Lalu, Seperti Apa Masa Tua Kita Kelak?

Saya sedang menikmati sepiring buah segar di pagi hari. Sebuah aplikasi di notebook yang sedang saya gunakan  mendadak berkedip-kedip. Saya cek. Wah, anak sulung saya menelepon. Wajahnya muncul di layar.

“Ngapain, Ma? Ngobrol bentar, Ma, sama cucu.”

“Jangan sekarang. Ada deadline.”

“Ih, Oma sok sibuk,” goda anak saya.

“Iya, dong. Naskah buku ke-100. Siangan telepon lagi.”

Hubungan terputus.

Usia saya saat itu mungkin sekitar 55 tahun. Anak sulung tengah berada di New York. Si bungsu masih melanjutkan sekolah di London. Saya sendiri tinggal berdua suami di Jakarta.

Saya, yang tentu sudah bergelar nenek-nenek, tetap produktif dengan kegiatan saya. Memiliki fisik yang masih prima dan punya kehidupan sendiri. Tidak merasa perlu merecoki kehidupan anak-anak yang kini sudah tinggal jauh dari saya :).

Mengkhayal tentang  masa depan, kebiasaan sejak kecil.

Misalnya usia 10 tahun, saya terseok-seok berusaha berjalan ke kaca besar yang tertempel di sisi dinding lain. Ekstra hati-hati agar high heels ibu yang kegedean di kaki tidak membuat saya terjungkal.

Susah payah berjalan, akhirnya saya bisa melihat sendiri bayangan saya. Cengar-cengir melihat lipstik yang ketebalan. Seperti badut, euy 😀. Saya tengah membayangkan diri saya sekitar belasan tahun ke depan. Kemana-mana bersepatu hak tinggi, berdandan komplit dan berbusana anggun.

Kenyataannya? Hampir 24 tahun berlalu sejak mematut diri di depan kaca tadi … jauh panggang dari api! Hahaha.

Tanpa make-up, no high-heels, kostum santai terussss 😀

 

Technology … Beyond Our Imagination

Saya tipe konservatif for something called smartphone. Sampai sekarang, tak terbiasa dengan layar sentuh. Apalagi jika harus mengetik panjang lebar seperti hobi saya yang belakangan diniatkan menjadi profesi jangka panjang :D.

Kebanyakan ponsel yang sekarang berembel-embel smartphone tetap saya manfaatkan sebatas sms-an dan telepon-teleponan saja. Sekalian cek-cek email.

Kegiatan online lainnya tetap dilakukan melalui notebook dengan ukuran minimal 12 inchi. Kalau kecil-kecil kurang puas.Twitteran, facebook-an, semuanya via notebook.

Saya juga terbiasa mengetik dengan 10 jari. Kecepatannya bolehlah dibanggakan ;). Selain kemampuan merangkai kalimat, kecepatan dalam mengetik juga modal penting untuk profesi pilihan saya ini. Makanya, layar sentuh is out of my league :P.

Empat tahun terakhir ini kami sekeluarga bermukim di luar negeri. Berpindah-pindah dari Teheran, Jeddah hingga Athlone (Irlandia). Notebook, ya, harus ditenteng ke mana-mana.

Inginnya, kalau bepergian lama/jauh, notebook ada di tas jinjingan saya. Tapi, melihat perkakas para balita yang mendominasi isi tas, plus ukuran notebook yang ‘montok’ dan tidak ringan, notebook pun mengalah masuk koper.

Padahal, kalau transit biasanya lama. Anak-anak tidur pula. Saya enggak suka mainan gadget macam tablet dkk. Enakan mengkhayal :D. Di tempat seramai bandara, banyak ide tiba-tiba bertebaran di kepala.

Saya tipe  observer (aka kepo, hihihi). Melihat sepasang laki-laki dan perempuan mengobrol saja, sudah macam-macam yang ada di pikiran. Pacarnya apa saudaranya, jangan-jangan mereka mau kawin lari. Padahal mungkin mereka hanya berdiskusi soal jam berapa pesawat mereka lepas landas. Hahaha.

Bila bosan, saya mengomel ke suami, “Coba ada notebook. Bisa  jadi ini satu cerpen.” Ujung-ujungnya main game di ponsel. Tidak produktif banget -_-.

Padahal, profesi menulis itu, seperti keterampilan lain pada umumnya, “Makin dilatih makin terlatih.”

Kapan bisa punya notebook tipis, ya? Yang tipis mungkin sudah banyak. Harganya yang bikin galau :P.

Sementara saya masih berkhayal, beberapa produk notebook sudah meluncurkan salah satu inovasi terbarunya di tanah air, notebook tipis! :D.

Price vs Value, Komplit Tak Selalu Berarti Mahal

Harga minimalis dengan manfaat optimal selalu menjadi pilihan utama saya.  Termasuk kalau milih gadget.

Pertimbangan pertama tentu kebutuhan. Saya jelas bukan gamer. Sampai sekarang kemampuan saya mentok di tetris dkk saja :D. Penggunaan notebook hanya sebatas office basic, browsing dan multimedia. Tidak perlu kapasitas yang canggih-canggih amat.

Dari dini juga saya membiasakan diri untuk tidak hidup rempong hehe. Sebisa mungkin belajar mengerjakan semua sendiri. Di masa tua nanti, siapa yang tahu ya kita akan tinggal dengan siapa. Bukannya nakut-nakutin hehe. Rajin menabung agar di masa tua tidak ‘mengemis’ ke anak-anak dan keluarganya. Saya tak ingin anak-anak merasa wajib memberi nafkah kepada orang tuanya setelah mereka dewasa dan orang tua sudah tidak bekerja. Itu bukan tanggung jawab utama mereka :). Tapi mereka mau dan ikhlas, ya tidak masalah.

Hidup apa adanya juga penting. Kalau sudah biasa punya banyak pernak pernik, baju mesti ini itu, tas mesti lengkap, aksesoris rupa-rupa, punya perabotan mahal, makan di tempat-tempat mewah, biasanya akan terbawa hingga tua. Padahal, sekali lagi, masa depan kita siapa yang menjamin :).

Makanya, yang biasa-biasa saja dalam setiap tahapan kehidupan. Banyak uang, sedikit uang, hati tak pernah resah ^_^. Sudah terbiasa hidup sederhana di masa jaya, tentu tak susah berdamai saat (mungkin) kejayaan materi tak lagi berpihak pada kita.  Itu juga fungsinya tabungan, kan? Sebagai cadangan di masa-masa ‘paceklik’. Jika kita mujur, hingga menutup usia cadangan tak terpakai, bisa kita wakafkan kepada orang yang membutuhkan :). Selamat dunia akhirat in shaa Allah. Aamiin *khusyuk*.

 

Aktif Kini, Produktif Hingga Nanti

By failing to prepare, you are preparing to fail -Benjamin Franklin-

Masa tua dikondisikan dari sekarang. Walau umur sepenuhnya kebijaksaan Tuhan, tidak ada salahnya berharap dan bersiap.

Dengan kondisi 2 balita sekarang, sebagian besar waktu tercurah untuk mereka. Saya setuju bila menjadi orang tua adalah profesi seumur hidup. Tapi, waktu akan berjalan, situasi berubah. Perannya tetap sama, menjalaninya yang akan berbeda.

Anak-anak akan dewasa. Sedari kini, mulai saya persiapkan amunisi jika kelak Tuhan mengizinkan saya hidup lebih lama dan anak-anak telah berlabuh mejauh. Kesehatan mulai dijaga serius. Dari sekarang memperbanyak buah-buahan dan sayuran dalam konsumsi harian. Tak ingin menjadi penghalang anak-anak jika mereka ingin melangkah lebih lapang.

Dipilihlah profesi yang bisa dicicil-cicil dari sekarang dengan waktu dan sikon yang ada, yang kira-kira bisa bertahan hingga usia tak muda lagi, di suatu hari nanti :). Kebetulan ketemu hobi yang dirasa pas, menulis :).

Menulis, keterampilan yang harus terus dilatih. Practice makes perfect. Sebagai salah satu penunjang, kemajuan teknologi yang makin gila-gilaan tidak boleh disia-siakan.

Makin aktif menulis, terus produktif hingga akhir.

Gambar : geeksugar.com

 

Sementara, tetaplah berkhayal. Siapa yang tahu, ada kejutan/inovasi apalagi dari teknologi nanti? ;).

You can never be too rich or TOO THIN -Wallis Simpson-

 

***

[Cerbung] Temanku Cina (3)

Tentang Dia (bagian 3)

Bagian 1 cek dimari. Bagian 2 ada di sindang :D.

Gambar : pinterest.com

Oleh  : JIhan Davincka

***

Dua minggu berlalu. Aku masih belum mau ke ujung jalan itu. Aku memang sering marah dengan ucapan-ucapannya. Tapi kali ini, aku benar-benar kesal.

Dalam kamarku, aku sedang menghitung-hitung uang hasil berjualan bahan kerudung. Seharusnya hari itu aku menyerahkannya pada anak Cina itu. Tapi, siapa suruh dia bilang Nora lebih cantik dariku.

Sejak aku berkerudung, dia terus-terusan menawariku berbagai jenis kain untuk bahan kerudung. Bahkan akhirnya berhasil memaksaku untuk menjualnya ke teman-temanku yang lain. Tadinya aku canggung mau menjualnya kemana-mana. Setelah dicoba, teman-temanku malah banyak yang suka.

Aku pernah bertanya kenapa dia malah menjual bahan kerudung kepadaku. Maksudku dia mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan kami.

Dia malah memandangku aneh, ”Kenapa tidak?”

Tak sadar senyumku mengembang. Ah, anak itu. Hanya uang saja yang dipikirkannya.

Aku takut kalau Ibu tahu. Bapak sudah tahu lama. Entahlah, aku tak pernah bisa berbohong pada Bapak. Tapi, anak cina itu bilang, aku harus memberi beberapa helai kain kepada Ibu sebagai hadiah. Siapa tahu Ibu jadi melunak. Betul juga. Dan aku pun berinisiatif memberi beberapa helai kain bermotif bunga-bunga kesukaan Ibu.

“Ini dari Misye, Ibu. Hadiah, katanya.”

“Anak Cina itu?” Ibu mendengus.

“Coba, Ibu lihat dulu. Bahannya bagus sekali. Dia berterima kasih padaku karena aku mau menjual kain-kain miliknya ini.”

“Apa? Kau menjual barang milik anak Cina itu? Kau gila, ya?”

Aku mulai gentar kalau nada suara Ibu jadi tinggi lagi. Tapi, akhirnya aku mengeluarkan segenap keberanianku untuk menjelaskan panjang lebar tentang jual menjual kain ini. Kalau aku mendapat uang saku yang cukup besar karena usaha ini. Aku mendapatkan harga yang cukup murah dari Misye. Maklumlah, Papinya memang pedagang kain grosiran yang memiliki toko besar di beberapa tempat di luar kampung kami. Ini Misye yang sering cerita padaku.

“Ibu tak suka kalau kau mengemis pada anak Cina itu.” Akhirnya suara Ibu mulai melunak.

“Dia yang memaksaku. Tadinya aku tak mau. Tapi Nisa, Ratna, Nora, Kiki, semua bilang bahannya bagus dan membeli beberapa dariku. Ibu tahu tidak, ibu-ibu mereka pun sering membeli padaku.”

“Kau mau bikin Ibu malu?”

“Mereka membeli tanpa aku tawarin, Bu. Malu kenapa? Ini bahannya bagus-bagus. Harganya tidak murah.”

“Ya, sudah.” Ibu akhirnya mengambil helai-helai kain yang aku taruh diatas meja di hadapannya.

“Bagus memang kainnya. Ini berapa harganya?” Ibu meraba-meraba sehelai kain berwarna putih, dengan bunga-bunga merah besar di sekujurnya.

“Ini hadiah. Untuk Ibu, gratis. Dari Misye.”

Tapi, tentu saja, helai-helai kain itu tidak gratis. Aku membelinya dengan “setengah harga”.

Aku tersenyum-senyum mengingatnya. Sejak saat itu, Ibu pun bahkan suka membawa beberapa helai kain untuk ditawarkan pada Ibu-ibu pelanggan kue bolu bikinannya.

Ah, tak sepatutnya aku berlama-lama marah padanya. Besok, aku harus ke rumahnya dan menyerahkan uang ini.

***

Aku sedang merapikan kerudungku di depan kaca ketika tiba-tiba suara orang-orang bergemuruh dari luar. Aku cepat-cepat memasang peniti di bawah daguku dan berlari keluar kamar.

Ibu sudah ada di ruang tengah.

“Ada apa di luar?” Tampangnya panik sekali. Siapa yang tidak panik, hari minggu pagi begini, tiba-tiba mendengar orang berteriak-teriak di jalan.

Kami berdua baru akan membuka pintu ketika tergesa-gesa Bapak mendobrak pintu. Dia datang membopong seseorang yang nampaknya pingsan. Ya Tuhan, itu Pak Haji, bapaknya Nisa.

Ibu langsung membantu Bapak dan lekas-lekas menutup pintu rapat-rapat. Dipasangnya semua gerendel pintu. Dari atas ke bawah.

Bapak nampak pucat. Berganti-ganti dia memandang ke arah Ibu dan aku, sambil meredakan nafasnya yang memburu.

Ibu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air putih. Pak Haji yang wajahnya babak belur sekarang ditidurkan di atas kursi. Aku takut sekali. Ada apa ini?

Tiba-tiba Bapak memandangiku. “Mau kemana kau?” Aku bingung kenapa Bapak membentakku.

Aku mundur beberapa langkah. Bapak berdiri. Dadanya masih turun naik. Keringatnya belum kering. Di dahinya ada banyak butiran air yang masih mengalir deras. Aku benar-benar takut sekarang. Aku menelan ludah. Lututku bergetar.

Bapak mengalihkan pandangannya ke arah Ibu. Sorot matanya sudah tidak menyala. Tapi lututku masih gemetaran begitu rupa.

“Kau jangan ke rumah ujung itu. Masuklah ke kamarmu.” Kali ini nada suara Bapak jauh lebih tenang.

Ibu memberi isyarat dengan ujung matanya agar aku menurut. Meskipun ada berjuta tanya dalam hatiku, aku paksakan menyeret langkah masuk ke dalam kamarku.

Dalam kamar aku tidak tenang. Sia-sia saja aku menempelkan telingaku kuat-kuat ke arah pintu. Bapak berbicara dengan suara sangat rendah. Dan Ibu menjawab sambil berbisik-bisik.

Rumah ujung. Rumah anak Cina itu. Mataku langsung basah. Aduh, perasaanku sungguh tidak enak. Aku mengusap-usap mataku dan mencoba menajamkan pendengaranku. Mencoba menangkap suara-suara orang yang masih bergemuruh dari luar.

Tapi percuma saja. Kamarku ini ada di pojok belakang rumah. Bagaimana ini? Aku terduduk di balik pintu kamar. Segepok uang kertas yang sedari tadi berada dalam genggamanku mungkin sudah koyak.

***

Tak terdengar suara apa pun sekarang. Aku bangkit dari dudukku. Pinggangku pegal sekali. Aku berpindah ke atas ranjang di sudut kamarku. Menimbang-nimbang untuk keluar sekarang atau tidak. Tapi aku masih enggan menampakkan wajahku di hadapan Ibu dan Bapak. Biarpun rasa penasaran ini sudah sampai ke ubun-ubun.

Aku melepas kerudungku. Mengibaskannya perlahan, melipatnya rapi-rapi, dan menaruh ke dalam lemari.

Aku berbaring dan berharap aku tertidur begitu saja. Tapi begitu aku menutup mata, bayangan anak cina itu makin kuat menguasai pikiranku. Aku malah melihatnya dimana-mana kalau mataku terpejam. Biarpun lelah, mataku tetap memandang ke langit-langit kamar.

Dan anehnya, wajahnya kembali memenuhi langit kamarku. Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak aku melihatnya pertama kali dengan rok renda-rendanya.

Waktu aku kecil, aku selalu iri dengan teman-temanku yang lain. Nisa itu punya kakak laki-laki dan dua adik perempuan. Nora cuma punya dua kakak laki-laki. Tapi rumahnya bersebelahan dengan Kiki. Kiki ini punya banyak sekali saudara perempuan. Aku tidak percaya sampai sekarang aku tidak hapal ada berapa saudara perempuannya.

Sedangkan aku, tak punya kakak, tak ada adik. Rumahku tidak terlalu dekat dari rumah mereka. Rasanya sepi. Saat mengaji di mesjid dulu, mereka akrab sekali kakak beradik. Nora tidak pernah jauh-jauh dari Kiki. Aku cuma pelengkap. Tak ada yang merasa benar-benar perlu mengakrabiku.

Lalu dia datang. Tadinya aku tak begitu suka dengan lagaknya yang menurutku terlalu angkuh. Tapi aku senang kalau Nisa dan Nora memandangku dengan iri saat aku bercerita kalau dia punya boneka Barbie dan aku boleh ikut memainkan boneka mahal itu.

Sebenarnya dia banyak mengatakan hal yang tidak kusukai. Tapi anehnya, aku malah jadi percaya padanya. Dan lama-lama, dialah yang lebih sering menjadi tempatku mengadu. Aku pun tak pernah segan bertanya macam-macam padanya.

“Ajarkan aku bahasa cina.” Kataku di suatu hari saat dia sedang menyisir rambutku di depan kaca. Dia bilang dia bisa membuat model rambutku yang membosankan itu menjadi lebih keren.

“Bahasa Mandarin.” Tukasnya pendek.

“Iya, itu. Bahasa Mandarin. Ajarkan padaku sedikit.”

“Mana aku tahu.”

“Kau pasti tahu.” Dia cuma nyengir mendengar nada suaraku yang menuduh.

Aku kembali bertanya. “Seperti apa negeri cina itu? Apa saudara-saudaramu di sana jago silat seperti film-film di televisi?”

“Aku tak punya saudara di sana. Sembarangan kau ini.”

“Yang benar saja. Kau kan orang cina.”

“Aku ini lahir di Jakarta. Papiku asli Jawa. Mami itu dari Manado. Tapi banyak juga saudara-saudara yang tinggal dekat kampung ini.”

“Lalu, seperti apa negeri cina itu,” kejarku.

“Mana aku tahu.”

Perutku terasa diaduk. Rasanya sudah capek sekali aku menangis. Seperti apa sembabnya mataku sekarang. Aku bangun dari tidurku. Sia-sia saja mencoba tidur. Hanya membuatku terbayang-bayang terus padanya.

Aku menyesal sudah bertengkar tentang hal bodoh dengannya. Tidak apa-apa kalau dia bilang Nora lebih cantik dariku. Kenapa aku bisa sebegitu kesal dan mendiamkannya hingga dua minggu.

Aku memilih keluar dari kamar sekarang. Lagipula aku sudah lapar.

Aku membuka pintu dengan ragu-ragu. Aku terbayang dengan wajah Pak Haji yang lebam-lebam tadi pagi. Tapi, kursi di ruang tamu sudah kosong. Tak ada siapa-siapa.

***

(Bersambung ke sini)

Eid Mubarak 1434!

Selamat hari lebaran buat semuanya ^_^.

Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amalan kita semua :).

Tahun ini lebarannya lumayan juga. Untuk ke-4 kalinya lebaran di Negeri Rantau, jadi sudah tidak drama-drama amat hehehe. Sudah terbiasa.

Hari terakhir ramadan, di buka puasa terakhir tahun ini, kami diundang ke rumah teman Malaysia untuk buka puasa bersama. Setelah salat magrib berjamaah, diadakan “Takbir Raya.” Kami duduk bersama sambil membaca takbir. Terus… ya pulang dong ah :P.

Paginya, di hari raya, hanya suami yang berangkat salat Eid. Anak-anak malah belum  bangun hehe. Makannya juga biasa-biasa saja. Enggak diniatin masak khusus. Terus, kita foto-foto, deh hihihihi.

Eid 1434

DI ruang tamu dulu. Terus ganti baju, ceritanya mau bikin semacam foto keluarga yang baik dan benar begitu. Settingnya dipilih di teras belakang. Padahal cuacanya lumayan dingin dan berangin. Tentu saja, semangat narsis mampu mengalahkan cuaca, hahahaha.

_MG_6690_1_2-3

Intinya, cuma bilang yang di kalimat awal tadi : Eid Mubarak, Everyone ^_*. Mohon maaf lahir dan batin :).

Eid mubarak 1434Lebih khusus lagi, postingan ini memang mau pajang foto-foto doang, sih hahahahaha. Setelah sekian lama terisi dengan postingan-postingan serius <— alasan 😛

 

Lihatlah Warna pada Cahaya

Waktu kuliah, saya meniatkan untuk menyelesaikan kuliah di semester ke-7. Seorang teman bilang begini, “Model bossy kayak lo mah skripsi aje. Jangan ambil Student Project. Entar stres sendiri.”

Antara mau sok-sok mau membuktikan kalau saya ini bisa, lhooooo, diajak bekerja sama dan termakan ucapan pembimbing akademik, “Kalau mau berkarier di bidang profesional, kerja kantoran, mending ambil student project saja. Lumayan, lho, dapat ilmunya,” saya memutuskan mengambil jalur non skripsi.

Mata kuliah seminar lancar satu semester. Diantara ke-3 anggota, perempuannya cuma 1, drama bisa diminimalisir hahaha. Kami bertiga punya kelebihan berbeda-beda, sinerginya sangat bagus dan kami bertiga terbilang sukses membawakan presentasinya.

Saya gagal wisuda di bulan februari karena student project molor. Bisa diduga saya stres sendiri. Tetap memaksa memasukkan jadwal presentasi akhir untuk slot pertengahan maret.

Working with 4 others in Student Projects :D (Source : scotland.gov.uk)
Working with 4 others in Student Projects 😀 (Source : scotland.gov.uk)

Di tim kami, 2 laki-laki, 3 perempuan. Kedua teman perempuan lain, tanpa sepengetahuan saya, mengubah jadwal presentasi dengan alasan belum siap. Mudah ditebak, eike mengamuk bak singa. Tidak tanggung-tanggung, walaupun kedua teman ini terhitung kawan dekat, saya telponin satu-satu. Ini masih modal telepon umum di warnet sebelah kosan, Bo’. Waktu mau membayar di kasir, mas-mas penjaganya sampai grogi gitu, lho. Secara ya, eike berteriak-teriak kayak orang gila sekitar setengah jam. Hahaha.

Akhirnya kami tetap presentasi juga. Hanya mundur 2 minggu. Begitu lulus, saya sudah niatkan untuk mentraktir teman satu tim, hitung-hitung sebagai sedikit permintaan maaf atas tingkah laku yang sangat menjengkelkan nan gengges selama proyek itu berlangsung hihihihi. Padahal dana super tiris. Dua bulan terakhir itu saya memutuskan untuk cuti mengajar sebagai tutor matematika untuk anak-anak ekspat. Mau konsentrasi biar beneran bisa lulus februari.

Apa hendak dikata, walau akhir maret dinyatakan lulus secara akademik, saya tetap harus membayar uang kuliah di semester 8 walau tak ikut kuliah lagi. Tapi happy ending juga, langsung dapat kerja. Alhamdulillah.

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Mungkin karena itu saya tak pernah punya banyak teman dekat. Enggak pernah punya geng perempuan. Abisnya, dikit-dikit pundung, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngamuk. Siapa pula yang mau berteman dengan orang gila? 😀.

And then… I came to Jeddah. Hidup sehari-hari berteman tembok dan waktu itu belum maksimal hobi menulisnya, memaksa saya untuk mau tak mau kudu bergaul lebih intensif. Kaget juga dengan lingkungan baru ini.

Waktu mencoba berbasa-basi dengan seorang teman, sambil tersenyum seimut mungkin, “Wah, tasmu bagus, lho, Mbak.”

Dia menjawab cepat, “Iya. Di Indo ini harganya 24 juta! Kalau di Jeddah cuma 4000 riyal.”

Langsung syok, gak lo? Hahahaha. Apa-apaan ini?

Belum lagi waktu saya bertanya soal sofa.

“Beli di IKEA saja,” kata salah seorang teman. “Eh, tapi mahal, sih. Kan kamu baru datang. Sudah, menabung dulu saja. Kita-kita aja dulu nunggu 2 kok baru beli sofa. Mending uangnya ditabung buat beli rumah di Jakarta. Pasti belum punya rumah kan di Jakarta?”

Aduh, kalau tidak ingat lagi di Negeri Orang, rasanya pengin cakar-cakar muka waktu itu! hahahahaha. Sombong amat, pikir saya.

Berhari-hari saya mengeluh pada suami. Minta pulang ke Jakarta lah, menganggap mereka semua enggak asyik diajak berteman, dan bla-bla-bla lainnya.

Suami saya hanya menjawab dengan satu kalimat, “Berhari-hari kok cuma bisa melihat jelek-jeleknya orang saja. Ayolah, baru juga kenal. Lagian, apa kamu sendiri tidak punya sifat jelek?”

Plak! Berasa ditampar keras. Saya jadi berpikir-pikir. Astagfirullah. Kalau diingat-ingat, selama masa-masa perkenalan pun, saya terhitung sudah berani membully orang. Kebiasaan lama, suka ngeledekin orang depan umum. Suka berbicara dengan nada pedas nan tajam.

Misalnya, nih, ada teman menyodorkan masakannya dan bertanya, “Gimana, enak, gak?”

Teman-teman lain tanpa pikir-pikir langsung merespons, “Enak, kok. Enak banget. Rasanya pas.”

Saya dong, tembak langsung, “Kurang garam gini kaleeee…” <— minta ditampol gak, tuh? 😛.

Pelan-pelan saya mengubah cara berpikir saya. Agak berat, karena sudah ngelotok terlalu lama. Tapi keterpaksaan membuat semuanya kudu dilewati. Kalau enggak punya teman, bunuh diri aja kali tinggal di Jeddah hihihihi.

Bulan demi bulan, perubahannya mulai terasa. Bergaul lebih dekat dengan mereka. Mulai mengesampingkan hobi sebagian besar mereka yang sangat bertentangan dengan falsafah hidup saya *tsaaahhh*. Pelan-pelan mulai kelihatan, mereka punya keunikan masing-masing dan sarat dengan kebaikan yang selama ini tertutup karena eike sibuuuuukkkk aja nyari yang jelek-jeleknya 🙁.

Lucunya, malah berteman akrab dengan salah satu madam yang dikenal sebagai ratu belanja . Saya juga bingung, kok bisa senang sekali mengobrol dengannya. Seru aja gitu. Paling suka main-main ke rumahnya. Ngobrol lama gak kerasa, malah santai saja ngabisin kue-kue bikinannya <— tidak tahu diri 😛.

Walau tak suka belanja, sesekali saya ikut tur bersama mereka. Ampun dah para madam. Begitu keluar dari toko, saya pasti sibuk nyari bangku, dengkul pegal-pegal pengin istirahat sebentar. Mereka, seolah enggak ada capeknya, begitu keluar pintu, langsung sibuk jelalatan cari toko mana lagi yang bisa dimasukin. Hahahaha *ketawaStres*.

Shopping Ladies :D (Source : www.clipofart.com)
Shopping Ladies 😀 (Source : www.clipofart.com)

Mereka juga jago-jago masak. Tidak segan-segan mengadakan cooking class di rumah mereka, menyediakan waktu-tenaga-biaya pribadi dimana biasanya yang benar-benar memasak cuma 2-3 orang, sisanya (sekitar 6-8 orang) ngerumpi la yauuwww hehehe.

Seorang yang usianya jauh lebih muda juga menunjukkan bahwa usia bukan ukuran kedewasaan. Suatu kali kami terjebak dalam perselisihan sengit. Teman ini yang paling tenang dan tidak ikut-ikutan, tetap berkawan baik dengan kedua kubu yang sudah benar-benar saling meledak. Good for her 🙂.

Seorang yang lain mengajarkan keikhlasan, setia menolong dalam hal apa pun, kapan pun, kepada siapa pun . Ah, ya ampun, saya sering berpikir jangan-jangan berteman dengan saya adalah cobaan buat mereka hehehe.

Makanya, bukan hanya kesadaran bahwa kepindahan kami di awal tahun ini akan menciptakan jarak sedemikian jauh dengan kedua kota suci Mekkah dan Madinah yang membuat kami sempat ragu apakah akan pindah atau tidak. Minggu-minggu pertama yang terasa sulit beradaptasi dengan mereka malah menjlema menjadi minggu-minggu perpisahan yang penuh drama. Mewek melulu. Sedih banget rasanya, seumur-umur enggak punya geng, ternyata takdir membawa kami pergi menjauh dari mereka.

Source : www.bigstockphoto.com
Source : www.bigstockphoto.com

Kami? Iya, karena suami saya juga begitu. Menurut suami, “Di Jeddah enak, ya. Karena kita temenannya benar-benar antar keluarga. Suami saling cocok dengan suami. Istri-istri juga begitu. Anak-anak apalagi.”

Walau saat perpisahan di taman dan saat di bandara, eike steril dari airmata, tidak berarti kesedihannya sudah padam. Cuma ya, malu saja rasanya kalau saya membiarkan perasaan mengambil kendali. Ih, gengsi dong, menangis bombay depan umum. Jaga wibawa *benerinPoni*.

Tidak berarti setelah mengenal mereka saya akan mengubah prinsip. Eit, keluarga gober is keluarga gober . Justru berada di tengah-tengah geng elit ini mengajarkan kami, hey, berteman tidak mesti seragam, lho . It’s ok to be different . Lagian mana seru, satu bawa Nissan, semuanya ikut-ikutan. Satu pakai LV, semuanya membebek. Sesekali perlu ada yang pakai Yaris dan pakai tas Jarir biar bisa jadi bahan lucu-lucuan .

Kalau satu kelompok semuanya orang narsis ya mana seru. Kalau semuanya diam, ya siapa dong yang ngajak ngakak-ngakak. Kalau semuanya bawel, siapa dong yang bertugas mendinginkan suasana . Bahkan untaian pelangi terlihat indah karena ada 7 warna berbeda yang merekat menjadi satu yang digambarkan dalam sebuah lirik, “Pelangi, pelangi alangkah indahmu … merah, kuning, hijau, di langit yang biru.”

Kalau cuma satu warna namanya bukan pelangi . As “Strength lies in differences… not in similarities” .

my angels jeddah

***

Bodoh kalau mengira kita hanya akan bisa berteman dengan baik dan benar dengan orang-orang yang serupa dengan kita 🙂.

Saya pun terlalu sering mengeluhkan banyak hal. Waktu student projects kuliah, saya lupa. Diantara semua anggota, hanya saya yang ngebet pengin lulus. Sisanya masih harus berjuang di Kerja Praktik. Saya paksakan mereka berpacu mengikuti cara saya. Saya anggap mereka yang tak cakap. Tak konsisten lah, egois lah, padahal coba yaaaa … *sodorin kaca ke diri sendiri*.

Di Jeddah, saya gampang betul memberikan penilaian buruk kepada teman-teman baru saya waktu itu. Padahal lupa, memangnya situ sudah sempurna?

Ingat dong, sama-sama manusia … seperti tercantum dalam salah satu ayat suci, “Manusia, tempatnya salah dan lupa.” Berlaku untuk semua orang yang merasa dirinya manusia . Situ bukan malaikat, kan? 😛.

Allah sudah menciptakan tiap insan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pandai-pandai mengenali kekurangan diri sendiri sebelum menuntut kesempurnaan dari orang lain. Lagipula, manusia yang sempurna bukanlah seseorang yang tak pernah berbuat salah. Tapi mereka yang berbuat salah kemudian menyadarinya dan meminta maaf dengan tulus . Walau sulit, lebih sempurna lagi bila berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama .

Maka dari itu, menjelang ramadan yang akan segera berakhir ini, saya meminta maaf ya kalau ada salah-salah kata atau pun status yang menyinggung, baik yang disengaja maupun yang sangat disengaja hehehe .

Untuk madam-madamku di Jeddah, “If there ever comes a day when we can’t be together keep me in your heart, I’ll stay there forever (Winnie The Pooh)” As for me, you all are forever in my heart  (macam menggombal ke pacar saja, ya, hehehe).

Akhir kata, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Tidak berarti kalimat ini menandakan akhir ramadan karena masih ada waktu lho untuk memanfaatkan jam-jam terakhir untuk terus mengais amal di bulan penuh rahmat ini . Dengan harapan yang seragam … “semoga Allah menerima amalan kita semua.”

Amin, amin ya rabbal aalamiin :).

***

If The Music Sings a Thousand Memories

Gambar : purwoudiutomo.com
Gambar : purwoudiutomo.com

Kalau anda lahir di tahun 80-an atau sebelumnya, pasti respons anda akan sama seperti saya ketika melihat gambar di samping. Cekikikan mengingat betapa jadulnya dunia musik di masa kecil dan abege kita :D.

Btw, apa ya musik yang saya anggap asyik?

Jujur saja, soal musik, selera saya tidak stabil. Saya bahkan tidak percaya bahwa kaset pertama yang saya beli dulu, ketika usia saya masih 10 tahun, adalah album “Isabella.” Album yang melambungkan grup musik asal Negeri Jiran di tanah air, Search. My oh my :P. Seminggu penuh saya merengek pada ibu. Tiap ibu pulang dari kios, saya merengek, “Ada mi kasetnya?” (Sudah ada kasetnya?)

***

Mengingat-ingat apa kira-kira musik asyik dari dulu hingga kini membuat saya sadar lagi, betapa banyaknya saya bersaudara kandung. Hahahaha. Maklumlah sudah belasan tahun  saya tak pernah berkumpul bersama mereka lagi.

Semua kakak saya laki-laki. Semuanya penggemar musik dan tidak segan-segan membelanjakan uang saku untuk mengoleksi kaset dari musisi favorit mereka. Adik saya yang perempuan juga sama. Kalau si bungsu yang usianya jauh terpaut dengan kami semua, sudah berada di era MP3 ketika memasuki masa remajanya.

"White Lion" (Gambar : www.duck.fm)
“White Lion” (Gambar : www.duck.fm)

Kakak yang pertama usianya terpaut 12 tahun dari saya. Karena radionya cuma 1, kakak yang pertama ini yang ‘berkuasa’ atas satu-satunya radio yang ada di rumah. Sejak usia 6 tahun, saya sudah berkenalan dengan lagu rock. Sampai eneg rasanya mendengar lagu “Preman” (dipopulerkan oleh Ikang Fawzi) yang diputar berulang-ulang dari pagi sampai malam.

Di usia sekecil itu saya juga sudah tahu tentang grup-grup beraliran rock asal Negeri Paman Sam. Misalnya saja White Lion dengan salah satu lagu andalannya, “When The Children Cry.”

Saat kakak pertama hengkang ke Surabaya melanjutkan kuliah ke sana, tirani senioritas mulai ditinggalkan dalam urusan memutar kaset :P. Semuanya boleh menikmati radio secara bergantian.

Kakak ke-2 memperkenalkan saya pada kompetisi menyanyi nasional, Festival Lagu Favorit Indonesia. Di ajang ini, tepatnya yang tahun 1987, jadi tahu, deh, sama yang namanya grup vokal Elfa’s Singers.

Kakak saya ini juga yang rajin membeli dan memutar koleksi lagu-dari dari mendiang Chrisye, grup musik legendaris Queen hingga peniup saxaphone, Kenny G. Tidak ketinggalan kaset-kaset dari KLa Project. Saya suka semuanya!

Saya juga ingat betul, dia suka membawa pulang kaset-kaset yang isinya kompilasi dari lagu-lagu barat yang tengah populer. Cuma ingat 2, Mega Hits dan Hit Bank.

Ini ide luar biasa kalau dipikir-pikir. Sekali merengkuh dayung, 11-12 lagu hits langsung bisa didengarkan sekaligus. Hehehehe.

Dibanding yang lain, selera musik kakak ini yang jangkauannya paling luas. Saya jelas terpengaruh. Karena masih kecil jadinya ya ngikut saja.

Termasuk ketika dia tergila-gila pada Dewa 19 dan Boyz II Men, grup musik yang menurut saya adalah pelantun lagu-lagu cinta terbaik sepanjang masa :).

Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 :D (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)
Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 😀 (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)

Kakak saya yang nomor 3 yang paling beda sendiri. Musisi favoritnya the one and only … Iwan Fals! Coba perhatikan lirik-lirik lagu beliau. Komplit. Mulai dari yang jenaka, misalnya di lagu “Pesawat Tempurku”, atau yang ‘idealis’ di lagu “Bongkar” hingga yang romantis di lagu “Yang Terlupakan.”

Ketiga lagu tersebut adalah lagu-lagu kesayangan saya yang pernah dipopulerkan oleh legenda musik Indonesia ini.

Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org
Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org

Ketika salah satu finalis X-Factor Indonesia, Isa Raja, membawakan lagu “Yang Terlupakan” (lagu terbaik dari Iwan Fals versi saya) di ajang tersebut, saya seperti terhipnotis. Tidak menyangka, belasan tahun berlalu, ada yang bisa menyanyikan lagu indah ini sepiawai penyanyi aslinya :).

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=WI-K6I4Wr3c]

Kakak yang nomor 4, selera musiknya memang sedikit nyeleneh dibandingkan pria pada umumnya. Koleksinya didominasi oleh para diva Indonesia seperti : Krisdayanti, Titi DJ, Ruth Shahanaya, Vina Panduwinata juga Rossa. Di lemarinya juga berjajar kaset-kaset penyanyi pria sekelas Utha Likumahua, Harvey Malaiholo dan Yana Julio.

Saya malah ikut-ikutan suka, tuh. Kalau memutar lagu-lagu dari AB Three dan Kahitna, saya selalu ikut bersenandung bersamanya :D.

Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)
Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)

Adik perempuan membawa aliran musik baru. Model hip hop dan RnB favoritnya. Dari dia, saya jadi tahu grup musik TLC dan Destiny’s Child dan ikut-ikutan ngefans seperti biasa :P. Dia juga yang membawa kaset Iwa K pertama kali ke rumah biarpun belakangan didengarkan beramai-ramai.

Waktu dia menawarkan saya untuk saweran membeli  kaset grup musik favoritnya, Oasis, saya iya-iya saja. Tidak rugi. Lagunya memang enak-enak, meskipun sekarang saya ingatnya cuma “Wonderwall” saja, hehehe.

Saya memang satu-satunya yang paling malas membeli kaset. Kalau mereka punya selera musik berbeda-beda, sayalah yang labil sendiri. Karena buat saya, semuanya seru.

Adik bungsu si no.7 keluaran era milenium. Bisa sakit kepala emak-emak seperti saya menikmati koleksi MP3 nya. Dari band tenar ST12 sampai band-band baru yang sudah tidak sanggup saya ikuti perkembangannya.

***

Belakangan, ketika sudah tinggal terpisah-pisah, selera musik saya seolah berhenti di tahun 90 an hingga awal-awal tahun 2000 an. Setiap mendengar lagu-lagu dari tahun-tahun tersebut yang kini mudah didapatkan dari berbagai situs online, yang terbayang bukan penyanyi atau liriknya. Liriknya sih sebagian besar masih ada dalam kepala, lho.Tapi yang teringat adalah masa-masa kecil dan remaja bersama saudara-saudara yang belasan tahun dihabiskan di kota Makassar.

Berebutan memegang kertas sampul kaset yang biasanya berisi lirik-lirik lagu sang penyanyi. Berpandangan dengan wajah pucat kalau kami memutar kaset-kaset si empunya yang sedang tidak ada di rumah dan tiba-tiba kasetnya mengeluarkan suara aneh-aneh.

Begitu dikeluarkan, pita kaset sudah terburai. Buru-buru mencari pensil dan saling menyalahkan. Ahahahahha.

Jadi, buat saya musik yang asyik itu tidak tergantung genre, penyanyi atau waktu. Tapi tergantung seberapa sanggup musiknya menguraikan kenangan-kenangan indah bersama orang-orang terkasih :).

If they said, a picture paints a thousand words, then we can also conclude that… a music can sing a thousand memories :). Here, there and everywhere :).

***