Brighter Than Tomorrow

Martin Luther menggugat Gereja Katolik Roma di awal abad ke-16. Rasa tidak sukanya kepada kekuasaan Gereja Katolik tidak muncul serta merta. Tapi dari yang sedikit demi sedikit itu makin membuncah ketika Martin melawat langsung ke Roma dan menyaksikan sendiri kemewahan duniawi para pendeta Gereja Katolik kala itu.

Di bulan Oktober 1517, Martin menempelkan selebaran berisi 95 dalil yang berisi penegasan sikapnya. Utamanya terhadap kemewahan para penguasa Gereja Katolik dan kritik tajamnya terhadap mekanisme pengampunan dosa.

Kala itu, Gereja Katolik memperjualbelikan ‘surat penghapusan dosa’ kepada umat Katolik yang hendak memohon pengampunan. Martin menganggap, sejatinya dosa hanya akan terhapus dengan kesadaran pribadi dari sang pelaku.

Sementara transaksi jual beli ‘pengakuan dosa’ oleh para pastur dianggap akan menyesatkan umat yang akan lupa pada pentingnya pertobatan sejati oleh pribadi yang bersangkutan.

Martin tidak hanya mengandalkan secarik kertas yang ditautkannya pada pintu gerbang Gereja Wittenberg, tapi beliau mencetak dan menyebarkan selebaran yang sama kepada orang banyak. Cara inilah yang membuatnya ajarannya merembet luas dengan cepat.

Sekali pun sejarah menunjukkan, pembawa ajaran ‘Protestan’ di masa lampau sebenarnya sudah ada namun gemanya terlalu kecil.

Kecerdasannya dalam memilih metode penyebaran membuatnya lolos dari jeratan hukuman gantung bagi dirinya yang akhirnya ditetapkan sebagai penganut aliran sesat oleh petinggi Gereja Katolik di Jerman.

Selebarannya ternyata sudah menyebar jauh dan mendapat dukungan yang tidak sedikit. Pihak Gereja Katolik menjadi enggan dan hanya memerintahkan pembuangan kepada Martin Luther.

One thing we can learn from him. Sebaik apa pun maksud/tujuan yang kita ingin sebarluaskan kepada orang banyak, kalau caranya kurang tepat, efeknya akan kurang mumpuni.

Zaman belum ada media sosial dan internet saja, seorang Martin Luther sudah kepikiran menyebarluaskan isi pikirannya dalam bentuk tulisan terstruktur. Bukan dengan ngamuk-ngamuk di jalan atau ngancam-ngancam demo ya, Kakaaa 😉.

ucapan selamat natal
Clonmacnoise, Irlandia

***

Martin Luther lahir di Eisleben Jerman di tahun 1483. Sebenarnya, Martin tengah berusaha menuntaskan sekolah hukumnya ketika sebuah kejadian dramatis menimpanya. Martin lolos dari kematian ketika sebuah petir menyambar di sampingnya saat perjalanan pulang dari sekolah. Martin berseru dalam ketakutan dan berjanji akan menjadi biarawan.

Ditinggalkannya bangku sekolah hukum untuk memperdalam ilmu teologi. Saat inilah Martin memperdalam ilmu alkitabnya. Tak hanya sekadar mempelajari isi alkitab, Martin menerjemahkan isi alkitab ke dalam bahasa Jerman sesempurna mungkin sehingga memudahkan warga Jerman yang ingin mempelajari alkitab.

Tak berarti Martin Luther tak terlepas dari beberapa kesalahan penting. Diantaranya adalah sikapnya yang sangat ekstrim. Konon, karena sikap ekstrimnya inilah yang membuahkan terjebaknya Jerman dalam Perang 30 tahun (1618 – 1648) yang diwarnai perseteruan kental antara Protestan vs Katolik.

Perlawanan Martin Luther juga membawa angin segar bagi bangsawan Jerman yang ingin melepaskan diri dari Roma. Dan sikap anti semitnya yang berlebihan, kebenciannya yang amat sangat kepada kaum Yahudi, dianggap membuka jalan bagi Hitler untuk ‘memberantas Yahudi’ dengan NAZI-nya di masa Perang Dunia II.

Walaupun pemeluk kepercayaan Kristen Protestan bukanlah terbanyak di dunia, tapi sejarah tetap menempatkan Martin Luther sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia. Meskipun ironisnya, di daratan Eropa, wilayah kelahiran Martin Luther, kepercayaan terhadap agama makin menciut.

Makin ke sini, hadirnya bibit-bibit atheisme makin tak terbendung. Sekalipun Protestan dan Katolik bisa dikatakan telah saling berdamai secara universal .

Saya sudah bertemu satu diantaranya. Bertemu muka dan berdiskusi langsung secara tak sengaja di acara Morning Tea di rumah seorang teman beberapa bulan yang lalu. Teman saya, Clara, ini juga dari Indonesia, lho. Hanya ada 2 keluarga asal Indonesia di Athlone ini hihihi.

Di rumah Clara pagi itu, hadir 2 teman yang lain. Fatima yang berasal dari Arab Saudi dan Jean yang aslinya berasal dari daratan Cina tapi sudah berganti kewarganegaraan. Jean resmi memegang paspor Irlandia sejak tahun lalu. Maaf ya Mommie Clara, namanya disebut-sebut ini biar enggak disangka hoax hehe. Masih ingatkah dengan perbincangan kita di pagi itu?

Sebenarnya waktu itu saya lebih banyak diamnya. Clara juga. Sementara Fatima dan Jean berdebat soal agama, eike sibuk makan risoles dan bolu coklat buatan Mommie Clara hahaha. Mulut sibuk ngunyah tapi telinga saya siaga penuh mendengarkan mereka berdua asyik berdiskusi.

Uniknya, si Fatima dan Jean ini bersahabat karib, lho hihihi. Keren yah pertemanan mereka berdua. Saya sampai takjub, pas pulang, Jean yang mengantar Fatima pulang dan mereka cekikikan berdua lagi . Padahal di meja makan tadi, keadaan sempat memanas.

“I don’t believe in any religion. As long as you’re being nice to other. We don’t hurt each other, that would be perfect. Well, for me at least. Because I don’t mind if others think different.”

Secara tersirat, Jean mengeluhkan kalau biasanya, menurut dia pribadi sih, orang yang punya agama akan selalu rusuh melihat orang yang beragama lain. Jadi menurutnya, apa pentingnya punya agama kalau penganutnya selalu kesulitan berdamai dengan kepercayaan orang lain.

Sebenarnya, itu sinyal yang salah. Karena sejatinya, tiap agama itu mengajarkan kasih sayang mutlak. Jangan salahkan orang-orang seperti Jean, yang jumlahnya mungkin sudah banyak di mana-mana.

Mari kita berkaca kepada diri sendiri, apa yang membuat mereka berpikir bahwa instead of membawa kedamaian, beragama hanya membuat penganutnya menjadi arogan dan sulit melihat kebaikan pada diri penganut agama lain.

Kata agama itu sendiri, secara harfiah artinya .. a = tidak, gama = kacau. Agama = tidak kacau. Justru pening kepala, hampir semua kekacauan besar yang melelahkan dan memakan korban jiwa tidak sedikit di berbagai belahan dunia justru karena perbedaan AGAMA .

Jean, dan mungkin teman-teman atheisnya yang lain luput berkaca pada sosok Mahatma Gandhi. Saya sengaja tidak membawa Rasulullah, manusia favorit saya nomor satu. Dikarenakan saya muslim dan nanti disangka narsis hahaha. Tapi, saya pun kagum pada sosok sang Mahatma .

Gandhi konon merupakan salah satu pihak yang berkeras jika India tidak harus terpecah. Dia yang meyakinkan umat Hindu bahwa Hindu dan Islam bisa hidup dalam satu pemerintahan. Tidak hanya gagal, Gandhi meregang nyawa di tangan umatnya sendiri. Umat fanatik yang menganggap Gandhi terlalu pilih kasih kepada umat muslim.

Gandhi yang Hindu, dengan gagah berani, datang ke Bengal, ikut menyelesaikan kerusuhan antar agama yang meledak di sana pasca kemerdekaan India dan Pakistan dari tangan Inggris.

Begitulah seharusnya cermin orang yang beragama dengan benar. Tak pernah merasa terusik terhadap kehadiran orang lain. Iman yang tinggi selalu akan disertai rasa kepercayaan diri yang tinggi. Tak pernah merasa susah dengan kepercayaan orang lain . Berdakwahnya tidak dengan cara,”Lo kafir, lo kafir, lo kafir” . Hehe.

Maka … sudah selayaknya kita kaum beragama mengembalikan kepercayaan Jean dan teman-temannya , bahwa agama tidak akan membuat penganutnya rusuh dan eyel-eyelan enggak jelas. Ibadah ritual kan memang urusan sendiri-sendiri.

Asal urusan korupsi pastinya kompak dong, yaaaaa. Ihiiyyy…bagi-bagiin pentungan buat nabokin koruptor . Lah, malah ngajak rusuh! Hahaha.

Mengutip ucapan Gus Nuril dalam pidato kebangsaannya dalam perayaan Natal di Gereja Bithany Tayu beberapa waktu lalu, “Banyak orang mengira sedang mengabdi kepada Tuhan dan agama. Padahal sebenarnya, mereka hanya sedang melayani nafsunya sendiri.”

Saya pribadi tidak percaya semua agama sama. Karena kalau sama, ngapain pakai jilbab – salat 5 waktu – puasa belasan jam waktu ramadan kemarin? Kan mending milih ke gereja, cuma seminggu sekali, pakaian bebas, bisa pamer-pamer rambut Sunsilk-ku yang hitam lebat ini *pinjemSisirDong* hihihi.

Yang saya tidak percaya, keimanan saya terhadap Islam harus ditingkatkan dengan penolakan saya terhadap kepercayaan ritual orang lain. Kalau soal muamalah sih harusnya banyak sekali yang mirip-mirip.

Prinsip-prinsip kebenaran universal macam kejujuran-kerja keras-kesederhanaan-keikhlasan-empati dsb – terukir jelas di kitab agama masing-masing. Tak terbantahkan. Absolut.

Damai terus bumi Indonesia tercinta. Tempat bersatunya berbagai macam agama dan kepercayaan, suku dan bangsa, bahasa dan ragam budaya.

Persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia. Kalau kita bersatu, pihak mana pun hanya akan menemui kesia-siaan jika ingin mencoba mengail di air keruh . Biarkan saja belahan dunia lain rusuh. Tugas kita mendoakan dan mendamaikan. Bukan ikut ribut ya, Cyiiiinnn. Bagi-bagiin handuk basah buat mendinginkan kepala .

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”― Winston Churchill

Satu lagi dari Gus Nuril …

“Kalau sampeyan sudah mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kasih, menjadi anak-anak Tuhan, maka kewajiban anda semua mengaplikasikan makna Sang Pengasih itu dalam kehidupan sehari-hari.” -Gus Nuril-

Mari kita hadirkan Sang Maha Kasih, Ar Rahman Ar Rahiim, dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selamat merayakan Natal 2013 kepada saudara-saudariku yang merayakan .

“There’s A Place InYour Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow…”

Heal The World – Michael Jackson

 

Thuwal Beach yang Mempesona, Jalan jalan Arab Saudi

Konon, kata teman-teman saya yang masih berada di Jeddah, Pantai Thuwal sudah tidak seperti dulu lagi. Mungkin maksudnya, Pantai Thuwal sudah tidak sebersih dulu lagi. Padahal yang membuat saya betah banget datang dan datang lagi ke sana ya karena kebersihannya dan fasilitasnya yang lumayan lengkap. Episode Thuwal termasuk jalan jalan Arab Saudi yang paling berkesan.

jalan jalan Arab saudiPantai Thuwal letaknya di Kota Thuwal. Thuwal terletak segaris dengan Kota Jeddah, sama-sama di pesisir barat daratan Arab Saudi. Yang menyebabkan kota-kota di wilayah  barat banyak yang berbatasan langsung dengan Laut Merah.

Namun, pesisir Thuwal letaknya di daerah tanjung. Pantainya berair tenang dan tak ada ombak besar. Kita bebas berenang di pinggiran lautnya.

Berjarak 80 km di sebelah utara Jeddah, itungannya dekat banget :). Wajar, kalau Pantai Thuwal ini hampir selalu menjadi spot untuk acara kumpul-kumpul versi pantai. Kalau bosan di Corniche Road – Jeddah, kita konvoi ramai-ramai ke Pantai Thuwal.

jalan jalan Arab Saudi

Pantai Thuwal ini terhitung baru. Saya ingat, sekitar bulan Oktober apa November tahun 2010, kami bertiga sekeluarga jalan-jalan ke Kota Thuwal. Narda belum ada, masih di dalam perut :P. Rencananya waktu itu mau mengunjungi KAUST, universitas bertaraf internasional yang letaknya di Kota Thuwal.

Uniknya lagi, dalam kompleks universitas yang terhitung luas itu, aturan khas Saudi tidak berlaku. Jadi, boleh melepas abaya, perempuan boleh menyetir dsb. Maklum, universitasnya sebisa mungkin menarik perhatian pelajar dari seluruh penjuru dunia :D.

Eh, kami malah nyasar ke pantainya :D. Tempo itu, kami ragu mau masuk, karena sepiiiii banget. Kirain private beach, yang masuknya pakai bayar. Di beberapa area juga nampak masih belum rampung 100%.

Jalan jalan Arab Saudi
Thuwal Team, Desember 2010 🙂

Nah, waktu mengusulkan jalan-jalan ramai-ramai di bulan Desember 2010, tercetus deh niat untuk ke Pantai Thuwal. Ternyata, pantainya untuk umum dan … gratis! *BibiGoberLangsungLega* hahaha.

Di penghujung tahun 2010 itulah pertama kali saya ke Thuwal. Ramai-ramai tentu saja. Semacam arisan, gitu hehe. Sungguh tidak menyesal, ya. Musim dingin membuat angin bertiup sepoi-sepoi. Walau terik tapi tidak terasa panas. Anak-anak puas bermain, emak-emak puas foto-foto hahaha.

Jalan jalan Arab SaudiWaktu itu, kami berangkatnya pagi. Walau kesepakatan jam 7, tetap saja perginya jam setengah 9 hihihihi. Menjelang ashar, baru kami pulang.

Lalu, agak lama bosan menginjak pantai. Kalau pun ke pantai, kami memilih Yanbu atau Rabigh yang agak jauhan. Tenang, Yanbu dan Rabigh akan diulas juga nanti :D.

Bulan November 2011, jalan jalan Arab Saudi kepikiran ke Thuwal lagi. Kali ini, acaranya agak sorean. Selepas ashar baru mulai konvoi. Ini agak sedih acaranya, karena salah satu anggota inti Geng Madam (hihihi) akan segera hengkang dari Jeddah…for good. Semacam acara jalan-jalan perpisahan gitu kali, ya :(.

Pertama kalinya ada keluarga yang hendak pamit. Sedih banget lah. Tapi dasar emak-emak, hari itu, kami benar-benar tampil gonjreng hahaha. Ada  yang memakai abaya berwarna pula :P. Foto-fotonya malah ngikik-ngikik.

Jalan jalan Arab Saudi

Yang kali ini, kami sampai lama baru ninggalin pantai hihihi. Sampai malam jam 9 gitu kalau enggak salah. Bapak-bapak dan anak-anak sibuk main layangan selepas magrib. Sayang enggak ada foto-fotonya pas main layangan itu.

Enaknya pantai yang satu ini, fasilitasnya bagus. Tak cuma dilengkapi banyak kamar mandi dan petugas kebersihan, juga ada semacam bangunan terbuka yang bisa dipakai duduk-duduk. Luas pula. Bila malam tiba, lampu-lampunya juga menyala. Tetap cantik suasananya menjelang malam :).

Jalan jalan Arab Saudi

Kunjungan beramai-ramai berikutnya adalah di bulan September 2012. Kali ini, saya kebagian menjadi koordinator acara arisan. Langsung gatal mau bikin lomba ini lomba itu hahaha. Bosan juga, ya, saban jalan-jalan merengek-rengek ke para suami minta foto-foto :P. Anak-anak selalu dibiarkan main sendiri.

Nah, jadilah waktu arisan September itu, dibantu 2 madam keren ini, Madam Mira dan Anggi, jadi deh kita bikin lomba untuk lucu-lucuan untuk anak-anak. Disediakan hadiah iseng-iseng segala biar mereka pada semangat. Anak kecil mah dikasih hadiah apa juga senang yaaaaaa ^_^.

jalan jalan Arab Saudi

Salah satu  lombanya itu lomba makan kerupuk. Indonesia sekaleeeee hihihi. Iya dong, biar pada enggak lupa sama kampung halaman ;). Lagian, yang namanya kerupuk berhamburan yang jualan di Jeddah mah ya. Makanan khas tanah air apa, sih yang enggak ada di Jeddah? ;). Itulah enaknya tinggal di Saudi. Perut terjamin lahir batin :P.

Anak-anaknya heboh. Bapak-bapaknya juga semangat foto-fotoin mereka. Emak-emaknya apalagi, lebih semangat lagi girangnya hahaha…

Terus ada lomba mencari harta karun untuk yang lebih kecil. Thanks untuk Madam Mira yang sudah niat banget bikinin topi ala bajak laut ^_^. Giliran para krucils versi balita yang beraksi :D.

Jalan Jalan Arab Saudi

Dikira habis lomba, anak-anak sudah capek. Widih, baterenya masih full. Semuanya berlarian ke arah pantai dan sibuk main pasir. Yang gede-gede langsung nyemplung ke air. Bapak dan emak-emaknya pun  towel-towelan ganti-gantian jagain anak. Soalnya yang satu grup sibuk ngerumpiin kamera plus foto-foto pemandangan, satu grup lagi sibuk menata makanan sambil bergosip di atas tikar :D.

“Ayaaaahhh…jagain anak-anak, dong.”

“Yaaaa, Bunda ajalah…”

“Gantian ah, Ayah duluan…”

“Bunda dulu. Entar baru Ayah nyusul, deh.”

Hahahaha…

Jalan jalan Arab Saudi

 

September 2012 itulah, terakhir ke Thuwal di jalan jalan Arab Saudi :). Kenangan penghabisan di masa-masa bermukim di Jeddah.

Kalau di Jeddah itu senangnya karena ke mana-mana selalu segerombolan full hihihi. Sampai-sampai kita pernah sok-sok-an mau offroad di Gurun Bahrah, yang punya sedan juga gatal mau ikutan. Sedannya sih ditinggal di parkiran. Penghuni sedan umpel-umpelan di dalam Fortuner, Jeep sama CX-9 hahahah. Apa pun demi mejeng di gurun ya, Kakaaa.. Tenaaaanggg, jalan-jalan ala offroad tebengan ini pun akan dikupas tuntas … nanti! Entah kapan :P.

Ya gitu deh, jalan jalan  Arab Saudi ala Keluarga Besar Telco Indonesia di Jeddah ^_^. Katanya, sih, sekarang sudah jarang main ke Thuwal karena tempatnya sudah tidak sekeren dulu lagi :(. Tapi .. jadi ketemu banyak spot jalan-jalan yang lain. Seperti Al Baha yang hijau dan sejuk :). Sayangnya, sampai final exit dari Saudi, belum kesampean mencicipi segarnya udara pegunungan di Al Baha huhuhu -_-.

Udah, ah, malah curcol enggak penting hahaha. Salam hangat dari semenanjung Thuwal. Kalau masih ada umur panjang, in shaa Allah  berkesempatan jalan jalan Arab Saudi  lagi ^_^. Amin :).

Jalan Jalan Arab Saudi

Syarat Pengiriman dan Contoh Cerpen ke Femina dan Kartini

Pengiriman dan Contoh Cerpen ke Femina

Perasaan sudah pernah posting tentang ini, ya? Tapi lupa di postingan yang mana. Banyak yang bertanya jadi daripada bolak balik, ditulis saja selengkap mungkin di satu tulisan khusus :). Mohon maaf tidak bermaksud berlambat-lambat menjawab. Tapi kadang ketelisut aja mau nulis tema yang mana. Udah dipikirin eh pas depan laptop yang lain yang ditulis hahaha.

Kok Kartini sama Femina doang? Ya pernah dimuatnya di situ doang. Itu pun cuma 3 kali hihihi. Entah kenapa sekarang jarang sekali menulis cerpen-cerpen lagi :(. Banyakan malasnya nih *getokKepalaSendiri*.

Kalau berminat mengirim cerpen ke Femina dan Kartini. Syarat-syaratnya sbb :

1. Kartini, jumlah karakter (with space) sekitar 13.500 karakter (lebih kurang dikit boleh lah ya). Femina sekitar 12.000 karakter (with space).

2. Fontnya bisa TNR bisa Arial, spasi 1.5 atau double juga boleh.

3. Alamat redaksi Kartini –> redaksi_kartini@yahoo.com. Alamat redaksi Femina –> kontak@femina.co.id

4. Honor di Kartini 350 ribu rupiah (transfer setelah sebulan dimuat), di Femina 850 ribu rupiah (transfer semingguan setelah dimuat).

5. Tema sih mirip-mirip, ya. Tapi ingat, Femina tidak suka cerita tentang ‘perempuan cengeng’ . Kartini juga sepertinya sih begitu hehehe. Coba tempatkan tokoh perempuan sebagai subyek yang lebih “kokoh” bukan ‘korban’ dan gitu-gituan lah.

6. Keduanya selalu memberitahu apa tulisan akan dimuat atau tidak. Tapi Kartini tidak spesifik menyebutkan kapannya sedangkan Femina selalu memberitahu nomor edisi pemuatan sebelumnya. Pengalaman teman lain sih ada juga yang tahu-tahu dimuat di Kartini. Kalau Femina konsisten mengabari.

7. Contoh-contoh cerpen di sana… boleh cek di website Femina untuk Femina. Tapi kalau mau ke blog saya juga boleh hihihihihi.  

Ini cerpen saya yang pernah dimuat di Kartini –> https://jihandavincka.com/2013/05/26/cerpen-yang-kumau/

Ini cerpen di Femina yg Juni 2012 –> https://jihandavincka.com/2012/06/27/namanya-aryana-femina-no-242012/

Yang “Namanya Aryana” ini sudah ada versi vlognya loh, buat yang mau baca cerpennya dengan  background gambar dan musik, monggo cusssss 😉

Ini cerpen ke-2 di Femina yg Desember 2012 –> https://jihandavincka.com/2013/01/02/cerpen-tiga-rahasia/

Pokoknya kalau dirasa ada tulisan yang sudah jadi dan layak muat, kirim saja! Pede aja! :D. Kan enggak akan tahu kalau enggak dikirim? ;). Selera editor juga kita enggak bisa nebak.

Demikian deh ya, pengiriman dan contoh cerpen ke Femina dan Kartini. Hope that helps ^_^.  

Pengiriman dan contoh cerpen ke Femina

Let It Go, Let It Go

“Let it go, let it go … couldn’t keep it in, Heaven knows I tried …
Don’t let them know, don’t let them see …”

Film “Frozen” pas sekali menjadi hits kala musim dingin tengah melanda belahan utara dunia.

Saat berjalan hampir mencapai pintu gerbang gedung apartemen di kamis pagi kemarin, pemandangan mendadak berubah. Kapas-kapas putih berjatuhan dari langit.

Bukan pertama kali saya bertemu hujan salju. Sudah pernah beberapa kali. Pas sedang tidak ingin keluar rumah pula waktu itu. Mengintip lewat kaca jendela saja. Biasanya … hujan saljunya sedikit dan tidak lama.

Tapi pagi itu, lebat, booooo … Irlandia memang tidak akrab dengan hujan salju. It’s not something common here. Sudah terlanjur mau berangkat ke sekolah. Sempat ingin balik badan untuk berteduh. Dipikir, hujan enggak lama, 5 menit beres.

Untung saya tetap berangkat, salju terus mengguyur lebat sampai 30 menit.

Di jalan, awalnya Nabil heboh, “Mommie, look at your coat, it’s all white. Look at the road! Look at Narda’s stroller.” Norak-norak bergembira lah pokoknya, pertama kali jalan-jalan di bawah guyuran salju. Tapi sumpah, dingin, gilak.

Karena tidak mengira bakal turun salju, saya dan Nabil tidak membawa sarung tangan. Setengah perjalanan, Nabil mulai menggigil, “Mommie, I can’t hold the umbrella. My hands are freezing.”

“Deket lagi kok. Payungnya jangan dilepas.”

Maksudnya dia, dia pengin masukin tangannya ke dalam saku sementara saya tak bisa membantu memegang payung. Eike kan kudu dorong stroller.

Untungnya, sampai sekolah Nabil langsung hepi lagi.

Pulang ke rumah, saking khusyuknya menikmati hujan salju (hahaha), tak sadar tangan sudah memerah. Begitu masuk, rasanya sakit banget. Tapi tetap ya boo, buru-buru nyalain laptop, online di skype, nelepon suami nun jauh di Amerika Latin sana, “Papaaaaaaa, barusan hujan salju. Lebat banget. Ih, seruuuu…”

Suami yang masih muka bantal hanya bisa bengong mendengar bininya koar-koar enggak jelas. Hahaha.

Beberapa menit setiba di rumah telapak tangan sakit banget dan merahnya agak lama baru memudar, tetap saja senyum-senyum sendiri. Dalam hati terus bergumam, “It’s really beautiful. No regret.” 

***

Mungkin, memimpikan berjalan di bawah salju seperti memimpikan gelar seorang ibu. Sebelum hamil, pikir kita, ah, pasti senang banget kalau hamil-melahirkan-merawat anak dan seterusnya. Intinya, diharap yang indah-indahnya saja.

Giliran hamil, mabok berbulan-bulan sepanjang hari. Melahirkan jangan dikira enteng. Mau normal, mau via SC, perjuangannya tetap bikin ngelap keringat. Apalagi giliran merawatnya, du-du-du-du … antara mau bersenandung atau mau jambak-jambak rambut ini hihihi. It’s not easy but still… it’s beautiful 🙂.

Musim dingin berlalu, kala musim semi bergantian musim panas, rasanya pengin melihat salju lagi. Sama dengan punya anak. Begitu sudah lewat masa-masa ‘sulit’, kembali gelendotan ke suami, “Pa, bikin lagi, yuk!” Hahaha.

Menjadi perempuan, dramanya tidak sedikit. Sudah pakemnya hehehe. Dari usia sekolah sirik-sirikan model rambut, pas abege rebutan laki-laik #eh , begitu dewasa – menikah – punya anak, ajang kompetisi berlanjut ke masalah anak.

Waktu masih bekerja sehabis melahirkan dan pas ngantor rutin mengunjungi nursery untuk memompa ASI, ada kejadian unik.

Suatu sore, saya masuk ke dalam ruangan nursery seperti biasa. Tumben, sepi. Saya pikir tidak ada orang, karena ruangannya berbentuk huruf L. Eh, tiba-tiba terdengar suara teman yang lagi menelepon. Kira-kira dia memberikan instruksi seperti ini,

“Iya, kasih saja susu yang itu. Kalau habis, kaleng barunya ada di lemari dapur. Tempat biasa.”

Saya tahu itu suara siapa. Saya sudah keburu masuk. Saat dia berbalik badan melihat saya, dia mendadak gagap.

Akhirnya saya yang duluan bersuara, “Dicampur? Enggak apa-apa. Gue dulu sebelum lancar mompa, sempat ngasih sufor, lho.”

Dia tersenyum kikuk, “I..iya, nih. Anaknya rakus. ASI pas-pasan.”

Dia menuju pintu, sebelum keluar, dia menengok sebentar dan berbisik malu-malu, “Mbak, jangan cerita ke yang lain, ya.”

“Sip, sip.”

Sebagai sesama ibu-ibu, saya paham maksudnya.

Selama ini, dia sudah masuk ‘geng ASI’. Selalu ikut gencar bercerita soal ASI dan semacamnya. Tak sulit menerka mengapa dia merasa perlu ‘menyembunyikan’ soal si sufor tadi. Maklum, beberapa memang tergolong ‘garis keras’ hehe.

Ada semacam ‘konsekuensi’ yang harus ditanggung kalau sampai ketahuan memberi sufor . Termasuk rasa tengsin karena selama ini sudah ‘berdusta’ kali.

cara memikat hati wanita

Saya sebenarnya tidak setuju dengan beberapa penggiat ASI (terutama yang ‘garis keras’ :P) yang ngotot bahwa kampanye harus gencar dan beruntun karena masih banyak ibu-ibu yang sebenarnya enggak ngasih ASI karena tidak paham. Hm, tidak juga.

Saya tahu tidak sedikit teman-teman yang memutuskan untuk tidak memberi ASI atau sudah berniat memberi ASI hanya sampai usia tertentu yang tidak optimal menurut pakar ASI. Bukan karena mereka tidak paham soal manfaat ASI dll. Heloooo, era internet begini . Mereka pun bukan kalangan tidak berpendidikan. They don’t do that simply because they don’t want to 🙂.

Sebagian tidak malu-malu mengaku, “Repot. Apalagi gue suka bepergian ke luar negeri. Lagian kalau sufor kan bisa ganti-gantian sama suami. Kadang lembur juga gue di kantor. Capek.”

Tentu, tak berarti dia tidak sayang anaknya dong, ah. Mang situ siapa sampai hendak menjudge, “IBU MACAM APAHH KAMUUU?”

Saya pernah memutuskan unsubsribe dari sebuah forum ibu-ibu karena ‘berantem’ dengan seorang aktivis ASI yang berani melabeli sufor sebagai ‘racun’. Padahal kami tahu, isi forum tak cuma ibu-ibu yang tengah berjuang ASI ekslusif. Ini mau kampanye atau nakut-nakutin orang, sih?

Judgement seperti ini yang membuat sebagian lagi merasa gentar untuk jujur. Contohnya ya kasus teman tadi yang akhirnya berakting rajin ikut memompa ASI padahal sebenarnya anaknya sudah mengkonsumi 70% sufor.

Di masa-masa ‘dunia’ memprotes ‘pola didik ala Budaya Timur’ yang dianggap menafikan kebebasan anak, Amy Chua menyeruak dengan bukunya yang menjadi best seller kala itu, “The Battle Hymn of TheTiger Mom.” Amy Chua blak-blakan menuliskan caranya mendidik para gadisnya yang diungkapkannya sebagai, “Cara Ibu Cina.”

Tentu saja, pro kontra bermunculan.

Sempat hits pula masalah homeschooling. Pro kontra calistung di usia balita yang sempat ramai di forum tertentu yang bikin saya geleng-geleng kepala. Ada yang menuduh calistung di usia balita sudah tidak zaman. Tidak ada negara maju yang menerapkan calistung pada anak sekolah usia balita. Kata siapa? Sini, sini, sekolahin anak di Irlandia. Di sini, di sekolah anak saya, dari usia 4 tahun, calistung sudah diajarkan secara ketat.

Belum lagi pertentangan yang hingga kini  masih menduduki posisi jawara dalam urusan nyinyir-nyinyiran ala emak-emak, SAHM vs WM. Repot ini urusannya karena sudah sering bawa-bawa surga dan neraka.

“To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho

Hal-hal seperti ini yang membuat sebagian ibu jadi gamang. Sibuk mencari pembenaran. Ingat, “Every Mom Has Her Own Battle” . Jangan risau. Tak guna berbohong yang tidak penting.

Gelar ibu kan tidak otomatis membuat kita sempurna. Namanya manusia. Sudah punya anak pun tidak menuntut kita menjadi dewa.

Melahirkan normal atau SC, hendak terus berkarier di luar rumah atau melepaskan kesempatan untuk berdedikasi dari rumah, mau menjadi “Tiger Mom” atau “Rabbit Mom” , ingin memberi ASI sampai profesor hihihi atau memutuskan untuk memberi sufor, berangan-angan homeschooling atau tetap stay di ‘sekolah formal’ … it’s all yours.

Namun, hendaknya disadari. Bersama setiap keputusan, ada konsekuensi yang mengikuti. Be prepared .

Bukan ini yang seharusnya kita perjuangkan, “I would do anything to make YOU happy.”

Mungkin lebih tepat bila kita, ibu-ibu, punya ikrar begini, “I would do anything to make US happy” 

Apa pun pilihannya, bertahan saja dengan keputusan yang dirasa terbaik yang sudah diambil. There were moments when you believed you were the smartest Mom in the world and then incidentally you were hit by the fact that someone else was doing much better somewhere out there. Suddenly, you felt lost. Lesson learned : Being grateful all the time is challenging 🙂.

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

” … And the fears that once controlled me
Can’t get to me at all.” -Let It Go-

Apa yang kita takutkan? Lupakan pencitraan. Anak-anak jangan dijadikan ajang kompetisi masing-masing ibunya. Ingat, mereka bukan beban. Mereka separuh hati kita . Seorang ibu tetap menjadi pribadi yang utuh terlepas dari akan menjadi apa anak-anaknya kelak.

Just be yourself, Mommies. Let it go, let it go 🙂.

Seperti apa pun ‘citra Ibu’ yang kita pilih, let’s celebrate our own choices. Selamat hari Ibu 🙂.

***

Dalkey Sang Kota Selebritis

“Cause we are so young now…we are so young, so young now…”

Hayooo, itu lirik lagu siapa kira-kira? *nyengirAbege90an* :P. Diambil dari lagu “So Young” yang dipopulerkan oleh band The Corrs. Band yang sempat hits di akhir tahun 90 an sampai pergantian abad ke 21 ini terdiri dari 4 bersaudara. Yang 3-nya cewek, cantik-cantik pulak ;).

Andrea Corrs (si vokalis yang tampangnya kalau dipikir-pikir agak-agak mirip dengan saya :P, kalau enggak mirip berarti pikiran anda agak bermasalah itu pasti *benerinMike*) dan kakak-kakaknya berasal dari Irlandia. Pentolan The Corrs dan selebritis dunia asal Irlandia lainnya, konon, bertempat tinggal di wilayah Dalkey, yang akan dibahas dalam postingan jalan-jalan kali ini.

Selain Corrs bersaudara, ada juga Bono, sang vokalis U2 :D. Bono juga katanya sih tinggalnya di daerah Dalkey ini. Dalkey inilah yang menjadi topik jalan-jalan Irlandia kali ini.

Dalkey, bersebelahan dengan si Kota Dermaga Dun Leary, hanya berjarak belasan kilo dari jantung kota Dublin. Dublin, selain menjadi ibukota, juga menjadi semacam County gitu. County itu apa ya kira-kira padanannya? Semacam provinsi gitu lah kalau di Indonesia. Di County Dublin itulah, ada kota-kota satelit macam Dun Leary, Dalkey dll.

Dun Leary dan Dalkey memang dikenal sebagai ‘kawasan elit’. Wajar sih, ya, wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Laut Irlandia memang cakep banget. Belum lagi harga sewa apartemen di sana memang mahal-mahal… lahhhh??? hahaha.

Ya iya dong, kalau mahal artinya orang kaya yang tinggal di sono :P. Kalau yang kayak kita mah, jatuhnya jalan-jalan saja kalau sampai nyasar ke sana hihihi :P.

Sebenarnya tak ada niat mau ketemu artis kok. Ngapain? Masa, artis mau ketemu artis, sih? *bangunMbaaaa..banguuuunnn* hihihi.

Kami ke Dalkey karena penasaran saja kayak apa, sih, kotanya? Ternyata … memang caem ^_^. Walau terhitung kota kecil, suasananya tidak suram dan jauh lebih rapi daripada Kota Athlone,, tempat tinggal saya sekarang.

Kami juga lewat doang di Dalkey. Ke sananya pas hari minggu, sih. Sepiiiii. Ke sana nya pun setelah habis-habisan main-main ke Dun Leary, eh kenapa malah posting Dalkey duluan ya? Hehe. Fotonya yang baru diedit Dalkey duluan soalnya :D. Sudah keburu capek pas ke Dalkey, jadi benar-benar selewatnya saja.

Kami hanya muter-muter di Castle Street, jalanan utama di Dalkey. Bangunannya memang rapi-rapi. Catnya masih bagus. Perlente lah kesannya. Enggak macam di Athlone yang kebanyakan bangunannya sudah tua dan kurang terawat.

Seperti biasa, di tiap kota sudah bisa dipastikan ada … kastil! Dulu mah, saban lihat kastil bawaannya heboh. Berasa di Eropa sekali gitu lah rasanya. Pengin buru-buru turun dari mobil dan foto-foto. Sekarang? Duh, kastil lagi..kastil lagi. Bosan juga lama-lama dengan acara jalan-jalan Irlandia ini hehe.

Kastilnya kecil saja. Jadi malas mau masuk hihi. Di Athlone, dekat gedung apartemen kami, sudah puas bolak balik masuk ke kastil.

Nah, di Castle Street tadi, juga ada deretan kafe-kafe. Konon, di kafe-kafe itulah, Bono dkk suka nongkrong dan duduk-duduk minum kopi. Coba dilihat bener-bener foto di bawah ini, ada gak tuh kira-kira si Bono nongol di situ? hihihi :P.

Numpang foto-foto doang, sambil kepo-kepo dikit. Enggak mampir sama sekali :D.

dalkey 4

Intinya, kotanya biasa-biasa saja, sih. Cuma memang beda di formatnya yang lebih apik saja. Sama ya itu, berhadapan langsung dengan laut. Sayang nih, enggak sempat foto-foto pas di pinggir pantainya. Sudah kesorean pas ketemu sisi lautnya.

Karena kami ke sananya kan dari Athlone langsung, pas lagi nyewa mobil gitu. Enggak ada rencana untuk menginap, jadinya agak malas kalau kemalaman di jalan. Intinya sih, saya sudah mengantuk dan mulai rewel! Hahaha. Iya, nih, jujur saja, memang aslinya bukan traveler :P. Suka bikin suami  bete kalau diajak jalan-jalan. Lihat sebentar, ambil foto, langsung pengin pulang.

Sebenarnya pas hari itu, di Dun Leary nya yang lebih seru dan ramai. Dalkey ini memang bukan tujuan wisata. Kita ke sana juga mumpung dekat banget dari Dun Leary. Lima menit doang kali nyetirnya dari Dun Leary ke Dalkey.

Nanti, ya, kalau foto-foto Dun Leary sudah selesai, bakal diposting di topik jalan-jalan Irlandia juga pastinya.

Sekian dulu jalan-jalan yang rada garing dari Dalkey. Hihihi :P. Minimal kan nanti bisa sok tahu kalau kebetulan lagi ngobrol sama teman-teman …

“Eh lu tau gak sih, Bono itu tinggalnya di Dalkey lhooo…”

Hahaha. Informasi penting banget ya, Kakaaaa :P.