If Tomorrow Never Comes

“Sembarangan. Gue enggak pernah ya ngomong kayak gitu. Ibu-ibu Perkakas Dapur yang lain juga enggak pernah nuduh-nuduh gitu.” Suara saya meninggi saking sebalnya mendengar tudingan Dandang barusan.

“Lah, gue juga enggak pernah ngelakuin yang lo ceritain barusan. Kalian tuh yang suka fitnah gue.”

“Mana buktinya?”

“Ya pokoknya gue taulah. Kalian ini hobinya ngomong di belakang. Ketemu gue aja pada enggak mau bisanya cuma jelek-jelekin gue.”

Saya makin naik pitam, “Duh, enggak salah, tuh. Kita enggak ke sini ya karena katanya Mbak Dandang udah enggak mau ngomong sama kita lagi.”

“Enggak kebalik? Kalian kali yang suka suudzon. Katanya gue jutek lah, katanya gue suka marah-marah enggak jelas.”

Tuding-tudingan langsung berakhir saat Parutan Keju, yang memang saya minta khusus untuk menemani saya menemui Dandang, melerai kami.

Benarlah selama ini kalau kisruh diantara Ibu-ibu Perkakas Dapur vs Mbak Dandang dipicu oleh kesalahapahaman. Kesalahpahaman yang dibiarkan berlarut-larut karena tidak adanya pihak yang sudi untuk bertabayyun.

Sebelum ke rumah Dandang, kepada Parutan Keju sudah saya ceritakan semuanya. Sudah saya sebut-sebut nama Panci yang saya curigai sebagai ‘tukang kipas’ diantara kami.

Parutan Keju berusia jauh lebih tua diantara kami dan beliau berada di luar lingkaran pertemanan “Ibu-ibu Perkakas Dapur”.

Karena saya tahu pasti, baik saya maupun Dandang adalah sedikit diantara perkakas lain yang tidak takut berkonfrontasi langsung dengan tegangan tinggi sekali pun. Makanya biar enggak korslet, perlu ada Parutan Keju hehehe.

Perlu lebih dari sejam untuk meyakinkan Dandang kalau saya bisa membuktikan semua cuma salah paham. Pasti enggak gampang untuk Dandang karena ternyata selama ini hubungannya tetap rapat dengan Panci. Padahal Panci mengaku sudah tidak akrab lagi dengan Dandang .

Saya ajak langsung Dandang bertemu Panci.

Yang saya inginkan bukan menghukum Panci, kok. Suwer. Benar-benar hanya ingin mengakhiri ketegangan yang sebenarnya berawal dari perselisihan Dandang vs Wajan & Dandang vs Mangkok. Dengan Mangkok saya tidak begitu dekat. Tapi Wajan adalah sahabat karib saya.

Malah, sebelum pertengkaran ini terjadi, Wajan-Dandang-Panci-Saya bisa dibilang kuartet yang paling karib. Kalau mengaji duduknya berempat rapat-rapat, cekikikan sembunyi-sembunyi hihihi. Pernah kejadian listrik di gedung Dandang dan Panci mati, mereka ngibrit ke rumah Wajan.

Saya, yang sudah bisa mencium aroma makan-makan tentunya ikut absen di rumah Wajan. Hahaha *temanMacamApaaahhh* .

Saya tidak rela melihat hubungan yang dulunya harmonis bisa pecah berkeping-keping. Tak hanya antara Mangkok-Wajan vs Dandang.

Ketidakpedulian saya, Sendok, Piring, Gelas dll membuat semuanya terseret. Tiba-tiba saja, it’s us against Dandang!

Padahal mungkin maksud Sendok dan Piring itu baik. Diamkan saja. Yang penting kita tidak ikut-ikutan. Istilahnya, cari aman sendiri . Saya tahu setelah ribut-ribut, Sendok masih dekat dengan Dandang. Piring yang belakangan juga kena hasut.

Pengajian kami terpecah dua. Kelompok arisan bubar. Aroma permusuhan menyebar luas ke seantero ‘rumah’. Tak hanya di ‘dapur’, di ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tidur’ tahu perang dingin antara kami. Malu rasanya.

Singkat cerita, setelah Panci ‘terdesak’, saya usulkan semuanya bertemu. Saya-Panci-Wajan-Dandang dan Mangkok. Yang lainnya entar-entar saja dulu. Dandang menolak konfrontasi. Ya sudah. Saya bilang yang penting ketemu saja. Peluk-pelukan dan saling minta maaf, tidak usah membahas apa-apa lagi.

Saya pulang. Tanpa sepengetahuan saya, Dandang berbicara dengan Panci. Katanya, Panci menangis. Dandang tidak tega. Pertemuan batal. Konon, Wajan akhirnya menelepon Dandang, Mangkok juga. Anehnya, Wajan sempat marah pada saya. “Lu kenapa sih? Dasar gila urusan! Enggak ada kerjaan lain apa, ya?”

Inilah repotnya. Panci jauh lebih dekat kepada Wajan daripada saya. Manalagi, Wajan ini, walau gampang marah dia tidak terlalu suka berkonfrontasi langsung. Dia tidak mau berdiskusi langsung.

Pada kenyataannya, hubungan kami semua dan Dandang tidak membaik.

Gambar : bubblews.com
Gambar : bubblews.com

Awalnya, Dandang tidak sadar. Saya ingat lho sekitar seminggu setelah konfrontasi itu, Dandang membuat acara buka puasa di kediamannya. Harapannya, kami semua datang.

Entah hasutan apa yang dibuat Panci, perwakilan “Perkakas Dapur” hanya ada saya dan Serbet, yang memang sejak awal memilih tidak ikut-ikutan sama sekali.

Mellihat saya datang, Dandang berseri-seri, katanya, “Wajan mana?”

Aduh, saya tidak tega melihat mukanya yang penuh harapan. Saya bilang saja tidak tahu. Padahal Wajan sudah berdalih kalau dia enggak bisa datang karena suaminya kerja malam .

Sepanjang acara, saban ada yang datang, Dandang sontak menengok ke arah pintu. Tapi, yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang . Sedih euy ingatnya.

Di situ saya jadi ketakutan sendiri. Pengecutnya langsung keluar. Saya mulai berhitung-hitung. Panci sepertinya ‘lawan’ yang ‘tangguh’. Tentu saja. Dia sudah lebih dahulu membentangkan sayap pertemenan di ‘dalam dapur’. Temannya banyak sekali. Dari ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tengah’, siapa yang tidak kenal Panci?

Saya waktu itu baru bergabung di ‘rumah’ itu. Siapalah saya. Sudahlah orangnya malas berbasa basi, malas datang ke acara ibu-ibu di luar acara ‘dapur’, saya juga terkenal bermulut silet huhuhu. Sementara Panci bersifat seperti malaikat. Kebaikannya sudah melegenda. Saya kagum kok kepadanya. Sifatnya yang ringan tangan kepada siapa saja tanpa pandang bulu memang patut kita acungi jempol .

Manusia … tidak ada yang sempurna 🙂.

Saya menyerah. Wajan sepertinya mulai menjauh. Mangkok memang terkenal pendiam. Jadi, ketika akhirnya Dandang malah bersikap dingin pada saya saat kami bertemu kembali, ya saya bisa bilang apa 🙁.

Walau sakit hati luar biasa, saya hanya berani mengamuk depan suami hahaha.

‘Dapur’ kami sudah mulai ramai. Saya pasrahkan bila memang Dandang yang memang harus terusir. Maaf ya, Mbak Dandang . Hiks. Enggak sanggup saya kalau harus berselisih dengan Mangkok, Wajan, Sendok, Piring, Gelas dan belakangan datanglah Tatakan Piring, Taplak, Toples dll.

Bersama teman-teman baru, ibarat kata, saya memilih menyembunyikan bangkai dalam lemari dan pura-pura tidak tahu saja. Seperti selama ini yang dilakukan oleh Sendok, Piring, Gelas dll.

Dan itu berlangsung terus selama bertahun-tahun. Yup, bertahun-tahun . Bahkan, Panci terus menyeret Tatakan Piring, Taplak dll ke dalam perang dingin. Sungguh lucu.. Mengingat Tatakan Piring, Taplak dll ini kan bahkan tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan Dandang.

Sementara itu, hubungan Dandang dan Panci tetap bagai dua sejoli tak terpisahkan.

Gambar : infodapur.com
Gambar : infodapur.com

***

Beberapa hari lalu Dandang mengirimkan pesan kepada saya. Panjang sekali isinya. Sungguh tidak mengira. Akhirnya, sekali lagi, ada yang membongkar muslihat Panci. Kali ini, semuanya melibatkan diri dan konfrontasi kembali dilakukan terang-terangan langsung di rumah Dandang. Panci sengaja tidak diikutsertakan.

Alhamdulillah. Selesai urusan antara Dandang dan ‘seantero dapur’.

Tapi … masalah lain mulai datang. Ini yang sebenarnya ingin sekali saya hindari dulu . Kisruh dengan Dandang terurai, sekarang seperti terlihat Panci menjadi musuh bersama.

Bukannya sok baik. Kalau untuk saya pribadi, berlarut-larutnya masalah ini ya hasil dari kesalahan kita bersama. Dandang sudah diperingati tapi tetap takluk pada airmata Panci atas nama rasa kasihan.

Saya juga oon bin pengecut. Dulu, sudah melangkah sejauh itu tiba-tiba mundur sendiri. Termakan rasa takut karena enggak kehilangan lebih banyak teman. Istilahnya ya itu tadi cari aman sendiri .

Mangkok, Wajan, Sendok, Piring dan Gelas saya rasa juga sudah bisa membaca situasi. Tapi apa daya. Selama ini, tingkah laku Panci yang bak malaikat di hadapan mereka menimbulkan rasa tidak enak yang bermuara pada ketidakpedulian. Alasan klasik, enggak tega.

Belum lagi semangat bertabayyun masih sangat rendah. Telan saja Panci bilang apa. Dibumbu-bumbui kalau perlu.

Ignorance membawa perselisihan ke level yang lebih tinggi. Bertahun-tahun booo. Dan akhirnya melibatkan hampir seisi dapur.

Sebenarnya, ada apa sih antara Panci dan Dandang? Saya bukan psikolog atau psikiater sih hehe. Tapi, sekilas saya menangkap Panci ini tipe orang yang tidak bisa bilang tidak kepada siapa pun. Dia terobsesi untuk menyenangkan semua orang. Mustahil atuh.

Beberapa tahun pertama di ‘dapur’, Panci hanya ikut-ikut di acara ‘ruang tamu’, ‘ruang tidur’ dll. Panci ingin punya komunitas sendiri. Jadi, ketika akhirnya Wajan, Sendok, Piring, Gelas, saya dll datang mengisi ‘dapur’, dia ingin memegang komando. Maklum paling senior.

The problem is, ada Dandang. Secara leadership, Dandang memang juara banget . That’s why I admire her that much . Untuk menghadapi ibu-ibu yang “terserah kata lo” tapi di belakang doyan ngomel ini, memang perlu banget karakter seperti Dandang hahahahaha.

Singkatnya, ‘komando’ yang diidam-idamkan malah jatuh ke tangan Dandang. Mungkin karena itulah, tanpa sadar Panci ingin menjauhkan Dandang dari kami. Mungkin lho, ya hehehe. Sotoy aja nih eike.

Kalau dikatakan Panci jahat, ya tidak bisa begitu juga. Toh, selama ini, Panci sudah begitu rupa menjaga hubungan baik dengan Dandang sebaik dia mengakrabi “Perkakas Dapur” lainnya . Saya rasa, Panci terjebak dalam dustanya sendiri.

Saya pernah ada dalam situasi seperti itu. Waktu SD, saya ini dikenal sebagai Pabote’ alis Pembual hehehe. Saya bersekolah di sekolah swasta yang banyak dihuni oleh para siswa dari kalangan atas. Ada yang anak dokter, anak pengacara terkenal atau minimal anak dosen.

Saya takut kalau mereka tahu saya cuma anak penjual seprei dan gorden di kios kecil di Pasar Sentral, tidak ada yang mau akrab dengan saya. Hehehe. Padahal teman-teman saya tidak sekerdil itu . Saya saja yang lebay.

Akhirnya, saya suka membual tentang saya yang ikut les bahasa inggris seperti mereka, saya ikut les piano, saya punya tante kaya raya yang sering mengajak saya menginap di rumahnya, pokoknya macam-macamlah.

Sekali berbohong, memang dampaknya luar biasa . Lain kali deh kita cerita soal ini hehehe.

Satu kebohongan harus ditutupi oleh kebohongan yang lain. Seperti saya saat itu, saya rasa begitulah posisi Panci selama ini. Panci jelas bukan tipe yang sanggup ‘menyendiri’. Dia sangat tergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Apa pun dia lakukan untuk ‘membeli’ kesetiaan semua orang. Termasuk jika harus bergunjing soal orang lain.

Seharusnya, itulah gunanya teman sejati. Sepatutnya … saya, Wajan, Mangkok, Sendok dll yang harus buru-buru mengembalikan Panci ke arah yang benar. Iya dong, namanya sahabat masa mendiamkan jika ada teman yang sedang terperosok? .

Lagian, jangan lupa kebaikan-kebaikan Panci selama ini . Siapa yang menjaga anak-anak kalian saat kalian naik haji? Siapa yang selalu membawakan makanan tambahan di setiap acara pengajian di berbagai rumah? Siapa yang menjaga anak-anak sulung kalian saat kalian melahirkan? Siapa yang paling sering mengorbankan waktu menemani kalian ke sana kemari? .

Memang. Kalau lagi emosi, yang terbayang yang jelek-jeleknya saja. Saya suka gitu soalnya hahaha. Nah, mumpung lagi waras (which is jarang-jarang hihihi), saya ingin mengingatkan kita semua .

Karena apa yang terjadi pada Panci kan tidak 100% kesalahan dia. Saat Dandang meminta maaf pada saya, saya bilang kepada Dandang kalau saya tak menjamin apa yang dikatakan oleh Panci salah semua. Bisa saja saya memang pernah khilaf mengatakan hal-hal yang kurang baik tentang Dandang kepada Panci.

Soal lidah, kita semua tak luput dari khilaf lah ya. Lidah siapa pun gampang keseleo . Jangan sekarang semuanya dipersalahkan kepada Panci . Tidak fair itu namanya hehehe.

Kalau Wajan dulu selalu menutup ruang diskusi dengan mengatakan, “Biarin aja. Biar waktu nanti menyelesaikan.”

Tapi Saudari-saudariku tercinta, kita bukan penguasa waktu. Waktu tak dikendalikan oleh kita. Kita sering pasrah dan berpikiran, “Lihat besok sajalah.” Bagaimana kalau besok itu ternyata tidak pernah terjadi. If tomorrow never comes, what will happen?

Sudah terlalu lama ya. 3 tahun. Kita tidak lagi muda. Waktu yang panjang yang sudah kita lewati seharusnya menjadi proses penting yang tidak boleh disia-siakan. Jangan ditunda-tunda hehe. Menunda-nunda hanya akan membuat syaitan masuk dari segala celah.

Memaafkan memang bukan sifat sembarangan. Kalau menurut Gandhi, hanya orang-orang besar yang sanggup memaafkan. Kalau orang kerdil, jangankan memaafkan, minta maaf saja tidak akan punya nyali. It’s your choice, kesempatan untuk membuktikan orang seperti apakah kita ini .

Kalau temannya berselisih, minimal jangan ditambah-tambahi atau berkumpul untuk membahas satu orang itu saja. Percaya deh, begitulah dulu awalnya perselisihan dengan Dandang muncul. Sudah cukup, kan? Masih kurang sakit? Masih perlu diulang lagi? .

Untuk yang lain yang tidak merasa terlibat masalah ya kesempatan beramal untuk mendamaikan yang lagi bersitegang. Amar ma’ruf nahi munkar kalau istilah kerennya hehe.

Waktu tak akan selalu berpihak pada kita. Bagaimana bila takdir tak mengizinkan kita bertemu besok? Sementara urusan sesama manusia harus selesai di dunia.

Saya tidak tahu ya perkembangannya seperti apa. Atau mungkin banyak kata-kata dari Panci tentang saya, mohon kebesaran hati dari saudari-saudariku yang cantik dan baik hatinya untuk memaafkan. Sekali lagi, saya enggak bilang Panci bohong. Ya siapa tahu ada yang benar. Maafkan saya. Maafkan Panci.

Panci tidak sempurna. Dandang juga tidak. Saya apalagi, mulut silet boooo hahahahaha. Dan kalau kalian menengok ke dalam kaca dan bercermin, kalian pun akan mendapati hal yang sama .

***

Satu musuh terlalu banyak. Sejuta teman takkan pernah cukup.

Saya tutup dengan lirik lagu favorit dari band jadul ini hehehe…

“Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada HATI BICARA
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga 🙂”

friends posting


Diam, Belum Tentu Emas :)

Saya sudah menandatangani petisi ini sejak beberapa hari lalu. Enggak ngerti sih acaranya apaan. Tapi, mencermati keluhan teman-teman, kayaknya bisa ‘menangkap’ acara macam apa ini.

Tapi saya jadi tertarik ikutan share karena adanya tanggapan-tanggapan seperti :

1. Matiin aja sih TV lo! Repot amat! What’s wrong with you people?
2. Ya jangan salahin produsernya. Dibalik dong, mengapa bisa acara-acara kayak gitu sampai mengisi 4 slot prime time! –> mungkin maksudnya : pemirsanya yang masih banyak yang ‘bodoh’, mau-maunya nonton acara gituan.
3. Makanya gue sih pilih tayangan yang berbayar! Drpd nonton acara gituan.

Yang makin menarik, ungkapan di atas datang dari kalangan kampus. Yoi, ketiga tanggapan berbeda tersebut ditulis oleh adik-adik kelas saya sendiri hehehe. Bukan orang ‘sembarangan’ lah istilahnya. Maklum, ya, ratu kepo kalau lagi iseng beredar di news feed nyari-nyari bahan untuk ngisi-ngisi wall :P.

Jawaban saya untuk ketiga tanggapan di atas, “Broh dan Sist, kalian itu punya empati enggak, sih?” Hehehe. Lebih detail lagi :

1. Saya yakin sekali orang yang membuat petisi di bawah ini dan orang-orang yang ikut menandatanganinya BUKANLAH pemirsa acara ini. Logika saja ya boooo, ngapain mereka ikut protes kalau mereka doyan? ;). Mereka bukannya tidak bisa mematikan televisi. They can ‘see’ something beyond than sekadar matiin tombol televisi :).

2. Kalau mau ngomongin orang ‘bodoh’, itu parameternya bisa sangat banyak. Sikon juga macam-macam. Karena pertanyaan pertama yang harus kita lempar adalah, “Mengapa mereka bodoh?” –> bisa jawabnya? :).

3. Situ punya duit. Yang lain?

***

Waktu masih tinggal di Jakarta, saya punya embak. Namanya Mbak Sri (bukan nama sebenarnya). Mbak Sri doyan banget nonton acara “Awas, ada Sule.” Karena saya enggak suka nonton TV, ya saya biarin saja dia pegang remote :D.

Saya sih sibuk di depan laptop hehehe. Anak saya jam segitu sudah molor hehehe.

Nah, saya penasaran. Itu acara apaan, ya. Saya mencoba ikut menonton. Selama beberapa hari tuh saya coba. Setelah semingguan, saya tetap bingung. Menariknya apa, ya? Lucu enggak, pesan moral tidak terlihat, pemain-pemainnya juga enggak ganteng-ganteng amat hihihihi. Tapi si embak tiap malam mesti banget nonton sinetron itu hehe.

Saya sedikit coba-coba. Saya meminjam beberapa buah DVD. Film-film kartun, untuk jaga-jaga kalau saja anak saya ikut nonton walau dia pasti belum mengerti ya hehe. Malam itu, saya tawarkan si embak nonton DVD itu. Saya pikir dia bakal marah atau menolak. Sudah saya siapkan bujukan. Tapi anehnya, dia mau-mau saja.

Beberapa hari saya putarkan film berbeda-beda. Dia senang, lhooooo ^_^. Film-nya yang ada subtitle-nya ya, Kakaaaa. Karena kalau dese sudah sanggup mengerti film bule tanpa subtitle, tak mungkinlah dia mau nyapu ngepel di rumah saya hahaha.

Bahkan, pas judul-judul sudah kelar semua. Si embak mau nonton ulang. “Bu, yang perempuan Cina itu dong, Bu. Yang naik kuda itu. Bagus, ya. Ulang dong, Bu.”

Lama-lama bosan juga, barulah kami beralih ke DVD semacam Dora, Thomas n His Friends dll. Si embak malah mulai bertanya berapa harga DVD player. Dan langsung senyum kecut begitu saya beritahu hehehe. Katanya, “Bagus ya. Mau buat anak saya di kampung. Tapi mahal ya, Bu.”

Jadi, kalau melihat pengalaman saya pribadi, si embak itu lebih karena ‘terpaksa’ saja menikmati sinetron-sinetron di TV swasta gratisan. Istilahnya, “Lah, mau gimana lagi. Hiburan yang murah dan gratis adanya itu.”

Dia ikut ketawa-ketawa, sih, ikut cekikikan pada adegan-adegan yang menurut saya sama sekali tidak ada lucu-lucunya hehehe :P. Etapi, daku pun sempat suka menggunakan istilah Kanjeng Mami gara-gara si Sule ini hahaha.

Tentu saja, embak saya termasuk istimewa, ya :). Jarang-jaranglah yang model kayak dia bisa ngefans sama film-film Disney hihihi. Tapi intinya, mereka hanya perlu KESEMPATAN :). Kesempatan yang tidak mereka punya ya karena salah satunya alasan ekonomi. Sekolah saja paling mentok sampai SMP. Embak Sri kelihatan kan punya daya nalar yang bagus, I really like her dan sempat saya bujukin untuk ikut Kejar Paket B atau C :D.

Dia menolak katanya malu sudah tua. Itu saja dia sudah bangga sekali bisa sekolah sampai SMP. Konon, kerabatnya umumnya mentok sampai ijazah SD saja :'(.

Sementara, stasiun televisi serakah tidak mau tahu. Yang ada di pikiran mereka adalah rating rating dan rating. Ketidaktahuan orang-orang seperti Mbak Sri, kurangnya kesempatan/sarana/kemampuan bagi mereka untuk mengakses jenis hiburan lain, malah dimanfaatkan oleh para pengusaha hiburan untuk mengais keuntungan materi setinggi mungkin.

Lantas, kita bisa apa? Ya kalau kita tak sanggup membagi-bagikan DVD pendidikan atau film-film yang lebih layak untuk ditonton, setidaknya kita bisa MENCEGAH stasiun-stasiun televisi ini untuk terus menerus membodohi ‘mereka’.

Karena teman-temanku tercinta, kalau boleh saya ubah sedikit kalimat-kalimat ini, “Rusaknya sebuah bangsa bukan hanya karena banyaknya pengusaha televisi lokal yang ‘bandel’ :P, tapi karena diamnya orang-orang yang tahu.”

Diamnya orang-orang seperti kita disebabkan karena kita kan punya pillihan. Heloooo…duit gue akeh, tinggal langganan TV berbayar yang tayangannya lebih mendidik ;). Ribet amat mesti ikut mikirin acara-acara di stasiun-stasiun televisi gratisan. Bukan urusan ane!

Coba, teguklah ini segelas empati hehehe.

Jadi, kalau masih terasa berat bagi kita untuk mengubah sistem yang membuat ‘mereka’ terjebak dalam ‘kekurangan’, setidaknya kita masih mampu berbuat sesuatu lho. Gampang saja. Tanda tangani petisi ini :). Tidak semata-mata untuk diri sendiri. Sebagai bentuk kepedulian dan perlindungan kepada mereka. Dan untuk memberi isyarat bagi pengusaha televisi untuk tidak seenaknya memutar acara-acara ‘tidak jelas’ macam ini.

Ingat, kadang-kadang orang jahat itu bukan karena niat, tapi karena ada kesempatan. Apaagi, tidak ada pengawasan dan tidak ada perlawanan. Apalagi karena urusannya sudah uang, uang dan uang. Jangankan moral, harga diri saja sangat mudah tergadai kalau diri sudah menyandarkan kehormatan pada materi :).

Kalau pun enggak mendukung, setidaknya jangan menghalangi orang-orang yang mencoba melakukan perubahan :). Cukup diam saja lho Kakaaaa. Enggak usah nyinyir, yaaaaa :D. Hihihi. Udah mau ngomong itu doang. Doang? hahahaha. Ampuuunn, malah jadi panjang :P.

Silakan, yang berkenan, tanda tanganinya petisinya di sini –> https://www.change.org/id/petisi/transtv-corp-segera-hentikan-penayangan-yks

yks

***

Worst Form of Violence

Kalau kata lagunya Deddy Dhukun… “Karena orang ketiga … haruskah pusing kepala?” hehehe . Orang ketiga dalam rumah tangga yang saya maksud sih bukan WIL atau PIL .. tapi … asisten rumah tangga, alias tangan keduanya emak-emak di rumah :D.

Di Jakarta, puyeng kalau punya embak yang tingkahnya macam-macam. Jauh di rantau, kadang kangen juga pengin punya embak lagi D.

Sudah weekend lagi. Sekarang, subuhnya jam 7 pagi di sini. Jam segini masih gelap gulita. Bocah-bocah sudah berkeliaran. Subuh jam 7 pagi, magribnya jam 4 sore. Ini pasti nih penghuni muslim di Eropa rajin banget puasanya, yaaaaaa hahahaha.

Ramadan-nya boleh di musim panas. Ganti puasanya pas musim dingin . Puasa 19 jam di musim panas, begitu musim dingin tiba … puasa hanya 9 jam saja.

Segala sesuatu diciptakan berpasangan . Kedipin teman-teman di Skandinavia yang kemarin puasa Ramadan-nya sampai 22 jam 😉.

Selain musim yang dinamis berganti tiap tahun, kehidupan khas di sebagian besar daratan Eropa adalah … ibu rumah tangga kudu mandiri. Di sindang mana ada tangan kedua untuk tetek bengek rumah dll. Mau makan di luar juga meringis lihat harganya.

Suatu hari, saya pernah merasa kecape’an pas dorong-dorong stroller yang isinya penuh belanjaan. Mulai dari sayur-sayur, beras beberapa kilo, macam-macam lah itu isi keresekan yang gelantungan di stroller. Duuuhh… rasanya mau terbang kembali ke Jeddah saat itu  juga. Ke mana-mana naik mobil hihihi.

Rasa capek langsung luntur melihat emak-emak bule anak 3, dorong stroller yang juga isinya meriah kayak saya tidak cuma berisi batita . Dia juga sigap mengarahkan anak-anaknya yang lebih gede, usianya sekitar 4 sama 2 tahun kali, ya. Sementara bayinya masih kecil banget. Langsung malu hati. Dengan gegap gempita, mendorong stroller penuh semangat lagi :D. Tengsin sama yang anak 3 :P.

Foto depan pintu masuk gedung apartemen @Athlone ... rusuuuhhhh -_-
Foto depan pintu masuk gedung apartemen @Athlone … rusuuuhhhh -_-

Kata suami saya, pajak tempat dan upah pekerja di Eropa memang mahal. Jangan dikira kayak di negara-negara berkembang, walau direktur dan cleaning service staff gajinya sama-sama ratus-ratus, tapi yang satu pakai juta, yang satu pakai ribu hihihi. Becanda 😛. Enggak sejomplang itu kali, ya. Tukang bersih-bersih di Eropa juga bisa hidup layak seperti orang kebanyakan. Catat, seperti orang kebanyakan. Bukan berpenghasilan cukup cuma buat beli makan sama bayar kontrakan.

Jadi, kalau membeli barang-barang pokok makanan di supermarket, harganya enggak mahal lho . Tapi begitu beli makanan jadi di rumah makan, fffiiuuuhhh, Bibi Gober kagak demen! *benerinIsiDompetBukanPoni*. Kalau enggak terpaksa, Google-masterchef siap beraksi tiap hari! 7 hari dalam seminggu! Hahaha. Salah satu penyebab mahalnya ya karena tenaga kerja di sini upahnya enggak main-main. Untuk level pelayan resto sekali pun.

Saya sempat kaget, waktu OB gedung apartemen kami cuti. Katanya mau jalan-jalan ke luar negeri. Aih Kakaaaaa, keren amit hihihi. OB apartemen kami namanya Peter, usianya sekitar 50 tahunan kali, ya. Tiap pagi saat mengantar Abil ke sekolah, sering papasan di lobi. Dia selalu siaga dengan kemoceng dan vacuum cleaner. Hihihi. Hari gini masih pakai kemoceng cobak? 

Peter ini juga sering mengobrol dengan suami saya. Tiap selasa atau kamis dia dapat libur. Katanya kalau libur itu, dia main golf dengan teman-temannya. Awwww…main golf, boooo .

Upah minimum di Eropa ini tergolong tinggi. Masa kata suami saya, penghasilan pegawai supermarket (yang kalau di sini sibuknya minta ampun) mungkin bisa sepertiga atau seperempat gaji engineer. Kalau anak-anak gede, bolehlah eike lamar-lamar kerja di supermarket kali ya hahahhahaha –> dipelototin suami, “Masih kurang banyak kerjaan lo di rumah?” Hahaha.

Pantas saja, kesenjangan ekonomi di sini tidak terlalu terasa. Sekolah publik isinya macam-macam. Mulai dari anak OB, koki, sampai engineer . Padahal waktu di Indonesia saya suka marah-marah karena gaji suami saya bisa 3x lipat gaji saya! Saya kerjanya juga bukan di perusahaan main-main. Lah, memang ada perusahaan main-main? hihihi.

Saya bilang, “Apaan sih, kerjanya cuma melototin server doang. Kerenan pekerjaanku. Lebih susah kerjaanku.”

Suami menjawab sambil nyengir, “Lah, siapa suruh kerja susah-susah gajinya kecil. Emang yang bener gitu, kerja gampang, gaji asoy…”

Belaguuuuuuuu… –> *sambitSuamiPakaiDiaper* 

Oh well, satu sisi Eropa yang saya sukai adalah yang begini inih. Perekonomian mereka yang mengarah kepada sosialis 🙂. Sayup-sayup membayangkan kutipan dari ucapan seorang Ahmad Syarif Maarif… “Keadilan sosial yang demikian keras diperintahkan dalam alquran…” Ini kenapa malah diterapkan sama Eropa? Lirik kiri kanan … jarang banget ketemu masjid di sini *garukGarukKepala*.

Mari kembali merenung. Mengenang kembali Gandhi dengan salah satu quote maut-nya,

“Poverty is the worst form of violence.” – Mahatma Gandhi

Sambil merenung, pentungin kepala koruptor satu-satu. Itulah mengapa kita perlu serius betul melakukan ‘perlawanan’ kepada para tukang kemplang uang rakyat ini :(. Menyengsarakan hidup banyak orang kok, ya, pada masih bisa hidup tenang, ya? *berkabungTingkatDewa*.

Ada yang koleksi mobil mewah, ada yang meributkan tas-tas harga eM-eM-an, padahal lihatlah … tak sedikit yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Masih kurang jahat apa kita yang hanya bisa … DIAM?

Masih mau DIAM saja melihat pola tingkah para koruptor? Yang korupsi kecil-kecilan, korupsi sedang-sedangan, sampai besar-besaran…ingat, semuanya MALING!

Suka heran dengan orang-orang yang nyinyir sama KPK kala KPK kini tengah ‘sibuk’ menangkapi koruptor yang kata para ‘kritikus’ itu level teri doang. Halah, level teri sampai kakap, pencuri is pencuri. Semuanya memang harus dibasmi. Terserah yang mana duluan.

Seperti kata teman saya, silakan saja TEBANG PILIH…asal JANGAN SALAH TEBANG! Yes?

Gambar :  blog.djarumbeasiswaplus.org
Gambar : blog.djarumbeasiswaplus.org

Tak Hilang Arah Kita Berjalan

Sarah Whitehead menghabiskan 25 tahun hidupnya untuk mempertanyakan perihal saudara laki-lakinya. Saudara Sarah bekerja di Bank of England dan dituduh mencuri hingga dieksekusi. Sarah syok. Tak mampu menerima kenyataan, Sarah terus mendatangi bank tersebut, menanyakan tentang saudaranya.

Karena kasihan, saat Sarah meninggal, pihak bank membayar pemakamannya yang bertempat di salah satu lokasi taman di halaman gedung. Konon, hingga kini, arwah Sarah masih sering gentayangan di gedung yang hingga kini masih berdiri dengan nama yang sama, “Bank of England.”

Kadang … enggak gampang, ya, berdamai dengan kenyataan :).

Tapi, apa pun kenyataan yang terjadi saat kenyataan yang ditunggu tak menjadi kenyataan, semoga kita enggak bakal ‘menghantui’ siapa pun untuk menuntut balas hahaha.

***

Juni 2008, saya cuti untuk melahirkan. Pertama kalinya saya memutuskan untuk membeli  notebook sendiri. Ogah menggotong notebook dari kantor ke rumah selama cuti, entar direcokin kerjaan terus hahaha.

Harus cuti 3 bulan dari dunia kerja, bakal garing banget kalau harus cuti dari dunia maya pula. Mulai cari-cari.

Dalam membeli apa pun, saya menganut prinsip ekonomi yang standar. Mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dengan pengorbanan sekecil mungkin. Standar ibu-ibu la yaaaa hihihihi 😛

Tak heran jika pilihan langsung jatuh kepada yang murah dengan fasilitas optimal.

Kalau soal spesifikasi yang lebih detail, pengguna ‘konservatif’ seperti saya memang hanya membutuhkan fasilitas standar seperti office basic, browsing dan multimedia. Tidak suka main game :D. Anak-anak juga tidak saya biasakan. Nanti saja mereka main game sepuasnya kalau sudah punya sendiri hihihi. 

***

Tujuh bulan setelah anak pertama lahir, saya memutuskan untuk meletakkan karier yang sudah dibangun tanpa jeda selama tujuh tahun penuh. Untuk saya pribadi, saat itu prioritas telah berganti.

Berhenti bekerja kantoran, saya kembali menekuni hobi menulis. Frekuensi saya menggunakan notebook dalam sehari tergolong tinggi.

Kalau di rumah … saya sudah terlatih untuk membagi konsentrasi dunia nyata vs dunia maya sembari menunggu masakan matang, menemani anak makan (dengan catatan mereka tidak minta perhatian) dsb.

Kalau bosan, saat anak sulung di sekolah, saya melipir ke perpustakaan. Perpustakaan di sini nyaman banget. Juga ada satu kebiasaan orang di sini yang juga kerap saya ikuti dalam menghabiskan separuh pagi, semacam ritual morning tea.

Ada teman atau sendiri, saya tak masalah.  Anak saya yang bungsu biasanya ketiduran kalau pagi-pagi didorong dalam stroller saat mengantar abangnya ke sekolah. Kesempatan, kan, untuk ‘me time‘ bersama hobi.

Saya, walau tak bisa dibilang fashionable, termasuk picky dalam penampilan. Paling malas menenteng-nenteng ransel kalau tidak untuk belanja ke supermarket.

Sebagai pendatang, saya rasa kita perlu menjaga penampilan seoptimal mungkin. Ingat, jika berada di luar negeri, kita otomatis menjadi duta dari bangsa sendiri. Kalau tampil kece bisa membuat orang lain tidak memandang sebelah mata pada bangsa kita, kan? Definisi ‘kece’ ala saya tidak selalu berarti mahal ;).

Kalau memantau  orang-orang lalu lalang di luar kafe dalam mal, sering terbersit ide-ide untuk membuat tulisan.

Saya menulis nyaris apa saja. Dalam seminggu bisa menulis 3-4 artikel yang tergolong ‘serius’ dalam blog pribadi.

Setelah mulai menjajal media cetak setahun terakhir ini, hampir 20 tulisan sudah mejeng di berbagai media cetak nasional. Mulai dari cerpen, resensi buku, cerita-cerita khas ala ibu-ibu, hingga tulisan jalan-jalan…hajar, bleh! :D.

“Pesona Bumi Arab Saudi” -Majalah Colours, Garuda-

Naskah buku tidak saya hindari.  Saya juga tidak mengharamkan lomba-lomba blog dari aktivitas menulis. Toh, sama-sama menulis.

Dalam sejam, tanpa gangguan, saya bisa menulis sampai 10 halaman A4. Kebanyakan memang masih non fiksi. Kalau enggak diganggu facebook, berapa halaman yang bisa saya taklukkan dalam jam-jam ‘me time‘ pagi hari itu, ya? Hahaha :p.

Kecewa Tak Masalah, Teruslah Melangkah

Bila suatu urusan telah selesai dikerjakan, apa pun hasilnya, tetaplah berjalan terus. Amit-amit kalau sampai harus menjadi Sarah Whitehead yang juga dijuluki “The Black Nun” itu *ketokKetokMeja*.

Seperti kompetisi. Pada akhirnya, kalau ternyata tidak menang, kekecewaan pasti akan berlalu. Even echoes fade away :).

Kalau perihnya sudah lewat …  pen in hand … jari-jari para emak blogger kembali bersiaga di atas notebook masing-masing. Mari kembali berkarya di blog, di naskah buku, di artikel-artikel media cetak dan tentu saja … enggak kapok ikut lomba blog lagi hihihi.

Kalau pun tak di dunia jerih payah jemari kita menuai hasil, masih ada akhirat, kan? Therefore, menulislah selalu untuk kebaikan :).

Arising honestly.

The miles behind are littered with the weight of nostalgia, but too many miles lay ahead us to carry the weight. In the end, even echoes fade away.

Pen in hand…

Arising to write the next chapter.

-Shannon L. Aider-

Penting untuk tetap menyematkan idealisme dalam mimpi. Agar selamanya, angan-angan tidak kehilangan makna. Menang atau kalah, dalam hal apapun, tak hilang arah kita berjalan … menghadapinya :).

***

Yang Gugur … Akan Selalu Kembali Bersemi

Di hampir semua daratan Eropa, musim gugur tengah merekah. Daun-daun mulai terhempas ke tanah, angin kencang melanda hampir tiap hari, udara dingin mulai menyapa. Bbrrrr….

Tak Peduli Musim Apa, Kehidupan seorang emak ya gitu-gitu aja hihihi

Memangnya kenapa kalau musim gugur? Enggak ngaruh!

Iya, kan? Mau musim hujan, musim kemarau, musim gugur, musim kawin sampai musim duren, seorang ibu tetaplah seorang ibu :D. Yang tiap hari harus sibuk mengurusi ranah domestik kasur-sumur-dapur plus kehidupan sosial di luar rumah.

Saya ingat cerita seorang teman, sesama emak-emak yang juga gemar mencari peruntungan dari hobi menulis. Dalam blognya dia bercerita ingin  menghadiri suatu event yang kebetulan juga mengadakan lomba live tweet.

Beneran, lho. Si emak ini nekat menggotong notebooknya ke acara. Dia kurang nyaman kalau harus mengetik dengan frekuensi tinggi dan cepat jika hanya menggunakan ponsel. Sama seperti saya, dia juga tak bisa jauh-jauh dari notebook dalam urusan menulis. Sekadar update status di media sosial pun, ponsel tetap dibebastugaskan.

Sudah terbayang repotnya itu menenteng tas gede ke mana-mana. Kalau saya, mungkin sudah ogah duluan. Enggak apa-apa, deh, kalau disangka lebay soal penampilan. Ya, namanya juga perempuan.

Saya punya satu tas favorit. Ukurannya lumayan besar. Sayangnya, tak bisa digunakan untuk  benda-benda berat seperti notebook yang saya pakai sekarang. Walau tak modis-modis amat, soal tas selalu menjadi perhatian tersendiri :).

Penampilan tak bisa dipandang enteng. Mood saya juga kadang tergantung outfit, euy :P. Bagi perempuan, tak ada kata mati gaya ;). Saya pribadi menganggapnya lumrah. Asal dalam batas kewajaran. Ingat, modis tak selalu berarti mahal.

Di Rumah? Tak Kalah  Hebohnya

Jangan salah, seharian di rumah juga ada saja yang harus dilakukan. Selain aktivitas rutin di ranah domestik, anak-anak kadang ingin terus ditemani. Harus pintar-pintar mengakali agar mereka tidak rusuh saat saya tengah dikejar deadline dalam urusan tulis menulis.

Seringnya, kedua anak saya ditemani bermain sebentar dulu. Tak lama, dilepas bermain berdua juga tidak masalah.

Tapiiiii…sering juga, begitu melihat saya duduk depan mengetik depan notebook, langsung cari perhatian. Kalau dibiarkan duduk bareng depan meja, bisa keenakan mereka pakai notebook.

Jadi, saya ajak notebook-an di atas sofa.

Pegel -_-. Notebook tebal dan berat
Pegel -_-. Notebook tebal dan berat

Kalau di atas sofa, nanti pelan-pelan diarahkan untuk bermain yang lain dan mandiri. Kadang lumayan lama, kruntelan sama-sama di atas sofa. Kalau saya sukses mengalihkan perhatiannya ke hal lain, saya bisa curi-curi kesempatan menyelesaikan tulisan.

Notebook saya taruh di atas paha. Hadeuh, beraaat -_-. Pegal kalau lama-lama. Kalau sudah pegal, kembali notebook ditaruh di lantai. Nah, sama seperti kalau ditaruh di atas meja, kalau di lantai, anak-anak suka keenakan. Bisa gagal ini acara mengejar deadline. Deadlinenya sih tidak berarti urusan per-duit-an semata.

Kadang, menulis ringan saja bisa jadi deadline buat saya hahahaha :p. Si Lebay satu nih *toyorKepalaSendiri*.

bertiga final

They Don’t Always Happen When You Ask 🙂

Sudah kurang aktif apa kita sepanjang hari. Kesempatan pun telah kita terabas. Peralatan tempur sudah paling kece. Luar rumah, dalam rumah, hajar bleh!

Namun, kadang…hari sudah hampir usai. Usaha kita seolah tak terbayar.

Entah tulisan gagal diselesaikan. Yaeyalah, facebook-an melulu, kali. Hahaha. Entah anak-anak lagi susah disuapi, jadi makin susah mau menyelesaikan tulisan yang kepepet untuk lomba blog yang deadlinenya sudah mepet.

Iya, dengan semua usaha keras yang telah dikerahkan, rencana tak selalu terpenuhi. Tapi apa iya, semua keinginan harus terkabul?

Sekalian saja minta sepanjang tahun adalah musim semi kalau begitu :D. Tapi, ingat. Cantiknya musim semi tak akan terasa tanpa meranggasnya daun-daun di musim gugur. Hangatnya mentari musim panas tak akan ditunggu-tunggu bila tak ada salju yang membuat kita menggigil di sepanjang musim dingin.

Bila hari telah di ujung malam, taruh rapi-rapinotebook di atas meja kembali. Tutup notebooknya. Saatnya istirahat. Bukan berarti kita menyerah dan keberanian sudah menguap.

Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day, saying, “I will try again tomorrow.” -MA Radmacher-

Kita sudah melakukan yang terbaik hari ini.

Istirahatlah. Masih ada hari esok ;).

Seperti hujan yang pasti akan berhenti, badai yang akan berlalu, daun-daun yang gugur pun akan kembali tumbuh di musim semi nanti :). Begitulah kehidupan sehari-hari akan terus berputar. Jangan terlampau terpengaruh saat cobaan yang menghampiri. Katanya sih, “Every cloud has a silver lining.” Setelah kesedihan akan ada kebahagiaan.

Lagipula, apa serunya jika semua yang kita mau langsung terwujud?

Bersyukurlah karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, karena jika iya, apalagi yang hendak kita cari? -dailynomous-

***