People We Haven’t Met Yet (8)

“Bu, buuuu, tolongin dong …”

Saya menengok, “Apaan…”

“Ini kemarin sudah ada lagu-lagunya. Tinggal pencet ini. Tapi sekarang mana, ya? Gak ada lagi yang bisa dipencet? Ilang ini pencetannya.”

“Apaan tuh yang dipencet-pencet?” Saya mulai cengengesan.

Si embak menyodorkan ponselnya sambil sibuk nerangin dari awal lagi. Nerangin ala dia. Setelah melihat gambar di ponsel dan keterangan dari mulutnya baru deh bisa sinkron apa itu yang dipencet-pencet segala macam hahaha.

Sebut saja namanya Mbak Paris. Mawar melulu bosan yeeeeee :p.

Mbak Paris ini asisten rumah tangga yang bekerja di rumah yang satu kompleks dengan saya. Di Jakarta, sekitar hampir 7 tahun silam, sebuah pergaulan baru mewarnai hari-hari saya … bergaul dengan embak-embak saban sore sembari nemenin anak main hihihihi. Embak-embak yang sehari-harinya dikenal sebagai asisten atau pembantu rumah tangga.

Pembantu Rumah Tangga

Ikut jongkok bareng-bareng mereka membahas mengapa si Gondrong kalau datang bawanya selalu tempe yang sudah tidak segar. Ikut berdiskusi besok enaknya masak apa biar majikan mereka dan anak-anak semua doyan biar enggak banyak-banyak masaknya. Karena kalau kebanyakan nanti kena marah juga hihihihi.

Eh, siapa si Gondrong? Gondrong ini nama tukang sayur langganan. Satu-satunya gerobak sayur yang boleh masuk ke kompleks kami :D.

Kompleks tinggal saya modelnya town house. Karena sempitnya lahan di tengah-tengah kota, banyak developer yang akhirnya membangun kompleks-kompleks mungil yang biasanya berisi maksimal 20 rumah lah ya. Tapi ada juga yang bisa sampai 30. Minimal bisa 2 rumah doang malah hehehe.

Pulang dari Teheran, saya memang sudah berhenti bekerja sejak setengah tahun sebelumnya. Tak tega meninggalkan anak, saya urungkan dulu niat melanjutkan sekolah ke tingkat S2. Toh dulu niat resign karena kepengin lebih dekat dengan si sulung yang memang aktifnya luar binasa banget deh dari kecil hahahaha. Saya hanya percaya kalau dia dihandle oleh tangan saya sendiri 😉 –> mamah-mamah posesif :p.

Anak baru satu. Suami pergi jauh merantau. Karena visa tak kunjung datang, terpaksa LDR-an hampir setahun.

Tiap sore, saya bawa si kecil (waktu itu anak baru satu) main-main di jalanan kompleks. Kompleks kecil ya jalanannya seadanya juga. Tapi cukup luas buat arena lari-larian kelompok balita dan abege di sana hihihi. Relatif aman juga lah.

Baru saya sadari, mamah-mamah tetangga jarnag ada yang beredar. Anak-anak ditemani oleh embak-nya masing-masing. Jujur, saya sih tidak pernah risih dengan mereka. Mereka yang menjaga jarak dengan saya karena tahu posisi saya sebagai “nyonya”.

Tapi saya pepetin aja terus hahahaha. Saya ajak mengobrol, saya becandai, saya ikut duduk sebelah mereka, walau awalnya mereka langsung bubar kalau saya datang. Idih, berasa gue nenek sihir! Huhuhu.

Saya tidak tahan tidak ada teman mengobrol. Sebanyak itu orang di jalanan kompleks sore-sore, pasti gatal kan pengin bergosip hahahaha.

Saya coba main-main dengan geng balita. Yaela, 5 menit udah bosan. Namanya balita, oper-operan bola aja bisa ngikik-ngikik bareng sampai sejam enggak bakal bisa berhenti. Akhirnya saya dekati satu-satu geng para embak. Dari situ baru mereka mulai “nyaman” dan mulailah saya “diterima” oleh mereka *tsaaaaah*.

Dengan bantuan embak saya juga, sih hihihi.

Pasti kalian mengira mereka suka curhat soal majikan. Tidak juga, lho. Kalau saya sendiri lebih suka bertanya hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Ratu kepo mulai beraksi hahhaha.

Pembantu rumah tangga
gambar : mariaelita.com

Ya pertanyaan ngalor ngidul standar khas orang ketimuran yang memang budaya “kepo”nya lebih kuat daripada orang bule ya hihihi, “Asalmu dari mana sih, Mbak? Sudah menikah? Punya pacar? Anak berapa? Umur berapa?” Kalau mereka sudah mulai nyaman, merembet ke pertanyaan lebih pribadi, “Ada suami? Suami di mana?”

Dari situ juga saya didapuk menjadi tukang benerin ponsel atau membantu download mp3 dan semacamnya hihihihi. Sambil saya utak utik ponselnya, mengalirlah banyak cerita dari mereka. Saya kagum sekali dengan cara mereka menertawakan hidup masing-masing, setengah cengengesan bercerita hal-hal yang menurut saya sedih huhuhu.

Saya kan cengeng ya, tapi saya tahan untuk tetap se-kasual mungkin misalnya saya mereka cerita, “Suamiku lari Bu sama janda. Eh, tabunganku dicuri. Jadi anakku berhenti sekolah. Kutitip di Bude. Aku yo cari kerja di Jakarta. Lumayan Bu, jadi bisa jajanin anak.”

“Sekolahnya?” Tanya saya.

“Belum cukup uangnya Bu. Biar ajalah. Lagian ada adeknya masih bayi. Susu mahal. Lumayan yang gede sudah bisa baca tulis. Nanti tunggu gedean dikit bisa jadi supir kargo. Bagus itu supir kargo. Gak sembarangan juga Bu orang bisa jadi supir.”

Hiks, jadi supir kargo :'(.

Si embak, janda 2 anak. Lain lagi cerita yang gadis.

“Sekolahnya jauh, Bu. Capek ah. Jadi ke sini aja cari duit. Mau beli henpon.”

Kata saya, “Idiiih, mending sekolah. Nanti sekolah tinggi lulus kerjanya bisa lebih bagus. Jangankan henpon Mbak, yang lain juga bisa beli.”

Matanya berbinar-binar, “Iya, betul Bu. Tetanggaku bisa jadi TKW ke Arab. Banyak itu duitnya. Betul itu.”

Hiks, sekolah tinggi untuk jadi TKW di luar negeri :'(.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ada lagi yang membanggakan anaknya yang sudah kelas 2 SMP. Karena katanya di keluarganya, yang lulus SD saja masih sedikit banget. Lulus SMP, siap-siap jadi buruh pabrik di kampung sebelah. Aish *hapusAirMata*.

Jelang ada cuti buat pulang, mereka ribut mau beli baju buat si kecil di kampung. “Kemarin katanya di Pasar Senggol ada celana tentara gitu. Mahal je. 20 rebu.”

Saya diaaaam saja mendengar mereka membahas harga-harga barang. Mereka itu, tidak ada keluhan tidak ada protes. Hanya sekadar berbagi dan saling memberi informasi beli bedak merek apa di mana yang harganya paling murah. Beli pulsa di warung anu yang suka dapat diskon. Majikannya kali yang sibuk teriak, “Harga-harga mencekik rakyat” sambil ngerumpi minum-minum kopi di kafe #eh :p.

Pernah di suatu pagi, saya kepoin si Gondrong, “Ndrong, siang amat ke sininya. Bangun pagi napa?”

Sambil masukin belanjaan saya dia nyengir, “Kan muter dulu Bu. Di sini memang jadwalnya ya jam segini.”

“Pagian dong makanya…” Saya tetap protes sambil memilih ikan di gerobak bagian belakang.

“Kan jam 5 juga sudah mulai muter Bu.”

“Ha? Jam 5?”

“Iya. Sebelumnya belanja dulu. Jam 1 sudah nungguin barang di pasar.”

“Jam 1? Tengah malam? Ngerinya. Gak takut lu Ndrong, malam-malam d pasar?”

Dia tergelak, “Pasar mah jam segitu justru rame Bu. Truk-truk ngumpulnya jam segitu. Bawa macam-macam.”

Ooo…I see. Berat juga ya jadi pedagang sayur keliling. Pantas si Gondrong kalau di sms-in sore-sore gak pernah reply. Sms minta dibawain bahan khusus yang dia jarang bawa sehari-hari hihihi. Memang gitu cara kami memesan daging sapi misalnya. Gondrong ogah membawa daging kalau tidak ada yang pesan. Soalnya modal gede kalau bersisa mau ditaruh di mana?

Tinggal sms, “Ndrong, daging buat dendeng satu kilo. Bilangin ke yang jual, potongin tipis-tipis.”

Gambar : pemudawirausaha.com
Gambar : pemudawirausaha.com

Para embak, si Gondrong, semua tinggal terpisah dari pasangan dan anak-anak mereka. Embak-embak ini … sama-sama perempuan seperti saya. Yang sudah berkeluarga, sama-sama jauh dari suami. Bedanya, ada yang janda ada yang suaminya juga bekerja di tempat lain. Ada yang juga berstatus Ibu.

Sementara waktu bekerja dulu, saban habis gajian, seringnya saya dan beberapa teman jalan-jalan ke toko baju lihat-lihat. Yang diobrolin tas yang bisa jadi harganya juta-juta. Lah di hadapan saya, para embak meributkan celana motif army yang harganya 20 ribu :'(. Mahal banget katanya.

Mereka juga jauh dari anak sendiri malah seharian mengurus anak orang lain. Saya sepanjang hari bisa dekat dengan anak.

Perspektif baru ya tentang kehidupan jauh dari pasangan :). Sedihnya kalau harus LDR. Tapi saya jauh lebih beruntung. LDR pun, tidak kesulitan soal uang. Ngambek dikit tinggal minta duit hahahaha :p. Tinggal pun di rumah sendiri. Bisa dibilang full fasilitas. Punya embak pula yang bantu-bantu. Padahal anak cuma satu *tutupMuka*.

Bosan di rumah sekali-sekali pengin keluar tapi malas nenteng bocah? Tinggal telepon Mama. Mama datang menemani anak saya di rumah. Saya keluar ke mal, janji makan siang dengan teman, kadang nonton di bioskop juga. Me time, me time … hihihihi.

Lah itu embak-embak, me time -nya kapan? Ada gitu duit khusus buat me time?

Berat rasanya melewatkan waktu saat jauh dari suami, tuh. Ada aja gitu masalah. Kesepian dan serba tidak pasti. Ceramahin suami melulu soal pentingnya tinggal bersama bla bla bla. Padahal waktu itu sikon memang sulit. Mau enggak mau harus LDR-an sementara. Sementara saja.

Nah coba si embak-embak tadi, entah harus sampai kapan membanting tulang dengan gaji pas-pasan hanya untuk masa depan selevel sopir kargo dan buruh pabrik untuk anak-anak mereka?

Kita ini memang narsis. Saat kondisi sulit, serasa dunia hanya berputar di sekitar kita saja hehehe. Oh, betapa beratnya hidupku. Oh, betapa malang nasibku. Oh dan oh dan oh lainnya. Saya mah sering bener begitu hahaha *ngumpet*.

Btw, I learned a lot from embak-embak tadi :).

Dengan ritme reguler sebagai ibu rumah tangga di rantau pasti tiap hari ya gitu-gitu aja. Bangun-masak-nyiapin anak-ngurusin anak-facebookan (hhahaha)-masak lagi-cuci piring-ngurusin laundry-beberes bla bla bla.

every mom image

Anytime I feel exhausted regarding this never-ending-daily-routines, I remembered them. Biasanya, jadi lebih enakan walau tetap betenya enggak sepenuhnya hilang hahahaha.

Exhaustion is temporary ;). Ada banyaaaaaaaaaaaaaaak hal lain yang bisa dirayakan and they are permanent ^_^.

Makin dibiasakan untuk tidak gampang fokus ke diri sendiri kalau lagi ribet :p. Sering kan kita begitu, kalau dirasa ada kesulitan, dunia serasa berhenti berputar and oh… I’m the most miserable person in this universe yadda, yadda, yadda …

Urusan dunia, usahakan terus lihat ke bawah.

“You must understand the whole of life, not just one little part of it. That is why you must read, that is why you must look at the skies, that is why you must sing, and dance, and write poems, and suffer, and understand, for all that is life.”-Jiddu Krishnamurti

Have a nice weekend <3.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com
Resep Ikan Pesmol Bumbu Kuning enak

Cara Membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuning

Cara Membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuning … salah satu favorit keluarga nih ;). Keluarga pencinta ikan hehe. Terutama emaknya, yang memang anak pantai abisssss ^_^.

Sejak tinggal di Jeddah sudah lebih dari sekali nyobain resep ini. Memang kemirinya memberi sumbangsih rasa yang edan lah :p. Nah, sempat kemarin saya kehabisan kemiri dan tetap nekat membuat ikan Pesmol. Hadeeeeh, rasanya jadi beda banget :(. Ibaratnya film, kemiri dalam resep ini adalah pemeran utama hehehe.

Mumpung suami baru balik dari Jakarta dan membawa lumayan banyak kemiri langsung kepikiran si Ikan Pesmol Bumbu Kuning lagi. Di sini belum tahu beli kemiri itu di mana :(. Jadi kemarin sudah wanti-wanti minta dibawain kemiri banyak-banyak. Tapi yaaaa, dasar laki. Cuma dibawain 2 bungkus, euy huhuhu. Padahal lumayan banyak resep nih yang kudu berkemiri ria.

Ikan Pesmol bumbu kuning
Bumbu ulek buat si Ikan Pesmol Bumbu Kuning

Untuk resep-resep dengan bahan ikan, saya selalu menggunakan ikan fillet. Adanya yang model gitu di sini. Eh, yang utuh juga ada, deng. Biasanya dalam kondisi segar. Enggak kuat sama harganya boooo hahahaha :p. Jadilah pakai ikan fillet, itu pun kondisi beku. Syukuri apa yang ada yaaaaaaa *pukPukDiriSendiri*.

Kemarin pas buka kulkas stok yang ada … Ikan Hammour. Saya  kurang tahu ini kalau di Indonesia si Hammour ini dikenal dengan nama apaan. Yang jelas konon Hammour ini hampir selevel Salmon. Bener gak ya? Agak ragu. Soalnya, si Hammour harganya jauh lebih murah, makanya sering juga beli ini hihihi *ngikikNgirit*. Lebih enak itu sebenarnya Ikan Cod. Ya random saja belinya. Pokoknya kalau bukan Ikan Cod, ya Ikan Hammour atau Ikan Basa yang lebih murah lagi hahahaha.

Kalau pakai fillet, jadinya agak hancur ya. Walau motongnya sudah gede-gede, saat diaduk, jadi terpotong-potong juga :(. Terlalu heboh kali ngaduknya hihihi :p.

Btw, tempat contekan buat cara membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuning ini dari masterchef paling senior Mbak Herti, Herti Kitchen. Blognya Mbak Herti ini sudah lama banget lho. Tahun 2006 boooo :D. Mungkin seangkatan dengan Mbak Astri Nugraha. Resep-resep Mbak Herti disimpan dalam bentuk foto-foto.  Sila diintip langsung ke sana. Resep-resepnya mantap, Euy. Yang amatiran kayak saya aja kalau nyontek ke sana alhamdulillah jarang gagal ;).

Untuk cara membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuningnya, resep asli dari Mbak Herti sila intip di sini ;).

(Baca Juga : Resep Ayam Bakar Padang)

Saya hanya pakai setengah resep karena ikannya enggak  banyak :D. Saya juga menggunakan cabe merah besar instead of cabe rawit kecil-kecil. Biar enggak pedas-pedas amat. Karena ada anak yang enggak tahan makan pedas, cabenya tidak saya potong tapi dimasak utuh. Yang doyan pedas, nanti tinggal pecahin sendiri di piring masing-masing.

Cara Membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuning

Bahan :

  1. Ikan fillet kira-kira 300 gr
  2. 1 buah wortel, potong-potong seukuran korek api
  3. 1 buah timun ukuran sedang, potong panjang-panjang
  4. 3 buah cabe merah besar
  5. 3 lembar daun jeruk
  6. 1 lembar daun salam
  7. 1 buah serai, memarkan
  8. Lengkuas bubuk, kira-kira setengah sendok teh
  9. Sepertiga bawang merah besar (seukuran satu kepalan balita)
  10. 3 siung bawang putih
  11. 5 butir kemiri, sangrai terlebih dahulu
  12. Kunyit bubuk, 1 sendok teh
  13. 2 cm jahe
  14. Garam gula secukupnya
  15. Cuka kira-kira satu sendok teh (atau secukupnya yang diinginkan)
  16. 250 ml air

 

Cara Membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuning
Ikan Pesmol – nya kondisi setengah matang 😀

Cara Membuat :

  1. Rendam ikan dalam air garam + perasan jeruk nipis. Minimal setengah jam. Lalu panggang di teflon pakai minyak sedikit. Bisa digoreng kalau mau. Saya mengurangi penggunaan minyak, nih, jadi dipanggang aja :D. Sisihkan.
  2. Haluskan bawang merah +  bawang putih + kemiri + jahe. Setelah halus campurkan kunyit bubuk dan lengkuas bubuk. Aduk biar rata.
  3. Tumis bumbu halus + daun jeruk + daun salam + sereh sampai harum.
  4. Tambahkan air. Tunggu sampai mendidih.
  5. Masukkan garam + gula + cuka. Aduk sebentar sampai tercampur.
  6. Masukkan ikan. Tunggu sampai bumbu meresap dan air berkurang.
  7. Sebelum benar-benar matang, masukkan wortel dan timun. Saya memang sukanya wortel dan timunnya belakangan biar enggak terlalu lembek ;). Bisa juga dimasukkan sebelumnya ya kalau ingin sayurannya lebih matang.
  8. Koreksi rasa. Kalau sudah oke, siap disantap ^_^

Bikinnya sih relatif mudah. Hasilnya maknyuuuuus ;). Tidak perlu penambahan kaldu atau penyedap rasa apa pun. Rasanya pasti endeuuus :D.

Cara Membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuning enak
Ikan Pesmol Bumbu Kuning

 

Lumayan kan buat nambah-nambah variasi masakan per-ikan-an :D. Terutama yang memang tergila-gila dengan  ikan kayak saya hehehe.

Baca juga : Resep Daging Empal

Yuk yaaaa, di-praktik-in cara membuat Ikan Pesmol Bumbu Kuning -nya <3.

Perempuan Indonesia di Arab Saudi … Jangan Sensi! ;)

Kisah tentang perempuan Indonesia di Arab Saudi ini berdasarkan pengalaman pribadi tentu saja 😉. Macam kisah antara Arab Indonesia :D.

Indonesia di mata Saudi (mungkin juga di kebanyakan negara Timur Tengah yang membuka pintu gerbangnya buat TKI informal) = negara pembantu! Hehehe. Suka enggak suka ya kenyataannya begitu terus gimana dong? ;).

 

Sebenarnya sektor informal yang tersedia di Arab Saudi bukan cuma ranah domestik rumah tangga seperti pembantu rumah tangga dan supir pribadi (yang sedihnya memang didominasi oleh bangsa kita 🙁 huhu). Tapi ada juga penjaga/pelayan toko, pelayan restoran cepat saji, cleaning service di perkantoran, cleaning service di rumah sakit, supir ambulans, supir buat delivery services… hmm, apalagi ya? Pokonya banyak lah.

Gambar : berita.plasa.msn.com
Gambar : berita.plasa.msn.com

Tapi kenapa cuma PRT dan supir pribadi yang banyak menyedot TKI informal asal Indonesia?

Alasan utama mungkin … kendala bahasa. Biarpun termasuk sektor informal, pekerjaan lain yang saya sebutkan belakangan rata-rata butuh kemampuan berbahasa Inggris, bukan cuma bahasa Arab. Apalagi di Jeddah yang rasa-rasanya memang lebih banyak warga pendatang dibanding penduduk asli Saudi.

Dalam hal berbahasa ini, TKI informal asal Filipina, India, Pakistan (=FIP) memang beberapa tingkat di atas kita. TKI informal asal Indonesia kebanyakan memang oke dalam hal berbahasa arab, tapi bahasa inggris? :(.

Alasan kedua (yang mungkin merupakan imbas dari alasan pertama tadi) adalah kemampuan berkomunikasi dengan sekitar yang berpengaruh pada networking juga, lho. Kelihatan bener deh pedenya orang-orang FIP jauuuuuh d iatas TKI kita. Ini masalah mental atau apa ya? Atau mungkin juga mereka memang ‘persiapan’ nya lebih matang. Konon, PJTKI (Indonesia) suka ‘main belakang’ dan kurang disiplin dalam pembinaan bagi para calon TKI yang dikirim? Enggak terlalu berani banyak omong, enggak punya bukti  langsung soalnya 😀.

Dari tadi kok Malaysia enggak disebut? Ho ho ho, jangan salah! Warga Malaysia itu lebih disegani di Saudi. AFAIK, bukan cuma di Saudi sih, secara umum di Timur Tengah, orang Malaysia termasuk figur “Asia” yang disegani.

Iyalah, di Saudi, Malaysia tidak mengirimkan tenaga kerja sektor informal. Minimal level teknisi, dan tidak ada sama sekali TKW asal Malaysia di sini! Begitulah faktanya, memang pamor orang Malaysia secara internasional lebih oke ;).

Ada enggak sih TKI kita yang bekerja di sektor formal?

Ya ada dong aaaah :D. Ini contohnya suami tercinta si penulis postingan ini hehehe. Suami saya adalah seorang telco engineer semasa di Jeddah. Tapi dibandingkan dengan jumlah TKI informal ya jauh perbandingannya. Persentase pekerja formal asal Indonesia sangat kecil dan kurang ‘kedengeran’.

Jadi, ‘jangan sensi’ ini  juga berlaku untuk anda kaum pria kalau tahu-tahu ada yang ngomong, “Wah, baru tahu saya kalau orang Indonesia juga ada yang jadi engineer di sini” :D. Atau ujug-ujug ditanyain, “Kamu supir di mana?” *ngakakGulingGuling*.

Dengan melihat kenyataan-kenyataan di atas, jangan heran kalau anda adalah seorang wanita Indonesia yang tinggal di Jeddah akan sering mendapat perlakuan yang ‘istimewa’ yaitu … dianggap pembantu! Hahaha *ngakakStres*.

Buku saya tentang Kota Jeddah, "Memoar of Jeddah"
Buku saya tentang Kota Jeddah, “Memoar of Jeddah”

 

Bukan itu saja ‘cobaan’ yang harus dihadapi :p, kalau anda seorang wanita Indonesia dan kebetulan bisa berbahasa Inggris, itu juga bukan hal biasa di Arab Saudi. Atau jika berpenampilan rapi dikit disangkain orang Filipina atau Malaysia. Jangan lupa, secara fisik, Filipina itu memang mirip banget dengan orang Indonesia, apalagi Malaysia 😉.

Waktu awal-awal saya pernah bilang ke suami, “Kampungan banget sih orang-orang sini, banyak kaleeee cewek Indonesia yang bisa ngomong Inggris. Norak!norak!norak!” Hahaha.

Waktu melahirkan di Jeddah tempo hari sampai bete saya menerangkan ke orang-orang di rumah sakit kalau saya asli Indonesia. Jadi bukan karena kulit gw yang kuning langsat makanya saya disangka orang Filipina, tapi karena saya selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Abis mau ngomong pakai bahasa apa dong? Bahasa Arab saya kan pas-pasan dan so pasti mereka enggak bisa bahasa indonesia kan? 😉.

 

Pepatah “don’t judge a book by its cover” juga enggak terpakai sama sekali. Indeed, perlakuan sehari-hari yang kita terima tentu saja berbanding lurus dengan apa yang menempel di badan kita 😉. Untung saja dengan tampang saya yang by default sudah jutek dari sananya dan suara yang bariton nan terkesan galak, suster-suster Filipina di rumah sakit enggak berani macam-macam biarpun kemana-mana saya selalu bermodalkan abaya ‘biasa-biasa saja’.

Tinggal di Jeddah Arab Saudi
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

 

Memang, banyak pula ibu-ibu Indonesia yang kebetulan suaminya pekerja formal memilih untuk meng’upgrade’ penampilan 😉. Pake tas-tas mahal, pake abaya keren-keren (ada yang abayanya rata-rata berharga 500 sr ke atas, ihiiiiyyy…pinjem dooong hahaha). Pakai jilbab pun yang sebisa mungkin ‘beda kelas’ dengan jilbab yang dikenakan para ‘bibik/embak’ di Saudi.

Aduh, kalo saya sih, mungkin karena pada dasarnya pelit dan keras kepala rendah hati dan tidak sombong, memilih cara yang lebih murah rajin latihan TOEFL biar grammar makin oke dan melatih aksen bahasa Inggris biar tambah keren hahaha.

Sok intelek banget sih loooooo. Emang intelek boooo :p. Karena yesss, biarpun pembagian kasta berdasarkan penampilan merajalela di Arab Saudi, once they knew you can speak english, they would instantly respect you more ;). Norak, ya? Hahahaha :p.

Kesimpulannya, ya balik lagi, kalau kebetulan berstatus ‘perempuan asal Indonesia’ dan tinggal di Arab Saudi, sesuai judul : Jangan Sensi! ^_^

Santai sajaaa ;). Tanggapi semuanya baik-baik, ingat bangsa kita juga terkenal karena keramahan dan senyum manis nya looohhh *nyengirManis*. Biarpun awalnya pasti bete berat yah, dulu di Indonesia rasanya kece-kece saja masa di sini disangkain pembantu hahaha.

Kalau mereka bilang : “Malaysia? Filipina?” Enggak usah emosi. Kan tinggal dijawab saja : “Oh bukan, saya Indonesia.”

Terus kalau dilanjut lagi, “Loh kok bisa bahasa Inggris?” Respons saja, â€œYa bisa dong, enggak salah kan?” Biasanya bakal diterusin dengan, â€œWah saya baru tahu ada perempuan Indonesia yang bisa bahasa Inggris, jarang-jarang tuh.” Jawab lagi, â€œOo, banyaaak. Mungkin belum pernah ketemu saja” Dan seterusnya…dan seterusnya… :D.

Kesannya horor amat yaaa, ribet amat?

Jangan sensi dong saudari-saudari sebangsa dan setanah air ;).

Perempuan Indonesia di Arab Saudi arab indonesia
Berakhir pekan di Corniche Road, Jeddah ^_^

 

Sesungguhnya ada buanyaaaak hal positif di Saudi yang lebih menyenangkan. Anggap saja buat melatih mental, dan biar mereka jadi tahu bahwa perempuan indonesia juga keren-keren. Bukan cuma pekerja domestik rumah tangga saja yang lahir di sana *kedip2SokManis*.

 

Di Saudi mungkin sering di’remeh’in tapi jangan lupa, di sini harga-harga makanan sangat bersahabat, cari asisten rumah tangga gampang tidak seperti umumnya di luar negeri yang lain, makanan indonesia merajalela (dari yang kelas warteg  hingga yang kelas hotel), katering-katering bergelimpangan dengan harga oke, manalagi mal-mal besar buat cuci mata hihi, harga bensin mureeee *tepukTangan*. Harga mobil juga murah.

Bisa piknik setiap weekend ke luar kota, lihat pemandangan padang pasir yang eksotis ^_^. Pokoknya kenikmatannya jauh lebih menonjol lah timbang terus-terusan makan hati karena disangkain pembantu! Hahaha.

Oiya, ini lho role model mamak-mamak Indonesia yang “tabah” menghadapi “sengit”nya kehidupan ala perempuan Indonesia di Arab Saudi #eaaaaaaa hahaha :p.

Kehidupan perempuan Indonesia di Arab Saudi
Anak baru satu, yang nomor 2 dalam perut ;).
Resep Ayam Suwir Bumbu Bali

Bumbu Ayam Suwir (Pakai Bumbu Bali)

Again … Bumbu Ayam Suwir khas Bumbu Bali -nya nyontek dari Mbak Endang ^_^. Sebenarnya sudah pernah bikin dulu. Cuma kan, euforia motret-motretnya baru sekarang. Sekarang, habis masak, ribet sendiri mainin ponsel buat potrat potret hahaha.

 

Pas bikin yang dulu, semua bahan saya gunakan. Tapi kali ini, santannya saya skip. Sebelum memasukkan santan, saya cobain kok ya sudah sedap ya. Enggak jadi saya tambahin santan. Jadinya memang lebih kering, sih. Tapi rasanya itu lho, tetap Indonesia bangeeet ^_^. Bumbu-bumbunya standar ala Bumbu Bali, tanpa kemiri tapinya.

Enaknya lagi, suwirannya enggak perlu digoreng dulu. Lebih ringkas. Cukup direbus saja. Lebih sehat dan pastinya …  hemat minyak goreng juga kaaaaaan *teuteuuup*. Edisi kali ini, plus hemat santan hahahaha :p.

Terus, pas ngulek saya masukin jahe, pas lihat lagi di resep aslinya Mbak Endang kok enggak ada jahenya ya hihihi. Ya enggak apa deh, sudah terlanjur. Tetap enak koooook ^_^. Oiya, saya juga skip kencurnya, deng. Entah ya, kurang suka sama bau kencur.

Kesalahan teknis standar ala tukang masak gadungan -_-.

Bumbu ayam suwir bumbu bali

Bagi yang Food Combining, bumbu ayam suwir ini mantap juga lho dimakan pakai lalap-lalapan tanpa nasi. Sama saya tetap ditambahin sambel sih. Resep asli dari Mbak Endang kan namanya Ayam Suwir Pedas ala Bali. Nah, anak nomor 2 itu kalau makan yang pedas-pedas berasa nonton film horor gitu hahahaha :p. Jadilah cabenya saya kurangin banget.

Selain ayam, tahu juga enak dibumbu Bali lho ;).

Baca : Resep Tahu Bumbu Bali

Resep asli Ayam Suwir dari Mbak Endang bisa dilihat di laman ini ya, di situs beliau yang tersohor itu, Just Try and Taste ;).

Kalau yang saya share ini, modifikasi ala saya-nya hihihi :p.

Bumbu Ayam Suwir (Pakai Bumbu Bali)

Bahan :

  1. 300 gr daging ayam fillet. Rebus sampai matang pakai garam dikit.
  2. Sepertiga bawang merah besar (di sini enggak ada bawang merah mungil-mungil  itu :p)
  3. 3 siung bawang putih
  4. 2 cabe merah besar, enggak pakai rawit huhuhu 🙁
  5. Terasi sekepenginnya. Saya rada hemat nih makainya, soalnya di sini entah di mana beli terasi.
  6. 1 sendok teh  merica bubuk
  7. 1 sendok teh kunyit bubuk
  8. 1 sendok makan gula merah
  9. Garam secukupnya
  10. Kaldu ayam blok secukupnya (kalau mau)
  11. Asam jawa 1 sendok makan, lumatkan dalam air secukupnya.
  12. 2 batang serai, geprek.
  13. Lengkuas kira-kira 3 cm, geprek.
  14. 3 lembar daun salam
  15. 3 lembar daun jeruk
  16. Minyak secukupnya untuk menumis

Cara Membuat : 

  1. Haluskan semua bumbu kecuali (lengkuas, daun jeruk, daun salam, serai).
  2. Tumis bumbu yang dihaluskan tadi bersama sisa bahan lainnya (kecuali daging ayamnya, ya).
  3. Kalau sudah harum dan warnanya sudah rada matang, masukkan air sedikit. Kalau kata Mbak Endang kan 50 ml. Saya pakai sekitar seperempat gelas belimbing.
  4. Aduk lagi sebentar lalu masukkan ayam suwirnya.
  5. Aduk sampai tercampur rata dan airnya habis.
  6. Koreksi rasa, jika sudah cucok berarti beres sudah ^_^

 

Resep Ayam Suwir Bumbu Bali
Tanpa santan jadi lebih kering

 

Kalau di resep asli, setelah memasukkan ayam dan diaduk barulah ditambahkan santan. Lalu dimasak terus hingga santan matang dan airnya  habis. Tapi lihat kan, tanpa santan pun, warnanya sudah sedap begitu ;).

Updated : buat yang ingin melihat proses pembuatannya secara live, saya sudah bikin vlog resep Bumbu Ayam Suwir ini lho :D.  Ini videonya …

Menggoda banget ya untuk disantap dengan nasi hangat-hangat hehehe. Ya enggak apa-apa kalau tetap makan pakai nasi, yang penting gempur dengan sayuran segar yang banyaaaaaaaak ^_^. Kalau bisa sayurannya tanpa diolah sama sekali ya. Sayuran segar tanpa proses pematangan sama sekali konon masih menyimpan enzim yang banyak yang dibutuhkan oleh tubuh kita sebagai penyeimbang dalam sistem pencernaan. Boleh percaya boleh enggak :D.

Gimana, gimana, bumbu ayam suwir edisi bumbu Bali nya? Sungkem dulu sama Mbak Endang, salah satu tempat nyontek andalan hihihi. Cobain ya di rumah, lumayan buat variasi daripada goreng-goreng dan soto-sotoan dan semacamnya ;).

Selamat makaaaaaaan <

Bumbu Ayam Suwir pakai Bumbu Bali
Bumbu Ayam Suwir (khas Bumbu Bali)
Naik kereta cepat di Cina aman

Pengalaman Naik Kereta Cepat di Cina

Sedang ramai membahas High Speed Train yang telah dimulai pelaksanaannya untuk rute Jakarta-Bandung. Selama berada di Kota Wuxi, Cina, selama 6 minggu, suami saya beberapa kali mencoba fasilitas transportasi kereta cepat ini. Di Cina sendiri, penerapan jalur kereta cepat cukup marak di beberapa kota besar dan kota menengah.

Wuxi adalah kota pertama yang dikunjungi di Cina.

Pengalaman naik kereta cepat di China
Kereta cepat di China (foto : Dani Rosyadi)

Pengalaman pertaman, mencoba menggunakan jalur Shanghai – Wuxi. Wuxi berjarak sekitar 140 km dari kota terbesar di Cina, Shanghai. Pendaratan pertama kali melalui  bandara internasional Pudong di Shanghai.

Berdasarkan informasi dari pihak bandara, cara yang membutukan waktu paling sedikit mencapai Wuxi adalah via perjalanan dengan kereta cepat tadi. Kemudian, suami saya bergegas menuju Shanghai Railway Station. Di tiket sudah tertera, kereta tercepat berlabel G-Train. Benar-benar luar biasa … waktu yang dibutuhkan untuk jalur Shanghai – Wuxi hanya 50 menit.

Selain tipe G-Train, ada juga kode D-Train dan Z-train untuk kereta dengan kecepatan menengah. Harganya dipatok lebih murah untuk waktu tempuh yang lebih lama. Masih ada yang lebih murah, kodenya K-Train. Kecepatan K-Train kira-kira sama dengan kereta biasa di tanah air.

Tiket kereta sekaligus digunakan untuk membuka autogate menuju platform kereta. Semua fasilitas di stasiun kereta sudah serba otomatis. Ada yang sedikit merepotkan. Saat akan  memasuki ruang tunggu stasiun ada pengecekan X-Ray seperti di bandara. Prosesnya memakan waktu. Untungnya orang-orang China bisa mengantri dengan tertib. Sempat terpikir akan kacau dan rusuh karena banyaknya orang yang hendak masuk.

Naik kereta cepat di Cina
Mengantri di ruang tunggu (foto : Dani Rosyadi)

Stasiun kereta pada umumnya sudah terintegrasi dengan moda transportasi jenis lain. Misalnya : metro (LRT), bus, taxi, dll. Stasiunnya bersih dan rapi. Mungkin, stasiun kereta di Shanghai ini adalah yang terbesar di China sejauh ini.

Rute Shanghai-Wuxi menggunakan tiket seharga (kurang lebih) 60 yuan.

Sebelum berangkat ke Wuxi, sempat bertanya-tanya seperti apa, sih, kota Wuxi ini? Kami membayangkannya sebagai kota kecil dengan fasilitas pas-pasan karena belum pernah mendengar nama kota ini sama sekali. Ternyata, Wuxi termasuk kota lapis kedua di negara besar ini. Jumlah penduduknya kira-kira 6 juta jiwa.

Tidaklah heran jika fasilitas stasiun kereta dan layanan publik lainnya di Wuxi termasuk lengkap dan andal.

Pengalaman kedua dengan High Speed Train ini, mencoba G-Train untuk jalur Wuxi-Nanjing. Harga tiketnya sekitar 80 an yuan.

Stasiun kereta di Wuxi lebih kecil daripada stasiun di Shanghai. Namun tetap terintegrasi dengan fasilitas transportasi lainnya, seperti yang berlaku di Shanghai Railway Station. Pengguna stasiun di Wuxi juga relatif lebih sedikit daripada yang di Shanghai. Tapi proses mengantrinya juga lumayan lama. Ya itu tadi, sebelum masuk ruang tunggu, ada pemeriksaan segala macam seperti masuk bandara.

Jarak Wuxi-Nanjing lebih jauh. Sekitar 175 km dan bisa ditempuh selama 1 jam 8 menit. Hemat waktu banget, kan? ;).

Fasilitas dalam kereta juga terbilang bagus. Dilengkapi dengan kamar kecil (toilet). Kondisinya cukup bersih, agak beda dengan kekhawatiran bahwa umumnya toilet di China kurang terawat. Di beberapa kota di China, kebersihan sudah cukup terjaga. Apalagi di belahan Timur yang kota-kotanya termasuk maju seperti Shanghai-Wuxi-Nanjing ini. Tergantung wilayah.

Naik kereta cepat di Cina aman
Foto : Dani Rosyadi

Selama dalam perjalanan, ada petugas yang wara wiri di sepanjang koridor kereta menjajakan makanan dan minuman.

Pengguna kereta bisa memilih kelas 1 atau kelas 2. Kelas 2 membayar 80 yuan. Sementara Kelas 1 dibandrol sekitar 140 an yuan. Foto-foto yang diambil suami saya hanya di kelas 2 saja. Di kelas 1, ukuran kursinya lebih besar dan pembungkusnya terbuat dari  kulit.

Ruangan dalam kereta cepat di cina
Foto : Dani Rosyadi

Pengalaman terakhir adalah  perjalanan dengan rute Wuxi-Suzhou. Jarak tempuh sekitar 42 km. Singkat sekali perjalanannya yang hanya butuh 11 menit saja. Harga tiket lebih murah, sekitar 20-30 yuan.

Kabar terbaru di tanah air, Jakarta-Bandung sudah diresmikan pembangunan  jalur high speed train yang dimenangkan oleh perusahaan asal Tiongkok. Kita sambut berita ini dengan semangat pembaruan dan harapan bersama. Sebagai pertanda dimulai babak baru dalam era transportasi di tanah air.

Dengan jarak Jakarta-Bandung sekitar 150 km, mudah-mudahan tidak berlebihan jika fasilitas high speed train diterapkan pada jalur ini. Kita doakan semoga proses lancar dan hasilnya bisa dinikmati bersama secara positif.