Who are We to be Blind?

“…Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat …”

Masih ada yang ingat? :).

Paragraf di atas adalah alinea ke-4 dari pembukaan UUD 1945. Bertahun-tahun lalu, saat masih duduk di bangku SD hingga SMP, tiap hari senin para pelajar berjajar rapi di halaman sekolah masing-masing untuk melaksanakan upacara bendera. Mendengarkan naskah pembukaan undang-undang secara utuh adalah bagian dari ritual mingguan tersebut.

***

 

Baru-baru ini, melalui news feed di FB, beredar cerita mengenai seseorang yang bernama Hadi Susanto. Seorang anak dari keluarga yang tidak mampu yang semasa SMA harus mengayuh sepeda ontelnya sejauh 30 km menuju sekolah. Saking jauhnya dan saking miskinnya, tiap hari Hadi selalu membawa 2 buah tas. Satu tas lagi berisi bekal makanan yang dibawa dari rumah.

 

Hadi tergolong cerdas. Karut marut ekonomi keluarga tak membuat Hadi patah semangat untuk tetap mencoba peruntungannya melalui jalur UMPTN. Menempuh S1 di ITB, beasiswa pun menghembuskan nasib baiknya ke Belanda untuk menuntaskan pendidikan S2 sekaligus S3. Sempat bekerja di Massachusetts (US), kini Hadi menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Inggris. Tepatnya di University of Nottingham, kotanya Robin Hood.

Mantra apa yang ‘membebaskan’ Hadi yang memiliki nama kecil Combat (panggilan dari teman-temannya karena perawakannya yang seperti tentara) dari ketidakmampuan secara ekonomi? Sihir apa yang tidak hanya menerbangkannya jauh-jauh dari Lumajang hingga ke Inggris, tapi turut melambungkan harapan yang mungkin tak pernah dipikirkannya saat masih bersekolah di Bandung dulu?

Sederhana sekali jawabannya…pendidikan. Salah satu cara ‘mudah’ memutuskan mata rantai keterpurukan ekonomi adalah pendidikan.

Kontras dengan kisah Hadi, sekitar seminggu yang lalu seorang teman di Jeddah menghubungi saya via email. Mengisahkan perihal ‘darurat pendidikan’ bagi murid-murid di sekolah Indonesia di kota Jeddah. Barusan pula, Ibu Elly menelepon saya dan bercerita panjang lebar mengenai ‘cita-cita’nya yang mungkin akan segera terkubur bersama makin ketatnya negara Saudi dengan undang-undang kependidikannya.

Sekolah Indonesia di Jeddah

Siapa Ibu Elly?

Nama lengkapnya Elly Warti Maliki. Lulusan Al Azhar – Mesir yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan tanah air. Ibu Elly bersama keluarga besarnya sudah hidup merantau belasan tahun di Arab Saudi. Tepatnya di kota Jeddah. Kepedulian Ibu Elly terhadap dunia pendidikan tidak hanya sebatas opini dan pantauan semata.

Ibu Elly merupakan pendiri “Sekolah Islam Terpadu – Darul Ulum” (SIT-DU). SIT-DU  menggunakan kurikulum nasional yang dikombinasikan dengan kurikulum hasil temuan Ibu Elly dan tim, “Lantisa” (kemampuan untuk berbicara lancar dalam tiga bahasa, Indonesia – Arab – Inggris).

Awalnya Darul Ulum berdiri sebagai Taman Pendidikan Alquran (TPA) di tahun 1992. Sejak tahun 2007, berdirilah SIT-DU. Sekolah tersebut kini sanggup menampung siswa sekitar 300 orang, dari TK hingga SD.

Ibu Elly menolak menjadikan sekolah ini sekolah swasta. Sesuai SKB dari Depdiknas (1981), pihak swasta (selain pemerintah) tidak boleh mendirikan sekolah Indonesia di luar negeri. Pilihan bagi swasta adalah sekolah internasional. Akhirnya, SIT-DU berafiliasi dengan “Sekolah Indonesia Jeddah” (SIJ) yang merupakan sekolah pemerintah Indonesia di Jeddah. Itu pun sebenarnya statusnya ‘samar-samar’ atau ‘ilegal’.

Ibu Elly tetap percaya diri untuk terus menjalankan sekolah ini dengan status tersebut. Tujuan beliau memang mulia. Sekolah ini didirikan untuk menampung anak-anak dari kalangan tidak mampu. Tak sedikit jumlah perantau asal Indonesia yang bekerja di sektor informal yang akhirnya tinggal bersama keluarga mereka di Jeddah. Termasuk anak-anak mereka. Ada yang juga berstatus ‘ilegal’, tidak punya iqama (KTP Saudi).

Sebagian orang tua dari kalangan ‘formal’ memilih memasukkan anak-anak mereka ke sekolah internasional. Meskipun belakangan, banyak juga orang tua dari kalangan ‘pekerja formal’ yang memasukkan anaknya ke SIT-DU. Namun, hingga kini mayoritas anak-anak yang bersekolah di sana berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Inilah alasan utama mengapa Ibu Elly menolak keras usulan agar menjadikan SIT-DU sebagai sekolah swasta internasional. Sekolah internasional akan terbebani dengan biaya operasional yang besar yang akan berimbas pada tingginya biaya sekolah yang tak akan mungkin sanggup ditanggung oleh sebagian orang tua murid. Sebagai catatan, sekolah internasional mematok harga hingga puluhan ribu riyal per tahun.

Alasan keduanya adalah masalah kurikulum. Ibu Elly berharap dengan mempertahankan kurikulum nasional tak akan mencabut ‘akar-akar kecil’ ini dari tanah kelahirannya. Beliau pun sangat percaya diri dengan program “Lantisa” yang telah diujicobakan dan mendapat hasil yang cukup positif.
Ketika di Jeddah, anak saya pun bersekolah di SIT-DU. Saya pernah menjadi saksi betapa tingginya harapan para ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah ini kepada para ananda tercinta. Tidak main-main mereka dalam menyekolahkan anak. Saat mengantar, berbagai ucapan disampaikan secara serius kepada anak, “Lihat dong muka Ibu. Belajar yang benar, ya. Mana bukunya? Perhatikan pensilnya jangan sampai hilang lagi.” Sebagian mereka, setelah mengantar anak-anak ke sekolah, harus pulang untuk bekerja.

Huru-hara kasus-kasus yang dialami para TKW yang pernah ramai diberitakan di media nasional tidak meruntuhkan semangat luar biasa mereka untuk meninggalkan kampung tercinta, datang mengadu nasib jauh-jauh ke Saudi. Mereka mungkin lebih takut kalau suatu hari nanti mereka masih diberi umur panjang dan mereka harus menyaksikan anak cucu mereka akan menjalani takdir yang sama. Dengan penghasilan seadanya, kemana mereka harus mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah. Tanpa pendidikan memadai, perbaikan masa depan apa yang bisa ditawarkan pada anak-anak mereka?

Belum lama saya share berita tentang perlakuan yang tidak menyenangkan yang kerap mereka alami di bandara Soetta. Kini, pemerintah pun tak kunjung ‘bersuara’ mengenai anak-anak mereka nun jauh di kota Jeddah sana.

Jangan lupa, sebagian mereka juga seorang Ibu seperti kita. Seorang ibu yang mungkin dalam doa-doanya di malam hari mengangkat tangan dan berbisik dalam doanya kepada Tuhan, “Ya Allah, semoga anak saya kelak menjadi presiden. Aamiin.”

Ancaman Tsunami Pendidikan di Jeddah

Tahun ini, pemerintah Saudi memperketat aturan kependidkan terutama tata kelola sekolah-sekolah asing. Ada dua masalah yang tengah dihadapi Ibu Elly selaku kepala pengelola SIT-DU. Izin operasional kembali dipertanyakan.

Sebenarnya sejak tahun 2010, Ibu Elly sudah berusaha berkoordinasi dengan pihak KJRI mengenai kemungkinan untuk peninjauan ulang SKB mengenai pendirian sekolah Indonesia di luar negeri tadi. Tapi hingga kini tak ada kejelasan status.

Masalah lainnya adalah masalah kelayakan gedung. SIT-DU memang berlokasi di sebuah pemukiman biasa. Sebuah rumah yang disulap menjadi gedung sekolah. Disekat-sekat seadanya. Sudah 3 bulan ini, Ibu Elly berusaha berjuang mencari perlindungan kemana-mana. Sementara salah satu usulan pihak KJRI untuk bergabung ke SIJ cukup mustahil.

SIJ sendiri pun ditempa masalah kelayakan gedung. Jumlah murid di SIJ kini sekitar 1000 siswa. Sementara kapasitas gedung hanya untuk 600 orang. Sudah berkali-kali ada wacana untuk memindahkan gedungnya ke tempat lebih layak. Bahkan konon, beberapa waktu lalu, Bapak Presiden bertandang ke Jeddah dan dijadwalkan untuk meninjau gedung sekolah. Tapi ternyata kunjungannya batal. Wacana pemindahan gedung kembali tersamar, mungkin selamanya akan menjadi sebatas wacana.  Bayangkan, bagaimana bila sekitar 300 murid dari SIT-DU  harus ikut berjejalan di sana? Sementara pihak SIJ pun sudah menunjukkan penolakan.

Persoalan ketiga adalah masalah status beberapa siswa di SIT-DU merupakan anak-anak ilegal (tidak memiliki nomor iqama). Hal itu melanggar peraturan resmi. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Elly, “Saya dianggap seperti penjahat karena melanggar peraturan menampung anak-anak ilegal di sekolah saya. Mereka sepertinya tidak berhak berkumpul dengan anak-anak yang legal. Mereka sepertinya tidak berhak mendapatkan pendidikan.”

Untunglah persoalan terakhir ini telah mendapat titik terang. Pemerintah Saudi telah memberikan amnesti kepada warga asing ‘bermasalah’ yang ingin tetap bekerja di Saudi.

Peninjau sekolah dari Pemerintah Saudi telah memberi ultimatum. Waktu yang tersisa tinggal 47 hari lagi. Ibu Elly kembali bertutur, “Sampai hari ini belum nampak secercah cahaya pun yang dapat menyelamatkan sekolah kami dari ancaman penutupan.”

Melalui telepon, Ibu Elly berkata, “Tsunami di Aceh jelas bencana besar. Kita bisa melihat jelas korbannya secara fisik. Tapi orang-orang tidak sadar, tsunami yang sama tengah terjadi di Jeddah. Korbannya mungkin tak terluka secara fisik. Tapi secara batiniah. Mereka tak sadar hak mereka dirampas. Bencana besar bagi masa depan anak-anak ini.”

Who am I to be Blind?

Sewaktu salah satu anggota Persatuan Orang Tua Murid (POMDA), Bapak Wibowo Pujokongko Adi / Pujo (teman kantor suami di Jeddah), menghubungi saya beberapa waktu untuk meminta saya menuliskan tentang ini, saya sempat ciut. Aduh, pikir saya. Memangnya saya ini siapa, ya? Lagian, di tengah maraknya kekisruhan di tanah air, banyaknya  berita-berita kurang sedap, siapa yang akan peduli? Pemerintah tengah didera berbagai masalah korupsi, baru-baru ini pun masalah Ujian Nasional bergema dengan nyaring.

Dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, berapa persen sih 300 orang ini? 1 persen saja tidak ada. Sementara di tanah air, masalah negatif pendidikan dari berbagai segi tidak kurang gaungnya.

Apa dengan ditiadakannya pembacaan pembukaan UUD 1945 di upacara bendera hari senin, akan membuat ‘mereka yang di atas sana’ ikut meniadakan salah satu kewajiban mereka untuk MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA?

Tapi saya lantas teringat salah satu petuah Bung Karno, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi. Satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” Cuma butuh satu orang pemuda untuk melakukan banyak hal besar. Satu pemuda ini mungkin ada diantara yang kurang dari 1 persen tadi.

Siapa yang tahu, kalau kegalauan meruntuhkan keberanian saya untuk menuliskan ini, sang pengubah dunia itu gagal memenuhi takdirnya. Siapa yang tahu diantara anak-anak ini ada calon “Hadi Susanto-Hadi Susanto” yang seharusnya mampu untuk merapalkan mantra dan sihir untuk terbang jauh mengukir cita-cita setinggi langit di sana. Siapa yang tahu, kelak mereka akan membuat orang tuanya berbangga, melupakan semua kepahitan masa lalu dan tersenyum, “Tidak ada yang sia-sia.”

Maka dari itu…  “who am I, to be blind? Pretending not to see their needs.” (Man in the mirror, M. Jackson)

Saya juga tidak tahu harus ditujukan kepada siapa tulisan ini. Tak ada waktu lagi untuk ‘mengemis’ perhatian di media cetak resmi. Kurang dari 2 bulan lagi, vonis akan dijatuhkan kepada sekolah ini. Maka, saya pun sama sepakat dengan Pak Pujo, “Mungkin kita bisa berbagi melalui media sosial.”

Siapa yang tahu ke mana tulisan ini akan bermuara? Mana tahu ada pihak-pihak yang bisa menggugah pihak berwenang di pemerintahan. Bantulah mengalirkan tulisan ini sejauh yang mungkin bisa.

Bantuan terkecil yang kita bisa tentu berdoa :). Who are we to be blind? Pretending not to see their needs.

Kalau pun tak sanggup pemerintah membuka lapangan pekerjaan bagi mereka di Indonesia sehingga tak perlu payah-payah mereka merantau jauh ke Negeri Gurun…

Kalau pun tak sanggup pemerintah membela hak-hak mereka, memperjuangkan hak-hak mereka di Negeri Rantau…

Kalau pun tak sanggup pemerintah memberikan (setidaknya) perlakuan yang layak bagi mereka saat mereka kembali ke kampung halaman setelah lelah ‘bertarung’ di Negeri Orang… walaupun konon, predikat “Pahlawan Devisa” disematkan pada mereka…

Maka…jangan rebut HARAPAN mereka bagi anak-anak mereka. Anak-anak adalah masa depan orang tua. Cukuplah perlakuan tidak adil bagi mereka.

(Mungkin) satu-satunya yang membuat mereka bertahan adalah HARAPAN, untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Tanpa pendidikan, HARAPAN apa yang bisa dibangun? :(.

“Never deprive someone of hope; it might be all they have.” H. Jackson Brown, Jr.

Let’s not kill THEIR HOPE, it might be all they have to continue all these suffering they’re bearing now. Don’t kill that only reason.

***

Note :

Bapak Pujo, walaupun berkepentingan sebagai salah satu orang tua murid di skana, sebenarnya bisa saja tidak peduli. Beliau, dengan jabatan sebagai manajer di salah satu vendor telekomunikasi internasional, tak akan kesulitan sama sekali memasukkan putra putrinya ke sekolah internasional. Tapi beliau ini memilih ikut ‘berjuang’ :). Sekaligus menjadi salah satu narasumber utama dari tulisan ini, selain Ibu Elly Warti sendiri.

***

Murid-murid SIT-Darul Ulum
Murid-murid SIT-Darul Ulum

Roda Pedati, Kadang di Atas Kadang di Bawah

by : Jihan Davincka

***

Sudah sebulan hengkang, masih saja suka kepo-kepo tentang Saudi. Dua hari lalu mendengar kasak kusuk soal ‘Saudinisasi’ yang kembali gencar berhembus di Negeri Petro Dolar ini. Ada razia iqama (semacam KTP untuk para pemukim Saudi).

Konon, kali ini razianya konon juga melanda para pekerja profesional. Saya tak enak hati mau bertanya langsung pada teman-teman yang masih di sana. Takutnya disangka mau nyolot :P.

Padahal sebenarnya beneran khawatir. Untunglah hasil kepo-kepo terselubung sudah berhasil mendapat info yang akurat. Ternyata…it’s not that bad. Alhamdulillah :).

NC 2

***

‘Saudinisasi’ bukan isu baru. Entah kapan mulainya, yang jelas beberapa tahun terakhir ini pemerintah Saudi memang dipusingkan dengan membanjirnya pekerja pendatang di Negeri Penjaga Wilayah Haram ini. Sensus tahun 2010 menunjukkan, sekitar 30% penduduk Saudi adalah pendatang. CMIIW, ya.

Sebelum ke Jeddah, saya juga suka keheranan mengapa Saudi masih bertengger di salah satu posisi puncak tujuan kerja para TKI, ya? Terutama untuk pekerja non-formal. Setelah tinggal di Jeddah baru deh ngerasain ‘asoy’nya tinggal di Negeri Gurun yang satu ini hehehehe.

Sekitar setahun lalu, saya sering membahas hal ini dengan suami. “Saudinisasi apaan, sih? Kenapa tiba-tiba Saudi mau mengusir pendatang?”

“Mereka butuh lapangan kerja untuk angkatan kerja usia mudanya.”

“Kok baru ribut-ribut belakangan ini?”

Baru deh suami mulai mendongeng panjang lebar :D. Konon, di tahun 70 hingga 80-an, malah Saudi yang mengundang orang-orang dari luar untuk datang dan ikut ‘mebangun’ Saudi. Potensi sumber daya alam minyak sedang booming.

Sementara saat itu Saudi belum ‘siap’. Malah katanya, waktu itu status warga negara ‘dijual murah’.

Mungkin Kerajaan Saudi ‘terlena’ terlalu lama. Tanpa sadar, puluhan tahun telah berlalu. Penduduk Saudi sudah makin banyak. Bayi-bayi mereka tumbuh makin dewasa. Mungkin 10 tahun terakhir ini, pemuda pemudinya sudah mencapai usia siap kerja. Masalahnya, mau kerja apa?

Perusahaan tentu tidak akan sembarangan memilih pegawai. Para pemuda Saudi ini kurang ditempa dan malah (mungkin) mendapat perlakuan manja dari orangtua dan pemerintah. Sekolah gratis, kesehatan gratis untuk penduduk Saudi asli.

Kalau tidak salah (CMIIW), kurikulum sekolah negeri Saudi juga agak berbeda. Meskipun menggunakan pendidikan umum tapi ada penekanan khusus untuk bahasa Arab dan agama Islam.

Jadi, pelajaran umumnya sedikit tergeser dan mungkin tidak mendalam. Padahal dalam Islam prinsipnya, “seimbang dunia akhirat” kan, ya? ;).

Dijejali dengan kekayaan berlimpah, ditambah pemasukan umrah dan haji, walaupun belum bergelar “negara maju”, Saudi termasuk negara ‘tajir’.

Kalau negara-negara lain ‘mengemis-ngemis’ (pasang iklan sana sini) agar wisatawan datang mengunjungi negerinya (untuk menambah devisa), Saudi malah dengan ketat membatasi jumlah pengunjung ke negaranya.

Selain sentimen ekonomi, Saudi punya magnet lain. Pesona spiritual dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Tiap tahun, jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong mendatangi Saudi tanpa bujukan iklan apa pun.

Wajar saja jika pemerintah sangat memanjakan penduduk asli Saudi yang didominasi oleh orang Arab.

Jadi, salah satu jalan terbaik yang harus diambil pemerintah adalah “mengusir para pendatang.” Untuk memuluskan para pemuda Saudi mendapatkan kesempatan kerja.

Karena kalau harus bersaing dengan pekerja asing, para perantau yang semangat kerja dan skill-nya tidak main-main, pasti mereka akan kalah telak hehehe.

Upaya inilah yang disebut sebagai Saudinisasi. Beberapa tahun belakangan ini, berbagai cara telah ditempuh. Antaralain dengan memasang quota pegawai asal Saudi di tiap perusahaan.

Memaksa perusahaan untuk mempekerjakan orang Saudi asli sejumlah angka quota tersebut. Perusahaan yang ‘bandel’ akan masuk dalam zona merah. Harus berhati-hati.

Masih butuh waktu bagi Saudi untuk menyukseskan program Saudinisasi mereka. Membangun etos kerja dan perilaku karyawan bukan pekerjaan mudah dan cepat. Mereka tentu tidak akan gegabah main usir begitu saja kepada para pendatang.

Perusahaan kan tidak mau rugi. Kalau pada ‘ngambek’ dan ikut kabur, pening juga kan pemerintah Saudi? hehehehe.

Alasan lainnya adalah maraknya pekerja ilegal. Saking ‘malas’nya warga Saudi, pemerintah dulunya ‘tutup mata’ dan tak sadar membiarkan para pendatang menjejali tanah mereka. Ya, namanya butuh.

Keluarga Saudi itu punya asisten rumah tangga bisa banyak. Ada asisten untuk memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pengasuh anak. Supir juga wajib. Saudi tak membolehkan kaum wanita menyetir kendaraan sendiri.

Para pendatang ini pun kebanyakan malah kesenengan tinggal di Saudi. Betah secara psikologis sih mungkin tidak. Tapi berikut beberapa petikan hasil kepo-kepo saya dengan beberapa supir taksi asal Indonesia di Jeddah.

Umumnya saya membuka percakapan dengan, “Pak Abc, sudah lama di Saudi? Betah nih, Pak?”

Jawabannya beragam.

“15 tahun, Bu. Dari bujangan. Betah sih tidak. Tapi pernah pulang duitnya masih enakan sini, Bu.”

“Sudah hampir 20 tahun, Bu. Dulu keluarga ikut. Tapi saya pulangin. Anak-anak dah gede-gede. Kuliah semua. Istri jaga kontrakan. Alhamdulillah, ada beberapa rumah kecil-kecil di kampung. Saya mau pulang juga. Tapi Bu, di kampung enggak ada duit.”

(Catat, anaknya 3, kuliah semua! Punya beberapa rumah kontrakan. Supir taksi, cing! :P)

Satu lagi, “Sekitar 8 tahun, Bu. Istri di kampung. Saya punya usaha kerajinan besi. Istri punya kantin kecil-kecilan.” (Nah!)

Pantas pada ogah pulang hehehe. Jadi, jangan buru-buru menyangka TKI di sini penuh darah dan airmata hehehe. Hati-hati, supir taksi bisa jadi juragan kontrakan :D.

Saudi berbeda dengan negara Timur Tengah lainnya. Biaya hidupnya jauh lebih rendah daripada tetangga-tetangganya. Iya sih, kota Dubai dan Abu Dhabi keren luar biasa. Konon, Qatar adalah negara terkaya ke-2. Tapi teman saya di Abu Dhabi merintih atas mahalnya barang-barang di sana.

Mari kita lihat harga barang pokok di Jeddah. Jangan sakit hati, harga daging sapi dan beras lebih murah daripada di Jakarta ;). Karena berlimpah pendatang, hidup di Jeddah tidak terasa seperti di luar negeri.

Ketika Indonesia terkena musibah langkanya tempe, kami di Jeddah tetap bisa mendapatkan makanan khas tanah air ini dengan harga 3 riyal saja. Memang, lebih mahal. Tapi, di luar negeri lain, ada yang jual tempe seharga 7500 rupiah dengan pasokan yang sama banyaknya dengan tanah air? ;).

Harga bensin? Sudahlah ya, garuk-garuk tanah nanti. Ahahahaha.

Saudi tak memungut pajak dari siapa pun. Jadi, semua fasilitas umum bisa dinikmati oleh baik penduduk lokal maupun pendatang. Enak kan, numpang hidup di tempat orang tapi enggak bayar apa-apa :P. Malah ikut menikmati murahnya biaya hidup, bensin dengan harga sale :P, jalanan yang mulus-mulus, dsb.

Ini mungkin yang membuat pemerintah Saudi lama-lama empet juga ahahahahaha, “Gue yang capek-capek, lu orang bisa nikmatin semua dengan gratis.” Pernah ada isu, pemerintah mau menarik pajak dari para pendatang. Tapi konon ditentang oleh para ulama sana. Pajak itu haram katanya. Entah, ya. CMIIW lagi nih hehehe.

Bayangkan, kalau Anda datang sebagai pekerja profesional, diberi gaji dollar layaknya pekerja ekspat tanpa pajak dan Anda sanggup menahan diri untuk tidak ‘foya-foya’ di negeri orang, berapa itu DEVISA terkirim ke tanah air? Hehehehe. Berterima kasihlah pada pemerintah Saudi :P.

Jangan buru-buru menghakimi pemerintah Saudi. Now you can see WHY :).

***

Tapi kita bisa belajar sesuatu nih dari pemerintah Saudi. Kadang, memiliki kelebihan materi tidak menjamin kesejahteraan hidup :).

Lihat saja bangsa petarung seperti orang-orang Jepang. Punya apa sih Negeri Sakura ini? Tanah subur pas-pasan, kekayaan alam nyaris tidak ada, malah sering terkena bencana alam. But look at them! How strong they are until now :).

Saya teringat waktu kuliah sedang konsultasi dengan Pembimbing Akademik, salah satu senior datang. Dia sedang konsultasi tugas akhir juga. Saya terkesan dengan ucapan PA saya sesaat setelah senior tersebut mengeluhkan tentang isi makalahnya.

PA saya bilang, “Banyak keterbatasan, ya. Tapi kamu kerjakan saja terus. Jangan ganti topik dulu. Keterbatasan kadang membuat kita jadi kreatif, lho.”

Keterbatasan membuat kita jadi kreatif. Nah! Itu mungkin yang membuat orang-orang Jepang terkenal dengan inovasinya. Mereka tahu diri dengan ‘kemiskinan’ sumber daya alam mereka. Mereka pun mencari cara lain. Akhirnya tampil sebagai negara industri dan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.

Hal yang sama untuk negara-negara Eropa. Sebagian mereka minim kekayaan alam. Biaya hidupnya jadi cenderung tinggi. Tapi jadinya orang-orang Eropa sangat disiplin dalam menggunakan uang dan mandiri dalam banyak hal.

Sekaligus membuktikan satu pepatah lagi, “What doesn’t kill you, make you stronger.”

Tapi jadi ‘tajir’ itu bukan dosa. Pun bukan kelebihan. Lebih tepatnya, kekayaan itu cobaan. Lihat kan Negara Saudi? Mentang-mentang tajir, lupa diri ‘mendidik’ warganya hehehe. Dimanjakan terus, deh.

Hidup seperti roda pedati. Tidak selalu di atas. Sebagai orang tua, kita juga jadi belajar waspada. Sedari kecil mengajarkan kesederhanaan dan kerja keras pada anak-anak. Terlalu berat kalau mikirin negara, keluarga saja dulu :D.

Faktanya, lebih berat mengajarkan kesederhanaan pada mereka kala kita diberi kelonggaran rezeki. Kalau rezekinya sempit mah, mau tak mau kudu hemat hehehehe. Tapi coba kalau kita memiliki materi berlimpah? Gatal kan beliin ini itu buat anak-anak atas nama cinta dan, “La memang cari uang untuk mereka, kok.”

Nasib mereka tak pernah bisa kita ramalkan. Tugas kita hanya membangun pondasi yang kuat yang bisa mereka pakai untuk menempuh hidup. Siapa yang tahu, kehidupan mereka secara ekonomi di masa depan? Apa akan sejaya orang tuanya kini?

Makanya, ajarkan kesederhanaan dan kerja keras. Agar seperti apa pun mereka di masa depan, mereka tidak melumrahkan kehidupan dengan misalnya : baju-baju bermerek yang harganya tidak murah, makan di tempat mahal-mahal, liburan mesti ke hotel ;).

Kalau takdir menjadikan mereka sejaya kita sih tak masalah. Tapi apabila hidup menempa mereka lebih keras, siap tidak pakai baju murah makan di warteg? 😛

Bukan hal mudah memang. Ini catatan buat saya juga. Mampukan kami semua ya, Allah :).

***

Cara menerbitkan buku indie

Jeddah, Our Second Home

by : Jihan Davincka

***

30 bulan di Jeddah menyisakan banyak kenangan-kenangan seru. Seratus paragraf pun belum tentu bisa menceritakan satu per satu *tsaaahhh* :P. But, time to move on :).

negeri paman syam

They said, “A picture can paint a thousand words.” Maka best moments di Jeddah disajikan dalam bentuk video.

Jeddah, has become a second home for us. And for that…we always wanna go home :).

Enjoy the video ^_^.

https://www.4shared.com/video/aQ3ysg1W/Jeddah__Best_Moments_Video__ve.html

Muncul di Tabloid Prioritas

Sebenarnya untuk edisi februari kemarin. Baru ingat belum pamer-pamer di blog hihihihi.

Btw, kalau ada yang tertarik mengisi rubrik “Perjalanan” di tabloid ini kirim saja ke hauraziba@yahoo.com. Isinya standarlah seperti artikel traveling yang lain.

Serunya lagi, tabloid ini ada versi onlinenya, lho. Silakan dicek contoh-contoh artikelnya.

Ini link tulisan saya yang dimuat kemarin :). Oleh-oleh jalan-jalan dari Madain Saleh di penghujung bulan desember kemarin. Salah satu cerita jalan-jalan yang sangat berkesan menjelang final exit kami sekeluarga dari Jeddah.

https://www.prioritasnews.com/2013/02/15/warisan-leluhur-di-bukit-laknat/

madain saleh

Mengirim Artikel Jalan-jalan ke Kartini

“Musim Semi di Gurun Saudi” adalah judul artikel jalan-jalan ke Kartini yang sudah tayang. Horeeee :D. Artikel lengkapnya bisa dicek di sini ya 😉.

Tapi… lagi-lagi artikel jalan-jalan :p. Hobinya kan sebenarnya menulis fiksi padahal. Artikel jalan-jalan ini muncul di edisi ke-2 di bulan November (15-29 november 2012).

Cara ngirim artikel jalan-jalan ke Kartini gampang, kok :

  1. Tulisan terdiri dari 1500 kata. Kira-kiranya begitu. Lebih/kurang 100 an kata mungkin tidak mengapa. Cek di word pakai fasilitas “word count”, ya ;).
  2. Siapkan foto-foto pelengkap. Minimal 8 buah. Resolusinya harus tinggi kalau untuk cetak di Majalah. Minimal 800 dpi dan pixelnya kudu gede juga (high resolution).
  3. Tulisan dibagi menjadi beberapa sub-bab/bagian. Lihat saja contohnya ya di link paling pertama yang saya kasih di atas tuh ^_^.
  4. Isinya yang penting ada what, where, when, who, with dan how to get therenya lah. Sertakan kuliner kalau ada. Info akomodasi juga dituliskan.
  5. Tulisan ditulis dalam dokumen word dan diattach ke dalam email. Demikian juga foto-fotonya di-attach ke email.
  6. Subyek email sih enggak harus seragam. Tapi sebaiknya to the point saja misalnya, “[Artikel Jalan-jalan] Wisata ke Kota Thaif”
  7. Badan email jangan dikosongkan lah ya hihihi. Tulis apa kek basa basi. Ucapkan salam, perkenalan dan sampaikan tulisan apa yang dikirim. Topik garis besarnya saja. Ucapkan terima kasih jangan lupa ;).
  8. Kirim email ke redaksi_kartini at yahoo dot com. Lho? Email yahoo? Emberrrr, ehhehehe. Saya juga sempat ragu. Tapi pas cek di media cetaknya memang kirimnya ke situ kok ;).

Saya kirim artikel jalan-jalan ke Kartini yang ini sekitar bulan Oktober gitu. Dua minggu kemudian dapat kabar akan dimuat dan diminta untuk mengirimkan kelengkapan foto-foto. Saya awalnya mengirim foto dikit saja dulu buat contoh. Tapi sebaiknya memang langsung dilengkapi saja. Minggu depannya sudah langsung dimuat setelah foto dilengkapi.

ps : boooo, leletnya internet di ibukota tercintah ini :((. Nanti aja ya diupload fotonya :D. Yang penting…pamer duyuuuuuuu, hahaha :p.

Semoga info tentang artikel jalan-jalan ke Kartini nya membantu ya ^_^.

updated : dah mendarat di Jeddah lagi 2 hari kemarin. Ini foto bukti tayangnya di Kartini.

Thaif di Kartini edisi terbaru )