Khusus untuk Jeddah, saya kumpulkan semua di blog Mamasejagat. Saat ini sudah ada sekitar 40 postingan tentang kota Jeddah, lho. Mulai dari tempat jalan-jalan yang seru, kuliner, gaya hidup, pengalaman melahirkan di Jeddah, sampai tempat membeli abaya, semuanya bisa dicek di Mamasejagat kategori Arab Saudi – Jeddah.
Mamasejagat memang blog komunitas. Kontributornya banyak. Ada belasan orang. Kebetulan yang paling cerewet ‘pegang kunci’ adalah saya, jadinya postingannya paling banyak :D.
Silakan dicek langsung ke TKP untuk tulisan-tulisan saya yang khusus berkisah tentang kota Jeddah dan sekitarnya ;).
Mabrook, Haji Dani Rosyadi ^_^. Thawaf qudum 1.5 jam, thawaf ifadah 2.5 jam. Semuanya non stop gendong Narda :). Tetap mampu khusyuk berdoa di tiap putaran. Thawaf wada nyaris 4 jam! Lucky us, I got my period in that morning. Can’t imagine if he did thawaf wada last night with me and our little boy hehehe.
Tercekat melihat Masjidil Haram dan sekitarnya sepanjang sore dan tadi malam. Akses ke lantai 1 ditutup rapat. Thawaf di lantai 2. Sesaknya juga minta ampun. Bis kami yang seharusnya meninggalkan Mekkah ke Jeddah pukul setengah 7 malam, mundur hingga jam 11 malam. Hampir semua rekan-rekan pulang dengan langkah tertatih-tatih dan wajah kelelahan.
Saya tak bisa berbahasa Arab. Hanya sanggup memberi tatapan mata menyemangati sembari berujar, “Mabrook, mabrook, mabrur insya Allah.”
Terima kasih ya Allah, putra kami tergolong tidak rewel sama sekali. Dalam tenda Arafah, orang-orang sekitar berdebat dan tidak sabaran karena panasnya cuaca. Saling berebutan menduduki karpet-karpet yang dekat dengan pendingin ruangan. Anak-anak kecil banyak yang meraung-raung. Tapi Narda terlihat santai saja bermain dengan kantong tidur yang dibagi-bagikan ke tiap orang. Hingga akhirnya terlelap sendiri :'(.
Antri menuju stasiun untuk kembali ke Mina dari Arafah selama 3 jam tak mengeluarkan tangis sama sekali. Sudahlah sesak, gerah, orang-orang tidak sabar dan saling dorong mendorong, tapi Narda diam saja bahkan sesekali tertidur.
Ada kesalahan teknis dalam melontar jumrah hari pertama. Kami jalan kaki dari Mina ke tempat jumarat, seharusnya naik kereta. Sekitar 4 kilo di teriknya siang hari juga tidak membuat bocah 1.5 tahun ini rewel sama sekali. Emaknya malah yang cranky (as usual, ya), ahahahahahahaha.
Thawaf ifada di lantai 2, biarpun memakan waktu 2.5 jam, tapi hawanya sejuk kena AC dan kipas angin yang tersebar di seluruh penjuru atap masjid. Tentu saja Narda riang terus dalam gendongan.
Mabrook juga buat haji kecil kami, Narda Atif Rosyadi :). Si lembut yang sabar hati :). Wajahnya mirip dengan saya (katanya) tapi sifatnya jauh ya booooooo :P.
Cerita-cerita seru lainnya menyusul ;). Ini cuma ‘pemanasan’ ho ho ho. Cerita seru selengkapnya akan saya tulis nanti.
Tahun 2010, di bulan Juli melangkahkah kaki keluar dengan penuh keraguan dari bandara. Pertama kalinya menghirup udara kota Jeddah.
Baru saja menjejakkan kaki di Negeri Petro Dolar ini, saya sudah diberi rezeki. Hamil anak ke-2 di bulan ke-2 bermukim di kota (yang ternyata) cantik ini :).
Di tahun pertama itu, tetangga saya berangkat haji. One of my best friendsย here who has left Jeddah at the beginning of this year.
Biarpun saya menggodanya sepanjang waktu, “Sepertiko mau pergi kemping, Rani. Coba kalau di Makassar, adami itu gandrang bulo antarko pergi Mekkah.” (Kayak mau kemping aja lu, ,Rani. Coba kalau di Makassar, sudah ada Gandrang Bulo yang mengiringi keberangkatan).
Tapi dalam hati saya iriiiiiiiii huhuhu.
Dan di tahun itu juga, saya sudah meyakini, tahun depannya pun, mungkin belum waktunya. Saya akan melahirkan, dan tahun haji berikutnya, si bayi masih akan berusia 6 bulan. No. Gak mungkin lah :(.
***
Saya dan suami sama-sama sepakat bahwa kesempatan untuk hidup di Jeddah adalah salah satu hal terbaik yang pernah dikaruniakan Allah kepada kami. Terima kasih ya, Allah :). Maaf jika dulu saya berburuk sangka :P.
Tapi hidup terus berjalan. Keinginan untuk mencicipi belahan bumi yang lain (dan kalau bisa ada saljunya ya Allah, hahaha :p) tak pernah surut. Setelah tahun ini tuntas menunaikan janji pada orang tua masing-masing, kami merasa, “Maybe it’s time to leave.”
Bulan Juni tahun ini, doanya langsung dijawab Allah. Prosesnya sangat meyakinkan. Tapi ternyata, on a very last step, He said, “Hold on! Not now.” But we managed to move on ;). Padahal saat itu, saya sudah pasrah.
Kami suka bercanda di sini, “Belum sah tinggal di Jeddah kalau belum naik haji.” Hehehehe. Mungkin saya akan termasuk yang tidak ‘sah’.
Selepas Ramadan tahun ini, beberapa teman sudah mencanangkan niat berhaji. Wah, kapan giliran saya? :(. Saya tanggapi dengan bergurau, “jangan semuanya, dong. Tahun depan gue ama siapa? hehehe.”
Dan rahasia dibalik takdirNya terjawab sekitar 2 bulan lalu. Dimulai dengan rekan kerja suami, “Bos, hajian lah. Ayolah. Giliran. Gue belum bisa, nih. Lu aja, Bos.”
Lalu Ibu mertua. Dan akhirnya saya pun meyakinkan suami, “eh, hajian sana. Aku gak apa ditinggal. Cuma 6 hari ini.”
Tadinya rencananya begitu. Suami akan hajian sendiri. Tapi setelah seminggu dia sudah berniat, dia tiba-tiba berkata, “Ikut, yuk.”
Saya kaget juga. Suami saya kok yakin ya bisa bawa anak. Tapi awalnya masih suka ragu. Serius nih mau bawa anak? Tapi dalam hitungan hari, kemantapan itu datang sendiri. Alhamdulillah :).
Bulan lalu, kami resmi mendaftar di sebuah biro haji lokal sini. Membayar lunas dan meyakinkan hati, Insya Allah dilancarkanNya.
On our regular pillow talk at night, I said to my husband, “Wah, kita dikasih kesempatan untuk naik haji dulu, Bang.”
“Iya, yah.”
“Bayangin kalau dari Indonesia. Ngantrinya berapa tahun? Kalau dari negara lain, waktunya pasti gak bisa cuma 6 hari seperti disini. Titip anak ke siapa kalau waktunya lama?”
“Ho-oh.”
“Tuh kan, bener teoriku selama ini. Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu.”
“Ah, bosen. Itu melulu.” Hehehehehe.
Some of the best friends ever ๐
***
Siapa menyangka, alhamdulillah, dibukakanNya ‘pintu keluar lain’ untuk rencana besar kami tahun ini. Semoga dilancarkan. Amiiinn.
Dan sekaligus diwujudkannya keinginan terbesar saya sejak menapakkan kaki di kota ini, “ingin diberi kesempatan naik haji.”
The path may seem unclear at that time, the moment when we were extremely dissapointed, “kenapa quota visanya mendadak habis?” :(. But all that comes before was truly meant to be :).
And this year is our turn :).
Labbayka Allฤhumma Labbayk. Labbayk Lฤ Sharฤซka Laka Labbayk. Inna l-แธคamda, Wa n-Niสปmata, Laka wal Mulk, Lฤ Sharฤซka Lak.
Selepas magrib hari ini, kami akan menuju Mekkah untuk tawaf. Dan selanjutnya ke Mina. Untuk bergabung dengan jutaan jemaah lainnya melaksanakan wukuf di Padang Arafah, di tanggal 9 zulhijjah nanti.
Mohon maaf bila ada kesalahan dari saya dan suami :).
***
Selamat menunaikan haji untuk teman-teman tercinta lainnya :
Bunda Ratna, Bunda Andini, Neng Caca, Ibu Peri Mira, Mbak Tety, Mbak Berty, dan suami dan keluarga masing-masing :).
Untuk rekan-rekan fasilkom, Badai dan Selly.
Teman-teman dari Makassar : Riri dan Delsi.
Semoga apa pun kesulitan yang dihadapi setelah memantapkan hati memenuhi panggilan suciNya, kita semua diberi kekuatan untuk melewatinya dengan lancar. Dan tentu saja… menyandang gelar haji yang mabrur :). Amiiinnn.
Tak lupa terima kasih untuk Madam Cantik yang sudah ‘rela’ jagain Abil selama kami hajian nanti. Hihihihihi. Kecup paling kencang untukmu ya, Dear ^_^.
Dan teman-teman lain yang sudah mendoakan, meminjamkan kerudung (hihihihi). Terutama untuk yang malem-malem nganterin kaos kaki-jilbab-thobe buat Narda semalam ;).
Ini tulisan jalan-jalan ke-2 di Leisure – Jalan-jalan Religi. Muncul di edisi hari ini (selasa, 2 oktober 2012).
Kaget juga. Tak ada kabar apa pun dari redakturnya. Tiba-tiba saja tadi pagi, teman saya men-tag saya di sebuah foto. Pas dilihat itu foto artikel “Padang Pasir Badar” yang dimuat di Leisure selasa Republika. Hehehehe. Langsung seneng bertubi-tubi.
Agak kendor semangat menggempur media. Udah mengirim banyak tulisan, tapi tak ada satu pun yang tembus di bulan september kemarin :(. Makanya begitu di awal Oktober, ternyata keberuntungan belum pergi selamanya, langsung menggebu-gebu lagi pengin kirim tulisan ke media. Hehehehe.
Ini kenapa jadi artikel jalan-jalan yang banyak nyangkut, ya? Padahal kan cita-citanya mau jadi cerpenis :P.
Bosen ah ber-saya-saya. Mari ber-gue-gue hehehe. Secara ini pun postingan iseng hehehe.
Waktu masih kerja di ULI, tiap tahun pasti ada acara gathering ke luar kota (selama 3 tahun berturut-turut gue di sana, acaranya ke Bali terus). Namanya annual conference. Yang paling ditunggu-tunggu selain menutup laptop rapat-rapat dan memanfaatkan jalan-jalan gratis dari kantor (hehehe), adalah ‘goodie bag‘ nya :D.
Nah, di tahun 2009 itu, tersebarlah rumor beberapa minggu sebelum hari H kalau salah satu starter kit yang bakal dibagikan sebelum berangkat adalah…sepatu Crocs!
Ori apa KW neh? hehehe. Duh, kalau kerja di ULI mah ya, jangan inferior begitu. Ya pasti ori dong, dong, dong :P. Awalnya gue dan beberapa teman protes keras. Apalagi pas lihat harganya di website resmi Crocsnya (450 ribu waktu itu!), makin nyinyir aje gue. “Ngapain sih ngasih sepatu plastik warna permen kayak gitu? Banyak palsunya tau di ITC! mending ngasih duit!”
Oiya, selain ngasih Crocs, di tahun itu juga dapat IPod Nano booo, dalam rangka ulang tahun kantor. Boleh milih antara IPod Nano dan tas LongChamp. Karena gue mikirnya kalau tas susah jualnya, jadi milih IPod aja ahahahahahaha. Itu IPod harganya 1.5 jutaan tempo hari. Kalau ingat yang gini-gini, kok mendadak lupa ingatan kenapa ya dulu bisa sampe resign? hehehe.
Balik ke Crocs. Karena gak bisa ngapa-ngapain juga, ya terpaksa diterima aja tuh acara bagi-bagi crocsnya. Gue cerita ke Buntel dan kakak gue. Eh, mereka malah yang semangat. Buntel sukses membuat gue bersumpah kalau entar pulang dari Bali, crocsnya buat dia!
ย Anw, Crocsnya salah pesen, ukuran kegedean, jadi gak gue bawa ke Bali. Pulang dari Bali baru deh dapet tukerannya yang ‘bener’.
Gak ngerti seluk beluk Crocs, akhirnya gue ikut ‘suara terbanyak’ cewe-cewe yang milih Malindi Cotton. Dan pilih warna candy (pink) biar lebih imut :P.
Terus kan ceritanya pulang dari Bali udah last days tuh. Udah resign dari bulan lalu. Jadi sekalian perpisahan ama ULI, tetep ngotot ikut jalan-jalan ke Bali :D.
Dan udah mau berangkat ke Tehran, tuh. Iseng gue pake si Malindi Candy belanja-belanja ke ITC. LUmayan lama muter-muter di sana.
Eh pas pulang, duduk-duduk di rumah bongkar-bongkar belanjaan terus nyadar, “gileee, ada kali 3 jam muter-muter.” 3 jam itu waktu yang super lama buat orang yang males berkeliaran di pusat perbelanjaan kayak gue. Soalnya kaki suka pegel. Ini kok gak pegel-pegel ya. Langsung inget tadi pake sepatu CROCS! Iklan banget dah, ahahahahaha.
Gue pegang-pegang tuh sepatu karet (bukan plastik ye ternyata :P) dengan takjub. Padahal baru sekali pake. Biasnya kan sepatu masih bikin lecet-lecet kaki di awal-awal pemakaian. Eh, ini kok langsung nyaman, ya. Baru, deh, ngerti kenapa si Crocs yang modelnya (waktu itu) cupu-cupu bisa hits dimana-mana. Dan sekaligus menjelaskan harga mahalnya itu. Emang nyaman to the max.
Langsung gue batalin sumpah ke Buntel. Pasti dia ngamuk tapi berhasil diredam dengan IPod Nano :D. Gak apalah nyenengin adek sendiri. Gue emang lebih butuh CROCSnya. Tadinya si IPod juga mau dijual aja sih hihihihi. Jadilah sejak hari pertama berCROCS ria itu gue langsung naksir abis-abisan.
Hampir kemana-mana pakai CROCS. TInggal ke kondangan doang kali yang enggak. Gue bawa 3 sepatu ke Tehran, tapi dari naik pesawat, pas jalan-jalan di sana, ampe pulang lagi naik pesawat, teteeeepppp… pake CROCSย terus :P.
Sampe ke Jeddah pun, gak bawa sepatu apa-apa lagi. Cuma si Malindi Candy seorang itu. Kuat ya, selama sekian tahun gue pake, gak ada lecet dan kerusakan sedikit pun. Nyucinya juga gampang. Keringnya gampang. Dan yang paling penting…super nyaman di kaki!
Selamat 3.5 tahun bersama dengan si Crocs gratisan itu, jodoh kita berakhir saat Umrah Ramadhan kemarin :(. Karena gak inget naro kresek sepatu di rak nomor berapa, sibuklah kita menjelajahi rak sepatu yang super banyak itu dalam masjidil Haram. Tahu sendiri kalau Ramadan, sesaknya Haram kayak apa :(. Jadi pasrah saja ketika kreseknya gak ketemu. Dengan demikian, selamat tinggal, Malindi Candy.
Karena pengetahuan gue yang terbatas mengenai fashion sepatu ini, gak pake pikir panjang mau beli Crocs lagi hehehe.
Belinya di Andalus Mall. Ternyata ada counter CROCS di sana. Baru sih, kata temen-temen. Beli, deh yang modelnya mirip-mirip Malindi. Malindi udah gak dijual di sana katanya :(.
Nah, yang baru ini namanya Flower Dance Espresso. Tetep ya mesti yang pinky-pinky dikit biar imutnya gak ilang hehehe. Dan berhasil membujuk suami juga ikut beli Crocs. Si doi kan tadinya males bener beli sendal yang menurutnya gak jelas dan mahal itu :D. Tapi gue suruh pake di toko, langsung mau dia ^_^.
Selama dua tahun lebih di Jeddah, gue emang jarang banget beli sepatu, sih. PErnah sekali beli pas diskon. Sepatu merek apaaa gitu. Eh, jarang dipake. Kepake pas si Malindi ilang doang. Begitu abis beli Crocs baru, nganggur lagi deh sepatu itu.
Katanya modelnya Crocs ini terbatas dan kurang fasionable. Tapi bener-bener, kalau buat gue, nyamannya itu tiada tandingan lah :D. Dipake kemana aja mantap! Mungkin ntar Crocs bisa bikin model yang fancy dikit dong, buat dipake ke kondangan, hehehe.
Penggemar sepatu Crocs, mana suaranya? ๐ ๐ :D.