Agar si pemilik blog tidak kehilangan identitasnya sebagai alumni IT, kali ini mau sok-sok posting soal teknologi di dunia maya *tsaaahhh* –> pencitraan :P. Tenang, ini bukan postingan berbayar atau lomba dan semacamnya hihihi.
Dalam kegiatan browsing harian, saya sudah punya situs-situs yang harus dikunjungi. Misalnya : beberapa blog teman-teman, detik.com, kompas.com, forum.detik.com, situs-situs resep (hihihihi) dan tentu saja … situs-situs yang selalu hits dengan hosip-hosip artis –> yang ini doang, nih, yang tiap hari dikunjungi sebenarnya! Hahaha.
Dulu, google pernah membuat aplikasi “Google Reader.” Belum sempat nyobain, ternyata kini “Google Reader” tinggal kenangan saja. Nah, sekarang muncullah https://www.feedspot.com. Aplikasi Feedspot ini bisa dibilang hadir untuk melanjutkan misi si “Google Reader” yang terhempas di tengah jalan :).
Fungsinya apa? Nah, aplikasi reader ini menjadi semacam terminal untuk semua bacaan kita tadi. Daripada membuka banyak tab atau banyak window untuk mengunjungi situs-situs favorit satu per satu, kita tinggal login ke Feedspot saja.
Kayak timeline di twitter gitu kali, ya. Kita bisa follow akun-akun lain. Nah, di Feedspot, yang kita follow adalah website/situs :).
1. Menambahkan situs yang ingin kita follow gimana? Gampang, Di tab sebelah kiri ada link “Add new site.” Tinggal diklik saja ya, Kakaaa :D. Nanti ada pop up. Tinggal diisi nama situs yang diinginkan. Klik tombol “Add”, beres deh ;).
How to add new site via FeedSpot
2. Nanti hasilnya muncul di sebelah kiri. List-list situs yang kita follow ada di situ. Ini saya kotak-in list yang saya maksud :D. Situs gosipnya kita hapus dulu demi menjaga nama baik, hahaha.
3. Dari Feedspot juga bisa kita set akan kita share ke mana atau akan muncul di media sosial mana saja bila kita mem’favorit’kan sebuah artikel di situs tertentu.
Tinggal di’tick’ di kolom-kolom bersesuaian.
4. Jadi, kalau mau share dan menandai artikel tertentu sebagai ‘favorite’, akan otomatis muncul di media-media sosial yang sudah diset tadi.
Kira-kira kebayang, kan, ya fungsinya si Feedspot ini. Semacam one-stop login gitu. Login sekali, bisa baca-baca semua situs yang memang rutin kita kunjungi. Kalau ada yang menarik, tinggal tekan tombol ‘share’ atau ‘favorite’. Ada pilihan lain juga, seperti tweet dan email.
Kelemahannya? Namanya juga baru pengembangan awal. Lelet, cuy hehehe. Terus, belum ada versi mobilenya *gubrak*. Hare geneeeee … hahaha. Tapi, kalau kita masuk ke situs Feedspot via browser di ponsel, sih, bisa-bisa aja :D.
Demikianlah geeky topic kita kali ini *benerinPoni*.
Semoga mendapat pencerahan ^_^.
Ps : jangan lupa, kalau sudah join ke Feedspot, follow situs yang satu ini, jihandavincka.wordpress.com, dijamin enggak rugi … *maeninBuluMata*.
Mengunjungi Kota Nabi adalah salah satu kenang-kenangan paling indah selama menjadi pemukim di Kota Jeddah. Iyalah, mari kita jalan-jalan ke Madinah :D. Jangan lupa kenali hotel hotel di Madinah sekitaran masjid Nabawi. Hanya menyetir selama 3 jam-an, dengan mengendarai mobil saja, kami sekeluarga bisa ziarah ke tanah suci, Madinah. Anytime we want :).
Berbeda dengan Mekkah yang berjarak hanya 70 km dari Jeddah, Madinah bisa dicapai setelah menempuh perjalanan sejauh 400 km. Rute sejauh ini tidak memungkinkan kami untuk pulang pergi dalam tempo semalam. Jadi, setiap ke Madinah, kami pasti menginap di hotel.
Nabawi sendiri dikelilingi oleh banyak sekali hotel-hotel kelas dunia. Hotel hotel di Madinah itu rupa-rupa ragamnya. Mulai dari Hilton Madinah, Le Meridien, Shaza Hotel, Moevenpick hingga Radisson. Rasanya sih, setiap menginap di tanah suci, hotel mana pun pasti selalu menjadi favorit dan meninggalkan kesan indah :).
Umumnya, interior hotel, yang berbintang lima sekali pun, tidak terlalu mewah dan megah. Maklumlah, kebanyakan pengunjung jalan-jalan Madinah konsentrasinya adalah ibadah ke Masjid Nabawi.
Jangan lupa juga, bawalah sendiri perlengkapan mandi. Hotel-hotel di Madinah biasanya hanya menyediakan sabun dan sampo saja. Sikat dan pasta gigi biasanya tidak ada, lho. Daripada membuang waktu ke mini market, lebih baik disiapkan sebelum tiba di tujuan.
Salah satu hotel yang pernah kami kunjungi adalah Radisson Blu Hotel. Di Madinah, namanya Al Muna Kareem. Tadinya, saya agak bingung jika melihat penampakan gedung hotel dari luar, “Kok kecil banget, ya?”
Ternyata, lahan hotel Radisson memang tidak seluas hotel-hotel yang lain. Ini nih yang bikin unik, interior dalam gedung dibuat melingkar. Di tengah-tengah bangunan dibiarkan kosong. Kamar-kamar dibuat mengelilingi lobi tiap lantai. Begitulah cara pengelola gedung memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas. Kreatif, ya :).
Interior gedung Radisson yang unik 🙂
Tidak hanya di Radisson, pada umumnya kamar-kamar hotel yang berada di pelataran kompleks Masjid Nabawi memang mungil-mungil. Mungkin karena padatnya pengguna sementara lahan tidak terlalu besar.
Interior dalam Radisson dibuat dengan dominasi biru. Warna biru yang bercampur emas mengingatkan saya pada istana-istana ala Negeri 1001 Malam. Untunglah warna dinding kamar tidak ikut-ikutan dibuat biru keemasan. Kamar tidur menggunakan warna-warna netral, jadi tidak meriah dan terasa jauh lebih nyaman untuk beristirahat.
Yang cukup mengganggu adalah jumlah lift yang kurang memadai di saat pengunjung sedang padat-padatnya. Kebetulan, kami menginap di Radisson saat menjenguk orang tua kami yang sedang umrah. Aduh, ramainya hotel kala itu. Untuk menggunakan lift, harus mengantre. Apalagi di jam-jam menjelang ibadah salat wajib dan waktu makan.
Mungkin karena inilah, di depan lift disediakan sofa-sofa panjang yang bisa digunakan sambil menunggu. Tapi karena lobi agak sempit, mau duduk juga rasanya kurang nyaman bila banyak orang lalu lalang.
Interior kamar dan ruangan lain dalam Hotel Radisson
Kekecewaan dengan fasilitas lift lumayan tertutupi oleh menu-menu sarapan yang jauh lebih enak dibanding hotel-hotel lain di sana yang pernah kami tempati. Menunya sih mirip-mirip. Kebanyakan hotel di Saudi tidak menyediakan nasi dalam menu makan pagi. Menu utamanya roti-rotian arab dan kentang. Ah ya, soal kehalalan jangan khawatir. Di seluruh penjuru Saudi, pemerintah menjamin kehalalan makanan yang disajikan di tempat-tempat umum, termasuk hotel hotel di Madinah.
Sebenarnya lauknya tidak jauh berbeda dengan di tanah air. Seperti misalnya : aneka sosis, daging-dagingan, telur, kornet, sup dsb. Tapi, umumnya bermasalah di rasa. Rasa-rasa masakan di Saudi agak hambar. Nah, di Radisson ini tidak begitu. Lauknya rata-rata gurih dan asinnya pas dengan lidah Asia kita.
Untuk ukuran harga sewa kamar, Radisson relatif lebih murah daripada Madinah Hilton, Moevenpick dan Shaza. Lokasi Radisson Madinah juga cukup strategis. Dekat sekali dari pintu masuk Masjid Nabawi. Hanya perlu berjalan sekitar beberapa menit. Ada 3 pintu masuk terdekat menuju ke dalam masjid yang bisa diakses dari Hotel Radisson ini.
Tapi jangan salah, walau diganjar dengan harga agak tinggi, hotel Moevenpick Madinah menawarkan fasilitas yang lebih megah dan mewah. Kami juga pernah melewatkan sekitar 2 malam di Moevenpick yang di Madinah bernama Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel.
Mewahnya Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel
Moevenpick Madinah jauh lebih besar dan luas dibanding Radisson. Interior dalam kamar juga lebih lega. Fasilitas lift ada di berbagai penjuru gedung. Enggak ada kejadian mesti menunggu dengan gelisah karena begitu lift terbuka, isinya penuh.
Tapi, untuk lidah kampung khas Indonesia seperti saya, menu sarapan yang disediakan cukup mengecewakan. Kurang cocok dengan yang hambar-hambar, nih. Untunglah ruang makannya sangat nyaman dan luas, jadi lumayan terobati rasa kecewa akan jenis masakannya.
Enaknya lagi, lobi di ruang tunggu Moevenpick dilengkapi dengan cukup banyak sofa set yang empuk. Saat itu, hotel lagi padat. Kami harus menunggu agak lama dari waktu check in yang dijanjikan. Beberapa pengunjung juga mengalami hal yang sama. Tapi, fasilitas ruang tunggunya nyaman banget. Belum lagi pelayan hotel hilir mudik menawarkan teh hangat, makanan kecil seperti kurma dan mammoul (makanan ringan khas Arab Saudi, semacam kue kering yang diisi dengan selai kurma).
Walau cukup jauh dari Radisson Madinah, lokasi Moevenpick dari Nabawi malah lebih dekat. Maklum saja, masjid Nabawi ini punya banyak pintu masuk. Salah satu pintu masuknya terletak tepat di samping lokasi hotel Moevenpick.
Moevenpick sudah yang paling mewah? Nah, masih ada satu, nih. Namanya Shaza Al Madinah. Dari luar hingga tempat resepsionis, Shaza masih kalah dibanding Moevenpick.
Kami belum pernah menginap di sini. Tapi, pernah mengunjungi teman yang sedang menginap di Shaza. Wah, kamarnya model suite. Ada 3 ruangan dalam kamar tersebut. Kamar tidur terpisah sendiri. Ada ruang tengah yang dilengkapi dengan televisi, satu set sofa bed dan satu set meja makan. Terakhir, ada ruang dapur segala.
Shaza Al Madinah
Saat jalan-jalan Madinah, tak banyak waktu untuk menikmati fasilitas hotel yang lain. Rata-rata pengunjung memang datang untuk menghabiskan waktu lebih banyak di luar hotel. Lebih sering mengunjungi areal masjid atau sibuk menyambangi tempat-tempat berbelanja di luar hotel untuk membeli buah tangan.
Madinah termasuk kota yang selalu sibuk hampir di sepanjang tahun. Jangan lupa untuk melakukan proses booking hotel jauh-jauh hari sebelum ziarah ke Kota Nabi ini. Untunglah, di era digital internet terkini, kegiatan booking hotel hotel di Madinah bisa dilakukan secara online.
***
Walau sudah delapan bulan berlalu sejak kami melakukan proses final exit di Bandara Internasional King Abdul Aziz, rasa rindu pada tanah suci belum terkikis sedikit pun. Hampir 3 tahun bermukim di Kota Jeddah, membuat saya sering merasa Jeddah sebagai rumah kedua saya :). Now that we are very far from there, I always wanna go home :). Semoga suatu hari, diizinkan kembali untuk mengunjungi tanah suci kembali. Termasuk kesempatan jalan-jalan Madinah ini. Amin :).
Semoga membantu ya informasi tentang hotel hotel di Madinah ini :).
Sudah masuk Dzulhijjah, jadi ingat rempongnya pas dulu masih tinggal di Jeddah pas bulan-bulan haji. Hehehe. Biasa, siap-siap jadi tuan rumah bagi teman-teman/kenalan yang datang hajian. Tiap tahun, adaaaaaa aja kerabat yang hajian. Alhamdulillah.
Bareng Tante Nel di Masjid Apung, Corniche Road (2012)
Nah, tahun lalu giliran kita deh yang hajian. Tapi tetap menjamu tante dan kakak sepupu suami yang juga hajian di tahun yang sama. Capek tapi senang ^_^.
Bulan-bulan haji yang dimaksud adalah bulan Syawal hinggal Dzulhijah. Selepas Ramadhan, biasanya Saudi mulai ‘lengang’ .
Mulailah warga Jeddah berkeliaran ke Mekkah dan Madinah. Termasuk saya dan teman-teman disini. Kalau ke Ka’bah setelah Idul Fitri, sepiiiii banget. Nyaman bener kalau bawa anak-anak.
Ke Madinah juga biasanya jadi pilihan. Karena tentu saja…harga hotel murah, Cyyiinnnn! Hahaha.
Mungkin sekitar beberapa minggu setelah Idul Fitri, Saudi kembali dibanjiri umat muslim dari segala penjuru dunia. Yap, musim haji telah tiba kembali . Kalau enggak salah, di tahun ini, jemaah dari Indonesia mulai mendarat sejak tanggal 11 september kemarin, ya. Ahlan, ahlan .
Mulai tuh kasak kusuk saudara-saudara/teman/kerabat siapa saja yang bakal datang. Kami kompakan menyerbu ke Bab Shareef dan Balad mumpung masih sepi. Kala jemaah haji sudah mulai ramai, harga juga bisa ikut-ikutan ‘ramai’. Hehehe.
Biasanya kami berburu buat oleh-oleh atau sekedar ngasih buah tangan buat saudara-saudara, kerabat, atau teman yang sedang berhaji. Kan pada janjian ketemu, tuh. Ada yang disambangi hingga ke Madinah. Atau disamperin ke Mekkah. Tapi kalau saya senengnya ketemuan di Jeddah saja … *ngiriiitttt *.
Bareng keluarga Bang Man dan istri di COrniche Road (2012)
Tahun 2011, saya sempat ketemu Ibu Hajjah cantik di bawah ini. Indhira, temen SD yang pas hajian kemarin nyempetin nelepon dan akhirnya ketemuan di Jeddah. Makan malam di Pattaya terus jalan-jalan bentar di Aziz Mall. Sayang, rata-rata cuma transit sehari ya di Jeddah .
Pemukim di Jeddah yang akan hajian pun mulai sibuk mencari hamla (biro haji). Hamlanya sendiri ada beberapa macam. Ada yang daftarnya via Islamic Center (yang tersebar di berbagai tempat), ada juga yang mendaftar ke hamla pilihannya secara langsung.
Biaya hajian via hamla dari Jeddah ini macam-macam. Kalau menggunakan tasrikh (semacam surat izin buat haji) minimal 2000 SR. Harganya bisa melonjak hingga 10 ribu bahkan belasan ribu (malah ada yang puluhan ribu) untuk fasilitas yang lebih yahud . Rata-ratanya sekitar 4000-5000 SR.
Tapi tahun ini, karena kisruh amnesti pekerja ilegal, Saudi kekurangan tenaga musiman yang biasanya direkrut dadakan di bulan-bulan haji. Hamla lokal kini menawarkan harga gila-gilaan. Menurut teman-teman di Jeddah, naiknya bisa 2 sampai 3 kali lipat *ngelapKeringat*. Untung dah hajian tahun lalu *fiuh* :D.
Ada juga istilah “haji koboi”, lho. Hajian pakai kuda dan topi koboi gitu? Hahaha. Bukan kaleeeee . Haji koboi sih katanya istilah buat haji ‘ilegal’. Masuk ke Mekkah tanpa tasrikh, dan biasanya lebih mudah dilakukan pas di hari wukuf. Konon, pas hari wukuf pemeriksaan di checkpointkota Mekkah lebih ‘longgar’.
Para “koboi” ini ada yang betul-betul mandiri. Bawa tenda atau kantong tidur sendiri. Dan nginep dimana aja sedapatnya. Ada juga “koboi’ yang rombongan. Jadi, pakai pemandu segala dan ramai-ramai dengan sesama koboi lainnya hehehe. Ini biasanya agak mahal dikit biayanya. Hati-hati sajalah. Kalau ketahuan, bisa kena deportasi katanya.
Tahun ini juga peraturan jauh lebih diperketat. Sudah ada mobil penjaga di checkpoint. Pengumuman larangan haji ilegal sudah ditempel jauh-jauh hari. Tahun-tahun kemarin, kan, cuma dalam bentuk rumor saja. Padahal aturannya memang ada dan tertulis, lho.
Selamat datang buat para jemaah haji asal Indonesia . Enjoy Mekkah-Madinah-Jeddah . Jaga kesehatan dan semoga menjadi haji yang mabrur. Amiiiiiiiinnn.
Dari usia 8 tahun, saya suka gemas kalau melihat cerpen-cerpen di majalah Bobo. Selalu terpikir, “Idih, kalau nulis ginian, gue juga bisa.” Hahaha. Pede tingkat dewa :P.
gambar : ivyleagueinsecurities.com
Dengan tekun saya tulis tangan sebuah cerita pendek di atas beberapa lembar kertas. Ketika dengan semangat menunjukkan hasilnya pada ibu, ibu malah bingung, “Ngapain ngerjain aneh-aneh. Nilai-nilaimu kan bagus-bagus. Konsen saja di sekolah.”
Sempat saya cari sendiri alamat redaksi di majalah bobo. Dari kakak saya, saya diberi tahu, “Pergi aja ke kantor pos. Beli perangko. Tulis alamat di amplop. Gampang, kok.”
Saya turuti. Benar-benar saya kirim cerpen tulisan tangan itu ke redaksi majalah Bobo Rasa bahagia membubung tinggi. Tidak terlalu peduli apa tulisannya diterima atau tidak. Di usia sekecil itu, saya sudah tahu passion sejati saya.
Seperti yang ada dalam trailer novel “Cine Us”, “Kenapa enggak kejar impian dari sekarang?”
Benar juga. Kenapa tidak dikejar sejak dulu, sejak kecil, di usia yang sangat dini, 8 tahun. Saya percaya diri punya bakat, ambisi pun menyala-nyala. Di SD ini, walau tak pernah meniatkan untuk publikasi, saya menulis dengan rajinnya minta ampun.
Hingga akhirnya kelas 6 SD, bapak saya meninggal. Ekonomi keluarga pasti terancam. Kami ini 7 bersaudara dengan ekonomi menengah. Bapak pencari nafkah utama. Saya jadi tersadar. Benar kata ibu, ngapain, ah, mengejar hobi yang tidak pasti begini. Mending saya konsentrasi belajar serius.
***
Dari kelas 1 SMP, menjadi dokter adalah cita-cita saya. Prestasi sekolah saya memang tokcer :P. Jika waktu SD, saya membagi konsentrasi antara menulis dan belajar, di SMP saya kurangi hobi menulis. SMA, saya tinggalkan 100%. Hanya menulis buku harian, tak ada lagi fiksi-fiksi ringan di atas berlembar-lembar kertas yang dulu bisa dikerjakan sambil senyum-senyum.
Di SMA, nilai rapor mencapai puncak. Dari cawu 1 kelas 1, sampai cawu 3 kelas 3, peringkat 1 di kelas tidak pernah lepas sekali pun.
Gambar : cerita.web.id
Namun, cita-cita menjadi dokter kandas di kelas 3 SMA saat seorang kakak kelas yang kuliah di kedokteran umum menceritakan kepada saya mengenai seluk beluk kuliah kedokteran. Harapan langsung menguncup. Biaya mahal, sekolahnya lama, kalau lulus masih berendeng hal yang harus dihadapi sebelum bisa praktik dengan honor ratusan ribu per pasien hihihihi :P.
Maunya kuliah agar cepat-cepat lulus dan tidak menjadi beban keluarga. Kalau bisa segera ikut menopang ekonomi keluarga. Jadi dokter, coret! Padahal, setelah menulis, menjadi dokter adalah ambisi terbesar ke-2.
Akhirnya, memilih kuliah di jurusan teknik informatika. Menurut pembimbing di tempat bimbel, masa depan lulusan informatika sangat cerah. Gajinya bisa gede walau baru lulus, gampang pula mendapat kerja karena lulusannya masih sedikit.
Pilihan ini saya simpan rapat-rapat. Semua sahabat mengira saya memillih kedokteran umum, termasuk ibu dan kakak-kakak saya hehe.
Jadi, ketika pengumuman UMPTN tiba, gempar deh, duaaarrrr! Walau saya sempat ragu, karena benar-benar tidak mengerti seluk beluk jurusan ini, tapi tetap semangat melihat ibu yang menghapus airmatanya saat membantu saya membereskan isi koper untuk berangkat merantau ke Jakarta. Kata ibu saat itu, “Hebatnya bisa tembus UI.”
***
Lulus kuliah dengan nilai gemilang, langsung meniti karir di IT cukup serius. Benar, begitu lulus langsung dapat kerja dengan gaji juta-juta. Hingga akhirnya bekerja di salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia. Berharap terus meniti karier lebih tinggi dari balik meja dengan mengandalkan kemampuan di bidang IT.
Masa-masa berkarier di kantor
Tahun 2008, anak pertama lahir. Setelah cuti 3 bulan, keraguan datang lagi. Di suatu pagi waktu mau berangkat kantor,tak sengaja melihat baby sitter saya bercengkrama dengan bayi saya. Bayi saya cekikikan mendengar si baby sitter menyanyikan lagu “Bintang Kecil.” Sakit hatinya jangan ditanya. Itu pertama kalinya melihat Nabil, anak sulung saya, tertawa. Dia tertawa pertama kali bukan dalam tangan saya.
Waktu itu mulai deh berpikir serius. Menata kembali tujuan hidup.Toh, dulu saya bekerja tujuan utamanya untuk melanjutkan tongkat estafet keluarga. Dari kelas 1 SMA, usaha yang ditinggalkan almarhum bapak sudah lama bangkrut. Rumah, kios tempat mengais nafkah dan segala macam sudah habis terjual.
Jadi, begitu lulus dan bekerja, saya niatkan separuh gaji untuk membalas jerih payah kakak yang sudah membiayai saya, dengan cara membiayai kuliah adik. Tapi, adik saya pun sudah lulus. Kakak-kakak yang lain juga sudah mulai mantap kariernya. Mungkin, sudah saatnya saya mulai berkonsentrasi penuh pada suami dan anak-anak saya, cinta saya yang baru.
Para ananda tercinta
Walau berat karena ibu sempat tidak setuju, saya kuatkan saja untuk resign. Di hari terakhir saat mengambil barang-barang di kantor, saya tersedu-sedu di atas meja selama hampir satu jam. Sungguh tak mengira, setelah 7 tahun penuh saya habis-habisan mengejar karier, saya sanggup memutuskan untuk berhenti.
***
Habis resign, tujuannya akan segera mengambil S2. Saya ingin menjadi dosen. Kalau menjadi dosen paruh waktu, diharapkan waktu lebih fleksibel dan berharap bisa kembali menekuni dunia menulis.
Yang terjadi, pertengahan 2010, suami memboyong kami ke Jeddah. Juli 2010, saya terbang berdua Nabil menuju bandara King Abdul Aziz di Jeddah, menyusul suami yang sudah terlebih dahulu tinggal di Jeddah.
Panjang sekali jalan untuk akhirnya bisa kembali menekuni ambisi utama sedari kecil setelah punya 2 anak, usia tak lagi muda. Saat aktif menulis ke media cetak dan menerbitkan buku di usia 33 tahun, seperempat abad telah berlalu sejak saya berkata kepada diri sendiri di usia 8 tahun, “Saya mau jadi penulis.”
A Writer Mom 🙂
Tidak menyesal juga harus menunggu 25 tahun :). Di setiap tahapannya, saya selalu menikmati. Walau tak selalu menjalani semuanya dengan ambisi penuh dalam diri sendiri. Saya rasa, kadang-kadang, impian dan cinta tidak selalu beriringan. Tapi, jangan khawatir. When it’s time … it’s time 🙂.
Di bangku sekolah, prioritas adalah belajar. Jangan diniatkan untuk diri sendiri saja tapi untuk cinta mereka yang berjuang agar kita bisa meniti jalan di sana. Ayah dan ibu saya, keduanya tak lulus SMP tapi begitu gigih menginginkan kami melebihi mereka.
Walau tak berhasil menggenggam ijazah dokter, di hari wisuda, dada lumayan sesak melihat wajah ibu bersinar bangga, “Wah, lulusnya cepat juga. Sudah kerja lagi.” Sebelum resmi mengenakan toga, saya sudah diterima bekerja :).
When it’s time to change, then its time to change
Don’t fight the tide, come along for the ride, don’t you see
When it’s time to change, you’ve got to rearrange
who you are into what you’re gonna be. (Brady Branch – Time to Change)
Jadi, arti kebanggaan untuk saya adalah … menyeimbangkan impian dan cinta sesuai porsinya masing-masing :).
Mungkin saja, kebanggaan itu letaknya di dalam diri sendiri. Tapi selain impian, ada cinta yang menjadi bagian dari rasa bangga. Membahagiakan semua yang kita cintai memang mustahil, tapi di tiap jenjang, di tiap langkah, kita selalu bisa memilih. Sementara saya pribadi meyakini, bangga itu satu paket dengan bahagia, “Happiness is a hard thing because it is achieved only by making others happy.”
Jangan sampai hilang asa karena merasa berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Percayalah, waktunya akan datang, segalanya akan berbayar. Kapan? When it’s time … it’s time :).
Buku Memoar of Jeddah : Kalau diberi pertanyaan mengenai film paling berkesan, kira-kira sama tidak, ya, jawabannya dengan film paling favorit? Karena buat saya, TIDAK .
Film paling berkesan itu justru … “Dreamcatcher”. Filmnya justru sama sekali tidak menarik. Manalagi saya bukan penggemar film thriller, apalagi thriller super garing yang melibatkan makhluk aneh-aneh macam cacing raksasa seperti di film ini .
Nonton film itu berempat, bareng teman-teman kampus yang malah akrab setelah kami lulus kuliah. Pas lulus itu, ceritanya nge-geng, hahaha, tua-tua kok baru punya geng . K
Sesekali, kami nonton film. Nah, waktu itu, sedang enggak ada film oke yang diincar. Langsung datang ke bioskop dan milih-milih judul yang ada saja. Tertarik dengan “Dreamcatcher” karena si Mr.G ngotot pengin nonton yang mistik-mistik katanya. Yang lain akhirnya setuju demi melihat potongan kalimat di bawah judul film, “based on novel by Stephen King.”
Itulah film terburuk yang pernah saya tonton di bioskop!
Peristiwa nonton film ini sudah diawali dengan insiden salah putar film. Setengah jam setelah duduk dalam teater, yang diputar malah film animasi.
“Eh, tadi bukan film animasi, kan?”
“Keluar yok ah, salah masuk bioskop kali.”
“Udah sih, liat aja dulu.”
“Kayaknya iklan doang ini.”
“Iklan? Ini udah ampir setengah jam gilak.”
Lagi seru-serunya berdebat, film benerannya pun diputar, “Dreamcacther.” Iya sih, 15 menit pertamanya bagus dan bikin penasaran. Kami menonton dengan serius. Tapi enggak ada angin, enggak ada hujan, begitu scene yang memunculkan seekor cacing raksasa dari balik jamban… hadeuuuhhh… penonton kecewa! Hahaha.
Sumpah ya, logika filmnya benar-benar aneh . Sudah ingin keluar bahkan sebelum satu jam film diputar, tapi ngapain di luar? Soalnya teman saya 2 orang berkeras mau menonton sampai habis. Sementara teman saya satu lagi sudah sibuk sms-an, tidak serius menonton lagi.
Keluar bioskop, Mr.G langsung jadi sasaran kemarahan. Hahaha. Sepanjang jalan menuju tempat makan malam, kami sibuk mencela film tersebut.
Nah, di janjian “Jalan-jalan berempat” seterusnya, momen ini terus terbawa-bawa. Padahal gondok pas hari H nya. Setelah itu, malah jadi bahan ketawa-ketawa… sampai terakhir kami bertemu kembali waktu mudik november kemarin. Film ini yang selalu kami bahas di hampir setiap kesempatan bertemu. Film yang paling berkesan dan tak terlupakan. Hehehe.
Memang begitu seringnya. Hal-hal yang berkesan justru tidak dibangun dari kejadian-kejadian indah dan selalu membahagiakan. Kadang, gampang saja melupakan pengalaman-pengalaman indah tapi sulit menghapus yang tidak indah .
***
Sebelum ke Saudi yang saya bayangkan wilayah ini pasti sangat religius. Walau berada di bawah kucuran sinar matahari nan menyengat, masa iya kehadiran dua kota suci, Mekkah dan Madinah, tidak bisa menyejukkan kehidupan sehari-hari pemukim di sana. Hidup bersahaja yang selalu ditunjukkan rasulullah pasti dong menjadi ciri utama masyarakat sana.
Kenyataan berbicara sebaliknya. Hampir seluruh wilayah elit perkotaan dikepung mal-mal besar dan megah. Sampai menganga, deh, kalau lewat di salah satu sudut Tahliya Street.
Kontras dengan membanjirnya mal-mal mewah, parkiran mal tidak sedikit yang dipenuhi pengemis-pengemis kecil yang menadahkan tangan atau menjual pernak pernik macam sapu tangan dll.
Lihat Ferrari mah sampai bosan. Itu deretan mobil mewah punya adiknya Atut yang bikin ngiler, bolak balik lewat di jalan-jalan besar Kota Jeddah . But again, di perempatan lampu merah yang jual asongan juga banyak.
Di Jakarta, di Jeddah…
“Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…” (Ahmad Syafii Maarif)
***
Sempat merasa gamang *tsaaahh*. Tapi ya, kalau cuma bisa bete apa pula gunanya. Rezeki suami toh ada di Jeddah. Suami selalu menghibur, “Kita kan tidak hidup dengan cara mereka. Kita di sini mencari rezeki.”
Pikiran mulai teralih. Manusia mah suka rusuh memikirkan hal-hal di luar jangkauan –> tunjuk diri sendiri! Seringnya luput berkaca ke dalam diri sendiri.
Benar kata suami. Merantau ke Timur Tengah relatif lebih mudah daripada melangkah langsung dari Indonesia ke negara-negara maju. Wajar. Saingan dikit hehe. Biaya hidup murah (beda lho dengan negara TimTeng lain), apalagi untuk penganut Goberisme . Selisih pendapatan dan pengeluaran yang jumlahnya lumayan bisa dipersembahkan sebagai devisa untuk tanah air . Syukur-syukur mengurangi kepadatan penduduk Jakarta juga, kan? Hehe.
Kelakuan orang-orang di Jeddah juga luar biasa. Sekolah hafidz di mana-mana, tapi entah dimana itu hapalan alquran yang dibangga-banggakan dalam berinteraksi dalam keseharian, apalagi kalau sudah menyetir di jalan raya. Semenjak di Jeddah, jadi rajin baca doa keluar rumah, nih, sebelum mobil distarter hahaha.
Banyak sekali alasan untuk jengkel. Apalagi kalau bermukim sebagai pendatang. Indonesia pula, perempuan pula. Otomatis itu stempel ‘TKW’ terukir di dahi masing-masing. Yassalam ya, mesti banyak-banyak istighfar hehe.
Suami pernah menyarankan saya yang awalnya ngomel-ngomel melulu untuk meng-upgrade penampilan, “Belilah satu dua barang mahal. Abaya yang elit dikit. Daripada ngomel melulu.”
Rasain lu dinyinyirin sama suami sendiri hehe.
Lalu, kita jadi belajar dengan sendirinya. Begitulah cara-cara unik Tuhan untuk membuat kita belajar. Memegang prinsip di tengah terjangan dunia yang sungguh jauh berbeda dari yang dicita-citakan. Mengomel tanpa jelas juntrungannya? Capek doang dapatnya.
Itulah ujiannya. Bagaimana menjalani keyakinan tanpa perlu sibuk ngomelin lingkungan.
Setelah sok-sok ikhlas menerima keadaan, mulai dong memutuskan untuk menciptakan kebahagiaan ala diri sendiri. Tanpa perlu meleburkan diri dalam hal-hal tidak disukai sekaligus tidak perlu memprotes mereka yang memilih untuk ‘berubah’.
Daripada menyibukkan diri dengan yang bete-bete, mari dicari-cari apa yang bisa dinikmati. Mumpung hidup di tengah situasi ‘keras’, saatnya berusaha menggembleng diri untuk menjadi lebih bijak. Katanya sih begitu hehe.
Malah di Jeddah, jadi rajin menulis. Padahal resign sudah dua tahun sebelumnya. Bikin blog komunitas macam-macam. Judulnya blog komunitas, tapi behind the screen nya mah, eike-eike juga yang menulis hahaha. Tapi, jam terbang sudah mulai menunjukkan hasilnya, kan? .
Betul juga ternyata. Kala sudah ada kepastian harus hengkang dari Jeddah, ide menuangkan pelajaran-pelajaran penting yang dituai selama tinggal di Jeddah mulai ada. Begitulah asal mulanya “Memoar of Jeddah” dituliskan .
Banyak yang ‘berat’ dan mengesalkan, tapi kesannya justru dalam banget. Ratu drama pun mulai beraksi. Hampir tiap hari, di sebulan terakhir tinggal di Jeddah, terangkai banyak cerita dalam draft. Sebagian saya posting di wall, sebagian tetap dalam draft pribadi.
Kesal suka disangka ’embak’? Beragam pengalaman yang bikin gondok? Kita pun jadi memahami sepenuhnya … “People with bad behaviour only exist to remind us not to do the same thing” .
Bete dilecehkan karena penampilan? Tekankan kepada diri sendiri untuk tidak seenaknya menilai orang dengan cara yang sama. Inspirasi yang ini bisa ditemukan di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” –> “(Never) Judge a Book by Its Cover.”
Apa iya orang-orang Arab itu kasar-kasar semua? Nah, jangan sampai mendengar cerita segelintir orang membuat kita bermain-main terlampau jauh dengan stereotip. Walau stereotip bahwa “Orang Bugis pasti manis” itu benar adanya (lemparin cermin :P), tapi belum tentu penilaian negatif tentang orang lain juga benar, kan?
Inspirasi tentang pengalaman pribadi saya berupa interaksi langsung orang-orang Arab selama di Jeddah, ada di chapter 8, “People We Haven’t Met Yet.”
Anugerah di tengah keterbatasan kehidupan perempuan di Saudi jauh lebih besar, salah satunya ada di 2 chapter favorit sang penulis. Yang pertama di chapter 2, “Saat Ka’bah Hanya Berjarak Satu Jam Saja.” Dan di chapter paling panjang, terukir dalam 20 halaman penuh, kisah “Naik Haji via Jeddah” dari hari pertama hingga hari ke-6 prosesi haji.
Kehidupan khas ala Saudi yang mungkin tak ada di tempat lain ada di chapter 4, “Ngabuburit ala Orang Arab” dan chapter 7, “Bergaya dengan Abaya.”
Tempat liburan hanya ada di Mekkah dan Madinah? Waduh, berarti belum pernah tinggal di Jeddah ini hihihi. Dari chapter 11-16, silakan dinikmati pesona lain Saudi selain 2 kota suci tadi .
Cerita jalan-jalan, lengkap dengan foto-foto. Walau dicetak hitam putih, foto-fotonya itu mahakarya fotografer kelas dunia, Bapak Dani Rosyadi . Mahakarya dari fotografer yang sama yang juga yang menghiasi cover buku “Memoar of Jeddah.” Abis ini gue pasti dapat inbox, “Lu ngapain sih bawa-bawa nama gue.” Hahaha. Sungkem dulu sama suami .
Chapter sisanya, berinti sama, bahwa kita sering terjebak dalam paradigma, “katanya, katanya, katanya…” Ingatlah salah satu mutiara pembelajaran dari Sayyidina Ali, bahwa, “Manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya.”
Bukunya ditutup dengan kesimpulan panjang lebar yang bisa dipadatkan dalam satu kalimat andalan yang jangan bosan ya bila sudah sering ditulis … “Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” .
Chapter penutup, chapter 18 : “When One Door Closes, Another Opens.”
Demikianlah curhat sang penulis selama tinggal di Jeddah dipersembahkan dalam 18 chapter tulisan di dalam sebuah buku bertajuk, “Memoar of Jeddah, How Can I Not Love Jeddah?”
Kasihan lho ini, menyusunnya sampai berbulan-bulan . Beli yaaaa –> pasang tampang imut ala Pussy Boots . Kalau pun kurang berkenan membeli, minimal suruh temannya yang beli. Kan bisa numpang baca, tuh, hahaha.
Terbit tanggal 16 september 2013, sudah bisa didapatkan di toko-toko buku gramedia di seluruh Indonesia. Harganya sekitar 29 ribu rupiah. Mendapat diskon 10-15% bila dibeli via toko-toko buku online : inibuku.com, grazera.com, gramediaonline.com, parcelbuku.net dsb.
Mumpung sabtu-minggu tuh besok. Patungan deh patungan ama temannya hehehe. Kan bisa tuker-tukeran bacanya. Umm…apalagi ya kalimat bujukannya? hahaha. Alamak, susahnya cari uang, yak .
Therefore, saya tutup tulisan ini dengan pepatah cantik dari Marthen Luther King, Jr :
The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.