Gerakan 30 S PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (2)

Gerakan 30 S PKI atau disingkat gestapu kadang-kadang. S itu maksudnya bulan September.

Bagian 1-nya ada di sini, ya :).

1965 yang Revolusioner

Salah satu motivasi penulis, Roosa, menghabiskan waktu bertahun-tahun menyelidiki kejahatan kemanusiaan pasca Gestapu adalah rasa penasarannya terhadap PKI. Terlebih, mengingat saat itu PKI mengalami 2 kejadian yang sangat bertentangan dalam satu tahun terakhirnya berdiri. Menguatkan posisi sebagai partai terbesar namun runtuh begitu saja setelah Gestapu. Ada apa?

Fakta-fakta yang beredar yang mati-matian dibangun oleh Orde Baru dengan mudah dapat dipatahkan secara logika. Errr…logika penulis maksudnya. Kalau kita sih dulu-dulu tenang-tenang aja, ya. Hehehe. Pokoknya PKI itu komunis. Komunis itu atheis. Atheis itu paling benci sama umat Islam. As simple as it sounds.

Parahnya lagi, peristiwa ini sekaligus menjadi ambang kehancuran Soekarno. Soekarno seolah ikut bertanggung jawab. Secara beliau yang memberi dukungan penuh agar paham komunis tumbuh subur di tanah air. Padahal, Soekarno adalah seorang muslim yang taat. Serius. Anda boleh cek biografi perjuangan beliau di masa pergerakan. Aduh, ini kalau dibahas bisa melenceng dari isi buku. Di tulisan terpisah, ya 🙂.

Sebelum 1965, penulis meyakini pemerintah Indonesia belum pernah menerapkan perlawanan se’sadis’ ini. Menumpas satu organisasi secara keseluruhan (cukup ngeri ya booo, mengingat anggota PKI-nya saja mencapai 3 juta orang, belum lagi jumlah simpatisannya) karena peristiwa ‘sekecil’ G-30-S. Kecil?

Bandingannya ini, lho. Para pejuang kemerdekaan di tahun 1945-1949 tidak membunuh orang Belanda hanya karena dia Belanda. Catat. Orang zaman dulu lebih chaos situasinya tapi kewarasannya masih terjaga hehe. Integritas mereka tertuju penuh pada kemanusiaan .

Pemberontakan-pemberontakan di luar Jawa di masa Soekarno saat berhasil ditumpas juga hanya membuat Soekarno menangkapi pemimpin-pemimpinnya. Yang bawah-bawahnya lebih banyak yang diampuni.

Demikian pula ketika Soekarno berselisih dengan Syahrir dan PSInya. Hanya petinggi-petinggi PSI yang dipenjarakan dan diisolasi. Pengikutnya? Tidak ikut ditumpas yang pasti. Lebih banyak yang dibiarkan.

Soekarno terlalu percaya diri dengan Nasakomnya. Beliau sungguh percaya bahwa kaum nasionalis, komunis dan agamis (saat itu Islam mendominasi) bisa terjembatani. Jadi, beberapa kali beliau harus menghadapi ekstrimis dari kaum agama, nasionalis dan komunis sekaligus.

Di tahun 1965, setelah dalang G-30-S dipatahkan (dengan cukup mudah, tak sedrama yang di film hehehe), horor sebenarnya barulah dimulai. Era pembantaian manusia besar-besaran mulai digalakkan. Uniknya, pembantaian ini tidak membuat masyarakat secara umum didera rasa enggan.

Jangan dikira, pelaku pembantaian murni dari Angkatan Darat saja. AD lebih cerdik daripada itu. Soeharto sukses membuat PKI menjadi musuh nasional. Mengobarkan semangat perlawanan yang kalau dipikir sekilas tidak masuk akal dari hampir seluruh elemen masyarakat nonkomunis. Kalau pun ada yang tidak ikutan, minimal mereka tidak menghalangi.

Lebih jauh lagi, AD berhasil merintis ambisi utamanya : mahligai kekuasaan. Usai menggunakan Soekarno sebagai tameng pembasmian PKI, perlahan namun pasti, Soekarno pun dilengserkan. Jangan lupa, AD tahu betul kharisma beliau. Walau saat itu Soeharto sudah di atas angin, beliau sama sekali tidak berani menggugat ‘posisi’ Soekarno sebagai Presiden. ‘Presiden’nya tetap Soekarno, tapi yang menjalankan kekuasaan adalah AD. PKI remuk, barulah giliran Soekarno.

Jadi, saat itu pembantaian benar-benar terjadi tanpa perlawanan, kecuali dari keluarga korban. Yang kebanyakan hanya bisa menyimpan tangis dalam diam. Saat itu, membela siapa pun yang terciduk akan berakibat melayangnya nyawa tambahan. Ingat, masyarakat saat itu bisa dibilang ‘mendukung’ usaha Angkatan Darat.

Manalagi, Aidit secara ceroboh mengubah rencana. Membuat AD makin leluasa menuding PKI hendak menggulingkan Soekarno. Makin mudah meraih simpati masyarakat.

Dalih-dalih politik sekaligus agama digarap dengan sangat mantap. Masyarakat bisa lupa begitu saja bahwa mereka yang diseret dan bahkan harus mereka bantai adalah saudara atau tetangga mereka sendiri. Sentimen anti komunis sukses digalang secara menyeluruh. Sehingga tak ada ruang bagi keluarga korban untuk meminta keadilan selain mungkin nada-nada sinis seperti, “Siapa suruh pro komunis?”

Inilah yang ingin digali lebih lanjut oleh John Roosa. Bagaimana mungkin sebuah monumen besar dan megah dibangun untuk menghomati sekitar 7-10 orang nyawa jenderal yang melayang? Sementara (mungkin) jutaan orang yang terbunuh begitu saja (tanpa diberi kesempatan membela diri) nyaris terhapus oleh sejarah?

Mengapa mereka ikut dibasmi? Mereka, yang mungkin sebagian besar datang dari kalangan petani dan ‘orang bawah’ harus menanggung dosa segelintir pemimpinnya? Penulis tidak percaya begitu saja dengan klaim Angkatan Darat dan Pengadilan yang meyakini bahwa SELURUH anggota PKI dan simpatisannya ikut bertanggung jawab atas peristiwa G-30-S.

Klaim yang tidak didukung oleh bukti kuat. Kalau memang PKI terlibat secara utuh, siapa pemimpin pusatnya? Siapa saja yang tahu rencana ini? Apakah benar, 3 juta anggotanya tahu pasti dan mendukung bahkan ikut berkonspirasi? Jeng… Jeeeeeeeengggg … .

Gerakan 30 s PKI
Gambar : en.wikipedia.org

***

Cinta Bersemi diantara Angkatan Darat dan Amerika Serikat

Buku itu tebal banget, gilak *ngelapKeringat*. Bacanya sudah 2 tahun yang lalu hehehe. Ingat banget, baca buku ini waktu masih di Jeddah 😀. Jadi,maaf kalau kiranya ada yang ketelisut :D.

Dalam tulisannya, Roosa juga membahas hubungan Amerika Serikat dan Angkatan Darat yang tidak bisa dibilang sembunyi-sembunyi . Tidak sembunyi-sembunyi tapi juga tidak bisa dibilang rahasia umum. Apa dong? hehehe .

Soekarno yang terlalu condong ke sosialisme (yang kala itu berdiri tegak di bawah panji komunisme internasional) membuat pemerintah Amerika Serikat geregetan. Ketika PKI memenangkan suara 27% di Pemilu 1957, AS mulai berhalusinasi, PKI sudah menguasai Indonesia!

Taktik yang sebenarnya ingin ditempuh AS waktu itu adalah, memecah-mecah wilayah Indonesia. Sedikit rasa jumawa timbul seketika saat membaca bab yang membahas masalah kecemasan AS terhadap Indonesia. Wow, kita pun dulu, di bawah kepemimpinan Soekarno, pernah menjadi momok bagi negara sekeren AS hehehe.

AS ingin memisahkan wilayah di luar Jawa. Menurut AS, Jawa yang sudah dikuasai mutlak oleh PKI. Wilayah lain masih bisa diselamatkan. Daripada membiarkan komunisme merajalela di seluruh wilayah Nusantara, AS lebih memilih mengorbankan wilayah tertentu.

Saat itu, pemberontakan-pemberontakan di luar Jawa memang tengah marak. AS membaca dengan baik peluang ini. Walau tidak bisa dibilang sebagai pemicunya, AS menyokong usaha-usaha perjuangan mereka. Sebagai bukti, penulis menunjukkan dengan ditemukannya perlengkapan senapan AS di Sumatera. Juga ditembaknya seorang pilot hingga pesawatnya terjatuh di wilayah Manado. Pilot tersebut adalah warga negara AS yang ditangkap hidup-hidup.

Sulawesi bagian utara berdekatan dengan Filipina, salah satu pangkalan militer AS di Asia Tenggara.

Setelah AS mati langkah, “O..o..kamu ketahuan…” AS mundur teratur. Setelah itu, pemberontakan daerah otomatis lebih mudah dipatahkan.

Barulah AS menyadari sesuatu, dengan mendukung usaha pemberontak mereka telah mengadu domba pihak yang seharusnya bisa membantu ambisi AS. Tentu saja, saat menumpas pemberontakan, Angkatan Darat diturunkan oleh Soekarno untuk meredakan perlawanan.

Eng ing eng. Something’s wrong. Petinggi-petinggi AD sudah pernah diidentifikasi anti komunis. AS pun berubah pikiran. AD menjadi incaran baru. Dengan AD lah akhirnya AS menjalin kerja sama untuk meruntuhkan komunisme yang tentunya harus diikuti dengan menjegal Soekarno.

Dana mulai mengalir. Kekuatan secara serius mulai dibentuk. Kesabaran juga terus dipupuk. Karena AD tidak ingin gegabah. Menggulingkan Soekarno mungkin tak sulit. Tapi mereka tak hanya ingin membenamkan figurnya tapi sekaligus ingin merebut simpati rakyat sebagai modal utama untuk mengokohkan pemerintahan.

Soekarno sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda ketidakberdayaan menghadapi Angkatan Darat. Beliau tidak pernah berkonfrontasi secara terbuka. Kurang dibahas di buku ini sejauh mana sebenarnya Soekarno bisa melacak kelihaian petinggi-petinggi AD yang beraliran kanan ini.

Yang jelas saat berseteru dengan Nasution dan hendak menggantinya, Soekarno menghabiskan waktu yang lama untuk berdiskusi dengan Nasution. Bahkan, membiarkan Nasution memilih penggantinya. Tentu saja, Nasution menunjuk yang ‘sealiran’ sebagai ‘penerus’nya di tampuk tertinggi Angkatan Darat, Ahmad Yani.

AD bermain di 2 kaki. Mereka berpura-pura mendukung kebijakan Soekarno memusuhi Malaysia. Tapi menjanjikan kepada AD dan sekutu bahwa mereka tidak akan serius memerangi Malaysia yang masih dikuasai Inggris saat itu.

Nah, saat inilah nama Soeharto mulai disebut-sebut. Setelah dipecat dari jabatan tertentu karena kasus korupsi (ups…sudah dari dulu toh? :P), Soeharto ditempatkan di perbatasan Malaysia. Saat inilah, Soeharto makin mengetahui mengenai hubungan ‘intim’ antara AD dan AS. Karena mau tak mau, Soeharto harus diberitahu bahwa sesungguhnya AD cuma pura-pura saja memerangi Malaysia. Pada kenyataannya, AD membatasi jumlah pasukan di perbatasan dan ogah-ogahan untuk menyerang.

***

(Bersambung ke sini)

Gerakan g30s PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (1)

Gerakan g30s pki : Panjang indang hehehe. Kita bagi-bagi, yak . Duduk manis dengerin Mbak Poni mendongeng tentang kejadian penting di tahun 1965 silam . Ish, topiknya berat tapi mudah-mudahan bisa ditulis dengan gaya centil *laaaaah* . Ringan, maksudnya hihi.

***

Kalau kita yang tumbuh dan besar dalam dekapan Orde Baru, pasti tak asing lagi, ya, dengan peristiwa G 30 S (Gestapu) di penghujung September 1965.

Buku “Pretext for Mass Murder” karangan John Roosa ini mengangkat sisi lain yang mulai marak diulas selepas Orde Baru bisa dianggap runtuh setelah hantaman krisis moneter di tahun 1997. Usai sudah 32 tahun kekuasaan Soeharto. Tak hanya pemerintahan yang terkena imbasnya. Lambat laun sejarah bangsa di masa lalu tergugat kembali.

Gerakan g30s pki
Gambar : mrdfi.net

Begitu hebatnya Orde Baru mendengung-dengungkan peristiwa Gestapu sebagai salah satu lembaran hitam sejarah nasional. Hingga sanggup membenamkan tragedi sesungguhnya, apa yang terjadi setelah setelahnya.

Angka resmi korban pembantaian pasca Gestapu diakui hanya sekitar 500 ribu orang (angka yang terlalu banyak untuk membayar nyawa para jenderal yang jumlahnya mungkin cuma belasan). Namun, tak sedikit penelitian yang mengumbar bahwa nyawa yang melayang begitu saja dalam tempo yang sangat singkat itu mencapai 1-3 juta. Orang semua lho, ya. Bukan domba atau ayam .

Orde Baru ‘banting tulang’ sedemikian keras ‘menghapus’ peranan kaum komunis bahkan sejak zaman perebutan kemerdekaan. Salah satu tokoh pergerakan yang terkena getahnya adalah Tan Malaka. Hayoooo, ngaku, masih ada yang belum pernah dengar nama Tan Malaka belon? . Mana pernah buku-buku PSPB masa sekolah dulu menyebut-nyebut nama beliau.

Dalih agama juga digali dalam-dalam. Komunis dipertentangkan dengan Islam, kepercayaan terbesar masyarakat kita. Padahal, kalau mau menilik sejarah organisasi ini, lahirnya dari organisasi Serikat Islam. Kala SI terpecah 2 menjadi Putih dan Merah, akhirnya diputuskan SI Merah melepaskan diri. Belakangan, terbentuklah PKI .

Tan Malaka yang saya sebut-sebut juga berasal dari ranah Minang. Urang awak, seorang muslim. Tapi adalah benar bila sebagian paham komunisme menuduh agama sebagai ‘candu’ yang membuat penganutnya terbuai dan mengesampingkan rasionalitas.

Jangan buru-buru beristighfar karena tuduhan (sebagian) kaum komunis ini. Hehehe. Tenaaaang, lain kali kita diskusikan latar belakang mengapa kaum komunis ini gengges sama umat beragama . Tahan dulu bencinya hehehe.

Eike pan juga bukan penganut komunisme. Tapi berusaha mencari tahu mengapa mereka keki sama kita-kita yang beragama juga tidak ada salahnya, lho . Dijamin enggak bakal jadi komunis, kok, hahaha.

Read as many as you can. Just read. You don’t have to believe them all. Pengetahuan, walau tak setokcer pengalaman, tak bisa dipandang remeh pengaruhnya dalam menyikapi hidup *tsaaaah*. Percaya, deh, not all those who wander are lost .

Kita bahas buku ini dulu, yak. Keburu lupa entar bikin resensinya hahaha.

***

Kekuasaan Segitiga 1959 – 1965

Di bulan Mei 1965, dua perhelatan besar dilakukan oleh PKI. Perayaan hari Buruh di 1 Mei dan ulang tahun partai merah tersebut beberapa minggu setelahnya.

Puluhan ribu simpatisan tak menyisakan ruang kosong di stadion Senayan. Ribuan lainnya berbaris rapi di luar stadion. Lautan manusia yang dijuluki “semut merah”, yang terkenal dengan kedisiplinan dan sifat militannya. Bendera-bendera merah berkibar di mana-mana.

PKI memamerkan kekuatannya. Kalau saja, PEMILU kembali diadakan, mungkin PKI akan menang telak. Sayangnya, sejak tahun 1959, Soekarno membubarkan Pemilu dan mengganti kebijakan negara ke arah “Demokrasi Terpimpin.”

Ironi bagi sang raksasa merah, kekuatannya di masyarakat tak akan bisa mereka menangkan tanpa Pemilu. Sementara, posisi di pemerintahan hanya sekadarnya saja. Soekarno memilih orang-orang dari nonkomunis untuk mengisi posisi-posisi yang lebih strategis.

Sebegitu keras usaha PKI mendukung kebijakan-kebijakan luar negeri Soekarno yang memang sejalan dengan partai, jalan menuju pemerintahan seperti menemui jalan buntu.

Sementara para nonkomunis semakin gelisah. Angkatan Darat, menjadi pusat bertumpu para kaum nonkomunis.

Keputusan Soekarno di tahun 1959 sesungguhnya melegakan Angkatan Darat. Menghapus Pemilu berarti mengurangi ‘kekuatan’ PKI sebagai partai yang bisa dibilang tengah mencapai puncaknya di tahun 1960 an tersebut.

Bagi PKI, Soekarno masih dibutuhkan untuk meraih popularitas di kalangan rakyat. Untuk Angkatan Darat, Soekarno menjadi rem bagi PKI untuk ngebut menuju kekuasaan . Karena pada dasarnya Soekarno juga enggak pro komunis banget-banget. Soekarno memanfaatkan PKI untuk mendukung kebijakan-kebijakannya sekaligus menghalau Angkatan Darat untuk mengkudeta dirinya.

Walau setelah PKI membesar, Soekarno makin condong ke kiri, sesungguhnya pemerintahan tengah terbagi 3. Angkatan Darat pun sudah makin tak sabar. Mulai berimajinasi akan kekuasaan tanpa Soekarno. PKI pun berusaha keras mengalihkan pemerintahan ke arah kiri.

Angkatan Darat telah menjadi sekutu utama Amerika Serikat. Sementara, pemerintah Amerika Serikat makin sebel. Tidak hanya karena paham komunismenya. Juga karena saat itu PKI bersama Soekarno mati-matian ingin menasionalisasi tambang-tambang minyak dan hasil bumi lainnya. Ujung-ujungnya duit ya, Ceu hehehe. Caltex termasuk yang disebut-sebut dalam buku ini.

Paman Sam mah dari dulu berburu minyaaaaak aja kerjanya .

Pesona Soekarno di mata rakyat tetap luar biasa kala itu. Rekam jejaknya di masa lalu membuat rakyat tak meragukan ketulusannya. Baik PKI dan Angkatan Darat sama-sama menyadari, mustahil menjatuhkan Soekarno tanpa melewati perang saudara yang berkepanjangan.

Soekarno yang tak segan berbagi keangkuhan kepada segenap masyarakat untuk menantang negara maju nan kaya seperti Amerika Serikat membuai masyarakat. Larut dalam rasa bangga sebagai bangsa yang baru merdeka. Tak sadar, sebagian besar telah mengkultuskan beliau. Hal inilah yang membuat baik PKI dan pihak nonkomunis sangat berhati-hati dalam ‘menghadapi’ kepemimpinan Soekarno.

Namun, kesehatan Soekarno sudah memburuk. Operasi ginjal di tahun 1964 seolah memberi isyarat kepada baik komunis dan nonkomunis untuk aktif meretas jalan. Merebut kekuasaan negara yang telah sekian lama diidamkan.

Angkatan darat menguasai sekitar 300 ribu pasukan bersenjata. PKI memiliki kader yang militan dan simpatisan yang jumlahnya diperkirakan jutaan orang. Soekarno, yang tadinya dianggap perisai bagi masing-masing pihak, mulai diragukan.

And that’s how the tragedy begins …

***

(Bersambung ke sini)

Understand Today, Search Yesterday

Namanya juga negara pulau, ya, Irlandia dikeliling perairan. Kalau di Dublin – Bray – Dun Leary – Dalkey itu ada di pesisir timur, maka di pesisir barat Irlandia ada Galway. 

Salt Hill - Galway
Salt Hill – Galway

Waktu ke Galway, kami cuma muter-muter di Salt Hill sama COnnemara. Jauh juga sih tempatnya, ya. Harusnya menginap, nih. Tapi kami tetap pulang pergi. Jadinya terbatas foto-fotonya eh jalan-jalannya hihihi…

Kalau pesisir timur Pulau Irlandia berbatasan dengan Laut Irlandia, menghadap langsung ke Kepulauan Inggris Raya (wilayah Wales terutama, kalau gak salah :P), maka di sebelah barat terbentang Laut Atlantik. 

Konon, kalau nekat bisa menyeberang ke Inggris via Dun Leary. Kadang, visanya enggak dicek. Entah juga sekarang masih bisa atau tidak. 

Dun Leary
Dun Leary

Ngomong-ngomong kita bisa belajar banyak lho dari hubungan Inggris dan Irlandia. Duduk manis baca dongeng dari Mbak Poni, ya, anak-anak hihihi.

Irlandia, walau kini berpredikat sebagai salah satu negara maju di belahan Eropa, punya masa lalu yang cukup pedih … sayup mengalun … *soundtrackGubukDeritaAlaMeggyZ*   .

Selama 800 tahun, Irlandia berada di bawah penjajahan Inggris. Tak cuma dijajah secara fisik, secara spiritual pun mereka tersakiti. Kepercayaan masyarakat di wilayah Irlandia yang mayoritas Katolik ‘ditekan’ oleh pemerintahan Protestan ala Kerajaan Inggris.

Rakyat Irlandia bahkan dipaksa berbahasa Inggris. Pemilikan tanah oleh rakyat pribumi benar-benar tidak adil. Sebidang tanah yang sama milik seorang rakyat lokal harus dibagi-bagikan kepada anak cucunya. 

Bayangkan sepetak tanah itu kalau yang punya anaknya 5. Dibagi 5. Lahan tanah yang sama akan dibagi-bagi lagi kepada para cucu jika anaknya sudah besar dan beranak lagi. Makin lama, makin kecil luas tanah bagi tiap keluarga . 

Sampai beberapa kali peristiwa kelaparan menimpa wilayah Irlandia. Pernah yang terbesar di pertengahan abad ke-19, akibat kegagalan panen kentang, kelaparan merajalela.

Saking parahnya, banyak penduduk Irlandia yang melarikan diri ke benua Amerika.

Salah satu dampak kelaparan --> Emigrasi (gambar : wesleyjohnston.com)
Salah satu dampak kelaparan –> Emigrasi (gambar : wesleyjohnston.com)

 

Tak sedikit yang meninggal dunia. 

Nah, di kota Boston itu konon banyak banget imigran asal Irlandia yang beranak pinak hingga kini. No wonder, Saint Patrick’s Day, hari kebangsaan khas Irlandia juga dirayakan besar-besaran di Kota Boston dan beberapa wilayah lain di Amerika Serikat. 

Karena ‘dipaksa’, konon karena itulah aksen Inggris masyarakat Irlandia tergolong agak unik. Dulu, sebelum tinggal di sana, saya pernah punya bos orang Irlandia. Aduh Mak, saban meeting, eike kagak ngerti dia ngomong apaan padahal katanya itu bahasa Inggris, hihihihi. 

Uniknya … kini, Irlandia dan Inggris bagaikan kakak adik. Pertentangan Protestan dan Katolik juga mulai terbenam, ya. Tidak setajam dulu lagi. Kalau rajin membaca sejarah, di awal munculnya Protestan di benua Eropa, beuuuhhh… Katolik juga tidak main-main berusaha membasminya. 

Kalau jalan-jalan ke O’Connell Street di City Centre Dublin, hampir sepanjang jalan bertabur monumen pejuang kemerdekaan Republik Irlandia. Termasuk si Daniel O’Connell tentunya. Yang patungnya paling gede, yang menandai ujung jalan menuju O’Connell Street dari sisi Sungai Liffey. 

Waktu ngekos, dari seorang teman yang berpaham Protestan, saya baru tahu. Perbedaan Protestan dan Katolik ini sudah menyentuh ranah teologis. Jadi, buat teman saya itu, dia merasa Katolik itu sebagai ‘umat dengan iman yang berbeda’. Kagak paham juga saya. Mohon maaf kalau salah ya bagi teman-teman kristiani . 

Balik ke Inggris dan Irlandia . Saya sempat kesal, mengapa, ya, Irlandia menolak masuk sebagai anggota Schengen? Padahal Irlandia masuk Uni Eropa. Dan tidak seperti Inggris, yang ogah pakai mata uang Euro, Irlandia bersedia menggunakan Euro.

Ternyata, penolakan Irlandia sebagai bentuk ‘kesetiakawanan’ kepada Inggris Raya. Alamak, apa kabar itu penjajahan 800 tahun? hehehe.

Mengapa? Soalnya wilayah Inggris Raya menolak masuk Schengen. Isshhh, mentang-mentang negaranya paling kece di Eropa . 

Sebenarnya warga negara yang memegang paspor Irlandia bebas bolak balik masuk Inggris. Karena itulah katanya, Irlandia enggak enak mau masuk Schengen. Schengen akan memungkinkan orang-orang dari daratan mainland lalu lalang sesukanya masuk Irlandia. 

Sementara Inggris akan merasa kerepotan menghalau orang-orang ini, secara wilayah Irlandia itu dekat banget dengan Inggris Raya. Bahkan Irlandia Utara berbagi daratan yang sama dengan Republik Irlandia. 

Pemegang GNIB Irlandia (termasuk pendatang macam saya sekeluarga) sendiri boleh sih masuk ke Irlandia Utara melalui jalan darat. Katanya enggak bakal diperiksa dan dianggap sah. Tapi ke wilayah yang lain kudu apply visa yang harganya tidak murah dan mengurusnya tentu akan penuh drama bagi pemegang paspor hijau tua yang (mungkin) menempati salah satu ‘kasta’ terendah dalam urusan imigrasi hihihihi.

Singkat cerita, Irlandia ingin melindungi kepentingan Inggris Raya. Awww…so sweet . 

Tapi pahit bagi pendatang seperti saya yang dari dulu mimpi-mimpi bisa melihat London. Sudah lama enggak sungkem kepada om dan tante di Buckingham nih  –> pengakuan tipikal royalFamily-wannabe. Ponakan yang kemarin lahir pun belum sempat dijenguk oleh Tante Poni-nya. Sabar, ya, Nak hihihihi. 

London jaraknya mungkin tidak sampai satu jam penerbangan dari Dublin. Tapi melewati proses pengurusan visanya? Kekepin dompet + pertebal rasa sabar di hadapan petugas kedutaan hahahaha. 

Awas yaaaa, kalau Indonesia sudah menjadi negara maju, mari kita melet-melet lidah kepada benua yang masih terlilit resesi ini hihihihi. Kapan, ya, jadi negara maju? Ya selama masih bermanis-manis kepada para koruptor, simpan saja angan-angan itu dalam mimpi . 

*** 

Dijajah 800 tahun. Dan kita, Indonesia, selalu merasa sudah paling menderita akibat penjajahan 350 tahun hehehe. Eh, habis dijajah kompeni, sekarang dijajah sama pemerintahan sendiri *asahGolokRamaiRamai*.

Hubungan bilateral Irlandia dan Inggris kini makin mantap. Seperti yang saya bilang, mesra seperti kakak-adik .

Mungkin kata orang-orang Irlandia, “Yang lalu biarlah berlalu” . 

Siapa yang bisa melupakan masa lalu? It takes a life time to forget something or someone. Tapi memaafkan itu yang paling utama .

Irlandia saja bisa move on setelah penjajahan 800 tahun. Jadi, sakit hati apa sih yang tidak bisa kita maafkan? 

Kini, dengan pendapatan perkapita yang mumpuni, Irlandia menjadi salah satu negara maju di dunia. Tak menyangka penduduk yang ramah ini punya nenek moyang yang hidup menderita dalam 8 abad penjajahan. Jangan-jangan karena pemaaf itu yang membuat mereka menjelma menjadi Negeri yang Makmur 🙂.

The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong.
-Mahatma Gandhi-

Musim dingin yang sepertinya sudah merambah di seluruh daratan Eropa. Cuacanya dingin tapi hati tetap hangat ^_^. Salam akhir pekan dari Kota Athlone 😉. 

Sungai Shannon di Musim Semi - Athlone
Sungai Shannon di Musim Semi – Athlone

Cinta Segitiga Pangeran Charles – Mendiang Putri Diana- Camilla

10 Februari 2005, pewaris tahta nomor satu di salah satu kerajaan di dunia yang masih bersisa itu mengumumkan pertunangannnya. Usia sang pangeran telah hampir mencapai 60 tahun, namun konon, dia berlutut ketika melamar kekasihnya. Kekasihnya sendiri bukan seorang gadis, usianya pun tak lagi muda. Usia mereka hanya selisih satu tahun.

Benar, sang pangeran akan menikah untuk kedua kalinya. Pernikahan kedua tapi bersama dengan perempuan yang sesungguhnya adalah cinta pertamanya. Yup, gosipin siapa kita kali ini? Siapa lagi kalau bukan Pangeran Charles dan Camilla.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla (Polo Match 1971), photos by Rex Feature

***

Perceraian Diana dengan Charles menghadirkan satu nama baru, Camilla. Saya tak bisa membayangkan seperti apa kehidupan Camilla di masa awal kematian Diana. Pasti keselek mulu gara-gara disumpahin sama banyak wanita di dunia 😛.

Kurang apa, sih, Diana? Cantik iya, langsing iya, tinggi iya, baik hati iya, sayang anak iya, rasa pedulinya tinggi pula kepada sesama. Why Charles? Why? Why? *alaRatuDrama*.

Apalagi waktu melihat penampakan Camilla di depan televisi. My oh my. Kagak ada cakep-cakepnya dibanding Diana. Selera berbusana Camilla pun sangat sembrono. Sementara Diana terkenal sebagai salah satu icon fashion dunia. Keanggunannya apalagi. Kalah jauh, deh.

Konon (konon melulu hihihihi, referensinya sudah lupa semua booo :P), ada dua versi mengenai pertemuan pertama Camilla dan Charles. Intinya mereka bertemu di sekitar tahun 70-71. Satu dekade sebelum Charles menikahi Diana.

***

Camilla ini gadis yang tomboy, pandai berkuda, suka berbicara (bawel :P), aktif dan kagak ada jaim-jaimnya, hehehe. Sangat berbeda dengan kelakuan cewek-cewek yang dibesarkan dalam lingkungan aristokrat. Tapi sebenarnya Camilla berasal dari keluarga yang sangat berada, lho. Dibesarkan dalam lingkungan kerajaan yang kaku dan dingin, entah mengapa Charles langsung tertarik pada Camilla remaja.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla as a couple, 1971 (washingtonpost.com)

Tidak cuma saling tertarik, tapi pacaran *dijewerSamaUstFelixSiauw* . Hubungan berhenti begitu saja ketika di tahun 1973, sang pangeran mengikuti wajib militer. Mengapa mereka putus? Ini banyak lagi rumornya. Tapi rumor paling kuat ya karena keluarga besar Charles emoh dan merasa bahwa karakter Camilla kurang cocok jadi istri raja.

Camilla tak menunggu lama dan akhirnya menikah dengan orang lain. Charles sempat terluka dan mengirimkan surat kecaman kepada paman Camilla, Lord something gitu lah, “”I suppose the feeling of emptiness will pass eventually.”

Kekasih sudah menjadi milik orang lain, Charles pun move on. Pacaranlah beliau dengan beberapa orang sebelum akhirnya dijodohkan dengan Diana. Dunia pun bersorak ketika di tahun 1981, pernikahan Charles dan Diana dirayakan besar-besaran dan disaksikan jutaan mata melalui layar televisi.

Putri Diana
Washingtonpost.com

***

Dalam salah satu wawancara kontroversialnya di salah satu stasiun TV, Diana mengeluh terang-terangan, “There were three people in this marriage from the start. And it’s just too crowded.”

Diana pun mengakui, sebelum melangkah di depan altar, dia sudah tahu bahwa hati sang pangeran bukan miliknya. Bahkan konon, Camilla yang menyarankan Charles untuk menuruti keinginan ibunda ratu untuk meminang Diana. Di tahun 1979, Charles memang kembali berhubungan dengan Camilla. Dibiarkan oleh suami Camilla karena sang suami ini pun ternyata punya selingkuhan juga *ondeMande*.

Akhirnya, setelah sang putri tewas dalam kecelakaan maut di penghujung Agustus 1997, pelan-pelan Charles kembali menjalin hubungan dengan Camilla.

Entah pakai susuk apa ini Camilla sampai-sampai puluhan tahun berlalu, hati sang pangeran tetap tertambat. Charles pernah mengakui bahwa Camilla adalah sahabatnya. Tempatnya mencurahkan isi hati dan dia merasa cocok karena Camilla enak diajak berdiskusi soal apa saja termasuk politik, kerajaan, masalah sosial dan curhat-curhat lainnya .

Sementara menurut Charles, Diana adalah perempuan yang pendiam dan sering enggak nyambung kalau diajak ngobrol. Wallahu’alam ya. Ini fansnya Lady Di jangan unfriend eike, ya. Ini kata Charles sendiri, lho. Eike gak ngarang-ngarang hehehe.

Charles - Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)
Charles – Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)

Masuk akal, sih. Kalau membaca biografi Camilla yang penuh warna. Teman-teman dan guru-guru sekolahnya menggambarkan Camilla sebagai perempuan gaul, cerdas dan penuh energi. Pernah sekolah sampai ke Swiss dan Perancis segala. Kalau tidak salah pernah pula berkecimpung dalam dunia jurnalis. Ya beda ‘karakter’ lah dengan Putri Diana yang dibesarkan ala bangsawan nan anggun yang berprofesi sebagai guru TK sebelum dipinang oleh sang pangeran. Diana kecil memang dikenal sangat pemalu.

Sewaktu mengetahui ternyata sang pangeran hanya berpura-pura, Diana tidak langsung menyerah. Dikuatkannya hati dan tetap melangkah di atas altar. Dengan harapan, kelak kesetiaannya akan terbayar dengan cinta sang pangeran. Sadly, it never happened 🙁.

Inilah hal yang sangat menyakitkan buat Diana, terungkap dalam salah satu ucapannya, “He never gave our marriage a chance.”

Sikap ogah-ogahan Charles sebenarnya sudah ‘tertangkap’ saat wawancara pertunangannya dengan Diana.

Anthony Carthew (ITN): And, I suppose, in love?
Lady Diana Spencer: Of course!
Charles, Prince of Wales: Whatever ‘in love’ means.

Kurang ajar banget, kan? Diana langsung mengiyakan. Sementara Charles malah mengungkapkan kalimat menggantung, “Whatever ‘in love’ means.”

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
After decades … Finally-legally together :). Gambar : washingtonpost.com liveindia.com

***

Kita kan cuma bisa menerka-nerka dan sibuk baca-baca google ya boooo hihihihi. Yang namanya cinta kepada sesama manusia memang susah didefinisikan, susah ditebak, apalagi dikira-kira.

Bukan tugas kita menghakimi siapa pun di sini. Kisah-kisah semacam ini cukup dibaca dan dijadikan pelajaran, enggak perlu sampai jadi pikiran segala ih hehehe.

Bahwa, menghalangi dua insan yang lagi dimabuk asmara hanya karena alasan-alasan ‘duniawi’ macam enggak selevel lah, kurang ningrat lah, kurang anggun lah, tidak akan begitu saja menyelesaikan persoalan. Malah, bikin masalah baru –> rasa sakit hati lah, dendam lah, dan korban perasaan lainnya.

Wong naksirnya sama si A, dipaksa kawinnya ama si B.

Bahwa, mahligai pernikahan bukan ajang coba-coba. Kalau sang pangeran bersikap ksatria, pertahankan dong cinta anda kepada Camilla. Bukannya ‘menyerah’ dan ikut dalam sandiwara yang disutradarai oleh kerajaan.

Ingatlah akan kisah salah satu kakek anda, Edward VIII. Yang rela meletakkan tahta agar bisa mempersunting Wallis Simpson, seorang janda non ningrat asal Amerika Serikat.

Tapi, cinta Charles untuk Camilla menunjukkan satu hal, “There is something beyond physical attraction” . Konon, rasa kasih yang tidak hanya berdasar fisik semata biasanya memang lebih langgeng 🙂.

Yah, namanya juga konon. Boleh setuju boleh tidak hehe.

***

Dua Sisi Mata Uang, Arung Palakka

by : Jihan Davincka

***

Berbeda dengan puja puji yang dilimpahkan kepada ‘musuh’nya Sultan Hasanuddin, nama Arung Palakka tercatat sebagai salah satu ‘penghianat bangsa’ dalam buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih SD.

Kontras dengan buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih di bangku sekolah, sebuah patung besar berdiri gagah di sebuah Taman Bunga yang dibangun untuk mengenangnya di tengah kota Watampone. Watampone terletak di kabupaten Bone, daerah asal Arung Palakka.

Sumber : koraadnan06.blogspot.com
Sumber : koraadnan06.blogspot.com

***

Sebagai pengantar, mari sedikit mempelajari kultur sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Ehm…propinsi asal eike, nih *benerinPoni*.

Seperti kebanyakan propinsi di berbagai belahan Nusantara, Sulsel juga kaya akan ragam suku dan bahasa. 4 suku terbesarnya adalah : Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Beberapa waktu lalu, sebagian besar wilayah yang dikuasai suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi sebuah propinsi baru, Sulawesi Barat. Makassar sendiri sudah resmi menjadi nama ibukota Sulawesi Selatan sejak tahun 1999 lalu setelah sebelumnya bernama Kota Ujung Pandang. Bukan berarti semua penghuni kota ini berasal dari suku Makassar semua la yaow. Orang Bugis dll juga ada .

Suku lain misalnya Enrekang. Kakek saya sendiri (dari Ibu) juga memiliki darah Enrekang. Aduh, ingat Enrekang ingat Dangke, makanan khas asal sana hehehe .

***

Membahas sejarah Arung Palakka akan membuka luka lama yang pernah ditorehkan oleh dinasti kerajaan Makassar kepada Kerajaan Bone, salah kerajaan terbesar Bugis di masa itu. Jadi, bukan cuma Sunda vs Jawa saja yang pernah bersimbah drama di masa lalu. Orang Bugis pun menyimpan kisah kelam di masa lampau.

Arung Palakka lahir sebagai pewaris tahta Kerajaan Bone. Belum lagi menginjak abege, Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kerajaan Makassar. Di usia belasan, Arung Palakka dan keluarganya disandera. Untung saja, Arung Palakka dan keluarga dijadikan pelayan Karaeng Pattinggaloang, salah satu petinggi di Kerajaan Makassar. Dalam asuhannya, Arung Palakka diberi kesempatan mendapat pendidikan layak hingga menjadi anak yang menonjol dalam olah fisik dan akademis.

Walau besar dan diizinkan bergaul biasa dengan pemuda-pemuda Makassar, Arung Palakka tak pernah bisa melepaskan dirinya dari Siri’-Pacce-Sare yang mengalir kuat dalam darah bugisnya. Sungguh sulit baginya menyaksikan ribuan bangsanya digiring dari Kerajaan Bone untuk bekerja paksa bagi Kerajaan Makassar atas perintah Sultan Hasanuddin.

Siri’-Pacce-Sare apaan? Ketiga prinsip ini adalah kepercayaan dasar bagi orang Bugis kala itu.

Siri’’ (harga diri atau kehormatan dan rasa malu).
Pacce (perasaan sakit dan pedih atas penderitaan saudara sebangsa).
Sare (kepercayaan bahwa seseorang dapat memperbaiki atau memperjelek peruntungannya dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).

Tak cuma itu, setelah banyak para pekerja paksa yang sakit dan melarikan diri, para bangsawan Bone dan Soppeng yang tadinya hanya dijadikan pelayan dipaksa untuk ikut menggali kanal di sepanjang garis pertahanan Kerajaan Makassar. Bayangkan, seberapa besar rasa malu yang harus ditanggung oleh para bangsawan Bugis ini.

Banyak yang tidak terima dan melawan. Salah satu kompornya ya si Arung Palakka. Perlawanan dipatahkan. Larilah Arung Palakka membawa beberapa orang-orang kepercayaannya.

Singkat cerita, rombongan bugis yang melarikan diri dari penjajahan sekaligus kabur dari rasa malu, mendarat di Batavia. Dimulailah kehidupan keras mereka untuk mempertahankan diri. Para ‘Tau Ogi’ (sebutan untuk orang Bugis) segera mendapat perhatian dari Cornelis J Speelman, yang tengah berjuang membersihkan namanya dari tuduhan perdagangan gelap. Bertiga bersama Kapiten Jonker, mereka bertiga menjelma menjadi ‘Preman Batavia’. Semacam “Three Muskeeter” gitu kali, ya, di masa itu hehehe.

Uniknya, membawa dendam akibat pelecehan terhadap bangsanya malah membuat Arung Palakka membabi buta. Tak segan-segan ia membantu VOC meluluhlantakkan perlawanan orang-orang Minang di wilayah Sumatera. Jadi pernah lhooooo orang Bugis ‘mengalahkan’ orang Minang (melirik tajam ke arah suami! Apa iniiiii? Malah jadi chauvinisme begini :P).

Setelah bertahun-tahun menunggu, kesempatan emas itu datang juga. Pihak VOC meminta Arung Palakka membantu menaklukkan Kerajaan Makassar yang kala itu punya potensi besar menyaingi rencana monopoli VOC. Terbakar Siri’, Pacca, sibawa Sare, Arung Palakka langsung menyambut tawaran ini.

Begitulah sejarah terukir. Arung Palakka membawa bangsanya meraih kemerdekaan setelah bersama VOC berhasil melumpuhkan Kerajaan Makassar yang makin terdesak dengan Perjanjian Bongaya. Ah, dari dulu isunya selalu sama. Padahal mungkin jika Makassar dan Bone bersatu, VOC tak akan pernah sanggup mencicipi kekuasaan di perairan Sulawesi.

***

Seorang sejarawan memang mencoba mengangkat latar belakang darah bugisnya dan penjajahan Kerajaan Makassar terhadap kerajaan-kerajaan bugis untuk mengupas kisah Arung Palakka secara keseluruhan. Kalau dalam buku-buku sejarah dulu (sekarang masih enggak sih?), kisah yang ditonjolkan adalah bentuk kerja sama Arung Palakka bersama laskar bugisnya bahu membahu bersama VOC memojokkan Kerajaan Makassar di masa itu.

Bahwa, bila tak dibesarkan dalam situasi terjajah, mungkin tak akan ada cerita pengkhianatan orang Bugis terhadap sejarah kemerdekaan bangsa. Remember, we don’t judge others, for often we don’t know the whole story .

Sebenarnya Arung Palakka juga menunjukkan kekeliruan besar ketika membantu VOC mematahkan perlawanan Minang dan membuat beberapa wilayah Minang malah jatuh ke dalam penjajahan kompeni. La ya katanya sakit hati suku sendiri terjajah kok malah ikut-ikutan menjajah suku lain? Enggak bener dong, ya *jewerArungPalakka*.

Kerajaan Makassar pun membuktikan pepatah, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Bukannya baik-baik sama suku tetangga malah memperbudak mereka? Zzzzz .

Ketika Kerajaan Makassar telah berhasil dilumpuhkan, Arung Palakka mau tak mau terjebak dalam urusan ‘balas jasa’ kepada VOC. Dia bahkan pernah meninggalkan bangsanya, berlayar hingga ke Jawa, membantu VOC menyelesaikan masalahnya di sana. Sikap ini mengundang kontroversi dalam kalangan orang Bugis sendiri. Tak sedikit orang-orang Bugis yang akhirnya hengkang dari Sulawesi sebagai bentuk protes terhadap sikap Arung Palakka yang dianggap menghalalkan segala cara.

Demikianlah tiap cerita kepahlawanan memiliki porsinya sendiri-sendiri. Dengan melihat dari berbagai sisi, kita akan memiliki pemahaman lebih mengenai siapa si jahat siapa si baik. Apa ada yang benar-benar jahat atau ada yang secara keseluruhan baik? .

Kisah-kisah seperti ini sekaligus mengajarkan betapa MAHAL yang namanya KEBERANIAN, KEKUATAN dan KEBAHAGIAAN.

Sultan Hasanuddin dalam kisah ini adalah orang yang paling berani melawan VOC? Belum cencuuuuu . ORANG yang paling CEPAT dalam MINTA MAAF adalah ‘ORANG YANG PALING BERANI’.

Jadi, yang paling kuat itu Arung Palakka? Ya enggak juga. ORANG yang paling CEPAT meMAAFkan adalah’ORANG YANG PALING KUAT’..

Pada akhirnya siapa yang mereka bahagiakan? ORANG yang paling CEPAT meLUPAkan KESALAHAN orang lain adalah ‘ORANG YANG PALING BAHAGIA’. Mudahkah kita meLUPAkan?

Ternyata untuk menjadi orang yang BERANI, KUAT dan BAHAGIA enggak mesti pula terbang jauh ke masa lampau mengangkat senjata melawan penjajah. Rumusnya sudah dikasih tuh di atas hehehe.

Dan sebenarnya ada satu hal penting yang perlu kita camkan bersama sebagai satu bangsa dan tanah air adalah… JANGAN MACAM-MACAM SAMA ORANG BUGIS!!! ahahahahahahahahahahhaha *pasangKacaMataItem*.

***

(Disarikan dari : id.wikipedia.org)