The You and The Me .. The Pina and The Colada :D

“Bawangnya seberapa? Merah sama putih sama banyaknya? Atau berapa per berapa? Terus masukinnya kapan itu jahe, lengkuas, serehnya, bareng-bareng? Tahunya sudah matang gimana? Dari baunya atau lamanya? Daging lembek itu dari lamanya atau harus diapain? Masa semua harus dirasa-rasa doang, sih?”

Sampai-sampai mama saya bete banget kali, tuh, di suatu sesi memasak sambal goreng daging di dapur saya hahahahaha. Nyolot amat yang diajarin.

Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)
Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)

Walau saya selalu merasa saya ini orangnya otak kanan banget tapi entah ya sering juga dalam mempelajari sesuatu saya merasa nyaman dengan metode ‘otak kiri’. Macam belajar menyetir sewaktu masih gadis dulu.

Terbuai dengan sebuah artikel di sebuah majalah perempuan di masa-masa jomblo dulu, “Ayo, tahun ini niatkan mempunyai ketrampilan baru yang anda idam-idamkan tapi belum kesampain sampai sekarang.”

Antara berenang, naik sepeda (roda dua! hahaha) dan menyetir mobil. Berenang waktunya susah dan tempatnya terbatas, naik sepeda apalagi. Saya akhirnya mendaftar kursus menyetir mobil . Mobil enggak punya tapi nekat mau belajar nyetir hahaha.

Gambar : theanimatedwoman.com
Gambar : theanimatedwoman.com

“Bang, ini kalau mau belok setirnya diputar berapa derajat kira-kira?”

“Kalau menekan gas pertama kali sampai angka di depan ini nunjuk berapa?”

“Tekannya kira-kira segimana ya? Berapa centi tuh masuknya?” (Apanya yang masuk, Neng? Hahahhahaha).

“Kecepatan berapa kira-kira baru kita ganti gigi? Apa setiap kenaikan 20 km sudah harus ganti gigi?”

Stres gak tuh instrukturnya? Hahahahhhaha . Mau nyetir atau belajar matematika, Neng?

10 tahun berlalu dan kini kembali menghadapi rasa takut di belakang kemudi barulah saya tersadar. Menyetir mobil itu sama dengan memasak. Sama juga dengan menulis. Semuanya bersifat keterampilan. Yang makin dilatih makin terlatih . Apakah perlu punya bakat khusus untuk menyetir, memasak, atau menulis? Everyone can do it for sure ^_^.

Gambar : listverse.com
Gambar : listverse.com

Jadi ingat film Ratatoulie, “Everyone can cook.”

Ha? Jadi semua orang bisa menjadi pembalap, penulis handal dan masterchef kah? Isssh, gak gitu juga kaleeeee .

Kita berbicara dii tahap BISA bukan MAHIR kan, ya? . Kalau masalah bisa memasak dan bisa menyetir memang awalnya begitu. Ribet dulu biasanya .

Cuma naturally, dalam urusan menyetir, laki-laki lebih berani daripada perempuan. Umumnya . Kadang ada juga anomali. Karena adik saya yang perempuan itu cuma butuh sejam untuk belajar naik sepeda roda dua dan 5 menit untuk muter-muter kompleks pakai sepeda motor hihihi.

Urusan memasak? Dulu itu laptop nangkring di atas meja samping kompor untuk memastikan takaran bumbunya pas hahahaha. Sekarang? Saya lihat resep untuk lihat bahan-bahannya saja. Sekadar memastikan. Ukurannya ya cuma pakai feeling saja ๐Ÿ˜€.

Kalau sudah tiap hari memasak, sudah terbiasa juga dengan bumbu. Improvisasi bukan hal yang sulit.

Gambar : destructoid.com
Gambar : destructoid.com

Tapiiiiiii … jujur saja, saya memasak MURNI karena KEWAJIBAN . Tidak ada niat membuka katering atau memasak untuk lucu-lucuan, diatur-atur di atas piring, dihias-hias, difoto-foto terus diposting deh! Hehehehe. Nope, it’s not me! .

Kalau bikin kue, I don’t care tampilannya macam mana. Rasanya yang saya fokuskan .

Jika ada yang bilang, perempuan HARUS BISA MEMASAK, I’m in! Benar itu. Pasti bisa kok asal mau apalagi kalau kepepet hihihihi .

Tapi kalau ada yang bilang PEREMPUAN HARUS SUKA MEMASAK! Nah, saya kurang setuju hehehe.

Kalau untuk sekadar bisa, segala macam keterampilan standar itu bisa dipelajari. Tapi untuk menyukainya, butuh sentuhan khusus yang namanya … PASSION!

Saya ketawa-ketawa mendengar teman saya di Jeddah dulu bilang gini, “Ih, kok bisa menulis panjang-panjang begitu sebentar banget. Gimana caranya? Apa gak capek ya? Apa gak bete? Gimana tuh luangin waktunya?”

Saya balas, “Lah lo kok bisa bikin siomay segala macam secepat itu gimana caranya? Gak ribet apa? Gimana tuh bisa punya banyak waktu di dapur begitu?”

“Lah, gue kan emang hobi memasak.”

Exactly. Situ hobi masak, sini hobi nulis! *jabatTangan* ๐Ÿ˜€.

Gambar : techgirl.co.za
Gambar : techgirl.co.za

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Duh, pengin jago masak tapi enggak ada waktunya.”

Itu bokis saja berarti hehehe. Because once you’re really eager about something, you will always have time to pursue it.

Mungkin kalau kepengin sesuatu tapi merasa tidak punya waktu, lupakanlah! . Maybe… simply it’s not your passion .

Dan mengapa pula kita harus dipaksakan seragam harus suka ini itu sih? Mengapa perempuan yang memutuskan di rumah harus belajar menulis? Harus suka memasak? Kudu gemar menjahit?

Ada Yin ada Yang. Kalau semua suka memasak, kasihan dong yang terpikir untuk membuka katering untuk cari tambahan. Terus, yang beli siapa? . Kalau semua suka menjahit, bangkrut deh usaha jahit yang banyak juga terdiri dari usaha rumahan kecil-kecilan.

Such a big pressure kalau kita semua dituntut bisa ini itu . Untuk keadaan kepepet, mau tak mau harus dijalani, tapi kalau enggak kepepet, boleh dong ah langganan katering atau beli-beli pernak pernik lucu-lucu hasil karya teman sendiri atau di segambreng toko online yang tersebar di banyak penjuru dunia maya .

Juga yang lagi ngetren masalah membuka usaha sendiri. Duh, saya paling tidak setuju kalau teman yang mencoba menjajakan bisnisnya dengan cara ‘merendahkan’ mereka yang memilih menjadi karyawan.

“Ih, kok mau ya jadi karyawan seumur hidup?”

Hati-hati dong, kalau semua jadi pengusaha terus itu usaha dijalankan dengan apa? Robot? :p.

Which way to choose? Gambar : sterlingeducation.com
Which way to choose? Gambar : sterlingeducation.com

Kayaknya kereeeeeenn banget kalau kita memutuskan untuk berhenti bekerja dengan siklus rutin 9 to 5 untuk memulai usaha sendiri. Merasa bangga tiada terkira. If it’s your passion then we all are happy for you . You go for it, good luck and wish you all the best *gayaCheerLeader*.

Tapi balik lagi. Kita tidak harus seragam kan, ya .

Kenapa memangnya kalau kerja kantoran? Merasa diperbudak? Tidak bebas? Tidak keren? Tidak bisa kaya? Tidak punya kebebasan financial? bla bla bla … Kebebasan financial has nothing to do with whether you’re an employer or an employee. Salah kaprah banget deh itu .

Tidak mengapa jika sebagian dari kita sudah merasa ‘enough’ dengan rutinitas berkantor.

Jangan sampai kebanggaan itu ujung-ujungnya merendahkan profesi lain, sih, ya harusnya. Dihubung-hubungkan dengan “tangan di atas” yang lebih berkah karena banyak membuka lapangan kerja. Balik lagi, kalau semua sibuk membuka lapangan kerja terus itu lapangannya siapa yang ngisi? Hahahaha ๐Ÿ˜€.

Mari berpikir positif terus dan menjaga keseimbangan hidup. Tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga lingkungan. Saling menyemangati itu yang lebih berkah sepertinya ya ๐Ÿ˜‰.

Saat mudik kemarin menyempatkan diri bertemu emak-emak ribet ini. Ribet tapi langsing dong ya kitaaaaa hahahahaha *gakPentingAmat* . Kampus yang sama di angkatan berbeda-beda, bertemu lagi di gedung yang sama di Gatsu sana. Terus, beberapa tahun bareng, sampai akhirnya mencar lagi.

emak emak ribet

Yang satu baru saja pulang dari Michigan dan masih agak-agak gegar budaya di Jakarta hihihi, good luck for your new business anw, Riniiii :D.

Yang satu juga lagi mudik dari Singapura, ngikut suami yang lagi belajar di sana. Eh, kemaren si Dona kagak sharing cita-citanya apa yak. Mau jadi dokter, insyinyur atau apa nih Dona, ke depannya? hahahaha

Terus yang terakhir … teman saya banyak yang sampai sekarang memilih tetap berkarier di kantor yang itu. HIdupnya tetap berwarna. Udah ganti angka ya statusnya. Gajinya bikin ngiri. Huh, harusnya kemarin ditraktir tuh kita semua hahhahaha. Hebantnya, dia tetap bisa meluangkan waktu menekuni hobi menjahitnya . Eike nih kebagian salah satu hasil karyanya .

Thanks ya, Icha ^_^. Sekarang tas-nya udah ke mana-mana ini hihihi.

Dia masih malu mau memasarkan hasil karyanya, katanya belum bagus. Wah di mata saya yang kemampuan menjahitnya mentok di benerin kancing sama jelujur-in jahitan yang lepas sudah keren banget itu tas-nya โ™ฅ.

Lagian gaji udah gede ya, Dear, udahlah itu tas-tasnya kasih-kasihin ke gue aja hahahahaha –> bukan teman yang baik!

tas icha

Justru seru kalau berjumpa dengan yang macam-macam ini. Mengobrol ngalor ngidul tentang impian dan cita-cita masing-masing. Tanpa hendak menjustifikasi kehidupan siapa yang lebih keren dan lebih oke? Suka tidak suka, rumput tetangga selalu lebih hijau, kok, biasanya :p.

Mau jadi apa pun mau memilih jalan yang mana pun, yang harus seragam itu adalah perasaan ikhlas-nya, ya :). Being content all the time is the real challenge for all of us :D. Semangat berbaginya juga ^_^.

โ€œContentment is natural wealth, luxury is artificial poverty.โ€
โ€• Socrates, Essential Thinkers – Socrates

Yak, sudah keluar kata mutiaranya. Sudah sahih berarti, ya hihihihi.

Bersyukur selalu dalam perbedaan karena yang pasti … tiap jalan kehidupan punya rahasianya masing-masing ;).

โ€œMy point is, life is about balance. The good and the bad. The highs and the lows. The pina and the colada.โ€
โ€• Ellen DeGeneres

Gambar : pettao.com
Gambar : pettao.com

***

How Islamic are Islamic Countries? (Bagian 2)

Ah ya, ย bagi yang baru membaca ย How Islamic are Islamic Countries? (Bagian 2) ini , bagian-1 dari tulisan dengan judul yang sama cek di sini, ya.

Beberapa waktu lalu, penelitiannya ternyata di-update. Kini, juara 1 nya coba tebak dari negara mana? Irlandia, Kakaaaaaa. Hihihi.

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)
Dublin – Irlandia

Salah satu teman saya di sini, ibu-ibu asal India, kaget sewaktu saya ceritakan hasil penelitian ini. Islam dari mananya?

Nah, sebelum banyak orang mengamuk-ngamuk tentang definisi “islamic” yang digunakan oleh sang peneliti, mending kalian googling dulu paper aslinya dan lihat baik-baik indeks yang digunakan sang peneliti untuk menjabarkan hasilnya :).

Saya juga bingung sih kalau ditanya mengapa salat-puasanya tidak dinilai?
Umm…cara menilainya bagaimana, ya? Hehehe.

Perlukah kita pasang CCTV di tiap rumah untuk mengontrol salat masing-masing warga muslimnya? Atau mereka dibagi-bagikan buku absen satu persatu? Jaminan kalau mereka jujur? Perlu kita pasang dalam hati tiap warga “alat pengecek keikhlasan dan ketulusan”?

Itu baru salat. Kalau puasa? Lebih rempong lagi kan? Hehehe. Kita akan sulit mengetahui seseorang itu puasa atau tidak secara tampilan fisik dan kegiatan sehari-hari saja. Seringnya, kita hanya tahu orang lain berpuasa itu kalau orangnya yang mengaku.

Sepengetahuan saya pula, puasa juga masalah melawan hawa nafsu. Okelah dia bersikap manis sepanjang hari, tapi kalau dalam hatinya sibuk mengumpat, siapa yang bisa mengira? Wah, lagi-lagi kita perlu alat pengukur hati manusia, dong, ya ^_^.

Jadi …dengan cara apa kita menilai salat dan puasa seseorang sudah benar dan diterima Tuhan atau tidak? ;). Jangan-jangan ada Tuhan diantara kita, kah? hehehe :p.

Jadi pengin nyanyik … “What if God was one of us? Just a slob like one of us? Just a stranger on the bus. Trying to make His way home?”

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)

***

Balik ke hasil penelitian. Mayoritas 10 besar diduduki oleh negara-negara Eropa. What’s so special sih dengan negara-negara Eropa ini?

Sebelum mulai membayangkan gambar-gambar cantik mengenai Eropa, let’s reveal some inconvenient truth about living in Europe hehehe. Mudah-mudahan enggak sotoy :D.

Irlandia mahal? Well, secara umum iya dibandingkan negara-negara di Asia. Bensin 1 liter saja mencapai 27 – 30 ribu rupiah per liter (di Irlandia/Inggris Raya). Kami, pendatang yang sebelumnya tinggal di Kota Jeddah di mana bensin seliter dibandrol seribu perak sajah, tentu cukup syok! :p.

Pajaknya juga tinggi. Walau dibanding negara-negara Eropa umumnya, Irlandia termasuk negara yang ramah pajak :D. Secara umum, pajak di Eropa/Australia lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. Sepertinya, Uni Eropa dan Australia ini condong ke sistem “sosialis” ketimbang Paman Sam yang sangat kental “kapitalis” nya hehehe.

Di US, banyak uang gampang hidup senang. Di Eropa, penghasilan besar harus diganjar dengan pajak yang makin luar biasa ;).

Apakah ini berarti warga Eropa pada ikhlas semua bayar pajak segitu? Belum cencuuuuuu.

Tahu M* S*, pembalap terkenal asal Jerman? Denger-denger, si doi bela-belain ganti kewarganegaraan untuk menghindari jeratan pajak di negeri asalnya. CMIIW.

Yup, Jerman dan Belanda terkenal sebagai pemalak pajak paling sangar hahahaha. Tapi kedua negara ini sekaligus terkenal sebagai negara dengan fasilitas paling maju dan keren.

Sistem kesehatan di Jerman is one the best (katanya). Transportasi umum jangan ditanya. Disiplin, nyaman dan menyeluruh :). Menjangkau hampir semua pelosok negeri dan bisa dinikmati oleh siapa pun enggak peduli kaya-miskin-kece enggaknya hihihhi. Ini kata suami sih, saya belum pernah ke mainland hihihihi. Sementara si pacarku tercinta inih sudah 3x bolak balik Jerman. Enaknyoooo yang sering traveling gratis ;).

How islamic are islamic countries  ? (bagian 2)
Transportasi publik di Jerman (gambar : internations.org)

Saya juga pernah berdiskusi kecil-kecilan di grup orang-orang Indonesia yang tinggal di Irlandia. Ada saja orang-orang yang merasa kena ‘rampok’ gara-gara beban pajak yang dianggap terlalu besar dan tidak adil. Di mata mereka, masa kita yang capek-capek kerja, kita juga yang membayar paling banyak.

Nah, mari kita tengok kembali seperti apa pemahaman kita tentang Islam dalam hal ini. Ini sih saya cocok-cocokkan versi saya saja.. Saya ini ustazah bukan, lulusan pesantren bukan. Emak-emak sotoy mungkin tepatnya hihihi. So, feel free for further discussion ;).

Sependek yang saya tahu, kehidupan di dunia ini untuk persinggahan saja. Sebagai bekal untuk menabung di kehidupan kekal pasca hari akhir nanti. Kalau sudah tahu tidak kekal terus ngapain mau habis-habisan mengejar yang sifatnya duniawi? ;).

Sebagian kita sering menganggap harta yang banyak sebagai hasil kerja keras semata. Ini dengan anggapan semuanya diperoleh dengan halal ya. Kalau enggak halal ya itu lain cerita :p.

Wajar dong jika kita merasa berhak atas harta tersebut. Kan gue yang kerja, gue juga dong yang harusnya menikmati. Suka-suka mau beli apaan, yang penting sudah sedekah, salat, zakat, puasa. Begitu ya kira-kira sifat alamiah kita sebagai manusia.

Katanya, harta adalah anugerah. Betulkah?

Saya pernah sekilas mendapati hadis soal rasulullah yang mengharap kepada Allah agar terus didekatkan dengan orang miskin. Malah meminta jadi orang miskin saja. Mohon dicek sahih apa tidak ya hadisnya?

Aneh, deh. Enakan jadi orang kaya bukan? hehehe.

Padahal jelas-jelas memang dalam alquran disebutkan harta itu adalah cobaan. Sebagian kita sudah terlanjur mencap yang kudu sabar dalam menghadapi hidup ya orang miskin saja. Yang kaya cukup banyak-banyak sedekah :p.

Justru kesabaran yang harus kita jalani saat memiliki harta lebih itu jauuuuuhhh lebih sulit. Ingat dong ya, bergaya hidup mewah itu bukan anjuran agama. Kalau miskin ya gampil. Mau gimana? Wong duitnya enggak ada. Anak-anak minta ini itu, ya tinggal bilang, enggak ada duit.. Terus bisa apa? Tidak perlu payah-payah mencari alasan hehehehe –> pengalaman waktu kecil! Hahahaha.

Begitu banyak duit, ketebak kan apa yang terjadi. Padahal dulunya biasa-biasa saja, begitu ada duit jadi rewel dan mau beli ini itu hehehe. Hati kecil ikut membenarkan, “Kan hartanya halal, hasil kerja keras gue ini. Boleh dong dipakai bermewah-mewah.”

Kalau ada yang iri karena tidak mampu? Lah, emang urusan gue. Harta-harta gue, siapa suruh lu miskin? :p.

Seolah sabar hanya wajib bagi mereka yang tidak mampu :D.

Satu lagi, pemberi rezeki itu Allah semata. Tidak selalu mereka yang bekerja keras pasti akan diberkahi harta yang banyak. Sebaliknya, tidak selalu pula, mereka yang ongkang-ongkang kaki akan selalu menjadi golongan tidak mampu. Manusia wajib berikhtiar tapi ingat, hasil akhir 100% Allah yang punya kuasa ;).

Nah, terlihat tidak ‘cerdas’nya pemerintah Eropa? ;). Heran, padahal mereka mungkin enggak pernah belajar ekonomi Islam dan aturan-aturan muamalah dalam alquran. Iya gitu, pemerintah Eropa membagi-bagikan brosur kepada warganya, “Wahai wargaku yang tajir, bayar pajak banyak-banyak, yuk. Ingat, harta itu cobaan lho according to surah X ayat Y.” Hihihihihi.

Pemerintah di semua negara seharusnya sudah tahu kemampuan seluruh warga negeri pasti tidak akan sama. Dari segi ekonomi dan lain-lain. Tapi tetap saja, tugas pemerintah adalah memastikan SEMUA warganya hidup layak. Jangan pernah coba-coba marah-marah sama Tuhan. Seluruh lingkungan pendukung sudah diciptakan dari sananya tanpa perlu campur tangan manusia mana pun. Tinggal pengelolaan saja yang diserahkan kepada manusia.

Ketidakmampuan menjaga kesenjangan ekonomi sosial agar tidak menganga terlalu lebar itu akan dibayar mahal kelak. Tak sedikit masalah-masalah dalam bermasyarakat yang lahir akibat kelalaian dalam hal ini :(.

Lucunya, negeri-negeri sarat sumber daya alam yang malah agak kesulitan mencapai kehidupan ekonomi ideal bagi seluruh jajaran masyarakat. Tengok negara-negara Timur Tengah :). Indonesia, walau sudah keluar dari OPEC dari kapan tauk, tetap kaya sumber daya alam non migas.

Justru, yang tinggal di Eropa harus terima kasih pada aturan pajak ini. Kita kan tahu pasti, pajak yang kita bayarkan adalah untuk membayar semua kenyamanan yang bisa dinikmati oleh segenap anak negeri. Kaya miskin, semua punya kesempatan untuk mencicipi hidup layak.

Layak tak selalu berarti harus mewah toh, ya? ;). Tapi … tinggal di kolong jembatan dan membayar sekolah saja megap-megap, jelas… itu tidak layak!!!!!! Pentungnya banyak bener hahahahahaha.

Makin banyak penghasilan makin besar sumbangsih kita untuk menyejahterahkan orang banyak di negeri tempat kita tinggal. Bayangkan, pemerintah Eropa sudah membantu kita untuk menyicil tabungan akhirat. Kebermanfaatan bagi orang banyak itu adalah amal yang tidak kecil, lho ;).

Punya banyak uang enggak perlu capek-capek nan mumet mau ke panti asuhan mana, mau memprioritaskan untuk bantu siapa. Dengan sendirinya, kita telah menyumbang untuk kemaslahatan orang banyak tanpa perlu banyak mikir ;).

Senang kan, pajak yang kita bayar dipakai untuk membangun sekolah-sekolah yang nantinya akan dinikmati tidak hanya oleh anak-anak kita saja tapi oleh anak-anak dari mereka yang kurang mampu? Apa tidak geer jika makin besar pajak yang kita bayar makin banyak sumbangsih kita untuk orang banyak?

The key to the real happiness is to make others happy.

Jangan marah-marah ke pemerintah kalau disuruh bayar pajak gede-gede? hehehe. Keuntungannya berlipat ganda ^_^. Mencegah kita dari hawa nafsu pribadi (makin banyak uang biasanya makin banyak aja tuh keinginan hihihi) dan ‘memaksa’ kita ‘rajin’ menabung sebagai bekal di kehidupan akhirat yang jelas-jelas lebih kekal daripada dunia yang fana ini.

Tentu jauh lebih berat melawan keinginan untuk membeli tas mahal saat uangnya ada ketimbang saat dananya cekak hahahahha. Dana cekak ya bisa apa. Paling ngelap iler dan berlalu dari toko secepat mungkin. Kalau uangnya ada? Seringnya sih, hawa nafsu yang akan menang ;). Sementara rumusnya sudah begitu, tak akan habis harta dunia dikejar. Makin dibeli, makin dikoleksi, makin tidak ada puasnya. Itu hukum alam, bukan karangan yang nulis hehehehe.

No hard feeling, ya. Saya pun sering mengalami hal yang seperti itu kok hihihi. Makanya, belajar dari pengalaman pribadi itulah, ada baiknya kita saling mengingatkan dan menguatkan.

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)
The Bling-Bling ๐Ÿ˜€ (gambar : lapsplash.com)

Hukum juga lebih fair di negara-negara maju pada umumnya. Mungkin karena di negara-negara berkembang ya balik lagi ke sikonnya. Banyak orang berduit luar biasa yang gampang nyogok sana sini. Banyak orang bisa disogok karena kesenjangan ekonomi yang tinggi.

Belum lagi sirik-sirikan karena pamer-pamer kekayaan. Banyak yang tidak kuat godaan akhirnya…nyicil!! hihihih. Kredit ini itu walau sudah tidak cocok dengan kemampuan kantong hanya demi biar bisa menikmati kelayakan hidup yang dianggap umum. Merasa tenang hidup yang penting kartu kredit masih bisa digesek :p. Bayarnya pikir bulan depan.

See? Gaya hidup mewah tidak hanya akan ‘membunuh’ si pelakunya tapi pelan-pelan juga akan ‘menyakiti’ sekitarnya :). Kecuali kita yakin semua orang yang kita kenal dan akan kita temui bisa mengadopsi gaya hidup yang sama ;). Nah, mungkin gak tuh ada kejadian kayak gitu? Mungkin saja. Tapi bukan di dunia ini tempatnya. Menurut gosip yang berkembang, dengar-dengar sih … di surga enggak ada orang susah hehehe ;).

Coba kayak di Eropa pada umumnya. Tukang sampah saja bisa leyeh-leyeh di kedai kopi yang sama yang juga didatangi oleh para engineer/mahasiswa/eksekutif muda/pegawai toko/dll. Hampir semua orang hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu mencolok bedanya.

Penghasilan besar mengimbangi penghasilan pas-pasan. Orang dengan gaji cekak dibebaskan dari pajak. Tapi tetap bisa menikmati semua fasilitas umum dari pemerintah, misalnya sekolah dan rumah sakit ^_^.

Ada kalanya kejahatan sosial hadir karena paksaan keadaan. Terpaksa nyolong biar anak bisa makan. Terpaksa merampok biar anak bisa sekolah. Terpaksa kerja-kerja serabutan yang sebenarnya sudah tidak cocok dengan kondisi fisik dengan gaji pas-pasan karena tidak punya hak meminta gaji lebih. Karena capek dan tidak kuat, akhirnya memilih menjadi pengemis :(.

Banyak juga sih orang-orang Eropa yang stres dengan pajak tinggi begitu :D. Tapi kalau pegangannya ‘benar’, insya Allah, hati tak akan segitu terguncangnya.

***

Saya kutipkan sedikit penggalan kalimat dari papernya (versi 2010) …

“But we must be careful how we assessed Islam? By the behavior of those that are labeled as Muslim or by Muslim teachings?

To what extent do self-declared Islamic countries actually behave as Islamic countries i.e. following Islamic teachings from the Quran and the life and sayings of the Prophet? In other words, are these countries truly Islamic or are they Islamic in name only?

We believe that only once this question is addressed can one begin to measure and/or claim empirically that Islam either deters or enhances human development, human solidarity and economic performance.”

Dan ini penggalan yang menunjukkan berdasarkan apa indeks penelitian ini dibuat :

“Moreover, our examination of Islamic teachings shows that Islamโ€™s guidelines for economic, social, legal, and political practices are in line with todayโ€™s best practices and recommended institutional structures.”

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)
Moslem Countries (gambar : muslim-academy.com)

Kalau ditelaah dengan hati terbuka, penelitian ini justru mengangkat betapa idealnya ajaran Islam dari sisi ekonomi/sosial/hukum/politik jika diterapkan dalam kehidupan bermuamalah setiap manusia. Setiap manusia, bukan muslim doang ;). Ring a bell, yes? Rahmatan lil aalamiin ;).

Siapa pun yang melaksanakan aturan bermuamalah ini insya Allah hidupnya akan sejahtera. Soal bermuamalah kan enggak mandang akidah. Enggak ada cerita kalau dia kafir terus dia menjalankan ekonomi kerakyatan ala Islam maka negaranya tetap akan celaka :p.

Ada pun jika ternyata aturan-aturan ini justru tidak kejadian di negara-negara yang mayoritas muslim (according to the result from this research) itu adalah peer umat muslim bukan? :).

Oh well, saya tak hendak memaksakan siapa pun untuk bisa merenungi hasil penelitian ini. Sebagian memang memilih untuk menganggap penelitian ini sebagai penghinaan kepada umat muslim. Hasil penelitiannya untuk saya malah positif dan menjadi pemacu untuk terus berIslam dengan baik dan benar. Insya Allah.

If you feel offended then be it :). Saya minta maaf karena jelas-jelas itu bukan maksud saya mengangkat hasil penelitian ini dan membagikannya kepada teman-teman semua ^_^.

Ya pokoknya untuk bahan renungan sajalah ya kalau lagi bengong hehehe.

Saya tutup tulisan ini dengan penggalan kalimat yang di-copas dari tulisan bagian 1-nya. Sebuah kritikan dari Buya Syafii Maarif dalam salah satu tulisannya :

โ€ โ€ฆBagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.

Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kaliโ€ฆโ€

***

Kebenaran mutlak milik Allah, kalau ada pernyataan-pernyataan yang kurang tepat/sotoy/gak penting/gak jelas/galau/enggak enak dibaca/dll itu pasti 100% tanggung jawab yang nulis ;).

fotografer Dani Rosyadi

Hate The Sin, Love The Sinner

Setiap tanggal 5 November, ada perayaan khusus untuk masyarakat Inggris. Mereka merayakan saat lolosnya sang Raja dari percobaan pembunuhan oleh sekelompok pemberontak.

Tahun 1605, rencana besar untuk meledakkan gedung tempat raja sedang berada gagal total. Salah satu tokoh pemberontak yang terkenal karena peristiwa tersebut adalah Guy Fawkes.

Namanya kembali samar-samar teringat saat mengunjungi Tower of London dalam rangka jalan-jalan London tempo hari.

Jalan-Jalan London

“The Bloody Tower” adalah salah satu spot yang paling menarik perhatian saat mengunjungi Tower of London. Tempatnya kecil saja tapi isinya horor abis hihihihi *ngikikTegang*. Di ruangan ini dipamerkan berbagai alat-alat penyiksaan zaman dulu kepada para tawanan dalam penjara.

Tower of London memang pernah berfungsi sebagai penjara bagi para penjahat di masa lampau. Makanya langsung ingat pada sosok Guy Fawkes.

Jalan-Jalan London

Dengar-dengar si Guy Fawkes ini termasuk salah satu tawanan yang pernah mencicipi ruang penyiksaan tadi. CMIIW sih hihihi. Secara menara yang paling menarik perhatian turis ini memang punya sejarah yang super panjang dan multi fungsi dari abad ke abad.

Guy Fawkes lahir sebagai seorang Katolik. Tumbuh besar di Kerajaan Inggris saat kerajaan di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth I yang berpaham Protestan. Zaman itu, perseteruan antara Katolik dan Protestan lagi sengit-sengitnya.

Jika yang berkuasa adalah rezim Protestan maka kaum Katolik akan dilarang beribadah. Kalau melawan akan dibunuh. Begitu pula sebaliknya. Walau Kerajaan Inggris lebih kental Protestan-nya, namun pernah juga berada di bawah kekuasaan Katolik.

Guy Fawkes adalah penganut Katolik yang taat. Kesedihannya akan tertindasnya kaum Katolik di bawah kepemimpinan Sang Ratu membawanya terlibat dalam beberapa aksi kekerasan. Hingga akhirnya saat diburu, Guy Fawkes lari ke Spanyol.

Saat itu, Spanyol justru sebaliknya. Spanyol tengah berada dalam kekuasaan Katolik dan tengah menghadapi pemberontakan-pemberontakan dari daerah Holland dan Belgia yang hendak melepaskan diri.

Untuk mengobarkan semangat perjuangan, isu agama mulai dimainkan. Kebetulan pula, para pemberontak mayoritas Protestan. Pihak Kerajaan Spanyol mulai menyewa tentara bayaran untuk menumpas para pemberontak. Guy Fawkes tentu langsung setuju.

Bagi pihak Kerajaan Spanyol, pertempuran murni untuk mempertahankan wilayah mereka. Sementara di mata Guy Fawkes, ini adalah semacam jihad untuk membela ajaran Katolik yang dijunjungnya.

Pertempuran yang sebenarnya hanya masalah perebutan kekuasaan dan keinginan untuk merdeka dari penjajahan disulap menjadi perang agama. How ironic . Ironis tapi manjur untuk mengobarkan semangat juang masing-masing pihak. Hm, sounds familiar, no? ๐Ÿ˜‰.

Jalan-Jalan London

Setelah cukup matang menimba pengalaman di Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris. Di sinilah Fawkes mencoba mencari-cari kesempatan untuk membebaskan belenggu “penjajahan” dari rezim Protestan kepada para penganut Katolik. Bayangkan, mereka dilarang beribadah dan dipaksa menyembunyikan status “Katolik”nya di muka umum. Kalau ketahuan ya nyawa taruhannya.

Akhirnya Guy Fawkes dan kawan-kawannya terpikir untuk menyelundupkan bubuk mesiu ke ruang bawah tanah di Gedung Parlemen tempat raja dan tim penasihatnya berkumpul. Sayang sekali, rencana tersebut gagal total. Guy Fawkes ditangkap, dipenjara dan disiksa sampai mati.

Tapi…itu sejarah dulu . Pertumpahan darah luar biasa memang pernah mewarnai hampir seluruh penjuru Eropa kala ajaran Protestan yang dibawa oleh Marthin Luther di Jerman, mulai bersemi Sekarang sih, di Eropa sudah nyaris tak terdengar lagi indikasiย pertikaian antar agama hehehe.

Buktinya adalah Kerajaan Inggris yang mayoritas Protestan dan Republik Irlandia yang mayoritas Katolik adem-adem saja. Malah hubungannya sudah seperti kakak adik . Saya sempat terpikir, maraknya Atheisme di Eropa jangan-jangan adalah buah trauma mereka dari sejarah di masa lampau. Di mana perbedaan agama bisa mengorbankan sebegitu banyak nyawa. Well, bisa jadi sotoy aja saya-nya, sih. Hahahaha.

Jalan-Jalan London

Bukan hanya itu, lho, agama dulu selalu dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Gereja berhak menghukum mati orang-orang yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan gereja. Kalau tidak salah, Copernicus si pencetus bahwa bumi itu bulat adalah salah satu korbannya. Karena dulu Gereja ngotot kalau bumi itu bentuknya kotak .

Penemuan-penemuan modern di Eropa kala itu malah menjadi momok bagi sang ilmuwan. Kalau ketahuan sama Gereja, tamatlah riwayat mereka. Tidak heran kalau sebagian masyarakat masih terbawa trauma kali ya dengan suasana ini maka memilih jadi atheis saja hihihihi.

Karena sudah sering melihat gereja-gereja di Irlandia, begitu ke London langsung terlihat jelas bedanya hehehe. Maaf kalau lagi-lagi sotoy nih. Sungkem dulu sama teman-teman Nasrani .

Gereja Katolik itu lebih ‘wah’, ya, sepertinya. Lebih banyak pernak pernik. Tapi kalau soal megah atau tidak kayaknya bangunan gereja zaman dulu memang keren-keren . Salah satu pembeda utama, di Gereja Katolik biasanya ada patung Bunda Maria yang menyolok. Sementara di gereja Protestan, patung Bunda Maria tidak begitu istimewa. Seringnya malah tidak ada hehehe.

Saat jalan-jalanย London di akhir Mei kemarin, cuaca sangat tidak bersahabat huhuhu. Kami basah kuyup saat berjalan dari Buckingham ke Westminster Abbey via tepian St. James Park. Sampai berteduh dalam Gereja St.Margareth. Ragu mau masuk soalnya pakai kerudung gini hehehe. Tapi begitu melihat orang-orang India juga ramai berkerumun di dalam jadi ikutan masuk, deh, sambil lihat-lihat.

Jalan-Jalan London

Di Tower of London juga diguyur hujan. Apes banget. Anak saya lagi tidur dalam stroller saat hujan turun deras. Ini nih yang bikin kesal dari tempat-tempat wisata di London. Tangga melulu! Enggak bebas berkeliaran nenteng stroller . Tidak semua tempat kami kunjungi. Itu pun jadinya bagi tugas. Anak sulung saya semangat kan melihat baju-baju besi dan miniatur pasukan berkuda. Jadilah saya berteduh di bawah pohon menemani yang kecil tidur, suami yang berkelana bareng yang sulung. Huhuhuhu.

Jalan-Jalan London

Gagal total syahwat banci eksis-nya hahahahaha :D. Apa harus diulang lagi kah jalan-jalan London ini? :p :p :p

***

Kata orang, kita memang tak bisa mengubah masa lalu. Disesali pun tak ada gunanya. Sudah kejadian. Tapi, kita selalu bisa belajar dari masa lalu dong, ya .

Melihat kondisi umat muslim secara menyeluruh di situasi terkini memang kadang membuat bingung. Saya ingat pernah komen-komenan sama teman dan dia bilang begini, “Sori Je, lo ngomongin agama melulu. Padahal ini gue lagi ngomong masalah kemanusiaan.”

Lah? Kemanusiaan itu adalah bagian terpenting dari ajaran Islam keleussss hehehehe. Nama rasulullah bergema tidak hanya di kalangan muslim tapi diakui sebagai orang berpengaruh nomor 1 karena kehebatannya mengubah wajah kaum Arab di masa itu. Dalam tempo sekitar 23 tahun bisa menegakkan ajaran Islam di muka bumi dan terus ada hingga kini.

Salah satu keutamaan dari beliau adalah…akhlaknya. Akidah yang baik terpancar dari akhlak yang keren ๐Ÿ˜‰.

Jalan-Jalan London

Saat abad kegelapan menguasai Eropa yang mempertentangkan ilmu modern vs ajaran agama, Islam sudah memunculkan banyak cendekiawan-cendekiawan modern sebelum abad ke-10.

Makanya suka heran sama yang nyinyir-nyinyir dengan kedokteran modern. Katanya enggak sesuai sunnah nabi. Gubrak dot com, deh. Coba cari tahu tentang salah satu Bapak Kedokteran Modern yang namanya masih disebut-sebut dalam literatur terkini, Avicenna. Avicenna itu ya Ibnu Sina . Muslim lho, Kakaaaaa ^_^.

Alquran malah jelas-jelas memberi poin plus bagi orang yang berilmu. Yang entah kenapa juga, ilmu tersebut disempitkan oleh sebagian orang menjadi ilmu ‘agama’ saja. Padahal jauh sebelum Eropa memasuki masa keemasannya dalam dunia sains, selain Ibnu Sina, dunia Islam sudah punya Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Musa Al Khuwarizmi, dll.

Umat muslim kudu pinter-pinter . Mempelajari alquran itu kewajiban utama yang memang tidak bisa diganggu gugat. Namun tidak berarti menafikan ilmu-ilmu lainnya. Justru alquran mendorong kita untuk berilmu agar bermanfaat bagi orang banyak bukan hanya untuk bilang, “Kafir lo! Masuk neraka lo!” Hehehehe.

Akhlak, moral dan sebangsanya juga mengapa selalu dinomorduakan kan, ya? Hiks. Padahal biografi-biografi tentang Rasulullah yang ditulis oleh kalangan non muslim selalu memuji-muji moralitas Rasulullah. Kini, yang mencuri perhatian dunia soal akhlak malah Negeri Sakura! Memangnya ada berapa orang sono yang membaca alquran? *pijetPijetKening*.

Penindasan dan kesewenang-wenangan bukan ajaran Islam . Cukuplah perjalanan panjang masyarakat Eropa di masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk kita semua .

“Hate the sin, love the Sinner” -Gandhi-

Dengan catatan di kalangan muslim syarat dan ketentuan berlaku, ya. Berani berbuat berani bertanggungjawab. Hukumnya ada aturan sendiri .

Pening abis ngomong copras capres, baca ginian juga enggak kalah peningnya hahahahahha. Biar enggak pening, nih dikasih foto-foto deh ๐Ÿ˜€.

Semoga menjadi bahan renungan kita bersama (termasuk saya) untuk penyemangat diri sendiri menjadi agen-agen perubahan positif dalam dunia Islam . Rahmatan lil aalamiin lho harusnya ๐Ÿ™‚.

London memang keren tapi mahalnya itu gak nahan euy. Me, no likey! Hahahahahaha.

Jalan-Jalan London

 

Tipping Point, Little Things for Big Differences

Saya dari dulu selalu bertanya-tanya, kenapa ya, diantara saya dan enam saudara kandung saya yang dibesarkan oleh orang tua yang sama dengan metode yang rasanya tidak berbeda bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbeda-beda?

Kalau secara tampang, lumayan banyak yang mirip. Tapi tentu saja, gue dong yang paling kece! Hahahahaha *benerinLipa’Sabbe* ๐Ÿ˜€.

Secara akademis pun kami bisa dibilang banyak yang mirip, lho. Saya yakin sekali, salah satu kakak saya yang menolak melanjutkan pendidikan saat masih di bangku SMA itu punya daya nalar yang tidak jauh berbeda dengan yang lain. Bukti lain, adik saya yang suka dituduh “lemot” waktu kecil hihihi. Prestasi akademisnya dahsyat tuh waktu kuliah.

Tapi, cara kami memandang dan menyikapi beberapa hal itu benar-benar variatif. Yang ujung-ujungnya membawa kami menempuh jalan hidup yang berbeda-beda. Oh well, tentu ada unsur takdirnya. Tapi mengapa, sekali lagi mengapa … didikan orang tua yang sama tidak membuat kami tumbuh seragam?

Ini bukan masalah beda profesi atau semacamnya. Tapi benar-benar perbedaan dalam solving problem dan hal-hal mendasar lainnya. Kepercayaan secara spiritual dari sisi religius misalnya. Seriously, bisa beda-beda gitu euy hehehe. Bukan maksudnya banyak agama tapi gimana ya … ya balik lagi ke cara pandang tadi itu hehehe.

sodarakuuuuu

Padahal ya, hampir semua teori parenting yang saya tahu sepakat bahwa, “Keluarga ada cikal bakal yang paling penting dalam masa depan anak.”

Buku Tipping Point punya jawaban yang sangat memuaskan dari rasa tidak puas saya terhadap ‘tuntutan’ besar dari kebanyakan teori parenting terhadap para orang tua hehehehe . Sungkem dulu sama Ayah Edi dkk .

Bukannya saya menolak bahwa keluarga adalah unsur penting dalam pendidikan sang anak. Penting, dong. Pasti penting. Tapi ternyata adalah benar, beberapa penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki hal ini membuktikan bahwa : peranan LINGKUNGAN ternyata jauuuuh lebih besar. Baca lebih lengkap dalam bukunya langsung ya.

Kesimpulannya, “Anak-anak dari keluarga broken home yang tumbuh di lingkungan baik-baik jauh lebih selamat daripada anak-anak dari keluarga baik-baik yang tumbuh di lingkungan buruk.”

Jadi … masih mau bersikap tidak peduli dan sok-sok buang muka pada lingkungan sosial dengan dalih, “Yang penting gue ngedidik anaknya bener. Bodo amat sama lo-lo pada.” Big NO-NO ya, Dear Parents .

Sesungguhnya, saat menjadi orang tua, adalah tugas kita bersama untuk saling melindungi. Termasuk memperhatikan lingkungan tempat si kecil tumbuh nanti. Jangan malah sibuk membangun dinding dalam rumah sendiri dan berjampi-jampi sendiri, “Asal gue bener, anak gue pasti bener. Udah, gitu aja udah cukup!” .

I’m not saying I’m a good Mom lho ya, Isssh, masih jauh dah pokoknya hahahaha. Mengingat keluhan-keluhan kerabat dan teman terhadap tingkah laku si duo N pas mudik tempo hari hihihihi *tutupMuka*. Mari terus belajar bareng-bareng .

Tanggung jawab kita semua untuk mempersembahkan lingkungan yang berkualitas untuk tumbuh kembang generasi penerus.

***

Buku ini memang membuka wawasan banget . Menerangkan banyak fenomena sosial yang terlihat luar biasa dari sudut pandang yang tak terpikirkan. Asal membacanya dengan pikiran rileks dan terbuka ๐Ÿ˜‰.

tippping point sampul

Salah satu bahasan yang paling menarik soal merokok. Sekian lama kampanye selalu mengarah kepada sugesti betapa berbahayanya merokok itu. Ajaibnya, justru nyaris tidak memberi pengaruh yang berarti, tuh! *pijetPijetKening* .

Tapi ternyata, banyak sekali hal-hal luar biasa yang terjadi yang oleh banyak orang sudah dianggap “mentok” ternyata bisa berbalik arah.

Contoh kasus yang diangkat antaralain menurunnya tingkat kejahatan di New York dalam tempo waktu sangat singkat.

Nah, titik balik inilah yang disebut sebagai tipping point, โ€œThe tipping point is that magic moment when an idea, trend, or social behavior crosses a threshold, tips, and spreads like wildfire.โ€

Kekuatan konsep, pembawa pesan dan isi pesannya sendiri adalah hal-hal yang sama pentingnya. Uniknya, justru pemecahan dari masalah-masalah tersebut berangkat dari hal-hal yang kelihatannya sepele, โ€œThat is the paradox of the epidemic: that in order to create one contagious movement, you often have to create many small movements first.โ€

Tingkat kejahatan di New York yang sudah sangat brutal (pembunuhan, perampokan, perkosaan, penjambretan sudah menjadi makanan sehari-hari kala itu) mendadak menurun tajam di tahun 1992 – 1994. Penurunannya benar-benar drastis yang membuat banyak pengamat bingung sendiri.

Hingga akhirnya penyelidikan mulai dilakukan. Dan terkuaklah sebuah hasil yang di luar dugaan. Bahwa pemberantasan kejahatan ternyata TIDAK dengan memperketat jam malam, menangkapi para penjahat secara besar-besaran (karena cara ini sudah dilakukan sejak belasan tahun sebelumnya), menambah hukuman dan bla-bla-bla standar lainnya.

Simpel sekali. Diawali dengan pergantian 2 posisi penting di pemerintahan New York. Para pejabat baru memutuskan untuk fokus pada kejahatan-kejahatan ‘remeh’.

Dengan rutin, terstruktur, masif dan sistematis #Eaaaaaaa, aparat menangkap siapa saja yang tertangkap hendak naik kereta tanpa tiket. Mereka bahkan menyiapkan bus khusus untuk memproses para pelanggar kejahatan dengan birokrasi yang cepat dan tidak bertele-tele.

Kepala Stasiun yang baru malah memerintahkan anak buahnya untuk rajin menghapus apa pun grafiti iseng yang sudah sering dilakukan para preman di badan-badan kereta. Tiap hari, badan kereta dibersihkan. Dicoret lagi, dibersihkan lagi, dicoret lagi dibersihkan lagi.

Unik kan? Sementara kota sedang terjerat dalam kejahatan-kejahatan massal tingkat tinggi macam perampokan-pembunuhan-perkosaan dll, mereka kok malah ngurusin coretan iseng di badan kereta dan orang yang ogah beli tiket!!!

Nah, inilah yang dinamakan “kekuatan konsep”. Para pejabat baru mencoba menerapkan apa yang disebut “Teori Jendela Pecah.” Ada titik-titik dasar yang menjadi pemicu akan terjadinya kejahatan yang lebih besar dan beruntun.

Sementara kita suka kebalik kan mikirnya . Misalnya kasus korupsi. Banyak bener tuh yang nyinyirin KPK karena beraninya sama yang cimik-cimik doang hihihi. Maunya ditangkap dulu yang kelas kakapnya. Tanpa mungkin kita sadari, si kakap-kakap ini tumbuhnya dari teri-teri kecil yang terus bermetamorfosis menjadi kakap karena dukungan lingkungan yang ‘asoy’ .

Kita sering menghabiskan energi untuk mengurus hal-hal besar yang kita tahu butuh effort yang tidak sedikit dengan harapan hasilnya lebih dahsyat.

Tapi ternyata … usaha keras macam itu ternyata sering tidak menghasilkan perubahan yang signifikan . Quote dari bukunya, โ€œThat is the paradox of the epidemic: that in order to create one contagious movement, you often have to create many small movements first.”

Ini masalah perubahan pola pikir saja sih, ya.

Misalnya dalam Pilpres tempo hari sering saya mendengar kampanye teman-teman yang mengajak kita untuk benci sama Amerika Serikat misalnya. Apa coba? hihihihi.

Kita sudah terlanjur terjebak bahwa untuk melepaskan diri dari sesuatu kita harus MEMBENCInya terlebih dahulu. Gampangnya kan gitu . Habis mau ngapain? Ayo kita lawan dengan permusuhan. Musuhin Amerika Serikat? Terus apa gitu yang dicari?

Kalau masih mentok di pola pikir seperti ini, kalau buku Tipping Point masih dirasa terlampau berat, tontonlah film “How to Train Your Dragon” baik yang edisi 1 maupun 2 . Film ringan dengan sarat pesan moral keren.

Adalah seorang Hiccup yang berhasil menawarkan solusi ‘lain’ kepada warga desa Berk terhadap keberadaan Naga yang sudah sekian lama dianggap menyengsarakan. Naga adalah musuh. Titik. Tidak ada cara lain selain melawan.

Seperti juga ketika Hiccup mencoba nekat membujuk Drago dengan jalan damai untuk berhenti menangkapi para naga. Instead of menuruti saran ayahnya untuk tetap bertahan di Berk, menunggu Drago datang untuk selanjutnya melawan habis-habisan. Mainstream sekali kan? .

Tapi tentu saja, hidup tidak sesederhana itu, ya. Seperti Hiccup pun yang harus menyaksikan kematian ayahnya sebagai harga yang harus dibayar untuk ‘solusi lain’ yang diyakininya. But it’s always worth a try .

Kepedulian adalah kunci utamanya. Peduli untuk membuat perubahan dan peduli untuk tidak membuat keadaan lebih buruk.

Termasuk…peduli sama calon pemimpin bangsa kita dong ya ๐Ÿ˜‰.

Mungkin, sudah saatnya kita mencari pendekatan yang lain. Apa sih untungnya menantang sang Negeri Jantung Dunia dengan bersikap songong? .

Dunia tidak berputar seperti itu. Globalisasi adalah hal yang tak terhindarkan. Kita ini makhluk sosial. Termasuk dalam bernegara dan bersosialisasi di kancah internasional. Jangan berusaha membangun simbiosis yang bersifat parasit atau dengan cara balas dendam. Masih ada pilihan simbiosis mutualisme kan?

Mengapa harus terus membenci pihak lain? Kita miskin karena kita kecurian melulu? Hidup kita begini-begini saja ini pasti ulah si anu-anu-anu? Kita ini sebenarnya punya sumber daya alam luar biasa bla bla bla. C’mon, pesan Anies Baswedan, “Kekuatan terbesar sebuah bangsa adalah sumber daya manusianya, bukan sumber daya alamnya!” Yes? ๐Ÿ˜‰.

Cara kita memandang seorang pemimpin juga perlu direvolusi, nih . Postur tegap, wajah berwibawa, bibit-bobot-bebet dari kalangan ‘atas’, tegas jadi dianggap bisa nakut-nakutin (entah siapa yang mau ditakut-takutin hihihihi) … situ mau cari majikan atau pemimpin sih? Hahahahahahhaha .

Pemimpin adalah mereka yang bisa membawa perubahan. Mereka yang sanggup menjadi ‘trend setter’ akan hal-hal yang selama ini sudah sedemikian langkanya dilakukan hingga sedikit-sedikit kita mencibir dengan menuduh “Pencitraan lo!”

Sudah sekian lama kita dijerat oleh keadaan bahwa pemimpin itu ya memang harus ‘arogan’, harus fokus sama hal-hal besar aja enggak boleh kepo sama yang remeh-remeh, visi misi harus pokok-pokoknya aja ngapain ngurusin detail-detail, harus berpenampilan dan bersikap ‘wah’ jangan terlalu suka berbaur sama rakyat nanti hilang wibawa endebre, endebre, endebre … nah balik lagi, nyari majikan atau nyari orang yang bisa membawa kita ke perubahan yang lebih baik nih?

Buktinya seseorang telah hadir dengan cara tak terduga ๐Ÿ˜€. Jokowi datang dengan model kepemimpinan yang eksentrik.

jokowi culun hehe

Disangka lembut dan lemah tapi di Solo dulu hobinya mecat-mecatin camat yang ogah-ogahan dengan peraturan yang ditetapkannya. Disangka boneka partai tapi semasa jadi walikota pernah melawan Pak Gubernur yang merupakan senior di partai yang sama tapi tetap mencium tangan beliau tatkala bertemu kembali di mana Jokowi sudah resmi menjabat posisi DKI-1 . Little things that count .

Kehadirannya membuat media ramai-ramai mulai menyoroti pemimpin-pemimpin daerah lain yang tak kalah eksentriknya. Dimulai dari Jokowi, datanglah Risma-Ridwan Kamil dll yang juga menjadi media darling, mengimbangi peningnya kepala dengan kasus-kasus korupsi yang bikin emosi jiwa gak abis-abis hahahahahahha :p.

Biarlah lebay, but who knows … beliau adalah Tipping Point bagi perubahan yang sudah kita tunggu-tunggu. Tidak ada memang jaminannya. Manusia bisa berubah, Jokowi pun bukan tak mungkin akan berbalik arah dari yang selama ini kita idam-idamkan. Memangnya kita bisa apa? Kita doakan saja , sambil kita kawal terus pastinya .

Dikawalnya mbok ya yang sabaaaarr. Jangan dikit-dikit protes, dikit-dikit kritik, dikit-dikit ngamuk hihihihi.

Dari halaman terakhir buku “Tipping Point” saya kutipkan sekali lagi, “Coba perhatikan dunia sekitar anda. Kelihatan seperti mustahil untuk diubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian. Dengan dorongan seringan-ringannya – asal di tempat yang tepat – apa pun dapat kita ungkit.”

gambar : apex-leadership.co.uk
gambar : apex-leadership.co.uk

 

Pelihara terus harapan kita sama-sama. Untuk Indonesia yang lebih baik. Untuk lingkungan yang lebih berkualitas. Kalaupun tidak untuk kita (soalnya udah telat yak hihihi) setidaknya untuk tumbuh kembang anak cucu kita nantinya .

Selamat bertugas Pakde Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla untuk periode 2014-2019. Sudah sah? Sah!!!

Salam 3 jari! (akhirnya publish juga hahahahahaha).

***

Resensi Novel Arok Dedes

Dang Hyang Lohgawe untuk kedua kalinya mendehem, “Katakan apa yang kau ketahui, bukan pendapatmu tentangnya. Ayoh.”

“Ya Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat.”

“Baik, aku harus percaya kau telah mengetahui semua itu, dan kemudian berpendapat. Aku harus percaya bukan sebaliknya yang terjadi. Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa dipercaya.”

Demikian salah satu kutipan di dalam novel “Arok Dedes” yang paling menohok buat saya. Sejalan dengan keyakinan dalam agama saya, betapa orang yang memiliki ilmu/pengetahuan memang dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi ๐Ÿ˜‰.

Jadi, setop asbun (asal bunyi) dan asma (asal mangap) ya … untuk kita semua walau tak hendak menjadi sebijaksana seorang brahmana ๐Ÿ™‚.

Jangan suka latah share-share info enggak penting apalagi pakai dibumbui kebencian enggak jelas . Pastikan kita tahu latar belakang sedalam-dalamnya sebelum menceburkan diri ikut campur dalam masalah tertentu . Ingat, berpendapat tanpa berpengetahuan itu efeknya tidak sepele.

Novel 500 an halaman ini bukan karya penulis sembarangan. Pramoedya Ananta Toer, gitu lho ๐Ÿ˜€.

Ketertarikan pertama tentu saja karena sinopsis buku yang sudah menyebut-nyebut tentang sejarah kerajaan Jawa. Jadi makin pengin bikin resensi novel Arok Dedes. Ini kisah tentang sebuah kudeta penting yang menjadi awal berdirinya banyak kerajaan besar di abad-abad ke-13 hingga 15 di tanah Jawa.

Kisah Ken Arok yang menggulingkan Tunggul Ametung yang pernah saya tahu kayaknya diceritakan dengan ala-ala mistis. Sering dihubung-hubungkan dengan kutukan keris Mpu Gandring. Nah, novel ini menguraikan kejadian tersebut secara lebih menyeluruh dengan mengambil sudut pandang sekaligus dari 3 pelaku sejarahnya : Ken Arok, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

Arca Prajnaparamitha yang juga dikenal sebagai Ken Dedes (gambar : id.wikipedia.org)
Arca Prajnaparamitha yang juga dikenal sebagai Ken Dedes (gambar : id.wikipedia.org)

 

Tak hanya mengurai masa lalu Arok secara tuntas, menuliskan siapa sebenarnya Tunggul Ametung dan menceritakan latar belakang seorang Dedes saja, novel ini juga tidak mengabaikan asal muasal peristiwa jauh ke belakang. Pasca berdirinya Kerajaan Hindu yang dipimpin oleh Erlangga.

Erlangga diceritakan sebagai raja Hindu pertama yang berasal dari kasta Sudra. Raja yang sama yang menghapuskan kasta Waisya dan Paria. Erlangga hanya mengakui 3 kasta di bawah kepemimpinannya : Brahmana, Ksatria, dan Sudra.

Lenyapnya kasta Paria membuat kerajaan seharusnya terbebas dari perbudakan. Banyak juga diceritakan soal apa yang terjadi pada Kerajaan pasca Airlangga lengser. Peristiwa terpecahnya kerajaan menjadi Panjalu (Kediri) dan Jenggala hingga disatukan kembali menjadi Kerajaan Kediri.

Bukan hal yang mudah untuk menyatukan Jenggala dan Kediri. Nyawa seorang perempuan harus dikorbankan. Kedua belah pihak hendak menjodohkan putri mahkota Panjalu dan putra mahkota Jenggala. Apa daya, sang putra mahkota telah terlebih dahulu terpikat pada anak seorang patih Jenggala. Cerita selengkapnya lihat di novelnya saja.

Dramanya mantap, euy. Dasar ratu drama!! Hahahahaha ๐Ÿ˜€.

Kisah Arok dan Tunggul Ametung terjadi di masa pemerintahan Sri Kretajaya. Kretajaya kembali ‘melegalkan’ perbudakan. Secara umum, kepemimpinannya semakin menjauhkan diri dari kesejahteraan masyarakat yang dulu pernah dirintis dan disukseskan oleh Erlangga.

Tunggul Ametung yang menjadi akuwu di Tumapel berusaha diusik kepemimpinannya oleh kalangan brahmana yang akhirnya sepakat mengutus Arok. Arok sendiri adalah keturunan Sudra yang memiliki kemampuan Ksatria dan jiwa seorang brahmana.

Kalau lihat Arok udah semacam Catatan si Boy gitu lah. Tapi ganteng sih enggak hahahahaha. Ini terlihat dari deskripsi Dedes yang menggambarkan Arok sebagai “orang Sudra pada umumnya”. Yang kece-kece itu biasanya keturunan Brahmana soalnya :p.

Harap dicatat, saat mencocok-cocokkan dengan wikipedia, ternyata tokoh Arok dan Dedes ini nyaris dicap sebagai tokoh fiktif. Saya jadi berpikir, mungkin saja penggambaran Arok dalam novel ini adalah keinginan pribadi Pramoedya Ananta Toer akan image seorang pemimpin yang diidam-idamkan.

Akur deh sama Om Pramoedya. Ganteng memang tidak pernah menjadi indikator saya dalam memilih pemimpin . Dulu milih SBY lebih karena orangnya kelihatan tenang dan tidak grabak grubuk. Ini apa sih, mau nulis resensi apa copras capres lagi???? Hahahahahahahha .

Membaca buku ini membuat saya jadi bertanya-tanya, “selain enggak ganteng, kekurangannya Arok ini apa coba?”

Arok sangat-sangat cerdas sampai membuat 2 gurunya, Tantripala dan Lohgawe terpesona habis-habisan pada anak sudra ini . Latar belakangnya yang tidak jelas membuat Arok sampai diasuh oleh 2 keluarga. HIngga di kemudian hari, Arok tak pernah lupa pada jasa orang tua asuhnya. Good boy banget lah.

Arok pun terkenal pemberani dan sangat pandai merancang taktik penyerbuan. Hatinya lembut dan nyaris tanpa hawa nafsu. Walau memang akhirnya jatuh hati pada Dedes yang unyu, Arok sudah terlebih dahulu menikahi Umang, saudara angkatnya yang selalu sempat disesalinya mengapa tak berwajah rupawan. Tapi Arok tak pernah lupa ada kebaikan adik angkatnya ini ๐Ÿ™‚.

Arok sangat gemar melakukan pendekatan langsung kepada rakyat jelata hingga ke lapisan terbawah. Dia suka mencuri untuk membela orang-orang tak mampu ala-ala Robin Hood gitu. Iiiiihhh, Arok masa suka blusukan juga coba. Jangan-jangan Jokowi ini titisan Arok neh hahahahahahaha.

Apa novel ini juga novel pencitraan? Kan sekarang apa-apa pencitraan, dikit-dikit pencitraan . For info, novel ini selesai ditulis di penghujung tahun 1976 ๐Ÿ˜‰.

Saya sempat dibuat bingung dengan istilah-istilah Hindu Syiwa dan Hindu Wisynu. JUga ternyata ada dewa khusus bagi kaum Sudra yang namanya Hyang Pancagina.

Wah, ternyata kepercayaan Hindu pun tak lepas dari pertikaian internal . Macam Protestan vs Katolik atau di umat muslim juga ada perbedaan yang tidak kalah runcingnya antara Sunni vs Syiah. Tapi saya kurang tahu apakah Hindu Syiwa dan Hindu Wisynu ini masih ada sampai sekarang. CMIIW buat teman-teman yang beragama Hindu, ya. Maaf kalau saya nangkapnya salah.

Pertentangan antara penganut Syiwa dan Wisynu ini juga yang mewarnai perselisihan antara kaum Brahmana dan kepemimpinan Erlangga dan setelahnya.

Saya menangkapnya gini, mayoritas Brahmana itu adalah Syiwa. Sementara Sri Erlangga adalah seorang Wisynu. Kalau dibaca-baca lagi, Erlangga di mata kaum Brahmana-Syiwa ini pasti dicap liberal dah hahahahaha.

Erlangga memang dikenal sebagai raja dengan toleransi sangat tinggi. Erlangga melindungi Hindu Syiwa, HIndu Wisynu, dan juga Buddha :).

Sri Erlangga
Sri Erlangga


Arok sendiri mendapat kesempatan untuk belajar yoga dan beberapa kitab Buddha dari salah seorang gurunya, Tantripala. Sempat Arok terpikir Tantripala ini sebenarnya seorang brahmana yang sudah menganut Buddha. Maklum, buat kalangan brahmana Hindu, haram hukumnya mempelajari apa pun yang berbau Buddha.

Nah, kaum Brahmana Syiwa merasa Erlangga sudah melecehkan mereka saat Erlangga melarang penghancuran candi-candi Buddha dan mengizinkan kepercayaan lain hidup berdampingan dengan damai. Ya iya kaleeee, Erlangga pan katanya Hindu Wisynu toh ya? *garukGarukKepala*.

Tapi, kaum Brahmana tetap memuji-muji Erlangga yang menghapuskan perbudakan dan banyak membangun infrastruktrur layanan publik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. Banyak sistem irigasi positif dan masif yang dipelopori oleh pemerintahan Sri Erlangga . Mungkin tepatnya, terstruktur masif dan sistematis? Nyepet mulu kauuuuu hahahahahahaha .

Ah, sejarah selalu berulang. Maunya sejahtera tapi enggak mau kalau sejahteranya harus barengan sama orang kafir? . Puas dengan kepemimpinan tapi meributkan soal kepercayaan pribadi? Ahok mana Ahok? ๐Ÿ˜€.

Mpu Gandring juga memiliki porsi tersendiri dalam kisah ini. Jauh banget deh dari yang selama ini saya tahu hehehe. Tentu saja tokoh Kebo Ijo yang memang sering disebut-sebut dalam kisah Tunggul Ametung vs Arok juga tidak luput dari novel yang ini.

Penulis juga sangat rapi dan konsisten dalam menyampaikan pesan tersirat, betapa laki-laki tak pernah mudah mengalahkan 3 penakluk utamanya : harta, tahta, dan wanita. Yang merasa wanita, boleh *benerinPoni* ramai-ramai hihihihi .

Jangan terkecoh dengan embel-embel “roman” di sampul buku. Kisah cinta antara Arok dan Dedesnya ternyata sambil lalu saja, kok . Filsafat Hindu yang kental justru merupakan nafas utama dari isi novel.

Awalnya agak kagok dengan gaya bahasa dan istilah-istilah HIndu yang digunakan. Tapi jadi senang soalnya jadi belajar dan mendapat harta baru. Hey, ilmu itu adalah harta yang paling menyenangkan, bukan? . Mudah didapatkan (kalau mau) dan mudah dibawa ke mana-mana serta tak pernah memberatkan pemiliknya ^_^.

Saya beri bintang 4.5 (out of 5) untuk novel ini. Semata karena saya kurang puas mengapa tokoh Arok kurang tajam pemaparan karakternya. Sotoy deh awwww, biasa nonton gosip artis, sok-sok pula mengkritisi karya pujangga besar. Hahahahahha.

Saya menikmati sekali falsafah-falsafah HIndu yang bertebaran di sepanjang cerita. Penokohan yang mendalam. Penceritaan yang lengkap yang membuat kita akhirnya merenung bahwa memang tak ada manusia yang sempurna. Yang paling jahat itu hawa nafsu. Manusia pada intinya narsis dan ingin diperhatikan. Merasa benar sendiri itu sudah penyakit kronis sejak dahulu kala.

Bahwa kejahatan kadang tak datang karena niat tapi karena ada kesempatan. Eh, jadi ingat Bang Napi! Hihihihi.

Tapi benar sih, sesuai lho dengan buku Tipping Point yang memaparkan bahwa tak adil jika kita menilai karakter seseorang dari tindak tanduknya semata. Kondisi lingkungan dan situasi saat itu dan latar belakang justru selalu menjadi hal penting untuk disajikan. Dan penulis berusaha keras untuk tidak menjatuhkan penghakiman pada tokoh mana pun tapi lebih memilih menyajikan data-data sebanyak mungkin. Yang ditarik jauh dari belakang hingga kini. Kesimpulan tentu terserah yang baca .

Soal teori menarik dari buku Tipping Point ini tak cukup satu paragraf. Kapan-kapan dibikinin tuilsan khusus mumpung bukunya udah ketemu.

Salut luar biasa untuk penulis novel ini . Wah, kayak apa itu yah observasinya bisa membuat novel yang begitu “hidup” mengingat setahu saya Pramoedya Ananta Toer bukan penganut Hindu kan, ya? Jadi penasaran mau baca buku-buku Pak Pram yang lain . Ke mana aja gue? Kebanyakan nonton infotainment sih hihihi *ngikikTukangGosip*,

Komentar pamungkas saya untuk novel ini, “Jagad Dewa! Jagad Pramudita! This novel is one the best!”

500 an halaman, Kakaaaaa ๐Ÿ˜€.  Selamat membaca ^_^.

Sampul buku "Arok Dedes"
Sampul buku “Arok Dedes”

Ya bisa dimulai dengan membaca resensi novel Arok Dedes nya dulu kali di sini hihihi.