Bulan pertama di tahun 2014 sudah terlewati lebih dari setengahnya. Menengok kembali ‘catatan akhir tahun’ 2011 dan 2012, I always wrote that my life was at its best hehehe. For both years š.
2011 dan 2012 adalah masa-masa bermukim di Jeddah, Saudi. CatatanĀ akhir tahun’ 2013, rasanya bernada-nada mirip. Walau sejak Maret 2013, kehidupan sudah berpindah daratan, lintas benua pula.
Dan kalau dirunut-runut lagi, mulai rajin mencatat dan serius mengurus blog sejak tinggal di Teheran tahun 2009 lalu. Benar juga berarti, sub judul yang diberikan editor kepada kumpulan tulisan-tulisan saya yang memang ditulis di rentang waktu 2011 – 2013, “How Traveling Inspires You.”
Jadi belajar juga. Bahwa enggak pilih-pilih tempat, ya, yang namanya petualangan menyenangkan itu. Mengingat dulu, kagok diajak ke Teheran dan sempat ‘mengamuk’ disuruh ikut ke Jeddah hahaha.
Ternyata, it’s your choice. Kita sendiri yang memutuskan apa akan bahagia, apa akan bete, apa akan merasa berada di titik terendah kehidupan, atau sebaliknya…merasa hidup lebih hidup. It’s all yours š. We are able to find the love, even in a so-called hopeless place.
Tapi yang jelas sih, selalu pengin mudik dan jadi kangen sama tanah air, bahkan terhadap hal-hal yang dulu selalu dikeluhkan, eg : macet dan rempongnya hehe.
Tapinya lagi, petualangan tidak mesti selalu harus mengunjungi tempat-tempat baru di luar sana. Sekadar mengubah persepsi dan cara pandang kita terhadap banyak hal akan membawa dunia kita berputar kepada petualangan-petualangan baru. Membaca buku atau catatan-catatan orang lain juga bisa membuat kita berpikir kembali dan menata ulang persepsi kita š. Ke arah yang lebih baik dan positif tentu saja.
***
Media sosial semacam facebook pun sempat mengundang sindiran tajam bagi penggunanya. Apalagi yang aktif banget di sana. Kesannya, hanya kesia-siaan yang didapatkan jika berlama-lama dalam pergaulan dunia maya :P.
Kecanggihan teknologi masa kini seperti layaknya sebilah mata pisau. Tentu marabahaya yang diundangnya jika kita membiarkan sebilah mata pisau ini berada di tangan seorang balita. Tapi di tangan seorang ibu yang sedang sibuk meracik menu di dapur, sebilah pisau ini mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.
Saya percaya, mana ada sih hal-hal di dunia ini yang mengandung manfaat saja? Air putih yang sudah sangat nyata khasiatnya buat kesehatan kita, bila dikonsumsi sekaligus dalam jumlah banyak, apa tidak membuat perut kembung?
Buku “The Davincka Code” sebenarnya bukan tulisan-tulisan baru. Tapi kumpulan tulisan-tulisan ringan yang selalu saya rangkai dalam bentuk status-status ‘ular naga’ panjangnya bukan kepalang haha.
Nah, kumpulan tulisan tersebut yang dilirik oleh editor yang menghubungi saya via inbox FB dan email. Mau dibukukan katanya. Saya juga Ā bingung, sih. Kok segitunya ya mau dibukukan segala? Waktu editor minta 200 halaman, ya saya kaget. Pikir saya, mana mungkin ada segitu? Barulah saya sadar, itu status bisa panjang minta ampun ketika dicopas ke MS Word. Ada status yang panjangnya ternyata sekitar 1800 kata dan memenuhi 6-7 halaman A4. Hahahaha.
Jadi, menulis pun wadahnya banyak ternyata. Ā Termasuk jalan menerbitkan buku. Dari status-status ringan juga bisa menjadi buku :). Inilah The Davincka Code :
Sepakat. Dalam menebarkan kebaikan jangan kita yang ditelan zaman. Kita yang harus menaklukkan zaman. Media perantara tidak seharusnya Ā menjadi masalah.
Karena masyarakat masa kini sekarang wara wiri di media sosial, jangan heran para penulis pun mulai buka lapak di mana-mana. Tak pernah dibatasi, kok, cara kita menebarkan kebaikan kepada orang lain. Dari tontonan wayang, sehelai daun, lembaran kertas, papan-papan tulis, atau dinding-dinding Facebook sekali punĀ . Lihatlah bagaimana cerdiknya Para Sunan menebarkan Islam di bumi Nusantara kala Islam baru bersemi di tanah air :).
Kebaikan sering digambarkan dengan warna putih. Sementara sisi yang satunya ditandai dengan warna hitam. Adalah tugas kita untuk menyematkan warna yang mana yang kita inginkan untuk setiap hal yang kita temui dalam hidup ini. Hitam atau putih?
***
Kalau bikin status memang serasa bikin artikel, euy, sering dikasih judul gitu hihihi.
Telah terbit “The Davincka Code : How Traveling Inspires You”, 38 judul artikel yang terangkai di 298 halaman buku.Ā Berupa kumpulan cerita-cerita yang memang kalau dirunut-runut cukup banyak mengambil hikmah dari kisah-kisah yang dialami kala bermukim di Tehran-Jeddah maupun Athlone kini :). Dapatkan di toko-toko buku terdekat di tanah air. Harga sebelum diskon, Rp42.000. Bisa juga dibeli di toko-toko buku online yang biasanya kena diskon minimal 10% lho ;).
Akhir kata, mari memilih bahagia, di mana pun kita berada! Ā Because indeed … happiness is not given, it is made š.
Hahahhahahaha… I know judulnya enggak banget. Suami saya sendiri sempat bilang, “Kok norak banget, sih?”Ā
Dulu, saya sempat membuat page iseng-iseng, sok-sok mau mengumpulkan tulisan dalam page khusus. Nah, page itu saya beri nama “The Davincka Code.” Enggak tahu awalnya gimana, pokoknya kepikiran begitu saja. Semacam plesetannya The Davinci Code gitu lah hihihihi.
Page itu sudah saya hapus. Ngapain juga. Nambah-nambahin kerjaan aje hehehe. Sudahlah, di akun ini saja semuanya tumpah ruahĀ . Nama itu kepikiran lagi saat akan menerbitkan kumpulan tulisan di buku solo ke-2 saya.
Eh, bukunya tentang apa, sih?Ā . Actually, nothing special. Buku ini berisi….jeng, jeeengggg *drumRoll* … kumpulan status di FB! Hahahaha. Saya juga tidak mengira, tahu-tahu seorang editor mengirim pesan di inbox dan tertarik mengumpulkan tulisan-tulisan saya di wall ini. Tulisan yang juga saya taruh dalam blog.
Saya sempat pikir-pikir, ngapain sih pakai diterbitkan segala? Selama ini kan ditulisnya memang untuk teman-teman di wall dan di blogĀ . Terus suami saya bilang begini, “Temen lu di FB mang berapa? Terus apa semuanya baca wall lu?”
Benar juga, ya. Apalagi di blog. Blog-nya sepi begitu hehehe. Kalau dibukukan, mungkin saja lebih banyak lagi yang bisa membaca dan syukur-syukur ikut menarik hikmah *tsaaahhh*Ā . Macam motivator aje ngomongnye.
Kalau ngomongin royalti, sudahlah ya hihihi. Menulis buku itu memang murni untuk passion sajaĀ . Kalau sudah condong ke materi dijamin bakal nangis dah. Biarlah urusan materi kita kejar dari … ATM suami sajah. Hahahaha.
Therefore, saya ikhlaskan tulisan-tulisannya berpindah tangan kepada penerbitĀ . Tadinya, agak ragu, mintanya 200 halaman A4. Aje gile. Mana ada segitu? Ya sudah kalau tidak cukup saya sudah berniat membuat beberapa tulisan baru.
Ealah, baru 2/3 tulisan pilihan dipindahkan ke A4, sudah 200 halaman saja. Astagaaaaa, status saya ternyata sepanjang itu, ya hahahahaha. Tak sedikit status jika dipindah ke halaman A4, jadinya 6-7 halaman aja gituh hahahaha. Spasi 1.5 lho ya bukan doubleĀ Ā *ngelapKeringat*.
Saat dipindah ke halaman buku, jadinya nyaris 300 halaman. Ffiiuuhh…tidak disangka yeĀ .
Makanya, saya bingung gimana mau promosiinnya yak di wall ini. Wong, semua tulisannya sudah pernah muncul di wall hihihhi.
Total ada 38 judulĀ . Judul-judul yang pastinya sudah familiar banget, ya bagi pemirsa setia wall ini *benerinPoni*Ā . Masih ingat dengan …
Kata Pengantar (God’s Gift to You)
Chapter 1 : Every Mom Has Her Own Battle Chapter 2 : Blogger Perempuan, Berceritalah pada Dunia! Chapter 3 : āBecause One Day Mommy, I Wonāt be This Smallā Chapter 4 : The Strength You Didnāt Know That You Had Chapter 5 : Semua Anak ⦠Cerdas! Chapter 6 : Filosofi Sepatu Chapter 7 : Places Called Home Chapter 8 : (Apalah) Arti Sebuah Nama Chapter 9 : Hers is Where Mine Begins Chapter 10 : For Making Us A Fighter Chapter 11 : A Little Snow Before Sunshine Chapter 12 : What is Invisible to The Eyes Chapter 13 : Challenge What The Future Holds Chapter 14 : Donāt We All Chapter 15 : Tak Ada yang Abadi Chapter 16 : People We Havenāt Met Yet Chapter 17 : VVIP Chapter 18 : Until Itās Gone Chapter 19 : Bila Kau Tidak Mendapatkan Apa yang Kau Inginkan? Chapter 20 : We Do and We Donāt Chapter 21 : Hitam atau Putih? Chapter 22 : Waktu (Akan) Berbicara Chapter 23 : Rendang Padang, Jauh di Mata Dekat di Lidah Chapter 24 : Lihatlah Warna Pada Cahaya Chapter 25 : Roda Pedati, Kadang di Atas, Kadang di Bawah Chapter 26 : If The Music Sings a Thousand Memories Chapter 27 : Every Womanās Best Man Chapter 28 : Happiness is Not Given, It is Made Chapter 29 : One Day Youāll See Chapter 30 : Whatās Your Dream Job? Chapter 31 : What If Chapter 32 : Dear Son, Fly Abandonedly Into The Sun Chapter 33 : Soekarno, yang Terbit, Terbenam dan Kembali Bersinarā Chapter 34 : Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca Chapter 35 : Saladin, Dicinta Kawan Dipuja Lawan Chapter 36 : We are The World, We are The Children Chapter 37 : Ada Apa dengan Timur Tengah? Chapter 38 : Farewell NoteĀ
Sampai-sampai, farewell note buat seorang teman, Linda Octaviana yang pindah ke Suriname dari Jeddah, juga diminta oleh penerbit untuk dibukukanĀ . Farewell note doang padahal hehe.
Jangan khawatir, walau (hampir) semua tulisan tersebut sudah ‘menghilang’ dari wall dan blog saya, masih buanyak ternyata isi blog eike hihihihi. Jadi, kalau pun tak beli buku, tulisan-tulisan si Mbak Poni inihĀ Ā masih bisa dinikmati secara gratis di blog jihandavincka dot wordpress dot com kokĀ .
Dan wall ini pun akan terus bertabur tulisan-tulisan iseng yang temanya random. Suka-suka yang nulis ajaĀ . So, don’t worry š. Jadi, situ berasa punya fans?Ā Ā –> sodorin kaca ke mbak-nya biar insaf.
Bingung juga ini mau promosi *garukGarukKepala*. Pokoknya saya jujur saja, nothing new kok di buku ini. Kalau mau bernostalgia silakan dibeli. Kalau tidak, mohon doanya, ya, mudah-mudahan orang-orang lain (di luar friend list FB dan pembaca blog) berkenan membeli bukunya š.
Sebagian tulisan saya sering bercerita tentang ibu, kakak-kakak dan adik-adik saya yang memang jumlahnya tidak sedikit hihihi. Buku ini teruntuk ibunda tercinta, Mama AmangĀ . Untuk kakak-kakakku yang ganteng-ganteng, Sulaiman – Salman Alfaris – Lukman Hakim – Anwar Sadat. Untuk adik-adikku tersayang, Nasli dan Akhmad Khalid.
Mama and her grown-up babies š (January, 2013)
Untuk suami tercinta, Bang Dani yang lagi-lagi foto-fotonya eike comot-comot sesuka hati untuk cover dan isi buku hihihihi. You’re the best, Bang *kecup*. Dan tentu…si duo tengil kesayanganku, Nabil dan Narda š.
Berasa terima Oscar ya Kakaaaaa hahaha. Abisnya di buku enggak ada ucapan terima kasih hihihihiĀ .
Tulisan ini hanya teaser pertama saja. Abis ini bakal ada teaser-teaser lanjutan kek biasa. Macam Memoar of Jeddah ajalah. Jangan-jangan ini teasernya aja kalau dikumpulin bisa satu buku sendiriĀ .
Baiklah. Proofread sudah di tangan. Tanda setuju sudah dikirimkan. Mohon doanya, jika lancar, sebelum tahun 2014 datang, bukunya sudah terbit di toko-toko bukuĀ . Beli lewat saya juga boleh untuk yang ini š.
Dari usia 8 tahun, saya suka gemas kalau melihat cerpen-cerpen di majalah Bobo. Selalu terpikir, “Idih, kalau nulis ginian, gue juga bisa.” Hahaha. Pede tingkat dewa :P.
gambar : ivyleagueinsecurities.com
Dengan tekun saya tulis tangan sebuah cerita pendek di atas beberapa lembar kertas. Ketika dengan semangat menunjukkan hasilnya pada ibu, ibu malah bingung, “Ngapain ngerjain aneh-aneh. Nilai-nilaimu kan bagus-bagus. Konsen saja di sekolah.”
Sempat saya cari sendiri alamat redaksi di majalah bobo. Dari kakak saya, saya diberi tahu, “Pergi aja ke kantor pos. Beli perangko. Tulis alamat di amplop. Gampang, kok.”
Saya turuti. Benar-benar saya kirim cerpen tulisan tangan itu ke redaksi majalah Bobo Rasa bahagia membubung tinggi. Tidak terlalu peduli apa tulisannya diterima atau tidak. Di usia sekecil itu, saya sudah tahu passion sejati saya.
Seperti yang ada dalam trailer novel “Cine Us”, “Kenapa enggak kejar impian dari sekarang?”
Benar juga. Kenapa tidak dikejar sejak dulu, sejak kecil, di usia yang sangat dini, 8 tahun. Saya percaya diri punya bakat, ambisi pun Ā menyala-nyala. Di SD ini, walau tak pernah meniatkan untuk publikasi, saya menulis dengan rajinnya minta ampun.
Hingga akhirnya kelas 6 SD, bapak saya meninggal. Ekonomi keluarga pasti terancam. Kami ini 7 bersaudara dengan ekonomi menengah. Bapak pencari nafkah utama. Saya jadi tersadar. Benar kata ibu, ngapain, ah, mengejar hobi yang tidak pasti begini. Mending saya konsentrasi belajar serius.
***
Dari kelas 1 SMP, menjadi dokter adalah cita-cita saya. Prestasi sekolah saya memang tokcer :P. Jika waktu SD, saya membagi konsentrasi antara menulis dan belajar, di SMP saya kurangi hobi menulis. SMA, saya tinggalkan 100%. Hanya menulis buku harian, tak ada lagi fiksi-fiksi ringan di atas berlembar-lembar kertas yang dulu bisa dikerjakan sambil senyum-senyum.
Di SMA, nilai rapor mencapai puncak. Dari cawu 1 kelas 1, sampai cawu 3 kelas 3, peringkat 1 di kelas tidak pernah lepas sekali pun.Ā
Gambar : cerita.web.id
Namun, cita-cita menjadi dokter kandas di kelas 3 SMA saat seorang kakak kelas yang kuliah di kedokteran umum menceritakan kepada saya mengenai seluk beluk kuliah kedokteran. Harapan langsung menguncup. Biaya mahal, sekolahnya lama, kalau lulus masih berendeng hal yang harus dihadapi sebelum bisa praktik dengan honor ratusan ribu per pasien hihihihi :P.
Maunya kuliah agar cepat-cepat lulus dan tidak menjadi beban keluarga. Kalau bisa segera ikut menopang ekonomi keluarga. Jadi dokter, coret! Padahal, setelah menulis, menjadi dokter adalah ambisi terbesar ke-2.
Akhirnya, memilih kuliah di jurusan teknik informatika. Menurut pembimbing di tempat bimbel, masa depan lulusan informatika sangat cerah. Gajinya bisa gede walau baru lulus, gampang pula mendapat kerja karena lulusannya Ā masih sedikit.
Pilihan ini saya simpan rapat-rapat. Semua sahabat mengira saya memillih kedokteran umum, termasuk ibu dan kakak-kakak saya hehe.
Jadi, ketika pengumuman UMPTN tiba, gempar deh, duaaarrrr! Walau saya sempat ragu, karena benar-benar tidak mengerti seluk beluk jurusan ini, tapi tetap semangat melihat ibu yang Ā menghapus airmatanya saat membantu saya membereskan isi koper untuk berangkat merantau ke Jakarta. Kata ibu saat itu, “Hebatnya bisa tembus UI.”
***
Lulus kuliah dengan nilai gemilang, langsung meniti karir di IT cukup serius. Benar, begitu lulus langsung dapat kerja dengan gaji juta-juta. Hingga akhirnya bekerja di salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia. Berharap terus meniti karier lebih tinggi dari balik meja dengan mengandalkan kemampuan di bidang IT.
Masa-masa berkarier di kantor
Tahun 2008, anak pertama lahir. Setelah cuti 3 bulan, keraguan datang lagi. Di suatu pagi waktu mau berangkat kantor,tak sengaja melihat baby sitter saya bercengkrama dengan bayi saya.Ā Bayi saya cekikikan mendengar si baby sitter menyanyikan lagu “Bintang Kecil.” Sakit hatinya jangan ditanya. Itu pertama kalinya melihat Nabil, anak sulung saya, tertawa. Dia tertawa pertama kali bukan dalam tangan saya.Ā
Waktu itu mulai deh berpikir serius. Menata kembali tujuan hidup.Toh, dulu saya bekerja tujuan utamanya untuk melanjutkan tongkat estafet keluarga. Dari kelas 1 SMA, usaha yang ditinggalkan almarhum bapak sudah lama bangkrut. Rumah, kios tempat mengais nafkah dan segala macam sudah habis terjual.
Jadi, begitu lulus dan bekerja, saya niatkan separuh gaji untuk membalas jerih payah kakak yang sudah membiayai saya, dengan cara membiayai kuliah adik.Ā Tapi, adik saya pun sudah lulus. Kakak-kakak yang lain juga sudah mulai mantap kariernya. Mungkin, sudah saatnya saya mulai berkonsentrasi penuh pada suami dan anak-anak saya, cinta saya yang baru.
Para ananda tercinta
Walau berat karena ibu sempat tidak setuju, saya kuatkan saja untuk resign. Di hari terakhir saat mengambil barang-barang di kantor, saya tersedu-sedu di atas meja selama hampir satu jam. Sungguh tak mengira, setelah 7 tahun penuh saya habis-habisan mengejar karier, saya sanggup memutuskan untuk berhenti.
***
Habis resign, tujuannya akan segera mengambil S2. Saya ingin menjadi dosen. Kalau menjadi dosen paruh waktu, diharapkan waktu lebih fleksibel dan berharap bisa kembali menekuni dunia menulis.
Yang terjadi, pertengahan 2010, suami memboyong kami ke Jeddah.Ā Juli 2010, saya terbang berdua Nabil menuju bandara King Abdul Aziz di Jeddah, menyusul suami yang sudah terlebih dahulu tinggal di Jeddah.
Panjang sekali jalan untuk akhirnya bisa kembali menekuni ambisi utama sedari Ā kecil setelah punya 2 anak, usia tak lagi muda. Saat aktif menulis ke media cetak Ā dan menerbitkan buku di usia 33 tahun, seperempat abad telah berlalu sejak saya berkata kepada diri sendiri di usia 8 tahun, “Saya mau jadi penulis.”
A Writer Mom š
Tidak menyesal juga harus menunggu 25 tahun :). Di setiap tahapannya, saya selalu menikmati. Walau tak selalu menjalani semuanya dengan ambisi penuh dalam diri sendiri. Saya rasa, kadang-kadang, impian dan cinta tidak selalu beriringan. Tapi, jangan khawatir. When it’s time … it’s time š.
Di Ā bangku sekolah, prioritas adalah belajar. Jangan diniatkan untuk diri sendiri saja tapi untuk cinta mereka yang berjuang agar kita bisa meniti jalan di sana. Ayah dan ibu saya, keduanya tak lulus SMP tapi begitu gigih menginginkan kami melebihi mereka.
Walau tak berhasil menggenggam ijazah dokter, di hari wisuda, dada lumayan sesak melihat wajah ibu bersinar bangga, “Wah, lulusnya cepat juga. Sudah kerja lagi.” Sebelum resmi mengenakan toga, saya sudah diterima bekerja :).
When it’s time to change, then its time to change
Don’t fight the tide, come along for the ride, don’t you see
When it’s time to change, you’ve got to rearrange
who you are into what you’re gonna be. (Brady Branch – Time to Change)
Jadi, arti kebanggaan untuk saya adalah … menyeimbangkan impian dan cinta sesuai porsinya masing-masing :).
Mungkin saja, kebanggaan itu letaknya di dalam diri sendiri. Tapi selain impian, ada cinta yang menjadi bagian dari rasa bangga. Membahagiakan semua yang kita cintai memang mustahil, tapi di tiap jenjang, di tiap langkah, kita selalu bisa memilih. Sementara saya pribadi meyakini, bangga itu satu paket dengan bahagia, “Happiness is a hard thing because it is achieved only by making others happy.”
Jangan sampai hilang asa karena merasa berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Percayalah, waktunya akan datang, segalanya akan berbayar. Kapan?Ā When it’s time … it’s time :).
Buku Memoar of Jeddah : Kalau diberi pertanyaan mengenai film paling berkesan, kira-kira sama tidak, ya, jawabannya dengan film paling favorit? Karena buat saya, TIDAKĀ .
Film paling berkesan itu justru … “Dreamcatcher”. Filmnya justru sama sekali tidak menarik. Manalagi saya bukan penggemar film thriller, apalagi thriller super garing yang melibatkan makhluk aneh-aneh macam cacing raksasa seperti di film iniĀ .
Nonton film itu berempat, bareng teman-teman kampus yang malah akrab setelah kami lulus kuliah. Pas lulus itu, ceritanya nge-geng, hahaha, tua-tua kok baru punya gengĀ . K
Sesekali, kami nonton film. Nah, waktu itu, sedang enggak ada film oke yang diincar. Langsung datang ke bioskop dan milih-milih judul yang ada saja. Tertarik dengan “Dreamcatcher” karena si Mr.G ngotot pengin nonton yang mistik-mistik katanya. Yang lain akhirnya setuju demi melihat potongan kalimat di bawah judul film, “based on novel by Stephen King.”
Itulah film terburuk yang pernah saya tonton di bioskop!
Peristiwa nonton film ini sudah diawali dengan insiden salah putar film. Setengah jam setelah duduk dalam teater, yang diputar malah film animasi.
“Eh, tadi bukan film animasi, kan?”
“Keluar yok ah, salah masuk bioskop kali.”
“Udah sih, liat aja dulu.”
“Kayaknya iklan doang ini.”
“Iklan? Ini udah ampir setengah jam gilak.”
Lagi seru-serunya berdebat, film benerannya pun diputar, “Dreamcacther.” Iya sih, 15 menit pertamanya bagus dan bikin penasaran. Kami menonton dengan serius. Tapi enggak ada angin, enggak ada hujan, begitu scene yang memunculkan seekor cacing raksasa dari balik jamban… hadeuuuhhh… penonton kecewa! Hahaha.
Sumpah ya, logika filmnya benar-benar anehĀ . Sudah ingin keluar bahkan sebelum satu jam film diputar, tapi ngapain di luar? Soalnya teman saya 2 orang berkeras mau menonton sampai habis. Sementara teman saya satu lagi sudah sibuk sms-an, tidak serius menonton lagi.
Keluar bioskop, Mr.G langsung jadi sasaran kemarahan. Hahaha. Sepanjang jalan menuju tempat makan malam, kami sibuk mencela film tersebut.
Nah, di janjian “Jalan-jalan berempat” seterusnya, momen ini terus terbawa-bawa. Padahal gondok pas hari H nya. Setelah itu, malah jadi bahan ketawa-ketawa… sampai terakhir kami bertemu kembali waktu mudik november kemarin. Film ini yang selalu kami bahas di hampir setiap kesempatan bertemu. Film yang paling berkesan dan tak terlupakan. Hehehe.
Memang begitu seringnya. Hal-hal yang berkesan justru tidak dibangun dari kejadian-kejadian indah dan selalu membahagiakan. Kadang, gampang saja melupakan pengalaman-pengalaman indah tapi sulit menghapus yang tidak indahĀ .
***
Sebelum ke Saudi yang saya bayangkan wilayah ini pasti sangat religius. Walau berada di bawah kucuran sinar matahari nan menyengat, masa iya kehadiran dua kota suci, Mekkah dan Madinah, tidak bisa menyejukkan kehidupan sehari-hari pemukim di sana. Hidup bersahaja yang selalu ditunjukkan rasulullah pasti dong menjadi ciri utama masyarakat sana.
Kenyataan berbicara sebaliknya. Hampir seluruh wilayah elit perkotaan dikepung mal-mal besar dan megah. Sampai menganga, deh, kalau lewat di salah satu sudut Tahliya Street.
Kontras dengan membanjirnya mal-mal mewah, parkiran mal tidak sedikit yang dipenuhi pengemis-pengemis kecil yang menadahkan tangan atau menjual pernak pernik macam sapu tangan dll.
Lihat Ferrari mah sampai bosan. Itu deretan mobil mewah punya adiknya Atut yang bikin ngiler, bolak balik lewat di jalan-jalan besar Kota JeddahĀ . But again, di perempatan lampu merah yang jual asongan juga banyak.
Di Jakarta, di Jeddah…
“Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…” (Ahmad Syafii Maarif)
***
Sempat merasa gamang *tsaaahh*. Tapi ya, kalau cuma bisa bete apa pula gunanya. Rezeki suami toh ada di Jeddah. Suami selalu menghibur, “Kita kan tidak hidup dengan cara mereka. Kita di sini mencari rezeki.”
Pikiran mulai teralih. Manusia mah suka rusuh memikirkan hal-hal di luar jangkauan –> tunjuk diri sendiri! Seringnya luput berkaca ke dalam diri sendiri.
Benar kata suami. Merantau ke Timur Tengah relatif lebih mudah daripada melangkah langsung dari Indonesia ke negara-negara maju. Wajar. Saingan dikit hehe. Biaya hidup murah (beda lho dengan negara TimTeng lain), apalagi untuk penganut GoberismeĀ . Selisih pendapatan dan pengeluaran yang jumlahnya lumayan bisa dipersembahkan sebagai devisa untuk tanah airĀ . Syukur-syukur mengurangi kepadatan penduduk Jakarta juga, kan? Hehe.
Kelakuan orang-orang di Jeddah juga luar biasa. Sekolah hafidz di mana-mana, tapi entah dimana itu hapalan alquran yang dibangga-banggakan dalam berinteraksi dalam keseharian, apalagi kalau sudah menyetir di jalan raya. Semenjak di Jeddah, jadi rajin baca doa keluar rumah, nih, sebelum mobil distarter hahaha.
Banyak sekali alasan untuk jengkel. Apalagi kalau bermukim sebagai pendatang. Indonesia pula, perempuan pula. Otomatis itu stempel ‘TKW’ terukir di dahi masing-masing. Yassalam ya, mesti banyak-banyak istighfar hehe.
Suami pernah menyarankan saya yang awalnya ngomel-ngomel melulu untuk meng-upgrade penampilan, “Belilah satu dua barang mahal. Abaya yang elit dikit. Daripada ngomel melulu.”
Rasain lu dinyinyirin sama suami sendiri hehe.
Lalu, kita jadi belajar dengan sendirinya. Begitulah cara-cara unik Tuhan untuk membuat kita belajar. Memegang prinsip di tengah terjangan dunia yang sungguh jauh berbeda dari yang dicita-citakan. Mengomel tanpa jelas juntrungannya? Capek doang dapatnya.
Itulah ujiannya. Bagaimana menjalani keyakinan tanpa perlu sibuk ngomelin lingkungan.
Setelah sok-sok ikhlas menerima keadaan, mulai dong memutuskan untuk menciptakan kebahagiaan ala diri sendiri. Tanpa perlu meleburkan diri dalam hal-hal tidak disukai sekaligus tidak perlu memprotes mereka yang memilih untuk ‘berubah’.
Daripada menyibukkan diri dengan yang bete-bete, mari dicari-cari apa yang bisa dinikmati. Mumpung hidup di tengah situasi ‘keras’, saatnya berusaha menggembleng diri untuk menjadi lebih bijak. Katanya sih begitu hehe.
Malah di Jeddah, jadi rajin menulis. Padahal resign sudah dua tahun sebelumnya. Bikin blog komunitas macam-macam. Judulnya blog komunitas, tapi behind the screen nya mah, eike-eike juga yang menulis hahaha. Tapi, jam terbang sudah mulai menunjukkan hasilnya, kan?Ā .
Betul juga ternyata. Kala sudah ada kepastian harus hengkang dari Jeddah, ide menuangkan pelajaran-pelajaran penting yang dituai selama tinggal di Jeddah mulai ada. Begitulah asal mulanya “Memoar of Jeddah” dituliskanĀ .
Banyak yang ‘berat’ dan mengesalkan, tapi kesannya justru dalam banget. Ratu drama pun mulai beraksi. Hampir tiap hari, di sebulan terakhir tinggal di Jeddah, terangkai banyak cerita dalam draft. Sebagian saya posting di wall, sebagian tetap dalam draft pribadi.
Kesal suka disangka ’embak’? Beragam pengalaman yang bikin gondok? Kita pun jadi memahami sepenuhnya … “People with bad behaviour only exist to remind us not to do the same thing”Ā .
Bete dilecehkan karena penampilan? Tekankan kepada diri sendiri untuk tidak seenaknya menilai orang dengan cara yang sama. Inspirasi yang ini bisa ditemukan di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” –> “(Never) Judge a Book by Its Cover.”
Apa iya orang-orang Arab itu kasar-kasar semua? Nah, jangan sampai mendengar cerita segelintir orang membuat kita bermain-main terlampau jauh dengan stereotip. Walau stereotip bahwa “Orang Bugis pasti manis” itu benar adanya (lemparin cermin :P), tapi belum tentu penilaian negatif tentang orang lain juga benar, kan?
Inspirasi tentang pengalaman pribadi saya berupa interaksi langsung orang-orang Arab selama di Jeddah, ada di chapter 8, “People We Haven’t Met Yet.”
Anugerah di tengah keterbatasan kehidupan perempuan di Saudi jauh lebih besar, salah satunya ada di 2 chapter favorit sang penulis. Yang pertama di chapter 2, “Saat Ka’bah Hanya Berjarak Satu Jam Saja.” Dan di chapter paling panjang, terukir dalam 20 halaman penuh, kisah “Naik Haji via Jeddah” dari hari pertama hingga hari ke-6 prosesi haji.
Kehidupan khas ala Saudi yang mungkin tak ada di tempat lain ada di chapter 4, “Ngabuburit ala Orang Arab” dan chapter 7, “Bergaya dengan Abaya.”
Tempat liburan hanya ada di Mekkah dan Madinah? Waduh, berarti belum pernah tinggal di Jeddah ini hihihi. Dari chapter 11-16, silakan dinikmati pesona lain Saudi selain 2 kota suci tadiĀ .
Cerita jalan-jalan, lengkap dengan foto-foto. Walau dicetak hitam putih, foto-fotonya itu mahakarya fotografer kelas dunia, Bapak Dani RosyadiĀ . Mahakarya dari fotografer yang sama yang juga yang menghiasi cover buku “Memoar of Jeddah.” Abis ini gue pasti dapat inbox, “Lu ngapain sih bawa-bawa nama gue.” Hahaha. Sungkem dulu sama suamiĀ .
Chapter sisanya, berinti sama, bahwa kita sering terjebak dalam paradigma, “katanya, katanya, katanya…” Ingatlah salah satu mutiara pembelajaran dari Sayyidina Ali, bahwa, “Manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya.”
Bukunya ditutup dengan kesimpulan panjang lebar yang bisa dipadatkan dalam satu kalimat andalan yang jangan bosan ya bila sudah sering ditulis … “Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu”Ā .
Chapter penutup, chapter 18 : “When One Door Closes, Another Opens.”
Demikianlah curhat sang penulis selama tinggal di Jeddah dipersembahkan dalam 18 chapter tulisan di dalam sebuah buku bertajuk, “Memoar of Jeddah, How Can I Not Love Jeddah?”
Kasihan lho ini, menyusunnya sampai berbulan-bulanĀ . Beli yaaaa –> pasang tampang imut ala Pussy BootsĀ . Kalau pun kurang berkenan membeli, minimal suruh temannya yang beli. Kan bisa numpang baca, tuh, hahaha.
Terbit tanggal 16 september 2013, sudah bisa didapatkan di toko-toko buku gramedia di seluruh Indonesia. Harganya sekitar 29 ribu rupiah. Mendapat diskon 10-15% bila dibeli via toko-toko buku online : inibuku.com, grazera.com, gramediaonline.com, parcelbuku.net dsb.
Mumpung sabtu-minggu tuh besok. Patungan deh patungan ama temannya hehehe. Kan bisa tuker-tukeran bacanya. Umm…apalagi ya kalimat bujukannya? hahaha. Alamak, susahnya cari uang, yakĀ .
Therefore, saya tutup tulisan ini dengan pepatah cantik dari Marthen Luther King, Jr :
The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.
Kemarin, kabar gembira berikutnya datang dari penerbit lain yang mengincar tulisan-tulisan dalam blog saya š. Kalau akhirnya kontrak datang, habis deh isi blog gue kudu diumpetin semua hahaha.
Juga sedang menunggu finalisasi naskah novel yang juga dipesan oleh sebuah penerbit baru yang meminta saya membuat naskah untuk mereka. Mudah-mudahan cocok hihihi. Soalnya agak grogi bikin novel untuk pertama kali. Akankah tercapai hattrick tahun ini? “Aamiin” yang kencang :D.
Tapi, kali ini mau cerita tentang “Bunda of Arabia”, buku pertama yang saya terbitkan secara indie tahun lalu. Yang katanya disebut-sebut sebagai buku indie yang popular karena laku *uhukUhuk*, ini juga baru tahu dari beberapa teman bloggerĀ .
Hm…buku indie laku berarti untung besar dong, ya. Sejujurnya … saya mengaku saja. Secara materi, kerugian yang saya tanggung tidak sedikitĀ .
Kok bisa? Begini ceritanya …
***
“Bunda of Arabia” terbit tidak atas dasar motivasi menulis. Justru, saat itu saya sedang asyik-asyiknya blogging untuk Mamasejagat dan CeritaJeddah. Sama sekali tidak terpikir mau jadi penulis buku, artikel di majalah dan semacamnya.
Buku itu saya ciptakan untuk membenahi pemikiran umum masyarakat di Indonesia, terutama teman-teman yang suka ‘rewel’ bertanya tentang Jeddah.
Waktu itu pula, iseng menantang diri sendiri. “Ayoooo, terbitin dalam tempo 3 bulan, bisa gak lo?”
Mulai deh berjuang. Biar seru, lebih bagus bentuk antologi yang ditulis beramai-ramai agar kesannya bukan cuma saya doang yang punya cerita menarik di Jeddah. Mengumpulkan kontributor saja sudah menguras energi. Walau awalnya berbunga-bunga karena teman-teman merespons positif. Giliran menagih naskah, ngibrit satu-satu hehe.
Setelah mati-matian mengedit sendiri (hampir) semua tulisan teman-teman, naskah pun jadi. Penerbit indie pun ditemukan. Kami sepakat membuat cover sendiri.
Sejak awal proses, friksi-friksi mulai muncul. Yaiyalah, 8 perempuan (1 nya dah keburu balik ke Jakarta :P) bekerja dalam satu tim jangan harap bisa lepas dari drama! Bosnya saja = ratu drama hihihi.
Yang terlambat saya deteksi adalah semangat kebanyakan teman-teman tim yang mulai meredup bahkan sebelum buku terbit. Padahal sudah saya janjikan pembagian royalti sama rata walau modal saya tanggung penuh 100%!
Tidak main-main saya modali buku ini. Langsung saya cetak 800 eksemplar untuk menekan biaya produksi. Kalau cuma cetak satu-satu, modalnya terlalu besar –> harga buku akan sangat mahal.
Sudah terlalu jauh saya ‘berlari’ hingga akhirnya saya menengok ke belakang, “La, yang lain pada ke mana?” Itu kesalahan pertama saya yang bisa menjadi pelajaran pertama, “Letting anyone feel ‘out of it’ should not be done.”
Sementara, beberapa orang sudah mulai melakukan penyerangan secara ‘pribadi’.
“Egois lu! Mau menang sendiri! Lu maksa orang untuk ikut cara lu!”
“Nanti kalau bukunya terbit, nama kita semua ada, kan? Bukan cuma nama lu doang, kan?”
“Lu Ratu Drama sih! Apa-apa dibesar-besarkan. Heboh sendiri, enggak jelas sendiri.”
Saya sudah mau membatalkan saja. Ya Allah, pikir saya. Sungguh sia-sia saya menerbitkan buku ini kalau pertaruhannya adalah putusnya tali silaturahmi dengan teman-temanĀ .
Panik, cing. Saya sudah aktif promosi di wall, gimana kalau sampai buku tidak jadi terbit. Taruh mana tampang rupawanku ini hahaha.
Suami saya ikut-ikutan, “Lu bego! Duit, duit lu! Ide, ide lu! You should take the control! Apa gunanya capek-capek diskusi kalau mereka selalu bilang ‘terserah lu’ tapi sibuk ngomongin lu di belakang!”
Aduh. Sebagian teman-teman mulai tak suka dan marah pada saya. Sebagian memilih diam, pura-pura tidak ada urusan. Suami pun sudah mulai bete.
Cara terbaik yang saya pilih, mengalah. Mulai saya bagikan tugas lagi. Kalau ada yang mengelak, sudahlah. Biarkan saja. Toh, kalau mau jujur, saya akui banyakan salah eike juga hehehe. Orang enggak doyan menulis, saya paksa-paksa ikut proyek iniĀ .
Pelajaran kedua deh, “Avoid arguments but, if you do have them, bury the hatchet quickly and wholly.” -Ranulph Fiennes-
Walau suami menentang cara saya yang sibuk meminta maaf ke sana sini, saya pasrah saja. Waktu itu, saya lebih takut kehilangan teman, deh, daripada kehilangan duitĀ .
Ada yang bersedia mendesain cover. Good. Saya pikir, bikin desain sekalian memikirkan cara menuangkan desainnya ke atas gambar. Lama saya tunggu. Saat dicek, mereka bilang, “Kita bisa desainnya tapi enggak tahu cara gambarnya.”
Saya pikir mereka tahu bahwa itu seharusnya tugas mereka juga, untuk mencari orang yang bisa mendesain. Ya sudah, saya malas ribut-ribut, saya turun tangan carikan desainer. Untung ingat dengan adik kelas yang memang buka jasa desain online. Alhamdulillah, dia mau membantu. Biaya tentu saja saya tanggung 100%.
Urusan editing, saya selesaikan sendiri. Ada teman yang mengaku punya banyak teman editor. Saya minta bantuannya, saya bilang saya sanggup membayar secara profesional. Ealah, ditunggu-tunggu, tak ada yang bersedia menjadi editorĀ .
Kenapa mencari editor sendiri? Karena penerbit lama sekali merespons, sementara saya kan berkeras pada timeline saya sendiri. Saya akan tempuh apa pun agar bukunya terbit sebelum bulan april!
Akhirnya, eike-eike lagi yang mencari editor. Karena khawatir gagal dapat editor, sebagai back up plan, tiap malam saya begadang belajar EYD sendiri hihihihi. Maklum waktu itu menulis seenak jidat saja. Di blog masih ber gue-gue dengan tanda baca yang bikin sakit mata hahahaha.
Ketemu satu editor. Saya janjikan honor 2x lipat bila dia sanggup mengedit dalam tempo cepat. Dasar saya kurang pengalaman. Saking paniknya main tunjuk saja. Editannya ternyata mengubah gaya menulis kami. Malah, beberapa kalimat berubah arti. Tapi ya, saya harus adil, dong. Tetap saya bayar honornya, 2x lipat seperti janji saya di awal.
Untungnya, penerbit mulai merespons, editing pun diambil alih mereka. Ada ongkos tambahan tentu saja. Ongkos editan awal tadi tak pernah saya perhitungkan. Anggap saja itu harga yang harus dibayar atas keamatiran saya tempo itu.
Buku pun terbit. Sebelum terbit, teman-teman yang tadinya sepakat akan menjual masing-masing minimal 50 eksemplar mulai goyah. Sudah mulai ada yang keberatan. Aduh, saya sudah kehabisan energi untuk berantem. Saya biarkan saja. Pokoknya, asalkan kedamaian tetap melingkupi tim, saya bebaskan jumlah penjualan. Mau jual berapa pun terserah!
Tapi, resikonya adalah, saya sebagai penanggung modal utama harus berjuang jauh lebih keras untuk setidaknya mengembalikan belasan juta rupiah modal yang sudah terlanjur dikeluarkan.
Siang malam, membujuk teman-teman untuk membeli buku ini. Saya melakukan strategi yang sangat berani sekaligus tolol menurut suami sayaĀ . Saya berani mengirim dulu, buku sampai, baru mereka bayar.
Akibatnya, saat proses penagihan saya kelabakan sendiri. Saya malu kalau harus menagih berkali-kali. Biasanya, dua kali saja saya berani menagih. Bila tidak dibayar juga, ya saya ikhlaskan. Soalnya rata-rata kenalan semua. Malu ah kalau mau ributin soal uang segitu doang, sudah syukur mereka berbaik hati mau membaca buku sayaĀ . Pikirnya begitu saja waktu itu. Jadi, jangan ada yang merasa apa-apa, ya. Demi Tuhan, sudah saya ikhlaskanĀ .
Yang menyakitkan itu adalah tanggapan saudara dan teman-teman dekat. Saya polos sekali. Saya pikir, namanya saudara dan teman kenal baik, masa iya tidak mau membantu menjual barang 2-3 eksemplar. Salah satu kakak saya malah bilang dengan santai via BBM, “Buku apaan tuh? Enggak jadi ah gue jual. Jelek isinya. Tipis lagi. Mahal itu buku segitu 35 ribu!”
Kakak yang lain juga begitu. Semua buku yang saya kirim ke mereka tidak ada kabar. Mereka bayar juga tidak mau huhuhu. Tapi, untuk meningkatkan semangat teman-teman dalam tim, saya tutup rapat-rapat soal ini. Tetap saya gembar gemborkan, “Tenang, saudara gue banyak, buku kita dijualin sama mereka, kok.”
Pelajaran ketiga, “Jangan berharap terlalu banyak dari orang lain. Bahkan dari saudara kandung sekali punĀ . Many times, we need to stand on our own!”
Adik saya juga sama. Saya langsung sadar kesalahan ini. Teman-teman lain yang sudah terlanjur saya kirimkan lebih dari 1 eksemplar, buru-buru saya tarik. Rugi 2x. Ongkirnya tetap saya ganti. Buku pun tak laku. Adik saya di Depok, saya mintai tolong memunguti buku-buku yang ada di tangan teman-teman di sana.
Saking putus asanya, puluhan buku saya tarik ke Jeddah. Saya minta ibu yang membawakan, pas sekalian umrah waktu itu.
Akhirnya habis juga 800 eksemplar. Saya menjual ratusan eksemplar, jauh di atas teman-teman lain dalam tim. Tapi, janji tetap janjiĀ . Royalti tetap dibagi rataĀ .
Walau penjualan dari sisi saya belum lunas semua, untuk mencegah tuduhan macam-macam lagi, langsung saya bagikan royalti bersihnya. Saya sudah tidak berharap modal balik. Yang penting no more drama lah hihihihi.
Keangkuhan saya memaksa saya kembali maju dengan cetakan ke-2, lagi-lagi 800 eksemplar! Sebelumnya, saya sudah sibuk bergerilya mencari pembeli, dapat sekitar 150 eksemplar. Lumayan, kan? Harapannya nanti bisa lebih banyak lagi.
Karena kasihan dengan ongkos kirim yang mahal, kadang saya menjual buku dengan menanggung ongkos kirimnya. Tidak main-main tuh ongkir ke sulawesi dan sumatera *ngelapKeringat*. Habisnya, ongkir hampir sama dengan harga buku huhuhu. Instead of untung, malah rugi karena ongkos kirim lebih besar daripada royalti buku. Bego? emberrrrrĀ .
Di cetakan ke-2, saya resmi bubarkan tim. Sistem royalti diubah. Saya berjanji akan memberi royalti tulisan kepada mereka, royalti sales tergantung kepada jumlah penjualan. Alhamdulillah, hubungan yang mulai dingin menghangat kembaliĀ .
Malah, untuk menutupi ‘perang dingin’ antar kami di hadapan teman-teman lain, saya adakan syukuran kecil-kecilan. Rogoh kocek sendiri untuk membeli kue tar dan saya potong di acara pengajian.
Cetakan ke-2 apa kabar? Hahahhahaha. Sampai bosan saya menghabiskan waktu siang dan malam mengejar pembeliĀ . Suami saya, walau menentang sejak awal, ternyata membantu dengan sepenuh hatiĀ . Terima kasih ya, BangĀ . You’re the best. Dia tuh yang gencar mengirim ke milis, ke kaskus, ke mana-mana lah pokoknya. Sementara saya sudah layuĀ .
Kalau hanya menghabiskan waktu mengirim inbox dan message dan DM di twitter terus, saya kapan menulisnya? pikir saya. Ya sudah, walau berat, saya pasrahkan saja. Saya mulai kembali menulis. Setidaknya “Bunda of Arabia” membangkitkan semangat menulis saya ke level yang sangat tinggi.
Semua kenangan masa kecil kala saya memang rajin menulis terbayang kembali. Ya ampun, jangan-jangan saya memang punya bakat pikir saya. Itulah anehnya, orang mah belajar menulis dulu baru menerbitkan buku. Ini kok malah menerbtikan buku dulu baru belajar teknik menulis yang baik dan benar hahahahahaha.
Awalnya saya merasa kalah. Tapi hanya sebulanan setelah cetakan ke-2 keluar, saya iseng membuat cerpen dan mengirimkan ke media cetak, Femina boĀ . Langsung tembus. Disusul secara beruntun tulisan-tulisan lain yang tembus ke Republika, Kartini, Femina(lagi), koran-koran dsb. Sampai 2 x artikel saya diterima di Majalah Garuda dengan honor yang asoy hihihihi. Honor dari media cetak kalau dijumlahkan sudah mengalahkan angka kerugian dari penerbitan “Bunda of Arabia.” Alhamdulillah.
Lomba blog atau lomba menulis online lain mulai disasar pula. Walau terhitung masih cupu dibanding ratu lomba blog yang lain … sebuah mesin cuci elektrolux, uang 5 juta, uang 400 ribu, satu pak rendang padang hihihi, voucher gramedia 750 ribu, dan gadget samsung yang saya lupa jenisnya sudah pernah saya menangkan dengan hobi menulis ini.
Ternyata … saya tidak kalah, kok, ya š. Pertaruhan yang saya tempuh saat menerbitkan “Bunda of Arabia” adalah pelajaran penting ke-4 yang disarikan oleh Sutan Syahrir dalam kalimat, “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”
Walau bukan penggemar Twilight, pelajaran ke-5 dari tulisan ini saya ambil dari penulis bukunya, bahwa … “Without the dark, we never see the stars (Stefenie Meyer)” Jangan-jangan, kalau tak saya terbitkan dan saya perjuangkan “Bunda of Arabia”, saya tak pernah tahu dan menyadari passion menulis yang sudah terpendam belasan tahun ini.
Tapi, jangan lantas takut menerbitkan indie yaĀ . Kesalahan yang saya perbuat tadi bisa dipelajari oleh penulis lain yang ingin sukses secara indie. Jangan memaksa dan bersabarlah š.
Ingat, sekali lagi, pelajaran ke-4 “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”
Cara menerbitkan buku indie memang panjaaaaaang perjalanannya. Selalu ada harga yang harus dibayar, teman-teman š.
Yang sudah lewat, jadikan pelajaran saja. Pelajaran terakhir, yang ke-6 : “There is never any point crying over spilt milk because in order to win at some of your big goals, you’re bound to lose at others along the way.” (Ranulph Fiennes)
Drama banget, ya? Ya mau bagaimana lagi. Begitulah kenyataan yang sebenarnya :D.
***
Btw, buku “Memoar of Jeddah” isinya beda kok dengan “Bunda of Arabia.” Lagipula, seluruh bab dalam MoJ adalah asli tulisan saya semuaĀ . Buku solo pun namanya yak hehehe.
“Memoar of Jeddah” adalah kumpulan kisah-kisah inspiratif, yang meski berlatar belakang pengalaman saya selama 30 bulan di Jeddah, ‘pelajaran’nya bisa dipetik untuk kehidupan sehari-hari kita semua, di mana pun kita berada. Ecieee…sok inspiratif lo hahahaha :p.
Isinya juga saya selipkan sekitar 6 bab tulisan jalan-jalan selama saya tinggal di Saudi. Lengkap dengan foto-fotonya, lho š.