film 500 days of summer

There’s Always An Autumn After (500 Days of) Summer

Review ala-ala untuk film 500 days of Summer ceritanya :p. Ini film lawas yang enggak sengaja ketemu di semacam list 20 film komedi-romantis yang “layak tonton”. So-so aja sih ceritanya.

Yang bikin seru adalah perang komen di beberapa klip film 500 days of Summer yang ada di youtube hihihihi. Kirain di FB saja yang pada doyan berantem minim faedah hahaha. Ternyata, ada juga yang  punya waktu lebih untuk eyel-eyelan di Youtube :p.

Oiya, jangan lupa dong subscribe ke channel youtube saya di sini 😀 (tema channel : traveling, skincare review, resep masakan  Indonesia, suka duka tinggal di luar negeri).

Balik ke komen-komen tentang film 500 days of Summer tadi …

Sebagian besar membahas soal “pesan” apa sebenarnya yang pengin disampaikan oleh film ini. Ye kan tergantung yang nonton aja kaliiiiii. Lagian ini film ringan buat ditonton santai-santai sambil gegoleran. Ceritanya juga enggak rumit. Mayan ketebak alurnya.

Endingnya, walau cheesy tapi lumayan bikin geregetan. Endingnya ini nih yang bikin komen-komenan rameeeee :D.

Maaf nih, kayaknya bakal spoiler yak. Akyu bingung kalau ngomongin pilem tapi enggak bahas endingnya. Sungkem dulu. Kalau masih penasaran pengin nonton, tulisan ini dibaca entar-an ajah.

film 500 days of summer
Gambar : amazon.com

Ah ya, pemerannya juga cantik banget, si Zooey Deschanel. Berhubung saya penggemar berat Dr Temperance Brennan di Bones, baik karena karakternya yang pinter warbyasak juga karena tampangnya yang kece banget. Nah pemeran-pemerannya itu adek kakak, yang di Bones itu Emily Deschanel.

Matanya itu lhoooooo ck ck ck. Itu karena pengaruh eye liner apa gimana sih? Hihihi. Tapi warna mata mereka juga cakep sih, ya. Hayoo yang kakak yang mana, yang adek yang maneeeeee.

Emily Deschanel & Zooey Deschanel

Mari kita fokus kembali ke film 500 days of Summer nya, sampai mana tadiiiiiii … beklah, dari awal dulu lah.

Storyline film berkisar soal seorang pria, Tom Hansen (Josep Gordon-Levitt) yang naksir berat dengan cewek imut, Summer (Zooey Deschanel). Summer muncul pertama kali sebagai seorang pegawai baru di kantor yang sama dengan Tom.  Saking imutnya, Tom macam jatuh hati pada pandangan pertama kepada Summer.

Tom ini percaya soal cinta sejati, takdir, bla bla bla, yadda yadda yadda. Sementara kayaknya si Summer tidak terlalu serius soal-soal beginian. Dese kayaknya lebih serius mikirin penampilan dan potongan rambut segala macam hehehe.

Enggak sinkron dari awal, tapi ya gimana, namanya kadung sudah jatuh cinta. Hajar teroooosssss :D.

Singkat cerita, mereka akhirnya jadi dekat. Walau kelihatan ya, Summer was doing it just for fun. Sementara Tom udah kayak Pangeran ketemu Cinderalla dah *pukPukTom*. Jadinya ketebak, bubar deh hubungannya.

Pas putus, Tom kayak yang hilang arah begitu. Mendadak dangdut dan seterusnya. Lalu akhirnya tidak percaya lagi deh sama yang namanya cinta sejati dan segala nganu-nganu nya tadi. Sampai akhirnya resign segala. Summer sudah resign duluan.

Terus Tom kan tadinya pengin jadi arsitek tapi enggak lanjutin kuliah dan malah bekerja menjadi copy writer di perusahaan produsen kartu, tempatnya ketemu Summer tadi. Biar bisa move on, Tom pun menghidupkan kembali cita-cita lamanya ini. Kembali mengejar impian menjadi seorang arsitek. Good boy :D.

Mulai down lagi gara-gara merintis jalan menjadi arsitek ternyata enggak mudah. Belum tembus juga lowongan kerja di mana-mana. Jadilah suatu hari Tom duduk-duduk di kursi taman di sebuah spot favoritnya di kota tersebut.

Tebak ketemu siapaaaaaaa? Ya masa ketemu “ibu di jendela” (ini apa sih meme-meme film pengabdi setan rame amat hahaha). Ya pastinya ketemu Summer dong, dong, dong :p.

Ternyataaaa, Summer sudah berstatus “istri orang”. Tom penasaran gitu kok si Summer tahu-tahu merit sementara dulu kok kayaknya kelihatan santai dan gak ada tanda-tanda kepengin jadi bini orang.

Maksudnya Tom semacam, “Ah dulu sama gue kok putus gak pengin pacaran-pacaran segala macam. Lah kok sekarang lu merit sama orang lain seeeehhhh…” #harapBersabarTomIniCobaan #siniYukGabungSamaGengPatahHatiPilkadaHahaha

film 500 days of summer
Gambar : storypick.com

Summer bilang, “It just happened.”

Tom ngotot, “Right, but that’s what I don’t understand. What just happened?”

“I just … I just woke up one day and I knew.”

Tom ngejar terus, “Knew what?”

“What I was never sure of with you.”

Ouch! Itu mungkin perutnya si Tom kayak ditonjok berapa karung goni ituhhhh. Pahit bener huhuhu.

Ya itu mah simpel aja sih, ya. Namanya bukan jodoooooooh :D. Saya ingat istilah sahabat saya dulu, “Enggak KLIK.” Jadi urusan “KLIK” apa enggak ini memang gimana ya … ya mungkin seperti yang dibilang sama Neng Summer tadi, “It just happened.”

Nah, angka 500 itu menggambarkan hari-hari si Tom sejak kenal sampai akhirnya pelan-pelan move on dari Summer.

Di hari ke-500 itulah, Tom datang ke sebuah interview dan kenalan dengan perempuan yang juga ingin melamar kerjaan yang sama. Ketemu di ruang tunggu nih ceritanya. Pas kenalan, namanya adalah … jeng jeeeeenggg … Autumn! 😀

Flirting-flirting an sampai akhirnya Tom ngajak ngupi bareng. Autumn tadinya nolak tapi akhirnya mau. Awww, awww, awwww :p. Di sini deh jadi ramai komentar soal si Mbak Autumn ini. Ada yang bilang halah, paling entar sama Autumn juga si Tom kena depak.

Autumn in Philadelphia (2016) –> foto ini hubungannya ama cerita pilem apaan! Mau riya’ aja kauuuuu hahaha.

Ya iya juga, sama Autumn pun ya belum tentu happy ending. Mungkin bikin sekuelnya dah biar gak pada berantem hahahaha. Enggak “KLIK” di Autumn, ya lanjut aja terus sampai Winter atau Spring. Atau ulang lagi dari awal. Jangan menyerah, Bang Tom! 😀

Ya, makanya pesan filmnya sih mungkin BUKAN tentang tipe-tipe perempuan. BUKAN tentang si Tom yang mukanya nelangsa semacam minta di-patah hati-in mulu hihihihi.

Percintaan itu ya bagian perjalanan hidup saja lah. Muter-muter terus. Habis Summer ya ada Autumn dan seterusnya. Perpindahan musim juga tak terelakkan. Pastilah ada masa-masa gak bisa move on. Udah seneng sama Summer yang anget-anget hepi-hepi ealah harus siap-siap ngadepin udara dingin dan angin kencang ala Autumn.

It’s oke. In the end ya Autumn-nya datang jugaaaaaa :D. Eventually, kita pasti akan dan bisa menghadapi dan melewatinya (y). Cemungud eaaaaaa ^_^. Yang anak 3 mah dah beda omongannya hahahaha.

Ish, dulu-dulu pun ada dong kite punya masa-masa “Summer-Autumn” yang penuh drama dan air mata ini #eaaaaaa.

Yaela, udah kayak bahas apaan aje hahahaha. Dah ah, ya kira-kira begitulah kali yaoww maksud ending filmnya. Juga semacam kode-kode. Mengapa di film jadi pakai nama-nama Summer dan Autumn … bukan Mantili dan Lasmini #laaaaahhh hahaha :p.

Sejak ketemu Autumn di hari interview tadi, dimulai lagi deh itung-itungan harinya :D. Dari hari ke-500 “of Summer”, besoknya sudah ganti “musim”, mulai lagi cerita Day 1 “of Autum” ;). Kalian sudah nonton belom? Gimana? Punya kesimpulan lain kah? ^_^

Film 500 days of Summer review indonesia

Love Rosie film

Love, Rosie : While Love Grows Slowly from The Seeds of Friendship

Gila deh baru inget belum posting tulisan iniiiiii :D. Jadi, tempo hari iseng nyari film seru buat ditonton. Udah lama gak pecicilan nonton film. Eeeeh, kok malah jadi kepoin Memento cobak huhuhu.

Memang nih, biasanya juga nonton film manja-manja buat hepi-hepi kok ya bisa-bisanya nyasar ke Memento -_-. Maunya cari hiburan dari nonton pilem kok ya malah pening *usapJidat*.

Oiya, saya paling enggak pinter bikin review atau resensi atau apalah namanya kalau enggak spoiler. Jadi,  kalau belon nonton kali aja kepengin dan benci sama spoiler-spoiler an hentikan langkah Anda sampai di sini saja :D.

Love Rosie film
Gambar : avclub.com

 

First thing about Love, Rosie … Lily Collins nya sumpah kiyut bangeeeeet. Rasanya saya betah nonton film ini juga gara-garanya karena si imut Lily. Ihhhh pengin temenan deh rasanya *sodorin jari kelingking*.

Pemeran Alex-nya juga imut-imut. Ya ampuuuun, jadi pengin satu sekolahan sama kalian deh. Tas ransel mana tas ransel hahaha.

 

Film ini genre drama santai sehari-hari. Walau sebenarnya yang dialami Rosie (Lily Collins) sama sekali tidak bisa dibilang ‘ringan’ *ngelapKeringat*. Btw, ini film 17 tahun ke atas ;).

Ibaratnya makanan, mungkin yang tipe-tipe mindblowing macam Memento dkk (masih dibahas aja hahaha) itu bisa dianggap main course macam steak atau ikan bakar (laaaah :p), sementara “Love, Rosie” yaaaaa selevel puding atau mungkin kerupuk lah.

Nontonnya bisa sambil lipat-lipat baju sambil sesekali bolak balik ke kamar mandi. Sambil makan kacang tidur-tiduran.

Rating dari penonton lumayan untuk film ini, sekitar 7 / 10. Tapi reviewnya dari kritikus film cuma dapat nilai 4 / 10 :p.

But I loooooove it . Sesuai tujuan nonton film ala saya lah. Buat hiburan dan hepi-hepi, bukannya main tebak-tebakan -_-. Cetek, ya. Biarin sih :p.

Sesuai pengantar di judul, ini memang cerita ala-ala friend zone Rosie-Alex yang sudah lengket dari balita. Rumahnya deketan gitu. Nah, situasi tempat tinggal mereka familiar banget rasanya. Sukak deh <3.

Ealah, ternyata kisah ini memang diangkat dari best selling novel yang ditulis oleh novelis Irlandia. Salah satu tempat syutingnya ya di … Dublin! Panteeeeeeees :D.

Kisah dimulai dari tingkat akhir di SMA, Rosie dan Alex flirting-flirting an dengan kecengan masing-masing. Rasanya sih dari sini sudah kelihatan kalau Alex udah ser-seran tapi Rosie-nya cuek aja.

Masing-masing dapat teman kencan. Alex dapat cewek yang termasuk tenar dan paling kece (Bethany), Rosie juga dapat pasangan yang lumayan keren (Greg).

Love Rosie film
Gambar : itcher.com

Dalam keadaan mabuk, Alex sempat mencium Rosie. Alex-nya sih ya hepi. Tapi besoknya pas main ke kamar Rosie (yoih, mereka dari kecil sudah rapet banget), Rosie malah  ngomel-ngomel. Alex berasumsi Rosie bete dengan peristiwa semalam.

Yaela baper aja si Alex. Pan lagi mabok, manalah dese inget –> penontonnya kali yang baper! Hahaha.

Then, Alex kepengin melanjutkan kuliah ke Harvard. Dia mengajak Rosie untuk ikut merantau ke US. Rosie harus membujuk ortunya dulu. Ortu Rosie setuju.

Ternyata … Rosie keterima di Jurusan Perhotelan, sesuai cita-citanya, di Boston University. Rosie hepinya enggak ketulungan.

But then, something ‘big’ happened :(. Rosie hamil (karena Greg). Rosie memutuskan untuk tidak menggugurkan kandungannya dan membatalkan rencana kuliah. Greg-nya malah ngibrit.

Rosie tidak tega cerita ke Alex. Takut Alex enggak jadi ke Harvard karena peristiwa ini. She kept this for herself. She became a single parent.

Tapi akhirnya Alex tahu juga. Berantem sebentar tapi terus baikan lagi. Malah Alex menjadi bapak baptis Katie, anaknya Rosie. Alex sudah tinggal dan bekerja di Boston.

Love Rosie Film
Gambar : comedy.co.uk

Beberapa tahun kemudian, Rosie ke Boston ketemu Alex. Eh, Alex-nya dah punya pacar huhuhu.

Rosie ketemu Greg lagi. Dan begitulah … pokoknya happy ending ;).

Kejadian kayak Rosie-Alex mah standar banget ya dalam kisah-kisah pertemanan perempuan dan laki-laki. Hayo ngaku siapa yang belakangan jodohnya ya sama sohib sendiri *angkatTanganPalingTinggi* :D.

Kalau istilah Jawa-nya, “Witing tresno jalaran soko kulino.” Yang kira-kira terjemahannya, “Cinta hadir karena terbiasa”. Terbiasa ketemu, terbiasa ngobrol, terbiasa curhat dan seterusnya dan seterusnya.

Walau variasi ending hubungan kayak begini yang tidak selalu hepi-hepi joy-joy. Ada juga yang bertepuk sebelah tangan. Ada yang sama-sama suka tapi sama-sama malu-malu ya akhirnya lepas juga dan tidak pernah benar-benar berjodoh. Ada juga yang santai-santai terus dan tetap temenan karib setelah menikah :).

Sebenarnya menarik juga ya melihat respons dari orang tua Rosie waktu dia hamil. Itu apa beneran kayak gitu ya budaya di sana? Karena rasanya sih Ireland masih sarat dengan budaya tabu-tabu an terkait hubungan laki-laki dan perempuan.

Rosie yang tek dung duluan pas lulus SMA bisa santai gitu ya dan mendapat support luar biasa dari orang tuanya :). Coba di Indonesia, halamaaaak :p. Kalau keluarganya berada bisa jadi aborsi atau sudah dikirim kuliah ke luar negeri dan menghindar sementara dari lingkungan pergaulan dan keluarga.

Love Rosie film
Gambar : indianexpress.com

Kalau kejadian ini menimpa perempuan dari keluarga biasa-biasa bahkan menengah ke bawah, duh enggak kebayang deritanya ya :(. Sudahlah mungkin “dibuang” sama keluarga karena dianggap bikin malu, mental juga sudah jatuh duluan, boro-boro mau mikirin kandungan.

Potensi memilih bunuh diri cukup tingggi atau malah terjebak dalam “dunia hitam” saking bingungnya mau ngapain kali, ya? Duh, kenapa jadi sedih.

Ish, ini bahasannya berat ah jangan di postingan ini hahaha. Cukupkan sampai di sini ajalah :p.

Filmnya tidak muram sama sekali kok. Pan settingnya memang di negeri-negeri nun jauh di sana ;).

Seneng lihat tampang imut nan mungilnya Lily Collins dan jadi nostalgia Hunger Games karena ngeliat si Alex. Hayoooo pemeran Alex ini kebagian peran apa di trilogi Hunger Games? :D.

Btw, kalian pernah punya sohib lalaki tak sih? :p. Yang benar-benar dekat macam Neng Rosie dan si Aa’ Alex di film Love Rosie ini? Endingnya gimana? #kepoAjah :p.

Review bagus film Zootopia

Fear Always Works

Judy berteriak kepada Bellwether, “It won’t work!”

Bellwether menyeringai, “Fear always works!”

Sepenggal percakapan di atas salah satu dari final scenes menjelang ending film Zootopia. Yang belum nonton sungkem ya. Spoiler nih hehehe :p.

Zootopia sempat heboh di timeline pas baru dirilis. Ceritanya memang super. Sama seperti kebanyakan teman yang lain, saya pikir topik utamanya hanya tentang kelinci imut yang ngotot ingin membuktikan kepada dunia bahwa kemungilannya tidak akan menghalanginya mencapai cita-cita menjadi polisi.

Setelah beberapa kali kecewa dengan film-film Disney yang rada garing nan datar, Zootopia membuat saya kembali tergetar *tsaaaaah*, jadi inget ponsel jadul yang bisa digetar-getarin hahahaha :p.

Istilah Zootopia sendiri sungguh pas untuk menggambarkan kondisi kota Zootropolis, tempat di mana Judy ingin hengkang dan mengadu nasib setelah meninggalkan Bunny Burrow, daerah asalnya.

Review film Zootopia keren
Gambar : Forbes.com

Judy merasa Zootropolis sungguh keren karena di sana, berbagai macam binatang bisa hidup rukun dan damai dan siapa pun bisa menjadi apa pun. Hal inilah yang menginspirasi Judy untuk membuktikan dirinya bisa menjadi polisi. Indeed, Judy adalah kelinci pertama yang menjadi anggota kepolisian di Zootropolis.

Tetap saja, sulit menembus tembok stereotip. Judy hanya diserahi tugas remeh temeh di awal penugasan. Hingga akhirnya sebuah kasus yang awalnya disangka ‘ringan’, membuat Judy mendadak hits dan menjadi seleb di Zootropolis 😀.

Beberapa hewan berjenis predator mendadak hilang dalam jumlah cukup siginifikan di waktu singkat. Bla bla bla, akhirnya ketahuanlah kalau hewan-hewan predator ini mendadak menjadi ganas tak terkendali. Walikota Zootropolis, seorang Singa, sengaja menyembunyikan para predator yang mendadak kalap ini agar tidak membuat penduduk Zootropolis, yang mayoritas BUKAN predator menjadi panik.

Tapi akhirnya bocor juga dan beneran … Zootropolis gempar bukan kepalang!

Para predator dan hewan lain yang umumnya menjadi mangsa mereka, yang awalnya hepi-hepi aja gema ripah loh jenawi mendadak menjadi ‘dingin’. Hewan predator mulai dijauhi dan dikucilkan serta dicurigai.

Muncullah teori konspirasi *uhuk* bahwa hewan predator ini pada dasarnya memang beringas dan sampai kapan pun mereka tidak akan bisa menyembunyikan keberingasan itu. Bahwa para predator ini, somehow akan berusaha memangsa hewan lainnya, cepat atau lambat.

Seperti menertawakan kondisi dunia manusia dengan sindiran halus lewat pesan di film ini 🙂.

Otak dibalik ‘teori konpsirasi’ ini adalah Bellweather, seekor domba yang posisinya adalah asisten walikota. Bellweather sering diperlakukan semena-mena oleh si Walikota Singa. Dendam membuatnya terpikir merebut kekuasaan.

Dengan cara apa? Ya membuat teror dan menebarkan ketakutan. Seperti yang diklaimnya kepada Judy, “Fear always works!”

Bellweather menjebak beberapa predator dengan ramuan tertentu yang membuat mereka bisa lepas kendali dalam waktu sekejab.

Klop ya dengan pernyataan Yoda di serial Star Wars (dia lagi, dia lagi hahaha :p), “Ketakutan adalah sisi kelam dari seorang manusia. Karena rasa takut melahirkan marah. Kemarahan membuat kebencian tumbuh subur. Kebencian inilah yang mengakibatkan penderitaan.”

Review bagus film Zootopia
Gambar : pixabay.com

Melihat kondisi terkini di berbagai belahan dunia, teror ketakutan sedang merebak di mana-mana. Misalnya bom di bandara Istanbul tempo hari.

Iya, tanggal 28 Juni kemarin, sebuah bom meledak di sana dan menewaskan hampir 50 orang. Bom meledak di arrrival area sekitar 2 jam setelah saya dan keluarga meninggalkan tempat itu. Bomnya di sekitar pangkalan taksi pula. Haduhhh, langsung gemetar lutut saya waktu suami menenangkan ibu mertua yang panik dan langsung menelepon kami di hotel.

Saya sempat terpikir ingin memaksa suami membatalkan acara jalan-jalan kami selama 4 hari di sana. Pengin cepat-cepat reschedule jadwal pulang saja. Untunglah suami tetap ‘waras’ dan akhirnya jadi juga Ramadan-Trip di Istanbul tersebut 😀. Foto-foto nyusul ya hehehe :p.

Lalu terakhir, bom di Kota Madinah, walau korban tewasnya tidak sedahsyat di Bagdad, sempat menimbulkan ketegangan dan berbagai teori konspirasi. Hadeeeehhh *ngelapJidat*.

Situasi seperti ini, persis seperti yang digambarkan di Zootropolis tadi. Ketakutan sudah membuat hubungan merenggang, melahirkan kecurigaan komplit dengan teori konspirasi ini itu dan dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menuai keuntungan 🙁.

Lawan, ya, teman-teman 🙂.

Jangan terjebak dalam pusaran prasangka dan tetaplah berpihak kepada kemanusiaan dalam kejadian apa pun <3. Karena posisi kita sebagai manusia itulah yang menguatkan persamaan kita dan seharusnya mampu melemahkan banyaknya perbedaan yang ada.

Seperti pesan Judy :

“I thought this city would be a perfect place where everyone got along and anyone could be anything. Turns out, life’s a little bit more complicated than a slogan on a bumper sticker. Real life is messy.

We all have limitations. We all make mistakes. Which means, hey, glass half full, we all have a lot in common. And the more we try to understand one another, the more exceptional each of us will be.

But we have to try. So no matter what kind of person you are, I implore you: Try. Try to make the world a better place. Look inside yourself and recognize that change starts with you.”

Dunia utopis akan menjadi tempat yang sempurna di mana setiap orang bisa bersama dan menjadi apa pun. Kenyataannya, kehidupan sebenarnya lebih rumit daripada sekadar slogan-slogan manis ala meme-meme motivator hihihi 😀. Real life is messy.

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org

Kita semua punya keterbatasan. Pernah berbuat kesalahan. Semakin kita berusaha saling mengenal semakin banyak hal luar biasa yang bisa kita capai masing-masing.

Tapi KITA HARUS MENCOBA. Jadi, siapa pun kita, ayo saling menguatkan untuk menciptakan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik dan layak.

Sekali lagi, lawan ketakutan kita. Runtuhkan ego kita.

Semoga ramadan tahun ini mampu menciptakan perubahan-perubahan lebih baik untuk kita semua. DI dunia nyata maupun di dunia maya, yes? 😉.

Remember, change starts with you <3.

Selamat hari raya Idul Fitri bagi teman-teman muslim di mana pun berada.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita semua. Aamiin, aamiin ya rabbal aalamiin.

***

Happiness is not Given … It is Made :)

***

Untuk saya, film “Life is Beautiful” besutan sutradara Roberto Benigni adalah contoh paling indah untuk menggambarkan peribahasa, “Happiness is not given, it is made.”

Gambar : kootation.com
Gambar : kootation.com

Film yang benar-benar menguras emosi ini ditayangkan pertama kali tahun 1997. Tapi saya menontonnya di acara kampus, 3 atau 4 tahun kemudian. Lupa acara apa, pokoknya acara nonton gratis di aula. Gratis? Ikuuuutttttt. Hahaha.

Saat itu, saya tak tahu sinopsisnya cuma dengar-dengar kalau filmnya bagus, semacam komedi gitu. Jadi, saya tak siap ketika menonton. Ketawa-ketawa iya, tapi nangis juga paling kenceng.

***

Tokoh utamanya adalah Guido, pria italia keturunan Yahudi yang di awal film sibuk memenangkan cinta Dora, ibu guru cantik yang tinggal di kota yang sama. Masalahnya, Dora telah bertunangan. Ngikik-ngikik, deh, nonton kreatifnya Guido merebut perhatian Dora. Finally he did win her love. Makanya, awal film saya tidak sadar kalau ini komedi tragis. Kirain beneran film lucu.

Setting waktu segera berganti, 5 tahun telah berlalu. Diantara mereka berdua, sudah ada Joshua, sang buah hati.

Saya sudah mulai curiga ketika ada tentara Nazi yang digambarkan mulai menerjang masuk ke Italia. Aih, film apa pula ini. Singkat cerita, para pria dan wanita keturunan Yahudi ditangkap dan digiring ke suatu tempat, kamp konsentrasi.

Guido dan Joshua tak luput dari penangkapan. Dora sebenarnya bukan keturunan Yahudi. Tapi, ibu mana yang tahan terpisah dari kedua belahan jiwanya. Dengan sukarela, Dora memaksa masuk ke dalam kereta yang kemungkinan akan membawa seluruh penumpangnya ke gerbang kematian. Guido tak sanggup membujuk Dora agar turun dan merelakan Guido dan Joshua saja yang pergi.

Yang terjadi di kamp konsentrasi inilah yang menjadi pesan kuat dalam cerita ini. Bagaimana Guido sekuat tenaga berusaha ‘mengelabui’ Joshua mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp konsentrasi. “It’s just a game, Son. We just have to win it. Anything you see, it’s nothing but a game.” Begitu kira-kira ide yang ditanamkan Guido pada anak laki-lakinya.

Bayangkan, sedang berada di ujung maut, demi kebahagiaan anaknya, Guido mampu mengerahkan kreatifitasnya untuk membuat segala hal pahit dalam kamp tersebut menjadi hal-hal yang menyenangkan. “See? It’s just a game.” Begitu katanya berulangkali jika keraguan mulai merasuk pada pikiran si Joshua kecil. Berkali-kali Guido sukses membawa Joshua lolos dari perangkap maut.

Banyak kejadian lucu memang. Tapi di hampir setengah film, eike meweeeeekkk aja kerjaannya hehehe.

Saya pikir akan berakhir happy ending, ketika tentara sekutu datang untuk menyelamatkan para tawanan yang tersisa. Kenyataannya, di detik-detik terakhir, Guido tertembak mati juga. I’m still crying while I’m writing this imagining the moment he put this little Joshua inside a trash bin. Joshua nyengir-nyengir di dalam tong sampah melihat ayahnya digiring oleh seorang tentara Nazi. Guido mengedipkan matanya dari jauh seolah tak terjadi apa-apa. Joshua tak tahu itulah pandangan mata terakhirnya dengan sang ayah.

Ini adalah film flashback. Ternyata, narator yang bercerita itu adalah Joshua dewasa . Guido sukses mengelabuinya. Joshua tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp itu hingga ia dewasa. Dalam kebingungannya ketika pasukan Nazi kocar kacir digempur tentara sekutu, Joshua akhirnya dipertemukan kembali dengan ibunya. Di kamp, laki-laki dan perempuan dipisah tempat tinggalnya.

Adegan yang cukup mengharukan adalah ketika mobil tank para sekutu lewat di hadapan Joshua. Joshua melotot dan bersorak gembira, kira-kira kalau gak salah dia berpikir begini, “Wow, we win! This is the prize that Daddy always tells me. A real tank.” Setelah sekuat tenaga mengendalikan tangis tanpa suara di balik tisu, di adegan ini, eike histeris hahahaha. Duh, mudah-mudahan enggak ada yang ingat *tutupMuka*. Makanya, sang ratu drama jadi belajar juga. Kalau mau nonton film gini-ginian, be alone! .

***

Film ini sungguh luar biasa. Mengundang kritik dari beberapa pihak Yahudi yang memprotes adegan-adegan di kamp yang dianggap kurang sadis dan kurang menggambarkan teror yang dialami leluhur mereka. Ah, saya rasa memang bukan pesan itu yang ingin diajarkan Benigni pada pemirsanya.

Tak sedikit teman-teman saya ketika di Jeddah dulu yang selalu merasa betapa menderitanya hidup di Saudi. Tertutup lah, panas lah, kasihan anak-anak lah, orang arab menjengkelkan lah, nyetir di Jeddah bikin stres lah. Lucunya, tak sedikit teman-teman kami di tanah air yang berkomentar iri saban ada yang pamer-pamer foto depan Ka’bah, “Ah, kapan ya bisa ke sana.”

Ada kerabat yang malah sebal semasa tinggal di Eropa, katanya enggak enak, hidup bagai pembantu, segala kerjaan rumah harus dikerjakan sendiri. Yang tinggal di Jakarta sibuk menghujat macet, bete sama cuaca, kesal sama harga barang-barang mahal, kalau nyetir sebel sama angkot dan metro lah. Apalagi pas bensin naik. Sama, saya juga sering sih kayak gitu hihihihi.

Lain kali, saat kita merasa takdir begitu kejam memperlakukan kita, ingatlah Guido . Enakan mana tinggal di Jeddah atau dikirim ke kamp konsentrasi? hihihihihi. Ngeri amat padanannya hahaha.

Ketika wajah-wajah penghuni lain hanya pasrah menunggu ajal, Guido membuktikan satu hal penting bagi kita semua, “Happiness can be made … anywhere, anytime, anyway!”

Ah, tinggal di mana pun mana ada yang enak-enaknya doang. Tinggal di Jakarta? Satu paket dong sama macet dan segala macamnya. Tapi ingat kemudahan-kemudahan lain yang ada di sana yang kelak akan kalian rindukan saat jauh dari tanah air .

Tinggal di Saudi bikin stres? Ah, kamu bisa saja. Ingat harga bensin, ingat harga barang kebutuhan pokok yang serba nyaman . Ingat wajah-wajah iri teman dan kerabat saban situ pamer-pamer foto di Nabawi . Tinggal di eropa keren? Aih, kalau liburan doang iya kali hehehe. Tapi emang keren sih kalau dipikir-pikir ahahahahaha. Becandaaaaaa 😛.

Tak terasa sudah memasuki setengah bulan ramadan, banyak-banyak mengingat anugerah, yuk . Ingat, kalau si Joshua saja sudah girang bukan kepalang melihat tank di akhir petualangannya di kamp konsentrasi, apalagi janji Allah bagi umat yang banyak bersabar dan bersyukur dalam setiap tahapan kehidupannya. Enggak mudah, ya? Ya siapa bilang masuk surga itu gampang .

Note ini saya buat kemarin sore di wall FB. Selamat melanjutkan ibadah puasaaaaa . Yang di tanah air bentar lagi berbuka, nih. Selamat berbuka, ya. Untuk yang di Eropa, husss jangan lihat-lihat jam, buka puasa masih lamaaaaaaaa, hahahaha.

***

Film Sex and The City 2 : Real Drama, Real Life, Real Problem

Film Sex and The City 2 ini favorit banget. Satu-satunya hal yang membuat bintangnya kurang setengah lagi menjadi sempurna, hanya karena beberapa adegannya menurut saya terlalu “maksa”.

Misalnya waktu si Carrie sok-sok nitip duit buat si Buttler. Oiya, buttler -nya juga kadang suka berlebihan dan sok baik enggak jelas.

Kurang suka deh sisipan pesan-pesan ala-ala SJW nya :p. (SJW = social justice warrior)  

Ini memang penilaian yang subyektif sebagai penggemar serial ini dari Season 1 sampai 6 hehehe. Film pertamanya juga bela-belain ke bioskop sendirian pas lagi hamil anak pertama sudah week 38 pula!

Baik film pertama dan kedua ini, saya nontonnya selalu sendirian. Biar khusyuk #uhuk. 

Biarpun saya tergolong orang yang agak ‘buta fashion’, tapi saya ngefans berat dengan karakter si Carrie Bradshaw :). Sukaaaa sekali. Padahal ‘falsafah’ hidupnya bagaikan bumi dan langit denganku hahahaha.

Di film part 2 ini, settingnya adalah 2 tahun setelah ending film part 1 nya. 4 sahabat masing masing sedang merasa ‘gimanaa gitu’ dengan kehidupannya.

[SPOILER ALERT!]

 

 

Carrie, si super modis yang impulsif, memasuki usia pernikahan 2 tahun, sedang gundah dan khawatir dengan kehidupan pernikahannya bakal ngebosenin. Manalagi Carrie dan Mr.Big memang memutuskan untuk engga punya anak.

Charlotte, si konservatif yang perfeksionis, yang merasa ‘putus asa’ menghadapi karier ‘full time mom’nya ngurusin 2 anak gadis kecilnya yang lagi rewel rewelnya.

Miranda, si pengacara logis nan pragmatis, dilanda dilema karena merasa lagi di puncak karier tapi feeling unhappy banget dengan sikap bos nya yang ngeselin.

Dan tentunya ada Samantha, si ‘nakal’ yang super agresif, dengan caranya yang khas melewati masa masa menopause nya hahaha. Tahan napas mah kalau adegan-adegan flirtingnya si Samantha ini :p.

Singkat cerita, Samantha dapet klien baru dari Emirat Arab yang mengundang Samantha buat nginep di hotel barunya di Abu Dhabi yang super duper mewah. Samantha akhirnya ngajakin ‘her gurls’ buat nemenin dia seminggu di Abu Dhabi.

Nah, pas di Abu Dhabi ini deh, satu persatu masalah diurai satu persatu :).

Carrie yang feeling guilty karena enggak sengaja ciuman ama si mantan pacara (Aidan) yang ketemuan gag sengaja di pasar etnik, somewhere in Abu Dhabi. Carrie ngerasa bersalah banget dan jadi inget gimana dia dulu jungkir balik buat ngedapetin Mr.Big.

Charlotte dan Miranda yang saling curhat habis2 an soal ngurus anak. Nah bagian ini yang bikin gw mewek hehehehe… Yes Charlotte, you can say that again! I’m totally agree :). Kadang sebagai ibu, kita sering gag mengerti kenapa kita bisa kehilangan kontrol saat menghadapi anak2, kadang merasa bosan, kadang ngebiarin aja anak2 nangis, gag tau mesti ngapain saking udah capenya :(….yes,yes,yes…. I’ve been there. Makanya ibu kan juga manusia, butuh waktu untuk diri sendiri juga :). Hmmm…konsep ‘me time’ memang bener banget deh :). Skenario nya juga kocak banget hehehehe…

Charlotte: I just know no matter how good I feel about myself, if I see Christy Turlington, I just wanna give up.
Miranda: Well I just want to tie her down and force feed her lard, but that’s the difference between you and me.

Miranda juga akhirnya memutuskan nyari kerjaan di firma lain, and she finally feel happy there :). Dan memorable quotes nya :

Miranda : Sometimes, as much as I love Brady, being a mother just isn’t enough. I miss my job.

Samantha? hahahahahahaha… ini nih bagian kocak nya. Nonton sendiri deh, gara2 si ‘bandel’ ini, rusak deh acara senang2 di Abu Dhabinya :D.

Endingnya pun sempurna menurut gw. Gag berlebih2 an… dan setuju banget dengan Carrie bahwa :

You have to take the TRADITION, and DECORATE it your way.