Peristiwa G 30 S PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (7-Finale)

Peristiwa G 30 S PKI : Dalih Pembunuhan Massal (7- Finale). Bagian sebelumnya di sini, ya.

Soekarno, “Sejarah Akan Membersihkan Namaku”

***

Bagian paling menyayat-nyayat hati dari film “Pemberontakan G30S/PKI” ala Orde Baru adalah saat mayat-mayat para jendral diangkat dari sumur di Lubang Buaya. Adegan ini kalau tidak salah diiringi dengan lagu “Gugur Bunga.” Betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku … betapa hatiku tak akan sedih hamba ditinggal sendiri …

‘Blunder’ yang belum terpecahkan dalangnya secara sahih hingga kini itu tak cuma mengubur rapat-rapat mimpi kaum komunis menguasai nusantara. Peristiwa G30S juga mengorbankan sebuah nama, Soekarno.

Setelah menghabisi nyawa hampir semua kader/simpatisan/anggota organisasi yang berafiliasi dengan PKI, tibalah Suharto dkk pada salah satu misi puncak mereka, menyudahi kekuasaan Soekarno.

Demo-demo yang belakangan dikenal sebagai Tritura digalakkan dengan mengerahkan mahasiswa dan ormas-ormas masyarakat. Tentu saja, ada sumbangan ‘nasi bungkus’ dari pemerintah AS . Hahaha. Abis yang ngetren sekarang panasbung, yak .

Tentu ini tidak serta merta. Rezim Suharto kan pinter banget propagandanya. Penculikan jendral digambarkan bagai peristiwa luar biasa. Genderang perang semacam ditabuh bertalu-talu. Kalau lihat di film, suasana di tanggal 1 Oktober itu mencekaaaaam banget.

Belakangan beredar foto-foto kalau ternyata ya biasa-biasa saja hehehe. Bundaran HI ya tetep macet hihihi. Boleh dicek di wallnya Om Anton Dwisunu, ya . Tempo hari sempat beredar foto Jakarta di pagi hari 1 Oktober 1965.

Juga sudah dibuktikan G30S dipukul mundur dengan sangat mudah dalam tempo yang cukup singkat. Namun, Suharto dkk membungkus peristiwa ini dengan kemasan perang urat syaraf yang cetar membahana . Jadi, sebenarnya menurut Roosa, penulis “Dalih Pembunuhan Massal”, G30S dan pembasmian PKI itu sebenarnya 2 hal yang berbeda .

Salah satu dokumen penting yang menandai peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Suharto adalah dokumen Supersemar. Namun hingga kini, dokumen aslinya entah ada di mana. Yang berada di Gedung Arsip Nasional hanyalah kopinya. Di mana sebagian pihak juga meragukan itu beneran kopinya atau bukan? Nah lo *seruputKopiAnget*.

Soekarno telah sering mengeluhkan tentang kesalahpahaman rezim Suharto tentang Supersemar ini. Apa daya, Suharto sudah merangsek terlalu jauh. Semua anggota kabinet loyalis Soekarno sudah dibabat. Petinggi-petinggi AURI yang pro Soekarno juga sudah dilumpuhkan semua. PKI apalagi.

Konon, Supersemar berisi limpahan kewenangan dari Soekarno kepada Suharto untuk mengambil tindakan-tindakan yang dirasa perlu dalam ‘chaos’ yang ada pada saat itu. Tetapi semuanya harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada Panglima Tertinggi ABRI, Soekarno.

Alih-alih menjalankan isi Supersemar, Suharto bahkan menggunakannya untuk melengserkan Soekarno. Ketiga jendral yang katanya merupakan saksi Supersemar juga bungkam hingga akhir hayatnya. Suharto pun mengunci rahasia ini dalam-dalam hingga ke liang lahat.

Btw, ke mana cinta masyarakat yang selama ini selalu menjadi ‘perisai’ terkuat Soekarno dari rongrongan AD maupun PKI? Jangan lupa, propagandanya ini tingkat tinggi dengan frekuensi yang luar biasa. Siang malam Suharto terus mendengung-dengungkan bahwa Soekarno telah menyerahkan tampuk kekuasaan kepadanya.

Suharto dan AD kan juga habis-habisan membuat masyarakat percaya bahwa negara sedang dalam gawat darurat dan butuh penanganan luar biasa. Sekaligus menenangkan rakyat dengan buaian, “Tenang, semuanya aman terkendali di bawah komando Suharto dan Angkatan Darat.”

Momentum G30S telah sukses menyempurnakan skenario perebutan mahligai kekuasaan yang dijalin cukup lama bahkan mungkin sudah hampir basi. Thank God, G30S meletus dan memutarbalikkan ‘keputusasaan’ pemerintah AS dan sekutu nusantara-nya, AD .

Setelah PKI dihabisi di Indonesia, pemerintah AS lebih santai menghadapi Perang Vietnam . Sip, sasaran utama telah di tangan. Toh, Vietnam ini sebenarnya salah satu pencegahan yang dilakukan AS agar komunis tak merebak di Indocina dan Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Negeri Raksasa yang mahakaya yang untungnya tak menyadari betapa berharganya daratan surga yang mereka diami.

Boleh dicek. Freeport mendaratkan tahtanya di Indonesia sejak tahun berapa?

Isu bahwa Soekarno pro komunis juga tidak sepenuhnya benar. Karena PKI di masa keemasannya pun tidak pernah berhasil menguasai posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Terlebih di tahun 1959, Soekarno membubarkan Pemilu. Ya, jangan-jangan untuk membenamkan komunis yang mulai tak terbendung.

Ingat, Bung Karno cita-citanya jauh lebih tinggi daripada pro komunis. Menyatukan kaum nasionalis-agamis dan komunis dalam dekapan Ibu Pertiwi. Nasakom.

Sesuatu hal yang cukup mustahil memang. Tapi hey, itulah Bung Karno yang suatu kali pernah berseru, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang” .

Ada teori bahwa Soekarno hanya ingin memanfaatkan PKI untuk meredam Angkatan Darat yang sudah dikuasai oleh jendral-jendral sayap kanan. Sementara, Soekarno tetap membiarkan AD menduduki pos-pos strategis dalam pemerintahannya.

Di masa-masa akhir kepemimpinannya, saat Soekarno telah terisolasi dari kabinet dan masyarakat, ajudannya sempat berkata, “Mengapa Bapak tidak melawan? Rakyat masih cinta. Pasti akan mendukung bila diminta. Bapak ini seorang pejuang.”

Soekarno menjawab bijak, “Hidung mereka sama dengan hidungmu, sama dengan hidungku. Kamu minta saya melawan bangsa sendiri? Dulu, kita melawan penjajah. Hidungnya beda dengan hidungmu, beda dengan hidungku.”

Soekarno menghindari perang saudara yang pasti diyakininya akan lebih merugikan dan menyakitkan bahkan untuk dirinya sendiri. A true leadership. Praktik kepemimpinan yang terpuji.

Peristiwa G 30 S PKI
Gambar : biographypeople.info

Dari buku ini, digambarkan betul, betapa cinta masyarakat dan kepopuleran Soekarno yang bergema sedemikian kuat di hampir seluruh penjuru nusantara benar-benar membuat musuh-musuh politiknya harus bekerja keras mencari cara untuk menjatuhkan wibawanya.

AD punya kekuatan militer yang mumpuni. Apalagi sejak menjadi ‘panasbung’-nya AS hehehe . PKI, walau tak punya senjata, punya massa yang sedemikian banyak dari ibukota hingga ke desa-desa terpencil. Soekarno punya apa? Beliau cuma punya cinta . Cinta dari seluruh negeri. Berarti benar ya, kekuatan terbesar dalam dunia ini sebenarnya adalah CINTA.

Seperti kata Gandhi, “What barrier is there that love cannot break?” .

Kepemimpinan Soekarno dibangun dari rekam jejak yang tangguh dan lama. Sejak muda, ketampanan dan kecerdasan yang diatas rata-rata tidak membuatnya bertekut lutut pada iming-iming duniawi dari petinggi-petinggi kolonial . Tentu saja, rasa cinta yang membuncah-buncah pada Ibu Pertiwi yang mengokohkan beliau untuk terus mengobarkan perlawanan pada penjajah.

Rakyat tak pernah meragukan ketulusannya. Dan sudah dibayar lunas oleh Soekarno . Ketika Bung Karno memutuskan untuk tidak memberikan perlawanan habis-habisan saat Suharto tengah berusaha mati-matian menjatuhkannya. Beliau ya bukan politikus kelas sapi . Pasti tahu pasti jika dirinya tengah dirongrong dan yakin beliau bisa memberikan perlawanan sepadan jika mau.

But he did not . Cinta seorang pemimpin kepada rakyat. Tak akan rela melihat pengikutnya harus hancur hanya untuk kepentingan diri sendiri. Percayalah, sebegitu banyak konflik politik di berbagai belahan dunia, legowo demi keutuhan bangsa seperti yang dilakukan Bung Karno ini bukan pilihan yang mudah.

Kalau mau, beliau bisa berdiri menantang di atas podium dan mengaum sekuat-kuatnya untuk menyulut perang saudara. Once again, he did not .

Tentu saja, beliau ya manusia biasa. Kelemahannya juga tidak sedikit . Sifat impulsif dan banci tampilnya sampai pernah membuat gerah sang partner kala itu, Bung Hatta. Hatinya yang mudah jatuh pada perempuan membuatnya terkenal beristri banyak.

Tapi ya situ kalau baru sebatas menikah lebih dari 1x terus mau banding-bandingin diri sama Bung Karno ya keterlaluan juga sih ya hehehe. Situ sudah melakukan apa untuk bangsa dan negara? *sodorinKaca* .

Karena kedua hal yang bertentangan itulah mungkin yang membuat Majalah Tempo membuat judul di salah satu serial Bapak Bangsa versi Tempo, “Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia.” Paradoks. Yang akan selalu bermuara kepada kontradiksi.

Namun begitu, pesonanya pun tetap berkilau hingga di akhir hayatnya. Di buku “Paradoks Revolusi Indonesia” ada kata-kata, “Bahkan jasad matinya pun membuat gentar.” Yup, Suharto menolak jenazah Sang Proklamator dimakamkan di Bogor sesuai permintaan keluarga. Bogor terlalu dekat dengan ibukota .

Akhirnya, sang Paradoks Revolusi disemayamkan di kota kelahirannya, Blitar. Walau dikutuk bagai bandit, sejarah telah menerbitkan kembali namanya yang pernah dibenamkan. Sesuai sumpahnya sendiri, “Sejarah akan membersihkan namaku.”

***

Berpuluh-puluh tahun setelah G30S, masih banyak yang menyangka,”Alhamdulillah, PKI tidak berkuasa. Kalau PKI berkuasa, mana bisa kita sembahyang?” Hihihihi .

Mbok ya, udahan atuh propagandanya . Sekarang saatnya mencari informasi berimbang. Apa itu komunisme? Gagasan apa yang sebenarnya dibangun oleh paham yang dulu muncul sebagai penantang kapitalisme. Sosialisme hubungannya apa dengan komunisme. Marxisme itu apa. Leninisme juga ada. Belum lagi istilah Marhaenisme.

Seperti apa dunia berputar di kala komunisme datang dan menghentak di sebagian wilayah dunia? Apa yang terjadi saat itu? Latar belakangnya apa?

Nanti seru, deh. Jadi kesasar ke Perang Dunia I, Perang Dunia II, bahkan kalau mau lebih komplit, pelajari Eropa di Abad Kegelapan yang akan mengantarkan kita kepada rentetan Perang Salib. Siapa, apa, bagaimana dan mengapa. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil in shaa Allah ketimbang terus berkoar-koar “Ini pasti ulah zionis” hahahaha .

Jangan tahunya cuma ribut-ribut kaum komunis dulu membunuhi Tsar Rusia sekeluarga. Yuk, dicari tahu juga, seperti apa Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan Tsarina-nya. Lah, Tsarina-nya memang kenapa? Ubek-ubek di Google dengan kata kunci Rasputin, deh, cobak .

Tidak untuk membenarkan siapa-siapa. Tapi untuk memperlihatkan warna warni politik-sosial-ekonomi di dunia yang ternyata tidak selalu terpenjara dalam hitam atau putih. Sekali lagi, you didn’t have to believe them all but you can always learn, learn, learn. In shaa Allah .

Demikianlah akhir dari pembahasan buku ini *ngelapKeringat*.

Versi blog menyusul ya .

Semoga kita bisa mengambil pelajaran penting dari sejarah yang satu ini.

1. Tentang kepemimpinan yang tulus yang dibangun dari rekam jejak yang tidak sebentar. Karena itulah, saya lebih kepengin Pakde Jokowi membuktikan diri di ibukota dulu hehehe. Hater masih terlalu banyak . Sementara legislatif masih awut-awutan. Jokowi masih perlu lebih banyak cinta. Masih perlu lebih banyak lover .

Mendulang rasa cinta yang ikhlas (kagak pakai nasi bungkus pastinya :P) jauh lebih sulit daripada menanamkan rasa benci . Sejarah membuktikannya berkali-kali. Cinta itu dari Ilahi, sudah diinstal sejak kita lahir. Sementara benci itu adalah rasa yang kita pelajari setelahnya. Kita HARUS diajar untuk membenci.

2. Tentang bahayanya HOAX . Yang tidak hanya melahirkan dendam tidak jelas selama puluhan tahun. Tapi juga membunuh ratusan ribu bahkan jutaan nyawa yang diyakini tidak berdosa. Yang di daerah terpencil ngerti ada kejadian G30S aja juga enggak tetap dibedil sampai mampus . Apa inikah makna fitnah lebih kejam dari pembunuhan?

3. Orang bilang tanah kita tanah surga. Ternyata, Macan Asia itu nyata adanya . Yuk, sama-sama kita bangunkan macan yang lagi pingsan ini hehehe .

4. Sejarah tergantung siapa yang bercerita. Jadi, situ enggak perlu percaya pada rangkaian tulisan ini hehehe. Saya juga ini sekalian melatih kemampuan menulis selain ingin berbagi pengetahuan (versi saya) hihihi.

Sekian :D.

The End.
***

G 30 S PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (6)

G 30 S PKI : Menyiapkan Panggung PemberontakanAidit mungkin merasa G-30-S sebagai rencana yang mantap. Jendral-jendral pembangkang bisa disingkirkan, Soekarno akan simpatik pada PKI. Sekali tepuk, partai dan posisi Soekarno bisa diselamatkan.

Yang tidak disadarinya, pihak AD maupun AS juga menunggu-nunggu saat ini datang. Mereka tahu, kudeta cara lama kepada Soekarno akan sia-sia. Soekarno masih terlalu popular di mata masyarakat. Mereka butuh dalih untuk menghajar PKI dengan alibi ingin menyelamatkan Soekarno. Setelah beres, barulah mereka bisa merongrong kekuasaan Soekarno.

Taktik khas AS yang masih dipakai sampai sekarang, “Hancurkan dulu teman-teman dekatnya!” Hint : bete sama Iran? Sikat dulu Suriah. Gampaaaang, tinggal gosok-gosok isu Sunni-Syiah saja untuk memancing reaksi masyarakat muslim internasional. Wow, it really works! Perbedaan yang sudah ada sekian abad itu tiba-tiba makin meruncing belakangan ini . Asyik, ya. Menghancurkan musuh dengan biaya dan effort yang sangat minimal secara materi. Angkat topi untuk AS .

Balik ke Indonesia tahun 1965, jangan salah, AS dan AD sudah bersiap-siap sejak lama . Tak hanya bantuan dana yang dikucurkan kepada sekutu mereka di Indonesia, AD dkk . Hal-hal lain yang berkaitan dengan pemerintahan telah mereka galang bertahun-tahun. Termasuk memberikan beasiswa kepada para lulusan ekonomi asal Indonesia. Familiar dengan istilah “Mafia Berkeley”? Nah, para ‘mafia’ itu lahirnya dari sini .

A.H Nasution yang memang telah menjadi ‘anak emas’ AS sedari awal meyakinkan ‘bos besar’ bahwa AD tidak akan membiarkan PKI mengambil alih kekuasaan. Dwifungsi ABRI adalah salah satu penetrasi yang dilakukan Nasution untuk menerabas ranah-ranah strategis dalam masyarakat sipil.

No wonder, zaman Orde Baru, yang menduduki jabatan-jabatan basah macam gubernur, walikota dll biasanya purnawirawan ABRI ya *menganggukAnggukSokPaham* . Belum lagi fungsional AD yang lain yang diwujudkan dalam “Golongan Karya” . Mantap. Sekarung jempol untuk AS, AD dkk .

Walau begitu, saya tetap sayang pada Ade Irma Suryani hehehehe *apaHubungannyaCoba* .

Makanya, AD dkk sudah sangat ‘siap’ bahkan sebelum G-30-S terjadi. Mereka hanya menunggu sebuah kejadian penting, semacam ‘keajaiban’.

Jangan dikata mereka banting tulang mati-matian secara mendadak nan tiba-tiba untuk ‘memperbaiki’ bangsa pasca Gestapu. Eit, persiapannya sudah bertahun-tahun, lho. Hehehe.

Jadi, peristiwa G-30-S ini bisa dibilang adalah jawaban dari doa AD & AS. Sejarawan tak menemukan bukti bahwa AS yang menjadi dalangnya. Lagi hoki aja hahaha.

Roosa pribadi meyakini G-30-S adalah ‘kesialan’ Aidit dan Biro Chusus-nya. Maksud hati hendak mempecundangi AD, ternyata mereka yang termakan perangkap. Namun, apakah Aidit yang dikerjai oleh Syam ataukah bagaimana-bagaimananya… masih tetap menjadi misteri yang sepertinya telah terkubur rapat-rapat bersama hampir semua dari mereka yang telah meninggal dunia.

Kudeta Suharto

Secara eksplisit, Roosa menempatkan kata-kata “Kudeta Suharto” sebagai bagian dari sub judul bukunya. Tepatnya, “Peristiwa G-30-S dan Kudeta Suharto”.

Salah satu sejarawan internasional mengemukakan teori konspirasi bahwa Suharto-lah dalang dari peristiwa ini. Dengan menempatkan dua sahabatnya (Kolonel Latief dan Letkol Untung) dalam tim inti dan ‘mempekerjakan’ Syam, Soeharto menyutradai semuanya dan belakangan mengkhianati kedua kolega perwira AD-nya tersebut. Inilah yang dijadikan alasan mengapa Soeharto lolos dari daftar penculikan.

Syam sendiri (konon) ditembak mati paling belakangan. Alibi rezim Orde Baru, karena Syam sudah banyak memberi informasi-informasi penting. Syam ditembak mati tahun 1986.

Tapi, Roosa menemukan fakta penting untuk tidak memercayai teori konspirasi ini. Soeharto tidak punya rekam jejak sebagai perwira yang cerdas dan memiliki strategi luar biasa. Bagaimana mungkin semua bisa berjalan sesempurna yang diinginkannya? Nope, Roosa menolak asumsi ini.

Mungkin maksudnya, masa iya ada orang yang sepanjang kehidupannya biasa-biasa saja tiba-tiba berubah jadi jenius dalam waktu setahun? Hehehe . Capek juga ya jadi sejarawan. Harus melihat rincian masa lampau satu persatu aktor dalam tiap peristiwa untuk menarik kesimpulan dan mengisi ruang-ruang kosong dengan asumsi akurat *ngelapKeringat*.

Kalau sekarang kan kagak perlu susah-susah mikir dan peduli setan sama rekam jejak, bukti dan sebagainya. Kalau terdesak, kan tinggal teriak-teriak dengan lantang, “Ini pasti ulah zionis!” Hahaha .

Suharto join di grup ‘penentang Soekarno’ setelah dijadikan sebagai komando nomor 2 oleh Ahmad Yani di perbatasan Malaysia saat Dwikora berkobar. Pura-pura saja AD mendukung Soekarno. Mereka sudah ‘main mata’ dengan AS dan sohibul karibnya, Inggris, yang menjadikan Malaysia sebagai negara federasi mereka. Inilah yang ditentang oleh Soekarno. Tidak merestui pihak sekutu yang ingin menjadikan Malaysia dan belakangan Singapura sebagai negara boneka mereka.

Di sinilah Suharto sudah mulai banyak tahu soal hal-hal ‘besar’ lainnya. Saat Ahmad Yani dinas ke luar negeri, jabatan Panglima Tertinggi AD sering disematkan pada Suharto.

Bagii Roosa, peristiwa G-30-S diyakini adalah kejutan bagi AD dan AS. Tentu mereka tidak akan segegabah itu membiarkan petinggi-petinggi AD seperti Ahmad Yani, S. Parman, Soeprapto dll menjadi korban begitu saja. Roosa yakin, AD pun kecolongan dalam hal ini.

Entah, ya, menurut Roosa, kebetulan saja Latief dan Untung itu adalah sahabat dekat Suharto secara personal. Tapi ada kecurigaan, Sueharto bermuka dua di hadapan mereka berdua. Latief pernah mengadukan masalah “Dewan Jendral” kepada Suharto dan Soeharto berjanji akan menyelidikinya. Kemungkinan, Latief tidak tahu kalau Suharto sudah join ke gank ‘sayap kanan’.

Sedari awal, Suharto sudah menyadari rencana AD dan hendak membangun kediktatorannya sendiri. Terlepas dari detil-detil yang dipegang oleh Nasution dkk yang tidak diketahuinya, begitu kesempatan itu datang di tahun 1965, Suharto menjalankan rencana-rencana yang sudah ada.

Mulailah Suharto carper ke AS. Suharto tahu AS sangat takut pada rencana nasionalisasi tambang minyak oleh Soekarno yang seharusnya sudah dibahas saat itu. Suharto turun tangan langsung di sidang kabinet pertengahan Desember 1965 saat Chairul Saleh membahas nasionalisasi Caltex. Sesaat setelah sidang berlangsung, Suharto tiba-tiba muncul, datang dengan helikopter. Suharto mengancam bahwa AS tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan gegabah pada perusahaan-perusaahn minyak. Chairul Saleh menciut dan langsung membatalkan pembahasan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Suharto tahu, dia harus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk menjamin kediktatorannya nanti. Suharto ingin segera mengakhiri politik bebas aktif ala Soekarno dan merapat ke AS. Sedari awal, Suharto sudah sibuk ngutang ke Paman Sam .

Setelah G-30-S terjadi, AS sempat meragukan apakah AD bisa memutarbalikkan situasi sesuai rencana yang telah mereka gadang-gadang selama ini. Walau Ahmad Yani sudah tidak ada, masih ada Nasution. Namun, tewasnya sang putri tercinta merupakan pukulan yang sangat dalam bagi sang jendral. Sementara situasi segenting ini harus disikapi dengan cepat dan konsentrasi penuh.

Untunglah, sisa-sisa petinggi Angkatan Darat, Soeharto dkk, sigap membaca peluang ini. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung sepakat menunjuk PKI sebagai dalang hanya dengan modal pengumuman Dewan Revolusi via RRI. Ya, lagian, memang tidak bermaksud mencari bukti konkrit, kok hehehe .

Bukti-bukti telegram Duta Besar AS di Indonesia kepada atasannya di AS sudah banyak yang terbongkar dan dijadikan data oleh para sejarawan. Termasuk jaminan dari AS bahwa pasukan Malaysia tidak akan mengganggu Indonesia selama AD sibuk ‘membunuhi’ kader/simpatisan PKI. Pokoknya dibantu semampunya .

Organisasi massa dipersenjatai dan diprovokasi oleh AD untuk menyerang massa PKI yang segambreng itu. Ada yang berkilah, masyarakat memang sudah dendam pada PKI sejak lama. Belum cencuuuu hehehe. Sedendam-dendamnya penduduk sipil, apa sampai berani membunuhi sesama sipil? Kudu dikompor-komporin dulu. Ini ada kok penelitian secara psikologisnya . Baca dewe, yo hehe.

Di film dokumenter “The Act of Killing/Jagal” (ini cerita teman, sih), selain propaganda besar-besaran, para pembantai sipil juga diberi alkohol. Konon, efek alkohol bisa mengurangi rasa berdosa mereka dan mencegah mereka dihantui mimpi buruk karena membantai segitu banyak massa PKI. Sudah nonton filmnya? Saya mah takuuuut hehehe. Film ini mengangkat sudut pandang masyarakat sipil yang ikut membantu AD menangkapi dan mencabut nyawa kader/simpatisan partai komunis yang saat itu tengah jaya-jayanya.

AD sangat hati-hati dalam merebut kekuasaan. Suharto sadar betul cara mereka merebut kekuasaan adalah tonggak penting bagi keberlanjutan dinasti militer secara nasional. Mereka menciptakan suasana histeris, penuh krisis dan meyakinkan masyarakat bahwa mereka semua dalam bahaya maut.

Sesudah membasmi PKI, AS membantu membiayai demonstrasi-demonstrasi atas nama mahasiswa yang menunjukkan ketidakpuasan atas kepemimpinan Soekarno.

G 30 S PKI
Gambar : hass.unsw.adfa. edu.au

Untuk melegitimasi tindakannya, Suharto bahkan menyalahgunakan Supersemar dari Soekarno. Misteri Supersemar juga terkubur bersama tiga perwira yang katanya menjadi saksi surat sakti ini. Protes dari Soekarno tidak menghentikan Suharto saat itu. Suharto mencopot 15 menteri yang ditengarai loyalis Soekarno dan mengangkat menteri-menteri yang tentu saja pro AD.

Sejak itu, Suharto melaju terus dan membawa kediktatoran militer memulai kekuasaannya selama lebih dari 30 tahun di bumi Nusantara. Menyudahi masa-masa jaya Soekarno dalam kepahitan. Well, every hero becomes a bore at last ).

***

(Bersambung ke sini)

Peristiwa g30s PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (5)

Peristiwa g30s PKI : Penulis buku ini, Roosa, bukannya pro komunisme atau hendak menunjukkan betapa sucinya PKI.

Buku “Pretext of Mass Murder” ini membahas kritikan Roosa sebagai sejarawan terhadap lemahnya bukti-bukti yang ditunjukkan oleh rezim Orde Baru untuk menuding PKI sebagai dalang G 30 S. Ketidaksetujuan Roosa atas pembantaian sekitar 1-3 juta orang yang dituduh berafiliasi dengan PKI pasca Gestapu. Tidak ada pengadilan sama sekali. Bidik-hardik-ciduk-bunuh!

Kita akan bahas ini lebih lanjut di bagian kesimpulan. Makanya, tahaaaaaan. Tahan dulu komentarnya . Dikira pula gue pro komunis. Widih, eike mah muslim. Percayanya pada Syariah Islam. Walaupun sering mengaku manis, saya bukan pro kapitalis, komunis, marxis dll. *BenerinKerudung* .

Bahkan, istilah pemberontakan atau kudeta pun sebenarnya tidak patut. Karena, gerakan ini tidak berusaha menjatuhkan pemerintahan yang tengah berjalan. Saat itu pemerintahannya kan masih ‘under’ Soekarno secara sah. Setelah peristiwa penculikan para jendral, terlihat Soekarno yang sudah diberitahu mengenai adanya G 30 S oleh Supardjo, tetap asyik berdiskusi dengan Supardjo dkk di Halim mengenai siapa kira-kira pengganti yang pantas untuk Ahmad Yani.

Pranoto yang ditunjuk Soekarno sempat diminta datang ke Halim. Tapi Soeharto menghalangi. Menurutnya, keadaan tidak cukup aman di sana. Walau Soekarno berkeras menjamin keamanan Pranoto, Pranoto tak pernah muncul menghadap Soekarno.

Halim akhirnya dikuasai Angkatan Darat dengan sedikit pertempuran. Sementara pemimpin-pemimpin G 30 S + Aidit sudah pada kabur.

Di Jawa Tengah, Aidit bersembunyi. Sebenarnya, menurut Roosa, Aidit ini bisa saja menurunkan perintah untuk pengerahan massa PKI. Seharusnya, tak semudah itu PKI bisa ditumpas oleh AD. Dengan massanya yang segambreng, PKI setidaknya bisa memicu Perang Saudara.

Tapi, Aidit mungkin berhitung. Walau Aidit yakin massanya akan melakukan apa saja untuk melawan begitu ada perintah, pertarungan antara sipil dan militer tetap tak akan berimbang. Massa PKI pasti akan dibantai oleh militer. Ini bukan hal yang positif. Saat itu, Aidit mungkin masih menggantungkan harapannya pada Soekarno. Aidit berpikir Soekarno tak akan mungkin membiarkan PKI dihabisi begitu saja.

Kalau saja Aidit punya penerawangan ke masa depan, bahwa tanpa melawan pun ternyata massanya akan terbunuh, mungkin dia akan berubah pikiran saat itu.

Sedikit pelajaran mengenai leadership bisa dilihat dari sikap Aidit ini. Ini pendapat saya pribadi, ya. Seorang pemimpin dalam keadaan terdesak sekali pun, tidak akan membiarkan pengikutnya mati konyol begitu saja hanya demi membela diri sendiri . Tidak banyak pemimpin masa kini yang bisa bersikap seperti itu dalam keadaan terdesak. Jangan lagi dibilang gue pro Aidit . Ini membahas khusus terhadap tindakannya yang memilih untuk diam dan tidak memprovokasi massa PKI untuk melawan.

Tak ada informasi yang bisa dikorek dari Aidit. Aidit langsung ditembak mati di sebuah tempat rahasia di Jawa Tengah di bulan November 1965 tanpa proses pengadilan.

Yang tidak diketahui Aidit adalah AD sudah semakin mengokohkan posisinya. Perkiraan Aidit tidak salah. Soekarno memang sangat marah dan mengkritik habis-habisan tindakan AD yang dianggapnya keterlaluan. Soekarno membanting koran, yang setiap hari berisi propaganda AD untuk memancing perang urat syaraf, “Gestapu, gestapu, gestapu, silet, silet, silet, dikiranya kita ini bodoh apa? 100 orang menyileti perwira! Kebohongan macam apa itu?”

Soekarno sudah berusaha mencegah tindakan brutal AD. Soekarno mengumpamakan, “Membunuh tikus dengan membakar seluruh rumah.” Namun, saat itu sang Pemimpin Besar ini pun tinggal menunggu nasib saja. Kemarahannya dan kritikannya tidak ada yang menggubris serius.

Perang urat syaraf ala AD memang cukup taktis. Visum jenazah jendral bisa dibilang dibuat selebay mungkin. Proses penculikan dan penembakan di Lubang Buaya direkayasa sedemikian rupa. Seluruh ormas pro PKI disebut-sebut mendukung dan tahu pasti tentang gerakan ini. Seluruhnya. Termasuk mereka yang berada nun jauh di tempat terpencil, para petani-petani yang kebanyakan tidak bisa baca tulis. Hajar semua. Tangkap dan bantai.

Perselisihan PKI dan golongan non komunis juga dimanfaatkan seoptimal mungkin. Isu agama digosok sedemikian rupa. Rezim Soeharto ingin agar pembasmian ini seolah adalah keinginan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Orde Baru butuh legitimasi dari seluruh bangsa untuk mengokohkan pemerintahannya ke depan. Ingat, ya, tujuan utama AD adalah menyingkirkan Soekarno sesuai perintah ‘bos besar’ dan merebut kekuasaan yang mudah ditempuh dengan cara membabat habis kaum loyalis. Semuanya, tidak hanya PKI.

Sempat pernah membaca artikel di media cetak (lupa, euy) bahwa di masa-masa itu, orang-orang yang nonkomunis pun membakar atau membuang buku-buku tentang Soekarno. Karena waktu itu keadaan sangat chaos. Tidak ada standar khusus soal penangkapan. Kadang, hanya mendapat warga yang memasang poster Soekarno saja, penghuni rumah langsung diciduk dan tak pernah kembali lagi.

Menyanyikan lagu Genjer-genjer juga dilarang. Pernah juga mendengar, pencipta lagu ini juga diculik dan dibunuh. Walau mungkin memang benar PKI bersikap represif terhadap segolongan ulama muslim, tapi isu ini terus digosok-gosok dan dihembus-hembuskan. Pokoknya PKI digambarkan sebagai partai dengan moral sangat kejam.

Roosa juga mempertanyakan ini. Dengan dukungan suara sekitar 27% di tahun 1957, apakah benar bahwa puluhan persen masyarakat Indonesia ini bisa dibilang bermoral bejat? Kalau memang PKI sejahat itu, mengapa mereka bisa mendapat simpati sedemikian luas dari berbagai lapisan masyarakat? Apakah di masa itu, masyarakat Indonesia yang bersimpati pada PKI adalah atheis berdarah dingin semua?

Masih ingat dong film dokumenter “Pengkhianatan G30S/PKI” yang dibuat dii awal tahun 80 an. Adegan pertamanya saja sudah sangat cerdik. Alquran dicabik-cabik dengan clurit, senjata khas ala PKI. Orang lagi sembahyang diserang dan dibunuh dengan cara kejam. Ada yang dicungkil matanya. Pesan yang ingin disampaikan, “Inilah yang akan TERUS terjadi jika PKI dibiarkan merajalela.”

Apakah ada yang bisa membuktikan apakah benar saat PKI masih ada, seperti itu cerminan utama kelakuan mereka di daerah-daerah? Semua masjid pasti diserang. Kerjaan semua kader partai adalah mencabik-cabik alquran. Apa iya, puluhan persen yang mencoblos PKI di tahun segitu atheis semua? Hayoooo . Jangan pakai perasaan, buktikan! . Jangan hanya karena segelintir pengaduan dari kalangan ulama/pesantren membuat anda sengit tiada terkira pada PKI.

Karena sama saja kawan-kawanku. Anda mengadukan betapa sedihnya kalau kakek anda seorang ulama dulu dianiaya atau diculik oleh PKI. Nah, bayangkan perasaan yang sama dari sekitar 1-3 juta ibu-ibu dan anak-anak yang suaminya dijemput paksa untuk dibunuh! Sepadan? Atau jangan-jangan memang tempo itu ada ratusan ribu ulama yang dibantai PKI? Nah, kalau memang ada faktanya harusnya ada, tuh, yang meneliti hal ini juga.

Janganlah kebencian pada suatu kaum mendorong kita berlaku tidak adil pada mereka, gitu kali kira-kira pesan moral si Bang Roosa .

***

Di monumen Lubang Buaya, museumnya menampilkan diorama mengenai penyiksaan di Lubang Buaya di dini hari 1 Oktober 1945. Saya ingat ada perempuan bertelanjang dada menari hula-hula memakai karangan bunga di leher. Subuh-subuh kaleeeee, dingin atuh enggak pakai beha hihihi . Seolah-olah menari telanjang itu adalah tradisi khas PKI. Masa, sih? Ada yang bisa membuktikan?

Sepertinya belum pernah ketemu teori komunisme yang mendukung pornografi dan semacamnya hehe .

Tentu saja, ahli-ahli perang urat syaraf ada di belakang rezim Soeharto. Keberhasilannya tidak bisa diragukan. Hilang semua rasionalitas. Hayo pada ngaku, dulu kalau nonton film ini pasti pada berdoa dalam hati, “Semoga semua anggota PKI masuk neraka. Aamiin.” Hehehe. Ngerti kagak, ngutuk iye .

Dalam menghabisi nyawa seluruh partisipan, AD juga melibatkan peran serta masyarakat. Secara psikologis, sipil itu jelas berbeda dengan militer. Seorang prajurit sanggup menghabisi nyawa siapa saja hanya dengan bekal komando atasan. Didikannya memang disiplin begitu. Beda dengan sipil. Makanya, doktrin-doktrin agama dan propaganda ala perang urat syaraf tadi harus digalakkan di masyarakat luas.

Apalagi orang-orang yang harus dilenyapkan ini kan bagian dari masyarakat luas. Apa sebegitu mudah menyuruh masyarakat dengan perintah seperti ini, “Cuy, tetangga lo PKI. Bilang ke Pak RT kumpulin mereka terus bunuhin satu-satu, ya.”

Tentu tak segampang itu. Masyarakat pasti banyakan ragunya, “Tapi kan, dia itu tetangga saya. Saudara saya. Saya kenal sejak kecil.” Itulah pentingnya doktrin silet, menari telanjang, isu agama, perlu terus berulang-ulang dihembuskan ke seluruh penjuru nusantara. No problem. RRI dalam kendali penuh AD. Media-media cetak pun dikuasai.

Kedengarannya mustahil. Tapi sebenarnya keadaan sekarang kan juga sama saja hehe. Contoh nyatanya di era terkini apa coba? Siapa yang bisa menyebutkan perang urat syaraf di masa kini? . Selembar berita di koran atau sepucuk status di FB tiba-tiba sanggup mengobarkan kebencian yang begitu mengerikan? . Sumbernya entah dari mana, foto-fotonya pun kadang hoax.

Nah, sekarang mengerti kan bahayanya foto hoax . Remember peeps, a picture paints a thousand words. Diceritakan saja belum tentu cukup. Makanya dibuatkan filmnya secara serius, diputar wajib tiap tahun, dibikinkan monumen lengkap dengan museum dan miniatur kejadian yang dibuat se’drama’ mungkin. Itu ngaruh, lho. Ngaruh banget.

Setelah itu, AD juga melatih dan membekali kaum sipil dengan senjata. Tentu dengan jaminan, bahwa pembantaian ini semacam tugas suci dari negara (plus agama). Tidak perlu ada yang merasa takut-takut atau ragu-ragu. Jangan dikira masyarakat secara sukarela menawarkan diri untuk ikut membunuhi tetangga/saudara/kerabat mereka sendiri.

Salah satu bukti penelitian adalah daerah Bali. Sebelum AD mendaratkan militernya di sana, data yang didapatkan, pembantaian belum marak. Masyarakat hanya sebatas terdoktrin tapi belum melakukan tindakan masif. Barulah setelah beberapa lama, AD menempatkan tentaranya di sana, barulah ormas-ormas masyarakat beramai-ramai dibentuk dan ikut menciduk para kader/simpatisan PKI.

Kok doyan bawa-bawa agama, ya? Itu diaaaaaa. Level masyarakat kita kan sampai sekarang saja masih gampang ditakut-takutin dengan siksa api neraka . Asal sudah diancam-ancam pakai neraka, bodo amatlah rasionalitas dan semacamnya. Masih figur sentris, “Eh, ini kata Pak Ustaz anu, lho.”

Tidak percaya? Ya tengok saja Pilkada DKI tempo hari. Bertaburan ayat dan ancaman ala agama hahaha. Itu karena yang menghembus-hembuskan itu tahu pasti, hal-hal seperti ini masih bisa menjadi bahan dagangan yang laku. Lebih dari cukup untuk mempermainkan logika masyarakat.

Tunggu saja jelang-jelang Pemilu. Sekarang-sekarang saja sudah mulai kok . Perhatiin aja . Pilih partai A atau anda tidak tergolong muslim yang taat. Jangan-jangan besok-besok ada jaminan masuk surga .

***

Sebagian besar anggota Politbiro-CC PKI (yang bisa dibilang petinggi-petinggi PKI) langsung tembak mati di tempat atau dinyatakan hilang begitu saja tanpa proses pengadilan. Termasuk Aidit, Nyoto dll. Salah satu yang sempat lolos dan bersaksi di pengadilan adalah Suspendi.

Suspendi, salah satu anggota dari Committe Central, badan tertinggi PKI dalam kesaksiannya mengaku tidak tahu tentang gerakan ini. Namun dengan gagah beliau tetap berkeras di persidangan Juli 1967 pada keyakinannya terhadap kebesaran partai dan proletariat. Walau demikian, Suspendi juga tidak mengelak dari pertanggungjawaban selaku salah satu pucuk pimpinan partai. Suspendi dihukum mati. Siapa Suspendi? Rekam jejaknya monggo dicek di biografi yang bersangkutan. Google dewe, yo .

Sebaliknya sikap Syam justru jauh dari keteguhan yang ditunjukkan oleh petinggi-petinggi PKI. Tertangkap di tahun 1967, Syam malah santai-santai saja membocorkan berbagai rahasia partai di depan sidang Mahmilub? Karena in banyak sejarawan yang mencurigai Syam sebagai agen ganda.

Kalau dari saya pribadi, keanehan lain juga terlihat. Tokoh-tokoh kunci baru ditangkap dan diadili setelah pertengahan tahun 1966, sementara pembantaian membabi buta terhadap PKI telah dimulai sejak Oktober 1965. Tuding dulu, bunuh dulu, buktinya belakangan. Bukan kebenaran memang dicari, sih, ya.

Kembali lagi kepada Syam dan Biro Chusus-nya, BC. Biro ini, dalam penelitian Roosa, disimpulkan sebagai bentukan PKI untuk menelusup ke dalam ABRI. Sebenarnya, badan-badan seperti BC ini bukan hanya khas PKI saja. PSI pun dulunya punya organisasi ‘rahasia’ semacam ini. Dari situlah dahulu, PSI mengorganisasikan pemberontakan PRRI/Permesta dengan ‘simpatisan’ militernya.

Tak semua petinggi PKI tahu pasti tentang BC. Bahkan, tak semua kenal dengan anggota-anggota BC. Termasuk mengenali pimpinan BC sejak tahun 1964, Syam. Kerahasiaan yang terlalu dalam inilah kiranya yang mungkin membuat intelijen AD dalam PKI gagal mengindentifikasi dan menyelamatkan para petinggi-petinggi AD dari G-30-S. Zaman dulu, semuanya punya mata-mata di mana-mana . Khas ‘pertarungan’ ala Perang Dingin .

Buktinya, S.Parman selaku kepala intelijen AD juga ikut menjadi korban. Aneh sekali bila S.Parman tahu tapi membiarkan dirinya dan teman-temannya menjadi korban penculikan. Minimal dia pasti berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

Saat G-30-S meletus, Syam bukan perwira militer dengan pangkat tinggi dan bukan tokoh sipil yang luar biasa. Cukup mengagetkan juga bila Syam bisa dipercaya memimpin gerakan seambisius ini.

Salah seorang sumber terpercaya Roosa, yang diberi nama anonim Hasan, mengungkap sedikit soal Biro Chusus dan Syam. Menurut Hasan, anggota Biro Chusus Pusat (Syam, Pono, Bono, Wandi dan Hamim) tidak dikenal sebagai anggota partai.

Dalam kesehariannya mereka menyamar, sebisa mungkin yang membuat tetangga dan orang-orang lain tidak mencurigai mreka sebaga orang partai. Kelimanya memiliki usaha. Misalnya Syam memiliki usaha genteng. Hal lainnya, Syam ke mana-mana berjas dan berdasi dan mengendarai mobil mewah. Mengapa? Karena tokoh-tokoh komunis dikenal sangat benci kemewahan hidup dan mengawal ketat penghasilan para anggotanya, apalagi jajaran pimpinan.

Hm, tuh, ada juga kan sisi positifnya kaum komunis? . Sekali lagi tidak menganggap mereka dewa, tapi menyajikan info yang berimbang.

Kembali lagi ke Biro Chusus. Biro Chusus daerah juga dibuat seperti itu. Anggota-anggotanya kemungkinan besar tidak dikenali oleh kader partai yang lain. Mereka hidup dalam penyamaran dan lebih banyak melakukan operasi bawah tanah.

Hal inilah yang menyebabkan setelah G-30-S pecah, saat sebagian besar pimpinan PKI langsung ditembak mati begitu saja dan yang tidak tahu malah menyerahkan diri secara sukarela saat ada pemanggilan, kader-kader bawah seperti anak ayam kehilangan induk. Blank. Lagi blank begitu, AD pun leluasa menghabisi mereka secara massal, nyaris tanpa perlawanan. Itulah jawaban logis mengapa partai sebesar PKI musnah begitu saja dalam hitungan bulan. Sekali lagi, tanpa perlawanan berarti.

Bagian berikutnya masuk dalam pembahasan tentang Soeharto. Jeng…jeeeeengggg…

Peristiwa g30s PKI
Gambar : republika.co.id

***

(Bersambung ke sini)

G30S PKI : Buku Dalih Pembunuhan Massal (4)

G30S PKI : Astaga … langsung loncat saja. Lupa eike bagian pentingnya. Dokumen Supardjo! *tepokPoni*

Mundur sedikit, ya.

Dokumen Supardjo

Brigjen Supardjo, perwira AD dengan pangkat tertinggi dalam ‘panitia’ G-30-S sempat menjadi tertuduh utama. Bahwa Supardjo adalah dalang dan otak dari gerakan ini. Mengingat rekam jejaknya sebagai salah satu perwira yang bisa dibilang ahli siasat dan strategi.

Diperkirakan Supardjo menyusun dokumen yang dimaksud ini dalam pelariannya, “Sebab-sebab gagalnya G-30-S”. Tak ada tanggal di sana. Keaslian naskah nyaris tidak ada pihak yang meragukan.

Dokumen disusun dari kacamata seorang perwira militer yang punya pengalaman banyak. Dokumen ini entah ditujukan untuk siapa. Sepertinya sebagai bahan pelajaran dalam operasi-operasi militer kepada kawan-kawan perwiranya.

Dari dokumen inilah tersingkap 5 pimpinan G-30-S (Untung, Latief, Soejono, Sjam dan Pono).

G30S PKI
Brigjen Supardjo+ istri (news.liputan6.com)

Sebenarnya, Supardjo mengatakan ada rencana awal yang lain. Gerakan akan dibagi 2. Gerakan pertama murni pembersihan Angkatan Darat dari petinggi-petinggi sayap kanan yang pro-Amerika, tanpa campur tangan partai. Barulah setelah itu, PKI bisa leluasa menyusun ‘pemerintahan’ yang baru dengan Soekarno.

Supardjo tak menyebutkan mengapa dan kapan rencana ini ditinggalkan. Supardjo yang jelas berusaha mengkritik lemahnya ide-ide G-30-S yang dikemukakan dalam diskusi-diskusi. Tapi Syam berkeras dan meledek siapa pun yang bertanya, “Kalau revolusi mau jalan tak banyak yang mau ikut, revolusi berhasil banyak yang mau turut.”

Dengan kemampuan militer yang ulung, Supardjo sedari awal sudah melihat banyak sekali celah-celah kelemahan. Salah satunya pucuk pimpinan yang tidak jelas. Dalam militer, komando tertinggi seharusnya hanya dipegang oleh 1 orang. Tapi tidak dengan operasi G-30-S. Supardjo sendiri sampai bertanya, saat para pemimpin yang terdiri dari perwira AD dan Biro Chusus berdebat kusir saat mereka panik setelah Soekarno menolak mendukung G-30-S, “Siapa pemimpin tertingginya?”

Menurut Supardjo, bahkan untuk bertanya detail saja, Syam sudah menghardik. Syam seolah memposisikan pemikirannya sebagai Napoleon,”Seseorang menerjunkan diri lalu melihat apa yang terjadi.” Nekatnya oke. Sayangnya tidak diimbangi dengan kecerdikan legenderis Sang Jendral dan pasukannya yang teroganisir dengan rapi dan teratur.

Supardjo menyesalkan dirinya membiarkan sebuah operasi militer yang tertatih-tatih dan tanpa plan B sama sekali digagas dan dikendalikan oleh seorang sipil.

Supardjo mengaku pernah berusaha meminta izin untuk memimpin sisa-sisa pasukan di tanggal 1 Oktober 1965, namun Syam dan Untung tidak memberikan sinyal yang jelas. Dangkalnya rencana makin membuat kalangan pimpinan panik kala Soekarno malah meminta G-30-S untuk dihentikan.

Soekarno menolak mendukung G-30-S setelah tahu adanya pertumpahan darah. Mungkin inilah bedanya sipil dan militer. Sebagai Panglima Tertinggi mereka, perintah Soekarno tak terbantahkan bagi Latief-Untung-Soejono + Supardjo. Disiplin militer sangat ketat. Gerakan ini pun tidak pernah dimaksudkan untuk merebut kepemimpinan Soekarno. Justru dilakukan oleh para loyalis sejatinya untuk melindung Panglima Tertinggi dari rongrongan petinggi-petinggi AD sayap kanan.

Setelah Soekarno tidak menunjukkan dukungan terhadap G-30-S dan secara khusus meminta Supardjo menghentikannya, Supardjo tak ragu sama sekali. Karena kesetiaannya pada G-30-S jelas untuk Soekarno bukan untuk PKI (dalam hal ini, Supardjo meyakini Syam mewakili PKI secara institusi).

Sebelum hari H-nya sendiri, mengapa Supardjo, bahkan Untung-Latief-Soejono ini tetap memutuskan untuk ikut bahkan setelah tahu betapa keras kepala dan congkaknya Syam serta rencana militer yang morat marit itu?

Karena Syam membawa-bawa PKI secara organisasi dalam hal ini. Supardjo jelas bukan kader PKI. Tapi ia tahu pasti kebesaran dan massa PKI yang sedemikian besar dan menjangkau berbagai lapisan. Dari petinggi kabinet hingga petani-petani kecil di desa-desa terpencil. PKI dikenal memiliki doktrin yang ketat, sekolah-sekolah sendiri, pertunjukan seni regular dan kedisiplinan yang teruji.

Dengan pegangan inilah, Supardjo dan rekan-rekan perwira ADnya yang lain manut ketika satu demi satu kritik mereka terhadap rencana G-30-S diabaikan oleh Syam. PKI dan ‘barisan sakit hati’ AD ini bersatu juga karena kesamaan ingin menyingkirkan Ahmad Yani and the gank.

***

Balik ke hari H G-30-S di tanggal 1 Oktober 1965.

Penculikan jendral tidak berlangsung mulus. Karena 3 sudah tewas dan tidak mungkin membawa tiga jasad berdarah ke hadapan Soekarno, sisanya dianggap tidak penting lagi. Mereka ikut dibunuh dan disembunyikan mayatnya.

Soal silet-silet-an, ludah-ludahan dan perempuan telanjang menari-nari saat jendral disiksa hanya propaganda Orde Baru. Hasil visum resmi telah dibuka dan sudah banyak beredar. Semua alat kelamin utuh tidak ada senjata-senjata lain yang digunakan selain senapan, bayonet dan pukulan benda tumpul.

Ini pula salah satu bentuk kegagalan operasi. Supardjo mengaku, karena merasa dikejar-kejar dan ‘segan’, laporan dari daerah-daerah banyak yang dipalsukan. Belum banyak yang siap tapi saat ditanya semua mengaku siap. Termasuk para relawan yang sedianya diambil dari masyarakat sipil.

Dapur umum untuk ibukota untuk memasok makanan bagi para pasukan dibubarkan. Kecerobohan dalam perbekalan makanan ini kesalahan yang sangat fatal dalam militer, menurut Supardjo.

Dini hari 1 Oktober 1965, di Lubang Buaya, hanya hadir 70 orang. Semuanya, sudah termasuk Gerwani dan istri-istri para sebagian prajurit yang ditugaskan untuk menculik yang ternyata ada yang diambil dari relawan sipil *gubrak*. Tentara kurang. Bahkan bantuan dari AURI terlambat datangnya.

Jadi, logikanya mana sempat perempuan-perempuan yang jumlahnya minim itu menari-nari telanjang. Mereka disibukkan dengan penjahitan lambang di seragam prajurit. Onde mande, sudah mau bertugas, seragam baru dijahit?????? Pantaslah Supardjo stres hehehe.

Kalau di filmnya berasa ada ribuan orang di Lubang Buaya malam itu. Menari-nari, menyanyi-nyanyi dan berpesta-pesta. Mungkin, mungkin juga mereka suka menari dan menyanyi tapi TIDAK di saat penculikan dini hari itu.

Lucunya lagi, setelah penculikan, Letkol Untung sampai tidak menyadari bahwa Soekarno tidak menginap di istana saat itu. Padahal tugasnya adalah mengawal Presiden! Saking groginya *ngelapKeringat*. Pasukan hanya mondar-mandir di depan istana yang kosong.

Soekarno menginap di salah satu rumah istrinya. Justru Soekarno dilarang mendekat ke istana karena adanya laporan bahwa ada sejumlah pasukan yang tidak dikenal mengepung istana.

Soekarno secara insting menuju Halim. Hampir semua kesaksian menunjukkan Soekarno bukan ke Halim karena ingin bergabung dengan para pemimpin G-30-S yang tengah berkumpul di sana. Sesuai protokoler, jika ada situasi tidak menentu, Presiden ingin dekat-dekat dengan pesawat terbang.

Supardjo kebagian tugas melapor kepada Soekarno. Bahkan, pertemuannya dengan Soekarno terjadi secara tidak disengaja. Oemar Dani yang mengusahakan pertemuan tersebut di Halim. Umar Dani telah mendengar mengenai penculikan perwira tinggi AD dan merasa gembira. Umar Dani merupakan salah satu loyalis Soekarno.

Dari kesaksian Supardjo juga ditemukan fakta bahwa sebenarnya di tanggal 3 Oktober, Umar Dani mengundangnya untuk berdiskusi dengan Soekarno mengenai isu “Dewan Jendral.” Namun upaya Umar Dani ini tidak ada kaitannya dengan G-30-S. Ini adalah rencana berbeda.

Di sinilah rencana gerakan makin kocar kacir. Sama sekali tidak ada skenario persiapan bagaimana bila Soekarno menolak! Untung dan Latief langsung berhenti seketika. Mereka sudah siap untuk menghentikan aksi dengan adanya perintah langsung dari Soekarno. Soekarno tak bertemu mereka. Supardjo yang bolak balik dari kediaman Soekarno dan tempat persembunyian para pemimpin gerakan. Maklum, ponsel belum ada. Belum bisa DM-DM an atau whatsapp-an hehehe.

Ini juga salah satu kelemahan gerakan. Tidak ada fasilitas walkie-talkie! Sampai bab ini saya jadi bingung sendiri. Ini gerakan kok kayak segerombolan orang tolol begini .

Perwira AD sudah menarik diri dan ibaratnya sudah ‘pasrah’, Syam ingin maju terus. Inilah yang menyebabkan pengumuman ke-2 di RRI justru menjadi bumerang mematikan untuk PKI!

Entah ide siapa mengumumkan adanya pen-demisioner-an kabinet Soekarno. Apakah Syam atau Aidit? Atau mereka berdua memutuskan dalam keadaan panik? Gerakan ini bisa dipandang sebagai kudeta kepada kepemimpinan Soekarno, hal yang TIDAK PERNAH ADA dalam rencana. Konon, pengumuman ini membuat Soekarno yang tadinya netral mulai berang.

Pen-demisioner-an kabinet Soekarno membuat Soeharto dan sisa-sisa petinggi AD lainnya seolah mendapat ‘restu’ untuk tampil sebagai pahlawan untuk membela Soekarno. Secepat kilat, Soeharto dkk menunjuk PKI sebagai dalang! Semuanya terjadi di 1 Oktober 1965. Hanya dalam hitungan jam setelah gerakan dimulai.

Soekarno terjebak di Halim. Setelah berdiskusi bersama Umar Dani dll, Soekarno memutuskan untuk mengangkat Pranoto sebagai pengganti Ahmad Yani. Sementara di Kostrad, petinggi-petinggi AD menyepakati Soeharto sebagai pengganti Ahmad Yani.

Apa yang terjadi dengan petinggi-petinggi PKI yang lain setelah berita pertama mengudara di RRI? Mereka ikut gembira tentu saja. Mereka tak tahu pasti tentang gerakan ini. Beberapa memberikan kesaksian bahwa mereka mengira G-30-S adalah kisruh internal Angkatan Darat.

Pengumuman ke-2 justru membuat pimpinan lain PKI dan segenap kader/simpatisan/relawan terbengong-bengong. Mengapa gerakan ini malah menjatuhkan kepemimpinan Soekarno? Siapa yang sebenarnya mereka lawan?

Inilah salah satu fakta bahwa sebenarnya keputusan pen-demisioner-an tersebut hanya langkah impulsif yang diambil (entah oleh Syam atau Aidit) untuk mengantisipasi penolakan Soekarno untuk mendukung gerakan. Sama sekali tak ada rencana semula.

PKI yang tadinya disuruh bersiap-siap mendengarkan siaran di radio untuk pembentukan Dewan Revolusi di daerah dan di ibukota seketika terbengong-bengong. Mereka yang tadinya memang hanya disuruh mendengar radio dan tidak mengerti apa-apa tentang G-30-S makin hilang arah.

Makanya, tak ada tindakan lanjutan dari PKI untuk mendukung gerakan ini secara sistematis dan serentak. Padahal massa mereka luar biasa banyaknya. Hirarki kepemimpinan partai dari atas ke bawah berlangsung dengan sangat disiplin. Ya kalau yang atas-atas saja bingung, piye bawah-bawahnya mau bergerak?

Soeharto sendiri entah mengapa luput dari daftar penculikan. Posisinya tergolong penting. Jika Ahmad Yani sedang ke luar negeri, Soeharto-lah yang sering menjadi penggantinya di tanah air.

Ada dugaan kedekatan Soeharto secara personal dengan Kolonel Latief dan Letkol Untung adalah penyebabnya. Dengan kedua orang tersebut, hubungan Soeharto tidak hanya sebatas pertemanan sesama perwira AD. Mereka akrab di luar urusan pekerjaan. Sayangnya, tak ada bukti yang bisa menyeret Soeharto ke dalam pusaran konspirasi.

Sebagai bukti dilema Soeharto, Kolonel Latief, satu-satunya dari 5 pemimpin gerakan yang lolos dari regu tembak. Ada perkiraan, rasa empati sebagai seorang sahabat yang mendorong Soeharto untuk ‘menyelamatkan’ Kolonel Latief.

Dalam pleidoinya di tahun 1978, Latief mengaku bahwa ia pernah memberitahu Soeharto mengenai G-30-S. Soeharto hanya mengaku bertemu Latief di rumah sakit pada tanggal 30 September malam. Tapi Latief menyatakan tidak hanya bertemu tapi mereka berbincang.

Latief bebas di tahun 1998. Latief menolak kesaksiannya saat baru tertangkap karena pernyataan dibuat dalam tekanan/penyiksaan. Hingga akhir hayatnya di tahun 2005, Latief menolak berbicara mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam G-30-S.

Keanehan lainnya, mengapa dua batalyon yang bersiaga di Lapangan Merdeka tidak menyerang Kostrad yang jelas-jelas berada di hadapan mata mereka? Pasukan hanya berjaga dari pagi hingga sore. Soeharto meminta mereka menyerah di sore hari. Karena bingung dan kelaparan, satu batalyon memutuskan untuk kabur dan kembali ke Halim. Satu batalyon menyerah dan menyeberang ke Gedung Kostrad. Cari makan kali, ya hehe.

Inilah yang dimaksud Supardjo tadi. Militer seharusnya tidak bisa seceroboh itu dalam masalah sepenting perbekalan makanan. Iyalah, orang lapar mana bisa mikir!

Itu belum apa-apa. Saat menyerbu gedung RRI, Soeharto bahkan membawa sebagian pasukan dari batalyon yang menyerah tadi, yang seharusnya mendukung G-30-S. Saat dikepung pasukan Soeharto, relawan yang berada di RRI sempat bingung. Yang datang ini apakah kawan atau lawan? Tak ada perlawanan berarti dan mereka dibekuk dengan mudah. Sejak itu, RRI terus menerus menyiarkan propaganda pengkhianatan PKI di bawah kontrol Angkatan Darat.

Pengumuman pertama RRI dalam pengaruh AD saat itu seharusnya sudah menjadi akhir dari G-30-S.

Di Halim sendiri sudah kacau. Supardjo meminta Umar Dani menerbangkan Aidit. Kolonel Latief kabur ke Jawa Timur. Aidit DN memutuskan ke Jawa Tengah, ke basis terkuat PKI.

Begitulah. PKI-nya diterpa kebingungan. Aidit lari ke Jawa Tengah. Di sana pun dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Sementara, Angkatan Darat leluasa memainkan rencana-rencana yang digadang-gadang setelah sekian lama. Tanpa perlawanan yang berarti.

G-30-S sempat merebak ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tapi diredam dengan mudah. Tanggal 3 Oktober 1965, peristiwa ini sudah bisa dianggap selesai. Tidak ada lagi kegiatan-kegiatan lanjutan lain yang mengikutinya. Skala kecil saja sebenarnya. Tapi secara mengagumkan, Angkatan Darat bisa memoles peristiwa sedemikian rupa sehingga gugurnya (total 12 orang) perwira AD di Jakarta-Jawa Tengah menjadi alibi sakti untuk merobohkan organisasi kelas kakap seperti PKI.

Begitulah awal mula pembantaian ratusan ribu (bahkan banyak yang berani mengklaim angkanya jutaan) kader/simpatisan dari partai komunis terbesar di tanah air.

Ketika dari Oktober sampai Desember, para kader dan pimpinan PKI diminta melapor, mereka banyak yang datang secara sukarela. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kisruh internal Angkatan Darat ini adalah lubang kuburan bagi mereka. Mereka mengira, mereka hanya akan ditanya-tanyai dan langsung dibebaskan. Kenyataannya, banyak yang tak kembali lagi. Tak hanya nyawa yang melayang, anggota keluarga mereka pun hidup menanggung beban yang tak sedikit.

***

(Bersambung ke sini)

Pengkhianatan g30s PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (3)

Pengkhianatan g30s PKI : kata resensinya sengaja tidak ada. Memang bukan resensi. Ini maksudnya bikin summary, semacam menceritakan kembali.

Sekaligus memberi penegasan bahwa John Roosa sama sekali tidak pro Soekarno hehe. Kalau pun dalam tulisannya, Roosa memang menekankan kalau AS sangat segan pada Soekarno, tapi Roosa tidak menyanjung Soekarno secara personal. Kalau dalam tulisan kemarin ada aura-aura ngefans terhadap Bung Karno. Itu datangnya dari saya hehehe .

Roosa juga tidak memihak komunis. Beliau sepertinya murni sejarawan. Buku ini dilengkapi dengan metode penelitian dan referensi sejarah yang cukup lengkap di akhir tiap bab. Jadi, ini bukan buku konspirasi hihihi. Murni buku sejarah . Sejarah yang dirangkum berdasarkan hasil penelitian sang penulis tentu saja.

Oiya, kalau tulisan belum kelar jangan buru-buru bikin kesimpulan, dong hahaha. Tahan dulu .

Btw, dari sekian banyak ‘teori konspirasi’ dalam peristiwa G-30-S, beberapa lliteratur yang terbit setelah tahun 1998 / masa reformasi menunjukkan bahwa Orde Baru gagal menunjukkan bukti bahwa PKI adalah dalang dari G 30 S.

Ingat, bukan dalang tidak berarti tidak terlibat. Faktanya, melalui koran-kora nnya di tahun 1965, PKI menunjukkan dukungan terhadap G 30 S. Tapi siapa dalangnya, bahkan buku “Dalih Pembunuhan Massal” karya John Roosa ini juga masih dibubuhi dengan asumsi berdasarkan pelacakan data sejarah yang dilakukan Roosa sejak tahun 2000 silam.

Dokumen baru yang dimiliki Roosa adalah pernyataan Brigjend Supardjo. Siapa Supardjo? Tahan dulu. Kita perlu mutar-mutar sedikit untuk melihat posisi AS, AD dan PKI sebelum G 30 S meletus.

Pengkhianatan g30s PKI
Gambar : jakarta.panduanwisata.com

***

Amerika Serikat ‘Terdesak’ di Indocina & Asia Tenggara

Perang di Vietnam di tahun 60 an sesungguhnya salah satu bentuk intervensi AS terhadap merangseknya komunisme di wilayah indocina. AS tak ingin kecolongan lagi seperti yang terjadi di Tiongkok.

Alasan utama lainnya adalah AS sebenarnya ingin ‘mengamankan’ Indonesia. AS sudah sangat meradang saat Perang Vietnam tengah hangat-hangatnya, Indonesia malah sudah menjadi basis komunisme yang makin kuat. Bermaksud melindungi ‘pintu gerbang’, ternyata dalam benteng sudah dikuasai.

Di mata AS, Indonesia adalah kekayaan tak ternilai. Tak hanya faktor demografisnya di mana saat itu penduduk Indonesia telah mencapai 103 juta orang. No.5 di dunia (saat itu masih ada Uni Soviet). Garis pantainya terpanjang di dunia menyuguhkan kekayaan maritim yang tak terbayangkan.

Daerah tropis membuat Indonesia adalah surga rempah-rempah dan sangat kuat secara agraris. Belum lagi tambang timah dan karet, bersama Malaya, adalah yang terbesar di dunia. Pesona minyak bumi dan tambang berharga lainnya yang belum digarap juga membuat pemerintah AS ngences-ngences.

Sesak di dada, ya. Kemiskinan di tanah air bagai pepatah, “anak ayam mati di lumbung padi.” Terngiang bait-bait lagu Koes Ploes tempo dulu, “Orang bilang tanah kita tanah surga … ” *hapusAirMata* –> ini dari gue bukan dari Roosa, ya. Hahahaha.

Bayangkan kalau Indonesia jatuh ke tangan komunisme? Padahal politik Soekarno waktu itu adalah netralis,non Blok. Walau terlihat condong ke kiri dengan makin mantapnya komunisme di tanah air.

Bisa dibilang, AS mengalami masa-masa sulit menangkal komunisme di wilayah indocina dan khususnya di Indonesia. Jadi, pertanyaan Neng Shanti, soal apakah G 30 S ini murni dari AS, dijawab oleh Roosa (bukan gue lho ya hihihi), “Bukan.”

Biro Chusus / BC – PKI

Di tahun 1965, beredar isu “Dewan Jendral”. Soekarno sudah memanggil petinggi-petinggi AD untuk mempertanyakan isu ini. Diskusi berakhir biasa-biasa saja.

PKI juga tahu mengenai isu ini. Kegiatan intelijen sudah aktif di masa itu. PKI punya intejelen di AD, AD juga begitu. Tapi, sejauh mana ‘kecanggihan’ masing-masing intelijen ini samar-samar dalam fakta sejarah.

Jelasin sedikit ya struktur organisasi PKI untuk memudahkan penyebutannya nanti. Ini cukup penting dalam buku Roosa, karena ternyata komando G 30 S datang dari “Biro Chusus/BC”. BC dibentuk terpisah dari Politbiro dan Central Committee (CC) yang merupakan kepemimpinan tertinggi dalam PKI.

BC, walaupun masuk dalam struktur formal, tapi termasuk gerakan bawah tanah. Rahasia. Tak semua anggota, bahkan anggota Politbiro maupun CC yang mengetahui apa saja yang dilakukan oleh BC. BC berjalan di bawah komando langsung DN Aidit.

Walau Aidit duduk dalam CC, tidak ada bukti bawah anggota CC lain mengetahui secara pasti sepak terjang BC. Termasuk G 30 S. Ini akan terbukti pada fakta berupa reaksi sebagian besar petinggi-petinggi PKI yang malah seperti orang bingung sesaat setelah peristiwa penculikan jendral terbongkar.

Kehadiran Syam (Kamaruzaman) dalam BC juga muncul dalam berbagai teori konspirasi. Ada sejarawan yang mengasumsikan Syam adalah agen ganda. Ada yang berasumsi Syam adalah susupan dari intelijen AD. Syam memang tokoh yang unik. Selaku salah satu pimpinan G 30 S, saat tertangkap di tahun 1967, Syam malah yang paling bocor. Semua rahasia mengalir deras dari mulutnya tanpa perlu disiksa atau dianiaya. Walau Syam akhirnya tetap dijatuhi hukuman mati yang tereksekusi paling lama. Tahun 1986 barulah Syam ditembak mati.

Tapi Roosa menunjukkan satu fakta penting bahwa Syam mengakui bahwa keahliannya adalah…berdusta. Hadeuuuh, itu mah standaaaar. senjata andalan politikus di partai-partai zaman sekarang hehe *ups*. Maka dari itu, Roosa punya kesimpulan lain tentang Syam ini .

Kisruh Internal Angkatan Darat

Menurut Roosa, Ahmad Yani sebenarnya tidak berniat melakukan kudeta. Tidak di tahun 1965. Angkatan Darat/AD tidak punya alasan kuat. Tapi, sesungguhnya berharap sesuatu terjadi. AD justru berharap PKI ‘maju duluan’ agar AD punya alasan menyerang. Ada kemungkinan saat itu, walau tak ada rencana apa pun, petinggi-petinggi AD membiarkan isu “Dewan Jendral” berkembang lebih luas. Sebagai ‘pancingan’ bagi PKI.

Sementara Aidit pun mulai ‘berhitung’. Inilah makanya tidak jelas fungsi masing-masing intelijen baik dari PKI dan AD. Aidit bepikir, lebih baik menyerang duluan atau menunggu “Dewan Jendral” beraksi? Karena Aidit pun berharap bahwa AD ‘maju duluan’ agar PKI bisa mendesak Soekarno dan membuktikan pengkhianatan AD. Tunggu-tungguan.

Sepertinya, Aidit yang masuk perangkap.

Di internal AD sendiri memang tengah berguncang. Perwira AD yang terlibat dalam G 30 S (Supardjo) mengakui di depan Soekarrno bahwa telah terjadi ketidakpuasan dari para bawahan terhadap gaya hidup sebagian atasan-atasan AD yang bermegah-megah. Sementara mereka dianggap tidak peduli pada bawahan yang megap-megap.

Beberapa petinggi-petinggi AD di Jakarta telah membiarkan/melindungi tindakan korupsi kaum-kaum elit. Saat itu Soekarno minta bukti. Supardjo menyanggupi. Namun, percakapan yang terjadi di tanggal 1 Oktober 1965 tersebut tidak pernah berlanjut. Tak pernah ada waktu lagi bagi Supardjo untuk membuktikan laporannya pada Soekarno.

Jangan lupa, ya, waktu itu Soekarno juga mengangkat dirinya sebagai semacam ‘Panglima Tertinggi ABRI’. Nah, kalau yang ini saya mengkritik juga. Soekarno terlalu rakus tempo itu. Tapi, ternyata ini ada alasannya juga walau tetap tak bisa menjadi pembenaran. Tidak akan dibahas di sini karena enggak nyambung sama isi buku hehe.

Nah, di sinilah teori-teori konspirasi banyak terperangkap. G 30 S ini apakah gerakan internal AD yang dibantu oleh sebagian petinggi PKI ATAU G 30 S adalah ide dasarnya Aidit yang dibantu oleh perwira-perwira AD yang ‘muak’ pada atasan-atasannya yang dianggap terjebak dalam hedonisme dan menentang Soekarno? Karena perwira-perwira AD yang terlibat dalam G 30 S, semuanya loyalis Soekarno.

Mari masuk ke peristiwa G 30 S tersebut. Langsung pada versi Roosa saja, ya . Kita gabung fakta di lapangan dan hasil pengamatan Roosa. Eng ing eng *duhKayakTrioMeong* hihihi. Bentar … *benerinPoni* dulu .

***

Siapa-siapa aktor dalam G 30 S

Pertanyaan mendasar pertama, mengapa serangan fajar yang terjadi di tanggal 1 Oktober 1965 malah disebut sebagai Gerakan 30 September?

Inilah bukti penting dokumen Supardjo yang mengungkapkan, seharusnya gerakan tersebut terjadi di tanggal 30 September. Tapi, karena keraguan menyergap hampir semua petinggi gerakan, operasinya mundur sehari. Sesuatu yang tidak beres sudah mulai tercium.

Rencana sebenarnya adalah menculik para jendral hidup-hidup dan membawa mereka ke Soekarno. Mereka akan dipaksa mengakui pengkhianatan. Harapan pelaku-pelaku G 30 S adalah Soekarno mendukung G 30 S dan mengambil alih kekuasaan di Angkatan Darat. PKI akan kecipratan untungnya.

Roosa menekankan peristiwa penculikan di masa lalu adalah sebuah kegiatan terhormat. Beliau mengaitkan penculikan-penculikan yang pernah dilakukan oleh sekelompok pemuda radikal kepada Soekarno-Hatta di Rengasdengklok sebelum kemerdekaan di tahun 1945.

Jadi, mereka seharusnya diculik dan dikonfrontasikan hidup-hidup dengan Soekarno. Mengapa gagal?

Pemimpin tertinggi G 30 S ada 5 orang. Kolonel Latief, Letkol Untung dan Soejono dari AD. Syam dan Pono dari Biro Chusus – PKI. Aidit dipastikan tahu tentang G 30 S karena Biro Chusus langsung di bawah komando Aidit. Tapi, jelas Biro Chusus dibentuk bukan untuk operasi G 30 S semata.

Keanehan lainnya, Supardjo yang berpangkat Brigjend ditempatkan di bawah Letkol Untung sebagai salah satu pimpinan gerakan. Asumsi Roosa, terkait dengan perselisihan anggota-anggota gerakan menjelang datangnya hari H. Supardjo dengan jelas menentang gerakan dan memastikan gerakan pasti gagal.

Tidak hanya Supardjo, ternyata rasa gentar juga sudah merasuki sebagian besar anggota. Kecuali Syam. Syam yang terus menggenjot kolega AD-nya untuk terus maju. Tak ada bukti bahwa saat-saat itu, petinggi-petinggi PKI sering bertemu dengan pemimpin gerakan dari sisi AD.

Jadi, perantara mereka adalah Syam. Kemungkinan saat itu mengapa mereka tetap nekat adalah … Untung, Latief dan Soejono meyakini PKI akan membantu mereka sepenuhnya. Sementara perwakilan PKI seperti Aidit dan Pono meyakini AD sudah punya rencana matang. Mengapa di tengah-tengah bayangan gerakan pasti gagal, mereka tetap bertindak? Syam sebagai penengah, satu-satunya pihak yang memungkinkan hal ini terjadi. Syam sukses membuai perwakilan AD bahwa PKI 100% siap dan secara gemilang meyakinkan perwakilan PKI bahwa AD tidak mungkin gagal.

Makanya, Syam memilih Untung sebagai salah satu pemimpin bukan Supardjo. Untung dikenal merangkak naik jabatannya karena keberaniannya bukan karena taktis dan cerdas. Sebaliknya, Supardjo dikenal lebih karena pemikirannya yang strategis dan cerdik.

Keraguan yang menyeruak dan rasa letih tak terkira karena ternyata gerakan malah mundur sehari, membuat komando terasa acak-acakan. Letkol Untung pontang panting 3 hari berturut-turut terkait masalah pengawalan Soekarno. Prajurit-prajurit yang dikirim ke rumah jendral penting seperti Ahmad Yani dan Nasution malah prajurit pemula yang tidak tahu apa-apa soal penculikan.

Itulah sebabnya, Nasution lolos, terjadi salah tembak dan Ahmad Yani malah terbunuh sebelum tiba di Lubang Buaya. Para prajurit hanya dibekali pesan singkat, “Tangkap. Jangan sampai lolos.”

Satu kegagalan besar telah terjadi. Kegagalan pertama diikuti oleh kegagalan lainnya.

***

(Bersambung ke sini)