Never Lose Faith in Humanity

Kurang dari sebulan lagi, UK akan mengadakan sebuah referendum penting mengusung pertanyaan, “Apakah UK akan stay dalam Uni Eropa atau tidak?”

Kalau seandainya hasil referendum membuat UK keluar dari Uni Eropa, something ‘huge’ should happen.

The Red London Bus - pic Dani Rosyadi jalan-jalan ke London

London Bus, foto : Dani Rosyadi

Referendum ini bagian dari tuntutan Partai Konservatif yang kebetulan menjadi tempat bernaung David Cameron, perdana menteri UK terpilih 2015 lalu. Jadilah, referendum ini adalah bagian dari janji kampanye David Cameron.

Uni Eropa adalah sebuah kesepakatan yang cukup unik. Selain mencakup hampir 30 negara-negara di Eropa Barat dan Timur, aturannya seragam mengikat tapi input ke masing-masing negara ya beda-beda karena pada dasarnya mereka bukan United States seperti di Amerika Serikat ๐Ÿ˜€.

Salah satu concern utama pendukung opsi UK seharusnya keluar saja dari Uni Eropa adalah national security. UK sudah mulai kebat kebit dengan banyaknya serangan terorisme di Eropa Barat daratan. Dua yang terakhir di Paris dan Brussel.

Menurut sebagian politikus UK, ini terkait aturan penerimaaan pengungsi ala Uni Eropa yang kurang ‘secured’. For info ya, sebagai welfare-state, Uni Eropa memang cukup terbuka sebenarnya kepada para pengungsi ๐Ÿ™‚.

Urusan sosial yang ditimbulkan oleh kalangan pengungsi / refugee memang cukup rumit, ya. Pendatang dari kalangan profesional dan pelajar tentu tidak termasuk ๐Ÿ˜€. Ini khusus pengungsi yang biasanya lari dari negara asal karena ketidakstabilan ekonomi dan keamananan.

Seharusnya sih, pengungsi ini tinggal di Uni Eropa sementara saja. Diharapkan setelah negaranya aman, mereka mau pulang kembali ke negara asal masing-masing.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Problemnya ada 2, Pertama, umumnya negara asal mereka enggak “sembuh-sembuh” hehehe :p. Kedua, mereka sudah terlanjur nyaman dan bahkan memang ada beberapa yang sudah niat dari awal memang untuk hidup permanen sampai beranak pinak ๐Ÿ˜€.

Kejadian di Brussel tempo hari memunculkan lagi isu ini. Tapi harap diingat masalahnya di sini bukan dari pengungsi generasi pertama tapi justru dari pengungsi yang istilahnya “home-grown”. Mereka lahir dan besar di Uni Eropa.

Diskriminasi terhadap pengungsi dan keturunannya memang nyata. Akses pekerjaan buat mereka “dibatasi” ๐Ÿ™. Sementara biaya hidup tidak kecil. Walau terbantu oleh tunjangan sana sini, ya namanya juga manusia biasa. Siapa sih yang tidak ingin meraih kehidupan yang lebih baik? ๐Ÿ™‚.

Memangnya semua orang sanggup hidup pas-pasan selamanya? Tanyakan saja ke diri kalian sendiri :p. Sanggup? ๐Ÿ˜‰.

Mereka, dari lahir sudah tinggal di Eropa. Mau balik ke negaranya juga jadinya rancu. Karena mereka sama sekali tidak terbayang kehidupan di sana. Ya lidahnya pun juga mungkin sudah tidak terbiasa dengan bahasa asli orang tua mereka.

Mereka “terjebak”.

Keputusasaan inilah yang melahirkan bibit-bibit “sakit hati” yang bisa berkembang ke mana-mana. Ada yang dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi teroris itu salah satunya ๐Ÿ™.

Ya, dunia utopis di mana kita bisa saling menerima dan mengikhlaskan perbedaan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh seumur hidup kita untuk menaklukkan “ketakutan” kita sendiri ๐Ÿ™‚. Lucunya, once you realize this, malah kita yang akan dianggap “aneh”, syukur-syukur enggak dituduh liberal ya Kakaaaaa hahaha :p.

Pemerintah Uni Eropa ya bisa apa, karena memang pengungsi ini dari awal diharapkan “solusi sementara”. Kalau pengungsi ini dibikin terlalu “nyaman”, bisa habis nanti Uni Eropa diserbu para pendatang hehehe :p.

Lah ya makanya, kalau ada pertikaian, negara-negara besar harus berperan aktif melerai, ya. Jangan malah ngumpet-ngumpet jualin senjata dan mengeruk keuntungan sendiri -_-.

Akhirnya, pepatah bijak suatu waktu akan membuktikan kebenarannya, “Senjata makan tuan” ๐Ÿ˜‰. Dalam kasus Suriah sendiri kan sudah rahasia umum, kelompok pemberontaknya ada berbagai macam kelompok yang didanai oleh banyak negara ๐Ÿ™.

tank pixabay

Jangan dikira Uni Eropa sama sekali terlepas dari konfik di sana.

Mari melihat dari berbagai sisi, ya.

Inilah salah satunya yang membuat UK tidak puas dan menyalahkan kebijakan Uni Eropa terkait penerimaan pengungsi. Sementara orang-orang asli Eropa sendiri ya ada juga yang korslet yang menyamaratakan semua pengungsi.

Saya pribadi setiap ada kejadian terorisme di belahan Eropa selalu stres juga jadinya. Takut kami di sini jadi sasaran ketidaktahuan dan meme-meme diskriminatif terhadap minoritas. Noh, Pegida di Jerman misalnya -_-.

Tapi ya jangan malah balas dendam. Saya tidak ingin bermasalah di sini karena dampak minoritas ini makanya saya berusaha keras tidak melakukan hal itu terhadap orang lain dalam posisi mereka sebagai minoritas.

Do whatever I can untuk bekerja keras menddik diri sendiri agar tidak mudah termakan hoax-hoax mengandung hate-speech. Ya enggak gampang juga pastinya.

Makanya, saya gunakan kata KERJA KERAS. Karena memang repotnya minta ampun pergaulan di dunia maya ini. Kadang, jari kita berkelebat lebih kencang berkomentar dan share ini itu ketimbang otak kita mengolah data ๐Ÿ™.

Efek berita hoax tidak kecil, teman-teman ๐Ÿ™.

Pertimbangan lain terkait referendum UK ya seputar ekonomi juga lah ya. Duit lagi, duit lagi hehehe.

Pihak partai konservatif misalnya sudah merasa UK kelamaan join di Uni Eropa dan sudah terlalu banyak perubahan yang tidak menguntungkan posisi UK juga.

Yang menuai “keuntungan” terbesar dari kerjasama ala Uni Eropa ini bisa dibilang Jerman lah ya. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar dan jumlah penduduk terbanyak, Jerman yang paling “leluasa” berkuasa atas kebijakan-kebijakan dalam Uni Eropa.

Negara-negara yang ekonominya agak di bawah juga diuntungkan. Karena kebijakan Uni Eropa membuat orang-orang dari negara-negara Eropa Timur yang “rada miskin” :p bisa leluasa berpindah-pindah ke negara Uni Eropa yang lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Di Republik Irlandia sini nih, banyaaaaaak banget pendatang Polandia. Makanya jangan heran kalau orang-orang bule di sini tahu-tahu ngomong bahasa aneh-aneh hihihi. Secara fisik terus terang saya tidak tahu bedanya. Harus kedengeran mereka ngomong dulu baru bisa ketahuan aksennya hehe.

Yang gamang itu ya negara-negara pertengahan.. Kaya enggak, miskin juga kagak. Apalagi negara-negara besar seperti Spanyol. Penduduknya banyak tapi pendapatan perkapitanya kecil. Dengar-dengar Spanyol juga pernah “goyang”. Tapi enggak lanjut lagi nih beritanya.

Kasus Yunani agak beda karena ada isu kesalahan manajemen dalam negeri.

Kalau kata suami saya, UK mungkin kepengin seperti Swiss. For info ya, Swiss itu TIDAK TERMASUK dalam Uni Eropa. Mungkin UK gerah berada dalam bayang-bayang hegemoni Jerman.

Hasil polling terakhir sih tipis banget. Tapi masih menang mayoritas yang ingin bertahan UK tetap dalam naungan Uni Eropa.

Yang ribet ya Republik Irlandia ini nih hahaha. Soalnya Republik Irlandia punya hubungan spesial dengan UK dalam banyak hal.

Lucu juga hubungan antara UK dan Republik Irlandia. Karena sebenarnya orang-orang Irlandia itu banyak yang mendendam kepada orang UK terkait penjajahan ratusan tahun terhadap Ireland tempo hari hehehe.

Tapi dalam urusan ekonomi dan sosial, Republik Irlandia manut-manut sama UK. Republik Irlandia menolak masuk Schengen itu kan salah satunya karena UK juga tidak mau masuk Schengen. Kasihan deh paspor Indonesia sudah nyampe Eropa tetap saja kudu ngemis visa ke mana-mana :p.

Tiket ke mana-mana murah tapi ngurus visanya yang tidak murah dan “ngeselin”. Saya suka emosi jiwa kalau diwawancara dan dipelototin sambil ditanya-tanya, “Kamu mau ngapain sih ke sana?”

Sempat kepengin iseng menjawab, “Ya mau jihad dong, Mbak!” Hahahaha :p. Becanda yak *sungkemDuluSamaEmbakEmbakKedutaan*.

Saya pribadi berharap hasil referendumnya menetapkan UK tetap dalam Uni Eropa. Ekonomi global lagi suram jangan sampai makin ribet gegara keputusan UK untuk keluar dari Uni Eropa.

Ini jangan sampai dianggap UK tidak ramah pada pendatang, ya. Khususnya kaum muslim. Rasa-rasanya sih, UK dan Republik Irlandia termasuk 2 negara Eropa di mana Islam cukup mendapat tempat.

Tunggu ya saya bikin tulisan tentang masjid besar di Dublin di tengah-tengah pemukiman elit ๐Ÿ˜‰. Serta sebuah museum yang menyimpan naskah-naskah alquran tertua di dunia di Dublin. Ini lagi nyari-nyari kesempatan buat masuk media cetak dulu. Biar ada duitnya dulu gitu baru kita masukin blog hahahahaha.

Manusia biasa dong ya, mohon diampuni :p.

Walau sejak akhir tahun lalu, suami saya sudah memutuskan untuk mencari kerja di Jakarta dan segera kembali ke tanah air begitu dapat, saya tetap berharap yang terbaik untuk Eropa. Bukannya norak, ya gimana ya, enggak bisa bohong tinggal di Eropa itu surga bangeeet <3.

Tapi sesurga-surganya Eropa, Ibu saya selalu bilang, “Tempat terbaik buat istri ya di samping suaminya.” Suami mau balik ya kita mah bisa apa selain memberikan dukungan penuh dan siap-siap beres-beres koper in case ladang rezeki yang baru di tanah air sudah memanggil ๐Ÿ˜‰.

Btw, konsep “welfare state” ini benar-benar mengagumkan. Saya pernah ketemu semacam paper untuk membandingkan Syariat Islam vs Welfare State. Ada yang mengklaim “welfare state” ini adalah praktik negara yang paling mendekati sistem Islam. Tapi definisi welfare state sendiri juga bisa panjang ceritanya.

Adapun membahas ini butuh tulisan yang jauh lebih panjang lagi. Sementara gue yakin kalian pastii sudah misuh-misuh, “Najis, panjang amat tulisannya” hahahaha :p.

Well, semoga kita semua bisa menarik hikmah bermanfaat ya dari kejadian-kejadian dan argumen-argumen di atas. Apa pun itu, jangan selalu lupa meletakkan kemanusiaan di tempat teratas ๐Ÿ™‚. Simpel saja karena sebenarnya yang melekatkan kita semua ya karena status kita sebagai manusia apa pun parameter yang menyertainya ๐Ÿ˜‰.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.
–Mahatma Gandhi

Saya percaya, dalam lubuk hati kita terdalam, kita semua sepakat pada banyak hal yang sama. Makanya, stay away from hoax ya teman-teman, again and again ๐Ÿ™‚.

Apalagi buat yang muslim tuh, keadilan adalah hal yang paling keras diperintahkan dalam alquran ๐Ÿ™‚. Memang bukan sifat dasar manusia tapi kewajiban kita adalah berusaha keras menegakkannya dalam hal apa pun. Gagal sekali-sekali ya manusiawi. Tapi kalau berkali-kali terhasut, ya itu mah doyan hahaha :p.

Insya Allah, bulan puasa sebentar lagi ya <3. Semoga bisa menjadi momen yang bagus merenda kembali janji-janji setiap kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Aamiin <3.

Gambar : misacor.org

Gambar : misacor.org

***