[Cerbung] Temanku Cina (Tamat)

Bagian sebelumnya dibaca juga, ya, buat yang belum hehehe. Yaiyalah, namanya juga cerbung :P.

Tentang Dia (Bagian 5 – Tamat)

Oleh : Jihan Davincka

***

Gambar : oldeglory.co.uk
Gambar : oldeglory.co.uk

Seminggu ini, aku tidak boleh berkeliaran di luar rumah kecuali saat sekolah. Bapak yang mengantarku. Setengah jam sebelum lonceng berbunyi, Bapak sudah menanti di pintu gerbang.

Bapak sengaja berputar melewati jalan lain agar kami tak melewati rumah di ujung jalan itu. Aku tak berani meminta. Biarkan saja. Aku akan kesana malam-malam.

Setelah dua minggu berlaku, barulah aku berani keluar rumah. Tapi malam-malam. Biarpun takut setengah mati, mulutku tak berhenti komat-kamit baca doa dan berjalan ke ujung jalan. Aku kaget kayu ukiran di atas terasnya sudah roboh. Tak ada cahaya lampu. Aku jadi gelisah.

Aku sering membayangkan jangan-jangan dia sebenarnya ada di rumah. Tapi kalau dia di rumah dan melihatku, dia pasti sudah berlari keluar. Aku masih ada utang padanya.

Setelah tiga minggu, aku berani sepulang sekolah melewati ujung jalan itu. Melambatkan langkahku sambil melirik takut-takut. Kaca-kaca jendelanya tidak ada semua. Pintu rumahnya bahkan terbuka. Tapi semua orang pasti tahu, tak ada orang di dalam sana.

Aku pernah sangat marah dan mengajak Bapak mencari Bik Yunah. Setelah kejadian itu entah ke mana Bik Yunah. Menghilang begitu saja. Kabar Bang Roma pun makin simpang siur.

Dari Nisa, aku tahu kalau bapaknya Nisa, Pak Haji, sebenarnya sedang ada niat membuat toko kelontong baru di kampung kami. Hendak bekerja sama dengan Papinya Misye.

Selain Pak Haji, bapaknya Nisa, ada satu Pak Haji lagi yang juga memiliki usaha toko kelontong. Pak Haji Yusuf namanya. Bapak sering bercerita jika persaingan antara Pak Haji Yusuf dan Pak Haji bapaknya Nisa memang berlangsung diam-diam. Walau mereka tak pernah beradu mulut secara langsung.

Konon, Pak Haji Yusuf sering meminta beberapa pegawainya berpura-pura berbelanja ke toko bapaknya Nisa. Tujuannya untuk mematai-matai toko saingannya.

Posisi Pak Haji Yusuf memang berbeda. Kalau Nisa dan saudara-saudaranya beserta ibunya aktif membantu bapak mereka mengurus toko, Pak Haji Yusuf tidak punya tangan kedua selain karyawan-karyawannya yang sering sekali berganti-ganti. Istri Pak Haji Yusuf tak suka ikut berjaga di toko. Anak-anaknya pun memilih bersekolah ke luar kampung semua.

Dulu, aku pernah kenal dengan Bang Tariq. Dia pernah bekerja jadi kasir di toko Pak Haji Yusuf. Tapi cuma bertahan sekitar tiga bulan saja. Saat menganggur, Bang Tariq suka datang ke rumah, sesekali membantu ibu mengedarkan kue-kue dagangan ibu.

Bapak pernah bertanya, ”Sudah enak-enak kerja di toko, kok, malah berhenti?”

Dijawab oleh Bang Tariq, ”Wah, tidak tahan, Pak. Dicurigai terus. Saya sakit hati kalau ada kekurangan kas atau ada ketidakcocokan dengan catatan, saya dicecar terus.”

Bapak menasihati, ”Ya,  namanya kerja. Jadi pengelola uang memang harus punya tanggung jawab.”

”Demi Allah, Pak. Saya tidak pernah mencuri. Saya sudah berusaha mencatat sebaik mungkin. Sementara uangnya selalu diserahkan kepada Pak Haji langsung. Kalau ada perbedaan, saya harus bagaimana?”

”Ah, masa sampai sebegitunya?”

Bang Tariq menambahkan, ”Saya tidak bohong, Pak. Lagian, kasihan ibu saya. Pernah sekali ikut kena makian Pak Haji. Saya malu, Pak. Berhenti sajalah daripada terus-terusan menanggung sakit hati.”

Entahlah, aku tak pernah tahu hubungan semua kejadian itu. Orang-orang juga tak peduli untuk mencari tahu.

***

Sebulan, dua bulan, bahkan enam bulan kemudian, tak pernah ada cahaya lampu kalau aku lewat sana malam-malam. Tidak tiap hari aku ke sana. Rasanya aku sudah putus asa.

“Siapa nama lengkapnya. Di mana sekolahnya?” Tanya Bapak. Dia mungkin kasihan melihatku memasang wajah sedih hampir sepanjang hari.

Barulah aku tersadar. Sepuluh tahun mengenalnya, aku bahkan tak pernah tahu nama lengkapnya. Dimana sekolahnya. Dia cuma pernah bilang, di sekolahnya, perempuan tidak perlu memakai kerudung.

Terselip sedikit penyesalan. Selama ini aku yang terlalu banyak bicara. Dia memang banyak bertanya. Bahkan asal usul namaku saja dia tahu.

”Siapa nama lengkapmu, Nir?”

”Nisrina Hidayati. Nisrina itu mawar putih. Bahasa Arab. Hidayati itu hidayah, artinya anugerah.”

”Wah, namamu bagus sekali.”

Saat itu aku hanya tersipu-sipu. Bisa-bisanya aku tidak pernah bertanya siapa nama aslinya.

Lama-lama Ibu gerah melihatku yang seperti orang merana terus-terusan, ”Ini pasti karena kau kurang mengaji. Jadi, pikiranmu dikuasai tentang anak cina itu terus. Bergaullah kembali dengan teman-temanmu yang lain.”

Kurasa saran ibu tidak salah. Daripada kuhabiskan waktu meratapi anak cina itu, kuputuskan untuk sering-sering ke rumah Nora. Kalau ke sana, biasanya selalu ada Kiki juga. Bapak juga setuju, ”Pergilah ke rumah teman-temanmu yang lain. Suasana ramai akan membuat hatimu lebih tenang.”

***

Dan kini, dua belas tahun sudah lewat. Setamat SMA, aku ke kota. Tinggal di kamar kos, sekolah untuk jadi perawat. Setelah resmi menggenggam ijazah, Bapak bilang aku boleh kerja di kota.

Anak cina itu gemar betul mengolok-olok aku dulu, ”Astaga, anak cengeng sepertimu, apa sanggup hidup jauh dari orang tua?”

Dia bilang begitu gara-gara aku bertanya padanya, ”Kau sering sekali ke kota. Ajaklah aku. Tapi kita pergi berdua. Malu aku jika papi mamimu ada.”

Hidupku terus berjalan. Sudah sering sebenarnya aku tidak mengingat-ingat dia lagi. Tapi tiap tahun aku pulang. Kampungku tidak terlalu jauh. Tak pernah lupa aku melewati ujung jalan itu. Walau sudah lama aku berhenti berharap.

Dulu, hanya rumah ujung itu yang dihuni oleh orang cina sepertinya. Sekarang, anak-anak kecil bermata sipit terlihat berlarian dengan anak-anak kampung. Ikut menjilati es krim warna warni yang dibeli di warung. Jumlahnya memang belum banyak.

Di sepanjang jalan rumahku, mungkin ada dua atau tiga rumah milik mereka. Tapi, warga sudah tidak peduli. Orang-orang cina membuka toko-toko besar di kampung kami. Tak ada yang resah. Lupa mereka, dulu mereka takut sekali diberi makan babi.

Waktu bekerja, aku mulai kenal komputer. Sedikit-sedikit aku tahu kalau ada yang namanya internet. Kalau kita bisa mengetikkan nama seseorang di sana dan layarnya akan memberitahu dimana dia berada. Sering aku mencoba mengetikkan namanya di sana. Tapi sia-sia. Tak satu pun huruf-huruf yang tertera di sana yang bisa menunjukkanku dimana dia berada sekarang.

Dulu-dulu aku suka mengusap-usap mataku saat melewati puing-puing rumahnya. Sekarang, tidak lagi. Bukan karena aku sudah tidak pernah menangis lagi. Tapi karena aku tidak takut lagi pada orang-orang. Dan aku meyakini, dulu pun aku harusnya tidak usah takut pada orang-orang. Dia temanku. Dia cina. Memangnya kenapa?

Kali ini kepulanganku untuk acara lamaran pernikahanku. Acaranya masih seminggu lagi. Tapi Ibu sudah ribut menyuruhku pulang. Ibu memang sudah mendesakku terus-terusan untuk menikah. Usiaku sudah beranjak 30 tahun.

Sekarang, aku berdiri di depan tanah kosong dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan rumahnya yang baunya minta ampun sekarang. Tapi, aku tidak menutup hidungku. Padahal timbunan sampah dimana-mana.

Entah kenapa, meski sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan airmataku meleleh, tapi kali ini mataku basah. Aku mau pulang saja, berwudhu, pakai mukena, dan mengangkat tanganku tinggi-tinggi berdoa untuknya.

Dia salah satu sahabat terbaik yang pernah lama menemaniku. Biarpun dia sering protes tentang banyak hal tentangku tapi dialah pendengar setiaku. Banyak sahabat yang datang setelahnya, tapi namanya tak pernah benar-benar tergeser.

Aku beranjak pergi. Tapi mataku tetap terpaku ke sana. Langkahku mendadak terhenti. Mengapa mataku terasa berkunang-kunang.

Tak berapa lama, entah bagaimana, tiba-tiba puing-puing itu terangkai lagi satu persatu menjadi satu bangunan utuh. Catnya baru semua. Pintunya terpasang dengan sempurna. Ukiran kayu yang tadinya roboh terpasang kembali di atas teras rumah besar itu. Seperti sihir.

Tak sadar mulutku menganga lebar. Model rumahnya persis seperti dulu. Masih ada jendela besar di salah satu sudut rumah, tempat pertama dia muncul di hadapanku pertama kali. Aku sudah ingin berlari.

Lalu, kuurungkan niat begitu pintunya bergerak. Aku tak percaya, aku melihatnya keluar dari pintu. Rambutnya pendek dan dia membawa sehelai kain panjang di tangannya. Bukan bahan kerudung.

Aku ingin bertanya banyak hal. Ke mana saja dia selama ini. Tega-teganya tak pernah mengirim kabar apa pun.

Akan kukatakan kalau aku sudah menjadi perawat di kota. Aku sudah tinggal bertahun-tahun di luar kampung. Telah kubuktikan bahwa aku bisa tinggal jauh dari orang tuaku. Dia sering mengejekku akan tumbuh menjadi anak manja karena aku anak tunggal dan sensitif.

Akan kuceritakan betapa sulitnya menemukan teman seperti dia. Yang tak ragu-ragu mengatakan orang lain lebih cantik daripada aku. Aku pun sudah mulai berani mengubah model rambutku.

Ingin kukenalkan pada pria yang mempersuntingku. Yang menurutku bukan pria kebanyakan. Aku masih suka memakai celana panjang sampai sekarang.  Dia benar, aku tak  perlu mengubah diriku, orang tepat akan datang dengan sendirinya.

Tak sabar pula akan kutanyakan mengapa rambutnya dipotong sangat pendek sekarang. Bahwa aku juga sudah lupa berapa jumlah utangku yang terakhir. Tapi berapa pun angka yang dia sebut, akan kubayar lunas secepatnya.

Saat dia mendekat barulah aku melihat jelas. Di tangannya tadi, sebuah bahan kebaya yang bagus dan pastilah harganya mahal.

Aku juga baru mau bertanya dia tahu darimana aku mau menikah, tapi dia sudah lebih dahulu menyodorkan kain itu kepadaku, tersenyum dan berbisik, “Untukmu. Setengah harga saja.”

TAMAT

***

 

Dua Sisi Mata Uang, Arung Palakka

by : Jihan Davincka

***

Berbeda dengan puja puji yang dilimpahkan kepada ‘musuh’nya Sultan Hasanuddin, nama Arung Palakka tercatat sebagai salah satu ‘penghianat bangsa’ dalam buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih SD.

Kontras dengan buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih di bangku sekolah, sebuah patung besar berdiri gagah di sebuah Taman Bunga yang dibangun untuk mengenangnya di tengah kota Watampone. Watampone terletak di kabupaten Bone, daerah asal Arung Palakka.

Sumber : koraadnan06.blogspot.com
Sumber : koraadnan06.blogspot.com

***

Sebagai pengantar, mari sedikit mempelajari kultur sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Ehm…propinsi asal eike, nih *benerinPoni*.

Seperti kebanyakan propinsi di berbagai belahan Nusantara, Sulsel juga kaya akan ragam suku dan bahasa. 4 suku terbesarnya adalah : Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Beberapa waktu lalu, sebagian besar wilayah yang dikuasai suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi sebuah propinsi baru, Sulawesi Barat. Makassar sendiri sudah resmi menjadi nama ibukota Sulawesi Selatan sejak tahun 1999 lalu setelah sebelumnya bernama Kota Ujung Pandang. Bukan berarti semua penghuni kota ini berasal dari suku Makassar semua la yaow. Orang Bugis dll juga ada .

Suku lain misalnya Enrekang. Kakek saya sendiri (dari Ibu) juga memiliki darah Enrekang. Aduh, ingat Enrekang ingat Dangke, makanan khas asal sana hehehe .

***

Membahas sejarah Arung Palakka akan membuka luka lama yang pernah ditorehkan oleh dinasti kerajaan Makassar kepada Kerajaan Bone, salah kerajaan terbesar Bugis di masa itu. Jadi, bukan cuma Sunda vs Jawa saja yang pernah bersimbah drama di masa lalu. Orang Bugis pun menyimpan kisah kelam di masa lampau.

Arung Palakka lahir sebagai pewaris tahta Kerajaan Bone. Belum lagi menginjak abege, Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kerajaan Makassar. Di usia belasan, Arung Palakka dan keluarganya disandera. Untung saja, Arung Palakka dan keluarga dijadikan pelayan Karaeng Pattinggaloang, salah satu petinggi di Kerajaan Makassar. Dalam asuhannya, Arung Palakka diberi kesempatan mendapat pendidikan layak hingga menjadi anak yang menonjol dalam olah fisik dan akademis.

Walau besar dan diizinkan bergaul biasa dengan pemuda-pemuda Makassar, Arung Palakka tak pernah bisa melepaskan dirinya dari Siri’-Pacce-Sare yang mengalir kuat dalam darah bugisnya. Sungguh sulit baginya menyaksikan ribuan bangsanya digiring dari Kerajaan Bone untuk bekerja paksa bagi Kerajaan Makassar atas perintah Sultan Hasanuddin.

Siri’-Pacce-Sare apaan? Ketiga prinsip ini adalah kepercayaan dasar bagi orang Bugis kala itu.

Siri’’ (harga diri atau kehormatan dan rasa malu).
Pacce (perasaan sakit dan pedih atas penderitaan saudara sebangsa).
Sare (kepercayaan bahwa seseorang dapat memperbaiki atau memperjelek peruntungannya dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).

Tak cuma itu, setelah banyak para pekerja paksa yang sakit dan melarikan diri, para bangsawan Bone dan Soppeng yang tadinya hanya dijadikan pelayan dipaksa untuk ikut menggali kanal di sepanjang garis pertahanan Kerajaan Makassar. Bayangkan, seberapa besar rasa malu yang harus ditanggung oleh para bangsawan Bugis ini.

Banyak yang tidak terima dan melawan. Salah satu kompornya ya si Arung Palakka. Perlawanan dipatahkan. Larilah Arung Palakka membawa beberapa orang-orang kepercayaannya.

Singkat cerita, rombongan bugis yang melarikan diri dari penjajahan sekaligus kabur dari rasa malu, mendarat di Batavia. Dimulailah kehidupan keras mereka untuk mempertahankan diri. Para ‘Tau Ogi’ (sebutan untuk orang Bugis) segera mendapat perhatian dari Cornelis J Speelman, yang tengah berjuang membersihkan namanya dari tuduhan perdagangan gelap. Bertiga bersama Kapiten Jonker, mereka bertiga menjelma menjadi ‘Preman Batavia’. Semacam “Three Muskeeter” gitu kali, ya, di masa itu hehehe.

Uniknya, membawa dendam akibat pelecehan terhadap bangsanya malah membuat Arung Palakka membabi buta. Tak segan-segan ia membantu VOC meluluhlantakkan perlawanan orang-orang Minang di wilayah Sumatera. Jadi pernah lhooooo orang Bugis ‘mengalahkan’ orang Minang (melirik tajam ke arah suami! Apa iniiiii? Malah jadi chauvinisme begini :P).

Setelah bertahun-tahun menunggu, kesempatan emas itu datang juga. Pihak VOC meminta Arung Palakka membantu menaklukkan Kerajaan Makassar yang kala itu punya potensi besar menyaingi rencana monopoli VOC. Terbakar Siri’, Pacca, sibawa Sare, Arung Palakka langsung menyambut tawaran ini.

Begitulah sejarah terukir. Arung Palakka membawa bangsanya meraih kemerdekaan setelah bersama VOC berhasil melumpuhkan Kerajaan Makassar yang makin terdesak dengan Perjanjian Bongaya. Ah, dari dulu isunya selalu sama. Padahal mungkin jika Makassar dan Bone bersatu, VOC tak akan pernah sanggup mencicipi kekuasaan di perairan Sulawesi.

***

Seorang sejarawan memang mencoba mengangkat latar belakang darah bugisnya dan penjajahan Kerajaan Makassar terhadap kerajaan-kerajaan bugis untuk mengupas kisah Arung Palakka secara keseluruhan. Kalau dalam buku-buku sejarah dulu (sekarang masih enggak sih?), kisah yang ditonjolkan adalah bentuk kerja sama Arung Palakka bersama laskar bugisnya bahu membahu bersama VOC memojokkan Kerajaan Makassar di masa itu.

Bahwa, bila tak dibesarkan dalam situasi terjajah, mungkin tak akan ada cerita pengkhianatan orang Bugis terhadap sejarah kemerdekaan bangsa. Remember, we don’t judge others, for often we don’t know the whole story .

Sebenarnya Arung Palakka juga menunjukkan kekeliruan besar ketika membantu VOC mematahkan perlawanan Minang dan membuat beberapa wilayah Minang malah jatuh ke dalam penjajahan kompeni. La ya katanya sakit hati suku sendiri terjajah kok malah ikut-ikutan menjajah suku lain? Enggak bener dong, ya *jewerArungPalakka*.

Kerajaan Makassar pun membuktikan pepatah, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Bukannya baik-baik sama suku tetangga malah memperbudak mereka? Zzzzz .

Ketika Kerajaan Makassar telah berhasil dilumpuhkan, Arung Palakka mau tak mau terjebak dalam urusan ‘balas jasa’ kepada VOC. Dia bahkan pernah meninggalkan bangsanya, berlayar hingga ke Jawa, membantu VOC menyelesaikan masalahnya di sana. Sikap ini mengundang kontroversi dalam kalangan orang Bugis sendiri. Tak sedikit orang-orang Bugis yang akhirnya hengkang dari Sulawesi sebagai bentuk protes terhadap sikap Arung Palakka yang dianggap menghalalkan segala cara.

Demikianlah tiap cerita kepahlawanan memiliki porsinya sendiri-sendiri. Dengan melihat dari berbagai sisi, kita akan memiliki pemahaman lebih mengenai siapa si jahat siapa si baik. Apa ada yang benar-benar jahat atau ada yang secara keseluruhan baik? .

Kisah-kisah seperti ini sekaligus mengajarkan betapa MAHAL yang namanya KEBERANIAN, KEKUATAN dan KEBAHAGIAAN.

Sultan Hasanuddin dalam kisah ini adalah orang yang paling berani melawan VOC? Belum cencuuuuu . ORANG yang paling CEPAT dalam MINTA MAAF adalah ‘ORANG YANG PALING BERANI’.

Jadi, yang paling kuat itu Arung Palakka? Ya enggak juga. ORANG yang paling CEPAT meMAAFkan adalah’ORANG YANG PALING KUAT’..

Pada akhirnya siapa yang mereka bahagiakan? ORANG yang paling CEPAT meLUPAkan KESALAHAN orang lain adalah ‘ORANG YANG PALING BAHAGIA’. Mudahkah kita meLUPAkan?

Ternyata untuk menjadi orang yang BERANI, KUAT dan BAHAGIA enggak mesti pula terbang jauh ke masa lampau mengangkat senjata melawan penjajah. Rumusnya sudah dikasih tuh di atas hehehe.

Dan sebenarnya ada satu hal penting yang perlu kita camkan bersama sebagai satu bangsa dan tanah air adalah… JANGAN MACAM-MACAM SAMA ORANG BUGIS!!! ahahahahahahahahahahhaha *pasangKacaMataItem*.

***

(Disarikan dari : id.wikipedia.org)

[Cerbung] Temanku Cina (Bagian 4)

Tentang Dia (bagian 4)

Oleh : Jihan Davincka

(Bagian sebelumnya cek ke sini, aja :D). 

***

Aku ke dapur. Ibu langsung menengok ke arahku begitu aku masuk. “Makanlah. Bapak sudah makan tadi.”

Aku duduk di meja makan. Makan dengan patuh tapi mataku mengawasi gerak-gerik Ibu. Akhirnya aku tak tahan lagi.

“Ibu, ada apa tadi? Pak Haji kenapa? Ribut-ribut apa di luar?”

Ibu, yang nampaknya sedang memotong-motong sesuatu kembali menoleh ke arahku. Dia seperti berpikir sebentar tapi dia tidak jadi bersuara. Dengan acuh, dia kembali berkutat dengan pekerjaannya.

Aku tak berani kembali bertanya.

Tapi tahu-tahu, Ibu meletakkan pisaunya dan tiba-tiba menarik kursi di sampingku. Duduk disitu dan bertanya padaku, “Apa kau sungguh ingin tahu?”

“Tentu saja. Tadi Bapak melarangku ke rumah ujung. Apa ini ada hubungannya dengan Misye?”

“Misye? Anak cina itu? Tentu saja ini karena keluarga cina kurang ajar itu.” Suara Ibu berapi-api.

Aku menunduk. Sedikit menyesali kenapa tadi aku bertanya. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa sesal. Jadi, aku beranikan untuk menatap wajah Ibu lagi.

Ibu kembali berujar, “Kau tahu Bang Roma? Tukang ojek langganan kita dulu. Yang suka mengantarmu ke sekolah waktu kau masih SD.”

Tentu saja aku ingat. Sampai sekarang, aku masih suka melihatnya nongkrong di perempatan jalan atau di depan toko kelontong Pak Haji. Kalau tidak salah, beberapa bulan lalu, aku dengar-dengar istrinya selingkuh dan dia stres. Suka terlihat mabuk malam-malam di pinggir jalan.

Ibu membuyarkan ingatanku yang melayang barusan, “Bang Roma ditemukan tewas tadi subuh. Tukang ojek lain yang menemukannya. Dia ditikam. Dia pasti dibunuh oleh cukong cina itu.”

“Ibu tahu darimana?” Protesku keras.

“Kau dengar dulu!” Bentak Ibu. “Katanya, kemarin, Bang Roma ngobrol dengan Bik Yunah. Kau tahu dia kan? Dia langganan katering nasi kuning orang kampung kita.”

“Lalu?”

“Katanya, orang cina itu, meminta Bik Yunah untuk membuatkan nasi kotak untuk acara maulid besok di kelurahan. Pak Haji yang memintanya untuk menyumbang dana. Tapi, cina pelit itu tidak mau memberi uang dan malah menawarkan nasi kotak.”

Aku tak tahan ingin bersuara tapi Ibu kembali melanjutkan, “Bik Yunah bilang, dia minta dibuatkan daging babi. Kau lihat kurang ajarnya dia, dia sudah tahu kalau…”

“Bohong!” Aku langsung berdiri dan memotong dengan tegas. ” Memangnya Ibu kenal Bik Yunah? Bertemu saja cuma sesekali.”

“Kau ini kenapa?” Ibu ikut berdiri dengan nada suara meninggi. “Hanya gara-gara bahan kerudung itu kau mati-matian membela keluarga laknat itu.”

“Ibu asal bicara. Tak ada bukti.”

“Bang Roma yang bilang. Dia dengar sendiri dari Bik Yunah. Makanya dia dibunuh. Apa kau tidak mengerti juga?”

“Lalu, Pak Haji?”

“Pak Haji mencoba menghalangi orang-orang untuk menyerang rumahnya tadi pagi.”

“Apa? Rumahnya diserang tadi pagi?”

“Pak Haji itu seperti dirimu. Tak ingat pada peci yang dipakainya tiap hari. Semua orang tahu Pak Haji suka datang malam-malam ke rumahnya. Seperti kau, dia pun suka menjilat keluarga cina itu.”

Aku sakit hati sekali mendengar ucapan Ibu. Tapi entah keberanian dari mana, aku tetap berdiri tegak di hadapan Ibu. “Untuk apa dia menyuguhkan daging babi. Apa untungnya buat dia?”

“Jangan tanya padaku. Tanya pada anak cina itu!”

“Tukang ojek itu sudah dari dulu suka mabuk. Warga kampung cuma mencari-cari alasan saja.”

“Kau menyembah mereka karena mereka banyak uang.”

“Aku sudah bilang. Ibu asal bicara.”

“Terserah kau saja. Asal tahu, rumah mereka sudah dilempari batu. Mungkin sudah remuk semua kacanya. Temanmu itu pasti sudah kabur ketakutan.”

“Tidak mungkin.” Aku berlari ke kamarku.

Ibu mengejar dari belakang. “Jangan berani-berani keluar rumah.”

Sebentar lagi aku pasti kembali menangis. Wajah Ibu menjadi memelas, “Jangan keluar rumah. Selain Pak Haji, orang-orang kampung tahu kau dekat dengan anak cina itu.”

Aku tidak peduli. Dengan panik, aku menarik sebuah kain kerudung dari dalam lemari. Tumpukan kain kerudung berserakan di lantai. Aku menariknya terlalu kasar.

Suara Ibu berubah panik. Mencoba membujukku. “Jangan, Nir. Nanti kau dipukuli orang.”

“Orang macam apa yang mau memukuli anak perempuan.”

“Kau keras kepala sekali.” Suara Ibu makin cemas. Buru-buru ibu keluar dan memanggil-manggil bapak.

Begitu aku selesai memasang peniti di daguku, Bapak muncul di pintu kamar. “Mau kemana?”

Aku menciut. Suara Bapak tidak keras namun aku tahu betul dia tidak akan mengizinkan aku pergi.

“Ibu bilang mereka mengamuk dan melempari rumahnya dengan batu.” Aku mulai terisak-isak.

Bapak memberi isyarat agar Ibu pergi. Aku masih tersedu-sedu.

Sebelum menjauh, Ibu sedikit membela diri, ”Dia tadi bertanya soal itu. Jadi aku jelaskan saja tentang Pak Haji dan Bang Roma yang…”

Dipotong Bapak, ”Keluarlah dulu.”

Ibu masih mencoba mengucapkan sesuatu tapi akhirnya surut melihat pandangan Bapak yang tajam ke arahnya. Ibu pun menjauh.

“Jangan ke sana dulu. Jangan sekarang.” Bapak membujukku lembut.

“Mungkin kaca rumahnya sudah hancur.”

“Kau tahu darimana?”

“Tadi Ibu cerita. Katanya, papinya mau memasak babi untuk orang sekampung. Aku tidak percaya. Aku mau tanya padanya.”

“Bapak tidak bilang semua perkataan Ibumu benar. Tapi, Bapak takut orang-orang akan ikut menyakitimu.”

“Tapi…”

“Kau tidak bodoh. Kau mengerti, kan, maksudnya?”

Kami berdua bertatapan dalam diam. Sangat terasa olehku sorot matanya yang penuh kecemasan. Aku akhirnya mengangguk pasrah. Dan ketika pintu ditutup dari luar, tangisku kembali pecah.

***

Gambar : clker.com
Gambar : clker.com

Azan subuh baru saja berkumandang. Aku sulit membuka mataku. Ini tentu karena aku kemarin menangis terus. Rasanya perih. Tapi aku tetap ke kamar mandi, lalu balik ke kamarku, bersimpuh di atas sajadah.

Aku masih belum puas menangis. Tapi, mataku yang sudah tidak sanggup. Selesai salat, aku bingung. Sebelum mengangkat tanganku untuk berdoa, aku bimbang, apa boleh aku menyebutkan namanya dalam doaku? Baiklah, aku tak akan menyertakan papi-maminya. Tapi dia saja. Apa boleh?

Aku jadi mengingat-ingat waktu kecil dulu, semasa masih mengaji di mesjid, Ical suka mengejekku begitu tahu aku suka main ke rumah ujung itu.

“Kata Pak Ustaz, orang cina itu masuk neraka.”

“Kata siapa?”

“Aku sudah bilang, itu kata Pak Ustaz.”

“Terus kenapa?”

“Kalau kau terus-terusan bermain dengannya, kau pun akan masuk neraka mungkin.”

“Kau cuma iri jadi bilang macam-macam.”

“Kenapa iri pada orang yang mau masuk neraka.”

“Aku akan berdoa untuknya.”

“Hahahaha. Percuma saja. Pak Ustaz sudah bilang, dia pasti masuk neraka.”

“Aku mau tanya Bapak.”

“Bapakmu bukan ustaz. Bukan Haji juga. Kalau mau, tanya Pak Haji.”

Tapi, waktu aku berlari ke rumah dan bertanya pada Bapak, Bapak cuma bilang, “Pertanyaan macam itu. Bapak tidak tahu.”

Aku takut masuk neraka seperti yang Ical bilang. Aku ragu-ragu, jadi saat berdoa, aku berusaha keras tidak mengingatnya. Ketika aku sudah melepaskan mukenaku, barulah aku berbisik-bisik memohon keselamatan untuknya.

Maksudku, aku kan sudah selesai salat. Aku tidak pakai mukena lagi. Aku tidak berdoa untuknya. Tapi aku cuma berharap. Itu pun aku tidak berharap dia masuk surga. Aku cuma minta agar dia baik-baik saja. Mudah-mudahan Tuhan mengerti.

Aku membuka gorden ketika sudah ada sedikit cahaya dari luar. Masih sedikit sekali, tapi asal sudah agak terang, aku berani menyibak kain penutup jendela kamarku.

Aku tersentak dan melompat mundur ketika ada sosok berkerudung merah di jendela kamarku. Ya ampun, ada setan subuh-subuh. Aku rasanya ingin kencing. Tapi setan itu malah tertawa lebar dan mencibir, “Dasar penakut.”

Aku kenal suaranya. Aku mendekat kembali dan aku melihat pemandangan yang cukup aneh. Kepala si mata sipit itu berbalut kerudung.

“Kau? kenapa ada disini?”

“Kemarin kau marah-marah. Lama sekali tidak ke rumah. Mana uang hasil jualan kerudungnya?”

Aku buru-buru menyambar segepok uang kertas yang sudah layu di atas meja kamar. “Kau ini sudah gila. Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini? Hanya karena mau menagih uangmu?”

Dia tertawa kecil. “Aku pakai kerudung. Ini masih gelap. Orang-orang takkan tahu.”

“Kau baik-baik saja?” Sekarang tangan kami berpegangan. Ingin rasanya kupatahkan besi panjang-panjang yang dipasang di jendela ini. Agar aku bisa menariknya masuk, memeluknya puas-puas.

Biarpun perih, aku merasakan pipiku memanas. Terkena lelehan beberapa butir airmata yang mengalir tak tertahan.

Dia tertawa-tawa lagi. Tapi tidak berisik seperti biasanya. “Apa gunanya kau kemana-mana pakai celana panjang, kalau begini saja kau sudah menangis.”

“Bagaimana rumahmu?”

“Laki-laki akan mudah membodohimu kalau kau gampang menangis.”

Suaraku meninggi, “Cerewet betul kau ini. Bagaimana rumahmu. Kacanya pecah semua?”

“Kau tahu dari siapa? Sudahlah. Papi nanti tinggal panggil tukang. Tapi, hari ini kami mau pergi.”

Aku panik. “Kemana? Pergi ke cina?”

“Sembarangan saja. Kau ini bodoh atau kenapa, sih? Tapi, nanti aku pasti kembali lagi. Rajin-rajinlah lewat rumahku. Kalau kau lihat malam-malam lampunya menyala, besoknya kau datangi aku, ya.”

“Memangnya kau mau pergi lama?”

“Mana aku tahu. Terserah papi.”

“Kalau kau tidak kembali, bagaimana? Aku masih ada yang mau diceritakan. Kau benar. Nora lebih cantik dariku.”

“Aku pasti kembali. Kalau tidak datang lagi, berarti aku sudah mati.”

Aku menyentakkan tangannya, “Kau membuatku takut. Berhentilah bicara aneh-aneh.”

Dia tertawa sebentar sebelummenjulurkan sebuah kantong plastik besar. “Ini kain-kain buat kau jual lagi. Sudah habis kan yang kemarin? Nah, karena marah-marah, kau lupa bilang warna dan motif apa yang kau mau. Aku bingung. Ini aku bawakan seadanya.”

Kami menjejalkan kantong plastik itu melalui jeruji panjang di jendela. Aku menengok dan mengaduk-aduk isi kantong sebentar dan menatapnya bingung, “Biru dan ungu saja?”

“Aku sudah bilang, aku bingung. Takutnya kau marah-marah lagi kalau aku salah bawa bahan. Maksudku kalau biru dan ungu tak laku, kau kan bisa memakainya untuk dirimu sendiri.”

“Aku sudah punya banyak.”

“Sudahlah. Aku tak banyak waktu ini. Ingat, nanti kutagih uang hasil jualannya, ya. Itu isinya sepuluh potong kain.”

“Jangan pergi dulu.”

“Aku tak bisa. Aku juga pegal berdiri disini dari tadi. Sebentar lagi akan terang, kau tahu kan maksudku?”

Aku mengangguk pelan.

“Sudahlah. Soal kain jangan khawatir. Kau beli saja untukmu. Setengah harga.” Dia mengedipkan matanya.

Setelh melepaskan tanganku, dia bergegas pergi. Aku ingin mengejarnya keluar rumah. Tapi aku langsung sadar, Ibu bisa tahu. Jam segini, Ibu pasti sedang duduk-duduk di atas kursi membaca alquran.

***

(Bersambung ke sini)

What’s Your Dream Job?

Ini sebenarnya mau curhat soal profesi suami yang ternyata sangat tidak tenar itu hehehe.

Waktu masih bekerja dan belum punya anak, saya pernah janjian makan malam bersama teman lama saya yang kebetulan lagi melanjutkan sekolah di Jakarta. Dia, bersama suaminya, sama-sama lulusan kedokteran umum dari perguruan tinggi negeri tempat kami berasal. Dokter, cyin.

Sepasang suami istri yang sama-sama lagi ambil spesialis.

Mereka berdua jelas bukan tipe ‘Keluarga Gober’ . Karena saya sebagai pihak pengundang jadi kudu memuliakan tamu dong, ya. Setahu saya, teman ini suka sekali masakan Jepang. Tadinya mau saya ajak ke Hoka-hoka Bento ahahahahaha. Kalau hokben mah ane favorit banget.

Tapi kata adik saya, “Sinting lu. Masakan Jepang tuh maksudnya sushi-sushian, bukan Hokben.”

Setelah googling waktu itu, ketemu nama resto Sushi Tei. Pokoknya katanya enak, tempatnya di mal ternama dan … mahal! Hahaha. Bungkusssss.

Bertemulah kami berempat di sana. Dia bersama suaminya, saya bersama suami saya.

Obrolan pembuka yang standar antar suami, suami teman yang bertanya duluan, “Kerja di mana, Mas?”

“Oh, saya kerja di telco.”

“Perusahaan apa, ya?”

“Eri*****.”

Suami teman langsung mengangguk-angguk, “Wah, asyik, dong. Jago benerin hp berarti, ya.”

Hahahaha. Waktu itu saya setengah mati menahan ketawa sementara saya tahu pasti, suami pasti gondok bukan kepalang. Kalau mau benerin hp, ke glodok aje kali, Pak Dokter!

Di mobil pas pulang, suami makin kesal, “Sialan. Udah bayar makannya mahal. Enggak enak. Disangka tukang benerin hp lagi.”

Yoi, kita berdua paling males deh makan sushi dan teman-temannya. Waktu itu sama-sama pesan udon yang gambarnya paling menggoda. Harapannya bisa makan mie rasa kari ala mie aceh gitu. Kenyataannya, kami berdua sepakat, “Oh God, indomie rasa kari ayam rasanya jauhhhh lebih enak.” Harap maklum –> lidah kampung! .

Saya masih ngakak-ngakak. Soal dia yang suka disangka tukang benerin hp, ini terjadi untuk kesekian kalinya.

Setelah puas tertawa, sebagai istri yang salehah, saya tentu menghibur suami , “Jangan gitu lah. Sekolah kedokteran itu sibuknya gak tanggung-tanggung, Bang. Manalah mereka bisa se-update kita yang kerjanya banyakan browsing internetnya hahahahaha.”

***

Jangankan para telco engineer, masa-masa awal kerja di dunia IT pun, saya kerap dibikin gondok oleh para user.

Namanya anak baru, disuruh apa pun masih manut. Di suatu sore, telepon di meja berdering, “Mbak Jihan, turun, dong. Ada problem.”

“Telepon IT technical aja, Mbak. Printernya gak nyala lagi?”

“Bukan, bukan. Ini bukan printer.”

Ya sudah, saya tak bertanya lebih lanjut, saya langsung berasumsi ini pasti ada error dalam aplikasi. Waktu itu, aplikasi user di divisi saya dikembangkan secara internal. Jadi, semua proses development dan maintenance dihandle oleh divisi IT perusahaan sendiri, yakni eike dan segambreng developer lainnya.

Sampai di meja user, saya langsung berinisiatif mengutak atik aplikasinya.

User saya langsung protes, “Bukan, Mbak. Bukan. Itu lho, mesin fax nya gak mau jalan.”

“Apa?”

“Mesin fax, Mbak. Fax-nya enggak tahu kenapa itu dari tadi diem aja.”

Saking keselnya, saya yang memang darah tinggi, apalagi usia masih muda belia ya Ceu , langsung murka, “SEKALIAN SAJA BESOK GENTENG BOCOR TELEPON SAYA SURUH KE BAWAH, YA!”

Hahaha.

Waktu itu, bos user ikutan ketawa-ketawa pas tim IT curhat di meeting. Ya iya kaleeee, lumayan sering bolak balik ke tempat user, mulai dari telepon rusak, printer ngadat sampai kabel PC ilang, semuanya telepon IT! … Zzzzz -_-.

***

Nah, balik lagi ke pekerjaan suami. Waktu kerja ke Jeddah, situasi lebih rumit. Tahu sendiri kan, kalau mendengar kata Arab Saudi, yang terbayang di benak orang kebanyakan pasti pekerjaan-pekerjaan informal.

Waktu mudik pertama kali ke Jakarta, kami mengadakan acara akikah buat anak ke-2 yang kebetulan lahir di Jeddah. Diadakannya di masjid tempat ibu mertua rutin mengikuti pengajian.

Namanya peserta pengajian rata-rata sudah berumur, ibu mertua kesulitan menerangkan pekerjaan suami. Mulai disangka petugas yang ngurusin kebutuhan para jemaah haji sampai disangka kerja di travel haji (staf lhoooo bukan pemilik travel hihihihi). Makanya, begitu ada kesempatan pindah ke Eropa, Mami termasuk yang cukup semangat. Sudah capek kali, anak ganteng-ganteng, jauh-jauh merantau ke Saudi, kok disangka petugas haji di bandara ya, Mi. Hahahahaha.

Waktu lagi mengobrol dengan teman-teman sesama ibu-ibu telco di Jeddah lebih banyak lagi cerita lucu. Paling juara cerita teman satu ini. Kita anggap saja namanya Ibu Telco yang sedang berbincang-bincang dengan temannya, Ibu Kepo .

Ibu Kepo : “Suami kerjanya apa sih, Bu?”
Ibu Telco : “Telco engineer.”
Ibu Kepo : “Apa itu?”
Ibu Telco : “Telekomunikasi, Bu. Kerja di perusahaan telekomunikasi gitu.”
Ibu Kepo langsung merasa paham, “Oiyaaaaa, capek juga itu, ya kerjanya. Saya sering lihat lho, kalau di jalan-jalan ada orang manjat-manjat di tiang-tiang sambungan telepon. Aduh, bahaya juga itu kerjanya, ya.”

Ahahahhahahahahaha. Kita semua sampai ngakak-ngakak lama banget di taman pagi itu. Untungnya, kalau pagi-pagi taman-taman biasanya sepi, hanya keluarga-keluarga asal Indonesia yang ngerumpi di atas tiker sambil ngemil gorengan .

***

Ayo ngaku, siapa, sih, yang familiar dengan pekerjaan sebagai telco engineer? Hehehehe. Masih samar-samar? Sama! Saya juga awalnya saban diterangin sama suami suka bingung sendiri hehehe.

Manalagi vendor-vendor telco internasional KEBETULAN memang produsen ponsel rata-rata. Apalagi dulu-dulu kan belum ada iphone, samsung dkk. Masih didominasi oleh Nokia, Siemens dan Ericsson. Sekarang, Siemens divisi networking sudah di’beli’ oleh Nokia. CMIIW, ane juga enggak paham ini istilah-istilahnya apa hehehe. Makanya sekarang Nokia menjelma menjadi NSN (Nokia Siemens Networks).

Jangan salah, Nokia dan Ericsson tidak cuma punya pabrik ponsel . Mereka juga menyediakan layanan berupa perangkat-perangkat telekomunikasi (server-server dll) beserta para engineernya –> suami eike dan teman-teman telco engineer lainnya.

Klien mereka siapa? Kliennya ya para OPERATOR telekomunikasi. Operator yang dimaksud contohnya di Indonesia : Telkom – Telkomsel, Indosat, XL dll.

Vendor telco sekarang sudah banyak, sih. Sudah ada petarung baru dari Negeri Tirai Bambu, Huawei. Ada juga Alcatel-Luzen. Udah, gue taunya itu doang kalau di seputaran Indonesia hehehehe.

Tentu saja, booming profesi ini terjadi setelah era kemajuan telekomunikasi yang memperkenalkan ponsel dkk. Nah, engineer yang bekerja untuk para vendor ini juga macam-macam pekerjaannya. Tapi bukan berarti kalau sinyal hilang, situ bisa nelepon para engineer, lho ya hahahaha. Ini juga salah kaprah banget .

Memang, sebagian engineer ini bertanggungjawab dalam sistem yang mengatur masalah aduh apa ya itu namanya… semacam optimasi gitu. Jadi, ada parameter-parameter yang bisa diutak atik oleh para engineer agar sinyal dkk bisa optimum di wilayah-wilayah tertentu. Kerjanya enggak mesti sampai manjat-manjat tiang telepon atuh *ngakakAmpeMules*. Cukup duduk manis di belakang laptop masing-masing, membuka koneksi ke server yang dimaksud, utak atik deh secara remote .

Pekerjaannya kadang enggak gampang. Tak jarang, waktu masih bekerja di divisi support, tengah malam saya lagi pulas, suami malah sibuk telepon-teleponan sambil mangku laptop .

Asyiknya, pekerjaan ini levelnya internasional. Pekerjaan ini perlu skill yang tidak sembarangan. Walaupun kebutuhannya relatif sedikit dibanding konsultan SAP misalnya, tapi jangan lupa, para telco engineer di seluruh dunia ini juga jumlahnya masih minim. Jadi, saban ada lowongan, kata suami, saingannya ya itu-itu juga hehehe.

Enaknya lagi, bisa berpetualang dari satu negara ke negara yang lain selama perangkatnya sama. Misalnya OSS engineer – Er**** seperti suami saya, tidak masalah bila harus bekerja untuk Er**** di berbagai negara. Karena, perangkatnya pasti sama .

Penghasilannya? *uhukUhuk*. Bisa digantung sama suami kalau berani-berani buka slip gaji dimari hahahahahhaha. Tapi percaya deh, telekomunikasi di era terkini sudah termasuk kebutuhan primer yang menjangkau gaya hidup sebagian besar masyarakat . Dibayangkan sendiri deh korelasinya.

Baiklah, enggak boleh ngomongin gaji suami. Mari kita gosipin gaji orang lain hahahahaha. Beberapa Senior Engineer di Riyadh bisa berpenghasilan hingga BELASAN RIBU DOLAR per bulan! Tapi tidak semuanya. Pokoknya rata-rata ribu-ribu USD lah. Psssttt… pajak di Saudi = NOL riyal. Gross = nett.

Makanya, jangan heran, kalau gaya hidup telco engineer di Saudi itu termasuk ‘high-class’. Iyalah cing, kebutuhan pokok di Saudi itu rata-rata lebih murah daripada di Indo. Beras lebih murah, daging lebih murah, susu anak lebih murah *colekIbuIbuYgStresBeliSusuKaloMudik* hihihihi. Mobil mewah di Saudi harganya bisa cuma seperlima harga di Jakarta. Belum lagi bensin cuma seceng per liter. Aihhhh, sungguh godaan berat untuk tidak membeli mobil-mobil SUV yang bodinya yahud .

Gaji gede + biaya hidup murah = mari kita foya-foya! . Kalaupun ada telco engineer yang tahan untuk berkumal-kumal ria, itu pasti karena darah ‘Gober’nya sudah mengalir terlalu kuat hahaha.

Akhir-akhir ini para telco engineer asal Indonesia mulai dibikin keki oleh hadirnya penantang baru asal trio Pakistan-Bangladesh-India. Ketiga engineer asal negara ini dikenal jago cuap-cuap dan berani dibayar lebih murah! Kalau istilah suami dan teman-teman, “Para Perusak Rate” .

Ya, tak bisa dimungkiri, resesi sudah hampir merambah semua wilayah dunia. Tidak cuma Eropa yang masih meradang, wilayah Timur Tengah pun konon sudah mulai pelit angka di surat kontrak hehehe. Walaupun, diakui oleh para bos-bos telco bahwa tidak sedikit engineer asal P-B-I ini yang gede omong doang, apa daya, budget juga ketat. Mereka pun terpaksa rela memakai tenaga para P-B-I. Tapi jangan digeneralisir, engineer asal P-B-I juga ad yang jagoan beneran, kok .

Ada pun engineer asal Indonesia di Er*** Jeddah itu cukup dicari, lho . Suami saya sebelum hengkang sudah diwanti-wanti oleh bos agar mencari pengganti asal Indonesia juga . Beliau konon menampik CV dari negara lain demi memberi kesempatan para engineer Indonesia terlebih dahulu. Makanya, jangan jiper jadi orang Indo. Kalau interview? Pede aja hehehe. Asal jangan bokis kayak sebagian orang-orang dari P-B-I. Apa pun pertanyaannya pasti dijawab, “Yes, I can!” Ahahahahahahha.

***

Intinya, dunia pun ikut berubah sesuai perubahan gaya hidup para penghuninya. Zaman dulu mana ada sih, profesi-profesi kayak programmer, IT-IT an, web designer, telco engineer dkk? Bahkan, hobi nge-tweet dan punya ribuan follower menawarkan profesi baru di twittler land dengan penghasilan yang mumpuni … para BUZZER! .

Konon, para buzzer tenar bisa dibayar hingga jutaan rupiah per SATU TWEET. Bayangin, mengetik sekitar 140 karakter dibayar jutaan rupiah. Follow me, follow me hahhahahahhaha –> biar bisa jadi buzzer .

Jangan batasi mimpi anak-anak kita hanya di ranah-ranah konservatif seperti dokter, pengacara dll. Biarkan mereka bereksplorasi lebih jauh. Dunia online memang tidak sepenuhnya positif. Tapi ingat, setiap koin pasti punya 2 sisi mata uang, kan? Pintar-pintarnya kita memanfaatkan kemajuan teknologi .

Biarkan anak-anak dan generasi muda menjelajah potensi seluas mungkin. Mengukir tinggi-tinggi mimpi-mimpi di atas sana. Seperti kata Bung Karno, “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”

So, what’s your dream job, Fellas? . Are going to be a writer who can write a thousand books before you die? Fly with me! Kita ukir sama-sama di atas langit sana . All you have to do is … start writing! Bukannya bolak balik inbox ke saya bertanya bagaimana caranya menulis. Itu kesalahan yng cukup fatal, karena :

1. Saya bukan penulis profesional woooiiii! Hahahahha. Kalau cuma nulis di status mah, everyone do it everyday! 
2. Menulis enggak pakai teknik. Just do it on and on and on and on and on… teknik itu akan datang belakangan .

Ahahahahahahha. Ini kok malah ke mana-mana 😀.

bintang

***

[Cerbung] Temanku Cina (3)

Tentang Dia (bagian 3)

Bagian 1 cek dimari. Bagian 2 ada di sindang :D.

Gambar : pinterest.com

Oleh  : JIhan Davincka

***

Dua minggu berlalu. Aku masih belum mau ke ujung jalan itu. Aku memang sering marah dengan ucapan-ucapannya. Tapi kali ini, aku benar-benar kesal.

Dalam kamarku, aku sedang menghitung-hitung uang hasil berjualan bahan kerudung. Seharusnya hari itu aku menyerahkannya pada anak Cina itu. Tapi, siapa suruh dia bilang Nora lebih cantik dariku.

Sejak aku berkerudung, dia terus-terusan menawariku berbagai jenis kain untuk bahan kerudung. Bahkan akhirnya berhasil memaksaku untuk menjualnya ke teman-temanku yang lain. Tadinya aku canggung mau menjualnya kemana-mana. Setelah dicoba, teman-temanku malah banyak yang suka.

Aku pernah bertanya kenapa dia malah menjual bahan kerudung kepadaku. Maksudku dia mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan kami.

Dia malah memandangku aneh, ”Kenapa tidak?”

Tak sadar senyumku mengembang. Ah, anak itu. Hanya uang saja yang dipikirkannya.

Aku takut kalau Ibu tahu. Bapak sudah tahu lama. Entahlah, aku tak pernah bisa berbohong pada Bapak. Tapi, anak cina itu bilang, aku harus memberi beberapa helai kain kepada Ibu sebagai hadiah. Siapa tahu Ibu jadi melunak. Betul juga. Dan aku pun berinisiatif memberi beberapa helai kain bermotif bunga-bunga kesukaan Ibu.

“Ini dari Misye, Ibu. Hadiah, katanya.”

“Anak Cina itu?” Ibu mendengus.

“Coba, Ibu lihat dulu. Bahannya bagus sekali. Dia berterima kasih padaku karena aku mau menjual kain-kain miliknya ini.”

“Apa? Kau menjual barang milik anak Cina itu? Kau gila, ya?”

Aku mulai gentar kalau nada suara Ibu jadi tinggi lagi. Tapi, akhirnya aku mengeluarkan segenap keberanianku untuk menjelaskan panjang lebar tentang jual menjual kain ini. Kalau aku mendapat uang saku yang cukup besar karena usaha ini. Aku mendapatkan harga yang cukup murah dari Misye. Maklumlah, Papinya memang pedagang kain grosiran yang memiliki toko besar di beberapa tempat di luar kampung kami. Ini Misye yang sering cerita padaku.

“Ibu tak suka kalau kau mengemis pada anak Cina itu.” Akhirnya suara Ibu mulai melunak.

“Dia yang memaksaku. Tadinya aku tak mau. Tapi Nisa, Ratna, Nora, Kiki, semua bilang bahannya bagus dan membeli beberapa dariku. Ibu tahu tidak, ibu-ibu mereka pun sering membeli padaku.”

“Kau mau bikin Ibu malu?”

“Mereka membeli tanpa aku tawarin, Bu. Malu kenapa? Ini bahannya bagus-bagus. Harganya tidak murah.”

“Ya, sudah.” Ibu akhirnya mengambil helai-helai kain yang aku taruh diatas meja di hadapannya.

“Bagus memang kainnya. Ini berapa harganya?” Ibu meraba-meraba sehelai kain berwarna putih, dengan bunga-bunga merah besar di sekujurnya.

“Ini hadiah. Untuk Ibu, gratis. Dari Misye.”

Tapi, tentu saja, helai-helai kain itu tidak gratis. Aku membelinya dengan “setengah harga”.

Aku tersenyum-senyum mengingatnya. Sejak saat itu, Ibu pun bahkan suka membawa beberapa helai kain untuk ditawarkan pada Ibu-ibu pelanggan kue bolu bikinannya.

Ah, tak sepatutnya aku berlama-lama marah padanya. Besok, aku harus ke rumahnya dan menyerahkan uang ini.

***

Aku sedang merapikan kerudungku di depan kaca ketika tiba-tiba suara orang-orang bergemuruh dari luar. Aku cepat-cepat memasang peniti di bawah daguku dan berlari keluar kamar.

Ibu sudah ada di ruang tengah.

“Ada apa di luar?” Tampangnya panik sekali. Siapa yang tidak panik, hari minggu pagi begini, tiba-tiba mendengar orang berteriak-teriak di jalan.

Kami berdua baru akan membuka pintu ketika tergesa-gesa Bapak mendobrak pintu. Dia datang membopong seseorang yang nampaknya pingsan. Ya Tuhan, itu Pak Haji, bapaknya Nisa.

Ibu langsung membantu Bapak dan lekas-lekas menutup pintu rapat-rapat. Dipasangnya semua gerendel pintu. Dari atas ke bawah.

Bapak nampak pucat. Berganti-ganti dia memandang ke arah Ibu dan aku, sambil meredakan nafasnya yang memburu.

Ibu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air putih. Pak Haji yang wajahnya babak belur sekarang ditidurkan di atas kursi. Aku takut sekali. Ada apa ini?

Tiba-tiba Bapak memandangiku. “Mau kemana kau?” Aku bingung kenapa Bapak membentakku.

Aku mundur beberapa langkah. Bapak berdiri. Dadanya masih turun naik. Keringatnya belum kering. Di dahinya ada banyak butiran air yang masih mengalir deras. Aku benar-benar takut sekarang. Aku menelan ludah. Lututku bergetar.

Bapak mengalihkan pandangannya ke arah Ibu. Sorot matanya sudah tidak menyala. Tapi lututku masih gemetaran begitu rupa.

“Kau jangan ke rumah ujung itu. Masuklah ke kamarmu.” Kali ini nada suara Bapak jauh lebih tenang.

Ibu memberi isyarat dengan ujung matanya agar aku menurut. Meskipun ada berjuta tanya dalam hatiku, aku paksakan menyeret langkah masuk ke dalam kamarku.

Dalam kamar aku tidak tenang. Sia-sia saja aku menempelkan telingaku kuat-kuat ke arah pintu. Bapak berbicara dengan suara sangat rendah. Dan Ibu menjawab sambil berbisik-bisik.

Rumah ujung. Rumah anak Cina itu. Mataku langsung basah. Aduh, perasaanku sungguh tidak enak. Aku mengusap-usap mataku dan mencoba menajamkan pendengaranku. Mencoba menangkap suara-suara orang yang masih bergemuruh dari luar.

Tapi percuma saja. Kamarku ini ada di pojok belakang rumah. Bagaimana ini? Aku terduduk di balik pintu kamar. Segepok uang kertas yang sedari tadi berada dalam genggamanku mungkin sudah koyak.

***

Tak terdengar suara apa pun sekarang. Aku bangkit dari dudukku. Pinggangku pegal sekali. Aku berpindah ke atas ranjang di sudut kamarku. Menimbang-nimbang untuk keluar sekarang atau tidak. Tapi aku masih enggan menampakkan wajahku di hadapan Ibu dan Bapak. Biarpun rasa penasaran ini sudah sampai ke ubun-ubun.

Aku melepas kerudungku. Mengibaskannya perlahan, melipatnya rapi-rapi, dan menaruh ke dalam lemari.

Aku berbaring dan berharap aku tertidur begitu saja. Tapi begitu aku menutup mata, bayangan anak cina itu makin kuat menguasai pikiranku. Aku malah melihatnya dimana-mana kalau mataku terpejam. Biarpun lelah, mataku tetap memandang ke langit-langit kamar.

Dan anehnya, wajahnya kembali memenuhi langit kamarku. Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak aku melihatnya pertama kali dengan rok renda-rendanya.

Waktu aku kecil, aku selalu iri dengan teman-temanku yang lain. Nisa itu punya kakak laki-laki dan dua adik perempuan. Nora cuma punya dua kakak laki-laki. Tapi rumahnya bersebelahan dengan Kiki. Kiki ini punya banyak sekali saudara perempuan. Aku tidak percaya sampai sekarang aku tidak hapal ada berapa saudara perempuannya.

Sedangkan aku, tak punya kakak, tak ada adik. Rumahku tidak terlalu dekat dari rumah mereka. Rasanya sepi. Saat mengaji di mesjid dulu, mereka akrab sekali kakak beradik. Nora tidak pernah jauh-jauh dari Kiki. Aku cuma pelengkap. Tak ada yang merasa benar-benar perlu mengakrabiku.

Lalu dia datang. Tadinya aku tak begitu suka dengan lagaknya yang menurutku terlalu angkuh. Tapi aku senang kalau Nisa dan Nora memandangku dengan iri saat aku bercerita kalau dia punya boneka Barbie dan aku boleh ikut memainkan boneka mahal itu.

Sebenarnya dia banyak mengatakan hal yang tidak kusukai. Tapi anehnya, aku malah jadi percaya padanya. Dan lama-lama, dialah yang lebih sering menjadi tempatku mengadu. Aku pun tak pernah segan bertanya macam-macam padanya.

“Ajarkan aku bahasa cina.” Kataku di suatu hari saat dia sedang menyisir rambutku di depan kaca. Dia bilang dia bisa membuat model rambutku yang membosankan itu menjadi lebih keren.

“Bahasa Mandarin.” Tukasnya pendek.

“Iya, itu. Bahasa Mandarin. Ajarkan padaku sedikit.”

“Mana aku tahu.”

“Kau pasti tahu.” Dia cuma nyengir mendengar nada suaraku yang menuduh.

Aku kembali bertanya. “Seperti apa negeri cina itu? Apa saudara-saudaramu di sana jago silat seperti film-film di televisi?”

“Aku tak punya saudara di sana. Sembarangan kau ini.”

“Yang benar saja. Kau kan orang cina.”

“Aku ini lahir di Jakarta. Papiku asli Jawa. Mami itu dari Manado. Tapi banyak juga saudara-saudara yang tinggal dekat kampung ini.”

“Lalu, seperti apa negeri cina itu,” kejarku.

“Mana aku tahu.”

Perutku terasa diaduk. Rasanya sudah capek sekali aku menangis. Seperti apa sembabnya mataku sekarang. Aku bangun dari tidurku. Sia-sia saja mencoba tidur. Hanya membuatku terbayang-bayang terus padanya.

Aku menyesal sudah bertengkar tentang hal bodoh dengannya. Tidak apa-apa kalau dia bilang Nora lebih cantik dariku. Kenapa aku bisa sebegitu kesal dan mendiamkannya hingga dua minggu.

Aku memilih keluar dari kamar sekarang. Lagipula aku sudah lapar.

Aku membuka pintu dengan ragu-ragu. Aku terbayang dengan wajah Pak Haji yang lebam-lebam tadi pagi. Tapi, kursi di ruang tamu sudah kosong. Tak ada siapa-siapa.

***

(Bersambung ke sini)