Sejarah Israel : Only Light That Can Drive Out The Darkness

Sejarah Israel : Nabi Musa AS ditugaskan Tuhan untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada Firaun dan bangsa Mesir. Nabi Musa juga meminta agar Firaun melepaskan Bani Israil dari belenggu perbudakan oleh Bangsa Mesir.

Firaun menolak. Perlawanan pun terjadi. Akhirnya Bani Israil berhasil ‘diselamatkan’. Lalu, alquran meneruskan uraian kisah beratnya perjuangan Nabi Musa meyakinkan Bani Israil untuk terus bertakwa pada Tuhan. 

Sejarah Israel
Kisah Musa vs Firaun di Laut Merah (gambar : laskarislam.com)

 

Setiap kali kisruh Israel vs Palestina merebak, kebencian tanpa arah selalu ikut mendampinginya. Masa sampai ada yang mendadak memuji-muji Hitler dan berharap saat itu Hitler menghabisi seluruh kaum Yahudi saat fasisme NAZI tengah berjaya di bawah kepemimpinannya. Konflik Palestina bisa nyasar sampai ke NAZI :D.

Sebenarnya NAZI tak hanya berusaha menyingkirkan orang-orang Yahudi. Tapi juga kaum-kaum lainnya yang dianggap bukan ras unggulan. Hitler kan narsis abis ya, Bo hehehe. Untuknya, bangsa Jerman adalah suku bangsa paling keren sejagad dan menolak percampuran antar berbagai ras. Selain mengucilkan kaum Yahudi, ada juga kaum Gipsi yang diperlakukan dengan sama kejamnya.

Jadi, benar-benar gagal paham jika paham fasis seperti ini bisa mendapat puji-pujian sekecil apa pun. Perbedaan diantara umat manusia adalah jaminan dan ketentuan dari Allah. Bodoh sekali jika sampai ada manusia yang berusaha menyeragamkan apa-apa yang sengaja dibuat berbeda. Mau mengalahkan aturan Tuhan, nih?

Perbedaan memang sengaja diciptakan sebagai ujian. Apakah kita akan narsis dan merasa penting sendiri ATAU akan seoptimal mungkin menghargai perbedaan dan berusaha menarik hikmah sebanyak-banyaknya? Choose wisely 🙂.

Karena nyatanya diskriminasi antar kaum itu adalah cerita lama yang selalu berulang dan berulang. Macam lingkaran setan. Menimpa berbagai macam kaum, misalnya kaum Yahudi.

Isolasi terhadap kaum Yahudi itu bukan cerita baru. Dalam rentang waktu ratusan tahun di abad pertengahan Eropa, kaum Yahudi sudah mendapat tekanan besar. Kemungkinan setelah kaum Nasrani menguasai Eropa, sebuah kebencian mulai tertanam mengenai siapa dalang pembunuhan Yesus, Tuhan bagi kaum Nasrani. Kaum Yahudi tertuduh utama.

Di masa itu, Yahudi dikucilkan sedemikian rupa. Mereka terus didesak, dibatasi gerak langkahnya. Sejak dulu, perkampungan khusus Yahudi sudah mulai dipraktikkan. Di zaman Nazi, hal inilah yang diistilahkan dengan Ghetto.

Sejarah Israel
Warsawa Ghetto during Nazi-Rule in Poland (gambar : ivarfjeld.com)

 

Mendapat perlakuan sedemikian rupa memaksa kaum Yahudi berusaha survive dengan macam-macam cara. Saat kitab-kitab mereka dicuri dan dibakar, kaum Yahudi memaksa generasi mudanya untuk menghafalkan isi Taurat di luar kepala.

Kaum Yahudi berusaha berasimiliasi di mana pun mereka berada dan aktif mencari celah untuk mengasah kemampuan bertahan dalam berbagai tekanan. Itu dilakukan dari dulu secara turun temurun 🙂. What doesn’t kill them makes them stronger.

Berbagai hal-hal baru dari lingkungan mereka serap dan tidak pernah menutup diri dari lingkungan. Begitu satu-satunya cara untuk menghadapi kerasnya dunia saat itu terhadap mereka. Termasuk dalam urusan mencari uang hihihi. Kan ada juga stereotip kalau kaum Yahudi itu sangat hemat alias pelit. Karena dulu mereka memang sangat dikekang dalam urusan ekonomi. Uniknya, kekangan tidak membuat mereka menyerah. Pelajaran dari para Yahudi, “Keterbatasan seharusnya membuat kita menjadi kreatif” 😀.

Dari generasi ke generasi, kaum Yahudi mengajarkan kaumnya untuk mengoptimalkan fungsi otak daripada otot. Mereka sadar dengan jumlah mereka yang tidak akan mungkin bisa menyamai penduduk dunia. Kita cukup jarang menemukan atlet yang berasal dari bangsa Yahudi. Tapi kalau urusan inovasi, ilmu pengetahuan dan ekonomi, bangsa Yahudi terkenal sangat lihai.

Lebih dari 30% penerima hadiah Nobel adalah orang-orang Yahudi. Bandingkan dengan populasi mereka di seluruh dunia. Fantastis bukan? Tirani minoritas yang luar biasa . Industri-industri kreatif internasional tak terlepas dari sentuhan pemikiran kaum Yahudi. Sudah berlangsung turun temurun. Rahasia umum jika kaum Yahudi sudah terbiasa memaksimalkan potensi penerusnya sejak dalam kandungan 🙂.

Ratusan tahun sejak Kerajaan Yahudi terakhir berdiri (zaman Nabi Daud dan Sulaiman), orang-orang Yahudi hidup terpencar di berbagai belahan dunia.

Sejak akhir abad ke-19, beberapa kaum Yahudi sudah mulai ‘lelah’ dengan ketidakadilan yang sering menimpa mereka. Tercetuslah ajaran zionisme. Zionisme adalah keinginan dari sebagian mereka, bukan semuanya! Mayoritas kaum zionis malah ditengarai sebagai Yahudi sekuler.

Para zionis ini mengajak para diaspora di seluruh penjuru bumi untuk membentuk tanah air khusus untuk kaum Yahudi. Mereka percaya pada sejarah bahwa tanah Israel adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka dan berhak mereka rebut. Beginilah asal mula konflik Palestina.

Gerakan ini seolah berjodoh dengan runtuhnya kekaisaran Ottoman dan wilayah Kerajaan Turki mulai terpecah. Termasuk wilayah Palestina yang berada di bawah ‘kendali’ Kerajaan Inggris.

Kala itu, Kerajaan Inggris berusaha ‘menengahi’ berbagai bentuk ‘permusuhan abadi’ antara Yahudi dan non Yahudi di Eropa. Belum lagi Perang Dunia 1 dan 2 di awal abad ke-20 yang benar-benar membuat Eropa super galau. Tahun 1948, Kerajaan Inggris ‘menghadiahkan’ wilayah Palestina kepada kaum Yahudi.

Saat itu, kaum Yahudi diharapkan untuk berasimilasi dengan penduduk setempat yang didominasi oleh bangsa Arab. Sebelum tahun 1948, perpindahan kaum Yahudi ke wilayah Palestina sudah mulai terjadi. Awalnya berlangsung damai dan mereka memang berbaur dengan penduduk asli sana.

Hingga akhirnya kaum Yahudi membesar dan sifat serakah mulai menghampiri. Mungkin juga terbawa dendam masa lampau, ratusan tahun harus berjuang mati-matian menghadapi penolakan masyarakat non Yahudi terhadap mereka, para zionis seolah mendapat restu untuk menguasai Palestina pasca “1948”.

Mereka mulai belagu. Seenaknya menduduki Palestina, menolak asimilasi dan malah mengusir penduduk Palestina yang ‘asli’. Konflik Palestina dan Israel tak terelakkan.

Sejarah Israel
1948 Palestinian Exodus (Gambar : en.wikipedia.org)

Dukungan dari Negara Adidaya Amerika Serikat bukan tanpa sebab. Saat Amerika masih menjadi benua baru di mata Eropa di abad ke 15 hingga 17, Amerika dijadikan ‘tempat pembuangan’ bagi kaum-kaum terkucilkan di Eropa, termasuk orang-orang Yahudi.

Terbiasa bertahan dalam ‘keras’nya hidup, orang-orang Yahudi mampu ‘menaklukkan’ sang benua baru.

Liga Arab pernah beberapa kali memerangi pendudukan Israel terhadap Palestina. Yang memerangi Israel saat itu justru pemimpin-pemimpin nasionalis Arab. Seperti Ghamal Abdul Nasser, Presiden Mesir, yang memimpin Pan-Arab untuk menghalau Israel yang terus berusaha mencaplok wilayah-wilayah di sekitar kependudukan awal mereka. Sayangnya tak berhasil.

Perang di tahun 1967 malah berakhir dengan jatuhnya Tepi Barat, jalur Gaza, Semenanjung Sinai dan dataran Tinggi Golan ke tangan Israel pasca gencatan senjata.

Israel mulai ‘balas dendam’. Di bawah kepemimpinan Yordania dahulu, kaum Yahudi dilarang memasuki kota suci Yerussalem. Saat wilayah dikuasai Israel, peraturan dibalik. Kaum muslim yang dibatasi kunjungannya ke Yerussalem.

Perang 6 hari di bawah kepemimpinan Nasser (Mesir) saat itu juga mencuatkan skandal serangan terhadap kapal intelijen Amerika Serikat, USS Liberty. Israel yang menyerang kapal ini dan meminta maaf kepada Amerika Serikat karena salah identifikasi.

Beredar rumor kuat kalau Amerika Serikat ditekan habis-habisan oleh Israel untuk menerima klaim ini dengan ‘lapang dada’. Saat itu rencana sebenarnya adalah Israel bermaksud menenggelamkan kapal tersebut dan menuduh Mesir sebagai pelakunya dan menggiring Amerika Serikat untuk menyerang Mesir secara terbuka.

Gamal Abdel Nasser (gambar : en.wikipedia.org)

 

Rencana gagal total. USS Liberty terlalu kuat untuk dihancurkan. Awak kapal juga keburu mengenali siapa penyerang mereka. Awak kapal yang selamat dibungkam oleh pemerintahan Lyndon Johnson yang mendapat ‘tekanan’ dari Mossad terkait pembunuhan Kennedy dan masalah cadangan minyak. ‘Kongkalikong’ ini konon terbongkar saat beredar rekaman percakapan sang Presiden yang tengah diancam oleh Israel untuk tidak membantu USS Liberty saat dihajar habis-habisan oleh pasukan Israel. Ini baru teori konspirasi ‘berkelas’ hehehe .

Dulunya Israel memang dianggap ancaman bagi Liga Arab. Hingga akhirnya PLO dibentuk dan seolah hal ini menjadi urusan Palestina seorang diri . Dunia politik dan berbagai kepentingan terus bergolak. Pesona cadangan minyak dunia terus menyedot perhatian negara-negara ‘besar’ kepada wilayah Timur Tengah.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga sangat pandai bermain di 2 kaki. Sudah rahasia umum, ya, negeri-negeri tajir Timur Tengah ‘berlindung’ di balik ‘hubungan intim’ dengan si Negeri Adidaya. Padahal tahu pasti jika Israel bisa sedemikian leluasa terhadap Palestina itu tak lepas dari dukungan kuat Negeri Paman Sam.

Ujung-ujungnya Liga Arab hanya bisa memborbardir Palestina dengan roti-roti, selimut, kucuran dana untuk membangun perkampungan atau renovasi dsb. Pokoknya sebatas materi saja. Walau semua tahu, tindakan politik tegas kepada Israel-lah yang sebenarnya diperlukan untuk mengakhiri mimpi buruk rakyat Palestina .

***

Saya kurang paham mengapa kisah Musa dijadikan salah satu ‘tameng’ bagi sebagian mayoritas muslim terkini untuk membenci kaum Israil (bangsa Yahudi) secara permanen hehehe. Padahal kisah Nabi Musa juga menguraikan panjang lebar soal penolakan Firaun (dan sebagian bangsa Mesir) kepada ajaran tauhid.

Bagaimana jika tingkah laku (sebagian) Bani Israil pada saat itu dilakukan oleh orang-orang yang bukan Yahudi? Masalah yang ingin ditekankan dalam alquran itu adalah Yahudi-nya atau perbuatannya?

Apakah perilaku buruk yang dikisahkan dalam kitab suci tersebut mengajak kita untuk membenci (seluruh/siapa pun) kaum Yahudi hingga akhir zaman? Atau mengajak kita menghindari tingkah laku orang-orang di masa lampau (terlepas dari suku bangsa apa mereka) yang tidak disukai Allah? 

Sebelum kisah para Bani Israil, ada Firaun (yang berasal dari bangsa Mesir) yang menyombongkan diri terhadap seruan Nabi Musa dan menolak untuk melepaskan perbudakan atas Bani Israil. Apa yang diceritakan alquran adalah kejadian di masa itu. Tak ada petunjuk bahwa kaum yahudi saat itu terkutuk 100% dan akan berlangsung sampai selama-lamanya.

Islam mengajarkan kita bahwa semua bayi terlahir tak berdosa. Penentuan apakah kita akan terlahir sebagai Yahudi atau sebagai orang bugis yang manis, imut nan menggemaskan juga bukan keputusan kita kan? . Mutlak hak Tuhan.

Apakah kita berhak menuduh Tuhan sudah mengkotak-kotakkan kita sejak lahir sebagai kaum terkutuk atau tidak? Bukan keturunan bukan asal suku bangsa … tapi ketakwaan, amal, dan perbuatan setelah akil baligh yang akan menjadi pembeda bagi tiap insan manusia .

Ingat, bukan warna kulit, bukan suku bangsa …

Jadi, sebenarnya kurang tepat jika masalah Israel-Palestina ini dikait-kaitkan dengan isu akidah. Saya menolak jika ada yang bilang “Ini bukan masalah agama tapi masalah kemanusiaan.”

Ajaran Islam yang saya tahu berakar pada 2 hal, akidah dan muamalah (kemanusiaan). Saya keberatan jika masalah kemanusiaan dilepaskan dari kaidah agama. Karena saya percaya 100%, tak ada masalah kemanusiaan yang luput dari penerangan kitab suci alquran 😉.

Gambar : elhooda.net

 

Mayoritas para zionis di masa awal suburnya Zionisme adalah kaum Yahudi sekuler. Masyarakat Arab yang memerangi mereka sepanjang tahun 1948 – 1970 an juga mayoritas kaum nasionalis Arab. Mengapa sekarang jadi pada sensi urusan akidah coba? Sebagian teman-teman Nasrani saya di timeline juga mengeluhkan mengapa masalah penyerangan terhadap jalur Gaza juga membawa-bawa kaum Nasrani.

Jadi, dalam menyikapi masalah Israel vs Palestina utamakan solusi bukan hujatan bernada kebencian tanpa arah, ya. Karena di berita-berita sudah mulai ramai penyerangan terhadap kaum Yahudi yang tinggal di luar wilayah Israel. Tak semua kaum Yahudi sepaham dengan ideologi Zionisme.

“Hate, it has caused a lot of problems in the world, but has not solved one yet.” ―
Maya Angelou.

Kapan habisnya dong kalau kayak begitu? 🙁. Putuskan lingkaran setannya.

Kita sudah tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak melawan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum apa pun. Ingat hukum Qisas yang datang untuk menegakkan keadilan kala saat itu kejahatan perorangan tiap suku dianggap sah untuk dibebankan kepada seluruh suku asal pelaku di masa Arab jahiliyah. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bete sama si A jangan diteruskan kepada orang tua si A, sahabat-sahabat si A, kerabat-kerabat si A, anak cucu si A, dst. Don’t! .

Benci sama kaum Yahudi hanya membuat kita luput untuk mengambil pelajaran kepada daya tahan mereka menghadapi kehidupan dunia. Kreatifitas dan kepatuhan mereka kepada ajaran Taurat dan usaha keras mereka menjalankan ajaran-ajaran Taurat dalam kehidupan sehari-hari.

Walau dalam urusan akidah, sebagian kaum Yahudi juga kayaknya sudah mulai tidak ambil pusing . Mereka hanya mengambil ayat-ayat yang menguntungkan mereka secara duniawi saja. Padahal, percaya pada hari akhir itulah yang paling utama 🙂.

Bila tak tahu harus membantu apa, bukankah selemah-lemah iman adalah doa? Jangan malah menambah masalah dengan ajakan-ajakan kebencian yang tidak perlu.

Embargo ekonomi terhadap Israel dan tekanan dunia yang diperlukan oleh Palestina sekarang ini. Hal yang sangat mungkin dilakukan oleh negeri-negeri tetangganya. Minimal usirlah itu dubes Israel di berbagai negara Arab. Kalau tak salah, Mesir-Turki-Qatar dll menjalin hubungan bilateral dengan Israel dengan hadirnya kedutaan Israel di negara masing-masing. Kita doakan negara-negara Arab di sana bisa bersatu kembali mengusir Israel.

 

Atas nama muamalah sebagai umat muslim yang taat, maka mari kita …

Putuskan lingkaran setannya 🙂.

“Darkness cannot drive out darkness: only light can do that. Hate cannot drive out hate: only love can do that.”
― Martin Luther King Jr

Sejarah Israel
Light up the dark 🙂 (gambar : freeimages.com)

 

Sumber :

“Jerome Becomes a Genius.” (Eran Katz)
“Perang Suci.” (Karen Armstrong)
“Perang Eropa 1.” (PK Ojong)

(dan banyak buku seputar perang Dunia 1 dan 2).

***

Tentang Jokowi : A History in The Making

Pemilihan Presiden Amerika Serikat di tahun 1864 adalah pertaruhan luar biasa bagi Abraham Lincoln dan cita-cita besarnya untuk menghapuskan perbudakan di seantero federasi. Perang sipil telah lebih dahulu pecah antara “Utara” yang pro amandemen dan “Selatan” yang pro perbudakan.

Ditengarai, lawan Lincoln akan ‘setengah hati’ memperjuangkan amandemen ini. Kandidat lawan di kubu sebelah sudah diprediksi akan memilih “berdamai” dengan Konfederasi di “selatan”. Mungkin … akan sia-sia saja selama ini perjuangan untuk melepaskan Amerika Serikat dari belenggu perbudakan.

Pemilihan 1864 berlangsung di tengah-tengah perseteruan sengit Perang Sipil antara The Union (“utara”) vs Konfederasi (“selatan”).

Abraham Lincoln akhirnya berhasil terpilih kembali dan terus memperjuangkan amandemen dan menuntaskan Perang Sipil dengan “selatan” di musim semi tahun 1865.

Harga yang harus dibayar Lincoln untuk perjuangannya memusnahkan perbudakan sangat mahal … nyawanya sendiri. Lincoln tewas terbunuh beberapa hari setelah Konfederasi menyerah dan mengakhiri 4 tahun Perang Sipil yang berlangsung sejak tahun 1861 silam.

Lincoln ditembak dari jarak dekat oleh seorang ekstrimis pro perbudakan saat tengah menonton pertunjukan dalam teater :'(.

Gambar : en.wikipedia.com
Gambar : en.wikipedia.com


Konon, di pemilihan 1864 tersebut, keunggulan Lincoln sebanyak ratusan ribu suara dari pihak lawan didapatkan dari dukungan kuat militer dan pasukan “The Union” yang sengaja ditarik untuk melakukan vote dan memenangkan Lincoln. Seluruh pasukan diminta pulang dari perbatasan dan nyoblos di daerah asal masing-masing 😀.

Jangan salah, alquran turun di tengah-tengah perbudakan yang masih merajalela. Alquran tidak melarang perbudakan kala itu tapi menjanjikan “imbalan besar” bagi mereka yang membebaskan hamba sahaya .

Tuhan ingin kita belajar, Tuhan tidak ingin pendidikan moral secara instan. Tuhan ingin umat manusia melewati proses ini. Lalu menyadari dengan sendirinya bahwa persamaan hak dalam kemanusiaan antara sesama tanpa memandang warna kulit dan suku bangsa adalah naluri yang tak bisa ditolak . Betapa Tuhan yang Mahatahu dan Mahabijaksana 🙂.

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” [QS. Al-Balad :12-16]

Siapa yang tahu, apa yang terjadi jika Lincoln gagal mempertahankan posisinya sebagai presiden terpilih di Amerika Serikat di tahun 1864? Akankah sejarah penghapusan perbudakan dari Negeri Jantung Dunia tersebut akan benar-benar tercipta?

Setelah sekian lama dunia berputar dalam ketidakadilan, Lincoln berani mengambil keputusan besar untuk memimpin PERUBAHAN! Perubahan yang tidak kecil dan tak akan bisa dijalankan tanpa dukungan suara untuk kembali memenangkan tahta sebagai orang nomor 1 di Negeri Paman Sam waktu itu.

Apakah takdir akan tetap menuliskan kisah yang sama jika perolehan suara Lincoln jeblok di Pemilu 1864 tersebut?

Sejarah kembali mengajarkan hal yang penting. Seringkali untuk perubahan besar, kita harus melewati jalan yang tidak mudah.

Siap berubah untuk Indonesia? Nyoblos yok nyoblos jangan ribut di media sosial saja  :D.

Your support doesn’t count, your vote does.

Salam 2 jari, jangan lupa pilih Jokowi 

#Jokowi9Juli

your vote does

Menghadapi Kampanye Hitam, Keep Calm Stay Positive

Luar biasa memang kampanye hitamnya ya *sampaiMerinding* . Sampai-sampai daerah se’kaliber’ Sumatera Barat yang bisa dibilang propinsi perpaduan antara kaum religius muslim dan “kaum intelektual modern” (saking dijunjung tingginya pendidikan di daerah ini sejak dulu kala) juga menjadi ‘korban’ 🙁.

Gambar : tempo.co
Gambar : tempo.co

Bapak ibu mertua saya asli Minangkabau. Tepatnya, dari Bukittinggi. Lucu juga, saya yang sering sekali disangka orang Minang akhirnya benar-benar menjadi bagian dari keluarga Minang beneran hihihi. Tampang saya sumatera banget apa, ya? . Selain suka ‘dituduh’ orang Minang, tebakan kedua biasanya orang Aceh hahahaha.

Sini asli Bugis 100%, lhoooooo . No other ingredients . Almarhum bapak asli Bugis dari daerah Sidrap, lupa saya nama kampungnya. Ibu saya campuran Bugis (Rappang) dan Enrekang. Enrekang ini lain lagi etnisnya. Budaya dan bahasanya berbeda dengan Bugis.

Enrekang merapat ke wilayah Tana Toraja. Bedanya, Tator didominasi penganut agama Protestan, sementara Enrekang mayoritas muslim . Alhamdulillah, tak pernah mendengar konflik berarti antara kedua wilayah ini 😉.

Bahasa Tator dan Enrekang mirip-mirip, sih. Tapi jangan tanya saya soal bahasa Enrekang. Saya cuma tahu 2 kalimat, “Torro-torroko na kanreko batitong” atau “Pira ta ratu?” Hahahaha. Kalau bugis mah, saya levelnya super advanced *benerinSarung* . Makkada memengngi tau ogi’e 😀.

Suami saya, yang (kata sebagian orang) berwajah perpaduan antara Latin, Eropa Mediterania dan Timur Tengah #eaaaaaa, memang asli urang awak . Sumpah bukan gue yang bilang hahahahaha. Satu yang pasti, suami eike memang ganteng maksimal. Gombal kauuuuuuuuu   –> istri salehah *sambilMelirikKartuATMSuamiDalamDompet* 😛

Makanya, dengan postur tubuh tinggi menjulang, dia kalau ke mana-mana jarang kena isu rasis macam istrinya yang bertampang dan berperawakan Asia kualitas super hahaha.

Jadi ingat pengalaman suami, waktu mau training ke Kanada tahun 2004 silam, petugas imigrasi di Bandara Soetta-nya sopaaaaan banget menyapa suami seperti kayak nyapa orang bule hihihi. Tahu sendiri kan mental orang-orang kita, kalau lihat orang ‘luar’ suka lebay. Si petugas menyapa dengan bahasa Inggris dengan senyum ramah tingkat tinggi. Pas suami ngeluarin paspor, si petugasnya langsung berwajah asem. Hahahhahahaha, ketipu ni yeeeee 😛.

Dari cerita-cerita ibu mertua, memang terlihat sekali ya betapa suku Minang sudah sadar pendidikan sejak dulu. Kakek suami (bapak dari ibu mertua) itu penilik sekolah kalau enggak salah. Doyaaaaaan banget membaca. Ibu mertua bilang, waktu kecil dulu, sampai tetangga terkaget-kaget kalau melihat kiriman buku segambreng ke rumah.

Didukung juga oleh bukti-bukti sejarah yang mempersembahkan tidak sedikit intelektual Minang dalam sejarah pergerakan bangsa sejak dahulu. 4 Bapak Bangsa yang pernah disebut-sebut dalam Majalah Tempo, 3 diantaranya adalah urang awak : Moh. Hatta, Sutan Syahrir dan Tan Malaka . Satunya lagi siapa hayooooo 😛.

Urang awak tak hanya berkibar di dunia politik. Kebudayaan nusantara juga dicekoki oleh seniman-seniman asal Ranah Minang. Sebut saja salah satu penulis fiksi favorit saya, Motinggo Busye. Jadul amat yak hahaha.

Istimewanya, intelektualitas kaum Minang didukung pula oleh pengetahuan agama yang juga diajarkan sejak kecil. Tak heran, saya merasa sangat ‘sejuk’ setiap kali membaca hasil-hasil pemikiran tokoh-tokoh Minang yang rasanya Islami sekali buat saya . Saya pribadi menganggap kalau Bung Hatta adalah penjelmaan ‘terindah’ dari konsep kecerdasan ilmu + spiritual yang tinggi 🙂.

Sudah pernah saya tuliskan biografinya di blog. Jadi ingat punya utang biografi Sutan Syahrir dan Tan Malaka hihihi. Nafsu menulis doang nih yang gede, kemampuan belum setara hahaha.

Urang awak juga sangat terdepan dalam keterbukaan. Tokoh-tokoh politik asal sana membentang luas dari pemikiran kanan, tengah hingga kiri. Tahu kan maksudnya hehehe. Tan Malaka itu misalnya. Beliau adalah tokoh komunis terkemuka asal tanah air. Sayang sekali demi propaganda anti PKI, nama beliau dibenamkan dalam sejarah saat rezim Orde Baru berkuasa.

Padahal, Tan Malaka memiliki pemikiran yang berseberangan dengan elit-elit PKI . Propaganda Orde Baru juga membuat pemahaman terhadap komunisme menjadi bias.

Kapan-kapan ingin sekali menulis uraian tentang hal ini. Agar orang tak salah meletakkan kebencian dan lebih melek sejarah biar enggak gampang diperbudak oleh propaganda provokatif sarat kebencian. Lucu kan, ngerti enggak, benci iya.

Benarlah salah satu petuah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Manusia … membenci apa yang tidak diketahuinya.”

Terus abis ini saya dibilang pro Komunis deh hahahahahhahaha. Umat muslim itu percayanya sama konsep Syariah Islam ;). Bukan kapitalis, bukan komunis.

Makanya, kaget juga kemarin chatting dengan sahabat saya dari kuliah yang asli Minang. Dia bilang keluarga besarnya anti Jokowi sekali. Karena isu-isu agama yang gencar menyerang Jokowi 🙁.

Eh, ternyata benar. Buya Syafi’i Maarif juga menemukan fakta yang sama. Saya bingung dengan tuduhan bahwa di belakang Jokowi tidak ada dukungan ulama. Lah itu Quraish Shihab gimana? Okelah, kalau menurut mereka Quraish Shihab itu katanya Syiah. Lantas bagaimana dengan Hasyim Muzadi dan Buya Syafi’i Maarif sendiri? 🙂.

buya syafii

Astagfirullah ya, yang sekelas Quraish Shihab saja bisa begitu mudah terkena fitnah, apalagi yang cuma sekelas ane huhuhuhu *sisirPoni*. Kira-kira tuduhan kepada Hasyim Muzadi dan Buya Syafi’i apa ya? Hehehe.

But as much as it hurts, jangan sampai terpikir membalas dengan cara yang sama, yuk . Biarin saja. Jadi ingat, beberapa teman yang berkali-kali menginbox saya bertanya soal kampanye-kampanye hitam ini. Lebih-lebih yang soal agama. Onde mande, gue berasa timses beneran dah hahahahhaha.

Saya juga tidak tahu sih harus bilang apa. Cuma bisa berpesan, “Sabar, sabar, sabar.” Bayangkan, kita saja yang level pendukung dengarnya bisa teriris-iris, gimana kalau Jokowi-nya sendiri coba? Hehehe 😉.

jokowi fitnah kumpulan

Ya abesss, mau bilang apa dong. Pokoknya sabar saja. Jangan dibalas ;).

Sekali lagi, jangan dibalas. Respons saja seperlunya untuk meluruskan. Kalau tidak bisa juga ya namanya juga sudah usaha hehehe.

The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.

Martin Luther King, Jr.

Stand still ya teman-teman Pro-Jo. Stand still ya, Pakde. Stand still 🙂.

Mari revolusi mental dimulai dari diri sendiri dulu. Tetap semangat. Salam damai. Salam dua jari, jangan lupa tetep pilih Jokowi ^_^

***

All That Is Gold Does Not Glitter :)

Setelah harta kekayaan para capres dan cawapres diumumkan, saya heran dengan komentar-komentar yang bernada, “Eh, katanya Jokowi sederhana. Sederhana kok hartanya sampai milyaran? Dasar tukang bohong!” Yang dukung Jokowi ikut-ikutan pengin belain deh jadinya :p.

Sejak kapan sederhana = miskin? Apakah kemewahan selalu berarti kekayaan? Pan sekarang apa-apa bisa kredit, hayooooo :P.

Ya, ya, saya enggak bisa bohong. Semasa saya tinggal di Jeddah dulu, beberapa kali harus ‘sakit hati’ karena masalah penampilan.

_MG_2977 resize

Suatu hari pernah datang di acara makan-makan di wisma KJRI. Saya, yang kurang gaul, akhirnya bertemu dengan banyak ibu-ibu dari ‘dunia yang berbeda’.

Memang agak saltum waktu itu hihihi. Tapi ya mau gimana lagi, stok abayanya memang itu-itu saja.

Saya datang berempat dengan tiga ibu-ibu telco lainnya.

Teman saya yang pertama ya memang gaul banget dan langsung mendapat ‘sambutan’ begitu masuk. Sudah terkenal lah namanya sebagai ibu-ibu ‘kalangan atas’ :D. Teman saya yang ke-2, yang memang penampilannya selalu mentereng, juga langsung mendapat respons yang oke. Teman yang ke-3, penampilannya biasa-biasa saja tapi dia dikenal sangat akrab dengan teman saya yang pertama tadi.

Duduknya kan melantai gitu. Saya mendekat, maksudnya mau duduk bareng mereka bertiga, agak terlambat masuknya karena ngejar-ngejar bocah dulu -_-.

Ealah, ibu-ibu lain yang disitu hanya melihat sekilas, melengos dan ogah memberi tempat. Mau colek teman yang 3 orang tadi, mereka sudah asyik mengobrol dengan ibu-ibu lainnya.

Saya pundung dan langsung ke luar ruangan. Suami nanya, “Lho? Kok malah ke luar? Enggak bareng yang lain?”

Saya menjawab jutek, “Di dalam panas!”

Keki ni yeeeee :P. Hahaha.

Di sekolah anak saya juga begitu. Anak saya kan bersekolah di sekolah Indonesia. Murid-murid di sana berasal dari Indonesia semua, datang dari berbagai kalangan. Dari anak supir, anak TKW sampai anak ‘gedongan’ hihihi.

Saya coba-coba jajan di kantin sekolah. Kata teman-teman saya, gorengannya enak, satenya endang, baksonya maknyus, nasi kuningnya top, ya bolehlah dijajal sekali-sekali.

Pas mau bayar, saya angkat abaya dan nyari-nyari receh dalam celana jeans. Saya orangnya malas ribet. Tas dan dompet suka ditinggal di mobil. Turun dari mobil, uang biasanya saya taruh dalam kantong celana jeans. Dasar cuek, duit ditaruh seenaknya jadi repot pas harus dikeluarin satu-satu nyari pecahan yang pas.

Eh, yang jaga kantin tahu-tahu bilang, “Enggak apa-apa kalau enggak ada duit. Di sini biasa kok ngutang dulu.”

Saya belum ngeh, “Ada kok, Bu. Ada. Bentar, ya.”

Penjaga kantinnya tetap ngotot, “Sudah, sudah, ngutang saja dulu. Memangnya kamu kerja di mana?”

What?? Not again! Hahaha.

Cerita lucu (lucu atau menyakitkan nih? hahaha) lain saat berbelanja ke Singaparna.

Suatu waktu, saya bertanya kepada penjaga toko, “Mas, daun singkong itu yang kayak apa, sih?”

Mas-nya langsung mendekat dan membantu mencari di rak. Eh tahu-tahu ada ibu yang menyeletuk dari arah belakang saya, “Memangnya sudah bekerja berapa lama? Masa daun singkong saja tidak tahu, sih?”

Ya, kaget dong. Nyolot amat. Saya menengok dan melotot ke arah ibu-ibu tadi. Saya tidak menjawab sama sekali tapi memberi tatapan setajam silet, semacam ingin bilang, “Rempong aje lo! Gue kan enggak nanya ke elo!”

Ibu-ibu itu orang Indonesia juga. Tapi memang, penampilannya ‘wah’ ;).

Sebenarnya sudah ada yang pernah memperingatkan saya saat saya masih tergolong ‘pendatang baru’ di Jeddah, “Eh, kalau keluar-keluar agak rapi dikit. Entar disangka pembantu, lho!”

Saya dulu suka geer, sih. Saya pikir, “Helooo, masa iya tampang kece beginih disangka pembantu! No way!” Melet-melet sambil *benerinPoni*.

Juli 2012

Saya salah besar. Di Jeddah, perlakuan yang kita terima berbanding lurus dengan apa-apa yang menempel di badan ;). Begitulah ‘hukum alam’ yang harus kita terima.

Tapi pengalaman paling juara lucunya (masih ngotot lho pakai kata lucu hahahaha) adalah saat acara arisan di salah satu sudut di tepi pantai Corniche Road. Kami datangnya konvoi waktu itu. Parkirnya deket-deketan.

Turun dari mobil nyaris bersamaan. Ibu-ibu lain langsung sibuk mencari spot yang pas sambil berjalan ke arah lokasi yang hendak kami datangi. Anak saya yang kecil masih bayi waktu itu, jadi turun dari mobilnya suka telat sendiri.

Pas lagi jalan mengejar teman-teman lain, ada yang menegur. Seorang ibu-ibu asal Indonesia yang lagi menggendong balita arab yang lucu banget. Sepertinya pengasuh anak di keluarga Arab. Sapanya ramah, “Orang Indonesia juga, ya?”

“Iya.” Jawab saya sambil mengangguk.

Walau saya sudah beranjak pergi, dia tetap menanyakan sesuatu, “Majikanmu orang Indonesia juga apa, ya?”

Tidaaaaaaakkkkk. Berasa ingin menggaruk-garuk tembok Masjid Terapung saat itu juga! Hahahahaha.

Bisa jadi mbak-mbak pengasuh anak tadi memang berpapasan duluan dengan teman-teman saya. Kelihatan kan kalau saya berusaha mengejar mereka. Ya pastinya mendengar percakapan teman-teman, dia langsung tahu kalau mereka juga orang Indonesia.

The problem is, sebagian besar teman-teman ‘satu geng’ di sana ya penampilannya kece-kece. Tasnya bagus-bagus. Salah sendiri ya suka sok idealis gak jelas! :P.

Itu baru dari sesama orang Indonesia. Belum lagi yang dari orang-orang Arab lokal atau dari jemaah haji. Nah, bagian ini sudah saya ceritakan tuntas di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” hihihi. Ada yang sudah baca? ;).

***

Sakit hati? Jangan ditanya. Perihnya itu di siniiiiiiiii –> tepuk-tepuk dada. *mulaiDrama* :P.

Tapi, saya menjadi belajar sesuatu :). Jika saya lantas ‘mengalah’ dan mengganti barang-barang yang saya pakai (abaya, tas dan sebagainya), saya merengek ke suami agar beli mobil bagus, saya memenuhi sudut rumah dengan berbagai perabotan mahal-mahal … itu artinya saya ‘kalah’.

Mana boleh begitu? ;).

Bukan salah saya kalau orang-orang lain memperlakukan saya dengan cara berbeda. Saya tidak bertanggungjawab apa pun kalau mereka tak memperlakukan dengan ‘layak’ karena (mungkin) abaya saya yang biasa-biasa saja dan kebiasaan saya wara wiri ke mana-mana tanpa nenteng tas atau semata-mata karena apa-apa yang menempel di badan.

Gambar : karacure.com
Gambar : karacure.com

Kalau ternyata ada sakit hati, anggap saja itu harga yang harus dibayar. Mahal memang. But hey, mana ada sih ‘ilmu’ yang ‘gratis’? ;).

Saya ini manusia biasa. Pasti ingin dihargai dan tidak suka dibeda-bedakan. Tapi enggak pernah kepikiran dari dulu untuk mengharap hal-hal seperti itu datang karena penampilan fisik atau materi yang saya punya.

Dijalani saja. Ngomel-ngomel (lebih tepatnya, ngamuk-ngamuk :D) ke suami paling hihihi.

Uniknya, setelah saya menerbitkan buku “Bunda of Arabia”, beberapa perubahan mulai terjadi. Sebelumnya juga sudah mulai terasa, nama saya mulai dikenal gara-gara blog “Cerita Jeddah” yang saya gagas dan mengajak teman-teman lain ikut menulis di sana :).

Setelah “Bunda of Arabia” diedarkan, saya ingat mengunjungi salah satu ‘teman dekat’ di suatu malam. Dia sedang kedatangan beberapa tamu lain. Dia memperkenalkan saya kepada tamu-tamunya. Semuanya ibu-ibu juga.

Salah satu dari mereka berkata (sambil menjabat erat tangan saya), “Oh, ini toh yang namanya Mbak Jihan. Jarang main-main sih. Baru ketemu sekarang. Yuk, kapan-kapan ke rumah, ya.”

Saya iya-iya saja tapi dalam hati senyum-senyum sendiri. Saya bukan tipe pelupa kalau urusan wajah orang :D. Maklum, tipe observer alias emak-emak KEMAL (kepo maksimal) hahaha. Ibu yang tadi berbicara sering kok bertemu muka atau berpapasan langsung dengan saya di Toko Singaparna atau di beberapa acara lainnya ;).

bnnerBoA

Sedikit terselip rasa belagu dalam hati hehehe. Semacam pembuktian kepada diri sendiri untuk prinsip yang selalu diyakini. Penghargaan dan pengakuan orang lain hendaknya datang karena hal-hal (positif) yang kita lakukan bukan karena materi yang kita miliki :).

Be recognized for the things that we’ve done, not for the things that we’ve had.

Don’t get me wrong. Saya enggak ada dendam sama sekali. Ish, ngapain dendam-dendam. Kayak saya enggak pernah punya salah saja hehe. Kesalahan saya sendiri sih jangan-jangan lebih besar daripada itu *istighfar*.

Faktor lingkungan dan pergaulan di sana memang seperti memaksa kita untuk terseret. Bermewah-mewah seperti menjadi pembenaran atas, “Ya mau gimana lagi, daripada diremehin orang ya mau gak mau harus ikut gaya hidup begini.”

Lawan!

Kita bagai terkurung dalam pikiran, “Orang yang berpunya ya hidupnya harus mewah. Wajar itu.”

Tanpa sadar pikiran lain otomatis terinstal, “Orang yang biasa-biasa saja penampilannya itu ya bukan orang berpunya.”

Terjebak dalam paradigma di atas tadi, sederhana = miskin, mewah = kaya. Mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang hidup mewah. Orang kaya gitu lho hehehe. Semacam menganggap mereka lebih hebat.

Seperti memilih presiden. Mentang-mentang Jokowi penampilannya cenderung biasa-biasa (tidak seperti umumnya pejabat tinggi lain), langsung dicap hartanya tidak banyak. Begitu dibilangin hartanya bermilyar-milyar malah marah-marah sendiri dan menuduhnya pembohong.

Setahu saya, Jokowi tidak pernah mengaku miskin, tuh ;).

Pejabat tinggi hidup mewah, kita anggap standar. Tapi sering juga kita curigai hartanya hasil korupsi. Lucunya, saat ada yang tidak hidup mewah malah kita lecehkan dan kita curigai. Pasti pencitraan. Jadi, maunya apaaaaa??? Hahahahaha.

Teringat salah satu pepatah bijak dari orang-orang dulu, “Kalau engkau hanya menilai orang dari penampilannya saja, engkau akan kehilangan banyak kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.”

Kalau kita hanya sibuk mengukur badannya yang tipis, posturnya yang kurang menjanjikan sebagai pemimpin, gaya hidupnya yang menurut kalian hanya pencitraan saja, terjebak dalam pola pikir “pejabat biasanya pasti mentereng”, rasa curiga membuat kalian buta akan rekam jejaknya … jangan-jangan kita kehilangan kesempatan untuk punya pemimpin yang beneran hebat :).

All that is gold does not glitter -J.R.R Tolkien-

Dukung Jokowi. Revolusi mental, teman-teman ^_^. Salam dua jari ;).

***

 

At Least We Had a few Laughs ;)

Sullivan dan Mike berjalan gontai bersama hampir semua karyawan perusahaan lain. Setelah melewatkan beberapa malam yang mencekam akibat suatu ‘kejadian luar biasa’ di gedung kantor tempat mereka bekerja.

Mike bilang ke Sullivan, : “Hey, you all right? Come on, we did it. We got Boo home. Sure, we put the company in the toilet, and, gee, hundreds of people will be out of work now, not to mention the angry mob that’ll come after us when there’s no more power… but hey, at least we had a few laughs, right?”

Yup, kali ini mau bincang-bincang ringan soal film “Monster Inc.” Hihihihi, doyannya nonton film anak-anak yang enggak ribet-ribet . Kelihatan deh otaknya cetek hahahahaha 😀.

Film ini memiliki twisted ending yang sangat keren (versi yang suka *benerinPoni* :P). Buat saya, apa yang tiba-tiba terlintas dalam benak Sullivan setelah Mike mengatakan kalimat tadilah yang menjadi inti pesan moralnya.

Kita flasback sedikit jalan ceritanya.

Monster Inc, adalah perusahaan terkemuka yang tugasnya menyediakan energi buat negeri tempat para monster tinggal. Entah gimana caranya, mereka mendapatkan energi ini dari jeritan anak-anak manusia yang rutin didatangi oleh para Scarer tiap malam melalui pintu lemari di kamar anak-anak tersebut. Nama pun kartun ya, yang tidak mungkin bisa jadi mungkin hihihi.

Para Scarer ini karyawan yang memang kerjanya buat nakut-nakutin anak-anak. Mereka inilah para karyawan intinya. Termasuk si Sullivan yang berpasangan dengan Mike.

Monster Inc (gambar : disney.wikia.com)
Monster Inc (gambar : disney.wikia.com)

Sullivan yang badannya memang gede, perawakan super seram dengan suara menggelegar, is one of the best Scarer ever.

Peraturan perusahaan sangat ketat. Para Scarer tak boleh menyentuh barang-barang yang ada dalam kamar anak-anak yang mereka satroni. Apa pun yang berkaitan dengan anak-anak ini termasuk barang-barang milik mereka adalah hal yang sangat terlarang untuk para Scarer.

Kalau ada barang anak kecil yang nyangkut atau terbawa oleh para Scarer, mereka akan langsung dianggap terkontaminasi dan alarm tanda bahaya akan menyala-menyala dengan hebohnya. Si Scarer yang bersangkutan bakal diperlakukan sebagai virus mematikan. Dicukur habis bulunya dan diisolasi.

Di suatu malam, secara tak sengaja, Sullivan bertemu seorang anak kecil (manusia) yang melewati pintu “ajaib” yang dipakai Randall (salah satu scarer yang paling nafsu menyaingi Sullivan) dan masuk ke gedung Monster Inc.

Sullivan benar-benar panik. Berdua Mike, mereka mati-matian menyembunyikan “aib besar” ini. Bayangkan, barang anak-anak manusia saja adalah haram, gimana kalau yang datang adalah anaknya langsung coba? Skandal besar!!!

Anak kecil ini akhirnya dinamai Boo.

Di sinilah petualangan-petualangan seru dimulai. Menjalani pekerjaan sebagai Scarer membuat Sullivan sangat kaku terhadap Boo yang ternyata malah nge-fans abis sama Sullivan. Maklum ya, buat para Scarer, anak kecil ini harus dianggap “musuh besar.”

Lama-lama Sullivan malah kepincut juga kepada Boo. Yang tadinya berusaha keras menjaga jarak dan mencari-cari cara agar bisa menyelundupkan Boo kembali ke kamarnya, Sullivan malah makin sayang kepada Boo.

Kedatangan Boo ternyata bukan suatu kebetulan semata. Dari situlah terkuak “rencana busuk” Waternoose (direktur Monster Inc) yang bekerja sama dengan Randall. Waternoose dan Randall mengembangkan sebuah mesin untuk menyedot energi dari anak-anak kecil dengan cara yang lebih ‘kejam’.

Sullivan benar-benar tidak mengira. Rasa kasihannya kepada Boo membuat Sullivan berusaha menggagalkan rencana jahat ini. Walau akhirnya, Sullivan sangat berat untuk melepas Boo. “Pintu” Boo pun mau tak mau harus dihancurkan setelah Boo berhasil dikembalikan ke kamarnya.

Sullivan and Boo (gambar : weheartit.com)
Sullivan and Boo (gambar : weheartit.com)

Waternoose terpaksa mengambil langkah pahit ini karena perusahaan tengah dilanda krisis energi. Terbongkarnya niat Waternoose malah membuat perusahaan makin terancam bangkrut. Seperti kata Waternoose pada Sullivan, “I hope you’re happy, Sullivan. You destroyed this company. Monsters Incorporated is dead! Where will everyone get their scream now? The energy crisis will only get worse, because of you!”

Betulkah Monster Incorporated benar-benar tumbang karena Sullivan? Ini nih pesan moral super keren yang saya maksud .

Justru Sullivan yang mengambil alih tampuk kekuasaan dari Waternoose yang harus berurusan dengan semacam badan FBI si Negeri Monster tadi. Di tangan Sullivan, Monster Inc malah berkembang lebih besar dan mengubah paradigma “Scare Floor” menjadi “Happy Floor.”

Yup, instead of, menakut-nakuti anak-anak kecil tiap malam dan memanfaatkan jeritan mereka sebagai sumber energi, Sullivan punya cara lain untuk mendapatkan energi yang 10 x lipat lebih besar. Para monster tetap memasuki pintu anak-anak secara rutin, tapi yang diincar kini bukan teriakan ketakutan mereka lagi. Tapi tawa mereka.

Jadi, tugas para monster sekarang bukan lagi memasang tampang seseram mungkin. Mereka malah sibuk mencari cara agar si anak malah tertawa sekeras-kerasnya setelah mendengar “stand up comedy” para monster atau kegiatan-kegiatan lucu lainnya .

Hubungan monster dengan anak-anak malah harmonis. “Scare Floor” yang tadinya selalu bernuansa tegang dan ‘dingin’ kini hiruk pikuk penuh balon-balon dan tawa ceria para monster.

Mike menggantikan posisi Sullivan.

Sulley: Nice job, Mikey. You filled your quota on the first kid of the day.

Mike: You know, only someone with great comedic timing could produce this much energy in one shot.

Sulley: Uh-huh, and the fact that laughter has ten times the energy of scream had nothing to do with it.

Sullivan menemukan rahasia tawa anak kecil ini sebenarnya tidak sengaja. Saat menyembunyikan Boo di apartemen Sullivan, Boo pernah beberapa kali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Mike. Tawa Boo membuat satu gedung ikut berguncang dan aliran energi listrik mengalir kuat.

Sama seperti kita, ya. Kadang-kadang mau tak mau harus berhadapan dengan pengalaman yang tak diinginkan. Eh, ternyata dari pengalaman tersebut kita tiba-tiba seperti mendapat wangsit yang tidak kira-kira luar biasanya . Seperti Sullivan yang tahu-tahu menemukan sumber energi berkali-kali lipat oleh tawa seorang anak kecil.

Jeritan anak-anak itu identik dengan ketakutan, kebencian dan banyak hal negatif lainnya. Sementara tawa anak-anak selalu diasosiakan dengan kegembiraan, keceriaan dan banyak hal positif lainnya.

Sullivan mengajarkan kepada kita, “Kegembiraan itu efeknya 10 kali lipat lebih dahsyat daripada kebencian.”

Mencintai itu pasti kekuatannya lebih besar daripada membenci. Sounds cheesy, but it’s simply the truth 😉.

Mike - Sullivan - Boo (gambar : cinelinx.com)
Mike – Sullivan – Boo (gambar : cinelinx.com)

Cara Sullivan menemukan rahasia kecil ini juga ternyata diawali dengan persahabatannya dengan Boo, makhluk yang seharusnya dibenci dan dijauhinya. Aroma kebencian memang harus dijaga ketat dalam hubungan Para Scarer dan “mangsa”nya. Iya kan? Logikanya, kalau para Scarer ini malah gemas kepada anak-anak atau salah-salah malah jatuh hati pada imut dan lucunya si anak, gimana mau nakut-nakutin mereka coba? Hehehehe.

Saya menulis ini bukan tanpa tujuan khusus. Lagi-lagi ini tentang Jokowi :D.

Karena terus terang, saya pernah bilang gitu ke teman saya dalam rangka kampanye pilpres ini. Saya ingat bilang begini, “Eh, gue gak gitu semangat kampanye-in Jokowi yang sekarang ini, soalnya gue enggak ada rasa sebel ke Prabowo. Biasa-biasa aja. Sementara pas Pilkada DKI, empet banget lihat Foke makanya gencar promosiin Jokowi pas tahun 2012.” Hahahhaha.

Saya memang tidak memutuskan untuk “benci” kepada Prabowo. Ya ngapain juga hehehe. Saya toh sudah setahun lebih jadi simpatisan Partai Gerindra. Banyak hal-hal baik dari Gerindra dan Prabowo yang sudah saya ketahui sebelum Pileg dan Pilpres 🙂.

Dan salah jika saya mengira tanpa rasa benci, semangat kampanye saya bisa memudar. Justru saat menggali terus hal-hal positif tentang Jokowi, mengabaikan berita-berita negatif tentang Jokowi maupun Prabowo, energi positif saya makin menyala-nyala . Widih, lebay kali Mbak? Hahaha. Kalau enggak lebay berarti bukan Mbak Poni yak 😛.

Etapi serius, lho. Kalau sudah tahu manusia itu pasti ada salahnya, apa untungnya kita korek-korek terus? Tanpa dikorek juga pasti ketemu kok . So guys, fokus kepada rasa cinta sajaaaaaa . Lihat ke mana hati lebih condong dan kerahkan semua energi untuk melihat hal-hal baik yang ada pada si pilihan hati tadi.

Rasa benci memang bisa memberikan kekuatan juga. Saya juga percaya itu. Tapi saya lebih yakin kalau rasa yang positif kekuatannya lebih besar. That laughter has ten times the energy of scream!

Video 'cinta' untuk Pak Jokowi masuk MetroTV news lho :D
Video ‘cinta’ untuk Pak Jokowi masuk MetroTV news lho 😀

Apa iya saya tak pernah berusaha mencari tahu sisi-sisi negatif Prabowo dan Jokowi? Ya pasti dong. Tapi itu ranah personal. Cukup untuk saya sendiri, tak perlu dishare wall atau di timeline. Persepsi kita pasti beda. Lemahnya Jokowi di kubu lawan bisa jadi kekuatan Jokowi bagi para lovernya. Demikian juga untuk Prabowo.

Teringat salah satu komentar bagus yang pernah saya baca saat lagi blusukan di news feed (hihihihi) : “Membenci itu hak tiap orang. Manusiawi. Tapi menebar kebencian itu adalah hal yang berbeda.”

Jadi teman-temanku yang baik hatinya, kita sudah memasuki bulan puasa. Malah yang di tanah air sudah pada berbuka puasa nih, ya. Sebagian malah sudah memasuki hari ke-2.

Mari manfaatkan momentum Ramadan kali ini untuk memompa semangat positif dalam menebar kebaikan. Termasuk semangat positif tentang Jokowi  bagi pendukungnya.  Saya percaya kedua capres yang tengah bertarung ini adalah orang-orang luar biasa. Tergantung kalian saja mau pilih yang mana.

Percaya sepenuhnya pada kebaikan dan mari sama-sama kita buang yang buruk-buruk.

Seems like too good to be true, yak hehehehe. But I’m a believer! Aren’t you? 😉

Selamat menjalankan ibadah puasa kepada semua teman-teman yang menjalankan 🙂.

Salam 2 jari dari Irlandia ^_^

jokowi for indonesia irlandia


***