Gerakan g30s PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (1)

Gerakan g30s pki : Panjang indang hehehe. Kita bagi-bagi, yak . Duduk manis dengerin Mbak Poni mendongeng tentang kejadian penting di tahun 1965 silam . Ish, topiknya berat tapi mudah-mudahan bisa ditulis dengan gaya centil *laaaaah* . Ringan, maksudnya hihi.

***

Kalau kita yang tumbuh dan besar dalam dekapan Orde Baru, pasti tak asing lagi, ya, dengan peristiwa G 30 S (Gestapu) di penghujung September 1965.

Buku “Pretext for Mass Murder” karangan John Roosa ini mengangkat sisi lain yang mulai marak diulas selepas Orde Baru bisa dianggap runtuh setelah hantaman krisis moneter di tahun 1997. Usai sudah 32 tahun kekuasaan Soeharto. Tak hanya pemerintahan yang terkena imbasnya. Lambat laun sejarah bangsa di masa lalu tergugat kembali.

Gerakan g30s pki
Gambar : mrdfi.net

Begitu hebatnya Orde Baru mendengung-dengungkan peristiwa Gestapu sebagai salah satu lembaran hitam sejarah nasional. Hingga sanggup membenamkan tragedi sesungguhnya, apa yang terjadi setelah setelahnya.

Angka resmi korban pembantaian pasca Gestapu diakui hanya sekitar 500 ribu orang (angka yang terlalu banyak untuk membayar nyawa para jenderal yang jumlahnya mungkin cuma belasan). Namun, tak sedikit penelitian yang mengumbar bahwa nyawa yang melayang begitu saja dalam tempo yang sangat singkat itu mencapai 1-3 juta. Orang semua lho, ya. Bukan domba atau ayam .

Orde Baru ‘banting tulang’ sedemikian keras ‘menghapus’ peranan kaum komunis bahkan sejak zaman perebutan kemerdekaan. Salah satu tokoh pergerakan yang terkena getahnya adalah Tan Malaka. Hayoooo, ngaku, masih ada yang belum pernah dengar nama Tan Malaka belon? . Mana pernah buku-buku PSPB masa sekolah dulu menyebut-nyebut nama beliau.

Dalih agama juga digali dalam-dalam. Komunis dipertentangkan dengan Islam, kepercayaan terbesar masyarakat kita. Padahal, kalau mau menilik sejarah organisasi ini, lahirnya dari organisasi Serikat Islam. Kala SI terpecah 2 menjadi Putih dan Merah, akhirnya diputuskan SI Merah melepaskan diri. Belakangan, terbentuklah PKI .

Tan Malaka yang saya sebut-sebut juga berasal dari ranah Minang. Urang awak, seorang muslim. Tapi adalah benar bila sebagian paham komunisme menuduh agama sebagai ‘candu’ yang membuat penganutnya terbuai dan mengesampingkan rasionalitas.

Jangan buru-buru beristighfar karena tuduhan (sebagian) kaum komunis ini. Hehehe. Tenaaaang, lain kali kita diskusikan latar belakang mengapa kaum komunis ini gengges sama umat beragama . Tahan dulu bencinya hehehe.

Eike pan juga bukan penganut komunisme. Tapi berusaha mencari tahu mengapa mereka keki sama kita-kita yang beragama juga tidak ada salahnya, lho . Dijamin enggak bakal jadi komunis, kok, hahaha.

Read as many as you can. Just read. You don’t have to believe them all. Pengetahuan, walau tak setokcer pengalaman, tak bisa dipandang remeh pengaruhnya dalam menyikapi hidup *tsaaaah*. Percaya, deh, not all those who wander are lost .

Kita bahas buku ini dulu, yak. Keburu lupa entar bikin resensinya hahaha.

***

Kekuasaan Segitiga 1959 – 1965

Di bulan Mei 1965, dua perhelatan besar dilakukan oleh PKI. Perayaan hari Buruh di 1 Mei dan ulang tahun partai merah tersebut beberapa minggu setelahnya.

Puluhan ribu simpatisan tak menyisakan ruang kosong di stadion Senayan. Ribuan lainnya berbaris rapi di luar stadion. Lautan manusia yang dijuluki “semut merah”, yang terkenal dengan kedisiplinan dan sifat militannya. Bendera-bendera merah berkibar di mana-mana.

PKI memamerkan kekuatannya. Kalau saja, PEMILU kembali diadakan, mungkin PKI akan menang telak. Sayangnya, sejak tahun 1959, Soekarno membubarkan Pemilu dan mengganti kebijakan negara ke arah “Demokrasi Terpimpin.”

Ironi bagi sang raksasa merah, kekuatannya di masyarakat tak akan bisa mereka menangkan tanpa Pemilu. Sementara, posisi di pemerintahan hanya sekadarnya saja. Soekarno memilih orang-orang dari nonkomunis untuk mengisi posisi-posisi yang lebih strategis.

Sebegitu keras usaha PKI mendukung kebijakan-kebijakan luar negeri Soekarno yang memang sejalan dengan partai, jalan menuju pemerintahan seperti menemui jalan buntu.

Sementara para nonkomunis semakin gelisah. Angkatan Darat, menjadi pusat bertumpu para kaum nonkomunis.

Keputusan Soekarno di tahun 1959 sesungguhnya melegakan Angkatan Darat. Menghapus Pemilu berarti mengurangi ‘kekuatan’ PKI sebagai partai yang bisa dibilang tengah mencapai puncaknya di tahun 1960 an tersebut.

Bagi PKI, Soekarno masih dibutuhkan untuk meraih popularitas di kalangan rakyat. Untuk Angkatan Darat, Soekarno menjadi rem bagi PKI untuk ngebut menuju kekuasaan . Karena pada dasarnya Soekarno juga enggak pro komunis banget-banget. Soekarno memanfaatkan PKI untuk mendukung kebijakan-kebijakannya sekaligus menghalau Angkatan Darat untuk mengkudeta dirinya.

Walau setelah PKI membesar, Soekarno makin condong ke kiri, sesungguhnya pemerintahan tengah terbagi 3. Angkatan Darat pun sudah makin tak sabar. Mulai berimajinasi akan kekuasaan tanpa Soekarno. PKI pun berusaha keras mengalihkan pemerintahan ke arah kiri.

Angkatan Darat telah menjadi sekutu utama Amerika Serikat. Sementara, pemerintah Amerika Serikat makin sebel. Tidak hanya karena paham komunismenya. Juga karena saat itu PKI bersama Soekarno mati-matian ingin menasionalisasi tambang-tambang minyak dan hasil bumi lainnya. Ujung-ujungnya duit ya, Ceu hehehe. Caltex termasuk yang disebut-sebut dalam buku ini.

Paman Sam mah dari dulu berburu minyaaaaak aja kerjanya .

Pesona Soekarno di mata rakyat tetap luar biasa kala itu. Rekam jejaknya di masa lalu membuat rakyat tak meragukan ketulusannya. Baik PKI dan Angkatan Darat sama-sama menyadari, mustahil menjatuhkan Soekarno tanpa melewati perang saudara yang berkepanjangan.

Soekarno yang tak segan berbagi keangkuhan kepada segenap masyarakat untuk menantang negara maju nan kaya seperti Amerika Serikat membuai masyarakat. Larut dalam rasa bangga sebagai bangsa yang baru merdeka. Tak sadar, sebagian besar telah mengkultuskan beliau. Hal inilah yang membuat baik PKI dan pihak nonkomunis sangat berhati-hati dalam ‘menghadapi’ kepemimpinan Soekarno.

Namun, kesehatan Soekarno sudah memburuk. Operasi ginjal di tahun 1964 seolah memberi isyarat kepada baik komunis dan nonkomunis untuk aktif meretas jalan. Merebut kekuasaan negara yang telah sekian lama diidamkan.

Angkatan darat menguasai sekitar 300 ribu pasukan bersenjata. PKI memiliki kader yang militan dan simpatisan yang jumlahnya diperkirakan jutaan orang. Soekarno, yang tadinya dianggap perisai bagi masing-masing pihak, mulai diragukan.

And that’s how the tragedy begins …

***

(Bersambung ke sini)

Golput dalam Pemilu ? Do It Anyway ;)

Sebisa mungkin ya jangan sampai golput dalam Pemilu lah ya. Kecuali memang sudah darurat banget. Bener-bener calonnya bapuk abis lah hehehe.

Dear all, di situs ini ada profil tiap calon anggota dewan sesuai partai dan sesuai daerah pemilihan masing-masing. Tinggal diklik-klik saja. Tadi saya sudah mencoba beberapa kali. Tapi lupa, saya kan berdomisili di wilayah di mana internetnya memang woosh-woosh hihihi. Sungkem dulu sama teman-teman di tanah air. Sungkem. Bukan ngeledek 😛.

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Internet cepat gunanya untuk apa?” Salah satunya adalah untuk mereview profil-profil calon anggota legislatif 2014 – 2019 dengan rileks secara online! .

Karena percayalah, integritas seorang manusia bisa diukur dari kesabarannya saat menghadapi koneksi internet yang lelet! Hahahahaha. Elus-elus notebook yang saban pulang ke Jakarta selalu menjadi sasaran kemarahan si empunya hihihihi 😛.

Golput dalam pemilu

***

Saya percaya, bukan tanpa maksud, Najwa Shihab mengundang calon anggota dewan semacam AL (yang akhir-akhir ini sering sekali berpenampilan serba hijau dan berkerudung :P) untuk diwawancarai di acara “Mata Najwa.”

Najwa (mungkin) ingin mengundang kewaspadaan para pemirsanya. Kalau kita ‘lengah’ orang-orang seperti AL dkk ini sangat mungkin untuk meraih kesempatan untuk mendapat kursi.

Jangan dikira partai itu segitu ‘bodoh’ dan ‘putus asa’nya sampai berani ‘meminang’ para selebritis bahkan yang ‘sekelas’ si AL . Partai-partai itu punya hitung-hitungannya sendiri.

Mereka mungkin sudah memperkirakan, “Halah, yang pinter-pinter paling pada golput. Mending kita berkonsentrasi ‘menggarap’ pemilih-pemilih kalangan bawah. Yuk, kita sodorin artis. Mereka kan juga yang penting ngeliat yang bening-bening. Suka muncul di TV apalagi.”

Kalau mau jujur, rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan (kemiskinan ya bukan kecukupan) masih mayoritas. Berapa, sih, ‘dana’ yang diperlukan oleh partai-partai untuk membeli suara mereka? Kalian kira partai perlu mempersiapkan sampai 100-200 ribu per suara? Tidak, teman-teman. Sejumlah 10-20 ribu rupiah per orang pun kadang sudah lebih dari cukup .

Patutkah kita menodongkan telunjuk kepada mereka dan menghujat, “Tolol-tolol amat sih lo pada? Coblosannya dibeli murah banget.”

‘Sistem’ membuat mereka tak leluasa membuat pilihan. Boro-boro internetan. Mungkin cerita ini kedengarannya lebay. Tapi embak saya yang pernah bekerja di rumah saat saya masih tinggal di Jakarta pernah cerita, “Kerja di sawah orang dapatnya paling gede 12 ribu rupiah per hari.” Kerja full dari pagi sampai sore. Menantang matahari di tengah ladang.

“Kerja di pabrik teh bisa juga. Dapatnya bisa 17 ribu sehari.” Jam kerja sama. Tapi setidaknya bisa dapat makan sekali sehari dan tidak perlu berpanas-panas di bawah terik matahari.

12 – 17 ribu per hari, dari pagi hingga petang. Kira-kira siapa yang tidak kelojotan kalau diberikan imbalan 20 ribu rupiah untuk hal kecil yang mereka bisa lakukan di TPS dalam tempo 5 menit saja? Anggaplah 30 menit plus proses mengantre.

Bookmark situsnya. Luangkan sedikit waktu. Dalam hidup, tidak semua pilihan akan menghadapkan kita pada pilihan, “Pilih bangkai ikan atau nasi uduk?” Hehehe. Kadang-kadang, pilihannya adalah, “Bangkai tikus atau bangkai kucing?” Hihihihi. Becanda yo . Pilihan kita tak selalu benar dan tepat. Namanya manusia, tak luput dari salah dan khilaf. Tapi tetaplah memilih!

If you are honest and frank, people may cheat you;
Be honest and frank anyway.

Give the world the best you have, and it may never be enough;
Give the world the best you’ve got anyway.

You see, in the final analysis, it is between you and your God;
It was never between you and them anyway.

-Bunda Theresa- 

“Janganlah kamu berputus asa. Bila pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.”

Do our best, let God takes care the rest . Say no to golput 😉.

Sekali lagi, monggo dibookmark linknya :).

***

Each Life Unravels Differently

Barusan baca tulisan teman tentang “Kacamata Pelangi” dalam menyikapi ‘pergaulan’ di dunia digital (internet). Kalau dia mengaku tak terlalu berani menulis hal-hal yang kontroversial. Seorang teman lain juga berkomentar, lebih suka menulis yang ‘damai-damai saja’.
Gambar : asacinta.blogspot.com
Gambar : asacinta.blogspot.com

Nah, definisi yang ‘damai-damai saja’ ini seperti apa, ya? Hihihi. Karena kalau sudah menyangkut ‘ranah opini’, percayalah, istilah ‘damai-damai saja’ ini bisa dibilang nyaris tidak ada. Jadi, mungkin maksud mereka, lebih suka menghindari berbagi opini hehehe.

Kan bisa menulis tentang perkembangan anak sendiri misalnya, kerajinan-kerajinan tangan (lucu kan, kalau kita posting tentang craft ada yang nyinyir? Sirik iya hihihihi), tentang biografi orang tertentu, intinya yang sifatnya deskriptif tentang hal tertentu. Bukan opini yang pasti . Menulis resep-resep masakan juga bisa dibilang damai atau berbagi tulisan jalan-jalan yang HANYA membahas tentang tempatnya saja.

Dulu, saat menulis tulisan “Every Mom Has Her Own Battle” itu saya merasa damai. Kan tujuannya mendamaikan sekte-sekte para ibu yang makin gencar saja nyinyir menyinyirnya . Ternyata, komentar-komentar yang tidak damai juga banyak hahahaha. Namanya opini, tidak harus seragam tidak mesti semua setuju 😉.

Bahkan yang menyangkut prinsip-prinsip universal seperti keikhlasan, kerja keras dan empati misalnya. Biasanya berbenturan dengan agama hal-hal yang seperti ini . Masih ada semacam sikap, “Dahulukan yang seiman.” Apalagi di negara-negara macam Indonesia yang mayoritasnya masih menganut paham tertentu. Dijamin bakal ‘ramai’ kalau berani mengupas masalah muamalah antar agama. Minimal agak sulit melepaskan diri dari cap ‘liberal’ atau ‘JIL’ yang kayaknya jidat eike sudah penuh dengan cap-cap semacam ini hahahahaha.

Tulisan yang saya maksud adalah tulisan “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada.” Lumayan capek menghapus komentar-komentar yang ngajak berantem hehehe. Tuh kan, saya ini sebenarnya senang yang damai-damai, kok *pasangSeringaiSerigala* hahhaha.

Ini tulisan ke-2 yang membahas hal yang agak mirip itu, Jika surga dan neraka tak pernah ada versi 2 lah :D. 

Btw, saya pernah menulis semacam sekuel dari “Every Mom Has Her Own Battle” hihihi. Umm..harusnya sih damai, dong, ya . Karena saya ini tergolong stay at home Mom, kok. Tapi saya tak suka membayangkan bila semua perempuan punya pikiran sama seperti saya.

Athlone, 2013
Athlone, 2013

Aduh, bayangkan kalau tidak ada dokter perempuan! Dokter kandungan lah minimal. Dua kali melahirkan, di Jeddah dan Jakarta, saya selalu sreg-nya dengan dokter perempuan hehehe. Perawat juga. Agak risih saja kalau membayangkan seluruh perawat di rumah sakit seluruh dunia adalah laki-laki!

Terus, tidak rela juga kalau dosen-dosen di universitas didominasi oleh laki-laki hehe. Atau customer service di bank-bank laki-laki semua. Iiihhh, kita kan juga pengin curhat panjang lebar tanpa khawatir bakal disangka genit. Eh, saya pernah menolak dilayani CS laki-laki dii sebuah bank swasta karena lebih nyaman ngobrol-ngobrol sama embak-embaknya aja. Keluhannya banyak iniiiiiiii hahahahaha –> emak-emak bawel bermulut silet :P.

Itulah mungkin kelebihan utamanya Pelangi 🙂. Yang digambarkan dengan sangat relevan oleh teman saya tadi. Kita suka lupa, yang membuat sesuatu terlihat indah itu adalah keberagamannya. Aduh, garing banget kalau dunia ini hanya dipenuhi satu pikiran doang . Kalau semua orang pendiam misalnya. Laaah, kan sunyi, yak –> alibi dari perempuan bawel hahahaha.

“Don’t let your luggage define your travels, each life unravels differently.”
― Shane Koyczan
Hidup ini tidak hitam putih. Begitu banyak mimpi dan harapan serta cara tiap ibu untuk bahagia.Bukan egois. Simpel saja. Bagaimana mau menumbuhkan cinta di ladang kita untuk suami dan anak-anak kalau tanah tempatnya tumbuh malah gersang? 🙂
Mari menyikapi dan belajar dari hikmah perbedaan yang memang selamanya akan ada ini.
Mati gaya ini mau nulis panjang-panjang kek biasa hehe. Jadi, singkat saja dan tebar-tebar link tulisan-tulisan lama 😛 dan foto-foto narsis hahaha. 
Mushrifah - Jeddah, 2012
Mushrifah – Jeddah, 2012
***

Again! Again! Again!

 

Sebenarnya pengin juga sering-sering menulis tentang sirah Nabawiyah atau tokoh-tokoh Islam terkenal. Terutama yang seperti Al Farabi dkk, yang hidup sebelum tahun 1000 M. Untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan modern sebenarnya sudah lebih dahulu dikenal dalam peradaban Islam . Sementara kaum terpelajar Eropa baru tercerahkan setelah abad kegelapan mulai ditinggalkan (sekitar abad ke-16). Tapi, sebelumnya Eropa juga sudah mulai ‘menggeliat’ di zaman Eropa Klasik. Tapi … ah, panjang ceritanya. Kapan-kapan yo hihihihi.

Buku-buku saya kebanyakan ditinggal di Jakarta, isi detailnya sudah banyak yang lupa. Dan saya tidak kuat imannya kalau diterjang dengan, “Dalilnya mana? Dalilnya mana? Dalilnya mana?” Hahahhaha.

Terutama setelah membawa-bawa kisah mengenai Sayyidina Umar yang melempar pasir kepada panglimanya yang dianggapnya tengah terbuai hidup mewah saat menulis tentang petinggi partai tertentu. Kadernya langsung ‘menyerang’ via inbox. Mereka minta judul buku yang memuat kisah tersebut, dan harus lengkap dengan bahasa arabya! Matilah awak! Hahhahahahaha.

Ujung-ujungnya di grup yang lain saat hendak berdiskusi tentang poligami, eike dibilang “Ruwaibidhah.” Ai, ngeri kaliiiiii hehehe. Tapi, jangan buru-buru sakit hati. Untuk saya, dijadikan pelajaran saja . Benar juga. Mungkin selama ini saya suka khilaf membawa-bawa tentang sirah nabawiyah padahal modal google doang hihihi. Kapok akyu mau menulis-nulis tentang Islam lagi. Kecuali ingin membagi opini atau membuka ruang diskusi kali, ya .

Saya tahu berat sekali untuk mempelajari bahasa Arab terutama sikon yang sekarang ada di belahan barat Eropa sini. Jadi, lebih baik menahan diri. Bahas yang lain saja yang memang ada di sini literaturnya . Saya pribadi lebih percaya buku sih emang so far hehe.

Tapi lucunya, kalau membahas biografi orang-orang seperti Gandhi, profil Presiden Uruguay tempo hari, malah dinyinyirin lagi, “Kok membahas orang di luar Islam terus? Bahas yang muslim, dong!” Ampuuuuunnnnn . Intinya sih, bakal tetep diprotes hahaha

Lebih senang menulis tokoh-tokoh dunia popular semacam Gandhi, Bunda Theresa atau mendiang Michael Jackson. Karena enggak bakal ketemu pertanyaan-pertanyaan macam, “Dalilnya manaaaaa?” Hahhahaha.

Tapi, kisah tentang Saladin ini saya tulis pas mudik ke Jakarta tahun 2012 silam. Saya rangkum dari buku, kok . Jadi, dalilnya sahih ya, Kakaaaa hehehe.

Salahuddin Al Ayyubi memang tokoh Islam yang cukup istimewa. Namanya termasyhur hingga disebut-sebut dalam berbagai literatur barat. Saladin menjadi salah seorang tokoh peletak dasar berjayanya Islam selama sekitar 450 tahun di 2/3 belahan dunia (saat itu benua Amerika dan daratan-daratan lain yang belum ‘ditemukan’ belum diitung :P).

saladin

Di masa itu, ketiga agama Samawi hidup rukun di bawah naungan Syariah Islam. Lihatlah, menegakkan Syariah Islam tidak berarti memaksa seluruh orang bersyahadat .

Salah penyebab Saladin dengan cepat merebut simpati rakyat karena gaya kepemimpinannya yang berubah drastis dari pemerintah sebelumnya. Jika sebelumnya para Sultan/petinggi lainnya seolah terasing dalam istana mewah dan menara-menara tinggi, maka Saladin berbaur dengan rakyat. Semacam doyan blusukan gitu kali ya hihihihihi. Saladin juga terkenal ‘santai’ dalam berhubungan dengan bawahannya.

Gaya hidupnya pun sangat jauh dari kemewahan. Asistennya sering sembunyi-sembunyi menaruh uang untuk dipakai saat keadaan darurat karena Saladin benar-benar bukan tipe pejabat yang mengokohkan kemapanan di tengah-tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai lapisan .

Di akhir hayatnya, konon, beliau hanya meninggalkan harta sejumlah 47 dirham saja. Menjadi pemimpin di masa lalu itu berat. Tak banyak orang yang mau. Karena dulu mikirnya harus memikul tanggung jawab yang tidak sedikit dan harus mengurus kesejahteraan banyak orang. Kalau sampai ditunjuk pasti tegang dan gelisah.

Kontras, ya, dengan pemimpin masa kini yang berlomba-lomba menaiki singgasana kekuasaan. Menghalalkan segala cara kalau perlu. Apa tidak takut dengan tanggung jawab? Apalagi aura kemiskinan masih menjadi wajah utama tanah air kita tercinta . Itulaaaaaaah, yang mereka kejar adalah ‘tahta’nya bukan tampuk kepemimpinannya. Yang mereka bayangkan adalah hidup megah dan senang-senangnya hehehe.

Lihat saja, tidak sedikit orang-orang yang kalau sudah menjadi anggota dewan, kehidupannya mendadak berubah. Tapi perubahannya tidak diimbangi dengan perubahan hak dan standar hidup orang-orang yang seharusnya diperjuangkannya. Begitulah. Pejabat makin kaya, rakyat tak berpunya makin sengsara.

Rakyat yang ‘berpunya’ ngapain? Ya golput! Hehehehe . Bodo wae lah, urus diri sendiri-sendiri. Mereka yakin there’s nothing they can do. Karena yang salah adalah pemerintah. Yang mereka lupa, pemerintah yang berkuasa adalah pemerintah yang DIPILIH.

Tak sedikit pula yang berdalih bahwa mereka takut salah pilih. Memangnya kenapa kalau salah? Manusia apa tidak boleh berbuat salah? . Kalau salah, besok-besok tinggal ganti pililhan, kan?

Apakah ada jaminannya kalau kita belajar tekun sepanjang malam maka nilai-nilai akademis akan selalu gemilang? Ada jaminannya 100%? Apakah ada jaminan kalau kita membanting tulang dari pagi sampai senja kita akan kaya raya? Ada kepastiannya 100%?

Lantas kalau tidak ada, apakah kita lebih baik memutuskan untuk berhenti berusaha atau berhenti belajar? Tidak kan? .

Karena sebagai muslim, kehidupan kita tidak akan bermuara di dunia. Ada akhirat sebagai masa depan. Nilai akhirnya bukan di sini. Maka dari itu, lucu sekali bila garis finishnya belum kelihatan kita sudah membuka sepatu dan terduduk lesu di pinggir lintasan, “I’m never gonna make it!”

Masih bernyawa kok bertingkah seperti orang yang sudah mati? Sudah tidak ada yang bisa kita lakukan? Itu kan kalau kita sudah terbujur kaku. Tinggal menunggu keputusan akhir.

How do you know? Bagaimana cara kita tahu kalau kita berhenti? Apa yang hendak kita ubah jika kita memilih diam? Apa?

“Do it again. Play it again. Sing it again. Read it again. Write it again. Sketch it again. Rehearse it again. Run it again. Try it again.
Because again is practice, and practice is improvement, and improvement only leads to perfection.”
― Richelle E. Goodrich, Smile Anyway

Gambar : wikipedia.org
Gambar : wikipedia.org

Salah coblos? Coblos yang lain. Salah lagi? Coblos yang lain lagi. Coblos terus. Minimal kita mengirimkan pesan penting, “Hey Dude, we’re not stupid, we’re listening, we’re not ignorant, we’re watching. You fail, you lose our support.”

Lama-lama mereka sadar, “Ajegile, rakyat tambah pinter, kita kudu bener-bener kerja nih sekarang. Suara mereka udahh enggak bisa kita beli lagi.”

Gampang kan rumusnya? Coblos terus. Salah? Ganti. Salah lagi? Ganti lagi.

What you spend years building, someone could destroy overnight;
Build anyway!

Pemilu 2014, jangan golput! 😉

Mengirim Tulisan Jalan-jalan ke Leisure Republika

Akhir desember yang lalu, sebuah tulisan tentang Kota Dublin muncul di rubrik tulisan Jalan-jalan ke Leisure Republika :D. Ini adalah tulisan ke-4 yang dimuat di Leisure.

Tulisan jalan-jalan tentang Dublin di Leisure Republika

Tadinya, Leisure ini punya 2 rubrik jalan-jalan. Satunya lagi ‘Jalan-jalan Religi’. Tapi sejak awal tahun 2013, ‘Jalan-jalan Religi’ ini sudah tidak ditayangkan lagi. Jadi, sekarang tinggal satu rubrik saja. Biasanya dimuat 2 halaman. Tulisan saya 2x dimuat di Jalan-jalan Religi, Kota Jeddah dan Padang Badar.

Contoh-contoh tulisan jalan-jalan ke Leisure Republika bisa dicek langsung ke epaper-nya Republika, lho. Tinggal sign up saja. Gratis, kok ;). Silakan dikunjungi langsung ke www.epaper.republika.co.id  ^_^. Leisure ini ada di edisi Selasa tiap minggunya. Rubrik jalan-jalan ada di halaman 2 halaman sebelum halaman terakhir.

Syaratnya?

1. Panjang tulisan sekitar 8000-11.000 karakter (dengan spasi). Diketik di MS Word. Spasi 1.5 atau 2. Fontnya Arial atau TNR, font size 12. Yang rapi lah ya :D. EYD jangan lupa hehehe.

2. Foto-foto minimal 10 buah, soalnya 2 halaman boooo :D. Resolusi sedang juga boleh. Ukuran minimal 500 KB. Sertakan satu foto profil penulisnya, yah. Bukan bermaksud narsis. Tapi KUDU. Wajib. Kalau enggak ada, biasanya begitu akan dimuat akan diminta oleh editor. Jangan nyusahin editor lah. Sudah tahu harus, ya kirim saja. Hehe.

3. Dikirim ke leisure@rol.republika.co.id

4. Kasih pengantar dikit lah, standar saja isinya, jangan gengges apalagi alay hahaha. Subyek email beri tag [Tulisan Jalan-Jalan].

5. Sebaiknya, beri biodata singkat plus tulisan-tulisan yang pernah dimuat (kalau ada). Nomor rekening lengkap dan no.NPWP langsung sertakan saja. Kalau dimuat kan enggak pusing-pusing lagi ngirim nomor rekening ;). Enggak usah malu-malu atau sungkan. Pakemnya memang begitu kok :). Dimuat tidak dimuat pede saja mencantumkan nomor rekening lengkap.

6. Honornya sekitar 700-800 ribu rupiah per artikel. Ditransfer biasanya 5-6 minggu setelah pemuatan. Lama, ya? Hihihi. Sabaaaarrrr :D. Kalau 6 minggu belum ada, langsung email saja ke alamat yang sama dengan no.3, responsnya biasanya cepat, kok ;).

7. Topiknya boleh tempat wisata dalam negeri juga, lho. Tidak melulu obyek jalan-jalan dari luar negeri. Kalau saya karena kebetulan tinggalnya lagi di luar jadi banyakan ngirim tentang luar negeri hehehehe. Ini contoh tulisan yang pernah dimuat di Republika. Naskah asli salah satu tulisan saya tentang Irlandia, saya tuliskan di sini.  Contoh lainnya, kali ini tentang kota Jeddah, juga pernah saya tuliskan di sini naskah aslinya :D. 

Tunggu apalagi? Selamat mencoba mengirim tulisan jalan-jalan ke Leisure Republika ^_^. You never know if you don’t try ;).

Nah, mulailah dengan mengingat-ingat kembali tempat-tempat cantik yang pernah kalian datangi. Tidak mesti yang ‘wah’ atau yang gimana-gimana. Danau dekat rumah pun, kalau pandai-pandai mengangkat sudut pandang yang seru, selalu bisa menjadi tulisan yang menarik ;).

“The journey of a thousand miles begins with a single step” ― Laozi.

Setiap artikel selalu dimulai dengan sebuah kata ;). Let’s write and share our journey! ^_^.

“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard