Kota Thaif Arab Saudi, Musim Bersemi di Gurun Pasir

Letak Kota  Thaif Arab Saudi ini di arah tenggara Kota Mekkah. Tapi, biar cepet, untuk ke kota Thaif sudah ada jalan tol-nya langsung tidak perlu mengitar kota Mekkah lebih dulu.

Yang membuat Kota Thaif istimewa itu karena cuacanya yang agak berbeda dengan kondisi alam khas sebagian besar wilayah Saudi. Thaif dingin dan hijau di hampir sepanjang tahun ^_^. Berasa musim semi terus, deh, kalau jalan-jalan ke kota Thaif.

Tulisan ini saya modifikasi sedikit dari artikel yang pernah saya kirimkan ke salah satu media cetak. Dimuat di Kartini kalau gak salah di salah satu edisi November 2013 :D.

Perjalanan Mendaki Bukit Batu  menuju Kota Thaif

Dari Jeddah, kota ini bisa dicapai dalam 90 menit menyetir dengan mobil. Padahal jaraknya sekitar 150 km apa ya dari Jeddah. Helooo, Saudi gitu, lho ;). Infrastruktur jalan antar kota memang sangat bagus.

Sebelum mencapai  Kota Thaif , kita sudah akan terpukau dengan jalanan yang melewati lereng-lereng pegunungan batu yang terjal. Jalanan ini merupakan akses utama menuju Kota Thaif. Jalanan yang panjang, curam, dan meliuk-liuk tersebut dibangun dengan megah di atas gunung-gunung batu.

Jalanan bukit batu ke Kota Thaif

Saya tak bisa membayangkan berapa lama pemerintah Saudi membangun jalanan tersebut. Mengingat bangunannya yang terdiri dari tiang-tiang penyangga jalan yang kokoh dan panjang. Biarpun medannya terlihat menakutkan tapi sangat aman dan nyaman untuk dilalui.

Keselamatan sangat diperhatikan. Di tiap tikungan yang sangat curam dan belokan tajam dipasang banyak speed breaker. Dua jalur yang tidak searah disekat dengan beton panjang. Kita tak akan berpapasan langsung dengan mobil dari arah yang berlawanan. Di pinggiran jalan yang mengarah ke lembah juga dibangun beton-beton tinggi dan kokoh. Tiap jalur berukuran cukup lebar.

Selain jalanannya yang lebar dan mulus, juga disediakan tempat-tempat khusus bagi yang ingin menepi. Biasanya orang-orang menepi untuk bersantai sejenak sambil menikmati hamparan perbukitan batu dari atas. Banyak juga yang merekam indahnya jejak alam ini melalui kamera.

Yang cukup berkesan dan unik adalah monyet-monyet yang terlihat di sisi jalanan sepanjang lereng. Di salah satu tempat menepi, mereka bebas berkeliaran dan nampak mendekat jika ada mobil yang berhenti. Mungkin menanti makanan. Dan benar saja, orang-orang sibuk melemparkan makanan ke arah mereka.

Monyet di Bukit Batu Highway - Kota Thaif

Kami tak sempat mendekat karena anak-anak saya terlihat takut dan risih. Padahal monyet ini termasuk hewan favorit mereka dalam berbagai acara televisi dan buku-buku cerita bergambar. Mungkin berbeda rasanya melihat mereka di dunia nyata. Hihihihihi :p.

Naik Kereta Gantung di Al Hada

Kota pertama yang akan kita lewati selepas menyusuri jalanan mendaki tadi adalah Al Hada. Begitu memasuki Al Hada, warna hijau sudah mulai mendominasi kiri kanan jalan. Hawanya mulai sejuk.

Belum puas menikmati pemandangan dari atas bukit batu? Mampirlah ke Hotel Ramada. Lokasi hotel berada di puncak salah satu lereng di perbukitan batu yang terlewati tadi. Persis di samping Hotel Ramada ini, kita bisa menikmati hiburan berupa naik kereta gantung (cable car) yang akan melintasi sepanjang areal perbukitan batu dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Kereta gantung di Al Hada

Kereta gantung di Al Hada

Kereta gantung akan menempuh rute menurun, menuju sebuah waterpark di salah satu lembah di dasar perbukitan batu. Butuh sekitar setengah jam untuk tiba di kawasan waterpark.

Duh, deg-degan juga ketika berada di tengah-tengah. Karena pemandangan di luar didominasi oleh batu-batu terjal yang berukuran raksasa. Berjajar rapi membentuk perbukitan batu yang luas dan terjal. Gak bakal berani memandang ke bawah lama-lama. Hahaha.

Kota Thaif Kereta Gantung Hada

Tarifnya sekitar 90 SR (saudi riyal) per orang. Ini sudah termasuk berpiknik dan berenang di kawasan waterpark dan perjalanan bolak balik dari atas (Hotel Ramada) ke waterpark dan sebaliknya. Itu dulu, ya, info dari teman sekitar tahun 2012. Entah berapa kira-kira sekarang.

Di kawasan waterparknya ada playground yang wahananya seru-seru. Sempat lihat foto-foto madam-madam Jeddah liburan ke sana tahun lalu.

Kota Thaif Waterpark Al Hada

Waterpark Al Hada (Male only! :D) gambar : Raiz Fouqil

Konon katanya lebih seru jika memilih malam hari. Kita bisa melihat lampu-lampu yang menghiasi kota-kota besar di sekitar Thaif dari atas.

Bersantai di Playground KotaThaif

Kota Thaif adalah kota kecil, jauh lebih sepi daripada kota Jeddah. Kami hampir tak bisa menemukan petunjuk jalan atau toko dalam tulisan latin. Hampir semuanya dalam tulisan Arab. Dari jauh saya dan suami sempat main tebak-tebakan. Apakah tempat yang akan kami lewati di depan adalah toko baju atau rumah makan. Kami memang belum fasih membaca tulisan arab.

Taman-taman kota yang hijau dan cukup rimbun banyak terlihat dimana-mana. Bangunan-bangunan apartemen dan toko di jalan-jalan berukuran kecil dan tampak kusam. Nyaris tak ada bangunan baru.

Kota Thaif

Ternyata tak perlu waktu lama untuk menyusuri sudut-sudut kota. Mungkin setengah jam saja sudah cukup. Lalu, kami bergabung dengan teman-teman lain. Ikut gelar tikar dan duduk bersantai di salah satu taman kota yang hijau. Tamannya cukup hijau, dilengkapi dengan playground yang cukup lengkap agar anak-anak bisa bebas bermain-main.

Para orang tua duduk bersantai di bawah pohon. Anak-anak kami biarkan berlari-lari di areal taman bermain. Selain berlarian dan berkejaran, mereka juga memanfaatkan fasilitas bermain lain seperti : ayunan, jungkat jungkit, perosotan, dll. Semuanya bebas dinikmati tanpa keluar biaya.

Playground Kota Thaif

Mampir ke Ash-Shafa

Nah, sempat pula di suatu sesi jalan-jalan ke kota Thaif Arab Saudi, rombongan mampir ke  Shafa. Shafa letaknya tidak jauh dari Thaif. Hanya sekitar 40 menit menyetir santai.

Jalanan menuju Shafa juga tergolong mulus. Pemandangan sepanjang kiri kanan jalan adalah perbukitan hijau dengan lembah-lembahnya yang landai. Sangat kontras dengan suasana Negeri Gurun yang umumnya didominasi padang pasir bersemu warna coklat.

Kalau menurut saya, pemandangannya mirip sekali dengan suasana sebuah padang rumput maha luas di trilogi film “Lord of The Ring.” Makanya saya memberi julukan sendiri buat Shafa, middle earth-nya Saudi. Duh, kangen, euy. Hiks :'(.

Kami berhenti di salah satu taman di pinggir jalan. Tamannya tidak terlalu terawat. Tanaman tumbuh tidak rapi dan tempatnya agak dekat dengan lembah. Biarpun tidak curam, para Ibu nampak sibuk menjaga balitanya agar tidak berlarian menuju bibir lembar.

Sayang sekali, kami tiba di Shafa saat senja sudah mulai menghampiri. Sudah hampir gelap. Perbukitan hijau yang berbaris memanjang tak sempat tertangkap kamera dalam perjalanan tadi.

Kota Thaif ke arah Ash Shafa

Ash-Shafa

Berburu Oleh-oleh Buah-buahan Segar

Langit sudah mulai gelap saat kami beranjak meninggalkan Shafa. Lampu-lampu mulai dinyalakan di sepanjang jalan. Perjalanan pulang yang tadinya dikhawatirkan akan gelap gulita, malah menjadi terang benderang.

Dari Shafa, kita bisa langsung menuju Al Hada. Sebelum meninggalkan kawasan Thaif dan Al Hada ini, jangan lupa berbelanja buah-buahan segar. Mampirlah ke sebuah lapak penjual buah-buahan yang cukup besar dan ramai. Tempatnya pasti terlewati dalam rute perjalanan pulang.

Iklim yang sejuk memungkinkan perkebunan buah-buahan tumbuh subur di kawasan ini. Thaif merupakan pusatnya anggur dan apel.

Harganya memang relatif murah daripada harga buah yang sama di kota Jeddah. Terutama buah anggur. Dengan hanya membayar 10 SR, kita bisa mendapatkan sekitar 1-2 kilo buah anggur hijau yang dikemas dalam sebuah kotak kardus. Rasanya pun lebih manis. Buah-buahan lain yang tersedia antaralain : jeruk, apel, kiwi, peach, pisang, mangga, dsb.

Penjual Buah Kota Thaif

Menginap dan Makan Dimana?

Sepertinya tidak ada rumah makan khas Indonesia di sepanjang Al Hada – Thaif – Shafa. Maklumlah kota kecil. Nyaris tak ada pendatang asal Indonesia yang bermukim di daerah ini. Mungkin ada tapi pasti jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar seperti : Riyadh, Jeddah, Mekkah, dan Madinah.

Tapi jangan khawatir. Makanan khas Timur Tengah seperti kebab dan nasinya yang beraroma khas lumayan cocok, kok, untuk lidah Asia kita. Kebab daging sapi dan ayam rasanya mirip-mirip dengan sate. Di sepanjang jalan, rumah makan yang menyajikan kebab dan nasi khas Arab tak sulit ditemukan.

Harga makanan di wilayah ini sedikit lebih mahal dibandingkan harga makanan yang sama di kota-kota besar Saudi. Untuk satu porsi mungkin perlu sekitar 20 – 25 riyal per orang. Tapi satu porsi nasinya memang sangat banyak. Porsi standar orang Arab memang lebih banyak daripada porsi makanan untuk satu orang di tanah air.

Nasi Kabsah Kota Thaif

Bagaimana dengan penginapan? Banyak hotel-hotel berbintang yang tersebar  di kawasan Al Hada – Thaif. Seperti Hotel Ramada dan Hotel Intercontinental Thaif. Tapi kalau masih kuat menyetir sekitar 40 menit, lebih baik menginap di kota Mekkah saja.

Kota Mekkah menawarkan lebih banyak jenis penginapan dengan harga bervariasi. Lokasinya pun mudah ditemukan saking banyaknya hotel dan penginapan lainnya di kota Mekkah.

Infrastruktur jalan di Saudi ini memang sangat memanjakan para pengemudinya. Menurut suami saya, menyetir di Saudi tidak terasa melelahkan seberapa pun jauhnya.

Kota Thaif Jalan tol di bukit berbatu

HIghway-Thaif

Jalan tol penghubung Mekkah dan Jeddah misalnya, lurus-lurus saja. Manalagi kondisi jalan yang mulus dan lebar,  dua jalur berlawanan arah selalu disekat rapi, sehingga makin nyaman urusan menyetir ini. Manalagi macet hampir tak pernah ditemui.

Pompa bensin pun tak sudah ditemukan di sepanjang jalan tol. Tiap pompa bensin dilengkapi dengan toko-toko kelontong. Ada juga kedai-kedai kecil yang menjual kebab mini dan semacamnya. Jadi bisa mampir kapan saja dan melepaskan sedikit penat  jika lelah mulai menghampiri.

***

Tadinya mau menulis tentang Fore Abbey atau Rock of Cashel yang kemarin foto-fotonya baru saja disubmit sama fotografernya hahahaha.

Pas blusukan di segambreng folder foto eh nyangkut di foto-foto lama. Dibukain satu-satu jadi gatel mau posting ujung-ujungnya. Jadilah barusan yang dibuat adalah postingan tentang Thaif, salah satu kota yang cukup sering jadi sasaran berlibur kami saat masih tinggal di Jeddah dulu.

Begini ini ribetnya suka koleksi foto jalan-jalan. Kalau dilihat-lihat lagi malah jadi kangen :(.

“People say that bad memories cause most pain. But actually, it’s the good ones that drive you insane.” -unknown-

Couldn’t agree more :).

***

18 thoughts on “Kota Thaif Arab Saudi, Musim Bersemi di Gurun Pasir

  1. Tulisan tentang thaif sama dengan deskripsi kakak ipar saya yang baru saja kesana. Kakak modal nekad ke thaif karena paspor hanya boleh ke mekkah. Beliau baru ada urusan bisnis umrahnya. Sayang, saya dan istri nggak bisa kesana besok di musim haji. Selain nggak ada program kesana, aturan juga nggak boleh. Foto2nya bagus bgt, jadi pengin kesana. Hehehehehe…!!!

  2. Ahlan wa Sahlan para tamu Allah… sbnarnya siapa yg berhaji dari Indonesia akan punya waktu luang yg banyak selagi di Mekkah… insya Allah dg modal kurang lebih SAR 300 bisa koq berkunjung ke Taif di sela-sela perjalanan haji…. salam dari Mekkah…

  3. MasyaAllah nikmat gak terhingga ini mbak… mantap abis…. wah semoga bisa sampe situ juga mbak meski g tau dari mana salnya bisa sampaid i situ hehe… salam kenal ya mbak… bakal kangen buat terdampar di sini nih keceh……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *