To Read Between The Lines

Ingat Robot Gedek, gak?

Pertama kali baca berita tentang kejahatan orang satu ini duh rasanya pengin cakar-cakar tembok. Kalau ketemu, pengin saya ludahi mukanya.

Robot Gedek terdakwa hukuman mati karena terbuktii sudah membunuh anak-anak laki usia, rata-rata di bawah 12 tahun. Tak hanya dibunuh dengan sadis, Robot Gedek juga terlebih dahulu menyodomi anak-anak malang ini. Hiks .

Tak lama setelah kasus RG, tertangkap lagi satu orang dengan modus pembunuhan mirip. Sodomi-bunuh-mutilasi. Nama hitsnya di media adalah ‘Babe’. Tertangkapnya si Babe ini membuka sejarah kelam masa kecil si Robot Gedek. read more

We Can Go The Distance

Visa kerja ternyata hanya janji palsu si agen. Perpanjangan visa suami saya mengalami masalah. Suami sudah overstay! Belum lagi ancaman hukuman. Iyalah, kerja berbulan-bulan pakai visa turis *pingsan*. Seru lah ini pengalaman kerja luar negeri pertama kali :D.

Saya dan anak saya sendiri menyusul ke Iran dengan visa turis. Yang bisa diperpanjang sebanyak 3x.

Tak hanya mempermainkan kami soal visa. Apartemen pun akan direlokasi. Tadinya kami bisa tinggal gratis, agen meminta kami membayar setengah biaya sewa apartemen. Uang lembur tiba-tiba dihapus. Hanya dibayar sebulan. Alasannya, gaji suami sudah kegedean kalau harus pakai lembur segala.
read more

Be a Lamp, or Lifeboard, or a Ladder

Florence Nightingale, “The Lady with The Lamp”, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di dunia medis. Florence, salah satu tokoh peletak dasar dalam ilmu keperawatan modern .

Florence lahir dari keluarga sangat berada. Di masa itu, Eropa nyaris tidak mengenal kalangan menengah. Seringnya ya 2 golongan saja. Kalau enggak tajir mampus, berarti super miskin.

Florence dibesarkan dalam rumah besar, memiliki pelayan-pelayan, sering menghadiri pesta-pesta dansa ala bangsawan, keliling eropa pun pernah dijalaninya bersama keluarga besarnya. Lengkap dengan pelayan-pelayan yang setia mengiringi perjalanan mereka dalam sebuah karavan yang sangat besar. read more

Pemahaman vs Pengalaman?

Dari artikel di link paling bawah, saya kutip sedikit :

“Seorang yang pernah mengalamii hidup sebagai minoritas, akan memiliki sense toleransi yang jauh lebih tinggi dari pada orang yang selalu hidup sebagai mayoritas.

Seorang siswa yang punya teman dari berbagai suku, bangsa dan agama, akan lebih faham tentang makna menghargai. Pengalaman mengantarkan pada pemahaman yang lebih dalam.”

Benar juga. Jadi malu karena dulu dari TK sampai SD sekolah di sekolah Islam, begitu masuk SMP Negeri, kaget melihat teman-teman ada yang beragama non muslim. Ya abes, dulu tahunya di dunia ini hanya ada 2 : orang muslim dan orang kafir, surga vs neraka. Kalau melihat teman-teman kristiani berlatih menyanyi, saya sering kepikiran, “Ya ampyun, pada ngapain, sih? Enggak tahu apa kalau mereka nantinya bakal masuk neraka semua!” Astagfirullah . read more

If Tomorrow Never Comes

“Sembarangan. Gue enggak pernah ya ngomong kayak gitu. Ibu-ibu Perkakas Dapur yang lain juga enggak pernah nuduh-nuduh gitu.” Suara saya meninggi saking sebalnya mendengar tudingan Dandang barusan.

“Lah, gue juga enggak pernah ngelakuin yang lo ceritain barusan. Kalian tuh yang suka fitnah gue.”

“Mana buktinya?”

“Ya pokoknya gue taulah. Kalian ini hobinya ngomong di belakang. Ketemu gue aja pada enggak mau bisanya cuma jelek-jelekin gue.”

Saya makin naik pitam, “Duh, enggak salah, tuh. Kita enggak ke sini ya karena katanya Mbak Dandang udah enggak mau ngomong sama kita lagi.” read more