Rosengarten bern swiss

[CERPEN] FLAMINGO MERAH JAMBU 

 

by : Jihan Davincka

***

Terhenti di sudut jalan Burrenstrasse, mataku berbinar senang, “Hanami …”

“Iya, bunga Sakura.”

Aku berdiri di bawah rimbunan kembang merah muda yang memenuhi hampir semua pucuk di ranting pohon itu. Kukeluarkan kamera saku, “Cepatlah. Foto aku.”

“Kau akan terlihat aneh. Jangan lupa, kita di Bern. Ini Swiss. Bukan  Jepang!”

Aku mengibaskan tanganku tidak peduli, “Ayolah  … ”

Kita terus berbicara tentang bunga Sakura walau pohonnya sudah tertinggal jauh oleh langkah-langkah kita. Katamu, “Di Eropa, tak sulit menemukan bunga Sakura. Tapi rasanya biasa saja.”

Aku mengangguk, “Iya. Di Jepang, kalau sakura bermekaran, sudah kayak apa hebohnya turis.”

“Lucu, ya.”

“Tidak juga. Sakura bukan hal yang istimewa di Eropa. Lebih terkenal Tulip mungkin.”

“Tulip juga banyak di Istanbul.”

“Sudahlah, menurutku mau tumbuh di mana pun, Sakura tetap cantik kan?”

“Itulah. Menurutku orang-orang di sini kurang menghargai bunga Sakura.”

Aku mengernyitkan kening, ” Apa harus sama seperti Jepang? Jadi tempat wisata? Swiss punya banyak ciri khas yang lain. Tak harus tentang Sakura.”

“Di sini banyak gunung es. Di Jepang juga dan di sana gunung es pun dihargai sebagai tempat wisata.”

Aku tetap ngotot, “Swiss punya banyak danau, beda dengan Jepang.”

“Tapi kan … ”

“Ya ampun, kenapa jadi sensitif sekali dengan bunga Sakura? Santai sajalah. Apa kau ingin kupotret juga dengan pohon Sakura?”

“Bukan begitu …”

Aku tertawa menggoda, “Kenapa laki-laki takut sekali dengan bunga?”

Tak hanya tentang Sakura, kita kembali ribut soal burung Flamingo. Di suatu akhir pekan kita ke Tierpark, kebun binatang paling besar di Bern. Bersama kerumunan orang banyak yang tumpah ruah di sana. Ingin ikut merayakan teriknya matahari yang menandai datangnya musim semi.

“Wah, tempatnya gratis! Gratis! Gratis!” Aku memekik senang. Beberapa pandang mata langsung menatap ke arahku.

Kau berbisik, “Jangan norak. Gratis itu juga bahasa Jerman. Artinya sama.”

Tierpark Bern Swiss
Playground di Tierpark Bern

Aku terkikik. Buru-buru menutup mulut dengan sebelah tangan. Pantas saja orang-orang melihat ke arahku. Berlebihan betul tingkahku tadi.

Setelah melihat hewan-hewan ternak seperti kelinci, hamster kecil, keledai, kuda, yang dirubung anak-anak, kita jalan lebih jauh ke dalam. Sedikit mendaki, tibalah di sebuah kolam kecil. Kawanan burung flamingo langsung menarik perhatianku.

“Cantik sekali.”

Kuserahkan kamera saku padamu. Aku mengambil pose tepat di samping burung-burung berkaki panjang yang berwarna merah jambu yang berkerumun di salah satu sudut kolam.

Di deretan kursi kayu yang berjajar di hadapan kolam, kita terduduk. Memuaskan diri memandangi sekelompok unggas yang paruhnya ternyata berwarna hitam walau dominasi merah muda memenuhi sekujur bulunya.

Aku tercenung, “Apa tidak kesepian? Hanya berputar-putar di kolam ini?”

“Kenapa harus sepi? Lihat, mereka berkelompok-kelompok.”

Kuedarkan pandangan. Benar juga, di beberapa sudut danau, burung-burung merah jambu ini berdiri bergerombol. Tiap kawanan mungkin berjumlah belasan.

Tetap terpikir, “Apa mereka tidak ingin terbang melihat dunia luas?”

“Bagi mereka, tidak penting ada di mana. Asal selalu bersama orang-orang dekatnya. Dikelilingi oleh teman-teman dan mungkin…kekasihnya.”

Aku jadi ingin tertawa mendengar jawabanmu, “Kupikir mungkin mereka tidak bisa terbang. Kau sedang membahas apa, sih?”

Tapi kau tidak ikut tertawa. Malah menatapku bergeming, suaramu memelan, “Membahas tentang kita.”

Aku tidak siap dengan jawabanmu, “Tentang kita?”

“Sampai kapan kau mau begini? Terus-terusan meninggalkanku. Pulanglah. Ibuku sudah tanya-tanya terus.”

Aku makin tak siap, “Kita sudah kenal lama. Kau tahu ini pekerjaanku. Aku tidak mungkin pulang begitu saja. Kesempatanku di sini, bukan di sana.”

“Iya, sudah lama. 6 tahun. Apa kurang lama? Kalau hanya ingin melihat bunga Sakura, burung flamingo, aku pun sanggup membawamu nanti.”

Aku menggeleng cepat, “Kau seperti  baru mengenalku. Kau tahu pekerjaan seperti ini sudah kutunggu-tunggu dari dulu.”

Tak ada respons. Aku memainkan kamera saku di tanganku. Kubuka-buka foto-foto hasil jalan-jalan beberapa hari terakhir ini. Layar kamera terasa macet. Jari-jariku berkeringat. Sebuah tanya memenuhi kepala, tak berani terlontar dari mulut, “Ada apa denganmu?”

Tahu-tahu kau kembali bersuara, “Jadi?”

“Apanya?”

“Pulanglah. Aku ingin … umm… Menetaplah bersamaku di Jakarta.”

Kamera sampai terjatuh dari tangan. Entah harus bahagia atau bagaimana. Kupikir ini kunjungan biasa. Memang, belum pernah selama ini kau sampai jauh-jauh datang menghampiri sejak aku pindah ke Eropa. Pekerjaan yang mengharuskanku sering-sering membenahi koper dan melancong ke banyak negara.

Dalam pesan singkatmu, kau bilang ingin bertemu saja. Kangen. Sudah setahun lebih aku tidak pulang. Sebelumnya, bisa 3x setahun aku menyempatkan pulang ke Jakarta. Akhir-akhir ini, jadwal traveling sehubungan tugas kantor begitu padat.

Kupungut kamera. Giliranku yang tidak bersuara. Suara-suara burung flamingo yang mendadak ribut bersahut-sahutan menyelamatkan keresahanku yang dipertajam lekatnya tatapanmu. Menuntut jawaban.

Perhatianmu teralih. Kuambil kesempatan, memecahkan percakapan yang buntu, “Wah, kenapa tuh? Mendadak berisik?”

Kau berdiri, melongokkan kepala. Mengalihkan pandangan ke tepian danau di seberang. “Oh, itu. Ada pengunjung yang melemparkan makanan.”

Aku berdiri, menunduk sambil mengibas celanaku yang sama sekali kutahu tidak kotor, “Sudah yuk, ayo ke tempat lain lagi.”

“Eh, tunggu …” Kau memanggilku yang sengaja melangkah cepat-cepat. Kuperlambat langkah biar segera tersusul.

Kau tersenyum kecil menengok kepadaku saat langkah kita telah sejajar, “Burung flamingo bisa terbang, kok.”

Aku mengerutkan kening sejenak. Membiarkanmu mempercepat langkah untuk kemudian mengejarmu kembali, “Oh kupikir tidak bisa. Ternyata bisa?”

“Iya, bisa. Tapi mereka memilih menetap di kolam.”

Hari itu, bunga Sakura bukan tujuan utama kita. Tier Park pun kita singgahi karena kebetulan salah naik tram. Aku ingin mengajakmu ke Zytglogge. Tempat yang pertama terpikir saat kau bertanya, “Apa tempat paling khas di Bern ini?”

Turun dari tram, kau langsung tahu harus ke mana. Kau jalan cepat-cepat, “Penasaran tentang jam besar yang semalam kulihat di situs tentang tempat ini.”

Aku berlari kecil mengimbangi, “Wah, kau sudah survey di internet, ya?”

Tak lama, kita berdua sudah bergabung bersama turis lain yang umumnya saat datang ke tempat ini pastilah berlama-lama di bawah sebuah bangunan jam besar yang menjadi semacam pintu gerbang di wilayah kota tua Zytglogge, Bern.

Kau nampak kecewa, “Ha? Cuma begini saja? Apa istimewanya?”

“Ini jam tertua di Swiss.”

“Tidak ada apa-apanya dibanding Big Ben.”

Zytglogge Bern
Menara Jam di Zytglogge

Aku menjawab panjang lebar, “Menara jam ini usianya jauh lebih tua daripada Big Ben. Soal megahnya mungkin kalah. Tapi sejarahnya lebih menarik. Modelnya juga klasik, tentu beda dengan Big Ben yang lebih modern.”

Dia tak menjawab. Kusentuh lengannya, “Kau tidak akan tahu megahnya Big Ben kalau kau tidak pernah melihat jam besar di Zytglogge  ini bukan?”

Dia menggamit lenganku, “Tak sekalian kau datangi Timbuktu untuk memuaskan perbandinganmu terhadap  banyak hal?”

Sontak kumenengok, nada suaramu agak tajam.  Kau membalas tatapanku, terasa lebih sengit,  “Apa belum cukup?”

“Apanya yang belum cukup?” Tak sadar kutarik lenganku darinya dengan cepat.

Suaramu melunak, “Sampai kapan? Kau tahu, aku tak selamanya bisa menunggu.”

Ah, soal itu lagi?

Tiba di apartemen setelah kuantar ke hotel tempatmu menginap, aku tercenung. Mengapa terasa mendadak? Ada sesuatukah? Sampai kau perlu jauh-jauh menghampiri ke Bern. Setelah agak lama aku tersenyum sendiri. Mungkin benar kau hanya kangen saja. Lama tak bertemu, kau terbawa suasana.

Besok … akan kuajak kau menjelajah di Bukit Gurten. Banyak tempat tracking yang seru di sekeliling perbukitan.

Benar saja, kau terlihat bersemangat. Kita tracking hampir 2 jam mengelilingi salah satu sisi bukit Gurten. Hingga lelah dan terduduk di salah satu sudut terbaik untuk sepuasnya memandang kota dari puncak tertinggi di Bern ini. Kukeluarkan bekal roti isi yang kupersiapkan dari apartemen.

“Kalau makan di kafe lumayan. Bawa bekal biar hemat.” Kusodorkan sebungkus kepadamu.

Hingga roti isi tinggal setengah di tangan masing-masing, kita asyik membahas letak-letak tempat yang sudah kita singgahi jika dilihat dari atas. “Itu yang garis coklat kayaknya Sungai Aare.”

Aku memicingkan mata, “Apa betul?”

“Nah, coba lihat, itu tuh jembatan layang di Burrenstrasse, dekat apartemenmu. Terus yang tinggi itu katedral yang depannya Tier Park. Mungkin yang gedung satunya lagi…”

Aku tidak terlalu menyimak. Diam-diam memandangimu dari samping. Soal beginian kau sangat ahli. Kemampuan visual yang sangat bagus. Membuatku nyaman ke mana-mana menemanimu. Padahal aku tak pandai mengenali jalan. Kurasa, kita memang cocok. Kira-kira, pembicaraan kemarin itu …

Seolah kau mampu membaca isi hatiku, kau menengok perlahan. Mata kita bertemu. Aku jadi tidak enak. Mungkin kau sadar aku tidak menyimak pembicaraan barusan.

“Aku masih menunggu jawaban dari pertanyaan kemarin.”

On top of Gurten Swiss pic by Dani Rosyadi
Dari atas Bukit Gurten Swiss, fotografer Dani Rosyadi

Ya ampun, harus dibahas lagi? Sekarang? Kujawab malas-malasan, “Harus dijawab sekarang?”

“Dan kenapa aku harus terus menunggu?”

“Aku tak memaksa untuk menunggu.”

“Jadi?”

“Jadi …”

“Sepertinya masih banyak yang ingin kau lihat. Aku suka dengan keinginanmu itu. Tapi …”

Lirih suaraku menyambut, “Tapi …”

Kutahu jawabannya, kau paham akan ke mana akhirnya. Saat kurasa angin perbukitan menerpa wajahku lebih keras, entah mengapa terasa lebih dingin daripada yang seharusnya. Tak banyak lagi yang bisa dibicarakan.

Hanya omongan lalu lalang tentang ranting-ranting pohon yang tak kunjung menghijau walau musim semi mungkin sudah mencapai puncaknya.

Hatiku terasa tertusuk mendengarmu setengah berbisik, “Kalau boleh memilih, kita lebih suka pepohonan rimbun jadi angin tidak terlalu kencang rasanya. Sekaligus tetap bisa menikmati pemandangan kota dari atas sini tanpa terhalangi oleh daun-daunnya. Tapi kau tahu … tak selamanya semua keinginan bisa terkabul. Seringnya, kita harus memilih. Atau … keadaan memaksa untuk melepaskan salah satunya.”

Kita turun lebih awal. Banyak membisu dalam funicular yang mengantarkan penumpang dari atas bukit kembali ke bawah. Kau ingin pulang ke hotel. Aku tak memaksa walau seharusnya, dari Gurten kuingin mengajakmu ke Rose Garten, tempat lain untuk melihat cantiknya Bern dari dataran tinggi di kebun bunga mawar di sana.

Di stasiun Wander, aku turun dari tram. Sendiri. Kembali ke apartemenku.

Dua tahun lalu, aku menemanimu berkeliling kota Bern. Kupikir, selain kangen, kau  datang karena terpikat dengan kisahku tentang cantiknya ibukota Swiss ini. Ternyata ada maksud lain.

Kau ingin mengajakku pulang. Sesuatu yang belum terpikir olehku. Lebih jauh lagi. ada rencana yang lebih serius.

Di bahnhof Bern, sebelum naik ke kereta menuju bandara di Zurich, kau bilang, “Kau membuatku jadi berani.”

Sedihku belum sepenuhnya luntur, tak tahu harus jawab apa.

Kau melanjutkan, “Kata ibuku, mencintai itu harus berani. Berani melihat orang yang kita cintai bahagia walau kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”

Aku langsung menangis. Seperti orang bodoh, terisak-isak di tengah keramaian stasiun.

Kini, aku kembali duduk di tepian danau di Tierpark, Bern. Pekerjaan membuatku harus berada di kota ini sekali lagi. Memaksa untuk mengingat saat-saat terakhir kita bersama. Termasuk mengenang perdebatan tentang sekawanan flamingo merah jambu yang kini masih bergerombl di hadapanku, di kolam yang sama. Entah apakah mereka kawanan yang sama dengan yang dulu.

Masih tersisa sedikit  perih di hatiku.

Aku sungguh ingin berdamai dengan diriku sendiri sebelum kuputuskan untuk berbagi kebahagiaan dengan siapa pun. Melihat dunia adalah inginku. Sejak dulu, sebelum kau datang. Walau bertemu denganmu membuat keinginanku yang lain muncul. Aku berharap bisa melihatnya bersamamu.

Tapi berkali-kali aku disadarkan. Seperti katamu di puncak bukit Gurten, kita tak mungkin bisa terus memenuhi segala harap. Diantara sekian banyak hal yang harus kupilih selama hidupku, melepaskanmu termasuk pilihan tersulit yang harus kubuat.

Untuk pilihan ini, keberanianku pun diuji. Saat beberapa bulan lalu kau kirimkan kabar tentang hari bahagiamu yang akan segera menjelang. Selembar undangan ikut menghiasi isi surat elektronik yang kau kirimkan. Kuberanikan diri mendoakan kebahagiaanmu walau aku tidak termasuk dalam kebahagiaan itu. Walau bukan namaku yang tertulis di sana.

Mungkin aku belum sebijak sang flamingo. Walau sanggup mengepakkan sayapnya terbang tinggi akhirnya memilih berdiam di kolam bersama kawanan yang disayanginya. Mungkin kelak akan kusudahi kepakan sayapku. Nanti, bukan sekarang.

Syarat Pengiriman dan Contoh Cerpen ke Femina dan Kartini

Pengiriman dan Contoh Cerpen ke Femina

Perasaan sudah pernah posting tentang ini, ya? Tapi lupa di postingan yang mana. Banyak yang bertanya jadi daripada bolak balik, ditulis saja selengkap mungkin di satu tulisan khusus :). Mohon maaf tidak bermaksud berlambat-lambat menjawab. Tapi kadang ketelisut aja mau nulis tema yang mana. Udah dipikirin eh pas depan laptop yang lain yang ditulis hahaha.

Kok Kartini sama Femina doang? Ya pernah dimuatnya di situ doang. Itu pun cuma 3 kali hihihi. Entah kenapa sekarang jarang sekali menulis cerpen-cerpen lagi :(. Banyakan malasnya nih *getokKepalaSendiri*.

Kalau berminat mengirim cerpen ke Femina dan Kartini. Syarat-syaratnya sbb :

1. Kartini, jumlah karakter (with space) sekitar 13.500 karakter (lebih kurang dikit boleh lah ya). Femina sekitar 12.000 karakter (with space).

2. Fontnya bisa TNR bisa Arial, spasi 1.5 atau double juga boleh.

3. Alamat redaksi Kartini –> redaksi_kartini@yahoo.com. Alamat redaksi Femina –> kontak@femina.co.id

4. Honor di Kartini 350 ribu rupiah (transfer setelah sebulan dimuat), di Femina 850 ribu rupiah (transfer semingguan setelah dimuat).

5. Tema sih mirip-mirip, ya. Tapi ingat, Femina tidak suka cerita tentang ‘perempuan cengeng’ . Kartini juga sepertinya sih begitu hehehe. Coba tempatkan tokoh perempuan sebagai subyek yang lebih “kokoh” bukan ‘korban’ dan gitu-gituan lah.

6. Keduanya selalu memberitahu apa tulisan akan dimuat atau tidak. Tapi Kartini tidak spesifik menyebutkan kapannya sedangkan Femina selalu memberitahu nomor edisi pemuatan sebelumnya. Pengalaman teman lain sih ada juga yang tahu-tahu dimuat di Kartini. Kalau Femina konsisten mengabari.

7. Contoh-contoh cerpen di sana… boleh cek di website Femina untuk Femina. Tapi kalau mau ke blog saya juga boleh hihihihihi.  

Ini cerpen saya yang pernah dimuat di Kartini –> https://jihandavincka.com/2013/05/26/cerpen-yang-kumau/

Ini cerpen di Femina yg Juni 2012 –> https://jihandavincka.com/2012/06/27/namanya-aryana-femina-no-242012/

Yang “Namanya Aryana” ini sudah ada versi vlognya loh, buat yang mau baca cerpennya dengan  background gambar dan musik, monggo cusssss 😉

Ini cerpen ke-2 di Femina yg Desember 2012 –> https://jihandavincka.com/2013/01/02/cerpen-tiga-rahasia/

Pokoknya kalau dirasa ada tulisan yang sudah jadi dan layak muat, kirim saja! Pede aja! :D. Kan enggak akan tahu kalau enggak dikirim? ;). Selera editor juga kita enggak bisa nebak.

Demikian deh ya, pengiriman dan contoh cerpen ke Femina dan Kartini. Hope that helps ^_^.  

Pengiriman dan contoh cerpen ke Femina

[Cerbung] Temanku Cina (Tamat)

Bagian sebelumnya dibaca juga, ya, buat yang belum hehehe. Yaiyalah, namanya juga cerbung :P.

Tentang Dia (Bagian 5 – Tamat)

Oleh : Jihan Davincka

***

Gambar : oldeglory.co.uk
Gambar : oldeglory.co.uk

Seminggu ini, aku tidak boleh berkeliaran di luar rumah kecuali saat sekolah. Bapak yang mengantarku. Setengah jam sebelum lonceng berbunyi, Bapak sudah menanti di pintu gerbang.

Bapak sengaja berputar melewati jalan lain agar kami tak melewati rumah di ujung jalan itu. Aku tak berani meminta. Biarkan saja. Aku akan kesana malam-malam.

Setelah dua minggu berlaku, barulah aku berani keluar rumah. Tapi malam-malam. Biarpun takut setengah mati, mulutku tak berhenti komat-kamit baca doa dan berjalan ke ujung jalan. Aku kaget kayu ukiran di atas terasnya sudah roboh. Tak ada cahaya lampu. Aku jadi gelisah.

Aku sering membayangkan jangan-jangan dia sebenarnya ada di rumah. Tapi kalau dia di rumah dan melihatku, dia pasti sudah berlari keluar. Aku masih ada utang padanya.

Setelah tiga minggu, aku berani sepulang sekolah melewati ujung jalan itu. Melambatkan langkahku sambil melirik takut-takut. Kaca-kaca jendelanya tidak ada semua. Pintu rumahnya bahkan terbuka. Tapi semua orang pasti tahu, tak ada orang di dalam sana.

Aku pernah sangat marah dan mengajak Bapak mencari Bik Yunah. Setelah kejadian itu entah ke mana Bik Yunah. Menghilang begitu saja. Kabar Bang Roma pun makin simpang siur.

Dari Nisa, aku tahu kalau bapaknya Nisa, Pak Haji, sebenarnya sedang ada niat membuat toko kelontong baru di kampung kami. Hendak bekerja sama dengan Papinya Misye.

Selain Pak Haji, bapaknya Nisa, ada satu Pak Haji lagi yang juga memiliki usaha toko kelontong. Pak Haji Yusuf namanya. Bapak sering bercerita jika persaingan antara Pak Haji Yusuf dan Pak Haji bapaknya Nisa memang berlangsung diam-diam. Walau mereka tak pernah beradu mulut secara langsung.

Konon, Pak Haji Yusuf sering meminta beberapa pegawainya berpura-pura berbelanja ke toko bapaknya Nisa. Tujuannya untuk mematai-matai toko saingannya.

Posisi Pak Haji Yusuf memang berbeda. Kalau Nisa dan saudara-saudaranya beserta ibunya aktif membantu bapak mereka mengurus toko, Pak Haji Yusuf tidak punya tangan kedua selain karyawan-karyawannya yang sering sekali berganti-ganti. Istri Pak Haji Yusuf tak suka ikut berjaga di toko. Anak-anaknya pun memilih bersekolah ke luar kampung semua.

Dulu, aku pernah kenal dengan Bang Tariq. Dia pernah bekerja jadi kasir di toko Pak Haji Yusuf. Tapi cuma bertahan sekitar tiga bulan saja. Saat menganggur, Bang Tariq suka datang ke rumah, sesekali membantu ibu mengedarkan kue-kue dagangan ibu.

Bapak pernah bertanya, ”Sudah enak-enak kerja di toko, kok, malah berhenti?”

Dijawab oleh Bang Tariq, ”Wah, tidak tahan, Pak. Dicurigai terus. Saya sakit hati kalau ada kekurangan kas atau ada ketidakcocokan dengan catatan, saya dicecar terus.”

Bapak menasihati, ”Ya,  namanya kerja. Jadi pengelola uang memang harus punya tanggung jawab.”

”Demi Allah, Pak. Saya tidak pernah mencuri. Saya sudah berusaha mencatat sebaik mungkin. Sementara uangnya selalu diserahkan kepada Pak Haji langsung. Kalau ada perbedaan, saya harus bagaimana?”

”Ah, masa sampai sebegitunya?”

Bang Tariq menambahkan, ”Saya tidak bohong, Pak. Lagian, kasihan ibu saya. Pernah sekali ikut kena makian Pak Haji. Saya malu, Pak. Berhenti sajalah daripada terus-terusan menanggung sakit hati.”

Entahlah, aku tak pernah tahu hubungan semua kejadian itu. Orang-orang juga tak peduli untuk mencari tahu.

***

Sebulan, dua bulan, bahkan enam bulan kemudian, tak pernah ada cahaya lampu kalau aku lewat sana malam-malam. Tidak tiap hari aku ke sana. Rasanya aku sudah putus asa.

“Siapa nama lengkapnya. Di mana sekolahnya?” Tanya Bapak. Dia mungkin kasihan melihatku memasang wajah sedih hampir sepanjang hari.

Barulah aku tersadar. Sepuluh tahun mengenalnya, aku bahkan tak pernah tahu nama lengkapnya. Dimana sekolahnya. Dia cuma pernah bilang, di sekolahnya, perempuan tidak perlu memakai kerudung.

Terselip sedikit penyesalan. Selama ini aku yang terlalu banyak bicara. Dia memang banyak bertanya. Bahkan asal usul namaku saja dia tahu.

”Siapa nama lengkapmu, Nir?”

”Nisrina Hidayati. Nisrina itu mawar putih. Bahasa Arab. Hidayati itu hidayah, artinya anugerah.”

”Wah, namamu bagus sekali.”

Saat itu aku hanya tersipu-sipu. Bisa-bisanya aku tidak pernah bertanya siapa nama aslinya.

Lama-lama Ibu gerah melihatku yang seperti orang merana terus-terusan, ”Ini pasti karena kau kurang mengaji. Jadi, pikiranmu dikuasai tentang anak cina itu terus. Bergaullah kembali dengan teman-temanmu yang lain.”

Kurasa saran ibu tidak salah. Daripada kuhabiskan waktu meratapi anak cina itu, kuputuskan untuk sering-sering ke rumah Nora. Kalau ke sana, biasanya selalu ada Kiki juga. Bapak juga setuju, ”Pergilah ke rumah teman-temanmu yang lain. Suasana ramai akan membuat hatimu lebih tenang.”

***

Dan kini, dua belas tahun sudah lewat. Setamat SMA, aku ke kota. Tinggal di kamar kos, sekolah untuk jadi perawat. Setelah resmi menggenggam ijazah, Bapak bilang aku boleh kerja di kota.

Anak cina itu gemar betul mengolok-olok aku dulu, ”Astaga, anak cengeng sepertimu, apa sanggup hidup jauh dari orang tua?”

Dia bilang begitu gara-gara aku bertanya padanya, ”Kau sering sekali ke kota. Ajaklah aku. Tapi kita pergi berdua. Malu aku jika papi mamimu ada.”

Hidupku terus berjalan. Sudah sering sebenarnya aku tidak mengingat-ingat dia lagi. Tapi tiap tahun aku pulang. Kampungku tidak terlalu jauh. Tak pernah lupa aku melewati ujung jalan itu. Walau sudah lama aku berhenti berharap.

Dulu, hanya rumah ujung itu yang dihuni oleh orang cina sepertinya. Sekarang, anak-anak kecil bermata sipit terlihat berlarian dengan anak-anak kampung. Ikut menjilati es krim warna warni yang dibeli di warung. Jumlahnya memang belum banyak.

Di sepanjang jalan rumahku, mungkin ada dua atau tiga rumah milik mereka. Tapi, warga sudah tidak peduli. Orang-orang cina membuka toko-toko besar di kampung kami. Tak ada yang resah. Lupa mereka, dulu mereka takut sekali diberi makan babi.

Waktu bekerja, aku mulai kenal komputer. Sedikit-sedikit aku tahu kalau ada yang namanya internet. Kalau kita bisa mengetikkan nama seseorang di sana dan layarnya akan memberitahu dimana dia berada. Sering aku mencoba mengetikkan namanya di sana. Tapi sia-sia. Tak satu pun huruf-huruf yang tertera di sana yang bisa menunjukkanku dimana dia berada sekarang.

Dulu-dulu aku suka mengusap-usap mataku saat melewati puing-puing rumahnya. Sekarang, tidak lagi. Bukan karena aku sudah tidak pernah menangis lagi. Tapi karena aku tidak takut lagi pada orang-orang. Dan aku meyakini, dulu pun aku harusnya tidak usah takut pada orang-orang. Dia temanku. Dia cina. Memangnya kenapa?

Kali ini kepulanganku untuk acara lamaran pernikahanku. Acaranya masih seminggu lagi. Tapi Ibu sudah ribut menyuruhku pulang. Ibu memang sudah mendesakku terus-terusan untuk menikah. Usiaku sudah beranjak 30 tahun.

Sekarang, aku berdiri di depan tanah kosong dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan rumahnya yang baunya minta ampun sekarang. Tapi, aku tidak menutup hidungku. Padahal timbunan sampah dimana-mana.

Entah kenapa, meski sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan airmataku meleleh, tapi kali ini mataku basah. Aku mau pulang saja, berwudhu, pakai mukena, dan mengangkat tanganku tinggi-tinggi berdoa untuknya.

Dia salah satu sahabat terbaik yang pernah lama menemaniku. Biarpun dia sering protes tentang banyak hal tentangku tapi dialah pendengar setiaku. Banyak sahabat yang datang setelahnya, tapi namanya tak pernah benar-benar tergeser.

Aku beranjak pergi. Tapi mataku tetap terpaku ke sana. Langkahku mendadak terhenti. Mengapa mataku terasa berkunang-kunang.

Tak berapa lama, entah bagaimana, tiba-tiba puing-puing itu terangkai lagi satu persatu menjadi satu bangunan utuh. Catnya baru semua. Pintunya terpasang dengan sempurna. Ukiran kayu yang tadinya roboh terpasang kembali di atas teras rumah besar itu. Seperti sihir.

Tak sadar mulutku menganga lebar. Model rumahnya persis seperti dulu. Masih ada jendela besar di salah satu sudut rumah, tempat pertama dia muncul di hadapanku pertama kali. Aku sudah ingin berlari.

Lalu, kuurungkan niat begitu pintunya bergerak. Aku tak percaya, aku melihatnya keluar dari pintu. Rambutnya pendek dan dia membawa sehelai kain panjang di tangannya. Bukan bahan kerudung.

Aku ingin bertanya banyak hal. Ke mana saja dia selama ini. Tega-teganya tak pernah mengirim kabar apa pun.

Akan kukatakan kalau aku sudah menjadi perawat di kota. Aku sudah tinggal bertahun-tahun di luar kampung. Telah kubuktikan bahwa aku bisa tinggal jauh dari orang tuaku. Dia sering mengejekku akan tumbuh menjadi anak manja karena aku anak tunggal dan sensitif.

Akan kuceritakan betapa sulitnya menemukan teman seperti dia. Yang tak ragu-ragu mengatakan orang lain lebih cantik daripada aku. Aku pun sudah mulai berani mengubah model rambutku.

Ingin kukenalkan pada pria yang mempersuntingku. Yang menurutku bukan pria kebanyakan. Aku masih suka memakai celana panjang sampai sekarang.  Dia benar, aku tak  perlu mengubah diriku, orang tepat akan datang dengan sendirinya.

Tak sabar pula akan kutanyakan mengapa rambutnya dipotong sangat pendek sekarang. Bahwa aku juga sudah lupa berapa jumlah utangku yang terakhir. Tapi berapa pun angka yang dia sebut, akan kubayar lunas secepatnya.

Saat dia mendekat barulah aku melihat jelas. Di tangannya tadi, sebuah bahan kebaya yang bagus dan pastilah harganya mahal.

Aku juga baru mau bertanya dia tahu darimana aku mau menikah, tapi dia sudah lebih dahulu menyodorkan kain itu kepadaku, tersenyum dan berbisik, “Untukmu. Setengah harga saja.”

TAMAT

***

 

[Cerbung] Temanku Cina (Bagian 4)

Tentang Dia (bagian 4)

Oleh : Jihan Davincka

(Bagian sebelumnya cek ke sini, aja :D). 

***

Aku ke dapur. Ibu langsung menengok ke arahku begitu aku masuk. “Makanlah. Bapak sudah makan tadi.”

Aku duduk di meja makan. Makan dengan patuh tapi mataku mengawasi gerak-gerik Ibu. Akhirnya aku tak tahan lagi.

“Ibu, ada apa tadi? Pak Haji kenapa? Ribut-ribut apa di luar?”

Ibu, yang nampaknya sedang memotong-motong sesuatu kembali menoleh ke arahku. Dia seperti berpikir sebentar tapi dia tidak jadi bersuara. Dengan acuh, dia kembali berkutat dengan pekerjaannya.

Aku tak berani kembali bertanya.

Tapi tahu-tahu, Ibu meletakkan pisaunya dan tiba-tiba menarik kursi di sampingku. Duduk disitu dan bertanya padaku, “Apa kau sungguh ingin tahu?”

“Tentu saja. Tadi Bapak melarangku ke rumah ujung. Apa ini ada hubungannya dengan Misye?”

“Misye? Anak cina itu? Tentu saja ini karena keluarga cina kurang ajar itu.” Suara Ibu berapi-api.

Aku menunduk. Sedikit menyesali kenapa tadi aku bertanya. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa sesal. Jadi, aku beranikan untuk menatap wajah Ibu lagi.

Ibu kembali berujar, “Kau tahu Bang Roma? Tukang ojek langganan kita dulu. Yang suka mengantarmu ke sekolah waktu kau masih SD.”

Tentu saja aku ingat. Sampai sekarang, aku masih suka melihatnya nongkrong di perempatan jalan atau di depan toko kelontong Pak Haji. Kalau tidak salah, beberapa bulan lalu, aku dengar-dengar istrinya selingkuh dan dia stres. Suka terlihat mabuk malam-malam di pinggir jalan.

Ibu membuyarkan ingatanku yang melayang barusan, “Bang Roma ditemukan tewas tadi subuh. Tukang ojek lain yang menemukannya. Dia ditikam. Dia pasti dibunuh oleh cukong cina itu.”

“Ibu tahu darimana?” Protesku keras.

“Kau dengar dulu!” Bentak Ibu. “Katanya, kemarin, Bang Roma ngobrol dengan Bik Yunah. Kau tahu dia kan? Dia langganan katering nasi kuning orang kampung kita.”

“Lalu?”

“Katanya, orang cina itu, meminta Bik Yunah untuk membuatkan nasi kotak untuk acara maulid besok di kelurahan. Pak Haji yang memintanya untuk menyumbang dana. Tapi, cina pelit itu tidak mau memberi uang dan malah menawarkan nasi kotak.”

Aku tak tahan ingin bersuara tapi Ibu kembali melanjutkan, “Bik Yunah bilang, dia minta dibuatkan daging babi. Kau lihat kurang ajarnya dia, dia sudah tahu kalau…”

“Bohong!” Aku langsung berdiri dan memotong dengan tegas. ” Memangnya Ibu kenal Bik Yunah? Bertemu saja cuma sesekali.”

“Kau ini kenapa?” Ibu ikut berdiri dengan nada suara meninggi. “Hanya gara-gara bahan kerudung itu kau mati-matian membela keluarga laknat itu.”

“Ibu asal bicara. Tak ada bukti.”

“Bang Roma yang bilang. Dia dengar sendiri dari Bik Yunah. Makanya dia dibunuh. Apa kau tidak mengerti juga?”

“Lalu, Pak Haji?”

“Pak Haji mencoba menghalangi orang-orang untuk menyerang rumahnya tadi pagi.”

“Apa? Rumahnya diserang tadi pagi?”

“Pak Haji itu seperti dirimu. Tak ingat pada peci yang dipakainya tiap hari. Semua orang tahu Pak Haji suka datang malam-malam ke rumahnya. Seperti kau, dia pun suka menjilat keluarga cina itu.”

Aku sakit hati sekali mendengar ucapan Ibu. Tapi entah keberanian dari mana, aku tetap berdiri tegak di hadapan Ibu. “Untuk apa dia menyuguhkan daging babi. Apa untungnya buat dia?”

“Jangan tanya padaku. Tanya pada anak cina itu!”

“Tukang ojek itu sudah dari dulu suka mabuk. Warga kampung cuma mencari-cari alasan saja.”

“Kau menyembah mereka karena mereka banyak uang.”

“Aku sudah bilang. Ibu asal bicara.”

“Terserah kau saja. Asal tahu, rumah mereka sudah dilempari batu. Mungkin sudah remuk semua kacanya. Temanmu itu pasti sudah kabur ketakutan.”

“Tidak mungkin.” Aku berlari ke kamarku.

Ibu mengejar dari belakang. “Jangan berani-berani keluar rumah.”

Sebentar lagi aku pasti kembali menangis. Wajah Ibu menjadi memelas, “Jangan keluar rumah. Selain Pak Haji, orang-orang kampung tahu kau dekat dengan anak cina itu.”

Aku tidak peduli. Dengan panik, aku menarik sebuah kain kerudung dari dalam lemari. Tumpukan kain kerudung berserakan di lantai. Aku menariknya terlalu kasar.

Suara Ibu berubah panik. Mencoba membujukku. “Jangan, Nir. Nanti kau dipukuli orang.”

“Orang macam apa yang mau memukuli anak perempuan.”

“Kau keras kepala sekali.” Suara Ibu makin cemas. Buru-buru ibu keluar dan memanggil-manggil bapak.

Begitu aku selesai memasang peniti di daguku, Bapak muncul di pintu kamar. “Mau kemana?”

Aku menciut. Suara Bapak tidak keras namun aku tahu betul dia tidak akan mengizinkan aku pergi.

“Ibu bilang mereka mengamuk dan melempari rumahnya dengan batu.” Aku mulai terisak-isak.

Bapak memberi isyarat agar Ibu pergi. Aku masih tersedu-sedu.

Sebelum menjauh, Ibu sedikit membela diri, ”Dia tadi bertanya soal itu. Jadi aku jelaskan saja tentang Pak Haji dan Bang Roma yang…”

Dipotong Bapak, ”Keluarlah dulu.”

Ibu masih mencoba mengucapkan sesuatu tapi akhirnya surut melihat pandangan Bapak yang tajam ke arahnya. Ibu pun menjauh.

“Jangan ke sana dulu. Jangan sekarang.” Bapak membujukku lembut.

“Mungkin kaca rumahnya sudah hancur.”

“Kau tahu darimana?”

“Tadi Ibu cerita. Katanya, papinya mau memasak babi untuk orang sekampung. Aku tidak percaya. Aku mau tanya padanya.”

“Bapak tidak bilang semua perkataan Ibumu benar. Tapi, Bapak takut orang-orang akan ikut menyakitimu.”

“Tapi…”

“Kau tidak bodoh. Kau mengerti, kan, maksudnya?”

Kami berdua bertatapan dalam diam. Sangat terasa olehku sorot matanya yang penuh kecemasan. Aku akhirnya mengangguk pasrah. Dan ketika pintu ditutup dari luar, tangisku kembali pecah.

***

Gambar : clker.com
Gambar : clker.com

Azan subuh baru saja berkumandang. Aku sulit membuka mataku. Ini tentu karena aku kemarin menangis terus. Rasanya perih. Tapi aku tetap ke kamar mandi, lalu balik ke kamarku, bersimpuh di atas sajadah.

Aku masih belum puas menangis. Tapi, mataku yang sudah tidak sanggup. Selesai salat, aku bingung. Sebelum mengangkat tanganku untuk berdoa, aku bimbang, apa boleh aku menyebutkan namanya dalam doaku? Baiklah, aku tak akan menyertakan papi-maminya. Tapi dia saja. Apa boleh?

Aku jadi mengingat-ingat waktu kecil dulu, semasa masih mengaji di mesjid, Ical suka mengejekku begitu tahu aku suka main ke rumah ujung itu.

“Kata Pak Ustaz, orang cina itu masuk neraka.”

“Kata siapa?”

“Aku sudah bilang, itu kata Pak Ustaz.”

“Terus kenapa?”

“Kalau kau terus-terusan bermain dengannya, kau pun akan masuk neraka mungkin.”

“Kau cuma iri jadi bilang macam-macam.”

“Kenapa iri pada orang yang mau masuk neraka.”

“Aku akan berdoa untuknya.”

“Hahahaha. Percuma saja. Pak Ustaz sudah bilang, dia pasti masuk neraka.”

“Aku mau tanya Bapak.”

“Bapakmu bukan ustaz. Bukan Haji juga. Kalau mau, tanya Pak Haji.”

Tapi, waktu aku berlari ke rumah dan bertanya pada Bapak, Bapak cuma bilang, “Pertanyaan macam itu. Bapak tidak tahu.”

Aku takut masuk neraka seperti yang Ical bilang. Aku ragu-ragu, jadi saat berdoa, aku berusaha keras tidak mengingatnya. Ketika aku sudah melepaskan mukenaku, barulah aku berbisik-bisik memohon keselamatan untuknya.

Maksudku, aku kan sudah selesai salat. Aku tidak pakai mukena lagi. Aku tidak berdoa untuknya. Tapi aku cuma berharap. Itu pun aku tidak berharap dia masuk surga. Aku cuma minta agar dia baik-baik saja. Mudah-mudahan Tuhan mengerti.

Aku membuka gorden ketika sudah ada sedikit cahaya dari luar. Masih sedikit sekali, tapi asal sudah agak terang, aku berani menyibak kain penutup jendela kamarku.

Aku tersentak dan melompat mundur ketika ada sosok berkerudung merah di jendela kamarku. Ya ampun, ada setan subuh-subuh. Aku rasanya ingin kencing. Tapi setan itu malah tertawa lebar dan mencibir, “Dasar penakut.”

Aku kenal suaranya. Aku mendekat kembali dan aku melihat pemandangan yang cukup aneh. Kepala si mata sipit itu berbalut kerudung.

“Kau? kenapa ada disini?”

“Kemarin kau marah-marah. Lama sekali tidak ke rumah. Mana uang hasil jualan kerudungnya?”

Aku buru-buru menyambar segepok uang kertas yang sudah layu di atas meja kamar. “Kau ini sudah gila. Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini? Hanya karena mau menagih uangmu?”

Dia tertawa kecil. “Aku pakai kerudung. Ini masih gelap. Orang-orang takkan tahu.”

“Kau baik-baik saja?” Sekarang tangan kami berpegangan. Ingin rasanya kupatahkan besi panjang-panjang yang dipasang di jendela ini. Agar aku bisa menariknya masuk, memeluknya puas-puas.

Biarpun perih, aku merasakan pipiku memanas. Terkena lelehan beberapa butir airmata yang mengalir tak tertahan.

Dia tertawa-tawa lagi. Tapi tidak berisik seperti biasanya. “Apa gunanya kau kemana-mana pakai celana panjang, kalau begini saja kau sudah menangis.”

“Bagaimana rumahmu?”

“Laki-laki akan mudah membodohimu kalau kau gampang menangis.”

Suaraku meninggi, “Cerewet betul kau ini. Bagaimana rumahmu. Kacanya pecah semua?”

“Kau tahu dari siapa? Sudahlah. Papi nanti tinggal panggil tukang. Tapi, hari ini kami mau pergi.”

Aku panik. “Kemana? Pergi ke cina?”

“Sembarangan saja. Kau ini bodoh atau kenapa, sih? Tapi, nanti aku pasti kembali lagi. Rajin-rajinlah lewat rumahku. Kalau kau lihat malam-malam lampunya menyala, besoknya kau datangi aku, ya.”

“Memangnya kau mau pergi lama?”

“Mana aku tahu. Terserah papi.”

“Kalau kau tidak kembali, bagaimana? Aku masih ada yang mau diceritakan. Kau benar. Nora lebih cantik dariku.”

“Aku pasti kembali. Kalau tidak datang lagi, berarti aku sudah mati.”

Aku menyentakkan tangannya, “Kau membuatku takut. Berhentilah bicara aneh-aneh.”

Dia tertawa sebentar sebelummenjulurkan sebuah kantong plastik besar. “Ini kain-kain buat kau jual lagi. Sudah habis kan yang kemarin? Nah, karena marah-marah, kau lupa bilang warna dan motif apa yang kau mau. Aku bingung. Ini aku bawakan seadanya.”

Kami menjejalkan kantong plastik itu melalui jeruji panjang di jendela. Aku menengok dan mengaduk-aduk isi kantong sebentar dan menatapnya bingung, “Biru dan ungu saja?”

“Aku sudah bilang, aku bingung. Takutnya kau marah-marah lagi kalau aku salah bawa bahan. Maksudku kalau biru dan ungu tak laku, kau kan bisa memakainya untuk dirimu sendiri.”

“Aku sudah punya banyak.”

“Sudahlah. Aku tak banyak waktu ini. Ingat, nanti kutagih uang hasil jualannya, ya. Itu isinya sepuluh potong kain.”

“Jangan pergi dulu.”

“Aku tak bisa. Aku juga pegal berdiri disini dari tadi. Sebentar lagi akan terang, kau tahu kan maksudku?”

Aku mengangguk pelan.

“Sudahlah. Soal kain jangan khawatir. Kau beli saja untukmu. Setengah harga.” Dia mengedipkan matanya.

Setelh melepaskan tanganku, dia bergegas pergi. Aku ingin mengejarnya keluar rumah. Tapi aku langsung sadar, Ibu bisa tahu. Jam segini, Ibu pasti sedang duduk-duduk di atas kursi membaca alquran.

***

(Bersambung ke sini)

[Cerbung] Temanku Cina (3)

Tentang Dia (bagian 3)

Bagian 1 cek dimari. Bagian 2 ada di sindang :D.

Gambar : pinterest.com

Oleh  : JIhan Davincka

***

Dua minggu berlalu. Aku masih belum mau ke ujung jalan itu. Aku memang sering marah dengan ucapan-ucapannya. Tapi kali ini, aku benar-benar kesal.

Dalam kamarku, aku sedang menghitung-hitung uang hasil berjualan bahan kerudung. Seharusnya hari itu aku menyerahkannya pada anak Cina itu. Tapi, siapa suruh dia bilang Nora lebih cantik dariku.

Sejak aku berkerudung, dia terus-terusan menawariku berbagai jenis kain untuk bahan kerudung. Bahkan akhirnya berhasil memaksaku untuk menjualnya ke teman-temanku yang lain. Tadinya aku canggung mau menjualnya kemana-mana. Setelah dicoba, teman-temanku malah banyak yang suka.

Aku pernah bertanya kenapa dia malah menjual bahan kerudung kepadaku. Maksudku dia mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan kami.

Dia malah memandangku aneh, ”Kenapa tidak?”

Tak sadar senyumku mengembang. Ah, anak itu. Hanya uang saja yang dipikirkannya.

Aku takut kalau Ibu tahu. Bapak sudah tahu lama. Entahlah, aku tak pernah bisa berbohong pada Bapak. Tapi, anak cina itu bilang, aku harus memberi beberapa helai kain kepada Ibu sebagai hadiah. Siapa tahu Ibu jadi melunak. Betul juga. Dan aku pun berinisiatif memberi beberapa helai kain bermotif bunga-bunga kesukaan Ibu.

“Ini dari Misye, Ibu. Hadiah, katanya.”

“Anak Cina itu?” Ibu mendengus.

“Coba, Ibu lihat dulu. Bahannya bagus sekali. Dia berterima kasih padaku karena aku mau menjual kain-kain miliknya ini.”

“Apa? Kau menjual barang milik anak Cina itu? Kau gila, ya?”

Aku mulai gentar kalau nada suara Ibu jadi tinggi lagi. Tapi, akhirnya aku mengeluarkan segenap keberanianku untuk menjelaskan panjang lebar tentang jual menjual kain ini. Kalau aku mendapat uang saku yang cukup besar karena usaha ini. Aku mendapatkan harga yang cukup murah dari Misye. Maklumlah, Papinya memang pedagang kain grosiran yang memiliki toko besar di beberapa tempat di luar kampung kami. Ini Misye yang sering cerita padaku.

“Ibu tak suka kalau kau mengemis pada anak Cina itu.” Akhirnya suara Ibu mulai melunak.

“Dia yang memaksaku. Tadinya aku tak mau. Tapi Nisa, Ratna, Nora, Kiki, semua bilang bahannya bagus dan membeli beberapa dariku. Ibu tahu tidak, ibu-ibu mereka pun sering membeli padaku.”

“Kau mau bikin Ibu malu?”

“Mereka membeli tanpa aku tawarin, Bu. Malu kenapa? Ini bahannya bagus-bagus. Harganya tidak murah.”

“Ya, sudah.” Ibu akhirnya mengambil helai-helai kain yang aku taruh diatas meja di hadapannya.

“Bagus memang kainnya. Ini berapa harganya?” Ibu meraba-meraba sehelai kain berwarna putih, dengan bunga-bunga merah besar di sekujurnya.

“Ini hadiah. Untuk Ibu, gratis. Dari Misye.”

Tapi, tentu saja, helai-helai kain itu tidak gratis. Aku membelinya dengan “setengah harga”.

Aku tersenyum-senyum mengingatnya. Sejak saat itu, Ibu pun bahkan suka membawa beberapa helai kain untuk ditawarkan pada Ibu-ibu pelanggan kue bolu bikinannya.

Ah, tak sepatutnya aku berlama-lama marah padanya. Besok, aku harus ke rumahnya dan menyerahkan uang ini.

***

Aku sedang merapikan kerudungku di depan kaca ketika tiba-tiba suara orang-orang bergemuruh dari luar. Aku cepat-cepat memasang peniti di bawah daguku dan berlari keluar kamar.

Ibu sudah ada di ruang tengah.

“Ada apa di luar?” Tampangnya panik sekali. Siapa yang tidak panik, hari minggu pagi begini, tiba-tiba mendengar orang berteriak-teriak di jalan.

Kami berdua baru akan membuka pintu ketika tergesa-gesa Bapak mendobrak pintu. Dia datang membopong seseorang yang nampaknya pingsan. Ya Tuhan, itu Pak Haji, bapaknya Nisa.

Ibu langsung membantu Bapak dan lekas-lekas menutup pintu rapat-rapat. Dipasangnya semua gerendel pintu. Dari atas ke bawah.

Bapak nampak pucat. Berganti-ganti dia memandang ke arah Ibu dan aku, sambil meredakan nafasnya yang memburu.

Ibu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air putih. Pak Haji yang wajahnya babak belur sekarang ditidurkan di atas kursi. Aku takut sekali. Ada apa ini?

Tiba-tiba Bapak memandangiku. “Mau kemana kau?” Aku bingung kenapa Bapak membentakku.

Aku mundur beberapa langkah. Bapak berdiri. Dadanya masih turun naik. Keringatnya belum kering. Di dahinya ada banyak butiran air yang masih mengalir deras. Aku benar-benar takut sekarang. Aku menelan ludah. Lututku bergetar.

Bapak mengalihkan pandangannya ke arah Ibu. Sorot matanya sudah tidak menyala. Tapi lututku masih gemetaran begitu rupa.

“Kau jangan ke rumah ujung itu. Masuklah ke kamarmu.” Kali ini nada suara Bapak jauh lebih tenang.

Ibu memberi isyarat dengan ujung matanya agar aku menurut. Meskipun ada berjuta tanya dalam hatiku, aku paksakan menyeret langkah masuk ke dalam kamarku.

Dalam kamar aku tidak tenang. Sia-sia saja aku menempelkan telingaku kuat-kuat ke arah pintu. Bapak berbicara dengan suara sangat rendah. Dan Ibu menjawab sambil berbisik-bisik.

Rumah ujung. Rumah anak Cina itu. Mataku langsung basah. Aduh, perasaanku sungguh tidak enak. Aku mengusap-usap mataku dan mencoba menajamkan pendengaranku. Mencoba menangkap suara-suara orang yang masih bergemuruh dari luar.

Tapi percuma saja. Kamarku ini ada di pojok belakang rumah. Bagaimana ini? Aku terduduk di balik pintu kamar. Segepok uang kertas yang sedari tadi berada dalam genggamanku mungkin sudah koyak.

***

Tak terdengar suara apa pun sekarang. Aku bangkit dari dudukku. Pinggangku pegal sekali. Aku berpindah ke atas ranjang di sudut kamarku. Menimbang-nimbang untuk keluar sekarang atau tidak. Tapi aku masih enggan menampakkan wajahku di hadapan Ibu dan Bapak. Biarpun rasa penasaran ini sudah sampai ke ubun-ubun.

Aku melepas kerudungku. Mengibaskannya perlahan, melipatnya rapi-rapi, dan menaruh ke dalam lemari.

Aku berbaring dan berharap aku tertidur begitu saja. Tapi begitu aku menutup mata, bayangan anak cina itu makin kuat menguasai pikiranku. Aku malah melihatnya dimana-mana kalau mataku terpejam. Biarpun lelah, mataku tetap memandang ke langit-langit kamar.

Dan anehnya, wajahnya kembali memenuhi langit kamarku. Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak aku melihatnya pertama kali dengan rok renda-rendanya.

Waktu aku kecil, aku selalu iri dengan teman-temanku yang lain. Nisa itu punya kakak laki-laki dan dua adik perempuan. Nora cuma punya dua kakak laki-laki. Tapi rumahnya bersebelahan dengan Kiki. Kiki ini punya banyak sekali saudara perempuan. Aku tidak percaya sampai sekarang aku tidak hapal ada berapa saudara perempuannya.

Sedangkan aku, tak punya kakak, tak ada adik. Rumahku tidak terlalu dekat dari rumah mereka. Rasanya sepi. Saat mengaji di mesjid dulu, mereka akrab sekali kakak beradik. Nora tidak pernah jauh-jauh dari Kiki. Aku cuma pelengkap. Tak ada yang merasa benar-benar perlu mengakrabiku.

Lalu dia datang. Tadinya aku tak begitu suka dengan lagaknya yang menurutku terlalu angkuh. Tapi aku senang kalau Nisa dan Nora memandangku dengan iri saat aku bercerita kalau dia punya boneka Barbie dan aku boleh ikut memainkan boneka mahal itu.

Sebenarnya dia banyak mengatakan hal yang tidak kusukai. Tapi anehnya, aku malah jadi percaya padanya. Dan lama-lama, dialah yang lebih sering menjadi tempatku mengadu. Aku pun tak pernah segan bertanya macam-macam padanya.

“Ajarkan aku bahasa cina.” Kataku di suatu hari saat dia sedang menyisir rambutku di depan kaca. Dia bilang dia bisa membuat model rambutku yang membosankan itu menjadi lebih keren.

“Bahasa Mandarin.” Tukasnya pendek.

“Iya, itu. Bahasa Mandarin. Ajarkan padaku sedikit.”

“Mana aku tahu.”

“Kau pasti tahu.” Dia cuma nyengir mendengar nada suaraku yang menuduh.

Aku kembali bertanya. “Seperti apa negeri cina itu? Apa saudara-saudaramu di sana jago silat seperti film-film di televisi?”

“Aku tak punya saudara di sana. Sembarangan kau ini.”

“Yang benar saja. Kau kan orang cina.”

“Aku ini lahir di Jakarta. Papiku asli Jawa. Mami itu dari Manado. Tapi banyak juga saudara-saudara yang tinggal dekat kampung ini.”

“Lalu, seperti apa negeri cina itu,” kejarku.

“Mana aku tahu.”

Perutku terasa diaduk. Rasanya sudah capek sekali aku menangis. Seperti apa sembabnya mataku sekarang. Aku bangun dari tidurku. Sia-sia saja mencoba tidur. Hanya membuatku terbayang-bayang terus padanya.

Aku menyesal sudah bertengkar tentang hal bodoh dengannya. Tidak apa-apa kalau dia bilang Nora lebih cantik dariku. Kenapa aku bisa sebegitu kesal dan mendiamkannya hingga dua minggu.

Aku memilih keluar dari kamar sekarang. Lagipula aku sudah lapar.

Aku membuka pintu dengan ragu-ragu. Aku terbayang dengan wajah Pak Haji yang lebam-lebam tadi pagi. Tapi, kursi di ruang tamu sudah kosong. Tak ada siapa-siapa.

***

(Bersambung ke sini)