What is Invisible to The Eyes

Saya pernah doyaaaan banget nonton dorama Jepang. Circa 1995 – 2000. Ceritanya variatif dan tidak melulu mentok di kisah sepasang kekasih yang sering ditampakkan sebagai “It’s us against the world!”

Gambar : weheartit.com
Gambar : weheartit.com

Serial romantis dari dorama Jepang yang berkesan, tontonan wajib abg 90 an :P, apalagi kalau bukan “Tokyo Love Story” dan “Ordinary People.”

Tapi sebenarnya ada satu, nih, yang lumayan meninggalkan bekas. Bukan karena cerita atau tokohnya tapi sepenggal percakapan di beberapa episodenya. Oh ya, judul filmnya, “The End of The World.”

Ini adalah semacam ‘tes’ iseng-iseng si pemeran utama perempuan jika bertemu laki-laki sebayanya (siapa saja, tidak mesti kecengan atau pacar) :

P : “Kalau kiamat datang, kau diberikan sebuah perahu. Tapi kau hanya boleh membawa satu jenis binatang bersamamu. Kuda, merpati, macan, atau merpati. Kau pilih apa? Kenapa?”

Biasanya si laki-laki menjawab macam-macam. Ada yang tegas memilih merpati, “Burung mudah dipelihara.”

Ada yang berpikir dahulu, “Mmm…aku rasa kuda atau macan. Entahlah karena apa.”

Sedikit yang menjawab, “Kambing.”

Waktu saya SMA, saya hampir selalu menanyakan hal yang sama kepada teman-teman saya. Baik laki-laki maupun perempuan. Tiap hewan yang dipilih akan menunjukkan satu hal yang paling dianggap penting dalam kehidupan si penjawab.

Untuk yang menjawab “kambing” memang hanya orang-orang tertentu. Nampak akurat sih dulu :p.

Try that for fun! ^_^.

***

Begitu usia sudah tidak muda lagi *uhuk uhuk*, I still love the love stories. Tapi lebih suka yang nyata. Bertanya langsung kepada teman-teman saya, “Eh, dulu lo ketemu suami lo gimana ceritanya?”

Pertanyaan ini bagi yang sudah menikah saja.

Ini sudah kebiasaan lama, kok hehehehe. Reaksinya macam-macam. Sebagian besar selalu malu dan risih pada awalnya. Tapi, tak lama, dengan penuh semangat, meluncur deh cerita selengkapnya.

Beberapa cuplikannya adalah sbb (tentu saja, nama disamarkan :P) :

Yang ini cerita si Wortel, “Ih, dulu gue kenalnya dia masih punya pacar, taukkk. Waktu putus, ampe nangis-nangis dia cerita ke gue.” Terus, kita ngakak berdua.

Saya penasaran, “Terus, terus?”

“La ya gak tau juga. Tahu-tahu kita jadi dekat terus gak lama kawin, deh.”

“Lu paksa kali.”

“Enak aja. Tahu enggak, pacarnya yang dulu itu pinter-pinter.”

“Nyesel dong dia.”

Muka Wortel malu-malu, “Katanya gue juga pinter. Pinter ngurus anak.”

Eaaaahhhhhhh…ngakak guling-guling.

Kalau Tomat lain lagi. “Ketemu pertama enggak sengaja. Janjian ama temen lain padahal di kantin gedung lantai 14.” (Masih ingat dong gue lantainya ahahahahahahha).

Pertemuan kedua pun tak ada yang istimewa. Ketiga, diajak makan siang bareng. Tomat dong buru-buru ke toilet rapiin rambut. Ealah, ternyata lunchnya berempat ihihihihihi.

Setelah beberapa kali jalan bareng, Tomat tidak tahan. Minta nomor HP duluan. Serasa nonton film ih dengar si Tomat berkisah. Kita, waktu itu ada beberapa teman lain sebagai pendengar, sampai tepuk tangan dengan noraknya.ย Hahaha.

Tomat bercerita hanya kenal dan sempat jalan-jalan sekitar beberapa bulan, tak dijanjikan komitmen apa-apa. Tapi tak lama tahu-tahu diajak bertemu keluarga besar si calon suami. Lengkap dengan insiden saltumnya :P.

Itu tuh contoh laki-laki jagoan. Enggak banyak omong, langsung tentuin tanggal! ;). Lucky you, Tomat :D.

Bayam tidak kalah serunya. “Waktu kuliah sih, rasanya biasa saja. Tapi kemana-mana aku diintilin melulu, Mbak.” Ihiiiyyyyy.

Kisah mereka tak terlalu mulus, sedikit ditentang oleh pihak-pihak tertentu. Namun, berakhir manis di pelaminan :).

Ada juga, Bawang Merah dan Cabe Rawit. Dua-duanya melalui jalur ta’aruf (spelling?).

Kata Bawang Merah, “Waktu mau menikah, kita nentuin kesepakatan bersama, gimana enaknya, gimana baiknya. Kayak bikin proposal aja.”

Tapi jodoh di tangan Tuhan, ya. Keduanya masih langgeng sampai sekarang. Insha Allah sampai seterusnya :).

Terong Ungu ketemu sang pangeran di bangku sekolah. Kenal dari kecil. Waktu SMA, malah Terong Ungu berada di posisi sebagai mak comblang. Eeehhh, malah jadian sama klien sendiri :P.

Terpisah jarak dalam kurun waktu yang tidak sebentar tapi akhirnya bersanding bersama di hari H :). Ada yang dalam sekejab mata, ada yang menjalani rentang waktu yang lama.

Kalau Sawi malah bilang, “Pertama kali mau dikenalin ke aku, dianya enggak mau!”

Sayangnya, ceritanya tidak kelar-kelar sampai sekarang. Tidak tahu nih lanjutannya apa sehingga akhirnya duduk berdampingan di hadapan bapak penghulu :D.

Yang dijodohkan orang tua juga ada. Sebut saja Daun Kemangi (ya ampuuunn, enggak ada sayuran lain, nih. Hihihihihi). Daun Kemangi konon sudah menjadi incaran calon ibu mertua waktu umurnya masih 10 tahun. Beneran kejadian akhirnya.

Saya pernah bertanya, “Nyesel gak sih dulu nerima lamarannya?”

Daun Kemangi tidak perlu waktu lama menjawab tegas, “Suamiku itu satu diantara seribu.” Nyesssssss :D.

Yang akhirnya mengikat janji dengan teman lama tidak sedikit juga. Buncis misalnya. Sudah jauh-jauh kuliah di kota lain, berjodohnya ternyata dengan teman SMP (apa SMA, ya?) di tanah kelahiran juga akhirnya :).

Ada pula kisah cinta ala “Ainun-Habibie”. Ini Brokoli punya cerita. Konon, kekasihnya kala itu adalah seorang calon dokter. Datang wakuncar dengan mengendarai sedan. Lalu, si calon suami datang di saat yang sama. Lupa euy, waktu itu datang pakai angkot atau motor. Yang jelas bukan becak kayak Habibie :D.

Entah kenapa, Brokoli malah mantap dengan yang datang tanpa mobil itu. Cerita indah mereka berlanjut di pelaminan dengan jumlah anak yang kini tidak sedikit. Tambah lagi, Mbak Brokoli! *dilemparPampers*

Kembang Kol mengaku ‘salah sasaran’. Maksudnya?

“Gue dulu naksirnya sama yang lain. Eh, kok malah dia yang geer dan gencar deketin. Ya sudahlah, malah keterusannya sama dia.”

“Yaaaa, nyesel dong…”

“Enggak banget. Kita memang banyak bedanya. Tapi gue akuin, dia yang paling cocok buat gue.” How lovely :). Bravo, Kembang Kol.

Tuhan punya caranya sendiri untuk mengirimkan pasangan yang tepat untuk kita. Bahkan memilihkan yang mungkin tidak terpikir sebelumnya. Jangankan kepikiran, masuk kriteria saja tidak.

ย 

sayur

***

Tidak perlu capek-capek menonton film romantis. Kerasa loh getaran yang sama kalau melihat wajah mereka (si para sayuran di atas :P) yang tanpa sadar merona merah. Matanya berbinar-binar biarpun sibuk cekikikan malu-malu.

Kalau melihat tanggalan hari ini, 14 februari, langsung ingat…coklat! Hehehehehe. Konon, hari ini adalah hari kasih sayang. Bahasa kerennya, Valentine Day.

Semua juga sepakatlah, kasih sayang itu seharusnya dirayakan tiap hari. Tapi saya senang-senang saja ada penanggalan khusus seperti ini.

Bukan karena pengin disayang-sayang, tapi karena sebagian besar rak-rak makanan di toko-toko akan memajang aneka rupa coklat. Penggila coklat langsung bersorak :D. Belum lagi tawaran potongan harganya.

Jadi, selamat hari Valentine buat para penjaja coklat. Selamat menikmati salah satu momen dimana keuntungan meningkat secara signifikan.

Selamat hari Valentine buat para penjual bunga :). Mungkin hari ini, omzet yang biasanya tidak seberapa, tiba-tiba melonjak tajam. Enjoy this day :).

And my dear friends, yang kisah-kisahnya saya ceritakan di atas, I love you too. Not only for today. Tapi karena hari ini saya melanggar janji untuk tidak mengisahkan cerita kalian ke publik, saya mohon kasih sayangnya untuk sudi memaafkan hihihihihi.

Kebahagiaan sudah selayaknya dibagi-bagi. “Happiness is only real when shared” ๐Ÿ™‚.

***

Jejak Urang Awak dalam Sejarah Bangsa

by : Jihan Davincka

***

sejarah kecil

Baru saja menuntaskan sebuah buku dari kumpulan jilid “Sejarah Kecil Perjuangan Bangsa.” Buku ini bukan khusus membahas suku Minang. Buku biografi beiberapa tokoh pelopor sejarah perjalanan bangsa ini ditulis oleh Rosihan Anwar. Kesan pertama setelah menuntaskan isinya, “Minang lagi, minang lagi!” Hehehehehe.

Memang, majalah Tempo pun pernah merilis buku biografi 4 Bapak Bangsa. Tidak tanggung-tanggung, 3 dari 4 (Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka) terlahir dari salah satu suku terbesar di pulau terbarat nusantara. Bukan cuma mempopulerkan rendang, suku minang melahirkan tidak sedikit tokoh-tokoh penting di masa lalu. Pola pikir mereka yang beragam dan ‘intelek’ membuat banyak ideologi yang teranut. Membentang dari sayap kiri, tengah, dan kanan.

Sayap kiri ada Tan Malaka. Seorang tokoh komunis nasional yang namanya sempat diendapkan oleh rezim orde baru. Anda mungkin berpikir Tan Malaka seorang atheis :). Beliau seorang penghapal alquran. Mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sosialis ekstrim kiri. Berbeda dengan sosialis komunis yang diterapkan oleh Lenin dan Stalin, yang sayangnya menjadi standardisasi dalam menilai pengusung paham komunis. Selain Tan Malaka, ada juga Rustam Effendi.

Sayap tengah ada Syahrir. Bapak Bangsa yang jasanya tidak sedikit namun berakhir tragis dalam isolasi politik hingga akhirnya meninggal dunia. Syahrir sosialis beraliran kiri namun tidak menyetujui sosialisme ala Uni Soviet. Menurutnya, sosialisme adalah mengakui persamaan derajat antar sesama manusia.

Tokoh populer di sayap kanan antaralain : Muhammad Natsir, Agus Salim, dan Buya Hamka. Ketiganya bukan nama asing, kan?

Urang awak juga menghiasi daftar pujangga besar dan pejuang kemanusiaan tanah air. Ada Motinggo Busye, A.A Navis, Muchtar Lubis, dan Lukman Harun. Saya baru tahu kalau Motinggo Busye, cerpenis favorit saya, ternyata orang Minang juga. Rata-rata mereka memiliki keahlian bermacam-macam nan mumpuni. Seorang versatile.

Disebutkan kalau orang Minang tidak berjodoh dengan pemerintahan. Hatta mundur ketika merasa garis politiknya sudah tidak sejalan dengan Sukarno. Syahrir mundur dari jabatan perdana menteri di tahun 1947. Tan Malaka terlempar dari organisasi yang diperjuangkannya dengan segenap jiwa. Buya Hamka juga akhirnya memutuskan hengkang dari pucuk kepemimpinan dari MUI.

A.A Navis mengeluhkan apa yang salah dengan orang Minang?

Sementara Sukarno dan Suharto mati-matian membentuk kekuasaan. Sekali tergenggam, mereka tak sudi melepaskannya.

Orang Minang mulai ‘tersisih’ ketika pemberontakan PRRI/Permesta bergejolak. Satu persatu tokoh-tokohnya mulai dilemahkan.

Sisa-sisa intelektualitasnya masih sangat terasa hingga kini. Sebagian besar teman saya yang lahir dan besar di sana, saat merantau pas kuliah atau sudah bekerja, kecerdasannya memang tidak main-main :).

Bahkan pernah kami naik taksi. Supirnya ternyata urang awak. Saat macet tidak terasa karena dia dan suami sibuk mengobrol soal politik tanah air. Cara bicaranya tidak seperti orang kebanyakan. Kok bisa jadi supir taksi, ya? hehehehe.

Saya ingin menghindari stereotip atau stigma semacam ini. Tapi ya, sejarah dan pengalaman sehari-hari mana sanggup saya bantah :). Tidak semuanya, lebih tepat (mungkin) sebagian besar.

***

Ngomong-ngomong soal agama, suami saya bilang orang Minang termasuk suku yang ‘ketat’ untuk urusan keyakinan. Bisa dibilang, suku ini 100% penganut muslim. Makanya tidak berlebihan jika film “Cinta Tapi Beda” karya Hanung menuai protes keras dari ‘petinggi-petinggi Minang’. Duh Mas Hanung, apa yang dicari? Jangan disama-samakan yang memang sudah berbeda :). Toleransi ada batasnya.

Saya penasaran sekali mengapa orang-orang Minang ini bisa ‘eksentrik’ begitu, ya. Padahal sebagian besar mereka mengalami gemblengan masa kecil ala pesantren konservatif. Memiliki pengetahuan agama Islam yang tidak ecek-ecek. Memang banyak dari mereka yang akhirnya berkiprah dan memiliki nama besar dalam pengetahuan agama. Tapi banyak juga yang akhirnya memilih berpihak pada sosialisme.

Sebenarnya bila ditilik lebih jauh, para sosialis ini muncul sebagai bentuk perlawanan kepada kaum kapitalis. Makanya kalau melihat sejarah perjuangan bangsa, selain kaum muslim yang memang sudah mendominasi kala itu, perlawanan habis-habisan pun datang dari kaum sosialis. Muslim memandang imperialisme sebagai ‘kristenisasi’ dan Sosialis yang memandang imperialisme sebagai kapitalis.

Sebagian paham sosialisme memimpikan perwujudan “Masyarakat Madani”. Karena paham ini kerap dihembus-hembuskan sebagai ekstrim kiri, konotasinya menjadi negatif 100%. Padahal ekstrim kiri ya karena ekstrim kanannya sudah menjadi pakem penganut kapitalis :D. Iya enggak, sih? *sotoy*.

Kalau ditinjau lebih jauh lagi, sebagian paham sosialis belum sepenuhnya ‘mati’. Sebagian besar Eropa Barat masih menerapkan aturan sosialisme kemanusiaan. Berbeda dengan Amerika Serikat yang kental dengan liberalismenya. Liberalisme? Jangan bingung. ‘Teman’nya kapitalisme juga, kok. Hehehe.

Liberalisme mengingatkan pada istilah liberal. Islam di era terkini di Indonesia mulai digerogoti sebuah kelompok kecil yang menamakan dirinya JIL (Jaringan Islam Liberal). Pemahaman mereka bisa dicek di website resminya. Yang saya bingung, mereka banyak menyerang pemahaman Islam ‘konservatif’ termasuk ‘meragukan’ isi alquran. Lha ya bikin agama baru aja, kenapa mesti dompleng nama Islam? :). Takut enggak dapat pengikut ni yeeeee :P.

Tapi apesnya, istilah ‘liberal’nya ini menjadi istilah yang tidak jarang digunakan secara ‘serampangan’. Misalnya pas Pilkada kemarin milih Jokowi, dituduh ‘liberal, lu!’. Suami saya nih yang kerap dituduh ‘liberal’ oleh teman-temannya. Ahahahahhaha.

Suami saya kebetulan urang awak juga. Saya mengagumi semangatnya belajar bahasa Arab. Alasan utamanya karena dia ingin lebih mengerti isi alquran. Memang, orangnya kurang suka dengan doktrin-doktrin yang menurutnya membuat orang menjadi ‘malas belajar’ dan mencari tahu sendiri:).

***

Semoga sepenggal cuplikan masa lalu urang awak di atas (exclude my husband! :P) bisa menyemangati kita sebagai intelektual muda kaum muslim *tsaaahhh* untuk tidak enggan menggali dan terus mengasah pengalaman. Jangan takut rasa penasaran akan menjerumuskan kita. Perbedaan akan me’liberalisasi’ kita ?Tidak, kok. Bukan label ustaz yang akan membawa kemuliaan bagi tiap manusia.

Takwanya, bukan ‘label’nya :).

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุฅูู†ูŽู‘ุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑู ูˆูŽุฃูู†ู’ุซูŽู‰ ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุดูุนููˆุจู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุจูŽุงุฆูู„ูŽ ู„ูุชูŽุนูŽุงุฑูŽูููˆุง ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ูŽูƒูู…ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุชู’ู‚ูŽุงูƒูู…ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ

โ€œHai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.โ€ (QS. Al Hujurat: 13)

Jangan berlindung di balik zona nyaman, “kata ustaz kan begitu”. Jangan mentok gitu, dong hehehehe. Tentu kita selalu butuh guru dan bimbingan. Manalagi kita dihantui ketakutan hati tiap insan mudah terombang-ambing dan resiko ‘tergelincir’ itu selalu ada. Maka, lafadzkan selalu :

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi โ€˜Ala Diinik’

Artinya: โ€œWahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.โ€

[HR.Tirmidzi]

Sekalipun rasa hormat pada kaum ulama harus selalu menjadi bagian dari akhlak utama seorang muslim, bersandarlah selalu pada Allah. Bukan pada orang, figur, dan lain-lainnya.

Hasbunallah wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar). Surah Ali `Imran (3).

Amin :).

***

Mengenang Gandhi

***

Hari ini, tahun 1948 silam, seorang tokoh dunia telah wafat karena terbunuh. Tokoh yang terkenal dengan kesederhanaan dan sikap anti kekerasannya. Dijuluki Mahatma (Jiwa Agung). Seorang yang terlahir dengan nama asli Mohandas Karamchand Gandhi.

Gandhi_smiling_R

Gandhi terbunuh oleh penganut Hindu fanatik yang menganggapnya terlalu baik kepada kaum muslim India.

Gandhi terkenal dengan 10ย ajarannya :

1. Change Yourself.

“You must be the change you want to see in the world.”

Berubah dulu untuk diri sendiri. Jangan berharap dunia/lingkungan berubah dengan sendirinya. Seperti kata Michael Jackson, “I’m starting with a man in the mirror.” :).

2. You are in Control.

“Nobody can hurt me without my permission.”

Kita adalah pengendali utama untuk diri kita sendiri.

3. Forgive and Let it Go.

“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong…. An eye for eye only ends up making the whole world blind.”

Tepat sekali. Memaafkan memang merupakan salah satu hal tersulit di dunia ini :(.

4. Without Action You aren’t Going Anywhere.

“An ounce of practice is worth more than tons of preaching”

Indeed, action speaks louder :).

5. Take care of this moment.

“I do not want to foresee the future. I am concerned with taking care of the present. God has given me no control over the moment following.”

Seize the day! ^_^

6. Everyone is Human.

“I claim to be a simple individual liable to err like any other fellow mortal. I own, however, that I have humility enough to confess my errors and to retrace my steps.”

“It is unwise to be too sure of one’s own wisdom. It is healthy to be reminded that the strongest might weaken and the wisest might”

Tidak ada yang sempurna. Tak ada gading yang tak retak.

7. Persist.

“First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.”

Jangan menyerah, pantang mundur.

8. See the Good in People and Help Them.

“I look only to the good qualities of men. Not being faultless myself, I won’t presume to probe into the faults of others”

“Man becomes great exactly in the degree in which he works for the welfare of his fellow-men”

“I suppose leadership at one time meant muscles; but today it means getting along with people”

Kasturba, wanita pendamping Mahatma yang setia itu, barangkali bingung mendengar ucapan Sang Mahatma. Maka, pada suatu hari ia bertanya: “Bila memang demikian, kenapa kau ingin mengusir Inggris dari India? Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan dengan mereka?”

Mahatma membisu selama beberapa detik, baru menjawab: “Karena negeri ini adalah negeri kita, dan sudah sepatutnya kita sendiri yang mengurusinya. Mereka tidak perlu mengurusi kita.”

“Nonviolence does not signify that man must not fight against the enemy, and by enemy is meant the evil which men do, not the human beings themselves.”

“Tanpa-Kekarasan tidak berarti kita tidak boleh melawan musuh. Hanya saja yang kita musuhi adalah kejahatan yang dilakukan oleh manusia, bukan manusianya.” Kita melawan tanpa senjata, tetapi dengan kekuatan logika, rasio, dan di atas segalanya cinta-kasih serta pemaafan.

9. Be Congruent, be Authentic, be Your True Self.

“Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.”

“Always aim at complete harmony of thought and word and deed. Always aim at purifying your thoughts and everything will be well.”

10. Continue to Grow and Evolve.

“Constant development is the law of life, and a man who always tries to maintain his dogmas in order to appear consistent drives himself into a false position.”

Keep on moving on, everyone!

***

Rest in peace, our Mahatma :).

My 2012

2012, again…life is at its best.

I had to admit that 2011 was one of the best years of my life. Apparently, 2012 is not less interesting.

As a mother, faced with two little man who are incredibly growing faster and faster, actually becomes an exceptional experience. Can’t thank God enough for this.

In personal life, a giant step has been taken. Let’s highlight the beginning of 2012 for “Bunda of Arabia.” The process has taught me about faith. The faith that took me farther. I wrote for some national media starting on June. 7 articles have been published during these last 7 months. Thanks, Femina – Republika – Kartini.

As a wife, a great moment has been reached when the husband finally said, “can’t believe you can cook now.” Mom is right as she always says, “It’s just about a matter of habit.” Proudly pronounce that cooking is no longer a specter for me.

As a friend, 2012 has brought me lots of new friends. Some turn into close friends. The coming soon drama was all about leaving them soon :'(. I’m not good in maintaining such this thing. But a promise has been made. Distance won’t beat us, ladies. Friendship lasts forever. I hope you all share the same feeling with me.

As a moslem, 2012 is truly unbelievable. I performed my first umrah at Ramadhan in August. Completed the ritual-hajj with my husband at the end of October. Fabiayyi’ ala irabbikuma tukadzibaan.

As a family, we are facing a big change. Super excited yet very sad. It’s hard to tell but yes, both my husband and I really love Jeddah. It took us a very long discussion to finally accept the offer. It’s surely not an easy one. But decision has been made. Wish us nothing but the best :).

Seems like my every wish and every dream somehow became reality in this year. Thank You, Allah.

Happy new year, everyone! Bring it on, 2013!

my angels jeddah

-Jeddah, 1st January 2013-

Artikel Tentang Ibu : The Strengths You Did Not Know That You Had

Salah satu artikel tentang ibu saya : Mundur sejenak ke 14 tahun lalu. Tahun 1998. Bulan Juli yang cerah, saya sedang berada di atas kapal laut bersama Mama. Hendak memulai takdir baru menjadi anak sekolahan di rantau :D.

Suatu siang di kamar kami :

“Wah, mau ke Jakarta juga? Ini anak sulungnya ya, Bu?” seorang Ibu yang juga menghuni kamar yang sama menyapa Mama saya.

“Oh, bukan, bukan. Ini anak gadis pertama. Tapi kakaknya ada 4. Laki-laki semua.”

Ibu yang bertanya nampak bengong sebentar. “Ke-5? Ya ampun, beda usianya setahun-setahun ya, Bu? Rapet jaraknya?”

Mama nyengir santai. “Tidaklah. Selisihnya rata-rata 3 tahun. Ada yang hampir 4 tahun. 2 tahunan juga ada. Ini masih ada adiknya lho 2 orang.”

Saya rasa setelah itu si Ibu yang bertanya sibuk menerka-nerka, Ibu di hadapannya, yang sedang sibuk mengukir alis sepanjang percakapan (hihihihihi), menikah umur berapa, ya? =)).

Indeed :). Ibu saya menikah di usia 15 tahun. Tak sempat menggenggam ijazah SMP, Nenek sudah keburu menerima lamaran seorang pemuda untuknya.

Sejak menikah, langsung dibawa ke kota Makassar (dulu Ujung Pandang) oleh Bapak yang tengah merintis usaha di sana. Jauh dari orang tua, Mama melahirkan anak pertamanya di usia 16.

Dan bertahun-tahun setelahnya lahirlah kakak saya yang ke-2, yang ternyata kembar namun tak bertahan hidup. Kakak ke-3, 4, dan 5. Jadi, sebelum saya Mama sudah melahirkan 5 kali. Dan setelah saya, melahirkan 2 kali lagi. Terakhir di usia 39 tahun. Semuanya normal spontan. Semuanya lahir di kota, tidak pernah pulang ke kampung ke tempat Nenek. Mari ngelap keringat bersama-sama hehehehe.

Istimewanya, kerabat perempuan yang seusia Mama tidak banyak yang menikah muda. Mama saya punya saudara kembar. Mereka pernah hamil hampir berbarengan. Tante hamil anak pertama, Mama hamil anak ke-6! Jadi, Mama sudah mulai mantu, tante-tante lain masih sibuk dengan ABG-ABGnya. Yyyiiiuuukkkk.

artikel tentang ibu
Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.

Itu belum ada apa-apanya. Semasa masih gadis, lupa kapan, saya pernah membaca berita tentang seorang penjual pecel di stasiun. Anaknya 13. Yang membuat saya melongo adalah isi beritanya. Disebutkan sehabis melahirkan anaknya yang ke-13 di malam hari sekitar pukul 10 malam, subuh harinya, 7 jam kemudian, si Ibu sudah absen kemabli di stasiun. Siap dengan pecel buatannya :'(.

Isu kedua cerita di atas merembet dari isu menikah muda, hingga memberi jarak kelahiran, isu-isu sosial, sampai isu how does she raise her children? Tapi pertanyaan besarnya : HOW DO THEY GET THE STRENGTH TO GO THROUGH IT?

***

Saya tidak suka anak-anak. Misalnya saja ketika adik bungsu saya lahir. Usianya berjarak 11 tahun dengan saya. Adik saya yang perempuan (disingkat jadi Buntel aja, ya) yang sayang banget. Saat Mama melahirkan, Buntel ikut jagain dan menginap di rumah sakit hingga Mama pulang ke rumah.

Kakak yang lain pun senang menggodanya. Saya? Huh, tak usah, ya. Dengerin dia nangis malam-malam, saya ikut gelisah. Menggerutu karena jam tidur malam terganggu. Suatu kali Mama harus keluar, tak ada orang lain di rumah, si bungsu nampak shock ditinggal berdua dengan saya. Nah lo, nah lo, ahahahahahaha.

Makanya sampai sekarang, saya tak pernah menjadi ‘magnet’ buat anak kecil mana pun. Yang paling friendly sekalipun. Tapi untuk anak sendiri? Ho ho ho.

Saya menyimpan kegelisahan ini sebelum hamil anak pertama. But everything is as easy as it says. Jangankan pas lahir, dari awal tahu ada dua garis di atas test pack, rasa cinta itu tumbuh subur tak terbendung.

Proses kelahiran anak ke-2 yang sempat menggalau. Belum genap dua bulan di Jeddah, saya positif hamil. Memang niat, kok ;). Maboknya jangan ditanya. Sejak hamil muda rasanya sudah ingin pulang ke tanah air, bermanja-manja pada Mama :P.

Apalagi ketika usia kandungan 6 bulan, dapat kabar positif baik Mama dan Mami, tak ada yang bisa didatangkan untuk menemani saya. Tidaaaakkkkk.

Sebagai istri, bukan cuma anak dan diri sendiri yang harus dipikirkan. Sebagai muslim, ketika berani menerima pinangan seorang pria, prdikat istri mengikat janji untuk setia pada suami. Saya pun dulu sulit menerima nasihat, “Kesetiaan istri nomor satu pada suami.” Seiring berjalannya waktu, saya mulai paham betapa indahnya Islam :).

Saya teringat perjuangan suami memboyong saya dan si sulung ke Jeddah. 11 bulan kami ‘dipermainkan’ oleh agen, diberi janji-janji surga akan diberikan iqama (resident permit).

Saya hepi-hepi di Jakarta, banyak saudara, bisa ngider kemana-mana, duit kurang? tinggal ngadu lewat sms (hihihihi). Sementara suami menanggung rindu pada kami :'(.

Masa iya, baru dua bulan bersama, saya hamil, saya harus memutuskan hengkang ke tanah air lagi? Harus berani, pikir saya. Ucapan suami membakar semangat, “Aku siap bantu apa pun.”

Begitu tekad sudah dipupuk, voilaaaa… kekuatan itu datang sendiri :). Tentu mentalnya naik turun, ya. Seperti hormon yang gak stabil. Tapi kenyataannya, sukses melahirkan anak ke-2 tanpa sanak keluarga sama sekali. Hanya meminta tambahan tenaga dari asisten rumah tangga 3x seminggu, 4 jam sehari.

Betapa malunya segitu saja sudah merasa hebat. Bagaimana dengan penjual pecel beranak 13 dan Ibunda sendiri yang melahirkan hingga 8 kali? *plakkk*. Masih harus banyak belajar :'(.

 

***

Tanpa kita sadari, banyak diantara kita yang bertransformasi setelah menjadi Ibu. Yoi dong, “We are the real TRANSFORMERS” :p.

Ibu saya di masa gadisnya, boro-boro deh bisa masak. Konon beliau yang dikawinkan karena malas membantu Nenek menumbuk padi di lumbung. Suka licik. Maunya main sepeda terus. Disuruh memasak, malah kabur berenang ke sungai. Ahahhahaha. Keberanian yang tidak diwariskan pada saya yang sampai sekarang tak bisa berenang dan belum fasih bersepeda roda 2 :P.

Siapa sangka ABG tomboy itu dianugerahi 7 orang anak and she’s just fine ;). Love you, Mama.

Lulus SMP saja tidak, ngotot kalau anak-anaknya harus sarjana juga tidak pernah, tuh. Kepergian Bapak secara mendadak lebih dari 20 tahun yang lalu menciptakan badai ekonomi yang hebat. Tapi rezeki datangnya dari Allah, orang tua cuma perantara :).

5 dari kami menggenggam ijazah dari perguruan tinggi negeri. 1 orang memutuskan sendiri untuk berhenti di bangku SMA. Dan si bungsu sudah di tahun terakhirnya di bangku kuliah.

Selamat hari Ibu untuk Mamaku yang keren ;). Untuk Ibu Mertua, biarpun hubungan tak semulus jalan tol, rasa iri tak pernah luntur. Terima kasih ya Mami, sudah membesarkan anak-anak yang hebat untuk para menantumu ini hehehe. Semoga waktu kelak menghapus segala kesalahpahaman yang pernah, sedang, dan akan datang.

Untuk para sahabat yang masih berjuang meretas jalan merebut status Ibu. Allah Mahabesar. Iringi selalu perjuangan dengan munajat padaNya, ya :).

Untuk teman-teman yang jauh dari tanah air, yang kerap bermimpi membawa segala kerempongan kita balik ke pangkuan Ibunda tercinta, we know we can do it, rite? Tossss. Sharing lah di Mamasejagat *eaaaahhhh*.

As long as we believe, we can make it through…everything! Insya Allah.

โ€œBeing a mother is learning about strengths you didnโ€™t know you had, and dealing with fears you didnโ€™t know existed.โ€ ~Linda Wooten

Yes, it surely is :). Selamat hari Ibu.

***