang lagi meraung-raung sambil berguling di lantai peron yang sama.
Padahal ibunya ada tak jauh darinya. Saya agak kesal juga. Ibunya lagi membungkus-bungkus makanan. Sepertinya penjual pecel. Kan bisa saja anaknya dipangku biar tidak menangis. Pas dilihat dari dekat, ternyata ibu itu membungkus makanan sambil menyusui anaknya yang bayi. Dari jauh tidak kelihatan.
Teh botol yang tersisa beberapa teguk rasanya langsung pahit. Astagfirullah. Diperingatkan habis-habisan sama Tuhan. Masih disayang artinya ya ;).

Keinginan untuk pindah kos ke tempat yang lebih ‘elit’ atau hengkang ke KRL Express menguap begitu saja. Sebenarnya tidak itu saja yang membuat semuanya jadi cetek. Saya mulai terpikir untuk mengurangi jatah uang pada adik atau mama saya. Soalnya saya pikir ya saya berhak dong untuk hidup enak-enak. Saya kerja sudah cukup lama ya masa uangnya hanya untuk mereka. Kapan giliran saya?
Padahal selama ini rasanya hepi-hepi saja naik KRL Ekonomi. KRL Ekonomi itu beda dengan commuter line ya kalau saya liat gambarnya di Google hihihi. Commuter line sekilas mirip dengan KRL Express. CMIIW.
Sebelum-sebelumnya juga tidur di atas kasur busa di kosan juga enggak ada masalah. Kira-kira kenapa ya?
Barulah saya ingat-ingat lagi, apa saja yang saya lakukan akhir-akhir itu.
Pertama, beberapa kali dalam seminggu terakhir saya ikut makan ke tempat-tempat ‘yang tidak biasa’.
Lagi sering makan di Pasaraya Manggarai atau ikut ke daerah Sabang, Menteng atau Kuningan. Makan di resto bagus-bagus hihihi. Saya mulai perhatikan rekan kantor dari bagian lain banyak yang makan di tempat-tempat begini. Saya harusnya juga bisa kalau mau.
Saya ikut bos berbelanja ke Pasaraya. Ada insiden beli underwear salah lihat harga. Habis teman-teman lain yang pergi bareng terlihat memborong. Saya cuma ambil satu. Mau pingsan pas di kasir diberitahu harganya di atas 100 ribu per helai! Alamak, antrian panjang, masa enggak jadi sih? Hahahaha. Katanya diskon 70%. Harga aslinya berapa dong *ngelapKeringat*.
Nah, pas di tempat-tempat keren kayak gitu mulai deh memperhatikan penampilan orang. Ish, kece-kece amat, yak. Mulai ngitung-ngitung lagi hihihi. Ah, gaji saya juga cukup-cukup sajalah rasanya. Merasa diri kumal banget euy ngeliat mbak-mbak seliweran dengan penampilan ‘wah’ :D.
Ya abeesss, selama ini makan siang dengan teman-teman IT yang isinya rata-rata laki semua! Hahaha. Makannya di pasar Cikini, di kantin parkiran Menteng Prada, kantin Golkar yang murah meriah, di warung-warung di bawah stasiun, di kantin belakang kantor atau sekalian di perempatan KFC yang jual sate (katanya rasanya enak karena campur asap knalpot) hahahaha :D.

Pelajaran penting di suatu pagi di Manggarai … urusan dunia, selalulah melihat ke bawah :). Dunia memang menyilaukan. Fitrahnya sudah begitu. Pintar-pintar kita membentengi diri dari godaan.
Apalah gunanya naik KRL Express, pakai baju mahal-mahal, makan di tempat-tempat kece atau tidur diatas spring bed kalau sampai harus mengurangi kewajiban membantu kuliah adik dan membantu mama yang sudah menjanda tanpa penghasilan selama bertahun-tahun ;).
Alhamdulillah, hikmahnya belum lekang hingga kini. Apalagi masalah kasur :P. Waktu kecil dulu pun tidurnya pakai kasur tipis isi kapuk digelar di atas lantai ya nyenyak-nyenyak saja ^_^.
Again, tak boleh lupa kacang pada kulitnya :).
***
Saya saja, levelnya sesama rakyat, batin pasti memberontak kalau disuguhi langsung pemandangan macam di Manggarai itu. Apalagi jika terus-terusan melihatnya :(.
Melihat kemiskinan langsung di depan mata tentu berbeda rasanya.
Maka, saya merindukan pemimpin yang dekat dengan sebagian besar rakyat yang dipimpinnya :). Pemimpin yang tak hanya melihat dari laporan di atas berlembar-lembar kertas, mengintip sekilas dari balik kaca jendela mobil mewah, atau dari tayangan di layar televisi.
Blusukan adalah kewajiban tiap pemimpin. Untuk saya pribadi, empati itu adalah hal yang penting untuk pemimpin dengan kesenjangan ekonomi yang tinggi seperti di Indonesia kini. Pemimpin yang tak hanya lihai dengan kata-kata tapi mampu menggunakan mata batin dan hati untuk menyentuh rakyatnya.

Ya kalau seharian mainnya dengan sesama pejabat doang, ngobrol sama sesama pejabat tinggi terus, sibuk saja mengurus strategi ini itu, saya takut hatinya jadi tumpul :). Percayalah, melihat langsung itu sensasinya tidak akan sama.
Saya menginginkan pemimpin yang membangun jembatan untuk menghubungkan rakyat dan pejabat. Bukan mereka yang mendirikan tembok-tembok tinggi untuk membatasi pemimpin dan yang dipimpin.
Sekian lama kita hidup dalam paradigma bahwa bos besar itu ya memang tugasnya ngurusin hal yang besar-besar. Hal-hal besar selalu dimulai dari yang kecil-kecil ;).
Dari blusukan, pemimpin bisa melihat dengan perspektif lebih lengkap dan diharapkan lebih mudah memikirkan solusi. Blusukan ya pastinya tidak mudah dan akan sangat menguras tenaga, tapi hal itu ternyata mungkin-mungkin saja.
Jokowi membuktikannya :). Tak hanya untuk dirinya sendiri. Walau dicaci sebagai pencitraan, blusukan mendadak popular dan banyak diikuti oleh pemimpin daerah lain bahkan oleh mereka yang dulu menghinanya ;).
A leader is someone who DEMONSTRATES what’s possible (Mark Yarnell).
Mungkin karena saya memang mikirnya enggak muluk-muluk hehehe. Ya pemikiran emak-emak sensi nan ratu drama ya enggak kesampaian lah kalau disuruh mencerna visi misi tinggi-tinggi hahaha.
Kan saya sudah pernah bilang soal pendapat teman yang mengatakan kita cenderung memilih pemimpin yang setipe :D. Tipe-tipe yang enggak mikir susah-susah dan senang yang simpel-simpel macam Jokowi itu lebih cucok untuk yang pola berpikirnya malas ribet kayak saya hehe.
Saya lebih suka kalimat ini, “Leadership is not a position or a title, it is action and example” ;).
Terima kasih kepada Jokowi yang makin ke sini makin menunjukkan betapa mudahnya pilihan ini harus jatuh kepada beliau :).

Yakin 100%? Kepastian dan kebenaran kan katanya hanya milik Allah. Tugas kita adalah membersihkan hati dan akal serta terus menghidupkan harapan :).
Harapan akan perubahan untuk saya itu lebih condong kepada Jokowi. Semoga dimampukanNya ya, Pakde :).
As a leader is a dealer in hope -Napoleon Bonaparte
Untuk #IndonesiaBaru, Jokowi for RI-1. Salam damai ^_^

***
























