Luar biasa memang kampanye hitamnya ya *sampaiMerinding* . Sampai-sampai daerah se’kaliber’ Sumatera Barat yang bisa dibilang propinsi perpaduan antara kaum religius muslim dan “kaum intelektual modern” (saking dijunjung tingginya pendidikan di daerah ini sejak dulu kala) juga menjadi ‘korban’ 🙁.

Bapak ibu mertua saya asli Minangkabau. Tepatnya, dari Bukittinggi. Lucu juga, saya yang sering sekali disangka orang Minang akhirnya benar-benar menjadi bagian dari keluarga Minang beneran hihihi. Tampang saya sumatera banget apa, ya? . Selain suka ‘dituduh’ orang Minang, tebakan kedua biasanya orang Aceh hahahaha.
Sini asli Bugis 100%, lhoooooo . No other ingredients . Almarhum bapak asli Bugis dari daerah Sidrap, lupa saya nama kampungnya. Ibu saya campuran Bugis (Rappang) dan Enrekang. Enrekang ini lain lagi etnisnya. Budaya dan bahasanya berbeda dengan Bugis.
Enrekang merapat ke wilayah Tana Toraja. Bedanya, Tator didominasi penganut agama Protestan, sementara Enrekang mayoritas muslim . Alhamdulillah, tak pernah mendengar konflik berarti antara kedua wilayah ini 😉.
Bahasa Tator dan Enrekang mirip-mirip, sih. Tapi jangan tanya saya soal bahasa Enrekang. Saya cuma tahu 2 kalimat, “Torro-torroko na kanreko batitong” atau “Pira ta ratu?” Hahahaha. Kalau bugis mah, saya levelnya super advanced *benerinSarung* . Makkada memengngi tau ogi’e 😀.
Suami saya, yang (kata sebagian orang) berwajah perpaduan antara Latin, Eropa Mediterania dan Timur Tengah #eaaaaaa, memang asli urang awak . Sumpah bukan gue yang bilang hahahahaha. Satu yang pasti, suami eike memang ganteng maksimal. Gombal kauuuuuuuuu –> istri salehah *sambilMelirikKartuATMSuamiDalamDompet* 😛
Makanya, dengan postur tubuh tinggi menjulang, dia kalau ke mana-mana jarang kena isu rasis macam istrinya yang bertampang dan berperawakan Asia kualitas super hahaha.
Jadi ingat pengalaman suami, waktu mau training ke Kanada tahun 2004 silam, petugas imigrasi di Bandara Soetta-nya sopaaaaan banget menyapa suami seperti kayak nyapa orang bule hihihi. Tahu sendiri kan mental orang-orang kita, kalau lihat orang ‘luar’ suka lebay. Si petugas menyapa dengan bahasa Inggris dengan senyum ramah tingkat tinggi. Pas suami ngeluarin paspor, si petugasnya langsung berwajah asem. Hahahhahahaha, ketipu ni yeeeee 😛.
Dari cerita-cerita ibu mertua, memang terlihat sekali ya betapa suku Minang sudah sadar pendidikan sejak dulu. Kakek suami (bapak dari ibu mertua) itu penilik sekolah kalau enggak salah. Doyaaaaaan banget membaca. Ibu mertua bilang, waktu kecil dulu, sampai tetangga terkaget-kaget kalau melihat kiriman buku segambreng ke rumah.
Didukung juga oleh bukti-bukti sejarah yang mempersembahkan tidak sedikit intelektual Minang dalam sejarah pergerakan bangsa sejak dahulu. 4 Bapak Bangsa yang pernah disebut-sebut dalam Majalah Tempo, 3 diantaranya adalah urang awak : Moh. Hatta, Sutan Syahrir dan Tan Malaka . Satunya lagi siapa hayooooo 😛.
Urang awak tak hanya berkibar di dunia politik. Kebudayaan nusantara juga dicekoki oleh seniman-seniman asal Ranah Minang. Sebut saja salah satu penulis fiksi favorit saya, Motinggo Busye. Jadul amat yak hahaha.
Istimewanya, intelektualitas kaum Minang didukung pula oleh pengetahuan agama yang juga diajarkan sejak kecil. Tak heran, saya merasa sangat ‘sejuk’ setiap kali membaca hasil-hasil pemikiran tokoh-tokoh Minang yang rasanya Islami sekali buat saya . Saya pribadi menganggap kalau Bung Hatta adalah penjelmaan ‘terindah’ dari konsep kecerdasan ilmu + spiritual yang tinggi 🙂.
Sudah pernah saya tuliskan biografinya di blog. Jadi ingat punya utang biografi Sutan Syahrir dan Tan Malaka hihihi. Nafsu menulis doang nih yang gede, kemampuan belum setara hahaha.
Urang awak juga sangat terdepan dalam keterbukaan. Tokoh-tokoh politik asal sana membentang luas dari pemikiran kanan, tengah hingga kiri. Tahu kan maksudnya hehehe. Tan Malaka itu misalnya. Beliau adalah tokoh komunis terkemuka asal tanah air. Sayang sekali demi propaganda anti PKI, nama beliau dibenamkan dalam sejarah saat rezim Orde Baru berkuasa.
Padahal, Tan Malaka memiliki pemikiran yang berseberangan dengan elit-elit PKI . Propaganda Orde Baru juga membuat pemahaman terhadap komunisme menjadi bias.
Kapan-kapan ingin sekali menulis uraian tentang hal ini. Agar orang tak salah meletakkan kebencian dan lebih melek sejarah biar enggak gampang diperbudak oleh propaganda provokatif sarat kebencian. Lucu kan, ngerti enggak, benci iya.
Benarlah salah satu petuah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Manusia … membenci apa yang tidak diketahuinya.”
Terus abis ini saya dibilang pro Komunis deh hahahahahhahaha. Umat muslim itu percayanya sama konsep Syariah Islam ;). Bukan kapitalis, bukan komunis.
Makanya, kaget juga kemarin chatting dengan sahabat saya dari kuliah yang asli Minang. Dia bilang keluarga besarnya anti Jokowi sekali. Karena isu-isu agama yang gencar menyerang Jokowi 🙁.
Eh, ternyata benar. Buya Syafi’i Maarif juga menemukan fakta yang sama. Saya bingung dengan tuduhan bahwa di belakang Jokowi tidak ada dukungan ulama. Lah itu Quraish Shihab gimana? Okelah, kalau menurut mereka Quraish Shihab itu katanya Syiah. Lantas bagaimana dengan Hasyim Muzadi dan Buya Syafi’i Maarif sendiri? 🙂.
Astagfirullah ya, yang sekelas Quraish Shihab saja bisa begitu mudah terkena fitnah, apalagi yang cuma sekelas ane huhuhuhu *sisirPoni*. Kira-kira tuduhan kepada Hasyim Muzadi dan Buya Syafi’i apa ya? Hehehe.
But as much as it hurts, jangan sampai terpikir membalas dengan cara yang sama, yuk . Biarin saja. Jadi ingat, beberapa teman yang berkali-kali menginbox saya bertanya soal kampanye-kampanye hitam ini. Lebih-lebih yang soal agama. Onde mande, gue berasa timses beneran dah hahahahhaha.
Saya juga tidak tahu sih harus bilang apa. Cuma bisa berpesan, “Sabar, sabar, sabar.” Bayangkan, kita saja yang level pendukung dengarnya bisa teriris-iris, gimana kalau Jokowi-nya sendiri coba? Hehehe 😉.
Ya abesss, mau bilang apa dong. Pokoknya sabar saja. Jangan dibalas ;).
Sekali lagi, jangan dibalas. Respons saja seperlunya untuk meluruskan. Kalau tidak bisa juga ya namanya juga sudah usaha hehehe.
The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.
Martin Luther King, Jr.
Stand still ya teman-teman Pro-Jo. Stand still ya, Pakde. Stand still 🙂.
Mari revolusi mental dimulai dari diri sendiri dulu. Tetap semangat. Salam damai. Salam dua jari, jangan lupa tetep pilih Jokowi ^_^
***















