Menghadapi Kampanye Hitam, Keep Calm Stay Positive

Luar biasa memang kampanye hitamnya ya *sampaiMerinding* . Sampai-sampai daerah se’kaliber’ Sumatera Barat yang bisa dibilang propinsi perpaduan antara kaum religius muslim dan “kaum intelektual modern” (saking dijunjung tingginya pendidikan di daerah ini sejak dulu kala) juga menjadi ‘korban’ 🙁.

Gambar : tempo.co
Gambar : tempo.co

Bapak ibu mertua saya asli Minangkabau. Tepatnya, dari Bukittinggi. Lucu juga, saya yang sering sekali disangka orang Minang akhirnya benar-benar menjadi bagian dari keluarga Minang beneran hihihi. Tampang saya sumatera banget apa, ya? . Selain suka ‘dituduh’ orang Minang, tebakan kedua biasanya orang Aceh hahahaha.

Sini asli Bugis 100%, lhoooooo . No other ingredients . Almarhum bapak asli Bugis dari daerah Sidrap, lupa saya nama kampungnya. Ibu saya campuran Bugis (Rappang) dan Enrekang. Enrekang ini lain lagi etnisnya. Budaya dan bahasanya berbeda dengan Bugis.

Enrekang merapat ke wilayah Tana Toraja. Bedanya, Tator didominasi penganut agama Protestan, sementara Enrekang mayoritas muslim . Alhamdulillah, tak pernah mendengar konflik berarti antara kedua wilayah ini 😉.

Bahasa Tator dan Enrekang mirip-mirip, sih. Tapi jangan tanya saya soal bahasa Enrekang. Saya cuma tahu 2 kalimat, “Torro-torroko na kanreko batitong” atau “Pira ta ratu?” Hahahaha. Kalau bugis mah, saya levelnya super advanced *benerinSarung* . Makkada memengngi tau ogi’e 😀.

Suami saya, yang (kata sebagian orang) berwajah perpaduan antara Latin, Eropa Mediterania dan Timur Tengah #eaaaaaa, memang asli urang awak . Sumpah bukan gue yang bilang hahahahaha. Satu yang pasti, suami eike memang ganteng maksimal. Gombal kauuuuuuuuu   –> istri salehah *sambilMelirikKartuATMSuamiDalamDompet* 😛

Makanya, dengan postur tubuh tinggi menjulang, dia kalau ke mana-mana jarang kena isu rasis macam istrinya yang bertampang dan berperawakan Asia kualitas super hahaha.

Jadi ingat pengalaman suami, waktu mau training ke Kanada tahun 2004 silam, petugas imigrasi di Bandara Soetta-nya sopaaaaan banget menyapa suami seperti kayak nyapa orang bule hihihi. Tahu sendiri kan mental orang-orang kita, kalau lihat orang ‘luar’ suka lebay. Si petugas menyapa dengan bahasa Inggris dengan senyum ramah tingkat tinggi. Pas suami ngeluarin paspor, si petugasnya langsung berwajah asem. Hahahhahahaha, ketipu ni yeeeee 😛.

Dari cerita-cerita ibu mertua, memang terlihat sekali ya betapa suku Minang sudah sadar pendidikan sejak dulu. Kakek suami (bapak dari ibu mertua) itu penilik sekolah kalau enggak salah. Doyaaaaaan banget membaca. Ibu mertua bilang, waktu kecil dulu, sampai tetangga terkaget-kaget kalau melihat kiriman buku segambreng ke rumah.

Didukung juga oleh bukti-bukti sejarah yang mempersembahkan tidak sedikit intelektual Minang dalam sejarah pergerakan bangsa sejak dahulu. 4 Bapak Bangsa yang pernah disebut-sebut dalam Majalah Tempo, 3 diantaranya adalah urang awak : Moh. Hatta, Sutan Syahrir dan Tan Malaka . Satunya lagi siapa hayooooo 😛.

Urang awak tak hanya berkibar di dunia politik. Kebudayaan nusantara juga dicekoki oleh seniman-seniman asal Ranah Minang. Sebut saja salah satu penulis fiksi favorit saya, Motinggo Busye. Jadul amat yak hahaha.

Istimewanya, intelektualitas kaum Minang didukung pula oleh pengetahuan agama yang juga diajarkan sejak kecil. Tak heran, saya merasa sangat ‘sejuk’ setiap kali membaca hasil-hasil pemikiran tokoh-tokoh Minang yang rasanya Islami sekali buat saya . Saya pribadi menganggap kalau Bung Hatta adalah penjelmaan ‘terindah’ dari konsep kecerdasan ilmu + spiritual yang tinggi 🙂.

Sudah pernah saya tuliskan biografinya di blog. Jadi ingat punya utang biografi Sutan Syahrir dan Tan Malaka hihihi. Nafsu menulis doang nih yang gede, kemampuan belum setara hahaha.

Urang awak juga sangat terdepan dalam keterbukaan. Tokoh-tokoh politik asal sana membentang luas dari pemikiran kanan, tengah hingga kiri. Tahu kan maksudnya hehehe. Tan Malaka itu misalnya. Beliau adalah tokoh komunis terkemuka asal tanah air. Sayang sekali demi propaganda anti PKI, nama beliau dibenamkan dalam sejarah saat rezim Orde Baru berkuasa.

Padahal, Tan Malaka memiliki pemikiran yang berseberangan dengan elit-elit PKI . Propaganda Orde Baru juga membuat pemahaman terhadap komunisme menjadi bias.

Kapan-kapan ingin sekali menulis uraian tentang hal ini. Agar orang tak salah meletakkan kebencian dan lebih melek sejarah biar enggak gampang diperbudak oleh propaganda provokatif sarat kebencian. Lucu kan, ngerti enggak, benci iya.

Benarlah salah satu petuah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Manusia … membenci apa yang tidak diketahuinya.”

Terus abis ini saya dibilang pro Komunis deh hahahahahhahaha. Umat muslim itu percayanya sama konsep Syariah Islam ;). Bukan kapitalis, bukan komunis.

Makanya, kaget juga kemarin chatting dengan sahabat saya dari kuliah yang asli Minang. Dia bilang keluarga besarnya anti Jokowi sekali. Karena isu-isu agama yang gencar menyerang Jokowi 🙁.

Eh, ternyata benar. Buya Syafi’i Maarif juga menemukan fakta yang sama. Saya bingung dengan tuduhan bahwa di belakang Jokowi tidak ada dukungan ulama. Lah itu Quraish Shihab gimana? Okelah, kalau menurut mereka Quraish Shihab itu katanya Syiah. Lantas bagaimana dengan Hasyim Muzadi dan Buya Syafi’i Maarif sendiri? 🙂.

buya syafii

Astagfirullah ya, yang sekelas Quraish Shihab saja bisa begitu mudah terkena fitnah, apalagi yang cuma sekelas ane huhuhuhu *sisirPoni*. Kira-kira tuduhan kepada Hasyim Muzadi dan Buya Syafi’i apa ya? Hehehe.

But as much as it hurts, jangan sampai terpikir membalas dengan cara yang sama, yuk . Biarin saja. Jadi ingat, beberapa teman yang berkali-kali menginbox saya bertanya soal kampanye-kampanye hitam ini. Lebih-lebih yang soal agama. Onde mande, gue berasa timses beneran dah hahahahhaha.

Saya juga tidak tahu sih harus bilang apa. Cuma bisa berpesan, “Sabar, sabar, sabar.” Bayangkan, kita saja yang level pendukung dengarnya bisa teriris-iris, gimana kalau Jokowi-nya sendiri coba? Hehehe 😉.

jokowi fitnah kumpulan

Ya abesss, mau bilang apa dong. Pokoknya sabar saja. Jangan dibalas ;).

Sekali lagi, jangan dibalas. Respons saja seperlunya untuk meluruskan. Kalau tidak bisa juga ya namanya juga sudah usaha hehehe.

The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.

Martin Luther King, Jr.

Stand still ya teman-teman Pro-Jo. Stand still ya, Pakde. Stand still 🙂.

Mari revolusi mental dimulai dari diri sendiri dulu. Tetap semangat. Salam damai. Salam dua jari, jangan lupa tetep pilih Jokowi ^_^

***

All That Is Gold Does Not Glitter :)

Setelah harta kekayaan para capres dan cawapres diumumkan, saya heran dengan komentar-komentar yang bernada, “Eh, katanya Jokowi sederhana. Sederhana kok hartanya sampai milyaran? Dasar tukang bohong!” Yang dukung Jokowi ikut-ikutan pengin belain deh jadinya :p.

Sejak kapan sederhana = miskin? Apakah kemewahan selalu berarti kekayaan? Pan sekarang apa-apa bisa kredit, hayooooo :P.

Ya, ya, saya enggak bisa bohong. Semasa saya tinggal di Jeddah dulu, beberapa kali harus ‘sakit hati’ karena masalah penampilan.

_MG_2977 resize

Suatu hari pernah datang di acara makan-makan di wisma KJRI. Saya, yang kurang gaul, akhirnya bertemu dengan banyak ibu-ibu dari ‘dunia yang berbeda’.

Memang agak saltum waktu itu hihihi. Tapi ya mau gimana lagi, stok abayanya memang itu-itu saja.

Saya datang berempat dengan tiga ibu-ibu telco lainnya.

Teman saya yang pertama ya memang gaul banget dan langsung mendapat ‘sambutan’ begitu masuk. Sudah terkenal lah namanya sebagai ibu-ibu ‘kalangan atas’ :D. Teman saya yang ke-2, yang memang penampilannya selalu mentereng, juga langsung mendapat respons yang oke. Teman yang ke-3, penampilannya biasa-biasa saja tapi dia dikenal sangat akrab dengan teman saya yang pertama tadi.

Duduknya kan melantai gitu. Saya mendekat, maksudnya mau duduk bareng mereka bertiga, agak terlambat masuknya karena ngejar-ngejar bocah dulu -_-.

Ealah, ibu-ibu lain yang disitu hanya melihat sekilas, melengos dan ogah memberi tempat. Mau colek teman yang 3 orang tadi, mereka sudah asyik mengobrol dengan ibu-ibu lainnya.

Saya pundung dan langsung ke luar ruangan. Suami nanya, “Lho? Kok malah ke luar? Enggak bareng yang lain?”

Saya menjawab jutek, “Di dalam panas!”

Keki ni yeeeee :P. Hahaha.

Di sekolah anak saya juga begitu. Anak saya kan bersekolah di sekolah Indonesia. Murid-murid di sana berasal dari Indonesia semua, datang dari berbagai kalangan. Dari anak supir, anak TKW sampai anak ‘gedongan’ hihihi.

Saya coba-coba jajan di kantin sekolah. Kata teman-teman saya, gorengannya enak, satenya endang, baksonya maknyus, nasi kuningnya top, ya bolehlah dijajal sekali-sekali.

Pas mau bayar, saya angkat abaya dan nyari-nyari receh dalam celana jeans. Saya orangnya malas ribet. Tas dan dompet suka ditinggal di mobil. Turun dari mobil, uang biasanya saya taruh dalam kantong celana jeans. Dasar cuek, duit ditaruh seenaknya jadi repot pas harus dikeluarin satu-satu nyari pecahan yang pas.

Eh, yang jaga kantin tahu-tahu bilang, “Enggak apa-apa kalau enggak ada duit. Di sini biasa kok ngutang dulu.”

Saya belum ngeh, “Ada kok, Bu. Ada. Bentar, ya.”

Penjaga kantinnya tetap ngotot, “Sudah, sudah, ngutang saja dulu. Memangnya kamu kerja di mana?”

What?? Not again! Hahaha.

Cerita lucu (lucu atau menyakitkan nih? hahaha) lain saat berbelanja ke Singaparna.

Suatu waktu, saya bertanya kepada penjaga toko, “Mas, daun singkong itu yang kayak apa, sih?”

Mas-nya langsung mendekat dan membantu mencari di rak. Eh tahu-tahu ada ibu yang menyeletuk dari arah belakang saya, “Memangnya sudah bekerja berapa lama? Masa daun singkong saja tidak tahu, sih?”

Ya, kaget dong. Nyolot amat. Saya menengok dan melotot ke arah ibu-ibu tadi. Saya tidak menjawab sama sekali tapi memberi tatapan setajam silet, semacam ingin bilang, “Rempong aje lo! Gue kan enggak nanya ke elo!”

Ibu-ibu itu orang Indonesia juga. Tapi memang, penampilannya ‘wah’ ;).

Sebenarnya sudah ada yang pernah memperingatkan saya saat saya masih tergolong ‘pendatang baru’ di Jeddah, “Eh, kalau keluar-keluar agak rapi dikit. Entar disangka pembantu, lho!”

Saya dulu suka geer, sih. Saya pikir, “Helooo, masa iya tampang kece beginih disangka pembantu! No way!” Melet-melet sambil *benerinPoni*.

Juli 2012

Saya salah besar. Di Jeddah, perlakuan yang kita terima berbanding lurus dengan apa-apa yang menempel di badan ;). Begitulah ‘hukum alam’ yang harus kita terima.

Tapi pengalaman paling juara lucunya (masih ngotot lho pakai kata lucu hahahaha) adalah saat acara arisan di salah satu sudut di tepi pantai Corniche Road. Kami datangnya konvoi waktu itu. Parkirnya deket-deketan.

Turun dari mobil nyaris bersamaan. Ibu-ibu lain langsung sibuk mencari spot yang pas sambil berjalan ke arah lokasi yang hendak kami datangi. Anak saya yang kecil masih bayi waktu itu, jadi turun dari mobilnya suka telat sendiri.

Pas lagi jalan mengejar teman-teman lain, ada yang menegur. Seorang ibu-ibu asal Indonesia yang lagi menggendong balita arab yang lucu banget. Sepertinya pengasuh anak di keluarga Arab. Sapanya ramah, “Orang Indonesia juga, ya?”

“Iya.” Jawab saya sambil mengangguk.

Walau saya sudah beranjak pergi, dia tetap menanyakan sesuatu, “Majikanmu orang Indonesia juga apa, ya?”

Tidaaaaaaakkkkk. Berasa ingin menggaruk-garuk tembok Masjid Terapung saat itu juga! Hahahahaha.

Bisa jadi mbak-mbak pengasuh anak tadi memang berpapasan duluan dengan teman-teman saya. Kelihatan kan kalau saya berusaha mengejar mereka. Ya pastinya mendengar percakapan teman-teman, dia langsung tahu kalau mereka juga orang Indonesia.

The problem is, sebagian besar teman-teman ‘satu geng’ di sana ya penampilannya kece-kece. Tasnya bagus-bagus. Salah sendiri ya suka sok idealis gak jelas! :P.

Itu baru dari sesama orang Indonesia. Belum lagi yang dari orang-orang Arab lokal atau dari jemaah haji. Nah, bagian ini sudah saya ceritakan tuntas di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” hihihi. Ada yang sudah baca? ;).

***

Sakit hati? Jangan ditanya. Perihnya itu di siniiiiiiiii –> tepuk-tepuk dada. *mulaiDrama* :P.

Tapi, saya menjadi belajar sesuatu :). Jika saya lantas ‘mengalah’ dan mengganti barang-barang yang saya pakai (abaya, tas dan sebagainya), saya merengek ke suami agar beli mobil bagus, saya memenuhi sudut rumah dengan berbagai perabotan mahal-mahal … itu artinya saya ‘kalah’.

Mana boleh begitu? ;).

Bukan salah saya kalau orang-orang lain memperlakukan saya dengan cara berbeda. Saya tidak bertanggungjawab apa pun kalau mereka tak memperlakukan dengan ‘layak’ karena (mungkin) abaya saya yang biasa-biasa saja dan kebiasaan saya wara wiri ke mana-mana tanpa nenteng tas atau semata-mata karena apa-apa yang menempel di badan.

Gambar : karacure.com
Gambar : karacure.com

Kalau ternyata ada sakit hati, anggap saja itu harga yang harus dibayar. Mahal memang. But hey, mana ada sih ‘ilmu’ yang ‘gratis’? ;).

Saya ini manusia biasa. Pasti ingin dihargai dan tidak suka dibeda-bedakan. Tapi enggak pernah kepikiran dari dulu untuk mengharap hal-hal seperti itu datang karena penampilan fisik atau materi yang saya punya.

Dijalani saja. Ngomel-ngomel (lebih tepatnya, ngamuk-ngamuk :D) ke suami paling hihihi.

Uniknya, setelah saya menerbitkan buku “Bunda of Arabia”, beberapa perubahan mulai terjadi. Sebelumnya juga sudah mulai terasa, nama saya mulai dikenal gara-gara blog “Cerita Jeddah” yang saya gagas dan mengajak teman-teman lain ikut menulis di sana :).

Setelah “Bunda of Arabia” diedarkan, saya ingat mengunjungi salah satu ‘teman dekat’ di suatu malam. Dia sedang kedatangan beberapa tamu lain. Dia memperkenalkan saya kepada tamu-tamunya. Semuanya ibu-ibu juga.

Salah satu dari mereka berkata (sambil menjabat erat tangan saya), “Oh, ini toh yang namanya Mbak Jihan. Jarang main-main sih. Baru ketemu sekarang. Yuk, kapan-kapan ke rumah, ya.”

Saya iya-iya saja tapi dalam hati senyum-senyum sendiri. Saya bukan tipe pelupa kalau urusan wajah orang :D. Maklum, tipe observer alias emak-emak KEMAL (kepo maksimal) hahaha. Ibu yang tadi berbicara sering kok bertemu muka atau berpapasan langsung dengan saya di Toko Singaparna atau di beberapa acara lainnya ;).

bnnerBoA

Sedikit terselip rasa belagu dalam hati hehehe. Semacam pembuktian kepada diri sendiri untuk prinsip yang selalu diyakini. Penghargaan dan pengakuan orang lain hendaknya datang karena hal-hal (positif) yang kita lakukan bukan karena materi yang kita miliki :).

Be recognized for the things that we’ve done, not for the things that we’ve had.

Don’t get me wrong. Saya enggak ada dendam sama sekali. Ish, ngapain dendam-dendam. Kayak saya enggak pernah punya salah saja hehe. Kesalahan saya sendiri sih jangan-jangan lebih besar daripada itu *istighfar*.

Faktor lingkungan dan pergaulan di sana memang seperti memaksa kita untuk terseret. Bermewah-mewah seperti menjadi pembenaran atas, “Ya mau gimana lagi, daripada diremehin orang ya mau gak mau harus ikut gaya hidup begini.”

Lawan!

Kita bagai terkurung dalam pikiran, “Orang yang berpunya ya hidupnya harus mewah. Wajar itu.”

Tanpa sadar pikiran lain otomatis terinstal, “Orang yang biasa-biasa saja penampilannya itu ya bukan orang berpunya.”

Terjebak dalam paradigma di atas tadi, sederhana = miskin, mewah = kaya. Mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang hidup mewah. Orang kaya gitu lho hehehe. Semacam menganggap mereka lebih hebat.

Seperti memilih presiden. Mentang-mentang Jokowi penampilannya cenderung biasa-biasa (tidak seperti umumnya pejabat tinggi lain), langsung dicap hartanya tidak banyak. Begitu dibilangin hartanya bermilyar-milyar malah marah-marah sendiri dan menuduhnya pembohong.

Setahu saya, Jokowi tidak pernah mengaku miskin, tuh ;).

Pejabat tinggi hidup mewah, kita anggap standar. Tapi sering juga kita curigai hartanya hasil korupsi. Lucunya, saat ada yang tidak hidup mewah malah kita lecehkan dan kita curigai. Pasti pencitraan. Jadi, maunya apaaaaa??? Hahahahaha.

Teringat salah satu pepatah bijak dari orang-orang dulu, “Kalau engkau hanya menilai orang dari penampilannya saja, engkau akan kehilangan banyak kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.”

Kalau kita hanya sibuk mengukur badannya yang tipis, posturnya yang kurang menjanjikan sebagai pemimpin, gaya hidupnya yang menurut kalian hanya pencitraan saja, terjebak dalam pola pikir “pejabat biasanya pasti mentereng”, rasa curiga membuat kalian buta akan rekam jejaknya … jangan-jangan kita kehilangan kesempatan untuk punya pemimpin yang beneran hebat :).

All that is gold does not glitter -J.R.R Tolkien-

Dukung Jokowi. Revolusi mental, teman-teman ^_^. Salam dua jari ;).

***

 

Sekolah Anak di Irlandia

(Ini tulisan saya yang pernah dimuat di Tabloid Mom & Kiddie, edisi lama. Awal mei kemarin. Enggak ada kata terlambat untuk pamer ya, Kakaaaa hahhahhaha 😛.Ada sekitar 4 emak-emak Indonesia perantau lain yang juga diminta menceritakan pengalamannya tentang kurikulum sekolah di negara tinggal masing-masing. Sebagian dari mereka adalah kontributor di blog Mama Sejagat .

Di foto ini, yang atas tuh, ada Mama Bangalore-New Delhi, Mama Relda 😀. Saya kebagian sekolah anak di Irlandia.Dammit, ketauan deh umurnya hahaha.Ini naskah aslinya sih tentang sekolah anak di Irlandia. Enggak tahu hasil editannya kayak apa hihihi… Makanya rada ‘resmi’ dan enggak ada *benerinPoni* dkk pastinya :D)

Hari itu saya menghadiri salah satu seminar parenting yang cukup rutin dilaksanakan di sekolah anak saya. Seminar kecil sih biasanya. Peserta mungkin hanya 4-10 orang. Mungkin karena kesibukan di rumah, tak banyak ibu-ibu yang menghadiri seminar semacam ini di sekolah. Padahal gratis, lho. Maklum, di sini tak umum menggunakan jasa asisten rumah tangga 🙂.

Seminar berakhir sekitar pukul 11.30 siang. Pas dengan saat istirahat anak sekolah. Begitu keluar menuju pekarangan sekolah, ramainya anak-anak bermain di luar. Tak hanya ada anak-anak, ada sekitar 3-5 orang guru perempuan yang berjaga di sana. Semuanya bersiaga memperhatikan anak-anak yang berlarian di seluruh penjuru pekarangan sekolah yang memang luas banget itu.

Ada yang berdiri agak dekat ke pagar, untuk mencegah kalau ada yang keluar masuk mungkin, ya. Ada yang berdiri di tengah-tengah lapangan sambil sesekali memperingatkan kalau ada yang terlibat perselisihan. Lalu, terlihat seorang guru berambut panjang yang sepertinya sedang menemani beberapa murid yang masih nampak malu-malu ikut berbaur dengan yang lain. Mungkin anak baru.

 

Terkesan banget dengan pemandangan ini. Pengawasan penuh ternyata tidak hanya dalam kelas saja, saat di luar kelas pun, selama berada dalam jam sekolah, guru-guru tetap aktif memperhatikan murid-murid.

Anak saya bersekolah di St. Mary Primary School. Sebuah sekolah publik yang dibiayai oleh pemerintah di sebuah kota kecil, Athlone. Kota ini terletak sekitar 2 jam dari ibukota Republik Irlandia, Dublin. Sekolah tidak memungut bayaran sama sekali. Orang tua hanya diminta membeli beberapa buku dan iuran sekitar 20 euro per tahun. Seragam diwajibkan tapi tidak harus membeli model yang sama. Asal warnanya mirip tidak masalah mau membeli di mana.

Sekarang ini, putra sulung baru saja menyelesaikan selesai dari Senior Infant, selevel TK nol besar atau TK B kalau di Indonesia.

Kurikulum anak-anak setingkat TK di Irlandia enggak santai-santai banget ternyata. Ada pelajaran menulis, berhitung dan membaca juga sejak level junior infant (TK Nol kecil).

Tapi, metode pengajarannya sangat menyenangkan dan sama sekali tidak ada paksaan . Jadi, kemampuan membaca, berhitung dan menulis si kecil tidak pernah dijadikan patokan untuk naik kelas atau tidak. Murni untuk melatih keterampian saja.

Gurunya ada beberapa. Ada satu wali kelas yang menjaga penuh siswa selama di dalam kelas yang biasanya berlangsung dari pukul 09.20 pagi hingga 14.00 siang. Dinding kelas dipenuhi rak-rak berisi macam-macam mainan. Semuanya sudah disediakan oleh sekolah.

Ada guru khusus yang mengajar membaca, lho. Jadi, tiap hari sesuai jadwal anak-anak akan dipanggil satu persatu untuk mengecek perkembangan kemampuan membacanya. Ada semacam peer membaca tiap malam. Ringan, kok. Hanya satu halaman per hari. Isinya biasanya cuma 2-3 kalimat saja. Saat sang anak belajar membaca, anak-anak lain tetap bermain dalam kelas.

Saya senang karena anak saya jadi cepat bisa membaca-menulis-berhitung tanpa saya mesti repot-repot ini itu dan dia kelihatan riang dan tidak dipaksa-paksa .

Soal bullying selalu menjadi perhatian khusus di sekolah. Mungkin karena itulah, kamar kecil untuk anak-anak level junior dan senior infant hingga grade 1 diperhatikan betul. Kamar kecilnya terletak dalam kelas. Disediakan sebuah ruangan khusus di pojok ruangan.

Jorok tidak, ya? Saya beberapa kali pernah masuk dan memeriksa langsung. Bersih, lho. Saya tanyakan ke gurunya. Ternyata tiap hari memang ada petugas khusus yang membersihkan kelas beserta kamar kecil tadi.

St Mary Primary School terdiri atas 2 gedung dengan lokasi berseberangan. Pembagian kelasnya cukup unik. Anak-anak level junior infant, senior infant, grade 1 (kelas 1 SD) dan grade 6 (kelas 6 SD) ditaruh dalam lokasi yang sama. Sementara sisanya berada di gedung di seberang jalan. Menurut kepala sekolah, ini untuk mencegah senioritas berlebihan dari anak-anak kelas paling tinggi.

Justru anak-anak kelas 6 dilatih untuk menjaga adik-adiknya. Saya sering banget melihat sendiri, anak-anak kelas 6 ini diberi tugas mendampingi anak-anak level junior/senior infant dalam beberapa kegiatan. Seperti misalnya menemani mereka saat orang tua terlambat menjemput. Tentu saja, selalu ada guru yang mengawasi .

Anak saya juga cerita, kalau pelajaran olah raga, kadang ditemani oleh anak-anak kelas 6 ini. Katanya, “Big boys and big girls stay with us and teach me something while teachers are pretty busy with others.”

Kegiatan belajarnya tidak hanya dalam kelas atau olah raga. Ada kegiatan rutin tiap minggu yang namanya nature-walk activities. Kata anak saya, biasanya mereka dibawa berkeliling pekarangan sambil diajarin nama-nama pohon dan tumbuhan yang tumbuh subur di salah satu sudut pekarangan sekolah . Atau kadang dibawa naik bis ke taman dekat sekolah.

Hasil rapor anak saya sangat memuaskan. Keterampilan kognitif seperti membaca dan menulis bisa sejalan dengan keterampilan non-kognitifnya seperti communication skill dan kemampuan bersosialisasi.

Anak saya cerita, tiap minggu, posisi duduk diubah-ubah. Di kelas ada beberapa meja dengan berbagai warna : Red table, blue table, yellow table dan green table. Dia kadang berceloteh, “This week I’m in blue table with Tyrish, Kelly, Joseph and Tanvi.” Terus minggu depannya dia bilang lagi, “Mommy, I’m in red table now. You know, red is my favorite color. But I sit next to Hamzah. Last week, Hamzah was on green table.”

Tiap minggu juga ada pemilihan line-leader, student of the week, cushion-owner, yang biasanya digilir ke semua murid. Semua pasti mendapat giliran.

Oh ya, bagi anak-anak yang berkelahi, hukumannya berat. “They will stay at the big office for hours,” begitu kata anak saya. “Even if you forget to say thank you or sorry, teacher will be sad.”

Menurut pendapat saya, sekolah benar-benar berusaha memaksimalkan potensi si kecil dengan menyediakan berbagai macam ruang dan kegiatan untuk berekspresi. Sekaligus melatih sungguh-sungguh agar anak-anak memiliki tingkah laku yang baik. Dan semuanya tetap dalam pengawasan penuh untuk menjamin keamanan dan kenyamanan anak selama di sekolah. Semoga anak saya pun bisa mendapat manfaat optimal dari metode pendidikan yang tidak berat sebelah ini .

***

Btw, anak saya akan segera memasuki jenjang SD (grade 1) per tahun ajaran ini . Terima kasih buat Mrs. Gallagher yang sudah setahun penuh membimbing si Abil di kelas Senior Infant 🙂.

A teacher affects eternity: she can never know where her influence stops.
-Henry Brooks Adams

Thank you, Ibu Guru ^_^ …so very much 😉.

***

Note : intinya sih, pendidikan sekolah anak di Irlandia ini sangat menjunjung tinggi keutamaan tingkah laku :). Tapi tetap balance dengan ranah kognitif seperti membaca-menulis-berhitung, walau tidak dijadikan patokan utama penilaian ;). Yang paling penting sih … gratis ya Kakaaaa. Hahahahahahhaha 😛

True Story_Edisi 19_Tahun_VIII_Tabloid Mom&Kiddie_Sekolah Luar Negeri_Deppy (2)

At Least We Had a few Laughs ;)

Sullivan dan Mike berjalan gontai bersama hampir semua karyawan perusahaan lain. Setelah melewatkan beberapa malam yang mencekam akibat suatu ‘kejadian luar biasa’ di gedung kantor tempat mereka bekerja.

Mike bilang ke Sullivan, : “Hey, you all right? Come on, we did it. We got Boo home. Sure, we put the company in the toilet, and, gee, hundreds of people will be out of work now, not to mention the angry mob that’ll come after us when there’s no more power… but hey, at least we had a few laughs, right?”

Yup, kali ini mau bincang-bincang ringan soal film “Monster Inc.” Hihihihi, doyannya nonton film anak-anak yang enggak ribet-ribet . Kelihatan deh otaknya cetek hahahahaha 😀.

Film ini memiliki twisted ending yang sangat keren (versi yang suka *benerinPoni* :P). Buat saya, apa yang tiba-tiba terlintas dalam benak Sullivan setelah Mike mengatakan kalimat tadilah yang menjadi inti pesan moralnya.

Kita flasback sedikit jalan ceritanya.

Monster Inc, adalah perusahaan terkemuka yang tugasnya menyediakan energi buat negeri tempat para monster tinggal. Entah gimana caranya, mereka mendapatkan energi ini dari jeritan anak-anak manusia yang rutin didatangi oleh para Scarer tiap malam melalui pintu lemari di kamar anak-anak tersebut. Nama pun kartun ya, yang tidak mungkin bisa jadi mungkin hihihi.

Para Scarer ini karyawan yang memang kerjanya buat nakut-nakutin anak-anak. Mereka inilah para karyawan intinya. Termasuk si Sullivan yang berpasangan dengan Mike.

Monster Inc (gambar : disney.wikia.com)
Monster Inc (gambar : disney.wikia.com)

Sullivan yang badannya memang gede, perawakan super seram dengan suara menggelegar, is one of the best Scarer ever.

Peraturan perusahaan sangat ketat. Para Scarer tak boleh menyentuh barang-barang yang ada dalam kamar anak-anak yang mereka satroni. Apa pun yang berkaitan dengan anak-anak ini termasuk barang-barang milik mereka adalah hal yang sangat terlarang untuk para Scarer.

Kalau ada barang anak kecil yang nyangkut atau terbawa oleh para Scarer, mereka akan langsung dianggap terkontaminasi dan alarm tanda bahaya akan menyala-menyala dengan hebohnya. Si Scarer yang bersangkutan bakal diperlakukan sebagai virus mematikan. Dicukur habis bulunya dan diisolasi.

Di suatu malam, secara tak sengaja, Sullivan bertemu seorang anak kecil (manusia) yang melewati pintu “ajaib” yang dipakai Randall (salah satu scarer yang paling nafsu menyaingi Sullivan) dan masuk ke gedung Monster Inc.

Sullivan benar-benar panik. Berdua Mike, mereka mati-matian menyembunyikan “aib besar” ini. Bayangkan, barang anak-anak manusia saja adalah haram, gimana kalau yang datang adalah anaknya langsung coba? Skandal besar!!!

Anak kecil ini akhirnya dinamai Boo.

Di sinilah petualangan-petualangan seru dimulai. Menjalani pekerjaan sebagai Scarer membuat Sullivan sangat kaku terhadap Boo yang ternyata malah nge-fans abis sama Sullivan. Maklum ya, buat para Scarer, anak kecil ini harus dianggap “musuh besar.”

Lama-lama Sullivan malah kepincut juga kepada Boo. Yang tadinya berusaha keras menjaga jarak dan mencari-cari cara agar bisa menyelundupkan Boo kembali ke kamarnya, Sullivan malah makin sayang kepada Boo.

Kedatangan Boo ternyata bukan suatu kebetulan semata. Dari situlah terkuak “rencana busuk” Waternoose (direktur Monster Inc) yang bekerja sama dengan Randall. Waternoose dan Randall mengembangkan sebuah mesin untuk menyedot energi dari anak-anak kecil dengan cara yang lebih ‘kejam’.

Sullivan benar-benar tidak mengira. Rasa kasihannya kepada Boo membuat Sullivan berusaha menggagalkan rencana jahat ini. Walau akhirnya, Sullivan sangat berat untuk melepas Boo. “Pintu” Boo pun mau tak mau harus dihancurkan setelah Boo berhasil dikembalikan ke kamarnya.

Sullivan and Boo (gambar : weheartit.com)
Sullivan and Boo (gambar : weheartit.com)

Waternoose terpaksa mengambil langkah pahit ini karena perusahaan tengah dilanda krisis energi. Terbongkarnya niat Waternoose malah membuat perusahaan makin terancam bangkrut. Seperti kata Waternoose pada Sullivan, “I hope you’re happy, Sullivan. You destroyed this company. Monsters Incorporated is dead! Where will everyone get their scream now? The energy crisis will only get worse, because of you!”

Betulkah Monster Incorporated benar-benar tumbang karena Sullivan? Ini nih pesan moral super keren yang saya maksud .

Justru Sullivan yang mengambil alih tampuk kekuasaan dari Waternoose yang harus berurusan dengan semacam badan FBI si Negeri Monster tadi. Di tangan Sullivan, Monster Inc malah berkembang lebih besar dan mengubah paradigma “Scare Floor” menjadi “Happy Floor.”

Yup, instead of, menakut-nakuti anak-anak kecil tiap malam dan memanfaatkan jeritan mereka sebagai sumber energi, Sullivan punya cara lain untuk mendapatkan energi yang 10 x lipat lebih besar. Para monster tetap memasuki pintu anak-anak secara rutin, tapi yang diincar kini bukan teriakan ketakutan mereka lagi. Tapi tawa mereka.

Jadi, tugas para monster sekarang bukan lagi memasang tampang seseram mungkin. Mereka malah sibuk mencari cara agar si anak malah tertawa sekeras-kerasnya setelah mendengar “stand up comedy” para monster atau kegiatan-kegiatan lucu lainnya .

Hubungan monster dengan anak-anak malah harmonis. “Scare Floor” yang tadinya selalu bernuansa tegang dan ‘dingin’ kini hiruk pikuk penuh balon-balon dan tawa ceria para monster.

Mike menggantikan posisi Sullivan.

Sulley: Nice job, Mikey. You filled your quota on the first kid of the day.

Mike: You know, only someone with great comedic timing could produce this much energy in one shot.

Sulley: Uh-huh, and the fact that laughter has ten times the energy of scream had nothing to do with it.

Sullivan menemukan rahasia tawa anak kecil ini sebenarnya tidak sengaja. Saat menyembunyikan Boo di apartemen Sullivan, Boo pernah beberapa kali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Mike. Tawa Boo membuat satu gedung ikut berguncang dan aliran energi listrik mengalir kuat.

Sama seperti kita, ya. Kadang-kadang mau tak mau harus berhadapan dengan pengalaman yang tak diinginkan. Eh, ternyata dari pengalaman tersebut kita tiba-tiba seperti mendapat wangsit yang tidak kira-kira luar biasanya . Seperti Sullivan yang tahu-tahu menemukan sumber energi berkali-kali lipat oleh tawa seorang anak kecil.

Jeritan anak-anak itu identik dengan ketakutan, kebencian dan banyak hal negatif lainnya. Sementara tawa anak-anak selalu diasosiakan dengan kegembiraan, keceriaan dan banyak hal positif lainnya.

Sullivan mengajarkan kepada kita, “Kegembiraan itu efeknya 10 kali lipat lebih dahsyat daripada kebencian.”

Mencintai itu pasti kekuatannya lebih besar daripada membenci. Sounds cheesy, but it’s simply the truth 😉.

Mike - Sullivan - Boo (gambar : cinelinx.com)
Mike – Sullivan – Boo (gambar : cinelinx.com)

Cara Sullivan menemukan rahasia kecil ini juga ternyata diawali dengan persahabatannya dengan Boo, makhluk yang seharusnya dibenci dan dijauhinya. Aroma kebencian memang harus dijaga ketat dalam hubungan Para Scarer dan “mangsa”nya. Iya kan? Logikanya, kalau para Scarer ini malah gemas kepada anak-anak atau salah-salah malah jatuh hati pada imut dan lucunya si anak, gimana mau nakut-nakutin mereka coba? Hehehehe.

Saya menulis ini bukan tanpa tujuan khusus. Lagi-lagi ini tentang Jokowi :D.

Karena terus terang, saya pernah bilang gitu ke teman saya dalam rangka kampanye pilpres ini. Saya ingat bilang begini, “Eh, gue gak gitu semangat kampanye-in Jokowi yang sekarang ini, soalnya gue enggak ada rasa sebel ke Prabowo. Biasa-biasa aja. Sementara pas Pilkada DKI, empet banget lihat Foke makanya gencar promosiin Jokowi pas tahun 2012.” Hahahhaha.

Saya memang tidak memutuskan untuk “benci” kepada Prabowo. Ya ngapain juga hehehe. Saya toh sudah setahun lebih jadi simpatisan Partai Gerindra. Banyak hal-hal baik dari Gerindra dan Prabowo yang sudah saya ketahui sebelum Pileg dan Pilpres 🙂.

Dan salah jika saya mengira tanpa rasa benci, semangat kampanye saya bisa memudar. Justru saat menggali terus hal-hal positif tentang Jokowi, mengabaikan berita-berita negatif tentang Jokowi maupun Prabowo, energi positif saya makin menyala-nyala . Widih, lebay kali Mbak? Hahaha. Kalau enggak lebay berarti bukan Mbak Poni yak 😛.

Etapi serius, lho. Kalau sudah tahu manusia itu pasti ada salahnya, apa untungnya kita korek-korek terus? Tanpa dikorek juga pasti ketemu kok . So guys, fokus kepada rasa cinta sajaaaaaa . Lihat ke mana hati lebih condong dan kerahkan semua energi untuk melihat hal-hal baik yang ada pada si pilihan hati tadi.

Rasa benci memang bisa memberikan kekuatan juga. Saya juga percaya itu. Tapi saya lebih yakin kalau rasa yang positif kekuatannya lebih besar. That laughter has ten times the energy of scream!

Video 'cinta' untuk Pak Jokowi masuk MetroTV news lho :D
Video ‘cinta’ untuk Pak Jokowi masuk MetroTV news lho 😀

Apa iya saya tak pernah berusaha mencari tahu sisi-sisi negatif Prabowo dan Jokowi? Ya pasti dong. Tapi itu ranah personal. Cukup untuk saya sendiri, tak perlu dishare wall atau di timeline. Persepsi kita pasti beda. Lemahnya Jokowi di kubu lawan bisa jadi kekuatan Jokowi bagi para lovernya. Demikian juga untuk Prabowo.

Teringat salah satu komentar bagus yang pernah saya baca saat lagi blusukan di news feed (hihihihi) : “Membenci itu hak tiap orang. Manusiawi. Tapi menebar kebencian itu adalah hal yang berbeda.”

Jadi teman-temanku yang baik hatinya, kita sudah memasuki bulan puasa. Malah yang di tanah air sudah pada berbuka puasa nih, ya. Sebagian malah sudah memasuki hari ke-2.

Mari manfaatkan momentum Ramadan kali ini untuk memompa semangat positif dalam menebar kebaikan. Termasuk semangat positif tentang Jokowi  bagi pendukungnya.  Saya percaya kedua capres yang tengah bertarung ini adalah orang-orang luar biasa. Tergantung kalian saja mau pilih yang mana.

Percaya sepenuhnya pada kebaikan dan mari sama-sama kita buang yang buruk-buruk.

Seems like too good to be true, yak hehehehe. But I’m a believer! Aren’t you? 😉

Selamat menjalankan ibadah puasa kepada semua teman-teman yang menjalankan 🙂.

Salam 2 jari dari Irlandia ^_^

jokowi for indonesia irlandia


***

Revolusi Mental, Tal, Tal !!!

Sudah nonton Mata Najwa malam tadi. Edisi “Ahok dan Ibukota”.

I really want this guy to be the DKI 1!

Dari dulu sudah merasa Jokowi-Ahok ini benar-benar duet maut! “Jalan panjang” mereka berdua dipertemukan di Pilkada DKI. Sungguh berharap Jokowi dan Ahok bisa mengepung Monas dari utara dan selatan 😀.

Terungkap jelas kritikan Ahok kepada terhambatnya masalah ibukota disebabkan birokrasi pusat. Tak bermaksud menyalahkan, AHok  tak segan-segan mengakui Pemda Jakarta pun bukannya tak luput dari ‘dosa’ 😉.

Kalau saya bilang, Jokowi dan Ahok itu modelnya setipe, kok. Cuma, Ahok itu orang luar Jawa. Kebetulan saya sendiri kan aslinya dari Sulawesi. Belasan tahun hidup di tanah Jawa bergaul dengan macam-macam suku, saya jadi tahu betul tabiat orang Timur itu agak mirip dengan orang Sumatera. Sama-sama kagak doyan basa basi dan tak segan-segan menyuarakan isi hati langsung ke mulut! Hahahaha  😀.

Jokowi itu tegas, lho. Boleh dicek rekam jejaknya di Solo dan perseteruannya dengan Gubernur Jateng dulu semasa beliau masih menjabat jadi walkot Solo . Cuma Jokowi lebih tenang dan tidak grasak grusuk 😉. Ahok ya gitu, deh, hahahaha. Sehingga banyak orang salah kaprah menganggap Jokowi itu ‘boneka’ yang bisa dimainkan 🙂.

Fenomena Jokowi – Ahok dan berkali-kali mendengar ceramah-ceramah Anies Baswedan soal “Kita harus memberikan kesempatan orang-orang baik untuk memasuki arena politik”, saya sampai pernah bilang ke suami, “Pulang ke Jakarta, yuk. Gue mau jadi caleg jadi tahun 2019. Tahun 2024 deh kalau gagal!” Hahahahahahaha.

Suami saya ngakak dan melecehkan, “Model kayak elo. Entar pas rapat dibully dikit langsung nangis!”   😀.

Anies Baswedan bilang, “Berhenti mengeluh tidak cukup!”

Yes! Ayo turun tangan . Jangan cuma bisa urun angan. Berharap semua berubah dengan sendirinya sementara situ maunya ngomel-ngomel doang atau diam saja.

Turun tangan untuk merobohkan birokrasi dan politik yang selalu dikesankan sebagai hal kotor dan terlarang . Mendukung orang-orang baik dan kompeten untuk memasuki pemerintahan dengan cara terhormat. Suara rakyat harus bergema lebih kencang daripada suara partai!!!

Lihat tidak sih bedanya Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, Risma, Nurdin Abdullah, Suyoto, Andi Rudiyanto Asapa, dengan definisi pejabat yang sudah melotok dalam pikiran kita. Pejabat tinggi itu ya MAKRO. Mikir-mikir strategis. Enggak boleh berlagak bak manajer, pecicilan sana sini. Itu tugas anak buah. Tugas bos besar itu cuma mikir. Gimana mau mikir kalau bahan-bahan yang mau dipikirin enggak lengkap 🙂.

Tonton wawancara Ahok ini! Anda bisa lihat Ahok menawarkan tidak sedikit solusi strategis yang didukung oleh bukti-bukti detail yang tidak mungkin didapatkannya hanya dengan duduk manis di belakang meja . Semuanya memang harus dimulai dari pemimpin.

Kabar baiknya, pemimpin itu kita yang pilih, teman-teman . Mari berubah bersama. Buang jauh-jauh paradigma pemimpin itu tak boleh terlalu banyak bersentuhan dengan yang mikro-mikro. You never know if you don’t go! Percaya deh, pengalaman membuktikan.

Untuk jadi planner yang optimal, anda harus menguasai banyak detail terlebih dahulu. Untuk merancang strategi, kuasai dulu medannya!

Saya punya banyaaaaak sekali pengalaman di dunia IT tentang ini karena dulu saya pernah bertahun-tahun menjadi programmer sebelum akhirnya menjadi system analyst dan business analyst 😉.

Banyak kok teman-teman saya yang jadi BA sejak fresh graduate. Tapi segera saya mensyukuri betapa banyak keuntungan yang saya dapatkan karena saya punya pengalaman mengurusi hal-hal teknis nan mikro-mikro itu hihihi.

Emang gatal-gatal ini, tempo hari membaca diskusi teman-teman saya soal makro vs mikro, CEO vs manager, strategis vs taktis. Padahal, program “management trainee” itu lagi hits di banyak perusahaan-perusahaan besar. Banyak perusahaan berusaha “membentuk” pemimpin yang benar-benar dari “bawah” . “Mereka” tahu benar pentingnya menguasai hal-hal yang sifatnya mikro untuk membentuk pemikiran makro yang lebih komplit.

Anda tahu MT sales di Unilever tuh ya, benar-benar diterjunkan ke pasar-pasar untuk blusukan dari subuh sampai malam. Bukan hanya di ibukota. Tapi disebar ke berbagai kota. Dari para “blusuker” inilah nanti yang terus merangkak naik ke posisi strategis. Begitu juga di bank-bank besar. Ada teman saya yang lulusan teknik masuk bank kudu jadi kasir dulu dan belajar tata buku! 😛.

Bill Gates deh contohnya. Sebelum jadi CEO di Microsoft, pasti dulu kerjaannya “blusukan” melulu kan di dunia coding dan bermain-main dengan source code . Makanya, pas jadi CEO pun, bawahannya ya mana berani kali bokis-bokis depan Bill Gates hahahaha. Mereka tahu bos-nya sangat paham seluk beluk yang “mikro-mikro” itu . Jangan-jangan sampai sekarang pun, Bill Gates masih suka ngoding tuh hihihihi.

Saya kutip salah satu komentar di blog saya, “…semakin ke atas tingkat manajemennya, maka masalah yang perlu diketahui adalah masalah secara makro karena masalah mikro diselesaikan oleh manajemen yg level lebih bawah. cuma aku setuju, blusukan juga penting karena saking banyak tingkatannya, masalah sebenarnya yang mau disampaikan malah jadi bias. jadi aspirasi dan yang nyampe juga beda dan kadang masyarakat itu hanya butuh didengar kok (Vivi).”

Lucu juga melihat teman-teman saya berusaha membandingkan pemerintahan negara sekelas Amerika Serikat dengan Indonesia. Onde mande. Di US, masih ada yang tinggal di kolong jembatan gak? Anak putus sekolah banyak gak? Mau korupsi gampang gak? Level pendidikan orang-orangnya setinggi apa rata-ratanya?

Di negara-negara maju dengan sistem yang sudah sangat established memang mengedepankan pemimpin yang “dandy” dan “jago ngomong”. Kalau levelnya masih kayak Indonesia, jangan disama-samain atuh 😉.

Kalau mau bertarung ideologis, apalagi sampai mau gaya-gayaan di mata internasional, kenyang-in dulu perut rakyat, sejahterakan dulu hidup mereka. Kalau sekadar makan teratur saja masih banyak yang kesulitan ya jangan berani-berani berbicara lantang soal disiplin moral, integritas bla bla bla. Rakyat masih banyak yang empot-empotan sudah berkoar-koar mau menantang negara lain hahahaha.

Lawan dulu musuh dalam negeri kita. Beperanglah melawan kelaparan, keserakahan dari para koruptor dan sistem yang kocar kacir.

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”

Dalam kitab suci agama saya makanya tidak bosan-bosannya Tuhan memperingatkan umatnya untuk peduli pada mereka yang kurang beruntung ekonominya . Jangan dikira Islam hanya pintar mengurai soal salat dan puasa saja. Islam pun sungguh keras memerintahkan yang namanya keadilan sosial. Suatu hal yang ironisnya sungguh sulit ditemukan di negara-negara yang mayoritas muslim .

Jangan bilang saya liberal! Tanyakan pada yang menurunkan ayat-ayat suci dalam alquran!

Gandhi pun sudah menegaskannya, “Poverty is worst form of violence.”

Jangan pula terus-terusan membicarakan sumber daya alam. Teruuuus saja menyebut-nyebut soal minyak, minyak, emas, emas. Lihatlah Negeri Jepang. Punya apa mereka???? Yang membuat nama mereka melesat di mata dunia itu karena SUMBER DAYA MANUSIANYA. Etos kerja, kreatifitas dan moral mereka yang sungguh membuat kita semua iri bukan? 😉.

anies soal SDM

Sampai-sampai di pertandingan bola pun, kita semua serasa ditampar melihat supporter Jepang sibuk memunguti sampah seusai pertandingan berlangsung. Timnya kalah pula lho. Supporter lain mungkin malah sibuk menghujat atau menangis, atau malah selfie-selfie .

Lihatlah etos kerja orang-orang Arab. Maaf nih, soalnya suami saya pernah bekerja di Arab Saudi. Semua juga tahu etos kerja orang Arab pada umumnya (tidak semuanya ya) itu sangat gimanaaaa gitu.

Arab Saudi kaya minyak tapi lihatlah begitu sulitnya pemerintah mereka sekarang menyalurkan tenaga kerja mereka. Begitu gencarnya pemerintah Saudi sekarang mengancam perusahaan-perusahaan asing di negaranya untuk memakai tenaga kerja lokal.

Sampai perlu diancam segala lho. Mengapa? Karena perusahaan-perusahaan asing ya ogah menggunakan SDM Saudi yang dikenal tidak terlalu cemerlang dan (maaf) agak malas/lamban pula. Rugi dong. Mending memakai tenaga pendatang yang memang jauh-jauh merantau untuk mengadu nasib sekuat tenaga, lahir dan batin .

Jangan salah, dengan memakai tenaga asing, perusahaan harus merogoh kocek dalam-dalam karena Saudi memang bukan magnet yang menarik buat pendatang. Kehidupan yang agak “terisolasi”, pergaulan sosial yang tidak mudah, mau tak mau membuat perusahaan harus memikat pendatang dengan gaji besar. Hahahahaha. Maaf, pengalaman pribadi enggak bisa bohong .

Saudi mungkin merasa dirinya kaya jadi ya kurang telaten mendidik generasi mudanya. Sekarang, baru deh pada panik . Abegenya dah pada dewasa dan butuh pekerjaan. Sementara posisi-posisi strategis yang butuh skill tinggi malah diisi oleh orang-orang asing. Biasa dimanjakan, anak-anak muda Saudi ini ya mana mau pekerjaan ecek-ecek macam jadi level admin. Gengsi cuuuyyyy hahahaha.

Ingat, sumber daya alam itu suatu hari akan habis dan tak mungkin kita perbaharui. Tapi sumber daya manusia akan terus lahir dan lahir sebelum hari akhir datang .

Indonesia perlunya pemimpin yang mau bekerja dan sudah teruji dengan pengalaman menduduki kursi kekuasaan! Ingat, berpikir besar tidak sama dengan berbicara besar . Dan ingat juga, seseorang itu bisa kelihatan “level”nya ada di mana saat sudah pernah bersentuhan dengan kekuasaan. Apakah dia yang membawa perubahan atau dia yang terbawa carut marutnya sistem birokrasi kita .

Sistem masih lemah, pengawasan masih porak poranda, malah terpikat pada yang yang jago berpidato . Situ kira kita ini macam Amerika Serikat? Acara debatnya dinanti-nanti dan menjadi acuan penting. Duh, yang nonton di US tuh udah pada kenyang, orang pinter-pinter pula, enggak gampang kena propaganda murahan yang makin santer di pilpres ini .

Mental bawahan dan birokrasi yang masih bersifat “feodal” dan “yang penting bapak senang” ini yang berusaha mati-matian diubah oleh Jokowi-Ahok di DKI. Mereka berdua tidak segan-segan berinteraksi langsung dan membuka hasilnya seluas-luasnya kepada publik.

Ahok tidak takut tuh serapan anggaran menurun tajam dan dituduh tidak efisien. Karena dengan tegas dia bisa menunjukkan SECARA DETAIL (mikro nih ya Kakaaaaa :P) serapan anggaran yang dibangga-banggakan selama ini hanya topeng saja. Kata Ahok, “Ngapain lo pamer-pamer bisa nyerap anggaran kalau nyatanya kalian maling semua!”

Ahok juga ingin membangun sistem. Sistem yang bisa memberdayakan orang banyak. Bukan lagi berpikir mengenai kontrol atasan tapi REVOLUSI MENTAL untuk warga Jakarta semuanya. Tidak lagi berpikir bahwa rakyat harus menggantungkan nasibnya kepada pemerintah. Tapi membangun logika bahwa pemerintah itu JUSTRU pelayan rakyat. Pejabat yang harusnya lebih repot daripada yang “bos”nya. Bos pejabat itu ya rakyat .

Ya masa bos hidupnya lebih susah daripada pelayannya. Logika dari mana cuy?.

Btw, dari isi wawancara ini, walau Ahok selalu mengaku netral, saya rasa terlihat “jelas” ya ke mana sebenarnya dukungan Ahok dilabuhkan . Tonton videonya sampai habis.

https://www.youtube.com/watch?v=CbULXuqhcbY


Ingat teman-teman, berhenti mengeluh saja tidak cukup. Make that change… YOU!

Salam damai. Salam revolusi mental. Salam dua jari ^_^.

jokowi salam 2 jari

***