ASEAN, “Strength lies in differences”

Siapa yang mengenal nama Onassis? Aristotle Onassis, raja kapal berlimpah harta asal Yunani. Onassis juga terkenal karena berhasil mempersunting janda Kennedy sebagai istri ke-2nya, Jacqueline Kennedy Onassis.

Di awal 70-an, Onassis meninggal dunia dan mewariskan harta kepada salah seorang anak perempuannya, Christina Onassis. Christina sendiri meninggal dunia di usia muda, belum genap 40 tahun. Kepergian Christina membuat satu-satunya anak perempuannya, Athina, yang kala itu belum genap 4 tahun mewarisi harta peninggalan kakek dan ibunya. Athina Onassis digelari bocah terkaya kala itu. Kecil-kecil cabe rawit :D.

onassis

“Kecil-kecil cabe rawit” juga bisa kita sematkan pada salah satu anggota negara ASEAN satu ini, Brunei Darussalam. Walau wilayahnya masih lebih luas daripada Singapura, penduduknya hanya sekitar 400-500 ribu jiwa. Pendapatan perkapitanya no.2 di ASEAN dan di berbagai parameter perekonomian, pendapatan perkapitanya sering masuk jajaran 10 besar dunia.

Bulan april 2013, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN kembali digelar. Kali ini, ajang tahunan yang mempertemukan pemimpin-pemimpin negara ASEAN tersebut digelar di Brunei Darussalam, negeri mungil nan sepi namun tajir :D.

brunei

KTT ASEAN ke-22 di Brunei : Maksimalkan Persatuan, Minimalkan Permasalahan

Pembahasan utamanya mencakup beberapa hal. Topiknya tidak jauh-jauh dari 3 pilar, Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya, yang ingin dikolaborasikan bersama antar sesama anggota ASEAN dalam rangka terbentuknya Komunitas ASEAN 2015.

Dari tautan mengenai jalannya konferensi tersebut, kerjasama dalam bidang ekonomi dianggap yang memiliki tingkat kesulitan terkecil. Kinerja pengerjaan cetak biru dari berbagai kebijakan ekonomi telah mencapai hampir 80%. Termasuk diantaranya kebijakan pengurangan hampir 100% pajak impor di Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Juga penghapusan pajak impor hampir 100% di negara-negara sisanya.

Walau dari kesejahteraan ekonomi secara umum, ada jurang menganga cukup lebar diantara negara-negara anggotanya, urusan ekonomi bisa dibilang … masih dalam batas aman terkendali :D.

Soal keamanan yang bikin deg-degan. Terutama perselisihan tentang Laut Cina Selatan yang melibatkan Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina vs non ASEAN (Cina dan Taiwan). Masalah ini dianggap besar dan terus digenjot upaya perundingannya dalam ruang lingkup ASEAN sendiri. Minimal mengupayakan agar sesama anggota ASEAN tidak saling ‘memakan’.

Tiga Pilar Untuk ‘Rumah yang Kokoh’

Bangunan yang bagus dan kokoh tercipta dari bahan-bahan pilihan. Batu batanya mesti yang kuat. Semennya enggak boleh yang murahan. Pondasinya apalagi. Atapnya juga harus tahan hujan dan enggak gampang diterbangin angin. Pintu-pintu dan jendela-jendela dibuat dengan seksama agar ventilasi udara nyaman bagi seluruh penghuni rumah.

Tujuan dibangunnya sebuah gedung kan beda-beda. Ada yang akan berfungsi sebagai mal, sebagai kantor, sebagai rumah sakit dsb. Maka, semua ruangan dalam bangunan harus sinkron dengan tujuan pembangunan.

Gambar : vimeo.com
Gambar : vimeo.com

Tak beda dengan proses penciptaan sebuah komunitas yang baik. Keberhasilan Komunitas ASEAN 2015 meraih tujuannya sangat bergantung kepada keberhasilan masing-masing anggota. Baik Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei,  Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar adalah bahan-bahan baku utama dalam pembangunan Komunitas ASEAN 2015. Kesepuluh negara-negara ini adalah batu bata, semen, atap dll, bagi “Rumah ASEAN.”

“Rumah” ini sudah ditujukan untuk melindungi ketiga pilar Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya untuk seluruh negara-negara ASEAN. Dimana kita bersatu untuk tujuan yang sama, saling berkerja sama secara optimal untuk membentuk satu ‘kekuatan baru’ dengan memajukan kawasan ASEAN di mata dunia.

Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat diuntungkan oleh letaknya yang strategis. Posisinya di persimpangan antara konsentrasi industri, teknologi dan kekuatan militer di Asia Timur laut ke utara, sub-kontinental dan sumber-sumber minyak di Timur Tengah ke Timur, dan Australia ke selatan.

Secara ekonomi Asia Tenggara merupakan bagian perdagangan dengan volume yang tinggi dari negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Australia. Belum lagi jumlah penduduknya yang luar biasa, kerap dijadikan ‘pasar potensial’ bagi perdagangan internasional.

Sudah saatnya ASEAN jadi pemain utama. Bukan hanya obyek, bukan sebatas konsumen potensial. Sesama ASEAN, saling berbagilah. Singapura-Brunei-Malaysia yang memiliki kekuatan ekonomi yang kuat bisa menularkan keberhasilan yang sama bagi anggota lainnya.

Semangat dan kesadaran sebagai wilayah satu rumpun bisa memupuskan rasa ego dari kepemilikan ragam budaya di seputar ASEAN. Ide “Taman Mini Indonesia Indah” itu mungkin bisa diterapkan dalam Sosial-Budaya ASEAN. Daripada saling klaim, mending kita buat sebuah “Taman Budaya ASEAN.”

Masing-masing negara silakan bernarsis-narsis ria di sana, pamerkan semua kebudayaan yang kita punya. Gali keunikan masing-masing. Lantas kita buka untuk khalayak internasional. Pukau Uni Eropa, Amerika, Australia, bahkan sesama Asia dengan kekayaan kultural ASEAN :).

Daripada rebutan wilayah perbatasan, energinya dipakai untuk mengoptimalkan jalur perdagangan saja. Asalkan kita ingat, KESATUAN TUJUAN, harusnya tak masalah daerah mana punya siapa, asal sesama ASEAN :).

Untuk pertikaian dengan pihak di luar ASEAN, kita tetap harus tegas tapi jangan cari musuh. Dengan Cina misalnya. Ngapain, sih, berantem? Mending kerja sama.

Penduduk Cina itu di atas 1 milyar jumlahnya. Bayangkan bila barang-barang dari ASEAN bisa berjaya di sana ^_^. Tukar-tukaran barang ceritanya sama Cina hehehe.

Kata orang bijak, “Satu musuh terlalu banyak, satu juta teman takkan pernah cukup” ^_^.

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
 

Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan yang Sama

Anggaplah semua negara-negara ASEAN tengah berlari. Pastikan kita berada di lintasan yang sama, menuju garis finish yang sama. Kalau larinya sendiri-sendiri, lintasannya beda pula, manalagi garis finishnya tidak sama, mempersatukannya bagaimana?

Itulah gunanya berbagi kekuatan. Larinya sambil berpegangan, agar tidak ada ngacir duluan, tidak ada pula yang ketinggalan sampai terlalu jauh. Sambil berlari, saling menyemangati …

“Indonesia, ayooooooo.. Singapura, terus semangat…Myanmar, mana suaranya?”

“Yuhuuu Thailand, are you still there? Hold on, Laos! Kami bersamamu, Filipina.”

“Malaysia, go, go, go! Faster, Brunei, faster! Maju terus Vietnam. Kamboja, yes, yes, yes!”

Perhatikan pertandingan sepak bola. Kalau pertandingan di kandang sendiri, pemain biasanya punya semangat lebih. Salah satunya ya karena dukungan pendukung yang lebih heboh ketimbang di kandang lawan.

Lintasan sudah sama, larinya bareng menuju garis finish dimana masa depan cerah menanti kita semua :). Karena berpegangan, menyentuh garis finishnya pun sama-sama. Amin.

gambar : dreamstime.com
gambar : dreamstime.com

Komunitas ASEAN Blogger, Salah Satu Ujung Tombak Informasi

Nah, bagaimana caranya agar semua masyarakat di masing-masing negara memiliki persepsi yang sama ini? Larinya harus di lintasan yang mana? Garis finishnya di mana? Pegangan tangannya sama siapa saja?

Penyebaran informasi adalah hal mutlak. Di era digital, masa mau mengandalkan media cetak resmi saja? Diberdayakan, dong, jurnalis warganya. Salah satu tujuan dibentuknya Komunitas ASEAN Blogger ya bukan cuma untuk berburu hadiah di lomba-lomba blog, kan? *ups* hahaha.

Sebarkan cita-cita Komunitas ASEAN 2015. Blogger itu kan terjadi dari banyak kalangan. Ada kalangan profesional, kalangan emak-emak hehehe, sampai alay juga ada. Kita coba untuk mengabarkan dengan cara kita masing-masing. Kita satukan masyarakat ASEAN, beritakan tujuan dan langkah-langkah positif yang bisa kita tempuh untuk pencapaian masa depan yang lebih baik untuk kita semua.

***

Walau tujuan sama, tidak berarti kita harus melebur menjadi karakteristik yang sama. Singapura harus jadi negara agraris. Thailand harus memiliki komunitas muslim yang besar. Pokoknya Filipina harus punya sumber daya minyak sebanyak Brunei. 

Kekuatan justru datang dari perbedaan yang dimanfaatkan untuk tujuan yang sama dan seimbang. Karena sejatinya,

“Strength lies in differences, not in similarities”  ― Stephen R. Covey

 

Jangan lupa… ASEAN is not only in my hand, nor in your hand, but… “ASEAN in OUR hands.”

Dear Bloggers, manfaatkan jari-jarinya sepositif mungkin ya, Kakaaaaa :P.

123rf.com
123rf.com

***

You Never Shine If You Don’t Glow, Laos!

Namanya juga ibu-ibu. Begitu mendengar Laos, selain sudah tahu bahwa Laos adalah salah satu negara ASEAN, pikiran langsung bercampur dengan urusan dapur :P. Laos adalah nama lain dari lengkuas, salah satu bumbu khas di tanah air.

Untuk sebagian besar masakan utama nusantara, laos hanya dikenal sebagai bumbu tambahan. Tapi ketidakhadirannya memiliki pengaruh yang tidak kecil. Walau tak terlihat, cita rasa lengkuas mempengaruhi rasa keseluruhan masakan.

Hal yang sama bisa kita analogikan untuk kehadiran negara Laos di tengah-tengah negara ASEAN lainnya. Bersama Vietnam, Kamboja dan Myanmar, Laos termasuk pendatang baru dalam Komunitas ASEAN. Kehadiran keempat anggota tambahan ini membuat ASEAN makin semarak sekaligus menimbulkan ketimpangan. Terutama dalam urusan pendapatan negara alias … urusan duit. Hehehe. 

gambar : travel.nationalgeographic.com
LAOS (gambar : travel.nationalgeographic.com)

Bukannya mata duitan :D. Soalnya kerjasama dalam bidang Ekonomi adalah salah satu dari 3 pilar utama yang ingin dikejar dalam kesuksesan kerjasama Komunitas ASEAN 2015 nanti, selain bidang Keamanan dan Sosial Budaya.

Seperti yang pernah saya tekankan dalam penutup tulisan saya yang lalu,

Menuju terbentuknya Komunitas ASEAN 2015, Sangat penting mensejajarkan kualitas antar bangsa dalam merintis sinergi positif bersama negara-negara ASEAN lainnya. Keseimbangan dalam berbagai hal adalah kunci dari hubungan yang sehat dalam bidang apa pun.

Misalnya saja kisruh ekonomi yang pernah dan masih menimpa negara Yunani yang tergabung dalam Komunitas Uni Eropa. Yunani yang meradang, seluruh Uni Eropa ikut pusing tujuh keliling.

Laos, Pacar Ketinggalan Kereta

Posisi perekonomian Laos memang jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya. Sebenarnya sih malas, ya, bawa-bawa grafik. Tapi saya bikin grafiknya sesederhana mungkin untuk melihat posisi perekonomian “Negeri Seribu Gajah” ini dibanding sembilan anggota lainnya.

Datanya saya ambil dari situs wikipedia di sini. Enggak usah kita bahas angka-angka. Saya terjemahkan langsung ke dalam bentuk pie chart warna warni biar kelihatan unyu dan mudah-mudahan tidak bikin pening :P.

Jumlah Penduduk Negara-Negara ASEAN
Jumlah Penduduk Negara-Negara ASEAN

Kita mulai dari jumlah penduduk terlebih dahulu. Memang, jumlah penduduk Laos tergolong 3 yang terkecil. Penduduk Laos hanya lebih banyak daripada Singapura dan Brunei saja. Potongan kue paling gede siapa lagi kalau bukan…Indonesia! :D. Brunei tidak muncul karena jumlah penduduknya sangat sedikit berdasarkan tautan yang saya jadikan sumber data tadi.

Tapi jangan kaget kalau melihat pendapatan per kapita (per kepala) / tahun negara-negara di ASEAN. Kebalikan dengan jumlah penduduk, justru Singapura dan Brunei yang miskin jumlah warga mencuat dalam segi kesejahteraan tiap penduduknya. Jauh melampaui negara-negara ASEAN lain. Laos masuk 3 terbawah.

Total Pendapatan Negara diantara negara-negara ASEAN
Total Pendapatan Negara diantara negara-negara ASEAN

Kategori kekuatan ekonomi suatu negara juga dinilai dari Pendapatan Nasional secara keseluruhan. Didukung oleh jumlah penduduk yang dahsyat serta sumber daya alam yang cukup mumpuni, Indonesia tetap bertengger di urutan paling atas ^_^. Laos, lagi-lagi menempati peringkat paling bawah.

Sudah terbayang tidak kedudukan Laos? Laos bukan negara dengan penduduk paling sedikit. Bukan negara dengan luas wilayah paling kecil. Laos masih jauh lebih luas dibandingkan Singapura, Brunei dan Kamboja. Tapi pendapatan nasionalnya sangat kecil.

Kesempatan dalam Kesempitan, Posisikan Laos Sebagai ‘Jembatan Penghubung’

Kalau Indonesia terlihat rumit dengan wilayahnya yang terpencar-pencar dalam bentuk kepulauan dan selat-selat, letak negara Laos yang terjepit di tengah-tengah juga kurang menguntungkan. Laos sama sekali tidak berbatasan dengan laut. Laos berbatasan darat secara langsung dengan RRC, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Posisi ‘terkunci’ ini juga menyebabkan Laos sering kena getah bila negeri tetangga bergejolak. Terutama dari Vietnam dan Myanmar yang pernah berkubang dalam konflik internal berkepanjangan. Logikanya, bila negara sedang bermasalah, sebagian warga pasti mencari perlindungan ke negara-negara tetangga yang mudah dijangkau. Hingga stabilitas dalam negeri negara tujuan ikut-ikutan terganggu.

Jembatan Penghubung (123rf.com)
Jembatan Penghubung (123rf.com)

Tapi, Laos bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Laos punya potensi sebagai negara penghubung. Apalagi Laos punya hubungan baik dengan Cina (karena sama-sama menganut paham komunis), sementara kita tahu Cina tengah habis-habisan menggenjot produksinya. Barang-barang Cina dipakai di mana-mana.

Laos bisa jeli melihat peluang ini. Segera maksimalkan potensi sebagai ‘jembatan penghubung’ antara Cina dan negara-negara ASEAN lainnya via darat. Tak cuma dengan Cina, Laos juga bisa menyediakan infrastruktur transportasi yang memadai untuk membantu perdagangan via darat antara wilayah utara Bangkok dan wilayah Hanoi misalnya. Jalan terpendek untuk arus pengiriman kedua kota besar ini adalah melalui daratan Laos.

Cuma, infrastruktur Laos memang masih kurang digali. Berdasarkan tautan berikut, infrastruktur Laos masih sangat minim di berbagai wilayah. Fokus pada pembangunan infrastruktur juga membawa dampak internal yang baik bagi warga Laos. Transportasi sungai mungkin bisa dikembangkan dengan membangun jembatan secara fisik. Irlandia yang wilayahnya bertabur sungai juga rajin membangun jembatan :).

Dari tautan yang sama juga, Laos ternyata kekurangan sumber daya manusia berpotensi karena sebagian besar mereka ‘kabur’ ke luar negeri mencari kesempatan yang lebih baik. Kalau dalam negeri sudah dibenahi, dijamin pada betah, kan, enggak kabur-kabur lagi ;).

Sulit juga. Mau membangun, sumber daya terbatas. Nah, soal sumber daya manusia di era-era pembangunan awal, yang negaranya sarat penduduk ahli bisa menawarkan bantuan. Para insyinyur di Indonesia, mana suaranya? Hehehe. Daripada ilmu tak terpakai karena semua sibuk melamar kerja di bank, hayoooo :P, mending sebagian hijrah ke Laos :D. Tentu saja peran dan perlindungan dari segi diplomatik dan sebagainya, baik pemerintah Laos maupun Indonesia sangat dinanti ;).

Bila infrastruktur transportasi Laos membaik, selain Cina, yang kena manisnya adalah negara-negara ASEAN di sekitarnya juga, kan? Ada Thailand-Myanmar-Kamboja-Vietnam. Mengingat potensi keuntungan yang cukup tinggi secara ekonomis, keempat negara ASEAN tadi bisa aktif berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur dalam negeri Laos. Didukung dengan investasi sumber daya manusia dari Indonesia, tambah tokcer, deh.

Laos, Potensi Kekayaan Alam yang Tak Ada Matinya

Kalau berbicara sumber daya alam, sebagian besar negara-negara ASEAN ternyata kaya. Termasuk Laos. Sebut saja, potensi wisata? Banyak.

Enggak usah banyak ditulis. Disimak langsung saja foto-fotonya ^_^.

Laos

Belum lagi dari info di sini, bahwa pada 1993 lalu, pemerintah mencanangkan 21% dari wilayah negara sebagai Area Konservasi Keanekaragaman Hayati Nasional (National Biodiversity Conservation Area/NBCA), yang akan dikembangkan menjadi taman nasional. Bila jadi, diperkirakan akan menjadi taman nasional terbaik dan terluas di Asia Tenggara. Yes!

Soal wisata, Laos bisa aktif bekerjasama dengan Thailand. “Negeri Gajah Putih” ini termasuk salah satu wilayah wisata yang popular di ASEAN. Letaknya bersebelahan langsung dengan Laos. Bisa saling berinvestasi di bidang penawaran paket wisata. Misalnya bikin program “Bulan Madu Seminggu di Thailand dan Laos” (“One Week of Happiness in Thailand and Laos”).

Letaknya yang berdekatan, biayanya bisa ditekan, kan? Jadi, pengunjung bisa menikmati Thailand dan Laos dengan harga yang terjangkau.

Potensi lainnya bagaimana? Saya ambil dari sumber yang ini,  Laos juga punya  koleksi hasil hutan. Ada kayu  jati dan cendana yang bisa diolah dengan harga jual yang tidak main-main. Tanaman pertanian bervariasi dari padi, jagung, ubi-ubian, kopi, tembakau, kacang tanah dan kapas.

pertanian
123rf.com

Ini masalahnya mirip-mirip semua antar beberapa negara ASEAN. Potensi segambreng, pengolahan dan promosinya yang masih ngos-ngosan 🙁.

You Never Shine if You Dont’ Glow, Laos!

Soal wisata di Laos, adanya pembebasan visa dari tiap kunjungan antar sesama anggota ASEAN (kecuali Myanmar) minimal sudah bisa mengangkat jumlah turis secara signifikan. Jangan meremehkan potensi jumlah penduduk ASEAN. Seluruh penduduk ASEAN ini kalau digabung jumlahnya lebih  besar daripada seluruh penduduk Uni Eropa, lho ;).

Kuncinya? Promosi, promosi, promosi. Selain promosi, transportasi dan akomodasi lagi-lagi kunci kelemahan sebagian besar wilayah ASEAN.

Contohnya saja, banyak teman-teman saya di Jakarta mengeluh, biaya ke Raja Ampat-Papua masih lebih mahal daripada  biaya liburan ke Legoland Malaysia?  Padahal yang satu dalam negeri yang satunya ke luar negeri. Tanya kenapa?

Pada akhirnya, kita cuma bisa memberi ide ini itu. Pelaksanaan ada di tangan pemerintahan Laos. Sebagai sedikit dari negara berpaham komunis yang tersisa, Laos sudah menunjukkan kemajuan dengan memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat sejak tahun 2004. 

Komunitas ASEAN 2015 bisa menjadi cambuk bagi masing-masing anggotanya yang tertinggal untuk mengejar yang lain. Sekaligus menjadi kesempatan untuk berbagi bagi negara-negara yang sudah lebih dahulu melesat. Banyak memberi banyak menerima. Win-win solution.

Sedangkan untuk Laos sendiri, “For us to regard others as worthy, we have to begin by regarding ourselves as worthy.” (Stephen Richards)

Agar orang lain bisa menghargai keberadaan kita, penghargaan terhadap eksistensi diri dimulai dari diri sendiri :). Remember … you never shine if you don’t glow. Bersinarlah, Laos. Bersama-sama kita pendarkan cahaya ASEAN jauh menembus pelosok dunia :).

123rf.com
123rf.com

***

Vietnam, What Doesn’t Kill It Makes It Stronger!

Di bulan Agustus tahun 1945, dua buah bom atom mengukir sejarah besar dengan meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Hantaman bagi kedua kota di Jepang ini menjadi musibah sekaligus anugerah.

Musibahnya jangan ditanya. Lebih dari 200 ribu nyawa melayang, dan sangat banyak korban hidup yang menderita luka dan cacat akibat pengaruh radiasi. Seumur hidupnya, Truman, presiden Amerika Serikat selalu pelaku pengeboman tersebut kala itu, mungkin tak akan pernah hidup tenang.

Tapi, dunia pun mencatat peristiwa mengenaskan tersebut sekaligus mengakhiri Perang Dunia ke-2. Segera setelah peristiwa tersebut, Jepang menyerah. Salah satu negara yang terkena imbas positif adalah Indonesia. Yang meraih kemerdekaannya di bulan dan tahun yang sama setelah kedua ledakan bom tersebut mengguncang dunia. Kedua hal ini akan terus menjadi perdebatan moral yang tak akan ada habisnya.

Siapa menyangka, derita perang tersebut nyaris tak berbekas lagi di Negeri Sakura ini. Jepang malah bangkit dan merebut tahta sebagai salah satu raksasa perekonomian dunia. Siapa menduga, dalam waktu singkat mereka sukses menanggalkan pakaian penderitaan dan menggantinya dengan jubah kemenangan. Luar biasa.

Kalau Dunia memuja Jepang, ASEAN punya Vietnam ;).

vietnam

Vietnam … Terus Berlari, Makin Bersinar

Berdasarkan sontekan dari ‘Paman Wikipedia’ :P, selama 8 tahun Vietnam menjadi korban perseteruan kubu komunis vs liberal. Vietnam Selatan yang didukung penuh oleh Amerika Serikat dan konco-konconya bertarung melawan saudara mereka sendiri di belahan Vietnam Utara yang digawangi oleh Uni Sovyet dan anggota gengnya.

Bertahun-tahun tersandera dalam perang, perekonomian menghadapi tantangan luar biasa ketika akhirnya gencatan senjata di tahun 1973 menyudahi perang berdarah tersebut. Mulailah Vietnam menata kembali masa depannya, mengumpulkan serpihan-serpihan harapan yang pecah berserakan kala perang melanda.

Istimewanya, lagi-lagi dapat bocoran dari Wikipedia :D, Vietnam mengadopsi pembangunan terencana ala Orde Baru, Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Waduh, malah lebih sukses yang meniru daripada yang ditiru. Hehehe.

Pendapatan Vietnam secara nasional terus melejit. Bahkan menjadikannya sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ke-2 di dunia! Tingkat kemiskinan di negara yang dijuluki “Vietnam Rose” ini menurun secara drastis dan kini lebih sedikit daripada Cina, India dan Filipina. Lebih lanjut silakan dicek di link bocoran dari wikipedia tadi, ya ;).

Tidak hanya sukses menjadi eksportir beras nomor 2 setelah Thailand, Vietnam pun menduduki nomor 2 dalam urusan jual menjual kopi. Apa kabar Indonesia? :(.

Padahal beras dan kopi ini merupakan salah satu produk andalan Indonesia. Karena tema #day5 dari #10daysForASEAN adalah komoditi kopi, maka kita tinggalkan beras sejenak :D.

Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)
Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)

Kopi, Si Hitam Manis dari Alam Tropis

Saya enggak usah berceramah soal jenis-jenis kopi di sini, ya. Tapi jenis-jenis kopi tersebut bisa diintip di tautan berikut ini :). Kopi termasuk tanaman khas yang tumbuh subur di negeri-negeri tropis. Tidak heran jika ketiga negara penghasil kopi terbesar di dunia adalah : Brazil, Vietnam dan Indonesia. Semuanya dikenal sebagai negara dengan curah matahari yang tinggi di hampir sepanjang tahun.

Agak unik juga fakta bahwa Vietnam sanggup menghasilkan kopi yang lebih banyak daripada Indonesia. Luas wilayah Vietnam sendiri hanya sekitar 331 ribu km persegi. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki luas daratan sekitar 1.9 juta km persegi.

Kopi Indonesia
Kopi Indonesia

Kuantitas memang tidak berpengaruh banyak jika tak ditunjang oleh kualitas dan perhatian secara berkesinambungan. Sebelum buru-buru ‘nyinyir’in pemerintah , kita harus memahami dulu betapa kompleksnya negeri kita dibanding Vietnam ini.

Vietnam sendiri memang sangat fokus kepada sumber daya alam kopinya. Sementara Indonesia, selain kopi, juga punya banyak sumber daya alam lain yang sangat potensial. Rempah-rempah misalnya. Walau jenis kopi di Indonesia itu sangat beragam dan tumbuh subur di hampir seluruh wilayah nusantara, perhatian pemerintah masih terpecah-pecah.

Coba lihat kasus dalam tautan berikut ini.

“SEBANYAK 130 kontainer ekspor kopi Lampung baru-baru ini ditolak dengan alasan kandungan residu pestisidanya melampaui ambang yang ditoleransi negara tujuan!” ujar Umar. “Terkait pengalaman itu, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said menyatakan Pemprov akan berusaha meningkatkan mutu kopi Lampung melalui sertifikasi kopi untuk ekspor. Dengan sertifikasi yang diatur Pergub itu, pelaku usaha memiliki posisi tawar lebih baik dalam negosiasi!”


Kejadiannya bukan beberapa tahun lalu. Tapi kalau melihat tanggal di beritanya, ini peristiwa di bulan Mei tahun ini. Pantas saja dianggap sebagai sesuatu yang ‘memalukan’. Masa iya, komoditas sebesar dan setenar kopi untuk Indonesia belum dibuatkan “Pergub Sertifikasi Kopi”-nya? :(. Mudah-mudahan sekarang sudah ada, ya.

Kontras dengan Vietnam yang sangat fokus dalam hal pertaniannya. Selain reformasi kepemilikan tanah, kerjasama optimal dengan pihak swasta, infrastruktur transportasi juga digenjot habis-habisan. 

Selain luasnya wilayah dan geografis yang terdiri dari wilayah kepulauan, masalah infrastruktur transportasi juga ikut menyumbang rumitnya masalah peningkatan kualitas dan kuantitas hasil pangan nusantara secara umum.

Saya punya pengalaman soal dampak infrastruktur transportasi ini. Dulu, saya bekerja sebagai IT-Business Analyst di salah satu consumer goods di tanah air. Pekerjaan saya berada di area Supply Chain – Distribusi.

Dalam beberapa rapat, saya melihat betapa rumitnya perdebatan antara manajer sales dan manajer distribusi-supply chain dalam usaha menekan biaya pengiriman barang dari Jawa ke luar Jawa. Apalagi ke wilayah Indonesia Timur. Selain masalah biaya, masalah keamanan dan durasi waktu juga cukup merepotkan. Terlebih lagi untuk produk-produk makanan yang memiliki waktu habis masa konsumsi (expired date) yang singkat.

Jadi jelas, ini pekerjaan besar buat pemerintah kita, ya. Kopi dan komoditas unggulan lainnya juga  bergantung pada faktor-faktor lain seperti misalnya transportasi. Pemerataan pembangunan di semua wilayah Republik Indonesia menjadi salah satu harga mati demi meraih kesuksesan untuk ikut berperan utuh dalam  Komunitas ASEAN 2015. 

Bersatu Kita Oke, Bercerai Kita Keo(k)

Vietnam vs Indonesia? Aduh, jangan sampai, ya!

Mempertentangkan potensi kopi masing-masing akan berbanding terbalik dengan tujuan utama dibentuknya Komunitas ASEAN 2015. Justru, kita ingin seluruh negara-negara yang bernaung di bawah bendera ASEAN melejit bersama dalam kerja sama di bidang Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya.

Dengan resesi yang tengah melanda negara-negara maju / negara barat, nilai jual kopi terus mengalami gonjang-ganjing. Daripada saling rebutan pasar ekspor yang tengah meredup, bagaimana kalau Vietnam dan Indonesia duduk bersama mencari celah untuk memasarkan kopi masing-masing? Bikin terobosan baru kek, misalnya mengolah kopi menjadi makanan ringan lain selain hanya diseduh menjadi minuman ;).

Vietnam dan Indonesia bisa menyatukan para ahli perkopian di negara masing-masing untuk membuat laboratorium bersama. Saling menyatukan ide untuk menciptakan varian-varian baru dari pemanfaatan kopi ini. Biaya lebih  murah juga kan kalau ditanggung bersama? Katanya lagi, beberapa kepala lebih baik daripada satu kepala ;).

Brainstorming (123rf.com)
Brainstorming (123rf.com)

Justru Vietnam dan Indonesia harus bersatu mengalahkan Brasil. Sudah cukuplah negara latin satu ini berjaya di sepak bola dunia :P. Urusan kopi, yuk kita robohkan hegemoni Brasil bersama-sama ^_^. 

Dengan menyatukan misi, yaitu menjadikan ASEAN sebagai negara-negara penghasil kopi terbesar di dunia, kita juga bisa menggandeng dukungan dari negara ASEAN selain Indonesia dan Vietnam. Misalnya dengan ‘memaksa’ sesama anggota ASEAN agar tidak mengimpor kopi dari negara mana pun kecuali sesama ASEAN sendiri. 

What Doesn’t Kill Us Makes Us Stronger 🙂

Selain berusaha mencuri urusan produksi kopi, kita pun bisa belajar dari kebangkitan Vietnam dalam urusan perekonomian. Akhir-akhir ini, masalah demi masalah terus melanda negeri kita tercinta.

Didera masalah korupsi, rupa-rupa kegalauan di urusan politik, jangan sampai menyurutkan semangat untuk maju. Berhenti dong menyebarkan hal-hal negatif tentang negara sendiri :(.

Ingat, siapa yang bisa menebak nasib Vietnam di awal tahun 70 an silam? Vietnam, yang terkenal di berbagai film perang buatan Hollywood ini, kini terus melupakan masa lalunya dan bangkit secara mengejutkan.

Sesuai kata pepatah, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.” Untuk menikmati cantiknya pelangi, kita harus berpayah-payah dulu bertahan dalam hempasan air hujan.

Semoga masalah-masalah yang sepertinya telah siap menelan bulat-bulat negara kita yang pernah digelari “Macan Asia” ini adalah sebuah cobaan kecil saja untuk meraih kesejahteraan yang jauh lebih baik.

What doesn’t kill us can only make us stronger. We’re not dying, we’re just fighting to be the best. Aren’t we? ;). 

Tagline

***

Dampak Konflik di Myanmar Terhadap Visa ASEAN

123rf.com
123rf.com

Saya pernah punya tamu yang perangainya kurang menyenangkan. Bikin bete lah pokoknya. Saat dia berkunjung, bau semerbak dari pewangi kain pel yang baru saja selesai saya gunakan untuk mengepel seluruh lantai rumah masih tercium. Dia juga ikut  berbasa-basi, “Wah, baru dipel, ya?”

Saya senyum-senyum simpul. Tapi langsung bengong ketika dia tetap masuk ke dalam rumah. Bukannya saya mengharapkan dia untuk mengobrol di depan pintu saja, tapiiiiii…dia masuk tanpa melepaskan alas kakinya! Yang  jelas-jelas telah dipakainya berjalan di atas tanah. Dia itu tetangga saya dan letak rumahnya hanya beberapa puluh meter. Saya pastikan dia berjalan kaki dari rumahnya ke tempat saya.

Ah, ah, ah :(. Kesalnya minta ampun. Manalagi hari itu embak saya enggak masuk. Jadi, saya sendiri yang membenahi seluruh isi rumah. Meski berusaha tetap sopan saya sudah berjanji dalam hati, “Lain kali situ datang lagi, saya cari-cari alasan ah biar tidak usah membuka pintu!”

Anda Sopan, Kami Segan

123rf.com
123rf.com

Nah, itu baru ritual mengunjungi rumah tetangga. Akan lebih kompleks lagi kalau yang kita kunjungi adalah…negeri orang lain. Meskipun masih termasuk negara tetangga.

Salah satu persyaratan untuk memasuki negara lain bagi warga pendatang adalah ketersediaan visa. Yang harus diurus secara resmi di lembaga berwenang misalnya di kantor kedutaan negara yang dimaksud atau di konsulatnya.

Lho, kita kan mau liburan ke tempat mereka. Berarti kedatangan kita harusnya disambut dengan meriah. Manalagi kita datang pastinya akan membelanjakan uang kita di sana, bayar hotel lah, beli oleh-oleh lah, makan-makan lah dsb. Devisa buat negara tersebut otomatis bertambah. Sudah selayaknya kita minta dihormati habis-habisan.

Tentu saja kalau tamu harus dihormati itu benar banget. Tapi, tamu macam mana dulu, nih? Saya sih tidak keberatan didatangi siapa saja. Asalkan memenuhi semua persyaratan layaknya seorang tamu. Kalau tamu pribadi, urusan attitude yang menjadi perhatian utama. Sementara kunjungan ke negara lain, kelengkapan dokumen jangan dianggap remeh.

Visa bisa dikatakan semacam izin. Misalnya, kita lebih senang bila kedatangan tamu yang menelepon terlebih dahulu. Kan bisa siap-siap, masakin yang enak, suguhin kue-kue yang sedap dll. Fungsi visa ya seperti itu. Agar negara yang bersangkutan tahu dan memiliki data lengkap sang pengunjung.

Visa, jangan hanya dipandang sebagai ‘tetek bengek yang merepotkan’ (padahal emang repot sih hihihihi :P), tapi dokumen ini adalah pelindung keberadaan kita di negeri asing :). Coba bayangkan kalau ada apa-apa. Anda kecelakaan misalnya. Atau anda punya masalah saat bekerja atau anda kena tipu dalam jumlah besar dan sangat merugikan. Mau lapor ke mana?

Nah, kalau tidak punya visa, bukannya ditolong malah anda akan tertimpa tangga pula setelah tadi terjatuh.

Visa juga bentuk perlindungan tersendiri bagi negara yang kita kunjungi. Urusan dokumen seperti ini yang bisa menimbulkan kekisruhan yang tidak sedikit seperti pengalaman saya semasa tinggal di Jeddah, Saudi. Banyaknya pendatang yang masuk dengan menggunakan visa turis malah kebablasan dan keterusan menjadi pekerja ilegal di Saudi.

123rf.com
123rf.com

Pastilah pemerintah Saudi menjadi pening. Kalau datang sebagai turis ya senang karena banyak pemasukan dari pendatang. Tapi kalau sampai tinggal dan menetap tentu akan menjadi beban pemerintah. Apalagi di negara-negara Timur Tengah yang tidak membebankan pajak penghasilan. Ibaratnya, kita menumpang hidup di sana. Bayar pajak enggak tapi ikut berjejalan menikmati fasilitas di negara tersebut. Apalagi di Saudi, biaya hidup sangat murah karena tingginya subsidi dari pemerintah untuk seluruh pemukim.

Makanya, visa itu terdiri dari beberapa jenis. Visa turis, visa bisnis, visa kerja dll. Tiap jenis memiliki durasi masing-masing. Visa turis tentu paling singkat. Bisa diperpanjang kok kalau mau dan negara yang dikunjungi memberi restu ;). Kita juga malas kan kalau tamu tinggal terlalu lama. Lama-lama yang tadinya senang jadi curiga, “Ngapain ya dia berlama-lama di sini? Ada niat apa, ya?”

Pokoknya, kalau diminta bikin visa, enggak usah ragu. Bikin saja walau  kadang urusan seperti ini bikin mumet. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Have a nice holiday, Kakaaaaaa ^_^.

Ada Apa dengan Myanmar?

Komunitas ASEAN 2015 sudah di depan mata. Selayaknya beberapa sahabat yang sudah berjanji untuk saling bekerja sama dalam beberapa hal, kekompakan adalah hal mutlak untuk kesuksesan hubungan. Dalam hal ini, negara-negara ASEAN ingin bersinergi satu sama lain dalam bidang keamanan-ekonomi-sosial budaya.

Niatnya tentu ingin saling mendorong kemajuan di negeri masing-masing. Termasuk urusan pariwisata. Warga Indonesia yang ingin berkunjung ke sebagian besar negara-negara ASEAN dibebaskan dari urusan visa. Yayyyy, senang, doooonggg ;). Paling malas, deh, kalau mengurusi visa-visaan hehehe.

Tapi tidak dengan Myanmar. Negeri yang pemerintahannya baru saja lepas dari Junta Militer ini masih mewajibkan pengunjung di negaranya untuk memiliki visa dalam paspor masing-masing. Penonton kecewa :(. Mengapa oh Myanmar, mengapa? *drama*.

Cantiknya Myanmar (gambar : 123rf.com)
Cantiknya Myanmar (gambar : 123rf.com)

Jangan langsung berpikiran buruk dulu. Ingatlah, we don’t judge other for often we don’t know the whole story ;). Kita lihat dulu latar belakang negara tersebut sebelum berkomentar lebih jauh.

Berdasarkan referensi dari sini, Myanmar memang didera oleh perselisihan internal selama berpuluh-puluh tahun belakangan ini. Padahal mereka meraih kemerdekaannya sejak tahun 1948. Multi etnis dan agama menjadi sumber permusuhan di sana. Hingga akhirnya Junta Militer tampil dan memimpin negeri.

Kekerasan dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat luas akan kepemimpinan militer membuat orang-orang demo beramai-ramai. Stabilitas dalam negeri terus menerus bergoncang walaupun demo katanya berlangsung damai. Militer pun tidak tanggung-tanggung dalam membubarkan demo.

Awal 2011, barulah pemerintahan sipil mengambil alih kekuasaan negara. Baru dua tahun lebih ‘Negeri Ladang Seri Ranjau’ mencicipi aroma demokrasi. Julukannya saja ngeri begitu mengingat kisruhnya ‘perang saudara’ yang terus-terusan menghantam keamanan dalam negeri.

Setelah diterjang badai stabilitas puluhan tahun, tentu bukan hal mudah untuk langsung membuka diri pada dunia luar. Biarkan mereka memulihkan trauma mereka dulu. Sementara, untuk menyatukan seluruh aspirasi rakyat saja mereka belum sepenuhnya berhasil.

Toh, Myanmar tidak melarang sama sekali untuk dikunjungi, kan? Mengurus visa pun katanya sangat gampang. Ini referensi tentang pengurusan visa ke sana.

Sementara kita beri waktu dan dukungan bagi negara yang termasuk paling bontot dalam usia keanggotaan di ASEAN ini :). Itukan gunanya punya ‘teman’. Berbagi dalam suka dan duka. Saling  mendoakan saat mengalami kesulitan. Hidup ASEAN ^_^.

Saktinya “Bhinneka Tunggal Ika”

Melihat asal muasal kejadian yang menyebabkan Myanmar terpenjara dalam konflik internal puluhan tahun lamanya, sebagai bangsa Indonesia kita wajib bersyukur. Myanmar konon memiliki 8 etnis utama yang berbeda budaya dan agama. Hal inilah yang cukup sering memicu konflik dan kekerasan :(. Yang paling hangat adalah kisruh antara segolongan umat Budha dan etnis yang didominasi umat muslim, Rohingya.

Padahal Indonesia lebih luar biasa lagi keragamannya. Etnis? Saya saja tidak hapal. Di propinsi asal saya saja, Sulsel, ada 4 suku besar (Makassar-Bugis-Mandar-Toraja). Belum lagi suku-suku kecilnya, misalnya Enrekang. Ini bahasanya beda-beda semua, lho. Mayoritas suku Toraja juga beragama Protestan, kontras dengan Bugis yang sebagian besarnya adalah muslim.

Itu baru satu propinsi. Bagaimana dengan puluhan propinsi lainnya? *ngelapKeringat*. Tapi alhamdulillah, “Bhinneka Tunggal Ika” berhasil merekatkan segala perbedaan dan meredam segala kebencian. Semoga kedamaian selalu menaungi seluruh bumi Nusantara tercinta :).

Tagline

Walau begitu, jangan gentar melangkahkan kaki menuju Myanmar. Dengar-dengar, obyek wisata di sana tak kalah menariknya, lho ;).

Traveling ke mana pun pasti akan mengajarkan hal baru yang membawa pencerahan bagi kita. Memang sih tidak ada uangnya. Tapi ingat, pengalaman adalah permata berharga yang tak akan terbeli oleh harta, seberapa pun banyaknya ;).

Jadi…kapan kita ke Myanmar? ^_^.

***

Motivasi Indonesia : “Indonesia, In The Name of Asia.”

Motivasi Indonesia : Pernah melihat penampakan orang-orang Aborigin, suku asli yang mendiami daratan Australia sebelum diramaikan dan dikuasai oleh para pendatang? Berkulit gelap, berambut keriting, dengan cara berpakaian adatnya yang khas yang langsung mengingatkan kita pada … suku-suku asli yang mendiami Papua, wilayah paling timur nusantara.

Motivasi Indonesia
viuzza.net

Tak cuma itu, familiar tidak dengan kata “walabi“? Walabi itu mirip sekali dengan hewan khas Australia, kangguru. Nah, walabi ini bisa ditemukan di beberapa wilayah Papua, lho. Bergerak dengan cara melompat-lompat, walabi juga memiliki kantung di bagian perutnya. Hanya saja, walabi berukuran lebih kecil daripada kangguru.

Perpaduan Asia dan Australia, ‘Hati’ Indonesia Milik Asia Sepenuhnya 

Secara geografis dan sisa-sisa budaya yang masih menghiasi beberapa wilayah Indonesia, wilayah nusantara memang tidak sepenuhnya melekat pada Asia. Sebagian wilayah timur lebih condong kepada Australia.

Tapi jangan lupa satu fakta penting. Kini, suku aborigin dan berbagai macam budaya yang pernah mereka emban sudah nyaris menjadi masa lalu. Mayoritas warga “Negeri Kangguru” tersebut adalah warga kulit putih dengan perawakan yang sangat mirip dengan orang-orang Eropa.

Dari segi ekonomi pun, Australia telah jauh melambung tinggi meninggalkan sebagian besar negara Asia yang masih berkategori “negara berkembang.” Dengan pendapatan perkapita yang konon hampir mencapai 50 ribu USD di tahun 2009, Australia sangat layak bergelar “negara maju.” Aduh, pendapatan perkapita Indonesia sendiri sepersepuluhnya saja belum ada.

Benua Asia sendiri merupakan benua terpadat. Menurut link wikipedia di sini, Asia sudah menampung 60% dari keseluruhan penduduk dunia. Wow! Ditambah dengan bukti bahwa diantara 10 negara berpenduduk terbanyak di dunia, 6 diantaranya adalah negara-negara Asia (berturut-turut, Cina-India-Indonesia-Pakistan-Bangladesh-Jepang). Rengking 1 dan 2 nya diserobot oleh Cina dan India sekaligus :D. 

motivasi Indonesia
Rupa-rupa wajah Asia (gambar : 123rf.com)

Asia pun dikenal dengan keragaman budayanya. Wilayah Asia Timur Jauh yang didominasi Jepang, Korea, Cina dll, menawarkan serba serbi budaya oriental. Di Timur Tengah, budaya Arab mendominasi. Sementara di selatan ada India yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Di tenggara sendiri ya ada…ASEAN :).

Sejalan dengan ragam budaya, wisata kuliner dan bentang alam di Asia pun tidak kalah rupa-rupanya. Yang pedas-pedas, yang asin-asin, yang asem-asem, yang manis-manis, semuanya ada. Salah satu makanan andalah yang khas adalah NASI. Mulai dari Jepang, Arab, India sampai Malaysia, siapa yang tidak menjadikan nasi sebagai menu utama? Indonesia banget ini mah :P. Hihihi.

Motivasi Indonesia : Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)
Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)

Makanya, Indonesia lebih ‘nyaman’ berada dalam kehangatan Asia :). Inilah keunikan Indonesia yang harusnya kita garisbawahi. Bahwa sekalipun, tidak menyangkal rumpun kita yang sama-sama dari ras Asia, perpaduan antara kentalnya Asia di wilayah barat dan wajah Australia di Timur membuat kekayaan khasanah budaya Indonesia jauh melampaui negeri-negeri tetangga yang lain. Sudah saya jelaskan panjang lebar mengenai hal ini di tulisan #day2 kemarin, ya ;).

“In The Name of Asia”

Kalau mencari arti kata Asia sendiri, macam-macam jawabannya. Istimewanya, arti yang melekat pada kata Asia, selalu bisa dipadankan dengan kondisi Indonesia :).

Dari bahasa Yunani, katanya Asia bisa berarti “sunrise“. Lho? “Negeri Matahari Terbit” itu kan jatahnya Jepang, kan?

Hm…sebenarnya dalam urusan sinar matahari, Indonesia termasuk negara yang kaya limpahan sinar matahari. Di hampir sepanjang tahun, sinar matahari selalu setia menaungi Indonesia pada durasi yang nyaris tak berubah. Mau musim hujan,  musim kemarau, musim durian, musim diskon,  musim kawin :P, matahari selalu bersinar rata-rata dari pukul 6 pagi hingga 6 sore. Enaknya, tidak pusing mengganti-ganti kostum di setiap perubahan musim yang harus dialami oleh sebagian negara lain.

Terletak di jantung khatulistiwa, Indonesia termasuk negara yang beruntung dari segi cuaca. Kalau ingin merasakan pentingnya kehangatan matahari, tinggallah di kawasan Eropa, apalagi bagian utara. Dimana sinar matahari adalah hal yang cukup langka di hampir sepanjang tahun. Makanya, kurangilah keluhan, “Ah, Indonesia panas.”

Cuaca tropis memungkinkan banyak flora maupun fauna yang menghiasi berbagai wilayah di nusantara. Mau hewan khas Asia atau pun Australia, hidup rukun dan damai di atas tanah nusantara :).

Asia, masih berkaitan dengan Yunani, konon dalam mitologi Negeri Dewa Dewi disebutkan bahwa Asia adalah salah satu nama dari para Nereids. Nereids sendiri artinya roh perempuan yang ada di perairan laut. Laut? Iya, dong, perairan laut sangat identik dengan Indonesia.

MOtivasi Indonesia

Ketiga negara kepulauan yang cukup besar di dunia ada di Asia. Selain Indonesia, ada Jepang dan Filipina yang memilki kondisi geografis kepulauan yang mirip. Tapi, Indonesia yang paling besar dengan gugusan pulau yang jauh lebih banyak sekaligus memiliki garis pantai terpanjang. Luas perairan Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Tak salah bila Indonesia sering menyebut-nyebut dirinya sebagai Negara Maritim.

Dari sub judul pertama mengenai “hati” Indonesia yang lebih dominan pada Asia terlihat jelas bukan bahwa Indonesia adalah cerminan Asia dalam ruang lingkup lebih kecil. Semboyan “Bhinneka Tunggal  Ika” berbeda-beda tapi satu sejalan dengan keragaman dari benua Asia itu sendiri. “Hati” nusantara yang condong ke Asia karena  ragam budaya Asia yang saya sebutkan di sub judul pertama terpampang jelas di Indonesia.

MOtivasi Indonesia
Rupa-rupa wajah Indonesia (gambar : 123rf.com)

Malaysia menyebutkan dirinya sebagai “Truly Asia” karena di sana memang ada perpaduan 3 budaya utama khas Asia, Oriental (cina) – Hindi (India) – Melayu (ASEAN). Tapi, Indonesia lebih luas lagi. We are more than Asia itself 😉. Kita punya khasanah khas bagian Timur yang sekilas terpisah dari akar Asianya. Namun, sekaligus membuktikan akar yang ini mampu melebur menjadi satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keragaman ala benua Asia, perairan luas berdasar definisi Asia dalam mitologi Yunani, iklim yang berlimpah cahaya matahari berdasar definisi bahasa Yunani, membuat Indonesia lebih dari layak menyandang slogan, “In The Name of Asia.”

Brand atau slogan yang baik juga seharusnya mudah diingat dan memiliki kemiripan dengan nama produknya. Seperti kata-kata dalam pantun, ada rima-nya. Seperti Malay-sia yang sukses dengan “Truly-Asia” nya, Indonesia cukup tepat disandingkan dengan, “In the Name of Asia.”

“In-do-ne-sia … In-the-name-of Asia” ;).

Dengan Rupa-rupa Kekayaan Nusantara, Tak Ada Kata Terlambat

Sekitar dua tahun lagi, Komunitas ASEAN 2015 akan resmi terbentuk. Malaysia dengan “Malaysia Truly Asia”nya sudah menancapkan pesona wisatanya dengan sangat serius di berbagai belahan dunia.

“Malaysia is a very great country.” Sapa seorang warga asli Iran dengan sangat ramah saat kami menaiki lift yang sama, kala itu kala saya dan keluarga bermukim di kota Tehran.

“No, I’m not malaysian. I’m Indonesian,” jawab saya dengan senyuman.

Dia mengerutkan keningnya sebentar lalu segera berujar, “Aha, Indonezi. Tsunami?”

Ya ampun, yang dia ingat tentang Indonesia adalah peristiwa Tsunami yang memang sempat membuat nusantara memenuhi layar-layar kaca di seluruh dunia di penghujung tahun 2004. Sedih sekali, bukan?

Di Timur Tengah, nama Malaysia memang bergema lebih nyaring. Walau semasa tinggal di Saudi, banyak juga orang Arab yang memuji-muji cantiknya Indonesia. Ingat, tak pernah ada kata terlambat bagi siapa pun yang ingin berubah ke arah lebih baik :).

Bayangkan, bila diolah dengan optimal, seberapa kayanya negeri kita tercinta ini? Di darat kaya rempah-rempah dan padi-padian, di hutan ada karet dan aneka raga flora dan fauna, perairan nan luas pun mempersembahkan aneka rupa hasil laut. Tak cuma itu, terumbu-terumbu karang nan cantik bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata utama.

terumbu karang motivasi indonesia

Sudahlah, daripada ngambek, mari kita ikuti langkah-langkah nyata pemerintah di negeri-negeri tetangga kita (termasuk Malaysia dan Thailand) yang sukses melejitkan wisata negaranya di mata dunia. Itu kan salah satu sisi positif bergabungnya negara-negara ASEAN dalam Komunitas ASEAN 2015? :). Agar kita bisa saling berbagi hal yang indah-indah. Tidak malah saling membully, adu keren-kerenan dsb. Masih ingat dengan semangat “Take The Hits” dong ;).

Mau Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan lain-lainnya, intinya … ASEAN itu keren. Dengan membawa nama Indonesia terbang tinggi di khalayak internasional, dengan sendirinya kita membawa panji ASEAN di bahu masing-masing.

Memposisikan diri sebagai bagian dari komunitas ASEAN, dengan tidak melupakan identitas sebagai bagian dari wilayah Asia, mari sama-sama kita persembahkan … “Indonesia, In The Name of Asia.” Indonesia, untuk ASEAN, sebuah kebanggaan atas nama Asia.

Motivasi Indonesia

***

#10daysForASEAN  #day3