Yang Megah Nan Gratis :D … Natural History Museum London

Bete, bosan, monoton. Begitu biasanya ya pikiran kita kalau dengar kata “museum” :D. Tapi coba, deh, main-main ke Natural History Museum yang London punya. Beuh, tempatnya gede banget dan sangat atraktif. Bukan hanya untuk anak-anak, seluruh anggota keluarga juga bisa puas.

Gerbang masuk Natural Museum History
Gerbang masuk Natural History Museum

Sebenarnya di negara-negara Eropa umum nih yang namanya Natural History Museum. Di Bern (Swiss) kemaren juga sempat ke sana. Di Dublin juga ada :D. Tapi belum ketemu yang semegah dan sekeren yang di London :p. Hebatnya lagi, di London museumnya … gratis! *pakeToa* hahahaha.

Tidak 100% gratis. Untuk atraksi dan pameran tertentu yang sifatnya temporer tetap harus bayar. Kurang begitu ingat bayarnya berapa. Misalnya saat musim semi 2014 saya ke sana, ada pameran khusus Ice Age gitu. Aura-aura Mammoth dari pintu masuk sudah banyak brosurnya :D.

Alasan utama ke Natural History Museum London apalagi kalau bukan … dinosaurus! Hahaha. Anak-anak sudah kepalang cinta mati sama dinosaurus. Center Hall-nya yang legendaris yang memajang fosil dino yang segede gaban itu kan sering banget muncul di tipi atau di manalah.

Natural History Museum Center Hall
Center Hall – Natural History museum London

Tapi sebenarnya NHM-London isinya jauh lebih komplit. Namanya juga Natural History yak :D, tidak hanya meliputi hewan dan tumbuhan tapi juga segala sesuatu yang hidup di bumi sejak zaman baheula.

Masa Lalu Bumi dan Isinya 

Di pintu masuk yang berhadapan dengan Victoria-Albert Museum, begitu melewati pintu ada eskalator tinggi untuk ke atas yang akan melewati sebuah bola raksasa semacam bola dunia gitu. Di atasnya nanti ada ruang untuk menerangkan struktur bumi dan isinya dari dulu hingga sekarang. Lengkap dengan proses perubahannya. Duh, enggak banget ya dengernya hahahaha.

Natural History Museum London The Escalator
Penampakan si eskalator

Don’t worry, tata ruangnya cakep banget <3. Langit-langit yang tinggi, pencahayaan yang dibuat remang-remang, display barang-barang yang mengandalkan miniatur kecil yang bergerak dan simulatif, rak-rak kaca di mana-mana, bikin kita enggak bosan ngeliatnya ^_^. Coba dulu di sekolahan belajarnya pakai ala-ala kayak gini ya hahaha.

mama di NHM

Anak-anak tadinya bosan, dari luar mereka udah ribut, “Where’s the dino, where’s the dino…”

Tapi karena banyak alat peraga yang model simulasi dan bisa mereka utak atik sendiri akhirnya pada asyik sendiri :). Tayangan video juga banyak dan seru-seru. Film-film yang diputar pendek-pendek jadi gak perlu bete lihat lama-lama.

Pembentukan bumi segala macam gak lepas dari batu-batuan. Nah, ruangan ini cucok deh buat emak-emak yang doyan perhiasan! Hihihi. Jangan bayangin lahar-lahar panas dan batu-batuan sedimen kayak di buku-buku sekolah dulu ya :p. Soalnya di ruangan ini juga lengkap dengan batu-batu permata-permata yang sudah dibentuk cantik-cantik gitu.

Sayang nih gak punya foto lebih close up. Padahal ada juga rak-rak yang memajang perhiasan-perhiasan batu berharga yang pernah dikenakan oleh anggota-anggota Kerajaan Inggris. Seperti bros, anting-anting dan anak kalung :).

ruang permata

Dinosaurs-Stuff

Tapi anak-anak terus saja yeeeeee, “We want dino! Dino, dino, dino!” Jadi gak lama-lama di ruangan bumi dan tetek bengeknya tadi.  Lagian tempatnya gede bingits. Ada beberapa lantai pula. Banyak yang ke-skip.

Langsung deh kita nyari jalan menuju center hall, biar terpuaskan ini dahaga bocah-bocah hahaha.

central hall 1
Center Hall again, from another point of view ^_^

Nah, pintu masuk menuju ruang peraga fosil-fosil dinosaurus tuh dekat-dekat area Center Hall ini. Lumayan, ya, pengunjungnya. Padahal bukan hari libur, lho. London memang termasuk kota wisata dunia peringkat-peringkat teratas. Apalagi musim semi pula saat itu.

Pantas saja banyak tempat wisata gratisan di London. Dapat banyak support kali ya dari jumlah turis yang membludak di hampir sepanjang tahun.

Nih, suasana antrian sekitar jam 10 pagi mau masuk museum 😀

antrian masuk

Back to dino-dino-an hihihi.

Ruang peraga fosil dinosaurus ada 2 lantai. Awalnya dimulai dari lantai atas dulu. Fosilnya kan gede-gede. Jadi menjulang hampir menyentuh langit-langit. Ada semacam jembatan panjang untuk melintasi ruang peraga dari ujung ke ujung sebelum menuju lantai bawah.

Kalau dari atas kan cuma bisa lihat-lihat plus foto-foto saja. Jangan khawatir entar kalau sudah di lantai bawah bisa pegang-pegang dan lihat dari dekat, kok ;).

fosil dari atas

 

Di atas juga anak-anak sudah teriak-teriak kesenangan. Kiri kanan kan penuh fosil, tuh. Nampak udah gak tahan liat langsung dari bawah hahaha. Tapi jalannya gak bisa cepet-cepet, penuh, euy *ngelapKeringat*. Antriannya panjang.

lihat dino dari atas

Pas sudah di bawah, baru agak lowong. Karena yang lantai atas kan memang cuma jembatan satu arah gitu aja. Di bawah baru leluasa mau ke sisi yang mana. Karena ruang peraganya memang luas.

Paling lama lah menghabiskan waktu di ruangan ini. Padahal ruangan ini  mungkin cuma 10% nya dari Natural History Museum London secara keseluruhan. Masih buanyaaakkk ruang-ruang peraga hewan-hewan lainnya.

Ruang Peraga Hewan non-Dino(s)

Setelah sukses menggeret bocah-bocah untuk move on dari Dino-dino-an, kita menuju ruangan yang lebih edan lagi gedenya hahahaha. Ini nih tempat untuk melihat hewan-hewan lainnya.

Komplit. Hewan kecil yang tidak bertulang belakang macam segala kerang sampai jenis-jenis serangga yang ajegile banyaknya, sampai hewan bertulang belakang mulai dari burung, ikan, mamalia, amfibi dan reptil.

Ruangan-ruangannya disekat-sekat dibedakan jadi beberapa warna. Seperti binatang laut kayaknya ada “Blue Room”. Yang oranye dan hijau lupa buat yang mana hihihi. Gini nih, jalan-jalannya kapaaaannn, ditulisnya kapan-kapan hahaha.

abil fosil

Capek juga muterin ruangan-ruangannya. Banyak juga yang tidak sempat kami masuki. Ada juga yang hanya sekilas-sekilas lewat saja. Enggak akan keburu. Niatnya memang maksimal 4-5 jam saja di sana. Liburan ke London tempo hari kan cuma 4 hari saja. Ya mana cukup emang sih huhuhu.

Belum lagi anak-anak kan excited banget ya melihat yang seru-seru. Apalagi ada fosil segede ini nih misalnya. Ini jenis hewannya memang lengkap. Dari yang purba sampai yang modern. Ya suds, mari kita foto-foto ^_^.

fosil gede foto sama abil

 

Dari sini  memang kayaknya energi sudah loyo. Sudah telat juga untuk makan siang. Tadi kan nyampe sekitar jam 10. Keliling-keliling di bagian hewan-hewan-an segala macam ini sudah menjelang jam 2 siang.

Anak-anak juga sudah enggak konsen. Tapi tetap kita paksakan pengin ke ruangan yang memamerkan mamalia gede-gede itu. Ini kita udah survey di situs Natural History Museum London sebelum berangkat :D.  Kita sudah tahu tempatnya memang dahsyat luasnya jadi sudah dipilih-pilihin kira-kira sempatnya dan enaknya itu ke mana saja.

Apalagi anak saya yang nomor 2, umurnya waktu itu masih 3 tahun, belum begitu paham aneka macam hewan. Demen dinosaurus juga ikut-ikutan abangnya. Abangnya sih memang senang segala jenis. Lihat ini teriak “Wow, superrrr…”, lihat itu bisa menganga, “Isn’t it great?”

Si nomor 2 tahunya yang standar-standar saja. Macam gajah, ikan yang besar-besar, jerapah, pokoknya yang gitu-gitulah. Lihat macam-macam serangga juga lempeng aja mukanya hahahaha. Saya juga enggak demen, sih, sama serangga-serangga-an hihihi.

Nah, di ruangan ini dipajangin hewan-hewan ‘standar’ tadi dalam ukuran aslinya. Anak-anak ya pasti ber-wow-wow ria lagi :D.

other animals

And…that’s a wrap! ^_^

Memang, banyak yang belum sempat dijamah *halahhh*. Kayaknya seharian di sana juga enggak bakal bisa menjelajahi keseluruhan areal :D. Belum lagi kita sama sekali enggak ngintipin pameran-pameran temporernya. Abis bayar sih … hahahaha.

Enaknya  kalau tinggal di London. Mentok dikit ajak saja anak-anak muter di sini ;).

How to get to Natural History Museum London?

Lokasinya di Cromwell Road, London.

Umumnya, jalan-jalan di London enak juga kalau menggunakan fasilitas kereta bawah tanah yang namanya London Tube :D. Enak. Cepet enggak pakai macet.

Kalau sudah pernah ke Singapura ya model-modelnya mirip MRT gitu. Tapi di London LINE-nya jauh lebih banyak. Jelas, bakal lebih pusing. Perhatikan benar-benar ya LINE-nya. Walau banyak LINE yang juga berhenti di stasiun yang sama.

Untuk ke Natural History Museum London sendiri, silakan turun di stasiun South Kensington. LINE-nya bisa pilih dari 3 LINE berikut : Districts, Piccadilly, dan Circle.

Dari stasiun tinggal jalan kaki saja kok. Banyak banget itu petunjuknya, Ikutin saja. Rata-rata yang turun di sini memang banyakan turis dan tujuan utamanya ya ke museum :D. Museum di seputaran South Kensington ada beberapa.

Seperti yang saya sebut di awal, ada Victoria dan Albert Museum juga. Sebelah-sebelahan dengan Science Museum. Dua-duanya berhadapan dengan bangunan Natural History Museum London tadi.

Naik bus juga bisa. Silakan melalui bus dengan rute nomor 14, 49, 70, 74, 345, 360, 414, 430, dan C1. Setopnya dekat-dekat Museum semua.

Naik mobil kurang cucok karena parkiran terbatas banget di sana. Lagian kalau ada kendaraan umum selengkap itu ngapain lagi sih maksa naik mobil pribadi ;).

Informasi lebih lengkap soal how to get to the museum boleh di lihat di sini, ya.

Penampakan museum dari luar, dari arah belakang
Penampakan museum dari luar, dari arah belakang

***

Seru kan museumnya? :D.

Agak capek muter-muter yang penting semua hepi dan terhibur. Nih si muka-muka tengil yang habis keliling-keliling museum tadi hihihi.

abil sama narda

Biaya masuk  museumnya memang gratis. Masalahnya, ongkos dari tanah air ke London mang berape tiket dan akomodasinya? Hahhahahaha :p.

Saya sendiri juga bisa melipir ke London karena kebetulan lagi bermukim di Irlandia, tetangga dekat UK, si Negeri Kerajaan ini :D. Tiketnya murmer. Don’t worry, rezeki mah siapa yang tahu ;).

Kapan-kapan diceritain strategi akomodasi kita selama di sana :D. Juga  berbagai tempat lain yang dikunjungi yang mayoritasnya gratis (hahahaha) yang belum sempat ketulis padahal sudah setahun yang lalu ke sananya :p. Kejar-kejaran sama cerita jalan-jalan di Swiss :D.

Oke ya, yang terakhir dari Natural History Museum London, the one and only … the magnificent T-REX! 😀 😀 😀

Natural History Museum London T-Rex

Ini bukti lain bahwa bocah-bocah ini tergila-gila dengan hewan purba yang namanya ribet-ribet ini hihihihi. Enjoy their video :p

fotografer Dani Rosyadi

Hate The Sin, Love The Sinner

Setiap tanggal 5 November, ada perayaan khusus untuk masyarakat Inggris. Mereka merayakan saat lolosnya sang Raja dari percobaan pembunuhan oleh sekelompok pemberontak.

Tahun 1605, rencana besar untuk meledakkan gedung tempat raja sedang berada gagal total. Salah satu tokoh pemberontak yang terkenal karena peristiwa tersebut adalah Guy Fawkes.

Namanya kembali samar-samar teringat saat mengunjungi Tower of London dalam rangka jalan-jalan London tempo hari.

Jalan-Jalan London

“The Bloody Tower” adalah salah satu spot yang paling menarik perhatian saat mengunjungi Tower of London. Tempatnya kecil saja tapi isinya horor abis hihihihi *ngikikTegang*. Di ruangan ini dipamerkan berbagai alat-alat penyiksaan zaman dulu kepada para tawanan dalam penjara.

Tower of London memang pernah berfungsi sebagai penjara bagi para penjahat di masa lampau. Makanya langsung ingat pada sosok Guy Fawkes.

Jalan-Jalan London

Dengar-dengar si Guy Fawkes ini termasuk salah satu tawanan yang pernah mencicipi ruang penyiksaan tadi. CMIIW sih hihihi. Secara menara yang paling menarik perhatian turis ini memang punya sejarah yang super panjang dan multi fungsi dari abad ke abad.

Guy Fawkes lahir sebagai seorang Katolik. Tumbuh besar di Kerajaan Inggris saat kerajaan di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth I yang berpaham Protestan. Zaman itu, perseteruan antara Katolik dan Protestan lagi sengit-sengitnya.

Jika yang berkuasa adalah rezim Protestan maka kaum Katolik akan dilarang beribadah. Kalau melawan akan dibunuh. Begitu pula sebaliknya. Walau Kerajaan Inggris lebih kental Protestan-nya, namun pernah juga berada di bawah kekuasaan Katolik.

Guy Fawkes adalah penganut Katolik yang taat. Kesedihannya akan tertindasnya kaum Katolik di bawah kepemimpinan Sang Ratu membawanya terlibat dalam beberapa aksi kekerasan. Hingga akhirnya saat diburu, Guy Fawkes lari ke Spanyol.

Saat itu, Spanyol justru sebaliknya. Spanyol tengah berada dalam kekuasaan Katolik dan tengah menghadapi pemberontakan-pemberontakan dari daerah Holland dan Belgia yang hendak melepaskan diri.

Untuk mengobarkan semangat perjuangan, isu agama mulai dimainkan. Kebetulan pula, para pemberontak mayoritas Protestan. Pihak Kerajaan Spanyol mulai menyewa tentara bayaran untuk menumpas para pemberontak. Guy Fawkes tentu langsung setuju.

Bagi pihak Kerajaan Spanyol, pertempuran murni untuk mempertahankan wilayah mereka. Sementara di mata Guy Fawkes, ini adalah semacam jihad untuk membela ajaran Katolik yang dijunjungnya.

Pertempuran yang sebenarnya hanya masalah perebutan kekuasaan dan keinginan untuk merdeka dari penjajahan disulap menjadi perang agama. How ironic . Ironis tapi manjur untuk mengobarkan semangat juang masing-masing pihak. Hm, sounds familiar, no? 😉.

Jalan-Jalan London

Setelah cukup matang menimba pengalaman di Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris. Di sinilah Fawkes mencoba mencari-cari kesempatan untuk membebaskan belenggu “penjajahan” dari rezim Protestan kepada para penganut Katolik. Bayangkan, mereka dilarang beribadah dan dipaksa menyembunyikan status “Katolik”nya di muka umum. Kalau ketahuan ya nyawa taruhannya.

Akhirnya Guy Fawkes dan kawan-kawannya terpikir untuk menyelundupkan bubuk mesiu ke ruang bawah tanah di Gedung Parlemen tempat raja dan tim penasihatnya berkumpul. Sayang sekali, rencana tersebut gagal total. Guy Fawkes ditangkap, dipenjara dan disiksa sampai mati.

Tapi…itu sejarah dulu . Pertumpahan darah luar biasa memang pernah mewarnai hampir seluruh penjuru Eropa kala ajaran Protestan yang dibawa oleh Marthin Luther di Jerman, mulai bersemi Sekarang sih, di Eropa sudah nyaris tak terdengar lagi indikasi pertikaian antar agama hehehe.

Buktinya adalah Kerajaan Inggris yang mayoritas Protestan dan Republik Irlandia yang mayoritas Katolik adem-adem saja. Malah hubungannya sudah seperti kakak adik . Saya sempat terpikir, maraknya Atheisme di Eropa jangan-jangan adalah buah trauma mereka dari sejarah di masa lampau. Di mana perbedaan agama bisa mengorbankan sebegitu banyak nyawa. Well, bisa jadi sotoy aja saya-nya, sih. Hahahaha.

Jalan-Jalan London

Bukan hanya itu, lho, agama dulu selalu dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Gereja berhak menghukum mati orang-orang yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan gereja. Kalau tidak salah, Copernicus si pencetus bahwa bumi itu bulat adalah salah satu korbannya. Karena dulu Gereja ngotot kalau bumi itu bentuknya kotak .

Penemuan-penemuan modern di Eropa kala itu malah menjadi momok bagi sang ilmuwan. Kalau ketahuan sama Gereja, tamatlah riwayat mereka. Tidak heran kalau sebagian masyarakat masih terbawa trauma kali ya dengan suasana ini maka memilih jadi atheis saja hihihihi.

Karena sudah sering melihat gereja-gereja di Irlandia, begitu ke London langsung terlihat jelas bedanya hehehe. Maaf kalau lagi-lagi sotoy nih. Sungkem dulu sama teman-teman Nasrani .

Gereja Katolik itu lebih ‘wah’, ya, sepertinya. Lebih banyak pernak pernik. Tapi kalau soal megah atau tidak kayaknya bangunan gereja zaman dulu memang keren-keren . Salah satu pembeda utama, di Gereja Katolik biasanya ada patung Bunda Maria yang menyolok. Sementara di gereja Protestan, patung Bunda Maria tidak begitu istimewa. Seringnya malah tidak ada hehehe.

Saat jalan-jalan London di akhir Mei kemarin, cuaca sangat tidak bersahabat huhuhu. Kami basah kuyup saat berjalan dari Buckingham ke Westminster Abbey via tepian St. James Park. Sampai berteduh dalam Gereja St.Margareth. Ragu mau masuk soalnya pakai kerudung gini hehehe. Tapi begitu melihat orang-orang India juga ramai berkerumun di dalam jadi ikutan masuk, deh, sambil lihat-lihat.

Jalan-Jalan London

Di Tower of London juga diguyur hujan. Apes banget. Anak saya lagi tidur dalam stroller saat hujan turun deras. Ini nih yang bikin kesal dari tempat-tempat wisata di London. Tangga melulu! Enggak bebas berkeliaran nenteng stroller . Tidak semua tempat kami kunjungi. Itu pun jadinya bagi tugas. Anak sulung saya semangat kan melihat baju-baju besi dan miniatur pasukan berkuda. Jadilah saya berteduh di bawah pohon menemani yang kecil tidur, suami yang berkelana bareng yang sulung. Huhuhuhu.

Jalan-Jalan London

Gagal total syahwat banci eksis-nya hahahahaha :D. Apa harus diulang lagi kah jalan-jalan London ini? :p :p :p

***

Kata orang, kita memang tak bisa mengubah masa lalu. Disesali pun tak ada gunanya. Sudah kejadian. Tapi, kita selalu bisa belajar dari masa lalu dong, ya .

Melihat kondisi umat muslim secara menyeluruh di situasi terkini memang kadang membuat bingung. Saya ingat pernah komen-komenan sama teman dan dia bilang begini, “Sori Je, lo ngomongin agama melulu. Padahal ini gue lagi ngomong masalah kemanusiaan.”

Lah? Kemanusiaan itu adalah bagian terpenting dari ajaran Islam keleussss hehehehe. Nama rasulullah bergema tidak hanya di kalangan muslim tapi diakui sebagai orang berpengaruh nomor 1 karena kehebatannya mengubah wajah kaum Arab di masa itu. Dalam tempo sekitar 23 tahun bisa menegakkan ajaran Islam di muka bumi dan terus ada hingga kini.

Salah satu keutamaan dari beliau adalah…akhlaknya. Akidah yang baik terpancar dari akhlak yang keren 😉.

Jalan-Jalan London

Saat abad kegelapan menguasai Eropa yang mempertentangkan ilmu modern vs ajaran agama, Islam sudah memunculkan banyak cendekiawan-cendekiawan modern sebelum abad ke-10.

Makanya suka heran sama yang nyinyir-nyinyir dengan kedokteran modern. Katanya enggak sesuai sunnah nabi. Gubrak dot com, deh. Coba cari tahu tentang salah satu Bapak Kedokteran Modern yang namanya masih disebut-sebut dalam literatur terkini, Avicenna. Avicenna itu ya Ibnu Sina . Muslim lho, Kakaaaaa ^_^.

Alquran malah jelas-jelas memberi poin plus bagi orang yang berilmu. Yang entah kenapa juga, ilmu tersebut disempitkan oleh sebagian orang menjadi ilmu ‘agama’ saja. Padahal jauh sebelum Eropa memasuki masa keemasannya dalam dunia sains, selain Ibnu Sina, dunia Islam sudah punya Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Musa Al Khuwarizmi, dll.

Umat muslim kudu pinter-pinter . Mempelajari alquran itu kewajiban utama yang memang tidak bisa diganggu gugat. Namun tidak berarti menafikan ilmu-ilmu lainnya. Justru alquran mendorong kita untuk berilmu agar bermanfaat bagi orang banyak bukan hanya untuk bilang, “Kafir lo! Masuk neraka lo!” Hehehehe.

Akhlak, moral dan sebangsanya juga mengapa selalu dinomorduakan kan, ya? Hiks. Padahal biografi-biografi tentang Rasulullah yang ditulis oleh kalangan non muslim selalu memuji-muji moralitas Rasulullah. Kini, yang mencuri perhatian dunia soal akhlak malah Negeri Sakura! Memangnya ada berapa orang sono yang membaca alquran? *pijetPijetKening*.

Penindasan dan kesewenang-wenangan bukan ajaran Islam . Cukuplah perjalanan panjang masyarakat Eropa di masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk kita semua .

“Hate the sin, love the Sinner” -Gandhi-

Dengan catatan di kalangan muslim syarat dan ketentuan berlaku, ya. Berani berbuat berani bertanggungjawab. Hukumnya ada aturan sendiri .

Pening abis ngomong copras capres, baca ginian juga enggak kalah peningnya hahahahahha. Biar enggak pening, nih dikasih foto-foto deh 😀.

Semoga menjadi bahan renungan kita bersama (termasuk saya) untuk penyemangat diri sendiri menjadi agen-agen perubahan positif dalam dunia Islam . Rahmatan lil aalamiin lho harusnya 🙂.

London memang keren tapi mahalnya itu gak nahan euy. Me, no likey! Hahahahahaha.

Jalan-Jalan London

 

Jalan jalan ke London : Both Sides of The Story

Walau sudah bermukim di Irlandia dan menjadi pemegang GNIB (semacam ID buat imigran), pemilik paspor Indonesia tetap kudu apply visa untuk mengunjungi Inggris. Harganya enggak main-main, sekitar 100 euro per orang, termasuk anak bayi! Tobat gak, tuh kalau mau jalan-jalan  Inggris  ? hahaha *ngakakStres*. Tetap ngotot doooong kudu jalan jalan ke London !! *kibasPaspor*.

Kabar baiknya, visa berlaku sampai 6 bulan. Jadi, bisa dipakai lebih dari sekali.

London – Big Ben

Kabar baik nomor dua-nya, harga tiket https://jihandavincka.com/2021/08/28/film-bagus-di-netflix-untuk-pencinta-superheroes-serial-the-flash-dan-supergirl/banyak yang murah meriah untuk penerbangan Dublin – London yang biasanya hanya selama 75 menit itu. Apalagi kalau pakai Ryan Air . Bisa dapetin harga 35 euro per orang, itu sudah PP.

Tapi ya, namanya Low Fares, tempat boardingnya jauh beneeeerrrr hihihi. Nama pun murah meriah yak, harus berkorban sedikit lah . Pernah mendengar teman yang cerita kalau terbang pakai Ryan Air biasanya ‘chaos’, tapi pengalaman kami kemarin, pulang pergi selalu aman terkendali. Alhamdulillah.

Hari pertama jalan-jalan di Inggris ,  sampai di London langsung ke Natural History Museum. Demi iming-iming melihat dinosaurus yang sudah didengung-dengungkan ke anak-anak sejak dulu. Antriannya lumayan. Sempat dikira lama … eh, ternyata cepat saja. Konon, kalau musim liburan sekolah pas musim panas, antriannya jauh lebih sadis. Maklumlah, museum keren dan gede gitu, gratis pulak! *penting* 😀.

Jalan-Jalan Inggris
London Natural History Museum (Outside)

Walau sudah muter-muter sekitar 3-4 jam, enggak kelar juga semua tempat dimasukin. Tempatnya memang luar biasa besarnya *ngelapKeringat*.

Jalan-Jalan Inggris

Dari NHM, giliran emaknya yang ribut mau lihat Big Ben! Hahaha. Belum sahih dong ke London kalau belum selfie depan Big Ben sama London Eye 😀.

Jalan-Jalan Inggris
London Eye

Area seputar House of Parliament di salah satu tepian Sungai Thames ini memang tempat wajib bagi turis . Duduk-duduk aja atau berdiri-berdiri di jembatan sudah berasa keren. Noraknya orang bugis satu ini hahahaha.

Big Ben dan sekitarnya kayaknya enggak pernah lengang. Pasti diserbu turis terus. Sebagai salah satu kota wisata level dunia, London ya mana pernah sepi, sih 😉.

Jalan-Jalan Inggris

Memang, London-nya sendiri gak main-main kecenya . Kota seni, kota metropolitan, kota sejarah, kota pusat beberapa perhelatan olahraga internasional, kota belanja, kota antik, kota kuno, kota modern, kota istana, kota budaya, you name it!

Bahkan, kotak telepon warna merah yang saya yakin sudah jarang difungsikan itu masih tetap dijaga di berbagai sudut kota. Benda ‘gak penting’ satu itu dipelihara khusus sebagai tempat para turis saat jalan-jalan London untuk norak-norak bergembira termasuk eike pastinya! Hahahaha 😀.

Jalan-Jalan Inggris

Tapi urusan transportasi agak payah. Untuk ke mana-mana selama di London, kami memanfaatkan fasilitas tube, semacam kereta bawah tanah mirip dengan yang di Singapura dan di Tehran (Metro). Stasiunnya banyak yang peninggalan bangunan lama. Konon, kata suami, stasiun kereta bawah tanah itu sudah ada sejak zaman dulu. Sayang kalau dianggurin jadi diintegrasikan dengan stasiun baru mungkin, ya.

Stasiun kereta bawah tanah itu jarang yang dilengkapi dengan eskalator atau lift, jadi repot juga kudu ngangkat-ngangat stroller naik turun tangga. Yang seringkali tingginya enggak kira-kira huhuhu 🙁.

Pegel nenteng stroller bukan satu-satunya hal ‘kurang menyenangkan’ soal jalan-jalan ke London. Yang patut digarisbawahi adalah…mahalnya! Hahahahha. Bibi Gober mulai bersabda 😛.

Jalan-Jalan Inggris

Saya, yang memang tinggal di Athlone yang tergolong ‘kota kecil’ di Irlandia, saban ke Dublin aja suka ngomel-ngomel karena merasa Dublin mahal. Ya apalagi pas jalan-jalan ke Inggris dan di  kota sebesar London, Kakaaaa! *kekepinDompet* .

Mungkin karena sudah pernah tinggal di Jeddah yang nikmat duitnya tiada tara, agak-agak enggak rela urusan bayar membayar ini hihihi. ‘Kesenjangan’ antara pendapatan dan pengeluaran memang paling asyik ya di Jeddah . Gaji asoy, pajak 0, biaya hidup murah. Mental saja yang harus sekuat baja hihihi. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Saudi –> harus punya hati seluas samudera.

London keren luar biasa, tapi biaya hidup bikin meringis. Jeddah bikin tabungan cepat melonjak, tapi bikin hati teriris-iris hahahaha. Kenang positifnya saja, yang dirasa kurang berkenan … jadikan pelajaran selalu .

“On your journey to your dream, be ready to face oasis and deserts. In both cases, don’t stop”― Paulo Coelho

Jalan-Jalan Inggris

Makanya, mana ada tempat yang enak-enak doang. Harus selalu berpikir tentang dua sisi. We always need to cover both sides of the story . Mungkin karena tinggalnya sudah pindah-pindah, jadi saat jadi turis pun, ‘itung-itungan’ jalan terus hihihihi . Padahal biasanya turis menangkap hal yang indah-indah saja atau sekalian yang kurang menyenangkan saja tahunya .

Urusan senang apa tidak, betah atau stres, itu rasanya tidak selalu berhubungan dengan tempat tinggal saja, ya . Sebelum berharap kebahagiaan datang menghampiri di belahan dunia mana pun kita berada, jangan lupa untuk berdamai dengan diri sendiri dulu 🙂.

“Though we travel the world over to find the beautiful, we must carry it with us, or we find it not.” ― Ralph Waldo Emerson

Duh, sok tahunya mulai kumat nih hahahaha. Enjoy foto-foto dari ronde 1 jalan-jalan Inggris  dulu, ya. Sisanya nyusul 😉.

Jalan-Jalan Inggris

London Bridge Is (Not) Falling Down!

“Sir, when a man is tired of London, he is tired of life; for there is in London all that life can afford.”
― Samuel Johnson

Quotenya muncul di salah satu buku traveling yang saya pinjam dari perpustakaan untuk nyari bocoran buat bikin itinerary for my short trip to London :p.

Sebagai penggemar Enyd Blyton dari kecil, siapa pula yang tak memasukkan London sebagai salah satu kota impian? Alhamdulillah akhirnya kesampaian.

Walau hati teriris-iris mengingat harga visa Inggris  yang ternyata menempati porsi pengeluaran terbesar dalam acara jalan-jalan ini huhuhu :(.

Kapan kita bisa seperti pemegang paspor Malaysia, ya? Yang leluasa hilir mudik ke hampir seluruh penjuru Eropa tanpa perlu ‘dikerjain lahir batin serta dompet’ dulu di kantor kedutaan? hihihi .

Untung saja, untuk terbang dari Dublin untuk jalan-jalan London, jaraknya singkat sekali dan tiketnya super murmer   ^_^.  Viva Ryan Air :D.

Jalan-jalan London

Tahun 2011 lalu, MamaSejagat kedatangan kontributor London, si Rizka. Duh, mesti tabah saat mengedit tulisan-tulisan kirimannya si Mama Rizka hehehe. Sambil ‘sirik’ sambil ngebatin, “Ya Allah, semoga bisa nengokin London suatu hari nanti. Amin, amin, amin.”

Ealah, siapa sangka rezeki selanjutnya ternyata nyantol di Irlandia, yang ternyata hanya berjarak sekitar satu jam-an naik pesawat ke London.

Mungkin karena datang dari Irlandia, saya merasa biasa-biasa saja sama taman-taman di London yang keren-keren itu.

Tapi terpesona habis-habisan dengan museum-museum kece yang melimpah ruah. Gratis pula! –> ini yang sebenarnya yang bikin takjub kaliiiiii hahaha 😛.

London, konon tak pernah sepi dari pengunjung. Salut dengan pemkotnya yang begitu lihai membuat propaganda pariwisata dari hal-hal yang sebenarnya biasa banget ya menurut saya menjadi tontonan yang dinanti-nanti. Changing Guard di Buckingham Palace misalnya.

Sumpah ya booo, acara Parade Senja bulanan di Istana Negara setiap tanggal 17 itu jauh lebih meriah dan menarik.

Changing Guard malah ritual harian, lho kecuali di beberapa hari tertentu diliburkan.

Walau begitu, saya tetap terpikat luar biasa sama yang namanya Museum Natural of History. Tempat yang sudah sukses bikin anak-anak saya menjerit-jerit karena melihat aneka rupa fosil dinosaurus itu! Hahahahaha 😀.

Jalan-Jalan London

Tempatnya sendiri luas banget-banget-banget. Untuk menuntaskannya, seharian penuh pun belum tentu cukup. Bangunannya besar dan megah.

Kami pilih-pilih saja area yang dirasa disukai oleh anak-anak. Waktu kan terbatas ya, sementara yang mau dikunjungin banyak bener hihihihi –> gak mau rugi 😀.

Museum ini merupakan salah satu daya tarik utama pengunjung mancanegara maupun lokal. Gratis, lho 😉.

Tidak cuma itu, National Gallery yang berada di salah satu sisi Trafalgar Square juga luar biasa ciamiknya. Trafalgar Squarenya malah enggak penting-penting amat menurut saya. Tapi demi eksistensi, tentu saja kudu mampir bentar untuk selfie :D.

Jalan jalan ke Trafalgar Square London, foto : Dani Rosyadi
Trafalgar Square, foto : Dani Rosyadi

Enggak nyangka, saya yang enggak pernah tertarik pada lukisan bisa betah banget di National Gallery . Mungkin karena lukisan-lukisan di sana penuh ‘drama’ semua hahahaha #heyDramaQueen.

Kisah-kisah dari alkitab yang dituangkan ke dalam kanvas. Baru sadar, betapa miripnya kisah nabi-nabi versi Islam dan Nasrani . Bahkan, kisah Siti Hajar dan Ismail di sumur zam-zam juga bisa dibilang persis dengan versi Hagar dan Ishmael 🙂.

Kisah Moses/Musa yang diikuti oleh kakak perempuannya kala dihanyutkan ke sungai juga ada dalam alkitab . Pertentangan utama antara Islam vs Nasrani mungkin ada pada surah Al Ikhlas ya hehehe.

Tower of London mungkin yang paling bagus diantara semuanya.

Tapi kisah paling inspiratif itu ada di Museum of London yang terletak tak jauh dari London Wall ini.

Sebenarnya sudah sering membaca sejarah-sejarah UK dan Eropa di abad pertengahan kala mereka lagi ‘hancur-hancur’nya. Tapi baru tahu soal kebakaran di London yang berlangsung selama berhari-hari di bulan September 1666 silam.

Sekitar 5 hari, Kota London dikurung kobaran api yang mungkin melumpuhkan dua pertiga dari wilayah kota. Banyak penduduk yang lari.

Raja sampai menjanjikan upah yang besar bagi mereka yang bersedia tinggal dan berjuang memadamkan titik-titik api yang sudah menjilati hampir semua wilayah kota saat itu.

Ilustrasinya dalam bentuk short movie bernarasi penuh drama. Duh, nontonnya ngeri-ngeri sedap. Apalagi pas nonton video Black Death.

The Red London Bus - pic Dani Rosyadi jalan-jalan ke London
London Bus, foto : Dani Rosyadi

Duh, ini aktivis anti vaksin kudu nonton dan mempelajari sejarah Black Death yang pernah membuat Eropa kehilangan sekitar lebih dari sepertiga penduduknya. Eropa lho ya bukan UK doang.

Black Death adalah sebuah periode dimana penyakit menular nan mematikan menghantui sekujur wilayah Eropa. Penyakit-penyakit ini tak hanya datang saat periode Black Death saja. Di abad-abad setelahnya, penyakit-penyakit seperti campak dan cacar datang kembali menggerogoti penduduk negeri.

Makanya, vaksinasi itu bukan konspirasi kali ah hehehehe. Di Eropa, vaksinasi wajib, jib, jib. Enggak cuma wajib tapi juga gratis dari pemerintah 😉. Saking traumanya kali ya jika penyakit menular ini ‘bangkit’ dan kembali mewabah ke mana-mana 🙁.

Penyakit menular, kebakaran hebat, raja-raja yang korup, pertentangan agama yang penuh pertumpahan darah antara Protestan dan Katolik silih berganti mewarnai masa lalu Negeri Kerajaan paling tersohor ini 🙂.

Jalan jalan ke Tower Bridge London foto : Dani Rosyadi
Tower Bridge, London (foto : Dani Rosyadi)

Tapi lihatlah London kini 😀. Memandang tegaknya Big Ben yang berdiri kokoh di puncak House of Parliament dari tepian Sungai Thames, landmark kota di seberangnya (London Eye), lalu jalan-jalan ke Wesminster Abbey, kita langsung sepakat betapa asoy geboynya Kota London sekarang.

Walau gitu, London bukan kota yang ramah sama stroller/buggy huhuhu. Banyak sekali tempat-tempat umum yang tidak menyediakan lift atau escalator. Adanya tangga doang! Bahkan stasiun-stasiunnya juga gitu cobak . Tangga di mana-mana.

Bayangin itu waktu jalan-jalan London pegelnya tangan ngangkat-ngangkat stroller. Apalagi kalau penghuninya lagi tidur huhuhuhu.

Jalan-Jalan London

Cuaca saat jalan-jalan London juga perlu diperhitungkan. Cuaca di UK mirip dengan Irlandia. Moody abis hehehehe. Hujan datang tidak memandang musim. Musim semi dan musim panas pun, hujan cukup rajin menyapa.

Intinya, jangan mau kalah sama London hehehe. They may say, London Bridge is falling down, falling down, falling down! But it’s not!

Katanya sih ya, kita enggak boleh gentar sama cobaan. Kan ada tuh ungkapan terkenalnya, what doesn’t kill us, makes us stronger.

“We all make mistakes, have struggles, and even regret things in our past. But you are not your mistakes, you are not your struggles, and you are here NOW with the power to shape your day and your future.”
― Steve Maraboli

***